Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN

A. Prosedur Penerapan Teori

Ilmuwan menggunakan teori untuk menjelaskan pola-pola. Teori merupakan usaha


intelektual yang sangat keras karena ilmuwan harus berhadapan dengan kompleksitas dan
kenyataan yang tidak jelas dan tersembunyi dari pengamatan langsung. Gagasan ini menjadi jelas
ketika orang merujuk teori atom, yang menyatakan bahwa seluruh benda tersusun atas partikel-
partikel yang sangat kecil yang disebut dengan atom. Gambaran visual ini akan lebih sukar
diterima ketika meninjau salah satu aspek teori yang menyatakan bahwa sebuah atom sebenarnya
99,99 % kosong.

Teori memiliki tujuan yang berbeda dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan hukum-
hukum, tetapi ilmuwan menggunakan jenis pengetahuan ini untuk menyajikan penjelasan-
penjelasan dari fenomena-fenomena yang terjadi. Teori-teori mempunyai hakikat berbeda dan
tidak pernah menjadi fakta atau hukum, tetapi teori tetap berlaku sementara sampai disangkal
atau direvisi.

Penerapan teori adalah representasi dari sesuatu untuk menyajikan penjelasan-penjelasan


dari fenomena-fenomena yang terjadi. Model ini menjadi gambaran mental yang digunakan
untuk menunjukkan gajala dan gagasan-gagasan yang abstrak. Penerapan teori tersebut harus
menyertakan hal-hal yang menonojol dan penting dari gagasan atau teori yang mana ilmuwan
mencoba untuk memahamkannya atau menjelaskan gagasan atau teori tersebut. Contohnya saja
Model atom Bohr, model tata surya, dan model DNA double helix merupakan representasi
konkret dari gejala-gejala/fenomena-fenomena yang tidak dapat kita amati secara langsung.
Buku teks merupakan referensi utama ketika kita ingin menemukan model-model untuk
membantu kita dalam menerapkan teori.

Pada teori suatu rangkaian penjelasan yang mengungkapkan suatu fenomena atau realitas
tertentu yang dirangkum menjadi suatu konsep gagasan, pandangan, sikap dan atau cara-cara
yang pada dasarnya menguraikan nilai-nilai serta maksud dan tujuan tertentu yang teraktualisasi
dalam proses hubungan situasional, hubungan kondisional, atau hubungan fungsional di antara
hal-hal yang terekam dari fenomena atau realitas tertentu. Dengan menyelam jauh ke dalam
deskripsi teori, akan diketahui kekuatan dan kelemahan suatu teori.
Sebagai suatu konsep gagasan atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi
satu atau beberapa gagasan yang mempunyai tujuan tertentu. Konsep gagasan yang dimaksud
bisa terdiri dari serangkaian penjelasan terhadap pertanyaan Bagaimana membuat ini,
bagaimana membuat itu, bagaimana melakukan ini, dan bagaimana melakukan itu. Sebagai
misal, Jhon Dower merancang suatu gagasan tentang modernisasi combro yang tidak hanya
berisi oncom saja, tetapi bisa juga diisi dengan daging sapi atau daging ayam yang dicampur
dengan keju, agar lebih sesuai dengan selera orang-orang bule. Kemudian Jhon menyusun suatu
konsep tentang bagaimana membuat combro gaya barat, serta bagaimana memasarkan combro
gaya barat agar menjadi bisnis yang menguntungkan. Inti teori sebagai suatu konsep gagasan
adalah hasil serangkaian pemikiran invotif atau kreatif atas suatu fenomena atau realitas tertentu
menjadi lebih bermakna, lebih indah, lebih mudah, lebih berguna, atau lebih menyenangkan.

Pandangan atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi suatu rangkaian
pemikiran kritis yang mempunyai tujuan tertentu. Pandangan yang dimaksud bisa terdiri dari
dalil-dalil dalam pemikiran Mengapa begitu, karena apa begini, seharusnya begitu, mestinya
begini. Sebagai misal, Jhon Dower berpandangan bahwa yang menyebabkan combro dianggap
makanan murah dan menjadi konsumsi orang-orang kampung saja adalah nilai kesederhanaan
yang melekat pada materi combro. Nilai combro itu dipandang Jhon sebagai salah satu bentuk
pancaran budaya masyarakat kampung. Namun ketika combro itu direaktualisasikan oleh orang-
orang kota yang berpandangan dinamis dan kreatif, maka terjadilah pertambahan nilai pada
combro itu. Nilai tambah itu antara lain rasa combro yang lebih bervariasi, kemasan combro
lebih menarik, combro dijual di kafe-kafe, dan harga jual combro pun meningkat. Reaktualisasi
seperti combro ini tampak nyata dari gaya penyajian Kentucky Fried Chiken (KFC). Meskipun
sama-sama menjual ayam goreng, namun ayam goreng yang disajikan para pengelola bisnis
restoran KFC tentu berbeda dengan ayam goreng yang disajikan di warung-warung pinggir jalan.
Dalam konteks ini, konsep pandangan Jhon tentu tidak dibatasi hanya pada fakta masalah, tetapi
bisa jauh menerawang ke dalam meta masalah. Dengan penerawangannya itu mungkin Jhon juga
mencoba menemukan filosofi masalah. Inti teori sebagai suatu konsep pandangan adalah
idealisme dan atau profesionalisme tertentu atas suatu fenomena atau realitas tertentu.
Teori juga diartikan sikap atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi suatu
rangkaian kehendak atau kebijakan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu terhadap suatu
fenomena atau realitas tertentu. Kehendak atau kebijakan yang dimaksud tercakup dalam suatu
penjelasan, alasan atau dalil-dalil yang bersumber dari pemikiran kritis Mengapa begini,
mengapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu; dengan begini jadi begitu, dengan begitu
jadi begini. Sebagai misal, Jhon Dower berkehendak atau mempunyai kebijakan yang menolak
dan mengangap penyikapan terhadap suatu fenomena atau realitas tertentu itu tidak benar.
Kemudian Jhon mendeskripsikan alasan-alasan atau dalil-dalil untuk tidak membenarkan suatu
penyikapan. Tidak hanya itu, Jhon pun merumuskan dan seolah-olah menganjurkan suatu
kehendak atau kebijakan yang dianggap lebih benar. Bila sikap Jhon itu terdeskripsi dengan
argumentasi yang kuat dan dapat diterima khlayak, maka sikap Jhon itu berkembang menjadi
suatu konsep teori. Inti teori sebagai suatu sikap adalah penilaian atas suatu fenomena atau
realitas tertentu.

Dengan cara atas suatu fenomena atau realitas tertentu dapat berisi serangkaian pemikiran
praktis yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Cara-cara yang dimaksud bisa terdiri pola,
prosedur dan teknik hingga membentuk suatu sistem untuk menjelaskan, menyatakan dan
merangkai Apa ini, apa itu, bagaimana ini, bagaimana itu, bagaimana ini. Sebagai misal, untuk
memperlancar dan mempermudah proses suatu pekerjaan, atau untuk melakukan suatu kegiatan,
Jhon Dower merancang suatu alat yang dapat digunakan untuk memperlancar dan
mempermudah proses pekerjaan, atau untuk melakukan kegiatan tersebut. Karena alat yang
dirancang Jhon Dower itu ternyata dapat berfungsi efektif dan memberi manfaat bagi proses
penyelesaian pekerjaan atau kegiatan khalayak, maka alat dan penjelasan alat itu berkembang
menjadi suatu konsep teori. Inti teori sebagai suatu cara adalah serangkaian pola, prosedur dan
teknik atas suatu proses pekerjaan atau kegiatan tertentu hingga terbentuk suatu sistem.

B. Produk Penerapan Teori

Produk maksudnya adalah lebih menekankan pada memahami apa yang sudah dihasilkan
oleh teori itu sendiri misalnya, prinsip-pinsip, hukum-hukum, dan rumus-rumus.
Usaha pemahaman siswa terhadap prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan penggunaan rumus-rumus
yang berlaku dalam teori menunjukkan hakekat ilmu pengetahuan sebagai produk.
Pemahaman yang dilakukan siswa terhadap prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan rumus-rumus
tidak memerlukan urutan atau tahapan tertentu. Setiap orang cukup memahami isi kandungan
dari prinsip atau hukum yang sedang dipelajarinya itu; atau bagaimana caranya menggunakan
rumus untuk memecahkan soal yang sedang dibahasnya.

Jika seseorang hanya mempelajari prinsip-prinsip, hukum-hukum, rumus-rumus dengan


cara seperti itu, berarti siswa hanya mempelajari apa yang sudah dihasilkan ( produk ) oleh para
akhli tanpa memikirkan/mengetahui bagaimana caranya prinsip-prinsip, hukum-hukum, rumus-
rumus itu ditemukan. Kegiatan yang dilakukan seseorang seperti itu berarti telah mengganggap
ilmu penegtahuan hanya sebagai produk saja.

Berikut ini adalah contoh produk di berbagai bidang. Di bidang kimia, ditemukan logam-
logam baru misalnya seng,kobalt,nikel,melalui teknik oksidasi reduksi ,destilasi dan
amalgamasi.Juga ditemukan senyawa merkuri dan pada masa ini dapat digunakan untuk
pemberantasan penyakit kotor.

Di bidang navigasi dan astronomi, di adakan perbaikan perbaikan dalam peta navigasi.
Pelayaran tidak lagi digunakan atas dasar keyakinan filosofis tetaoi atas dasar hipotesis. Dala hal
ini data yang dibawa pulang dari petualangan masa lalu tentu saja sangat berguna dalam
menetapkan hiputesis itu.

Di bidang teknologi yang dirasakan manfaatnya bagi masyarakat adalah kemajuan dalam
pembuatan tekstil dalam mesin, pembuatan kapal dagang, juga dalam bidang kerajinan gelas,
poreselen dan lukisan yang merupakan simbol kesejahteraan. Di bidang industri diperoleh besi
baja Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat suatu produk dari sebuah teori
yaitu: isi, bentuk dan filosofi yang mendasari produk dari sebuah teori itu dibuat harus jelas dan
rinci.

C. Tata Nilai Penerapan Teori


Tata nilai penerapan teori dapat diartikan sebagai pola cara berpikir atau aturan-aturan
yang mempengaruhi tindakan-tindakan dan tingkah laku dalam menjelaskan pola-pola . Pada
cara berpikir itu tumbuh berkembang dan kokoh sebagai pedoman dalam melakukan penerapan
teori.

Teori sebagai suatu penjelasan dan menjadi dasar dari fenomena-fenomena yang terjadi.,
mempunyai nilai-nilai etik dan estika yang tinggi. Nilai-nilai itu terutama terletak pada sistem
yang mengutamakan kebenaran yang objektif pada tempat yang paling utama. Adapun proses
teori itu sendiri dapat dianggap sebagai suatu latihan mencari, meresapkan, dan menghayati nilai-
nilai luhur itu.

Lain daripada itu dalam kalangan para ilmuwan itu terdapat hubungan yang saling
percaya, baik para ilmuwan pada masa maupun dengan para ilmuwan masa lampau. Para
ilmuwan itu masing-masing mempunyai kebebasan untuk dengan caranya sendiri merumuskan
hukum-hukum yang mereka temukan dengan metode yang mereka gunakan. Sains merupakan
suatu sistem yang besar dan utuh. Suatu temuan merupakan pelengkap dari yang lain sehingga
mereka saling bahu-membahu untuk menyusun suatu sistem lengkap dan harmonis itu. Temuan
masa lalu yang kurang sempurna merupakan jembatan untuk temuan yang lebih sempurna,
sehingga penemu yang terdahulu tetap dihormati bahkan diabadikan nama-namanya. Sebagai
contoh adalah hukum Boyle yang sebenarnya hanya berlaku untuk gas ideal yang tak pernah ada
itu tetap menjadi jembatan guna menetapkan hukum-hukum gas yang sempurna.

Telah diketahui bahwa sebuah teori mengandung nilai etis dan estetik namun sebenarnya
sains baru mempunyai nilai moral pada aplikasinya. Aplikasi pada sebuah teori dapat diketahui
melalui penelurusan sejarahnya dan pengungkapan peranan dari seuah teri dalam meningkatkan
kesjahteraan manusia.

Pengaruhnya telah terasa dalam bidang kesehatan, sandang, pangan, komunikasi dan
industri. Sesuatu ingin diungkapkan dalam hal ini adalah nilai moral terutama karena sebuah
teori kecuali mempunyai tujuan mulia untuk kemanusiaan itu juga dapat digunakan untuk hal-hal
sebaliknya. Misalnya saja pembuatan senjata pemusnah yang mengerikan, bom hidrogen, bom
kimia, bom kuman sampai pada rekayasa genetika yang bila tidak dikendalikan dengan seksama
akan dapat memusnahkan kemanusiaan itu sendiri. Pembuatan robot-robot yang semula yang
bertujuan untuk efisiensi itupun bisa disalahgunakan untuk tujuajn-tujuan kriminal.

Jadi singkatnya nilai-nilai moral/humaniora dari suatu teori tampaknya mempunyai dua
muka yang berlawanan arah. Muka yang menuju cita-cita kemanusiaan yang luhur muka yang
lain menuju kepada tindak immoral yang tidak saja dapat melenyapkan nilai-nilai luhur namun
dapat melenyapkan eksistensi manusia itu sendiri.

Namun seperti apa yang telah anda ketahui bahwa sebuat teori sekedar alat yang sangat
tergantung dari manusianya yang berada di belakangnya, untuk apa sebuauh teori itu digunakan.
Dengan kata lain, sains itu sendiri adalah suci, yang tidak suci itu manusianya.

Teori mempunyai tata nilai dapat diartikan sebagai suatu yang berharga dalam suatu
kegiatan atau proses ilmiah. Nilai-nilai inilah yang dipegang oleh para pelaku ilmiah sehingga
pekerjaan dan hasil kerja pelaku tersebut dapat disebut sebagai proses atau produk ilmiah.

Dalam sebuah teori terdapat beberapa nilai yang harus dimiliki oleh pelaku atau
ilmuwanpencetus sebuat teori diantaranya:

Sikap ingin tahu Sikap ini mendorong pelak ilmiah untuk terus bereksperimen dan
menemukan suatu hal baru yang dapat memperbaiki kehidupan dunia.

Sikap selalu berhati-hati. Sikap ini akan menjaga pelaku ilmiah dari sikap ceroboh yang
dimana sikap ceroboh dapat membahayakan diri pelaku ilmiah dan orang lain.

Sikap mencari kebenaran. Sikap akan membantu pelaku ilmiah dalam menghadapi suatu
masalah yang timbul. Karena sikap ini mendorong pelakuilmiah untuk mancari kesesuaian antara
pikiran dan kenyataan.

Skeptis adalah ragu akan suatu gagasan atau pikiran orang lain disertai dengan alasan
yang masuk akal. Sikap ini menjauhkan diri pelaku ilmiah dari sikap mudah percaya dan
membangun sikap kepercayaan didasarkan atas pengalaman pribadi dan bukan atas pengalaman
orang lain.

Objektif adalah menghakimi sesuatu berdasar fakta. Sikap ini akan mendorong pelaku
ilmiah untuk jujur dan tidak mengambil untung untuk keperluan pribadi atau kelompok.

Sikap tidak purbasangka. Purbasangka adalah sikap saling curiga.Teori membimbing


tidak berpikir secara purbasangka. Kita boleh saja mengadakan dugaan yang masuk akal
(hipotesis) asal dugaan tersebut diuji kebenarannya sesuai kenyataan atau tidak, baru menetapkan
kesimpulan.

Sikap yang menyadari bahwa kebenaran sains tidak pernah mutlakSejarah sains
mengungkapkan bahwa kemampuan manusia untuk melihat kenyataan semakin meningkat
sejalan dengan kecanggihan alat yang digunakan. Hal ini berarti bahwa temuan sains itu bersifat
tentatif dan terus akan berkembang.

Sikap yang menyakini adanya tatanan alami yang teratur dalam alam semesta. sebenarnya
hanya mengungkapkan kembali keteraturan-keteraturan yang telah ada di alam semesta ini.
Temuan-temuan sains yang berbentuk kaidah-kaidah atau hukum-hukum alam ternyata sangat
konsisten dengan aturan-aturannya, sehingga orang menyadari bahwa alam semesta ini ditata
dengan sangat teratur. Oleh karena itu dampak dari sikap yang menyakini adanya tatanan alami
yang teratur dalam alam semesta ini adalah meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.

Sikap toleran atau dapat menghargai pendapat orang lain. Dikalangan para ilmuan
terdapat hubungan saling percaya satu sama lain, baik dari satu masa maupun antar masa.
Menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki bersifat tidak mutlak sempurna, maka ia dapat
menghargai pendapat orang lain yang ternyata lebih mengetahuinya atau lebih sempurna untuk
memperbaiki, melengkapi, maupun untuk meningkatkan pengetahuan. Ia juga tidak bersikap
memaksakan pendapatnya untuk diterima oleh orang lain. Dampak yang diharapkan adalah
menghargai pendapat orang lain sepanjang sesuai dengan subjeknya.
Sikap tidak putus asas : Orang yang berkecimpungan dalam pembuatan teori sebenarnya
adalah orang-orang yang mencari kebenaran.Sesuai dengan metode ilmiah dimana apabila
hipotesis ditolak, maka harus ditelusuri kembali dari awal, dan demikian seterusnya.Hasil yang
diharapkan adalah sikap tidak mudah putus asa.

Sikap optimis : Proses pembuatan teori sebenarnya dalam rangka untuk mencari suatu
kebenaran. Dalam proses pencarian kebenaran , tentunya banyak masalah yang yang nantinya
dapat menghalangi proses pencarian kebenaran tersebut. Dan tentunya para ilmuan mempunyai
anggapan bahwa suatu masalah itu pasti dapat dipecahkan dan pasti ada jalan keluarnya.
1. http://journal.ugm.ac.id/index.php/jurnal-humaniora/article/view/628

2. Subiyanto, M. Sc, Dr. 1988. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Depdikbud: Jakarta.

3. R. Rohadi. 1997. Memberdayakan Anak Melalui Pendidikan Sainsmakalah. Dalam buku


kumpulan tulisan, Pendidikan Sains yang Humanistis. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

4. Trowbridge W, Leslie & Bybee W. Rodger. ___. Becoming a secondary School Science
Teacher, fourth edition. Merril Publishing Company: Columbus.

5. Collette, Alfred T. & Chiappetta Eugene L. 1994. Science Instruction in the Middle and
Secondary Schools, third edition. Macmillan Publishing company: New York.

6. Jacobson, Willard. J. & Bergman, Abby Barry. 1991. Science for Children: A Book for
Teacher-3rd ed. Boston: Allyn and Bacon.