Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

SEDIAAN OBAT TETES MATA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktek Teknologi Sediaan


Steril

Disusun Oleh

ERI SIGIT WIBOWO ( 141550034 )

HASYATILLAH ( 141550038 )

IMAM AGUS FAISAL ( 141550041 )

RIKA RAHMAN ( 141550049 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KHARISMA PERSADA

D III FARMASI

TANGGERANG SELATAN

2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian Tetes Mata

Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan , suspensi atau
emulsi. Dimaksudkan untuk obat luar yang digunakan dengan cara
meneteskan obat dengan penetes yang menghasilkan tetesan setara pada
selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata (FI edisi III).

Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau


suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus conjungtiva.
Larutan tersebut dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti
antibiotik, bahan antiinflamasi seperti kortikosteroid, obat miotik seperti
fisostigmin sulfat atau obat midriatik seperti atropin sulfat.

Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan


larutan mata adalah tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, seleksi pengawet
dan sterilisasi. Banyak dari syarat ini saling berkaitan dan tidak dapat
dipandang sebagai faktor terisolasi yang dipertimbangkan secara
individual. Sterilisasi misalnya, dapat dihubungkan dengan pH, buffer, dan
pengemasan. Sistem dapar harus dipertimbangkan dengan pemikiran
tonisitas dan dengan pemikiran kenyamanan produk.
B. Keuntungan dan kerugian Tetes Mata
1. Keuntungan Tetes Mata
Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun
salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari
larutan/salep yang obat-obatnya larut dalam air. Obat tetes mata tidak
menganggu penglihatan ketika digunakan.
2. Kerugian Tetes Mata
Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak
yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorsi.
Bioavailabilitas obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara

2
topical untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari dosis yang
dimasukkan melewati kornea. Sampai ke ruang anterior. Sejak
boavailabilitas obat sangat lambat, pasien mematuhi aturan dan teknik
pemakaian yang tepat.

C. Penggunaan Tetes Mata


1. Cuci tangan.
2. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah.
3. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes
dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke dalam penetes.
4. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata
bagian bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan penetes
pada mata atau jari.
5. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan
jangan berkedip paling kurang 30 detik.
6. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup
rapat.
7. Jika penetesnya terpisah, selalu tempatkan penetes dengan ujung
menghadap ke bawah.
8. Jangan pernah menyentuhkan penetes dengan permukaan apapun.
9. Jangan mencuci penetes.
10. Ketika penetes diletakkan diatas botol, hindari kontaminasi pada tutup
ketika dipindahkan.
11. Jangan pernah menggunakan tetes mata yang telah mengalami
perubahan warna.
12. Apabila memiliki tetes mata yang lain, tunggu beberapa menit sebelum
melakukkan penetesan obat tetes mata yang lain.
13. Setelah penggunaan tetes mata jangan menutup mata terlalu rapat dan
tidak berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan
obat dari tempat kerjanya.

3
D. Karakteristik Sediaan Mata
1. Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi bebas adari partikel asing
dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi, pentingnya
peralatan filtrasi dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat
tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk
menghilangkannya. pengerjaanpenampilan dalam lingkungan bersih.

Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak tertumpahkan


akan memberikan kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas
partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan streilitas
dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk
menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan
wadah dan tutup. keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan
tidak tertumpahkan. Wadahdan tutup tidak membawa partikel dalam
larutan selama kontak lama sepanjang penyimpanan. Normalnya
dilakukan test sterilitas.
2. Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan, seperti produk tergantung pada
sifat kimia bahan obat, pH produk, metode penyimpanan (khususnya
penggunaan suhu), zaat tambahan larutan dan tipe pengemasan.
Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada
mata pada pH 6.8 namun demikian, pH stabilitas kimia (atau
kestabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat
ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya
pH 5, kedua obat stabil dalam beberapa tahun.
3. Buffer dan pH
Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen
dengan cairan mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai.
mayoritas bahan aktif dalam optalmologi adalah garam basa lemah dan
paling stabil pada pH asam. ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi

4
kortikosteroid tidak larut suspensi biasanya paling stabil pada pH
asam.
4. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan
dari keberadaan padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan
cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan garam
normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah
bahan terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik.
Sebaliknya, cairan yang mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai
tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik. Mata dapat
mentoleransi larutan yang mempunyai nilai tonisitas dalam range dari
ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa ketidaknyamanan yang besar.
Tonisitas pencuci mata mempunyai hal penting lebih besar
daripada tetes mata karena volume larutan yang digunakan. Dengan
pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata, mata dicuci dengan
larutan kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk
mengatur beberapa perbedaan tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata
tidak mendekati cairan mata, dapat menghasilkan nyeri dan iritasi.
Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan dapat diatur
sama cairan lakrimal denganpenambahan zat terlarut yang cocok
seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat diinginkan konsentrasi
melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika
konsentrasi obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan
hipertonik. Contohnya 10 dan 30% larutan natrium sulfasetamid
adalah hipertonik, konsentrasi kurang dari 10% tidak memberikan efek
klinik yang diinginkan. Untuk larutan hipotonik sejumlah metode
disiapkan untuk menghitung jumlah NaCl untuk mengatur tonisitas
larutan mata, salah satu metodenya adalah metode penurunan titik
beku.

5
5. Zat Tambahan
Penggunaan zat tambahan dalam larutan mata diperbolehkan,
namun demikian pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan,
khususnya Natrium Bisulfat atau metabisulfat, digunakan dengan
konsentrasi sampai 0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung
garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askorbat atau
asetilsistein juga digunakan. Antioksidan berefek sebagai penstabil
untuk meminimalkan oksidasi epinefrin.
Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang
sama. surfaktan nonionik, kelas toksis kecil seperti bahan campuran
digunakan dalam konsentrasi rendah khususnya suspensi
danberhubungan dengan kejernihan larutan.
Penggunaan surfaktan, khususnya pada beberapa konsentrasi
sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik bahan-bahan. Surfaktan
nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan
komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet.
Surfaktan kationik digunakan secara bertahap dalam larutan
mata tetapi hampir invariabel sebagai pengawet antimikroba.
benzalkonium klorida dalam range 0,01-0,02% dengan toksisitas
faktor pembatas konsentrasi. Benzalkonium klorida sebagai pengawet
digunakan dalam jumlah besar dalam larutan dan suspensi mata
komersial.
6. Steriliasi
Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting. larutan mata yang
dibuat dapat membawa banyak organisme, yang paling berbahaya
adalah Pseudomonas aeruginosa. infeksi mata dari organism ini yang
dapat menyebabkan kebutaan. Ini khususnya berbahaya untuk
penggunaan produk nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka.
bahan-bahan partikulat dapat mengiritasi mata, ketidaknyamanan pada
pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya.

6
Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan
mata, bahwa sediaan mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak
mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh
karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara
sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan
dalam air mata (lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk
menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini. Organisme ini
tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang paling mungkin yang
menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa
(Bacillus pyocyneas).
7. Botol
Wadah untuk larutan mata. Larutan mata sebaiknya digunakan
dalam unit kecil, tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai
yang lebih kecil. Botol 7,5 ml adalah ukuran yang menyenangkan
untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil
memperpendek waktu pengobatan akandijaga oleh pasien dan
meminimalkan jumlah pemaparan kontaminasi.
Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan.
Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan
dalam pasaran, mereka masih melengkapi dan yang terbaik adalah
untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi
teknik dalam perkembangan terakhir.

E. Tujuan Praktikum
Berdasarkan praktikum yang dilakukan bertujuan untuk sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahami tentang suatu sediaan tetes mata
2. Mengetahui langkah perhitungan pembuatan sediaan tetes mata agar
sediaan tetes mata yang dibuat sesuai dengan ketentuan
3. Mengetahui cara evaluasi terhadap sediaan tetes mata yang dibuat agar
memenuhi persyaratan sediaan obat tetes mata

7
BAB II
PRAFORMULASI DAN FORMULASI AKHIR

A. Praformulasi

R/ Neomicin sulfat (Zat Aktif)

Benzalkonium klorida (Pengawet)

Natrium matabisulfit (Antioksidan)

Api (Pelarut)

1. Neomicin sulfat
Nama bahan : neomicin sulfat (FI IV hal 723, martindale hal
1815)
Rumus moleul : C23H46N6O13. H2SO4
Bobot molekul : 614.6
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam
etanol, tidak larut dalam aseton, kloroform dan
dalam eter
OTT : Golongan anionik, sodium lauryl sulfat
Stabilitas : Neomisin peka terhadap oksidasi udara. Setelah
penyimpanan selama 24 bulan tidak terjadi
kehilangan potensi (masih 99% dari potensi asli).
Serbuk neomisin sulfat stabil selama tidak kurang
dari3 tahun pada suhu 20C. Neomisin sulfat dapat
juga dipanaskan pada suhu 110C selama 10 jam
(yakni selama sterilisasi kering), tanpa kehilangan
potensinya, meskipun terjadi perubahan warna.

8
Neomisin cukup stabil pada kisaran pH 2,0 sampai
9,0. Menunjukkan aktivitas optimumnya pada kira-
kira pH 7,0.
Dosis : 0,35-0,5 % untuk mata (martindale 1982)
pH : 5,0 7,5 (FI IV hal 607)
Inkompatibilitas :Tidak bercampur dengan substansi anionik dalam
larutan, bisa menimbulkan endapan, juga pada krim
yang mengandung Na lauril sulfat.
Farmakologi : aktivitasnya adalah bakterisida dengan menembus
dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom
didalam sel, secara topikal digunakan untuk
konjungtivitas dan otitis media.
sterilisasi : filtrasi

2. Benzalkonium klorida (handbook of excipient hal 33-34, martindale hal


549)
Nama bahan : benzalkonii chlordium
Rumus moleul :-
Bobot molekul :-
Kelarutan :Sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%,
bentuk anhidrat mudah larut dalam benzen dan
agak sukar larut dalam eter.
Pemeriaan : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuning-
kuningan bisa sebagai gel yang tebal atau seperti
gelatin, bersifat higroskopis dan berbau aromatis
dan rasa sangat pahit.
OTT : Aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas,
fluoresin, H2O2, HPMC, iodide, kaolin, lanolin,
nitrat.
Stabilitas : Bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruhi
oleh cahaya, udara dan bahan logam. Larutannya

9
stabil pada rentang pH dan rentang temperatur yang
lebar. Larutannya dapat disimpan pada periode
waktu yang lama dalam suhu kamar.
pH : 5-8 untuk 10%w/v larutan
Kegunaan : Pengawet, antimikroba.
Sterilisasi : Autoklaf
Wadah : Tertutup rapat dan terhindar dari cahaya.

3. Natrium metabisulfit(FI IV hal 596, martindale 2005 hal 1193)


Sinonim : dinatrium pirosufit
Rumus moleul : Na2S2O5
Bobot molekul : 190,10
Konsentrasi : 0,01 % - 1 %
Kelarutan :Agak mudah larut dalam etanol, mudah larut dalam
gliserin, dan sangat mudah larut dalam air
Stabilitas : stabil pada suhu dibawah 400C
pH : 3,5 - 5
Kegunaan : Fntioksidan
Sterilisasi : Filtrasi
Wadah : Dalam wadah terisi penuh, tertututp rapat dan
hindarkan dari panas yang berlebihan

4. Api (excipient 2009: 337)

Nama bahan : Aqua Pro Injeksi (FI IV hal 112)

Rumus molekul : H2O

Bobot molekul : 18,02

Kelarutan : Dapat bercampur dengan polar dan elektrolit.

10
Stabilitas : Air stabil dalam keadaan (es, cairan, uap panas).
Air untuk penggunaan khusus harus disimpan dalam
wadah yang sesuai.
OTT : Dalam sediaan farmasi,air dapat bereaksi dengan
obat dan zat tambahan lainnya yang mudah
terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya air atau
kelembapan). Air dapat bereaksi kuat dan cepat
dengan logam alkali dan zat pengoksidanya, seperti
kalsium oksida, dan magnesium oksida. Air juga
bereaksi dengan garam anhidrat menjadi bentuk
hidrat, serta bereaksi dengan bahan organik
Kegunaan : Sebagai bahan pembawa sediaan IV

B. Formulasi Akhir

R/ Neomicin sulfat 0,5%


.
Benzalkonium klorida 0,01%

Natrium matabisulfit 0,1%

Api ad 10 ml

11
BAB III

ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA

A. Alat
1. Spatel Logam
2. Pinset
3. Batang Pengaduk Logam
4. Erlemeyer
5. Gelas Beaker
6. Kertas Saring
7. Gelas Ukur
8. KacaArolji
9. Corong Gelas
10. Kapas
B. Bahan
1. Neomisin Sulfat
2. Benzalkonium Klorida
3. Na Metabolit
4. NaCl
5. Aqua Pro Injection
C. Cara Sterilisasi Alat
Nama Alat Cara Sterilisasi Waktu
Spatel logam Oven 170oC 30 menit
Pinset logam Oven 170oC 30 menit
Batang pengaduk logam Oven 170oC 30 menit
Erlenmeyer Oven 170oC 30 menit
Kaca arloji Oven 170oC 30 menit
Gelas beaker Oven 170oC 30 menit
Kertas saring Autoklaf 30 menit

12
Gelas ukur Autoklaf (115-116oC) 30 menit
Botol Tetes Mata Autoklaf 30 menit
Corong gelas Autoklaf 30 menit
Kapas Autoklaf 30 menit

D. Perhitungan
1. Tonisitas
a. Neomisin Sulfat = 0.5% = 0.5 g/100 ml
E0.5% = 0.14 (FI edisi IV)
b. Benzolkonium Klorida = 0.01% = 0.01 g/100 ml
E0.5% = 0.18 (FI edisi IV)
c. Natrium Metabisulfit = 0.1% = 0.1 g/100 ml
E0.5% = 0.70 (FI edisi IV)

Zat Aktif Konsentrasi Ekuivalensi Kesetaraan


NaCl
Neomisin Sulfat 0.5 0.14 0.07
Benzolkonium Klorida 0.01 0.18 0.00018
Natrium Metabisulfit 0.1 0.70 0/07
Hasil 0.1418
Hasil yang diperoleh dari kesetaraan NaCl diatas menunjukan
bahwa larutan hipotonis. Perlu penambahan NaCl agar menjadi
isotonis

NaCl = 0.9 0.1418 = 0.7582 g/100 ml = 0.07582 g/10 ml ~ 0.076


g/10 ml

Jadi penambahan NaCl yang perlu ditambahkan agar larutan


isotonis sebesar 0.076 g/10 ml atau 76 mg/10 ml.

2. Perhitungan Bahan
a. Neomisin Sulfat = 0.5 g/100 ml x 10 ml = 0.05 g

13
b. Benzolkonium Klorida = 0.01 g/100 ml x 10 ml = 0.001 g
c. Natrium Metabisulfit = 0.1 g/100 ml x 10 ml = 0.01 g
d. API ad 100 ml/100 ml x 10 ml = 10 ml
E. Penimbangan
1. Penimbangan
Volume yang dibuat 10 ml
Penambahan volume 10% = 10 ml/100 ml x 10 ml = 1 ml
10 ml + 1 ml = 11 ml
a. Neomisin Sulfat = 11 ml/10 ml x 0.05 g = 0.055 g
b. Benzolkonium Klorida = 11 ml/10 ml x 0.001 g = 0.0011 g
c. Natrium Metabisulfit = 11 ml/10 ml x 0.01 g = 0.011 g
d. NaCl = 11 ml/10 ml x 0.076 g = 0.0836 g
2. Volume Terpindahkan
Volume yang dibuat 10 ml
Volume yang disarankan dalam FI edisi IV (Hal.1044) = 0.5 ml
C = 10 ml + 0.5 ml
=10.5 ml
F. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Melakukan sterilisasi alat dan wadah yangakan digunakan
3. Menimbang bahan sesuai perhitungan dengan neomisin sulfat 55 mg,
benzalkonium klorida 1,1 mg, natrium metabisulfit 11 mg, dan NaCl
sebanyak 83,6 mg dengan kaca arolji yang telah disterilkan
4. Membuat Aqua ProInjection dengan aquades yang dipanaskan hingga
mendidih kemudian baru dilakukan perhitungan selama 30 menit
5. Melakukan percampuran pertama neomisin sulfat 55mg dan natrium
metabisulfit 11 mg ke dalam beaker yang berisi API kemudian aduk
hingga larut, bilas kaca arloji yang digunakan sebagai tempat bahan
dengan API ke dalam beaker

14
6. Menambahkan benzalkonium klorida 1,1 mg dan NaCl 83,6 mg ke
dalam beaker dengan membilas kaca arloji dengan API dan aduk hingga
larut
7. Menambahkan sisa API ke dalam beaker kemudian aduk hingga larut
8. Menyaring larutan dengan corong gelas yang dilapisi kertas saring ke
dalam gelas beaker
9. Melakukan pengecekan pH dari sisa larutan pada kertas saring dengan
pH meter strip
10. Memasukan larutan ke dalam botol tetes mata dengan spuit sebanyak
10 ml
11. Menutup botol tetes mata dan kemudian diberikan etiket pada botol

15
BAB IV

EVALUASI DAN PEMBAHASAN

A. Evaluasi
Pada praktikum pembuatan tetes mata yang dilakukan evaluasi yang
berupa uji pH. Pada uji pH yang dilakukan pada sediaan obat tetes mata
yang dibuat mempunyai nilai pH 4 (kurang dari pH mata) sehingga perlu
penambahan dapar yang sesuai sehingga dapat memilikipH sediaan yang
sesuai dengan pH mata. Kemudian dilakukan evaluasi keseragaman bobot
pada sediaan yang dibuat pada kelompok 4 terjadi kelebihan volume yang
terpindahkan, yang seharusnya volume pada obat botol tetes mata sebanyak
10,5 ml. Dan yang terakhir dilakukan evalusai kejernihan, pada sedian yang
telah dibuat memiliki kejernihan yang baik dan tidak terdapat partikel yang
melayang atau partikel yang tidak larut pada sediaan.

NO Jenis Pengujian Hasil dan keterangan


1. Uji pH 4 (kurang sesuai pH mata 7,4) perlu
penambahan dapar agar sesuai pH mata
2. Uji Kejernihan Tidak ada endapan partikel
3. Uji Keseragaman Volume Terjadi kelebihan yang terdapat pada
botol obat tetes mata.kurang dari 10,5 ml

B. Pembahasan

Pembuatan sediaan tetes mata sangat perlu diperhatikan tingkat steril


dari sediaan yang dihasilkan. Mata merupakan organ yang tidak memiliki
perlindungan terhadap bakteri atau mikriorganisme. Apabila tingkat steril
pada sediaan yang dibuat kurang, sediaan tersebut akan membahayakan
mata dan dapat memperburuk keadaan pengobatan pada mata.

16
Pembuatan sediaan tetes mata yang akan dibuat memiliki nilai
tonisitas 0.1418 gram/ml hasil tersebut menunjukan bahwa sediaan yang
akan dibuat dalam kategori hipotonis yang dapat merusak sel, untuk
mencegah hal tersebut dilakukan penambahan NaCl sebanyak 0.076 g/10 ml
sesuai dengan volume pembuatan 10 ml. Penambahan NaCl bertujuan untuk
membantu agar sediaan yang dibuat isotonis. Untuk mengantisipasi
terjadinya kekurangan jumlah sediaan yang diharapkan dalam pembuatan
dilakukan penambahan dalam setiap peninmbangan bahan dan juga pada
volume sediaan sehingga dihasilkan volume yang terpindahkan untuk10ml
larutan tetes mata sebanyak 10,5 ml/botol tetes mata.

Saran penambahan dapar digunakan untuk meningkatkan nilai pH


agar mencapai nilai pH mata, sebagai berikut:

Penambahan larutan dapar fosfat pH 7 :

Kapasitas dapar = = 0,01%

H2PO4 = sebagai asam (KH2PO4 anhidrat)

HPO4 = sebagai garam (Na2HPO4 dihidrat)

pKa Na2HPO4 = 7,21

pH = 7

Jawab:

pKa = - log Ka

7,21 = - log Ka

Ka = 10-7,21

= 7,2 10-8

pH = - log [H+]

17
7 = - log [H+]

[H+] = 10-7

Pers.1

pH = pKa + log [G]

[A]

7 = 7,21 + log [G]

[A]

log [G] = - 0,21

[A]

[G] = 10-0,21

[A]

[G] = 0,62

[A]

[G] = 0,62 [A]

Pers.2

= 2,3 C Ka [H+]

(Ka + [H+])2

0,01 = 2,3 C 6,2 10-8 10-7

[(6,2 10-8) + 10-7]2

C = 0,018 M

Pers.3

18
C = [A] + [G]

0,018 = [A] + (0,62 [A])

0,018 = 1,62 [A]

[A] = 0,01 M

Maka,

[G] = 0,62 [A]

= 0,62 0,01 M

[G] = 0,0062 M

Pers.4

Berat asam = ...?

Berat garam = ...?

BM Na2HPO4 dihidrat (garam) = 159,94

BM KH2PO4 anhidrat (asam) = 136,09

Asam

M = massa 1000

BM V(ml)

0,01 = massa 1000

136,09 10 ml

Massa asam = 0,0136 gram

% massa asam (dalam 10 ml) = 0,136%

19
Garam

M = massa 1000

BM V(ml)

0,0062 = massa 1000

159,94 10 ml

Massa garam = 0,0099 gram

% massa garam (dalam 10 ml) = 0,099 %

Untuk penambahan penimbangan dapar yang digunakan adalah:

Na2HPO4 anhidrat = 0,099 % 10 ml = 0,0099 g


KH2PO4 dihidrat = 0,136 % 10 ml = 0,0136 g

Pada tahap evaluasi yang telah dilakukan mendapatkan. Pertama


pada evaluasi pH yang dilakukan mendapatkan nilai 4, nilai tersebut
merupakan ukuran yang kurang dari pH air mata senilai 7,4 sehingga masih
kurang dapat diterima ketika digunakan, untuk mengantisipasi hal tersebut
dilakukan penambahan dapar agar dapat menambah nilai pH menjadi stabil
pada pH mata. Penambahan dapar yang digunkan adalah sebanyak Na2HPO4
anhidrat 0,0099 gram dan KH2PO4 dihidrat 0,0136 gram Kemudian pada
evaluasi keseragaman bobot pada kelompok 4 pada botol tidak sesuai
dengan volume yang harus terpindahkan sebanyak 10,5 ml/botol tetes mata,
pada kelompok 4 terjadi kelebihan volume namun jumlah bobot pada botol
tidak jauh dari 10,5 ml. Hal ini dapat berpengaruh pada ketidaktepatan pada
pemberian volume tiap botol. Kemudian secara kasat mata larutan yang
dihasilkan terlihat jernih dan tidak terdapat suatu endapan partikel yang
masih pada larutan dan apabila terdapat endapan kasar pada sediaan tetes
mata dapat menimbulkan iritasi pada mata.

20
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Obat tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan , suspensi atau
emulsi. Untuk obat luar yang digunakan dengan cara meneteskan obat
dengan penetes yang menghasilkan tetesan setara pada selaput lendir
mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
2. Hasil perhitungan tonisitas yang dilakukan dari sediaan dinyatakan
bahwa larutan masih hipotonis dengan nilai 0.1418 gram/L untuk
mencapai isotonis perlu penambahan NaCl sebanyak 0,076 gram/10ml
larutan yang akan dibuat.
3. Evaluasi yang telah dilakukan mendapatkan hasil pada uji pH sediaan
mendapatkan nilai pH 4 yang kurang dari stabilitas pH air mata 7,4
sehingga perlu penambahan dapar untuk mencapai stabilitas nilaipH air
mata dengan menambahkan Na2HPO4 anhidrat 0,0099 gram dan
KH2PO4 dihidrat 0,0136 gram. Pada evaluasi keseragaman bobot pada
kelompok 4 terjadi kelebihan volume yang seharusnya 10,5ml saja
dalam botol obat tetes mata. Kemudian pada evaluasi kejernihan terlihat
tidak terdapat partikel yang tidak larut pada sediaan.
B. Saran
1. Pada pengerjaan praktikum oleh praktikan diharuskan mengurangi
kegiatan yang tidak penting, harus teliti dan fokus dalam pengerjaan
2. Penunjang alat, bahan, dan tempat yang digunakan dalam
melangsungkan praktikum seharusnya dapat membantu dalam
pengerjaan praktikum

21
Daftar Pustaka

Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatn RI,
Jakarta

Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatn RI,
Jakarta

Martindle 1972. The Extra Pharmacopeia 28 Ed London: The Pharmaceutical


Press

Rowe, R.C. Sheskey,P.J and Quin M.,E(2009). Handbook of pharmaceutical


Exipient. Lexi-comp. American pharmaceutical association.

22
LAMPIRAN

23