Anda di halaman 1dari 148

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT


PADA PASIEN PASCA BEDAH SESAR
DI BANGSAL BAKUNG TIMUR RUMAH SAKIT SANGLAH DENPASAR
PERIODE FEBRUARI 2007

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi

Oleh :

Ni Komang Trisna Dewi


NIM : 038114051

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Cinta membuat kita bersayap dan membuat tubuh menjadi lebih


ringan, sehingga memungkinkan kita untuk mencapai
tempat-tempat yang lebih tinggi (Gede Prama).

Doa-doa tanpa ketulusan adalah surat-surat tanpa perangko


Doa-doa tanpa bakti dan cinta kasih adalah surat-surat tanpa alamat
Doa-doa dengan ketulusan, bhakti, cinta kasih dan kerinduan seperti
telegram (Satya Narayana Swami).

Pengetahuan yang sejati berkembang dari sifat kebaikan,


Loba berkembang dari sifat nafsu dan kegiatan yang bukan-bukan,
Sifat gila dan khayalan berkembang dari sifat kebodohan
(Bhagavad gita, sloka 14.17)

I dedicated this to:


Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala kehidupan, berkah, perlindungan,
tuntunan dan kasih sayangNya.
Ayahanda I Wayan Menyan & Ibunda Ni Nyoman Jelih atas semua kasih sayang,
doa, pendidikan, perjuangan dan pengorbanannya.

MY ALMAMATER

iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

INTISARI

Bedah sesar (section caesarea) adalah sayatan melalui dinding abdomen


dan uterus untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi penggunaan obat pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal
Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007.
Pasien terbanyak pada usia 30-34 tahun (44,5%), dengan indikasi
terbanyak ketuban pecah dini (37%). Tingkat pendidikan pasien terutama lulusan
SLTA (55,6%) dengan jenis pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga
(44,5%). Pasien sebagian besar (92,6%) dirawat di Bangsal kelas III.
Golongan obat yang paling banyak diberikan adalah golongan antibakteri,
oksitoksik, analgesik non opioid antiinflamasi non steroid, serta obat yang
mempengaruhi darah dan gizi masing-masing sebanyak 100%. Jenis obat yang
paling banyak diberikan adalah amoksisilin, metilergometrin, dan asam
mefenamat masing-masing sebanyak 100%.
Jumlah kasus drug related problems (DRPs), yaitu: dosage too low
sebanyak 17 kasus. Pasien menjalani rawat inap selama 3-6 hari. Semua pasien
pulang dengan kondisi klinis yang membaik.

Kata kunci: bedah sesar, obat, drug related problems (DRPs)

vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACT

Section caesarea is a surgery through abdomen wall and uterus to give


birth an infant from the womb. This research was aimed to evaluate the use of
drugs to the patients of post section caesarea in East Bakung Ward Sanglah
Hospital Denpasar in the period of February 2007.
The most patients are at the age of 30-34 years old (44,5%), with the most
indication of early fetal membrane hatched out (37%). Patients educational status
are Senior High School (55,6%) with the most profession as the wife
house(44,5%). Most of the patients (92,6%) are hospitalized in the third class
ward.
The most given drugs types are antibacterial type, oksitoksic, analgetic
non opioid antiinflamasi non steroid, and also drugs which can affect blood and
nutrition each is 100%. The drugs types that mostly given are amoxicillin,
methylergometrin, and mefenamic acid each is 100%.
Number of drug related problems (DRPs) cases, i.e. dosage too low is 17
cases and dosage too high 1 cases. The patients are hospitalized for about 3-6
days. All of the patients are home with a better clinic condition.

Keywords: section caesarea, drugs, drug related problems (DRPs)

vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

Dengan penuh rasa syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,

karena hanya dengan rahmat serta kehendaknya penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi yang berjudul Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Pasca

Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar

Periode Februari 2007.

Penulisan skripasi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar sarjana farmasi pada program studi Ilmu Farmasi, Jurusan

Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari, bahwa penulisan skripsi ini bukanlah sesuatu hal yang

mudah, hanya dengan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penulis mampu

menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Direktur Rumah Sakit Sanglah Denpasar yang telah memberikan ijin bagi

penulis untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

2. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah

memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian ini, serta selaku

dosen pembimbing yang telah memberikan petunjuk, saran, semangat dan

masukan yang berharga dalam proses penyusunan skripsi ini.

3. dr. Luciana Kuswibawati, M.Kes. selaku dosen penguji yang telah

memberikan saran dan masukan yang berharga dalam proses penyusunan

skripsi ini.

viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Aris Widayati, M.Si., Apt. atas kesediaan menguji serta memberikan saran dan

masukan yang berharga dalam proses penyusunan skripsi ini.

5. Staf, karyawan di Diklat, Litbang dan Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar atas bantuan, saran dan waktu yang diberikan selama

penulis melakukan pengambilan data untuk penelitian.

6. Ayahanda I Wayan Menyan, Ibunda Ni Nyoman Jelih, dan Nenek Metua

Tubreg yang telah membesarkan dan mendidik penulis, selalu memberikan

semangat, kasih sayang, pengorbanan serta doa yang tulus untuk kesuksesan

penulis. I Love My Family.

7. My Brothers and my sisters: I Putu Karyana, I Kadek Artana, Mbok Tut Sukri

dan Mbak Rina yang selalu memberikan semangat, kasih sayang dan doanya

untuk penulis.

8. Kepit, Dek Iting, Mank Divi dan Tata yang selalu menghadirkan keceriaan di

hati penulis.

9. Ely atas semua cinta, sayang, semangat, doa, keceriaan dan kesabarannya pada

penulis. I Love U.

10. Mbok Ade Sri sekeluarga, Mbok Kar, Bli Tut De, Bli Made Danya, Iwe Suar

dan Iwe Car atas semua nasihat dan semangat yang diberikan pada penulis.

11. Ibu Putu Aryani dan Bapak, atas semua bantuan, bimbingan dan semangat

yang diberikan pada penulis. Yandi sekeluarga atas kesetiaannya menemani

penulis selama satu bulan dalam pengambilan data penelitian.

12. Devi, Titien, Ocha, Ratna, Timur, Simon, Madya, Mega and Juleha atas

kebersamaan dan kekompakkannya selama ini. Devi and Titien terima kasih

ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

pinjaman bukunya. Temen-temen kelompok praktikum C atas kebersamaan

dalam suka dan duka melewati praktikum.

13. Kamizo terima kasih atas doa dan semangatnya untuk penulis. Dek Sanjaya,

Oming and Adi yang selalu menghibur lewat sms saat penulis lagi stres dan

jenuh.

14. Oe2s, Meta, Vi2, Mbak Wiwit yang selalu menghibur, memberi semangat,

membantu dan menemani penulis.

15. Santra, Sukerta, Kawi, Bli Ngurah and Dode atas kebersamaan dan

bantuannya selama ini. Vina, Suster Fidelis, Rani, Puguh, Fajar, Gayung and

Printa buat semua bantuan dan kebersamaannya selama KKN, terima kasih

buat keceriaannya.

16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Skripsi ini jauh dari sempurna karena keterbatasan pikiran, waktu dan tenaga.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun,

agar skripsi ini lebih mendekati sempurna. Akhir kata, semoga skripsi ini

bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 1 Agustus 2007

Penulis

x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .. ii

HALAMAN PENGESAHAN .. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

INTISARI . vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR . viii

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN xviii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang . 1

1. Rumusan masalah .. 4

2. Keaslian penelitian . 5

3. Manfaat penelitian . 5

B. Tujuan Penelitian . 6

1. Tujuan umum 6

2. Tujuan khusus ... 6

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

A. Fisiologi Kehamilan 7

xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Bedah Sesar .. 8

1. Istilah-istilah dalam bedah sesar 9

2. Jenis-jenis operasi bedah sesar .. 10

3. Indikasi-indikasi bedah sesar 11

C. Komplikasi-komplikasi Bedah Sesar dan Terapinya .. 13

1. Infeksi 13

a) Definisi ... 13

b) Penyebab 14

c) Terapi . 14

d) Penggolongan antibiotika ...... 15

2. Nyeri .. 27

a) Definisi 27

b) Penyebab 27

c) Terapi . 29

d) Penggolongan analgesik 29

3. Anemia .. 31

a) Definisi .. 31

b) Penyebab 31

c) Terapi . 31

d) Penggolongan vitamin 32

4. Komplikasi-komplikasi Lain Bedah Sesar dan Terapinya . 33

a) Oksitosin . 33

b) Cairan Elektrolit .. 35

xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Penggunaan Obat yang Rasional . 37

E. Drug Related Problems (DRPs) .. 38

F. Keterangan Empiris . 40

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian .. 41

B. Definisi Operasional 41

C. Subyek Penelitian 43

D. Bahan Penelitian dan Lokasi Penelitian .. 43

E. Jalannya Penelitian ... 43

1. Analisis situasi dan penentuan masalah . 43

2. Tahap penelusuran data . 44

3. Tahap pengambilan data 44

4. Tahap analisis data . 45

F. Tata Cara Analisis Data . 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pasien Bedah Sesar .. 48

B. Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Bedah Sesar 53

1. Kelas Terapi . 53

2. Jenis Obat . 53

a. Antiinfeksi 53

b. Obat Obstetrik dan Ginekologi . 58

c. Analgesik .. 61

d. Obat yang mempengaruhi gizi dan darah .. 62

xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

e. Cairan Elektrolit dan Tranfusi Darah . 65

f. Obat lain . 68

C. Drug Related Problems (DPRs) . 69

D. Kondisi Pasien dan Lama Rawat Inap ... 71

E. Rangkuman Pembahasan 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan . 77

B. Saran 78

DAFTAR PUSTAKA ..... 79

LAMPIRAN .... 82

BIOGRAFI .. 130

xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel I Usia pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur RS

Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 .. 48

Tabel II Pasien dengan satu indikasi bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 . 49

Tabel III Pasien dengan lebih dari satu indikasi bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 49

Tabel IV Data tingkat pendidikan pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 .... 51

Tabel V Pekerjaan pasien bedah sesar yang dirawat di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007... 52

Tabel VI Data kelas bangsal pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 .. 52

Tabel VII Kelas terapi pada pasien bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 .. 53

Tabel VIII Antiinfeksi yang diterima pasien bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 57

Tabel IX Obat Obstetrik dan Ginekologi yang diterima pasien bedah

sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode

Februari 2007 59

Tabel X Analgesik yang diterima pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari

2007 62

xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel XI Obat yang mempengaruhi gizi dan darah yang diterima pasien

pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah

Denpasar Periode Februari 2007 . 65

Tabel XII Cairan elektrolit yang diterima pasien bedah

sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode

Februari 2007 .. 67

Tabel XIII Golongan dan jenis obat lain yang diterima pasien bedah

sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode

Februari 2007 . 69

Tabel XIV Drug Related Problems (DRPs) . 70

Tabel XV Kondisi pasien pasca bedah sesar saat pulang dari Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 71

Tabel XVI Lama rawat inap pasien bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 . 72

xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Anatomi pada wanita 7

Gambar 2 Anatomi organ reproduksi dalam pada wanita . 7

xvii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data rekam medis pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari

2007.. 82

Lampiran 2 Penggolongan obat pasien bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari

2007 . 120

Lampiran 3 Komposisi Obat Brand Name yang Diterima Pasien


Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah
Denpasar Periode Februari 2007.. 130

xviii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bedah sesar (section caesarea) akhir-akhir ini sangat marak dilakukan

oleh wanita yang akan melahirkan. Sebagian besar dari mereka beranggapan,

bahwa vagina mereka akan molor ketika melahirkan secara normal. Akibatnya,

berkembanglah mitos bahwa vagina yang molor akan membuat hubungan kelamin

menjadi tidak nikmat, sehingga menyebabkan suami mereka akan berpaling ke

pelukan wanita lain. Tindak lanjutnya, sebagian wanita muda atau calon ibu yang

mewarisi perspektif ini akan memilih bedah sesar untuk menyelamatkan elastisitas

alat vitalnya itu. Tindakan yang diyakini sebagai langkah penyelamatan ini

sebenarnya justru lebih berisiko daripada persalinan normal melalui vagina.

Risiko yang sering muncul pada kasus bedah sesar adalah risiko infeksi dan

pendarahan. Dari data statistik disebutkan insidennya mencapai 10% (Abu Bakar,

2002).

Seiring dengan perkembangan informasi di bidang kesehatan, akses untuk

mendapatkan infomasi, berita, laporan, penemuan, tinjauan ilmiah dari berbagai

topik terutama mengenai bedah sesar banyak dijumpai di internet. Akibat dari

banyaknya informasi yang ada, maka munculah konsep baru yang lahir di seputar

bedah sesar. Terbukanya sumber informasi dalam tahun-tahun terakhir ini,

menyebabkan kaum wanita di Amerika Serikat (AS) menjadi semakin sadar,

semakin paham akan bahaya dan risiko dari tindakan bedah sesar, sehingga

insidennya pun menjadi berkurang di AS (21%). Di Indonesia angka ini justru


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

meluncur ke atas. Data rumah sakit swasta dari kota-kota besar di Indonesia

menunjukkan kekerapannya berkisar antara 30-80%. Hal ini disebabkan sumber

informasi di negeri kita belum terbuka lebar, jumlah penduduk kita yang mampu

mengakses informasi yang bertebaran di internet sangat kecil dan diperkuat juga

oleh minat baca bangsa kita yang sangat rendah (Abu Bakar, 2002). Akan tetapi

dilain pihak, perluasan indikasi untuk melakukan bedah sesar dan kemajuan dalam

teknik operasi dan anestesi serta obat-obat menyebabkan angka kejadian bedah

sesar dari periode ke periode meningkat (Mochtar, 1998).

Bedah sesar adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan

pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Mochtar, 1998).

Bedah sesar bertujuan untuk menjamin turunnya tingkat morbiditas dan mortalitas

sehingga sumber daya manusia dapat ditingkatkan dan untuk mengeluarkan janin

dari dalam rahim pada ibu-ibu yang meninggal. Dulu angka morbiditas dan

mortalitas untuk ibu dan janin sangat tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena

kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah,

indikasi dan obat-obatan angka tersebut menjadi sangat menurun (Mochtar, 1998).

Di Indonesia pada saat ini belum ada angka nasional yang tepat tentang

kematian maternal dan perinatal, baik untuk suatu daerah, wilayah dan secara

nasional. Hal ini disebabkan belum adanya sistem pencatatan, pelaporan dan

pendaftaran wajib bagi kelahiran dan kematian. Secara umum, angka kematian

maternal dari rumah-rumah sakit di Indonesia berkisar antara 51,6 sampai 206,3

per 10.000 persalinan, sedangkan angka kematian perinatal berkisar antara 77,3

sampai 142,2 per 1000. Bila dibandingkan dengan negara-negara maju, angka
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kematian maternal di Indonesia masih cukup tinggi. Di negara maju angka

kematian maternal berkisar antara 1,5-3,0 per kelahiran hidup, sedangkan angka

kematian perinatal berkisar antara 13,0 sampai 30,0 per 1000 kelahiran. Tingginya

angka kematian maternal dan perinatal di Indonesia ditemukan pada rumah-rumah

sakit yang menerima banyak kasus patologik dengan penderita sering kali dalam

keadaan buruk (Mochtar,1998).

Dalam suatu proses bedah sesar, kemungkinan terjadinya suatu infeksi

sangat besar, hal ini disebabkan adanya pembukaan jaringan tubuh sehingga

mempermudah mikroorganisme untuk masuk ke tubuh pasien. Infeksi adalah

proses masuknya mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, mikroplasma dan

protozoa ke dalam tubuh manusia. Untuk mencegah dan mengobati infeksi maka

pasien memerlukan terapi antiinfeksi, salah satunya adalah antibiotika.

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang

mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam

organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Anonim, 2006b). Prinsip

penggunaan antibiotika didasarkan pada dua pertimbangan utama, yaitu penyebab

infeksi dan faktor pasien (Anonim, 2000a).

Keluhan yang secara umum dirasakan oleh pasien pasca bedah salah

satunya adalah timbulnya rasa nyeri di daerah bekas sayatan operasi. Rasa nyeri

hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya

gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.

Untuk menghilangkan rasa nyeri biasanya digunakan suatu analgesik. Analgesik

adalah obat untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kesadaran (Anief, 2003). Obat-obatan yang diberikan untuk pasien bedah sesar

kemungkinan dapat mengalami Drugs Related Problems (DRPs), dan seiring

dengan adanya peningkatan kejadian bedah sesar yang terjadi di Indonesia,

membuat peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai evaluasi

penggunaan obat pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah

Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007. Rumah Sakit Sanglah Denpasar

merupakan rumah sakit rujukan di propinsi Bali.

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut:

1. seperti apakah karakteristik pasien pasca bedah sesar yang meliputi: usia

pasien, indikasi, tingkat pendidikan pasien, jenis pekerjaan pasien, dan kelas

bangsal pasien di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar

periode Februari 2007?

2. seperti apakah pola peresepan obat yang terkait dengan golongan dan jenis

obat yang digunakan dalam pengobatan pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007?

3. apakah pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar periode Februari 2007 terjadi Drugs Related Problems

(DRPs) yang terkait dengan penggunaan obat?


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. seperti apakah dampak yang terjadi pada pasien pasca bedah sesar yang

berhubungan dengan penggunaan obat, yang meliputi: sembuh, meninggal,

dan lama rawat inap di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar periode Februari 2007?

2. Keaslian penelitian

Penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya adalah mengenai

Gambaran Peresepan Obat pada Pasien Pasca Bedah Sesar di Instalasi Rawat

Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari Juni 2002 yang

dilakukan oleh Wikaningtyas (2004).

Sejauh yang penulis ketahui penelitian mengenai Evaluasi Penggunaan

Obat pada Pasien Pasca Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar Periode Februari 2007 belum pernah dilakukan. Penelitian ini

berbeda dari penelitian Wikaningtyas (2004) yang bersifat retrospektif.

Perbedaannya terletak pada metode pengambilan data yang bersifat prospektif,

lokasi penelitian, periode penelitian dan pada penelitian Wikaningtyas tidak

terdapat analisis drug related problems.

3. Manfaat penelitian

Manfaat teoritis penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai sumber

informasi bagi Rumah Sakit Sanglah Denpasar, terutama di Bangsal Bakung

Timur mengenai penggunaan obat pada pasien pasca bedah sesar. Manfaat praktis

penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai pendukung proses terapi

pada pasien pasca bedah sesar oleh dokter maupun pelaksanaan praktek
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

farmasi klinik oleh farmasis di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan pengobatan bagi pasien

pasca bedah sesar.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan obat

pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar periode Februari 2007. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini, antara

lain untuk mengetahui:

1. karakteristik pasien pasca bedah sesar yang meliputi: usia pasien, indikasi,

tingkat pendidikan pasien, jenis pekerjaan pasien, dan kelas bangsal pasien

di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari

2007.

2. pola peresepan obat yang terkait dengan golongan dan jenis obat yang

digunakan dalam pengobatan pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007.

3. drugs related problems (DRPs) yang terkait dengan penggunaan obat.yang

terjadi pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar periode Februari 2007.

4. dampak yang terjadi pada pasien pasca bedah sesar yang berhubungan

dengan penggunaan obat, yang meliputi: sembuh, meninggal, dan lama

rawat inap di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar

periode Februari 2007.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Fisiologi Kehamilan

Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio atau

fetus di dalam tubuhnya (Anonim, 2007a). Kehamilan terjadi karena adanya

proses ovulasi sel telur ke dalam tuba fallopi, dimana jika sel telur tersebut

dibuahi oleh sperma, sel telur akan melakukan implantasi pada dinding uterus dan

berkembang menjadi sebuah proses kehamilan. Jika pembuahan tidak terjadi di

tuba fallopi, maka dapat terjadi kehamilan entopik, dimana kehamilan tidak terjadi

di rahim, tapi terjadi di bibir rahim atau bahkan di ovarium (Anonim, 2007b).

Gambar 1. Anatomi pada wanita Gambar 2. Anatomi organ


reproduksi dalam pada wanita
(Anonim, 2007b). (Anonim, 2007b)

Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi

terakhir dan kelahiran yaitu 38 minggu dari pembuahan. Istilah medis untuk

wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

pada minggu-minggu awal kehamilan dan kemudian menjadi janin sampai masa

kelahiran. Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primigravida

atau gravida 1 (G1), sedangkan wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai

gravida 0 (G0) (Anonim, 2007a). Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang

dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dikenal dengan istilah

partus (P).

Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280

hari atau 40 minggu, dan tidak lebih dari 300 hari atau 43 minggu. Kehamilan 40

minggu disebut kehamilan matur atau cukup bulan, kehamilan lebih dari 43

minggu disebut kehamilan postmatur, sedangkan kehamilan antara 28-36 minggu

disebut kehamilan prematur. Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi

dalam tiga bagian, yaitu kehamilan triwulan pertama yaitu antara 0 sampai 12

minggu, kehamilan triwulan kedua antara 12-28 minggu, dan kehamilan triwulan

terakhir antara 28 sampai 40 minggu (Wiknjosastro, 1991).

B. Bedah Sesar

Istilah bedah sesar (section caesarea) berasal dari perkataan latin caedere

yang artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law (Lex

Regia) dan Emperors Law (Lex Caesarea) yaitu undang-undang yang

menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus

dikeluarkan dari dalam rahim (Mochtar, 1998).

Tindakan bedah sesar pertama kali dilakukan untuk menolong kelahiran

Julius Caesar yaitu kaisar Roma pada tahun 700 sebelum masehi. Namun, dalam

sejarah kedokteran, bedah sesar baru disebut sebagai cara melahirkan bayi setelah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

tahun 1974, yaitu ketika seorang dokter di Virginia Amerika Serikat melakukan

operasi pada istrinya (Kasdu, 2003). Bedah sesar adalah suatu cara melahirkan

janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut

atau vagina; atau bedah sesar adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin

dari dalam rahim (Mochtar, 1998). Persalinan bedah sesar adalah persalinan

melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat

janin >1,000 gram atau umur kehamilan >28 minggu (Manuaba, 1999).

Secara umum bedah sesar adalah sayatan melalui dinding abdomen dan

uterus untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Tujuan bedah sesar adalah untuk

menjamin turunnya tingkat morbiditas dan mortalitas sehingga sumber daya

manusia dapat ditingkatkan dan untuk mengeluarkan janin dari dalam rahim pada

ibu-ibu yang meninggal (Mochtar,1998). Keuntungan bedah sesar adalah waktu

pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan persiapan

dapat dilakukan dengan baik. Kerugiannya adalah karena persalinan belum mulai,

segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan

pembedahan dan akan lebih mudah terjadinya antonia arteria dengan perdarahan

karena uterus belum mulai dengan kontraksinya (Prawirohardjo, 1981).

1. Istilah-istilah dalam bedah sesar:

a. bedah sesar primer (efektif)

dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara bedah

sesar, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit

atau cervicalix (CV) <8 cm.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

b. bedah sesar sekunder

dalam hal ini kita bersikap menunggu kelahiran biasa (partus percobaan),

bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru

dilakukan bedah sesar.

c. bedah sesar ulang (repeat caesarean section)

ibu pada kehamilan yang lalu mengalami bedah sesar (previous caesarea

section) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan bedah sesar ulang.

d. bedah sesar histerektomi (caesarean section hysterectomy)

adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan bedah sesar,

langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.

e. operasi Porro (Porro operation)

adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri dan

tentunya janin sudah mati, dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya

pada keadaan infeksi rahim yang berat (Mochtar, 1998).

2. Jenis-jenis operasi bedah sesar:

a. abdomen (Section Caesarean Abdomenalis)

1) bedah sesar transperitonealis:

a) bedah sesar klasik atau korporal

dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-

kira sepanjang 10 cm. Kelebihan dari bedah sesar dengan cara ini, antara

lain pengeluaran janin menjadi lebih cepat, tidak mengakibatkan

komplikasi kandung kemih tertarik, dan sayatan bias diperpanjang

proksimal atau distal. Adapun kekurangannya adalah infeksi mudah


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang

baik dan untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri

spontan.

b) bedah sesar ismika atau profunda atau low cervical

dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah

rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm. Kelebihan dari bedah

sesar dengan cara ini adalah penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka

dengan reperitonealisasi yang baik, tumpang tindih dari peritoneal flap

baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum,

perdarahan kurang, dan jika dibandingkan dengan cara klasik

kemungkinan ruptura uteri spontan kurang/lebih kecil. Kekurangannya

ialah luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat

menyebabkan atonia uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan

yang banyak dan keluhan pada kandung kemih postoperatif tinggi.

2) bedah sesar ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis,

dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.

b. vagina atau section caesarean vaginalis (Mochtar, 1998).

3. Indikasi-indikasi bedah sesar

Indikasi bedah sesar biasanya merupakan indikasi absolut atau relatif. Setiap

keadaan yang membuat kelahiran lewat jalan lahir tidak mungkin terlaksana,

merupakan indikasi absolut untuk section abdominal. Diantaranya adalah

kesempitan panggul yang sangat berat dan neoplasma yang menyumbat jalan

lahir. Pada indikasi relatif, kelahiran lewat vagina bisa terlaksana dengan keadaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

sedemikian rupa sehingga kelahiran lewat bedah sesar akan lebih aman bagi ibu,

anak ataupun keduanya (Oxorn, 1990). Adapun indikasi yang sering muncul pada

bedah sesar adalah plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior); bayi letak

sungsang; ruptura uteri mengancam; panggul sempit dimana batas terendah untuk

melahirkan janin vias normalis ialah cervicalix (CV) = 8 cm (Mochtar, 1998).

Panggul dengan CV < 8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan janin

secara normal, harus diselesaikan dengan bedah sesar. Jika CV antara 8-10 cm

boleh dicoba dengan partus percobaan, baru setelah gagal kemudian dilakukan

bedah sesar sekunder (Mochtar,1998). Persalinan yang sulit, yang meliputi proses

persalinan yang tidak maju-maju alias jalan di tempat (obstructed labor),

persalinan yang lama (prolonged labor), dan cephalopelvic disproportion (CPD)

yaitu ukuran bayi yang terlampau besar untuk melalui rongga panggul (Abu

Bakar, 2002).

Malposisi dan malpresentasi dapat menyebabkan perlunya bedah sesar

pada bayi yang dalam posisi normal dapat dilahirkan per vaginam. Bagian

terbesar dari peningkatan insidensi bedah sesar dalam kelompok ini berkaitan

dengan presentasi pantat. Disfungsi uterus mencakup kerja uterus yang tidak

terkoordinasi, dan ketidakmampuan dilatasi serviks. Persalinan menjadi lama dan

kemajuannya mungkin terhenti sama sekali. Keadaan ini sering disertai disposisi

dan malpresentasi (Oxorn, 1990). Problem serius yang terkait dengan kesehatan

ibunya juga perlu dipertimbangkan, seperti infeksi, kencing manis, sampai

tekanan darah tinggi (Abu Bakar, 2002).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

C. Komplikasi-komplikasi Bedah Sesar dan Terapinya

1. Infeksi

a. Definisi

Infeksi adalah proses masuknya mikroorganisme seperti bakteri, jamur,

virus, mikroplasma dan protozoa ke dalam tubuh manusia. Mikroorganisme

tersebut mempunyai kemampuan untuk menimbulkan penyakit (patogen), tetapi

tidak selalu hal ini akan menyebabkan seseorang menjadi sakit secara klinis.

Terdapat berbagai faktor yang akan menentukan apakah seseorang yang

dimasuki oleh mikroorganisme akan menjadi sakit, antara lain jumlah

mikroorganisme yang masuk, virulensi atau keganasan mikroorganisme, dan

daya tahan tubuh manusia sendiri (Anonim, 2006b).

Pada pasien bedah sesar infeksi yang sering terjadi adalah infeksi nifas.

Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya

kuman-kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas.

Infeksi nifas ringan ditandai dengan kenaikan suhu beberapa hari, infeksi nifas

sedang ditandai dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi dan disertai dehidrasi,

dan infeksi berat dengan peritonitis, dan sepsis. Infeksi berat biasanya sering

dijumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi

intrapartal karena ketuban yang pecah terlalu lama. Secara umum gejala infeksi,

antara lain timbulnya rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi, suhu tubuh

sekitar 38oC, dan bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan serta getah radang

tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40oC dengan kadang-kadang

disertai menggigil (Prawirohardjo, 1991).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

b. Penyebab

Pada kasus-kasus bedah, terutama bedah sesar, kemungkinan terjadinya

infeksi sangat besar yang disebabkan oleh adanya perobekan jaringan sehingga

memudahkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu,

penggunaan antiinfeksi untuk tindakan profilaksis atau terapi sangat penting

untuk mengatasi infeksi.

c. Terapi

Infeksi dapat diterapi dengan menggunakan antiinfeksi. Antiinfeksi yang

sering digunakan dalam bedah sesar adalah antibiotika. Antibiotika yang sering

digunakan dalam bedah sesar meliputi antibiotika profilaksis (preventif) dan

antibiotika kuratif. Antibiotika profilaksis (preventif) digunakan untuk

pencegahan terjadinya manisfestasi infeksi yang diduga akan terjadi, sedangkan

antibiotika kuratif adalah antibiotika yang digunakan untuk pengobatan infeksi.

Tindakan kuratif diberikan bila bakteri sudah masuk ke dalam tubuh manusia

dan menimbulkan infeksi, maka dilakukan pengobatan dengan jalan membunuh

atau mencegah perkembangbiakan bakteri, yaitu dengan menggunakan

antibiotika, misalnya penisilin (Manuaba, 1999).

Pemberian antibiotika profilaksis diberikan 30 menit sebelum prosedur

bedah. Antibiotika juga diberikan setelah kelahiran bayi. Dosis antibiotika

profilaksis diberikan melalui tiga dosis terbagi selama 24 jam untuk pencegahan

infeksi. Jika bedah sesar lebih dari 6 jam ataupun jika kehilangan darah lebih

dari 1500 mL, diberikan dosis kedua antibiotika profilaksis. Kombinasi

antibiotika yang sering digunakan adalah ampisilin 2 gram secara interavena


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

(i.v.) setiap 6 jam, gentamisin 5 mg/kg BB secara i.v. setiap 24 jam,

metronidazol 500 mg secara i.v. setiap 8 jam. Jika infeksi tidak terlalu berat,

dapat diberikan amoksisilin 500 mg secara oral setiap 8 jam sebagai pengganti

ampisilin dan metronodazol secara i.v. (Anonim, 2000c). Selain menggunakan

antibiotika profilaksis, tindakan pencegahan juga dapat dilakukan dengan

menjaga sanitasi lingkungan dan meningkatkan kekebalan tubuh (Anonim,

2005), makanan yang bergizi, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut,

menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, mencegah terjadinya

pendarahan banyak, dan semua petugas kamar bersalin harus menggunakan

masker penutup hidung dan mulut (Prawirohardjo, 1991).

d. Penggolongan antibiotika

Sifat antimikroba dapat berbeda satu dengan lainnya. Berdasarkan

perbedaan sifat ini, antibimikroba dibagi menjadi dua kelompok yaitu

antimikroba berspektrum sempit (narrow spectrum), yang berguna untuk

membunuh jenis-jenis bakteri secara spesifik, dan antibmikroba berspektrum

luas (broad spectrum) yang berguna untuk membunuh semua jenis bakteri di

dalam tubuh (Joris, 2004).

Antimikroba dapat melakukan aktivitasnya lewat beberapa mekanisme,

terutama dengan penghambatan sintesa materi penting dari bakteri, misalnya

dari:

1) dinding sel, sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi kurang

sempurna dan tidak tahan terhadap tekanan osmotik dari plasma dengan

akibat pecah. Contohnya: kelompok penisilin dan sefalosporin.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

2) membran sel, molekul lipoprotein dari membran plasma yang terdapat di

dalam dinding sel dikacaukan sintesanya, hingga menjadi lebih permeabel.

Hasilnya, zat-zat penting dari isi sel dapat merembas keluar. Contohnya:

polipeptida dan polyen (nistatin, amfoterisin) dan imidazol (mikonazol,

ketokonazol).

3) protein sel, sintesanya terganggu, misalnya kloramfenikol, tetrasiklin,

aminoglikosida, dan makrolida.

4) asam-asam inti seperti DNA dan RNA, contohnya rifamisin (RNA), asam

nalidiksat dan kinolon, dan asiklovir (DNA).

5) antagonis saingan, obat menyaingi zat-zat yang penting untuk metabolisme

kuman hingga pertukaran zatnya terhenti, antara lain sulfonamida,

trimetoprim, dan INH (Tjay, 2002).

Penggolongan antibiotika berdasarkan struktur kimianya dapat dibagi

menjadi:

a) -laktam

(1) penisilin (-laktam I). Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium

chrysogenum, dari berbagai macam jenis yang dihasilkan, perbedaannya

hanya terletak pada gugus samping R saja. Benzilpenisilin (pen-G) ternyata

paling aktif. Penisilin-G dan turunannya bersifat bakterisid terutama

terhadap kuman gram-positif khususnya cocci dan hanya beberapa kuman

gram-negatif. Semua penisilin dianggap aman bagi wanita hamil dan yang

menyusui, walaupun dalam jumlah kecil terdapat dalam darah janin dan air

susu ibu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

Penisilin dapat dibagi dalam beberapa jenis menurut aktivitas dan

resistensinya terhadap laktamase sebagai berikut:

(a) zat-zat spektrum sempit: benzilpenisilin, penisilin-V, dan fenetisilin. Zat-

zat ini terutama aktif terhadap kuman gram-positif dan diuraikan oleh

penisilinase.

(b) zat-zat tahan laktamase: metisilin, kloksasilin, flukloksasilin. Zat ini

hanya aktif terhadap Staphylococcus dan Streptococcus. Asam

klavulanat, sulbaktam, dan tazobaktam memblokir laktamase dan dengan

demikian menjamin aktivitas penisilin yang diberikan bersamaan.

(c) zat-zat spektrum luas: ampisilin dan amoksisilin, aktif terhadap kuman-

kuman gram-positif dan sejumlah kuman gram-negatif, kecuali

Pseudomonas, Klebsiella, dan B. fragilis. Tidak tahan laktamase, maka

sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase blocker.

(d) zat-zat anti-Pseudomonas: tikarsilin dan piperasilin. Antibiotika

spektrum luas ini meliputi lebih banyak kuman gram-negatif, termasuk

Pseudomonas, Proteus, Klebsiella, dan Bacteroides fragilis. Tidak tahan

laktamase dan umumnya digunakan bersamaan dengan laktamase

blocker.

(2) sefalosporin (-laktam II). Sefalosporin diperoleh secara semisintetis dari

sefalosporin-C yang dihasilkan jamur Cephalosporium acremonium.

Struktur, khasiat dan sifat sefalosporin mirip dengan penisilin. Spektrum

kerjanya luas dan meliputi banyak kuman gram-positif dan gram-negatif,

termasuk E.coli, Klebsiella, dan Proteus. Berkhasiat bakterisid dalam fase


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

pertumbuhan kuman, berdasarkan penghambatan sintesa peptidoglikan yang

diperlukan kuman untuk ketangguhan dindingnya. Sefalosporin dapat

dengan mudah melintasi plasenta, tetapi kadarnya dalam darah janin lebih

rendah daripada di ibunya. Sefalotin dan sefaleksin telah digunakan selama

kehamilan tanpa adanya laporan efek buruk bagi bayi.

Klasifikasi sefalosporin berdasarkan generasinya dapat dibagi menjadi:

i. generasi pertama: sefalozin, sefalotin, sefradin, sefaleksin, dan

sefadroksil. Zat-zat ini terutama aktif terhadap cocci gram-positif,

Bacteroides, dan Pseudomonas. Pada umumnya tidak tahan terhadap

laktamase.

ii. generasi kedua: sefaklor, sefamandol, sefmetazol, dan sefuroksim lebih

aktif terhadap kuman gram-negatif dan kuman-kuman yang resisten

terhadap amoksisilin. Obat-obat ini agak kuat tahan laktamase.

Khasiatnya terhadap kuman gram-positif lebih kurang sama.

iii. generasi ketiga: sefoperazon, sefotaksim, seftizoksim, seftriakson,

sefotiam, sefiksim, dan sefprozil. Aktivitasnya terhadap gram-negatif

lebih kuat dan lebih luas lagi. Resistensinya terhadap laktamase juga

lebih kuat.

iv. generasi keempat: sefepim dan sefpirom. Sangat resisten terhadap

laktamase dan sefepim juga aktif sekali terhadap Pseudomonas.

b) aminoglikosida. Antibiotika yang dihasilkan oleh fungi Streptomyces dan

Micromonospora. Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak bacilli gram-

negatif, aktif juga terhadap gonococci dan sejumlah kuman gram-positif.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Gentamisin khasiatnya lebih ringan. Tidak efektif terhadap kuman anaerob.

Aktivitasnya adalah bakterisid, berdasarkan dayanya untuk mempenetrasi

dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Aminoglikosida

dapat melintasi plasenta dan merusak ginjal serta menimbulkan ketulian pada

bayi, tidak dianjurkan selama kehamilan, tapi dapat diberikan selama laktasi

karena mencapai air susu ibu dalam jumlah kecil.

Atas dasar rumus kimianya, aminoglikosida dapat dibagi menjadi:

(1) streptomisin mengandung satu molekul gula amino dalam molekulnya.

(2) kanamisin dengan turunannya amikasin dan dibekasin, gentamisin dan

turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua

molekul gula yang dihubungi oleh sikloheksan.

(3) neomisin, framisetin, dan paromomisin dengan tiga gula amino.

c) tetrasiklin. Senyawa tetrasiklin semula diperoleh dari Streptomyces

aureofaciens yaitu klortetrasiklin dan Streptomyces rimosus yaitu

oksitetrasiklin, tetapi sekarang telah dibuat secara sintetis seluruhnya.

Senyawa long-acting dari tetrasiklin terdiri dari doksisiklin dan minosiklin.

Khasiatnya bersifat bakteriostatis, hanya melalui injeksi intravena dapat

dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Mekanisme kerjanya berdasarkan

diganggunya sintesa protein kuman. Spektrum kerjanya luas dan meliputi

banyak cocci gram-positif dan gram-negatif serta kebanyakan bacilli. Semua

tetrasiklin tidak boleh diberikan setelah bulan keempat dari kehamilan dan

pada anak-anak sampai usia 8 tahun karena penghambatan pembentukan

tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lebih rapuh.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

d) makrolida dan linkomisin. Kelompok ini terdiri dari eritromisin dengan

derivatnya yaitu klaritromisin, roxitromisin, azitromisin dan diritromisin.

Spiromisin dianggap termasuk kelompok ini karena rumus bangunnya yang

serupa. Linkomisin dan klindamisin secara kimiawi berbeda dengan

eritromisin, tetapi mirip sekali mengenai aktivitas, mekanisme kerja, dan pola

resistensinya, bahkan terdapat resistensi silang dan antagonisme dengannya.

Eritromisin dan linkomisin bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri

gram-positif, dan spektrum kerjanya mirip penisilin-G. mekanisme kerjanya

melalui pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga sintesis

proteinnya dirintangi. Eritromisin dapat diberikan dengan aman saat

kehamilan dan laktasi, sedangkan derivatnya belum ada kepastian.

e) polipeptida. Kelompok ini terdiri dari polimiksin B dan polimiksin E

(kolistin), basitrasin dan gramisidin. Antibiotika ini dihasilkan oleh jenis

bakteri. Polimiksin hanya aktif terhadap kuman gram-negatif termasuk

Pseudomonas, sedangkan basitrasin dan gramisidin terutama kuman gram-

positif. Khasiatnya adalah bakterisid berdasarkan aktivitas permukaannya dan

kemampuannya untuk melekatkan diri pada membran sel bakteri, sehingga

permeabilitas sel meningkat dan akhirnya sel meletus. Antibiotika ini sangat

toksik bagi ginjal, polimiksin juga bagi organ pendengaran.

f) antibiotika lainnya

(1) kloramfenikol. Diperoleh dari jenis Streptomyces, kini dibuat secara

sintesis. Antibiotika ini berspektrum luas, berkhasiat terhadap hampir

semua kuman gram-positif dan sejumlah kuman gram-negatif. Tidak aktif


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

terhadap kebanyakan suku Pseudomonas, Proteus, dan Enterobacter.

Khasiatnya bersifat bakteriostatis terhadap Enterobacter dan Staph. aerius

berdasarkan perintangan sintesa polipeptida kuman. Kloramfenikol bekerja

bakterisid terhadap Str. pneumoniae, Neiss. Meningitides, dan H.

influenzae. Pada kehamilan dan laktasi penggunaannya tidak dianjurkan,

khususnya selama minggu-minggu terakhir kehamilan, karena dapat

menimbulkan cyanosis dan hypothermia pada neonati dan menyebabkan

grey baby syndrome, serta dapat melintasi plasenta dan mencapai air susu

ibu. Larangan tersebut juga berlaku pada tiamfenikol.

(2) vankomisin. Diperoleh dari jenis Streptomyces orientalis. Berkhasiat

bakterisid terhadap kuman gram-positif aerob dan anaerob, termasuk

Staphylococcus yang resisten terhadap metisilin. Penting sekali sebagai

antibiotika terakhir pada infeksi parah oleh kuman, jika obat-obat lain

tidak ampuh lagi. Digunakan juga bila terjadi alergi terhadap

penisilin/sefalosporin. Vankomisin dapat mencapai air susu ibu.

(3) asam fusidat. Dihasilkan oleh jamur Fusidium coccineum. Spektrum

kerjanya sempit dan terbatas pada kuman gram-positif, terutama

staphylococcus, juga yang membentuk penisilinase. Khasiatnya bersifat

bakteriostatis berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman.

Penggunaan pada akhir kehamilan dapat mengakibatkan penyakit kuning

(icterus) pada bayi. Zat ini melintasi plasenta dan terdapat dalam air susu

ibu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

(4) mupirosin. Dihasilkan oleh Pseudomonas fluorecens. Berdaya khusus

terhadap kuman gram-positif, tetapi tidak aktif terhadap kuman gram-

negatif. Khasiatnya bersifat bakterisid berdasarkan penghambatan RNA-

sintetase yang berakibat penghentian sintesa protein kuman.

(5) spektinomisin. Dihasilkan oleh Streptomycin spectabilis. Antibiotika

berspektrum luas ini berkhasiat bakterisid terhadap kuman gram-positif

dan gram-negatif. Khususnya digunakan sebagai obat pilihan ketiga pada

gonore akut seperti urethritis, proctitis, cervicitis. Penggunaan selama

kehamilan dan laktasi tidak ada data (Tjay, 2002).

Berdasarkan penggunaannya terapi antibiotika dapat dikelompokkan

menjadi dua, yaitu:

i. terapi empirik atau pendahuluan, antibiotika yang dipakai harus mencapai

semua kuman patogen yang diperkirakan menjadi penyebab penyakit.

Biasanya dipakai kombinasi beberapa antibiotika atau satu jenis antibiotika

yang mempunyai spektrum luas (broad-spectrum).

ii. terapi definitif atau tetap, diberikan bila kuman penyebab penyakit dapat

ditentukan. Dipilih antibiotika yang berspektrum sempit (narrow-spectrum)

dan daya toksisitas rendah (Anonim, 2006b).

Prinsip penggunaan antibiotika didasarkan pada dua pertimbangan utama,

yaitu:

i) penyebab infeksi. Pemberian antibiotika yang paling ideal adalah berdasarkan

hasil pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun dalam

praktek sehari-hari, tidak mungkin melakukan pemeriksaan mikro-biologis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

untuk setiap pasien yang dicurigai menderita suatu infeksi. Di samping itu,

untuk infeksi berat yang memerlukan penanganan segera, pemberian

antibiotika dapat segera dimulai setelah pengambilan sampel bahan biologik

untuk biakan dan pemeriksaan kepekaan kuman. Pemberian antibiotika tanpa

pemeriksaan mikrobiologis dapat didasarkan pada educated guess.

ii) faktor pasien. Diantara faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian

antibiotika antara lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan

terhadap infeksi (status imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya

infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui (Anonim,

2000a).

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada

manusia harus mempunyai sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, obat

tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik

untuk hospes. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat

menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan

ada yang bersifat pembunuh mikroba yang dikenal sebagai aktivitas bakterisid

(Ganiswara, Setiabudy, dan Gan, 2001). Aktivitas bakteriostatik antibiotika

tergantung pada daya tahan tubuh seseorang atau hospesnya (Sumarsono, 2002).

Zat-zat bakterisid pada dosis biasa dapat mematikan kuman. Obat-obat ini

dapat dibagi pula dalam dua kelompok yakni zat-zat yang bekerja pada fase

tumbuh misalnya, penisilin dan sefalosporin, polipeptida (polimiksin, basitrasin),

rifamisin, asam nalidiksat, dan kinolon. Kurang efektif terhadap kuman dalam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

fase istirahat; zat-zat yang bekerja terhadap fase istirahat misalnya,

aminoglikosida, nitrofurantoin, INH, kotrimoksazol, dan juga polipeptida,

contohnya polimiksin dan basitrasin (Tjay, 2002)

Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba

atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai kadar hambat minimal

(KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Antimikroba tertentu aktivitasnya

dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya

ditingkatkan melebihi KHM (Ganiswara, Setiabudy, dan Gan, 2001). Dosis

antimikroba selalu dipilih sedemikian tinggi hingga kadar obat di tempat infeksi

melampaui MIC (minimum inhibitory concentration). Guna mencapai kadar

puncak dalam darah dan jaringan sering kali perlu dimulai dengan dosis berganda

(loading dose) misalnya dengan sulfonamida, doksisiklin, dan kloroquin; atau

juga dimulai dengan injeksi pada infeksi parah dan selanjutnya diteruskan secara

oral, misalnya penisilin-G, tetrasiklin atau kinin (Tjay, 2002).

Penggunaan antibiotika yang sembarangan atau tidak tepat penakarannya

dapat menggagalkan terapi. Di samping itu juga dapat menimbulkan bahaya,

seperti sensitasi, resistensi, dan suprainfeksi. Setelah digunakan secara topikal,

banyak obat dapat menimbulkan kepekaan berlebihan atau sensitasi, pemakai

menjadi hipersensitif. Bila kemudian obat yang sama digunakan secara sistemis,

misalnya melalui oral atau parenteral, maka ada kemungkinan terjadinya suatu

reaksi alergi. Gejalanya berupa gatal-gatal, kemerah-merahan dan bentol-bentol,

tetapi kadang-kadang juga lebih hebat, seperti demam, kelainan darah, bahkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

syok anafilaksis fatal. Oleh karena itu, untuk menghindari sensitasi sebaiknya

jangan menggunakan obat-obat demikian dalam sediaan topikal, seperti salep,

krem, lotion dan sebagainya (Tjay, 2002).

Antibiotika yang terkenal dapat menimbulkan sensitasi antara lain

penisilin, kloramfenikol, dan sulfonamida. Sebaliknya fremisetin, fusidat, dan

juga tetrasiklin jarang sekali mensensitasikan, oleh kerena itu, banyak digunakan

topikal. Neomisin dan basitrasin semakin banyak dilaporkan menimbulkan alergi

kontak. Jika antibiotika digunakan dengan dosis terlalu rendah atau masa terapi

kurang lama, maka hal ini dapat mempercepat terbentuknya suku-suku yang

resisten, atau mengalami resistensi (Tjay, 2002).

Resistensi adalah suatu sifat terganggunya kehidupan sel mikroba oleh

antimikroba. Bakteri bisa resisten karena obat tidak mencapai target tempat obat

harus bekerja, contoh membran atau dinding sel bakteri yang sulit ditembus obat

(impermeabel); obat dibuat menjadi tidak aktif, contohnya karena bakteri bisa

menghasilkan enzim yang menyebabkan obat menjadi tidak aktif; dan

target/tempat obat harus bekerja berubah, contoh saluran pada dinding sel bakteri

sebagai tempat masuknya obat tidak ada, dan transport sistem yang kurang

(Anonim, 2006b). Oleh karena itu, selalu perlu menggunakan dosis cukup tinggi

untuk waktu yang cukup lama. Cara lain untuk mencegah resistensi adalah

menggunakan kombinasi dari dua atau tiga obat (Anonim, 2006).

Supra-infeksi adalah infeksi sekunder dengan parasit berlainan yang

timbul di atas infeksi primer. Infeksi terutama terjadi pada penggunaan antibiotika

broad-spectrum yang sering kali mengganggu keseimbangan antar-bakteri di


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

dalam usus, saluran nafas, dan kemih. Suku mikroorganisme yang lebih kuat dan

resisten hilang saingannya, menjadi dominan dan menimbulkan infeksi baru.

Contoh supra-infeksi antara lain disebabkan oleh suku Staphylococcus resisten,

Proteus, Pseudomonas, dan Candida serta fungi lain. Obat-obat yang dapat

menimbulkan supra-infeksi adalah ampisilin, kloramfenikol, dan tetrasiklin (Tjay,

2002). Pada umumnya, penggunaan kombinasi dari dua/lebih antibiotika (multiple

drug therapy/MDT) tidak dianjurkan, apa lagi kombinasi dengan dosis tetap (fixed

dose).

Terapi terarah mungkin lebih disukai, tetapi beberapa kombinasi dapatlah

bermanfaat yaitu:

(i) pada infeksi campuran, misalnya kombinasi obat-obat antikuman dan

antifungi, atau dua antibiotika dengan spektrum sempit, contohnya

antibiotika untuk gram-positif ditambah antibiotika untuk gram-negatif,

yang bertujuan untuk memperluas aktivitas terapi, misalnya basitrasin

ditambah polimiksin dalam sediaan topikal.

(ii) untuk memperoleh potensiasi, misalnya sulfametoksazol dengan trimetoprim

(kotrimoksazol) dan sefsulodin dengan gentamisin pada infeksi dengan

Pseudomonas.

(iii) untuk mengatasi resistensi, misalnya amoksisilin ditambah asam klavulanat

yang menginaktivasi enzim penisilinase.

(iv) untuk menghambat resistensi, khususnya pada infeksi menahun seperti

tuberkulosa diberikan rifampisin ditambah INH dan pirazinamida, dan kusta

diberikan dapson ditambah klofazimin dan/atau rifampisin.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

(v) untuk mengurangi toksisitas, misalnya trisulfa dan sitostatika, karena dosis

masing-masing komponen dapat dikurangi (Tjay, 2002).

2. Nyeri

a. Definisi

Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Nyeri

sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi, serta sering untuk

mempermudah diagnosis. Akan tetapi, dengan adanya nyeri, pasien merasakan

hal yang tidak mengenakan, kebanyakan menyiksa dan kerena itu berusaha

untuk bebas darinya (Mutschler, 1991). Nyeri merupakan salah satu keluhan

yang sering dirasakan oleh pasien pasca bedah sesar, nyeri yang timbul terutama

pada daerah bekas sayatan operasi (Mutschler, 1991). Rasa nyeri hanya

merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-

gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot (Anief,

2003).

b. Penyebab

Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal, kimia atau listrik

melampaui suatu nilai ambang tertentu, yaitu nilai ambang nyeri, yang dapat

menyebabkan kerusakan jaringan dengan pembebasan senyawa yang disebut

mediator nyeri (Mutschler, 1991). Mediator nyeri meliputi histamin, serotonin,

plasmokinin contohnya bradikinin, prostaglandin, dan ion kalium. Zat ini

merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung saraf bebas di kulit, selaput

lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

sensoris ke susunan saraf pusat, melalui sumsum tulang belakang ke talamus

(optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, di mana rangsangan terasa

sebagai nyeri (Anief, 2003).

Kualitas nyeri menurut tempat terjadinya dibagi atas:

1) nyeri somatik

a) nyeri permukaan, apabila rangsang bertempat dalam kulit. Nyeri

permukaan yang terbentuk kira-kira setelah tertusuk dengan jarum pada

kulit, mempunyai karakter yang ringan, dapat dilokalisasi dengan baik dan

hilang cepat setelah berakhirnya rangsang.

b) nyeri dalam, apabila rangsang berasal dari otot, persendian, tulang, dan

jaringan ikat. Nyeri dalam dirasakan sebagai tekanan, sukar dilokalisasi

dan kebanyakan menyebar kesekitarnya, dan biasanya sering diikuti oleh

reaksi vegetatif seperti tidak bergairah, mual, berkeringat dan menurunnya

tekanan darah, contohnya yaitu nyeri sakit kepala.

2) nyeri dalaman (viseral), sifatnya menekan dan disertai reaksi vegetatif.

Nyeri ini terjadi antara lain pada tegangan organ perut, kejang otot polos,

aliran darah kurang dan penyakit yang disertai radang (Mutschler, 1991).

Reseptor nyeri (nosiseptor), secara fungsional dibedakan menjadi dua

jenis reseptor, yang dapat menyusun dua sistem serabut berbeda, yaitu:

a) mekanoreseptor, yang meneruskan nyeri permukaan melalui serabut A-delta

bermielin.

b) termoreseptor, yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut-serabut C yang

tak bermielin (Mutschler, 1991).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

c. Terapi

Untuk menghilangkan rasa nyeri pasca bedah sesar, pasien umumnya

diberikan suatu analgesik. Analgesik umumnya mempengaruhi nyeri melalui

kemungkinan-kemungkinan berikut:

1) mencegah sensibilisasi reseptor nyeri dengan cara penghambatan sintesis

prostaglandin dengan analgetika yang bekerja perifer.

2) mencegah pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri dengan memakai

anestetika infiltrasi.

3) menghambat penerusan rangsang dalam serabut saraf sensorik dengan

anestetika konduksi.

4) meringankan nyeri atau meniadakan nyeri melalui kerja dalam sistem saraf

pusat dengan anagetika yang bekerja pada pusat atau obat narkosis.

5) mempengaruhi pengalaman nyeri dengan psikofarmaka, seperti

trankuilansia, neuroleptika, antidepresiva (Mutschler, 1991).

d. Penggolongan analgesik

Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping analgesik

dibedakan dalam dua kelompok, yaitu:

1) analgesik yang berkhasiat kuat, bekerja pada pusat (hipoanalgesik atau

kelompok opiat). Kerjanya pada pusat hipoanalgesik, antara lain:

menurunkan rasa nyeri dengan cara stimulasi reseptor opiat sebagai kerja

analgesik; sebaliknya tidak mempengaruhi kualitas indra lain pada dosis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

terapi; mengurangi aktivitas kejiwaan sebagai kerja sedasi; meniadakan

rasa takut dan rasa bermasalah sebagai kerja trankuilasia; menghambat

pusat pernafasan dan pusat batuk sebagai kerja depresi pernafasan dan

kerja antitusif; seringkali mula-mula menyebabkan mual dan muntah

akibat stimulasi pusat muntah sebagai kerja emetika, selanjutnya

menyebabkan inhibisi pusat muntah sebagai kerja antiemetika;

menimbulkan miosis sebagai kerja miotika; dan meningkatkan

pembebasan anti diuretik hormon (ADH) sebagai kerja antidiuretika

Kerjanya pada perifer, antara lain: memperlambat pengosongan

lambung dengan mengkontriksi pilorus; mengurangi motilitas dan

meningkatkan tonus saluran cerna atau obstipasi spastik; mengkontraksi

sfinkter dalam saluran empedu; meningkatkan tonus otot kandung kemih

dan juga otot sfinkter kandung kemih; mengurangi tonus pembuluh darah

dengan bahaya reaksi ortostatik; dan menimbulkan pemerahan kulit,

urtikaria, rangsang gatal, serta pada penderita asma suatu bronkospasmus,

akibat pembebasan histamin.

2) analgesik yang berkhasiat lemah sampai sedang, bekerja terutama pada

perifer dengan sifat antipiretik dan kebanyakan juga mempunyai sifat

antiinflamasi dan antireumatik. Analgesik lemah tidak mempunyai sifat-

sifat psikotropik dan sedasi dari hipoanalgesiknya, akan tetapi mempunyai

indikasi pada nyeri ringan sampai sedang (Mutschler, 1991).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

3. Anemia

a. Definisi

Anemia merupakan kelainan sel darah merah yang paling umum dan

merupakan masalah yang sering dijumpai pada pelayanan klinis. Anemia

didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin <12 gram/dl atau nilai hematokrit

<36 % pada wanita dan konsentrasi hemoglobin <14 gram/dl atau nilai

hematokrit <42 % pada pria. Gejala dan tanda non-spesifik yang berkaitan

mencakup rasa lemah, letih, pucat, dispnea, palpitasi dan terkadang angina

pektoris atau gagal jantung kongestif (Skoch, Daley, dan Forsmark, 1996).

b. Penyebab

Kemungkinan terjadinya anemia pada kasus bedah sesar disebabkan oleh

adanya pendarahan antepartum maupun postpartum yang tidak segera diatasi.

Jumlah perdarahan sebanyak 25-30% dari volume darah dalam waktu singkat

dapat menimbulkan keadaan syok dan dapat menyebabkan kematian. Keadaan-

keadaan yang mungkin timbul adalah tekanan darah akan menurun, nadi

meningkat, pernapasan cepat dan dangkal, tekanan darah sentral menurun, dan

produksi urin semakin menurun (Manuaba,1999). Selain disebabkan oleh

pendarahan, anemia pada pasien bedah sesar dapat juga disebabkan adanya

kekurangan gizi selama ibu mengandung.

c. Terapi

Transfusi darah tidak dapat dipisahkan dari bagian obstetrik dan

ginekologi, karena komplikasi pendarahan dapat menjadi penyebab kematian

utama. Untuk menolong jiwa penderita dapat diberikan cairan pengganti berupa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

tranfusi darah untuk mengembalikan volume darah (Manuaba, 1999). Selain

dengan tranfusi darah, anemia karena adanya kekurangan gizi pada ibu hamil

dapat diatasi dengan pemberian vitamin dan beberapa mineral yang penting

untuk metabolisme. Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan

tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali

bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme (Ganiswara, Rosmiati, dan

Wardhini, 2001). Vitamin adalah zat organik yang dalam jumlah kecil sekali

essensial guna memelihara fungsi pertukaran zat yang normal dalam tubuh

(Anief, 2003). Mineral merupakan senyawa anorganik yang merupakan bagian

penting dari enzim, mengatur berbagai fungsi fisiologis, dan dibutuhkan untuk

pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan termasuk tulang (Ganiswara, Rosmiati,

dan Wardhini, 2001).

Sumber vitamin dan mineral yang paling baik ialah makanan, sehingga

orang sehat yang makanannya bermutu baik, sudah mendapat jumlah vitamin

dan mineral yang cukup. Akan tetapi individu dengan diet rendah kalori, yaitu

kurang dari 1200 kalori/hari seringkali asupan vitaminnya kurang dan

memerlukan tambahan. Selain terdapat dalam makanan, vitamin juga dapat

diberikan dalam bentuk murni sebagai sediaan tunggal atau kombinasi. Sediaan

untuk tujuan profilaksis harus dibedakan dari sediaan untuk tujuan pengobatan

defisiensi (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001).

d. Penggolongan vitamin

Vitamin larut air disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah terbatas dan

sisanya dibuang, sehingga untuk mempertahankan saturasi jaringan maka


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

vitamin larut air perlu sering dikonsumsi. Meskipun demikian, pemberian

vitamin larut air dalam jumlah berlebihan selain merupakan pemborosan, juga

mungkin menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sebaliknya vitamin larut

lemak dapat disimpan dalam jumlah banyak, sehingga kemungkinan terjadinya

toksisitas jauh lebih besar daripada vitamin larut air (Ganiswara, Rosmiati, dan

Wardhini, 2001).

Penggolongan vitamin berdasarkan kelarutannya, yaitu:

1) vitamin yang larut dalam air: tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2),

piridoksin (vitamin B6), nikotinamida, asam folat, asam pantotenat, asam

para-aminobenzoat, biotin (vitamin H), rutin, sianokobalamin (vitamin

B12), asam askorbat (vitamin C).


B

2) vitamin yang larut dalam lemak: vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan

vitamin K (Anief, 2003).

Sediaan vitamin untuk pengobatan hanya diperlukan untuk terapi

penyakit defisiensi vitamin dan terapi suportif pada keadaan patologik di mana

kebutuhan makanan sangat meningkat misalnya pada alkoholisme dan kaheksia

pasca bedah (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001)

4. Komplikasi-komplikasi Lain Bedah Sesar dan Terapinya

a. Oksitosin

Oksitosik adalah obat yang merangsang kontraksi uterus (Ganiswara,

Syarif, dan Muchtar, 2001). Oksitosik adalah obat yang digunakan untuk

merangsang otot polos uterus dan kelenjar susu (mamae). Khasiatnya adalah

kontraksi uterus dan stimulasi mulainya laktasi. Penggunaan oksitoksik dalam


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

obstetrika atau ilmu kebidanan antara lain menstimulir mulai his, bila ada

kelemahan his; dan setelah bersalin untuk mencegah perdarahan yang banyak

(Anief, 2003).

Banyak obat memperlihatkan efek oksitosik, tetapi hanya beberapa saja

yang kerjanya cukup selektif dan dapat berguna dalam praktek kebidanan. Obat

yang bermanfaat itu adalah oksitosin dan derivatnya, alkaloid ergot dan

derivatnya, dan beberapa prostaglandin semisintetik. Obat-obat tersebut

memperlihatkan respon bertingkat (graded response) pada kehamilan, mulai

dari kontraksi uterus spontan, ritmis sampai kontraksi tetani (Ganiswara, Syarif,

dan Mucthar, 2001).

Kepekaan pasien terhadap oksitosin sangat berbeda dan bergantung pada

banyak faktor, akan tetapi terutama bergantung pada perbandingan kadar

estrogen dan gestagen. Estrogen meningkatkan keterangsangan dan aktivitas

spontan uterus. Gestogen menyebabkan uterus lebih tidak peka terhadap

oksitosin. Khasiat oksitosin rendah pada awal kehamilan karena nisbah

estrogen-gestagen rendah. Menjelang akhir kehamilan estrogen diproduksi

dalam jumlah yang lebih besar oleh plasenta, yang mensensibilisasi otot uterus

terhadap oksitosin. Di samping itu ketegangan dinding uterus akibat

pertumbuhan fetus yang cepat secara refleks menyebabkan meningkatnya

pembebasan oksitosin (Mutschler, 1991).

Oksitosin tidak hanya menyebabkan kontaksi otot uterus, melainkan juga

otot polos kelenjar buah dada. Dengan demikian air susu ditekan dari ujung

saluran menuju ke saluran pengeluaran. Pembebasan oksitosin dari hipofisis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

terjadi secara refleks ketika bayi menyusu, karena itu oksitosin juga

diindikasikan untuk meningkatkan pengosongan air susu, misalnya pada

penyumbatan air susu atau pada mastitis puerperalis (Mutschler, 1991).

Secara menyeluruh indikasi oksitosin, antara lain:

1) membantu memulai proses melahirkan pada pecah ketuban sebelum

waktunya, keluar plasenta sebelum waktunya, preeklamsia, eklamsia serta

pada transfusi.

2) selama proses melahirkan pada kelemahan kontraksi.

3) untuk kontaksi uterus setelah operasi sesar.

4) dalam periode setelah melahirkan untuk mengeluarkan plasenta, untuk

mengurangi hilangnya darah dan untuk profilaksis dan juga mengatasi toni

uterus (Mutschler, 1991).

Selain indikasi oksitosin, terdapat pula beberapa indikasi utama dari

alkaloid ergot terutama pada periode setelah melahirkan, seperti pada keluarnya

plasenta yang diperlambat; pendarahan setelah plasenta keluar; pembendungan

pengeluaran darah pada waktu haid; dan kurangnya pembentukan kembali

uterus pada nifas (Mutschler, 1991).

b. Cairan Elektrolit

Dalam keadaan normal, tubuh akan selalu kehilangan air berikut

elektrolit melalui urin, feses dan perspiratio insensibilis atau paru-paru serta

kulit, dan digantikan dengan air yang didapat tubuh melalui makanan, minuman

dan hasil oksidasi proses metabolisme (Manuaba, 1999).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

Menurut Manuaba (1999), cairan tubuh manusia terbagi dalam:

1) cairan ektraseluler (CES), 20%, dengan perincian cairan plasma 5% BB dan

cairan interstitial 15% BB.

2) cairan intraseluler (CIS), 40%.

3) cairan transeluler (CTS), 1-3% BB.

Banyaknya cairan tubuh pada pria dewasa yaitu 60-65% BB, pada wanita

dewasa 55-60% BB dan pada anak-anak 65-80% BB.

Pendarahan yang cukup banyak akan menimbulkan perubahan cairan

tubuh dan metabolismenya, sehingga dapat mengganggu sistem tubuh secara

keseluruhan. Dalam bidang Obstetri dan Ginekologi, kehilangan cairan tubuh

disebabkan oleh:

a) dehidrasi, karena intake yang kurang pada saat persalinan yang berlangsung

lama atau pada persalinan terlantar dan hiperemesis gravidarum karena

kurang minum dan makan. Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh,

diperlukan intake cairan sebanyak 2.000 cc per hari, sehingga fungsi organ

dapat berlangsung dengan baik. Cairan yang diberikan adalah kombinasi

Ringer laktat, Ringer dextrosa, dextrosa atau chloret.

b) pendarahan karena abortus atau keguguran, mola hidatidosa, kehamilan

ektopik terganggu, perdarahan antepartum, trauma persalinan, perdarahan

postpartum, dan tindakan bedah. Pendarahan menyebabkan hilangnya

sejumlah darah yang berfungsi dalam pembuluh darah, menyebabkan

penurunan tekanan darah vena sentral dan perifer, dan meningkatnya nadi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

sebagai kompensasi. Dalam keadaan yang lebih serius, produksi urin

semakin berkurang. Bila keadaan ini tidak segera diatasi, maka akan

menarik cairan interstitial (Manuaba, 1999).

Larutan elektrolit diberikan intravena untuk memenuhi kebutuhan normal

akan cairan dan elektrolit atau untuk menggantikan kekurangan yang cukup besar

atau kehilangan yang berkelanjutan, untuk penderita yang mual dan muntah dan

tidak dapat memenuhi kebutuhannya melalui mulut (Anonim, 2000a).

D. Penggunaan Obat yang Rasional

Penggunaan obat yang rasional, mensyaratkan bahwa pasien menerima

obat-obatan yang sesuai pada kebutuhan klinik mereka, dalam dosis yang

memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk suatu periode waktu yang

memadai, dan pada harga terendah untuk mereka dan masyarakat (Siregar, 2006).

Istilah penggunaan obat yang rasional dalam konteks biomedis mencakup

kriteria berikut:

1. obat yang benar.

2. indikasi yang tepat, yaitu alasan menulis resep didasarkan pada pertimbangan

medis yang baik.

3. obat yang tepat, mempertimbangkan kemanjuran, keamanan, kecocokan bagi

pasien, dan harga.

4. dosis pemberian dan durasi pengobatan yang tepat.

5. pasien yang tepat, yaitu tidak ada kontraindikasi dan kemungkinan reaksi

merugikan adalah minimal.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

6. dispensing yang benar, termasuk informasi yang tepat bagi pasien tentang obat

yang ditulis.

7. kepatuhan pasien terhadap pengobatan (Siregar, 2006).

E. Drug Related Problems (DRPs)

Permasalahan dalam farmasi klinis terutama muncul karena pemakaian

obat. Drug realated problem (DRPs) atau sering diistilahkan dengan Drug therapy

problem (DTP) adalah kejadian atau efek yang tidak diharapkan yang dialami

pasien dalam proses terapi dengan obat dan secara aktual atau potensial

bersamaan dengan outcome yang diharapkan pada saat mendapat perawatan akibat

dari suatu penyakit (Cipolle, 2004).

Masalah-masalah yang terkait dengan DRPs antara lain:

1. butuh terapi obat tambahan (need for additional drug therapy), yang meliputi

kondisi medis yang membutuhkan terapi obat baru, keadaan kronis yang

membutuhkan kelanjutan terapi, kondisi yang membutuhkan kombinasi obat

untuk mendapatkan efek sinergis atau potensiasi, kondisi dengan resiko dan

butuh obat untuk mencegahnya.

2. salah obat (wrong drug), yang meliputi kondisi yang menyebabkan obat tidak

efektif, alergi obat tertentu, obat yang bukan paling efektif untuk indikasi,

faktor risiko yang kontraindikasi dengan obat, efektif tetapi bukan yang paling

murah, efektif tetapi bukan yang paling aman, antibiotika resisten terhadap

infeksi pasien, kombinasi yang tidak perlu.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

3. dosis terlalu rendah (dosage too low), meliputi terlalu rendah untuk

memberikan respon, konsentrasi obat di bawah therapeutic range yang

menyangkut obat, dosis, rute, atau konversi formulasi obat tidak cukup,

pemberian terlalu awal.

4. dosis terlalu tinggi (dosage too high), meliputi dosis terlalu tinggi, kadar

serum terlalu tinggi, dosis terlalu cepat dinaikkan, akumulasi obat karena

penyakit kronis, obat, dosis, rute, konversi formula tidak sesuai bagi pasien.

5. adverse drug reaction (ADR), yang meliputi diberikan dengan kecepatan yang

terlalu tinggi, alergi, faktor risiko, interaksi obat-obat atau makanan, hasil

laboratorium berubah akibat obat.

6. obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy), yang meliputi tidak ada

indikasi pada saat itu, menelan obat dengan jumlah yang toksik, kondisi akibat

penyalahgunaan obat, lebih baik disembuhkan dengan terapi non drug,

pemakaian dosis ganda yang seharusnya cukup dengan terapi dosis tunggal,

minum obat untuk mencegah efek samping obat lain yang seharusnya dapat

dihindarkan.

7. ketidaktaan pasien dalam menggunakan obat (uncomplience), meliputi tidak

menerima obat sesuai regimen karena medication error, tidak taat intruksi,

harga obat mahal dan tidak memahami aturan penggunaan obat.

Sebagai Farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi DRPs, kemudian

membuat solusi terhadap DRPs tersebut, sehingga tercapai obat yang diharapkan

yaitu: tepat indikasi, efektif, aman, dan ditaati pasien (Cipolle, 2004).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

F. Keterangan Empiris

Penelitian mengenai Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Pasca Bedah

Sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar Periode Februari

2007 dapat meningkatkan kerasionalan penggunaan obat yang digunakan untuk

terapi pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Pasca Bedah

Sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar Periode Februari

2007 merupakan penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan pada

subyek uji. Rancangan penelitiannya ialah deskritif evaluatif, karena data yang

telah diperoleh dari lembar rekam medik kemudian dievaluasi, dan dideskripsikan

dengan memaparkan fenomena apa yang terjadi, yang ditampilkan dalam bentuk

persentase, distribusi, frekuensi dan gambar. Pengambilan datanya dilakukan

secara prospektif, artinya data yang diambil adalah data mulai dari pasien masuk

sampai pulang (Sastroasmoro dan Ismael, 1995).

B. Definisi Operasional

1. Obat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua obat yang diberikan

untuk terapi pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah

Denpasar periode Februari 2007.

2. Antibiotika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah antibiotika yang

digunakan untuk pasien bedah sesar, yang meliputi antibiotika profilaksis

dan antibiotika empirik.

3. Antibiotika profilaksis adalah antibiotika yang digunakan sebelum ada tanda

dan gejala infeksi, untuk mencegah manisfestasi klinik infeksi tertentu.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

4. Antibiotika empirik adalah antibiotika yang digunakan sebelum diketahui

jenis bakteri yang menginfeksi pasien.

5. Evaluasi penggunaan obat adalah melihat serta mengevaluasi obat-obatan

yang diberikan pada pasien bedah sesar yang meliputi: golongan dan jenis

obat, dosis obat, serta drug related problems yang terjadi.

6. Golongan obat yang diterima pasien bedah sesar contohnya: antimikroba,

oksitosik, alkaloid ergot, analgesik non opioid antiinflamasi non steroid,

obat yang mempengaruhi darah, obat yang mempengaruhi gizi,

kortikosteroid, dan analog prostaglandin.

7. Jenis obat yang diterima pasien bedah sesar contohnya: amoksisilin,

ampisilin, sulbenisilin, sefotaksim, oksitosin, metilergometrin, asam

mefenamat, fero sulfat, vitamin C, vitamin B1, vitamin B12, deksametason,

dan misoprostol.

8. Dosis obat yang dimaksud adalah dosis yang diberikan pada pasien bedah

sesar untuk satu kali pemberian.

9. Drug Related Problems (DPRs) yang dimaksudkan adalah permasalahan

yang muncul berhubungan dengan penggunaan obat, yang meliputi: butuh

terapi obat tambahan, salah obat, dosis terlalu rendah, dosis terlalu tinggi,

efek samping obat, obat tanpa indikasi dan ketidaktaatan pasien.

10. Waktu pengamatan adalah waktu mulai dari pasien bedah sesar masuk

sampai keluar dari Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar

pada periode Februari 2007.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

11. Sembuh yang dimaksud dalam penelitian ini yang berhubungan dengan

penggunaan obat adalah kondisi klinis pasien membaik setelah pemberian

obat dan tidak terdapat keluhan terhadap obat yang diberikan.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian berjumlah 27 pasien, yang meliputi seluruh pasien pasca

bedah sesar yang dirawat di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar Periode Februari 2007, mulai pasien masuk sampai pulang. Data dari

pasien yang pindah ke ruang perawatan lain, tidak diambil sebagai data untuk

penelitian ini.

D. Bahan Penelitian dan Lokasi Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah berupa lembar rekam medik

pasien pasca bedah sesar sepanjang bulan Februari 2007 yang berisi data klinis

dan peresepan obat untuk pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah

Sakit Sanglah Denpasar. Lokasi penelitian ini yaitu di Bangsal Bakung Timur

Rumah Sakit Sanglah Denpasar, yang terletak di Jalan Diponogoro Denpasar,

Bali.

E. Jalannya Penelitian

1. Analisis situasi dan penentuan masalah

Dimulai dengan melihat pola pasien bedah sesar yang ada di Bangsal

Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah sepanjang bulan Februari 2007, yang

diperoleh langsung dari lembar rekam medik dokter setelah pemeriksaan rutin
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

pada pasien. Laporan tersaji dalam bentuk catatan terdistribusi pola pasien bedah

sesar tiap hari sepanjang bulan Februari, sehingga dapat diketahui angka kejadian

pasien bedah sesar periode Februari 2007.

Penelitian mengenai pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur

Rumah Sakit Sanglah Denpasar belum pernah dilakukan sebelumnya, maka

masalah tentang penggunaan obat pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007 ini dipilih

oleh peneliti untuk dijadikan bahan penelitian.

2. Tahap penelusuran data

Tahap penelusuran data dilakukan dengan melihat lembar rekam medik

yang berupa catatan yang terkait dengan pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007.

Berdasarkan catatan tersebut dapat dicatat nomor rekam medik, nama, usia pasien,

indikasi, diagnosa masuk dan diagnosa keluar, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan,

kelas bangsal, obat-obat yang diterima pasien, serta lama rawat inap yang dijalani

pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

3. Tahap pengambilan data

Pengambilan data dilakukan di bagian penyimpanan sementara lembar

rekam medik pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah

Denpasar. Pengambilan data dilakukan secara prospektif, karena data yang

diambil adalah data pasien bedah sesar mulai dari pasien masuk sampai pulang,

selama satu bulan kedepan, yaitu sepanjang bulan Februari 2007.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

Dalam proses ini data diperoleh dengan mengambil data dari lembar

rekam medik yang didasarkan pada nomor rekam medik pasien bedah sesar di

Bangsal Bakung Timur. Data yang diambil meliputi nomor rekam medik; usia

pasien; indikasi; diagnosis masuk dan diagnosis keluar; tingkat pendidikan; jenis

pekerjaan; kelas bangsal; obat-obat yang diberikan meliputi golongan, jenis, dosis,

jumlah yang diberikan, dan cara pemberiannya; serta lama rawat inap yang

dijalani pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur periode Februari 2007.

4. Tahap analisis data

Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan usia pasien, indikasi

pasien, tingkat pendidikan pasien, jenis pekerjaan pasien, kelas bangsal,

presentase golongan dan jenis obat yang diterima pasien, lama rawat inap, serta

kondisi pasien saat pulang dari Bangsal Bakung Timur periode Februari 2007.

Semua ini disampaikan dalam bentuk tabel, kemudian data tersebut akan diberi

keterangan berupa narasi dan penjelasannya. Tahap terakhir yang dilakukan

adalah membahas dan mengevaluasi mengenai penggunaan obat berdasarkan

DRPs khususnya pada pasien kasus pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur

sepanjang bulan Februari 2007.

F. Tata Cara Analisis Hasil

Analisis hasil dalam penelitian ini dikelompokkan menurut usia pasien,

indikasi pasien, tingkat pendidikan pasien, jenis pekerjaan pasien, kelas bangsal,

presentase golongan dan jenis obat yang diterima pasien, lama rawat inap, serta
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

46

kondisi pasien saat pulang dari Bangsal Bakung Timur RS Sanglah periode

Februari 2007. Data dibahas secara evaluatif dengan bantuan visualisasi tabel,

yang meliputi:

1. distribusi usia pasien pada pasien pasca bedah sesar dikelompokkan menjadi 6

kelompok usia, yaitu 19 tahun, 20-24 tahun, 25-29 tahun, 30-34 tahun, 35-

39 tahun, dan 40 tahun.

2. presentase usia pasien, indikasi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan pasien,

kelas bangsal, lama rawat inap dan kondisi pasien saat pulang dihitung dengan

cara menghitung jumlah tiap kasus kemudian dibagi dengan jumlah kasus

keseluruhan dikalikan 100%.

3. presentase golongan dan jenis obat yang digunakan dihitung dengan cara

menjumlahkan berapa kali golongan dan jenis obat yang digunakan pada

setiap kasus, kemudian dibagi jumlah kasus bedah sesar dikalikan 100%.

4. evaluasi penggunaan obat pada pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur

RS Sanglah periode Februari 2007, dengan cara mengidentifikasi DRPs yang

terjadi terkait dengan penggunaan obat, antara lain:

a. butuh obat, yaitu ada indikasi penyakit tapi tidak diberi obat.

b. tidak perlu obat, yaitu terjadinya pemborosan biaya akibat penggunaan

obat yang berlebihan pada kasus-kasus yang sebenarnya tidak memerlukan

obat.

c. obat yang diberikan salah/tidak sesuai, yaitu pemberian obat yang tidak

sesuai dapat menyebabkan tidak tercapainya manfaat klinik yang optimal

dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

d. pasien mendapat dosis obat yang kurang.

e. munculnya efek samping akibat penggunaan obat.

f. adanya interaksi antara obat dengan obat lain akibat penggunaan secara

bersamaan

g. pasien mendapat dosis yang berlebih

Identifikasi DRPs dilakukan dengan menggunakan metode SOAP (subyek,

obyek, assessement, plan) termodifikasi, dimana bagian plan diganti dengan

rekomendasi. Standar terapi yang digunakan adalah WHO tahun 2000, dan

untuk melihat dosis obat serta bentuk sediaan obat digunakan Informatorium

Obat Nasional Indonesia (IONI) tahun 2000, MIMS tahun 2006, Informasi

Spesialite Obat (ISO) Indonesia tahun 2002, AHFS Drug Handbook tahun

2003, serta Physicians Drug Handbook tahun 2003.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pasien Bedah Sesar

Karakteristik pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar periode Februari 2007, berdasarkan data yang diperoleh,

terdapat 27 kasus. Data yang diperoleh diambil mulai dari pasien datang sampai

pasien pulang. Pengelompokan pasien bedah sesar berdasarkan usianya dapat

dilihat pada tabel I.

Tabel I. Usia Pasien Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah


Denpasar Periode Februari 2007.

No Usia pasien Jumlah pasien (n=27) Presentase jumlah


(%)
1. 19 1 3,7
2. 20-24 2 7,4
3. 25-29 9 33,3
4. 30-34 12 44,5
5. 35-39 2 7,4
6. 40 1 3,7
Jumlah 27 100

Dari hasil penelitian, pasien dengan usia termuda atau dibawah 19 tahun

sebanyak 1 pasien, yaitu usia 18 tahun, sedangkan usia pasien tertua adalah usia

41 tahun. Pada pasien dengan usia kurang dari 19 tahun atau lebih dari 35 tahun,

sama-sama mempunyai risiko yang lebih besar dalam kehamilan dan dalam proses

persalinan, karena dapat mempengaruhi optimalisasi ibu maupun janin.

Pasien yang menjalani bedah sesar mempunyai indikasi yang berbeda-

beda. Akan tetapi, pada penelitian ini, semua pasien memiliki indikasi bedah sesar

karena kehamilan dengan risiko tinggi. Persalinan dengan keadaan risiko tinggi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

memerlukan perhatian yang serius, karena pertolongan yang dilakukan akan

menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan neonatus (perinatal). Pasien

dengan satu indikasi dapat dilihat pada tabel II, sedangkan pasien dengan lebih

dari satu indikasi dapat dilihat pada tabel III.

Tabel II. Pasien dengan Satu Indikasi Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur
RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No Indikasi Bedah Sesar Jumlah Pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)
1. Malposisi 4 14,8
2. Ketuban pecah dini (KPD) 2 7,4
3. Preeklamsia ringan 1 3,7
4. Mioma uteri 1 3,7
5. Blood slym 3 11,1
6. Lokus Minoris Resisten 5 18,6
(LMR)
7. Oligohidramnion 1 3,7
Jumlah 17 63

Tabel III. Pasien dengan Lebih dari Satu Indikasi Bedah Sesar di Bangsal
Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Indikasi Bedah Sesar Jumlah pasien Presentase


(n=27) jumlah (%)

1. LMR + KPD 2 7,4


2. LMR + KPD + Febris 1 3,7
3. Malposisi + KPD 3 11,1
4. Malposisi + Plasenta previa + 1 3,7
Pendarahan aktif
5. Plasenta previa + Pendarahan aktif 1 3,7
6. KPD + Preeklamsia 1 3,7
7. Primipara tua + Malposisi + KPD 1 3,7
Jumlah 10 37

Keterangan:
KPD = Ketuban Pecah Dini LMR = Lokus Minoris Resisten
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

50

Dari tabel II dan III dapat dilihat bahwa pasien dengan indikasi ketuban

pecah dini (KPD) atau robeknya kantung ketuban sebelum waktunya, menduduki

peringkat pertama, baik pada pasien dengan satu indikasi atau lebih dari satu

indikasi, yaitu sebanyak 10 pasien atau 37%. Peringkat kedua adalah pasien

dengan indikasi malposisi sebanyak 9 pasien atau 33,3%. Peringkat ketiga yaitu

pasien dengan indikasi LMR atau luka sesudah bedah sesar sebelumnya yang

resisten untuk robek, sebanyak 8 pasien atau 29,6%.

Pada kasus preeklamsia ringan, pasien harus dikontrol dengan teratur dan

ketat, karena keadaan dapat tiba-tiba memburuk yang dapat berakibat kurangnya

sirkulasi utero-plasenta, terjadinya gangguan pertumbuhan pada bayi, hipoksemia,

asidosis, bayi prematur dan kematian bayi. Bagi pasien dengan indikasi

preeklamsia ringan disarankan untuk istirahat yang cukup dan diet rendah garam.

Pemberian antihipertensi sebaiknya dihindari, untuk mencegah sekecil mungkin

timbulnya kelainan yang tidak diharapkan pada bayi akibat antihipertensi, karena

obat antihipertensi dapat melewati plasenta dan disekresi ke air susu ibu (ASI).

Pasien dengan indikasi ketuban pecah dini perlu mendapatkan perawatan

unit gawat darurat. Dengan keluarnya sebagian air ketuban dapat menyebabkan

terjadinya aspirasi air ketuban pada saluran pernapasan bayi. Hal ini bisa

berakibat fatal (kematian) pada bayi, karena dengan adanya air ketuban dalam

saluran pernapasan, bayi akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

Berdasarkan data tingkat pendidikan pasien, seperti yang disajikan dalam

tabel IV, dapat dikatakan bahwa pendidikan pasien bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur masih cukup rendah. Hal tersebut terlihat dari masih adanya pasien
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

51

yang tidak lulus SD dan hanya sedikit sekali pasien yang mengenyam tingkat

pendidikan sampai perguruan tinggi. Terkait dengan indikasi pasien melakukan

bedah sesar, dalam hal ini tingkat pendidikan pasien di Bangsal Bakung Timur

periode Februari 2007 tidak dapat dihubungkan dengan indikasi mereka untuk

melakukan bedah sesar. Hal tersebut, disebabkan setiap pasien mempunyai

indikasi yang tepat untuk dilakukan persalinan melalui bedah sesar, yaitu

kehamilan dengan risiko tinggi, seperti disebutkan pada tabel I dan II di atas.

Tabel IV. Data Tingkat Pendidikan Pasien Pasca Bedah Sesar di Bangsal
Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Tingkat pendidikan Jumlah pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)
1. Tidak Lulus SD 2 7,4
2. SD 3 11,1
3. SLTP 4 14,8
4. SLTA 15 55,6
5. Perguruan Tinggi 2 7,4
6. Tidak Jelas 1 3,7
Jumlah 27 100

Keterangan:
SD = Sekolah Dasar
SLTP = Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
SLTA = Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

Pasien yang dirawat di Bangsal Bakung Timur memiliki pekerjaan yang

berbeda-beda. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka adalah Ibu Rumah Tangga

(IRT). Berdasarkan jenis pekerjaan pasien, tidak dapat dihubungkan dengan

indikasi pasien melakukan bedah sesar. Hal tersebut, disebabkan oleh tidak

adanya indikasi sosial yang melatarbelakangi pasien untuk melakukan bedah

sesar. Data tersebut tersaji dalam tabel V.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

Tabel V. Pekerjaan Pasien Bedah Sesar yang Dirawat di Bangsal Bakung


Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Pekerjaan Jumlah pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)

1. Pegawai Negeri Sipil 1 3,7


2. Pegawai Swasta 7 25,9
3. Wiraswata 1 3,7
4. Petani 1 3,7
5. Nelayan 3 11,1
6. Buruh 1 3,7
7. Ibu Rumah Tangga 12 44,5
8. Lain-lain 1 3,7
Jumlah 27 100

Dari hasil penelitian, Bangsal Bakung Timur hanya menyediakan ruang

perawatan (bangsal) kelas II dan kelas III saja. Pasien yang menempati bangsal di

kelas III jauh lebih banyak daripada di kelas II, karena sebagian besar pasien

yang dirawat berasal dari keluarga miskin dan sebagian lagi dengan asuransi

kesehatan.

Tabel VI. Data Kelas Bangsal Pasien Pasca Bedah Sesar di Bangsal Bakung
RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Kelas Bangsal Jumlah pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)
1. Bangsal kelas II 2 7,4
2. Bangsal kelas III 25 92,6
Jumlah 27 100
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

B. Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Pasca Bedah Sesar di


Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode
Februari 2007.

1. Kelas Terapi

Obat-obat yang diterima oleh pasien bedah sesar selama perawatan sangat

bervariasi, tergantung dari keadaan klinis masing-masing pasien. Akan tetapi,

pada umumnya kelas terapi yang diterima adalah kelas terapi antiinfeksi, obat

Obstetrik dan Ginekologi, obat gizi dan darah, analgesik, cairan elektrolit, serta

transfusi darah. Kelas terapi pada pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur

periode Februari 2007 diperlihatkan pada tabel VII.

Tabel VII. Kelas Terapi pada Pasien Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur
RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Kelas Terapi Jumlah pasien Presentase


(n=27) jumlah (%)
1. Antiinfeksi 27 100
2. Obat Obstetrik dan Ginekologi 27 100
3. Analgesik 27 100
4. Obat yang mempengaruhi gizi dan 27 100
darah
5. Cairan elektrolit dan karbohidrat 26 96,3
6. Transfusi darah 14 51,9

2. Jenis Obat

a. Antiinfeksi

Pada kasus bedah, antiinfeksi profilaksis diberikan untuk tindakan bedah

tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila

terjadi infeksi pasca bedah. Pemberian antiinfeksi sesudah bedah sesar dianjurkan

untuk tindakan profilaksis terhadap bahaya infeksi. Dengan semakin luasnya sifat

resistensi mikroba terhadap antibiotika, maka untuk tindakan profilaksis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

digunakan antibiotika berspektrum luas, berdasarkan pengalaman. Akan tetapi,

pada kasus bedah sesar, terutama dengan indikasi ketuban pecah dini, antibiotika

untuk tindakan profilaksis perlu diberikan. Tujuannya yaitu untuk mencegah

terjadinya infeksi yang timbul akibat adanya cairan yang keluar melalui vagina,

yang juga merupakan jalan masuk bagi mikroba, terutama mikroba yang bersifat

patogen. Walaupun bedah sesar merupakan jenis operasi bersih, yang tidak

memerlukan antibiotika profilaksis sebelum dilaksanakannya operasi, akan tetapi

pada kasus-kasus tertentu seperti ketuban pecah dini dan pendarahan antepartum,

antibiotika dirasa sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya infeksi sebelum

operasi.

Antibiotika profilaksis yang diterima oleh pasien bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur, yang operasinya dilakukan secara terencana adalah injeksi

ampisilin atau sulbenisilin atau kedacilin 1-2 gram yang diberikan 1 jam sebelum

operasi, atau untuk pasien kiriman yaitu 30 menit sebelum operasi atau selama

menunggu persiapan ruang operasi. Pemberian antibiotika dilanjutkan kembali

setelah operasi selesai atau setelah bayi lahir, umumnya dengan antibiotika

amoksisilin atau kedacilin yang diberikan secara oral selama 3-7 hari.

Pemberian antibiotika profilaksis selama bedah sesar di Bangsal Bakung

Timur telah sesuai dengan pedoman terapi antibiotika untuk profilaksis pada

kasus bedah sesar, yaitu antibiotika diberikan 30 menit sebelum operasi, dan

setelah kelahiran bayi. Antibiotika yang sering digunakan berdasarkan pedoman

(Anonim, 2000c) adalah kombinasi ampisilin 2 gram secara intravena (i.v.) setiap

6 jam, gentamisin 5 mg/kg BB secara i.v. dan metronidazol 500 mg secara i.v.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

55

setiap 8 jam, sedangkan untuk infeksi yang tidak terlalu berat dapat diberikan

amoksisilin 500 mg secara oral. Dari hasil penelitian, antibiotika yang diberikan

pada pasien pasca bedah tidak dalam bentuk kombinasi, hal tersebut disebabkan

karena pemberian antibiotika lebih pada tindakan profilaksis, dan kemungkinan

terjadinya infeksi pasca bedah sesar sangat kecil, yaitu 2-4% karena termasuk

operasi bersih. Selain itu, pemberian antibiotika yang berlebih akan meningkatkan

biaya yang harus ditanggung pasien bedah sesar, mengingat sebagian besar pasien

berasal dari masyarakat miskin dan asuransi kesehatan. Antibiotika sebelum

operasi diberikan melalui injeksi supaya antibiotika yang bersangkutan cepat

mencapai konsentrasi dalam darah, sehingga lebih cepat memberikan efek

pencegahan terhadap infeksi sebelum operasi.

Pemberian antibiotika kuratif diberikan pada pasien bedah sesar dengan

tujuan untuk pengobatan infeksi yang telah terjadi. Salah satu tanda yang paling

mudah untuk mencurigai telah terjadinya suatu infeksi oleh bakteri adalah adanya

kenaikan suhu tubuh sekitar 38oC. Dari hasil penelitian, terdapat satu pasien yang

mengalami kenaikan suhu tubuh yaitu 38oC. Pasien tersebut dicurigai mengalami

infeksi, sehingga diberikan terapi antibiotika golongan penisilin, yaitu ampisilin

3x1 gram, melalui injeksi intravena.

Pemberian antiinfeksi haruslah hati-hati dan dengan dosis yang tepat,

karena dapat menyebabkan resistensi terhadap obat antiinfeksi itu sendiri.

Antiinfeksi yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.

Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif

tidak toksik untuk hospes.

Penggunaan obat dengan interval yang tidak konstan dapat menyebabkan

kadar obat dalam jaringan berfluktuasi tidak teratur. Pada interval yang pendek,

kadar obat dalam jaringan dapat sangat meningkat, sedangkan pada interval yang

panjang, kadar obat menjadi rendah. Perhatian utama dalam terapi, khususnya

terapi dengan antimikroba adalah mempertahankan konsentrasi efektif obat pada

tempat mikroba berkembangbiak dalam jaringan untuk waktu yang lama,

sehingga dapat memusnahkan mikroba. Supaya dapat mempertahankan

konsentrasi obat yang cukup untuk waktu yang lama, maka hubungan antara dosis

dan waktu haruslah diperhatikan. Selain itu, mempertahankan konsentrasi obat

supaya tetap tinggi merupakan salah satu cara untuk mengurangi terjadinya

resistensi, karena dapat menghambat populasi bakteri asli dan mutan turunan

pertama.

Obat antiinfeksi yang diberikan kepada pasien bedah sesar adalah

antibiotika, yang diperlihatkan pada tabel VIII. Dari hasil penelitian, antibiotika

golongan penisilin, yaitu amoksisilin dan ampisilin merupakan antibakteri yang

paling banyak digunakan dan merupakan pilihan pertama untuk terapi pasien

pasca bedah sesar. Terapi dengan antibiotika golongan penisilin sering kali

mengalami kegagalan karena adanya resistensi.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

57

Amoksisilin dan ampisilin merupakan antibiotika time-dependent yang

kadarnya dalam serum tergantung pada interval pemberian, supaya tidak terjadi

resistensi pada pasien. Penggunaan amoksisilin lebih banyak daripada jenis

lainnya, karena mempunyai absorbsi yang lebih baik bila dibandingkan dengan

ampisilin dan menghasilkan kadar yang lebih tinggi dalam plasma dan jaringan.

Hal ini disebabkan amoksisilin tidak terganggu absorbsinya oleh makanan.

Amoksisilin diberikan secara oral dan aman diberikan selama laktasi, karena

mencapai air susu ibu dalam jumlah yang sedikit, yaitu <10% dari jumlah yang

diberikan.

Tabel VIII. Antiinfeksi yang Diterima Pasien Bedah Sesar di Bakung Timur
RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Gol. Obat Jenis obat Jumlah Presentase Dosis Dosis Ket.
pasien jumlah acuan
(n=27) (%)

1. penisilin amoksisilin 27 100 3x500mg 250-500 Tepat


(tiap 8 mg tiap 8 dosis
jam) jam
ampisilin 19 70,4 4x500mg 0,25-1 Tepat
(tiap 6 gram tiap dosis,
jam) 6 jam, 30 tidak
3x1 gram menit tepat
(tiap 8 sebelum interv
jam) makan al
untuk
tiap 8
jam
penisilin anti- sulbenisilin 11 40,7 3x1 gram 2-4 gram Tepat
Pseudomonas (Kedacilin) (tiap 8 dibagi dosis
jam) dalam 2-4
kali
pemberian
sefalosporin sefotaksim 3 11,1 3x1 gram 1 g tiap 12 Tepat
generasi ketiga (tiap 8 jam, dapat dosis
jam) ditingkatk
an sampai
12 g/ hari
dalam 3-4
kali
pemberian
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

Sulbenisilin merupakan kelompok antibiotika -laktam, turunan dari

penisilin anti-Pseudomonas, yaitu Pseudomonas aeruginosa. Seperti -laktam

yang lainnya, sulbenisilin juga memiliki aktivitas bekterisid yang bersifat time-

dependent. Sulbenisilin diberikan secara injeksi intravena (i.v.) karena aktivitas

antimikrobanya berkurang dalam suasana asam, misalnya adanya asam lambung

bila diberikan secara oral.

Sefotaksim merupakan antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga.

Sefotaksim efektif pada Enterobacteriaceae dan Pseudomonas, serta sering

digunakan untuk tindakan profilaksis pada pembedahan. Sefotaksim mengalami

metabolisme di dalam hati dan menjadi desasetilsefotaksim, yang merupakan

metabolit aktif, untuk kemudian diekskresi ke dalam urin tanpa mengalami

perubahan bentuk. Sefotaksim merupakan obat yang relatif mahal, karena

termasuk antibiotika baru, namun cenderung untuk diresepkan karena efektif pada

kuman gram-positif dan gram-negatif.

b. Obat Obstetrik dan Ginekologi

Pasien pasca bedah sasar mempunyai kemungkinan yang sangat besar

untuk mengalami pendarahan pasca bedah. Pendarahan pasca bedah terjadi setelah

bayi lahir, dimana darah yang keluar melebihi 400-500 cc. Pendarahan pasca

bedah sesar atau pendarahan postpartum dapat terjadi karena antonia uteri akibat

persalinan pada partus kasep, hidramnion, dan janin besar atau berat janin lebih

dari 4.000 gram; trauma jalan lahir akibat ruptura uteri, robekan serviks,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

59

robekan vagina, robekan perineum, hematoma dinding vagina, dan hematoma

parametrium; retensio plasenta; dan hipofibrinogenemia akibat solusio plasenta,

kematian janin intrauteri, dan emboli air ketuban.

Jenis pendarahan postpartum ada dua, yaitu pendarahan primer yang

terjadi dalam 24 jam pertama dan pendarahan sekunder yang terjadi setelah 24

jam. Gejala klinis yang muncul pada pendarahan postpartum yang melebihi 25%

dari volume darah, antara lain: menurunnya tingkat kesadaran; frekuensi nadi dan

pernapasan meningkat; tekanan darah menurun; daerah ujung ekstremitas terasa

dingin, pucat dan anemia; pada keadaan yang serius dapat disertai gejala syok.

Dampak yang paling berbahaya dari pendarahan postpartum adalah kematian.

Akan tetapi, dengan tersedianya fasilitas dan tenaga ahli yang menunjang serta

obat-obatan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pendarahan postpartum,

maka semua hal tersebut di atas dapat kita dihindari. Beberapa obat yang sering

digunakan untuk pencegahan pendarahan postpartum adalah oksitosik dan

alkaloid ergot seperti tersaji pada tabel IX.

Tabel IX. Obat Obstetrik dan Ginekologi yang Diterima Pasien Bedah Sesar
di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Golongan obat Jenis obat Jumlah pasien Presentase


(n=27) jumlah (%)
1. oksitosik oksitosin 24 88,8
2. alkaloid ergot metilergometrin 27 100
(Methergin)

Oksitosik adalah obat yang bekerja dengan cara merangsang pengeluaran

prostaglandin yang banyak dijumpai dalam jaringan tubuh, sehingga terjadi

kontraksi uterus yang berada dalam kehamilan. Kerja dari oksitosik tersebut
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

60

digunakan untuk memulai persalinan, baik pada kehamilan muda maupun lanjut

dan mencegah atau menghentikan pendarahan pascasalin. Oksitosik dianggap

memberikan kemudahan dalam persalinan dan memegang peranan penting dalam

refleks ejeksi susu, serta mengurangi pembengkakan payudara pasca persalinan.

Oksitosin memberikan hasil yang baik pada pemberian parenteral, karena

jika diberikan injeksi oksitosin tunggal, kadang-kadang tidak berhasil. Hal

tersebut disebabkan oleh penguraian dengan cepat oksitosin oleh oksigenase.

Oksitosin dapat diberikan dalam bentuk infus tetes lama secara intravena (i.v)

bersama dengan 5% glukosa. Keuntungan pemberian oksitosin dengan infus tetes

lama adalah dapat mengatur dengan tepat kegiatan kontraksi.

Metilergometrin merupakan derivat dari alkaloid ergot. Metilergometrin

maleat digunakan untuk penanganan aktif kala 3 persalinan; terapi pendarahan

uterus yang terjadi selama dan setelah kala 3 persalinan, yang berhubungan

dengan bedah sesar atau setelah terjadinya aborsi; terapi subinvolusi uterus;

lokiometra; dan pendarahan pada masa nifas.

Dalam pertolongan proses melahirkan lebih disukai menggunakan

metilergometrin. Hal ini disebabkan oleh khasiatnya terhadap uterus lebih cepat

dan lebih kuat, serta tidak menunjukkan efek vasokontriksi dan efek simpatolitik.

Akan tetapi, penggunaan alkaloid ergot jenis metilergometrin memiliki bahaya

kontraksi yang lama, lebih berarti daripada setelah pemberian oksitosin, karena

khasiatnya yang lebih kuat. Pada pasien bedah sesar dengan indikasi letak

sungsang (malposisi) obat baru dapat diberikan setelah bayi dilahirkan, karena
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

61

dapat menyebabkan takikardi dan bradikardi. Pemberian metilergometrin maleat

kontraindikasi pada bedah sesar dengan indikasi preeklamsia dan eklamsia, karena

dapat memperparah hipertensi.

Oksitosin untuk tindakan pencegahan pendarahan pascasalin diberikan

secara i.v lambat sebesar 5 unit setelah keluar plasenta. Bila terjadi pendarahan

pascasalin maka oksitosin dapat diberikan secara i.v dengan dosis 5 unit, diikuti

dengan infus 5-20 unit dalam 500 ml glukosa 5% untuk antonia uterus, sedangkan

untuk abortus inkomplit atau missed abortus infus diberikan 20-40 miliunit/menit.

Dari data yang diperoleh, dosis oksitosin yang diberikan pada pasien pasca bedah

sesar di Bangsal Bakung Timur periode Februari 2007 yaitu 1 ampul atau 10 IU

(International Unit) dan 20 IU yang diberikan bersama dengan 5% dextrosa dalam

bentuk infus i.v. 20 dan 28 tetes/menit. Hal tersebut telah sesuai dengan dosis

yang seharusnya diberikan pada pasien pasca bedah sesar karena masih dalam

rentang 20-40 miliunit/menit.

Metilergometrin pada terapi subinvolusi, lokiometra dan pendarahan masa

nifas diberikan dalam dosis 0,125-0,250 mg, 1-2 tablet sampai dengan 3 kali

perhari pada wanita menyusui 3 hari. Dari hasil penelitian, obat metilergometrin

maleat atau methergin telah diberikan dengan dosis yang tepat yaitu 3 kali 1 tablet

(0,125 mg) per hari.

c. Analgesik

Analgesik pada pasien pasca bedah sesar diberikan dengan tujuan untuk

mengurangi nyeri pasca operasi, karena keluhan utama bagi pasien pasca bedah

sesar adalah rasa nyeri yang timbul setelah operasi. Analgesik yang diberikan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

62

pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur adalah analgesik non

opioid, yaitu asam mefenamat. Asam mefenamat adalah analgesik kelompok anti

inflamasi non steroid (AINS), tetapi sifat antiinflamasinya rendah. Penggunaan

analgesik non opioid mempunyai keuntungan karena tidak bersifat adiktif,

walaupun sedikit atau tidak sama sekali mempunyai efek antiinflamasi. Semua

pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur menerima analgesik jenis ini.

Asam mefenamat yang diberikan umumnya selama 2-4 hari setelah

operasi, tergantung pada lama timbulnya gejala nyeri. Asam mefenamat tidak

boleh diberikan lebih dari 7 hari karena dapat menyebabkan kerusakan hati. Asam

mefenamat sebaiknya diberikan setelah makan, karena dapat menimbulkan

perangsangan lambung yang berakibat timbulnya nyeri pada lambung. Data

mengenai persentase analgesik yang diberikan disajikan dalam tabel X.

Tabel X. Analgesik yang Diterima Pasien Pasca Bedah Sesar di Bangsal


Bakung Timur RS Sanglah Periode Februari 2007.

No. Golongan obat Jenis obat Jumlah Presentase Dosis Dosis Ket.
pasien jumlah acuan
(n=27) (%)

1. analgesik non asam 27 100% 3x500 3x500 Tepat


opioid mefenamat mg mg dosis
antiinflamasi
non steroid

d. Obat yang mempengaruhi gizi dan darah

Malnutrisi dengan berbagai tingkatan sering terjadi pada pasien pasca

bedah di Rumah Sakit, terutama pada wanita hamil. Hal tersebut disebabkan oleh

volume distribusi pada wanita hamil lebih besar dari wanita yang tidak hamil.

Adanya fetus akan memperluas ruang lingkup sirkulasi darah pada ibu, karena
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

63

darah yang berfungsi mengangkut nutrisi, selain diedarkan pada tubuh ibu juga

harus diedarkan pada fetus. Malnutris dapat menekan kekebalan, mempermudah

terinfeksi, dan mengganggu proses kesembuhan pasien yang bersangkutan. Oleh

karena itu, pasien perlu mendapat terapi dengan obat yang dapat mempengaruhi

gizi dan darah, sehingga dapat mempercepat kesembuhan pasien.

Penggunaan obat yang mempengaruhi gizi dan darah haruslah sesuai

dengan kebutuhan tubuh, jangan terlalu berlebihan, terutama penggunaan obat gizi

dan darah dari golongan multivitamin. Penggunaan vitamin yang berlebihan dapat

menimbulkan gejala keracunan. Sebaliknya, bila kekurangan vitamin, dapat

mengakibatkan gejala defisiensi. Pengobatan dengan sediaan besi oral hanya

dibenarkan bila terdapat defisiensi besi. Tindakan profilaksis hanya dibenarkan

pada wanita hamil yang mempunyai faktor risiko lain untuk terjadinya defisiensi

besi, misalnya pada pasien yang mengalami menoragi.

Garam besi diberikan secara oral. Walaupun penyerapannya lebih baik

saat perut kosong, akan tetapi untuk menghindari efek yang tidak diinginkan pada

gastrointestinal dan perubahan warna tinja, maka sediaan besi dapat diberikan

setelah makan. Sediaan oral biasa diberikan sebagai fero sulfat. Terapi dengan

fero sulfat sering dikombinasikan dengan vitamin C, karena dengan adanya

vitamin C menyebabkan pH lambung menurun, sehingga fero sulfat tidak larut di

lambung yang bersuasana asam, tetapi larut di usus yang mempunyai sifat basa.

Hal tersebut akan menyebabkan absorpsi fero sulfat di usus meningkat dengan

adanya vitamin C.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

64

Dari hasil penelitian, seperti yang disajikan pada tabel IX, hampir seluruh

pasien menerima terapi obat yang mempengaruhi gizi. Vitamin C diberikan untuk

terapi pasien pasca bedah sesar karena tubuh akan membutuhkan vitamin C yang

lebih banyak pada pasca bedah, dimana vitamin C sangat penting untuk

pembentukan kolagen dan bahan interseluler lain dalam jaringan, sehingga dapat

mempercepat penyembuhan dan untuk masa laktasi. Kebutuhan akan vitamin C

akan meningkat 300%-500% pada penyakit infeksi, pasca bedah atau trauma,

kehamilan dan laktasi.

Vitamin B1 (tiamin) oleh tubuh dibutuhkan untuk metabolisme energi,


B

terutama karbohidrat, sehingga kebutuhan vitamin B1 umumnya sebanding dengan

asupan kalori. Setelah pemberian parenteral absorpsinya akan berlangsung cepat

dan sempurna. Absorpsi per oral berlangsung dalam usus halus dan duodenum.

Vitamin B1 tidak menimbulkan efek toksik bila diberikan per oral, karena bila

terjadi kelebihan vitamin B1 dalam tubuh akan cepat diekskresi melalui urin

sebagai tiamin atau piridin. Vitamin B1 digunakan untuk pengobatan radang saraf

(neuritis) yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B1, misalnya wanita hamil yang

kurang gizi, penderita muntah saat hamil (emesis gravidarum) atau pada penyakit

infeksi yang kadang-kadang membutuhkan vitamin B1 untuk memperbaiki kondisi

tubuh pasien.

Vitamin B12 (sianokobalamin) diabsorbsi dengan lambat di usus halus.

Pada bedah sesar, terapi suportif dengan vitamin B12 diberikan pada pasien karena

kebutuhannya menjadi sangat meningkat pasca bedah. Pemberian vitamin B12

berguna dalam pembelahan sel, sehingga dapat mempercepat perbaikan sel yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

65

rusak akibat adanya sayatan pada saat pembedahan. Selain itu, vitamin B12 juga

berguna dalam pembentukan dan perkembangan sel-sel darah, sehingga dapat

mempercepat pengembalian darah ke kondisi normal setelah terjadi pendarahan

saat persalinan.

Tabel XI. Obat yang Mempengaruhi Gizi dan Darah yang Diterima Pasien
Pasca Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Periode Februari
2007.
No. Golongan obat Jenis obat Jumlah Presentase Dosis Dosis acuan Ket.
pasien Jumlah
(n=27) (%)

1. mempengaruhi fero sulfat (FS) 19 70,4 2x1 1 tablet per Tepat


darah tablet hari dosis
(profilaksis) terapeutik
atau
2-3x1 tablet
(terapeutik)
2. mempengaruhi vitamin C 27 100 2x1 250 mg Tepat
gizi gram tiap hari dosis
(dalam dalam dosis terapeutik
dosis terbagi
terbagi) (terapeutik),
25-75 mg
tiap hari
(profilaksis)
vitamin B1 27 100 2-3x1 1-2x1 Tepat
(Alinamin ampul ampul atau dosis

fursultiamine ) 200-300 mg
per hari
vitamin B12 10 37 1-2x1 50-150 mcg Tepat
(roborantia) tablet per hari dosis

e. Cairan Elektrolit dan Tranfusi Darah

Pada setiap ruangan tubuh terdapat konsentrasi elektrolit yang dominan.

Pada cairan intraseluler yang dominan adalah kalium (K+) dan fosfat (PO4-),

sedangkan pada cairan ekstraseluler (plasma dan cairan interstitiel) adalah natrium
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

(Na+) dan kalsium (Cl-). Pertukaran ion ini didominasi oleh pompa natrium, yang

mendapat energi dari perubahan adenotrifosfat menjadi adenodifosfat dengan

katalisator enzim Na-K adenotrifosfatase.

Tubuh dalam mempetahankan keseimbangan cairan tubuh dan

elektrolitnya, dengan mengalami mekanisme homeostasis. Bila tubuh mengalami

dehidrasi atau syok hipovolemik, dapat menyebabkan volume cairan tubuh

menurun, sehingga terjadi stres. Kondisi stres akan merangsang ginjal dan

kelenjar anak ginjal. Ginjal melalui mekanisme renin-angiostensin akan

mempengaruhi tekanan darah. Sedangkan kelenjar anak ginjal, melalui

mekanisme aldosteron akan mempengaruhi reabsorpsi air, termasuk natrium.

Dengan adanya peningkatan reabsorpsi natrium akan berakibat pada naiknya

osmolaritas, yang selanjutnya merangsang kelenjar hipofisis.

Kelenjar hipofisis melalui mekanisme anti diuretic hormone (ADH) dapat

mempengaruhi reabsorpsi air di tubuli distal. Jika ADH meningkat maka

reabsorpsi air juga akan meningkat. Demikian pula sebaliknya, bila volume cairan

tubuh bertambah, maka osmolaritas akan menurun, ADH menurun, selanjutnya

produksi urin akan meningkat, sehingga volume cairan tubuh akan berkurang dan

tubuh menjadi kehilangan cairan dan elektrolitnya. Bila keadaan ini tidak segera

diatasi, maka akan menarik cairan interstitial tubuh, yang dapat menyebabkan

keadaan syok yang irreversible. Oleh karena itu, pemberian cairan pengganti,

contohnya cairan elektrolit merupakan tindakan yang vital.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

Tabel XII. Cairan Elektrolit yang Diterima Pasien Bedah Sesar di Bangsal
Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Golongan obat Jenis obat Jumlah Presentase


pasien jumlah
(n=27) (%)

1. larutan elektrolit dan dextrosa 5% 26 96,3


karbohidrat dalam Ringer
laktat

Pemberian cairan elektrolit bertujuan untuk mangganti cairan tubuh yang

hilang akibat dehidrasi dan pendarahan saat bedah sesar, sehingga dapat

mengembalikan pasien pada kondisi normal. Berkurangnya cairan tubuh akibat

pendarahan yang terjadi pada pasien bedah sesar dapat menyebabkan pasien

mengalami hipotensi. Pemberian cairan elektrolit pada pasien pasca bedah sesar

tergantung pada keadaan klinis pasien tersebut. Akan tetapi secara umum, cairan

elektrolit diberikan sebagai terapi suportif, dengan tujuan memenuhi kebutuhan

tubuh akan elektrolit yang sulit didapatkan selama sakit.

Cairan elektrolit yang sering digunakan untuk terapi suportif adalah Ringer

dektrosa dan Ringer laktat yang bersifat sementara, karena cepat menghilang dari

peredaran darah. Selain terapi dengan cairan elektrolit dan karbohidrat, pasien

juga menerima tranfusi darah untuk mengganti darah yang hilang akibat

pendarahan saat persalinan. Jumlah pasien yang menerima terapi tranfusi darah

sebanyak 14 pasien atau 51,9%. Penentuan pemberian transfusi darah tidak hanya

ditentukan oleh banyaknya darah yang hilang, tetapi juga oleh kecepatan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

hilangnya darah dan kondisi fisik pasien. Pasien dengan kondisi kesehatan yang

baik akan lebih mampu mengatasi kehilangan darah dibandingkan pasien dengan

kondisi kesehatan yang kurang/tidak baik.

f. Obat lain

Pemberian kelompok terapi obat lain, di sini mungkin dimaksudkan untuk

menyembuhkan penyakit komplikasi atau gejala yang menyertai penyakit

tersebut. Pemberian terapi obat lain ini akan meningkatkan jumlah obat yang

diterima pasien. Semakin banyak obat yang dikonsumsi pasien akan semakin

meningkatkan kemungkinan timbulnya efek samping obat, interaksi obat dan

biaya pengobatannya. Hal ini dapat merugikan pasien, oleh karena itu diperlukan

pengurangan jumlah obat menjadi seminimal mungkin sesuai dengan kebutuhan

klinik.

Deksametason merupakan jenis obat kortikosteroid yang berkhasiat

menekan reaksi radang dan reaksi alergi atau sebagai antihistamin. Deksametason

mempunyai efek samping sedatif atau dapat membuat kantuk, sehingga dalam

penggunaannya sebaiknya tidak menjalankan kendaraan bermotor. Selain sebagai

anti radang dan anti alergi, deksametason juga digunakan dalam kasus persalinan,

terutama pada bayi yang harus dilahirkan prematur, yaitu untuk mempercepat

pematangan paru-paru bayi, sehingga sistem pernafasan bayi menjadi lebih

sempurna.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

69

Tabel XIII. Golongan dan Jenis Obat Lain yang Diterima Pasien Bedah
Sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari
2007.

No. Golongan obat Jenis obat Jumlah Presentase Dosis Dosis Ket.
pasien jumlah acuan
(n=27) (%)

1. kortikosteroid deksametason 1 3,7 1x12 mg 0,5-20 mg Tepat


(selama 2 per hari dosis
hari)

2. analog misoprostol 1 3,7 4 tablet 800 mcg Tepat


prostaglandin) (Cytotec) (1 tablet sehari dosis
= 200 (dalam 2-
mcg) 4 dosis
terbagi)

Misoprostol merupakan suatu analog prostaglandin sintetik yang memiliki

sifat antisekresi dan proteksi. Misoprostol diindikasikan untuk mempercepat

penyembuhan tukak lambung, tukak duodenum dan tukak karena antiinflamasi

non steroid (AINS). Selain sebagai antitukak, misoprostol juga digunakan untuk

meningkatkan kontraksi uterus yang berada dalam kehamilan dan mengobati

pendarahan postpartum berat yang diakibatkan oleh atonia uteri. Misoprostol

diabsorpsi dengan cepat bila diberikan secara oral.

C. Drug Related Problems (DRPs)

Evaluasi penggunaan obat pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Februari 2007 didasarkan

pada DRPs yang dialami pasien. Dari hasil penelitian diketahui bahwa drug

related problems yang terjadi pada pasien bedah sesar adalah dosage too low,

yaitu sebanyak 17 kasus, seperti terlihat pada tabel XIV.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

70

Tabel XIV. Kasus 1


Subyektif:

Ny. S, No. RM 01090462, umur 34 tahun dirawat di RS selama 4 hari, ada keluhan
keluar air sejak pukul 03.30 (5-2-2007), sakit perut (-), gerak anak (+), G2P1001, 39-40
minggu, ketuban pecah dini.
riwayat penyakit terdahulu (-)
riwayat pengobatan penyakit terdahulu (-)
pasien menerima terapi:
- ampisilin 3x1 gram setiap 8 jam melalui injeksi intravena
- D5% Ringer laktat + oksitosin 10 IU (28 tetes/menit sampai 12 jam) secara
intravena
- ampisilin 3x1 gram secara intravena
- alinamin F 3x1 ampul secara intravena
- vitamin C 2x1 ampul secara intravena
- amoksisilin 3x500 mg secara oral
- asam mefenamat 3x500 mg secara oral
- fero sulfat 2x1 tablet secara oral
- methergin 3x1 tablet secara oral
-
Obyektif: Nilai Normal:

keadaan umum : baik keadaan umum : baik


tingkat kesadaran : E4 M6 V5 = 15 tingkat kesadaran : E4 M6 V5 = 15
tekanan darah : 110/70 mmHg tekanan darah : <120/<80
mmHg
nadi : 80 kali/menit nadi : 70-90 kali/menit
suhu : 36,8oC suhu : 36,5o-37,5oC
respirasi : 18 kali/menit respirasi : 12-25 kali/menit

Assessement:

a. interval pemberian ampisilin kurang tepat yaitu tiap 8 jam, seharusnya diberikan
dengan interval tiap 6 jam (dosage too low). Interval yang tidak tepat akan
menyebabkan kadar obat dalam jaringan rendah, sehingga potensial
menyebabkan resistensi mikroba terhadap obat yang bersangkutan. Ampisilin
merupakan antibiotika -Laktam, yang termasuk turunan penisilin spektrum
luas. Ampisilin bekerja dengan mengganggu sintesa dinding sel kuman, dan
aktivitas bakterisidnya termasuk kelompok time-dependent, sehingga interval
pemberiannya harus tepat.

Rekomendasi:

a. interval pemberian diperbaiki menjadi tiap 6 jam.

Keterangan:
kasus serupa terjadi pula pada pasien dengan nomer kasus 3, 4, 5, 6, 8, 10, 12, 13, 14, 16, 18,
19, 21, 22, 23, dan 24
G2P1001 = Gravida( kehamilan yang ke dua) Partus(yang telah lahir satu ), (abortus tidak ada), (prematur tidak ada), (hidup satu)
E4,V6,M5 = eyes open spontan, verbal oriented and controversed, motor response to verbal command
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

71

D. Kondisi Pasien dan Lama Rawat Inap yang Dijalani oleh Pasien Pasca
Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode
Februari 2007

Ditinjau dari sudut penderita, tidak ada yang lebih penting selain

perawatan pasca bedah, karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap kondisi

pasien pada saat diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Kondisi pasien sendiri

dapat menentukan keberhasilan suatu terapi untuk pasien bedah sesar di rumah

sakit yang bersangkutan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa

setelah menjalani pembedahan dan perawatan, semua pasien bedah sesar yang

dirawat di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar pulang dengan kondisi

klinis yang membaik, yaitu sebanyak 27 pasien atau 100%. Sepanjang Februari

2007, tidak ditemukan data pasien yang meninggal pasca bedah sesar. Data

kondisi pasien pasca bedah sesar saat pulang dari Bangsal Bakung Timur RS

Sanglah diperlihatkan pada tabel XV.

Tabel XV. Kondisi Pasien Pasca Bedah Sesar Saat Pulang dari Bangsal
Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Kondisi saat pasien pulang Jumlah pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)

1. Membaik 27 100

Setelah selesai operasi, pasien akan diperiksa secara rutin (chek-up) oleh

dokter atau paramedik jaga. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan

dan pengukuran rutin diantaranya adalah tekanan darah, jumlah nadi permenit,

frekuensi pernapasan permenit, jumlah cairan masuk dan keluar atau urin, dan

suhu tubuh. Pemeriksaan dan pengukuran tersebut sekurang-kurangnya dilakukan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

72

setiap 4 jam sekali dan dicatat dalam status penderita. Dari hasil penelitian, semua

hal yang harus diperiksa dan diukur sesuai ketentuan di atas, telah dilakukan oleh

pihak Rumah Sakit Sanglah terutama Bangsal Bakung Timur, hanya saja waktu

pemeriksaan dan pengukuran rutin tidak dilakukan setiap 4 jam, tetapi tiap 8 jam,

bersamaan dengan waktu pemberian obat.

Pasien bedah sesar yang dirawat di Bangsal Bakung RS Sanglah periode

Februari 2007 umumnya menjalani rawat inap selama 4 hari sebelum mereka

diijinkan pulang. Akan tetapi ada juga yang menjalani rawat inap pasca bedah

sesar selama 3 hari, 5 hari atau 6 hari. Pasien yang menjalani rawat inap selama 3

hari sudah diijinkan pulang, karena secara klinis kondisinya sudah membaik.

Pasien yang menjalani rawat inap lebih lama, umumnya karena harus menjalani

perawatan pre-operasi terlebih dahulu atau karena alasan keluarga, misalnya

dirumah pasien sedang ada kematian, sehingga mengajak ibu dan bayi yang baru

dilahirkan untuk pulang, bagi sebagian besar masyarakat Bali merupakan hal yang

tabu untuk dilakukan.

Tabel XVI. Lama Rawat Inap Pasien Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur
RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Lama pasien dirawat Jumlah pasien Presentase jumlah


(n=27) (%)

1. 3 hari 5 18,5
2. 4 hari 14 51,9
3. 5 hari 7 25,9
4. 6 hari 1 3,7
Jumlah 27 100
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

73

E. Rangkuman Pembahasan

Karakteristik pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit

Sanglah Denpasar periode Februari 2007, berdasarkan data yang diperoleh,

terdapat 27 kasus. Pasien dengan usia termuda atau dibawah 19 tahun sebanyak 1

pasien, yaitu usia 18 tahun, sedangkan usia pasien tertua adalah usia 41 tahun,

pasien terbanyak terdapat pada kelompok usia 30-34 tahun. Setiap pasien

memiliki indikasi yang berbeda-beda, dimana indikasi ketuban pecah dini (KPD)

menduduki peringkat pertama, baik pada pasien dengan satu indikasi atau lebih

dari satu indikasi, yaitu sebanyak 10 pasien atau 37%. Peringkat kedua adalah

pasien dengan indikasi malposisi sebanyak 9 pasien atau 33,3%. Peringkat ketiga

yaitu pasien dengan indikasi lokus minoris resisten (LMR) sebanyak 8 pasien atau

29,6%.

Berdasarkan data tingkat pendidikan pasien, dapat dikatakan bahwa

pendidikan pasien bedah sesar di Bangsal Bakung Timur masih cukup rendah. Hal

tersebut terlihat dari masih adanya pasien yang tidak lulus SD dan hanya sedikit

sekali pasien yang mengenyam tingkat pendidikan sampai perguruan tinggi.

Terkait dengan indikasi pasien melakukan bedah sesar, dalam hal ini tingkat

pendidikan pasien di Bangsal Bakung Timur periode Februari 2007 tidak dapat

dihubungkan dengan indikasi mereka untuk melakukan bedah sesar.

Pasien yang dirawat di Bangsal Bakung Timur memiliki pekerjaan yang

berbeda-beda, sebagian besar dari mereka adalah Ibu Rumah Tangga (IRT).

Berdasarkan jenis pekerjaan pasien, tidak dapat dihubungkan dengan indikasi

pasien melakukan bedah sesar. Pasien di Bangsal Bakung Timur dirawat dalam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

74

dua kelas bangsal, yaitu kelas II dan III. Pasien yang menempati bangsal di kelas

III jauh lebih banyak (92,6%) daripada di kelas II, karena sebagian besar pasien

yang dirawat berasal dari keluarga miskin dan sebagian lagi dengan asuransi

kesehatan.

Pada umumnya kelas terapi yang diterima adalah kelas terapi antiinfeksi,

obat Obstetrik dan Ginekologi, obat gizi dan darah, analgetik, cairan elektrolit,

serta transfusi darah. Pada kasus bedah, antiinfeksi profilaksis diberikan untuk

tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang

berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah. Pemberian antiinfeksi sesudah

bedah sesar dianjurkan untuk tindakan profilaksis terhadap bahaya infeksi.

Antiinfeksi yang diterima oleh pasien pasca bedah sesar di Bangsal

Bakung Timur adalah antibiotika yang terdiri dari ampisilin, amoksisilin,

sulbenisilin dan sefotaksim. Antibiotika profilaksis yang diterima oleh pasien

bedah sesar di Bangsal Bakung Timur, yang operasinya dilakukan secara

terencana adalah injeksi ampisilin atau sulbenisilin atau kedacilin 1-2 gram yang

diberikan 1 jam sebelum operasi, atau untuk pasien kiriman yaitu 30 menit

sebelum operasi atau selama menunggu persiapan ruang operasi. Pemberian

antibiotika dilanjutkan kembali setelah operasi selesai atau setelah bayi lahir,

umumnya dengan antibiotika amoksisilin atau kedacilin yang diberikan secara

oral selama 3-7 hari.

Obat golongan oksitosik dianggap memberikan kemudahan dalam

persalinan dan memegang peranan penting dalam refleks ejeksi susu, serta

mengurangi pembengkakan payudara pasca persalinan. Contoh obat oksitoksik


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

75

yang diterima oleh pasien di Bangsal Bakung Timur antara lain oksitosin dan

metilergometrin. Analgesik pada pasien pasca bedah sesar diberikan dengan

tujuan untuk mengurangi nyeri pasca operasi, karena keluhan utama bagi pasien

pasca bedah sesar adalah rasa nyeri yang timbul setelah operasi. Analgesik yang

diberikan pada pasien pasca bedah sesar di Bangsal Bakung Timur adalah

analgesik non opioid, yaitu asam mefenamat. Selain dapat mengalami nyeri pasca

bedah, pasien juga dapat mengalami malnutrisi dengan berbagai tingkatan,

terutama pada wanita hamil. Hal tersebut disebabkan oleh volume distribusi pada

wanita hamil lebih besar dari wanita yang tidak hamil. Adanya fetus akan

memperluas ruang lingkup sirkulasi darah pada ibu, karena darah yang berfungsi

mengangkut nutrisi, selain diedarkan pada tubuh ibu juga harus diedarkan pada

fetus.

Malnutrisi dapat menekan kekebalan, mempermudah terinfeksi, dan

mengganggu proses kesembuhan pasien yang bersangkutan. Oleh karena itu,

pasien perlu mendapat terapi dengan obat yang dapat mempengaruhi gizi,

contohnya vitamin C, vitamin B1 dan vitamin B12, serta yang dapat mempengaruhi

darah, contohnya fero sulfat, sehingga dapat mempercepat kesembuhan pasien.

Pemberian cairan elektrolit bertujuan untuk mangganti cairan tubuh yang hilang

akibat dehidrasi dan pendarahan saat bedah sesar, sehingga dapat mengembalikan

pasien pada kondisi normal. Pemberian cairan elektrolit pada pasien pasca bedah

sesar tergantung pada keadaan klinis pasien tersebut. Akan tetapi secara umum,

cairan elektrolit diberikan sebagai terapi suportif, dengan tujuan memenuhi

kebutuhan tubuh akan elektrolit yang sulit didapatkan selama sakit.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

Cairan elektrolit yang sering digunakan untuk terapi suportif adalah ringer

dektrosa dan ringer laktat yang bersifat sementara, karena cepat menghilang dari

peredaran darah. Penentuan pemberian transfusi darah tidak hanya ditentukan oleh

banyaknya darah yang hilang, tetapi juga oleh kecepatan hilangnya darah dan

kondisi fisik pasien. Pasien dengan kondisi kesehatan yang baik akan lebih

mampu mengatasi kehilangan darah dibandingkan pasien dengan kondisi

kesehatan yang kurang/tidak baik.

Pemberian kelompok terapi obat lain, di sini mungkin dimaksudkan untuk

menyembuhkan penyakit komplikasi atau gejala yang menyertai penyakit

tersebut. Golongan obat lain yang diterima oleh pasien pasca bedah sesar di

Bangsal Bakung Timur terdiri dari obat golongan kortikosteroid contohnya

deksametason dan analog prostaglandin contohnya misoprostol. Dari hasil

penelitian diketahui bahwa drug related problems yang terjadi pada pasien bedah

sesar di bangsal Bakung Timur adalah dosage too low, yaitu sebanyak 17 kasus.

Kondisi pasien dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu

terapi untuk pasien bedah sesar di rumah sakit yang bersangkutan. Berdasarkan

hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa setelah menjalani pembedahan dan

perawatan, semua pasien bedah sesar yang dirawat di Bangsal Bakung Timur RS

Sanglah Denpasar pulang dengan kondisi klinis yang membaik yaitu sebanyak 27

pasien atau 100%. Sepanjang Februari 2007, tidak ditemukan data pasien yang

meninggal pasca bedah sesar. Mereka umumnya menjalani rawat inap selama 4

hari sebelum mereka diijinkan pulang. Akan tetapi ada juga yang menjalani rawat

inap pasca bedah sesar selama 3 hari, 5 hari atau 6 hari.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian evaluasi penggunaan obat pada pasien pasca

bedah sesar di Bangsal Bakung Timur Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode

Februari 2007, maka dapat diambil beberapa kesimpulan:

1. pasien terbanyak pada usia 30-34 tahun, dengan indikasi terbanyak ketuban

pecah dini. Tingkat pendidikan pasien terutama lulusan SLTA dengan jenis

pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga. Pasien sebagian besar (92,6%)

dirawat di Bangsal kelas III.

2. golongan obat yang paling banyak diberikan adalah golongan antibakteri,

oksitoksik, analgesik non opioid antiinflamasi non steroid, serta obat yang

mempengaruhi darah dan gizi masing-masing sebanyak 100%. Jenis obat yang

paling banyak diberikan adalah amoksisilin, metilergometrin, dan asam

mefenamat masing-masing sebanyak 100%.

3. jumlah kasus drug related problems (DRPs), yaitu: dosage too low sebanyak

17 kasus.

4. pasien menjalani rawat inap selama 3-6 hari. Semua pasien pulang dengan

kondisi klinis yang membaik.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

B. Saran

Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah:

1. untuk penelitian berikutnya, dalam pengambilan data penelitian perlu

dilakukan wawancara langsung dengan pasien, untuk memperoleh

kelengkapan data rekam medik pasien.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, I., 2002, Menimbang Sejumlah Resiko Jika Ibu Pilih Bedah Sesar,
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/3/3/kl.html. Diakses pada
30 Oktober 2006.

Adityarini, D., 1996, Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui, Terapi Medis,
415-417, 484-489, PT. Gramedia, Jakarta.

Anief, Moch, 2003, Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan,


9-10, 15-17, 52, 65-62, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Anonim, 2000a, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 199-233, Departemen


Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2000b, The Controversy Over Clarithromycin: Concentration-


Dependent or Time-Dependent, http://www.medscape.com/viewarticle.
Diakses pada 24 April 2007.

Anonim, 2000c, Managing Complications in Pregnancy and a Guide for


Midwives and Doctor Chilbrith, 10-15, 34-44, Departement of
Reproduction Health and Research WHO, Geneva.

Anonim, 2002, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Edisi XXXVI, 381,
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2004, A to Z Drug Facts, Edisi V, 1677-1683, Walthers Kluvwer Health,


Inc, USA.

Anonim, 2005a, Nursing Drug Handbook, Edisi XXV, 1332-1333, Lippincott


William & Wilkins, Wolters Klower Company, USA.

Anonim, 2005b, Bakteri, http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.htm. Diakses pada


27 Mei 2007.

Anonim, 2006a, Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia,


Antibiotika, http://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika. Diakses pada 3
November 2006.

Anonim, 2006b, Antibiotika, Corporate Training & Development New Medical


Representative, 8-9, 13-29, PT. SOHO Industri Pharmasi, Bandung.

Anonim, 2007a, Kehamilan, http://id.wikipedia.org/wiki/kehamilan. Diakses pada


11 Mei 2007.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

80

Anonim, 2007b, Ovarium, http://id.wikipedia.org/wiki/Ovarium. Diakses pada 11


Mei 2007.

Cipolle, R. J., Strand, L. M., dan Morley, P. C., 2004, Pharmaceutical Care
Practise, Edisi II, 75-83, 173-175, McGraw-Hill Companies, Inc, USA.

Cowl, C.T., 2003, Physicians Drug Handbook, Edisi X, 129-130, 141-142, 274-
275, 819-821, 933-935, Lippincott William & Wilkins, Bethlehem,
Springhouse.

DiPiro, J.T., 2003, AHFS Drug Handbook, Edisi II, 144-146,575-577, 1251-1257,
1286-1287, Lippincott William & Wilkins, Bethlehem, Springhouse.

Eisenhaver L., Nicholas L.W., dan Spencer T., 1998, Clinical Pharmacology &
Nursing Management, Edisi V, 143-169, 479-483, 779-781, Lippincott,
Philadelphia, New York.

Ganiswara, S.G., dkk, 2001, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, 189-196, 571-578,
714-737, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.

Han, T. T., dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Samping, Edisi V, Cetakan I, 54-89, PT. Elex Media
Komputindo, Gramedia, Jakarta.

Joris, K.D., 2004, Penggunaan Antibiotika & Jenis Antibiotika (1),


hhtp://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-
anda.com/msg46195.html. Diakses pada 3 November 20006.

Katzung, dan Trevor, 1990, Katzung & Trevors Pharmacology Examination &
Board Review, Edisi VI, 296-298, 374-410, 447-455, McGraw-Hill
Companies, Inc, USA.

Lacy C.F., Armstrong, Gold, M.P., 2003, Drug Information Handbook, Edisi XI,
1751-1753, Lexicomp, Inc.

Lutfi, B., 2003, Analgesik, http://www.suaramerdeka/lambungkosong-jangan


minumobat.htm. Diakses pada 31 Maret 2007.

Manuaba, I.B.G., 1999, Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana


Untuk Dokter Umum, 228-253, Penerbit ECG, Jakarta.

Memmler, R.L, 1962, The Human Body in Health and Disease, Edisi II, 111-
113,190-193, 318-321, Lippincott Company, USA.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

81

Mochtar, R., 1998, Sinopsis Obstetri, Edisi II, Cetakan I, 117-132, Penerbit ECG,
Jakarta.

Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, Edisi V, 177-207, 377-378, 380, 594-606,
Penerbit ITB, Bandung.

Oxorn, H., 1990, Human Labor & Birth, diterjemahkan oleh Mohamad Hakimi,
Edisi I, 551-553, 635-649, Enssencia Medika, Jakarta.

Pratiknya, A. W., 1993, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan


Kesehatan, Cetakan II, 189-202, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sastroasmoro, S., dan Ismael S., 1995, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian


Klinis, 53-65, 67-77. Penerbit ITB, Bandung.

Siregar, C. J. P., 2006, Farmasi Klinik Teori & Penerapan, Cetakan I, 88-95,
Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.

Skoch, W., Daley, C.L., dan Forsmark, C.E., 1996, Penuntun Terapi Medis, Edisi
XVIII, 787-792, 795-799, Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.

Sumarsono, T., 2002, Seputar Masalah Resistensi Antibiotika,


hhtp://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0702/28/0802.htm. Diakses pada 3
November 2006.

Walsh, T. D., 1997, Kapita Selekta Penyakit dan Terapi, Cetakan I, 359-364,
Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.

Wikaningtyas, M., 2004, Gambaran Peresepan Obat pada Pasien Pasca Bedah
Sesar di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
periode Januari Juni 2002, 14, Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta.

Wiknjosastro, H., 1991, Ilmu Kebidanan, Edisi III, 125, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Data Rekam Medis Pasien Pasca Bedah Sesar Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007

No. No. RM Data Diri TM, Anamnesa Riwayat Sakit Diagnosa dan Obat Cara Keterangan
TO, dan Riwayat Obat Tindakan Pemberian
TP, TK
1. 01089756 Ny. Y 1-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 21 thn 2007 timbul sejak pkl. 12.00 Diabetes Mellitus (-) G1P0000 40-41 Oksitosin 10 IU (28 minum
TB: 157 cm (1-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, blood tetes/menit s/d 12 jam) sedikit-
BB: 67 kg (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) slym. Kedacilin (2x1 gram) Injeksi i.v sedikit.
Pendidikan: baik, blood slym (+). Alinamin F (2x1 ampul) Injeksi i.v
SLTP Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x200 mg) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg SC. Cito, injeksi i.v
IRT Nadi: 80 kali/menit Kedacilin 2 gram
Kelas Suhu: 36,5oC (test dulu).
Bangsal: III Respirasi: 20
kali/menit P1001 Post SC hari 0
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

2-2- Flatus (-), ASI (-), P1001 Post SC hari I Kedacilin (3x1gram) Oral Aff infus i.v
2007 vagina Lochia (+) Alinamin F (3x1 ampul) Oral dan DC,
rubra, kontraksi (+) Vitamin C (2x1ampul) Oral bubur saring
baik, luka op. terawat
baik.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

3-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500mg) Oral Bubur saring
2007 vagina lochia (+) As. Mefenamat (3x500mg) Oral
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
baik, luka op. terawat Methergin (3x1 tab) Oral
baik.

82
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 110/70 mmHg


Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

4-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500mg) Oral Pulang,
2007 vagina Lochia (+) Pulang dengan As. Mefenamat (3x500mg) Oral kontrol poli
rubra, membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
kontraksi (+) baik Methergin (3x1 tab) Oral minggu
Luka op. terawat baik
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 70oC
Respirasi: 20
kali/menit

2. 01090462 Ny. S 5-2- Keluar air sejak pkl. Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 34 thn 2007 O3.30 (5-2-2007), Diabetes Mellitus (-) G2P1001 39-40 Oksitosin 10 IU (28 minum
TB: - sakit perut (-), gerak Hipertensi (-) minggu T/H, KPD. tetes/menit s/d 12 jam) sedikit-
BB: - anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) Ampisilin (3x 1 gram) Injeksi i.v sedikit.
Pendidikan: Keadaan umum: baik Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
Universitas TD: 110/70 mmHg Obat (-) SC. Cito, Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: Nadi: 80 kali/menit Antibiotika pre
PNS Suhu: 36,8oC operasi, Persiapan
Kelas Respirasi: 18 darah.
Bangsal: III kali/menit
Tingkat kesadaran: P2002 Post SC hari 0
E4M6V5=15

6-2- Nyeri luka operasi, P2002 Post SC hari 1 Amoksisilin (3x500mg) Oral Aff infus i.v
2007 flatus (-), vagina As. Mefenamat (3x500mg) Oral dan DC,
lochia (+) rubra, Fero Sulfat (2x1 tab) Oral Bubur saring

83
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kontraksi (+) baik, Methergin (3x1 tab) Oral


luka op. terawat baik
TD: 110/65 mmHg
Nadi: 82 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

7-2- Flatus (+) P2002 Post SC hari 2 Amoksisilin (3x500mg) Oral Bubur saring
2007 Vagina Lochia (+) As. Mefenamat (3x500mg) Oral
rubra Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Kontraksi baik Methergin (3x1 tab) Oral
Luka op. terawat baik
TD: 110/65 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 36,5oC
Respirasi: 20
kali/menit

8-2- Flatus (+) P2002 Post SC hari 3 Amoksisilin (3x500mg) Oral Pulang,
2007 Kontraksi baik Pulang dengan As. Mefenamat (3x500mg) Oral kontrol poli
Luka op. terawat baik membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
TD: 110/65 mmHg Methergin (3x1 tab) Oral minggu
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 36,5oC
Respirasi: 20
kali/menit

3. 01096552 Ny. S 7-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: Perawatan
Umur: 30 thn 2007 timbul sejak pkl. 10.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 40-41 pre op.
TB: 150 cm (7-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, LMR
BB: 64 kg (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) (bekas SC).
Pendidikan: baik
SLTA Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan:
Pekerjaan: TD: 110/70 mmHg SC. Cito (8-2-2007)

84
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Petani Nadi: 84 kali/menit Kedacilin/Ampisilin


Kelas Suhu: 37oC 2 gram (test dulu)
Bangsal: III Respirasi: 20
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

8-2- Nyeri luka operasi P2002 Post SC hari 0 D5%:Ringer Laktat + Infus i.v Puasa 6 jam,
2007 Flatus (-) oksitosin 20 IU (28 minum
Vagina Lochia (+) tetes/menit s/d 12 jam) Injeksi i.v sedikit-
rubra Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit.
Kontraksi baik Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Luka op. terawat baik Alinamin F (3x1 ampul)
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

9-2- Flatus (-) P2002 Post SC hari 1 Amoksisilin (3x500mg) Oral Aff infus i.v
2007 Vagina Lochia (+) As. Mefenamat (3x500mg) Oral dan DC,
rubra Fero Sulfat (2x1 tab) Oral Bubur saring
Kontraksi baik Methergin (3x1 tab) Oral
Luka op. terawat baik
TD: 130/90 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

10-9- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari 2 Amoksisilin (3x500mg) Oral Bubur saring
2007 Vagina Lochia (+) As. Mefenamat (3x500mg) Oral
rubra Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Kontraksi baik Methergin (3x1 tab) Oral

85
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Luka op. terawat baik


TD: 120/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20
kali/menit

11-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari 3 Amoksisilin (3x500mg) Oral Pulang,
2007 Vagina Lochia (+) Pulang dengan As. Mefenamat (3x500mg) Oral kontrol poli
rubra membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
Kontraksi baik Methergin (3x1 tab) Oral minggu
Luka op. terawat baik
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

4. 00882648 Ny. A 8-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 28 thn 2007 timbul sejak pkl. 18.00 Diabetes Mellitus (-) G1P0000 41-42 Oksitosin 10 IU (32 minum
TB: 155 cm (7-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, mioma tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 57 kg (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) uteri Sulbenisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit.
Pendidikan: baik. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg SC. Cito.
Pegawai Nadi: 84 kali/menit
Swasta Suhu: 37oC P1001 Post SC hari 0
Kelas Respirasi: 20 + mioma uteri
Bangsal: III kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

86
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

9-2- Flatus (-) P1001 Post SC hari I D5%:Ringer Laktat (3:1) Infus i.v Minum
2007 Vagina Lochia (+) + mioma uteri 28 tetes/menit sedikit-
rubra. Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit, bubur
TD: 120/80 mmHg Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v saring
Nadi: 88 kali/menit Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

10-2- Flatus (+), ASI (+) P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 Vagina Lochia (+) + mioma uteri As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
rubra, kontraksi baik Methergin (3x1 tab) Oral bubur saring
TD: 100/70 mmHg Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Nadi: 88 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

11-2- Flatus (+), ASI (+) P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 Vagina Lochia (+) + mioma uteri As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
rubra, kontraksi baik, Pulang dengan Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
luka op. terawat baik membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

5. 01099601 Ny. K 8-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 32 thn 2007 timbul sejak pkl. 03.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 41-42 Oksitosin 1 ampul (32 minum
TB: - (8-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, tetes/menit s/d 12 jam) sedikit-
BB: - (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) Preeklamsia ringan Sulbenisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: baik. Alinamin F (2x1 ampul) Injeksi i.v
tidak lulus SD Keadaan umum: baik Obat (-) Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v

87
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pekerjaan: - TD: 130/90 mmHg Tindakan:


Kelas Nadi: 84 kali/menit SC. Cito.
Bangsal: III Suhu: 37oC
Respirasi: 20 P2002 Post SC hari 0
kali/menit + Preeklamsia
Tingkat kesadaran: ringan
E4M6V5=15

9-2- Flatus (-) P2002 Post SC hari I D5%:Ringer Laktat (28 Infus i.v Minum
2007 Vagina Lochia (+) + Preeklamsia tetes/menit) sedikit-
rubra. ringan Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit, bubur
TD: 120/90 mmHg Alinamin F (3x1ampul) Injeksi i.v saring
Nadi: 80 kali/menit Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

10-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 Vagina Lochia (+) + Preeklamsia As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC
rubra, kontraksi baik ringan Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

11-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 Vagina Lochia (+) + Preeklamsia As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
rubra, kontraksi baik, ringan Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
luka op. terawat baik Pulang dengan Methergin (3x1 tab) Oral minggu
TD: 100/70 mmHg membaik
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

88
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6. 00954622 Ny. I 8-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 28 thn 2007 timbul sejak pkl. 21.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 39-40 Oksitosin 1 ampul (32 minum
TB: 147 cm (7-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, LMR tetes/menit s/d 12 jam) sedikit-
BB: 56 kg (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) (bekas SC). Sulbenisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: baik. Alinamin F (2x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg SC. Cito (8-2-2007)
Pegawai Nadi: 80 kali/menit
Swasta Suhu: 37oC P2002 Post SC hari 0
Kelas Respirasi: 20
Bangsal: III kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

9-2- Flatus (-), ASI (+) P2002 Post SC hari I Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Bubur saring,
2007 Vagina Lochia (+) Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v Aff infus i.v
rubra. Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v dan DC
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

10-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 Vagina Lochia (+) As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
rubra. Methergin (3x1 tab) Oral
TD: 110/70 mmHg Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

11-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 Vagina Lochia (+) Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol
rubra, luka op. terawat membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1

89
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

baik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu


TD: 110/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

7. 01100109 Ny. A 10-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: Amoksisilin (3x500 mg) Oral Puasa 6 jam,
Umur: 31 thn 2007 timbul sejak pkl. 03.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 40-41 As. Mefenamat (3x500 mg) Oral minum
TB: - (10-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, letak Metilergometrin (3x1 tab) Oral sedikit-
BB: - (+), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) sungsang Fero Sulfat (2x1 tab) Oral sedikit
Pendidikan: baik.
SLTP Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan:
Pekerjaan: TD: 100/60 mmHg SC. Cito (10-2-
IRT Nadi: 84 kali/menit 2007)
Kelas Suhu: 37oC
Bangsal: III Respirasi: 22 P2002 Post SC hari 0
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

11-2- Flatus (-), P2002 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 Vagina Lochia (+) As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
rubra. Metilergometrin (3x1 tab) Oral
TD: 100/60 mmHg Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Nadi: 88 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
22kali/menit

12-2- Flatus (+), ASI P2002 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 (sedikit) As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
Vagina Lochia (+) Metilergometrin (3x1 tab) Oral
rubra, luka op. terawat Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
baik

90
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 100/60 mmHg


Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

13-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 Vagina Lochia (+) Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
rubra, luka op. terawat membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
baik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit
8. 01100319 Ny. S 10-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Puasa 6 jam,
Umur: 18 thn 2007 timbul sejak pkl. 13.30 Diabetes Mellitus (-) G1P0000 41-42 Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v minum
TB: 146 cm (10-2-2007), keluar air Hipertensi (-) minggu T/H, blood Vitamin C (2x200 mg) Injeksi i.v sedikit-
BB: 46 kg (-), gerak anak (+) Penyakit Jantung (-) slym sedikit
Pendidikan: baik, blood slym (+).
SD Keadaan umum: baik Obat (-) Tindakan:
Pekerjaan: TD: - SC. Cito (10-2-
Nelayan Nadi: 80 kali/menit 2007), siapkan
Kelas Suhu: 36,8oC darah, injeksi i.v
Bangsal: III Respirasi: 20 sulbinisilin 2 gr (test
kali/menit dulu)
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15 P1001 Post SC hari 0

11-2- Flatus (-), ASI (+). P1001 Post SC hari I Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Bubur saring
2007 TD: 100/60 mmHg Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
Nadi: 84 kali/menit Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

91
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x1 tab) Oral
2007 luka op. terawat baik. As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
TD: 110/70 mmHg Methergin (3x1 tab) Oral
Nadi: 84 kali/menit Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

13-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x1 tab) Oral
2007 luka op. terawat baik, As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
vagina lochia (+) Methergin (3x1 tab) Oral
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
baik.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

14-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari IV Amoksisilin (3x1 tab) Oral Pulang,
2007 luka op. terawat baik, Pulang dengan As. Mefenamat (3x1 tab) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
baik.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

9. 01100326 Ny. A 10-2- Sakit perut (-), keluar Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 35 thn 2007 air sejak pkl. 18.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 40-41 Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: - (10-2-2007), gerak Hipertensi (-) minggu T/H, LMR tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: - anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) (bekas SC), ketuban Kedacilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: Keadaan umum: baik pecah dini. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v

92
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

SLTA TD: 110/70 mmHg Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: Nadi: 80 kali/menit SC. Cito (10-2-
Pegawai Suhu: 37oC 2007), siapkan
Swasta Respirasi: 20 darah, antibiotika
Kelas kali/menit (test dulu)
Bangsal: II Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15 P2002 Post SC + steril
hari 0

11-2- Flatus (-) P2002 Post SC + steril Kedacilin (3x1gram) Injeksi i.v Infus i.v dan
2007 TD: 80/50 mmHg hari I Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v DC lanjut,
Nadi: 80 kali/menit Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v bubur saring
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

12-2- Flatus (+), ASI (+) P2002 Post SC + steril Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 TD: 100/60 mmHg hari II As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
Nadi: 92 kali/menit Methergin (3x1 tab) Oral
Suhu: 37oC Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
Respirasi:
20kali/menit

13-2- Flatus (+), ASI (+), P2002 Post SC + steril Amoksisilin (3x1 tab) Oral Pulang,
2007 luka op. terawat baik, hari III As. Mefenamat (3x1 tab) Oral kontrol poli
kontraksi (+) baik Pulang dengan Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
TD: 100/70 mmHg membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

10. 01100090 Ny. A 11-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 25 thn 2007 sejak pkl. 06.00 (11-2- Diabetes Mellitus (-) G1P0000 40-41 Oksitosin 20 IU (30 minum
TB: 147 cm 2007), sakit perut Hipertensi (-) minggu T/H, keluar tetes/menit s/d 12jam) sedikit-

93
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BB: 52 kg hilang timbul (+) sejak Penyakit Jantung (-) air Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: pkl. 05.00 (11-2- Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA 2007), blood slym (+), Obat (-) SC. Cito (11-2- Vitamin C (2x1ampul Injeksi i.v
Pekerjaan: gerak anak (+) baik. 2007), Ampisilin
Wiraswasta Keadaan umum: baik 4x500 mg
Kelas TD: 120/70 mmHg
Bangsal: III Nadi: 80 kali/menit P1001 Post SC hari 0
Suhu: 36,5oC
Respirasi: 20
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

12-2- Flatus (+), ASI (+), P1001 Post SC hari I Sulbenisilin (3x1gram) Injeksi i.v Aff infus i.v
2007 BAB (-), BAK (-), Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v dan DC
minum (-). Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 64 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

13-2- Neri perut, flatus (+), P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x1 tab) Oral
2007 ASI (-), BAB (+), As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
BAK (+), minum (+), Methergin (3x1 tab) Oral
kontraksi (+) baik, Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
vagina lochia (+)
rubra.
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

94
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14-2- Neri perut, flatus (+), P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x1 tab) Oral Pulang,
2007 ASI (+), BAB (+), Pulang dengan As. Mefenamat (3x1 tab) Oral kontrol poli
BAK (+), minum (+), membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
kontraksi (+) baik, Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
vagina lochia (+)
rubra.
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

11. 00650341 Ny. S 11-2- Sakit perut (-), gerak Asma (-) Diagnosa:
Umur: 31 thn 2007 anak (+) baik, keluar Diabetes Mellitus (-) G3P2002 37-38
TB: - air (-). Hipertensi (-) minggu T/H, LMR
BB: - Keadaan umum: baik Penyakit Jantung (-) (bekas SC)
Pendidikan: TD: 110/80 mmHg Tindakan:
SLTA Nadi: 80 kali/menit Obat (-) SC. Primer +
Pekerjaan: Suhu: 36oC tubektomi (12-2-
Pegawai Respirasi: 20 2007).
Swasta kali/menit
Kelas Tingkat kesadaran:
Bangsal: III E4M6V5=15

12-2- TD: 110/70 mmHg P3003 Post SC + steril D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v DC, puasa 6
2007 Nadi: 80 kali/menit hari 0 Oksitosin 20 IU (28 jam, minum
Suhu: 36,5oC tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
Respirasi: 20 Sefotaksim (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
kali/menit Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v

13-2- Nyeri perut, luka op. P3003 Post SC + steril Amoksisilin (3x1 tab) Oral Aff infus i.v
2007 terawat baik, kontraksi hari I As. Mefenamat (3x1 tab) Oral dan DC
(+) baik, vagia lochia Methergin (3x1 tab) Oral
(+) rubra. Fero Sulfat (2x1 tab) Oral

95
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 110/70 mmHg


Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

14-2- Flatus (+), ASI (-), P3003 Post SC + steril Amoksisilin (3x1 tab) Oral
2007 vagina lochia (+) hari II As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
rubra, kontraksi (+) Methergin (3x1 tab) Oral
baik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

15-2- Flatus (+), ASI+), luka P3003 Post SC + steril Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 op. terawat baik, hari III As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) Pulang dengan Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra, kontraksi (+) membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
baik, BAB (+), BAK
(+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

12. 01100963 Ny. S 13-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 41 thn 2007 sejak pkl. 08.00 (13-2- Diabetes Mellitus (-) G1P0000 38-39 Oksitosin 20 IU (30 minum
TB: - 2007), sakit perut (-), Hipertensi (-) minggu T/H, tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: - gerak anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) primitua, letak Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: Keadaan umum: baik sungsang, ketuban Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA TD: 110/70 mmHg Obat (-) pecah dini. Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: Nadi: 84 kali/menit

96
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pegawai Suhu: 37oC


Swasta Respirasi: 20 Tindakan:
Kelas kali/menit SC. Cito (13-2-
Bangsal: II Tingkat kesadaran: 2007), antibiotika
E4M6V5=15 (test dulu), siapkan
darah

P1001 Post SC hari 0

14-2- Flatus (-), ASI (+), P1001 Post SC hari I Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Minum
2007 luka op. terawat baik, Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v sedikit-
vagina lochia (+) Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v sedikit, bubur
rubra, kontraksi (+) saring, Aff
baik. infus i.v dan
TD: 100/70 mmHg DC
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

15-2- Flatus (+), ASI (-), P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x1 tab) Oral
2007 luka op. terawat baik, As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
vagina lochia (+) Methergin (3x1 tab) Oral
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
baik, BAK (-).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

16-2- Flatus (+), ASI (-), P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x1 tab) Oral Pulang,
2007 luka op. terawat baik, Pulang dengan As. Mefenamat (3x1 tab) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu

97
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

baik, BAB (+), BAK


(+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

13. 01099226 Ny. S 14-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam
Umur: 27 thn 2007 sejak pkl. 12.00 (14-2- Diabetes Mellitus (-) G2P1001 37-38 Oksitosin 20 IU (28
TB: 131,5 cm 2007), sakit perut Hipertensi (-) minggu T/H, LMR tetes/menit s/d 12jam)
BB: 47 kg hilang timbul (-), Penyakit Jantung (-) (bekas SC). Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v
Pendidikan: gerak anak (+) baik, Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SD keluhan keluar lendir Obat (-) SC. Cito (14-2- Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: darah (-). 2007), injeksi i.v
IRT Keadaan umum: baik Kedacilin 2 gram
Kelas TD: 120/80 mmHg (test dulu), siapkan
Bangsal: III Nadi: 80 kali/menit darah
Suhu: 36,8oC
Respirasi: 20 P2002 Post SC hari 0
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

15-2- Nyeri luka op., flatus P2002 Post SC hari I Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Minum
2007 (-), ASI (+), luka op. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v sedikit-
terawat baik, kontraksi Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v sedikit, bubur
(+) baik. saring, Aff
TD: 100/70 mmHg infus i.v dan
Nadi: 78 kali/menit DC
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit
16-2- Nyeri luka op., luka P2002 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 op. terawat baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral

98
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral


vagina lochia (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
rubra.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

17-2- Nyeri luka op. P2002 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 berkurang, luka op. Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
terawat baik, kontraksi membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
(+) baik, vagina lochia Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
(+) rubra.
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

14. 01096732 Ny. I 15-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 32 thn 2007 sejak pkl. 09.00 (15-2- Diabetes Mellitus (-) G2P1001 39-40 Oksitosin 1 ampul (32 minum
TB: 150 cm 2007), sakit perut (-), Hipertensi (-) minggu T/H, LMR tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 54 kg gerak anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) (bekas SC), ketuban Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: - Keadaan umum: baik pecah dini lebih dari Alinamin F (2x1 ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg Obat (-) 12 jam, febris. Vitamin C (2x1ampul) Injeksi i.v
Petani Nadi: 92 kali/menit Tindakan:
Kelas Suhu: 38oC SC. Cito (15-2-
Bangsal: III Respirasi: 20 2007), injeksi i.v
kali/menit Kedacilin 2 gram
Tingkat kesadaran: (test dulu), siapkan
E4M6V5=15 darah

P2002 Post SC hari 0

99
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16-2- ASI (sedikit), vagina P2002 Post SC hari I D5%:Ringer Laktat (3:1) Infus i.v Minum
2007 lochia (+) rubra. 28 tetes/menit sedikit-
TD: 120/80 mmHg Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit, bubur
Nadi: 80 kali/menit Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v saring
Suhu: 37,5oC Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Respirasi:
20kali/menit

17-2- Sakit kepala (-), ASI P2002 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring,
2007 (+), luka op. terawat As. Mefenamat (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
baik, kontraksi (+) Methergin (3x1 tab) Oral dan DC
baik, vagina lochia (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
rubra.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

ASI (+), luka op. P2002 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
terawat baik, kontraksi Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
(+) baik, vagina lochia membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
(+) rubra. Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

15. 01099853 Ny. E 15-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) Infus i.v Minum
Umur: 24 thn 2007 sejak pkl. 04.00 (15-2- Diabetes Mellitus (-) G3P1011 40-41 20 tetes/menit s/d 12jam sedikit-
TB: - 2007), sakit perut (-), Hipertensi (-) minggu T/H, letak Kedacilin (3x1ampul) Injeksi i.v sedikit s/d 6
BB: - gerak anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) sungsang, ketuban Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v jam post op.
Pendidikan: Keadaan umum: baik pecah dini. Vitamin C (2x80 mg) Injeksi i.v
SLTA TD: 110/70 mmHg Obat (-) Tindakan:

100
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pekerjaan: Nadi: 80 kali/menit SC. Cito (15-2-


IRT Suhu: 36,9oC 2007), injeksi i.v
Kelas Respirasi: 20 Kedacilin 2 gram
Bangsal: III kali/menit (test dulu), siapkan
Tingkat kesadaran: darah
E4M6V5=15
P2012 Post SC hari 0

16-2- Nyeri luka op. P2012 Post SC hari I Kedacilin (3x1gram) Injeksi i.v Bubur saring,
2007 berkurang, luka op. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v minum
terawat baik, kontraksi Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v sedikit-
(+) baik, vagina lochia sedikit, Aff
(+) rubra. infus i.v dan
TD: 110/70 mmHg DC
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

17-2- Flatus (+), ASI (+), P2012 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 luka op. terawat baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) Methergin (3x1 tab) Oral
rubra, kontraksi (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
baik.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

18-2- ASI (+), luka op. P2012 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 terawat baik, vagina Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
lochia (+) rubra, membaik Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
kontraksi (+) baik. Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
TD: 110/70 mmHg

101
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit
16. 01101758 Ny. S 16-2- Pendarahan aktif sejak Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infuse i.v Puasa 6 jam,
Umur: 37 thn 2007 pkl. 16.00 (16-2-2007) Diabetes Mellitus (-) G4P3003 40 minggu Oksitosin 10 IU (20 minum
TB: - dan sudah terpasang Hipertensi (-) T/H, letak lintang, tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: - infus set, sakit perut Penyakit Jantung (-) suspect plasenta Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: (-), gerak anak (+) previa, pendarahan Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA baik. Obat (-) aktif. Vitamin C (2x200 mg) Injeksi i.v
Pekerjaan: Keadaan umum: baik Tindakan:
IRT TD: 110/70 mmHg SC. Cito (16-2-
Kelas Nadi: 120 kali/menit 2007), injeksi i.v
Bangsal: III Suhu: 37oC Ampisilin 2 gram
Respirasi: 20 (test dulu), siapkan
kali/menit darah
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15 P4004 Post SC + steril
hari 0

17-2- Nyeri luka op., flatus P4004 Post SC + steril D5%:Ringer Laktat (3:1) infus i.v Aff infus i.v
2007 (-), luka op. terawat hari I 28 tetes/menit dan DC,
baik, kontraksi (+) Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v habis injeksi
baik, vagina lochia (+) Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v ganti oral,
rubra. Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v minum
TD: 100/80 mmHg sedikit-
Nadi: 80 kali/menit sedikit, bubur
Suhu: 37oC saring
Respirasi:
20kali/menit

18-2- Luka op. terawat baik, P4004 Post SC + steril Amoksisilin (3x1 tab) Oral Bubur saring
2007 kontraksi (+) baik, hari II As. Mefenamat (3x1 tab) Oral
vagina lochia (+) Methergin (3x1 tab) Oral
rubra. Fero Sulfat (2x1 tab) Oral

102
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 110/60 mmHg


Nadi: 108 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
18kali/menit

19-2- Luka op. terawat baik, P4004 Post SC + steril Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 kontraksi (+) baik, hari III As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) Methergin (3x1 tab) Oral
rubra. Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

20-2- Luka op. terawat baik, P4004 Post SC + steril Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, hari IV As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) Pulang dengan Methergin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra. membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral minggu
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 72 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

17. 01102399 Ny. B 20-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 30 thn 2007 timbul sejak pkl. 02.00 Diabetes Mellitus (-) G3P2002 40-41 Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: - (20-2-2007), gerak Hipertensi (-) minggu T/H, letak tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: - anak (+) baik, keluar Penyakit Jantung (-) sungsang. Kedacilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: air (-), blood slym (+). Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SD Keadaan umum: - Obat (-) SC. Cito (20-2- Vitamin C (2x200 mg) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: - 2007), injeksi i.v
IRT Nadi: 84 kali/menit Subenisilin 2 gram

103
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Kelas Suhu: 37oC (test dulu), siapkan


Bangsal: III Respirasi: 20 darah
kali/menit
Tingkat kesadaran: P3003 Post SC hari 0
E4M6V5=15

21-2- Flatus (+), vagina P3003 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 lochia (+) rubra, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
kontraksi (+) baik. Metilergometrin (3x1 tab) Oral
TD: 120/80 mmHg Roborantia (2x1 tab) Oral
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit
22-2- Vagina lochia (+) P3003 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 rubra, kontraksi (+) Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
baik, pendarahan (-). membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
TD: 100/60 mmHg Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

18. 01101767 Ny. E 20-2- Keluar air pervaginam Asma (-) Diagnosa: Ampisilin 4x500 mg, Injeksi i.v Perawatan
Umur: 25 thn 2007 sejak pkl. 08.00 (16-2- Diabetes Mellitus (-) G1P0000 33-34 Deksametason 1x12 mg Injeksi i.v pre op.
TB: 156 cm 2007), sakit perut (-), Hipertensi (-) minggu T/H, letak
BB: 72 kg gerak anak (+) baik. Penyakit Jantung (-) sungsang, ketuban
Pendidikan: Keadaan umum: baik pecah dini lebih dari
Universitas TD: 120/80 mmHg Obat (-) 12 jam.
Pekerjaan: Nadi: 80 kali/menit Tindakan:
Pegawai Suhu: 37oC SC. Cito (22-2-
Swasta Respirasi: 18 2007).
Kelas kali/menit
Bangsal: III Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

104
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21-2- TD: 110/70 mmHg Diagnosa: Ampisilin 4x500 mg, Injeksi i.v Perawatan
2007 Nadi: 80 kali/menit G1P0000 33-34 Deksametason 1x12 mg Injeksi i.v pre op.
Suhu: 37oC minggu T/H, letak
Respirasi: 20 sungsang, ketuban
kali/menit pecah dini lebih dari
Tingkat kesadaran: 12 jam.
E4M6V5=15 Tindakan:
SC. Cito (22-2-
2007).

22-2- Vagina lochia (+) P0101 Post SC hari 0 D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
2007 rubra, BAB (-), BAK Oksitosin 20 IU (20 minum
(-). tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
TD: 110/70 mmHg Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Nadi: 80 kali/menit Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
Suhu: 37oC Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Respirasi:
20kali/menit

23-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
vagina lochia (+) Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
rubra, BAB (-), BAK Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
(+) dengan kateter.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit
24-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) Roborantia (1x1 tab) Oral
rubra, ASI (+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit

105
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) Roborantia (1x1 tab) Oral selama 1
rubra, ASI (+). minggu
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
19. 01102661 Ny. S 21-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 33 thn 2007 timbul sejak pkl. 00.30 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 38 minggu Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: 157 cm (21-2-2007), gerak Hipertensi (-) T/H, LMR (bekas tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 68 kg anak (+) baik, keluar Penyakit Jantung (-) SC). Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: air (-), blood slym (+). Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA Keadaan umum: baik Obat (-) SC. Cito (21-2- Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 110/70 mmHg 2007)
Lain-lain Nadi: 80 kali/menit
Kelas Suhu: 36,6oC P2002 Post SC +
Bangsal: III Respirasi: tubektomi bilateral
20kali/menit hari 0
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

22-2- Luka op. terasa sakit, P2002 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 luka op. terawat baik, tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
kontraksi (+) baik, hari I Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
vagina lochia (+) Roborantia (1x1 tab) Oral
rubra.
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

106
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23-2- Luka op. terawat baik, P2002 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 kontraksi (+) baik, tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) hari II Metilergometrin (3x1 tab) Oral
rubra, BAB (-), BAK Roborantia (2x1 tab) Oral
(+).
TD: 95/50 mmHg
Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

24-2- Luka op. terawat baik, P2002 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) hari III Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra. Pulang dengan Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
TD: 100/60 mmHg membaik
Nadi: 74 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

20. 01102877 Ny. S 22-2- Pendarahan Asma (-) Diagnosa:


Umur: 33 thn 2007 pervaginam warna Diabetes Mellitus (-) G4P0000 38-39
TB: 153 cm merah segar sejak pkl. Hipertensi (-) minggu T/H,
BB: 63 kg 23.00 (21-2-2007), Penyakit Jantung (-) plasenta previa,
Pendidikan: sakit perut (-), gerak pendarahan aktif.
SLTA anak (+) baik, keluar Obat (-) Tindakan:
Pekerjaan: air (-), pendarahan SC. Cito (22-2-
IRT sebanyak 1 gelas. 2007), antibiotika
Kelas Keadaan umum: baik (test dulu), siapkan
Bangsal: III TD: 120/80 mmHg darah.
Nadi: 88 kali/menit
Suhu: 36,8oC
Respirasi: 24
kali/menit

107
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari 0 D5%:Ringer Laktat (3:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
kontraksi (+) baik, Oksitosin 20 IU (28 minum
vagina lochia (+) tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
rubra, nyeri (-), Sulbenisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit, bubur
pendarahan Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v saring
(-). Vitamin C (2x1 ampul) Injeksi i.v
TD: 120/70 mmHg Cytotec (3x1 ampul) Injeksi i.v
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 36,7oC
Respirasi: 20
kali/menit

23-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
vagina lochia (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral bubur saring
rubra, BAB (-), BAK
(+), pendarahan (-).
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

24-2- Sakit luka op.,luka op. P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 terawat baik, kontraksi As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
(+) baik, vagina lochia Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
(+) rubra, flatus (+),
BAB (-) BAK (+),
ASI (+).
TD: 110/60 mmHg

108
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) membaik Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
rubra, nyeri (-), BAB minggu
(+), BAK (+), flatus
(+), pendarahan (-).
TD: 110/60 mmHg
Nadi: 75 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

21. 01102916 Ny. C 22-2- Sakit perut (-), gerak Asma (-) Diagnosa:
Umur: 38 thn 2007 anak (+) baik, keluar Diabetes Mellitus (-) G3P2002 T/H, letak
TB: 153 cm air (-), letak lintang. Hipertensi (-) lintang
BB: 65 kg Keadaan umum: baik Penyakit Jantung (-) Tindakan:
Pendidikan: TD: 100/60 mmHg SC. Primer + steril
Tidak tamat Nadi: 88 kali/menit Obat (-) (22-2-2007), injeksi
SD Suhu: 36,8oC i.v Sefotaksim 2
Pekerjaan: Respirasi: 24 gram (test dulu) atau
IRT kali/menit injeksi i.v Ampisilin
Kelas Tingkat kesadaran: 2 gram, 1 jam
Bangsal: III E4M6V5=15 sebelum op.

23-2- Gerak anak (+) baik, P3003 Post SC + D5%:Ringer Laktat (4:1) + Injeksi i.v Puasa 6 jam,
2007 keluar air (-), letak tubektomi bilateral Oksitosin 20 IU (28 minum
lintang. hari 0 tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
TD: 110/70 mmHg Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Nadi: 80 kali/menit Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
Suhu: 37oC Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v

109
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Respirasi: 20
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

24-2- Luka op. terawat baik, P3003 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 kontraksi (+) baik, tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
flatus (+), vagina hari I Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
lochia (+) rubra. Roborantia (2x1 tab) Oral
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P3003 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 nyeri luka op., tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
kontraksi (+) baik, hari II Metilergometrin (3x1 tab) Oral
flatus (+), vagina Roborantia (2x1 tab) Oral
lochia (+) rubra.
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

26-2- Luka op. terawat baik, P3003 Post SC + Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, tubektomi bilateral As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
ASI (+), vagina lochia hari III Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
(+) rubra. Pulang dengan Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
TD: 110/70 mmHg membaik
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

110
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22. 01102876 Ny. L 22-2- Sakit perut hilang Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 32 thn 2007 timbul sejak pkl. 18.00 Diabetes Mellitus (-) G2P1001 41-42 Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: 152 cm (21-2-2007), gerak Hipertensi (-) minggu T/H, LMR tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 66,5 kg anak (+) baik, keluar Penyakit Jantung (-) (bekas SC), keluar Ampisilin (3x1gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: air (+) sejak pkl. 10.00 air. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA (21-2-2007), keluar Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v
Pekerjaan: lendir darah. SC. Injeksi i.v
IRT Keadaan umum: baik Sulbenisilin 2 gram
Kelas TD: 120/80 mmHg (test dulu).
Bangsal: III Nadi: 88 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi: 20 P1001 Post SC hari 0
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

23-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring,
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
vagina lochia (+) Metilergometrin (3x1 tab) Oral dan DC
rubra, BAB (-), BAK Roborantia (2x1 tab) Oral
(+) dengan kateter,
flatus (+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 72 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

24-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) Metilergometrin (3x1 tab) Oral
rubra, BAB (-), BAK Roborantia (2x1 tab) Oral
(+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 84 kali/menit

111
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
rubra, BAB (+), BAK Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
(+).
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 76 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

23. 01103113 Ny. R 23-2- Sakit perut (-), gerak Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 31 thn 2007 anak (+) baik, keluar Diabetes Mellitus (-) G1P0000 41minggu Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: 152,5 cm air (-), blood slym (-). Hipertensi (-) T/H, tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 56,2 kg Keadaan umum: baik Penyakit Jantung (-) oligohidramnion- Sefotaksim (3x1 ampul) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: TD: 120/80 mmHg anhidrosis. Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA Nadi: 84 kali/menit Obat (-) Tindakan: Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v
Pekerjaan: Suhu: 37oC SC. Cito.
IRT Respirasi: 20
Kelas kali/menit
Bangsal: III Tingkat kesadaran: P1001 Post SC hari 0
E4M6V5=15

24-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v Aff infus i.v
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
kontraksi (+) baik, Roborantia (2x1 tab) Oral bubur saring
vagina lochia (+)
rubra, BAB (-), BAK
(+) dengan kateter,
ASI
(-), flatus (+).

112
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 120/80 mmHg


Nadi: 72 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
vagina lochia (+) Roborantia (1x1 tab) Oral
rubra, ASI (sedikit).
TD: 120/80 mmHg
Nadi: 70 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

26-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Rawat luka,
2007 kontraksi (+) baik, Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral Pulang,
vagina lochia (+) membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral kontrol poli
rubra, ASI (+). Roborantia (2x1 tab) Oral selama 1
TD: 110/70 mmHg minggu
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

24. 01103108 Ny. S 23-2- Sakit perut jarang- Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 29 thn 2007 jarang sejak pkl. 04.00 Diabetes Mellitus (-) G1P0000 39minggu Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: - (23-2-2007), gerak Hipertensi (-) T/H, letak sungsang, tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 63 kg anak (+) baik, keluar Penyakit Jantung (-) belum impartus. Ampisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: air (-), keluar lendir Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA darah (+). Obat (-) SC. Cito, antibiotika Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v
Pekerjaan: Keadaan umum: baik 2 gram (test dulu),
Pegawai TD: 110/60 mmHg siapkan darah.
Swasta Nadi: 84 kali/menit

113
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Kelas Suhu: 37,1oC


Bangsal: III Respirasi: 20 P0101 Post SC hari 0
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15
24-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus iv
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral
rubra, flatus (+).
TD: 120/80 mmHg
Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

25-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral
rubra, ASI (sedikit),
flatus (+).
TD: 120/80 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
18kali/menit

26-2- Luka op. terawat baik, P0101 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 nyeri luka op. (+), Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
kontraksi (+) baik, membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
rubra, ASI (sedikit),
flatus (+).
TD: 120/80 mmHg

114
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
18kali/menit

25. 01102817 Ny. S 23-2- Nyeri perut hilang Asma (-) Diagnosa: Perawatan
Umur: 26 thn 2007 timbul sejak pkl. 16.00 Diabetes Mellitus (-) G1P0000 41-42 pre op.
TB: 158 cm (23-2-2007), gerak Hipertensi (-) minggu T/H, blood
BB: 62 kg anak (+) baik, keluar Penyakit Jantung (-) slym.
Pendidikan: air (-), blood slym (+). Tindakan:
SLTP Keadaan umum: baik Obat (-) SC. Cito (24-2-
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg 2007), injeksi i.v
Buruh Nadi: 88 kali/menit Kedacilin 2 gram
Kelas Suhu: 36,8oC (test dulu).
Bangsal: III Respirasi: 20
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

24-2- Keadaan umum: baik P1001 Post SC hari 0 D5%:Ringer Laktat (4:1) Infus i.v Puasa 6 jam,
2007 TD: 120/80 mmHg 28 tetes/menit s/d 12jam minum
Nadi: 86 kali/menit Sulbenisilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit-
Suhu: 37oC Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v sedikit
Respirasi: 20 Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v
kali/menit
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

25-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
vagina lochia (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
rubra, BAK (+),
ASI (-).
TD: 120/80 mmHg

115
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nadi: 84 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

26-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral
rubra, BAK (+), ASI
(+), flatus (+).
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
18kali/menit

27-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 nyeri luka op. (+), Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
kontraksi (+) baik, membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
rubra, BAK (+), ASI
(+).
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 36oC
Respirasi:
18kali/menit

26. 01103682 Ny. D 26-2- Sakit perut sejak pkl. Asma (-) Diagnosa: D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 25 thn 2007 01.00 (26-2-2007), Diabetes Mellitus (-) G1P0000 39-40 Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: - keluar air ketuban Hipertensi (-) minggu T/H, letak tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: - sejak pkl 06.00 (26-2- Penyakit Jantung (-) sungsang, keluar air. Sefotaksim (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit
Pendidikan: 2007), teraba bagian Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTA kecil. Obat (-) SC. Cito (24-2- Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v

116
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pekerjaan: Keadaan umum: baik 2007), injeksi


IRT TD: 110/70 mmHg antibiotika 2 gram
Kelas Nadi: 88 kali/menit (test dulu), siapkan
Bangsal: III Suhu: 36,3oC darah.
Respirasi: 20
kali/menit P1001 Post SC hari 0
Tingkat kesadaran:
E4M6V5=15

27-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral dan DC,
kontraksi (+) baik, Metilergometrin (3x1 tab) Oral bubur saring
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral
rubra, ASI (-).
TD: 120/80 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

28-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 nyeri luka op. (+), Pulang dengan As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
kontraksi (+) baik, membaik Metilergometrin (3x1 tab) Oral selama 1
vagina lochia (+) Roborantia (2x1 tab) Oral minggu
rubra, ASI (+).
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

27. 01104107 Ny. M 27-2- Keluar air pervaginam Diabetes Mellitus (-) G1P0000 38-39 D5%:Ringer Laktat (4:1) + Infus i.v Puasa 6 jam,
Umur: 28 thn 2007 sejak 2 hari yang lalu Hipertensi (-) minggu T/H, Oksitosin 20 IU (28 minum
TB: 150 cm (25-2-2007), sakit Penyakit Jantung (-) ketuban pecah dini tetes/menit s/d 12jam) sedikit-
BB: 61,5 kg perut (-), gerak anak lebih dari 12 jam. Kedacilin (3x1 gram) Injeksi i.v sedikit

117
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pendidikan: (+) baik. Obat (-) Tindakan: Alinamin F (3x1 ampul) Injeksi i.v
SLTP Keadaan umum: baik SC. Cito (27-2- Vitamin C (2x200 gram) Injeksi i.v
Pekerjaan: TD: 120/80 mmHg 2007), injeksi i.v
IRT Nadi: 84 kali/menit Sulbenisilin 2 gram
Kelas Suhu: 37oC (test dulu), siapkan
Bangsal: III Respirasi: 20 darah.
kali/menit
Tingkat kesadaran: P1001 Post SC hari 0
E4M6V5=15
28-2- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari I Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring,
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral Aff infus i.v
kontraksi (+) baik, Fero Sulfat (2x1 tab) Oral dan DC
vagina lochia (+)
rubra, flatus (+).
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 82 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

1-3- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari II Amoksisilin (3x500 mg) Oral Bubur saring
2007 nyeri luka op. (+), As. Mefenamat (3x500 mg) Oral
kontraksi (+) baik, Fero Sulfat (2x1 tab) Oral
vagina lochia (+)
rubra.
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 80 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

2-3- Luka op. terawat baik, P1001 Post SC hari III Amoksisilin (3x500 mg) Oral Pulang,
2007 kontraksi (+) baik, As. Mefenamat (3x500 mg) Oral kontrol poli
vagina lochia (+) Fero Sulfat (2x1 tab) Oral selama 1
rubra, ASI (+). minggu

118
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TD: 110/70 mmHg


Nadi: 78 kali/menit
Suhu: 37oC
Respirasi:
20kali/menit

Keterangan:
No. RM = nomer rekam medik s/d = sampai dengan
TM = tanggal masuk i.v = interavena
TO = tanggal operasi SC. Cito = section caesarea (bedah sesar) yang harus segera dilakukan
TP = tanggal pemeriksaan ASI = air susu ibu
TK = tanggal keluar KPD = ketuban pecah dini
TB = tinggi badan DC = Dauer Chateter (kateter tetap)
BB = berat badan BAB = buang air besar
op. = operasi BAK = buang air kecil
T/H = tunggal/hidup LMR = Lokus Minoris Resisten
TD = tekanan darah G0P0000 = Gravida( kehamilan yang keberapa) Partus(yang telah lahir), (abortus), (prematur), (hidup)
IU = international unit E4,V6,M5 = eyes open spontan, verbal oriented and controversed, motor response to verbal command
D5% = Dextrosa 5%

119
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

120

Penggolongan Obat Pasien Bedah Sesar di Bangsal Bakung Timur


Rumah Sakit Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.

No. Nama obat Golongan obat Nama Kelas terapi obat


Generik
1. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Kedacilin Pinisilin Anti-Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
2. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

3. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid

Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah


Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

4. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

121

Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah


Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

5. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

6. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

7. Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)


Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obsterik &
Ginekologi
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

8. Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)


Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

9. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Kedacilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

122

Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)


Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

10. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

11. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sefotaksim Sefalosporin generasi ketiga Cefotaxime Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

12. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

13. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

123

antiinflamasi non steroid


Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
14. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

15. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Kedacilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

16. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Methergin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi

17. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Kedacilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

124

18. Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antibakteri)


Deksametason Antihistamin & antialergi Dexamethason Obat lain
Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

19. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

20. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Cytotec Sistem saluran cerna (analog Obat lain
prostaglandin)
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi gizi Fero Sulfat Mempengaruhi darah

21. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

125

22. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

23. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sefotaksim Sefalosporin generasi ketiga Cefotaxime Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

24. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Ampisilin Penisilin Ampicilin Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

25. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Sulbenisilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

26. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

126

&karbohidrat
Sefotaksim Sefalosporin generasi ketiga Cefotaxime Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Metilergometrin Oksitosik Methylergometrin Obat Obstetrik &
Ginekologi
Roborantia Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi

27. Oksitosin Oksitosik Oxytocin Obat Obstetrik &


Ginekologi
Dextrosa 5% dalam Ringer laktat Larutan elektrolit & karbohidrat Natrium intravena Larutan elektrolit
&karbohidrat
Kedacilin Penisilin anti Pseudomonas Antiinfeksi (antimikroba)
Alinamin F Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Vitamin C Mempengaruhi gizi Mempengaruhi gizi
Amoksisilin Penisilin Amoksisilin Antiinfeksi (antimikroba)
Asam mefenamat Analgesik non opioid Asam mefenamat Analgesik
antiinflamasi non steroid
Fero Sulfat Mempengaruhi darah Fero Sulfat Mempengaruhi darah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

127

Penggolongan Obat Pasien Pasca Bedah Sesar di Bangsal Bakung


Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari 2007.
Obat Antiinfeksi

No. Golongan obat Jenis obat Nama obat


1. Pinisilin Amoksisilin Amoksisilin
Ampisilin Ampisilin
Penisilin anti-Pseudomonas Sulbenisilin Kedacilin
Sefalosporin generasi ketiga Sefotaksim Cefotaxime

Obat Obstetrik dan Ginekologi

No. Golongan obat Jenis obat Nama obat


1. Oksitosik Oksitosin Oxytocin
2. Alkaloid ergot Metilergometrin Methergin

Obat Analgesik

No. Golongan obat Jenis obat Nama obat


1. Analgesik non opioid Asam mefenamat Asam Mefenamat
antiinflamasi non steroid

Obat yang Mempengaruhi Gizi dan Darah

No. Golongan obat Jenis obat Nama obat

1. Mempengaruhi darah Fero Sulfat Fero Sulfat


2. Mempengaruhi Gizi Vitamin C Vitamin C
Vitamin B1
B Alinamin Fursultiamine
Vitamin B12
B Roborantia

Cairan Elektrolit dan Tranfusi Darah

No. Golongan obat Jenis obat Nama Obat


1. Larutan elektrolit dan Dextrosa 5% dalam Dextrosa 5% dalam
karbohidrat Ringer laktat Ringer laktat
2 Tranfusi darah Darah Darah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

128

Obat Lain

No. Golongan obat Jenis obat Nama obat

1. Antihistamin dan antialergi Deksamethason Deksamethason


2. Obat saluran cerna (analog Misoprostol Cytotec*
Prostaglandin)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

129

Komposisi Obat Brand Name yang Diterima Pasien Bedah Sesar


di Bangsal Bakung Timur RS Sanglah Denpasar Periode Februari
2007.

No. Brand Name Komposisi


1. Alinamin fursultiamine Alinamin fursultiamine
2. Cytotec Misoprostol
3. Kedacilin Sulbenisilin disodium
4. Methergin Metilergometrin hidrogen maleat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

130

BIOGRAFI PENULIS

Ni Komang Trisna Dewi merupakan anak ketiga dari

pasangan I Wayan Menyan dan Ni Nyoman Jelih, Lahir

di Kintamani, Bali pada tanggal 27 November 1984.

Pendidikan awal dimulai di Sekolah Dasar Negeri 1

Sekaan, Kintamani pada tahun 1991-1997. Dilanjutkan

ke jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama Negeri 1 Singaraja pada tahun 1997-2000.

Kemudian naik ke jenjang Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Bangli pada tahun

2000-2003. Selanjutnya pada tahun 2003 melanjutkan pendidikan ke jenjang

Perguruan Tinggi di Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta dan

menyelesaikan masa studi pada tahun 2007.