Anda di halaman 1dari 8

A.

Perkembangan dan Penyebaran Agama serta Kebudayaan Hindu-Budha di


Indonesia
Agama dan kebudayaan Hindu dan Budha masuk ke Indonesia dari India
masing-masing sekitar abad ke-4 dan ke-5 M. Pengaruh agama Hindu di Indonesia
berlangsung hampir selama sebelas abad, yaitu dari abad ke-4 (bukti prasasti Kutai)
sampai berakhirnya kekuasaan Majapahit di Jawa Timur sekitar abad ke-15. Sedangkan
agama Budha masuk ke Indonesia seabad kemudian, sekitar abad ke-5 yang didukung
temuan patung Budha di Sampaga (Sulawesi Selatan), Jembe, dan Sumatra Selatan.
Sebelum kedatangan Hindu-Budha, penduduk Nusantara menganut animisme
dan dinamisme. Kedatangan Hindu-Budha ikut memengaruhi tatanan sosial-budaya,
politik, dan ekonomi Nusantara. Meskipun demikian, sebagian unsur dari kebudayaan
lama (asli), sejauh tidak bertentangan dengan doktrin dasar agama Hindu-Budha tetap
dipertahankan.
1. Agama Hindu
Agama Hindu diperkirakan muncul di India antara tahun 3102 SM sampai 1300
SM dan merupakan agama tertua di dunia. Agama ini tumbuh bersamaan dengan
dengan masuknya bangsa Arya, yaitu bangsa nomaden yang masuk India dari Asia
Tengah melalui Selat Kaiber. Kedatangan bangsa Arya ini mendesak penduduk asli
India (Dravida) ke selatan sampai dataran tinggi Dekan. Dalam perkembangan
selanjutnya terjadi percampuran antara kebudayaan orang Arya dan Dravida yang
menghasilkan kebudayaan Hindu.
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakikatnya dapat dibagi menjadi
empat fase, yakni zaman Weda, zaman Brahmana, zaman Upanisad, dan zaman
Budha.
a. Zaman Weda (1500 SM)
Bangsa Arya telah memiliki peradaban yang tinggi. Mereka menyembah dewa-
dewa seperti Agni, Indra, Varuna, Siwa, dan sebagainya. Dewa tertinggi yang
mereka anggap sebagai penguasa alam semesta mereka sebut Trimurti, yang
terdiri dari Brahma (pencipta alam), Wisnu (pemelihara alam), dan Siwa (perusak
alam dan dewa kematian). Walaupun banyak, semua merupakan manifestasi dan
perwujudan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, agama Hindu bukan agama politeistis,
akan tetapi monoteistis.
Kitab suci agama Hindu adalah Weda. Pada zaman ini masyarakat dibagi atas
empat kasta, yaitu Brahmana (ulama dan pendeta), Ksatria (raja, bangsawan,
panglima, dan tentara), Waisya (pedagang, petani, dan nelayan), dan Sudra
(pelayan atau golongan paling rendah).
b. Zaman Brahmana (1000 SM 750 SM)
Pada zaman ini kekuasaan kaum Brahmana sangat besar dalam kehidupan
keagamaan. Merekalah yang mengantarkan persembahan orang kepada
para dewa. Pada zaman ini pula meulai disusun tata cara upacara beragama
yang teratur dalam apa yang disebut Kitab Brahmana.
c. Zaman Upanisad (750 SM 500 SM)
Pada zaman ini yang dipentingkan tidak hanya upacara dan saji saja, lebih
dari itu pengetahuan yang lebih tinggi. Zaman ini adalah zaman
pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu zaman orang
berfilsafat atas dasar weda.
d. Zaman Budha (500 SM 300 SM)
Zaman ini dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang benama Sidharta
menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan
semadhi, sebagai jalan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
2. Agama Budha
Agama Budha merupakan lebih lanjut dari agama Hindu. Budha
sebenarnya merupakan sebutan bagi seseorang yang telah memperoleh
pencerahan. Awalnya agama Budha bukanlah agama, melainkan ajaran dari
seseorang yang telah memperoleh pencerahan bernama Sidharta Gautama.
Sepeninggal Budha, para penganutnya menyebarkan ajarannya dan
lahirlah agama Budha, dengan kitab suci Tripitaka. Pada tahun 78 M, terjadi
perpecahan di antara penganut Budha. Perpecahan melahirkan dua aliran, yaitu
Budha Mahayana dan Budha Hinayana. Ajaran dalam Budha Mahayana lebih
kompleks karena banyak dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan lain, seperti
agama Hindu atau Taoisme sehingga mengenal banyak dewa-dewi. Sedangkan
Budha Hinayana mendekati ajaran Budha yang sesungguhnya. Di Indonesia,
termasuk juga Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Laos, aliran
Hinayanalah yang berkembang, sedangkan aliran Mahayana lebih berkembang di
Cina, Korea, Taiwan, dan Jepang.
3. Teori Masuknya Agama
Ada beberapa teori tekait proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan
Budha ke Indonesia.
B. Teoeri Waisya. Pendukung teori ini adalah N.J. Krom yang menyatakan bahwa
motivasi terbesar datangnya bangsa India ke Indonesia adalah untuk
berdagang. Golongan terbesar yang datang ke Indonesia adalah pedagang
India (kasta Waisya).
C. Teori Ksatria. Menurut F.D.K. Bosch, prajurit yang kalah perang atau jenuh
menghadapi perang lantas meninggalkan India, kemudian keluar dari
wilayahnya dan menyebarkan agama dan budaya Hindu termasuk ke
Indonesia.
D. Teori Brahmana. Pendukung teori ini adalah van Leur, menurutnya Brahmana
datang dari India ke Indonesia atas undangan pemimpin suku dalam rangka
melegitimasi kekuasaan mereka sehingga setaraf dengan raja-raja India.
E. Teori Arus Balik. Menurut teori yang dikemukakan oleh G. Coedes ini,
berkembangnya pengaruh dan kebudayaan India dilakukan oleh bangsa
Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia datang ke India untuk belajar agama,
selanjutnya disebarkan di nusantara.

F. Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha di Indonesia


a. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai terletak di Muarakaman, Kutai, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai
merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara. Sumber sejarah mengenai kerajaan
ini adalah ditemukannya tujuh tiang batu yang disebut Yupa berhuruf Pallawa dan
berbahasa Sansekerta.
Raja pertama Kerajaan Kutai pertama adalah Kudungga, kemudian dilanjutkan
putranya bernama Aswawarman. Raja Aswawarman adalah seorang raja yang cakap
dan kuat. Tahta kerajaan kemudian dilanjutkan putra Aswawarman, yaitu
Mulawarman. Mulawarman adalah raja terbesar Kerajaan Kutai. Kebesaran kekuasaan
Raja Mulawarman terlihat dalam upacara-upacara persembahan kepada para dewa.
b. Kerajaan Tarumanegara
Letak Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, tepi Sungai Cisadane. Kata taruma berarti
nila atau biru. Tarumenegara didirikan oleh Jayasingawarman yang kemudian
digantikan oleh putranya Dharmayawarman. Wilayah kekuasaan Tarumanegara
meliputi Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon.
Sumber sejarah mengenai Tarumanegara, yaitu:
i. Prasasti Tugu
Prasasti ini berisi tentang penggalian saluran air Gomati sepanjang 6.112 tombak atau
kira-kira 11 Km. Penggalian saluran air tersebut atas perintah Raja Purnawarman,
diiringi selamatan dengan memberikan 1.000 ekor sapi kepada Brahmana.
ii. Prasasti Kebon Kopi
Pada prasasti ini ditemukan tapak kaki gajah kerajaan.
iii. Prasasti Ciaruteun
Ditemukan sepasang kaki sang raja yang menunjukkan bahwa raja menguasai daerah
di sekitarnya.
iv. Prasasti Lebak
Menyebutkan keagungan dan keberanian raja Purnawarman.
v. Prasasti Jambu
Ditemukan di Bogor sebelah barat.
vi. Prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten
Ditemukan di Bogor, enskripsi pada kedua prasasti belum dapat dibaca.
vii. Arca-arca

Kerajaan Tarumanegara mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Purnawarman,


raja yang terkenal besar dan kuat. Bukti kebesaran pemerintahannya tertulis pada
prasasti Tugu.

2. Kerajaan Kalingga atau Holing


Letak Kerajaan Kalingga berada di Jawa Tengah berada di sekitar Blora dan Cepu
pada abad ke-7 M. Kerajaan bercorak Budha, yang ditunjukkan banyak pendeta
Budha yang menerjemahkan kitab suci sehingga Kalingga memiliki peran penting
bagi pengembangan agama Budha. Sumber sejarah mengenai keberadaan kerajaan
Kalingga terdapat pada Prasasti Tuk Mas di kaki Gunung Merbabu. Dalam berita Cina
disebutkan bahwa Kalingga diperintah oleh seorang ratu yang tegas, adil, dan
bijaksana bernama Ratu Sima. Ia tidak pandang bulu terhadap siapapun yang
melanggar aturan, sehingga rakyat hidup tenteram dan damai.
3. Kerajaan Sriwijaya
Letak kerajaan Sriwijaya diperkirakan di wilayah Sumatra bagian selatan, dengan pusat
pemerintahan di tepi sungan Musi. Luasnya wilayah laut yang dikuasai kerajaan
Sriwijaya menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar. Kata Sriwijaya
berasal dari bahasa sansekerta sri artinya bercahaya atau gemilang dan wijaya artinya
kemenangan atau kejayaan, sehingga maknanya adalah kemenangan yang gilang
gemilang.
Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya sebagai berikut.
1) Prasasti Telaga Batu
2) Prasasti Kedukan Bukit
3) Prasasti Karang Berahi
4) Prasasti Ligor
5) Prasasti Kota Kapur
6) Prasasti Talang Tuo
7) Prasasti Nalanda
Raja-raja yang pernah berkuasa adalah Dapunta Hyang, Balaputradewa, dan
Sanggrama Wijayatunggawarman. Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan
pada masa Balaputradewa dari dinasti Syailendra.

Namun pada akhir abad ke-12 M kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran karena
beberapa hal sebagai berikut.

a) Adanya serangan berkali-kali dari Kerajaan Colamandala dari India


b) Daerah taklukan banyak yang melepaskan diri
c) Terdesak oleh perkembangan kerajaan di Thailand yang meluaskan kekuasaan hingga
semenanjung Malaya
d) Terdesak oleh kerajaan Singasari
e) Mundurnya perekonomian Sriwijaya karena bandar-bandar banyak yang melepaskan
diri
e. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno terletak dipedalaman Jawa Tengah dengan daerah intinya
Bhumi Mataram. Daerah tersbut dikelilingi oleh banyak pegunungan antara lain
Pegunungan Serayu, Gunung Prau, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung
Ungaran, Gunung Merbabu Gunung Merapi, Gunung Lawu Gunung Sewu Dan
Gunung Kidul. Wilayah kerajaan yang tertutup secara geografis dan subur sesuai
untuk bidang pertanian. Hal ini menyebabkan kerajaan bersifat agraris.
Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dua dinasti atau wangsa, yaitu:
1) Dinasti Sanjaya
Sumber sejarah berdirinya dinasti ini terdapat pada Prasasti Canggal dan Prasasti
Balitung. Mataram mengalami kemajuan ketika diperintah oleh Rakai Mataram
Sang Ratu Sanjaya, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, Diah
Balitung, Daksa, dan Wawa.
2) Dinasti Syailendra
Dinasti Syailendra mendirikan kerajaan di Jawa Tengah bagian selatan (Bagelen
dan Yogyakarta) pada abad ke-8 M. Sumber sejarahnya antara lain, Prasasti
Kalasan, Prasasti Kelurak, Prasasti Ratu Boko, Prasasti Nalanda.
Dinasti Sanjaya pada akhir abad ke-8 M terdesak oleh dinasti Syailendra. Pada
masa pemerintahan Samaratungga, dibangun Candi Borobudur, namun sebelum
candi selesai dibuat Samaratungga meninggal dunia. Setelah Samaratungga
berkuasa terjadi perang saudara akibat perebutan tahta kerajaan. Pewaris
kerajaan seharusnya jatuh kepada Pramodhawardani (anak dari permaisuri) tetapi
tidak ingin menjadi raja karena tidak sanggup memerintah. Akhirnya kekuasaan
diberikan kepada Balaputradewa (anak dari selir). Akan tetapi, Pramodhawardani
dipengaruhi suaminya, Rakai Pikatan untuk merebut tahta kembali. Pada akhirnya
Balaputradewa kalah di Bukit Ratu Boko dan melarikan diri ke Sriwijaya.
f. Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sendok setelah memindahkan pusat
pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letak kerajaan ini berada di muara
sungai Brantas. Raja-raja yang pernah memerintah antara lain, Mpu Sendok,
Dharmawangsa Teguh, dan Airlangga. Pada masa pemerintahan Airlangga inilah
kerajaan Medang Kamulan mencapai puncak kejayaan. Setelah Airlangga memasuki
masa kependetaan. Kerajaan dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Jenggala beribukota
di Kahuripan dan Kerajaan Kediri (Panjalu) dengan ibukotanya di Daha untuk
menghindari perang saudara.
g. Kerajaan Kediri
Pada tahun 1135 M tampil raja yang sangat terkenal, yakni Jayabaya. Di kalangan
masyarakat Jawa, nama Jayabaya sangat terkenal karena ramalannya yang
disebut Jangka Jayabaya.
Raja terakhir dari Kerajaan Kediri adalah Kertajaya atau Dandang Gendis.
Kertajaya memiliki sifat sombong dan melanggar adat sehingga mendapat
tentangan dari para pendeta atau brahmana. Sehingga para pendeta mencari
perlindungan kepada Ken Arok (penguasa Tumapel). Pada tahun 1222 M, Ken
Arok menyerang Kediri dan berakhirlah kekuasaan Kertajaya.
h. Kerajaan Singasari
Kerajaan Kediri didirikan oleh Ken Arok. Ken Arok naik tahta menjadi seorang raja
setelah berhasil menjadi penguasa Tumapel. Ia sengaja membunuh Tunggul
Ametung, seorang akuwu Tumapel dengan Keris Mpu Gandring untuk mendapat
kekuasaan.
Setelah Ken Arok meninggal, tahta jatuh ke tangan Anusapati (putra Tunggul
Ametung), kemudian digantikan Panji Tohjoyo. Setelah Tohjoyo, singgasana
kerajaan jatuh kepada Ranggawuni, selanjutnya ia mengangkat putranya
bernama Kertanegara. Pada masa pemerintahan Kertanegara inilah Singasari
mengalami puncak kejayaan karena memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas
karena ambisinya untuk menyatukan seluruh Nusantara yang dikenal dengan
Ekspedisi Pamalayu.
i. Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit berdiri abad ke-14 hingga ke-15 M, berpusat di Jawa
Timur, oleh Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya). Ia mempunyai tugas untuk
melanjutkan kemegahan Singhasari, dibantu oleh Arya Wiraraja seorang penguasa
Madura, dalam kitab Pararaton wilayahnya disebut sebagai hutannya orang Tarik.
Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa pahit
dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya bersekutu dengan
pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Setelah berhasil
menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol
sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya. Kerajaan
Majapahit penuh dengan intrik politik dari dalam kerajaan itu sendiri. Kondisi yang
sama juga terjadi menjelang keruntuhan Majapahit.
Menurut Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan
Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan
Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan
Filipina. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma
bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.
Sumpah Palapa
Pada saat diangkat sebagai Mahapatih Gajah Mada bersumpah bahwa ia
tidak akan beristirahat (amukti palapa) jika belum dapat menyatukan seluruh
Nusantara. Sumpah itu kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa sebagai berikut.
Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring
seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo,ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, samanisun amukti palapa. Artinya:
Setelah tunduk Nusantara, saya akan beristirahat; Sesudah kalah Gurun seran,
Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya
akan beristirahat Dompo,ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, saman isun amukti
palapa.
Politik dan Pemerintahan
Majapahit telah mengembangkan sistem pemerintahanyang teratur. Raja
memegang kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu
oleh berbagai badan atau pejabat berikut.
1. Rakryan Mahamantri Katrini, dijabat oleh para putra raja,terdiri atas Rakryan i Hino,
Rakryan i Sirikan, dan Rakryan IHalu.
2. Dewan Pelaksana terdiri atas Rakryan Mapatih atau PatihMangkabumi, Rakryan
Tumenggung, Rakryan Demung,Rakryan Rangga dan Rakryan Kanuruhan. Kelima
pejabat
ini dikenal sebagai Sang Panca ring Wilwatika.
Di antara kelima pejabat itu Rakryan Mapatih atau Patih Mangkubumi
merupakan pejabat yang paling penting .Ia menduduki tempat sebagai perdana
menteri. Bersama sama raja, ia menjalankan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu
terdapat pula dewan pertimbangan yang disebut dengan Batara Sapta Prabu.
Struktur tersebut ada di pemerintah pusat. Di setiap daerah yang berada di bawah
raja-raja, dibuatkan pula struktur yang mirip. Untuk menciptakan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa, dibentuklah badan peradilan yang disebut dengan
Saptopapati. Selain itu disusun pula kitab hukum oleh Gajah Mada yang disebut
Kitab Kutaramanawa. Gajah Mada memang seorang negarawan yang mumpuni. Ia
memahami pemerintahan strategi perang dan hukum. Untuk mengatur kehidupan
beragama dibentuk badan atau pejabat yang disebut Dharmadyaksa.
Dharmadyaksa adalah pejabat tinggi kerajaan yang khusus menangani persoalan
keagamaan.
Di Majapahit dikenal ada dua Dharmadyaksa sebagai berikut.
1. Dharmadyaksa ring Kasaiwan, mengurusi agama Syiwa(Hindu),
2. Dharmadyaksa ring Kasogatan, mengurusi agama Buddha.
Dalam menjalankan tugas, masing-masingDharmadyaksa dibantu oleh
pejabat keagamaan yang diberisebutan Sang Pamegat.Kehidupan beragama di
Majapahit berkembang semarak. Pemeluk yang beragama Hindu maupun Buddha
saling bersatu. Pada masa itupun sudah dikenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika,
artinya, sekalipun berbeda-beda baik Hindu maupun Buddha pada hakikatnya
adalah satu jua. Kemudian secara umum kita artikan berbeda-beda akhirnya satu
jua
Berkat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kehidupan politik, dan
stabilitas nasional Majapahit terjamin. Hal ini disebabkan pula karena kekuatan
tentara Majapahit dan angkatan lautnya sehingga semua perairan nasional dapat
diawasi. Majapahit juga menjalin hubungan dengan negara-negara/kerajaan lain.
Hubungan dengan Negara Siam, Birma, Kamboja, Anam, India, dan Cina
berlangsung dengan baik. Dalam membina hubungan dengan luar negeri,
Majapahit mengenal motto Mitreka Satata, artinya negara sahabat.
Perkembangan Sastra dan Budaya
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, bidang sastra mengalami
kemajuan. Karya sastra yang paling terkenal pada zaman Majapahit adalah Kitab
Negarakertagama. Kitab ini ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Di
samping menunjukkan kemajuan di bidang sastra, Negarakertagama juga
merupakan sumber sejarah Majapahit. Kitab lain yang penting adalah Sutasoma.
Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma memuat kata-kata yang
sekarang menjadi semboyan negara Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Di
samping itu, Empu Tantular juga menulis kitab Arjunawiwaha.