Anda di halaman 1dari 15

HUKUM QISHASH DALAM AL-QURAN

Makalah
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir IV
yang diampu oleh Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag

Disusun oleh Kelompok 8


Jejen Maulana (1151030156)
Miftahul Khoeriyah (1151030180)
Mila Robiatul A (1151030181)
M. Adnan Fahrezi (1151030167)

JURUSAN ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR


FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah SWT; yang telah memberikan nikmat kepada kita semua
dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW;
beserta keluarga dan sahabat-sahabat serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya
sampai akhir zaman. Amiin

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang


Tafsir Ahkam, dengan pembahasan Jihad dalam al-Quran, yang penulis cantumkan
dari berbagai sumber. Dalam makalah ini diuraikan materi tentang hukum jihad,
macam-macam jihad, dan keutamaan jihad.

Melalui kata pengantar, terlebih dahulu penulis meminta maaf dan memohon
pemakluman apabila ada kekurangan, karena makalah ini masih jauh dari kata
sempurna baik dari segi bahasa, penulisan, dan penyusunannya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang
membacanya.

Bandung, 20 November 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

A. Latar Belakang .............................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 3

A. Definisi Jihad ................................................................................................ 3


B. Macam-Macam Jihad .................................................................................... 4
C. Hukum Berjuhad ........................................................................................... 7
D. Keutamaan Orang-Orang Yang Berjihad ...................................................... 8

BAB III PENUTUP ................................................................................................. 11

A. Kesimpulan ................................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam, lebih dari sekedar agama formal, adalah spirit kreatif dan
informatif. Ajaran tauhid yang diserukan Nabi Muhammad Saw, terkait dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan rasa keadilan ekonomi dan sosial.
Ia berhubungan dengan suatu gerakan reformasi sosial, yang tampak dari
wahyu-wahyu jajaran awal, yang kelak menghasilkan masyarakat islam di
madinah. Islam adalah gerakan perubahan berskala internasional yang
bertujuan membawa dunia ke arah yang ideal. Untuk mewjudkan gagasan-
gagasan ideal, diatas pundak setiap muslim terpikul kewajiban jihad sebagai
bakti universal kepada kemanusiaan.
Jihad merupakan identitas pokok mukmin dalam praktis sosial teologi,
dimana antara iman dan jihad tidak terpisahkan. Ada korelasi antara iman,
jihad, dan taqwa. Iman merupakan dasar taqwa, sementara jihad merupakan
salah satu indikasinya. Iman dan jihad harus dipahami sebagai bagian dan paket
dari taqwa. Al-Quran mencanangkan jihad dalam arti perjuangan dakah sejak
periode awal islam di mekah.
Pembicaraan para pakar tentang jihad dan konsep-konsep yang
dikemukakan mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan konteks
dan lingkungan masing-masing.situasi-siuasi politik konkret membuat sbagian
ulama dan pemikir muuslim bersikap pragmatis dan realistis dalam perumusan
mereka tentang jastifikasi untuk melakukan jihad.
Jihad dilaksanakan berdasarkan tuntunan nash al-Quran dan sunah
Rasulullah, serta teladan langkah-langkah perjuangan nabi Saw sesuai dengan
perkembangan situasi dan kondisi dimana saja muslim berada. Aktivitas jihad
dapat dirumuskan dalam dua bentuk kegiatan besar, yakni sosialisasi dan
internalisasi nilai-nilai kebajikan (amal maruf) dan pencegahan serta

1
penghapusan kemunkaran (nahi munkar). Al-quran menginginkan agar kaum
muslim mendukung terciptanya kondisi yang benar yang bersumber pada
kehendak Allah dan kepentingan masyarakat dalam seluruh aspek.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Jihad?
2. Apa saja macam-macam jihad?
3. Bagaimana hukum jihad?
4. Bagaimana keutamaan bagi orang yang berjihad?

C. Tujuan penulisan
1. Untuk mrngetahui bagaimana definisi jihad
2. Untuk mengetahui apa saja macam-macam jihad
3. Untuk mengetahui bagaiman hukum jihad
4. Untuk mengetahui bagaimana keutamaan bagi orang yang berjihad

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Jihad

Secara ethimologis kata jihad merupakan bentuk kata jahdan (masdar)


dari kata jahada-yujahidu-jihadan-mujahadatan. Kata dasarnya adalah jahada-
yajhadu-jahdan/juhdan yang berati kekuatan (taqah). Didalam perspektif al-
Quran, jihad memiliki pengertian lebih luasa dari pada sekedar mengangkat
senjata. Jihad adalah upaya mengeluarkan segala potensi, daya, usaha, dan
kekuatan secara sungguh-sungguh demi membela kebenaran dalam rangka
membela Allah Swt. Upaya tersebut dapat dilakukkan antara lain

Allah berfirman dalam surah al furqan :52

Artinya: maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan


berjaunglah terhadap mereka dengannya (al-Quran) dengan (semangat)
perjuangan yang besar.

Ayat ini menjelaskan pentingnya dakwah dalam menghadapi lawan-


lawan agama dengan informasi-informasi tentang kandungan al-Quran .
dengan kata lain, jihad dengan mengajukan argumantasi-argumentasi kuat yang
mengacu kepada al-Quran dinilai sebagai jihad yang besar (jihadan kabiiran).
Tuntunan ayat ini sangat relevan dengan situasi masa kini karena informasi
merupakan senjata ampuh untuk meraih keberhasilan. Stigma negatif yang
dialamatkan kepada islam harus dibendung dengan informasi yang benar dan
keteladanan yang baik dalam koridor ini, berjihad dengan al-Quran dalam
pengertian diatas harus dipersiapkan lebih dalam ketimbang berjihad dengan
nmengangkat senjata. Berjihad dengan senjata dalam konteks bela negara

3
memeng munkin diikuti pula oleh nonmuslim, tapi tidak demikian dengan
berjihad dengan al-Quran. Menghadapi lawan yang pandai memutar balikan
fakta, yang tidak punya pengetahuan , atau yang menyalah artikan ajaran itu,
nyatanya jauh lebih berat daripada pertempuran fisik. Karenanya, logis bila ayat
tersebut menyebut jihad dengan al-Quran sebagai jihad yang besar.

B. Macam-Macam Jihad
1. Jihad melawan kaum kafir dan munafiq
QS. At-Taubah: 73


.

Ahmad Mushtofa Al-Marghi dalam menafsirkan ayat ini
mengatakan:
Hai Nabi kerahkanlah segenap upayamu untuk melawan golongan
kafir dan munafiq yang hidup di tengah-tengahmu, seperti mereka telah
mengerahkan upaya untuk menyerangmu; dan perlakukanlah mereka dengan
kekerasan yang sesuai dengan keburukan keadaan mereka.1
Dalam ayat ini ada beberapa pendapat yang berkenaan dengan sikap
kaum muslimin terhadap kaum kafir dan munafik. Ada sebagian pendapat
yang menyatakan bahwa mereka keduanya harus diperangi dengan
kekerasan serta kekuatan, tapi sebagian besar pendapat mengatakan untuk
memerangi orang kafir itu dengan kekerasan peperangan, tetapi untuk
menghadapi kaum munafik dengan kata-kata dan sikap yang keras.

2. Jihad melawan hawa nafsu


Q.S. Al-Jasiah: 23

1 Ahmad Mushthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Mushthofa al-Baby al-Halabi, Mesir, 1971, Juz X,
hal: 276

4






Artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah
yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
Pada ayat ini terdapat penjelasan bagai mana manusia meninggalkan
asal yang pasti dan telah memilih hawa nafsu yang tak menentu. Ini terjadi
disaat manusia menjadikan nafsu sebagai tuhannya yang mana nafsu itu
dijadikan landasan gerak, hukum dan semua prilakunya yang jelas telah
menyesatkanya. Redaksi ini menggambarkan pengingkaran manusia dari
kalam Allah SWT yang memberinya petunjuk.
maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu
sebagai tuhannya?
Nyata sesuai dengan pengetahuan Allah SWT tentang kenyataan bahwa
orang itu pantas untuk disesatkanNya dan dibiaran oleh Allah untuk memilih
menuhakan hawa nafsu yang sakit. 2
Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya?

3. Jihad dengan harta dan jiwa


Q.S. Al-Anfal: 72

2 Terjemah Al jhashas pdf hal. 289

5











Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah
serta
berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-
orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan
(kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain
lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman,
tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun
atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan
tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan
pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan
kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu
dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.
Al-Maraghi dalam tafsirnya membagi ayat di atas menjadi dua
kelompok , yakni; yang termasuk dalam mengeluarkan harta dan berjihad
dengan jiwa:3 Adapun yang termasuk dalam mengeluarkan harta terbagi
menjadi dua yaitu:
a. Yang dinafkahkan dalam rangka saling menolong, hijrah, membela agama
Allah, dan melindungi Rasulnya.
b. Yang dikeluarkan dengan kemurahan jiwa, dengan meninggalkan harta
benda dikampung halamannya ketika keluar daripadanya.
Adapun yang termasuk berjihad denan jiwa dibagi menjadi dua macam:
a) Memerangi musuh, tanpa memperdulikan perlengkapan dan jumlah mereka.

3 Al-Marghi, Op cit,juz X, hal: 42

6
b) Yang dilakukan sebelum berperang, seperti memikul kesusahan, menahan
kesulitan, dan sabar dalam menghadapi pengusiran, hijrah dari kampung
halaman serta implikasinya: kelaparan, kepayahan dan lain-lain.
Qs. at-Taubah 14







Artinya: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan
(perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan
mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati
orang-orang yang beriman
,Dalam ayat ini Allah Swt memberikan isyarat bahwa dalam berjihad
kita dituntut untuk mengorbankan jiwa dan harta, bahkan jika memaksa kita
dituntut untuk mengorbankan nyawa kita untuk membela agama Allah.
Namun, jihad semacam ini sifatnya tidak memaksa, bisa dilakukan
semampunya. Sebagaiman dikatakan oleh Al-Maraghi dalam tafsirnya:
barang siapa diantara kalian mampu berperang dengan harta dan jiwa
sekaligus, maka dia wajib melakukannya, tetapi baramg siapa mampu
melakukan salah satu diantaranya, dia wajib melaksanakan apa yang dia
mampu laksanakannya. 4
.
C. Hukum Berjihad

Hukum jihad itu terbagi menjadi dua yaitu fardu kifayah dan fardu ain.
Menurut ibnu musayab hukum jihad adalah fardu ain sedangkan menurut
jumhur ulama hukumnya adalah fardu kifayah yang dalam keadaan tertentu
akan berubah menjadi fardu ain.

1. Fardu kifayah, yang dimaksud jihad fardu kifayah menurut jumhur ulama
yaitu memerangi orang-orang kafir yang berada dinegeri-negeri mereka.

4 Al-Maraghi, Op cit, hal: 124

7
Makna jihad fardu kifayah ialah, jika sebagian kaum muslim dalam kadar
dan persediaan memadai, telah mengambil tanggung jawab
melaksanakannya, maka kewajiban itu terbebas dari seluruh kaum
muslimin. Tetapi sebaliknya jika tidak ada yang melaksanakannya, maka
kewajiban itu tetap dan tidak gugur, dan kaum muslimin semua berdosa.
2. Fardu Ain, para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardu ain pada
tiga kondisi, pertama apabila pasukan muslimin dan kafirin bertemu dan
sudah saling berhadapan dimedan perang, maka tidak boleh seseorang
mundur atau berbalik. Kedua apabila musuh menyerang negeri muslim
yang aman dan mengepungnya, maka wajib bagi penduduk negeri untuk
keluar memerangi musuh, kecuali wanita dan anka-anak. Ketiga apabila
imam meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk
berangkat perang, maka wajib berangkat.

D. Keutamaan Bagi Orang-Orang Yang Berjihad

Q.S. Al-Ankabut: 69

Dan orang-orang yang berjihad (mencari ridho) Kami, Kami akan tunjukkam
kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sungguh Allah beserta oramg-orang
yang berbuat baik.

Ayat di atas, ditunjukkan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh


berjihad untuk mencari keridhoan Allah dan menegakkan kalimat-Nya, Allah
akan menunjukkan kepada mereka itu jalan-jalan-Nya di dunia dan di akhirat,
dan sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang baik-baik
amalannya, berbuat baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Dalam tafsir
Al-Maraghi dikatakan:

Orang-orang yang memerangi mereka, yang mengadakan kedustaan


terhadap Allah dan mendustakan apa yang telah didatangkan kepada mereka

8
oleh Rasul-Nya. Mereka memerangi orang-orang kafir dengan tujuan untuk
meninggikan kalimat dan menolong agama Kami, niscaya Kami benar-benar
menambah kepada mereka petunjuk kepada kebaikan dan taufik
mengamalkannya.5

Kholifah Umar bin Abdul Aziz telah mengatakan pula sehubungan


dengan hal ini: sesungguhnya keterbatasan kita terhadap ilmu-ilmu yang
belum kita ketahui itu, penyebab-penyebabnya tiada lain kareba kelalaian kita
di dalam mengamalkan apa yang telah kita ketahui, jika mengamalkannya
sebagian dari apa yang kita ketahui, niscaya kita akan mewarisi ilmu yang
belum diraih oleh kita sendiri.

Dari keterangan di atas, menunjukkan betapa besar karunia Allah dan


hidayah-Nya kepada orang-orang yang berjihad untuk menolong agama Allah.
Sehingga Allah memberi petunjuk kepada kebaikan dan taufik untuk
mengamalkannya, sehingga mereka akan memperoleh apa yang belum kita
peroleh sebelumnya. Sesungguhnya, Allah mempunyai belas kasihan (rahmat)
benar-benar beserta makhluk-Nya, yang selalu berbuat kebaikan. Maka,
berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan penuh kepercayaan kepada
Rasul-Nya yang telah membawa berita gembira dari sisi Rabb-Nya, bahwa Dia
akan memberikan pertolongan-Nya, dan akan menganugerahkan kemenangan
kepada orang-orang yang berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan Dia akan
mengampuni mereka serta melimpahkan pahala yang besar di akhirat nanti.

Allah juga akan meninggikan derajat bagi orang-orang yang berjihad


dengan harta dan jiwanya, derajat yang ukuran serta hakikatnya tidak dapat
diketahui. Kemudian Allah merinci keutamaan itu pula pada ayat-ayat

5 Al-Marghi, Op cit, juz, XXI, hal: 23

9
selanjutnya, yakni memberikan magfirah dan rahmat yang tidak bisa diukur
oleh manusia.

Allah juga menjanjikan pahala yang baik berupa surga kepada masing-
masing orang yang berjihad dan yang tidak turut berjihad karena lemah, sedang
dia berharap mempunyai kemampuan untuk itu, karena masing-masing
mempunyai keimanan yang sempurna dan ikhlas kepada Allah di dalam
bekerja. Allah mengutamakan orang-orang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang tidak turut berjihad tanpa udzur dengan pahala yang
besar. Derajat-derajat itu ialah apa yang disimpan oleh Allah bagi hamba-Nya
berupa kedudukan-kedudukan yang tinggi yang tidak dapat dihitung sebaimana
firman Allah dalam surat Al-Israayat 21:






"Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian
(yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar
keutamaannya."

Derajat-derajat di akhirat didasarkan atas derajat-derajat di dunia,


berupa kekuatan iman kepada Allah, pengutamaan keridhoan-Nya atas
kesenangan dan kenikmatan, serta mengutamkan kemaslahatan umum atas
nafsu pribadi. Ampunan yang dihubungkan dengan derajat ini ialah ampunan
terhadap dosa-dosa yang sudah terlanjur mereka lakukan dan tidak bisa dihapus
oleh seluruh kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak turut
berperang.

BAB III

PENUTUP

10
A. Kesimpulan
a. jihad memiliki pengertian lebih luasa dari pada sekedar mengangkat senjata. Jihad
adalah upaya mengeluarkan segala potensi, daya, usaha, dan kekuatan secara
sungguh-sungguh demi membela kebenaran dalam rangka membela Allah Swt
b. makna jihad sendiri tidak sesempit makna perang melainkan lebih luas,
c. Jihad tidak hanya fisik saja, terdapat jihad-jihad nonfisik seperti jihad mekawan
hawa nafsu,
d. Hukum berjihad fardu kifayah dan fardu ain

B. Saran

Diharapkan kepada para pembaca dapat memahami makalah ini dan dapat
mengembangkan lebih sempurna lagi, kritik dan saran sangat kami harapkan, untuk
memotivasi penulis, agar dalam penyelesaian makalah ini bisa memperbaiki diri dari
kesalahan, atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.

Daftar Pustaka

Ahmad Mushthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Mushthofa al-Baby al-Halabi,


Mesir, 1971, Juz X, hal: 276

11
Terjemah Al jhashas pdf hal. 289

12