Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN

KELAS
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN METODE
BERMAIAN PADA SISWA KELAS A-2 DI PAUD RESTU BUNDA KECAMATAN
PUNDUH PEDADA KABUPATEN PESAWARAN SEMESTER 1 TAHUN
PELAJARAN 2017 2018

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Penelitian Tindakan Kelas (IDIK 4008)
Yang Dibimbing Oleh Dra. HennyIndreswari, M.Pd

Oleh
WIWIK MWRINA
NIM : 825541966

KMENTERIAN PENDIDIKAN NASIOANAL


UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ - LAMPUNG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S-1 PGSD
POKJAR WAY RATAI
2017
A. Judul:

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN METODE


BERMAIAN PADA SISWA KELAS A-2 DI PAUD RESTU BUNDA KECAMATAN
PUNDUH PEDADA KABUPATEN PESAWARAN SEMESTER I TAHUN
PELAJARAN 2017 - 2018

B. Bidang Kajian

Kemampuan membaca dan metode bermain

C. Pendahuluan

Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003,


tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 28, ayat 3 menyatakan bahwa Pendidikan
Anak-anak Usia Dini (PAUD) merupakan pendidikan anak usia dini pada jalur
pendidikan formal, yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan berbagai
potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial, emosional,
kemandirian, kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni untuk siap memasuki sekolah
dasar.
Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama PAUD adalah
mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/perilaku,
dan keterampilan agar anak dapat melanjutkan kegiatan belajar yang sesungguhnya di
sekolah dasarPAUD merupakan lembaga pendidikan pra-skolastik atau pra-akademik.
Itu artinya, PAUD tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membelajarkan
keterampilan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan skolastik atau
akademik ini haruslah menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan sekolah
dasar.
Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dengan praktik kependidikan baik di
PAUD ataupun SD di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab dalam membelajarkan
kemampuan skolastik/akademik khususnya yang berhubungan dengan kemampuan
membaca dan menulis ini seolah-olah telah bergeser dari sekolah dasar ke PAUD.
Bahkan terdapat SD yang dengan sengaja mengajukan persyaratan atau tes masuk

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 2
dengan menggunakan konsep akademik, terutama tes membaca dan menulis. Akibatnya
banyak PAUD yang tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat bermain yang
menyenangkan bagi anak.
Pada dasarnya, membelajarkan persiapan membaca dan menulis di PAUD dapat
saja dilaksanakan selama dalam batas-batas aturan pengembangan pra-skolastik atau
pra-akademik. Pembelajaran persiapan membaca dan menulis di PAUD hendaknya dapat
diberikan secara terpadu dalam program pengembangan kemampuan dasar, dalam hal ini
bidang pengembangan berbahasa dan motorik.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masa peka anak pada aspek
perkembangan membaca dan menulis ini dapat disusun berbagai bentuk kegiatan
pembelajaran membaca dan menulis bagi anak PAUD.
Berdasarkan Kompetensi membaca di tingkat pendidikan dasar merupakan salah
satu kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Membaca merupakan awal dan
dasar dari kemampuan seseorang. Apabila kemampuan membaca rendah dapat
dipastikan bahwa kemampuan yang lain juga rendah, tidak mungkin memiliki
kemampuan matemetik yang tinggi.
Secara umum, upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada diri
siswa masih mengalami beberapa kendala yakni karena mahalnya bahan bacaan seperti
buku, Koran dan majalah. Di samping itu, khususnya tayangan film asing ke dalam
bahasa Indonesia. Merupakan salah satu penghambat untuk mengembangkan kebiasaan
membaca. Sesungguhnya yang paling penting adalah kemudahan mendapatkan bahan
bacaan dan timbul keniatan pada diri seseorang akan pentingnya membaca.
Pada hakikatnya pendidikan anak PAUD adalah pemberian upaya untuk
menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang
akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Pendidikan anak PAUD
merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada
peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan baik koordinasi motorik (halus
dan kasar), kecerdasan jamak (multiple intelegence), maupun kecerdasan spiritual.
Sesuai dengan keunikan dan perumbuhan anak PAUD, Penyelenggaraan Pendidikan
PAUD disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilaului oleh anak PAUD
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003
dinyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 3
UU Sisdiknas (2003) pada pasal 1 ayat (14) menyatakan bahwa pendidikan anak
TK/ Usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang diajukan kepada anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Karakteristik tujuan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak memiliki lima bidang
pengembangan yaitu: (1) pengembangan sikap dan nilai, (2) pengembangan bahasa, (3)
pengembangan kognitif (4) pengembangan fisik dan motorik, dan (5) pengembangan
seni. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, guru dapat menggunakan strategi /
metode pembelajaran yang memungkinkan anak dapat mengembangkan keterampilan
berbicara, mendengar, membaca dan menulis.
Bersarkan karakteristik dan aspek pengembangan kebahasaan, pada usiaPAUD
kemampuan anak masih terbatas dalam memahami bahasa dari pandangan orang lain.
Akselerasi perkembangan bahasa anak terjadi sebagai hasil perkembangan fungsi
simbolis Hetherington (dalam Moeslichatoen, 1999: 18). Jika pengembangan simbol
bahasa telah berkembang, maka hal ini memungkinkan anak memperluas kemampuan
memecahkan persoalan yang dihadapi dan memungkinkan anak belajar dari sesuatu
yang telah dibacanya. Semakin banyak dan sering anak membaca maka semakin
berkembang pula keterampilan memahami kata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan
apabila para ahli menyimpulkan, membaca merupakan dasar dari pada keterampilan
bahasa lainnya Tarigan (dalam Tarigan 1987: 48)
Pentingnya pemahaman terhadap suatu kata dalam interaksi komunikatif
memang sangat nyata. Untuk dapat terlibat dalam suatu komunikasi, seseorang harus
mampu memahami dan mereaksi apa yang baru saja dikatakan dan didengar.
Konsekwensinya pembelajaran perlu melatih keterampilan membaca. Membaca adalah
kemampuan memperluas cakrawala pengetahuan kita . Dengan mahir membaca akan
timbul keinginan menemukan bacaan , memahami dan menafsirkan apa yang dibaca.
(Fawzia Aswin .H,1999).
Untuk mencapai kegiatan membaca tersebut diperlukan metode yang tepat.
Metode bermain merupakan salah satu metode yang banyak di pergunakan di Taman
Kanak-Kanak. Metode bermain merupakan salah satu strategi pembelajaran yang
menyenangkan karena anak mendapat pengalaman langsung yang dapat memberikan
pengalaman belajar bagi anak PAUD
Dengan latar belakang tersebut penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang
pembelajaran kemampuan membaca dengan Metode Bermain. Penelitian ini penulis
tuangkan dalam bentuk Proposal Penelitian Tindakan Kelas dengan judul

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 4
Meningkatkan Kemampuan Membaca dengan Metode Bermain pada Siswa Kelompok
A-2 di PAUD Restu Bunda Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran Semester I
Tahun Pelajaran 2017/2018.

D. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah


1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, peneliti akan
mencoba membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana hasil pembelajaran kemampuan membaca dengan metode bermain
pada siswa kelompok A-2 di PAUD RESTU BUNDA di Kecamatan Punduh
Pedada Kabupaten pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018?
2. Bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran kemampuan metode bermain
pada siswa kelompok A-2 di PAUD RESTU BUNDA di Kecamatan Punduh
Pedada Kabupaten Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018?
2. Pemecahan Masalah
Siswa yang mendapatkan pengetahuan dari lingkungan secara langsung melalui
pembelajaran yang menyenangkan lewat metode bermaian tentunya akan menghasilkan
atau menguasai materi (dalam hal ini kemampuan membaca) yang lebih baik kerena
materi didapat dengan permainan yang menyenangkan.

3. Hipotensis

Hipotensis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah :


Melalui metode bermain dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa
kelompok A-2 di PAUD RESTU BUNDA Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten
Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018

E. Tujuan Peneliti

1. Tujuan Umum
Guna meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelompok A-2 di PAUD
RESTU BUNDA Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten pesawaran Tahun
Pelajaran 2017/2018.

2. Tujuan Khusus

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 5
Diharapkan siswa dapat menumbuh kembangkan kemampuan membaca mejadi
sebuah minat, kegemaran, dan kebiasaan positif baik di sekolah, di keluarga
maupun di lingkungan masyarakat.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Siswa
a. Memberikan motivasi dan dorongan untuk kemampuan membaca baca pada
anak.
b. Dengan kemampuan membaca pemahaman, siswa dapat berperan aktif dan
bertanggung jawab dalam mengembangkan kemajuan belajar mereka sendiri.
c. Meningkatkan kemampuan berfikir kognitif, efektif dan psikomotorik dalam
konteks pembelajaran.
2. Manfaat Bagi Guru
a. Sebagai fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik, metode,
dan pendekatan dalam pembelajaran membaca.
b. Dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang bersifat dinamis dan
menyenangkan.
c. Mengevaluasi hasil akhir pembelajaran dengan upaya membina,
membimbing dan mengarahkan siswa agar terampil dalam membaca
pemahaman secara baik, benar, efektif dan efisisen.
3. Manfaat Bagi Sekolah
a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar.
b. Meningkatakan prestasi sekolah melalui peningkatan prestasi belajar siswa
dan prestasi kinerja guru.

G. Kajian Pustaka

1. Karakteristik Tujuan Pembelajaran di TK


Karakteristik tujuan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak memiliki empat bidang
pengembangan yaitu:
a) pengembangan sikap dan nilai.
b) pengembangan bahasa
c) pengembangan kognitif
d) pengembangan fisik dan motorik
e) pengembangan seni
2. Kompetensi Dasar Membaca
Sesuai dengan Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak & Raudhatul
Athfal (A) tentang membaca tertuang dalam Standar Kompetensi SK : 2. Anak
mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata
dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya. Kompetensi Dasar (KD) : 2.2
Dapat menceritakan gambar (pra membaca), mengenal bahwa ada hubungan antara

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 6
bahasa lisan dengan tulisan (pra membaca). (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas:
2003)
3. Karakteristik anak TK

Anak taman kanak-kanak adalah anak yang sedang berada dalam rentang
usia 4-6 tahun, yang merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses
perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari
tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses
evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri.
Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai
tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek : gerakan, berpikir, perasaan, dan
interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan
hidupnya.

Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang


periode usia dini merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan
sedini mungkin. Maria Montessori (Elizabeth B. Hurlock, 1978:13) berpendapat
bahwa usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu
suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga
tidak terhambat perkembangannya. Misalnya masa peka untuk berbicara pada
periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan
berbahasa untuk periode selanjutnya.

Masa-masa sensitif anak pada usia ini menurut Montessori mencakup


sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan, mengeksplorasi lingkungan dengan
lidah dan tangan, berjalan, sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail, serta
terhadap aspek-aspek sosial kehidupan.

Erik H. Erikson (Helms & Turner, 1994:64) memandang periode usia 4-6
tahun sebagai fase sense of initiative. Pada periode ini anak harus didorong untuk
mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari
apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari
lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa, dan daya
kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. Guru yang
selalu menolong, memberi nasehat, dan membantu mengerjakan sesuatu padahal
anak dapat melakukannya sendiri, menurut Erikson dapat membuat anak tidak
mendapatkan kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 7
Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993:56) berpendapat bahwa
masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan
masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia (a noble and malleable phase
of human life). Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas
(golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang
sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya
peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi
seseorang. Menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu taman
yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak, maka anak akan
berkembang secara wajar. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang
menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental
bagi kehidupan selanjutnya. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang
jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis,
antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya,
seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar.

4. Metode Bermaian Anak PAUD

Motivasi Intrinsik tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak.
Pengaruh positif tingkah laku itu menyenangkan atau menggembirakan untuk
dilakukan. Bukan dilakukan sambil lalu, tingkah laku itu bukan dilakukan sambil
lalu. Cara/tujuan, cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Kelenturan,
bermain itu perilaku yang lentur
Fungsi bermain bagi anak PAUD. Menirukan apa yang dilakukan oleh
orang dewasa. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan
nyata. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang
nyata. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng.
Untuk melepaskan dorongan yang tidak dapat diterima. Untuk kilas balik pesan-
pesan yang biasa dilakukan. Mencerminkan pertumbuhan. Untuk mengembangkan
sosial anak. Beberapa fungsi bermain :
Mempertahankan keseimbangan
Menghayati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari
Mengantisipasi peran yang akan dijalani di masa yang akan datang.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 8
Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari..
Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari.
Menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah.
Meningkatkan keterampilan berhubungan dengan anak lain.

5. Penggolongan Kegiatan Bermain Anak PAUD


a. Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial
anak. Gorden & Browne 1985, mengadakan penggolongan kegiatan bermain
sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak dala bentuk :
1. Bermain secara soliter
2. Bermain secara paralel
3. Bermain asosiatif.
4. Bermain secara kooperatif.
b. Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak yaitu bermain bebas dan
spontan :
1. Bermain bebas dan spontan.
2. Bermain pura-pura. Bermain pura-pura dapat dibedakan dalam bentuk:
3. Bermain dengan cara membangun atau menyusun.
4. Bertanding atau berolahraga.
(http://yatna234.blogspot.com/2008/11/penggunaan-dan-pengertian-metode-
bagi.html, diakses 3 November 2010 )

6. Implementasi Metode Bermain dalam pembelajaran Membaca di PAUD

Permainan membaca anak PAUD meliputi kemampuan mendengar, melihat dan


memahami, berbicara dan membaca gambar.

a. Kemampuan Mendengar

Kemampuan mendengar merupakan kemampuan untuk dapat


mendeskripsi-kan alam sekitar dan mendengar pendapat orang lain dengan indera
pendengaran. Kemampuan ini berkaitan dengan kesanggupan anak menangkap isi
pesan dari orang lain secara benar. Termasuk dalam kelompok kemampuan ini adalah:
1) Menirukan kembali 2 s.d 4 urutan angka/kata.
2) Mengikuti beberapa perintah secara berurutan.
3) Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, berapa, mengapa, di mana,
dan bagaimana.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 9
4) Menjawab pertanyaan tentang cerita pendek 5 s.d. 6 kalimat yang sudah
diceritakan guru.
5) Mendengar cerita dan menceritakan kembali secara sederhana
6) Melengkapi kalimat sederhana yang sudah dimulai guru.
7) Melanjutkan cerita/sajak sederhana yang sudah dimulai guru.
8) Mengenal suara huruf dari kata yang berarti, misalnya: bola, baju, batu, biji, dan
sebagainya.
9) Mengenal bunyi huruf akhir dari kata-kata yang berarti, misalnya: kolam,
malam, ayam, dan sebagainya.
10) Menyebutkan berbagai bunyi/suara tertentu.

b. Kemampuan Melihat dan Memahami

Kemampuan melihat merupakan kemampuan anak untuk dapat


menghayati dan mengamati alam dengan menggunakan indera penglihatan.
Kemampuan ini merupakan bentuk kesanggupan anak melihat benda atau peristiwa
serta memahami hal-hal yang berkaitan dengan benda atau peristiwa yang dilihatnya.
Termasuk dalam kelompok kemampuan ini adalah:
1) Menunjuk, menyebut, dan memperagakan gerakan-gerakan sederhana, misalnya
duduk, jongkok, berlari, makan, menangis, dan sebagainya.
2) Bercerita tentang kejadian di sekitarnya secara sederhana.
3) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri 4-6 gambar.
4) Menyebut sebanyak-banyaknya nama benda, binatang, dan tanaman yang
mempunyai bentuk, warna atau menurut ciri-ciri tertentu.
5) Menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari suatu benda.
6) Menceritakan gambar yang telah disediakan.
7) Bercerita tentang gambar yang telah dibuat sendiri.
8) Mengenai kata-kata yang menunjukkan posisi di dalam, di luar, di atas, di bawah.
9) Menghubungkan gambar/benda dengan kata.
10) Menghubungkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambang-kannya.
c. Kemampuan Berbicara (Berkomunikasi)

Kemampuan berbicara merupakan kemampuan anak untuk


berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Kemampuan ini memberikan
gambaran tentang kesanggupan anak menyusun berbagai kosa kata yang telah
dikuasai menjadi suatu rangkaian pembicaraan secara berstruktur. Termasuk dalam
kelompok kemampuan ini adalah:
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)
Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 10
1) Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, berapa, di mana, mengapa,
dan bagaimana secara sederhana.
2) Bicara lancar dengan kalimat sederhana.
3) Bercerita tentang kejadian di sekitarnya secara sederhana.
4) Memberikan keterangan atau informasi tentang suatu hal.
5) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri.
6) Melanjutkan cerita/sajak sederhana yang sudah dimulai guru.
7) Menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari suatu benda.
8) Menceritakan gambar yang telah disediakan.
9) Menyanyikan beberapa lagu anak-anak.
10) Mengucapkan beberapa sajak sederhana.
11) Membuat sebanyak-banyaknya kata dari suku kata awal yang disediakan bentuk
lisan.
12) Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri.

d. Membaca Gambar

Kemampuan ini mengungkapkan kesanggupan anak membaca sesuatu


dengan menggunakan gambar. Kemampuan ini sebagai tahap awal dalam membaca
permulaan. Termasuk dalam kemampuan ini adalah:
1) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri.
2) Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri.
3) Membaca gambar yan memiliki kata atau kalimat sederhana

H. Rencana dan Prosedur Penelitian


1. Rencana Penelitian
a) Tempat Penelitian
Penelitian yang berjudul meningkatkan kemampuan membaca pada siswa
kelompok A-2 diadakan di PAUD RESTU BUNDA yang beralamat di Desa
Bawang Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran
b) Subyek Penelitian
Adapun subyek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas A-2 PAUD
RESTU BUNDA 1, yang berjumlah 12 siswa yang terdiri 7 orang siswa perempuan
dan 5 orang siswa laki - laki.
Pemilihan subjek penelitian sebagai tempat dilaksanakannya penelitian
didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu sebagai berikut.
Pertama, tingkat kemampuan baca rendah.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 11
Kedua, peneliti merupakan salah seorang staf pengajar di PAUD RESTU
BUNDA, sehingga peneliti lebih memahami keadaan, karakteristik permasalahan
yang dihadapi sekolah ini jika dibandingkan dengan mengadakan penelitian di
sekolah lain.
Ketiga, penelitian yang dilaksanakan tidak akan mengganggu tugas utama
peneliti sebagai guru.
Keempat, penelitian dilaksanakan di kelas sendiri dengan alasan tidak akan
mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang
berlaku.
c) waktu Penelitian
Penelitian berlangsung selama satu bulan yang dimulai tanggal 18 Oktober
2017 sampai 13 Nopember 2017. Waktu 24 hari efektif tersebut difokuskan pada
kegiatan persiapan pengumpulan data, pengorganisasian, dan pengonsepan laporan.
Penelitian dilakukan sesuai dengan jadwal yang berlaku di PAUD RESTU
BUNDA terutama yang berkaitan dengan bidang pengembangan bahasa.
d) Metode dan Desai Penelitian
1) Metode penelitian
Penelitian yang penulis lakukan bercorak penelitian tindakan kelas, metode yang
penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif sejalan
dengan pendapat Atar Semi (1990: 23) yang mengatakan bahwa Penelitian kualitatif
dilakukan dengan tidak mengutamakan pada angka-angka, tetapi mengutamakan
hubungan antar konsep yang sedang dikaji secara empiris. Hal ini sejalan pula
dengan pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto (1991: 195) menegaskan bahwa
Dalam penelitian kualitatif, data digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-
pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Dasar pertimbangan lain
digunakannya metode deskriptif kualitatif ini adalah seperti pendapat yang dikatakan
Moleong (2004: 5) sebagai berikut:
Pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan
dengan kenyataan ganda, kedua motode ini menyajikan secara langsung hakikat
hubungan antara peneliti dan responden, ketiga metode ini lebih peka dan lebih
dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan
terhadap nilai yang dihadapi.

Selain itu, dalam penelitian kualitatif juga perlu dipertimbangkan pendapat yang
dikemukakan oleh Bog dan Taylor (Moleong, 2004: 3) menyatakan sebagai berikut:
Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang
dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara
holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 12
organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai
bagian dari suatu keutuhan.

2) Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan mengacu pada bentuk desain bercorak
Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), sehingga model penelitian
yang digunakan adalah model daur (siklus) yang mencakup empat komponen, yaitu:
rencana (pleanning), observasi (observation, tindakan (action) dan refleksi
(reflection). Rancangan penelitian seperti tergambar dari bagan berikut ini.

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengmatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Bagan 1 Riscct Aksi Model Kemmis dan Taggart


(Wiriaatmaja, 2003: 19)

Penjelasan dari bagan tersebut adalah sebagai berikut :


Tahap 1: Menyusun Rancangan Tindakan (Planning)
Dalam tahap ini penelitian dilakukan secara berpasangan antara pihak yang
melakukan tindakan dengan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Istilah
untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi.
Dalam penelitian kolaborasi, pihak yang melakukan tindakan adalah guru kelas
A-2 sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya
proses/tindakan adalah observer (guru kelas A-1). Dalam hal tahap menyusun rancangan
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)
Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 13
ini, peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian
khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen.
Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan
implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan pembelajaran di
kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus
ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, dan harus
pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.

Tahap 3: Pengamatan (Observation)


Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat atau
observer. Pengamatan ini tidak dapat dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan,
pengamatan dilakukan pada waktu tindakan berlangsung.
Tahap 4: Refleksi (Reflection)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah
dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia menjadi pemantulan. Kegiatan refleksi inisangat tepat dilakukan
ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan
peneliti untuk mendiskusikan implementasi kekurangan atau kelebihan pembelajaran
yang telah selesai dilaksanakan dan merencanakan rancangan tindakan selanjutnya.
Bagian di atas dapat memperjelas bagaimana prosedur pelaksanaan penelitian
dalam upaya memecahkan permasalahan. Untuk mengatasi setiap permasalahan yang
muncuul atau mungkin terjadi dalam proses pembelajaran, guru harus selalu membuat
perencanaan pembelajaran terlebih dahulu, baru kemudian pelaksanaan tindakan sebagai
implementasi perencanaan tersebut. Pelaksanaan tindakan selalu disertai dengan
pengamatan, baik oleh pelaku itu sendiri maupun oleh observer lain. Dalam hal ini
observer yang dimaksud juga boleh siswa, rekan guru, kepala sekolah atau yang lainnya.
Observasi dilakukan sebagai upaya mengumpulkan data. Observer berperan melihat,
mendengar dan mencatat segala yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung,
baik dengan atau tanpa menggunakan alat bantu pengamatan. Observer hendaknya tidak
menyalahkan tetapi bersigat mendukung, bukan menilai dan setelah diperoleh data
sesegera mungkin dilakukan diskusi balikan.
Dalam pelaksanaan diskusi tentang data yang diperoleh dari hasil pengamatan
maupun dari tes akan diseleksi, disederhanakan, diorganisasikan secara sistematik dan

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 14
rasional serta dengan teknik tri-angulasi akan diperoleh suatu kesimpulan. Kegiatan
tersebut merupakan kegiatan refleksi. Refleksi dilakukan secara bersama-sama untuk
mengetahui hal-hal mana yang harus dipertahankan dan hal-hal mana yang masih harus
ditingkatkan atau ditinggalkan.
Jika kegiatan yang disebut refleksi ini dilakukan dengan benar telah melibatkan
semua yang terkait, maka kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan akan selalu
bermuara pada hasil dari suatu tindakan yaitu penyusunan perencanaan dan tindakan
perbaikan berikutnya.

2. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas(PTK). Tiap siklus meliputi 4
tahap yaituperencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dari tiap siklus ini
diamati kualitas proses pembelajaran yang terdiri dari aktifitas siswa dan guru, serta
hasil belajar siswa yang diukur dari hasil test.
3. Metode Analisa Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, dihitung nilai rata-rata kelas
dan yang disajikan dalam bentuk tabulasi frekuensi, diagram batang. Analisis trend
(analisis perkembangan) digunakan untuk mengetahui perkembangan kemampuan
membaca siswa dalam bentuk hasil tes baik tulis maupun lisan.

I. JADWAL PENELITIAN

Oktober-November 2017

No. Kegiatan
Minggu III Minggu IV Minggu I Minggu II
(18-23Oktober) (25-30 Oktober) (1-6 Nopember) (8-13 Nopember)

1. Persiapan

2 Pelaksanaan

3 Pengolahan data

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 15
4 Pembuatan
laporan

J. PERSONALIA

Peneliti Observer

Nama : Wiwik marina Nama : SUHERNI SPd.i


NIM : 825541966 NIP :
Jabatan : Guru PAUD A-1 Jabatan : Guru TK A-2
Instansi : PAUD RSTU BUNDA Instansi : PAUD RESTU BUNDA
Tanda tangan : Tanda tangan :

J. KOMPONEN BIAYA
Biaya yang diperlukan untuk penelitian ini, antara lain sebagai berikut.
No. URAIAN BIAYA (Rp)
1. Untuk Penyusunan:
1. Penyusunan Proposal 75.000,00
2. Penyusunan Instrumen 20.000,00
3. Pengumpulan Data 20.000,00
4. Pengolahan Data 20.000,00
5. Analisis Data 20.000,00
6. Penulisan Laporan 100.000,00

2. Bahan:
Pembelian ATK 10.000,00
3. Lain-lain:
1. Konsumsi 50.000,00
2. Foto copy 10.000,00
3. Penggandaan 75.000,00
4. JUMLAH 400.000,00
Trenggalek, 13 Oktober 2010
Menyetujui,
Kepala PAUD RESTU BUNDA
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)
Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 16
WIWIK MARINA
NIP

K. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2001). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


Aqib, Zaenal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.Bandung : Yrama Widya.
Departemen Pendidikan Nasioanal, 2007. Persiapan Membaca dan Menulis melalui
Permaianan di Taman Kana-Kanak. Jakarta:
http://yatna234.blogspot.com/2008/11/penggunaan-dan-pengertian-metode-bagi.html,
diakses 3 November 2010
Moleong, 2001 dalam Anonymous, 2007. Pedoman Penulisan Skripsi dan Laporan
Penelitian. Tulungagung: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pedidikan
(STKIP) PGRI Tulungagung.
Munandar, Utami, (1995). Dasar-dasar Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat,
Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud.
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas: 2003. Standar Kompetensi
Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak & Raudhatul Athfal. Jakarta
Rachmawati, Yeni, & Kurniati, Euis. (2003). Strategi Pengembangan Kreativitas Anak
Taman Kanak-kanak. Jakarta.
Dikti.Jaruki, Muhammad. 2008. Bahasa Indonesia Kelas 1 .Jakarta : Grasindo.
Departemen Pendidikan Nasional, 2003. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20. Jakarta

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555)


Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 17