Anda di halaman 1dari 40

Mengapa pelanggaran etika profesi (di berbagai bidang profesi) khususnya di

Indonesia ini angka pelanggarannya lebih tinggi dari negara lainnya. Apa penyebab
masih terjadi pelanggaran etika profesi tersebut.
Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh mengapa pelanggaran etika profesi itu
dapat terjadi.
Buatkan/berikan kesimpulan dan saran Anda, apa sebaiknya yang harus/dapat
dilakukan untuk mencegah munculnya praktik pelanggaran etika profesi atau
meminimalisir terjadinya pelanggaran terhadap kode etik profesi.
Postingkan tulisan Anda dalam site iMe ul501.ilearning.me
Buatlah tulisan Anda semenarik mungkin dengan mengikuti kaidah baku penulisan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tulisan bisa berupa saduran atau diambil secara utuh dari berbagai sumber
(internet) dengan mencantumkan/menulis nama sumbernya. (Ingat..jangan
lupa cantumkan sumbernya, agar tidak disebut sebagai penjiplakan alias
plagiarisme)
Jawaban penyelesaian tugas dibuat sesuai standar iDu.
Selamat menulis sambil belajar.tetap semangaaaaat!

Keterangan :

Saya sudah menyelesaikan Tugas Essay: Tugas 9 Membuat paper

Status :

Tercapai 100 %

Bukti :

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tujuan utama dari kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat
tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan demikian kode
etik dan tanggung jawab profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara
jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar
dan apa yang salah dan perbuatan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh
dilakukan oleh seorang profesional.

Perkataan profesi dan profesional sudah sering digunakan dan mempunyai beberapa
arti. Dalam percakapan sehari-hari, perkataan profesi diartikan sebagai pekerjaan
(tetap) untuk memperoleh nafkah (Belanda; baan; Inggeris: job atau occupation),
yang legal maupun yang tidak. Jadi, profesi diartikan sebagai setiap kegiatan tetap
tertentu untuk memperoleh nafkah yang dilaksanakan secara berkeahlian yang
berkaitan dengan cara berkarya dan hasil karya yang bermutu tinggi dengan
menerima bayaran yang tinggi. Keahlian tersebut diperoleh melalui proses
pengalaman, belajar pada lembaga pendidikan (tinggi) tertentu, latihan secara
intensif, atau kombinasi dari semuanya itu.

Pengemban profesi adalah orang yang memiliki keahlian yang berkeilmuan dalam
bidang tertentu. Karena itu, ia secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan warga
masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam bidang yang memerlukan keahlian
berkeilmuan itu. Pengemban profesi yang bersangkutan sendiri yang memutuskan
tentang apa yang harus dilakukannya dalam melaksanakan tindakan pengembanan
profesionalnya. Ia secara pribadi bertanggung jawab atas mutu pelayanan jasa yang
dijalankannya. Karena itu, hakikat hubungan antara pengemban profesi dan pasien
atau kliennya adalah hubungan personal, yakni hubungan antar subyek pendukung
nilai.

Makalah ini memuat tentang pentingnya etika profesi, kode etik dan tanggung
jawab profesi. Kode etik di susun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing
profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan,
pengacara dan pelanggaran kode etik tidak diadili oleh pengadilan karena
melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum. Bila seorang dokter di
anggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan di periksa oleh majelis kode
etik kedokteran indonesia bukannya oleh pengadilan.

Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang
telah bersatu dengan pikiran, jiwa, dan perilaku tenaga professional. Dengan
membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami dan mengerti tentang
yang disebut etika profesi dan juga dapat memahami faktor dan hal hal yang
berhubungan dengan etika dan tangguprofesi. Oleh karena itu dapatlah disimpulkan
bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat,
bilamana dalam diri para elit professional tersebut ada kesadaran kuat untuk
mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian
profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

1.2 Tujuan dan manfaat

1. Tujuan penulisan makalah ini adalah :


1. Sebagai wawasan pengetahuan perkembangan kode etik profesional
2. Memberikan pengetahuan baru bagi pembaca,khususnya bagi penulis
tentang pentingnya kode etik profesi.
2. Manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Berbagi informasi batu tentang pentingnya kode etik profesi.
2. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi pembaca dan khusus nya bagi
penulis.

BAB II

PENTINGNYA ETIKA PROFESI

2.1 Kode Etik Profesi

Apa itu kode etik? Kode etik merupakan suatu bentuk aturan tertulis yang secara
sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat
yang dibutuhkan akan dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala
macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai
menyimpang dari kode etik. Dengan demikina kode etik adalah refleksi dari apa
yang disebut dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan
dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Sedanglan Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan
dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.Salah satu contoh
tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode etik
pertama untuk profesi dokter.

Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU


KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah
belum tentu sumpah ini merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya
berasal dari kalangan murid-muridnya dan meneruskan semangat profesional yang
diwariskan oleh dokter Yunani ini.

2.2 Pelanggaran Kode Etik Profesi

Terjadinya penyimpangann yang dilakukan oleh anggota kelompok profesi dari


kode etik profesi di mata masyarakat. Oleh karena itu, kelompok profesi harus
mencoba menyelesaikan berdasarkan kekuasaannya sendiri.
Karena kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena dihasilkan
berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi.

2.3 Beberapa Penyebab Pelanggaran Kode Etik Profesi

1. Idealisme yang terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan
fakta yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga harapan terkadang
sangat jauh dari kenyataan.
2. Memungkinkan para profesional untuk berpaling kepada kenyataan dan
mengabaikan idealisme kode etik profesi. Kode etik profesi bisa menjadi
pajangan tulisan berbingkai.
3. Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapi
dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata berdasarkan
kesadaran profesional.
4. Memberi peluang kepada profesional yang untuk berbuat menyimpang dari
kode etik profesinya.

2.4 Pentingnya Kode Etik Profesi

Ada beberapa alasan mengapa kode etik perlu untuk dibuat. Beberapa alasan
tersebut adalah (Adams., dkk, dalam Ludigdo, 2007) :

1. Kode etik merupakan suatu cara untuk memperbaiki iklim organisasional


sehingga individu-individu daoat berperilaku secara etis.
2. Kontrol etis diperlukan karena sistem legal dan pasar tidak cukup mampu
mengarahkan perilaku organisasi untuk mempertimbangkan dampak moral
dalam setiap keputusan bisnisnya.
3. Perusahan memerlukan kode etik untuk menentukan status bisnis sebagai
sebuah profesi, dimana kode etik merupakan salah satu penandanya.
4. Kode etik dapat juga dipandang sebagai upaya menginstitusionalisasikan
moral dan nilai-nilai pendiri perusahaan, sehingga kode etik tersebut
menjadi bagian dari budaya perusahaan dan membantu sosialisasi individu
baru dalam memasuki budaya tersebut.

Nilai profesional dapat disebut juga dengan istilah asas etis.(Chung, 1981
mengemukakan empat asas etis, yaitu :

1. Menghargai harkat dan martabat


2. Peduli dan bertanggung jawab
3. Integritas dalam hubungan
4. Tanggung jawab terhadap masyarakat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya maka dapat di simpulkan bahwa kode etik profesi
merupakan pedoman mutu moral profesi si dalam masyarakat yang di atur sesuai
dengan profesi masing-masing.
Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan cita-cita di terima oleh profesi itu
sendiri serta menjadi tumpuan harapan untuk di laksanakan dengan tekun dan
konsekuen. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu
instansi pemerintah karena tidak akan di jiwai oleh cita-cita dan nilai hidup dalam
kalangan profesi itu sendiri.

3.2 Saran

Agar dapat memahami dan memperoleh pengetahuan baru maka usaha yang dapat
di lakukan adalah :
1. Memperbanyak pemahaman terhadap kode etik profesi
2. Mengaplikasikan keahlian sebagai tambahan ilmu dalam praktek pendidikan
yang di jalani.
3. Pembahasan makalah ini menjadikan individu yang tahu akan pentingnya kode
etik profesi.

Sumber :

1. http://kodeetik-siskanainggolan.blogspot.co.id/2015/06/makalah-kode-
etik-dan-tanggung-jawab.html
2. https://noenank.wordpress.com/daftar-isi-kata-pengantar-bab-i-
pendahuluan-i-1-latar-belakang-i-2-tujuan-dan-manfaat-bab-ii-
pentingnya-etika-profesi-ii-1-kode-etik-profesi-ii-2-pentingnya-kode-
etik-profesi-bab-iii-kesimpulan/

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan
kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia
disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat
hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan
pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk
berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai
atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika.
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang
diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat
yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan
tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan
mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis
dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam
masyarakat.
Seiring dengan perkembangan zaman semakin banyak pelanggaran kode etik
oleh sebagian besar profesi terutama profesi kesehatan. Dan karena adanya
perubahan Globalisasi yang sering bisa membuat Profesi menjadi tidak berjalan
semestinya sebab kalau seorang Profesi tidak mengikuti perkembangan Globalisasi
maka dia akan tidak percaya diri untuk menjalankan Profesinya tersebut.
B. Rumusan Masalah
Untuk menghindari pembahasan yang meluas sehingga dalam rumusan masalah
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa defenisi etika?
2. Bagaimana macam-macam dan contoh dari etika?
3. Apa defenisi profesi?
4. Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik dari profesi?
5. Bagaimana peran etika dalam profesi?
6. Apa defenisi dan prinsip-prinsip etika profesi?
7. Bagaimana pelanggaran kode etik dari kasus tersebut?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas kuliah
etika profesi dan untuk mengkaji studi-studi kasus pelanggaran oleh profesi
kesehatan.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah dapat memberi informasi mengenai
pelanggaran-pelanggaran studi kasus dalam dunia kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi Etika
1. Defenisi etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan (1998) merumuskan pengertian etika dalam tiga arti sebagai berikut:
a. Ilmu tentang apa yang baik dan buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut di masyarakat.
Dari asul-usul katanya, etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang berarti
adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Etika biasanya berkaitan erat dengan
perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam
bentuk jamaknya Mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup
seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari
hal-hal tindakan yang buruk. Bertolak dari kata tersebut, akhirnya etika
berkembang menjadi studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan,
menurut ruang dan waktu yang berbeda.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu: usila (Sanskerta), lebih
menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
Dan yang kedua adalah Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.
2. Definisi Etika menurut para ahli :
a. Abdullah dalam buku yang berjudul Pengantar Studi Etika (2006:4) menjelaskan
arti kata etika berdasarkan etimologinya yang berasal dari bahasa Yunani, ethos,
yang bermakna kebiasaan atau adat-istiadat.
b. Bertens dalam Etika seri Filsafat Atma Jaya (1993:4) memaparkan pengertian
etika dalam dalam bentuk jamak ta etha yang juga berarti adat kebiasaan.
c. Riady dalam Filsafat Kuno dan Manajemen Modern (2008:189) menjelaskan
bahwa etika dalam bahasa Latin diartikan sebagai Moralis yang berasal dari kata
Mores dengan makna adat-istiadat yang realistis bukan teoritis.
d. Abdullah dalam buku yang berjudul Pengantar Studi Etika (2006:12) mengatakan
bahwa secara umum, ruang lingkup etika meliputi :
a) Menyelidiki sejarah tentang tingkah laku manusia.
b) Membahas cara menghukum dan menilai baik buruknya suatu tindakan.
c) Menyelidiki faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia.
d) Untuk menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk.
e) Untuk meningkatkan budi pekerti.
f) Untuk menegaskan arti dan tujuan hidup sebenarnya.
e. Menurut Profesor Robert Salomon, etika dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
:
a)Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termausk bahwa orang yang
beretika adalah orang yang baik. Pengertian ini disebut pemahaman manusia
sebagai individu yang beretika.
b) Etika merupakan hukum sosial. Etika merupakan hukum yang mengatur,
mengendalikan serta membatasi perilaku manusia.
B. Macam-macam Etika
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan
kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia
disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat
hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan
pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk
berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai
atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf:
1991: 23), sebagai berikut:
1. Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku
manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu
yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa
adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait
dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang
kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang
dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara
etis.
2. Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya
dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan
tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan
normanorma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan
menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang
disepakati dan berlaku di masyarakat.
Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat
diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut :
a. Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus
membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
b. Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik
buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama.
Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena
adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang
deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
c. Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif,
dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku
manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi,
menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif,
direktif dan reflektif.
C. Contoh dari etika
Berikut adalah contoh dari etika :
1. Etika Pribadi. Misalnya seorang yang berhasil dibidang usaha (wiraswasta) dan
menjadi seseorang yang kaya raya (jutawan). Ia disibukkan dengan usahanya
sehingga ia lupa akan diri pribadinya sebagai hamba Tuhan. Ia mempergunakan
untuk keperluan-keperluan hal-hal yang tidak terpuji dimata masyarakat (mabuk-
mabukan, suka mengganggu ketentraman keluarga orang lain). Dari segi usaha ia
memang berhasil mengembangkan usahanya sehingga ia menjadi jutawan, tetapi ia
tidak berhasil dalam mengembangkan etika pribadinya.
2. Etika Sosial. Misalnya seorang pejabat pemerintah (Negara) dipercaya untuk
mengelola uang negara. Uang milik Negara berasal dari rakyat dan untuk rakyat.
Pejabat tersebut ternyata melakukan penggelapan uang Negara untuk kepentingan
pribadinya, dan tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang dipakainya itu
kepada pemerintah. Perbuatan pejabat tersebut adalah perbuatan yang merusak
etika social.
3. Etika moral berkenaan dengan kebiasaan berperilaku yang baik dan benar
berdasarkan kodrat manusia. Apabila etika ini dilanggar timbullah kejahatan, yaitu
perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat
manusia yang disebut moral.
Contoh etika moral:
a. berkata dan berbuat jujur
b. menghargai hak orang lain
c. menghormati orangtua dan guru
d. membela kebenaran dan keadilan
e. menyantuni anak yatim/piatu
D. Defenisi Profesi
1. Defenisi Profesi Menurut Beberapa Para Ahli:
a. Schein, E.H (1962)
Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set
norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.
b. Hughes, E.C (1963)
Profesi menyatakan bahwa ia mengetahui lebih baik dari kliennya tentang apa
yang diderita atau terjadi pada kliennya.
c. Daniel Bell (1973)
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang
diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat
yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan
tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan
mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis
dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam
masyarakat.
d. Paul F. Comenisch (1983)
Profesi adalah "komunitas moral" yang memiliki cita-cita dan nilai bersama.
2. Defenisi profesi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.
a. K. Bertens
Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang memiliki cita-
cita dan nilai-nilai bersama.
b. Siti Nafsiah
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari
nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang
lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan,
profesionalisme, dan tanggung jawab.
c. Doni Koesoema A
Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam
suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika
khusus untuk jabatan tersebut serta pelayananbaku terhadap masyarakat.
Maka Kesimpulannya pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah
dimengerti oleh masyarakat awam adalah: sebuah profesi sudah pasti menjadi
sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi.
Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu
ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit
seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua
orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.

E. Pengertian profesi dan profesional menurut DE GEORGE


1. Profesi, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
2. Profesional, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu
dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau
seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu
keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut
keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi,
untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.
Yang harus kita ingat dan fahami Betul Bahwa Pekerjaan / Profesi
Dan Profesional terdapat beberapa perbedaan :
a. Profesi :
a) Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
b) Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
c) Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
d) Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.
b. Profesional :
a) Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
b) Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
c) Hidup dari situ.
d) Bangga akan pekerjaannya.
F. Ciri-Ciri Profesi
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi yaitu
:
1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini
dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap
pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi
harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu
berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa
keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk
menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus. Kaum profesional
biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.
G. Peranan Etika Dalam Profesi
1. Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang
saja tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil
yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu
kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama.
2. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi
landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya
maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini
sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang
secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para
anggotanya.
3. Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian
para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah
disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi
kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada
profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter
dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat
miskin tidak mungkin menjamahnya.
Contohnya : Guru, Dosen, Dokter, dll.
Menurut Edgar Schein (1974), karakteristik profesi adalah:
a. Para profesional terkait dengan pekerjaan seumur hidup dan menjadi sumber
penghasilan utama;
b. Profesional mempunyai motivasi kuat atau panggilan sebagai landasan bagi
pemilihan karier profesionalnya dan mempunyai komitmen seumur hidup yang
mantap terhadap kariernya;
c. Profesional memiliki kelompok ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus yang
diperolehnya melalui pendidikan dan latihan yang lama;
d. Profesional mengambil keputusan demi kliennya berdasarkan aplikasi prinsip-
prinsip dan teori-teori;
e. Profesional berorientasi pada pelayanan, menggunakan keahlian demi kebutuhan
khusus klien;
f. Pelayanan yang diberikan kepada klien didasarkan pada kebutuhan objektif klien;
g. Profesional lebih mengetahui apa yang baik untuk klien daripada klien sendiri.
Profesional mempunyai otonomi dalam mempertimbangkan tindakannya;
h. Profesional membentuk perkumpulan profesi yang menetapkan kriteria
penerimaan, standar pendidikan, perizinan atau ujian masuk formal, jalur karier
dalam profesi, dan batasan peraturan untuk profesi;
i. Profesional mempunyai kekuatan dan status dalam bidang keahliannya dan
pengetahuan mereka dianggap khusus;
j. Profesional dalam menyediakan pelayanan, biasanya tidak diperbolehkan
mengadakan advertensi atau mencari klien.
H. Etika Profesi
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat
kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang
benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal
dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah
dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.
Berikut ini merupakan pengertian etika profesi menurut para ahli:

1. Drs.O.P. Simorangkir, etika atau etik sebagai pandangan manusia


dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
2. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori
tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk,
sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
3. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku
manusia dalam hidupnya.
4. Anang Usman, SH., MSi, Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan
dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat
sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang
membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu:
a. Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip aturan hidup
(sila) yang lebih baik (su).
b. Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.
I. Prinsip-prinsip Etika Profesi:
1. Tanggung jawab
a. Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
b. Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat
pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan diberi
kebebasan dalam menjalankan profesinya.
J. Kenapa orang selalu melanggar kode Etika Profesi?
Karena adanya perubahan Globalisasi yang sering bisa membuat Profesi
menjadi tidak berjalan semestinya sebab kalau seorang Profesi tidak mengikuti
perkembangan Globalisasi maka dia akan tidak percaya diri untuk menjalankan
Profesinya tersebut. Contoh : Seorang Guru seharusnya memberikan contoh yang
baik bagi orang lain terlabih pada siswanya, dimana guru tersebut memakai pakaian
yang sopan, dan malah sekarang bayak guru-guru yang berpakaian seksi yang
sampai terlihat auratnya.

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Kasus
Apotek unhalu berada di jalan mandonga kota kendari. Letaknya sangat
strategis berada di tengah kota, buka pelayanan tiap hari jam 16.00 22.00. pasien
sangat ramai serta jumlah resep yang banyak dilayani. Setiap hari rata-rata 100
lembar resep. APA juga merupakan PNS dan masuk apotek jam 19.30. Karena
banyaknya pasien yang dilayani, penyerahan obat oleh tenaga teknis kefarmasian
tidak sempat memberikan informasi yang cukup.
B. Kajian Menurut Undang undang
Berdasarkan permasalahan diatas, kami menemukan beberapa ketidak
hubungan antara yang terjadi dengan yang terdapat di peraturan peraturan yang
berlaku mengenai kesehatan dan pelayanan kesehatan. Peraturan-peraturan itu
sebagai berikut :
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 5
(1) Setiap orang memiliki hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan
dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah dan akan diterimanya dari
tenaga kesehatan.
Pasal 108
(1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan

2. Undang-undang N0.8 tahun 1998 tentang perlindungan konsumen


Pasal 4
(1)Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
3. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang
P e k e r j a a n Kefarmasian:
Pasal 1
(13)Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan
praktek kefarmasian oleh apoteker
Pasal 20
Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau
Tenaga Teknis Kefarmasian
Pasal 21
(1)Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian.
(2) Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep ddokter
dilaksanakan oleh Apoteker
Pasal 51
(1)Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah
sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker
4. Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/MENKES/PER/SK/X/2002 Tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemebrian Izin Apotek
Pasal 19.
( 1 ) Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya pada
jam buka Apotik, Apoteker Pengelola Apotik harus menunjuk Apoteker
pendamping.
(2)Apabila Apoteker Pengelola Apotik dan Apoteker
Pendamping karena h a l - h a l tertentu berhalangan melakukan
tugasnya, Apoteker Pengelola Apotik menunjuk .Apoteker Pengganti
5. Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MENKES/SK/IX/2004 Tentang
Standar Pelayanan di Apotek
Bab III tentang pelayanan, standar pelayanan kesehatan di apotek
meliputi:
1. Pelayanan resep : apoteker melakukan skrining resep dan penyiapan obat
2. Apoteker memberikan promosi dan edukasi
3. Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian (homecare)
a. Penyiapan obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh
apoteker disertai dengan informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga
keseahatan.
(3.6) Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada
apoteker untuk menyediakan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang
berlaku.
(3.8) Pharmaceutical care adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab
langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien.
a) Sumber Daya
Apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang professional yang senantiasa
mampu melaksanakan dan memberikan pelayanan yang baik.
b) Sarana dan Prasarana
Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh
apoteker untuk menerima konseling dan informasi.
c) Pelayanan resep: Apoteker melakukan skrining resep hingga penyiapan obat
Pelayanan resep yang dilakukan oleh apoteker yang di apotek yang
dimulai dari skrining resep meliputi: persyaratan administratif (Nama, SIP dan
alamat dokter,tanggal penulisan resep, tanda tangan dokter penulis resep, nama,
alamat, umur, jeniskelamin dan berat badan pasien, nama obat, potensi,
dosis, dan jumlah obat, cara pemakaian yang jelas), kesesuaian farmasetik
(bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama
pemberian) dan pertimbangan klinis (efek samping, interaksi, kesesuaian). Selain
itu, apoteker juga memiliki tugas untuk melakukan penyiapan obat meliputi
tahap: peracikan dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat, etiket
yang jelas, kemasan obat yang diserahkan dengan rapidan terjaga kualitas.
d) Pelayanan Resep : Apoteker melakukan penyerahan obat.
Sebelum obat diserahkan, obat harus dicek kembali antara obat dan resep.
Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker sambil dilakukan pemberian informasi
obat sekurang-kurangnya: cara pemakaian, cara penyimpanan, jangka waktu
pengobatan,aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari; dan
dilakukan konseling untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.
e) Promosi dan Edukasi Dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat,
Apoteker harus berpartisipasi aktif dalam promosi dan edukasi kesehatan.
6. Kode etik apoteker
Pasal 3
Setiap apoteker/Farmasis harus sennatiasa menjalankan profesinya sesuai
kompetensi Apoteker/Farmasis Indonesia serta selalu mengutamakan dan
berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya
Pasal 5
Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker/Farmasis harus menjauhkan diri
dariusaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisiluhur jabatan kefarmasian
7. Lafal sumpah dan janji apoteker
Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat
dan tradisi luhur jabatan farmasi.
Dari kasus di atas Pasien atau konsumen ketika membeli obat di apotek
hanya dilakukan oleh asisten apoteker. Hal ini melanggar pasal-pasal di atas.
Pelayanan kefarmasian diapotek harus dilakukan oleh apoteker, jika apoteker
berhalangan hadir seharusnya digantikan oleh apoteker pendamping dan jika
apoteker pendamping berhalangan hadir seharusnya digantikan oleh apoteker
pengganti bukan digantikan oleh asisten apoteker atau tenaga kefarmasian lainnya.
Tenaga kefarmasian dalam hal ini asisten apoteker hanya membantu pelayanan
kefarmasian bukan menggantikan tugas apoteker.
C. Sanksi
Ketika seorang apoteker dalam menjalankan tugasnya tidak mematuhi
kode etik apoteker, maka sesuai dengan kode etik apoteker Indonesia pasal 115
yang berbunyi
Jika seorang apoteker baik dengan sengaja maupun tidak disengajamelanggar atau
tidak memenuhi kode etik apoteker Indonesia, maka dia wajib mangakui dan
menerima sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi yang menanganinya
(IAI), dan mempertanggung jawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sehingga seorang apoteker bisa mendapatkan sanksi sebagai berikut:
1. Teguran dari IAI terhadap apoteker maupun apotek yang bersangkutan.
2. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan :
a. Pasal 198 : Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam pasal 108 dipidana
dengan denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
b. Pasal 201
a) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1), pasal
191, pasal 192, pasal 196, pasal 197, pasal 198, pasal 199, pasal 200 dilakukan oleh
korporasi, selain dipidana penjaradan denda terhadap pengurusnya, pidana yang
dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidanadenda dengan pemberatan 3
(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1), Pasal
191, Pasal 192, Pasal 196 , Pasal 197, Pasal 198,Pasal 199, dan Pasal 200
b) Selain pidana denda sebagaiman dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa :
i) Pencabutan izin usaha; dan/atau
ii) Pencabutan status badan hukum.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan keterangan diatas, praktek kefarmasian di apotek
melanggar beberapa ketentuan, yaitu : Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan pasa l5, pasal 8 dan pasal 108 Tentang Kesehatan, Undang-Undang No. 8 Tahun 1998
pasal 4 Tentang Perlindungan Konsumen, Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009
pasal 1 ayat 13, pasal 20, pasal 21 ayat 1 dan 2, pasal 19 ayat ayat 1 tentang
pekerjaan kefarmasian, Keputusan Menteri Kesehatan No.
1332/MENKES/PER/SK/X/2002 pasal 19 ayat 1 dan 2 Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Ijin Apotek, Keputusan Menteri Kesehatan No.
1072/MENKES/PER/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan di Apotek, Kode etik
apoteker pasal 3 dan 5, lafal sumpah atau janji apoteker.
B. Saran
Berdasarkan studi kasus diatas sebaiknya kita memperbaiki pelayanan
terhadap pasien apabila kita adalah seorang tenaga kesehatan demi kenyamanan
bersama.
Apoteker adalah suatu profesi dibidang Kesehatan, apoteker dapat dikatakan
sebagai pekerjaan kefarmasian yang diperoleh dari suatu negara sebagai otoritas
keahlian sehingga perlu adanya sumpah dalam hal profesionalitas. Seorang
apoteker sebelum menjalankan praktek profesinya harus mengucapkan
sumpah/janji (PP No.20 / 1962). Selanjutnya meregistrasikan diri kepada
pemerintah melalui Departemen Kesehatan, serta mendapatkan Surat Izin Kerja,
barulah yang bersangkutan sah untuk berpraktek di seluruh wilayah Indonesia.

Berikut ini merupakan isi dari sumpah / janji Apoteker :


SUMPAH / JANJI APOTEKER
( PP No. 20 Tahun 1962 )
Demi Allah saya bersumpah / berjanji bahwa :
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan,
terutama dalam bidang kesehatan;
2. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya
dan keilmuan saya sebagai apoteker;
3. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kefarmasian
saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaikbaiknya sesuai dengan martabat
dan tradisi luhur
jabatan kefarmasian;
5. Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-
sungguh supaya tidak
terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan,
politik,kepartaian, atau
kedudukan sosial;
6. Saya Ikrarkan Sumpah / Janji ini dengan sungguhsungguh dan dengan penuh
keinsyafan;

CIRI - CIRI PROFESI APOTEKER


1. Memiliki tubuh pengetahuan kefarmasian yang berbatas jelas.
2. Pendidikan khusus berbasis keahlian pada jenjang pendidikan tinggi farmasi.
3. Memberi pelayanan kepada masyarakat, praktek dalam bidang profesi Apoteker.
4. Memiliki perhimpunan dalam bidang keprofesian yang bersifat otonom yakni
ISFI.
5. Memberlakukan kode etik Apoteker.
6. Memiliki motivasi altruistic dalam memberikan pelayanan kefarmasian.
7. Proses pembelajaran seumur hidup.
8. Mendapat jasa profesi.

PENGERTIAN ETIKA
Etika dalam bahasa Yunani kuno : "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan" adalah
sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari
nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika
mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan
tanggung jawab.

St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian
filsafat praktis (practical philosophy).

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-


pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain
karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk
itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan
oleh manusia.

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai
etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan
refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari
etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang
meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif.
Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA


Keputusan Kongres Nasional XVII/2005
Nomor : 007/KONGRES XVII/ISFI/ 2005
tanggal 18 Juni 2005 tentang kode etik Apoteker Indonesia
MUKADIMAH
Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta
dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan
keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam
mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji Apoteker.

KEWAJIBAN UMUM ( BAB I, pasal 1 s/d 8 )


1. Setiap Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah
apoteker.
2. Setiap Apoteker harus berusaha dengan sungguhsungguh menghayati dan
mengamalkan kode etik Apoteker Indonesia.
3. Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai Kompetensi
Apoteker
Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh kepada prinsip
kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
4. Setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan
pada umumnya
dan dibidang farmasi pada khususnya.
5. Didalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan
tradisi luhur jabatan kefarmasian.
6. Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang
lain.
7. Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.
8. Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-
undangan dibidang kesehatan pada umumnya dan dibidang farmasi pada
khususnya.

KEWAJIBAN APOTEKER THD PENDERITA (BAB II, psl. 9)


Seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus mengutamakan
kepentingan masyarakat dan menghormati hak asasi penderita dan melindungi
makhluk hidup insani.

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT (BAB III, psl.


10 s/d 12)
1. Setiap Apoteker harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri
ingin diperlakukan.
2. Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk
mematuhi ketentuan-ketentuan Kode Etik
3. Setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan
kerja sama yang
baik sesama Apoteker didalam memelihara keluhuran martabat jabatan
kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai didalam menunaikan
tugasnya.

KESEHATAN LAINNYA (BAB IV, psl. 13 & 14)


1. Setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun
dan meningkatkan
hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati sejawat
petugas kesehatan lainnya.
2. Setiap Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang
dapat mengakibatkan berkurangnya/hilangnya kepercayaan masyarakat kepada
sejawat petugas kesehatan lainnya.

PENUTUP ( BAB V, psl. 15 )


Setiap apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan menggunakan Kode Etik
Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasian sehari-hari. Bila seorang Apoteker
baik sengaja maupun tidak melanggar atau tidak memenuhi Kode Etik Apoteker
Indonesia, maka dia wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah,
ikatan/organisasi profesi farmasi yang menanganinya (ISFI) dan mempertanggung
jawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
SANKSI SANKSI PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER
Jenis pelanggaran apotek dapat dikategorikan dalam dua macam, berdasarkan berat
dan ringannya pelanggaran tersebut.
Kegiatan yang termasuk pelanggaran berat apotek meliputi :
1. Melakukan kegiatan tanpa ada tenaga teknis farmasi. Kegaiatan ini menurut
perundangan yang berlaku tidak boleh terjadi dan dilakukan. Karena komoditi dari
sebuah apotek, salah satunya adalah obat, dimana obat ini dalam peredarannya di
atur dalam perundangan yang berlaku.
2. Terlibat dalam penyaluran atau penyimpangan obat palsu atau gelap. Peredaran
gelap yang dimaksud adalah golongan obat dari Narkotika dan Psikotropika.
3. Pindah alamat apotek tanpa izin. Dalam pengajuan untuk mendapatkan izin
apotek, telah dicantumkan denah dan lokasi apotek.
4. Menjual narkotika tanpa resep dokter. Ini adalah pelanggaran yang jarang terjadi.
Para tenaga teknis farmasi di apotek, biasanya sudah mengetahui apa yang harus
mereka perbuat, ketika mengahadapi resep dengan komposisi salah satunya obat
narkotika.
5. Kerjasama dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam menyalurkan obat
kepada pihak yang tidak berhak dalam jumlah besar. Selain dari merusak pasar,
kegaiatan seperti ini akan mengacaukan sistem peredaran obat baik di apotek,
distrbutor, maupun pabrik. Akibat yang mungkin ditimbulkan adalah kesulitan
konsumen untuk memilih obat mana yang baik dan benar karena banyaknya obat
yang beredar.
6. Tidak menunjuk Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti pada waktu
Apoteker Pengelelola Apotek (APA) keluar daerah.

Kegiatan yang termasuk pelanggaran ringan apotek meliputi :


1. Tidak menunjuk Apoteker Pendamping pada waktu Apoteker Pengelelola
Apotek (APA) tidak bisa hadir pada jam buka apotek.
2. Mengubah denah apotek tanpa izin. Tidak ada pemberitahuan kepada suku dinas
kesehatan setempat.
3. Menjual obat daftar G kepada yang tidak berhak. Obat dengan daftar G yang
dimaksud adalah daftar obat keras.
4. Melayani resep yang tidak jelas dokternya. Nama, Surat Izin Kerja (SIK) dan
alamat praktek dokter yang tidak terlihat jelas di bagian kepala resep. Jika resep
semacam ini dilayani, maka ini termasuk suatu tindakan pelanggaran.
5. Menyimpan obat rusak, tidak mempunyai penandaan atau belum dimusnahkan.
Termasuk obat yang di kategorikan expired date atau daluarsa. Obat-obatan diatas
tidak berhak sebuah apotek menyimpan dan mendistribusikannya ke pasien.
6. Obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada. Pelanggaran
administratif ini sering kali terjadi di sebuah apotek dengan sistim manual. Sistim
komputerisasi adalah solusi terbaik untuk mengatisipasi hal ini.
7. Salinan resep yang tidak ditandatangani oleh Apoteker. Sebagai penanggung
jawab teknis, apoteker wajib menandatangani salinan resep dari resep asli, untuk
dapat memonitor sejauh mana pemakaian dan obat apa saja yang dimasukkan dalam
salinan resep.
8. Melayani salinan resep narkotika dari apotek lain. Dalam peraturan narkotika,
resep yang berasal dari apotek lain dengan permintaan sejumlah obat narkotika
kepada apotek yang kita pimpin adalah boleh dilakukan. Syarat yang harus
dipenuhinya adalah berupa surat keterangan dari apoteker pengelola apotek tersebut
bahwa akan mempergunakan obat narkotika untuk keperluan stok dan resep serta
sifatnya adalah cito atau butuh cepat.
9. Lemari narkotika tidak memenuhi syarat. Penyimpanan narkotika yang diatur
dalam Undang-Undang no 5 tahun 2009, adalah dengan menyimpan sediaan dalam
lemari terkunci, terpisah dengan obat keras lainnya, dst. Lihat disini untuk
lengkapnya.
10. Resep narkotika tidak dipisahkan. Prosedur standar yang harus beberapa apotek
dan tenaga kefarmasian sudah ketahui. Salah satu kegunaan pemisahaan resep obat
ini adalah mempermudah kita dalam membuat Laporan Narkotika.
11. Buku narkotika tidak diisi atau tidak bisa dilihat atau diperiksa. Hal teknis
seperti sudah harus dapat dihindari dan diperbaiki. Karena jika hal ini terjadi, maka
akan mempersulit administrasi dari apotek tersebut dalam pengelolaan apotek.
12. Tidak mempunyai atau mengisi kartu stok hingga tidak dapat diketahui dengan
jelas asal usul obat tersebut.
Setiap pelanggaran apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat dikenakan
sanksi, baik sanksi administratif maupun sanksi pidana. Sanksi administratif
yang diberikan menurut keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/
MENKES/ SK/ X/ 2002 dan Permenkes No. 922/ MENKES/ PER/ X/ 1993
adalah :
a. Peringatan secara tertulis kepada APA secara tiga kali berturut-turut dengan
tenggang waktu masing masing dua bulan.
b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama lamanya enam bulan sejak
dikeluarkannya penetapan pembekuan izin apotek. Keputusan pencabutan SIA
disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan RI di
Jakarta.
c. Pembekuan izin apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila apotek tersebut
dapat membuktikan bahwa seluruh persyaratan yang ditentukan dalam keputusan
Menteri Kesehatan RI dan Permenkes tersebut telah dipenuhi.
Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara diberikan bila terdapat
pelanggaran terhadap :
a. Undang- Undang Obat Keras (St. 1937 No. 541).
b. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
c. Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
d. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

Sumber :
id.wikipedia.org/wiki/Etika
www.farmasi.unud.ac.id
maya-scorviyanti.blogspot.com
Kode Etik Akuntan

#Ahmad Zainuddin

Akuntan memiliki peran besar untuk meningkatkan transparansi dan kualitas


informasi keuangan demi terwujudnya perekonomian nasional yang sehat dan
efisien. Tidak ada proses akumulasi dan distribusi sumberdaya ekonomi yang tidak
memerlukan campur tangan profesi Akuntan. Akuntan berperan disemua sektor:
publik, privat, dan nirlaba. Profesi Akuntan menyebar di dalam dan di luar instansi
pemerintah. Di sektor publik, Akuntan dapat mendorong pengelolaan keuangan
negara agar berjalan semakin tertib, jelas, transparan, dan semakin akuntabel. Di
sektor swasta, Akuntan menyiapkan laporan keuangan yang terpercaya dan dapat
diandalkan.

Eksistensi akuntan penting dan strategis untuk membangun culture birokrasi dan
bisnis yang kuat, visioner, memegang teguh nilai-nilai etika, dan fokus terhadap
nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Dalam menjalankan tugas profesionalnya, akuntan dituntut untuk mematuhi kode


etik profesi. Kode etik profesi merupakan kaidah-kaidah yang menjadi landasan
bagi eksistensi profesi dan sebagai dasar terbentuknya kepercayaan masyarakat
karena dengan mematuhi kode etik, akuntan diharapkan dapat menghasilkan
kualitas kinerja yang paling baik bagi masyarakat (Baidaie, 2000 dalam Ludigdo,
2006). Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah aturan perilaku etika
akuntan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya. Kode etik akuntan
Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai berikut:

1. Tanggung Jawab Profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus


senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua
kegiatan yang dilakukannya. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk
bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi,
memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi
dalam mengatur dirinya sendiri.

2. Kepentingan Publik

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan


kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas
profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung
jawab kepada publik.

3. Integritas

Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan


profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan
merupakan patokan bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Integritas dapat
menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi
tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

4. Objektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan
dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Prinsip obyektivitas mengharuskan
anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka
atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.

5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati,


kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk
memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesional dan teknik yang paling mutakhir.
6. Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama


melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban
profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

7. Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk
menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh
anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak
ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

8. Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar


teknis dan standar profesional yang relevan. Standar teknis dan standar professional
yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia, Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan
pengaturan perundang-undangan yang relevan.

Referensi Bacaan:

http://www.iaiglobal.or.id/v02/keanggotaan/?act=anggota&page=11

http://www.iaiglobal.or.id/v02/akuntan_profesional.php?id=1

https://herikurniawan19.wordpress.com/2013/10/14/tugas-1-etika-profesi-dan-
etika-profesi/

Ludigdo, Unti. Strukturasi Praktik Etika di Kantor Akuntan Publik: Sebuah Studi
Interpretif. Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang 2006.
KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI
Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi
dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya.
Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntan adalah sebagai
penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku
bisnis.

Kode etik profesi akuntansi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan
dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari dalam profesi
akuntansi. Kode etik akuntansi dapat menjadi penyeimbang segi-segi negatif dari
profesi akuntansi, sehingga kode etik bagai kompas yang menunjukkan arah moral
bagi suatu profesi dan sekaligus menjamin mutu moral profesi akuntansi dimata
masyarakat.

Kode Perilaku Profesional

Perilaku etika merupakan fondasi peradaban modern. Etika mengacu pada suatu
sistem atau kode perilaku berdasarkan kewajiban moral yang menunjukkan
bagaimana seorang individu harus berperilaku dalam masyarakat. Profesionalisme
didefinisikan secara luas mengacu pada perilaku, tujuan dan kualitas yang
membentuk karakter atau ciri suatu profesi atau orang-orang profesional. Seluruh
profesi menyusun aturan atau kode perilaku yang mendefinisikan perilaku etika
bagi anggota profesi tersebut.

Prinsip-prinsip Etika : IFAC, AICPA, IAI

IFAC

Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC


1. Integritas: Seorang akuntan profesiona harus bertindak tegas dan jujur dalam
semua hubungan bisnis dan profesionalnya.

2. Objektivitas: Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh membiarkan


terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh orang lain sehingga
mengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional.

3. Kompetensi profesional dan kehati-hatian: Seorang akuntan profesional


mempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan
profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjamin
seorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang
didasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini. Seorang akntan
profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional
haus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional dan teknik
yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.

4. Kerahasiaan: Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaan


informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnis
serta tidak boleh mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izin
yng enar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak
profesional untuk mengungkapkannya.

5. Perilaku Profesional: Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan
perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi.

AICPA

Kode Etik AICPA terdiri atas dua bagian; bagian pertama berisi prinsip-prinsip
Etika dan pada bagian kedua berisi Aturan Etika (rules)
1. Tanggung Jawab: Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai seorang
profesional, anggota harus menjalankan pertimbangan moral dan profesional secara
sensitif

2. Kepentingan Publik: Anggota harus menerima kewajiban mereka untuk


bertindak sedemikian rupa demi melayani kepentingan publik, menghormati
kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme

3. Integritas: Untuk memelihara dan memperluas keyakinan publik, anggota harus


melaksanakan semua tanggung jawab profesinal dengan ras integritas tertinggi

4. Objektivitas dan Independensi: Seorang anggota harus memelihara objektivitas


dan bebas dari konflik kepentingan dalam menunaikan tanggung jawab profesional.
Seorang anggota dalam praktik publik seharusnya menjaga independensi dalam
fakta dan penampilan saat memberikan jasa auditing dan atestasi lainnya

5. Kehati-hatian (due care): Seorang anggota harus selalu mengikuti standar-standar


etika dan teknis profesi terdorong untuk secara terus menerus mengembangkan
kompetensi dan kualita jasa, dan menunaikan tanggung jawab profesional sampai
tingkat tertinggi kemampuan anggota yang bersangkutan

6. Ruang Iingkup dan Sifat Jasa: Seorang anggota dalam praktik publik harus
mengikuti prinsip-prinsip kode Perilaku Profesional dalam menetapkan ruang
lingkup an sifat jasa yang diberikan.

IAI

Prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu meliputi delapan butir pernyataan
(IAI, 1998, dalam Ludigdo, 2007). Kedelapan butir pernyataan tersebut merupakan
hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan, yaitu :
1. Tanggung jawab profesi : bahwa akuntan di dalam melaksanakan
tanggungjawabnya sebagai profesional harus senantiasa menggunakan
pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

2. Kepentingan publik: akuntan sebagai anggota IAI berkewajiban untuk senantiasa


bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepentingan
publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

3. Integritas: akuntan sebagai seorang profesional, dalam memelihara dan


meningkatkan kepercayaan publik, harus memenuhi tanggung jawab
profesionalnya tersebut dengan menjaga integritasnya setinggi mungkin.

4. Obyektivitas: dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya, setiap akuntan


sebagai anggota IAI harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan.

5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional: akuntan dituntut harus melaksanakan


jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta
mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan
profesionalnya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau
pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten
berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan teknik yang paling mutakhir.

6. Kerahasiaan: akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh


selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban
profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

7. Perilaku profesional: akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk


berperilaku konsisten selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi
tindakan yang dapat mendiskreditkan profesinya.
8. Standar teknis: akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu
dan mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan
dengan prinsip integritas dan obyektifitas.

Aturan dan Interpretasi Etika

Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh badan yang
dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan
Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya. Pernyataan
Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau
Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk
menggantikannya.

Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam
masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan
sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya
pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh
adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila
diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya.

Kasus dan Pembahasan

Laporan Keuangan Ganda Bank Lippo Tahun 2002


Kasus ini merupakan kasus dimana Bank Lippo melakukan pelaporan laporan
keuangan ganda pada tahun 2002. Kasus Lippo bermula dari adanya tiga versi
laporan keuangan yang ditemukan oleh Bapepam untuk periode 30 September
2002, yang masing-masing berbeda. Berikut laporan keuangan tersebut:
- Laporan pertama, yang diberikan kepada publik atau diiklankan melalui media
massa pada 28 November 2002.
- Laporan kedua, yang diberikan kepada BEJ pada 27 Desember 2002.
- Laporan ketiga, yang disampaikan akuntan publik, dalam hal ini kantor akuntan
publik Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja dengan auditor Ruchjat Kosasih dan
disampaikan kepada manajemen Bank Lippo pada 6 Januari 2003.

Dari ketiga versi laporan keuangan tersebut yang benar-benar telah diaudit dan
mencantumkan opini wajar tanpa pengecualian adalah laporan yang disampaikan
pada 6 Januari 2003. Dimana dalam laporan itu disampaikan adanya penurunan
AYDA (agunan yang diambil alih) sebesar Rp 1,42 triliun, total aktiva Rp 22,8
triliun, rugi bersih sebesar Rp 1,273 triliun dan CAR sebesar 4,23 %. Untuk laporan
keuangan yang diiklankan pada 28 November 2002 ternyata terdapat kelalaian
manajemen dengan mencantumkan kata audit. Padahal laporan tersebut belum
diaudit, dimana angka yang tercatat pada saat diiklankan adalah AYDA sebesar Rp
2,933 triliun, aktiva sebesar Rp 24,185 triliun, laba bersih tercatat Rp 98,77 miliar,
dan CAR 24,77 %.

Analisis:

Akuntan Publik yang memeriksa laporan keuangan Bank Lippo tersebut melanggar
beberapa standar umum dan kode etik, antara lain:

- Independensi dan Objektivitas> tidak mudah dipengaruhi dan tidak memihak


siapapun
- Integritas > Tindakan mencantumkan laporan yang belum diaudit dengan
mengiklankan di media masa untuk publik dengan kata sudah di audit yang
dilakukan akuntan publik adalah tindakan yang melanggar integritas dimana
seorang akuntan harus sangat jelas dan jujur dalam segala pekerjaan profesionalnya
maupun dalam hubungan bisnisnya

- Perilaku profesional > mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku serta tidak
melakukan perbuatan yang dapat merusak nama baik atau menurunkan nilai atau
pandangan orang lain terhadap profesi auditor

- Melindungi kepentingan publik > opini yang dikeluarkan oleh akuntan publik
menyesatkan, sedangkan akuntan publik dituntut untuk selalu bertindak dalam
kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme

- Tanggung jawab profesi > bertanggung jawab terhadap profesinya untuk


mematuhi standar yang diterima

Referensi

http://dokumen.tips/download/link/perilaku-etika-dalam-profesi-akuntansi
http://dokumen.tips/documents/kode-etik-aicpa-ifac-iai.html
https://orintalo.wordpress.com/2015/11/02/jurnal-analisis-pelanggaran-kode-etik-
profesi-akuntan-publik-pada-kasus-bank-lippo/