Anda di halaman 1dari 35

Otitis Eksterna

A. Definisi
Otitis eksterna adalah radang merata kulit liang telinga yang disebabkan oleh
kuman maupun jamur (otomikosis) dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak enak diliang
telinga, deskuamasi, sekret di liang telinga dan kecenderungan untuk kekambuhan.
Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada saluran telinga. Infeksi ini bisa
menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu
sebagai bisul (furunkel). Otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang
(swimmer's ear).
Otitis Eksterna adalah radang telinga eksterna. (Kamus saku Kedokteran
DORLAND. 2002) Otitis eksterna adalah radang telinga akut maupun kronik yang
disebabkan bakteri. Sering kali timbul dengan penyebab lain seperti jamur, alergi, atau
virus. (Kapita Selekta Kedokteran, 2003).

B. Klasifikasi
Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi:
1. Otitis Eksterna Ringan: kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga menyempit.
2. Otitis Eksterna Sedang: liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat positif.
3. Otitis Eksterna Komplikasi: Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak.
4. Otitis Eksterna Kronik: Kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif.

Otitis eksterna diklasifikasikan atas :


1. Otitis eksterna akut :
a. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel)
b. Otitis eksterna difus
2. Otitis eksterna kronik
Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel) adalah otitis eksterna lokal yang bermula dari
infeksi folikel rambut dan menimbulkan furunkel pada sepertiga luar dari liang telinga luar
(meatus akustikus eksternus). Otitis eksterna difus adalah otitis eksterna yang dapat
disebabkan bakteri (Pseudomonas, Stafilokokus, Proteus) atau jamur pada dua per tiga dalam
dari liang telinga luar (meatus akustikus eksternus). Otitis eksterna kronik adalah otitis
eksterna yang berlangsung lama dan ditandai oleh terbentuknya jaringan parut (sikatriks).
Adanya sikatriks menyebabkan liang telinga menyempit

C. Etiologi
Etiologi otitis eksterna dibagi menjadi:
1. Otitis Eksterna Sirkumskripta
Etiologi: Staphylococus aureus, staphylococus albus.
2. Otitis Eeksterna Difus
Etiologi: Pseudomonas, Staphylococus Albus, Eschericia coli dan Enterobacter Aerogenes.
Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.
3. Otomikosis
Etiologi: Jamur Aspergillus, Candida Albican
4. Otitis Eksterna Maligna
Etiologi: Pseudomonas.

D. Faktor Predisposisi
a. Faktor Eksogen
1. Udara yang hangat dan lembab
2. pH liang telinga
3. Trauma ringan
4. Berenang.
5. Alergi
6. Benda asing dalam telinga. (Kapita Selekta Kedokteran, 2001)

b. Faktor Endogen
1. Diabetes Melitus
2. Irigasi Telinga
3. Imunodefisiensi/ imunosupresi

E. Patofisiologi
Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel
kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran
telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan
ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran
menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang
basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.
Infeksi oleh kuman pada kulit disepertiga luar liang telinga yang mengandung
adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen membentuk
furunkel.
Stadium prainflamasi timbul bila lapisan lipid meatus akusticus eksternus terlepas
karena lembab atau trauma menimbulkan edema epitel skuamosa. Keadaan ini
menimbulkan trauma lokal yang memudahkan bakteri masuk melalui kulit, terjadi
inflamasi dan cairan eksudat. Rasa gatal memicu terjadinya iritasi, berikutnya infeksi
lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya menimbulkan rasa nyeri.
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan rasa
nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan cairan / nanah yang
bisa menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna) sehingga hantaran suara
akan terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran.
Bakteri patogen yang sering menyebabkan otitis eksterna yaitu Pseudomonas
(41%), Streptokokus (22%), Stafilokokus aureus (15%) dan Bakteroides (11%) (Oghalai,
2003).
Infeksi pada liang telinga luar dapat menyebar ke pinna, periaurikuler dan tulang
temporal.
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan :
a. Kulit liang telinga luar beralaskan periostium & perikondrium bukan bantalan
jaringan lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma. Selain itu, edema
dermis akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat.
b. Kulit dan tulang rawan pada 1/3 luar liang telinga luar bersambung dengan kulit
dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan sedikit saja pada daun telinga
akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan liang telinga luar sehingga
mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada penderita otitis eksterna.
Staduim kronik terdiri dari peradangan ringan dan infeksi yang menetap
meskipun diberi terapi.

F. Manifestasi Klinis
1. Nyeri
2. Gangguan pendengaran
3. Rasa penuh pada telinga
4. Gatal
5. Terdapat secret yang berbau
6. Liang telinga tampak bengkak
7. Hiperemis
8. Adanya edema
(Kapita Selekta Kedokteran, 2001).

G. Komplikasi
Komplikasinya meliputi :
1. Kondritis
2. Parotitis
3. Penyempitan saluran telinga
4. Otitis kronik
5. Defisit pendengaran
6. Osteomielitis tulang temporal dan basis kranii
7. Kelumpuhan syaraf fasial serta syaraf otak lain
8. Kematian.

H. Prognosis
Otitis eksterna ini adalah kondisi yang dapat diobati yang biasanya sembuh dengan
cepat dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis eksterna dapat dengan mudah
dengan obat tetes telinga antibiotik. Tapi, otitis eksterna kronik masih mungkin dijumpai
kembali

I. Penatalaksanaan
1. Prinsip penatalaksanaan otitis eksterna a.l:
a. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas dengan berhati-hati.
b. Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis, dan membrana timpani
bilamana mungkin keputusan apakah akan menggunakan sumbu untuk
mengoleskan obat.
c. Pemilihan pengobatan lokal.
2. Acute localized external otitis/otitis eksterna sirkumskripta
a. Bila sudah jadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya
b. Berikan antibiotika baik oral maupun topikal, selama 5 hari. Antibiotika yang
digunakan biasanya sensitif kuman Staphylococcus aureus, yaitu neomycin atau
polymixin B yang dikombinasi dengan kortikosteroid.
c. Pemanasan
d. Analgetika (mis : asam mefenamat dan antalgin)
Untuk mengobati otitis eksterna generalisata, pertama-tama dilakukan
pembuangan sel-sel kulit mati yang terinfeksi dari saluran telinga dengan alat penghisap
atau kapas kering. Setelah saluran telinga diersihkan, fungsi pendengaran biasanya
kembali normal. Biasanya diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik
selama beberapa hari.
Beberapa tetes telinga ada yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi
pembengkakan. Kadang diberikan obat tetes telinga yang mengandung asam asetat untuk
mengembalikan keasaman pada saluran telinga. Untuk mengurangi nyeri pada 24-48 jam
pertama bisa diberikan aseteminofen atau kodein. Infeksi yang sudah menyebar keluar
saluran telinga (selulitis) diobati dengan antibiotik peroral (melalui mulut).
Bisul dibiarkan pecah dengan sendirinya karena jika sengaja disayat bisa
menyebabkan penyebaran infeksi. Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik tidak
efektif. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan bisa dilakukan
pengompresan hangat (sebentar saja) dan pemberian obat pereda nyeri.

Penatalaksanaan Otitis Eksterna


1. Liang telinga dibersihkan dengan menggunakan kapas lidi.
2. Pemasangan tampon pita cm x 5 cm yang telah dibasahi dengan larutan Burowi filtrata
pada MAE. Tampon secukupnya, tidak boleh diletakkan terlalu ke dalam (nyeri/bahaya
melukai membran timpani, sulit mengeluarkan).
3. Tampon setiap 2-3 jam sekali ditetesi dengan larutan Burowi agar tetap basah. Tampon
diganti setiap hari. Larutan Burowi dapat diganti dengan tetes telinga yang mengandung
steroid dan antibiotik.
4. Apabila diduga infeksi kuman Pseudomonas diberikan tetes yang mengandung neomycine
dan hydrocortisone.
5. Pada infeksi jamur digunakan tetes telinga larutan asam salisilat 2-5% dalam alkohol 20%.
6. Pada otitis eksterna kronik difus dapat diberikan triamsinolone 0,25% krim/salep atau
dexamethasone 0,1%.
7. Antibiotik oral tidak perlu diberikan. (Rukmini, 2005).

Penatalaksanaan otitis eksterna bertujuan :


1. Membuang serumen, kotoran, dan sel-sel kulit mati dari liang telinga. Bersihkan dan
keringkan menggunakan alat penghisap atau kapas kering.
2. Mengeluarkan mikroorganisme. Masukkan tampon yang mengandung antibiotik ke dalam
liang telinga untuk menghindari infeksi bakterial akut dan ulserasi. Berikan juga antibiotik
sistemik jika perlu.
3. Mengurangi rasa sakit, peradangan dan edema. Berikan obat golongan kortikosteroid
misalnya metil prednisolon.
4. Menghilangkan rasa tidak enak.
5. Memulihkan pendengaran.
6. Menghilangkan gatal dan penggarukan yang berulang. Terapi antifungal untuk menghindari
infeksi jamur.
7. Terapi antialergi dan antiparasit.
8. Penatalaksanaan otitis eksterna kronik yaitu operasi rekonstruksi liang telinga.

J. Pencegahan Otitis Eksterna


Telinga perenang kemungkinan dicegah dengan meneteskan cairan yang
mengandung campuran alkohol dan cuka di dalam telinga sebelum dan sesudah berenang.
Orang tersebut harus menghindari berenang di dalam air yang terpolusi, menggunakan
semprotan rambut, dan menghabiskan waktu yang lama di air hangat, iklim yang lembab.
Berusaha untuk membersihkan saluran dengan lap kapas mengganggu mekanisme
membersihkan-sendiri yang normal dan bisa mendorong serpihan ke dalam gendang
telinga, dimana kotoran menumpuk. Juga, tindakan ini bisa menyebabkan kerusakan kecil
yang mempengaruhi otitis eksternal (Abdullah, 2003).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Biodata
a. Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor register,
dandiagnosa medis.
b. Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia,
pendidikan,pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.
c. Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin,
hubungandengan klien, dan status kesehatan.
2. Keluhan Utama: Biasanya pasien merasakan nyeri pada telinga kanan, perasaan
tidak enak pada telinga, pendengaran berkurang, ketika membersihkan telinga
keluar cairan berbau busuk
3. Riwayat penyakit sekarang: pasien mengatakan Tanyakan sejak kapan keluhan
dirasakan, apakah tiba-tiba atau perlahan-lahan, sejauh mana keluhan dirasakan,
apa yang memperberat dan memperingan keluhan dan apa usaha yang telah
dilakukan untuk mengurangi keluhan.
4. Riwayat penyakit dahulu: Tanyakan pada klien dan keluarganya ; apakah klien
dahulu pernah menderita sakit seperti ini, apakah sebelumnya pernah menderita
penyakit lain, seperti panas tinggi, kejang, apakah klien sering mengorek-ngorek
telinga dengan jepit rambut atau cutton buds sehingga terjadi trauma, apakah klien
sering berenang.
5. Riwayat penyakit keluarga: Apakah ada diantara anggota keluarga klien yang
menderita penyakit seperti klien saat ini dan apakah keluarga pernah menderita
penyakit DM.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
Inspeksi liang telinga, perhatikan adanya cairan atau bau, pembengkakan pada
MAE, warna kulit telinga, apakah terdapat benda asing, peradangan, tumor.
Inspeksi dapat menggunakan alat otoskopik (untuk melihat MAE sampai ke
membran timpany). Apakah suhu tubuh klien meningkat.
b. Palpasi:
Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi respon nyeri dari
klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis eksterna sirkumskripta.
7. Pemenuhan kebutusan dasar manusia
a. Pola pemenuhan nutrisi metabolik
- Intake makanan dan cairan
b. Pola Persepsi Konsep Diri
- Pandangan klien tentang sakitnya
- Kecemasan
- Konsep Diri
c. Pola peran dan hubungan
- Komunikasi hubungan dengan orang lain, kemampuan keuangan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut Berhubungan dengan proses inflamasi
2. Gangguan persepsi pendengaran berhubungan dengan penurunan fungsi organ
3. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
4. Cemas berhubungan dengan koping mal adaptif
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan
interpretasi
C. INTERVENSI

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi


Nyeri Akut Berhubungan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji nyeri atau
dengan proses inflamasi keperawatan selama 3 x 24 ketidaknyamanan pada
jam diharapkan klien tidak klien pada skala 0-10
mengalami nyeri dengan R/: Karakteristik nyeri
kriteria hasil : dapat menunjukkan
1. Mampu mengontrol nyeri ( derajat berat/ ringannya
tahu penyebab nyeri,mampu penyakit
menggunakan teknik non b. Lakukan manajemen
farmakologi untuk nyeri dengan teknik
mengurangi nyeri,mencari nonfarmakologis
bantuan ) misalnya kompres hangat
2. Melaporkan bahwa nyeri atau dingin dan masase
berkurang dengan pada saat sebelum,
menggunakan manajemen setelah dan jika
nyeri memungkinkan selama
3. Mampu mengenali nyeri aktivitas yang
skala dan intensitas,frekuensi menimbulkan nyeri.
dan tanda nyeri. R/: Meningkatkan
4. Menyatakan rasa nyaman relaksasi, memfokuskan
setelah nyeri berkurang kembali perhatian, dan
5. Tanda vital dalam rentang meningkatkan
normal. kemampuan koping
c. Anjurkan pasien untuk
menginformasikan
kepada perawat jika
peredaan nyeri tidak
dapat dicapai
R/: Mencoba untuk
mentolenransi nyeri,
daripada meminta
analgetik
d. Kolaborasi dalam
pemberian analgetik.
R/:nyeri bervariasi dari
ringan sampai berat dan
perlu penanganan untuk
memudahkan istirahat
adekuat dan
penyembuhan.

Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan NIC :


pendengaran b.d penurunan keperawatan selama 2 x 24 a. Berbicara dengan suara
fungsi organ jam,gagguan persepsi sensori yang jelas
dapat teratasi dengan kriteria R/ : memudahkan klien
hasil : untuk mendengar dan
Mampu menunjukan memhami komunikasi
pemahaman / sinyal respon terkait dengan tindakan yang
akan dilakukan.
b. Menggunakan kalimat atau
bahasa yang mudah
dimengerti
R/: membantu pasien untuk
memahami informasi terkait
dengan penyakitnya.
c. Berdiri dihadapan klien
saat berbicara
R/: menjaga kelangsunan
proses komunikasi selama
pemberian tindakan
Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan tindakan a. Pantau tekanan
dengan proses inflamasi keperawatan selama 2 kali 24 darah,suhu, denyut nadi
jam suhu tubuh klien dan frekuensi
normal,dengan criteria hasil : pernapasan.
Pasien akan menunjukkan R/: tanda-tanda vital
Termoregulasi ditandai merupakan acuan untuk
dengan suhu normal tubuh mengetahui keadaan
36o-37oC. umum pasien.
b. Anjurkan asupan cairan
oral, sedikitnya 2 liter
sehari, dengan tambahan
cairan selama aktivitas
yang berlebihan atau
aktivitas sedang dalam
cuaca panas.
R/: Peningkatan suhu
tubuh mengakibatkan
penguapan tubuh
meningkat sehingga
perlu diimbangi dengan
asupan cairan yang
banyak.
c. Ajarkan
pasien/keluarga dalam
mengukur suhu tubuh.
R/: Untuk mencegah
dan mengenali secara
dini hipertermia
(misalnya, sengatan
panas, dan keletihan
akibat panas)
d. Kolaboratif: Berikan
obat antipiuretik,jika
perlu.
R:/Pemberian terapi
penting bagi pasian
dengan suhu tinggi.
Cemas berhubungan dengan a. Kaji dan
koping mal adaptif dokumentasikan tingkat
kecemasan pasien.
R/ : faktor ini
Setelah dilakukan mempengaruhi persepsi
tindakan keperawatan pasien terhadap
selama 2 kali 24 ancaman diri, potensial
jam,cemas klien dapat siklus ansietas, dan
berkurang dengan criteria dapat mempengaruhi
hasil : upaya medik untuk
a. Ansietas berkurang, mengontrol ansietas.
dibuktikan oleh bukti b. Beri dorongan kepada
tingkat ansietas hanya pasien untuk
ringan sampai sedang, mengungkapkan secara
dan selalu menunjukkan verbal pikiran dan
pengendalian diri perasaan untuk
terhadap ansietas, mengeksternalisasikan
konsentrasi dan koping. ansietas.
b. Menunjukkan R/ : membantu pasien
pengendalian diri menurunkan ansietas
terhadap ansietas, yang dan memberikan
dibuktikan oleh indikator kesempatan untuk
sebagai berikut : pasien menerima situasi
- Merencanakan strategi nyata.
koping untuk situasi c. Berikan informasi
penuh tekanan faktual menyangkut
- Menggunakan tekhnik diagnosis, terapi,dan
relaksasi untuk prognosis.
meradakan ansietas. R/: menurunkan
ansietas sehubungan
dengan
ketidaktahuan/harapan
yang akan datang dan
memberikan dasar fakta
untuk membuat pilihan
informasi tentang
pengobatan.
d. Jelaskan semua
prosedur, termasuk
sensasi yang biasanya di
alami selama prosedur.
R/: memberikan dasar
pengetahuan sehingga
pasien dapat membuat
pilihan yang tepat.
Menurunkan ansietas
dan dapat meningkatkan
kerjasama dalam
program terapi,
kerjasama penuh
penting untuk
keberhasilan hasil
setelah prosedur
e. Ajarkan teknik relaksasi
misalnya imajinasi
terbinbing, visualisasi.
R/ : memfokuskan
perhatian pasien,
membantu menurunkan
Ansietas dan
meningkatkan proses
penyembuhan
f. Kolaborasi pemberian
obat untuk menurunkan
ansietas, jika perlu.
R/: dapat digunakan
untuk menurunkan
ansietas dan
memudahkan istirahat.
Setelah melakukan tindakan a. Kaji tingkat
keperawatan selama 2 kali 24 pengetahuan klien saat
Kurang pengetahuan jam klien mengerti: Proses ini dan pemahaman
berhubungan dengan kurang penyakit otitis eksterna terhadap proses
informasi, kesalahan dengan kriteria hasil : penyakitnya.
interpretasi - klien mampu memahami R/: Mengetahui sejauh
proses penyakitnya mana pasien paham
tingkat penyakitnya
b. Tentukan motivasi
pasien untuk
mempelajari informasi
tentang proses
penyakitnya.
R/: Pengetahuan pasien
tentang penyakitnya
dapat dikendalikan
dengan informasi
penyakit
c. Berikan penyuluhan
tentang proses
penyakitnya sesuai
dengan tingkat
pemahaman pasien,
ulangi informasi bila
diperlukan
R/: Pengetahuan pasien
tentang penyakitnya
dapat dikendalikan
dengan informasi
penyakit
d. Gunakan berbagai
pendekatan penyuluhan,
redemonstrasi, dan
berikan umpan balik
secara verbal dan tertulis.
R/: pasien mengetahui
sesuatu yang
berhubungan dengan
penyakitnya
e. Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan yang
terkait dalam pemberian
informasi sumber-
sumber komunitas yang
dapat menolong pasien
dalam mempertahankan
program terapi.
R/: dengan kolaborasi
pencegahan otitis dapat
di lakukan dengan baik
BAB I

PENDAHULUAN

Otitis eksterna merupakan suatu peradangan atau infeksi pada kanalis auditorius
eksternal dan atau daun telinga. Kondisi ini merupakan salah satu kondisi medis yang paling
umum yang biasanya mempengaruhi atlet air. Individu dengan kondisi alergi, seperti eczema,
rhinitis alergi, atau asma, memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena otitis eksterna. Otitis
eksterna diperkirakan mengenai 10% orang pada tahap tertentu dan dapat terjadi akut, kronik
atau bentuk nekrosis.1,2

Peradangan pada otitis eksterna umumnya di seluruh saluran telinga. Otitis eksterna akut (<6
minggu), kronis (> 3 bulan), dan nekrosis merupakan bentuk ganas. Otitis eksterna akut dapat
muncul sekali atau mungkin terjadi kekambuhan, hal ini menyebabkan nyeri dengan aural
discharge dan berkaitan dengan gangguan pendengaran.2

Otitis eksterna akut adalah peradangan pada kanalis auditorius eksternal yang
disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur dan virus. Kondisi ini ditandai dengan nyeri, nyeri
tekan, kemerahan, dan pembengkakan pada saluran telinga eksternal dan terkadang ada
eksudat purulen. Otitis eksterna akut dikaitkan dengan paparan air (kegiatan rekreasi air,
mandi, dan berkeringat berlebihan), trauma lokal, keadaan yang hangat dan lingkungan
lembab.3,4

Hasil analisis menunjukkan pada tahun 2007, diperkirakan 2,4 juta pelayanan
kesehatan di AS (8,1 kunjungan per 1.000 penduduk) didiagnosis otitis eksterna akut. Data
tahunan rawat jalan untuk pasien otitis eksterna akut selama tahun 2003-2007 adalah anak
usia 5-9 tahun (18,6) dan 10-14 tahun (15,8), namun 53% terjadi pada orang dewasa berusia
20 tahun (5,3). Insiden memuncak selama musim panas dan pada terbanyak di daerah
selatan.3 Di Amerika Serikat sekitar 98% disebabkan oleh bakteri, pathogen yang paling
umum Pseudomonas aeruginosa (20%-60%) and Staphylococcus aureus (10%-70%).3,4,7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun
telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan
rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit
liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar
keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga kulit bagian dalam hanya
sedikit djumpai kelenjar serumen.5
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melali udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga
perilimfa pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran basilaris
dan membran tektokria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius
sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.5

Gambar 2.1 Anatomi Telinga

2.2 Definisi

Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul) merupakan peradangan pada sepertiga


luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan
kelenjar serumen, maka ditempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga
membentuk furunkel. Kuman penyebab biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus
albus. Gejala ialah rasa nyeri yang hebar tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan
kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri
timbul pada penekanan perikondrium.1,2,5

Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah
bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak
mengandung lendir (musin). Seperti sekret yang ke luar dari kavum timpani pada otitis
media. 1,3,5

Gambar 2.2 Otitis Eksterna Sirkumskripta

Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang mengandung


antibiotika ke liang telinga agar terdapat kontak yanng baik antara obat dengan kulit yang
meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika sistemik.1,4

2.3 Etiologi

Penyebab otitis eksterna sirkumskripta yang tersering adalah Staphylococcus aureus,


Staphylococcus albus. Faktor lainnya adalah maserasi kulit liang telinga akibat sering
berenang atau mandi denga shower, trauma, reaksi terhadap benda asing, dan akumulasi
serumen. Sering terjadi superinfeksi oleh bakteri piogenik (terutama Pseudomonas atau
staphylococcus) dan jamur.3,8

Otitis eksterna rekuren biasanya disebabkan oleh pemakaian aplikator berujung kapas
yang sering atau sering berenang dalam kolam berenang berklorinasi.8

Gambar 2.3 Salah Satu Penyebab Otitis Eksterna


2.4 Patogenesis

Otitis eksterna sirkumskripta merupakan infeksi folikel rambut, bermula sebagai


folikulitis kemudian biasanya meluas menjadi furunkel. Organisme penyebab biasanya
Staphylococcus. Umumnya kasus-kasus ini disebabkan oleh trauma garukan pada liang
telinga. Kadang-kadang furunkel disebabkan oleh tersumbat serta terinfeksinya kelenjar
sebasea di liang telinga. Panas dan lembab dapat menurunkan daya tahan kulit liang telinga,
sehingga frekuensi penyakit ini agak meningkat pada musim panas. 1,2,3,4

Pada kasus dini, dapat terlihat pembengkakan dan kemerahan difus didaerah liang
telinga bagian tulang rawan, biasanya posterior atau superior. Pembengkakan itu dapat
menyumbat liang telinga. Setelah terjadi lokalisasi dapat timbul pustula. Pada keadaan ini
terdapat rasa nyeri yang hebat sehingga pemeriksaan sukar dilakukan. Biasanya tidak terdapat
sekret sampai absesnya pecah. Toksisitas dan adenopati muncul lebih dini karena sifat
organisme penyebab infeksi.4,5,6

2.5 Faktor Predisposisi

Infeksi dapat terjadi sebagai akibat faktor-faktor predisposisi tertentu sebagai berikut:

1. Perubahan pH kulit kanalis yang biasanya asam menjadi basa


2. Perubahan lingkungan terutama gabungan peningkatan suhu dan kelembaban
3. Suatu trauma ringan seringkali karena benang atau membersihkan telinga secara
berlebihan.1,3,4

2.6 Gejala dan Tanda

Nyeri hebat yang diikuti otore purulen, meatus nyeri tekan, tampak pembengkakan
Nyeri tekan pada tragus dan pada tarikan daun telinga
Gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.5,7

2.7 Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan :

1. Anamnesa

Dari anamnesa dapat ditanyakan gejala dan tanda yang dirasakan penderita.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan liang telinga, pada inspeksi tampak liang telinga kemerahan, edema. Rasa nyeri
juga dijumpai terutama saat menggerakkan rahang (mengunyah), menekan tragus dan
menggerakkan daun telinga.

Adanya inflamasi, hiperemis, edema yang terlihat pada liang telinga luar dan jaringan
lunak periaurikuler.
Nyeri yang hebat, yang ditandai adanya kekakuan pada jaringan lunak pada ramus
mandibula dan mastoid.
Membran timpani biasanya intak.
Demam tidak umum terjadi.1,3

3. Pemeriksaan penunjang

Biakan dan tes sensitivitas dari sekret.7

2.8 Diagnosis Banding

Otitis Eksterna Difusa

Pada otitis eksterna difusa, biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam.
Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. Kuman penyebab
biasanya golongan Pseudomonas. Keluhan utama pasien biasanya berupa gatal, keluhan nyeri
biasanya jarang dialami pasien.5

Otomikosis

Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut.
Yang tersering ialah pityrosporum, Aspergilus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida
albikans atau jamur lain. Pityrosporum menyebabkan terbentuka sisik yang menyerupai
ketombe dan merupakan predipossisi otitis eksterna bakterialis. Gejala biasanya berupa rasa
gatal dan rasa penuh ditelinga, tetapi sering pula tanpa keluhan.5

2.9 Penatalaksanaan

Prinsip-prinsip penatalaksanaan yang dapat diterapkan pada semua tipe otitis eksterna antara
lain :

1. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas dengan berhati-hati


2. Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis, dan membrana timpani bilamana
mungkin keputusan apakah akan menggunakan sumbu untuk mengoleskan obat
3. Pemilihan pengobatan lokal

Otitis eksterna sirkumskripta harus diterapi sejak dini untuk mengurangi edema yang
menutupi lumen kanal dengan cara memasukkan kapas yang berisi obat. Tampon berukuran
kecil yang baik digunakan, karena ujung tampon tidak mendesak dan menekan lumen kanal.
Tampon dimasukkan secara perlahan yang sebelumnya dibasahi obat. Pasien diinstruksikan
untuk mengaplikasikan obat cair menggunakan kapas sekali atau dua kali sehari. Selama 48
jam tampon diletakkan di kanal untuk melebarkan ukuran lumen. Kemudian obat dapat
diaplikasikan langsung ke dalam kanal.1,2,9

Pengobatan ditujukan untuk menjaga agar linga telinga tetap bersih dan kering dan
melindunginya dari trauma. Kotoran harus dibersihkan dengan dari liang telinga dengan
irigasi secara lembut. Antibiotika topikal yang dikombinasikan dengan kortikosteroid dalam
bentuk tetes telinga sangat penting. Berikan antibiotika sistemik (biasanya penisilin) dalam
dosis penuh dalam 10 hari jika terdapat tanda-tanda penyebaran infeksi di luar kulit liang
telinga (demam, adenopati, atau selulitis daun telinga). Kalau dinding furunkel tebal dapat
dilakukan insisi, kemudian dipasang salir (drain) untuk mengalirkan nanahnya. Selama fase
akut, hindari berenang bila memungkinkan. 5
Untuk mengurangi respon inflamasi, alkohol 70% dapat ditambahkan untuk menjaga
kanal tetap bersih dan kering. Pasien disarankan menggunakan ini setelah telinganya
kemasukan air. Antibiotik tetes tidak boleh digunakan lebih dari 2-3 minggu karena berisiko
terjadi dermatitis kontak. Pasien harus diberitahu untuk kembali apabila telinga mulai terasa
gatal, jangan sampai menunggu terjadinya infeksi yang lebih parah.6

2.10 Pencegahan

Edukasi juga penting dalam mencegah otitis eksterna difus di masa depan. Hal ini
bertujuan untuk meminimalkan trauma kanal telinga dan menghindari paparan air. Hindari
membersihkan liang telinga terlalu sering maupun menggunakan alat pembersih yang tidak
sesuai karena dapat menyebabkan trauma.8

2.11 Prognosis

Otitis eksterna sirkumskripta adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh
dengan cepat dengan pengobatan yang tepat. Otitis eksterna kronis yang mungkin
memerlukan perawatan lebih intensif. Otitis eksterna biasanya tidak memiliki komplikasi
jangka panjang atau serius. 9

BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Penderita

Nama : GAYS

Umur : 14 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Pelajar

Pendidikan : SMP

Suku Bangsa : Bali

Alamat : Banjar Teges, Gianyar.

Tanggal Pemeriksaan : 8 September 2014

3.2 Anamnesis

Keluhan Utama : Nyeri pada telinga kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Penderita datang bersama ayahnya ke poliklinik THT, dengan keluhan nyeri pada
telinga kanannya sejak 2 minggu yang lalu. Sebelumnya pasien merasa gatal dan mengkorek
telinga kanan menggunakan lidi. 3 hari setelah di korek pasien merasa liang telinganya
bengkak dan terasa sakit. Sakit dirasakan sepanjang hari hingga mengganggu konsentrasi.
Sakit makin terasa saat telinganya dipegang dan saat mengunyah. Seminggu yang lalu pasien
juga mengeluhkan keluarnya cairan dari telinga kanan. Cairan dikatakan berwarna
kekuningan. Pasien juga mengatakan sedikit mengalami penurunan pendengaran pada telinga
kanan namun tidak terlalu mengganggu. Tidak ada keluhan batuk, pilek, panas badan maupun
nyeri menelan pada pasien. Riwayat atopi disangkal, riwayat alergi pada obat tertentu
disangkal.

Riwayat Penyakit Sebelumnya dan Riwayat Pengobatan

Penderita tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Riwayat asma
disangkal. Riwayat dermatitis disangkal. Riwayat sakit telinga, keluar sekret dan gangguan
pendengaran sebelumnya disangkal. Riwayat sakit tenggorokan, nyeri menelan juga
disangkal. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu sebelumnya dikatakan tidak ada.

Penderita tidak sempat mengobati keluhannya sebelum berkunjung ke poli THT


RSUP Sanjiwani.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama seperti penderita.
Riwayat alergi dan asma dikatakan tidak ada.

Riwayat Sosial

Penderita merupakan pelajar SMP kelas 3, tidak ada teman sekolah maupun teman
bermainnya yang diketahui mengalami keluhan serupa.

3.3 Pemeriksaan Fisik

Status Present

Kesadaran : Komposmentis

Nadi : 84 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

BB : 45 Kg

Status General

Kepala : Normocephali, kelainan (-)

Mata : anemia -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor

THT : sesuai status lokalis


Leher : kaku kuduk (-), pembesaran kelenjar (-)

Thorax

Co : S1S2, Tunggal Reguler Murmur (-)

Po : Vesikuler +/+, Wheezing -/-, Rhonki -/-

Abdomen : distensi (-), BU (+) Normal, Hepar/Lien tidak teraba

Ekstremitas : Akral hangat

3.4 Status Lokalis

TELINGA

Kanan Kiri

Daun telinga : N N

Liang telinga : Sempit & Hiperemi Lapang

Discharge : (-) (-)

Nyeri Tarik Aurikula : (-) (-)

Nyeri Tekan Tragus : (+) (-)

Membran timpani : Sulit di Evaluasi Intak

Tumor : (-) (-)

Mastoid : N N

Tes Pendengaran

Weber : Tidak dievaluasi

Rinne : Tidak dievaluasi

Scwabach : Tidak dievaluasi

HIDUNG

Kanan Kiri

Hidung luar : N N
Cavum nasi : lapang lapang

Septum nasi : Deviasi tidak ada

Discharge : (-) (-)

Mukosa : merah muda merah muda

Tumor : (-) (-)

Konka : dekongesti dekongesti

Sinus : N N

TENGGOROK

Dyspneu : (-)

Sianosis : (-)

Mukosa : Merah muda

Stridor : (-)

Suara : Normal

Tonsil : T1/T1, tenang

Detritus (-), kripte melebar (-)

Laring : Tidak dievaluasi

3.5 Resume

Penderita perempuan, 14 tahun, Bali, Hindu, Pelajar datang bersama ayahnya ke


poliklinik THT pada tanggal 8 September 2014, dengan keluhan nyeri pada telinga kanan
sejak 2 minggu yang lalu. Sebelumnya pasien merasa gatal dan mengkorek telinga kanan
menggunakan lidi. 3 hari setelah di korek pasien merasa liang telinganya bengkak dan terasa
sakit. Sakit dirasakan sepanjang hari hingga mengganggu konsentrasi. Sakit makin terasa saat
telinganya dipegang dan saat mengunyah. Seminggu yang lalu pasien juga mengeluhkan
keluarnya cairan dari telinga kanan. Cairan dikatakan berwarna kekuningan. Pasien juga
mengatakan sedikit mengalami penurunan pendengaran pada telinga kanan namun tidak
terlalu mengganggu. Tidak ada keluhan batuk, pilek, panas badan maupun nyeri menelan
pada pasien.. Riwayat keluhan yang sama sebelumnya dikatakan tidak ada. Riwayat asama
dan dermatitis alergi disangkal. Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga dikatakan tidak
ada. Riwayat asma dan alergi dalam keluarga disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Status Present : Dalam batas normal

Status General : Dalam batas normal

Status Lokalis

Telinga :

Kanan Kiri

Daun telinga : N N

Liang telinga : Sempit & Hiperemi Lapang

Discharge : (-) (-)

Nyeri Tekan Aurikula : (-) (-)

Nyeri Tekan Tragus : (+) (-)

Membran timpani : Sulit di Evaluasi Intak

Tumor : (-) (-)

Mastoid : N N

Tes Pendengaran

Weber : Tidak dievaluasi

Rinne : Tidak dievaluasi

Scwabach : Tidak dievaluasi

Hidung : Dalam batas normal

Tenggorok : Dalam batas normal

3.6 Usulan Pemeriksaan Penunjang

1. Dapat diusulkan pemeriksaan biakan dan sensitivitas sekret pada pasien ini

Diagnosis Banding

1. Otitis Eksterna Sirkumskripta


2. Otitis Eksterna Difus
3. Otomikosis

8 Diagnosis Kerja
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang diatas
dapat ditegakkan diagnosa kerja yaitu Otitis Externa Sirkumskripta Auricula Dextra.

9 Penatalaksanaan

1. Terapi medikamentosa

Pemasangan tampon burowi yang ditetesi setiap 3 jam.


Dapat dipertimbangkan pemberian antibiotik sistemik seperti Amoksisilin dengan
dosis 3 x 500 mg sehari selama 7 hari.
Pemberian golongan kortikosteroid untuk menekan proses inflamasi dan mengurangi
keluhan alergi berupa gatal pada telinga. Pasien dapat diberikan metilprednisolon
dengan dosis 3 x 4 mg sehari.
Pemberian analgetik seperti asam mefenamat dengan dosis 3 x 500mg sehari.

1. KIE kepada Pasien untuk :

Pasien sebaiknya menjaga kebersihan telinga untuk mencegah terjadinya


kekambuhan.
Pasien diberitahu untuk tidak mengulangi kebiasaannya yang sering mengorek
telinga.
Antibiotik harus diminum sampai habis selama 7 hari.

10 Prognosis

Dubious ad bonam

BAB IV

PEMBAHASAN

Dari kasus didapatkan penderita perempuan usia 14 tahun datang dengan keluhan
utama nyeri pada telinga kanan. Dari hasil anamnesa diketahui bahwa pasien mengeluh nyeri
pada telinga kanan sejak 2 minggu yang lalu dan disertai keluar cairan dari telinga kanan
sejak 1 minggu yang lalu. Sebelumnya pasien memiliki riwayat mengorek telinga
menggunakan lidi karena telinganya terasa gatal. Pasien mengeluh sakitnya makin terasa saat
telinganya dipegang dan saat mengunyah. Pasien juga mengeluh telinganya sedikit
mengalami penurunan pendengaran pada telinga kanan namun tidak terlalu mengganggu.

Hasil anamnesis dari kasus diatas sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa otitis
eksterna sirkumskripta merupakan infeksi bakteri pada kanal yang disebabkan oleh hilangnya
serumen sebagai proteksi karena peningkatan kelembapan dan temperatur. Otitis eksterna
akut dapat dikaitkan dengan paparan air (kegiatan rekreasi air, mandi, dan berkeringat
berlebihan), trauma lokal, keadaan yang hangat dan lingkungan lemba. Pasien dengan otitis
eksterna sirkumskripta memiliki gejala utama berupa nyeri yang hebat tidak sesuai dengan
besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar
dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Nyeri dapat juga
timbul spontan pada saat membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga
gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga. Gejala timbul
secara mendadak (selama 48 jam) dalam kurun waktu 3 minggu. Pasien juga biasanya
mengeluhkan cairan yang awalnya jelas dan tidak berbau, akan berubah menjadi eksudat
seropurulen. Sekret ini tidak mengandung lendir seperti sekret yang keluar dari kavum
timpani pada otitis media.1,5,8,9

Dari kasus didapatkan pada pemeriksaan fisik telinga kanan didapatkan nyeri tekan tragus (+)
dan nyeri tarik aurikula (-). Pada pemeriksaan fisik telinga kanan juga didapatkan adanya
hiperemis dan edema pada meatus akustikus eksternus sehingga terjadi penyempitan MAE.

Hasil pemeriksaan fisik dari kasus diatas sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa
pada otitis eksterna sirkumskripta ditemukan tanda-tanda berupa edema, liang telinga
menyempit dan nyeri tekan tragus. Gejala inflamasi pada kanal juga dapat dikeluhkan oleh
pasien seperti otalgia, gatal atau rasa penuh (fullness) dengan atau tanpa gangguan
pendengaran atau nyeri rahang. Tanda inflamasi yang juga dikeluhkan antara lain nyeri
tragus, edema yang menyebar, eritema dengan atau tanpa otorrhea, eritema membran
timpani.4,5,8,9

Terapi yang diberikan pada kasus ini berupa terapi medikamentosa yaitu pemasangan
tampon burowi yang ditetesi setiap 3 jam, antibiotik sistemik berupa Amoksisilin 3 x 500 mg
sehari selama 7 hari, golongan kortikosteroid berupa metilprednisolon dengan dosis 3 x 4 mg
sehari, dan analgetik asam mefenamat dengan dosis 3 x 500 mg sehari.

Pemberian terapi pada kasus diatas sesuai dengan teori yang mengatakan otitis
eksterna sirkumskripta harus diterapi sejak dini untuk mengurangi edema yang menutupi
lumen kanal dengan cara memasukkan kapas yang berisi obat (tampon burowi). Pasien
diinstruksikan untuk mengaplikasikan obat cair menggunakan kapas sekali atau dua kali
sehari. Selama 48 jam tampon diletakkan di kanal untuk melebarkan ukuran lumen.
Pemberian antibiotik sistemik bertujuan untuk eradikasi kuman penyebab dan pemberian
kortikosteroid bertujuan untuk menekan proses inflamasi dan mengurangi keluhan alergi
berupa gatal pada telinga, dan analgetik untuk mengurangi keluhan nyeri pada telinga. 9

DAFTAR PUSTAKA

1. Garry, Joseph P. Otitis Externa. [online]. 28 Februari 2010. [cited: 8 September 2014,
14.15 pm]. Available at : http://emedicine.medscape.com/article/84923-overview
2. Hajioff, Daniel. Mackeith, Samuel. 2007. Otitis Externa. BMJ Publishing Group. 510;
1-22
3. Piercefield, Emily W. Collier, Sarah A. Hlavsa, Michele C. Beach, Michael J.
Estimated Burden of Acute Otitis Externa United States, 20032007. [online]. 27
Juni 2011. [cited: 8 September 2014, 14.55 pm] Available at:

http://www.medscape.com/viewarticle/743429

4. Rosenfeld, Richard M. Brown, Lance. Cannon, C Ron. 2006. Clinical Practice


Guideline: Acute Otitis Externa. American Academy of OtolaryngologyHead and
Neck Surgery Foundation. 134; S4-S23
5. Soepardi, Efiaty Arsyad. Iskandar, Nurbiati, Iskandar. Bashiruddin, Jenny. Restuti,
Ratna Dwi. 2007. Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI. 6; 10-16; 59
6. Ballenger, John Jacob. 1914. Diseases of The Nose, Throat and Ear. London: Henry
Kimpton Publishers. 12; 783-784; 786-787
7. Lynch, Judith S. How Should Swimmers Ear (Acute Otitis Externa) Be managed?.
[online]. 7 Januari 2011. [cited: 8 September 2014, 16.30 am] Available at:
http://www.medscape.com/viewarticle/745281
8. Ong, YK. Ghee, G. 2005. Infections of The External Ear. Ann Acd Med Singpaore.
34; 330-334
OTITIS EKSTERNA

BAB I

A. LATAR BELAKANG
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
bakteri dapat terlokalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor penyebab timbulnya otitis
eksterna ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini
menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel
skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk
melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat.
Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %), strepokokus
(22%), stafilokokus.aureus (15%) dan bakteroides (11%). Otitis eksterna ini merupakan suatu
infeksi liang telinga bagian luar yang dapat menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang
temporal. Biasanya seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat
dianggap pembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi
bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus,
atau jamur.
Penyakit ini merupakan penyakit telinga bagian luar yang sering dijumpai, disamping
penyakit telinga lainnya. Berdasarkan data yang dikumpulkan mulai tanggal Januari 2000 s/d
Desember 2000 di Poliklinik THT RS H.Adam Malik Medan didapati 10746 kunjungan baru
dimana, dijumpai 867 kasus (8,07 %) otitis eksterna, 282 kasus (2,62 %) otitis eksterna difusa
dan 585 kasus (5,44 %) otitis eksterna sirkumskripta. Penyakit ini sering diumpai pada
daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang pada iklim- iklim sejuk dan kering.
B. TUJUAN
I. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM
Setelah dilaksanakan diskusi, pembuatan makalah dan dipresentasikannya
Asuhan keperawatan klien dengan Otitis Eksterna, diharapkan mahasiswa mampu
dan mengerti tentang asuhan keperawatan klien dengan Otitis Eksterna.

II. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah dilaksanakan diskusi, pembuatan makalah dan dipresentasikannya asuhan
keperawatan klien dengan Otitis Eksterna, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian dari Otitis Eksterna
2. Menjelaskan tanda dan gejala yang dirasakan akibat penyakit otitis eksterna
3. Mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien otitis eksterna
BAB II
PEMBAHASAN

A. ANATOMI FISIOLOGI
Anatomi telinga terdiri dari :
Telinga bagian luar
1. Aurikula
Terdiri dari kartilago elasin yang ditutupi kulit. Tidak ada kartilago pada lobus, yang
hanya tersusun dari lemak dan jaringan ikat. Aurikula dapat digerakkan sedikit oleh tiga
otot kecil yang berjalan menuju aurikula dari aponeurosis cranial dan tengkorak.
2. Meatus Akustikus Eksterna
Batas antara telinga luar dan telinga tengah adalah membran timpani. 2/3 bagian dalam
tersusun oleh tulang, dan 1/3 luar tersusun oleh tulang rawanyang bersambungan
dengan daun telinga. Meatus berbentuk oval pada potongan melintang pada ujung
lateral, bulat pada ujunga medial.
Telinga bagian tengah
1. Kavum Timpany ( telinga tengah )
Merupakan rongga kecil, agak memanjang di dalam pars petrosa os temporal.
2. Antrum Timpany
3. Tuba Auditiva Eustaki

Telinga bagian dalam


1. Labirintus Osseus
Rangkaian rongga yang saling berhubungan
- Labirintus Membranosus
Kantong tertutup di dalam labirin oseosa dan kurang lebih memiliki bentuk yang sama.
A. DEFINISI

Otitis eksterna adalah radang telinga bagian luar yang di sebabkan oleh jamur
parasitic, ditandai dengan pengerasan struktur telinga. (Dongoes, 1998)
Otitis eksterna ialah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan
oleh bakteri, sulit dibedakan dengan radang yang disebabkan oleh jamur, alergi atau
virus. (file:///E:/Laporan-Kasus-Otitis-Eksterna.htm)
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang
telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan
lokal otitis eksterna.
Otitis eksterna dibagi 3 jenis :
a. Otitis eksterna sirkumsripta
b. Otitis eksterna difus
c. Otomikosis

B. ETIOLOGI
Staphylococus aureus, staphylococus albus.

Faktor predisposisi
1. PH (PH yang basa akan menurunkan proteksi terhadap infeksi).
2. Udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh.
3. Trauma ringan (ketika mengorek telinga) atau karena berenang yang
menyebabkan perubahan kulit karena kena air.
C. PATOFISIOLOGI

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-
sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan
saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme
pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga
sehingga kotoran menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang
basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Rasa sakit pada telinga ( rasa tidak enak, rasa penuh pada telinga, perasaan
seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta berdenyut ).
2. Nyeri yang hebat bila daun telinga disentuh,
3. Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa
sakit
4. Gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga,edema
pada kulit telinga

Tanda-tanda Klinis
Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi menjadi 4:
a. Otitis Eksterna Ringan : kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga
menyempit.
b. Otitis Eksterna Sedang : liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan
eksudat positif
c. Otitis Eksterna Komplikas : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak
d. Otitis Eksterna Kronik : kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif
E. PENATALAKSANAAN
1. Antibiotik dalam bentuk salep (neomisin, Polimiksin B atau Basitrasin).
2. Antiseptik (asam asestat 2-5% dalam alkohol 2%) atau tampon iktiol dalam liang
telinga selama 2 hari.
3. Bila furunkel menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan
nanahnya.
4. Insisi bila dinding furunkel tebal, kemudian kemudian dipasang drain untuk
mengalirkan nanah.
5. Obat simptomatik : analgetik, obat penenang.

F. KOMPLIKASI
Osteomielitis tulang temporal dan basis kranii kelumpuhan syaraf fasial
serta syaraf otak lain kematian.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

KASUS
Seorang pasien wanita bernama Nn, X usia 21 tahun, datang ke poli THT Cendekia
Utama pada hari 1 Juni 2011 dengan keluhan nyeri pada telinga kanan sejak 1 minggu
yang lalu. Pasien mengatakan sebelumnya telinga pasien terasa gatal dan tidak enak,
terasa penuh sehingga pasien membersihkannya dengan cutton buds. ada cairan yang
ditemukan dalam liang telinganya,yang berbau busuk, daun telinga sakit bila di
sentuh. pendengaran telinga pasien agak berkurang dan tidak berdenging. Pasien
mengaku sebelumnya tidak pernah kemasukan air atopun memakai obat tetes telinga.
Pasien mengatakan pasien belum pernah melakukan pengobatan untuk penyakitnya.

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Biodata Pasien Biodata Penanggung Jawab
Nama : Nn. X Nama : Ny. K
Umur : 21 tahun Umur : 45 tahun
Jenis kel. : Perempuan Jenis kel. : Perempuan
Alamat : Ds. Jepang Alamat : Ds. Jepang
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama: nyeri pada telinga kanan, perasaan tidak enak pada telinga,
pendengaran berkurang, ketika membersihkan telinga keluar cairan berbau busuk
b. Riwayat penyakit sekarang: pasien mengatakan sudah merasakan nyeri pada
telinga kanannya sejak 1 minggu yang lalu, pasien mengatakan sebelumnya dia
merasakan telinganya gatal dan tidak enak sehingga pasien membersihkannya
dengan cutton buds.tidak ada cairan yang ditemukan dalam liang telinganya,
pendengaran telinga pasien agak berkurang dan tidak berdenging.
c. Riwayat penyakit dahulu: -
d. Riwayat penyakit keluarga: -
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Telinga tampak sempit, Pembengkakan pada Meatus acusticus eksternus, terjadi penumpukan
serumen membentuk furunkel, kulit telinga berwana keputih-putihan akibat filamen( serabut )
jamur, keluar cairan berbau busuk, suhu tubuh pasien meningkat
b. palpasi
pasien merasakan nyeri pada daun telinga ketika di lakukan penekanan pada daun telinga.
4. Analisa Data
No. Data Fokus Etiologi Problem
1. Ds: pasien mengatakan Penumpukan Nyeri
daun telinga sakit bila serumen yang
di sentuh membentuk
Do: Pembentukan furunkel (Bisul),
furunkel infeksi, demam
2. Ds: Pasien mengatakan Terdapat Gangguan
pendengaran telinga pembengkakan komunikasi verval
agak berkurang dan MAE, furunkel
berdenging.
Do: ada pembengkakan
pd MAE, pembentukan
furunkel
3. Ds: pasien mengatakan Penyumbatan liang Gangguan
telinganya terasa tidak telinga pendengaran
enak dan penuh (Pembesaran
Do: edema, telinga furunkel)
tampak sempit

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan penumpukan serumen yang membentuk furunkel (
Bisul ), infeksi, demam ditandai dengan daun telinga sakit bila disentuh, terdapat
pembengkakan pad MAE
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan pembengkakan MAE,
furunkel ditandai dengan pendengaran telinga agak berkurang dan berdenging,
furunkel
3. Gangguan pendengaran berhubungan dengan Penyumbatan liang telinga
(Pembesaran furunkel) ditandai dengan telinga terasa tidak enak, penuh, edema,
dan telinga tampak sempit

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Dx. Tujuan/ KH Intervensi Rasional
1. I Nyeri pasien a. Kaji tingkat nyeri
dapat teratasi klien
b. Lakukan
pembersihan telinga
secara teratur dan
hati-hati.
c. Beri penyuluhan
kepada klien tentang
penyebab nyeri dan
penyakit yang
dideritanya
d. Lakukan aspirasi
secara steril (bila
terjadi abses) untuk
mengeluarkan
nanahnya, jika
dinding furunkelnya
tebal, dilakukan
insisi kemudian
dipasang drainage
untuk mengalirkan
nanah.
Berikan kompres
dingin bila demam.
Kolaborasi dalam
pemberian obat
analgetik dan
antibiotik dosis
tinggi (pada
OEM).