Anda di halaman 1dari 6

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Paleontologi adalah salah satu ilmu dasar dalam geologi yang mempelajari jasad-
jasad yang hidup di masa lampau. Jasad-jasad tersebut disebut fosil. Fosil ini
mencakup semua yang merupakan bagian dari kehidupan yang pernah ada di bumi ini
yang berumur lebih tua dari holosen atau 10.000 tahun yang lalu dan meliputi
tanaman, hewan, dan manusia. Proses untuk menjadi fosil disebut fosilisasi. Syarat
untuk menjadi fosilm syatu organism harus jatuh pada suatu lingkungan dimana
proses pembusukan haruxs dicegah atau dikurangi sekecil mungkin.

Fosil-fosil ini dapat digunakan untuk menjadi fosil indeks sebagai suatu penentu
suatu zaman, masa atau kala dan juga dapat dijadikan sebagai suatu penentu
lingkungan pengendapannya.

Sebagai seorang geologist, dengan mempelajari paleontology, kita dapat


mengetahui kesamaan lapisan struktur batuan di suatu daerah dan bahkan dapat
mengetahui umur relative dari lapisan batuan tersebut.

1.2 Tujuan

Makalah ini dibuat untuk menentukan taksonomi, morfologi, fosilisasi, aspek


kehidupan, dan umur dari fosil.

1.3 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah ditulis diatas, timbul pertanyaan-pertanyaan, yaitu:

1. Apa taksonomi dari fosil?


2. Bagaimana morfologi fosil?
3. Bagaimana aspek kehidupan dari fosil?
4. Apa jenis fosilisasi dari fosil?
5. Seberapa tua fosil?

1.4 Metode Analisis

Metode yang digunakan adalah dengan mengambil data berupa gambaran dari
fosil dan juga dimensinya dari Laboratorium Paleontologi. Untuk mendeskripsikan
fosil tersebut, penulis mengambil data dari studi literatur yang didapatkan dari banyak
sumber seperti internet dan buku. Dari informasi yang telah didapat, proses penelitian
dimulai.

1.5 Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun dari empat bab, yaitu:

1.5.1 Bab 1

Berisi tentang pendahuluan dari penelitian ini yang menguraikan latar


belakang, tujuan, metode, rumusan masalah dan sistematika penulisan

1.5.2 Bab 2

Berisi tentang landasan teori yang membahas secara ringkas tentang


Gastropoda seperti klasifikasi, morfologi, dan aspek kehidupan.

1.5.3 Bab 3

Berisi tentang pembahasan mengenai fosil yang telah didapat dan diteliti dari
data-data yang telah diperoleh.

1.5.4 Bab 4

Berisi tentang kesimpulan yang menggeneralisasikan isi dari makalah ini.


Bab II

Landasan Teori

2.1 Ciri Umum Gastropoda

Gastropoda berasal dari kata Latin gaster atau gastros yang artinya perut, dan
pous yang berarti kaki. Jika digabungkan, kata gastropoda bermakna perut sebagai
kaki atau perut yang juga berfungsi sebagai kaki untuk berjalan.

Gastropoda adalah suatu kelas dalam filum moluska yang merupakan kelompok
terbesar dari filum tersebut. Berdasarkan catatan terdiri dari 50.000 spesies, dimana
15.000 spesies adalah fosil-fosilnya dan 35.000 spesies yang masih hidup. Binatang
dalam kelas ini dapat dibedakan dari kelas lainnya di filum moluska karena bentuk
cangkangnya dan juga cara hidupnya.

Binatang kelas ini dikarakteristikan oleh sebuah cangkang atau shell yang
tersusun dari kapur yang menutupi bagian lunaknya sebagian atau seluruhnya dan
juga tubuhnya yang telah mengalami puntiran atau pilinan. Bentuk cangkangnya
bermacam-macam, ada yang berbentuk kerucut yang pada umumnya terputar dan
tidak terbagi dalam ruangan-ruangan.

2.2 Morfologi Umum Gastropoda

Cangkang gastropoda berbentuk tabung atau kerucut yang tertutup di salah


satu ujungnya dan terbuka di ujung lainnya. Di cangkang ini terdapat bagian-bagian
dan hiasan-hiasan. Bagian-bagian dan hiasan-hiasan dari cangkang tersebut adalah:

1. Whorl, yaitu satu putaran pada suatu cangkang yang terputar.


2. Body whorl, yaitu satu putaran terakhir pada suatu cangkang yang
terputar.
3. Spire, yaitu bagian-bagian whorl selebihnya.
4. Protoconch, yaitu bagian ujung cangkang.
5. Apertur, yaitu lubang di bagian ujung body whorl, tempat keluar
masuknya bagian dari tubuh binatang. Beberapa bentuk apertur ini antara
lain oval, engolasi, dan oblong. Bagian pinggir aperture disebut
periostrome. Apertur bagian luar disebut outerlip, dan apertur bagian
dalam disebut innerlip. Ada dua macam outerlip yaitu reflected outerlip
yaitu yang melengkung ke luar dan inflected outerlip yang melengkung ke
dalam.
6. Ornamentasi transversal, yaitu ornamentasi yang terdiri dari ribs yang
memotong whorl kurang lebih sejajar dengan garis tumbuh dan tegak-
lurus sutura.
7. Ornamentasi spiral, yaitu ornamentasi yang terdiri dari ribs yang halus dan
kasar.

Cangkang gastropoda pada umumnya berbentuk kerucut atau tabung yang


terbuka di bagian bawahnya, sedangkan ujung lainnya runcing. Bentuk tabung dan
kerucut ini berputar melalui sumbu membentuk spiral.

Ada tiga macam putaran yang diketahui, yaitu:

1. Planispiral, yaitu putaran yang melalui satu bidang.


2. Pseudoplanispiral, yaitu putarannya melalui satu bidang, tetapi mengarah
membentuk kerucut.
3. Trochospiral, yaitu putaran yang membentuk tiga dimensi.

Beberapa macam bentuk cangkang gastropoda adalah:

1. Discoidal, yaitu dimana semua whorl terletak di satu bidang dan bisa
dilihat dari sisi eksterior.
2. Conical, yaitu cangkang dengan bentuk kerucut dengan spire agak runcing
dqan alas rata. Perputaran bertambah diameternya secara teratur dan
mempunyai permukaan hampir rata.
3. Turbinate, yaitu cangkang dengan bentuk kerucut yang alasnya conveks.
4. Turrited, yaitu cangkang dengan spire panjang dan sangat runcing, whorl
banyak dengan pertambahan ukuran berangsur dan teratur.
5. Fusiform, yaitu cangkang yang berbentuk kumparan, tebal di tengah, ke
arah kedua ujungnya meruncing, spire memanjang dengan alas whorl
terakhir membentuk leher yang panjang.
6. Cylindrical, yaitu cangkang yang setelah putaran pertama maka diameter
putaran berikutnya konstan atau berkurang pada ujung cangkang interior.
2.3 Aspek Hidup Gastropoda

Gastropoda hidup di berbagai habitat di permukaan bumi ini. Mereka hidup di


semua bagian habitat laut dari lautan terdalam hingga ke litoral dan mereka juga
dapat hidup di air tawar dan payau. Mereka juga satu-satunya moluska yang dapat
hidup di daratan. Habitat mereka di darat tersebar dari gunung hingga ke gurun dan
hutan.

Kebanyakan gastropoda yang hidup di air hidup secara bentonis namun ada
juga beberapa yang plantonik. Beberapa gastropoda seperti siput ungu (Janthinidae)
dan kadal laut (Glaucus) hidup di permukaan air laut dimana mereka memburu
plankton-plankton untuk dimakan sedangkan yang lain seperti heteropoda dan
gymnosomata adalah predator yang aktif dengan berenang untuk mencari plankton.
Beberapa siput, seperti Syrinx aruanus, memiliki tubuh yang cukup besar dengan
panjangnya yang mencapai 600 mm. Mereka adalah bagian dari kelompok besar
mikrogastropoda yang hidup di air laut, air tawar dan daratan.

2.4 Klasifikasi Gastropoda

Menurut Winston Ponder dan David R. Lindberg pada tahun 1997, kelas
Gastropoda dapat dibagi menjadi dua subkelas, yaitu:

1. Orthogastropoda

Subkelas ini dikarakteristikan dengan

2.5 Persebaran Fosil


Bab III

Pembahasan

3.2 Fosilisasi

Terlihat dari kenampakan fosil bahwa jenis dari fosilisasi fosil adalah
pemineralisasi dan juga internal mold. Pemineralisasi adalah suatu proses fosilisasi
dimana mineral sebagian masuk menggantikan mineral yang berada di organism.
Umumnya, mineral yang menggantikan adalah mineral silika, kalsium karbonat dan
besi oksida.

Internal mold adalah suatu proses fosilisasi dimana mineral masuk ke dalam
rongga-rongga kosong pada sebuah organisme. Dapat terlihat bahwa dalam hal ini,
fosil memiliki operkulum yang merupakan rongga kosong pada bagian bawah fosil.
Hal ini memungkinkan butiran-butiran mineral untuk masuk melalui operkulum
tersebut dan mengisi rongga yang berada di dalam fosil tersebut.

3.3 Aspek Hidup

Hidup di dasar laut secara vagil bentonis dengan menggunakan perut sebagai
bagian tubuh untuk berjalan. Hidup pada