Anda di halaman 1dari 12

PENINGKATAN NILAI CBR TANAH LEMPUNG DENGAN

MENGGUNAKAN SEMEN UNTUK TIMBUNAN JALAN

Yayuk Apriyanti
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung
Email : yayukapriyanti@ymail.com

ABSTRAK

Tanah dasar (subgrade) yang digunakan untuk suatu konstrusi jalan raya harus memiliki
daya dukung tanah yang baik, karena beban yang bekerja diatas konstruksi jalan adalah
beban statis dan beban dinamis. Salah satu parameter yang dapat kita ketahui apakah
daya dukung tanah dasar itu baik atau tidak yaitu dengan mengetahui nilai CBR nya.
Daya dukung tanah yang kurang baik nilai CBRnya rendah. Untuk mengatasi tanah dasar
yang kurang baik dapat dilakukan penggantian dengan tanah yang lebih baik
(penimbunan tanah) yang didatangkan dari lokasi lain. Karena seringkali tidak ada
pilihan untuk material timbunan, sehingga tanah dengan plastisitas tinggi seperti tanah
jenis A7 digunakan sebagai material timbunan. Untuk mengatasi permasalahan ini, salah
satu usaha yang dilakukan untuk peningkatan daya dukung tanah tersebut adalah dengan
melalui perbaikan tanah dengan metode stabilisasi kimiawi yang menggunakan bahan
stabilisasi semen. Variasi semen yang digunakan 10%, 12,5% dan 15% dengan umur
pemeraman 1,7,14,dan 28 hari, kondisi air optimum. Pengujian yang dilakukan meliputi
pengujian sifat fisik dan mekanik tanah asli serta pengujian sifat mekanik tanah yang
stabilisasi (CBR tanah). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai CBR mengalami
peningkatan dengan bertambahnya prosentase semen dibandingkan dengan nilai CBR
tanah asli. Nilai CBR maksimum pada prosentase semen 15% sebesar 69,31%
dibandingkan dengan nilai CBR tanah asli 3,01%. Nilai CBR juga meningkat dengan
bertambahnya umur pemeraman dari 1 hari sampai 28 hari.

Kata kunci: Material Timbunan, Semen, Stabilisasi, Optimum . Nilai CBR.

ABSTRACT

The subgrade used for a highway construction should have a good bearing capacity,
because the loads applied on the road construction are static and dynamic loads. One
parameter that we can use to determine whether the soil bearing capacity is good or poor
is by knowing the CBR value. The better the bearing capacity is, the higher the CBR. A
poor bearing subgrade can be replaced with better soil (hoard with soil) from other
location. Often there is no option for the hoarding material, so soil with high plasticity like
A7 is used. To solve this problem, one of the efforts taken to enhance the soil bearing
capacity is soil remediation using chemical stabilization method with cement. The
percentage variations of the cement used are 10%, 12,5% and 15% with curing age of
1,7,14, and 28 days, optimum water condition. The tests that are conducted includes
physical and mechanical properties tests of the original soil and mechanical properties
testing of the stabilized one (soil CBR). From the result it is known that the CBR value
rises with the percentage of cement (compared to the original soil CBR). The maximum
CBR in 15% cement is 69,31%. The CBR value of the undisturbed soil is 3,01%. The CBR
also increases with the age of curing from 1 to 28 days.
Key Words: Hoarding material, Cement, Stabilization, Optimum, CBR.
perendaman 4 hari. Dimana pada daerah-
PENDAHULUAN daerah tertentu tanah untuk memenuhi
Salah satu konstruksi bangunan sipil spesifikasi tersebut sulit didapat. Karena
antara lain jalan raya yang terletak di atas seringkali tidak ada pilihan untuk material
permukaan tanah dasar atau timbunan. timbunan, sehingga tanah dengan
Daya dukung tanah dasar merupakan plastisitas tinggi seperti tanah jenis A7
faktor utama yang digunakan dalam (jenis tanah lempung) digunakan sebagai
perencanaan konstruksi jalan raya. Tanah material timbunan. Untuk mengatasi
dasar (subgrade) yang digunakan harus permasalahan ini, salah satu usaha yang
memiliki daya dukung tanah yang baik, dilakukan untuk peningkatan daya dukung
karena beban yang bekerja diatas tanah tersebut adalah dengan melalui
konstruksi jalan adalah beban statis dan perbaikan tanah dengan metode stabilisasi.
beban dinamis. Salah satu parameter yang Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan
dapat kita ketahui apakah daya dukung menambahkan berbagai jenis material
tanah dasar itu baik atau tidak yaitu dengan chemical (kimiawi) yang salah satunya
mengetahui nilai CBR nya. Daya dukung adalah dengan menambahkan bahan
tanah yang kurang baik nilai CBRnya seperti semen.
rendah.
Beberapa penelitian yang telah
Sebagian tanah di daerah Sumatera dilakukan diantaranya Andriani, 2012
bagian Selatan jenis tanahnya adalah tanah melakukan penelitian pengaruh
gambut, soft soil dan tanah ekspansif. Jenis penggunaan semen sebagai bahan
tanah ini daya dukungnya rendah apabila stabilisasi pada tanah lempung Daerah
dijadikan untuk tanah dasar (subgrade) Lambung Bukit terhadap nilai CBR
dalam pembangunan jalan. Maka untuk dengan variasi penambahan semen adalah
mengatasi hal ini dapat dilakukan 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat tanah
penggantian dengan tanah yang lebih baik kering. Waktu pemeraman selama 3 hari
dan atau dilakukan penimbunan tanah yang pada kondisi kadar air optimum. Hasil dari
didatangkan dari lokasi lain. Tanah yang penelitian ini menunjukkan bahwa nilai
dipergunakan untuk material timbunan maksimum CBR tanah lempung terdapat
haruslah tanah yang memiliki spesifikasi pada kadar penambahan semen sebanyak
yang tertentu, kalau tanah yang digunakan 20% dengan dry maksimum 1.351
kurang baik maka harus dilakukan gr/cm3, kadar air optimum 32.9%, dan
treatment tambahan antara lain pemadatan, nilai CBR 64.138 % dengan waktu
penggunaan geotextil atau stabilisasi. pemeraman 3 hari.
Jenis tanah yang memenuhi Taufan Candra Abadi,2007 melakukan
persyaratan untuk material timbunan penelitian tentang perbandingan stabilisasi
menurut standar Bina Marga tanah yang tanah dengan bahan semen dan fly ash
dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah pada tanah ekspansif Cikampek dengan
plastisitas tinggi atau tanah yang nilai menggunakan variasi semen 5%, 10%,
CBRnya tidak kurang dari 6 % setelah 15% dan 20%. Hasil dari penelitian
menunjukkan dengan menggunakan pemeraman terhadap stabilisasi tanah A7
semen sebagai bahan stabilisasinya, serta seberapa besar peningkatan nilai
menunjukkan bahwa kuat geser tanah akan CBR tanah yang distabilisasi dibandingkan
meningkat secara signifikan pada saat dengan tanah asli.
kondisi optimum dan sisi basah dengan
penambahan semen yang digunakan TINJAUAN PUSTAKA
sebesar 20%. Namun penambahan untuk Klasifikasi Tanah Berdasarkan
sisi kering adalah 15% yang memberikan AASHTO
hasil terbaik. Peningkatan terbesar Sistem klasifikasi AASHTO
mencapai 687.82% pada kadar semen (American Association of State Highway
20% untuk kondisi sisi basah . and Transportation Official) digunakan
Sampai saat ini penelitian tentang untuk menentukan kualitas tanah dalam
pencampuran semen untuk bahan perancangan timbunan jalan, subbase dan
stabilisasi masih terus berlanjut. Beberapa subgrade. Untuk memenuhi klasifikasi
tujuan yang ingin dicapai diantaranya tanah berdasrkan AASHTO tersebut
adalah berapa prosentase campuran semen diperlukan pengujian analisa saringan dan
yang ekonomis dan pengaruh umur batas-batas atterberg

Tabel 1 Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO


Tanah berbutir
Klasifikasi umum
( 35% atau kurang dari seluruh contoh tanah lolos ayakan No. 200
A-1 A-2
Klasifikasi kelompok A-3
A-1-a A-1-b A-2-4 A-2-5 A-2-6 A-2-7
Analisa ayakan
(% lolos)
No. 10 M aks 50
No. 40 M aks 30 M aks 50 M in 51
No. 200 M aks 15 M aks 25 M aks 10 M aks 35 M aks 35 M aks 35 M aks 35
sifat fraksi yang lolos
ayakan No. 40
Batas cair (LL) M aks 40 M aks 41 M aks 40 M in 41
Indeks plastisitas (PI) M aks 6 NP M aks 10 M aks 10 M in 11 M in 11
Batu pecah, kerikil Pasir Kerikil dan pasir yang berlanau
Tipe material yang paling dominan
dan pasir halus atau berlempung
Penilaian sebagai bahan tanah dasar Baik sekali sampai baik

Tanah lanau - lempung


Klasifikasi umum
( Lebih dari 35% dari seluruh contoh tanah lolos ayakan No. 200
A-7, A-7-5
Klasifikasi kelompok A-4 A-5 A-6
A-7-6
Analisa ayakan
(% lolos)
No. 10
No. 40
No. 200 M in 36 M in 36 M in 36 M in 36
sifat fraksi yang lolos
ayakan No. 40
Batas cair (LL) M aks 6 M aks 41 M aks 40 M in 41
Indeks plastisitas (PI) M aks 10 M aks 10 M in 11 M in 11

Tipe material yang paling dominan Tanah berlanau Tanah berlempung

Penilaian sebagai bahan tanah dasar Bisa sampai jelek

Sumber : Braja M. Das (1988)


Sedangkan pelapukan yang disebabkan
Berdasarkan sistem AASHTO M
secara kimiawi menghasilkan kelompok-
145, tanah diklasifikasi ke dalam tujuh
kelompok partikel kristal berukuran
kelompok besar, yaitu: A-1 sampai
mikroskopik sampai submikrsokopik,
dengan A-7,seperti pada Tabel 2.1. Tanah
koloid (< 0,002 mm) yang dikenal
yang diklasifikasi kedalam kelompok A-
sebagai mineral lempung (clay mineral).
1, A-2 dan A-3 adalah tanah berbutir
dimana 35% atau kurang dari jumlah Dilihat dari mineral pembentuknya
butiran tanah tersebut lolos saringan No. lempung dapat dibedakan menjadi dua
200. Tanah dimana lebih dari 35% kelompok, yaitu lempung non-ekspansif
butirannya lolos saringan No 200 dan lempung ekspansif. Tanah lempung
diklasifikasi ke dalam kelompok A-4, A- non-ekspansif tidak sensitif terhadap
5, A-6 dan A-7. Butiran dalam kelompok perubahan kadar air, artinya potensi
A-4 sampai dengan A-7 tersebut sebagian kembang susutnya kecil apabila terjadi
besar adalah lanau dan lempung. perubahan kadar air. Sedangkan tanah
Kelompok A-7 dibagi menjadi kelompok lempung ekspansif adalah tanah yang
A-7-5 dan A-7-6, indeks plastisitas untuk mempunyai potensi kembang susut yang
subkelompok A-7-5 < LL-30. Indeks besar apabila terjadi perubahan kadar air
plastisitas untuk subkelompok A-7-6 > tanah.
LL-30. Berdasarkan kalsifikasi AASHTO
material timbunan yang baik adalah Stabilisasi Tanah
tanah yang termasuk kelompok A-1, A-2 Stabilisasi tanah adalah suatu metode
dan A-3. TanahA-4, A-5, A-6 dan A-7 yang digunakan untuk memperbaiki sifat-
termasuk tanah yang kurang baik bila sifat tanah dasar supaya daya dukung
digunakan sebagai tanah dasar atau tanah tanahnya menjadi lebih baik sehingga
timbunan. tanah tersebut menjadi stabil dan mampu
memikul beban yang bekerja terhadap
Tanah Lempung konstruksi diatas tanah.
Tanah lempung adalah akumulasi Stabilisasi tanah dapat terdiri dari salah
partikel mineral yang lemah dalam ikatan satu tindakan :
antar partikelnya, yang terbentuk dari 1 ) Meningkatkan kerapatan tanah.
pelapukan batuan. Proses pelapukan 2 ) Menambah bahan untuk menyebabkan
batuan ini terjadi secara fisis dan secara perubahan-perubahan kimiawi dan atau
kimiawi. Proses cara fisis antaralain fisis pada tanah.
berupa erosi, tiupan angin, pengikisan 3 ) Menurunkan(mengeluarkan) muka air
oleh air, glister dan lain sebagainya. tanah (drainase tanah).
Tanah yang terjadi akibat proses ini 4) Menggantikan tanah yang buruk.
memiliki komposisi yang sama dengan Metode-metode stabilisasi yang
batuan asalnya, tipe ini mempunyai dikenal adalah stabilisasi mekanis,
ukuran-ukuran partikel yang hampir sama stabilisasi kimiawi dan stabilisasi
rata dan dideskripsikan berbentuk utuh. hidraulis. Stabilisasi mekanis adalah
penambahan kekuatan dan daya dukung Stabilisasi Tanah Dengan Semen
tanah dengan jalan mengatur gradasi Portland
tanah yang dimaksud. Usaha ini biasanya Semen portland ialah semen hidrolis
menggunakan sistem pemadatan. yang dihasilkan dengan cara
Pemadatan dapat dengan berbagai jenis menghaluskan klinker yang terutama
peralatan mekanis seperti mesin gilas terdiri dari silikat-silikat kalsium yang
(roller), benda berat yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai
dijatuhkan,ledakan tekanan tanah statis bahan tambahan. Semen portland
dan sebagainya (Bowles, 1991). merupakan bahan ikat yang penting dan
banyak dipakai dalam pembangunan
Stabilisasi hydrolis adalah suatu
fisik. Hidrasi dari semen merupakan
teknik modifikasi yang biasa dipakai
faktor penting pada perubahan sifat teknis
untuk mempercepat proses konsolidasi
dari material , perubahan ini terwujud
pada suatu tanah seperti dengan cara
dari adanya pembentukan sementasi
penambahan vertical drain dan beban .
material selama proses hidrasi. Ikatan
Kadar air pori yang ada dalam tanah
yang kuat antara partikel secara terus-
dipaksa keluar dari tanah melalui saluran-
menerus membentuk suatu rangkaian
saluran atau sumur-sumur drain yang
yang keras selanjutnya material menjadi
telah dibuat. Pada tanah berbutir kasar,
kuat dan permanen.
keadaan ini diperoleh dengan
Pada umumnya semen berfungsi
menurunkan muka air tanah oleh
untuk :
pemompaan dari lubang-lubang hasil
1) Sebagai bahan pengikat antar
pengeboran (bore holes) atau parit-parit ;
butiran tanah
pada tanah berbutir halus diperoleh dari
2) Reaksi hidrasi dengan air pada saat
aplikasi gaya-gaya luar (preloading)
mengeras
dalam jangka waktu lama (long term)
3) Mengisi rongga-rongga diantara
atau diperlukan gaya elektris
butir-butir tanah.
(elektokinetics stabilization).
Untuk menentukan prosentase semen
Sedangkan stabilisasi tanah secara
sebagai material stabilisasi diperlukan
kimiawi adalah penambahan bahan
pedoman yang standar digunakan, dalam
stabilisasi yang dapat mengubah sifat-
penelitian ini standar yang digunakan dari
sifat kurang menguntungkan dari tanah.
Departemen Pekerjaan Umum.
Bahan yang digunakan untuk stabilisasi
tanah disebut stabilizing agent karena Prosentase Semen Untuk
setelah diadakan pencampuran Pencampuran Stabilisasi
menyebabkan terjadinya stabilisasi. Tanah yang diambil sebagai sampel
Bahan stabilisasi ini dapat berupa fly ash, ditentukan klasifikasinya. Klasifikasi
semen ,HCl, NaCl, dan NaOH serta tanah ini didasarkan atas klasifikasi tanah
bahan kimia lainnya. AASHTO dengan mempertimbangkan
sifat-sifat fisik tanah yaitu Batas Cair
(Liquit Limit, LL), Batas Plastis (Plastis (Al2O3) 1,43 (Fe2O3) 2,85
Limit, PL), dan Indeks Plastis (Plastis (SO3)
Index, PI) dan prosentase tanah yang
C2S = 2,87 (SiO2) 0,754 (C3S)
lolos saringan #10,#40,#200. Klasifikasi
tanah didapat, kemudian berdasarkan C3A = 2,65 (Al2O3) 1,69 (Fe2O3)
Tabel 2.2. didapat perkiraan prosentase C3AF = 3,04 (Fe2O3)
semen untuk campuran semen- tanah. Tabel 3 Susunan Oksida Sement Portland
Karena jenis tanah yang digunakan Tipe I Merk PT. Baturaja
sebagai penelitian adalah tanah yang Nama Senyawa Senyawa Persentase (%)

berkisar pada klasifikasi tanah A7 , maka Silika Oksida SiO2 18,9


Alumina Oksida Al2O3 4,89
berdasarkan Tabel 2 prosentase semen Ferri Oksida Fe2O3 2,74
yang diambil untuk pencampuran tanah- Kalsium Oksida CaO 62,63
semen adalah 10% - 16%. Prosentase Magnesium MgO 0,72
Oksida
kadar semen yang digunakan adalah Sulfur Trioksida SO3 1,99
berdasarkan prosentase berat. Hilang Pijar LOI 6,53
Tabel 2 Penentuan Estimasi Persentase
Semen yang dibutuhkan Tabel 4 Komposisi Utama Semen
Portland
Nama Komposisi Komposisi Oksida Singkatan
Klasifikasi tanah Rentang umum kadar P
Tricalcium silicate 3 CaO .SiO2 C3S
menurut AASTHO semen yang diperlukan e
Dicalsium silicate 2 CaO .SiO2 C2S
(% berat) r
Tricalcium 3 CaO.Al2O3 C3A
A-1.a 38 k 5
aluminate
A-1.b 58 i 6
Tetracalcium 4 CaO.Al2O3. Fe2O3 C3AF
A-2 59 r aluminoferrite
7
A-3 7 11 a 9
A-4 7 12 a 1
A-5 8 13 n Empat
0
senyawa utama dalam semen
A-6 9 15 Portland
1 sebagaimana diperlihatkan pada
Sumber :A-7 16
Departemen Pekerjaan10Umum k Tabel 0 4 bersama dengan simbol
a 1
singkatannya. Notasi singkatan ini biasa
d 2
Komposisi Kimiawi Semen Tipe dipergunakan oleh ahli kimia semen yang
a 1
Komposisi semen portland tipe I r diekspresikn
3
dalam satu hurup, yaitu :
merk PT.Baturaja dapat dilihat pada tabel CaO = C; SiO = Si ; Al2O3= A ; dan FeO3
3 dibawah ini . s = F; Penggunaan H2O dalam hidrasi
e
semen dilambangkan sebagai H.
Dari Tabel.3 dilakukanlah m
Karakteristik senyawa kimia utama pada
pendekatan persentase komposisi e
campuran untuk campuran stabilisasi n semen dapat dilihat pada Tabel 5.

tanah yang dapat dihitung dengan


(
menggunakan rumus komposisi %
campuran Bogues yaitu :
C3S = 4,07 (CaO) 7,60 (SiO2) 6,72 b
e
r
a
t
)
Tabel 5 Karakteristik Senyawa Kimia Utama dalam Semen Porland

Uraian C3S C2S C3A C3AF


Senyawa 3 CaO .SiO2 2 CaO .SiO2 3 CaO.Al2O3 4CaO.Al2O3.Fe2O3
Persentase (%) 35-65 10-40 0-15 5-15
Kecepatan
reaksi dengan Sedang Lambat - Sedang
air
Kekuatan awal Baik Jelek - Baik
Kekuatan akhir Baik Sangat Baik - Sedang
Panas hidrasi Sedang Rendah - Sedang
Lain-lain - Tahan terhadap Ketahanan kurang -
serangan kimia terhadap serangan kimiawi
yang relatif tinggi dan kemungkinan terjadi
dan penyusutan retak akibat perubahan
relatif rendah volume

dengan umur pemeraman diteliti


Reaksi semen merupakan reaksi
kinerjanya dengan pengujian CBR .
eksotermik (mengeluarkan panas), dimana
proses hidrasi sangat mempengaruhi laju
kenaikan panas. Panas hidrasi tergantung Penelitian Tanah Asli
dari komposisi kimia semen dan jumlah
Pada penelitian tanah asli ini yang
panas hidrasi yang dihasilkan oleh bahan-
dilaksanakan adalah penelitian sifat fisik
bahan pembentukannya (Nevile A.M,
1981). tanah dan sifat mekanis tanah. Penelitian
sifat fisik tanah dilakukan pada tanah asli
METODE PENELITIAN
guna mengidentifikasi jenis tanah yang
Pendahuluan digunakan termasuk klasifikasi yang
Penelitian ini dilakukan dengan mana. Penelitian sifat mekanik tanah asli
metode eksperimental di laboratorium.
yang dilakukan adalah pengujian
Pekerjaan eksperimental dimulai dengan
melakukan persiapan tanah yang diambil pemadatan tanah (standar proctor)
dari quarry dan pengadaan bahan berdasarkan ASTM D 698-9 dan
stabilisasi yaitu semen. Setelah tanah dan pengujian CBR unsoaked yang mengacu
bahan sudah siap dilanjutkan dengan pada ASTM D 1883-94 . Hasil dari
penelitian tanah asli meliputi penelitian
penelitian sifat mekanik tanah asli
sifat fisik tanah asli dan sifat mekanik
tanah asli dengan menggunakan standar dijadikan sebagai pembanding dengan
ASTM. Kemudian dilanjutkan penelitian hasil penelitian sifat mekanik tanah yang
tanah yang distabilisasi dengan langkah distabilisasi..
awal menentukan komposisi campuran
tanah dan bahan stabilisasi dilanjutkan Penelitian Tanah yang Distabilisasi
dengan prosedur pembuatan benda uji, Tanah yang distabilisasi berupa tanah
benda uji yang telah diperam sesuai asli campuran semen pada kondisi kadar
air optimum. Prosentase semen yang
diambil untuk campuran tanah semen
berdasarkan standar AASHTO pada
bagian klasifikasi tanah kelompok A7,
maka berdasarkan Tabel 2 maka
prosentase semen yang diambil adalah
10%, 12,5% dan 15% dari berat kering
tanah. Pengujian yang dilakukan untuk
tanah yang distabilisasi berupa pengujian
sifat mekanis tanah yaitu pengujian CBR
laboratorium.
Komposisi Campuran
Tanah yang digunakan untuk campuran
adalah tanah yang sudah kering dengan
kondisi lolos saringan no.4 . Berat tanah
untuk pengujian CBR 4500 gram Jumlah
semen yang digunakan dihitung
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Komposisi Campuran Tanah +
Semen
Berat campuran
Komposisi Gambar 1. Diagram Alir Penelitian
untuk CBR (gram)
Campuran
Tanah + semen
Tanah : PC Tabel 7 Hasil Uji Sifat Fisik Tanah
100% : 10% Semen = 450
100% : 12,5 Semen = 562,5
Asli
100% : 15 % Semen = 675 No Data pengujian tanah asli Hasil tanah
merah
keputihan
1 Butiran lolos saringan no.200 40,37 %
Diagram alir dari penelitian digambarkan
2 Kadar air tanah asli 24,51%
seperti tercantum gambar 1
3 Batas cair (LL) 43,50 %
4 Batas plastis (PL) 24,62 %
HASIL DAN PEMBAHASAN
5 Indeks plastisitas (IP) 18,88 %
Hasil Uji Sifat Fisik Tanah 6 Berat jenis 2,63 gr/cm3
7 Klasifikasi tanah A-7-6
Hasil Pengujian sifat fisik tanah
sebagaimana terlihat pada Tabel 7
Dari klasifikasi tanah . Untuk tanah
kelas A-7-6 di atas termasuk jenis tanah
lempung.
Pengujian Sifat Mekanis Tanah Asli dan 28 hari tidak mengalami kenaikan
Pengujian sifat mekanis tanah yang maupun penurunan karena kadar air pada
dilaksanakan pada tanah asli adalah tanah asli tidak mengalami perubahan
pengujian pemadatan tanah dengan sehingga kekuatan tanah relatif sama.
metode standard proctor dan pengujian Nilai CBR tanah A7 asli sebesar 3,01 %.
CBR unsoaked
Hasil Uji Tanah yang Distabilisasi
Hasil Uji Pemadatan Tanah Asli Dari pengujian CBR unsoaked
Pengujian pemadatan tanah dilakukan didapat hasil pengujian untuk tanah yang
pada tanah asli dengan pemadatan standart ditasbilisasi dengan semen sebagaimana
proctor yang menggunakan standar ASTM tercantum pada Tabel 10 dan Tabel 11 .
D 698-9. Pengujian ini dilakukan untuk Tabel 10 Hasil Pengujian CBR unsoaked
mendapatkan kadar air optimum untuk Tanah A7+ PC
(optimum mouisture content, OMC) dan
berat volume kering tanah maksimum (dry Peningkatan Prosentase Nilai CBR tanah A7 + PC (%)

maksimum). Jenis tanah dan Kadar air optimum, (w=13%)


Tabel 8 Hasil Uji Pemadatan Tanah campuran 1 hari 7 hari 14 hari 28 hari
(Standard Proctor) T.A7 + PC 10% 797 1142 1372 1671
T.A7+ PC 12,5% 1073 1349 1602 1970
No Jenis tanah OMC dry maksimum
T.A7 + PC 15% 1165 1602 1855 2202
1 A7 22% 1,29 gr/cm

Hasil Uji CBR Tanah Asli Tabel 11 Prosentase Peningkatan Nilai


CBR Tanah A7 + PC
Standar yang digunakan untuk
pengujian CBR adalah standar ASTM D Peningkatan Prosentase Nilai CBR tanah A7 + PC (%)
1883-94. Pengujian CBR dilakukan pada
Jenis tanah dan Kadar air optimum, (w=13%)
kondisi air optimum dengan menggunakan
campuran 1 hari 7 hari 14 hari 28 hari
metode CBR unsoaked. Hasil uji CBR
T.A7 + PC 10% 797 1142 1372 1671
unsoaked untuk tanah asli A7
T.A7+ PC 12,5% 1073 1349 1602 1970
sebagaimana ditampilkan pada Tabel 9.
T.A7 + PC 15% 1165 1602 1855 2202
Tabel 9 Hasil Uji CBR Unsoaked untuk
Tanah Asli A7
Kadar Dari Tabel 10 dan 11 hasil pengujian
No Nilai CBR tanah asli A7 (%)
Air CBR untuk tanah A7 dengan campuran
Optimum 1 hari 7 hari 14 hari 28 hari
semen dapat diketahui bahwa terjadi
1 (22%) 3.01 3.01 3.01 3.01 peningkatan nilai CBR dibandingkan
dengan tanah A7 saja , pada tanah A7
dengan campuran semen nilai CBR
Dari Tabel 9 di atas menunjukkan
maksimum sebesar 69,13% dan prosentase
bahwa nilai CBR untuk tanah asli A7 pada
peningkatan nilai sebesar 2202%.
kondisi air optimum pada umur 1,7, 14
Peningkatan nilai CBR ini terjadi karena
adanya proses sementasi (pengikatan) meningkat. Sehingga nilai CBR
antara tanah dengan semen, sehingga maksimum pada tanah A7 campuran
kekuatan tanah meningkat . semen kondisi air optimum yaitu
prosentase semen 15% umur 28 hari
Dari Tabel 10 dan 11 dapat
sebesar 69,31 dibandingkan dengan tanah
digambarkan tren dari peningkatan nilai
asli A7 sebesar 3,01 mengalami
CBR untuk tanah yang distabilisasi
peningkatan sebesar 2202 %.
dengan semen terhadap variabel umur
pemeraman maupun terhadap variabel
prosentase semen sebagaimana Nilai CBR tanah A7 + PC, kondisi air optimum
ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar
3. 80 1 hari

Regresi CBR unsoaked T.A7 + PC, kondisi air 7 hari

Nilai CBR,%
optimum 60
14 hari
80
28 hari
40

60
20

40 0
Nilai CBR,%

T.A7 + PC 10%
0 2.5 5 7.5 10 12.5 15 17.5 20
y=a*t^b : R=0,992; a=25,79; b=0,211
Prosentase Semen,%
T.A7 + PC 12,5%
20 y=a*t^b ; R=0,97; a=32,973; b=0,179
T.A7 + PC 15% Gambar 3 Pengaruh Prosentase Semen
y=a*t^b; R=0,994; a=36,88; b=0,834
Terhadap Nilai CBR Tanah A7+ PC,
0
0 7 14 21 28 35 Kondisi Air Optimum
Umur pemeraman, (hari)
KESIMPULAN
Berdasarkan data dan pembahasan
Gambar 2 Pengaruh Umur Pemeraman dari penelitian stabilisasi tanah
Terhadap Nilai CBR Tanah A7 + PC,
menggunakan bahan stabilisasi semen,
Kondisi Air Optimum
maka dapat disimpulkan antara lain :
Dari gambar 2 menunjukkan bahwa
1. Dari hasil penelitian ini untuk tanah A7
pada tanah A7 dengan campuran semen
(jenis tanah lempung) yang distabilisasi
pada tiap-tiap komposisi campuran terjadi
dengan semen terjadi peningkatan nilai
peningkatan nilai CBR seiring lamanya
CBR dengan bertambahnya prosentase
masa pemeraman, sehingga kekuatan
semen. Nilai CBR maksimum didapat dari
tanah juga meningkat.
prosentase semen 15% sebesar 69,31%.
Dari gambar 3 menunjukkan bahwa 2. Nilai CBR juga meningkat dengan
seiring dengan penambahan prosentase bertambahnya umur pemeraman dari 1hari
semen maka nilai CBR semakin sampai 28 hari.
3. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui
juga bahwa terjadi peningkatan nilai CBR Saskatchewan Highways and
dari Tanah asli A7 sebesar 3,01% menjadi Transportation, Standard Test
69,31% dengan penambahan prosentase Procedures Manual (STP 208-7), tahun
semen 15% umur pemeraman 28 hari, 1992.
prosentase peningkatan nilai dari tanah
asli sebesar 2202%. RR.Susi Riwayati,2011, Pengaruh
Penerapan Metode Packing Density
DAFTAR PUSTAKA Terhadap Kuat Tekan Mortar, Tesis,
American Society for Testing and
Universitas Sriwijaya.
Material, 1988, United State America.

S.Bhuvaneshwari, dkk, 2005,


American Association of State highway
Stabilization Of Expansive Soils Using
and Transportation Officials, Standard
Fly Ash , Fly Ash Utilization Programme
No M 145-91, tahun 1995.
(FAUP), TIFAC, DST, New Delhi-
110016.
Bowles,J.E., 1984, Sifat-sifat Fisis dan
Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), Edisi
Saskatchewan Highways and
Kedua, Erlangga, Jakarta
Transportation, Standard Test
Procedures Manual (STP 208-7), tahun
Braja M, Das, 1988, Mekanika Tanah
1992.
Jilid 1 Cetakan Pertama, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Abadi,Taufan Candra,2007,
Perbandingan Hasil Stabilisasi Dengan
Dallas N, Little, dkk, Cementitious
Fly Ash dan semen Pada Tanah Ekspansif
Stabilization, Paper Of Committe on
Cikampek, Jurnal Teknik Sipil ITN.
Cementitious Stabilization.

Andriany, dkk, 2012, Pengaruh


Department of The Army, The Navy, and
Penggunaan Semen Sebagai Bahab
The Air Force Soil Stabilization for
Stabilisasi Pada Lempung Daerah
Pavements , tahun 1994.
Lambung Bukit Terhadap Nilai CBR
Tanah ,Jurnal Rekayasa Sipil. Volume
Hardiyatmo, H.C.,1992, Mekanika Tanah
8 2012. ISSN 1858-2133. Universitas
I, Gramedia Pustaka , Jakarta.
Andalas.

Production Division Office of


Wesley, L.D.,1977, Mekanika Tanah,
Geotechnical Engineering 120 South
Badan penerbit pekerjaan Umum, Jakarta
Shortridge Road Indianapolis, Indiana
Selatan.
46219 Design Procedures for Soil
Modification or Stabilization, tahun
2008.