Anda di halaman 1dari 24

CAPITAL MARKET THEORY AND EFICIENCY MARKET THEORY

ASYMETRY INFORMATION AND AGENCY THEORY

Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Manajemen Keuangan Lanjutan

Dosen Pengampu : Dean Subhan Saleh, SE.,MM.

Disusun oleh :

1. Winda Yayu Nurseha NIM 030215548


2. Dede Somadi NIM 030216785

STIE DR. KHEZ. MUTTAQIEN PURWAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah - Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Capital Market
Theory And Eficiency Market Theory, Asymetry Information And Agency
Theory.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih ada
kelemahan dan kekurangan baik dari segi penyajian maupun materinya. Oleh
karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Kami harap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi
kami dan umumnya bagi pembaca.

Purwakarta, 1 November 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. I
DAFTAR ISI .. Ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang . 1
B. Rumusan Masalah ........... 2
C. Tujuan ........... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Pasar Modal ........................ 3
B. Konsep Dasar Pasar Efisien ......................................... 4
C. Konsep Pasar Modal Efisien................................................. 8
D. Asymetry Information Theory........................................ 11

E. Definisi Agency Theory......................................................................... 12

F. Konsep Agency Theory......................................................................... 14

G. Masalah Keagenan ............................................................................... 16

H. Cara Menghadapi Masalah Keagenan ............................................... 18

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam pasar yang kompetitif, harga ekuilibrium suatu aktiva ditentukan
oleh tawaran yang tersedia dan permintaan agregat. Harga semua partisipan
pasar tentang nilai dari aktiva tersebut berdasarkan informasi yang tersedia.jika
suatu informasi baru yang relevan masuk ke pasar yang berhubugan dengan
suatu aktiva, informasi ini akan digunakan untuk menganalisis dan
menginterpretasikan nilai dari aktiva bersangkutan. Akibatnya adalah
kemungkinan pergeseran ke harga ekuilibrium yang baru. Harga ekuilibrium
ini akan tetap bertahan sampai suatu informasi baru lainnya merubahnya
kembali ke harga ekuilibrium yang baru.
Bagaimana suatu pasar bereaksi terhadap suatu informasi untuk mencapai
harga keseimbangan yang baru merupakan hal penting. Jika pasar bereaksi
dengan cepat dan akurat untuk mencapai harga keseimbanganyang baru yang
sepenuhnya mencerminkan informasi yang tersedia, maka kondisi pasar seperti
ini disebut dengan pasar efisien. Dengan demikian ada hubungan antara teori
pasar modal yang menjelaskan tentang keadaan ekulibrium dengan konsep
pasar efisien yang mencoba bagaimana pasar memproses informasi utuk
menuju ke posisi ekulibrium yang baru. Efiseiensi pasar seperti ini disebut
dengan efisiensi pasar secara informasi. Yaitu bagaimana pasar bereaksi
terhadap informasi yang tersedia.
Teori pasar yang efisien tergantung pada asumsi bahwa semua pelaku
pasar mengolah informasi secara rasional dan secara rata-rata informasi yang
dimiliki semua pelaku pasar adalah benar (meskipun tak seorang pemainpun
memiliki semua informasi yang benar: misal sebagian memiliki informasi yang
bagus-bagus sebagian lagi memiliki informasi yang jelek-jelek tentang suatu
perusahaan). Pasar yang efisien juga memerlukan sekelompok pemain yang
dengan cepat akan meng-arbitrage bila kemungkinan arbitrage (keuntungan
tanpa resiko) muncul.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pasar modal ?
2. Bagaimana konsep dasar pasar efisien ?
3. Bagaimana konsep pasar modal efisien ?
4. Bagaimana konsep asymetry information theory ?
5. Apa yang dimaksud dengan agency theory ?
6. Bagaimana konsep agency theory ?
7. Bagaimana dengan masalah keagenan ?
8. Bagaimana cara menghadapi masalah keagenan ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi pasar modal .
2. Untuk mengetahui konsep dasar pasar efisien.
3. Untuk mengetahu konsep pasar modal efisien.
4. Untuk mengetahui konsep asymetry information theory.
5. Untuk mengetahui definisi agency theory.
6. Untuk mengetahui konsep agency theory.
7. Untuk mengetahui masalah keagenan.
8. Untuk mengetahui cara menghadapi masalah keagenan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pasar Modal
Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka
panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal
sendiri. Instrumen keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal itu antara lain
saham, obligasi, waran, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan
seperti opsi.
Di dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 dijelaskan
pengertian pasar modal yang lebih spesifik yaitu kegiatan yang bersangkutan
dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang
berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan Efek.
Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian karena pasar modal
menjalankan dua fungsi yaitu :
Pertama, fungsi ekonomi di mana pasar modal menyediakan fasilitas yang
mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana
(investor) dan pihak yang memerlukan dana (perusahaan). Artinya, dengan adanya
pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan
dana tersebut dengan harapan memperoleh imbal hasil sedangkan perusahaan
dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus
menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan.
Kedua, fungsi keuangan di mana pasar modal memberikan kesempatan
memperoleh imbal hasil bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi
yang dipilih. Artinya, pasar modal diharapkan dapat meningkatkan aktivitas
perekonomian karena pasar modal dapat digunakan sebagai alternatif pendanaan
bagi perusahaan sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih
besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan
kemakmuran masyarakat.
Dengan mengingat pentingnya fungsi pasar modal dan untuk menarik para
pelaku pasar modal untuk berpartisipasi, maka pasar modal harus likuid dan

3
efisien. Pasar modal dapat dikatakan likuid jika para pelaku pasar modal dapat
dengan mudah menjual ataupun membeli saham dengan cepat. Kemudahan yang
didapat para pelaku pasar itu disebabkan oleh fasilitas yang diberikan, baik berupa
sarana, maupun prasarana pasar modal, misalnya adanya fasilitas on-line di media
internet yang dapat menembus berbagai negara tanpa batas. Sedangkan pasar
modal dikatakan efisien jika harga saham mencerminkan nilai perusahaan secara
akurat. Artinya, harga saham telah mencerminkan dengan cepat dan tepat semua
informasi yang diketahui. Informasi yang diketahui bukan saja mengacu kepada
informasi masa lalu, tetapi juga informasi saat ini yang diterima oleh orang umum
(seperti laporan keuangan, dividen dan stock split) dan orang dalam (Ahmad dan
Othman, 2002).
B. Konsep Dasar Pasar Efisien
Didalam konsep pasar efisien, perubahan harga suatu sekuritas saham di
waktu yang lalu tidak dapat digunakan dalam memperkirakan perubahan harga di
masa yang akan datang. Perubahan harga saham di dalam pasar efisien mengikuti
pola random walk, dimana penaksiran harga saham tidak dapat dilakukan dengan
melihat kepada harga-harga historis dari saham tersebut, tetapi lebih berdasarkan
pada semua informasi yang tersedia dan muncul dipasar. Informasi yang masuk ke
pasar dan berhubungan dengan suatu sekuritas saham akan mengakibatkan
kemungkinan terjadinya pergeseran harga keseimbangan yang baru. Jika pasar
bereaksi dengan cepat dan akurat terhadap suatu informasi yang masuk dan segera
membentuk harga keseimbangan yang baru, maka kondisi pasar yang seperti ini
yang disebut dengan pasar efisien (Hartono, 2013:547).
Teori eficiency market pertama kali ditemukan dalam penelitian yang
dilakukan oleh Bachelier pada tahun 1900 yang ingin mengetahui apakah harga
saham berfluktuasi secara acak atau tidak. Pada tahun 1905 Pearson
memperkenalkan pola random-walk, namun pada saat itu dikenal sebagai konsep
drunkardwalk. Pada tahun 1953, Kendall pertama kalinya menggunakan dan
memperkenalkan istilah random-walk dalam literatur keuangan (Yalcin,2010).
Fama kemudian membahas beberapa bukti empiris yang mendukung teori

4
random-walk dalam disertasi doktornya dan mempelopori munculnya Teori
EMH (Efficiency Market Hypotesis) pada tahun 1970.
Fama (1970) mengemukakan bahwa Dalam suatu pasar yang efisien
harga akan mencerminkan sepenuhnya informasi yang tersedia dan sebagai
implikasinya harga akan bereaksi dengan seketika tanpa adanya bias terhadap
informasi baru.
Beaver (1989) mengemukakan bahwa Efisiensi pasar (market efficiency)
sebagai hubungan antara harga-harga sekuritas saham dengan ketersediaan
informasi.
Tandelilin (2010:219) mendefinisikan konsep pasar efisien sebagai
berikut: Konsep pasar yang efisien lebih ditekankan pada aspek informasi,
artinya pasar yang efisien adalah pasar dimana harga sekuritas yang
diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia.
Dari berbagai definisi yang ada, konsep pasar efisien sangat berhubungan
dengan ketersediaan informasi. Pasar dikatakan efisien apabila nilai sekuritas
setiap waktu mencerminkan semua informasi yang tersedia, yang mengakibatkan
harga suatu sekuritas berada pada tingkat keseimbangannya. Harga keseimbangan
suatu sekuritas mengakibatkan tidak akan adanya kesempatan yang diperoleh
investor untuk mendapatkan return yang abnormal dari selisih harga sekuritas
saham.
Hartono (2013:569) memberikan beberapa ciri-ciri dari pasar efisien
sebagai berikut :
1. Investor adalah penerima harga (price takers), yang berarti bahwa sebagai
pelaku pasar, investor seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga dari
suatu sekuritas.
2. Informasi tersedia luas kepada semua pelaku pasar pada saat yang
bersamaan dan harga untuk memperoleh informasi tersebut murah.
3. Informasi dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap pengumuman
informasi sifatnya random satu dengan yang lainnya sehingga investor
tidak dapat memprediksi kapan emiten akan mengumumkan informasi
yang baru.

5
4. Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh dan cepat,
sehingga harga sekuritas berubah dengan semestinya mencerminkan
informasi tersebut untuk mencapai keseimbangan yang baru.
Hartono (2013:571) juga memberikan beberapa ciri-ciri dari pasar yang tidak
efisien yaitujika kondisi-kondisi berikut terjadi :
1. Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi harga dari
sekuritas.
2. Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak seragam
antara pelaku pasar yang satu dengan yang lainnya terhadap suatu
informasi.
3. Informasi yang disebarkan dapat diprediksi dengan baik oleh sebagian dari
pelaku-pelaku.
4. Investor adalah individual-individual yang lugas (naive investor) dan tidak
canggih.
Fama (1970) dalam Hartono (2013:548) membagi efisiensi pasar kedalam
tiga bentuk utama yaitu :
a) Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk yang lemah adalah apabila harga-
harga dari saham atau sekuritas mencerminkan secara penuh (fully reflect)
informasi masa lalu. Informasi dikatakan masa lalu jika informasi tersebut
sudah terjadi. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini sangat berkaitan
dengan teori langkah acak (random walk theory) yang menyatakan bahwa
data masa lalu tidak dapat dihubungkan dengan nilai yang sekarang.
Dengan begini nilai-nilai di masa lalu tidak dapat digunakan untuk
memprediksi harga sekarang.
b) Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga surat
berharga betul-betul menggambarkan seluruh informasi yang
dipublikasikan. Jadi tak seorang pun investor yang mampu memperoleh
tingkat pengembalian yang berlebihan dengan hanya menggunakan
sumber-sumber informasi yang dipublikasikan. Efisiensi ini terjadi jika

6
harga-harga saham mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan
termasuk informasi yang berada di laporan keuangan perusahaan.
Informasi yang dipublikasikan berupa :
1) Informasi yang dipublikasikan yang hanya mempengaruhi harga saham
dari perusahaan yang mempublikasikan informasi tersebut, misalnya
pengumuman laba, pengumuman pembagian dividen, pengumuman
merjer dan akuisisi, pengumuman perubahan metode akuntansi, dan
sebagainya
2) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga saham
sejumlah perusahaan. Informasi ini dapat berupa peraturan pemerintah
atau peraturan regulator, yang hanya berdampak pada harga-harga
saham pada perusahaan yang memiliki hubungan dengan informasi
tersebut, sebagai contoh regulasi untuk meningkatkan kebutuhan
cadangan yang harus dipenuhi oleh semua bank
3) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-hargasaham
pada semua perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Informasi ini
dapat berupa peraturan pemerintah atau peraturan regulator yang
berdampak ke semua perusahaan. Misalnya, penetapan peraturan
akuntansi untuk mencantumkan laporan arus kas yang harus dilakukan
semua perusahaan. Dalam pasar bentuk setengah kuat, informasi tidak
dapat dispekulasi untuk memperoleh keuntungan tidak normal dalam
jangka waktu lama.
c) Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
Pasar dapat dikatakan efisien dalam bentuk yang kuat apabila harga-harga
sekuritas saham secara penuh mencerminkan seluruh informasi yang
tersedia termasuk informasi yang sangat rahasia sekalipun. Jika pasar
efisien dalam bentuk ini memang ada, maka individual investor atau grup
dari investor yang mendapatkan keuntungan yang tidak normal (abnormal
return).
Ketiga bentuk pasar efisien tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain
berupa tingkat kumulatif. Hubungannya yaitu bahwa pasar efisien bentuk kuat

7
berarti mencakup juga pasar efisien bentuk semi kuat, dan pasar efisien bentuk
semi kuat mencakup juga pasar efisien bentuk lemah. Namun tidak berlaku
sebaliknya, pasar efisien bentuk lemah tidak harus berarti pasar efisien bentuk
semi kuat.
C. Konsep Pasar Modal Efisien
Menurut Husnan (2005:256), pasar modal yang efisien merupakan pasar
yang harga-harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi
yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, maka
semakin efisien pasar tersebut. Dengan demikian akan sangat sulit bagi para
pemodal untuk mendapatkan tingkat keuntungan di atas normal secara konsisten
dengan melakukan transaksi perdagangan di Bursa Efek.
Menurut Fama (1970), efisien pada pasar modal didefinisikan sebagai
kecepatan dan kelengkapan suatu harga sekuritas dalam merespon informasi yang
relevan. Dalam pasar modal yang efisien, harga suatu saham pasti telah
mencerminkan seluruh informasi yang berkaitan dengan aktivitas manajemen dan
prospek perusahaan di masa yang akan datang, dan ketika muncul informasi baru
tentang perusahan tersebut maka harga saham akan spontan berubah
mencerminkan adanya informasi baru tersebut.
Terdapat 2 unsur penting yang merupakan ciri dari pasar modal yang
efisien, yaitu:
1. Tersedianya informasi yang relevan (information available)
2. Harga yang menyesuaikan secara cepat terhadap informasi baru (fully
reflect).
Ada beberapa aspek yang dapat mendorong terciptanya pasar modal yang
efisien (Jones, 1997) yaitu :
a) Pasar terdiri dari sejumlah besar investor yang rasional dan berusaha untuk
memperoleh keuntungan maksimal (rational and profit-maximizing
investor) yang secara aktif berpartisipasi dalam pasar dengan menganalisa,
menilai dan melakukan perdagangan sekuritas. Para investor dalam pasar
merupakan penerima harga (price takers) sehingga seorang investor tidak
akan dapat mempengaruhi harga sekuritas tertentu.

8
b) Informasi dapat diperoleh dengan biaya yang murah (costless) dan tersedia
untuk seluruh pelaku pasar pada waktu yang bersamaan melalui radio,
televisi dan alat komunikasi khusus yang kini disediakan bagi investor
yang bersedia membayar untuk itu. Tentunya hal ini sangat didukung oleh
kemajuan pada bidang teknologi informasi
c) Munculnya informasi-informasi baru yang relevan serta independen satu
sama lain yang mengikuti pola random sehingga para investor sulit untuk
memperkirakan kemunculannya. Investor mungkin tidak dapat
memperkirakan kapan perusahaan akan mengumumkan perkembangan
baru yang signifikan, kapan mata uang akan mengalami devaluasi, kapan
akan terjadi perang, dan lain- lain.
d) Para investor bereaksi dengan segera terhadap adanya informasi baru dan
menggunakannya secara penuh sehingga harga akan segera melakukan
penyesuaian untuk merefleksikan adanya informasi baru tersebut.
Menurut Fama (1970) sebagaimana dikutip oleh Jogiyanto (2003),
efisiensi pasar modal digolongkan ke dalam tiga macam bentuk informasi yaitu
(1) informasi masa lalu, (2) informasi sekarang yang akan dipublikasikan, dan (3)
informasi privat.
Hipotesis pasar efisien (Efficient Market Hypothesis) yang dikemukakan
oleh Fama (1970) telah mengubah cara pandang mengenai bagaimana cara kerja
pasar modal. Persaingan antar investor yang sangat ketat menyebabkan harga
saham telah secara akurat merefleksikan seluruh informasi yang relevan, sehingga
investor dapat mempercayai bahwa harga tersebut adalah harga yang wajar. Pada
pasar modal yang efisien, investor kecil tidak perlu khawatir akan dipecundangi
oleh investor besar yang memiliki informasi lebih baik dan perusahaan dapat
menerbitkan saham baru tanpa khawatir harga sahamnya akan dihargai terlalu
rendah oleh investor.
Thia (1999) mengemukakan bahwa efisiensi pasar modal dapat
dikategorikan ke dalam 3 sifat yaitu pertama, efisiensi informasi yaitu
perubahan harga saham telah mencerminkan sepenuhnya informasi relevan.
Kedua, efisiensi alokasi yaitu pasar modal memperbolehkan investor untuk

9
berinvestasi dan melakukan transaksi dengan menggunakan berbagai instrumen
yang diperkenankan (memenuhi persyaratan yang ditentukan). Ketiga, efisiensi
operasional yaitu pasar modal yang biaya transaksinya minimal.
Beberapa peneliti seperti Suad (1992) melakukan penelitian mengenai
efisiensi pasar modal. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Bursa Efek
Jakarta (BEJ) efisien dalam bentuk lemah. Peneliti lainnya seperti Siddharta
dan Untung (1998) memberikan bukti bahwa Bursa Efek Jakarta (BEJ) efisien
dalam bentuk setengah kuat. Berbeda dengan asumsi pasar modal efisien yang
mengasumsikan harga saham telah mencerminkan seluruh informasi yang
relevan, penelitian-penelitian itu menunjukkan pasar modal seringkali tidak
berfungsi secara sempurna sehingga hal ini membuka peluang akan terjadinya
informasi asimetri antara pelaku pasar modal yang akan berdampak pada harga
saham perdana yang tidak wajar (underpricing/overpricing) di Bursa Efek
Jakarta.
Sebagaimana diketahui secara teoritis kondisi pasar modal efisien jika
pasar bereaksi dengan cepat dan akurat untuk mencapai harga keseimbangan
baru yang sepenuhnya mencerminkan informasi yang tersedia
(Jogiyanto,2005). Harga saham mencerminkan nilai yang wajar, dan investor
akan mendapatkan pengembalian atas investasinya sesuai risikonya. Pada pasar
modal efisien secara sempurna, tidak ada harga saham underpricing atau
overpricing (Farid dan Siswanto, 1998).
Menurut Loughran,et.al (1994) underpricing adalah suatu kondisi di
mana secara rata-rata, harga pasar saham perusahaan yang baru melakukan go
public, biasanya dalam hitungan hari atau minggu, lebih tinggi dibandingkan
dengan harga penawarannya. Kebalikan dari underpricing adalah overpricing,
yaitu suatu kondisi di mana harga pasar saham yang baru ditawarkan secara
rata-rata cenderung lebih rendah dibandingkan dengan harga penawarannya.
Tresno (2001) mengemukakan bahwa harga underpricing merupakan
gejala yang banyak diteliti oleh banyak ahli pasar modal. Gejala ini berdampak
negatif terhadap perusahaan karena hasil penjualan saham tidak maksimal.
Kasus-kasus yang cukup mencengangkan terjadi, di mana nilai yang tampak

10
pada kasus-kasus penawaran umum perdana yang menunjukkan kenaikan harga
secara signifikan pada hari itu juga. Fenomena terjadinya underpricing ini
hampir dijumpai di semua pasar modal yang ada di dunia. Tingkat underpricing
yang terjadi bervariasi dari negara satu ke negara yang lain.
D. Asymetry Information Theory
Teori informasi tidak simetris (Asymetry Informasi Theory) adalah kondisi
dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak daripada pihak lain.
Misalnya seorang manajer memiliki informasi yang lebih banyak dan mengetahui
prospek perusahaan lebih baik dari investor atau pemegang saham. Menurut
Brigham dan Housten (2001) asymetry information theory adalah situasi dimana
manajer memiliki informasi yang berbeda (yang lebih baik) mengenai kondisi
perusahaan daripada pemegang saham.
Sebagai pengelola perusahaan, manajer perusahaan tentu akan lebih
banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemilik )pemegang saam). Oleh karen itu manajer sudah
seharusnya selalu memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada
pemilik. Sinyal yang dapat diberikan oleh manajer yakni melalui pengungkapan
informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hal
yang sangat penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena
kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya
(Ali,2002). Adanya ketidakseimbangan penguasaan informasi ini akan memicu
munculnya kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi.
Misalnya, pihak manajemen memperkirakan bahwa harga saham saat ini
sedang terlalu mahal (over value). Jika perkiraan ini benar terjadi, maka
manajemen tentu akan berfikir untuk menawarkan saham baru (emisi saham
baru), sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih tinngi dari yang seharusnya.
Namun pemegang saham menafsirkan penerbitan saham baru sebagai kabar
buruk, sehinnga membuat harga saham turun. Pemegang saham mungkin
menafsirkan bahwa harga saham saat ini sedang over value, sebagai akibatnya
para pemegang saham akan menawarkan saham baru tersebut dengan harga yang
lebih rendah (Husnan,2000).

11
Menurut William R Scott (1967), informasi asimetri mempunyai dua tipe.
Tipe pertama, adverse selection. Pada tipe ini, pihak yang merasa memiliki
informasi lebih sedikit dibandingkan pihak lain tidak akan amau untuk melakukan
perjanjian dengan pihak lain tersebut apapun bentuknya, dan jika tetap melakukan
perjanjian, dia akan membatasi dengan kondisi yang sangat ketat dan biaya yang
sangat tinggi. Contohnya, adalah kemungkinan konflik yang terjadi antara orang
dalam (manajer) dengan orang luar (investor potensial). Berbagai cara dapat
dilakukan oleh manajer untuk memperoleh informasi lebih dibandingkan investor,
misalnya dengan menyembunyikan, menyamarkan, memanipulasi informasi yang
diberikan kepada investor. Akibatnya investor tidak yakin terhadap kualitas
perusahaan, atau membeli perusahaan dengan harga yang sangat rendah. Contoh
lain dari informasi asimetri adalah ketika kreditor dan pemegang saham minoritas
memiliki informasi yang lebih sedikit dibandingkan manajer dan pemegang
saham mayoritas.
Tipe kedua dari informasi asimetri adalah moral hazard. Moral hazard
terjadi ketika manajer melakukan tindakan tanpa sepengetahuan pemilik untuk
keuntungan pribadinya dan menurunkan kesejahteraan pemilik. Contohnya, pada
perusahaan yang relatif besar, dengan terpisahnya kepemilikan dan pengendalian
manajemen, maka sulit bagi pemegang saham dan kreditur untuk melihat sejauh
mana kinerja manajer sejalan dengan tujuan yang diinginkan pemegang saham,
manajer mungkin cenderung bekerja kurang optimal. Moral hazard juga
menghambat operasi perusahaan secar efisien.
E. Definsi Agency Theory
Agency Theory merupakan bidang yang populer akhir-akhir ini. Pemisahan
pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi disebut dengan Agency
Theory (teori keagenan). Teori ini merupakan salah satu teori yang muncul dalam
perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan
model akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku manusia dalam
model ekonomi. Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antara pemegang
saham/pemilik dan manajemen/manajer. Menurut teori ini hubungan antara

12
pemilik dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan
yang saling bertentangan.
Salah satu hipotesis dalam teori keagenan ini adalah bahwa manajemen
akan mencoba memaksimalkan kesejahteraannya sendiri dengan cara
meminimalisir berbagai biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling
(1976) mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan
prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap agen. Hipotesis ini tidak sama
artinya dengan hipotesis yang menyebutkan bahwa manajemen mencoba
memaksimalkan nilai perusahaan (value of the firm). Oleh karena itu, manajemen
diasumsikan akan memilih prinsip akuntansi yang sesuai dengan tujuannya
memaksimalkan kepentingannya, bukan untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Menurut Anthony dan Govindrajan (2005) teori agensi adalah hubungan
atau kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-
tiap individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.
Sedangkan Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan:
agency relationship as a contract under which one or more person (the
principals) engage another person (the agent) to perform some service on their
behalf which involves delegating some decision making authority to the agent.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih
orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas
nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang
terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang
sama untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan
bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.
Teori keagenan (Agency Theory) merupakan basis teori yang mendasari
praktik bisnis perusahaan yang digunakan selama ini. Teori ini berakar dari
sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip
utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi
wewenang (principal) yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang

13
(agen) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut nexus of
contract.
Teori keagenan mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas
kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai principal diasumsikan
hanya tertarik kepada hasil keuangan yang bertambah atau peningkatan investasi
diperusahaan, sedangkan para agen diasumsikan menerima kepuasan berupa
kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut.
Karena perbedaan kepentingan ini, masing-masing pihak berusaha untuk
memperbesar keuntungan bagi diri sendiri. Principal menginginkan pengembalian
yang semaksimal mungkin dan secepatnya atas investasi yang salah satunya
dicerminkan dengan kenaikan porsi dividen dari tiap saham yang dimiliki.
Agen menginginkan kepentingannya diakomodir dengan pemberian
kompensasi/bonus/insentif/remunerasi yang memadai. Principal menilai
prestasi agen berdasarkan kemampuannya memperbesar laba untuk dialokasikan
pada pembagian dividen. Makin tinggi laba, harga saham dan dividen, maka agen
dianggap berhasil atau memiliki kinerja yang baik sehingga layak mendapat
insentif yang tinggi.
Sebaliknya Agen pun memenuhi tuntutan Principal agar mendapatkan
kompensasi yang tinggi. Sehingga bila tidak ada pengawasan yang memadai maka
Agen dapat memainkan beberapa kondisi perusahan agar seolah-olah target
tercapai. Permainan tersebut bisa atas prakarsa dari Principal ataupun inisiatif
Agent sendiri. Maka terjadilah Creative Accounting yang menyalahi aturan,
misalnya piutang yang tidak mungkin tertagih yang tidak dihapuskan dan
pengakuan penjualan yang tidak semestinya, yang berdampak pada besarnya nilai
aktiva dalam Neraca yang mempercantik laporan keuangan walaupun bukan
nilai yang sebenarnya. Atau bisa juga dengan melakukan income smoothing
(membagi keuntungan ke periode lain) agar setiap tahun kelihatan perusahaan
meraih keuntungan, padahal kenyataannya perusahaan mengalami kerugian atau
laba turun.

14
F. Konsep Teori Keagenan
Konsep agency theory mendasarkan pada hubungan antara principal
sebagai pemilik atau pemegang saham, sedangkan manajemen sebagai agen.
Principal merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk
bertindak atas nama principal, sedangkan agen merupakan pihak yang diberi
amanat oleh principal untuk menjalankan perusahaan. Agen berkewajiban untuk
mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanahkan oleh principal
kepadanya.
Aplikasi agency theory dapat terwujud dalam kontrak kerja yang akan
mengatur proporsi hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan tetap
memperhitungkan kemanfaatan secara keseluruhan. Kontrak kerja merupakan
seperangkat aturan yang mengatur mengenai mekanisme bagi hasil, baik yang
berupa keuntungan, return maupun resiko-resiko yang disetujui oleh prinsipal dan
agen. Kontrak kerja akan menjadi optimal bila kontrak dapat fairness (mencapai
keadilan) yaitu mampu menyeimbangkan antara principal dan agen yang secara
sistematis memperlihatkan pelaksanaan kewajiban yang optimal oleh agen dan
pemberian insentif imbalan khusus yang memuaskan dari principal ke agen. Inti
dari agency theory adalah pendesainan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan
kepentingan principal dan agen dalam hal terjadi konflik kepentingan (Scott,
1997).
Menurut Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 buah asumsi yaitu:
1) Asumsi tentang sifat manusia
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat
untuk mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan
rasionalitas (bounded rationality), dan tidak menyukai resiko (risk
aversion).
2) Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi,
efisiensi sebagai kriteria produktivitas, dan adanya Asymmetric
Information (AI) antara prinsipal dan agen.
3) Asumsi tentang informasi.

15
Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai
barang komoditi yang bisa diperjualbelikan.
Baik prinsipal maupun agen, keduanya mempunyai bargaining position.
Principal sebagai pemilik modal mempunyai hak akses pada informasi internal
perusahaan, sedangkan agen yang menjalankan operasional perusahaan
mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan
menyeluruh, namun agen tidak mempunyai wewenang mutlak dalam pengambilan
keputusan, apalagi keputusan yang bersifat strategis, jangka panjang dan global.
Hal ini disebabkan untuk keputusan-keputusan tersebut tetap menjadi wewenang
dari principal selaku pemilik perusahaan.
Adanya posisi, fungsi, kepentingan dan latar belakang principal dan agen
yang saling bertolak belakang namun saling membutuhkan ini, mau tidak mau
dalam praktiknya akan menimbulkan pertentangan dengan saling tarik-menarik
pengaruh dan kepentingan antara satu sama lain. Apabila agen (yang berperan
sebagai penyedia informasi bagi principal dalam pengambilan keputusan)
melakukan upaya sistematis yang dapat menghambat principal dalam
pengambilan keputusan strategis melalui penyediaan informasi yang tidak
transparan, sedang di lain pihak principal selaku pemilik modal bertindak
semaunya atau sewenang-wenang karena ia merasa sebagai pihak yang paling
berkuasa dan penentu keputusan dengan wewenang yang tak terbatas, maka
kemudian yang terjadi adalah pertentangan yang semakin tajam yang akan
menyebabkan konflik yang berkepanjangan yang pada akhirnya merugikan semua
pihak. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan sebagai orang ekonomi (homo
economicsus) yang berperilaku ingin memaksimalkan kepentingannya masing-
masing.
G. Masalah Keagenan
Dijelaskan dalam Jensen dan Meckling (1976), Jensen (1986), Weston dan
Brigham (1994), bahwa masalah keagenan dapat terjadi dalam 2 bentuk
hubungan, yaitu:
1. Antara pemegang saham dan manajer
2. Antara pemegang saham dan kreditur.

16
Teori keagenan yang mulai berkembang mengacu kepada pemenuhan tujuan
utama dari manajemen keuangan yaitu memaksimalkan kekayaan pemegang
saham. Maksimalisasi kekayaan ini dilakukan oleh manajemen yang disebut agen.
Ketidakmampuan atau keengganan manajer untuk meningkatkan kekayaan
pemegang saham menimbulkan apa yang disebut masalah keagenan.
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas
saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung
bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan
perusahaan. Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency
cost). Hampir mustahil bagi perusahaan untuk memiliki zero agency cost dalam
rangka menjamin manajer akan mengambil keputusan yang optimal dari
pandangan shareholders karena adanya perbedaan kepentingan yang besar
diantara mereka. Bahkan untuk mencapai kepentingannya sendiri, manajemen
bisa bertindak menggunakan akuntansi sebagai alat untuk melakukan rekayasa.
Perbedaan kepentingan antara principal dan agen atau yang disebut Agency
Problem ini, salah satunya disebabkan oleh adanya Asimmetric Information.
Adanya agency problem di atas, menimbulkan biaya keagenan (agency
cost). Biaya keagenan didefinisikan sebagai biaya yang ditanggung oleh
pemegang saham untuk mendorong manajer dalam memaksimalkan kesejahteraan
pemegang saham daripada berperilaku mementingkan diri sendiri. Ada tiga jenis
utama dari biaya keagenan, yaitu:
1. Pengeluaran untuk memantau kegiatan manajerial, seperti biaya audit.
2. Pengeluaran untuk struktur organisasi dengan cara membatasi perilaku
manajerial yang tidak diinginkan.
3. Biaya kesempatan yang dapat terjadi ketika pemegang saham dikenakan
pembatasan, seperti persyaratan untuk suara pemegang saham pada
permasalahan tertentu, membatasi kemampuan manajer untuk mengambil
tindakan yang meningkatkan kekayaan pemegang saham.
Dengan tidak adanya upaya pemegang saham untuk mengubah perilaku
manajerial, biasanya akan ada kehilangan sebagian kekayaan pemegang saham

17
karena tindakan manajerial yang tidak pantas. Di sisi lain, biaya keagenan akan
berlebihan jika pemegang saham berusaha untuk memastikan bahwa setiap
tindakan manajerial sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu,
jumlah optimal biaya keagenan yang harus ditanggung oleh pemegang saham
harus ditentukan.
H. Cara Menghadapi Masalah Keagenan
Untuk mencegah kemungkinan terjadinya konflik atau masalah keagenan,
maka ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :
1. Penyusunan Standar yang jelas mengenai siapa saja yang pantas menjadi
apa baik untuk jabatan fungsional maupun struktural ataupun untuk posisi
tertentu yang dianggap strategis dan kritis. Hal ini harus diiringi dengan
sosialisasi dan implementasi tanpa ada pengecualian yang tidak masuk
akal.
2. Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan
tertentu dengan adil dan terbuka. Siapapun yang telah memenuhi syarat
mempunyai kesempatan yang sama dan adil untuk terpilih. Terpilih
artinya walaupun pejabat lain diatasnya tidak berkenan dengan orang
tersebut, tetapi karena ia yang terbaik maka tidak ada alasan logis untuk
menolaknya ataupun memilih yang lain. Disinilah peran profesionalisme
dikedepankan.
3. Akuntabilitas dan Transparansi setiap proses bisnis dalam organisasi
agar memungkinkan monitoring dari setiap pihak sehingga penyimpangan
yang dilakukan dapat diketahui dan diberikan sanksi tanpa kompromi.
Pelaku penyimpangan tersebut harus diumumkan pada publik dan
melakukan kontrol agar tidak terjadi permainan sehingga pelaku tersebut
bisa lolos dari sanksi yang sesuai. Pelaku yang terbukti bersalah diberikan
hukuman sehingga dapat menimbulkan efek jera dan bagi yang lain agar
tidak berani melakukan hal yang sama. Hal yang sama juga diperlakukan
pada pegawai/pejabat yang berprestasi, selain diberi penghargaan, juga
diumumkan pada publik sehingga dapat menjadi contoh bagi
pegawai/pejabat yang lain.

18
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan
untuk mengurangi konflik kepentingan, yaitu:
a) Meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen (insider ownership)
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi
dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran
kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk
mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki
saham perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap
keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism,
yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program
mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
b) Meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih (earning after tax)
c) Meningkatkan sumber pendanaan melalui utang
Adanya utang akan dapat mengendalikan penggunaan free cash flow secara
berlebihan oleh manajer karena perusahaan harus melakukan pembayaran atas
bunga dan pokok pinjaman secara periodik serta mematuhi ketentuan pada
perjanjian utang.
d) Kepemilikan saham oleh Institusi (Institutional holdings)
Adanya kepemilikan saham oleh investor institusional seperti perusahaan
asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan oleh institusi lain akan
mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja
manajemen.

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 dijelaskan
pengertian pasar modal yang lebih spesifik yaitu kegiatan yang bersangkutan
dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang
berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan Efek.
Tandelilin (2010:219) mendefinisikan konsep pasar efisien sebagai
berikut: Konsep pasar yang efisien lebih ditekankan pada aspek informasi,
artinya pasar yang efisien adalah pasar dimana harga sekuritas yang
diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia.
Agency theory merupakan salah satu teori yang muncul dalam
perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan
model akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku manusia dalam
model ekonomi. Dalam Agency Theory mengenal adanya Asymmetric
Information (AI) yaitu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena
adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen.

20
DAFTAR PUSTAKA

Tandelilin, Eduardus.2010.Portofolio dan Investasi teori dan aplikasi.Kanisius :


Yogyakarta
Scott, William R. 2012. Financial Accounting Theory. Sixth Edition. Pearson.
https://bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory/

21