Anda di halaman 1dari 34

i

BUKU SAKU :
PANDUAN
PARALEGAL
(Upaya Penguatan Penegakan Hukum dalam Tata
Kelola Hutan dan Lahan di Sulawesi Tengah)

Penyusun :
Budi Arta Pradana Nongtji
Hamka Akib
Layout :
Andi Sadam

Buku saku ini dapat digandakan oleh Organisasi Non


Pemerintah dan/atau Organisasi Rakyat untuk kebu-
tuhan advokasi sepanjang tidak bertentangan dengan
peraturan berlaku.

Buku saku ini diterbitkan oleh Koalisi KPPA SETAPAK


(Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA),
Perkumpulan Evergreen Indonesia (PEI), Lemba-
ga Bantuan Hukum (LBH) Donggala atas dukun-
gan The Asia Foundation (TAF) melalui Program
Selamatkan Hutan dan Lahan Melalui Perbaikan Tata
Kelola di Sulawesi Tengah (SETAPAK).

ii
Sebuah Pengantar
Puji syukur selalu di panjatkan kepada Sang Khalik kare-
na atas Rahmat-Nya, Buku Saku Panduan Paralegal dapat
diterbitkan dan hadir dihadapan pembaca maupun penggiat
advokasi. Kehadiran buku ini menjadi salah satu pegangan
panduan praktek bagi paralegal.
Kehadiran Buku saku Panduan Paralegal sangat dibu-
tuhkan sebagai upaya penyadaran, mendorong perbaikan,
pemberdayaan dan pembelaan serta penegakan hukum
yang berpihak pada rakyat kecil, kelompok minoritas dan
termarginalkan.
Buku ini ditujukan bagi paralegal dan penggiat advoka-
si serta organisasi masyarakat sipil dan organisasi rakyat
lainnya dalam mengadvokasi persoalan-persoalan Sumber
Daya Alam (SDA) khususnya hutan dan lahan di Sulawesi
Tengah. Dan bentuk penyajian buku ini lugas dan praktis
serta mudah dicerna oleh siapa saja dengan kandungan isi
berupa materi-materi hukum, proses hukum litigasi dan non-
litigasi serta upaya hukum terkait dengan konflik SDA.
Melalui Buku Saku ini diharapkan mampu memberi-
kan prespektif baru sekaligus melengkapi berbagai sum-
ber-sumber pengetahuan advokasi SDA khususnya hutan
dan lahan.
Akhir kata, kami berharap sajian ini dapat memenuhi
harapan bagi paralegal dan penggiat advokasi sebagai
salah satu rujukan dalam berbagai kegiatan advokasi hu-
kum sekaligus menjadi inspirasi bagi siapa saja yang memi-
liki perhatian terhadap upaya peningkatan kapasitas dan
pemberdayaan hukum.

Palu, Mei 2014


Salam hangat,

Mutmainah Korona
Penanggung Jawab Koalisi KPPA Program Setapak
iii
iv
BAB I
KEBERADAAN PARALEGAL
DAN KODE ETIK PARALEGAL
Istilah Paralegal pertama kali dikenal di Amerika
Serikat sejak tahun 1968 yang mengartikan Paralegal
sebagai Legal Asistant yang tugasnya membantu seo-
rang legal yaitu pengacara atau notaris dalam pemberian
saran hukum kepada masyarakat dan bertanggungjawab
langsung kepada legal. Untuk menjadi Legal Asistant
diperlukan kualitas pendidikan tertentu, namun tidak
dapat beracara atau mengesahkan suatu perbuatan hukum.
Sedangkan di Indonesia Paralegal yang dikembangkan
tidak dalam artian legal Asistant sebagaimana di Amerika
Serikat, melainkan Paralegal yang bekerja untuk komunitas
tertentu. Paralegal dilahirkan melalui serangkaian
pendidikan secara komprehensif dan berkelanjutan
guna membangun kesadarannya, dengan harapan
selanjutnya adalah mampu memperjuangkan pemenuhan
hak-hak asasi dari komunitasnya melalui pemberian
layanan bantuan hukum.
Keberadaan Paralegal indonesia di tengah masyarakat
indonesia mempunyai tujuan dan misi, yang secara
konsisiten selalu memperjuangkan pencapaiannya
dengan berperan sebagai wahana untuk memperkuat
dan memberdayakan masyarakat sipil.
Dalam rangka memperjuangkan tercapainya tujuan
tersebut, Paralegal mesti sejalan dengan visi misi konsep
Bantuan Hukum, bantuan hukum terhadap struktur
bawah yang miskin dan buta hukum. Karena tujuan
negara Indonesia selain mencerdaskan kehidupan
bangsa juga mewujudkan kehidupan sosial bagi seluruh
1
rakyat indonesia serta bertujuan mengubah ketidakadilan
struktural ke arah keadilan struktural. Untuk itu Paralegal
memandang persoalan dasar kemiskinan disebabkan
oleh sistem. Dengan demikian Paralegal melihat dirinya
didalam paradigma perubahan sosial, posisi dan perannya
dalam menegakkan supremasi hukum di masyarakat.
Maka konseksuensi pencapaian tujuan itu harus
disertai misi perjuangan dari Paralegal yaitu :

1. Menanamkan, menumbuhkan dan menyebarluas-


kan nilai-nilai negara hukum yang demokratis dan
berkeadilan sosial.
2. Menanamkan dan menumbuhkan sikap kemandi-
rian golongan masyarakat miskin, sehingga
mereka sendiri dapat merumuskan, menyatakan,
memperjuangkan dan mempertahankan, baik
secara individu maupun kolektif hak-hak dan
kepentingan mereka.
3. Memainkan peran bersama masyarakat luas dalam
menentukan arah transisi politik dengan men-
dasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi, HAM
dan keadilan Gender. Menentukan arah transisi
politik berarti memprakarsai dan memanfaatkan
ruang publik atas dasar kepentingan masyarakat.
4. Memberikan layanan dan bantuan hukum bagi
masyarakat miskin maupun marginal tanpa
diskriminasi.

2
KODE ETIK PARALEGAL
Pasal 1
Peran Penting Paralegal

Paralegal berperan penting dalam mendorong tercip-


tanya peluang keadilan bagi masyarakat miskin, buta
hukum dan tertindas terutama yang hidup disekitar
lingkungan tempat tinggal Paralegal guna mendapatkan
dan memperjuangkan hak-hak dasarnya melalui pem-
berian bantuan hukum.

Pasal 2
Nilai-Nilai Dasar Paralegal

1. Kejujuran.
2. Keterbukaan.
3. Berlaku adil.
4. Bertanggung jawab.
5. Anti kekerasan.
6. Berdiri sendiri/tidak terikat oleh apapun.
7. Tidak membeda-bedakan seseorang atas dasar
perbedaan suku, agama, budaya dan jenis kelamin.

Pasal 3
Sikap dan Kepribadian Paralegal

1. Memilik kejujuran.
2. Bersifat kesatria dan berbudi luhur.
3. Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebenaran
dan hak asasi manusia berdasarkan pancasila
dan UUD 1945.
4. Memperjuangkan hak-hak orang miskin, buta

3
hukum dan tertindas tanpa membeda-bedakan
seseorang dalam bentuk apapun.
5. Mampu menjaga kehormatan diri dan nama baik
paralegal.
6. Bertindak bijaksana dan tidak mengabaikan
kepentingan masyarakat.
7. Bersikap terbuka dan mau menerima kritikan
yang bersifat membangun.
8. Mampu memperbaiki diri dan meningkatakan ke-
mampuan dalam menjalankan peranannya.
9. Berfikir objektif dan mampu melakukan analisa
sehingga dapat memahami masalah yang sebe-
narnya dan mencari jalan penyelesaian sebaik
mungkin.
10. Kreatif dalam memanfaatkan cara-cara etis dan
sumberdaya yang ada sehingga dapat digunakan
untuk membantu masyarakat.
11. Mampu menggalang kerjasama dengan berbagai
profesi dalam upaya menemukan masalah yang
sebenarnya dan upaya pemecahannya.
12. Dalam mendampingi kasus-kasus yang bersifat
keperdataan sedapat mungkin menyelesaikan-
nya secara damai dan menghargai aturan, ke-
biasaan-kebiasaan, budaya dan tata nilai yang
berlaku di masyarakat.

Pasal 4
Hubungan Antar Sesama Paralegal

1. Paralegal harus menjalin hubungan baik antar


sesama paralegal berdasarkan prinsip saling

4
menghargai dan menghormati.
2. Paralegal harus saling membantu dan mampu
bekerjasama dengan sesama Paralegal.
3. Paralegal dapat melimpahakan kasus dampingan-
nya kepada paralegal lain dalam hal ada halangan
yang beralasan.

Pasal 5
Hubungan Paralegal dengan Advokat

1. Paralegal harus mampu membina hubungan baik


dengan advokat dan dapat bekerjasama dalam
hal menyelesaikan kasus-kasus masyarakat.
2. Paralegal dapat membantu Advokat dalam
mengumpulkan, menyiapkan dan mendoku-
mentasikan kasus serta membantu membuat
konsep sederhana.
3. Paralegal tidak dibolehkan bekerjasama dengan
advokat untuk mencari keuntungan diri sendiri
dan menjadei pencari kasus (makelar kasus) bagi
advokat.

Pasal 6
Hubungan Paralegal dengan Masyarakat

1. Paralegal harus percaya dan sabar menghadapi


masyarakat dengan mendengarkan mereka.
2. Paralegal harus memiliki rasa percaya diri dan ke-
mauan untuk meningkatkan kemampuan, sehing-
ga memiliki kemandirin dalam membantu kasus
masyarakat.

5
3. Paralegal harus bersikap terbuka dan bertingkah
laku penuh persahabatan dengan masyarakat.
4. Paralegal harus menghormati pengetahuan, ke-
biasaan-kebiasaan, budaya dan tata nilai yang
dimiliki dan berlaku di masyarakat.
5. Paralegal harus terbuka menggambarkan segala
akibat, resiko dan kemungkinan terburuk kepada
masyarakat atas tindakan atau keputusan yang
diambil.
6. Paralegasl harus memberikan informasi apa
adanya dan tidak di bolehkan memberikan infor-
masi yang menyesatkan.
7. Paralegal harus memberikan kebebasan
sepenuhnya kepada masyarakat untuk mencari
pembela kasus yang dihadapinya.
8. Paralegal harus menolak permintaan bantuan
hukum dari masyarakat yang dipandang mam-
pu, kecuali dalam kasus pelanggaran hak asasi
manusia yang meiliki dampak luas terhadap mas-
yarakat.
9. Paralegal harus mampu menjaga kerahasiaan
hal-hal yang bersifat pribadi dan masalah mas-
yarakat yang didampinginya.

Pasal 7
Hubungan Paralegal
Dengan Penegak Hukum Dan Pemerintah

1. Paralegal harus bersikap sepantasnya dengan


menghormati penegak hukum dan pemerintah
sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

6
2. Paralegal dapat bekerjasama dengan penegak
hukum dan pemerintah dalam menyelesaikan
kasus selama menguntungkan masyarakat yang
didampinginya.
3. Paralegal tidak diperbolehkan menjalin hubungan
dengan penegak hukum dan pemerintah untuk
mencari keuntungan diri sendiri dengan mengor-
bankan masyarakat.

Pasal 8
Cara Bertindak menangani Perkara

1. Isi pembicaraan dalam rangka upaya perdamaian


yang dilakukan oleh Paralegal tidak dibenarkan
digunakan sebagai bukti dalam proses peradilan.
2. Paralegal harus mengenalkan identitasnya kepa-
da masyarakat yang membutuhkan bantuan hu-
kum termasuk ruang lingkup kerja Paralegal.
3. Paralegal dalam mendampingi masyarakat harus
mencatatkan perkembangan kasus yang ditan-
ganinya.
4. Paralegal tidak boleh menceritakan rahasia/mem-
bocorkan informasi kasus masyarakat yang ditan-
gani kepada pihak lawan.
5. Paralegal dapat mengundurkan diri dari kasus
yang ditangani/mendampingi masyarakat apabila
timbul perbedaan atau tidak terjadi kesepakatan
mengenai cara penanganan perkara dan nilai-
nilai perjuangan paralegal.
6. Paralegal tidak diperbolehkan mengiklankan dan
mencari publisitas dirinya melalui media massa.
7
Pasal 9
Larangan Bagi Paralegal
1. Menyalahgunakan perannya untuk mempro-
mosikan demi mencapai kepentingan dan keun-
tungan diri sendiri.
2. Memungut, menetapkan dan membebankan bi-
aya-biaya yang memberatkan masyarakat dan
melanggar aturan hukum.
3. Menelantarkan kasus masyarakat tanpa alasan
yang jelas.
4. Merebut kasus masyarakat yang didampingi
paralegal lain.
5. Bersikap dan mengaku diri seperti seorang ad-
vokat.
6. Memberikan harapan dan menjanjikan kemenan-
gan dengan kasus yang didampingi kepada mas-
yarakat.
7. Mendukung dan memperkuat pola-pola membe-
da-bedakan seseorang atas dasar perbedaan
suku, agama, budaya dan jenis kelamin.
8. Berperan serta terjadinya pelanggaran hak asasi
manusia.

Pasal 10
Pelaksanaan Kode Etik

Setiap Paralegal wajib tunduk dan mematuhi kode etik


Paralegal ini.

8
Pasal 11
Pengawasan Dan Pembinaan

1. Dalam rangka pelaksanaan Kode Etik Paralegal,


Kepala Sekretariat Posko Paralegal bersama pen-
gurus Posko Paralegal mempunyai kewenangan
pengawasan dan pembinaan serta memberikan
sanksi kepada Paralegal yang terbukti melakukan
pelanggaran setelah kepada yang bersangkutan
diberikan kesempatan untuk melakukan pembe-
laan diri.

Pasal 12
Tata Cara Pengaduan

Pengaduan terhadap Paralegal sebagai teradu yang


dianggap melanggar Kode Etik harus disampaikan se-
cara tertulis disertai alasan-alasannya kepada posko
paralegal.

Pasal 13
Sanksi Sanksi
1. Hukuman yang diberikan dalam keputusan dapat
berupa :
a. Teguran.
b. Peringatan keras dengan surat.
c. Pemberhentian sementara sebagai Paralegal.
d. Pemberhentian tetap sebagai Paralegal.

2. Dengan pertimbangan atas berat atau ringannya


sifat pelanggaran kode etik Paralegal kode etik
paralegal dapat dikenakan sanksi :
a. Teguran apabila sifat pelanggarannya berat.
9
b. Peringatan keras apabila sifat pelanggarann-
ya berat atau karena mengulangi kembali me-
langgar kode etik dan atau tidak mengindah-
kan sanksi peringatan yang pernah diberikan.
c. Pemberhentian sementara untuk waktu ter-
tentu apabila sifat pelanggarannya berat, tidak
mengindahkan dan atau menghormati keten-
tuan kode etik atau setelah mendapat sanksi
berupa peringatan keras masih mengulangi
pelanggaran kode etik.
d. Pemberhentian tetap sebagai paralegal
dilakukan apabila dilakukan pelanggaran kode
etik dengan maksud dan tujuan merusak citra
dan martabat Paralegal.
3. Pemberian sanksi sementara untuk waktu ter-
tentu harus diikuti larangan untuk menjalankan
kerja-kerja Paralegal.

Pasal 14
Penyampaian Keputusan

Dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas)


hari setelah keputusan dibuat, salinan keputusan pem-
berian sanksi harus disampaikan kepada :
a. Paralegal yang diadukan/Teradu
b. Pengadu/masyarakat yang melaporkan.
c. Instansi-instansi yang dianggap perlu apabila
keputusan telah mempunyai keputusan pasti.

10
11
BAB II
PROSES HUKUM (LITIGASI DAN NON LITIGASI)
A. PROSES PIDANA

CONTOH KASUS PIDANA :


1. Kekerasan akibat perkelahian atau penga-
niayaan
2. Korupsi
3. Pengrusakan
4. Pemalsuan surat dan pemalsuan izin

TERSANGKA :
Bila terjadi penangkapan :
1. Periksa prosedur penangkapan, tanyakan apa
kesalahan yang dituduhkan. Tanyakan surat
perintah penangkapan dan bacalah surat itu
dengan teliti. Surat penangkapan dikeluarkan
oleh kantor polisi atau jaksa untuk kasus pidana
khusus.
Surat perintah penangkapan, minimal isinya
memuat :
a. Identitas lengkap tersangka
b. Pelanggaran pasal/peraturan yang disangka-
kan
2. Hubungi pengacara, lembaga bantuan hukum
atau dalam keadaan darurat paralegal dapat
mendampingi tersangka, jika dalam keadaan
sendirian pada saat penangkapan hubungi kel-
uarga terdekat. Sekalipun tersangka memang
melakukan apa yang dituduhkan, tetap berhak
atas bantuan / pendampingan hukum
12
Hak untuk mendapatkan bantuan hukum,
telah diakomodir di dalam pasal 54, 55, 56 ayat
(1) dan 114 Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP)
3. Dalam proses pemeriksaan kita boleh menolak
memberi kesaksian selama proses pemeriksaan
bila belum didampingi oleh Pengacara. Jika ter-
jadi kekerasan fisik selama proses penyidikan
tersangka, paralegal yang mendampingi segera
untuk meminta visum dokter.
Hak menolak untuk diperiksa, karena tidak
didampingi oleh kuasa hukum adalah hak yang
didasarkan oleh asas Equality before the law
(persamaan didepan hukum) dan Miranda rule.

BILA TERJADI PENANGKAPAN DAN PENAHANAN


1. Pihak yang melaksanakan penangkapan dan
penahanan (Polisi atau Jaksa) wajib memberi
tembusan kepada keluarga tersangka 1 X 24
jam. (Pasal 21 ayat (3) KUHAP)
2. Masa Penahanan (Pasal 24 s/d 28 KUHAP) :

Penyidik / Kepolisian 20 Hari dapat ditambah 40 hari

Penuntut Umum / Jaksa 20 hari dapat ditambah 40 hari

Persidangan Tingkat Pertama 30 Hari dapat ditambah 60 hari

Persidangan Tingkat Banding 30 Hari dapat ditambah 60 hari

Persidangan Tingkat Kasasi 50 Hari dapat ditambah 60 hari

13
3. Syarat-syarat penahanan :
a. Syarat Subjektif :
1. Tersangka / Terdakwa diduga keras melakukan
tindak pidana
2. Berdasarkan bukti yang cukup
3. Dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan
kekhawatiran bahwa tersangka / terdakwa :
- Akan melarikan diri
- Merusak atau menghilangkan barang bukti
- Mengulangi tindak pidana (Pasal 21 ayat 1
KUHAP)
b. Syarat objektif :
1. Tindak pidana yang diancam dengan pidana
penjara 5 tahun atau lebih
2. Tindak pidana yang diancam hukuman kurang
dari 5 tahun, tetapi ditentukan dalam :
- KUHP, yaitu : pasal 282 ayat (3), 296, 335
ayat (1), 351 ayat (1), 353 ayat (1), 372,
378, 379 ayat (a), 453, 454, 455, 459, 480
dan 506.
- Pelanggaran terhadap ordonantie bea cukai.
- Pasal 1, 2 dan 4 Undang-undang no. 8 tahun
1955 tentang tindak pidana imigrasi.

APA HAK-HAK TERSANGKA


BILA TERJADI PENAHANAN :

1. Menghubungi penasehat hukumnya / Paralegal


pendamping (Pasal 57 ayat (1) KUHAP)
2. Segera diperiksa oleh penyidik setelah 1 hari di-
tahan (Pasal 50 KUHAP)

14
3. Menghubungi dan menerima kunjungan pihak
keluarga atau orang lain untuk kepentingan pen-
angguhan penahanan atau usaha mendapatkan
bantuan hukum (Pasal 59 KUHAP)
4. Meminta atau mengajukan penangguhan penah-
anan (Pasal 60 KUHAP)
5. Menghubungi atau menerima kunjungan dokter
untuk kepentingan kesehatan (Pasal 58 KUHAP)
6. Mendapatkan penangguhan penahanan atau pe-
rubahan status tahanan
7. Menghubungi atau menerima kunjungan sanak
keluarga (Pasal 61 KUHAP)
8. Mengirim surat atau menerima surat dari penase-
hat hukum dan sanak keluarga tanpa diperiksa
oleh penyidik/penuntut umum/hakim/pejabat ru-
mah tahanan negara (Pasal 62 KUHAP)
9. Mengajukan keberatan atas penahanan atau je-
nis penahanan kepada penyidik
10. Menghubungi dan menerima kunjungan rohani-
awan (Pasal 63 KUHAP)
11. Bebas dari tekanan seperti : diintimidasi, dita-
kut-takuti, dan disiksa secara fisik.

HAK-HAK KORBAN :
Jika menjadi korban tindak kejahatan :
1. Melaporkan : bisa dilakukan oleh diri sendiri atau
orang yang dipercayai (Paralegal/Pengacara/
LBH/Kepala Desa, dll) kepada Kepolisian setem-
pat. Untuk pidana korupsi, bisa langsung mel-
aporkan ke kantor Kejaksaan Negeri setempat
atau perwakilannya.
15
2. Memantau perkembangan kasus yang sudah
anda laporkan. Bila terjadi kemandegan dalam
penanganan sebuah kasus, korban/pelapor/
paralegal dapat mendatangi kantor aparat hu-
kum untuk menanyakan perkembangan kasus
dan mencatat keterangan yang diberikan.
3. Bila dalam proses penanganan kasus berjalan
tidak transparan, paralegal dapat melakukan
tindakan tekanan bekerjasama dengan LSM,
Pengacara atau rekan-rekan media massa un-
tuk bersama-sama melakukan pemantauan dan
penyebarluasan hasil pemantauan tersebut ke
media massa atau cara penyebaran informasi
yang lain.

B. PROSES PERDATA
CONTOH KASUS PERDATA :
1. Sengketa tanah/lahan
2. Sengketa jual beli
3. Sengketa Lingkungan hidup (Legal Standing)
4. Sengketa ganti kerugian (Class Action)

HAK ATAS TANAH :


1. HAK MILIK
Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan
terpenuh, yang dapat dipunyai orang atas tanah,
yang dapat beralih dan dapat di alihkan kepada
pihak lain (Pasal 6 UUPA).
2. HAK GUNA USAHA (HGU)
HGU adalah hak yang diberikan oleh negara
16
kepada perusahaan pertanian, perusahaan peri-
kanan, perusahaan peternakan, dan perusahaan
perkebunan (Pasal 28 ayat (1), (2), (3) UUPA)
3. HAK GUNA BANGUNAN (HGB)
HGB adalah hak untuk mendirikan dan mempu-
nyai bangunan-bangunan atas tanah yang bu-
kan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling
lama 30 tahun dan dapat di perpanjang paling
lama 20 tahun (pasal 35 ayat (1) dan (2) UUPA)
4. HAK PAKAI
Hak pakai dibagai menjadi dua bagian : hak pri-
vat dan hak khusus. Hak pakai terbatas pada
hak menggunakan dan memunggut hasil dari
tanah yang dikuasai langsung oleh negara, atau
berdasarkan perjanjian hak milik dengan seseo-
rang, namun bukan perjanjian sewa menyewa
(Pasal 41 ayat (1) UUPA).
5. HAK SEWA
Hak sewa adalah hak pakai yang memiliki ciri-ciri
khusus (penjelasan Pasal 10 ayat (1) UUPA).
Persewaan bersifat perseorangan, maksudnya
adalah, menyewa dari seseorang yang telah
mempunyai hak atas tanah, sehingga tidak di-
mungkinkan persewaan tanah yang dikuasai
oleh negara, sebab negara bukan pemilik tanah
(Pasal 44 ayat (1) UUPA).
6. HAK MEMBUKA HUTAN
Berdasarkan statusnya, hutan terdiri dari hutan
negara dan hutan hak (UU No. 41 tahun 1999

17
tentang kehutanan). Membuka hutan dapat di-
artikan sama dengan mengelola hutan dalam
arti luas, karena maksud dari pengelolaan hutan
berkenaan dengan pemanfaatan hutan dan pe-
ngunaan kawasan. Hutan yang secara simultan
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat adalah
hutan yang tidak masuk dalam hutan kawasan,
seperti hutan lindung, suaka dan hutan konser-
vasi.
7. HAK MENGAMBIL HASIL HUTAN
Pasal 67 UU No. 41 tahun 1999 tentang ke-
hutanan
Masyarakat hukum adat berhak untuk melaku-
kan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat
yang bersangkutan
Pasal 66 ayat (2) huruf (a) UU No. 41 tahun 1999
tentang kehutanan
Masyarakat berhak memanfaatkan hutan dan
hasil hutan sesuai dengan peraturan perun-
dang-undangan yang berlaku
8. HAK HAK LAIN
Hak-hak yang tidak termasuk dalam hak-hak
tersebut di atas yang ditetapkan oleh undang-un-
dang, serta hak-hak yang sifatnya sementara
sebagai yang disebutkan dalam pasal 53 UU
Pokok Agraria 1960

18
PROSEDUR GUGATAN PERDATA
(Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum)
PENGGUGAT :
1. Membuat Surat Kuasa;
2. Gelar Perkara;
3. Membuat Surat Gugatan;
4. Memeriksa seluruh kelengkapan dokumen yang
berkenaan dengan proses di Sidang Pengadilan;
5. Mendaftarkan Gugatan ke Pengadilan Negeri;
6. Mediasi;
7. Pemeriksaan di sidang Pengadilan
8. Menyiapkan dan menghadirkan alat bukti, saksi
dan atau Ahli;
9. Membuat surat Replik dan kesimpulan
10. Menyiapkan Memori banding atau Kasasi.

TERGUGAT :

1. Membuat Surat Kuasa;


2. Gelar Perkara;
3. Memeriksa seluruh kelengkapan dokumen yang
berkenaan dengan proses di Sidang Pengadilan;
4. Mediasi;
5. Pemeriksaan di sidang Pengadilan (Eksepsi ter-
hadap Gugatan)
6. Menyiapkan dan menghadirkan alat bukti, saksi
dan atau Ahli;
7. Membuat surat Duplik dan kesimpulan;
8. Menyiapkan Memori Banding atau Kasasi.

19
GUGATAN LEGAL STANDING
(hak Gugat Organisasi Lingkungan)
Syarat formil kriteria organisasi yang dapat mengajukan
gugatan Legal Standing :
1. Berbentuk badan hukum atau yayasan
2. Dalam anggaran dasar organisasi yang ber-
sangkutan menyebutkan dengan tegas tujuan
didirikannya organisasi tersebut adalah untuk
kepentingan publik (lingkungan atau perlindun-
gan konsumen)
3. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan angga-
ran dasarnya. (UU no. 23 tahun 1997, UU no. 8
tahun 1999 dan UU no. 41 tahun 1999)

GUGATAN CLASS ACTION


(Gugatan Perwakilan Kelompok)
Unsur Unsur Class Action terdiri dari :

1. Gugatan Secara Perdata


2. Wakil Kelompok (Class Representative)
3. Anggota Kelompok (Class Members)
4. Adanya Kerugian
5. Kesamaan Peristiwa atau Fakta dan dasar hukum

Syarat Formil dalam mengajukan gugatan class


action :
1. Adanya jumlah anggota yang besar
2. Adanya kesamaan fakta dan dasar hukum
3. Tuntutan dan pembelaan sejenis
4. Wakil kelompok yang jujur.

20
A. PENGORGANISASIAN
DAN SRATEGI ADVOKASI
Advokasi adalah suatu cara terencana dan terorgani-
sir untuk mempengaruhi dan mendesak perubahan kebi-
jakan pemerintah yang merugikan masyarakat. Dulu ke-
giatan advokasi hanya dilakukan oleh para aktivis atau
elit politik, namun sekarang, model advokasi yang lebih
maju justru meletakkan korban kebijakan sebagai sub-
jek utama. Sedangkan aktivis ataupun lembaga advoka-
si hanya sebagai pengantar atau pendukung terhadap
advokasi yang dilakukan masyarakat.

MENGAPA PERLU DILAKUKAN ADVOKASI?


Seringkali suatu kebijakan keluar tanpa pertimbangan
kebutuhan dan atau rasa adil masyarakat. Atau pelaksa-
naan kebijakan tidak berjalan sebagaimana semestinya,
sedangkan pembuat dan atau pelaksana kebijakan tidak
merasa perlu melakukan perubahan kearah yang lebih
baik. Sehingga masyarakat sebagai subyek perubahan
harus mau dan mampu mendesak perubahan tersebut
agar tidak terus menerus dirugikan.

TAHAPAN DALAM STRATEGI ADVOKASI

1. BENTUK LINGKAR INTI


Untuk membuat suatu gerakan yang teror-
ganisir diperlukan beberapa orang sebagai
koordinator dan motivator. Orang-orang
inilah yang bertugas menyusun strategi, men-
gorganisir dan mendorong masyarakat lain un-
tuk ikut lingkar inti yang diantaranya terdiri dari
21
beberapa wakil masyarakat (tokoh masyarakat,
pemuda, atau paralegal). Sebaiknya lingkar inti
dibentuk dari sejak awal gerakan advokasi hing-
ga proses pemantauan.

2. MENGUMPULKAN DATA DAN INFORMASI


Sebelum mengadvokasi sebuah kasus, sebai-
knya sebanyak mungkin dikumpulkan informasi
dan data mengenai apa saja yang berhubungan
dengan kasus dan jangan lupa untuk mencatat
setiap perkembangan kasus.

3. ANALISIS DATA
Berdasarkan data yang terkumpul, dilakukan
analisa apa saja kekurangan dan kekuatan yang
dimiliki masyarakat, untuk menyusun perenca-
naan gerakan ke depan yang lebih terorganisir.

4. BANGUN BASIS (PELIBATAN MASYARAKAT)


Memotivasi masyarakat agar terlibat dalam seti-
ap proses atau tahapan advokasi

5. BANGUN JEJARING
Agar gerakan lebih kuat dan berjalan efektif
perlu sebanyak-banyaknya sekutu untuk diajak
bekerjasama atau membantu melancarkan ad-
vokasi, sekaligus dalam hal ini dilakukan pemba-
gian tugas. Biasanya pada tahapan ini jaringan
dibentuk dengan berbagai latar belakang / profe-

22
si, dapat terdiri dari LSM / organisasi non politik
dan media massa.

6. MELANCARKAN TEKANAN
Advokasi dapat dilakukan dengan cara melaku-
kan tekanan ke berbagai pihak dengan berb-
agai cara, mulai dari yang bersifat lunak, mis-
alnya dengan mempengaruhi pendapat umum
melalui media massa atau dengan mengirim
surat ke berbagai instansi terkait, DPRD dan
badan lainnya. Ataupun dengan yang bersifat
keras misalnya pengerahan massa ke instansi
terkait untuk menyuarakan pendapat (demon-
strasi) dengan berpegang teguh pada salah satu
prinsip kerja advokasi : TIDAK MELAKUKAN
TINDAK PERUSAKAN DAN ATAU TINDAK
KEKERASAN LAIN!!

7. PENGARUHI PEMBUAT DAN PELAKSANA


KEBIJAKAN
Usaha untuk mengajak diskusi instansi terkait
atau wakil dari pemda dan DPRD, dan secara
proaktif memberi tahu para pembuat kebijakan
arti penting penanganan kasus tersebut bagi
masyarakat setempat dan pembangunan secara
umum.

8. MELAKUKAN PEMBELAAN
Pembelaan merupakan salah satu contoh da-
lam tahap melancarkan tekanan, yang dapat

23
dilakukan dengan cara mengajukan gugatan
class action (gugatan kelas) atau untuk kasus
pidana dengan jalan secara rutin dan terpadu
memantau perkembangan penyelesaian kasus.

24
25
BAB III
UPAYA HUKUM TERKAIT DENGAN
KONFLIK-KONFLIK LINGKUNGAN HIDUP
DAN SUMBER DAYA ALAM

Hak Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan


Hidup :
- HAK UNTUK MENGETAHUI
(Right to Know, Meeweten)
- HAK UNTUK MEMIKIRKAN
(Right to Think, Meedenken)
- HAK UNTUK MENYATAKAN PENDAPAT
(Right to Speech, Meespreken)
- HAK UNTUK MEMPENGARUHI PENGAMBIL
KEPUTUSAN
(Right to Participate in Decision Making Process,
Meebeslissen)
- HAK UNTUK MENGAWASI PELAKSANAAN
KEPUTUSAN
(Right to Watch in Implementing of the Decision,
Meetoezien)

SANKSI HUKUM BAGI PENCEMAR DAN PERUSAK


LINGKUNGAN HIDUP :

1. SANKSI PIDANA
Mengenai tindak pidana kejahatan di atur dalam
beberapa pasal yaitu : Pasal 97 s/d 120 jo. Pasal 1
angka 14 dan angka 16. Dari rumusan pasal-pasal
tersebut maka perbuatan yang dianggap sebagai
tindak pidana (kejahatan) dalam UU Perlindungan

26
dan Pengelolaan lingkungan hidup adalah :
1. Perbuatan lingkungan hidup;
2. Perbuatan perusakan lingkungan hidup;
3. Perbuatan lain yang melanggar ketentuan pe-
rundang-undangan yang berlaku.
Secara umum Pasal 97 s/d 120 jo. Pasal 1
angka 14 dan angka 16 menguraikan hal-hal se-
bagai berikut :
a. Tindak pidana dalam UU pengelolaan lingkun-
gan hidup ini di kualifikasikan menjadi dua,
yaitu tindak pidana pencemaran lingkungan
hidup dan tindak pidana perusakan lingkun-
gan hidup (Pasal 1 angka 14 dan angka 16);
b. Tindak pidana dalam UU pengelolaan lingkun-
gan hidup ini di kualifikasikan/digolongkan pada
tindak kejahatan (formulasi Pasal 97) dengan
kata lain UU ini tidak mengenal adanya tindak
pidana pelanggaran;
c. Dari sudut kesalahan pelaku atau sikap batin
pelaku, UU Pengelolaan Lingkungan Hidup
ini merumuskan tindak pidana yang dilakukan
dengan sengaja (dolus), atau karena keal-
paan (culpa);
d. Dari sudut pelaku pencemaran, pelaku tidak
hanya orang sebagai pribadi (Recht Persoon)
dan orang alamiah (Naturlijk Persoon) tetapi
juga termasuk badan hukum.
e. Dari sudut bentuk formulasi tindak pidana terdiri
dari tindak pidana materil dan tindak pidana
formil;

27
2. SANKSI PERDATA
Pasal 87 ayat (1) UU Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa :
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau ke-
giatan yang melakukan perbuatan melanggar
hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian
pada orang lain atau lingkungan hidup wajib
membayar ganti rugi dan/atau melakukan tin-
dakan tertentu. Ayat ini merupakan realisasi asas
yang ada dalam lingkungan hidup yang disebut asas
pencemar membayar, yang diadopsi dari pasal 1365
BW (kitab Undang-undang Hukum Perdata).
Selain diharuskan membayar ganti rugi, pencemar
dan atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibe-
bani oleh hakim untuk melakukan tindak hukum ter-
tentu, misalnya, perintah untuk :
1. Memasang atau memperbaiki unit pengelolaan
limbah sehingga limbah sesuai dengan baku
mutu lingkungan;
2. Memulihkan fungsi lingkungan hidup;
3. Menghilangkan atau memusnahkan penye-
bab timbulnya pencemaran dan atau perusak
lingkungan hidup.
Selain pembebanan untuk melakukan tindakan ter-
tentu sebagaimana disebutkan dalam Pasal 87 ayat
(1) UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, agar penanggu-
ng jawab usaha dan atau kegiatan usaha secepat
mungkin menyelesaikan tindakan tertentu itu maka
hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa

28
atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tinda-
kan tertentu tersebut.

3. SANKSI ADMINISTRASI
Dalam kerangka penegakan hukum lingkungan,
maka sanksi hukum administrasi yakni berupa pen-
genaan paksaan pemerintahan (Bestuursdwang)
merupakan salah satu yang paling efektif dan paling
banyak digunakan, selain pencabutan izin.
Pasal 119 UU Perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup menyatakan bahwa selain keten-
tuan pidana sebagaimana dimaksud dalam KUHP
dan undang-undang ini, terhadap pelaku tindak pi-
dana lingkungan dapat pula dikenakan tindakan tata
tertib berupa :
a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari
tindak pidana; dan atau
b. Penutupan seluruhnya atau sebagian perusa-
haan; dan atau
c. Perbaikan akibat tindak pidana; dan atau
d. Pewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan
tanpa hak; dan atau
e. menempatkan perusahaan di bawah pengam-
puan paling lama 3 tahun.
Pasal 76 UU Perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup memberikan wewenang kepada
gubernur/kepala daerah propinsi untuk melakukan
paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab
usaha dan atau kegiatan untuk mencegah dan
mengakhiri terjadinya pelanggaran, serta menang-
gulangi akibat yang ditimbulkan oleh sesuatu pe-

29
langgaran, melakukan tindakan penyelamatan, pen-
anggulangan dan atau pemulihan atas beban biaya
penanggung jawab usaha dan atau kegiatan, kecua-
li ditentukan lain berdasarkan undang-undang.
Wewenang gubernur /kepala daerah propinsi
untuk melakukan paksaan pemerintahan terhadap
penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dapat
di serahkan kepada bupati/walikota/kepala daerah
kabupaten/kota dengan peraturan daerah propinsi.

30