Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori

Definisi Manajemen Lalu Lintas

Dengan mengacu kepada Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, Manajemen lalu lintas didefinisikan sebagai upaya untuk mengatur
pergerakan lalu lintas supaya memenuhi kriteria keselamatan, kelancaran, efisiensi, dan
murah.

Manajemen lalu lintas adalah penngelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan
melakukn optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau penngecilan
tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien
dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan.

Manajemen Lalu Lintas

Manajemen lalu lintas meliputi kegiatan perencanaan,, pengaturan, pengawasan dan


pengendalian lalu lintas. Manajemen lalu lintas bertujuan untuk keselamatan, keamanan,
ketertiban, dan kelancaran lalu lintas, dan dilakukan antara lain dengan:

a. Usaha peningkatan kapasitas jalan ruas, persimpangan, dan/atau jaringan jalan;


b. Pemberian prioritas bagi jenis kendaraan atau pemakai jalan tertentu;
c. Penyesuaian antara permintaan perjalanan dengan tingkat pelayanan tertentu dengan
mempertimbangkan keterpaduan intra dan antar moda;
d. Penetapan sirkulasi lalu lintas, larangan dan/atau perintah bagi pemakai jalan.

Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi:

Inventarisasi dan evakuasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi antara lain untuk
mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan persimpangan. Maksud tingkat
pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan kemampuan ruas jalan dan persimpangan
untuk menampung lalu linntas dengan tetap memperhatikan factor kecepatan dan
keselamatan.
Tujuan Manajemen Lalu Lintas:

Mendapatkan tingkat efisiensi dari pergerakan lalu lintas secara menyeluruh dengan
tingkat aksesibilitas yang tinggi dengan menyeimbangkan permintaan dengan sarana
penunjang yang tersedia.
Meningkatkan tingkat keselamatan dari pengguna yang dapat diterima oleh semua pihak
dan memperbaiki tingkat keselamatan tersebut sebaik mungkin.
Melindungi dan memperbaiki keadaan kondisi lingkungan di mana arus lalu lintas
tersebut berada.
Mempromosikan penggunaan energi secara efisien ataupun pengguna energy lain yang
dampak negatifnya lebih kecil dari pada energy yang ada.

Sasaran dari Manajemen Lalu Lintas adalah:

Mengatur dan menyederhanakan lalu lintas dengan melakukan pemisahan terhadap tipe,
kecepatan dann pemakai jalan yang berbeda untuk meminimumkan gangguan terhadap
lalu lintas.
Mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dengan menaikkan kapasitas atau mengurangi
volume lalu lintas pada suatu jalan. Melakukan optimasi ruas jalan dengan menentukan
fungsi dari jalan dan control terhadap aktifitas-aktifitas yang tidak cocok dengan fungsi
jalan tersebut harus dikontrol.

Tujuan pengendalian lalu lintas adalah:

Efisiensi sistem transportasi

Aksesbilitas

Keselamatan Lalu Lintas

Lingkungan

Kelompok kelompok Konflik dalam lalu lintas terdiri dari:


Lalu lintas menerus
Lalu lintas local
Sirkulasi lalu lintas
Angkutan umum
Kendara emergency
Sepada motor dan sepada
Pejalan kaki ( berbagai kelompok )
Kendaraan parkir ( jenis dan lama Parkir )
Kebutuhan aksesibilitas ( berdasarkan jenis bangunan )

Instrumen Manajemen Lalu Lintas :

Tindakan peningkatan kapasitas


Tindakan prioritas
Tindakan keselamatan
Tindakan proteksi lingkungan
Tindakan pembatasan lalu Lintas ( demand management )

Dampak dari Penerapan Manajemen Lalu Lintas :

Jumlah total arus lalu lintas ( seperti : berkurang akibat demand management )
Lokasi dan waktu beroperasinya manajemen lalu lintas ( perubahan pola perjalanan )
Menghilangkan lalu lintas campuran yang di inginkan ( melarang truk pada jam-jam
sibuk pagi dan sore hari )
Kecepatan kendaraan meningkat ( eningkat akibat pengendalian yg lebih baik )
Tetapi Kondisi lingkungan keselamatan lalu lintas harus di jaga agar tidak memburuk.

Manajemen Lalu Lintas (Permasalahan lalu lintas)

Permasalahan lalu lintas biasanya tumbuh lebih cepat dari upaya untuk melakukan
pemecahan permasalahan transportasi sehingga mengakibatkan permasalahan menjadi
bertambah parah dengan berjalannya waktu. Untuk bisa memecahkan permasalahan lalu
lintas perlu diambil langkah-langkah yang berani atas dasar kajian dan langkah-langkah yang
pernah dilakukan dikota-kota lain.

1. Kemacetan lalu lintas

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya yang ditandai dengan menurunnya
kecepatan perjalanan dari kecepatan yang seharusnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang
disebabkan oleh banyaknya jumlah lalu lintas kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan
merupakan permasalahan yang umum terjadi dan banyak terjadi di kota-kota besar yang pada
gilirannya mengakibatkan kota menjadi tidak efisien dan bisa mengakibatkan kerugian
ekonomi yang tidak sedikit. Kemacetan ini disebabkan beberapa permasalahan:

1.1 Ratio infrastruktur transportasi dengan luas lahan

Bila dibandingkan dengan kota-kota dunia, kota-kota di Indonesia mempunyai rasio


infrastruktur transportasi dengan luas lahan yang cenderung rendah. Jakarta hanya memiliki
rasio sebesar 6 persen, sedangkan kota-kota di Amerika Utara berkisar di antara 25-35 persen
dan di Eropa berkisar antara 15 persen sampai 25 persen. Padahal, jumlah kendaraan per
kapita juga sudah sangat tinggi sehingga kemacetan merupakan salah satu permasalahan di
kota-kota besar Indonesia.

1.2 Jaringan jalan yang tidak memadai

1.2.1 Jaringan jalan untuk kendaraan

Jaringan jalan terutama di kawasan perkotaan yang tidak memadai yang mengakibatkan
pilihan rute menuju suatu kawasan terbatas sehingga jalan-jalan tertentu menjadi sedemikian
padatnya. Hal ini diperparah dengan jumlah kendaraan yang sangat tinggi, sebagai contoh
panjang jalan untuk setiap kendaraan di Jakarta hanya mencapai 1,17 m, sehingga kalau
kendaraan disusun bumper to bumper tidak akan mencukupi panjang jalan yang ada DKI
Jakarta, sedangkan panjang jalan per kapita di Jakarta hanya 0,88 m, angka yang kecil kalau
dibandingkan dengan kota-kota lain di dunia (kota-kota di Eropa berkisar 2,5 m/kapita dan
kota-kota Amerika Utara berkisar 5 m/kapita).

1.2.2 Jaringan jalan bagi pejalan kaki


Fasilitas pejalan kaki umumnya tidak mendapat cukup perhatian oleh pemerintah daerah, dan
jika ada tidak didukung dengan standar desain yang baik sehingga tidak bisa digunakan oleh
penderita cacat. Keadaan ini diperparah lagi oleh pedagang kaki lima yang berjualan di
trotoar atau jika trotoar digunakan untuk kendaraan parkir. Permasalahan lain yang terkait
dengan pejalan kaki adalah kurangnya fasilitas penyeberangan yang dikendalikan di pusat
kota, ataupun ketidakpatuhan pemakai kendaraan bermotor untuk tidak memberikan prioritas
terhadap pejalan kaki.

1.3 Tata Ruang yang tidak terkendali

Permasalahan lain yang besar adalah tata ruang yang tidak terkendali sehingga
mengakibatkan berbagai permasalahan, di antaranya jalan yang tidak teratur terutama di
kawasan pemukiman dan terkadang didaerah yang kumuh gang yang ada sedemikian
sempitnya sehingga bila terjadi kebakaran sulit untuk dimasuki mobil pemadam kebakaran.

1.4 Pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi

Pertumbuhan pemilikan kendaraan pribadi yang sangat tinggi yang digunakan di jalan
membuat beban jaringan jalan menjadi semakin berat. Di kota-kota besar, 3 dari 10 orang
memiliki kendaraan, suatu angka yang sangat besar. Kepemilikan kendaraan pribadi ini
didominasi oleh sepeda motor dengan pangsa hampir sebesar 80 persen. Angka kepemilikan
kendaraan yang tinggi ini mengakibatkan permasalahan parkir yang cukup serius dengan
seringnya dilakukan pelanggaran parkir.

1.5 Tidak memadainya pelayanan angkutan umum

Angkutan umum yang tidak memadai tidak akan mendorong masyarakat untuk menggunakan
angkutan umum. Permasalahan pelayanan angkutan umum yang dihadapi pemerintah daerah
khususnya di kawasan perkotaan adalah:

Pada trayek-trayek tertentu jumlah bus yang melayani angkutan tidak mencukupi, khususnya
pada saat permintaan puncak, tapi pada trayek lainnya terkadang sangat melebihi kebutuhan
sehingga untuk mempertahankan operasi operator menterlantarkan kualitas pelayanan
Ukuran kendaraan tidak sesuai dengan permintaan yang ada, misal angkutan pada koridor
utama dengan permintaan yang tinggi dilayani dengan angkutan umum ukuran kecil/angkot
yang kapasitas angkutnya hanya sekitar 10 orang

1.6 Kualitas angkutan yang sangat tidak memadai

1.6.1 Jadwal yang tidak teratur

Fasilitas perhentian yang tidak memadai, atap bocor, tidak dilengkapi dengan informasi
jaringan angkutan umum yang melewati perhentian tersebut, atau tidak dilengkapi dengan
jadwal

1.6.2 Pelanggaran ketentuan lalu lintas

Pelanggaran ketentuan lalu lintas yang dilakukan masyarakat kian tambah memprihatikan
dari tahun ke tahun yang pada gilirannya akan mengakibatkan peningkatan kecelakaan lalu
lintas dengan korban meninggal ataupun luka-luka yang tidak sedikit. Disamping itu ketidak
tertiban juga akan mengganggu kelancaran lalu lintas yang akan menurukan kecepatan
perjalanan. Untuk meningkatkan ketertiban masyarakat perlu dipelajari dan dipetakan
kembali profil pelanggaran yang dilakukan masyarakat termasuk juga pelanggaran yang
dilakukan oleh petugas. Pengamatan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat:

Tingginya pelanggaran terhadap batas kecepatan yang seolah-olah tidak ada batasan
kecepatan yang diberlakukan hal ini terutama menjadi masalah pada jalan yang lalu lintas
sedang sepi

Tingginya pelanggaran pada persimpangan yang dikendalikan lampu lalu lintas khususnya
didaerah pingiran kota. Pelanggaran terutama tinggi dilakukan oleh pengendara sepeda
motor, pengemudi angkutan umum khususnya angkot. Pelanggaran lain yang juga terjadi
bahwa pengemudi tetap masuk persimpangan pada saat lampu sudah berubah menjadi merah
dan kadang bila lalu lintas didepannya macet pengemudi akan menghambat lalu lintas yang
mendapatkan lampu hijau dan akhirnya persimpangan akan terkunci.

Tidak berjalannya aturan penggunaan persimpangan perioritas atau bundaran lalu lintas,
pelanggaran ini pada gilirannya mengakibatkan persimpangan terkunci. Memang pengertian
masyarakat tentang hak menggunakan persimpangan masih sangat rendah terutama pada
persimpangan yang dilengkapi dengan rambu beri kesempatan ataupun rambu stop.
Pelanggaran jalur yang dilakukan oleh pengguna jalan dengan berjalan menggunakan jalur
lawan pada jalan-jalan yang dipisah dengan median ataupun jalan satu arah. Pelanggaran ini
terutama dilakukan oleh pengguna sepeda motor.

Pelanggaran terhadap penggunaan jalan, khususnya dijalur khusus bus yang lebih dikenal
sebagai Busway.

Pelanggaran tertib penggunaan perangkat keselamatan seperti helm dan sabuk keselamatan
yang cenderung masih tinggi terutama di kawasan pinggiran kota.

2. Kecelakaan lalu lintas

Angka kecelakaan di Indonesia cenderung cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara-
negara lain di Asean. Berbagai langkah perlu dilakukan untuk bisa mengendalikan angka
kecelakaan tersebut. Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan adalah:

2.1 Jaringan pelayanan yang tidak memadai

Integrasi pelayanan yang menyangkat integrasi phisik/tempat perpindahan, jadwal dan


tiketing yang belum optimal

3. Subsidi angkutan umum tidak dikelola dengan baik

3.1 Faktor manusia

Faktor manusia merupakan penyebab kecelakaan yang paling besar bisa mencapai 85 persen
dari seluruh kejadian kecelakaan. Hampir seluruh kejadian kecelakaan didahului dengan
pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundangan tentang lalu lintas dan angkutan.
Faktor manusia berupa keahlian yang tidak memadai dalam menjalankan kendaraan,
kesalahan menginterprestasikan aturan, pengemudi sedang mabuk atau sakit, atau terkadang
sengaja melakukan pelanggaran karena ingin lebih cepat sampai di tujuan dengan
mengemudikan kendaraan lebih cepat dari ketentuan atau sengaja melanggar lampu lalu
lintas dan berbagai penyebab lainnya.

3.2 Faktor Kendaraan

Faktor kendaraan diantaranya yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak
berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan
patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan
faktor kendaraan sangat terkait dengan technologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan
terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan
diperlukan, disamping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor
secara reguler.

3.3 Faktor jalan

Faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di
daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan,
tidak memadainya bahu jalan fasilitas pejalan kaki yang sering diabaikan atau tidak tersedia.
Jalan yang rusak/berlobang sangat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai
sepeda motor.

3.4 Faktor cuaca

Faktor Cuaca seperti hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak
pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh
karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan
mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu
jarak pandang, terutama di daerah pegunungan.

Jumlah kecelaan lalu lintas yang tercatat di Kepolisian Republik Indonesia ditunjukkan dalam
gambar berikut:

4. Manajemen lalu lintas yang tidak optimal

Dengan segala permasalahan kemacetan lalu lintas dan angka kecelakaan yang tinggi menjadi
lebih parah kalau tidak didukung dengan manajemen lalu lintas untuk mengurangi angka
kecelakaan, mengoptimalkan penggunaan jaringan jalan, meningkatkan efisiensi sistem
transportasi.

5. Pencemaran linkungan

Salah satu dampak negatip sebagai akibat performansi lalu lintas yang jelek, bahan bakar
yang buruk serta tehnologi kendaraan yang sudah ketinggalan akan mengakibatkan
pecemaran lingkungan. Dampak pencemaran lingkungan ini berupa:

Emisi gas buang yang berupa gas dan partikel beracun seperti, gas CO, HC, NOx, Benzen dan
berbagai gas lainnya serta berbagai partikel seperti senyawa karbon lepas, timbal dan
berbagai partikel lainnya.

Emisi gas rumah kaca, yang saat ini dianggap sebagai pemicu terjadinya perubahan iklim.
Peran Gas rumah kaca dari sektor transportasi berada pada kisaran 15 sampai 20 persen yang
merupakan angka yang tidak kecil.

Penetapan Pemecahan Permasalahan Lalu Lintas:

Penyusunan rencana dan program pelaksanaan perwujudannya. Maksud rencana dan program
perwujudan dalam ketentuan ini antara lain meliputi: penentuan tingkat pelayanan yang
diinginkan pada setiap ruas jalan dan persimpangan; usulan aturan-aturan lalu lintas yang aka
ditetapkan pada setiap ruas jalan dan persimpangan; usulan pengadaan dan pemasangan serta
pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan , alat pemberi isyarat lalu lintas, dan alat
pengendali dan pengaman pemakai jalan; usulan kegiatan atau tindakan baik untuk keperluan
penyusunan usulan maupun penyuluhan kepada masyarakat.

Di dalam memecahkan permasalahan lalu lintas, para pakar lalu lintas perlu mengenali
permasalahan yang terjadi dengan mengumpulkan informasi geometrik jalan, bersarnya arus
lalu lintas, kecepatan lalu lintas, hambatan/tundanaan lalu lintas, data kecelakaan lalu lintas.
Seluruh data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis untuk kemudian direncanakan usulan
perbaikan geometrik, pembangunan fasilitas pengaman jalan, pemasangan rambu lalu lintas,
marka jalan atau melakukan pembatasan pergerakan gerakan lalu lintas tertentu.
Perbaikan geometrik dapat berupa pelebaran jalan,, perubahan radius tikung, pembangunan
pulau-pulau lalu lintas, mengurangi tanjakan, membangun jalur rangkak pada tanjakan yang
tinggi, memberikan prioritas bagi angkutan umum.

Kegiatan Pengaturan Lalu Lintas meliputi:

Kegiatan penetapan kebijaksanaan lalu lintas pada jaringan atau ruas-ruas jalan tertentu,
termasuk dalam pengertian penetapan kebijaksanaan lalu lintas dalam ketentuan ini antara
lain penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan maksimum dan/atau minimum,
larangan penggunaan jalan, larangan dan/atau perintah bagi pemakai jalan.

Kegiatan Pengawasan Lalu Lintas meliputi:

Pemantauan dan penilaian terhadap pelaksanaan kebijakan lalu lintas. Kegiatan pemantauan
dan penilaian dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas dari kebijaksanaan-kebijaksanaan
tersebut untuk mendukung pencapaian tingkat pelayanan yang telah ditentukan. Termasuk
dalam kegiatan pemantauan antara lain meliputi inventarisasi mengenai kebijaksanaan-
kebijaksanaan lalu lintas yang berlaku pada ruas jalan, jumlah pelanggaran dan tindakan-
tindakan koreksi yang telah dilakukan atas pelanggaran tersebut. Termasuk dalam kegiatan
penilaian antara lain meliputi penentuan kriteria penilaian, analisis tingkat pelayanan, analisis
pelanggaran dan usulan tindakan perbaikan.

Tindakan korektif terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas. Tindakan korektif


dimaksudkan untuk menjamin tercapainya sasaran tingkat pelayanan yang telah ditentukan.
Termasuk dalam tindakan korektif adalah peninjauan ulang terhadap kebijaksanaan apabila di
dalam pelaksanaannya menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.

Kegiatan Pengendalian Lalu Lintas meliputi:

Pemberian arahan dan petunjuk dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas. Pemberian
arahan dan petunjuk dalam ketentuan ini berupa penetapan atau pemberian pedoman dan tata
cara untuk keperluan pelaksanaan manajemen lalu lintas, dengan maksud agar diperoleh
keseragaman dalam pelaksanaannya serta dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya untuk
menjamin tercapainya tingkat pelayanan yang telah ditetapkan.

Pemberian bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban
masyarakat dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas.

RANCANGAN DASAR MANAJEMEN LALULINTAS :

Dasar Manajemen Lalu Lintas : Rambu dan Marka terpasang dengan baik
Tetapkan dan proteksi hirarki jalan pada kawasan Manajemen Lalu Lintas yang di
kembangkan.
Lakukan manajemen ruang jalan ( street management ) sebagai langkah awal
manajemen lalu lintas. Pisahkan arus lalu lintas menerus dan lokal.
Lakukan prioritas terhadap angkutan umum.
Kaitkan Manajemen Lalu Lintas dengan UTC ( Urban Traffic Control )
Perkenalkan pembatasan lalu lintas ( demand manajemen )
Ingat : Pejalan kaki juga merupakan bagian dari manajemen lalu lintas. Sebelum
memberikan tempat untuk pergerakan memberikan tempat untuk pergerakan
kendaraam bermotor fasilitas pejalan kaki harus diberikan terlebih dahulu.

DASAR TEKNIK MANAJEMEN LALU LINTAS :

Rambu lalu lintas ( memperlihatkan aturan-aturan dan mengarahkan tujuan perjalanan


( directional sign )
Marka jalan dan pembatasan fisik ( untuk kanalisasi dan penetapan lajur-lajur
pergerakan lalu lintas.
Konsisten didalam rancangan geometric
Rasionalisasi simpang ( untuk mengurangi jumlah konflik lalu lintas )
Pengendalian parkir ( khususnya on-street parking ). Pembatasan secara fisik dan
dengan tarif yang tinggi merupakan bagian dari kekang lalu lintas ( traffic restraint )
Penetapan batas maksimum kecepatan kendaraan.
2.2 Peta Daerah Komersial jl.Pahlawan-jl.Perniagaan-jl.A.M Sangaji