Anda di halaman 1dari 8

Arus Kas Operasi Dan Return Saham: Persistensi Laba Sebagai Variabel Intervening

Jurica Lucyanda Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Bakrie Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22, Kuningan, Jakarta Selatan 12920 Tlp. +6221-5261448 ext. 248, e-mail: jurica.lucyanda@bakrie.ac.id

Elsha Parawira Putri Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Bakrie Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22, Kuningan, Jakarta Selatan 12920 Tlp. +6287876079719, e-mail: elshaparawira@yahoo.com

Abstrak Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh arus kas operasi terhadap return saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 3 tahun (2007-2009). Dari populasi diperoleh total sampel adalah 60 perusahaan. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode purposive sampling method, dan selanjutnya hipotesis diuji menggunakan structural equation modeling (SEM) dengan alat uji partial least square (PLS). Hasil dari pengujian inner model PLS menunjukkan bahwa arus kas operasi tidak berpengaruh terhadap return saham dan persistensi laba tidak mampu memediasi hubungan arus kas opreasi dengan return saham.

Keyword : return saham, arus kas operasi, dan persistensi laba

Abstarct The aimed of this research is to examine and find out empirical evidence of the influence of operation cash flow on stock return with earnings persistence as the intervening variable. Populations used in this research are all companies listed in Bursa Efek Indoensia (BEI) in 3 years observation period (2007-2009). From the population the total samples are 60 companies. The data are collected using purposive sampling method, and then the hypothesis is tested by using structural equation modeling (SEM) with partial least square’s tool (PLS). The result of inner model shows that operation cash flow does no signifikan effect to stock return, and earnings persistence does not proved as the intervening variable between operation cash flow and stock return. Thus, the hypothesis of the research is not empirically supported.

Keywords: stock return, operation cash flow, and earnings persistence

PENDAHULUAN Laporan keuangan merupakan instrumen penting bagi investor dan pemangku kepentingan lainnya dalam penentuan pengambilan keputusan yang sifatnya signifikan sehubungan dengan investasi, dan juga bagi entitas yang mengeluarkan laporan keuangan tersebut sehubungan dengan pembiayaan perusahaan untuk pengembangan bisnis. Manfaat dari laporan keuangan menurut Statement of Financial Accounting (SFAC) No 1: (a) memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, investor potensial, kreditor, dan pemakai lainnya untuk membuat keputusan investasi, kredit, dan keputusan-keputusan serupa lainnya; (b) memberikan informasi tentang prospek arus kas untuk membantu investor dan kreditor dalam menilai prospek arus kas bersih perusahaan (Financial Accounting Standard Board, 1978). Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007), tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pada awalnya, laporan keuangan yang wajib dilaporkan adalah income statement dan balance sheet, kemudian pada tahun 1987, Financial Accounting Standard Board (FASB) mewajibkan melaporkan laporan arus kas (cash flow statement) melalui Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) No. 95 sebagai pengganti laporan perubahan posisi keuangan. Investor cenderung melakukan analisis pada laporan arus kas, karena informasi yang tersedia dari laporan arus kas dapat dijadikan indikator kinerja perusahaan bersangkutan. Informasi yang terdapat dalam arus kas dijadikan dasar penilaian kemampuan perusahaan dalam menggunakan arus kas tersebut. Laporan keuangan arus kas menjadi guide bagi investor untuk pengambilan keputusan investasi, bagi manajemen untuk melakukan evaluasi bisnis, dan bagi stakeholder sebagai informasi pengambilan keputusan-keputusan perekonomian tertentu lainnya. Menurut Bowen et.al (1986) dalam Meythi (2006), manfaat laporan arus kas adalah antara lain: memprediksi kesulitan keuangan, menilai risiko, ukuran dan waktu pinjaman, memprediksi credit rating, menilai perusahaan, dan memberikan informasi tambahan pada pasar modal. Laporan arus kas relatif lebih mudah diintrepretasikan dan lebih sulit untuk dimanipulasi dibandingkan pelaporan laba (earning). Manipulasi laba dilakukan dengan cara menerapkan metode penghitungan yang berbeda pada transaksi yang sama dan pada waktu yang sama untuk tujuan tertentu. Daniati (2006) meneliti pengaruh kandungan informasi komponen laporan arus kas, laba kotor, dan size perusahaan terhadap tingkat return saham yang diharapkan (expected return) oleh investor. Hasil penelitian Daniati (2006) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara komponen arus kas, baik arus kas operasi, investasi ataupun pembiayaan, serta laba kotor, dan size perusahaan pada expected return. Penelitian mengenai hubungan antara laporan keuangan dengan harga saham awalnya dilakukan oleh Ball and Brown (1968) yang menemukan adanya hubungan antara unexpected earning dengan abnormal return saham. Kemudian penelitian-penilitian lainnya (Sloan, 1996; Kormendi and Lipe, 1987; Meythi, 2006; Rohendy, 2007; Adilyawan, 2010) muncul untuk meneliti hubungan antara earning dan saham.

Sloan (1996) menguji kandungan informasi komponen accruals dan komponen arus kas dengan refleksinya terhadap harga saham. Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja earning yang teratribut pada arus kas lebih tinggi daripada kinerja earning yang teratribut pada komponen accruals. Kormendi and Lipe (1987) menguji hubungan antara inovasi earning dan persistensi laba pada return saham. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa besarnya hubungan antara return saham dan earning tergantung pada persistensi laba. Penelitian Meythi (2006) menguji persistensi laba sebagai variabel intervening yang memediasi hubungan antara arus kas operasi dan harga saham. Hasilnya menunjukkan bahwa persistensi laba tidak dapat memediasi hubungan antara arus kas operasi dan harga saham. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Rohendy (2007) mengenai hubungan informasi laba akuntansi dan komponen arus kas terhadap tingkat imbal hasil saham, dalam penelitian ini didapatkan hasil yang signifikan pada hubungan antar variabelnya. Rohendy (2007) kemudian menyarankan untuk penelitian selanjutnya agar memperluas area sampel sehingga ditemukan hubungan variabel secara general terhadap laporan keuangan keseluruhan sektor. Selanjutnya penelitian Adilyawan (2010) meneliti pengaruh komponen arus kas dan laba kotor terhadap harga saham. Adilyawan (2010) memperoleh simpulan arus kas operasi memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan komponen arus kas lainnya serta laba kotor tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan harga saham Melihat beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan memiliki hasil yang berbeda-beda maka penelitian ini bermaksud melakukan penelitian kembali dengan mereplikasi penelitian Meythi (2006). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Meythi (2006) adalah memperluas sampel hingga pada seluruh bursa pada Bursa Efek Indonesia, dan pengolahan data menggunakan Structural Equational Modelling (SEM). Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh arus kas operasi terhadap return saham dengan persistensi laba sebagai variabel intervening pada perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan untuk menambah literatur penelitian serupa, dan khususnya para praktisi akuntansi dan investor untuk menjadikan hasil penelitian informasi yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan dan penghitungan harga saham (praktisi) dan pertimbangan investasi (bagi investor) dalam pertimbangannya melihat kewajaran harga saham perusahaan bersangkutan.

TINJAUAN LITERATUR DAN HIPOTESIS Arus Kas dan Arus Kas Opreasi Setiap perusahaan memiliki laporan arus kas untuk memperlihatkan aliran uang kas yang keluar (outflow) dan masuk (inflow) dalam perusahaan tersebut. Sedangkan definisi arus kas itu sendiri dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan/PSAK No.2 adalah arus masuk dan keluar kas atau setara kas (Ikatan Akuntan Indonesia, 2007). Bila Arus kas masuk lebih besar dibandingkan arus kas yang keluar, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki positive cash flow. Sebaliknya, jika arus kas yang keluar lebih besar dibandingkan arus kas yang masuk, artinya perusahaan tersebut memiliki negative cash flow. Arus kas operasi adalah sekumpulan transaksi arus kas yang memengaruhi net income berkaitan dengan transaksi pembelian atau penjualan barang atau jasa oleh sebuah retailer atau dengan kata lain berasal dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (Warren, Reeve, & Duchac, 2007). Arus kas operasi adalah salah satu dari tiga komponen laporan arus kas secara keseluruhan selain dari arus kas pembiayaan dan arus kas investasi. Dalam pelaporannya pun arus kas operasi bisa menggunakan salah satu dari dua jenis metode. Metode tersebut antara lain direct method dan indirect method. Kandungan Arus kas operasi memberikan informasi kepada stakeholder dalam memberikan indikasi kemampuan melunasi pinjaman dam menjadi indikator mampu atau tidaknya terus melanjutkan kegiatan operasional perusahaan, dan membayar dividen, ataupun melakukan investasi (Adilyawan, 2010).

Return Saham Return saham adalah selisih antara harga saham saat ini dikurangi harga saham periode sebelumnya, dibagi dengan harga saham periode sebelumnya (Meythi, 2006). Menurut Mayo (2006), harga saham ditentukan oleh demand para pembeli saham atau investor dan supply dari emiten sekuritas bersangkutan, meskipun tawar menawar (bid and ask) harga saham tetap berlangsung oleh pelaku pasar. Demand dan supply tersebut yang kemudian membentuk equilibrium price yang kemudian disebut juga dengan harga saham yang diperjualbelikan. Baik investor maupun emiten tidak bisa menentukan equilibrium price secara sepihak, equilibrium price terjadi dengan sendirinya saat terjadi pertemuan antara supply dan demand. Menurut Manurung (1998), hal-hal yang memengaruhi besar kecilnya harga saham dari pihak internal perusahaan itu sendiri antara lain Return on Asset (RoA), Return on Equity (RoE), Earning per share (EPS), book value equity per share, debt to equity ratio, return saham, return bebas risiko, beta saham dan returnmarket. Penelitian Ball and Brawn (1968) adalah menguji reaksi pasar modal terhadap informasi akuntansi dengan menggunakan sampel 261 perusahaan pada tahun 1945-1965. Hasil penelitian tersebut adalah pada saat laporan keuangan dipublikasikan, semua kenaikan atau turunnya harga saham akan menyesuaikan dengan berita yang sedang berlangsung (informasi akuntansi) untuk pasar modal yang bercorak semi-strong, yaitu pasar modal yang harga sahamnya betul-betul menggambarkan informasi yang dipublikasikan. Harga saham kaitannya dengan investasi para investor sering dijadikan proxy penelitian yang umumnya memakai return saham sebagai variabel penelitiannya. Return saham inilah yang kemudian menjadi indikator tingkat naik atau turunnya harga saham yang mengindikasikan pengaruhnya terhadap variabel penelitian lainnya, ataupun dipengaruhi oleh variabel independennya, untuk penelitian ini penulis memakai return saham sebagai indikator kenaikan harga saham periode satu tahun. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Manurung (1998) return saham nya dihitung dengan adanya selisih dengan dividen. Tetapi untuk penelitian ini yang memakai Arus kas operasi sebagai variabel independen, dividen tidak dimasukkan dalam penghitungan, karena dividen bukan merupakan komponen dalam perhitungan Arus kas operasi bersih.

Persistensi Laba Persistensi laba menurut Pennman (1992) dalam Djamaluddin dan Wijayanti (2008) merupakan pengaruh inovasi berupa revisi terhadap laba akuntansi untuk periode masa mendatang yang diimplikasikan terhadap inovasi laba periode berjalan. Nilai persistensi laba ditunjukkan sebagai koefisien regressi dari laba akuntansi periode sekarang dengan laba akuntansi periode masa yang akan datang (Sloan,

1996).

Persistensi laba yang tinggi sangat diharapkan oleh para investor dikaitkan dengan return saham yang tinggi dan manajemen laba yang rendah. Karena persistensi laba yang tinggi mengindikasikan return saham yang tinggi pula, dan memiliki hubungan yang negatif dengan manajemen laba. Pengukuran persistensi laba itu sendiri memiliki banyak metode dilihat dari beberapa penelitian sebelumnya (Adilyawan, 2010). Sloan (1996) mengukur persistensi laba dengan melihat hubungan antara laba periode berjalan, dan kinerja laba masa berikutnya dengan menggunakan metode regressi. Laba dalam penelitian ini adalah laba operasi. Dechow and Dichev (2002) persistensi laba diukur berdasarkan kualitas akrual yaitu merupakan estimasi error dari hasil regresi modal kerja akrual.

Arus Kas Operasi dan Return Saham Board and Day (1989) dalam Meythi (2006) menguji apakah data arus kas memiliki kandungan informasi mengenai harga saham. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa arus kas tidak mempunyai kandungan informasi dalam hubungannya dengan harga saham. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dechow (1994), yang menguji arus kas dan laba sebagai ukuran dalam menilai kinerja perusahaan. Hasil penelitiannya menunjukkan laba akuntansi merupalan ukuran penilaian kinerja perusahaan dan mendukung pernyataan FASB bahwa earning mampu memprediksi arus kas dan kinerja manajemen.

Manurung (1998) meneliti hubungan antara arus kas baik secara parsial maupun arus kas keseluruhan terhadap return saham. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa hubungan antara arus kas operasi baik secara keseluruhan maupun partial adalah tidak signifikan. Daniati (2006) meneliti pengaruh kandungan informasi komponen laporan arus kas, laba kotor, dan size perusahaan terhadap tingkat return saham yang diharapkan (expected return) oleh investor. Dari penelitian ini diperoleh hasil yang signifikan untuk hubungan keseluhan variabelnya. Komponen arus kas, baik arus kas operasi, investasi maupun pembiayaan, serta laba kotor dan size perusahaan memiliki hubungan yang signifikan pada expected return. Penelitian Rohendy (2007) menghasilkan adanya pengaruh signifikan laba akuntansi, arus kas terhadap return saham. Penelitian Hidayat (2008) dalam Adilyawan (2010) mengamati mengenai hubungan arus kas, baik arus kas operasi, arus kas investasi, ataupun arus kas pendanaan, serta laba akuntansi terhadap return saham. Penelitian ini menyimpulkan arus kas operasi yang memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Penelitian Adilyawan (2010) meneliti mengenai pengaruh komponen arus kas dan laba kotor terhadap harga saham, studi kasus pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil pengamatannya, Adilyawan (2010) memperoleh simpulan bahwa arus kas operasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan komponen arus kas lainnya serta laba kotor tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H 1 : Arus kas operasi berpengaruh positif terhadap return saham.

Arus Kas Operasi, Persistensi Laba, dan Harga Saham Finger (1994) menguji kemampuan earning dan arus kas dalam memprediksi earning dan arus kas masa depan. Hasil pengujiannya menemukan bukti bahwa dalam jangka pendek antara satu hingga dua tahun ke depan, arus kas menyediakan informasi yang lebih baik dibandingkan earning. Sedangkan untuk jangka waktu empat hingga delapan tahun mendatang, arus kas sama baiknya dengan laba dalam menyediakan informasi, artinya earning tidak lebih baik daripada kas dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk memperdiksi keuangan perusahaan masa mendatang. Penelitian Parawiyati dan Baridwan (1998) menguji hal yang sama dengan Finger (1994), namun hasil pengujiannya menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian Finger (1994). Sedangkan Cheng et al. (1996) dalam Meythi (2006) melakukan penelitian menguji peningkatan nilai tambah kandungan informasi arus kas operasi ketika earning bersifat transitori. Hasil pengujian berupa dampak kenaikan marjinal yang kecil oleh laba transitori terhadap return saham dan nilai kandungan informasi arus kas operasi menunjukkan peningkatan saat persistensi laba menurun. Penelitian mengenai hubungan antara arus kas operasi, persistensi laba, dan harga saham diawali oleh Ball and Brown (1968) yang menguji kandungan informasi earning untuk memprediksi return saham. Hasil pengujiannya menyimpulkan bahwa peningkatan atau penurunan earning tahunan suatu perusahaan diikuti dengan kenaikan atau penurunan harga saham. Selanjutnya Kormendi and Lipe (1987) menguji hubungan inovasi earning dan persistensi laba dengan return saham. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa besarnya hubungan return saham dan earning tergantung pada persistensi laba. Sedangkan Sloan (1996) menguji sifat kandungan informasi komponen accruals dan komponen arus kas, apakah informasi tersebut terefleksi dalam harga saham atau tidak. Hasil menunjukkan bahwa kinerja earning yang teratribut pada komponen accruals menggambarkan persistensi yang lebih rendah daripada kinerja earnings yang teratribut pada komponen arus kas. Triyono dan Hartono (2000) menguji kandungan informasi laba dan arus kas. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan model level, total arus kas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham, tetapi jika komponen arus kas tersebut dipisah berdasarkan operasi, investasi dan pendanaan, menunjukkan adanya pengaruh signifikan terhadap harga saham. Temuan lainnya adalah bahwa dengan menggunakan model return, perubahan arus kas total, perubahan komponen arus kas, dan perubahan laba akuntansi tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham. Penelitian Meythi (2006) menguji hubungan antara arus kas operasi dan harga saham dengan persistensi laba sebagai variabel interveningnya. Hasil penelitian menunjukkan arus kas operasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan harga saham dan persistensi laba tidak dapat memediasi kedua variabel tersebut. Berdasarkan penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H 2 : Persistensi laba mampu memediasi hubungan antara arus kas operasi dengan return saham

METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Populasi data berupa laporan keuangan seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel diambil secara purposive sampling dengan tujuan mendapatkan kriteria yang dibutuhkan: (a) terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2007 hingga

2009 berturut-turut; (b) laporan keuangan tersebut dipublikasikan secara tahunan (annual report) pada website BEI; dan (c) saham aktif diperjualbelikan pada tahun 2007 hingga tahun 2009.

Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data Sumber data penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan berbagai perusahaan publik yang terdapat di website BEI (www.idx.go.id). Teknik pengumpulan data adalah penelitian arsip (archival research).

Operasionalisasi Variabel Return saham adalah selisih antara harga saham sekarang dan harga saham sebelumnya, dibagi dengan harga saham sebelumnya (Meythi, 2006). Return saham menggunakan rumus sebagai berikut:

= 1

1

Keterangan:

R t = Return saham period ke-t

P t

P t-1 = Harga saham periode sebelum pengamatan Komponen arus kas yang dimaksud untuk digunakan pada penelitian kali ini adalah komponen arus kas operasi bersih (Net Operating Cash Flow).Arus kas operasi bersih berasal dari arus kas yang menjadi penghasilan utama perusahaan bersangkutan dan kegiatannya bukan merupakan kegiatan investasi ataupun kegiatan pendanaan perusahaan. Persistensi laba adalah komponen yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan laba saat ini hingga ke masa yang akan datang. Laba yang digunakan dalam pengujian adalah net income before extraordinary item, karena merupakan laba dari kegiatan utama perusahaan (Sugiri, 2003). Metode penghitungan yang digunakan adalah metode regressi dengan komponen laba sekarang dan laba masa mendatang (Chandrarin, 2001) dalam Meythi (2006). Metode regressi ini juga digunakan oleh Lipe (1990) dan Sloan (1996), dengan formula:

+1 = + + +1 β adalah koefisien regressi sebagai proksi persistensi laba Dari formula di atas, didapatkan informasi bahwa kenaikan Earning tahun ini sebanyak 1, akan membawa kenaikan pada Earnings tahun depan sebesar β.

=

Harga saham periode pengamatan

Metode Analisis Data Pengujian untuk kedua hipotesis pada penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis Structural Equational Modelling (SEM) dengan menggunakan software smartPLS (Partial Least Square) sebagai alat uji model penelitian ini.

Model Penelitian Untuk menjawab hipotesis yang dikemukakan pada bab sebelumnya, akan diuji hubungan variabel-variabel tersebut dengan analisis jalur (path analysis) untuk melihat tingkat signifikansi hubungan tiap-tiap variabel dan model secara keseluruhan, yaitu dengan persistensi laba yang memediasi hubungan antara arus kas operasi dengan harga sahamnya. Gambar 1. Model Penelitian

Persistensi laba
Persistensi laba

Arus kas operasi

Harga Saham

HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel dan Statistik Deskriptif Dengan populasi sebanyak 422 perusahaan untuk jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terdapat sebanyak 235 perusahaan untuk tiga tahun berturut-turut (tahun 2007, 2008 dan 2009). Dari populasi sebanyak 235 perusahaan tersebut diambil sampel sebanyak 60 perusahaan sebagai sample size. Sample size dihitung menggunakan formula Slovin. Statistik Deskriptif berhubungan dengan peringkasan dan penyajian seperangkat data dalam bentuk yang dapat dipahami, agar dapat memberikan nilai manfaat (Perdhana, 2009, dalam Merdekawati, 2011). Dalam penelitian ini statistik deskriptif yang disajikan meliputi jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi dijelaskan dalam tabel 1. Nilai standar deviasi untuk tiga indikator AKO tersebut cukup signifikan, jumlahnya mencapai tiga kali lipat dari nilai rata- ratanya, hal ini menunjukkan adanya outlier pada statistik deskriptif arus kas operasi. Dilihat dari hubungan nilai standar deviasi dan nilai rata-rata persistensi laba yang memiliki selisih cukup besar, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak outlier pada variabel manifest ini. Dilihat dari hubungan nilai standar deviasi dan nilai rata-rata return saham yang memiliki selisih cukup besar, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak outlier pada variabel manifest ini.

Tabel 1. Statistik Deskriptif Arus Kas Operasi, Persistensi laba dan Return Saham

 

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

 

Statistic

Statistic

Statistic

Statistic

Std. Error

Statistic

AKO2007

60

-4.93

8.27

3.77

2.08

1.61

AKO2008

60

-4.47

6.51

4.43

1.52

1.17

AKO2009

60

-1.10

1.24

7.61

2.57

1.99

PL0708

60

-70.98

87.73

-.53

1.92

1.49

PL0809

60

-28.58

113.14

.36

1.97

1.54

RS0708

60

-.66

2.63

.005

.08

.64

RS0809

60

-.83

.77

-.12

.04

.33

Sumber: Ouput SPSS yang diolah

Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan Partial Least Square (PLS). PLS merupakan tools untuk pengukuran data yang menggunakan Structural Equational Modelling. Pada penelitian ini, untuk menguji kualitas data tidak melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu karena data tersebut langsung dikalkukasi oleh PLS. Untuk menganalisis data melakukan PLS, dilakukan perhitungan baik untuk Inner Model Penelitian, ataupun Outer Modelnya dengan hasil berupa signifikansi nilai jalur antar satu variabel dengan variabel yang lain. Model penelitian ini untuk diolah oleh PLS digambarkan sebagai berikut

Gambar 2. Model SEM Penelitian

digambarkan sebagai berikut Gambar 2. Model SEM Penelitian Keterangan: PL : Persistensi laba PL07-08/PL08-09

Keterangan:

PL

: Persistensi laba

PL07-08/PL08-09

: Persistensi laba 2007-2008/ Persistensi laba 2008-2009

AKO

: Arus kas operasi

AKO2007/2008/2009

: Arus kas operasi 2007/2008/2009

RS

: Return saham

RS07-08/RS08-09

: Return saham 2007-2008/ Return saham 2008-2009

Pengukuran Outer Model Menurut Ghozali (2006), Outer Model atau Outer Relation atau measurement model, adalah yang mendefinisikan hubungan indikator (variabel manifest) dengan konstruknya (variabel laten). Indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah antara lain: arus kas operasi bersih tahun 2007, arus kas operasi bersih tahun 2008, arus kas operasi bersih tahun 2009, persistensi laba tahun 2007-2008, persistensi laba tahun 2008-2009, return saham 2007-2008, dan return saham 2008-2009. Penelitian ini memakai format outer model formatif, outer model formatif ini dihitung dengan dengan mengukur convergent validity.

Convergent Validity Convergent validity adalah pengukuran model yang melihat apakah nilai indikator terhadap konstruknya bernilai signifikan atau tidak (Ghozali, 2006). Convergent Validity adalah salah satu syarat untuk kemudian menganalisis hasil running data lebih lanjut. Jika antara indikator dengan konstruknya belum signifikan, maka tingkat realibilitas hasil analisis tidak dapat dilanjutkan. Langkah pertama dalam mengukur convergent validity adalah dengan melihat hubungan antara indikator dan konstruknya, jika nilainya telah diatas > 0.5, maka data tersebut tidak perlu dikalkulasi lagi dan dapat dianalisis lebih lanjut. Untuk penelitian ini didapatkan hasil kalkulasi sebagai berikut

Gambar 3. Hasil Pengukuran Convergent Validity

Gambar 3. Hasil Pengukuran Convergent Validity Sumber : data olahan Hanya arus kas operasi 2008, persistensi

Sumber : data olahan Hanya arus kas operasi 2008, persistensi laba 2008-2009 dan return saham 2008-2009 saja yang memenuhi kriteria penghitungan Convergent Validity > 0.5.Maka jika dilihat secara model penelitian, hubungan antara tiga variabel laten tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar 4. Hasil Pengukuran Model

adalah sebagai berikut: Gambar 4. Hasil Pengukuran Model Sumber : data olahan Pengukuran Inner Model Inner

Sumber : data olahan

Pengukuran Inner Model Inner Model yang dimaksud dalam PLS adalah hubungan antar variabel (variabel laten). Pengukurannya dilakukan dengan melihat nilai Original Sample Estimates antar satu variabel dengan variabel lainnya. Berikut adalah tabel output hasil bootstrapping pengukuran inner model dengan PLS.

Tabel 2. Tabel Pengukuran Inner Model

Original Sample

Estimate

Mean of Subsamples

Standard Deviation

T-Statistik

AKO -> PL AKO -> RS PL -> RS

0.450

0.254

0.318

1.416

-0.137

-0.171

0.151

0.908

-0.124

-0.133

0.119

1.049

Sumber : data olahan Penelitian ini memiliki nilai probabilitas 0.025 dikarenakan meneliti pengaruh hubungan variabel, baik positif maupun negatif. Sedangkan nilai df nya adalah 57 (60 perusahaan 3 variabel). Maka nilai T tabel yang dijadikan indikator level signifikansi penelitian ini adalah sebesar 2,00. Dilihat dari nilai T statistic yang didapatkan dari hasil running data, tidak ada satupun yang nilainya signifikan, dikarenakan nilai T statistic penelitian lebih kecil dari nilai T tabel. Hipotesis pertama menyatakan bahwa arus kas operasi memiliki pengaruh positif terhadap return saham. Hasil pengujian menunjukkan bahwa arus kas operasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan (t=1.416) terhadap return saham, dengan koefisien 0.456. Penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan penelitian Meyti (2006); Finger (1994) dan Manurung (1998), yang menunjukkan bahwa arus kas secara jangka pendek tidak dapat memprediksi harga saham dengan baik. Hipotesis kedua menyatakan bahwa persistensi laba mampu memediasi hubungan antara arus kas operasi dan return saham. Hasil pengujian menunjukkan bahwa persistensi laba tidak mampu dijadikan mediator (t=1.049) dengan koefisien -0.124. Maka hipotesis kedua gagal diterima. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Meythi (2006). Dari penghitungan convergent validity di atas, terlihat bahwa variabel manifest yang berpengaruh signifikan terhadap model penelitian adalah arus kas operasi 2008, Persistensi laba 2008-2009, dan Return saham 2008-2009. Ditolaknya hipotesis pertama dan hipotesis kedua disebabkan karena pada tahun 2008 perekonomian dunia sedang mengalami krisis akibat dari supreme mortgage yang dilakukan oleh Negara Amerika Serikat dan berdampak pada perekonomian berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia dengan terjadinya pelemahan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada BEI (Bursa Efek Indonesia). Selain itu adanya kemungkinan praktik perataan laba yang dilakukan oleh pihak manajemen pada pasar modal (Meyti, 2006).

SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan arus kas operasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhada return saham. Selain itu hasil penelitian menunjukkan persistensi laba tidak mampu sebagai variabel intervening yang memediasi hubungan antara arus kas operasi dengan return saham. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu fakta bahwa tahun 2008 perekonomian dunia sedang mengalami krisis Supreme Mortgage, sehingga data keuangan yang diolah tidak stabil. Selain itu penelitian ini mengabaikan variabel kontrol yang memengaruhi

kenaikan atau penurunan harga saham seperti nilai Book-to-market ratio. Dikarenakan dikhawatirkan terjadi ambiguitas atas hasil penelitian terhadap nilai signifikansi hubungan variabel-variabelnya. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperpanjang periode pengamatan, karena seperti pada penelitian Finger (1994), pada jangka panjang arus kas dan laba sama-sama dapat memprediksi keuangan di masa selanjutnya, termasuk dalam hal informasi return saham. Saran lainnya adalah memasukkan variabel kontrol seperti book-to-market-ratio, price earning ratio, ukuran perusahaan, earning yields,sebagai salah satu yang memengaruhi naik atau turunnya harga saham, sehingga hasil penelitian yang didapat akan memperkaya informasi komponen-komponen apa saja yang dapat memengaruhi return saham.

DAFTAR PUSTAKA

Adilyawan, N. B. (2010). Pengaruh Komponen Arus Kas dan Laba Kotor Terhadap Harga Saham [Skripsi]. Semarang: Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro.

Ball, R., & Brown, P. (1968). An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers.Journal of Accounting Research (Autumn). pp.

159-177.

Daniati, N. (2006). Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan Arus Kas, Laba Kotor, Dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return saham, Simposium Nasional Akuntansi 9 (Padang), K-AKPM 21, hal.1-16.

Dechow,

P.

M.

(1994).

Accounting

earnings

and

Cash

Flows

as

Measures

of

Firm Performance:

Accruals.Journal of Accounting and Economics 18. pp. 3-42.

The

Role

of

Accounting

Dechow, P. M. & Dichev, I. (2002). The Quality of Accruals and Earnings: The Role of Accrual Estimation Errors. The Accounting Review, 77 (Supplement), pp. 35-59.

Djamaluddin, S., & Wijayanti, H. T. (2008). Analisis Perbedaan Antara Laba Akuntansi dan Laba Fiskal Terhadap Persistensi Laba, Akrual, dan Aliran Kas pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol. 11, no.1. pp. 52-74.

Finger, C. A. (1994). The Ability of Earnings to Predict Future Earnings and Cash Flow.Journal of Accounting Research, vol. 32, no. 2 (Autumn). pp. 210-223.

Financial Accounting Standard Board. (1978). Statement of Financial Accounting (SFAC) No 1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises. FSAB: USA.

Ghozali, I. (2006). Partial Least Square.Structural Equational Modelling, Metode Analisis Dengan Partial Least Square PLS. Semarang:

Universitas Diponegoro.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2007). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta.

Kormedi, R., & Lipe, R. (1987). Earnings Innovations, Earnings Persistence, and Stock Returns. Journal of Business 60 (3). pp. 323-345.

Lipe, R. C. (1990). The Relation Between Stock Return, Accounting Earnings and Alternative Information. The Accounting Review (January). pp. 49-71.

Manurung, A. H. (1998). Analisis Arus Kas Terhadap Tingkat Pengembangan Saham di Bursa Efek Jakarta. Majalah Usahawan. No 05. Th XXVII. Mei.

Mayo, H. B. (2006). Basic Investment.Thomsom- South Western.Determination of Price. pp 24.

Merdekawati, I. (2011). Analysis Timelines Pelaporan Keuangan: Studi Empiris di Bursa Efek Indenesia [Skripsi]. Jakarta: Universitas Bakrie.

Meythi. (2006). Pengaruh Arus kas operasi Terhadap Harga Saham dengan Persistensi laba Sebagai Variabel Intervening. Padang:

Simposium Nasional Akuntansi 9.

Parawiyati

& Baridwan, Z. (1998). Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Publik di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol. 1, no. 1 (Januari). pp. 1-11.

Rohendy, R. (2008). Hubungan Informasi Laba Akuntansi dan Komponen Arus Kas Terhadap Tingkat Imbal Hasil Saham [Thesis]. Depok: Universitas Indonesia.

Situs Bursa Efek Indonesia. Harga Saham. www.idx.go.id. Diakses pada tanggal 20 Januari 2011, pukul 09.05 WIB.

Situs Universitas Sumatra Utara. Jurnal Akuntansi. http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi-17.html. Diakses pada tanggal 25 Februari 2011, pukul 17.08 WIB

Situs Yahoofinance. Harga saham.www.yahoofinance.com. Diakses pada tanggal 25 Maret 2011, pukul 22.15 WIB.

Sloan, R. G. (1996). Do Stock Prices Fully Reflect Information in Accruals and Cash Flows about Future Earnings? The Accounting Review 71 (July). pp. 289-315.

Sugiri, S. (2003). Kemampuan Laba Rincian Untuk Memprediksi Arus Kas [Disertasi]. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Triyono & Hartono, J. (2000). Hubungan Kandungan Informasi Arus Kas, Komponen Arus Kas, dan Laba Akuntansi dengan Harga atau Return saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol. 3, no. 1 (Januari). pp. 54-68.

Warren, C. S., Reeve, J. M., & Duchac, J. (2007). Financial Accounting. Thomson-South Western. pp. 629-630.