Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Perusahaan


2.1.1. Sejarah singkat perusahaan

Di belahan Bumi bagian timur terbentang Negara Republik Indonesia terdiri


dari beribu pulau yang tercipta dengan kekayaan alam nan beragam khususnya di
jazirah Tenggara ke Pulau Sulawesi tepatnya di Pulau Kabaena terkarunia sumber
daya alam yang cukup banyak.
PT. Tambang Bumi Sulawesi merupakan perusahaan tunggal di kawasan
sulawesi tenggara yang bergerak di bidang operasi produksi tambang khususnya
nikel ore berkerjasama dengan PT. Wali Inti Lestari. Setelah masa eksplorasinya
barulah berproduksi sejak bulan mei 2014 sampai januari 2015 penyebabnya yaitu
adanya undang-undang Minerba tahun 01/2014 larangan ekspor raw material pada
saat itu perusahaan berhenti berproduksi selama 3 bulan pada bulan april 2015
barulah beroperasi kembali dan mengadakan kontrak kerjasama dengan PT. Jaya
Graha bagian kontraktor alat berat yang sebelumya perusahaan kontraktor tersebut
mengadakan kontrak dengan PT. Tekonindo yang berhenti beroperasi karna
adanya pelanggaran dalam Konsensi batas wilayah tambang. PT. Jaya Graha
sendiri bergabung dengan PT. Tambang Bumi Sulawesi sejak awal bulan april
2015 sampai sekarang tepatnya bulan Oktober 2017.

2.1.2. Visi Dan Misi Perusahaan


PT. Tambang Bumi Sulawesi selaku pemegang IUP Operasi Produksi
bjih Nikel visi dan misi perusahaan adalah menjadi perusahaan yang handal dan
professional dalam menjalankan kegiatan usaha pertambangan dan akan tumbuh
secara menguntungkan sebagai penghasil bijih nikel yang dapat diandalkan
tujuannya Memberikan keuntungan yang berkesinambungan dan kompetitif bagi

~4~
pemegang saham melalui kegiatan produksi bijih nikel yang menguntungkan,
Mengoperasikan lingkungan kerja yang aman dan sehat mencerminkan
pemeliharaan lingkungan yang bertanggungjawab,Secara aktif berkomunikasi
dengan para pihak, termasuk pemegang saham, karyawan, masyarakat sekitar,
pemerintah, pelanggan dan pemasok, untuk memastikan hubungan baik yang
berkelanjutan.

2.1.3 Penambangan Dan Rencana Produksi


Rencana penambangan yang akan dilakukan adalah sistem tambang
terbuka (open pit) dengan cara melakukan pengupasan tanah penutup (overburden)
dan penempatan top soil di area waste dump secara teratur dan penggalian bijih
nikel dengan menggunakan alat berat berupa excavator atau buldozer kemudian
diangkut ke Stock Pile dengan menggunakan Dump Truck.
Pengawasan kadar akan dilakukan secara ketat oleh Quality Control baik dari
front tambang sampai penempatan bijih di area Stock Pile serta secara kontinyu
melakukan pengambilan sample untuk mengontrol grade dan melakukan blending
ore dengan metode yang tepat sehingga kadar yang diinginkan dapat tercapai.
Guna menjaga kestabilan lereng tambang dibuat teras (bench) agar lereng tidak
mudah longsor akibat pengaruh hujan/air dan pembebanan yang dialami lereng.
Sistem pengeringan tambang (drainage) dilakukan dengan parit dan pompa untuk
mengalirkan air keluar tambang dan sedimentasin akan terkendali melalui sump
serta settling pond. Target produksi PT. Tambang Bumi Sulawesi sebesar 600.000
ton/tahun atau setara dengan 50.000 ton/bulan dalam bentuk ore raw material.
Penambangan bijih nikel disusun dengan urutan pekerjaan seperti berikut
(bagan alir penambangan :

~5~
Gambar 2.1. Alir Penambangan bijih nikel

OB ditumpuk Bijih Nikel dari Dikembalikan


Di Lok. Pembuangan tambang setelah
OB penambangan

Pengangkutan
Kadar rendah ke Stock Pile
menjadi OB dan Blending
bijih dibuang

Pengangkutan ke
Pelabuhan

Pengapalan

2.1.4 Perijinan
Hak pengelolaan bahan galian Nikel PT. Tambang Bumi Sulawesi yang
terletak di Desa Batuawu, Desa Puununu dan Desa Pongkalaero Kecamatan
Kabaena Selatan Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi

2.2 Lokasi, Waktu Dan Kesampaian Daerah


Endapan Nikel yang dikelola oleh PT. Tambang Bumi Sulawesi terdapat di
Pulau Kabaena yang secara administratif terletak di Desa Pongkalaero Kecamatan
Kabaena Selatan Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.PT. Tambang
Bumi Sulawesi secara administrasi terletak pada wilayah Pulau Kabaena
Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.
Adapun desa-desa yang masuk ke dalam wilayah IUP Operasi Produksi PT.
Tambang Bumi Sulawesi antara lain Desa Batuawu, Desa Puununu dan Desa
Pongkalaero.

~6~
Untuk sampai ke lokasi IUP Operasi Produksi PT. Tambang Bumi
Sulawesi dapat dilakukan melalui pesawat udara dari Jakarta ke Kota Kendari,
Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan waktu tempuh yang digunakan 2
jam kemudian dilanjutkan menggunakan perjalanan darat dengan rute Kota
Kendari melewati Kabupaten Konawe Selatan ke Kabupaten Bombana dengan
waktu tempuh 3,5 jam, setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan perjalanan
laut menuju Pulau Kabaena yaitu Kecamatan Kabaena Barat (Pelabuhan Sikeli)
dengan waktu tempuh 5 jam, dari Kecamatan Kabaena Barat akan dilakukan
perjalan menggunakan jalur darat menuju ke Wilayah IUP Eksplorasi PT.
Tambang Bumi Sulawesi yang tepatnya berada pada wilayah Kecamatan Kabaena
Selatan dengan waktu tempuh yang digunakan 1 jam.

Gambar 2.2. Peta Lokasi iup PT.Tambang Bumi sulawesi

~7~
2.3 Geologi Regional
Secara geologi regional, P. Sulawesi terletak pertemuan tiga lempeng yang
aktif bertubrukan: Lempeng Benua Australia, Lempeng Benua Eurasia dan
Lempeng Samudera Pasifik. Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara ditempai oleh
berbagai batuan yang berasal dari tiga mendala geologi (Mandala Sulawesi
Tengah, Mandala Sulawesi Timur, dan Mandala Benua Renik).
Mandala Sulawesi Tengah berada di bagian barat Lengan Tenggara
Sulawesi, yang berisikan batuan metamorf, merupakan alas dari batuan
Mesozoikum dari Mendala Benua Renik. Dengan demikian di wilayah Propinsi
Sulawesi Tenggara hanya ada dua mendala geologi, yakni Mendala Benua Renik
dan Mendala Sulawesi Timur. Selanjutnya kedua himpunan batuan dari kedua
mendala itu ditindih oleh batuan sedimen Tersier dari Molasa Sulawesi.

Gambar 2.3. Peta Geologi Regional Kabupaten. Bombana (Dinas Energi dan
Sumber daya Mineral Propinsi Sulawesi Tenggara, tahun 2005)

~8~
Gambar 2.4. Peta tektonik Sulawesi dan geologi regional pulau Kabaena

Susunan dan tataan satuan batuan daerah penyelidikan berdasarkan hasil


penyelidikan sebelumnya dapat dikemukakan sebagai berikut:

2.3.1 Mandala Sulawesi Timur.


Batuan asal samudra pembentuk Mandala Sulawesi Timur, menyebar di
bagian timur utara Lengan Tenggara dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, P.
Wowonii dan Pulau Kabaena serta sedikit di Pulau Buton. Batuannya terdiri dari
dunit, harzburgit, leherzolit, pyroksinit, serpentinit dan mikrogabro serta basalt.
Setempat batuan tersebut ditindih oleh batugamping dan/atau rijang laut dalam

~9~
berwarna merah. Umur dari ofiolit di Sulawesi Tenggara ini Kapur Akhir -
Oligosen.
2.3.2 Mandala Benua Renik.
Sebutan Mandala Benua Renik diberikan pada sekumpulan batuan asal
benua yang berukuran kecil. Batuan asal benua terdiri atas batuan malihan
berderajad rendah yang diterobos batuan granitan, ditintih oleh batuan sedimen
klastik dan karbonat Mesozoikum.
Batuan malihan dan granitan dipercaya sebagai batuan alas dari endapan
sedimen Mesozoikum. Semula endapan Mesozoikum berupa sedimen klastik
(Formasi Tinala dan Formasi Meluhu) yang berumur Trias, kemudian kearah atas
ditindih batuan sedimen karbonat (Formasi Masiku dan Formasi Tetambahu).
Sedimen Mesozoikum ini ditindih takselaras oleh batuan karbonat laut dangkal
dari Formasi Tampakura.

2.3.3 Molasa Sulawesi.


Batuan ofiolit yang bergerak ke tenggara bertabrakan dengan kepingan
benua di Sulawesi Tenggara pada akhir Oligosen. Proses trabrakan ini berlangsung
terus sampai Miosen Tengah. Setelah proses tabrakan itu terhenti, proses
perenggangan membentuk cekungan sedimen yang luas. Pada cekungan tersebut
terjadi dan terendapkan Molasa Sulawesi.
Batuan penyusun Molasa Sulawesi ini bervareasi mulai klastik berukuran
kasar-halus sampai batuan karbonat laut dangkal. Batuan iniduk dari Molasa
Sulawesi berasal dari batuan ofiolit dan batuan asal benua.

2.4. Geologi Daerah Penyelidikan

Susunan dan tataan satuan batuan daerah penyelidikan berdasarkan hasil


penyelidikan bahwa terdapat 3 satuan batuan yang terdiri dari satuan Batuan Beku
Ultrabasa yang batuannya terdiri dari dunit, harzburgit, leherzolit, pyroksinit,

~ 10 ~
serpentinit dan mikrogabro serta basalt. Satuan Endapan permukaan dan Batuan
Sedimen yang tersusun atas endapan alluvium, konglomerat, batupasir, batulanau,
lempung pasiran serta Satuan batuan metamorf yang terdiri dari kuarsit, filit, sekis
mika.

Gambar 2.5. Peta Geologi lokal IUP PT.Tambang Bumi sulawesi.

2.5. Topografi dan Hidrologi


Kecamatan Kabaena Selatan memiliki sungai-sungai yaitu sungai
Ngaruno,Wawodowa dan Lampedonu di Desa pongkalaero,sungai Paumuna di
Desa Puununu dan sungai Lamebora di Desa Batuawu. Permukaan tanah
pegunungan yang relatif rendah ada juga yang bisa digunakan untuk usaha yang
sebagian besar berada pada ketinggian 50-100 meter diatas permukaan laut,
dengan kemiringan tanahnya mencapai 40 - 65 0.

~ 11 ~
2.6 Keadaan Tanah
Kondisi topografi tanah daerah pula kabaena selatan pada umumnya
memiliki permukaan yang bergelombang, dan berbukit-bukit. Diantara gunung
dan bukit-bukit tersebut, terbentang daratan yang merupakan daerah-daerah
potensial untuk pengembangan sector pertanian. Permukaan tanah pegunungan
yang relative sedang ke tinggi juga bisa digunakan untuk usaha yang sebagian
besar berada pada ketinggian 50 - 100 meter di atas permukaan laut,kemiringan
tanah mencapai 40-60.

2.7. Vegetasi
Pulau kabaena khususnya Kabaena Selatan merupakan daratan rendah dan
sebagian besar daerah berbukit hingga pengunungan dengan keadaan tanah
yang sangat subur terutama terletak pada daerah perbukitan dan pesisir pantai
sangat cocok untuk pertanian baik tanaman pangan maupun tanaman
pekerbunan.

2.8. Keadaan Iklim Dan Curah Hujan


Keadaan iklim di wilayah Pulau Kabaena Kabupaten Bombana pada
umumnya sama seperti daerah-daerah lain di Indonesia dimana mempunyai dua
musim,yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi di antara
bulan desember sampai dengan bulan juni. Pada saat tersebut,angin barat
bertiup dari benua Asia serta lautan pasifik banyak mengandung uap air.
Musim kemarau terjadi antara bulan agustus dan november pada
bulan-bulan tersebut angin timur yang bertiup dari benua Australia sifatnya
kering dan kurang mengandung uap air. Khusus untuk bulan april dan juli di
daerah pulau Kabaena Kabupaten Bombana, arah angin tidak menentu,
demikian pula dengan curah hujan, sehingga pada bulan-bulan ini dikenal
sebagai musim pancaroba

~ 12 ~
Tabel 2.1 Tabel Data Curah Hujan Pulau Kabaena Tahun 2015
Bulan CH(mm) HH(hari) CH/hujan
Januari 345,5 18 19,19
Februari 279,2 17 16,42
Maret 177,4 11 16,13
April 107 9 11,89
Mei 147,5 12 12,29
Juni 173,9 12 14,49
Juli 145 8 18,13
Agustus 29,3 3 9,77
September 16,6 2 8,3
Oktober 9,3 3 3,1
November 21,1 3 7,03
Desember 274,4 17 16,14
Sumber : Kantor Tambang PT. Tambang Bumi Sulawesi Desember 2016

2.9. Penambangan Nikel


Metode penambangan yang dilakukan PT. Tambang Bumi Sulawesi sejak
tahun 2013 dilakukan secara tambang terbuka dengan metode open pit cara
penambangan sistem selektif mining, saat ini penambangan difokuskan pada blok
3 Pongkalaero Kec. Kabaena selatan, Kab. Bombana dengan penambangan
menggunakan Excavator PC-330 dimuat ke Dump Truck dan langsung di angkut
ke stockpile. Adapun tahapan kegiatan penambangan :

~ 13 ~
2.9.1. Persiapan Penambangan
Sebagai realisasi dari rencana yang telah di tetapkan, maka sebelum
dilakukan penambangan perlu adanya kegiatan persiapan penambangan. Berikut
tahap-tahap persiapan tersebut antara alain :
1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)
Pembersihan Lahan merupakan proses pembersihan lahan sebelum
aktivitas penambangan dimulai. Kegiatan ini pada umumnya diawali dengan
mepersiapkan lahan yaitu membersihkan pohon-pohon, pembuatan jalan agar
alat-alat mekanis bisa dijangkau menuju ke area tambang dengan
menggunakan bulldozer dan exsavator.
2. Pengupasan Tanah Penutup (Stripping)
Pada kegiatan ini, batuan yang berada diatas cadangan bahan galian
bijih nikel akan dilakukan pengupasan dengan suatu perencanaan berdasarkan
letak pembuangan atau penimbunan sementara overburden Pekerjaan ini
biasanya dilakukan bersama-sama dengan kegiatan land clearing dengan
menggunakan excavator dan bulldozer.

2.9.2. Kegiatan Penambangan


Setelah tahap persiapan penambangan telah selesai dilakukan,
maka kegiatan penambangan material bijih nikel dapat dilakukan dengan
rangkaian-rangkaian kegiatan penambangan adalah sebagai berikut :
1. Penggalian (Digging)
Kegiatan penggalian pasti dilakukan pada hampir semua kegiatan
pertambangan. Salah satu keputusan penting yang perlu dilakukan adalah
pemilihan sistem penggalian yang cocok karena material yang digali sangat
bervariasi.
2. Pemuatan (Loading)

~ 14 ~
Pemuatan adalah merupakan rangkaian kegiatan atau pekerjaan yang
dilakukan untuk memuat material hasil penggalian kedalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan ini dilakukan dengan menggunakan Excavator .

2.10. Landasan Teori


2.10.1. Faktor-faktor Pemilihan Alat Mekanis
Pada proses dan penggunaan alat-alat mekanis sangat bergantung pada
keputusan manajemen yang akan menggunakan alat tersebut. Analisa untuk
dasar pengambilan keputusan dalam penentuan alat-alat mekanis harus
mencakup pada segi teknik dan biaya yang akan digunakan. Hal ini sangat
menentukan dalam pertimbangan pengambilan keputusan pengadaan alat
mekanis, apakah dengan cara membeli alat atau menyewa alat.
Segi teknik dan biaya pengadaan peralatan mekanis secara garis besar
meliputi beberapa hal :
a. Tujuan Dan Sasaran Penggunaan
Tujuan dan sasaran penggunaan alat mekanis dapat mencerminkan jenis
alat yang akan digunakan, sehingga dapat membatasi lingkup pertimbangan
hanya kepada alat yang benar-benar dapat digunakan dan diperkirakan
berdaya guna sesuai dengan tujuan penggunaannya.
b. Data Unjuk Kerja
Data unjuk kerja alat mekanis yang sering digunakan antara lain
berupa data operasi, waktu operasi dan produksi peralatan mekanis dimana
data tersebut bergantung pada jenis pekerjaan dan tujuan penggunaannya.
c. Pendanaan
Pengadaan alat mekanis secara umum dapat diadakan dengan cara membeli
atau menyewa alat. Pembelian dapat dilakukan secara langsung ke pabrik
pembuat atau melalui agen resmi.

~ 15 ~
d. Pemilihan Spesifikasi
Pemilihan spesifikasi merupakan daya guna dari segi ekonomis pada
pelaksanaan pekerjaan yang sebagian besar bergantung dari pemilihan
spesifikasi alat berat secara tepat. Penggunaan alat berat harus
menguntungkan pada biaya perawatan, tetapi tingkat produksi tinggi.
e. Despresiasi
Despresiasi merupakan penurunan atau penyusutan ekonomis dari suatu
alat berat yang dapat dipengaruhi oleh pemakaian alat, kehausan alat dan
usia alat yang digunakan.
f. Perawatan Dan Perbaikan
Perawatan harus meliputi seluruh kegiatan mulai dari perawatan yang sifatnya
pencegahan dari permasalahan kecil sampai yang besar sehingga perlu adanya
program perawatan dan perbaikan secara kontinyu.
g. Penggantian Peralatan
Penggantian peralatan alat berat benar-benar sangat tergantung dari waktu
dan jadwal yang tepat dalam pelaksanaannya. Dimana umur ekonomis alat
sangat dipengaruhi oleh jenis, model, merek, cara penggunaan, keterempilan
operator dan mekanik alat.
h. Penyediaan Suku Cadang
Penyediaan suku cadang dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan
pelaksanaan perawatan dan perbaikan, sehingga kegiatan produksi tidak
tergangu.
Dari data tersebut di atas maka dipilih atau digunakan alat-alat produksi
yang sesuai pada front penambangan, dilihat dari type, ukuran dan
kemampuan produksinya yang sesuai dengan kondisi endapan dan medan .

2.10.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Mekanis


A. Faktor Pengembangan (Swell faktor)

~ 16 ~
Swell faktor adalah faktor pengembangan volume material dari volume asli
yang dapat mengakibatkan bertambahnya jumlah material yang harus di
pindahkan dari kedudukan aslinya. Ketika digali,material akan terlepas dan
terberai sedemikian rupa dan tidak akan kembali ke bentuk rongga-rongga
udara atau voids di antara partikel-partikel material lepas tersebut. Besarnya
perubahan volume sebelum dan sesudah digali ini disebut dengan faktor
pengembangan. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

Swell Factor = x 100% ................(2.1)

Dimana : SF = Sweel faktor


Vi = Volume insitu
VI = Volume loose

B. Faktor Pengisian (Fill Factor).


Faktor pengisian merupakan perbandingan antara kapasitas nyata
suatu alat dengan kapasitas teoritis alat tersebut. Besarnya faktor pengisian
suatu alat muat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran butir
material, kondisi material dan jumlah stock material yang sedang dikerjakan
(angle of refuse), keterampilan dan pengalaman operator. Jika dilakukan
perhitungan langsung di lapangan, maka faktor pengisian alat muat dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

~ 17 ~
Gambar 2.6 Cara Penentuan Fill Faktor

Kapasitas teoritis
Fill Factor x 100% .....(2.2)
Kapasitas nyata

Cara penentuan fill faktor dari bucket alat muat, yaitu dengan pengamatan
dan perbandingan langsung pada saat pemuatan di lapangan. Dimana terlihat
adanya variasi pengisian bucket alat muat baik pada material yang sama
maupun pada material yang berbeda.

C. Effesiensi Kerja Alat Mekanis

Effisiensi Kerja adalah perbandingan antara waktu kerja efektif yang


digunakan untuk berproduksi dengan waktu kerja yang tersedia dalam satuan
waktu tertentu. Hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
besar kecilnya produksi alat, semakin banyak waktu yang efektif digunakan
oleh alat untuk beroperasi maka semakin basar produksi yang dapat dicapai.
Dalam perhitungan effisiensi kerja ada beberapa komponen waktu yang dapat
diperhatikan antara lain :

~ 18 ~
1. Waktu Kerja (W) yaitu waktu yang digunakan alat untuk berproduksi sampai
akhir operasi. Dalam waktu produktif terdapat beberapa variabel waktu
meliputi :
a. Waktu Efektif (We) yaitu waktu yang benar-benar digunakan oleh alat
untuk berproduksi secara efektif.
Alat muat contohnya : menggali - isi bucket, swing isi, dumping,
swing kosong.
Alat angkut contohnya : Manuver kosong, waktu pengisian, waktu
angkut, manuver isi waktu menumpah, kembali kosong.
b. Waktu Delay (Wd) yaitu waktu yang terjadi akibat adanya hambatan-
hambatan seperti melumasi kendaraan, mengisi bahan bakar dan pelumas,
membersihkan bagian-bagian terpenting setelah sekian lama beroperasi,
memindahkan ketempat lain, dan menunggu perbaikan jalan produksi.
2. Waktu Repair (R) yaitu waktu kerja yang tidak digunakan karena perbaikan
alat pada saat jam operasi berlangsung
3. Waktu Standby (S) yaitu jam yang tidak dipakai padahal alat tidak rusak
sedang tambang dalam keadaan beroperasi.
Secara umum, untuk menentukan effisiensi kerja alat dapat di gunakan
persamaan :


Effisiensi Kerja = x 100 % .............................................(2.3)

Dimana : Ek = Effisiensi Kerja


We = Waktu efektif
Wt = Waktu kerja tersedia

~ 19 ~
D. Waktu Edar (Cycle Time)

Waktu Edar merupakan kemampuan suatu alat dalam melakukan satu kali
daur produksi. Waktu edar alat muat dan alat angkut sangat berpengaruh
terhadap kemampuan produksi alat tersebut, dimana jika waktu edar dari
masing-masing alat besar maka kemampuan produksinya akan semakin kecil.
Waktu edar dapat dipengaruhi oleh kondisi jalan, jarak, kondisi mekanis suatu
alat, skil operator, dll.

E. Keadaan Jalan Angkut


Keadaan jalan angkut sangat menunjang dalam bekerjanya alat-alat
mekanis. Pembuatan jalan angkut ini disesuaikan dengan lebar alat angkut
atau alat mekanis lainnya. Konstruksi jalan angkut pada daerah kegiatan
penambangan tersebut sudah bagus karena sudah dipadatkan. Lebar jalan di
daerah penelitian dapat dilalui dengan dua kendaraan secara berpapasan.

F. Pengaruh Cuaca
Dalam keadaan panas dan berdebu sangat mengganggu kerja operator,
sehingga mengurangi kelincahan gerak peralatan, begitu pula dalam musim
hujan, kondisi tempat kerja dan jalan angkut yang tidak diperkeras akan
menjadi licin, sehingga peralatan mekanis yang digunakan tidak dapat
bekerja dengan maksimal.
G. Jenis Material
Jenis material mempengaruhi kemampuan produksi alat mekanis. Semakin
kompak material semakin sukar untuk digali, sehingga waktu siklus makin
tinggi. Juga material yang dalam keadaan basah dan lengket membutuhkan
waktu dumping yang lama.

~ 20 ~
2.10.3 Kemampuan Produksi Alat Mekanis

Penggunaan alat-alat mekanis pada setiap tahap kegiatan memerlukan


pertimbangan yang matang, oleh karena kemampuan produksi pada setiap tahap
akan mempengaruhi tahap kegiatan selanjutnya, bahkan seluruh rangkaian
kegiatan penambangan. Begitu juga dengan pemilihan jenis dan kapastitas
produksi alat yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan target produksi
yang ingin dicapai.
2.10.3.1. Kemampuan Produksi Alat Muat
Produksi alat muat pada pemuatan material ke atas alat angkut
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keseragaman ukuran butir
material yang akan dimuat, kemampuan operator, ketersediaan stock material
yang akan dimuat (hasil pembongkaran). Faktor-faktor ini secara langsung
mempengaruhi waktu edar alat muat dalam melakukan satu siklus pemuatan
dan juga jumlah material yang terambil ke dalam bucket alat muat.
Sehingga untuk memperoleh jumlah material yang dihasilkan perlu
dikoreksi dengan memperhitungkan jumlah faktor pengisian untuk tiap kali
melakukan pengisian bucket. Untuk menghitung kemampuan produksi alat
muat tersebut digunakan rumus sebagai berikut :
Kb x sf x ff x eff x 3600 detik/jam
PE = ...................................(2.4)
CT (detik)

Dimana :
PE = Produksi Alat Muat (m/jam)
Eff = Effisiensi kerja ( % )
Kb = Kapasitas Bucket ( m3 )
Sf = Swell Faktor (%)
Ff = Fill Faktor (%)
CT = Cycle Time (Detik)

~ 21 ~
2.10.3.2. Kemampuan Produksi Alat Angkut
Produksi pada pengangkutan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain :
1. Pada saat pengisian material ke alat angkut akan terjadi pertambahan
volume material.
2. Keadaan jalan pengangkutan.
3. Kemampuan operator dan jumlah alat angkut yang digunakan.

Untuk menghitung jumlah produksi pengangkutan material dengan


menggunakan alat angkut dump truck digunakan rumus sebagai berikut :
Kb x sf x ff x n x eff x 3600 detik/jam
PD = ...............................(2.5)
CT (detik)

Dimana :
PD = Produksi dump truck (m/jam)
Eff = Effisiensi kerja ( % )
n = jumlah pengisian
Kb = Kapasitas Bak ( m3 )
Sf = Swell Faktor (%)
Ff = Fill Faktor (%)
CT = Cycle Time (Detik)

2.10.4. Kebutuhan Alat Muat Dan Alat Angkut


Penentuan jumlah alat mekanis berkaitan erat dengan target
produksi yang ingin diraih perusahaan. Bila target produksi tinggi maka jumlah
alat yang dibutuhkan lebih besar pula. Demikian pula sebaliknya, jika target
produksi rendah maka jumlah alat yang dibutuhkan lebih kecil.
Dari hasil perhitungan kemampuan produksi alat mekanis maka jumlah alat
yang dibutuhkan dalam pencapaian target produksi dapat ditentukan. Persamaan

~ 22 ~
yang digunakan untuk menghitung berapa jumlah alat mekanis yang dibutuhkan
untuk mencapai target produksi yaitu :
Target produksi /hari
Jumlah alat mekanis = ......................(2.6)
Target produksi alat/hari

2.10.5. Kajian Ekonomis


2.10.5.1. Alternatif Beli Alat Baru
A. Investasi Alat
Investasi alat ialah biaya yang harus dikeluarkan guna melaksanakan
kegiatan penambangan Nikel, besarnya biaya investasi alat berdasarkan harga
di tempat yang telah ditetapkan.
B. Nilai sisa peralatan
Nilai sisa peralatan adalah nilai sisa peralatan bekas pakai, dimana
umur ekonomisnya sudah habis. Secara umum bahwa nilai sisa peralatan
dihargai 10% dari harga barunya. Berikut cara menghitung nilai sisa alat:

Nilai sisa = 10% x harga alat ................................................(2.7)


C. Perhitungan Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi
1. Biaya Kepemilikan
Biaya kepemilikan adalah biaya dari pembelian alat yang seharusnya
diterima kembali dan dihitung perjam serta dihitung selama umur
ekomonisnya. Pemilihan suatu alat bukan hanya didasarkan atas besarnya
produksi atau kapasitas dari alat tersebut, tetapi didasarkan juga besar
kecilnya biaya operasi yang akan dikeluarkan tiap jamnya. Oleh karena itu
harus diketahui untuk memperkirakan biaya operasi dari semua alat yang
digunakan. Ongkos-ongkos yang perlu dipergunakan sebagai berikut :

~ 23 ~
Biaya-biaya yang diperhitungkan untuk memperoleh biaya suatu alat yaitu:
Penyusutan Peralatan (Depresiasi)
Penyusutan peralatan (depresiasi) merupakan investasi pada setiap
periode baik bulan, tahun dan selama umur ekomonisnya, dengan kata lain
harus disisipkan guna memperoleh barang yang sama bila umur
ekomonisnya habis. Perhitungan biaya penyusutan menggunakan metode
garis lurus (straight line) dengan cara mengurangi harga alat ditempat
dengan nilai sisa peralatan dibagi umur ekonomisnya.
Harga alat di tempat nilai sisa alat
Biaya penyusutan = .......(2.8)
Umur alat (jam)

Bunga , pajak, asuransi dan sewa diambil 10% (bunga 5%, pajak 2%, dan
asuransi 3%) dari penanaman modal tahunan yang dapat dihitung dengan
persamaan :
(1+n)x100%
Modal tahunan = ...........................................(2.9)
2(n)

= n adalah umur alat

Sehingga biaya total untuk bunga, pajak dan lain-lain :

10% x penanaman modal tahunan x harga alat


= .................(2.10)
Umur ekonomis alat (jam)

Jadi total biaya kepemilikan = Despresiasi + Bunga, Pajak, dan Biaya


gudang.

2. Biaya Operasi
Didalam memperkirakan biaya operasi setiap tahunannya dilakukan
perhitungan secara estimasi yang disesuaikan dengan data ketetapan dari
perusahaan yang merupakan hasil penelitian sebelumnya dan dianggap
konstan pada kondisi normal.

~ 24 ~
Biaya operasi alat adalah biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan
pengoperasian yang terdiri dari :
Untuk pembelian bahan bakar
Untuk pembelian pelumas mesin dan hydrolik
Untuk pembelian grease
Untuk pembelian filter, terdiri dari :
Oli filter
Engine filter
Hydrolik filter
Transmisi filter
Air cleare
Untuk pembelian ban Dump truck
Untuk pembelian suku cadang khusus
Untuk upah operator, safety dan pakaian.

2.10.5.2 Alternatif Sewa Alat


A. Sewa Alat
Pembatasan sumber finansial yang ada di dalam pemanfaatannya
adalah sangat penting. Ini dilakukan untuk mencari cara mendapatkan
penyelesaian yang terbaik pada masalah-masalah dengan memilih dari
sekian alternatif yang ada untuk memperoleh keuntungan semaksimal
mungkin dengan pengeluaran biaya kecil. Dalam hal ini penyewaan alat-
alat perlu dipertimbangkan dalam usaha mencapai dan meningkatkan target
produksi yang telah ditetapkan pertahunnya dengan memperhitungkan dan
mempertimbangkan biaya-biaya operasi alat sewa yang akan dikeluarkan.
Untuk itu, perlu diketahui harga sewa alat dari pihak yang menyewakan.
B. Perhitungan Biaya Operasi
Pihak penyewa alat yang ditanggung hanya biaya sewa alat. Biaya
operasi dan lain-lainnya ditanggung oleh pihak yang menyewakan.

~ 25 ~
2.10.5.3. Analisis Pemilihan Alternatif
Kegiatan investasi merupakan kegiatan penting yang memerlukan
biaya besar dan berdampak jangka panjang terhadap kelayakan usaha. Oleh
karena itu analisis yang sistematis dan rasional sangat dibutuhkan sebelum
kegiatan direalisasi.
Sebelum keputusan diambil hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Apakah investasi tersebut akan memberikan manfaat ekonomis terhadap
perusahaan.
2. Apakah investasi tersebut merupakan pilihan yang optimal dari berbagai
kemungkinan yang ada.
Untuk mengambil keputusan diperlukan analisis evaluasi investasi yang
bisa menjelaskan apakah investasi tersebut menjanjikan suatu keuntungan
dalam jangka panjang atau tidak. Untuk menjelaskan apakah pilihan yang
diambil sudah merupakan pilihan yang terbaik dari alternatif yang tersedia
perlu dilakukan analisis pemilihan alternatif.
Suatu investasi merupakan kegiatan menanamkan modal jangka
panjang, dimana selain investasi awal dan akan diikuti sejumlah pengeluaran
yang secara periodik perlu disiapkan. Pengeluaran tersebut terdiri dari biaya
operasional (operational cost), biaya perawatan (maintenance cost) dan
biaya-biaya lain yang tidak dapat dihindari. Disamping pengeluaran investasi
akan menghasilkan keuntungan atau manfaat mungkin dalam bentuk
penjualan produk atau jasa atau penyewaan fasilitas sehingga kegiatan
investasi akan menghasilkan komponen cash flow.

2.10.5.4. Analisa Beli Dan Sewa Alat

Dalam memilih alternatif investasi alat baru atau menyewa alat, tidak
terlepas dari pertimbangan biaya yang dikeluarkan, disamping itu juga perlu
diperhatikan mengenai umur tambang, dimana umur tambang yang singkat
sebaiknya menyewa alat, tetapi jika umur tambangnya cukup lama perlu

~ 26 ~
diadakan kajian ekonomis, apakah diperlukan penyewaan alat atau membeli
alat.
Pada penelitian ini memilih alternatif apakah membeli atau sewa alat
yang lebih efektif digunakan pada penambangan Nikel.Dengan menggunakan
analisa ekonomi Present Worth Cost (PWC) dan Future Worth Cost (FWC)
ditinjau dari biaya terkecil yang akan dikeluarkan.
Berikut ini adalah rumus dasar yang berkaitan dengan penentuan nilai
Present Worth dan Future Worth, yaitu :
a) Singel Payment Present Worth Factor (mencari nilai sekarang
berdasarkan nilai yang akan datang)
P = F (P/F. i.n)

P = F(P/F.i.n) F
.........................(2.11)
0 1 2 .... ....
n...

b) Single Payment Compound-Amount Factor (mencari nilai yang akan


datang F berdasarkan nilai sekarang)

F = P(F/P.i.n)
F =
F
P(F/P.i.n).......(2.12)
0 1 2 .... ....
n....

~ 27 ~
~ 28 ~