Anda di halaman 1dari 22

BUSINESS CONTINUITY PLAN

&
DOWN TIME RECOVERY

SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT


RSUD BALARAJA TANGERANG

Oleh :
PT.BUANA VARIA KOMPUTAMA

NO DOKUMEN: 007/INF-BVK/VII/2015

2015 - 2017

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 1
Version 1.1
BUSINESS CONTINUITY PLAN
and
DOWN TIME RECOVERY

Version 1.1

Prepared By:
INFRA - BVK
April 2016

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 2
Version 1.1
DOCUMENT HISTORY

Date Version Description Author


Juli2017 1.0 Business Continuity Plan & Down Time SM BVK
Recovery

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 3
Version 1.1
DAFTAR ISI

LATAR BELAKANG

PT. Buana Varia Komputama berkomitmen dalam Kerjasama Operasional Sistem


Informasi Rumah Sakit (KSO-SIRS) yang dilaksanakan di sehingga rumah sakit dapat tetap
selalu memiliki data yang tercatat dan terekam dalam sistem MIRSA secara terkini serta
dapat di akses dengan segera.

Potensi kehilangan data milik di RSUD BALARAJA TANGERANG, tersebut baik dalam
kategori bencana yang dapat terjadi kapan saja serta disebabkan oleh bermacam-macam
faktor dengan risiko yang berbeda-berbeda pula, seperti kebakaran, gempa bumi, banjir,
padam listrik, huru hara, perang, virus komputer,kegagalan sistem ataupun perangkat
keras dan masih banyak lagi lainnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu sistem kendali dan pengaturan yang
dapat mengantisipasi situasi dan kondisi yang bagaimanapun tersebut sehingga kondisi
pelayanan dan pencatatan data tetap terekam dengan baik dan sesuai yang diharapkan
seluruh pihak.

Metode perencanaan penanggulangan serta pemulihan bencana untuk pemenuhan


kebutuhan di RSUD Balaraja Tangerang harus teroganisir dengan baik dan harus
mengikuti prosedur standar yang ditulis untuk dapat dipahami oleh seluruh pihak yang
menerapkan. Dokumentasi yang efektif dan mudah dipahami sangat penting dalam
rencana pemulihan bencana.

Metode perencanaan penanggulangan serta pemulihan bencana di RSUD Balaraja


Tangerangharus memiliki cakupan yang luas bila hendak efektif untuk melakukan
skenario antisipasi bencana yang berdampak kepada pelayanan, pencatatan dan
perekaman data sehingga berpotensi terjadinya kehilangan data. Sebuah skenario
dengan dampak terburuk harus menjadi dasar terhadap metode perencanaan. Seperti
kerusakan pada fasilitas utama, dalam hal ini adalah ruang server dan peralatan
didalamnya. Karena rancangan perencanaan dibuat dengan dampak terburuk tersebut,
situasi yang kurang kritikal dapat diantisipasi dengan hanya menggunakan sebagian dari
metode perencanaan saja dan dengan sedikit modifikasi prosedur bilamana diperlukan.

Setelah itu, perencanaan penanggulangan bencana harus dilakukan simulasi dalam


bentuk uji coba untuk melihat apakah sudah terbukti dan teruji dengan baik dan sudah
sesuai dengan yang diharapkan seluruh pihak. Proses ini juga sekaligus memberikan
sosialisasi dan pelatihan kepada pihak-pihak terkait didalam penerapan program
penanggulangan bencana.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 4
Version 1.1
PENYEBAB POTENSIAL

Penyebab potensial dari bencana yang mengganggu layanan, pencatatan dan perekaman
data menggunakan aplikasi MIRSA peruntukan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di
RSUD Balaraja Tangerangdapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Bencana ALam (Natural Disaster)


2. Kesalahan Manusia (Human Error)
3. Disengaja (Intentional Causes)

DISASTER POTENTIAL CAUSES

Berikut merupakan jenis-jenis bencana dari masing-masing kategori tersebut :


1. SEBAB ALAM (NATURE);
a. Gempa Bumi
b. Kebakaran
c. Banjir
d. Topan Badai
e. Temperatur
2. KESALAHAN MANUSIA (HUMAN ERROR);
a. Kegagalan perangkat keras (Hardware failure)
b. Kesalahan pemrograman (Sistem error)
c. kurang pelatihan (Lack of training)
d. pemeliharaan yang tidak tepat (Improper maintenance)
e. Ceroboh (Carelessness)

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 5
Version 1.1
f. Pengguna yang tidak berhak (Unauthorized personnel)
g. Mati listrik
3. DISENGAJA (INTENTIONAL CAUSE);
a. Sabotase
b. Virus komputer
c. Pencurian
d. Serangan sistem
ANALISA DAMPAK

Penyebab potensial yang sudah diklasifikasikan berdasarkan jenis yang ada dalam
kategori pada uraian sebelumnya harus ditentukan dampak yang dapat terjadi apakah
berdampak kecil, sedang, besar terhadap keseluruhan sistem operasional yang ada.

Berikut adalah analisa terhadap penyebab potensial bencana sehingga mengakibatkan


matinya sistem (down time) di RSUD Balaraja Tangerangyang dapat terjadi disertai
dengan probabilitas dan tingkatan dampak seperti tersebut :

PENYEBAB PROBABILITAS DAMPAK


NO POTENSIAL MINI SEDANG MAKS. KECIL SEDANG BESAR
BENCANA M
A. Alam (Nature) :
1. Gempa Bumi YA YA
2. Kebakaran YA YA
3. Banjir YA YA
4. Topan / Badai YA YA
5. Temperatur YA YA
B. Kesalahan Manusia (Human Error):
1. Kegagalan HW YA YA
2. Kegagalan SW YA YA
3. Kurang Pelatihan YA YA
4. Pemeliharaan yang YA YA
tidak tepat
5. Kecerobohan YA YA
6. Pengguna yang YA YA
tidak berhak
7. Mati listrik YA YA
C. Disengaja(Intentional Caused) :
1. Sabotase YA YA
2. Virus Komputer YA YA
3. Pencurian YA YA
4. Serangan Sistem YA YA
Keterangan tabel analisa penyebab potensial bencana :

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 6
Version 1.1
1. Kolom penyebab potensial :
Adalah pengklasifikasian terhadap jenis-jenis potensial penyebab bencana
berdasarkan 3 (tiga) kategori.
2. Kolom probabilitas :
Adalah menentukan terhadap kemungkinan potensi bencana yang dapat terjadi di
RSUD BALARAJA TANGERANG dalam 3 (tiga) klasifikasi; minimum, sedang,
maksimum.
3. Kolom Dampak :
Adalah menentukan seberapa jauh dampak dan akibat dari bencana yang dapat
terjadi di RSUD Balaraja Tangerangdalam 3 (tiga) klasifikasi; kecil, sedang, besar.

RANCANGAN SOLUSI

Dalam melaksanakan penanggulangan bencana disertai antisipasinya pada RSUD


Balaraja Tangerang, diperlukan suatu rancangan solusi dengan kemungkinan skenario
dampak terburuk yang dapat terjadi dalam cakupan luas sehingga efektif untuk
melakukan skenario antisipasi bencana yang berdampak kepada pelayanan, pencatatan
dan perekaman data. Dengan demikian situasi yang kurang kritikal atau dibawah kondisi
terburuk sekalipun sudah dapat dilakukan antisipasi menggunakan seluruh atau
sebagian rancangan desain tersebut dengan memungkinkan adanya modifikasi prosedur
bilamana diperlukan.

Berikut adalah rancangan solusi terhadap penanggulangan bencana :


1. Pembentukan Tim tanggap darurat;
2. Prosedur Down Time Recovery;
3. Pembentukan Disaster Recovery Center (DRC);
a. Mobilisasi tim tanggap darurat,
b. Penyiapan kondisi backup unit perangkat keras dan jaringan,
c. Penyiapan database backup menuju restore,
d. Prosedur pelaksanaan manual pencatatan dan perekaman data,
e. Prosedur pengembalian ke sistem normalisasi.

1. TIM TANGGAP DARURAT.


Merupakan suatu tim yang dibentuk khusus untuk menjalankan kondisi darurat dalam
keadaan bencana saja sebagai bentuk penanggulangan terhadap kemungkinan
kehilangan data dan antisipasi terhadap penomoran, pencatatan dan perekaman data.
Tim tersebut harus memiliki komitmen tinggi yang sanggup siap siaga kapanpun
dibutuhkan dari waktu ke waktu sesudah pernyataan bencana, karena tidak diketahui
dan dapat diprediksikan kapan terjadinya suatu bencana.
Tim tanggap darurat ini harus bertempat tinggal dan berada di lokasi yang sama dengan
lokasi RSUD BALARAJA, yaitu kota TANGERANG, karena tim tersebut berfungsi sebagai
first level support PT. Buana Varia Komputama untuk RSUD BALARAJA.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 7
Version 1.1
Diperlukan tim yang terlatih dengan kualifikasi pada masing-masing bidang yang
dibutuhkan seperti bidang sistem aplikasi dan bisnis proses manual, bidang infrastruktur
jaringan dan perangkat keras, bidang kegiatan pengelolaan data seperti penomoran,
pencatatan dan perekaman data dalam kondisi darurat pada saat proses
penanggulangan dan pemulihan bencana.
Anggota tim tanggap darurat yang dibentuk tersebut terdiri dari personil PT. Buana Varia
Komputama dan dibantu oleh personil Instalasi Informasi Tekhnologi (ITI) RSUD
BALARAJA, Tangerang sebagai penghubung yang memfasilitasi di dalam internal
organisasi di rumah sakit.
Struktur tim tanggap darurat yang terbentuk akan disosialisasikan kepada setiap
unit/instalasi di RSUD BALARAJA, Tangerang sehingga pada saat kondisi bencana
siapapun dapat mengetahui, kepada siapa dan kemana harus menghubungi pertama
kali.

Berikut merupakan rancangan solusi terhadap pembentukan struktur tim tanggap


darurat dari PT. Buana Varia Komputama yang berada pada lokasi RSUD BALARAJA,
Tangerang:

2. DOWN TIME RECOVERY


Merupakan suatu upaya pemulihan sistem aplikasi MIRSA yang sedang operasional
dengan cepat dan dengan waktu sebelum 1 X 24 jam sejak diketahui terjadinya

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 8
Version 1.1
permasalahan sehingga layanan sistem tidak terganggu. Pemulihan tersebut dilakukan
oleh first level support PT. Buana Varia Komputama yang ditempatkan di lokasi yang
sama dengan RSUD Balaraja Tangerang , yaitu bertempat di kota Balaraja, Tangerang.
First level support tersebut identik dengan tim tanggap darurat seperti yang dijelaskan
sebelumnya.

Metode pendekatan penanggulangan dan pemulihan bencana dalam bentuk Down time
recovery dibagi menjadi :
2.1 High Availability
2.2 Disaster Recovery.

2.1. HIGH AVALAIBILITY


Merupakan pemulihan segera yang ditunjang dengan fasilitas pendukung tekhnologi
yang sudah tersedia dan terpasang langsung di lokasi. Umumnya adalah bencana dengan
dampak kecil dan sedang dimana down time recovery dapat dilaksanakan dalam
beberapa jam saja. Beberapa fasilitas yang dapat di implementasikan adalah seperti
server utama dengan tekhnologi redundant server, perangkat jaringan utama (backbone
switch) dengan technologi redudant switch modul dan spanning tree protocol (SPT),
database dengan tehknologi database replication dan terakhir adalah backup unit
terhadap perangkat keras pendukung lainnya seperti unit pc, printer, barcode,
distribution switch. Waktu pemulihan diupayakan seminimum mungkin dan tidak lebih
dari 1 X 24 jam untuk mencegah potensi hilangnya data.
2.1.1 REDUNDANT SERVER
Melakukan redundant terhadap server utama (primary server), sehingga bila
terjadi kegagalan hardware pada server utama dapat langsung dialihkan kepada
server cadangan (secondary server).

2.1.2 REDUNDANT SWITCH MODUL & SPANNING TREE PROTOCOL


Melakukan redundant terhadap perangkat pusat jaringan utama (backbone
switch), sehingga bila terjadi kegagalan hardware dapat langsung dialihkan
kepada unit perangkat cadangan yang sudah tersedia secara pasif.
Selain itu tekhnologi spanning tree protocol memungkinkan melakukan
pembuatan topologi secara local loop tanpa terjadinya tumbukan data sehingga
bila terjadi gangguan pada satu segmen distribusi dapat langsung beralih
(automatic fail over) melalui segmen distribusi lainnnya yang terhubung
langsung.

2.1.3 DATABASE REPLICATION


Melakukan replikasi database secara real time sehingga bila terjadi kerusakan
(corrupt) database dapat secara langsung dan segera dialihkan dengan
menggunakan database hasil replikasi yang identik dengan database yang
pertama.

2.1.4 HARDWARE BACKUP UNIT

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 9
Version 1.1
Menyediakan backup unit terhadap seluruh perangkat keras terpasang di RSUD
Balaraja Tangerang peruntukan MIRSA sehingga bila terjadi kegagalan hardware
dapat segera dipulihkan dan tidak mengganggu operasional sistem yang ada.

2.15 UNINTERUPTABLE POWER SUPPLY (UPS)


Menyediakan UPS pada seluruh server, unit cpu serta pada setiap segmentasi
distribusi jaringan (distribution switch) sehingga bila terjadi kegagalan daya
listrik dan tidak serta merta beralih kepada genset yang sudah disediakan oleh
RSUD Balaraja Tangerang , operasional sistem peruntukan MIRSA tetap dapat
operasional selama beberapa saat dan potensi kehilangan data dapat dicegah.

2.2. DISASTER RECOVERY.


Disaster recovery merupakan suatu upaya down time recovery dalam bentuk ketetapan
tindakan terhadap langkah-langkah yang harus diambil pertama kali saat menentukan
apakah suatu masalah dan potensi kehilangan data dapat dikategorikan sebagai suatu
bencana seperti yang sudah dijelaskan pada analisa dampak terhadap
penanggulangan bencana dengan dampak besar, seperti bencana alam,kebakaran pada
ruang server. Siapa yang berhak menyatakan kondisi bencana serta kepada siapa saja
pertama sekali informasi kondisi darurat diberikan.

Selain itu, pemberlakuan tingkat kegawatan terhadap pernyataan kondisi bencana juga
perlu diatur dengan tujuan dapat dilakukan pengambilan keputusan mulai dari tingkat
terendah hingga tingkat tertinggi disesuaikan dengan dampak dari bencana itu sendiri
dan untuk dapat menggerakkan secara cepat dan tepat waktu tim tanggap darurat yang
sudah dibentuk selain waktu tanggap yang harus dilaksanakan sesuai kesepakatan
Kerjasama Operasional antara PT. Buana Varia Komputama dengan RSUD Balaraja
Tangerang .
Berikut adalah prosedur disaster recovery yang diterapkan oleh PT. Buana Varia
Komputama pada RSUD Balaraja Tangerang:

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 10
Version 1.1
LAMPIRAN 001. SOP PENANGGULANGAN BENCANA (DISASTER RECOVERY)

Sedangkan untuk dapat menggerakkan secara cepat dan tepat waktu tim tanggap
darurat yang sudah dibentuk selain waktu tanggap (respond time) yang harus
dilaksanakan, adalah sebagai berikut :

LAMPIRAN 002. SOP RESPOND TIME - SEVERITY LEVEL

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 11
Version 1.1
3. DISASTER RECOVERY CENTER (DRC).
Disaster Recovery Center merupakan pusat pemulihan dan penanggulangan bencana
yang berisikan tim yang sudah dibentuk dan ditetapkan berdasarkan keputusan direksi
PT. Buana Varia Komputama.
Tujuannya adalah pada saat dinyatakan kondisi darurat di RSUD Balaraja Tangeranguntuk
potensi kehilangan data dapat langsung dan segera diantisipasi oleh tim yang langsung
aktif terbentuk tersebut dengan melaksanakan prosedur yang sudah ditetapkan.

Setelah pusat pemulihan dan penanggulangan bencana dieksekusi dan dilaksanakan,


beberapa hal perlu dipersiapkan segera sehingga proses pencatatan dan perekaman
data dapat langsung dilakukan walaupun masih dalam kondisi manual sehingga potensi
kehilangan data dapat diminimalisir sedini mungkin.

Persiapan tersebut dilakukan dengan kondisi skenario dan dampak terburuk yang harus
menjadi dasar terhadap metode perencanaan dan dengan eskalasi level tertinggi secara
terstruktur dan sistematis adalah sebagai berikut :
1. Mobilisasi tim tanggap darurat.
2. Penyiapan backup unit untuk perangkat keras dan jaringan.
3. Persiapan data backup periode terakhir untuk dilakukan restore.
4. Persiapan prosedur pencatatan data manual terhadap layanan dan tindakan
pasien.
5. Persiapan entry data kedalam sistem sementara dan backup data.
6. Normalisasi sistem dan pelaksanaan restore data.

1.
TIM TANGGAP DARURAT
TERIMA INFORMASI
BENCANA

4.
3.
2. PENYIAPAN :
PENYIAPAN PUSAT
TIM TANGGAP DARURAT A.H/W & NETWORK
PENANGGULANGAN
KOORDINASI B.FORMULIR MANUAL
BENCANA (DRC)
KE KA. SIM RS C.DATA BACKUP

5.
6.
ESKALASI LEVEL & PELAPORAN : EKSEKUSI PEMULIHAN BENCANA :
NORMALISASI SISTEM :
A. RSUD Dr. SOETOMO A. RESTORE DATA BACKUP
A. RESTORE DATA BACKUP
B. PT. BUANA VARIA KOMPUTAMA B. PENCATATAN DATA MANUAL
B. REKAPITULASI KLAIM
C. ENTRY DATA MANUAL
D. BACKUP DATABASE

LAMPIRAN 003. SOP DISASTER RECOVERY CENTER (DRC)

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 12
Version 1.1
3.1. MOBILISASI TIM TANGGAP DARURAT.
Setelah adanya pernyataan bencana yang sudah dideklarasikan, maka tim tanggap
darurat langsung mendapatkan informasi ini yang dapat datang dari Kepala Instalasi
Sistem Informasi Manajemen RSUD Balaraja Tangerang dan seketika melaksanakan
pembuatan pusat penanggulangan dan pemulihan bencana (Disaster Recovery Center-
DRC) serta mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan penanggulangan
bencana dan pemulihan sistem hingga kondisi normal kembali.

Lokasi pusat penanggulangan dan pemulihan bencana ditentukan oleh RSUD Balaraja
Tangerang (Disaster Recovery Center-DRC). Dapat melalui Kepala Instalasi Sistem
Informasi Manajemen RSUD Balaraja Tangerangmaupun pimpinan tim tanggap darurat
itu sendiri sehingga dapat langsung bekerja sesuai kebutuhan yang diperlukan.

3.2. BACKUP UNIT PERANGKAT KERAS DAN JARINGAN.


Pada saat terjadinya bencana dengan kondisi skenario dan dampak terburuk, maka tim
tanggap darurat pada bagian infrastruktur jaringan dan perangkat keras serta bagian
server dan database langsung mempersiapkan kondisi peralatan pengganti (backup unit)
dengan kebutuhan minimum sehingga terbentuk LAN (local area network) dengan server
dan aplikasi MIRSA yang dapat dioperasionalkan untuk melayani registrasi, pelayanan
dan pembayaran pasien sehingga pencatatan dan perekaman data saat kondisi bencana
tetap dapat dilakukan dengan melanjutkan kondisi data rekaman terakhir yang berhasil
dilakukan backup.

Minimum kebutuhan yang harus ada untuk peralatan perangkat keras dan jaringan
tersebut adalah sebagai berikut :
a. 1 unit Server, yang sanggup melakukan penampungan,pencatatan dan
perekaman data terakhir sebelum bencana.
b. 1 unit tape backup/storage dan tape tape cattridge (identik dengan kondisi
pengoperasian tape tape cattridge kondisi operasional).
c. Tape backup atau database dummy kondisi operasional, berisi data rekaman data
terkini sebelum terjadinya bencana.
d. 2 unit pc client, peruntukan registrasi dan pelayanan.
e. 1 unit switch 24 port 10/100/100 dengan infrastruktur jaringan sementara.

3.3. DATA BACKUP SEBELUM BENCANA DAN RESTORE.


Data terkini sebelum terjadinya bencana dipersiapkan untuk mulai dilakukan
pengembalian data (restore) ke dalam sistem sesuai tersebut pada penyiapan backup
unit pada perangkat keras dan jaringan.
Data terkini sebelum bencana dapat diperoleh dari beberapa kondisi :
a. Data backup hasil pada tape tape cattridge dengan penyimpanan diluar area
lokasi bencana.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 13
Version 1.1
b. Data backup atau dummy pada harddisk sebagai antisipasi bila tape tape
cattridge mengalami keruasakan, 60 kilometer diluar area bencana.
c. Data replikasi secara real time dari primary database server ke secondary
database server pada ruang server pada area bencana.
d. Database Replication online melalui Virtual Private Networking (VPN) yang
berjarak melebihi 60 kilometer dari pusat area bencana.
Bila proses penyiapan data terkini sudah dilakukan oleh tim tanggap darurat bagian
server & database maka proses selanjutnya adalah proses pelaksanaan pengembalian
data ke dalam sistem sementara (restore). Dibutuhkan beberapa waktu dalam proses
restore tersebut namun tidak akan melebihi 1 X 24 jam.

3.4. PROSEDUR PENCATATAN DATA MANUAL


Persiapan terhadap pencatatan dan perekaman data untuk registrasi, layanan dan
tindakan pasien dilaksanakan secara manual sistem selama kondisi bencana terjadi
dengan beberapa alat bantu seperti :
a. Tim tanggap darurat bagian Rekam Medik (RM) akan meminta kepada
unit/instalasi Rekam Medik (RM) RSUD Balaraja Tangerang agar memberikan
jatah nomor Rekam Medik (RM) peruntukan unit/instalasi yang sudah
dialokasikan untuk situasi dan kondisi bencana.
b. Registrasi pasien menggunakan formulir identitas pasien yang sudah
dipersiapkan pada setiap unit/instalasi sebelum situasi dan kondisi bencana.
Bentuk formulir identitas pasien adalah sesuai yang tertera pada LAMPIRAN 007.
FORMULIR IDENTITAS PASIEN.
c. Layanan dan tindakan terhadap pasien selama dalam masa situasi dan kondisi
bencana menggunakan formulir kartu kendali yang telah dipersiapkan dan
disimpan pada setiap unit/instalasi sebelum situasi dan kondisi bencana terjadi.
Bentuk formulir identitas pasien adalah sesuai yang tertera pada LAMPIRAN 008.
FORMULIR KARTU KENDALI PASIEN.
d. Bila bencana yang terjadi adalah merupakan dampak terburuk, maka semua cara
bayar akan dicatat sebagai pasien dijamin dan dilaporkan kepada pemerintah
daerah atau kementrian kesehatan untuk dapat diajukan klaim pembayarannya.
Sedangkan bila bencana yang terjadi hanya minimum dan bersifat lokal serta
bukan karena alam dimana penanganan pasien tetap dapat dilakukan secara
normal, maka pada setiap lokasi pembayaran tetap menggunakan prosedur
seperti biasanya namun pencatatan mengggunakan formulir rincian biaya dan
formulir kwitansi ditulis secara manual dan dimasukkan ke dalam sistem
setelahnya. Bentuk formulir kwitansi sesuai yang tertera pada LAMPIRAN 009.
FORMULIR KWITANSI.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 14
Version 1.1
1.
TERJADI BENCANA

4. 6.
2. N
3. BENCANA DAMPAK PETUGAS KASIR (MANUAL) :
PENCATATAN MANUAL :
PENCATATAN MANUAL : BESAR ? A. VERIFIKASI TAGIHAN
A. NOMOR RM
A. TINDAKAN PASIEN B. RINCIAN TAGIHAN
B. IDENTITAS PASIEN
C. KWITANSI
Y

5.
PUSAT PEMULIHAN BENCANA : A. FORMULIR RINCIAN BIAYA
FORMULIR IDENTITAS PASIEN FORMULIR KARTU KENDALI PASIEN
A. MASUKKAN DATA B. KWITANSI
B. SIMPAN DATA
C. REKAPITULASI DATA KLAIM

LAMPIRAN 004. SOP PENCATATAN DAN PEREKAMAN DATA MANUAL

3.5. PEMASUKAN DAN BACKUP DATA KE SISTEM SEMENTARA


Pencatatan secara manual menggunakan formulir dan kwitansi yang ditulis sesuai
tersebut pada persiapan pencatatan data manual terhadap layanan dan tindakan pasien
perlu dipusatkan dalam satu wadah pada lokasi pusat penanggulangan bencana (DRC)
sehingga dapat dengan mudah dilakukan pemasukan data ke dalam sistem sementara
yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tim Tanggap Darurat bagian manual sistem dan
bisnis proses bertugas mengumpulkan, memilah dan memasukkan data-data tersebut ke
dalam sistem sementara.
Tim Tanggap Darurat bagian server & database akan selalu melakukan backup data
terhadap hasil pemasukan data tersebut dengan kurun waktu periodik secara rutin
sampai sistem kembali normal sehingga pencatatan dan perekaman data menjadi tetap
terkini.

3.6. NORMALISASI SISTEM DAN RESTORE DATA


Kondisi bencana sudah usai. Dengan demikian pemulihan sistem sudah dapat
dilaksanakan dan kembali kepada situasi normal. Seluruh unit perangkat keras, server,
infrastruktur jaringan siap sedia untuk dipergunakan kembali.
Data backup terkini hasil daripada sistem sementara sesuai tersebut pada persiapan
entry data ke dalam sistem sementara dan backup data, dipersiapkan untuk digunakan

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 15
Version 1.1
di sistem yang hendak operasional. proses penyiapan data terkini yang sudah dilakukan
oleh tim tanggap darurat bagian server & database untuk selanjutnya dilaksanakan
proses pengembalian data (restore) ke dalam sistem operasional. Dibutuhkan beberapa
waktu dalam proses restore tersebut namun tidak akan melebihi 1 X 24 jam.
Setelah semua kondisi normal kembali, maka dibuatkan pencatatan untuk laporan
kejadian terhadap permasalahan karena berkaitan dengan service level agreement (SLA)
PT. Buana Varia Komputama kepada RSUD Balaraja Tangerang .
Contoh format laporan dapat dilihat pada LAMPIRAN 010. LAPORAN DOWN TIME
RECOVERY.

PEMELIHARAAN

Pemeliharaan merupakan salah satu hal penting yang tidak dapat diabaikan sehingga
potensi kehilangan data karena kegagalan sistem yang dapat terjadi karena berbagai
sebab seperti yang diuraikan di atas dapat selalu diminimalisir.

Beberapa jenis pemeliharaan yang berkaitan erat dengan down time recovery untuk high
availability adalah pemeliharaan terhadap database, server, infrastruktur jaringan utama
(backbone) yang secara keseluruhan terpusat pada satu ruang server (data center) serta
update antivirus. Sedangkan jenis maintenance untuk perangkat keras seperti unit cpu,
printer jaringan terdistribusi (distribution switch) juga diperlukan namun diuraikan
secara terpisah dari dokumen business continuity plan dan disaster recovery ini dan
dapat dilihat secara terpisah sebagai bentuk manifestasi pelatihan dan implementasi di
operasional secara langsung (judul dokumen : Panduan Pemeliharaan alat KSO MIRSA).

1. BACKUP DATABASE
Sistem backup yang diterapkan adalah menggunakan backup Harian, Mingguan dan
Bulanan.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 16
Version 1.1
SERVER01

Pada gambar diatas file-file yang akan dibackup berasal dari server01 dimana pada jam-
SERVER03

jam tertentu file-file tersebut akan digandakankan ke server03 dan akan dibackup secara
harian setiap jam 8 malam secara otomatis.
Mekanisme yang digunakan pada tape tape cattridge, adalah :
Nama Tape cattridge/Hari

Mingguan Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu


Minggu1 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu2 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu3 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu4 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu5 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

Total Tape : Mingguan = 5 Unit, Harian = 7 Unit ==> 12 unit


Keterangan :
Nama Hari
Nama Tape cattridge

Tape Tape cattridge yang digunakan pada backup harian minggu pertama, misal backup
hari senin, akan digunakan kembali (ditambah) pada hari senin minggu kedua dan hari
senin minggu selanjutnya. Begitu juga untuk hari selasa, dan seterusnya.

Tape Tape cattridge yang digunakan pada backup mingguan, misal backup minggu
pertama, akan digunakan kembali (ditambah) pada minggu kedua dan minggu
seterusnya.
Jan Peb Maret April Mei Juni Juli Agus Sep Okt Nop Des
Tape

Jan Peb Maret April Mei Juni Juli Agus Sep Okt Nop Des
cattridge/Bulan

Total Bulanan = 12 Unit , Backup 2 Unit.


Tape

Keterangan :
Nama bulan

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 17
Version 1.1
Nama Tape cattridge

Mekanisme backup harian, tape cartridge harian akan dioverwrite pada hari yang sama
pada minggu berikutnya, misal cartridge hari senin minggu pertama akan dioverwrite
pada hari senin minggu kedua, dst. Sedang untuk cartridge backup mingguan akan
dioverwrite pada minggu yang sama pada bulan berikutnya, misal cartridge minggu
pertama bulan maret akan dioverwrite pada minggu pertama bulan april, dan
seterusnya. Jika terjadi backup pada minggu ke-5 maka minggu ke-5 ini akan direplace
pada bulan yang terdapat 5 minggu berikutnya, dibawah ini adalah skema dari nama
tape tape cattridge :
Nama Cattrideg/Hari

Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu


Minggu1 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
MInggu2 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu MInggu
MInggu3 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu4 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Minggu5 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

Total Tape : Mingguan = 5 Unit, Harian = 7 Unit ==> 12 unit

Keterangan :
Nama Hari
Nama tape tape cattridge
Cattrideg

Jan Peb Maret April Mei Juni Juli Agus Sep Okt Nop Des
Jan Peb Maret April Mei Juni Juli Agus Sep Okt Nop Des

Total Bulanan = 12 Unit , Backup 2 Unit.


/ Bulan

Tape

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 18
Version 1.1
Keterangan :
Nama bulan
Nama tape tape cattridge

Log (catatan) perlakuan tehadap backup database dapat dilihat sesuai LAMPIRAN 005.
LOG BACKUP DATABASE.

2. PEMELIHARAAN RUANG SERVER


Ruang server atau dengan istilah kata lain Data Center, merupakan pusat ruang
pengolahan data dan pusat jaringan dimana pengelolaannya sangat penting dan
membutuhkan pemeliharaan yang cukup intensif serta keamanan ruangan terhadap
personil yang tidak berhak sangat dibatasi. Ruang server ini menuntut kinerja yang
dalam 24 jam terus menerus dapat beroperasional dimana penerapan high availability
sangat dibutuhkan.

Metode pemeliharaan yang dilakukan adalah menggunakan daftar periksa sehingga


peralatan terpasang dapat secara rutin terpantau dan terpelihara dengan baik dan dapat
bekerja optimal sehingga operasional sistem tetap terjaga.

Beberapa hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah kondisi server, jaringan utama
(backbone switch), Uninteruptable Power Supply (UPS), kondisi dan daya listrik, suhu
dan temperatur ruangan, pendingin ruangan (A.C), sistem pengkabelan terstruktur.
Bentuk pemeliharaan menggunakan daftar periksa pemeliharaan ruang server yang
secara rutin setiap hari dilaksanakan oleh petugas yang sudah ditunjuk oleh PT. Buana
Varia Komputama. Daftar periksa pemeliharaan ruang server adalah sesuai pada
LAMPIRAN 006. DAFTAR PERIKSA PEMELIHARAAN RUANG SERVER.

3. PEMELIHARAAN ANTI VIRUS


Seperti layaknya suatu penyakit, suatu sistempun memerlukan antisipasi penangkal
terhadap potensi bahaya serangan yang datangnya berasal dari luar lingkup sistem itu
sendiri yang sangat bermacam ragam bentuknya dan dapat masuk dari berbagai jenis
media. Untuk itu, diperlukan antisipasi bentuk pencegahan dalam bentuk anti virus.

Pemeliharaan terhadap anti virus sangat perlu dilakukan secara periodik untuk
mencegah terhadap hal-hal yang tidak diinginkan sehingga mengganggu jalannya
operasional sistem MIRSA di RSUD Balaraja Tangerang , yaitu berupa file patch udate.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 19
Version 1.1
Metode update terhadap patch terbaru anti virus tersebut akan dimasukkan setiap
minggu ke dalam server antivirus sehingga pc-client yang tersebar di seluruh RSUD
Balaraja Tangerang dapat melakukan update secara otomatis ke server antivirus. Petugas
PT. Buana Varia Komputama yang ditunjuk akan melakukan pemeriksaan terhadap hasil
update tersebut dan melakukan setup terhadap pc-client sehingga secara otomatis
secara rutin melakukan pemeriksaan dan tindakan pencegahan dini bila ditemukan
sesuatu hal yang tidak dikehendaki dalam sistem MIRSA. Bila ditemukan, maka petugas
akan melakukan karantina sebagai tindakan pencegahan awal.

Log (catatan) pemeliharaan anti virus adalah bersamaan dengan daftar periksa pada
ruang server karena pemeliharaan server anti virus termasuk didalamnya, dapat dilihat
pada LAMPIRAN 006. DAFTAR PERIKSA PEMELIHARAAN RUANG SERVER.

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 20
Version 1.1
LAMPIRAN

Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 21
Version 1.1
Business Continuity Plan & Down Time Recovery BUANA VARIA KOMPUTAMA, 2015 22
Version 1.1