Anda di halaman 1dari 13

TUGAS FIQIH

PUASA

DI SUSUN OLEH :

NAMA : FARHAN ADHIGANA

KELAS : VIII E

GURU PEMBIMBING : SYARIFAH SAKINAH

MTsN MODEL KOTA JAMBI

TAHUN PELAJARAN 2017/2018


A. Pengertian Puasa

Puasa dalam bahasa arab yaitu , secara bahasa diertikan sebagai menahan diri.
Maksudnya menahan diri dari makan atau minum untuk suatu jangkamasa tertentu atau
menahan makan,minum serta segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari
terbit fajar sehinggalah terbenam matahari. Umat Islam juga dikehendaki menahan diri
daripada menipu, mengeluarkan kata-kata buruk atau sia-sia, serta bertengkar atau bergaduh.
Ini kerana puasa merupakan medan latihan memupuk kesabaran, kejujuran serta bertolak
ansur sesama sendiri. Secara tidak langsung amalan puasa akan menyuburkan sikap murni di
dalam diri pelakunya.

Puasa ialah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang
kedua sampai terbenamnya matahari. Firman Allah Ta ala:


.dan

makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Al-Baqarah: 187),

B. Macam-macam Puasa

1. Puasa Fardhu

Puasa fardhu adalah puasa yang harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat Islam.
Yang termasuk ke dalam puasa fardhu antara lain:

a. Puasa bulan Ramadhan

Puasa dalam bulan Ramadhan dilakukan berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al-Quran
sebagai berikut :

Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu terhindar dari keburukan rohani dan
jasmani (QS. Al Baqarah: 183).

Artinya :

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(QS.Al Baqoroh: 185)

b. Puasa Kafarat

Puasa kafarat adalah puasa sebagai penebusan yang dikarenakan pelanggaran terhadap suatu
hukum atau kelalaian dalam melaksanakan suatu kewajiban, sehingga mengharuskan
seorang mukmin mengerjakannya supaya dosanya dihapuskan, bentuk pelanggaran dengan
kafaratnya antara lain :

Apabila seseorang melanggar sumpahnya dan ia tidak mampu memberi makan dan pakaian
kepada sepuluh orang miskin atau membebaskan seorang roqobah, maka ia harus
melaksanakan puasa selama tiga hari.

Apabila seseorang secara sengaja membunuh seorang mukmin sedang ia tidak sanggup
membayar uang darah (tebusan) atau memerdekakan roqobah maka ia harus berpuasa dua
bulan berturut-turut (An Nisa: 94).
Apabila dengan sengaja membatalkan puasanya dalam bulan Ramadhan tanpa ada
halangan yang telah ditetapkan, ia harus membayar kafarat dengan berpuasa lagi sampai
genap 60 hari.

Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan umrah, lalu tidak
mendapatkan binatang kurban, maka ia harus melakukan puasa tiga hari di Mekkah dan
tujuh hari sesudah ia sampai kembali ke rumah. Demikian pula, apabila dikarenakan suatu
mudharat (alasan kesehatan dan sebagainya) maka berpangkas rambut, (tahallul) ia harus
berpuasa selama 3 hari.

Menurut Imam SyafiI, Maliki dan Hanafi:

Orang yang berpuasa berturut-turut karena Kafarat, yang disebabkan berbuka puasa pada
bulan Ramadhan, ia tidak boleh berbuka walau hanya satu hari ditengah-tengah 2 (dua)
bulan tersebut, karena kalau berbuka berarti ia telah memutuskan kelangsungan yang
berturut-turut itu. Apabila ia berbuka, baik karena uzur atau tidak, ia wajib memulai puasa
dari awal lagi selama dua bulan berturut-turut.

c. Puasa Nazar

Puasa nadzar adalah puasa yang tidak diwajibkan oleh Tuhan, begitu juga tidak disunnahkan
oleh Rasulullah saw., melainkan manusia sendiri yang telah menetapkannya bagi dirinya
sendiri untuk membersihkan (Tazkiyatun Nafs) atau mengadakan janji pada dirinya sendiri
bahwa apabila Tuhan telah menganugerahkan keberhasilan dalam suatu pekerjaan, maka ia
akan berpuasa sekian hari. Mengerjakan puasa nazar ini sifatnya wajib. Hari-hari nazar yang
ditetapkan apabila tiba, maka berpuasa pada hari-hari tersebut jadi wajib atasnya dan apabila
dia pada hari-hari itu sakit atau mengadakan perjalanan maka ia harus mengqadha pada hari-
hari lain dan apabila tengah berpuasa nazar batal puasanya maka ia bertanggung jawab
mengqadhanya.
2. Puasa Sunnat (Nafal)

Puasa sunnat (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan
apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain :

a. Puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal

Bersumber dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw. bersabda: Barang
siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia menyusulkannya dengan berpuasa
enam hari pada bulan syawal , maka seakan akan dia berpuasa selama setahun.

b. Puasa Tengah bulan (13, 14, 15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah

Pada suatu hari ada seorng Arabdusun datang pada Rasulullah saw. dengan membawa
kelinci yang telah dipanggang. Ketika daging kelinci itu dihidangkan pada beliau maka
beliau saw. hanya menyuruh orang-orang yang ada di sekitar beliau saw. untuk
menyantapnya, sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan, demikian pula ketika si arab
dusun tidak ikut makan, maka beliau saw. bertanya padanya, mengapa engkau tidak ikut
makan? Jawabnya aku sedang puasa tiga hari setiap bulan, maka sebaiknya lakukanlah
puasa di hari-hari putih setiap bulan. kalau engkau bisa melakukannya puasa tiga hari
setiap bulan maka sebaiknya lakukanlah puasa di hari-hari putih yaitu pada hari ke tiga
belas, empat belas dan ke lima belas.

c. Puasa hari Senin dan hari Kamis.

Dari Aisyah ra. Nabi saw. memilih puasa hari senin dan hari kamis. (H.R. Turmudzi)[4]

d. Puasa hari Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah atau Haji)

Dari Abu Qatadah, Nabi saw. bersabda: Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua
tahun, satu tahun yang tekah lalu dan satu tahun yang akan datang (H. R. Muslim)

e. Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharam.


Dari Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw. bersabda: Hari Asyuro (yakni 10 Muharram)
itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari itu.

f. Puasa nabi Daud as. (satu hari bepuasa satu hari berbuka)

Bersumber dari Abdullah bin Amar ra. dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw
bersabda: Sesungguhnya puasa yang paling disukai oleh Allah swt. ialah puasa Nabi Daud
as. sembahyang yang paling d sukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud as. Dia tidur
sampai tengah malam, kemudian melakukan ibadah pada sepertiganya dan sisanya lagi dia
gunakan untuk tidur, kembali Nabi Daud berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.

Mengenai masalah puasa Daud ini, apabila selang hari puasa tersebut masuk pada hari
Jumat atau dengan kata lain masuk puasa pada hari Jumat, hal ini dibolehkan. Karena
yang dimakruhkan adalah berpuasa pada satu hari Jumat yang telah direncanakan hanya
pada hari itu saja.

g. Puasa bulan Rajab, Syaban dan pada bulan-bulan suci

Dari Aisyah r.a berkata: Rasulullah saw. berpuasa sehingga kami mengatakan: beliau tidak
berbuka. Dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan: beliau tidak berpuasa. Saya
tidaklah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Dan
saya tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada puasa di bulan Syaban.

3. Puasa Makruh

Menurut fiqih 4 (empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain :

a. Puasa pada hari Jumat secara tersendiri

Berpuasa pada hari Jumat hukumnya makruh apabila puasa itu dilakukan secara mandiri.
Artinya, hanya mengkhususkan hari Jumat saja untuk berpuasa.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Saya mendengar Nabi saw. bersabda: Janganlah kamu
berpuasa pada hari Jumat, melainkan bersama satu hari sebelumnya atau sesudahnya.
b. Puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan

Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw. beliau bersabda: Janganlah salah seorang dari kamu
mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang
biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.

c. Puasa pada hari syak (meragukan)

Dari Shilah bin Zufar berkata: Kami berada di sisi Amar pada hari yang diragukan
Ramadhan-nya, lalu didatangkan seekor kambing, maka sebagian kaum menjauh. Maka
Ammar berkata: Barangsiapa yang berpuasa hari ini maka berarti dia mendurhakai Abal
Qasim saw.

4. Puasa Haram

Puasa haram adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam. Puasa yang diharamkan.
Puasa-puasa tersebut antara lain:

1. Puasa pada Hari Syak pada hari 30 Syaaban


2. Puasa pada Hari Raya Aidil Fitri pada 1 Syawal
3. Puasa pada Hari Raya Aidil Adha pada 10 Zulhijjah
4. Puasa pada Hari Tashriq pada 11, 12, 13 Zulhijjah
5. Puasa perempuan haid & Nifas
6. Puasa pada Hari Arafah yakni pada 9 Zulhijjah, larangan berpuasa menurut Mazhab
Syiah, tetapi berpuasa pada hari tersebut adalah sunat bagi Muslim yang mengikuti
Mazhab Ahli Sunah Waljamaah, namun menurut pandangan Ahli Sunah Waljamaah juga,
haram berpuasa pada hari tersebut bagi orang yang menunaikan Haji di Arafah.
7. Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
8. Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
9. Puasa untuk orang lain dan yang ghaib serta tidak diniatkan kepada Allah SWT.
C. Syarat Sahnya Puasa.

1. Islam : tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam.

2. Akal : tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.

3. Tamyiz : tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang baik dengan
yang buruk).

4. Tidak haid : tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.

5. Tidak nifas : tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.

6. Niat : dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib. Hal ini didasarkan pada
sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada
malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. (HR.Ahmad, Abu Dawud, Ibnu
Majah, An-Nasai dan At-Tirmidzi. Ia adalah hadits mauquf menurut At-Tirmidzi.

Dan hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam
hari, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.

a. Syarat wajib puasa

Orang-orang Islam yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini diwajibkan berpuasa pada
bulan Ramadhan:

1. Berakal/waras
2. Baligh (cukup umur)
3. Mampu/tidak uzur.

D. Rukun Puasa

Rukun puasa ada dua, iaitu:

1. Berniat pada malam harinya


2. Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar
hingga terbenam matahari.

E. Sunat puasa

Perkara-perkara berikut disunatkan ketika berpuasa:

1. Makan sahur serta melambatkannya


2. Menyegerakan berbuka dan sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang
manis atau air
3. Menjamu orang-orang berbuka puasa
4. Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan.

F. Makruh Puasa

Manakala perkara-perkara berikut akan membatalkan puasa jika terjadi:

1. Makan dan minum dengan sengaja walaupun pada nilaian dan kadaran yang sedikit
pun,seperti memakan saki baki makanan kecil yang terlekat pada celah gigi dan lain-lain
lagi.
2. Muntah dengan sengaja
3. Bersetubuh atau keluar air mani dengan sengaja
4. Keluar darah haid atau nifas
5. Gila (hilang akal)
6. Pitam(termasuk pengsan) atau mabuk sepanjang hari.
7. Merokok disiang hari.(Termasuk menghisap ganja atau dadah)
8. Murtad (keluar dari Islam)
9. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka seperti menyembur pewangi atau
menyegar mulut dan sebagainya.Larangan ini tidak termasuk memasukkan air atau udara
kedalam rongga terbuka kerana ingin berwuduk atau melegakan kesakitan dan
ketidakselesaan pada rongga(dengan syarat air tersebut tidak diminum atau ditelan
dengan sengaja).
a. Mereka yang diizinkan berbuka

Terdapat kelonggaran (harus) kepada golongan yang berikut untuk berbuka:

1. Orang yang sakit .


2. Orang yang berkerja buruh.
3. Orang yang dalam musafir (perjalanan).
4. Orang tua yang sudah lemah.
5. Orang yang hamil dan ibu yang menyusukan anak.
6. Doa buka puasa

b. Tingkatan Puasa

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Ihya al-'Ulumuddin telah membahagikan puasa
itu kepada 3 tingkatan:

1. Puasanya orang awam (shaum al-'umum): menahan diri dari perkara-perkara yang
membatalkan puasa seperti makan dan minum.
2. Puasanya orang khusus (shaum al-khusus): turut berpuasa dari panca indera dan seluruh
badan dari segala bentuk dosa.
3. Puasanya orang istimewa, super khusus (shaum al-khawasi al-khawas): turut berpuasa
'hati nurani', iaitu tidak memikirkan sangat soal keduniaan

3. Hal-Hal yang dapat Membatalkan Puasa

Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal
puasanya.
Jima (bersenggama).
Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang
mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.
Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab
lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa
karena keluarnya tanpa sengaja.
Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau
nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut.
Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa
yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah
dan At-Tirmidzi). Dalam lafazh lain disebutkan : Barangsiapa muntah tanpa disengaja,
maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya). DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalamGharibul
Hadits (5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam
silsilatul Alhadits Ash-Shahihah No. 923.
Murtad dari Islam (semoga Allah melindungi kita darinya). Perbuatan ini menghapuskan
segala amal kebaikan. Firman Allah Taala: Seandainya mereka mempersekutukan Allah,
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Al-Anaam:88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak
tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau
air tanpa disengaja. Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari,
maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.

4. Hikmah Puasa Ramadhan

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang
bertaqwa. (S.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa
(seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai
terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan
redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya


hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah
diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat
ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang
menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang
salah. Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan
kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak
dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb. Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita
mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya
matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak
mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman dan disudahi dengan: Mudah-mudahan kamu menjadi
orang yang bertaqwa.Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan
ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi
kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari
makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-
sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat,
memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah
s.a.w.bersabda:

Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah
menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.

(H.R.Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan
sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu
sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa
digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan
berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap
harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan
lebih teratur dan berkesan.
Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan rohani dan
jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka
hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia saja.

Allah berfirman yang maksudnya:

Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (s.al-Araf:31)

Nabi s.a.w.juga bersabda:

Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang.Tubuh kita
memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-
lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan
badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit
kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama
sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan
bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.

Allah berfirman yang maksudnya: Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran pimpinan
untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang
memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan,
hendaklah ia mengerjakan puasa.(s.al-Baqarah:185).