Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lanjut usia adalah tahap lanjutan dari proses kehidupan seiring dengan
peningkatan umur seseorang, hal ini ditandai dengan perubahan sistem fisiologi,
psikologi, dan sosial. Perubahan pada pasien lanjut usia tersebut dapat
meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian.(1) Menurut
Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI tahun 2013 jumlah persentase lanjut usia
di Indonesia 7,56 % . Persentase penduduk lanjut usia di Aceh adalah 5,88 %.(2)
Seiring dengan peningkatan usia terjadi perubahan sistem fisiologi dan
kerentanan terhadap berbagai penyakit. Penyakit tersering yang terjadi pada
pasien lanjut usia di Indonesia adalah hipertensi.(2) Prevalensi hipertensi menurut
kelompok umur adalah 55 - 64 tahun (45,9 %), 65-74 tahun (57,6 %) dan diatas
(2)
75 tahun (63,8%). Berdasarkan penelitian sebelumnya di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Zainoel Abidin Kota Banda Aceh terdapat prevalensi pasien lanjut
usia penderita hipertensi adalah 87,50 % dan 55 % diantaranya mengalami
hipertensi tidak terkontrol.(3) Pasien lanjut usia juga berisiko mengalami penyakit
kejiwaan. Penyakit kejiwaan yang sering terjadi pada pasien lanjut usia adalah
depresi. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2016 prevalensi
gangguan depresi unipolar pada pasien lanjut usia yaitu sebesar 7 %.(4) Prevalensi
gangguan mental emosional pada pasien lanjut usia di Indonesia adalah 13 %.(5)
Perubahan fisiologis yang terjadi pada pasien lanjut usia menyebabkan
timbulnya berbagai penyakit komorbid. Penyakit komorbid adalah timbulnya
suatu penyakit yang berlangsung secara bersamaan. Hipertensi merupakan salah
satu penyakit yang dapat disertai dengan penyakit lainnya seperti gagal jantung,
gagal ginjal kronis, stroke, diabetes mellitus, dan dislipidemia.(6) Keadaan
multipatologi tersebut dapat memperburuk kondisi fisiologi, psikologi, dan sosial
pasien lanjut usia.(1)
Hipertensi dapat mempengaruhi kondisi psikologi pasien lanjut usia.
Penderita hipertensi yang tidak menggunakan mekanisme koping lebih berisiko
terhadap insiden penyakit kardiovaskular dan peningkatan kematian penyakit
2

jantung iskemik.(7) Penyakit kronis seperti hipertensi akan mempengaruhi


mekanisme koping seseorang yang akhirnya akan meningkatkan risiko terjadinya
gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.(8)
Gejala depresi seringkali muncul akibat penurunan rasa percaya diri
pasien terhadap kesembuhan penyakit yang dideritanya.(9) Depresi pada pasien
lanjut usia sulit diidentifikasi, sehingga sering terlambat untuk diterapi.(1) Depresi
dapat mempengaruhi morbiditas dan prognosis pasien lanjut usia yang menderita
hipertensi. Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan bahwa depresi
berhubungan dengan vasokontriksi arteri sehingga lebih berisiko terjadinya
penyakit kardiovaskular dan gangguan kognitif.(10) Depresi dapat memperburuk
pengobatan pasien hipertensi, sehingga tekanan darah menjadi tidak terkontrol.
Seseorang yang mengalami depresi lebih berisiko 2 sampai 4 kali lipat terhadap
peningkatan penyakit kardiovaskular.(11)
Hipertensi juga dapat mempengaruhi kondisi sosial pasien lanjut usia.
Obat yang harus dikonsumsi, retriksi diet yang harus dijalani, peningkatan beban
finansial, dan perasaan takut akan komplikasi yang dapat terjadi akan
meningkatkan seseorang terhadap kejadian depresi. Oleh karena itu, dukungan
keluarga sangat berpengaruh terhadap kepatuhan dalam menjalankan diet
hipertensi.(12)
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan, selain mengacu bahwa penyakit
hipertensi sebagai insidensi tertinggi pada lanjut usia dan sulitnya
mengidentifikasi depresi pada pasien lanjut usia sehingga sering terlambat untuk
diterapi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
Hubungan antara gejala depresi dengan tekanan darah pada penderita hipertensi
lanjut usia di RSUD Zainoel Abidin Kota Banda Aceh.
3

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam


penelitian ini adalah
1. Apakah terdapat hubungan antara gejala depresi dengan tekanan darah
pada penderita hipertensi lanjut usia ?
2. Apakah terdapat hubungan antara penyakit penyerta dengan tekanan darah
pada penderita hipertensi lanjut usia ?
3. Apakah terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan tekanan
darah pada penderita hipertensi lanjut usia ?
4. Apakah terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan tekanan
darah pada penderita hipertensi lanjut usia ?
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui hubungan antara gejala depresi dengan tekanan darah
pada penderita hipertensi lanjut usia di RSUD dr. Zainoel Abidin Kota Banda
Aceh.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan antara penyakit penyerta dengan tekanan
darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
2. Untuk mengetahui hubungan antara mekanisme koping dengan tekanan
darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
3. Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tekanan
darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Ilmiah


1. Memberikan informasi mengenai hubungan antara gejala depresi dengan
tekanan darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dan pembanding untuk
penelitian selanjutnya.
4

1.4.2 Manfaat praktis


Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyakit depresi.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat
khususnya pasien lansia untuk mengurangi kejadian depresi, mengontrol tekanan
darah secara rutin dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
1.5 Hipotesis

1.5.1 Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara gejala depresi dengan tekanan darah pada
penderita hipertensi lanjut usia di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
dr. Zainoel Abidin.
2. Terdapat hubungan antara penyakit penyerta dengan tekanan darah pada
penderita hipertensi lanjut usia
3. Terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan tekanan darah pada
penderita hipertensi lanjut usia.
4. Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan tekanan darah pada
penderita hipertensi lanjut usia.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lansia

2.1.1 Definisi
Lanjut usia adalah tahap lanjutan dari proses kehidupan seiring dengan
peningkatan umur seseorang, hal ini ditandai dengan penurunan sistem fisiologi
dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian.(1)
Penyakit pasien lanjut usia cenderung bersifat multiple dan tidak sama dengan
penyakit kesehatan populasi golongan usia lainnya.
2.1.2 Batasan Usia Lansia
Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi
empat kriteria berikut(13) :
1. Usia pertengahan (middle age) antara 45 50 tahun
2. Usia lanjut (elderly) antara 60 74 tahun
3. Usia lanjut (old) antara 75 90 tahun
4. Usia sangat tua ( very old ) diatas 90 tahun
Batasan umur lanjut usia di Indonesia menurut Undang - Undang
Republik Indonesia No 13 tahun 1998 adalah seseorang yang telah mencapai usia
60 tahun keatas.(5)
2.1.3 Perubahan pada Lansia
Ada 3 perubahan yang terjadi pada pasien lanjut usia, diantaranya adalah
1. Perubahan fisiologi pada Lanjut Usia
Perubahan fisiologi yang terjadi pada lanjut usia meliputi perubahan
sel, sistem kardiovaskular, sistem respirasi, sistem urogenital, sistem
pencernaan, sistem imun, sistem saraf, sistem panca indera, sistem
endokrin, sistem muskuloskeletal dan sistem kulit. Perubahan fisiologi
tersebut menyebabkan pasien lanjut usia cenderung mengalami penyakit
multipatologi.(1, 14)
Hipertensi merupakan penyakit tersering yang diderita oleh pasien
lanjut usia. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan morfologi pada
sistem kardiovaskular. Tekanan darah pada pasien lanjut usia cenderung
6

meningkat karena adanya peningkatan tekanan sistolik sementara tekanan


diastolik tidak berubah,berkurangnya vasodilatasi yang dimediasi beta
adrenergik, vasokontriksi yang dimediasi alfa adrenergik tidak berubah,
dan terganggunya perfusi autoregulasi ke otak.(1, 14)
Selain penyakit hipertensi, pasien lanjut usia juga lebih berisiko
mengalami penyakit jantung koroner, aritmia jantung dan kardiomiopati.
Hal ini disebabkan terjadinya perubahan frekuensi jantung maksimum,
menurunnya curah jantung maksimal, relaksasi ventrikel kiri bertambah
lama, meningkatnya penebalan lapisan subendotel dengan jaringan ikat,
peningkatan hipertrofi atrium kiri dan peningkatan resistensi vaskular
perifer.(1, 14)
Pasien lanjut usia juga berisiko mengalami penyakit gagal ginjal
karena perubahan morfologi pada ginjal diantaranya adalah adanya
penurunan bersihan kreatinin, menurunnya LFG, menurunnya eksresi
natrium dan kalium, dan meningkatnya pelepasan ADH sebagai respon
terhadap dehidrasi.(1, 14)
Pasien lanjut usia juga berisiko mengalami gangguan kognitif.
Gangguan kognitif pada pasien lanjut usia terjadi karena adanya
penurunan fungsi sel otak yang mengakibatkan penurunan daya
ingatjangka pendek, melambatkan proses informasi, kesulitan
berbahasa,kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan
aktivitas bertujuan, dan gangguan dalam menyusun rencana, mengatur
sesuatu,mengurutkan daya abstraksi yang menyebabkan kesulitan
dalammelakukan aktivitas sehari-hari. Depresi pada pasien lanjut usia
terjadi karena terjadi perubahan pada neurotransmiter dopamin dan
serotonin.(1, 14)
2. Perubahan Psikologi
Perubahan psikologi disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat
berpengaruh terhadap psikis. Perubahan psikologi tersebut diantaranya
adalah terjadi penurunan fungsi kognitif , daya reaksi yang lambat dalam
kesigapan dan kecepatan bertindak , dan mengalami ketidakmampuan
untuk melakukan mekanisme pertahanan diri terhadap situasi yang
7

dihadapi baik dari dalam maupun dari luar diri.(14) Upaya untuk
menyelesaikan masalah dan mengurangi tingkat stres dibutuhkan koping
individu yang baik.(15)
Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta
respon terhadap situasi yang mengancam. Ada dua macam mekanisme
koping yaitu adaptif dan maladaptif. Mekanisme koping adaptif adalah
mekanisme yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan
pencapaian tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang
dan aktivitas konstruktif. Mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme
yang menghambat fungsi integrasi, menurunkan otonomi dan cenderung
menguasai lingkungan. Kategorinya adalah melakukantindakan agresif
terhadap sasaran atau objek dapat berupa benda, barang, orang, atau
bahkan terhadap dirinya sendiri.(15)
3. Perubahan Sosial
Perubahan sosial pada lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan, ekonomi, dukungan keluarga dan pemahaman terhadap diri
sendiri.(14) Dukungan keluarga sangat penting untuk mengurangi tingkat
stres yang dialami oleh lanjut usia akibat perubahan sosial.(12)
2.2 Depresi pada Lansia

2.2.1 Definisi
Depresi merupakan gangguan mood dan dikenal sebagai gangguan afektif.
Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan
minat, merasa bersalah, sulit berkonsenrasi, mengalami hilangnya nafsu makan,
dan berpikir mati atau bunuh diri.(16) Gangguan mood biasanya bersifat menetap
atau bertahan lama, pasien yang mengalami gangguan depresi gejalanya telah
terjadi dalam periode tertentu dan sekurang-kurangnya sudah menetap selama
2 minggu.(17)
2.2.2 Epidemiologi
Prevalensi terbesar gangguan psikiatri pada pasien lanjut usia adalah
depresi. Prevalensi pasien lanjut usia diruang perawatan lebih tinggi daripada di
8

masyarakat. Lanjut Usia di perawatan jangka panjang memiliki tingkat depresi


yang lebih tinggi daripada di masyarakat.(1) Kondisi lingkungan juga berkaitan
dengan tingkat depresi, orang yang tinggal di kota dua kali lebih tinggi risiko
depresi dibanding di desa, orang yang tinggal sendiri, orang yang bercerai, kondisi
ekonomi miskin, tidak punya tempat tinggal, dan tidak bekerja selama enam bulan
atau lebih berisiko tiga kali lebih sering terkena depresi dibanding populasi
umum.(18)
2.2.3 Etiologi dan Patogenesis
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya depresi pada
pasien lanjut usia, diantaranya adalah
1. Faktor Organobiologik
Perubahan pada sistem saraf pusat seperti meningkatnya aktivitas
monoamin oksidase dan berkurangnya neurotransmitter serotonin,
norepinefrin, dan dopamin dapat berperan sebagai penyebab gangguan
depresi pada pasien lanjut usia. Alasan utama serotonin dan norepinefrin
menjadi penyebab terjadinya gangguan depresi karena pada pemberian
obatyang menghambat sekresi norepinefrin dan serotonin seperti
resepin,seringkali menyebabkan depresi. Kelainan atau disregulasi pada
metabolit amin biogenik seperti asam 5-Hydroxyindoleatic (5-HIAA),
Asam Homovanilic (HVA), dan 3 Methoxy-4-Hydroxyphenyl-Glycol
(MHPG) juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan depresi.(16, 19)
2. Fakor Fisis
Pasien lanjut usia cenderung memiliki berbagai penyakit. Kondisi
multipatologi dengan berbagai penyakit kronik dan polifarmasi kian
meningkatkan kejadian depresi pada lanjut usia. Obat-obat yang dapat
menyebabkan gangguan depresi diantaranya adalah metildopa,
benzodiazepin, propranolol, reserpin, steroid, obat anti-parkinson,
cimetidin, klonidin, hidralazin, estrogen, progesteron, tamoxifen,
vinblastin, vinkristin, dan dextropropoxypen.(1)
3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan yang dapat membuat seseorang merasa
tertekan (stres) dapat mencetuskan terjadinya gangguan depresi. Kondisi
9

tersebut diantaranya adalah orang yang tinggal sendiri, orang yang


bercerai, kondisi ekonomi miskin, tidak punya tempat tinggal, dan tidak
bekerja selama enam bulan atau lebih.(16, 18)
2.2.4 Gejala Klinis
Gejala depresi menurut PPDGJ-III terbagi menjadi dua diantaranya
adalah(20)
1. Gejala utama
Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah,
dan menurunnya aktifitas.
2. Gejala lainnya
Konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaaan
diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna,
pandangan masa depan yang suram dan pesimitis, gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan
berkurang.
Gejala depresi menurut DSM-V diantaranya adalah(17)
1. Terdapat lima atau lebih gejala yang ada selama periode 2 minggu dan
terlihat adanya perubahan dari fungsi sebelumnya paling sedikit satu gejala
lainnya, (1) mood depresif, (2) hilangnya minat dan rasa nyaman.
Catatan:Jangan memasukkan gejala yang jelas-jelas karena suatu kondisi
medis umum, waham, atau halusinasi yang tidak sejalan dengan mood.
a. Mood depresi, suasana ini hampir sepanjang hari.
b. Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas dalam semua atau
hampir semua aktivitas sepanjang hari, hampir setiap hari
c. Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang melakukan
diet atau penambahan berat badan (misalnya perubahan berat badan lebih
dari 50% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan nafsu makan
hampir setiap hari.
d. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
e. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (teramati oleh
orang lain, tidak semata-mata perasaan subjektif dari kegelisahan atau
menjadi lamban).
10

f. Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari.


g. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau
tidak sesuai (yang mungkin bersifat waham) hampir setiap hari (tidak
semata-mata mencela diri sendiri atau perasaan bersalah karena sakit).
h. Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian,
atau tidak dapat mengambil keputusan, hampir setiap hari (baik oleh
keterangan subkjetif maupun yang teramati oleh orang lain).
i. Pikiran tentang kematian yang berulang (bukan hanya rasa takut akan
kematian), ide bunuh diri yang berulang tanpa suatu rencana spesifik, atau
suatu usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
2. Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis
atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
3. Gejala-gejala bukan karena efek fisiologi langsung dari suatu zat
(misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi
medis umum.
2.2.5 Diagnosis
Depresi pada pasien lanjut usia lebih sulit dideteksi karena penyakit fisis
(1)
yang diderita sering mengacaukan gambaran depresi. Gejala depresi pada
pasien lanjut usia berbeda dengan gejala dari yang muda. Diagnosis depresi yang
disertai dengan penyakit fisis tidak mudah karena tampilan klinisnya sering tidak
sesuai dengan DSM-V maupun PPDGJ-III.(1) Skrining gejala dan tanda awal
depresi pada lansia dapat menggunakan instrumen Geriatric Depression Scale
(GDS) .(21) Geriatric Depression Scale merupakan suatu instrumen untuk
skrining gejala dari depresi, namun bukanlah untuk penegakan diagnosa gangguan
depresi.
Diagnosis depresi berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa edisi ke-III (PPDGJ-III), depresi menjadi tiga tingkatan yakni :
1. Episode Depresi Ringan
Terdapat minimal 2 dari 3 gejala tambahan yang sudah
berlangssung sekurang-kurangnya 2 minggu, tidak boleh ada gejala yang
berat diantaranya dan hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan
kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.
11

2. Episode Depresi Sedang


Terdapat minimal 2 dari 3 gejala utama ditambah sekurang-
kurangnya 3 (sebaiknya 4) dari gejala lainnya, lamanya seluruh episode
berlangsung minimum sekitar 2 minggu, dan menghadapi kesulitan nyata
untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan rumah, dan urusan rumah
tangga.
3. Episode Depresi Berat
a. Tanpa gejala psikotik
Semua 3 gejala utama depresi harus ada, ditambah sekurang-
kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus
berintensitas berat dan episode biasanya harus berlangsung sekurang-
kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat
cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
waktukurang dari 2 minggu, serta sangat tidak mungkin pasien akan
mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, atau urusan rumah tangga.
b. Dengan gejala psikotik
Episode depresi berat sesuai dengan depresi berat pada pasien
tanpa gejala psikotik dan disertai waham, halusinasi, atau stupor depresi.
2.2.6 Tata Laksana Depresi
Penatalaksanaan pada pasien gangguan mood harus diarahkan ke beberapa
tujuan, diantaranya adalah keselamatan pasien harus terjamin, kelengkapan
diagnostik pasien harus dilaksanakan, rencana terapi bukan hanya untuk gejala
tetapi kesehatan pasien kedepan juga diperhatikan, terapi harus dapat menurunkan
stresor berat dalam kehidupan pasien. Terapi depresi dapat dilakukan dengan
psikoterapi dan farmakoterapi.(16)
Terapi psikoterapi diberikan untuk membantu pasien dalam
mengembangkan strategi coping yang lebih baik. Psikoterapi merupakan terapi
yang bermakna untuk depresi. Pemberian psikoterapi dan obat lebih efektif
daripada pemberian obat saja. Pasien juga dapat bertahan lebih lama
menggunakan obat bila ia dalam proses psikoterapi.(16)
12

Secara umum indikasi pemberian obat antidepresi adalah untuk gangguan


depresi sedang sampai berat, episode depresi berulang, dan depresi dengan
gambaran melankolia atau psikotik. Karena manifestasi klinis depresi pada usia
lanjut seringkali tidak khas,seringkali pemberian obat antidepresi pada pasien
lanjut usia menjadi pertimbangan klinis. Pemberian obat antidepresi pada lanjut
usia lebih merujuk pada profil efek samping obat.(1)
Obat-obat antidepresan terdiri dari Monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs), Tricyclics, tetracyclics, Selective Serotonin Reuptake Inhibitors(SSRI),
Dopamine Norepinephrine Reuptake Inhibitor, Serotonin Norepinephrine
Reuptake Inhibitor (SNRI), Serotonin modulators, dan Norepinephrine-serotonin
modulator.(22)
Golongan obat MAOIs berfungsi untuk menghambat proses deaminasi
oksidatif katekolamin di mitokondria. Akibat proses tersebut terjadi peningkatan
kadar epinefrin, norepinefrin, dan 5-HT di otak. Penghambat enzim ini sifatnya
ireversibel. Penghambat ini mencapai puncaknya dalam beberapa hari, tetapi efek
antidepresannya baru terlihat setelah 2-3 minggu dan pemulihan metabolisme
katekolamin baru terjadi setelah obat dihentikan 1-2 minggu. Obat MAOIs
berdasarkan sistem kerjanya terdiri dari Irreversible, nonselective inhibitors
(Phenelzin,Tranylcypromin,dan Isocarboxazid), Irreversible, MAO B selective
inhibitor (Selegiline transdermal), dan Reversible MAO A selective inhibitor
(Moclobemid).(23)
Golongan obat SSRI berfungsi untuk menghambat ambilan serotonin.
Golongan obat ini kurang memperlihatkan pengaruh terhadap sistem kolinergik,
adrenergik, atau histaminergik, sehingga efek sampingnya lebih ringan. Masa
kerja obatnya panjang antara 15 24 jam. Interaksi farmakodinamik yang
berbahaya akan terjadi bila SSRI dikombinasikan dengan MAOIs karena dapat
terjadi peningkatan efek serotonin secara berlebihan. Obat yang termasuk
golongan ini adalah Citalopram, Escitalopram, Fluoxetin, dan Sertralin.(23)
Golongan obat trisiklik berfungsi untuk menghambat ambilan kembali
neurotransmiter di otak. Kerja obat trisiklik berbeda-beda. Ada yang sangat
sensitif terhadap norepinefrin, serotonin, atau dopamin. Obat trisiklik yang
13

mempunyai dua gugus metil dinamakan amin tersier, sedangkan produk yang
terdiri dari satu gugus metil dinamakan amin sekunder. (23)
Golongan obat trisiklik amin sekunder bekerja menghambat ambilan
kembali norepinefrin, sedangkan amin tersier menghambat ambilan kembali
serotonin pada sinaps neuron. Gejala depresi baru hilang 2 3 minggu setelah
pemberian obat ini. Obat yang termasuk golongan trisiklik adalah Amitriptylin,
Doxepin, Imipramin, Desipramin, Nortriptylin, dan Trimipramine.(23)
2.3 Hipertensi pada Lanjut Usia

2.3.1 Definisi
Definisi hipertensi tidak berubah sesuai dengan umur. Hipertensi adalah
tekanan darah sistolik (TDS) > 139 mmHg dan/ atau, tekanan darah diastolik
(TDD) > 89 mmHg, diukur berdasarkan rerata dua atau tiga kali pengukuran yang
cermat sewaktu duduk dalam dua kali kunjungan.(24) Semakin meningkatnya usia
seseorang makin kompleks penyakit yang diderita, termasuk penyakit hipertensi.
Hipertensi pada lanjut usia pada umumnya adalah hipertensi sistolik terisolasi dan
pada umumnya merupakan hipertensi primer.(1)
2.3.2 Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan etiologinya, hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua
yaitu :
1. Hipertensi primer atau hipertensi essensial. Hipertensi ini tidak diketahui
penyebabnya (idiopatik) dan merupakan 95% dari kasus hipertensi.
2. Hipertensi sekunder. Hipertensi ini hanya sebagian kecil yang diketahui
penyebabnya dan sekitar 5 % dari kasus hipertensi. Penyebab hipertensi
sekunder adalah adanya gangguan pada ginjal dan gangguan hormon.(24)
Saat ini ada dua klasifikasi yang banyak dianut untuk menentukan derajat
hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah. Klasifikasi hipertensi dapat
dilihat berdasarkan pedoman The Joint National Commision (JNC VII) dari
Amerika Serikat, dan yang dikeluarkan oleh The European Society of
Hypertension sama dengan yang dikeluarkan oleh The International Society of
Hypertension.(24)
14

Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi menurut JNC VIII(25)


Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik
Normal <120 <80

Prahipertensi 130 139 80 89

Tahap 1 140 159 90 99

Tahap 2 >160 >100

Tabel 2.2 Klasifikasi hipertensi menurut ESH/ISH (26)

Kategori Sistolik (mmHg) dan/ atau Diastolik (mmHg)


Optimal <120 Dan <80
Normal 120 129 dan/ atau 80 84
Normal Tinggi 130 139 dan/ atau 85 89
Tingkat 1 140 159 dan/ atau 90 99
Tingkat 2 160 179 dan/ atau 100 -109
Tingkat 3 >180 dan/ atau >110
Hipertensi Sistolik >140 Dan <90
Terisolasi

2.3.3 Patofisiologi Hipertensi pada Lanjut Usia


TDS (tekanan darah sistolik) dan TDD (tekanan darah diastolik)
meningkat sesuai dengan peningkatan usia, akan tetapi peningkatan TDD hanya
sampai sekitar usia 55 tahun, setelah itu TDD akan menurun oleh karena
terjadinya proses kekakuan arteri akibat atherosklerosis. Peningkatan TDS
menjadi penyebab terjadi HST pada pasien lanjut usia.(1)
HST didefinisikan sebagai TDS 140 mmHg dengan TDD < 90 mmHg.
Keadaan ini diakibatkan oleh kehilangan elastisitas arteri karena proses menua.
Kekakuan aorta menyebabkan resistensi perifer pembuluh darah sehingga TDS
meningkat dan pengurangan volume aorta menyebabkan penurunan TDD. Proses
atheroskelorosis juga menyebabkan terjadinya penurunan debit aliran darah. Pada
lanjut usia terjadi perubahan keseimbangan dari alfa adrenergik dan beta
adrenergik. Berkurangnya beta adrenergik menyebabkan penurunan vasodilatasi
pembuluh darah, sementara alfa adrenergik tidak berubah sehingga menyebabkan
vasokontriksi pembuluh darah. Penurunan fungsi ginjal juga menyebabkan risiko
15

peningkatan tekanan darah pada lanjut usia. Penurunan kadar renin dan
peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium juga berperan dalam kejadian
hipertensi. (1)
2.3.4 Tata Laksana
Pengobatan hipertensi pada pasien lanjut usia dapat dilakukan dengan cara
non-farmakologis dan farmakologis.(24)
1. Pengobatan non-farmakologis
Tabel 2.3 Modifikasi gaya hidup untuk mengendalikan tekanan darah (24)
Sasaran Penurunan
Modifikasi Rekomendasi
Tekanan Darah Sistolik
Menurunkan Pelihara berat badan normal (BMI 5 20 mmHg untuk setiap
berat badan 18.5 - 24.9) penurunan 10 kgBB

Konsumsi makanan kaya buah,


Menjalankan
sayur, susu rendah lemak dan rendah 8 14 mmHg
menu DASH
lemak jenuh
Mengurangi
Kurangi natrium sampai tidak lebih
asupan garam/ 2 8 mmHg
2.4 g/hari atau NaCl 6 g/hari
sodium
Berolahraga aerobik teratur seperti
Meningkatkan
berjalan kaki (min. 30 menit/ hari 3 - 9 mmHg
aktifitas fisik
selam 4 -5 hari seminggu

2. Pengobatan farmakologis
a. Diuretik
Obat ini bertujuan untuk menghambat pompa Na/K di tubulus
distal. Golongan obat ini efektif sebagai obat lini pertama dan bisa
dikombinasi dengan CCB, BB, dan ARBs. Obat yang digunakan terutama
golongan tiazid. Contoh obat diuretik adalah hidroklorotiazid 12.5 25
mg/hari, klortalidon 12.5 50 mg/hari.(24)
b. Penghambat Sistem Renin Angiotensin
Obat ACE-I dan ARBs bertujuan untuk menghambat vasokontriksi
pembuluh darah dengan cara menghambat sintesis angiotensin II, sehingga
menyebabkan vasodilatasi yang berimbang. Obat ARBs dan ACE-I
sebaiknya tidak dikombinasikan. Contoh obat ACE-I adalah enalapril 2.5
40 mg/hari, Lisinopril 5-40 mg/hari, enalapril 2.5 40 mg/hari, losartan
25 100 mg/hari, valsartan 80 320 mg/hari, olmesartan 40 80 mg/hari,
dan telmisartan 40 80 mg/hari.(24)
16

c. Beta blockers
Obat ini bertujuan untuk menghambat secara kompetitif pengikatan
katekolamin ke reseptor adrenergik. Contoh obat ini adalah atenolol 25
100 mg/hari, metoprolol 25 100 mg/hari, bisoprolol 5 10 mg/hari, dan
calvedilol 6.25 25 mg/hari.(24)
d. Antagonis kalsium (CCB)
Obat ini bertujuan untuk mengurangi influks kalsium sel-sel otot
polos di pembuluh darah. Contoh obat ini adalah tablet amlodipine 2.5
10 mg, Felodipine 2.5 10 mg, diltiazem 30 mg, verapamil 80 160
mg.(24)
e. Agonis alfa 2
Mekanisme kerjanya adalah sebgai neurotransmitter palsu yang
menurunkan outflow simpatis sehingga dapat menurunkan tonus simpatis.
Contoh obat ini adalah klonidin 0.1 0.6 mg.(24)
f. Vasodilator
Mekanisme kerja obat ini adalah untuk vasodilatasi langsung
terhadap arteriol melalui peningkatan cAMP intraseluler. Contoh obat ini
adalah hidralazine 20 400 mg.(24)
2.4.6 Tujuan dan Sasaran Pengobatan Hipertensi pada Lanjut Usia
Tujuan pengendalian hipertensi pada pasien lanjut usia adalah untuk
mencegah kerusakan terhadap beberapa organ dan menurunkan mortalitas.
Penderita hipertensi diobati secara keseluruhan, tetapi ada tekanan darah yang
harus dicapai berdasarkan kondisi yang ada pada penderita.(27)
Tabel 2.4 Kondisi dan Sasaran Tekanan darah yang dianjurkan(25)
Kondisi Sasaran TDS dan TDD mmHg

Hipertensi sampai usia 79 tahun < 140/90 mmHg

Hipertensi lebih dari usia 80 tahun dan lansia < 150/90 mmHg
yang mengalami resisten terhadap pengobatan
hipertensi
Hipertensi dan diabetes < 140/90 mmHg

Hipertensi dan penyakit gagal ginjal < 140/90 mmHg


17

2.4 Hubungan Gejala Depresi terhadap Tekanan Darah pada Lansia yang
menderita Hipertensi

Penyakit lansia cenderung bersifat multiple dan tidak sama dengan


penyakit dan kesehatan populasi golongan usia lainnya. Hal ini terjadi karena
adanya penurunan fisologi, sehingga pasien lanjut usia rentan terhadap berbagai
penyakit. Keadaan multipatologi pada pasien lanjut usia berpengaruh terhadap
kondisi fisis, kondisi psikologi,dan polifarmasi.(1)
Penyakit tersering yang terjadi pada pasien lanjut usia adalah hipertensi.(2)
Hipertensi termasuk penyakit kronis dan sering timbul bersamaan dengan
penyakit lain. Hipertensi pada pasien lanjut usia terjadi karena peningkatan
tekanan darah sistolik akibat proses atherosklerosis, sehingga dinding pembuluh
darah pada lansia menjadi kaku dan mengalami vasokontriksi.(1)
Hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan dengan
pengobatan seumur hidup. Pengobatan hipertensi bertujuan untuk mencegah
kerusakan terhadap beberapa organ dan menurunkan mortalitas.(26) Oleh karena
itu, lamanya pengobatan hipertensi pada pasien lanjut usia akan mempengaruhi
kondisi fisis dan psikologi. Konsumsi obat hipertensi dalam jangka waktu yang
lama dapat menimbulkan depresi.(28) Beberapa obat anti-hipertensi seperti
metildopa, resepin, dan beta blocker dapat mempengaruhi gangguan depresi.(1, 19,
26)
Obat-obat tersebut bekerja pada resistensi perifer pembuluh darah dan
menghambat neurotransmitter seperti norepinefrin dan serotonin.(19) Penyakit
kronis seperti hipertensi juga dapat mempengaruhi emosi seseorang yang akhirnya
akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit gangguan mental seperti kecemasan
dan depresi.(28)
Depresi disebabkan oleh stresor dalam tubuh yang menstimulasi otak
secara berulang. Stresor ini disebabkan oleh mediator inflamasi dan
neurohumoral. Respon tubuh secara fisiologis saat terdapat stresor akan
mengaktifkan katekolamin. Neurotransmitter katekolamin akan meningkatkan
kerja sistem saraf simpatis sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah.(19, 29)
Stresor yang berulang menyebabkan peningkatan aktivitas sitokin dan
mediator inflamasi. Makrofag akan menstimulus Th-1 untuk mengaktifkan
interferon-gamma (IFN-gamma), tumour necrosis factor-alpha (TNF-alpha),
18

interleukin-1 (IL-1), interleukin-2 (IL-2) dan interleukin-6 (IL-6). Pengaktifan


IFN-Gamma, TNF-alpha, IL-1, IL-2,dan IL-6 akan berpengaruh terhadap Aksis
Hipotalamus Pituitari (HPA) dan sistem saraf otonom.(30)
Stimulus pada Aksis Hipotalamus Pituitari akan menyebabkan sekresi
cotricotropin-releasing hormone (CRH) dan arginine vasopresin (AVP). CRH ini
akan merangsang cotricotropin di hipofisis anterior. Cotricotropin akan
meningkatkan produksi kortikosteroid dalam tubuh termasuk kortisol. Pelepasan
kortisol terhadap respon stres adalah untuk menginduksi rangkaian efek
metabolisme dan mengurangi sifat pengrusakan dari keadaan stress. Peran kortisol
dalam metabolisme menyebabkan peningkatan kadar gula darah dalam tubuh.
Kortisol juga mengatur regulasi ion dengan cara mencegah pengeluaran natrium
dan meningkatkan ekskresi kalium. Kadar ion natrium yang tinggi dalam darah
menyebabkan peningkatan tekanan darah.(31)
Pelepasan AVP akan merangsang pengeluaran vasopresin dari hipofisis
posterior. Vasopresin akan menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas
tubulus dan duktus koligentes, sehingga reabsorpsi air akan meningkat dan terjadi
peningkatan tekanan darah.(19)
Respon inflamasi juga mempengaruhi regio hipokampus, amigdala, dan
korteks pre-frontal. Stimulus pada regio otak tersebut akan menyebabkan eksitasi
pada pusat vasomotor di subtansia retikularis medula dan sepertiga bawah pons.
Eksitasi pada pusat vasomotor menyebabkan pengaktifan sistem saraf otonom.
Sistem saraf otonom akan berpengaruh terhadap denyut jantung dan resistensi
pembuluh darah. Pengaktifan saraf simpatis akan meningkatkan tekanan darah.
Stimulus pada regio hipokampus dan amigdala juga dapat menyebabkan
peningkatan sekresi cotricotropin-releasing hormone (CRH) dengan memberikan
sinyal ke bagian posterior medial hipotalamus.(19, 30, 31)
Depresi dan hipertensi pada pasien lanjut usia akan mempengaruhi
pengobatan hipertensi. Pasien yang tidak patuh dalam pengobatan hipertensi
berisiko terkena penyakit kardiovaskular.(28) Hal ini disebabkan oleh peningkatan
aktivasi platelet. Peningkatan aktivasi platelet dapat memperburuk proses
atheroskelorosis pada dinding endotel pembuluh darah.(32)
19

Perubahan yang terjadi pada pasien yang mengalami depresi dan penyakit
kardiovaskular diantaranya adalah berkurangnya kepatuhan pengobatan,
peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung, perubahan pada aktivasi
sistem saraf, gangguan pada sistem HPA, meningkatkan proses inflamasi dan
aktivasi sistem imun, peningkatan profil lipid, dan disfungsi endotel, peningkatan
aktivasi platelet. Kondisi tersebut dapat memperburuk penyakit hipertensi karena
tekanan darah menjadi semakin tidak terkontrol.(30, 31, 33)
Oleh karena itu, pasien
lanjut usia yang mengalami depresi dan hipertensi lebih berisiko terkena penyakit
kardiovaskular dan gangguan kognitif.(5)
20

2.6 Kerangka Teori

Lansia

Penurunan fungsi Psikologi(15) Sosial(18)


fisiologi (1)
Tidak mandiri(18)
MekanismeKoping
Perubahan Perubahan
sistem organ(1) ekonomi(18)

Keluarga(18)

Penyakit Hipertensi Depresi


komorbid(1)

Polifarmasi(1)
Aksis Pusat Aktivasi
Hipotalamus Vasomotor(1 Platelet
Lamanya Pitutari (31) 9,30) (32)

pengobatan(1)

Tekanan Darah

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Keterangan :
: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti


21

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional yang


menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian analitik dengan
melakukan pengumpulan data variabel secara simultan dalam waktu yang
bersamaan. Observasi pada tiap subjek penelitian hanya dilakukan sekali saja.(34)
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Zainoel


Abidin Kota Banda Aceh. Waktu pengambilan sampel pada tanggal 28 Oktober
2016 sampai 2 Desember 2016.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi Penelitian


Populasi penelitian ini adalah seluruh lanjut usia penderita hipertensi yang
berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Zainoel Abidin Kota Banda Aceh.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel Penelitian ini adalah lanjut usia penderita hipertensi yang berobat di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Zainoel Abidin Kota Banda Aceh dan
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.3.3 Kriteria Sampel
1. Kriteria Inklusi
a. Pasien lanjut usia yang bersedia menjawab kuesioner Geriatri
Depression Scale (GDS), Kuesioner Dukungan Keluarga, Kuesioner Brief
Cope.
b. Pasien lanjut usia yang memiliki riwayat hipertensi.
c. Pasien lanjut usia dengan usia 60 s.d. 79 tahun.(25)
d. Pasien lanjut usia yang memiliki penyakit penyerta dan tidak memiliki
penyakit penyerta.
22

2. Kriteria Eksklusi
a. Pasien lanjut usia yang mengkonsumsi obat-obat antidepresan
golongan MAOIs dan SNRIs. (22, 35)
b. Pasien lanjut usia yang mengkonsumsi kafein.(23)
3.3.4 Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode non-
probability sampling dengan metode quota sampling.
Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus slovin sebagai
berikut:


=
+

Keterangan:
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
e : Batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Sampel pada penelitian ini adalah:
150
= 1+(150)(0.1)

= 60 pasien lanjut usia

3.4 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel independen dan dependen.


Variabel independen dalam penelitian ini adalah gejala depresi, penyakit penyerta,
mekanisme koping, dan dukungan keluarga. Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah tekanan darah penderita hipertensi.
23

3.5 Definisi Operasional


Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Independen
Variabel Definisi Skala
Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Independen Ukur

1 Depresi Gangguan mood Kuesioner Wawancara a. 0 5 : Ordinal


yang biasanya Geriatri Tidak
bersifat menetap Depression Depresi
atau bertahan Scale b. 6 15 :
lama,sekurang- (GDS) Depresi
kurangnya
sudah menetap
selama
2 minggu(16)

2 Penyakit Perubahan Pertanyaan wawancara a. Ada Nominal


Penyerta kondisi fisiologi wawancara, dan rekam b. Tidak
yang terjadi dan medik Ada
pada lansia, stetoskop
sehingga rentan binaural
terhadap
berbagai
penyakit(1)

3 Mekanisme Upaya untuk Kuesioner Wawancara a. 26 - 51 : Ordinal


Koping menyelesaikan Strategi Buruk
masalah dan Koping b. 52 77 :
mengurangi menurut Sedang
tingkat stres(15) BriefCope(36) c. 78 103 :
Baik

4 Dukungan Faktor sosial Kuesioner Wawancara a. 0 - 3 : Ordinal


Keluarga yang dapat Dukungan Kurang
mempengaruhi Keluarga b. 4 6 :
perilaku dan menurut Cukup
gaya hidup Family c. 7 -10 :
seseorang APGAR(37) Baik
sehingga
berdampak pada
status kesehatan
dan kualitas
hidupnya
24

Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Dependen


Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Dependen Ukur

1 Tekanan Sasaran dan sphygmoma- pengukuran Tekanan Nominal


Darah tujuan nometer air tekanan Darah
Penderita pengobatan raksa, dan darah a.Terkontrol :
Hipertensi hipertensi stetoskop < 140 / 90
pada pasien binaural mmHg
lanjut usia b.Tidak
Terkontrol :
140 / 90
mmHg

3.6 Kerangka Konsep


Variabel Independen Variabel Dependen

Depresi

Penyakit Penyerta Tekanan darah


penderita hipertensi
Mekanisme Koping

Dukungan Keluarga

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

3.7 Alat/ Instrumen dan Bahan Penelitian

Alat yang akan digunakan dalam penelitian adalah sphygmomanometer air


raksa dan lembar persetujuan untuk menjadi responden dan kuesioner baku.
Kuesioner Geriatri Depression Scale digunakan sebagai alat ukur terhadap tingkat
derajat depresi. Kuesioner Dukungan Keluarga menurut Family APGAR
digunakan sebagai alat ukur tingkat dukungan keluarga pada pasien. Kuesioner
mekanisme koping menurut Brief Cope digunakan sebagai alat ukur tingkat
koping pada pasien. Alat sphygmomanoter air raksa dan stetoskop binaural
digunakan sebagai alat ukur untuk pengukuran tekanan darah responden.
25

3.8 Metode Pengumpulan Data

3.8.1 Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer yaitu data yang didapatkan secara langsung oleh peneliti
terhadap sampel atau objek penelitian yakni dengan menggunakan kuesioner
GDS, kuesioner Dukungan Keluarga, kuesioner Brief Cope dan melakukan
pengukuran tekanan darah. Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari buku
registrasi dan rekam medis untuk melihat riwayat penyakit pasien.
3.8.1 Teknik Pengambilan Data
1. Peneliti mengambil data calon responden penelitian di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Zainoel Abidin Kota Banda Aceh.
2. Memberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian kepada calon
responden dan memohon persetujuan calon responden untuk bersedia
menjadi responden dalam penelitian.
3. Jika calon responden bersedia menjadi responden penelitian, maka
responden diminta untuk mengisi dan menandatangani lembar informed
consent dan persetujuan penelitian.
4. Untuk menjunjung prinsip kerahasiaan identitas dan data responden, maka
peneliti tidak mencantumkan nama responden dan hanya menggunakan
kode.
5. Sampel akan diseleksi dengan wawancara langsung sesuai dengan kriteria
eksklusi dan inklusi.
6. Pengambilan data diawali melakukan pengukuran tekanan darah pasien
lansia dengan menggunakan sphygmomanoterair raksa dan
stetoskop.Selanjutnya, pengambilan data dengan mewawancarai
responden untuk menilai kejadian depresi, faktor fisiologi, psikologi, dan
sosial.
7. Jawaban dari responden diisi oleh peneliti pada saat wawancara di dalam
format. Data selanjutnya dikumpulkan dan semua data yang sudah
terkumpul dan sesuai dengan jumlah yang diinginkan akan diolah dan
dianalisa agar ditentukan kesimpulan dari hasil penelitian.
26

3.9 Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan


masing-masing variabel dilakukan dengan analisa data univariat, sedangkan untuk
menguji hubungan depresi dengan tekanan darah pada lansia menggunakan
analisa data bivariat, yaitu dengan menggunakan uji Chi-Square.

3.10 Alur Penelitian

Pasien Lanjut Usia Penderita Hipertensi


di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
Zainoel Abidin Kota Banda Aceh

Memenuhi kriteria sebagai sampel

Melakukan penelitian dengan pengisian


kuesioner, melakukan pengukuran
tekanan darah

Pengumpulan data

Data primer Data sekunder

Analisis Data

Hasil penelitian

Gambar 3.3 Alur Penelitian


27

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian telah dilakukan terhadap 60 orang responden dan pengumpulan
data dilakukan dari tanggal 28 Okober 2016 sampai 2 Desember 2016 di
Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
Aceh.
4.1. Analisis univariat
Diagram 4.1 Distribusi Tekanan Darah Penderita Hipertensi Lanjut Usia
Analisis univariat bertujuan untuk memperoleh gambaran distribusi atau
besarnya proporsi variabel-variabel yang diteliti dengan menggunakan tabel atau
diagram distribusi frekuensi.

Tekanan Darah
40

30

20
Tekanan Darah
10

0
Tekanan Darah Terkontrol Tekanan Darah Tidak Terkontrol

Diagram 4.1 menunjukkan bahwa responden penderita hipertensi yang


memiliki tekanan darah terkontrol sebanyak 30 orang (50 %), dan sebanyak 30
orang (50%) dari total responden memiliki tekanan darah tidak terkontrol.
Diagram 4.2 Distribusi Gejala Depresi

Gejala Depresi
40

30

20
Gejala Depresi
10

0
Tidak Depresi Depresi
28

Diagram 4.2 menunjukkan bahwa responden penderita hipertensi yang


memiliki gejala depresi sebanyak 24 orang (40 %), dan 36 orang (60%) dari total
responden tidak mengalami depresi.
Diagram 4.3 Distribusi Penyakit Penyerta

Penyakit Penyerta
50

40

30
Penyakit Penyerta
20

10

0
Ada Penyakit Penyerta Tidak Ada Penyakit Penyerta

Diagram 4.3 menunjukkan bahwa responden penderita hipertensi yang


memiliki penyakit penyerta sebanyak 46 orang (76,6 %), dan sebanyak 14 orang
(23,4 %) dari total responden tidak memiliki penyakit penyerta.
Diagram 4.4 Distribusi Mekanisme Koping

Mekanisme Koping
40
35
30
25
20
15 Mekanisme Koping
10
5
0
Mekanisme Koping Mekanisme Koping Mekanisme Koping
baik Sedang buruk

Diagram 4.4 menunjukkan bahwa responden penderita hipertensi yang


memiliki mekanisme koping baik sebanyak 38 orang (63,4 %) lebih banyak
dibandingkan mekanisme koping sedang sebanyak 20 orang (33,3%), dan
mekanisme koping buruk sebanyak 2 orang (3,3 %).
29

Diagram 4.5 Distribusi Dukungan Keluarga

Dukungan Keluarga
50
40
30
20 Dukungan Keluarga
10
0
Dukungan Keluarga Dukungan Keluarga Dukungan Keluarga
Baik Kurang Baik Tidak Baik

Diagram 4.5 menunjukkan bahwa responden penderita hipertensi yang


memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 47 orang (78,3 %) lebih banyak
dibandingkan dukungan keluarga kurang baik sebanyak 9 orang (15 %), dan
dukungan keluarga tidak baik sebanyak 4 orang (6,7 %).

4.1.3 Analisis Bivariat


Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dan variabel dependen yaitu depresi dengan tekanan darah, penyakit
penyerta dengan tekanan darah, mekanisme koping dengan tekanan darah, dan
dukungan keluarga dengan tekanan darah.
Tabel 4.1 Hubungan antara Gejala Depresi dengan Tekanan Darah pada
Penderita Hipertensi Lanjut Usia
Tekanan Darah
Kejadian Tidak Total
Terkontrol p-value
Depresi Terkontrol
n % n % n %
Tidak Depresi 13 21,7 23 38,3 36 60
Depresi 17 28,3 7 11,7 24 40 0,008
Total 30 50 30 50 60 100

Berdasarkan hasil tabulasi silang data pada tabel 4.1 di atas terlihat bahwa
Gejala depresi terjadi sebanyak 40 % pada penderita hipertensi pasien lanjut usia.
Mayoritas responden yang mengalami gejala depresi lebih banyak pada kelompok
tekanan darah tidak terkontrol dengan persentase 28,3 % daripada kelompok
30

tekanan darah terkontrol yang hanya memiliki persentase 11,7%. Hasil uji statistik
dengan menggunakan chi square untuk variabel depresi dengan tekanan darah
penderita hipertensi menunjukkan nilai p value = 0,008 ( 0,05) sehingga
hipotesis diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan antara gejala depresi dengan
tekanan darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
Tabel 4.2 Hubungan antara Penyakit Penyerta dengan Tekanan Darah pada
Penderita Hipertensi Lanjut Usia
Tekanan Darah
Penyakit Tidak Total p-value
Terkontrol
Penyerta Terkontrol
n % n % n %
Ya 26 43,3 20 33,3 46 76,6
Tidak 0,067
4 6,7 10 16,7 14 23,4

Total 30 50 30 50 60 100

Berdasarkan hasil tabulasi silang data pada tabel 4.2 di atas terlihat bahwa
didapatkan responden memiliki penyakit penyerta terjadi sebanyak 76,6%.
Mayoritas responden yang memiliki penyakit penyerta lebih banyak pada
kelompok tekanan darah tidak terkontrol dengan persentase 43,3 % daripada
kelompok tekanan darah terkontrol yang hanya memiliki persentase 33,3 %.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square untuk variabel penyakit
penyerta dengan tekanan darah penderita hipertensi menunjukkan nilai p value =
0,067 ( 0,05) sehingga hipotesis ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat
hubungan antara penyakit penyerta dengan tekanan darah pada penderita
hipertensi lanjut usia.
31

Tabel 4.3 Hubungan antara Mekanisme Koping dengan Tekanan Darah


pada Penderita Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Tekanan Darah
Mekanisme Tidak Total
Terkontrol p-value
Koping Terkontrol
n % n % n %
Baik 13 21,7 25 41,7 38 63,4
Sedang 15 25,0 5 8,3 20 33,3 0,005
Buruk 2 3,3 0 0 2 3,3
Total 30 50 30 50 60 100

Berdasarkan hasil tabulasi silang data pada tabel 4.3 di atas terlihat bahwa
responden memiliki mekanisme koping yang baik sebanyak 63,4 %. Mayoritas
responden yang memiliki mekanisme koping baik lebih banyak pada kelompok
tekanan darah terkontrol dengan persentase 41,7 % daripada kelompok tekanan
darah tidak terkontrol yang hanya memiliki persentase 21,7 %. Hasil uji statistik
dengan menggunakan chi square untuk variabel mekanisme koping dengan
tekanan darah penderita hipertensi menunjukkan nilai p value = 0,005 (
0,05) sehingga hipotesis diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan antara
mekanisme koping dengan tekanan darah pada penderita hipertensi lanjut usia.
Tabel 4.4 Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Tekanan Darah
Penderita Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Tekanan Darah
Dukungan Tidak Total p-value
Terkontrol
Keluarga Terkontrol
n % n % n %
Baik 20 33,3 27 45 47 78,3

Kurang Baik 6 10 3 5 9 15 0,049

Tidak Baik 4 6,7 0 0 4 6,7

Total 30 50 30 50 60 100

Berdasarkan hasil tabulasi silang data pada tabel 4.4 di atas terlihat bahwa
responden memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 78,3 %. Mayoritas
responden dengan dukungan keluarga baik lebih banyak pada kelompok tekanan
darah terkontrol dengan persentase 45 % daripada kelompok tekanan darah tidak
32

terkontrol yang hanya memiliki persentase 33,3 %. Hasil uji statistik dengan
menggunakan chi square untuk variabel dukungan keluarga dengan tekanan
darah penderita hipertensi menunjukkan nilai p value = 0,049 ( 0,05) sehingga
hipotesis diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan dukungan keluarga dengan
tekanan darah pada penderita hipertensi pasien lanjut usia.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hubungan Gejala Depresi terhadap Tekanan Darah Penderita
Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh hasil analisis statistik didapatkan
p-value yang lebih kecil (p = 0.008), hal ini menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara kejadian depresi dengan tekanan darah penderita
hipertensi pasien lanjut usia dengan tingkat kemaknaan 95 % dan = 0,05.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memerlukan
pengobatan yang berkelanjutan, pengawasan medis, retriksi aktivitas, dan kontrol
pola hidup yang ketat untuk mencegah terjadinya komplikasi. Pengobatan dalam
jangka waktu lama menyebabkan pasien berisiko mengalami kejadian depresi.
Penelitian yang dilakukan oleh Qanita didapatkan faktor yang paling berpengaruh
terhadap kejadian depresi pada pasien hipertensi adalah lama menderita
hipertensi.(38)
Hasil penelitian ini juga didapatkan gejala depresi berat lebih banyak terjadi
pada kelompok yang memiliki tekanan darah tidak terkontrol yaitu sebanyak
11,7 %. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tully,et al dengan
metode cohort terhadap 1454 pada pasien lanjut usia penderita hipertensi bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan kecemasan dan depresi
terhadap peningkatan tekanan darah sistolik. Gangguan kecemasan dan depresi
dapat menyebabkan peningkatan kerja saraf simpatis, vasokontriksi arteri, dan
penurunan sensitivitas baroreseptor sehingga tekanan darah sistolik akan semakin
meningkat. Depresi juga dapat meningkatkan kerja dari sistem RAA, peningkatan
aktivitas sitokin dan mediator inflamasi, dan kerusakan pada dinding endotel
arteri.(39)
Penelitian menurut Bajko, et al menyatakan bahwa adanya korelasi
signifikan antara depresi terhadap perubahan disfungsi sistem nervus otonom.
33

Perubahan pada nervus otonom dapat memperburuk keadaan penyakit


hipertensi.Penelitian lain juga menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara gejala cemas dan depresi terhadap resisten hipertensi.(40)
Penelitian menurut ONeil, et al didapatkan bahwa depresi 2,39 kali lebih
berpengaruh terhadap insiden kejadian penyakit jantung koroner pada wanita.(41)
Penelitian menurut Yuenyongchaiwat, et al didapatkan adanya hubungan
signifikan antara gejala depresi terhadap peningkatan tekanan darah, heart rate,
cardiac output, dan resistensi pembuluh darah.(42)
Penelitian ini tidak sejalan dengan Hildrum, et al yang menyatakan bahwa
kecemasan dan depresi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah. Penelitian
tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi berat
terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik, tetapi tidak terdapat
hubungan signifikan antara heart rate dengan penurunan tekanan darah. Penelitian
tersebut juga telah melakukan kriteria ekslusi pada pasien hipertensi yang sedang
mengkonsumsi obat antihipertensi dan hasil penelitian terdapat hubungan antara
depresi terhadap penurunan tekanan darah sistolik.(43) Penelitian menurut Lenoir,
et al juga menyatakan bahwa depresi dapat mempengaruhi penurunan tekanan
darah sistolik dan diastolik pada lansia yang memiliki riwayat hipertensi.(44)
Beberapa penelitian menyatakan bahwa depresi tidak berhubungan dengan
penurunan tekanan darah. Hal ini disebabkan berkurangnya respon adrenergik
yang akan mempengaruhi penurunan kerja saraf simpatis dan sensitivitas
pembuluh darah.(45)
Penelitian ini sesuai dengan beberapa penelitian para ahli yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara gejala depresi dengan peningkatan tekanan darah
penderita hipertensi lanjut usia. Gejala depresi dapat menghambat pengobatan
hipertensi akibat respon dari tubuh terhadap stressor dan mengurangi tingkat
kepatuhan pasien dalam pengobatan hipertensi. Gejala depresi pada lanjut usia
seringkali tidak diketahui, sehingga perlunya dilakukan skrinning awal untuk
menilai gejala depresi. Skrining awal gejala depresi dapat mencegah terjadinya
komplikasi penyakit kardiovaskular.
34

4.2.2 Hubungan Penyakit Penyerta terhadap Tekanan Darah Penderita


Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Hasil analisis statistik pada penelitian ini diperoleh p-value yang lebih besar
( p=0,067), hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara tekanan darah penderita hipertensi pasien lanjut usia terhadap penyakit
penyerta. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gosmanova,
et al yang menyatakan bahwa peningkatan tekanan darah sistolik berhubungan
dengan penyakit komorbid pasien seperti gagal jantung, stroke, gagal ginjal
kronik. Penyakit penyerta dapat memperburuk keadaan penderita hipertensi dan
meningkatkan risiko kematian.(46)
Penelitian menurut Bansal, et al juga menyatakan bahwa peningkatan
tekanan darah sistolik berhubungan dengan kejadianatherosklerosis.(47) Terdapat
banyak faktor yang mempengaruhi perburukan keadaan hipertensi pasien lanjut
usia. Pasien lanjut usia berisiko mengalami berbagai penyakit dan polifarmasi.(1)
Keadaan berbagai penyakit menyebabkan risiko kejadian depresi. Penelitian
menurut Jani, et al juga menyatakan bahwa penderita penyakit kardiovaskular dan
sindroma metabolik lebih berisiko mengalami kejadian depresi dan peningkatan
tekanan darah sistolik.(48)
Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian beberapa ahli yang menyatakan
penyakit penyerta dapat meningkatkan tekanan darah penderita hipertensi lanjut
usia. Hal ini disebabkan terdapat multifaktor yang dapat memperburuk
pengobatan hipertensi. Lanjut usia cenderung memiliki berbagai penyakit
penyerta akibat perubahan fisiologi, sehingga diperlukan berbagai faktor lain
seperti psikologi dan dukungan sosial yang baik dalam menjalani pengobatan.
4.2.3 Hubungan Mekanisme Koping terhadap Tekanan Darah Penderita
Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Lanjut usia cenderung memiliki satu atau lebih kondisi penyakit kronis atau
ketidakberdayaan kondisi fisik, dan kondisi tersebut akan semakin berat seiring
bertambah usia. Penyakit kronis akan berpengaruh terhadap tingkat stres pada
lansia, sehingga diperlukan koping indvidu yang baik. Koping dilakukan individu
untuk menangani masalah dan menyeimbangkan emosi dalam situasi yang penuh
tantangan seperti mengalami penyakit kronis.(49)
35

Hasil analisis statistik pada penelitian ini diperoleh p-value yang lebih kecil
(p = 0.005), hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
mekanisme koping penderita hipertensi pasien lanjut usia terhadap tekanan darah
dengan tingkat kemaknaan 95 % dan = 0,05. Penelitian ini sesuai dengan Malan
yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara mekanisme koping maladaptif
terhadap disfungsi nervus otonom dan peningkatan tekanan darah.(50)
Penelitian menurut Roohafza, et al juga menyatakan bahwa dukungan sosial
dan mekanisme koping berpengaruh terhadap penyaki jantung koroner. Penelitian
tersebut juga menggunakan desain case control dengan pengelompokkan pasien
dengan penyakit kronik dan kurangnya dukungan sosial sebagai kelompok kasus
dan pasien dengan penyakit kronik dan dukungan sosial yang baik sebagai
kelompok kontrol, hasil dari penelitian tersebut pada kelompok kasus didapatkan
mekanisme koping maladaptif 6 kali lebih besar terhadap risiko penyakit jantung
koroner, mekanisme koping adaptif 0,21 lebih kecil terhadap risiko penyakit
jantung koroner dan dukungan fungsional 0,49 kali lebih kecil terhadap risiko
kejadian penyakit jantung koroner.(8)
Penelitian menurut Palagini, et al didapatkan hubungan antara insomnia
pada penderita hipertensi terhadap mekanisme koping yang rendah. Mekanisme
koping yang rendah dapat berpengaruh terhadap keadaan sosial dan akan
memperburuk keadaan penyakit hipertensi.(51) Penelitian menurut Ito, et al
didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dan
kondisi psikologi terhadap perubahan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula
darah pasien.(52) Penelitian menurut Krause, et al juga menyatakan bahwa
mekanisme koping yang kurang religius dan kondisi lingkungan yang kurang baik
berhubungan dengan tekanan darah yang tidak terkontrol pada penderita
hipertensi.(53)
Penelitian menurut Eva tidak sesuai dengan penelitian ini, penelitian
tersebut menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
mekanisme koping dengan tekanan darah penderita hipertensi. Lanjut usia yang
memiliki mekanisme koping yang baik belum tentu memiliki tekanan darah dalam
batas normal dan lanjut usia mekanisme koping kurang belum tentu memiliki
tekanan darah yang dalam batas tidak normal.(54)
36

Penelitian ini terdapat hubungan signifikan antara mekanisme koping


dengan tekanan darah penderita hipertensi lanjut usia. Pengobatan dalam jangka
waktu lama pada penderita hipertensi cenderung membuat pasien merasa bosan
dengan pengobatan yang dijalani, sehingga diperlukan mekanisme koping yang
baik untuk mencegah terjadinya kecemasan dan depresi.
4.2.4 Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Tekanan Darah Penderita
Hipertensi Pasien Lanjut Usia
Hasil analisis statistik pada penelitian ini diperoleh p-value yang lebih kecil
(p = 0.049), hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
dukungan keluarga penderita hipertensi pasien lanjut usia terhadap tekanan darah
dengan tingkat kemaknaan 95 % dan = 0,05.
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor pendukung yang dapat
mempengaruhi perilaku dan gaya hidup seseorang sehingga berdampak pada
status kesehatan dan kualitas hidupnya. Dukungan keluarga berpengaruh terhadap
faktor pengobatan hipertensi.(38)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinaga
didapatkan bahwa lansia yang mendapatkan dukungan keluarga akan cenderung
melakukan pencegahan hipertensi dengan baik, sebaliknya lansia yang tidak
mendapat dukungan keluarga akan cenderung tidak melakukan pencegahan
hipertensi. Penelitian tersebut didapatkan hubungan yang signifikan antara
dukungan keluarga terhadap pencegahan hipertensi.(55)
Penelitian menurut Herlinah menyatakan bahwa adanya hubungan yang
signifikan antara dukungan emosional keluarga, dukungan informasi, dukungan
penghargaan, dan dukungan instrumental terhadap perilaku lansia dengan
pengendalian hipertensi. Penelitian tersebut juga didapatkan lansia yang mendapat
dukungan informasi akan menunjukkan perilaku baik dalam pengendalian
hipertensi 6,7 kali dibandingkan dukungan lainnya.(56)
Penelitian menurut Tumenggung didapatkan lansia yang mendapatkan
dukungan keluarga berkategori baik sebesar 86,7 % dan lansia yang menjalani
kepatuhan diet hipertensi berkategori baik sebesar 80 %. Penelitian tersebut
didapatkan hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan
kepatuhan diet hipertensi.(57)
37

Penelitian menurut Nainggolan, et al didapatkan adanya hubungan


signifikan antara dukungan keluarga dengan diet rendah garam. Kepatuhan diet
rendah garam akan menjaga tekanan darah tetap terkendali.(58) Penelitian menurut
Susriyanti juga didapatkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan
keluarga dengan perilaku perawatan hipertensi pada lansia.(59)
Penelitian ini didapatkan hubungan yang signifikan antara dukungan
keluarga dengan tekanan darah penderita hipertensi. Dukungan keluarga yang
baik dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan, kontrol tekanan
darah secara rutin, dan menjaga pola hidup yang sehat.
4.3 Keterbatasan Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini peneliti menemukan beberapa keterbatasan


sehingga penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Adapun keterbatasan
dalam penelitian ini adalah :
1. Terdapat multifaktor yang mempengaruhi tekanan darah penderita
hipertensi pasien lanjut usia sehingga tidak hanya aspek kejadian depresi,
mekanisme koping, dukungan keluarga, dan perubahan fisiologi saja yang
memberi pengaruh, tetapi banyak variabel lainnya seperti umur, jenis
kelamin, pengetahuan, diet rendah garam, lamanya menderita hipertensi,
kepatuhan minum obat antihipertensi, polifarmasi, dan sosioekonomi
2. Penelitian ini tidak melakukan pemeriksaan laboratorium seperti penilaian
jumlah kortisol, kadar interleukin-6, dan kadar ion Na+, sehingga penelitian
ini belum dapat menganalisa secara spesifik pengaruh perubahan respon
humoral dan mediator inflamasi dengan gejala depresi terhadap perubahan
tekanan darah.
38

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti didapatkan kesimpulan
sebagai berikut
1. Terdapat hubungan gejala depresi dengan tekanan darah pada penderita
hipertensi lanjut usia di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Zainoel Abidin.
2. Tidak terdapat hubungan penyakit penyerta dengan tekanan darah penderita
hipertensi lanjut usia.
3. Terdapat hubungan mekanisme koping dengan tekanan darah penderita
hipertensi lanjut usia.
4. Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan tekanan darah penderita
hipertensi lanjut usia.

5.2 Saran
1. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang
mempengaruhi keadaan tekanan darah tidak terkontrol pada penderita
hipertensi seperti umur, jenis kelamin, pengetahuan, diet rendah garam,
lamanya menderita hipertensi, kepatuhan minum obat antihipertensi,
polifarmasi, dan sosioekonomi.
2. Bagi peneliti lainnya agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
penyebab keadaan tekanan darah tidak terkontrol pada penderita hipertensi
lanjut usia yang memiliki gejala depresi dengan melakukan pemeriksaan
laboratorium seperti penilaian jumlah kortisol, kadar interleukin-6, dan
kadar ion Na+.
39

1. Sudoyo d. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi V. Jakarta: Interna
Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.
2. Indonesia KKR. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Jakarta:
Kemenkes RI. 2013.
3. Arga S. Hubungan Hipotensi Ortostatik Terhadap Risiko Jatuh pada Pasien Lanjut
Usia dengan Hipertensi. skripsi. 2012.
4. WHO. Dementia and Depression among The Elderly as Public Health Issues :
World Health Organization. 2016.
5. Riskesdas. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian
RI 2013.
6. Lichtman JH, Bigger JT, Blumenthal JA, Frasure-Smith N, Kaufmann PG,
Lesprance F, et al. Depression and coronary heart disease recommendations for
screening, referral, and treatment: a science advisory from the American Heart
Association Prevention Committee of the Council on Cardiovascular Nursing, Council on
Clinical Cardiology, Council on Epidemiology and Prevention, and Interdisciplinary
Council on Quality of Care and Outcomes Research: endorsed by the American
Psychiatric Association. Circulation. 2008;118(17):1768-75.
7. Svensson T, Inoue M, Sawada N, Yamagishi K, Charvat H, Saito I, et al. Coping
strategies and risk of cardiovascular disease incidence and mortality: the Japan Public
Health Center-based prospective Study. European heart journal. 2016;37(11):890-9.
8. Roohafza H, Talaei M, Pourmoghaddas Z, Rajabi F, Sadeghi M. Association of
social support and coping strategies with acute coronary syndrome: A casecontrol
study. Journal of cardiology. 2012;59(2):154-9.
9. Wang J, Williams J, Lavorato D, Schmitz N, Dewa C, Patten SB. The incidence of
major depression in Canada: the National Population Health Survey. Journal of Affective
Disorders. 2010;123(1):158-63.
10. Butnoriene J, Bunevicius A, Saudargiene A, Nemeroff CB, Norkus A, Ciceniene V,
et al. Metabolic syndrome, major depression, generalized anxiety disorder, and ten-year
all-cause and cardiovascular mortality in middle aged and elderly patients. International
journal of cardiology. 2015;190:360-6.
11. Lichtman JH, Froelicher ES, Blumenthal JA, Carney RM, Doering LV, Frasure-
Smith N, et al. Depression as a risk factor for poor prognosis among patients with acute
coronary syndrome: Systematic review and recommendations a scientific statement
from the American Heart Association. Circulation. 2014;129(12):1350-69.
12. Kristyaningsih D, KM S. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat
Depresi Pada Lansia. Jurnal Keperawatan. 2011;1(1):21-3.
13. (WHO) WHO. A Global brief on hypertension (silent killer global public health
crisis Switzerland : World Health Organization. 2013.
14. Hadi Martono KP. Buku Ajar Geriatri. Edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
2011.
15. Artini B, Retnayu MN. Mekanisme Koping Lansia Dalam Menghadapi Masa
Pensiun. Keperawatan. 2014;3(2).
16. Sylvia D. Elvira Gh. Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2014.
17. Association AP. Diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5):
American Psychiatric Pub; 2013.
18. Irawan H. Gangguan Depresi pada Lanjut Usia. Cermin Dunia Kedokteran-210.
2013;40(11):815-9.
19. Guyton ACJEH. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9. Terjemahan: Irawati
Setiawan. Jakarta : EGC 2012.
40

20. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III : Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2003:43-8.
21. Lozupone M, Veneziani F, Galizia I, Lofano L, Montalb D, Arcuti S, et al. Validity
of the Geriatric Depression Scale-30 against the gold standard diagnosis of depression in
older age: The GreatAGE Study. European Psychiatry. 2016(33):S86.
22. Gelenberg AJ, Freeman MP, Markowitz JC, Rosenbaum JF, Thase ME, Trivedi
MH, et al. PRACTICE GUIDELINE FOR THE Treatment of Patients With Major Depressive
Disorder Third Edition. The American Journal of Psychiatry. 2010;167(10):1.
23. Setiabudy R. Farmakologi dan Terapi. jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012. p. 171 -
78.
24. Rilantono L. Buku Ajar Penyakit Kardiovaskular. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
2013.
25. Thadani U, Cong ND. Implications of Current JNC 8 Guidelines on Treatment.
Management of Complex Cardiovascular Problems. 2016:30.
26. Mancia G, Fagard R, Narkiewicz K, Redon J, Zanchetti A, Bhm M, et al. 2013
ESH/ESC guidelines for the management of arterial hypertension: the Task Force for the
Management of Arterial Hypertension of the European Society of Hypertension (ESH)
and of the European Society of Cardiology (ESC). Blood pressure. 2013;22(4):193-278.
27. Daskalopoulou SS, Rabi DM, Zarnke KB, Dasgupta K, Nerenberg K, Cloutier L, et
al. The 2015 Canadian Hypertension Education Program recommendations for blood
pressure measurement, diagnosis, assessment of risk, prevention, and treatment of
hypertension. Canadian Journal of Cardiology. 2015;31(5):549-68.
28. Tel H. Anger and depression among the elderly people with hypertension.
Neurology, psychiatry and brain research. 2013;19(3):109-13.
29. Sherwood L. Fisiologi Manusia. Edisi 6. Jakarta : EGC. 2012.
30. Leonard BE. Impact of inflammation on neurotransmitter changes in major
depression: an insight into the action of antidepressants. Progress in Neuro-
Psychopharmacology and Biological Psychiatry. 2014;48:261-7.
31. Hannibal KE, Bishop MD. Chronic stress, cortisol dysfunction, and pain: a
psychoneuroendocrine rationale for stress management in pain rehabilitation. Physical
therapy. 2014;94(12):1816-25.
32. Serebruany VL, Glassman AH, Malinin AI, Nemeroff CB, Musselman DL, van Zyl
LT, et al. Platelet/endothelial biomarkers in depressed patients treated with the
selective serotonin reuptake inhibitor sertraline after acute coronary events the
Sertraline AntiDepressant Heart Attack Randomized Trial (SADHART) Platelet Substudy.
Circulation. 2003;108(8):939-44.
33. Demircan F, Gozel N, Kilinc F, Yilmaz M, Donder E, Atmaca M. THE EFFECT OF
SELECTIVE SEROTONIN REUPTAKE INHIBITOR (SSRI) TREATMENT ON MEAN PLATELET
VOLUME IN MAJOR DEPRESSIVE DISORDER (MDD) PATIENTS. ACTA MEDICA
MEDITERRANEA. 2016;32(1):93-6.
34. Notoatmodjo s. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta 2010:37
- 41.
35. Fu W, Ma L, Zhao X, Li Y, Zhu H, Yang W, et al. Antidepressant medication can
improve hypertension in elderly patients with depression. Journal of Clinical
Neuroscience. 2015;22(12):1911-5.
36. Amoyal N, Fernandez AC, Ng R, Fehon DC. Measuring Coping Behavior in Liver
Transplant Candidates A Psychometric Analysis of the Brief COPE. Progress in
Transplantation. 2016:1526924816655253.
37. SAPUTRI DS. PERAN FUNGSI SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA
DI PANTI WERDHA PANGESTI LAWANG: University of Muhammadiyah Malang; 2011.
41

38. Herlinah L, Wiarsih W, Rekawati E. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan


Perilaku Lansia Dalam Pengendalian Hipertensi. Jurnal Keperawatan Komunitas.
2013;1(2).
39. Bruno RM, Pucci G, Rosticci M, Guarino L, Guglielmo C, Rosei CA, et al.
Association between lifestyle and systemic arterial hypertension in young adults: a
National, Survey-Based, Cross-Sectional Study. High Blood Pressure & Cardiovascular
Prevention. 2016;23(1):31-40.
40. Song HJ, Paek YJ, Choi MK, Lee H-J. Gender differences in the relationship
between risk of hypertension and fruit intake. Preventive Medicine. 2014;67:154-9.
41. Qanita. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kejadian depresi pada penderita
hipertensi. 2016.
42. Tully PJ, Tzourio C. Psychiatric correlates of blood pressure variability in the
elderly: The Three City cohort study. Physiology & Behavior. 2017;168:91-7.
43. Bajk Z, Szekeres C-C, Kovcs KR, Csap K, Molnr S, Soltsz P, et al. Anxiety,
depression and autonomic nervous system dysfunction in hypertension. Journal of the
neurological sciences. 2012;317(1):112-6.
44. ONeil A, Fisher AJ, Kibbey KJ, Jacka FN, Kotowicz MA, Williams LJ, et al.
Depression is a risk factor for incident coronary heart disease in women: An 18-year
longitudinal study. Journal of affective disorders. 2016;196:117-24.
45. Yuenyongchaiwat K, Baker IS, Sheffield D. Symptoms of anxiety and depression
are related to cardiovascular responses to active, but not passive, coping tasks. Revista
Brasileira de Psiquiatria. 2016(AHEAD):0-.
46. Hildrum B, Romild U, Holmen J. Anxiety and depression lowers blood pressure:
22-year follow-up of the population based HUNT study, Norway. BMC Public Health.
2011;11(1):1.
47. Lenoir H, Lacombe J-M, Dufouil C, Ducimetiere P, Hanon O, Ritchie K, et al.
Relationship between blood pressure and depression in the elderly. The Three-City
Study. Journal of hypertension. 2008;26(9):1765-72.
48. York KM, Hassan M, Li Q, Li H, Fillingim RB, Sheps DS. Coronary artery disease
and depression: patients with more depressive symptoms have lower cardiovascular
reactivity during laboratory-induced mental stress. Psychosomatic Medicine.
2007;69(6):521-8.
49. Gosmanova EO, Mikkelsen MK, Molnar MZ, Lu JL, Yessayan LT, Kalantar-Zadeh K,
et al. Association of Systolic Blood Pressure Variability With Mortality,
Coronary Heart Disease, Stroke, and Renal Disease. Journal of the American College of
Cardiology. 2016;68(13):1375-86.
50. Bansal N, McCulloch CE, Lin F, Robinson-Cohen C, Rahman M, Kusek JW, et al.
Different components of blood pressure are associated with increased risk of
atherosclerotic cardiovascular disease versus heart failure in advanced chronic kidney
disease. Kidney International. 2016;90(6):1348-56.
51. Jani BD, Cavanagh J, Barry SJ, Der G, Sattar N, Mair FS. Relationship Between
Blood Pressure Values, Depressive Symptoms, and Cardiovascular Outcomes in Patients
With Cardiometabolic Disease. The Journal of Clinical Hypertension. 2016.
52. Ekowarni E. Pengalaman Emosi dan Mekanisme Koping Lansia yang Mengalami
Penyakit Kronis. Jurnal Psikologi. 2012;39(2):206-19.
53. Malan L, Hamer M, Schlaich M, Lambert G, Ziemssen T, Reimann M, et al.
Defensive coping facilitates higher blood pressure and early sub-clinical structural
vascular disease via alterations in heart rate variability: the SABPA study.
Atherosclerosis. 2013;227(2):391-7.
42

54. Palagini L, Bruno RM, Cheng P, Mauri M, Taddei S, Ghiadoni L, et al. Relationship
between insomnia symptoms, perceived stress and coping strategies in subjects with
arterial hypertension: psychological factors may play a modulating role. Sleep medicine.
2016;19:108-15.
55. Ito M, Matsushima E. Presentation of coping strategies associated with physical
and mental health during health check-ups. Community mental health journal. 2016:1-9.
56. Krause N, Ironson G, Pargament K, Hill P. Neighborhood conditions, religious
coping, and uncontrolled hypertension. Social Science Research. 2016.
57. Yuliana E. Hubungan Mekanisme Koping dengan Kejadian Hipertensi Lanjut Usia
di Posyandu Lansia Wredha Kusuma Kelompok 18 RW 18 Kecamatan Mergangsan
Yogyakarta: STIKES'Aisyiyah Yogyakarta; 2015.
58. Sinaga A. HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENCEGAHAN
HIPERTENSI PADA LANSIA DI DESA SUKAMAJU WILAYAH BINAAN UPTD CIKALONG
KECAMATAN CIMAUNG.
59. Tumenggung I. Hubungan dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan diet
pasien hipertensi di RSUD Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango. Jurnal Health and Sport.
2013;7(01).
60. Nainggolan DFP, Armiyati Y, Supriyono M. Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Kepatuhan Diit Rendah Garam dan Keteraturan Kontrol Tekanan Darah pada Penderita
Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Ilmu Keperawatan dan
Kebidanan. 2012;1(2).
61. Susriyanti S. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Perawatan
Hipertensi Pada Lansia di Gamping Sleman Yogyakarta: STIKES'Aisyiyah Yogyakarta;
2015.