Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Jihad merupakan istilah yang sangat mulia dalam Islam. Tidak

tanggung-tanggung, Allah akan menganugerahi surga yang dimasuki tanpa

hisa>b bagi orang yang syahi>d dalam rangka berjihad di jalan Allah. Namun

sayang, istilah jihad ini sering dimonopoli dan dipahami secara tekstual oleh

sekelompok tertentu. Dari sinilah peristiwa-peristiwa kekerasan terjadi di

dunia yang mengatasnamakan sebagai jihad dalam Islam demi tegaknya

agama Allah. Tidak kalah familiar, pada tragedi 11 September 2001 yakni

dengan runtuhnya gedung pencakar langit WTC menyebabkan Islam tertuduh

sebagai agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme di dunia.1 Dan

sebagai akibatnya muncullah citra buruk terhadap Islam, dibatasinya gerakan

dakwah, dan kerusakan-kerusakan yang lainnya. Mereka (para teroris)

seringkali mengaitkan tindakan mereka tersebut atas dasar landasan agama

Islam, yaitu jihad.

Semangat tekstualisme yang sangat kuat itulah maka boleh dikatakan,

menjadikan maraknya gerakan yang sering disebut salafi wahabisme sekarang

ini adalah pendekatan yang radikal. Radikalisme ini bersumber dari prinsip

ketaatannya yang ketat pada teks al-Quran dan Hadits shahih serta hanya

melihat praktik Islam murni pada cara yang digunakan para salaf al-sha>lih.

1
Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad, Alih Bahasa Irfan Maulana Hakim dkk Cet. Ke-1 (Bandung:
Mizan, 2010), hal. xlvi.

1
2

Karena itu ketika mendapatkan fenomena yang berlawanan dengan teks dan

tidak ada dalam praktik masa salaf al-sha>lih, mereka akan menentangnya dan

tidak akan berkompromi.2

Paham ini menurut Abdurrahman Wahid, muncul pertama kali sejak

abad 18 dengan kekerasan dan banjir darah.3 Pandangan ini pada awalnya

hanya berkembang di Arab Saudi dan sebagian wilayah Timur Tengah,

seperti Yaman dan Jordan. Bahkan paham radikal ini juga kurang

berkembang di Palestina, tanah yang terus membutuhkan ideologi perlawanan

yang kuat. Namun pada akhirnya gerakan salafi puritan ini menyebar luas di

berbagai belahan dunia, awal dekade 1980an. Go international dari ajaran ini

terutama didorong oleh konstelasi dalam negeri Arab Saudi serta panggung

Afghanistan. Dua peristiwa tersebut menandai awal mula lahirnya gerakan

salafi puritan pada level internasional.4

Di Indonesia, muncul gerakan-gerakan separatis yang mengatas-

namakan doktrin agama Islam sebagai landasan perjuangan mereka.

Kehidupan politik di negeri ini menjadi tidak stabil dan cenderung destruktif

bahkan diskriminatif, yang hal-hal tersebut dapat mengancam jati diri bangsa

Indonesia. Maraknya aksi tuntutan pemberlakuan syariat Islam di Indonesia

yang disertai dengan aksi teror bom juga ikut meramaikan ketegangan negeri

ini. Ledakan demi ledakan terjadi di negeri ini, dan peledakan terakhir terjadi

pada tanggal 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriot. Pencarian jati diri rakyat aceh

2
Asad Said Ali, Ideologi Gerakan Pasca Reformasi, (Jakarta: LP3ES, 2012), hal.107
3
Abdurrahman Wahid, Ilusi Negara Islam, (Jakarta: Wahid Institut, 2009), hal. 131
4
Asad Said Ali, Ideologi Gerakan Pasca Reformasi, hal.107.
3

juga tak kunjung ketemu, kasus Poso, konflik Maluku, persoalan Timor

Leste, Papua dan sebagainya adalah beberapa di antara contoh yang

ditimbulkan oleh ketegangan yang ditimbulkan sekelompok orang yang

mengaku berjuang atas pemahaman ayat-ayat al-Quran.

Bagi para pelakunya, juga bagi sebagian pengikut pemahaman mereka,

melakukan tindakan kekerasan untuk membela agama bahkan juga bom

bunuh diri adalah tindakan terpuji yang sesuai dan diperintahkan oleh agama.

Bahkan kematian para pelaku bom bunuh diri akan membawa mereka ke

pintu gerbang surga dengan status kematian paling mulia sebagai seorang

syahid. Pengakuan pelaku peledakan bom Bali 1 beranggapan bahwa yang

mereka lakukan adalah sebagai bentuk jihad yang ada legitimasinya dalam

nas}s} al-Quran maupun Hadits guna melawan kaum penjajah Amerika Serikat

dan sekutunya.5

Teks ayat-ayat al-Quran yang membicarakan tentang tema jihad,

peperangan agama, pemberantasan syirik dan penegakan hukum syariat

memang menjadi tema besar kelompok fundamentalis ini. Slogan kembali ke

al-Quran dan Sunnah dan teriakan Allahu Akbar selalu menggema di setiap

gerakan maupun demo massa yang mereka gelar. Beberapa ayat yang

berbicara tentang jihad sering mereka sampaikan melalui khutbah dan media

berita. Beberapa ayat tentang tema jihad dan peperangan itu seperti firman

Allah S.W.T. dalam QS. al-Baqarah [2]: 190

5
Rico Setyo Nugroho, Jihad Fi Sabilillah dalam Pemikiran Imam Samudra dalam Buku
Aku Melawan Teroris; Ditinjau Dari Perspektif Dakwah, Skripsi Sarjana Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Walisongo Semarang 2006, hlm. 4.
4



)091(



)090(

Artinya: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi

kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena

sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu

jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah

mengusir kamu (Mekkah); dan fitnah itu lebih besar dari

bahayanya pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi

mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu

(di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan

bagi orang-orang kafir .

Inilah ayat yang pertama turun tentang perang, menurut al-Rabi> dan

Anas r.a.6 Ayat ini, yang berasal dari periode Madinah, juga merupakan ayat

perang pertama yang akan dijumpai bila membuka kitab suci al-Quran dari

muka.

6
Al-T}abari>, Ja>mi al-Baya>n fi>> Tawil al-Quran, juz III, Cet. Ke-2 (Beirut: Muassasah al-
Risa>lah, 2000), hal. 561
5

Teks ayat tersebut jelas sekali adalah perintah dari Allah S.W.T. untuk

memerangi orang-orang kafir yang dengan sengaja telah melakukan tindakan

pengusiran dan memerangi terhadap orang-orang mukmin. Menurut Quraish

Shihab, ayat 190 surat al-Baqarah ini berbicara tentang waktu, kapan

diizinkannya peperangan dimulai oleh kaum Muslimin. Ia dapat dimulai saat

ada musuh yang menyerang.7

Namun tidak semua sarjana tafsir meyakini ayat di atas sebagai yang

pertama. Rasyi>d Rid}a> dalam tafsir al-Mana>r menyatakan bahwa sebuah

riwayat dari Abu> Bakr al-S}iddi>q r.a. menyatakan ayat yang mula-mula turun

tentang perang adalah QS. al-Hajj (22): 39-408


) 99(

)01(

Artinya: Diizinkan (berperang) bagi mereka (kaum Muslimin) yang

diperangi, karena mereka teraniaya, dan bahwa Allah, untuk

menolong mereka, Maha Kuasa. Mereka yang diusir dari

kampung halaman sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali

7
Quraish Shihab, Ayat-Ayat Fitna, (Tangerang: Lentera Hati, 2008), hal. 65
8
Rasyi>d Rid}a>, Al-Mana>r, (Beirut: Da>r al-Marifah), jilid XI, hal.126
6

karena mereka berkata:Tuhan kami (hanyalah) Allah... dan

sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia

dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-

biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi

dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

Sesunggguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong

(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi

Maha Perkasa.

Banyaknya tafsir yang menjelaskan tentang ayat-ayat perang seperti di

atas adalah sebagai respon kaum Muslimin dan reaksi mereka terhadap

tindakan semena-mena yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Semua

sejarawan sepakat, dalam kehidupan Rasululla>h S.A.W. di Makkah, perang

dilarang, dan itu dicerminkan oleh banyak ayat al-Quran masa itu, yang tidak

sekalipun berbicara tentang perang melainkan justru pendekatan yang lunak.9

Seperti firman Allah S.W.T. dalam QS: Fus}s}ilat (41): 34



)90(

Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan)

dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang

9
Syubah Asa, Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik, (Jakarta: GramediaPustaka,2000), hal. 119
7

antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah

menjadi teman yang sangat setia.

Pokok masalah dalam ayat-ayat perang seperti di atas yang menjadi

landasan berpikir ekstrim kaum fundamentalis selain karena pemahaman

tekstual- nampaknya juga dipengaruhi oleh tulisan beberapa mufasir.

Sebutlah tafsir klasik karya Zamakhsyari>. Ia mengikuti sebuah pendapat dari

Ibn Zaid yang menyatakan bahwa ayat perang dalam surat al-Baqarah:190 di

atas terhitung sebagai ayat yang mansu>kh, dihapuskan hukumnya dengan ayat

lain QS.al-Bara>ah (9): 36



)93(

Artinya: ... Dan perangilah para musyrik keseluruhan sebagaimana mereka

memerangi kamu keseluruhan. Ketahuilah bahwasanya Allah

bersama orang-orang yang bertakwa.

Zamakhsyari>, karena teori na>sikh-mansu>kh ini mengemukakan

beberapa pendapat, yang diantaranya adalah peperangan yang dilakukan oleh

Rasu>lulla>h S.A.W. adalah peperangan terhadap semua orang kafir:

Karena mereka semuanya melawan umat Muslimin dan bermaksud

memerangi. Jadi mereka berada dalam hukum berperang, baik mereka

berperang maupun tidak.10

Selain karena kontroversi na>sikh-mansu>kh dan perbedaan pandangan

antara mufasir mengenai pemberlakuan perang melawan kafir, ayat perang

10
Zamakhsyari>, al-Kasysya>f, (Kairo: Da>r al-Hadi>s\, 2012), jilid I, hal.231
8

dalam QS. al-Baqarah: 190 di atas menyinggung kata fitnah. Kata ini

mempunyai beberapa pengertian yang tidak satupun menyangkut arti

tuduhan palsu seperti yang sering dipahami, yang bahasa Arabnya adalah

buhta>nan (QS.4; 20,112, 156; QS.24: 16, dan QS.60: 12). Asalnya kata

fitnah bermakna tindakan mendekatkan emas ke api untuk mendapat

kemurniannya.11 Kemudian berkembang menjadi semua yang merupakan

sarana pengujian. Karena itu fitnah biasanya dimaknai sebagai cobaan, ujian,

atau bencana apapun (termasuk kecamuk batin) yang hakikatnya ujian. Dalam

ayat ini fitnah punya beberapa tafsiran. Pertama syirik, seperti pendapat

Qata>dah, al-Rabi> dan al-D}ahha>k. Sedangkan Ibn Zaid mengartikan fitnah

sebagai bencana kekafiran.12

Penggunaan makna-makna tersebut memicu pemahaman yang ekstrim

bahwa memerangi orang-orang kafir merupakan perintah dari Allah S.W.T.

untuk menghindarkan kemusyrikan dan kekufuran yang sejatinya kedua hal

tersebut lebih besar bahayanya. Belum lagi kata fitnah itu disebut kembali

dalam ayat berikutnya (QS.2: 193) yang memerintahkan umat Muslimin

untuk melakukan peperangan sampai tidak ada fitnah lagi dan ketaatan hanya

semata-mata untuk Allah S.W.T.

Pandangan para mufassir tentang penafsiran ayat-ayat perang seperti di

atas tentu tidak berlebihan jika melihat konteks di masa mereka hidup dan

dimana mereka tinggal. Namun yang sering menjadi problem masyarakat

11
Al-Alu>si>, Tafsir Ru>h al-Maa>ni> (Kairo: Da>r al-Hadi>s\, 2005), hal. 160
12
Al-T{abari>, Ja>mi al-Baya>n fi> Tawi>l al-Quran, Cet. Ke-2, juz III, hal. 565
9

Muslim adalah memahami penafsiran mereka tanpa mengesampingkan

konteks yang meliputi pola pemikiran mereka yang tentunya juga sangat

dipengaruhi oleh kultur, sosial budaya dan iklim politik. Karena kesulitan ini,

sehingga memahami ayat al-Quran maupun tafsir lebih cenderung kepada

pemahaman tekstual ayat dan redaksional tafsir semata. Maka tidak heran jika

Islam yang sejatinya diproklamasikan sebagai agama rahmatan li al-

alami>n malah justru menghadirkan wajah menakutkan dari para

pemeluknya. Islam yang hakikatnya bermakna damai, tentram, aman,

berserah diri, dan lain-lain, namun sebagian para pemeluknya justru

menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk didalamnya

melakukan tindakan kekerasan dan pengeboman yang mengakibatkan ribuan

jiwa tak berdosa meninggal dunia dengan amat sadis. Kalau sekiranya agama

Islam dikaji secara benar dan mendalam, maka tentulah tidak akan pernah

ditemukan bahwa Islam mengajarkan doktrin-doktrin kekerasan seperti yang

telah penulis paparkan sebelumnya. Islam adalah agama yang mencintai

perdamaian, keamanan, dan kenyamanan. Hal ini tercermin dari makna

etimologisnya sebagaimana yang telah penulis jelaskan di atas.

Dari latar belakang singkat yang penulis sampaikan inilah, penulis

merasa perlu untuk mengkaji lagi lebih jauh akan pemahaman jihad dalam

pandangan Ibn Jari>r al-T}abari> dalam kitabnya Tafsir Jami al-Baya>n fi>> Tawil

al-Qura>n. Hal ini sudah menjadi sebuah keharusan sebagai upaya menghapus

pemahaman yang radikal pada seputar ayat-ayat jihad. Upaya ini sering

disebut dengan deradikalisasi.


10

Kata ini berasal dari kata radical (Latin: radix) yang bermakna akar,

diawali awalan de yang dalam bahasa Inggris berarti melenyapkan,

menghilangkan atau menghapus sesuatu. Arti kata radikal yang dimaksud

dalam judul skripsi ini adalah bertindak radikal. Dengan demikian,

deradikalisasi dapat diartikan sebagai upaya melenyapkan, menghilangkan

atau menghapus tindakan maupun paham radikal.13

Dari tinjauan etimologis ini, secara terminologis sederhana

Deradikalisasi Jihad berarti upaya menghapuskan pemahaman yang radikal

terhadap konsep jihad dan terutama perang melawan kafir. Dengan demikian,

deradikalisasi bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk menyampaikan

pemahaman baru tentang jihad ataupun mengkaburkan maknanya, melainkan

sebagai upaya mengembalikan dan meluruskan kembali pemahaman tentang

apa dan bagaimana jihad sebenarnya.

Gagasan deradikalisasi sesungguhnya muncul setelah Islam, sebagai

agama perdamaian, diberi stigma negatif oleh Dunia Barat. Stigma negatif ini

muncul karena banyak faktor; salah paham terhadap Islam, informasi media

yang memojokkan Islam, atau murni karena kebencian terhadap Islam yang

diwarisi dari orientalisme klasik.14 Penulis sendiri lebih cenderung menilai

stigma itu lebih banyak disebabkan oleh faktor internal Islam, yakni

pemahaman pemeluk Islam yang sempit terhadap agamanya. Untuk itulah

urgensi deradikalisasi diterapkan sebagai solusi untuk membangun kembali

citra positif Islam sebagai agama yang damai. Termasuk penulisan skripsi ini
13
Nasaruddin Umar, Deradikalisasi al-Quran dan Hadis (Jakarta: Gramedia, 2014), hal. 4
14
Ibid., hal 5
11

adalah langkah kecil upaya deradikalisasi melalui metode pemahaman agama

yang fokusnya pada tema jihad.

Lebih fokus lagi, penelitian ini menganalisa penafsiran ayat-ayat jihad

dan ayat yang terkait dengan itu, dalam kitab tafsir al-T{abari>. Alasan penulis

memilih tafsir al-T}abari> sebagai objek kajian lebih disebabkan karena Ibn

Jari>r al-T}abari> adalah seorang yang moderat. Ini bisa dilihat dari banyak

penafsiran ayat yang ia paparkan banyak sekali mengutip maz\hab-madz\ab

dengan sikap toleran. Salah satu contohnya adalah seperti dalam QS. al-

Baqarah (2): 193



)099(

Artinya: Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan

(sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika

mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada

permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim

Tentang pengertian redaksi al-Z}a>limi>n di akhir ayat tersebut

sementara al-Kha>zin dalam tafsirnya lebih cenderung mengambil hanya satu

kesimpulan bahwa orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang kafir 15 -

al-T}abari> lebih moderat dengan menyebutkan dua pendapat alternatif yang

disertai sumber-sumbernya secara berimbang. Pertama, mereka yang enggan

15
Al-Kha>zin, Luba>b al-Tawi>l Fi> Maa>ni al-Tanzi>l, Cet. ke-1 (Beirut: Da>r al-Kutub al-
Ilmiyyah, 1995), jilid I, hal. 223
12

mengucapkan kalimat tauhid. Atau kedua, mereka yang tidak berhenti

memerangi orang-orang mukmin.16

Dengan sikap moderatnya itulah, al-T}abari> telah mampu menciptakan

sebuah penafsiran yang objektif dalam melihat suatu permasalahan.17

Disamping itu, kitab Ja>mi al-Baya>n merupakan salah satu dari sekian kitab

tafsir yang menggunakan metode bi al-mas\u>r. Dengan demikian dapat

dikatakan penafsiran dengan corak ini lebih dekat dengan Nabi S.A.W.

B. Rumusan Masalah

Dari hasil latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka

penulis merumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsep jihad dalam al-Quran menurut pandangan Ibn Jari>r

al-T}abari> ?

2. Bagaimana makna kontekstual tafsir ayat-ayat tersebut?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang pemikiran jihad secara

lebih komprehensif, sehingga dapat menambah khazanah keilmuan terkait

konsep jihad bagi penulis secara khusus dan bagi para pencari ilmu secara

umumnya.

16
Al-T}abari>, Ja>mi al-Baya>n fi> Tawil al-Quran, Cet. Ke-2, juz III, hal. 574
17
Muhammad Yusuf (dkk), Studi Kitab Tafsir; Menyuarakan Teks Bisu (Yogyakarta:
Teras, 2004) hal. 30-31
13

2. Untuk merekonstruksi pemahaman yang moderat tentang pemaknaan jihad

secara kontekstual dari pemikiran tafsir al-T}abari>.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Secara ilmiah penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan

pemikiran bagi pengembangan ilmu Ushuluddin pada umumnya dan tafsir

hadis pada khususnya serta menjadi rujukan penelitian berikutnya

2. Penelitian ini diharapkan mendorong penelitian-penelitian lain tentang

disiplin ilmu yang digali dari kedua sumber hukum Islam yakni al-Quran

al-Hadis.

D. Telaah Pustaka

Kajian tentang jihad merupakan sebuah topik kajian yang saat ini

sedang mengalami tenar-tenarnya. Topik jihad merupakan satu bagian dari

berbagai wacana-wacana ke Islaman sejak tahun 90 an hingga saat ini dan

bahkan sempat menjadi salah satu isu Islam yang sangat sensitif. Sehingga

tidaklah heran kalau sekiranya isu tentang jihad ini sering menjadi perdebatan

yang sangat menarik dikalangan para ulama, para intelektual Islam dan juga

para intelektual Barat, baik dalam kaitannya dengan doktrin fiqh maupun

dengan konteks politik Islam. Mereka telah banyak mengadakan kajian dan
14

analisa tehadap seluk beluk kata ini, baik kajiannya itu secara definisi, ruang

lingkup, pembahasan maupun pro-kontra makna kata jihad.18

Perbincangan mengenai topik jihad beserta konsep-konsep yang

dikemukakan sedikit banyak telah mengalami pergeseran dan perubahan

seiring dengan konteks dan lingkungan masing-masing pemikir. Dari

berbagai macam pergeseran dan perubahan yang terjadi secara kontekstual

inilah akhirnya melahirkan berbagai studi tentang reformulasi konsep jihad

yang tidak hanya dikungkung dan dikerangkeng dalam pemaknaan perang

dan kekerasan. Dalam buku Dari Jihad Menuju Ijtihad yang ditulis oleh M.

Guntur Romli dan Ahmad Fawaid Syadzali misalnya, ada upaya yang

dilakukan oleh kedua penulis tersebut untuk mengendapkan jihad dan

mengembalikannya pada makna yang paling fundamental, yaitu keseriusan

dan kesungguhan dalam berpikir.19

Selain itu, ada juga artikel yang diulas oleh Rumadi yang menjadi

bagian dari riset Jurnal Tas}wrul Afka>r edisi Fundamentalisme Islam no. 13

yang berjudul Jihad: Mengapa Jadi Hantu Umat Islam. Sealur dengan judul

yang dituliskan, Rumadi mencoba memberikan stereotype jihad yang

menjadikannya seakan jauh dari praksis keberagamaan umat Islam.20

Selain dua karya di atas ada juga seorang intelektual Muslim yang

meninggal di tiang gantungan, Mahmud Muhammad Toha, menyinggung

18
Nuim Hidayat, Sayyid Quthb: Biografi dan Kejernihan Pemikirannya, Cet. Ke-1
(Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hal. 53
19
Afroni, Studi Reaktualisasi Konsep Jihad (Studi Analisis Pemikiran Kh. Hasyim
Muzadi),Skripsi Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang 2005, hal. 11
20
Ibid., hal. 11
15

sedikit persoalan jihad dalam bukunya The Second Message yang

diterjemahkan dan diberi judul Arus Balik Syariah. Hanya saja apa yang

dilakukannya hanya menampilkan sedikit dari sisi jihad yang seharusnya

dikupas dari berbagai perspektif.21

Adapun mengenai penelitian-penelitian ilmiah yang relevan dengan

penelitian ini adalah:

Irham Mahmudi (2001) menulis penelitian Konsep Amar Maru>f Nahi

Munkar Menurut Ibnu Taimiyah. Penelitian ini berusaha melihat tindakan

apa saja yang termasuk kategori amar maru>f nahi munkar dengan melihat

pemikiran tokoh Ibnu Taimiyah. Penulisan penelitian ini menggunakan

metode komparatif dengan membandingkan pemikiran Ibnu Taimiyah

dengan pemikir lainnya. Temuan penelitian ini mengungkapkan beberapa

kategori amar maru>f nahi munkar yang dipahami oleh Ibnu Taimiyah, yaitu

momentum yang tepat dalam melakukan amar maruf dan nahi munkar ialah

ketika melihat kezaliman penguasa (pemerintah) terhadap rakyatnya. Ibnu

Taimiyah juga mengganggap bahwa amar maruf nahi munkar akan lebih

efektif jika dilakukan secara berjamaah (berkelompok).22

Dodi Dwi Angko (2008) menulis penelitian Konsep Jihad Fi

Sabilillah Menurut Abul Ala al-Maududi. Konsep yang ditawarkan

penelitian ini masih seputar jihad , namun lebih menitik beratkan kepada

pemikiran al-Maudu>di. Berangkat dari usaha untuk meluruskan wacana yang

21
Ibid., hal.15
22
Rico Setyo Nugroho, Jihad Fi Sabilillah dalam Pemikiran Imam Samudra dalam Buku
Aku Melawan Teroris; Ditinjau Dari Perspektif Dakwah,, hal. 7
16

berkembang bahwa jihad bukanlah peperangan, penulisan penelitian ini

menjabarkan bahwa jihad terbagi dalam lima bagian yaitu jihad harta (jiha>d

amwa>l), jihad jiwa (jiha>d anfus), jihad pendidikan (jiha>d ilmi), jihad politik

(jiha>d siya>si>) dan jihad pengetahuan (jiha>d marifah).23

Selain dua penelitian tersebut, ada juga skripsi yang berjudul: Konsep

Jihad Menurut Imam Samudra (Analisis terhadap Buku: Aku Melawan

Teroris), karya Muchsinin (2011). Dalam skripsi ini pembahasan jihad

fokus pada analisis buku, yang intinya bagaimana keadaan bisa dijalankannya

suatu jihad (perlawanan secara fisik) dengan orang-orang kafir. Disebutkan

bahwa tidak boleh setiap Muslim melakukan jihad sendiri-sendiri tanpa izin

dari imam kecuali dalam kondisi diserang musuh, karena mereka sedang

berhadapan dengan sesuatu yang membahayakan.24

Berdasarkan dari beberapa penelitian atau karya-karya ilmiah yang

telah penulis sampaikan di atas, maka pada penelitian ini penulis hanya akan

memfokuskan kajian terhadap ayat-ayat jihad dalam tafsir al-T}abari> dalam

karya masterpiece-nya, Tafsr Ja>mi al-Baya>n dengan pendekatan

hermeneutik filosofis.

23
Dodi Dwi Angko, Skripsi: Konsep Jihad Fi Sabilillah Menurut Abul Ala al-Maududi
(Pekalongan: STAIN, 2008), hal. 30
24
Muchsinin, Skripsi: Konsep Jihad Menurut Imam Samudra (Analisis terhadap Buku:
Aku Melawan Teroris), (Pekalongan: STAIN, 2011), hal. 22
17

E. Kerangka Teori

Penelitian ini akan berupaya untuk mengungkapkan konsepsi jihad

menurut al-T}abari> dalam Tafsr Ja>mi al-Baya>n fi>> Tawi>li al-Qura>n dengan

menggunakan pendekatan teori hermeneutika Gadamer.

Perspektif hermeneutika Gadamerian menempatkan makna wacana

bukan pada maksud (intention) penutur seperti pada hermenutika

intensionalisme (pragmatics), tetapi pada penerimaan (perception) pendengar

atau pembaca. Walaupun wacana diproduksi oleh seseorang, sesuai dengan

hakikat bahasa, wacana tidak ditujukan kepada diri penutur atau penulis

sendiri. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang otonom, yang sudah terlepas

dari penyampainya.25

Hermeneutika filosofis ini, mungkin lebih tepatnya: epistemologis-

sebagai upaya pemahaman terhadap sebuah pemahaman. Ibarat cerita

berbingkai dalam dunia sastra, maka hermeneutika jenis ini adalah suatu

pemahaman terhadap pemahaman yang dilakukan seeseorang dengan

menelaah proses dan asumsi-asumsi yang berlaku (pra-andaian) dalam

pemahaman tersebut.26

Sehubungan dengan pendekatan hermeneutika modern terhadap al-

Quran ini, maka perlu diperhatikan tiga hal pokok yang menjadi asumsi dasar

dalam membaca penafsiran yakni:27

25
Mudjia Rahardjo, Hermeneutika Gadamerian: Kuasa Bahasa Dalam Wacana Politik Gus
Dur, (Malang: UIN Malang Press, 2007), hal. 22
26
Fahrudin Faiz, Hermeneutika Al-Quran: Tema-Tema Kontroversial, hal. 9
27
Fahrudin Faiz, Hermeneutika Al-Quran: Tema-Tema Kontroversial, hal. 15
18

a. Para penafsir itu adalah manusia, siapapun orangnya yang menafsirkan

teks kitab suci itu, ia tetaplah manusia biasa yang lengkap dengan segala

kekurangan, kelebihan, dan kesementaraannya karena terikat oleh ruang

dan waktu. Dengan asumsi ini diharapkan bisa dimengerti bahwasannya

manusia itu tidak akan bisa melepaskan dari ikatan historis dan psikis

kehidupan dan pengalamannya, dimana ikatan tersebut sedikit banyak

akan membawa pengaruh dan mewarnai corak penfsirannya. Para penafsir

adalah sosok manusia yang membawa muatan-muatan kemanusiaan

masing-masing. Setiap generasi Muslim sejak zaman Nabi Muhammad

S.A.W., sambil membawa muatannya itu.

b. Penafsiran itu tidak dapat lepas dari bahasa, sejarah, dan tradisi bahwa

segala aktifitas penafsirian pada dasarnya merupakan satu partisipasi

dalam historis-linguistik dan tradisi yang berlaku, dimana partisipasi itu

terjadi dalam ruang dan waktu tertentu. Pergulatan umat Islam dengan al-

Quran juga berada dalam kurungan ini. Seseorang tidak mungkin bisa

melepaskan diri dari bahasa, budaya, dan tradisi dimana mereka hidup.

Maka, penfsiran itu tidak bisa secara sepenuhnya mandiri berdasarkan

teks, tetapi pasti terkait dengan muatan historisnya, baik muatan historis

saat teks itu muncul dan saat teks itu ditafsirkan.

c. Tidak ada teks yang menjadi wilayah bagi dirinya sendiri, bahwa nuansa

sosio-historis dalam pewahyuan al-Quran itu nampak dalam isi, bentuk,

tujuan dan bahasa yang dipakai al-Quran. Hal ini nampak pula misalnya

dalam pembedaan antara ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.


19

Dalam hubungannya dengan proses pewahyuan, bahasa dan isi di satu sisi,

serta dengan komunitas masyarakat yang menerimanya di sisi lain, al-

Quran tidaklah unik.

Disamping teori hermeneutika Gadamer, dalam memahami makna-

makna yang terkandung dalam al-Qur`an, sejumlah ulama menyusun rambu-

rambu yang diharapkan dapat meminimalisir penyimpangan-penyimpangan

atau kesalahan-kesalahan yang mungkin saja terjadi dalam upaya manusia

dalam memahami al-Quran. Sehubungan dengan itu, di kalangan ulama

dikenal apa yang disebut sebagai kaidah-kaidah tafsir (qawaid al-tafsr), latar

belakang turunnya suatu ayat (asba>b al-nuzu>l), pengetahuan tentang

keragaman bacaan al-Qur`an (qira>a>t al-Qura>n), hubungan atau keselarasan

(muna>sabah) antara suatu ayat atau suatu surah al-Qur`an, dan sebagainya.

Pembahasan tentang qawa>id al-tafsr, asba>b al-nuzu>l, qira>a>t al-

Qura>n, dan muna>sabah itu merupakan pembahasan yang cukup panjang

dalam disiplin ulu>m al-Qura>n yang -karena keterbatasan ruang- tidak dapat

dikemukakan secara rinci di sini. Namun secara garis besar, teori yang

dipergunakan dalam penelitian ini adalah teori tafsir dengan metode maud}u>i,

yakni metode penafsiran untuk menjelaskan konsep pada suatu tema tertentu

dengan menghimpun seluruh ayat al-Quran yang membicarakan tema

tersebut, kemudian menganalisanya dari berbagai aspek yang meliputi asba>b


20

al-nuzu>l, muna>sabah, makna kosa kata, serta aspek-aspek lain yang dianggap

penting.28

Teori-teori atau pengetahuan tentang semua itu juga layak digunakan

sebagai kerangka teori dalam penelitian ini untuk lebih memahami makna

ayat-ayat tentang jihad.

F. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.

Yakni metode (jalan) secara sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau

meneliti suatu objek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi di dalamnya

dan tanpa ada pengujian hipotesis dengan hasil penelitian bukanlah

generalisasi berdasarkan ukuran kuantitas, namun makna dari fenomena

yang diamati.29

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research),

yaitu suatu penelitian yang dalam prosesnya menggunakan data-data atau

bahan-bahan tertulis yang memiliki keterkaitan dengan tema permasalahan

yang akan diteliti.

3. Sifat Penelitian

28
Nasiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Quran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1998), hal.151
29
Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian ,
(Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2011), hal. 24
21

Sifat penelitian ini adalah deskriptif-analitik, yaitu suatu bentuk

penelitian yang meliputi proses pengumpulan dan penyusunan data yang

pada tahap selanjutnya data-data yang sudah terkumpul dan tersusun

tersebut dianalisis secara teliti dan mendalam.

4. Sumber Data

Sumber data yang penulis gunakan berupa literatur yang terdiri dari

hasil karya tulis kepustakaan, penelitian dan berbagai macam jenis dokumen

yang biasanya terangkum dalam buku, jurnal, majalah, penelitian, tesis, dan

karya-karya tulis lainnya.

a. Sumber Data Primer

Karena topik pembahasan pada penelitian ini adalah konsep jihad

dalam pandangan al-T{abari>, maka yang menjadi sumber data primer

penulis dalam penelitian ini adalah kitab tafsir karya al-T{abari> : Jami al-

Baya>n fi> Tawil al-Qura>n.

b. Sumber Data Skunder

Adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah

buku-buku ataupun tulisan-tulisan orang lain yang memiliki keterkaitan

dengan pembahasan yang akan dikaji oleh penulis. Di antaranya adalah

buku Wawasan al-Quran dan Ayat-Ayat Fitna oleh Prof. Quraish

Shihab, Fiqih Jihad oleh Yusuf Qardhawi, Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik

oleh Syubah Asa, Teologi Politik oleh Muhamad Walid, M.A., kitab-

kitab tafsir klasik karya al-Kha>zin, Zamakhsyari, dan sumber-sumber


22

sekunder lainnya yang terkait dengan pembahasan yang akan penulis

kaji.

5. Pendekatan

Sebagai upaya deradikalisasi pemahaman jihad dengan menelaah teks-

teks jihad baik ayat maupun tafsirnya, pada penelitian ini penulis

menggunakan pendekatan hermeneutik filosofis Gadamer. Karena seperti

yang ditawarkan dalam buku Deradikalisasi Pemahaman al-Quran dan

Hadits, upaya deradikalisasi pemahaman dapat melalui konteks yang

dilakukan dengan cara mengaitkan antara ide atau gagasan yang terdapat

dalam nass}{ dengan determinasi-determinasi sosial dan situasi historis

kultural ketika itu.30

Pandangan ini pada dasarnya sama dengan teori yang dibangun dalam

hermeneutik filosofis Gadamer. Karena pendekatan ini fokus perhatiannya

bukan lagi bagaimana agar bisa mendapatkan pemahaman yang

komperehensif, tetapi lebih jauh mengupas seperti apa kondisi manusia

yang memahami itu, dari berbagai aspek baik politik, sosiologis, historis dan

lain sebagainya termasuk dalam aspek-aspek filosofis yang mendalam

seperti kajian terhadap pemahaman dan penafsiran sebagai pra-syarat

eksistensial manusia.31

Maka implementasi hermeneutika Gadamer dalam penelitian ini

adalah menempatkan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan tema jihad

30
Nasaruddin Umar, Deradikalisasi al-Quran dan Hadis, hal. 53
31
Fahrudin Faiz, Hermeneutika Al-Quran: Tema-Tema Kontroversial, (Yogyakarta: Elsaq
Press, 2011), hal. 8-9
23

sebagai teks yang dibaca atau dipahami oleh al-T}abari>. Dengan asumsi-

asumsi dasar (pra-andaian) berupa teori-teori jihad yang dipahami penulis

serta kesadaran sosio-historis antara penulis dengan al-T}abari. Pendekatan

hermeneutika ini bukan dengan maksud mencari kebenaran makna dari

penutur teks al-Quran (Allah S.W.T.) tetapi dengan menjadikan pemikiran

al-T}abari> dalam kitab tafsirnya itu sebagai sache (subyek yang menjadi

tema pembicaraan) atau dialog antara pemikiran al-T}abari> dengan teks-teks

tersebut.

Inilah yang menurut penulis perlu diungkap agar konteks penafsiran

al-T}abari> serta pemahaman beliau tentang konsep jihad tidak menjadi

bagian yang berdiri sendiri-sendiri, namun sebuah pemahaman yang utuh

dan menyatu. Karena sebagaimana yang dinyatakan dalam buku Membaca

Gelombang Ijtihad Antara Tradisi Dan Liberasi oleh Dr. H.M. Atho

Mudzhar bahwa produk-produk pemikiran seorang tokoh itu merupakan

hasil dari interaksinya dengan lingkungan yang meliputinya.32 Sehingga

dapat diterapkan sebuah pemahaman konsep jihad dalam ayat-ayat perang

secara kontekstual dan relevan.

Disamping pendekatan hermeneutik, penelitian ini juga menggunakan

pendekatan tafsir maud}u>i yang terdapat dalam ulu>m al-Qura>n. Dengan

pendekatan ini, penulis mengumpulkan ayat-ayat yang bertemakan jihad

lalu menganalisanya dari aspek-aspek tertentu, seperti makna kebahasaan,

32
Atho Mudzhar, Membaca Gelombang Ijtihad Antara Tradisi Dan Liberasi, Cet. Ke-1
(Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998), hal. 105.
24

asba>b al-nuzu>l, naskh-mansu>kh, dan lain-lain termasuk bagaimana

pandangan al-T}abari> terhadap ayat-ayat tersebut.

G. Sistematika Pembahasan

Dalam penulisannya, penelitian ini dibagi ke dalam beberapa bab, di

antaranya adalah: Bab pertama merupakan pendahuluan yang merangkum

latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, tinjauan pustaka, metode

penelitian, pendekatan, dan sistematika pembahasan yang bertujuan untuk

memberikan gambaran umum tentang penelitian ini.

Bab kedua, menjelaskan tentang teori-teori jihad yang berkembang

dalam khazanah intelektual Islam dari beberapa disiplin ilmu. Penjelasan

teori-teori ini dijadikan sebagai asumsi dasar dalam pendekatan hermeneutik

filosofis Gadamer untuk memahami tafsir ayat-ayat jihad. Di dalamnya

penulis akan membahas tentang defenisi jihad, hukum jihad dan macam-

macam jihad dalam Islam.

Bab ketiga, membahas tentang riwayat hidup Imam Ibn Jari>r al-

T}abari>. Penulis akan terlebih dahulu menguraikan tentang latar belakang

kehidupan beliau dari sisi sosial politik, budaya serta keagamaan yang terjadi

pada masa kehidupan Ibn Jari>r al-T}abari>. Bab ini sebagai pijakan awal untuk

membaca sejauh mana keterkaitan antara kondisi pada masa kehidupan al-

T}abari> dengan penafsirannya. Pada bab ini juga akan dijelaskan secara

singkat metode penulisan yang dipilih al-T}abari> di dalam kitab tafsirnya.


25

Bab keempat, menjelaskan penafsiran ayat-ayat jihad dari kitab tafsir

al-Ja>mi al-Baya>n. Bab ini juga berisi komentar-komentar al-T}abari terhadap

kata jihad dan Qita>l dalam al-Quran, dan persoalan na>sikh-mansu>kh

dalam ayat jihad. Sesuai konsep hermeneutika, penulis juga akan memberikan

sekilas gambaran keterkaitan antara tafsir al-T}abari> dengan sosio-historis

yang melingkupinya. Dan diakhiri dengan kajian kontekstual makna jihad.

Kajian ini sebagai upaya memproduk pemahaman baru yang dalam teori

hermeneutik Gadamer dikatakan sebagai pemahaman yang bersifat subjektif.

Bab kelima, membahas bagian akhir dari penelitian ini yakni penulis

akan memberikan penutup dari rangkaian penulisan penelitian yang telah

penulis buat. Pada bab ini penulis akan menarik sebuah kesimpulan seputar

penulisan penelitian yang telah penulis sajikan dalam penelitian ini dan saran-

saran untuk tema yang terkait.