Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Sindrom nefrotik (SN) merupakan kumpulan gejala-gejala yang terdiri dari

proteinuria masif ( 40 mg/m2 LPB/jam atau rasio protein/kreatinin pada urine sewaktu >

2mg/mg atau dipstick 2+ ), hipoalbuminemia ( 2,5 gr/dL), edema, dan dapat disertai

hiperkolesterolemia (250 mg/uL). Walaupun jarang, SN sering pula disertai dengan gejala

hematuria dan hipertensi.

Sindrom nefrotik pada anak merupakan penyakit ginjal anak yang paling sering

ditemukan. Di Indonesia dilaporkan 6 per 100.000 per tahun pada anak berusia kurang

dari 14 tahun. Perbandingan anak laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Sindroma nefrotik

merupakan penyebab kunjungan sebagian besar pasien di RSCM khususnya di Bidang

Nefrologi dan merupakan penyebab tersering gagal ginjal pada anak.

Etiologi sindroma nefrotik secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu

kongenital, glomerulopati primer/idiopatik dan sekunder mengikuti penyakit sistemik seperti

pada purpura Henoch- Schonlein dan lupus eritematosus sistemik. Sindroma nefrotik pada

tahun pertama kehidupan, terlebih pada bayi berusia kurang dari enam bulan, merupakan

kelainan kongenital (umumnya herediter) dan memiliki prognosis buruk.