Anda di halaman 1dari 2

Cikal bakal rasa nasionalisme bangsa yang besar dengan beragamnya suku bangsa yang

tersebar dari Sabang sampai Merauke pernah digunakan sebagai alat perjuangan bagi pemersatu
bangsa. Begitu juga dengan olahraga yang telah mempersatukan bangsa begitu jua yang telah
membuat permusuhan.

Olahraga telah dikenal oleh banyak orang dari zaman dulu sampai sekarang sehingga
olahraga ketenarannya tetap terjaga. Begitu banyaknya sesuatu yang dilakukan untuk
pemersatuan bangsa lewat olahraga seperti olympiade, pon, asian games dll. Begitu Banyak juga
kegiatan, organisasi yang berdiri karena olahraga ini dan berbagai club olahraga. Misalnya
sesuatu yang dilakukan Baron Piere de Fredi Coubertin warga Perancis, dia menghidupkan
kembali olympiade dengan tujuan pemersatuan bangsa di seluruh dunia .

Disisi lain Indonesia juga melakukan sesuatu perhimpunan, kegiatan untuk pemersatuan
bangsa. Salah satunya tengok saja sejarah panjang lahirnya tiga organisasi tertua di Tanah Air
yaitu perkumpulan olahraga Indonesia Moeda, PSSI, dan Pelti yang telah hadir di bumi persada
ini sebelum dan sesudah lahirnya Boedi Utomo tahun 1908 meski awalnya kehadiran mereka
masih bersifat kesukuan. Dan Itu fakta sejarah yang ada yaitu mereka yang masih bersifat
individual. Tetapi itu tidak masalah karena tujuannya memang untuk mempersatukan bangsa.
Tiga tahun seusai dwitunggal kita Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17-8-1945,
lahir Pekan Olahraga Nasional Pertama (1948) yang tujuannya tidak lain adalah memperkuat dan
mempererat lagi rasa kesatuan dan persatuan bangsa.

Kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa ini menghasilkan era keemasannya


olahraga. kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden pertama yang tidak pernah lupa atau
kabur dengan sejarah perjuangan bangsa ini berhasil mengangkat prestise bangsa maupun
prestasi atletnya. Tetapi di mana posisi prestasi olahraga kita saat ini. Jangan lagi kita bicara
tingkat Asia, di tingkat Asia Tenggara saja kita bahkan sudah tertinggal jauh dari Thailand dan
Malaysia, bahkan mulai terkejar oleh negara yang baru usai perang saudara berkepanjangan,
Olahraga pada umumnya dan Sepakbola pada khususnya, sebenarnya merupakan wahana yang
tepat sebagai alat pemersatu bangsa ini, yang akhir2 ini semakin diwarnai pesimisme. ketika
banyak diwarnai kekerasan, kecurigaan, dan sarat kepentingan berbagai pihak dan golongan.
Sekarang sudah saatnya prestasi olahraga indonesia perlu diperhatikan dan ditingkatkan.
perannya sangat terasa menyatukan semua lapisan masyarakat. dari yang tua sampai muda, yang
laki-laki sampai perempuan, dari yang kaya sampai yang miskin. Tetapi banyaknya kendala
dalam mempersatukan bangsa semakin benyak saja. Tidak bisa kita pungkiri, sebelum menatap
dan menuju impian pemersatu, kasus demi kasus terus terjadi dalam persepakbolaan negeri, tak
kunjung usai. Entah itu dari klub, kelompok suporter dan yang paling ironi kasus yang terjadi
dalam tubuh PSSI. Sepak bola Indonesia sudah parahkah? ataukah hanya retorika dan permainan
mereka yang tidak menginginkan kemajuan sepakbola ditanah air?. Mungkinkah semua karena
budaya Indonesia, walau terkenal sebagai negara santun tapi pada dasarnya suka akan kekerasan,
anarki serta korupsi.

Masih diawal tahun 2008 saja jika kita amati dalam persepakbolaan nasional banyak
masalah terjadi. Kisruh 8 besar yang menyeret nama Aremania, semi final di Senayan yang rusuh
antara Jakmania dan Persipuramania menewaskan Fathul Mulyadin seorang Jakmania. Belum
selesai, final Liga Indonesia harus digelar tanpa penonton, ditambah inkonsistensi PSSI dengan
menghilangkan degradasi untuk musim ini. Oknum aparat juga tidak mau kalah, sebagai
pengayom masyarakat justru membuat masyarakat resah. Beberapa waktu lalu di Maluku
Tengah, TNI kembali terjadi bentrok dengan Polisi, bahkan Kantor dinas Mapolres Maluku
Tengah rata dengan tanah dan beberapa rumah dinas Polres dibakar. Ironi memang, di negeri
yang katanya Bhinneka Tunggal Ika, yang sangat menjunjung tinggi pluralitas dan egaliter, di
dalamnya masih terdapat sendi-sendi pengganggu dan berusaha merusak tatanan masyarakat
madani yang dengan susah payah dibentuk, walau memang belum sepenuhnya terbentuk.