Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM GENETIKA

LALAT BUAH Drosophila sp.

Disusun oleh :

Danny Pradoko (15308141039)


Rida Agustin (15308141053)
Yuli Ana Dwi H. (15308141055)
Isnani Deyana Andini (15308144005)
Wicak Aji Pangestu (15308144009)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
A. JUDUL
Lalat Buah Drosophila sp.
B. TUJUAN
1. Dapat membuat media pemeliharaan Drosophila sp.
2. Dapat membedakan jenis kelamin Drosophila sp.
3. Mengetahui jenis-jenis mutan Drosophila sp. yang dipakai dalam praktikum dan dapat
mengidentifikasinya berdasarkan pengamatan morfologis
4. Mengetahui siklus hidup lalat buah Drosophila sp.
5. Mengetahui pola pewarisan pada persilangan monohibrid lalat buah Drosophila sp.
6. Mengetahui apakah hasil persilangan (F1 dan F2) sesuai dengan Hukum Mendel

C. DASAR TEORI
Drosophila sp.
Penelitian tentang Drosophila sp., diawali oleh Thomas Hunt Morgan, seorang ahli
embriologi pada Columbia University. Dialah orang pertama yang menghubungkan suatu
gen tertentu dengan kromosom khusus pada awal abad kedua puluh. Morgan memilih satu
spesies lalat buah (Drosophila sp.), yaitu sejenis serangga yang umumnya tidak berbahaya
dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah (Campbell, 2002).
Drosophila sp. atau lalat buah memegang peranan yang pentingdalam beberapa
pengujian genetika, seperti dalam pengujian Hipotesis Mendel, baik Hukum Mendel 1 atau
Hukum Segregasi dan Hukum Mendel II atau Hukum Pemisahan Secara Bebas, pautan seks,
crossing over, kromosom politen dan lain sebagainya. Karakteristik ini menjadikan lalat
buah menjadi organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik.

Gambar 1. Drosophila sp. (Ghostrecon, 2008)


Ciri Drosophila sp.
Drosophila sp. normal memiliki ciri-ciri sebagai berikut: panjang tubuh lalat dewasa 2-3
mm, imago betina umumnya lebih besar dibandingkan dengan yang jantan, tubuh berwarna
coklat kekuningan dengan faset mata berwarna merah berbentuk elips. Terdapat pula mata
oceli yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil dari mata majemuk, berada pada bagian atas
kepala, di antara dua mata majemuk, berbentuk bulat. Selain itu, Drosophila sp. normal
memiliki antena yang berbentuk tidak runcing dan bercabang-cabang dan kepala berbentuk
elips. Thorax berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan warna dasar putih. Abdomen
bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang terletak pada abdomen. Sayap
Drosophila normal memiliki ukuran yang panjang dan lurus, bermula dari thorax hingga
melebihi abdomen lalat dengan warna transparan (Dimit, 2006).
1. Media pemeliharaan Drosophila sp.
Pemeliharaan stock Drosophila melanogaster dapat digunakan berbagai macam-
macam medium. Medium yang mula-mula dipergunakan adalah campuran antara pisang
ambon dan tape ketela pohon dengan perbandingan 6 : 1. Medium tersebut dipakai
selama lebih dari 15 tahun. Pada tahun 1984 mulai digunakan beberapa medium yang
dicobakan untuk dapat pula pemeliharaan jenis-jenis Drosophila sp. lainnya dan beberapa
tahun terakhir ini telah digunakan resep yang baru. Hal ini disebabkan oleh karena
kualitas tape dan pisang ambon yang tidak seragam, sehingga dirasakan perlu untuk
memperoleh medium yang lebih padat dan dapat diandalkan. Resep baru yang akan
dipakai merupakan modifikasi dari resep yang telah ada dan yang disesuaikan dengan
kondisi Indonesia (Hartati, 2009).
Pembiakkan dan pemeliharaan Drosophila melanogaster di laboratorium dapat
menggunakan media makanan campuran antara yeast dan buah buahan masak (Wiyono,
1986). Drosophila sp. dapat menggunakan bahan makanan diantaranya adalah media
pisang, tepung jagung, tepung jagung-molases-media gandum, tepung terigu (Demerec
dan Kaufmann. 1961), tepung-tetes tebu-agar, ragi-gula-agar (Shorrock, 1972), ubi jalar
rebus dicampur ragi (Erlina, 1985), campuran bahan air, sirop karo, agar, pisang dan
penambahan alkohol 90-95%; air, agar, sirop karo (putih), hancuran pisang, Dried
Brewers Yeast dan Moldex (15 % larutan dalam 95% etanol); campuran pisang dan tape
singkong dengan perbandingan 6:1 (Wiyono, 1986), pisang-tape, tepung gula-pisang-ragi
(Iskandar, 1987).
Biasanya Lalat buah (Drosophila sp.) dikembangbiakan dalam botol medium,
mediumnya dapat terdiri dari: Molase, agar Molase, agar Pisang atau campuran antara
Pisang dengan tape singkong dengan perbandingan 6:1. Jenis medium yang paling
banyak digunakan adalah medium yang terdiri dari campuran antara pisang dengan tape
singkong. Jenis medium ini juga biasanya digunakan untuk pemeliharaan (Silvia, 2003).
Bahan yang digunakan untuk membuat medium kultur Drosophila melanogaster
adalah pisang raja masak sebagai bahan makanan yang disukai oleh Drosophila sp.
antifungal untuk mengontrol pertumbuhan jamur, fermipan untuk mengubah gula
kompleks menjadi gula sederhana dan untuk menumbuhkan jamur sebagai makanan
Drosophila sp., gula aren sebagai sumber gula atau karbohidrat, agar untuk memadatkan
medium, asam sorbat/benzoate untuk mencegah kontaminan dari luar dan aquadest
sebagai pelarut (Strickberger, 2001).
Pemakaian Moldex berguna untuk menghalangi pertumbuhan jamur pada
permukaan media makanan. Penambahan alkohol 90-95% dapat digunakan sebagai bahan
sterilisasi pada media pemeliharaan lalat. (Wiyono, 1986). Daya tarik lalat buah pada
variasi bahan makanan tergantung pada kondisi lingkungan dan speciesnya. Makanan
akan mempengaruhi jumlah telur pada lalat buah betina dan perkembangan larvanya
(Shorrock, 1972).
2. Morfologi Drosophila sp. jantan dan betina
Adapun ciri umum dari Drosophila sp. diantaranya, warna tubuh kuning
kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang, berukuran kecil,
antara 3-5 mm, urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus
dekat dengan tubuhnya, sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12
percabangan, mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah, terdapat
mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
Kepala berbentuk elips, thorax berbulubulu dengan warna dasar putih, sedangkan
abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam, sayap panjang, berwarna transparan, dan
posisi bermula dari thorax (Ashburner, 1989).
Ada beberapa tanda yang dapat digunakan dalam membedakan antara lalat jantan
dan lalat betina, yaitu bentuk abdomen pada lalat betina kecil dan runcing, sedangkan
pada lalat jantan membulat. Tanda hitam pada ujung abdomen juga digunakan sebagai ciri
yang dapat membedakan antara jantan dan betina. Ujung abdomen lalat jantan berwarna
gelap, sedangkan pada betina tidak. Jumlah segmen pada lalat jantan hanya 5, sedang
pada betina ada 7. Lalat jantan memiliki sex comb, berjumlah 10, terdapat pada sisi
paling atas kaki depan, berupa bulu rambut kaku dan pendek. Lalat betina memiliki 5
garis hitam pada permukaan atas abdomen, sedangkan pada lalat jantan hanya 3 garis
hitam. Lalat jantan mempunyai sex comb (sisir kelamin) pada kaki depannya, sehingga
dapat digunakan sebagai alat identifikasi, sedangkan lalat betina tidak memiliki sisir
kelamin. Lalat betina mempunyai tanda berwarna gelap atau hitam pada abdomen bagian
dorsal sedangkan pada lalat jantan tidak ada (Herskowitz, 2007).
Lalat buah (Drosophilla sp.) jantan dengan lalat buah (Drosophilla sp.) betina,
keduanya dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologi yang dimiliki oleh keduanya.
Perbedaan morfologi tersebut diantaranaya adalah :
a. Lalat buah (Drosophilla sp.) jantan memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan lalat
buah (Drosophilla sp.) betina.
b. Lalat buah jantan (Drosophilla sp.) mempunyai sisir kelamin (sex comb) namun lalat
buah betina tidak. Sisir kelamin ini digunakan pada saat kopulasi yang dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop (Jones & Rickards, 1991: 51).
c. Lalat buah (Drosophilla sp.) jantan pada bagian abdomen posterior tubuhnya berbentuk
tumpul dengan pola pita berfusi sedangkan pada betina bagian abdomen posterior
tubuhnya berbentuk lancip dengan pola pita tidak berfusi.

Gambar 2. Lalat buah jantan dan betina

3. Morfologi Mutan pada Drosophila sp.


. Mutasi adalah perubahan pada materi genetic suatu makhluk hidup yang terjadi
secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup yang
bersifat terwariskan (heritable). Selain itu, mutasi juga dapat diartikan sebagai perubahan
struktural pada rangkaian DNA dalam suatu kromosom yang dapat terjadi karena faktor
luar (mutagen). Peristiwa terjadinya mutasi disebut sebagai mutagenesis, organisme yang
mengalami mutasi disebut dengan mutan, dan faktor yang menyebabkan terjadinya mutsi
adalah mutagen (Warianto, 2011). Walaupun mutasi bersifat merugikan, tetapi dalam
beberapa hal juga bermanfaat bagi manusia, yaitu untuk meningkatkan kualitas dan hasil
produk pangan, menambah keanekaragaman, proses penting untuk evolusi dan variasi
genetika (Zalkandary, 2010).
Menurut kejadiannya, mutasi dapat terjadi secara spontan dan dapat juga terjadi
secara induksi. Mutasi spontan adalah mutasi yang terjadi akibat adanya sesuatu pengaruh
yang tidak jelas, baik dari lingkungan maupun dari internal organisme itu sendiri.
Sedangkan mutasi terinduksi adalah mutasi yang terjadi akibat adanya paparan dari
sesuatu yang jelas, misalnya paparan sinar ultraviolet (Warianto, 2011).
Mutasi pada Drosophila sp. dibagi menjadi tiga, yaitu, mutasi pada tubuh, mutasi
pada mata, dan mutasi pada sayap. Mutasi pada tubuh Drosophila sp. menyebabkan
Drosophila sp. memiliki tubuh berwarna hitam, disebut mutan black; sedangkan mutan
yang memiliki warna tubuh gelap disebut ebony; dan mutan yang memiliki tubuh
berwarna kuning disebut yellow. Ketiga muatan tersebut bersifat resesif. Mutasi pada
mata Drosophila sp. yang menyebabkan Drosophila sp. memiliki mata berwarna putih
adalah white. Warna putih pada mata Drosophila sp. disebabkan karena tidak adanya
pigmen pteridin. Eyemissing adalah mutan Drosophila sp. yang tidak memiliki mata.
Lobe adalah mutan yang memiliki mata mereduksi atau mengecil. Mutasi pada sayap
Drosophila sp. yang menyebabkan Drosophila sp. memiliki sayap melengkung ke atas
adalah curly. Taxi adalah mutan yang sayapnya saling menjauh. Miniature adalah mutan
yang memiliki sayap sama dengan panjang tubuhnya (Classical Genetic Simulator, 2000:
1).
Dari penjelasan di atas, maka jenis-jenis mutan Drosophila sp. adalah sebagai
berikut:
a. Dumpy, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri sayap lebih pendek
hingga dua pertiga panjang normal dengan ujung sayap tampak seperti terpotong.
Rambut pada dada tampak tidak sama rata. Sayap pada sudut 90 o dari tubuh dalam
posisi normal mereka (Borror et al., 1998).
b. Sepia, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri mata berwarna
cokelat hingga hitam akibat adanya kerusakan gen pada kromosom ketiga, lokus 26
(Russell, 1994: 113).
c. Clot, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri mata berwarna marun
yang semakin gelap menjadi coklat seiring dengan pertumbuhan usia (Borros et al.,
1994).
d. Ebony, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri tubuh berwarna
gelap hampir hitam. Warna hitam disebabkan adanya mutasi pada kromosom ketiga
sehingga pigmen hitam menumpuk di seluruh tubuh (Borros et al., 1994).
e. Curly, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri bentuk sayapnya
keriting. Hal ini terjadi karena adanya mutasi pada kromosom kedua (Borros et al.,
1994).
f. White, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri mata berwarna putih.
Hal ini terjadi karena adanya kerusakan pada gen white yang terletak pada kromosom
pertama lokus 1,5 dan benar-benar tidak menghasilkan pigmen merah sama sekali
(Pal, 1992: 51).
g. Eyemissing, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri mata berupa
titik, mengalami mutasi pada kromosom ketiga dalam tubuhnya, sehingga mata tidak
tersebntuk sebagaimana Drosophila sp. yang normal (Russell, 1994: 113).
h. Claret, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri mata berwarna
merah anggur atau merah delima (ruby). Hal ini disebabkan karena terjadi mutasi
pada kromosom ketiga, lokus 100,7 (Russell, 1994: 113).
i. Miniature, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri sayap berukuran
sangat pendek. Drosophila sp. dengan sayap vestigial ini tidak mampu terbang.
Miniature memiliki kerusakan dalam gen vestigial pada kromosom kedua.
j. Taxi, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri sayap yang terentang
baik ketika terbang maupun hinggap (istirahat). Mutasi terjadi pada kromosom
ketiga, lokus 91,0 (Russell, 1994: 113).
k. Black, merupakan mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri seluruh tubuhnya
berwarna hitam akibat adanya kerusakan gen black pada kromosom kedua, lokus
48,5 (Borror et al., 1998).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengamatan Drosophila sp. adalah jenis
kelamin, warna mata, keadaan sayap, dan warna tubuh. Cara termudah menentukan seks
Drosophila sp.adalah dengan melihat bagian abdomen posterior Drosophila sp. Apabila
abdomennya berfusi atau lebih hitam, maka Drosophila sp. tersebut adalah jantan.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah warna mata. Warna mata pada Drosophila sp.
dapat dilihat dengan jelas jika menggunakan mikroskop. Dengan demikian, dapat
diketahui bahwa Drosophila sp. yang diamati merupakan mutan atau bukan. Pengamatan
selanjutnya adalah pada bagian sayap. Sayap Drosophila sp. dapat dilihat menggunakan
lup maupun mikroskop. Jika panjang sayapnya melebihi dari panjang tubuh, maka
Drosophila sp. tersebut adalah normal. Jika sayap Drosophila sp. melengkung ke atas,
saling menjauh, atau panjangnya sama dengan panjang tubuh, maka Drosophila sp.
tersebut adalah mutan. Warna tubuh Drosophila sp. yang normal cokelat muda keabu-
abuan, jika bukan warna tersebut, maka besar kemungkinan Drosophila sp. tersebut
adalah mutan.

4. Siklus Hidup Drosophila sp.


Gambar 3. Siklus Hidup Lalat Buah (Flagg, 1968)
Menurut Elseth dan Baumgardner (1984), Lalat Dosophila mempunyai siklus
hidup yang sangat pendek yaitu sekitar 12 hari pada suhu kamar. Kondisi dibawah ideal
dapat menghasilkan 25 keturunan tiap tahun. Tiap lalat betina dapat menghasilkan telur
sebanyak 100 butir dan dari jumlah tersebut separuh akan menjadi lalat jantan dan
separuhnya lagi akan menjadi lalat betina. Siklus hidup lalat ini akan semakin pendek
apabila kondisi lingkungannya tinggi.
Drosophila sp. mempunyai empat stadium metamorfosis, yaitu telur, larva, pupa,
dan imago. Telur lalat buah berbentuk bulat panjang, berwarna putih. Telur tersebut akan
mengalami perkembangan selama kurang lebih 24 jam dan menetas menjadi larva
(Hartati, 2008). Drosophila sp. melalui tiga tahapan larva, dimana larva makan, tumbuh,
dan larva berganti kulit. Apabila larva sudah dewasa, kemudian akan keluar dari buah dan
memasuki stadium pupa tepat di bawah permukaan tanah. Setelah itu keluarlah serangga
muda (imago) yang kemudian menjadi dewasa (Campbell, 2003).
Siklus hidup lalat buah berkisar sekitar 10 hari sampai 2 minggu. Telur berbentuk
lonjong dengan panjang kira-kira 0,5 mm. Pada ujung anteriornya terdapat dua tangkai
kecil seperti sendok. Pada spesies lainnya bentuk tersebut jumlahnya lebih dari 2.
Pertumbuhan dimulai segera setelah fertilisasi, yang di bagi menjadi 2 tahap:
a. Periode embrionik di dalam telur: dimulai setelah fertilisasi sampai menetas.
b. Periode post embrionik: larva (instar 1, instar 2, instar 3), pupa dan imago.
(Tim Genetika Jurdik Biologi FMIPA UNY, 2012 :5) .

Kebanyakan penemuan di bidang genetika didapatkan melalui penelitian dengan


menggunakan lalat tersebut sebagai bahan, dikarenakan lalat ini kecil sehingga suatu
populasi yang besar dapat dipelihara dalam laboratorium, daur hidup sangat cepat, tiap 2
minggu dapat dihasilkan satu generasi dewasa yang baru, lalat ini sangat subur yang
betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya yang pendek itu
(Kimball, 2001).Lama pertumbuhan lalat buah bervariasi, pada suhu 25 oC siklus hidup
diselesaikan kira-kira 10 hari tetapi suhu 20oC dapat mencapai 15 hari. Pada pemanasan
terus menerus di atas suhu 30oC dapat menyebabkan lalat steril (Mahmud, 2014).
5. Persilangan Monohibrid
Persilangan monohibrid adalah persilangan antar dua spesies yang sama dengan
satu sifat beda. Persilangan monohibrid ini sangat berkaitan dengan hukum Mendel I atau
yang disebut dengan hukum segregasi. Hukum ini berbunyi Pada pembentukan gamet
untuk gen yang merupakan pasangan akan disegregasikan ke dalam dua anakan.
Hukum Mendel I berlaku pada gametogenesis F1 x F1 memiliki genotip heterozigot. Gen
yang terletak dalam lokus yang sama pada kromosom, pada waktu gametogenesis gen
sealel akan terpisah, masin-masing menuju ke satu gamet (Yatim, 1986). Pada percobaan
dapat dilakukan dengan cara penyilangan lalat mutan dengan lalat tipe liar (wild).
Percobaan ini akan diujikan pada lalat Drosophila dengan maksud untuk membuktikan
hukum Mendel I.
6. Uji Kai Kuadrat (X2)
Seringkali dalam melakukan percobaan kita tidak akan memperoleh hasil yang
sesuai dengan yang kita harapkan. Agar supaya mantap bahwa hasil yang nampaknya
menyimpang itu masih dapat kita anggap sesuai (artinya masih dapat kita pakai), maka
perlu sekali dilakukan pengujian tes X2 (Suryo, 2008).
Rumus yang digunakan adalah:
d2
X2 = e
Dengan:
d = deviasi/penyimpangan yaitu selisih antara hasil yang diperoleh (observed) dan hasil
yang diramal (expected)
e = hasil yang diramal/diharapkan (expected)
Jadi d = o e
Dalam perhitungan, harus diperhatikan derajat kebebasan yang nilainya sama
dengan jumlah kelas fenotip dikurangi dengan satu. Setelah dihitung harga X 2, maka
selanjutnya kita menggunakan tabel X2. Dalam tabel itu, deretan angka paling atas
mendatar merupakan nilai kemungkinan. Kolom sebelah kiri tegak lurus memuat angka-
angka yang menunjukkan besarnya derajat kebebasan. Angka-angka lainnya adalah X2
(Suryo, 2008: 162-163). Berikut ini tabel distribusi X2:

Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat di bawah kolom nilai
kemungkinan 0,05, itu berarti bahwa data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini
disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada faktor lain di luar faktor
kemungkinan berperanan di situ. Jika nilai X2 yang didapat berada di dalam kolom
kemungkinan 0,01 berarti data yang diperoleh dari percobaan buruk sekali. Nilai X 2 itu
disebut sangat berarti (highly significant). Ini disebabkan karena penyimpangan sangat
berarti dan faktor di luar faktor kemungkinan besar peranannya (Suryo, 2008: 162-163).
7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Viabilitas Drosophila sp.
Menurut Miller (2000), ada beberapa faktor yang mempengaruhi viabilitas
Drosophila sp yaitu :
1. Suhu lingkungan
Kultur Drosophila sp. sebaiknya dijaga pada suhu ruangan. Perlu
diperhatikan adanya peningkatan suhu dalam botol kultur akibat proses fermentasi
ragi. Lingkungan dengan suhu rendah dapat merusak viabilitas Drosophila sp. dan
memperpanjang siklus hidupnya. Suhu kultur Drosophila sp. sebaiknya diusahakan
agar tetap konstan karena pada suhu yang beruktuasi kemungkinan Drosophila sp.
mati lebih besar dari pada pada suhu yang konstan. Selain, itu uktuasi suhu
lingkungan dapat mengurangi kemampuan reproduksi Drosophila sp.
2. Ketersediaan Nutrisi
Nutrisi dalam kultur berpengaruh pada viabilitas telur. Tidak semua telur
dapat berkembang menjadi larva, salah satunya disebabkan oleh jenis makanan yang
dimakan oleh Drosophila sp. betina. Jika lalat betina dipelihara pada kondisi yang
sesuai, viabilitas telur (telur yang dapat berkembang menjadi larva) akan mencapai
jumlah maksimum. Selain jenis makanan, viabilitas telur juga dipengaruhi oleh
jumlah makanan yang dikonsumsi lalat betina saat masih berupa larva.
3. Kepadatan dalam Kultur
Kepadatan dalam kultur mempengaruhi kemampuan lalat dewasa untuk
bertahan. Kepadatan populasi yang tinggi dapat menekan produksi telur oleh lalat
betina.
4. Pencahayaan
Umumnya, Drosophila sp. menyukai cahaya yang remang-remang. Intensitas
cahaya yang terlalu tinggi dapat mempercepat siklus hidup lalat buah.
5. Kelembaban udara
Seperti yang tersirat dari namanya Drosophila yang berarti dew lover,
Drosophila sp. adalah hewan yang tinggal pada lingkungan yang lembab.
Kelembaban udara optimum bagi Drosophila sp. adalah 60%.

D. METODE
1. Alat dan Bahan
- Mikroskop stereo dan binokuler - Drosophila sp. tipe liar
- Kaca pembesar - Drosophila sp. tipe mutan
- Kuas - Eter
- Kaca objek - Tegosept
- Cawan petri - Fermipan
- Oven - Gula Jawa
- Blender - Pisang ambon masak
- Botol kultur dan tutup dari busa - Label
- Corong - Air
- Plastik - Kertas saring
- Gelas bekas air mineral - Buah yang masak
- Lemari pendingin - Kapas
- Karet/rafia
2. Cara Kerja
a. Pembuatan Media Pemeliharaan Lalat Buah
1) Menimbang buah pisang sebanyak 500 gram (tanpa kulit)
2) Memblender pisang tersebut dengan air 100 ml
3) Menimbang gula jawa sebanyak 150 gram
4) Merebus gula jawa ke dalam 400 ml air dan diaduk-aduk
5) Menambahkan pisang yang telah diblender ke dalam panci berisi rebusan gula
jawa kemudian diaduk-aduk
6) Melarutkan 7,5 gram agar-agar ke dalam 100 ml air
7) Memasukkan larutan agar-agar ke dalam panci yang berisi pisang dan gula jawa,
kemudian diaduk-aduk
8) Menambahkan tegosept sebanyak 7 ml ke dalam panci yang berisi bahan-bahan
tadi, kemudian mengaduknya hingga mendidih
9) Menyiapkan botol yang sebelumnya telah disterilkan dan menaruhnya diatas
nampan dalam keadaan tengkurap
10) Mematikan kompor setelah adonan mendidih
11) Memasukkan adonan ke dalam masing-masing botol sebanyak satu sendok besar
12) Memasukkan kertas saring untuk menyerap kelebihan air pada media
13) Menunggu hingga dingin dengan menutupnya dengan aluminium foil
14) Menambahkan 7 butir fermipan setelah media dingin
15) Media siap digunakan (botol ditutup dengan busa yang telah disterilkan
sebelumnya)
b. Penangkapan Lalat Buah di Alam
1) Menyiapkan gelas bekas air mineral yang bersih
2) Memasukkan potongan buah yang masak
3) Meletakkan di tempat yang terbuka. Menjaga jangan sampai ada semut yang
masuk
4) Menutup botol dengan plastik setelah jumlah lalat yang masuk ke dalam botol
banyak
5) Mengikat plastik penutup botol dengan karet/rafia
6) Memindahkan lalat pada botol biakan yang telah berisi media
c. Eterisasi
1) Menyentakkan botol pada telapak tangan secara perlahan, supaya lalat buah yang
menempel pada tutup busa jatuh ke bawah
2) Memindahkan lalat buah ke botol kosong dengan bantuan corong
3) Menutup botol berisi lalat buah dengan sumbat busa
4) Memasukkan kapas yang telah ditetesi eter ke dalam botol berisi lalat melalui
sela-sela sumbat busa
5) Memindahkan lalat ke cawan petri
6) Melakukan pengamatan dengan cepat karena lalat akan terbius selama 1-2 menit.
Apabila pengamtan belum selesai lalat sudah sadar, maka melakukan pembiusan
sekali lagi
7) Setelah pengamatan lalat dimasukkan lagi ke botol medium
d. Pengamatan Jenis Kelamin
1) Melakukan eterisasi
2) Mengamati lalat buah yang telah ditangkap
3) Membedakan jenis kelamin lalat betina dan jantan, kemudian mendokumentasikan
kedua jenis lalat tersebut, sehingga tampak jelas perbedaan kedua jenis kelamin
lalat tersebut
e. Pengamatan Mutan
1) Melakukan eterisasi
2) Setelah terbius, lalat dipindahkan ke cawan petri untuk diamati morfologinya
3) Mengamati : warna mata, bentuk dan ukuran sayap, warna dan ukuran tubuh serta
jenis kelaminnya.
f. Persilangan Monohibrid (menggunakan satu macam mutan) dan Pengamatan Siklus
Hidup
1) Melakukan eterisasi
2) Memilih 3 lalat betina tipe liar (wild) dan 3 lalat jantan tipe mata putih (white)
3) Memasukkan 3 lalat betina tipe liar (wild) dan 3 lalat jantan tipe mata putih (white)
yang terpilih ke dalam media dengan cara meletakkan lalat di atas kertas saring
(posisi botol media miring). Kemudian membiarkan hingga semua lalat sadar, baru
kemudian botol ditegakkan
4) Memberi label : P (singkatan dari Parental), tanggal persilangan, jenis lalat yang
disilangkan (betina tipe wild dan jantan tipe white) dan nama kelompok.
5) Mengamati perkembangan hasil persilangan setiap hari, misalnya terdapat telur,
larva instar 1, 2, 3, prapupa, pupa, pigmentasi pupa dan keluarnya lalat dewasa
(imago). Mencatat tanggal imago F1 pertama kali muncul.
6) Jika imago F1 sudah muncul, maka dilakukan perhitungan jumlah F1. Jumlah F1
diperoleh dengan cara menghitung semua lalat yang terdapat pada media kemudian
hasil perhitungan yang didapat dikurangi jumlah parental. Setelah jumlah F1
diperoleh, langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah lalat betina dan lalat
jantan serta jumlah lalat wild dan white pada masing-masing jenis kelamin.
7) Setelah itu, melakukan persilangan antara F1 X F1, yaitu dengan cara memilih 3
betina F1 dan 3 jantan F1. Kemudian memasukkan 3 betina F1 dan 3 jantan F1 ke
dalam media baru dengan meletakkan lalat di atas kertas saring (posisi botol media
miring). Kemudian membiarkan hingga semua lalat sadar, baru kemudian botol
ditegakkan.
8) Memberi label F1 X F1, tanggal persilangan, jenis lalat yang disilangkan dan nama
kelompok.
9) Mengamati perkembangan hasil persilangan setiap hari, misalnya terdapat telur,
larva instar 1, 2, 3, prapupa, pupa, pigmentasi pupa dan keluarnya lalat dewasa
(imago). Mencatat tanggal imago F2 pertama kali muncul.
10) Jika imago F2 sudah muncul, maka dilakukan perhitungan jumlah F2. Jumlah F2
diperoleh dengan cara menghitung semua lalat yang terdapat pada media kemudian
hasil perhitungan yang didapat dikurangi jumlah parental. Setelah jumlah F2
diperoleh, langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah lalat betina dan lalat
jantan serta jumlah lalat wild dan white pada masing-masing jenis kelamin.
11) Melakukan uji chi square untuk hasil persilangan (F1 dan F2)

E. HASIL PENGAMATAN
1. Pengamatan Jantan dan Betina
Lalat Jantan () Lalat betina ()

- Ukuran tubuh lebih kecil dari betina - Ukuran tubuh lebih besar
- Memiliki ujung abdomen bulat atau dari jantan
tumpul - Memiliki ujung abdomen
- Ujung abdomen berwarna hitam meruncing
- Tidak memiliki warna hitam
pada ujung abdomen

(Flagg, 1968)
(Flagg, 1968)

2. Pengamatan Mutan
Ciri Morfologi yang Tampak Jenis Lalat

Mata berwarna merah, sayap membuka


Taksi
(terentang) ke sisi kanan dan kiri.
Mata berwarna putih, sayap lurus ke
belakang, panjang sayap melebihi panjang White
tubuh

3. Persilangan Monohibrid
- Jenis lalat yang disilangkan : Wild dan White
- Tanggal persilangan induk : 26 September 2017
- Tanggal imago F1 muncul pertama kali: 3 Oktober 2017
- Tanggal imago F2 muncul pertama kali: 10 Oktober 2017
Persilangan F1
P : XWXW x XwY
Wildtype White
W
Gamet : X Xw
XW Y

F1

XW XW

Xw XWXw XWXw

Y XWY XWY

Rasio
XWXw : XWY
Normal : Normal
50% : 50%
Hasil praktikum F1 :
Total = 103
Normal carier = 79
Normal = 31
Terbang =3
Mati =0

X2 tabel
Fenotip Genotip O E d d2 d2/E 5%, df=
1
x 103
Normal XWXw 79 -27,50 756,25 14,68
= 51,50

x 103
Normal XWY 31 20,50 420,25 8,16
= 51,50 3,84

103
Total (terbang 103 22,84
dan mati)

Perbandingan betina normal : jantan normal = 79 : 31

Perbandingan betina normal : jantan normal = 2,25 : 1

X2 hitung X2 tabel

22,84 > 3,84

Persilangan F2
P : XWXw x XWY
Wildtype Wildtype
Gamet : XW XW
Xw Y

F2

XW Xw

XW XWXW XWXw

Y XWY XwY

Rasio:
XWXW : XWXw : XWY : XwY
Normal : Normal : White
50% : 25% : 25%

Hasil Praktikum:
Total = 55
Normal = 27
Normal = 22
White =1
Terbang =5
Mati =0

X2 tabel
Fenotip Genotip O E d d2 d2/E 5%, df=
2

XWXW
1/3 x 55
Normal dan 27 -8,67 75,17 4,10
= 18,33
XWXw

1/3 x 55
Normal XWY 22 -3,67 13,45 0,73
= 18,33
5,99
XwY 1/3 x 55
White 1 17,33 300,33 16,38
= 18,33

55
Total (terbang 21,22
dan mati)

Perbandingan betina normal : jantan normal : jantan white = 27 : 22 : 1

Perbandingan betina normal : jantan normal : jantan white = 27: 22 : 1

X2 hitung X2 tabel

21,22 > 5,99

4. Pengamatan Siklus Hidup

larva inst larva inst


Fase Telur larva inst 1 pupa Imago
2 3

Tanggal (tidak (tidak (tidak (tidak 2 Oktober 3 Oktober


Pengamatan teramati) teramati) teramati) teramati) 2017 2017

F. PEMBAHASAN
1. Pembuatan Media
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pembuatan media pemeliharaan
Drosophila sp. Untuk melakukan pembiakkan Drosophila sp. terlebih dahulu disiapkan
media pemeliharaannya. Media pemeliharaan Drosophila sp. dibuat dengan bahan-bahan
sebagai berikut. Buah pisang sebanyak 500 gram sebagai media utama pembiakkan
Drosophila sp. Buah pisang ambon memiliki kandungan karbohidrat sebagai pakan larva
lalat buat. 7 Tegosept berfungsi sebagai antifungi agar jamur tidak tumbuh pada media
pemeliharaan, fermipan sebagai pengawet, agar-agar 1 bungkus sebagai bahan untuk
membuat media dengan kekentalan tertentu, dan 150 gr gula merah sebagai bahan
pendukung pisang ambon yang mengandung gula untuk pakan larva.
Pada pembuatan media ini semua bahan harus steril, terutama botol biakan dan
tutup busa. Untuk itu, sebelum digunakan botol biakan dan tutup busa dipanaskan dalam
oven dalam suhu 50 oC. Hal ini bertujuan untuk mensterilkan botol biakan dan penutup
busa dari mikroba-mikroba yang dapat mengkontaminasi media.
Langkah selanjutnya adalah menimbang buah pisang sebanyak 500 gram (tanpa
kulit). Selanjutnya buah pisang tersebut diblender dengan air 100 ml. Menimbang gula
jawa sebanyak 150 gram, kemudian gua jawa tersebut direbus ke dalam 400 ml air dan
diaduk-aduk. Selanjutnya menambahkan pisang yang telah diblender ke dalam panci
berisi rebusan gula jawa kemudian diaduk-aduk. Kemudian melarutkan 7,5 gram agar-
agar ke dalam 100 ml air. Setelah larut, agar-agar dimasukkan ke dalam panci yang
berisi pisang dan gula jawa, kemudian diaduk-aduk. Langkah berikutnya menambahkan
tegosept sebanyak 7 ml ke dalam panci yang berisi bahan-bahan tadi, kemudian
mengaduknya hingga mendidih. Menyiapkan botol yang sebelumnya telah disterilkan
dan menaruhnya diatas nampan dalam keadaan tengkurap. Kemudian mematikan
kompor setelah adonan mendidih. Selanjutnya memasukkan adonan ke dalam masing-
masing botol sebanyak satu sendok besar. Memasukkan kertas saring untuk menyerap
kelebihan air pada media. Menunggu hingga dingin dengan menutupnya dengan
aluminium foil. Kemudian menambahkan 7 butir fermipan setelah media dingin. Media
siap digunakan (botol ditutup dengan busa yang telah disterilkan sebelumnya).
Lalat buah merupakan hewan uji yang sering digunakan dalam praktikum
genetika. Dikarenakan lalat buah memeiliki morfologi yang mudah untuk diamati, lalat
betina bertelur banyak dalam setiap siklusnya, mudah dalam perawatannya tanpa harus
steril seperti pada mikroorganisme, memiliki 4 pasang kromosom yang mudah untuk
diteliti dan mudah untuk diperoleh (Iskandar, 1987:30).
Ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan serangga. Pertama, faktor
dalam yang meliputi kemampuan berkembang biak, perbandingan jenis kelamin, sifat
mempertahankan diri dan siklus hidup. Faktor kedua yaitu, faktor luar yang meliputi
suhu, kelembaban, cahaya, pakan atau nutrisi serta predator (Jumar, 2001:87). Lalat buah
termasuk dalam ordo dipteral yang mengalami metamorphosis sempurna (holometabola)
dengan empat stadium perkembangan yaitu telur larva pupa imago. Telur-telur lalat
buah diletakkan oleh betina dewasa dalam jaringan buah (Kartasaputra,1987:65).
Lalat buah biasa dijumpai pada medium pisang, papaya, tomat, nasi basi dan
tempat sampah disekitar rumah (Yatim, 1991:95). Lebih lanjut, Shorrocks (1972) dalam
Rivaida (1996:29) menyatakan, lalat buah mendatangi buah-buahan yang ranum
disebabkan karena adanya zat fermentasi yang memiliki aroma kuat sehingga mereka
tertarik dan datang pada buah-buahan tersebut. Lalat buah lebih menyukai buah yang
masak karena mengandung zat-zat yang mereka butuhkan. Selain itu, makanan, akan
mempengaruhi jumlah telur lalat betina dan perkembangan larvanya.
Di alam bebas larva dan lalat buah dewasa memakan substansi kaya karbohidrat
yang mengalami fermentasi (Iskandar, 1987:30). Karbohidrat memegang peranan penting
dalam dalam pertumbuhan Drosophila karena karbohidrat merupakan komponen utama
dalam buah-buahan dan merupakan bagian dari zat gizi utama penghasil energi. Sehingga
dalam pembuatan media ditambahkan gula jawa yang digunakan sebagai sumber C atau
sumber karbohidrat bagi lalat buah. Kemudian gula jawa tersebut ditambahkan dengan
pisang. Dikarenakan pisang memiliki aroma kuat ketika mengalami fermentasi. Sebab
itula media yang telah jadi diberi tambahan fermipan/ragi yang beri yeast Saccaromicest
cerevicae dikarenakan untuk mempercepat proses terjadinya fermentasi sehingga lalat
buah dapat menyukai media nutrisinya.
Tegosept atau antifungi ditambahkan untuk menghilangkan atau
mememinimalisisr terjadinya kontaminan media oleh fungi. Fungi yang tumbuh mampu
merusak media yang telah jadi. Media tersebut ditambahkan agar. Agar ini berfungsi
untuk memadatkan media. Apabila media akan berbentuk lembek dan mengandung
banyak air. Apabila media terlalu basah maka tidak dapat digunakan untuk media
pertumbuhan lalat buah dikarenakan apabila lalat dimasukkan kedalam media lalat akan
mati. Lalat buah akan mati ketika sayapnya rusak. Media yang mengandung agar juga
mampu memberikan pengawetan bagi media sehingga media mampu awet. Medium
pertumbuhan yang dipakai juga akan mempengaruhi perkembangan bagi lalat buah itu
sendiri. Media yang terlalu basah mempengaruhi jumlah telur yang akan ditetaskan
betina.
2. Pengamatan Jantan dan Betina
Tujuan pada praktikum ini adalah dapat membedakan jenis kelamin Drosophila
sp. Langkah awal yang harus dilakukan pada praktikum ini yaitu eterisasi. Eterisasi
dilakukan dengan cara menyentakkan botol pada telapak tangan secara perlahan, supaya
lalat buah yang menempel pada tutup busa jatuh ke bawah. Kemudian memindahkan
lalat buah ke botol kosong dengan bantuan corong. Selanjutnya menutup botol berisi
lalat buah dengan sumbat busa. Kemudian memasukkan kapas yang telah ditetesi eter ke
dalam botol berisi lalat melalui sela-sela sumbat busa. Setelah lalat pingsan, kemudian
dipindahkan ke cawan petri. Pengamatan dilakukan dengan cepat karena lalat akan
terbius selama 1-2 menit. Apabila pengamtan belum selesai lalat sudah sadar, maka
melakukan pembiusan sekali lagi.
Pengamatan jenis kelamin lalat dilakukan dengan cara membedakan jenis kelamin
lalat betina dan jantan, kemudian mendokumentasikan kedua jenis lalat tersebut,
sehingga tampak jelas perbedaan kedua jenis kelamin lalat tersebut. Berdasarkan hasil
pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa lalat jantan memiliki tubuh yang
lebih kecil dari lalat betina, memiliki ujung abdomen bulat atau tumpul dan berwarna
hitam. Kemudian, lalat betina memiliki ujung abdomen meruncing (Gb.1). Seperti yang
disebutkan oleh Borror (1992) bahwa ciri-ciri lalat jantan adalah ukuran tubuh lebih
kecil dari betina, sayap lebih pendek dari sayap betina, terdapat sisir kelamin (sex comb),
dan ujung abdomen tumpul dan lebih hitam. Sedangkan pada betina, ukuran tubuh lebih
besar dari jantan, sayap lebih panjang dar sayap jantan, tidak terdapat sisir kelamin (sex
comb), dan ujung abdomen runcing.
Ada beberapa tanda yang dapat digunakan dalam membedakan antara lalat jantan
dan lalat betina, yaitu bentuk abdomen pada lalat betina kecil dan runcing, sedangkan
pada lalat jantan membulat. Tanda hitam pada ujung abdomen juga digunakan sebagai ciri
yang dapat membedakan antara jantan dan betina. Ujung abdomen lalat jantan berwarna
gelap, sedangkan pada betina tidak. Jumlah segmen pada lalat jantan hanya 5, sedang
pada betina ada 7. Lalat jantan memiliki sex comb, berjumlah 10, terdapat pada sisi
paling atas kaki depan, berupa bulu rambut kaku dan pendek. Lalat betina memiliki 5
garis hitam pada permukaan atas abdomen, sedangkan pada lalat jantan hanya 3 garis
hitam. Lalat jantan mempunyai sex comb (sisir kelamin) pada kaki depannya, sehingga
dapat digunakan sebagai alat identifikasi, sedangkan lalat betina tidak memiliki sisir
kelamin. Lalat betina mempunyai tanda berwarna gelap atau hitam pada abdomen bagian
dorsal sedangkan pada lalat jantan tidak ada (Herskowitz, 2007).

Gambar 1. Lalat Buah Jantan (kiri) dan Lalat Buah Betina (kanan)
Gambar 2. Lalat buah jantan dan betina

3. Pengamatan Mutan
Selain pengamatan jenis kelamin, dilakukan pula pengamatan terhadap lalat
mutan. Mutasi adalah perubahan susunan basa nitrogen pada DNA sehingga
menyebabkan suatu individu menjadi abnormal (Purves, 1998: 274). Mutasi juga
diartikan sebagai perubahan pada materi genetic suatu makhluk hidup yang terjadi secara
tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup yang bersifat
terwariskan (heritable). Selain itu, mutasi juga dapat diartikan sebagai perubahan
struktural pada rangkaian DNA dalam suatu kromosom yang dapat terjadi karena faktor
luar (mutagen). Peristiwa terjadinya mutasi disebut sebagai mutagenesis, organisme yang
mengalami mutasi disebut dengan mutan, dan faktor yang menyebabkan terjadinya mutsi
adalah mutagen (Warianto, 2011)
Mutasi pada drosophila liar atau drosophila melanogaster dapat menimbulkan
perbedaan fenotip pada organisme tersebut atau yang sering dikenal sebagai mutan.
Beberapa jenis mutasi yang terjadi pada lalat buah ini dapat kita amati seperti dari warna
mata, bentuk sayap dan warna tubuh. Lalat mutan akan memiliki fenotip yang berbeda
dengan fenotip lalat liar. Apabila lalat dengan jenis white memiliki perbedaan dengan
lalat normal/lalat liar pada warna matanya, maka adapula mutasi gen pada drosophila
yang menyebabkan lalat memiliki bentuk sayap yang berbeda dengan lalat liar contohnya
adalah lalat dengan jenis taxi.
Lalat mutan yang pertama diamati adalah white. Berdasarkan pengamatan,
diketahui bahwa ciri-ciri morfologi dari lalat mutan white yaitu mata berwarna putih,
sayap lurus ke belakang dan panjangnya melebihi panjang tubuh. Ciri yang menonjol dari
lalat mutan white adalah warna matanya yang putih. Hasil pengamatan yang dilakukan
sudah sesuai teori. Warna putih pada mata Drosophila sp. disebabkan karena tidak adanya
pigmen pteridin. Hal ini terjadi karena adanya kerusakan pada gen white yang terletak
pada kromosom pertama lokus 1,5 dan benar-benar tidak menghasilkan pigmen merah
sama sekali (Pal, 1992: 51).

Lalat mutan yang diamati selanjutnya adalah taxi. Berdasarkan pengamatan lalat
ini memiliki ciri yang nampak seperti mata berwarna merah, sayap membuka (terentang)
ke sisi kanan dan kiri. Sayapnya diperkirakan membentang kurang lebih 75 o dari sumbu
tubuh. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa lalat tipe taxi merupakan
mutan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri sayap yang terentang baik ketika terbang
maupun hinggap (istirahat). Dan mutasi yang terjadi yaitu pada kromosom ketiga, lokus
91,0 (Russell, 1994: 113). Hampir sama dengan lalat white, lalat ini juga memiliki fenotip
mata berwarna putih. Dalam praktikum kali ini semua lalat taxi mati karena terlalu
banyak kloroform digunakan untuk pembiusan. Jadi pada akhirnya, untuk persilangan
monohibrid hanya digunakan satu jenis lalat mutan yaitu lalat jenis white
4. Persilangan Monohibrid
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pola pewarisan pada persilangan
monohibrid. Persilangan monohibrid adalah persilangan yang hanya memperhatikan satu
sifat atau tanda beda. Pada percobaan dapat dilakukan dengan cara penyilangan lalat
mutan (white) dengan lalat tipe liar (wild).
Langkah awal yang harus dilakukan yaitu mengambil lalat mutan yang akan
digunakan yaitu white dan lalat jenis wild type. Caranya adalah dengan mengambil botol
biakan lalat Drosophila sp. jenis white dan wild type. Setelah itu masing-masing biakan
lalat dipisahkan sesuai jenis kelaminnya dengan cara membuka tutup botol kaca biakan
lalat kemudian dengan segera meletakkan corong plastik dengan posisi terbalik ke dalam
mulut kaca. Setelah itu dengan segera ujung batang corong plastik ditutup menggunakan
botol kaca yang kosong. Lalat Drosophila sp. akan keluar dari botol biakan melalui
batang corong menuju botol kaca yang kosong.

Setelah di dalam botol kaca yang kosong terdapat jumlah lalat yang mencukupi,
kemudian langkah berikutnya adalah mengambil kapas dan membasahinya dengan eter.
Kapas tersebut kemudian diletakkan ke dalam cawan petri. Langkah berikutnya yaitu
meletakkan botol kaca yang telah berisi lalat mutan dalam posisi terbalik dengan cawan
petri sebagai alasnya.

Lalat-lalat dalam botol ditunggu beberapa menit hingga semua lalat yang ada
didalamnya pingsan. Setelah pingsan, dilakukan pemisahan lalat sesuai jenis kelaminnya.
Kemudian dipilih sebanyak 3 individu lalat jantan dan 3 individu lalat betina untuk setiap
satu jenis mutan lalat yang digunakan. Lalat dimasukkan ke dalam botol biakan dalam
keadaan masih pingsan dan saat memasukkan lalat, botol diletakkan dalam posisi
terbaring atau horizontal. Tujuannya adalah agar lalat tidak menyentuh media agar
sebelum lalat tersadar karena jika lalat dimasukkan ke dalam media agar dalam posisi
pingsan maka kemungkinan lalat untuk dapat hidup rendah.

Ketika lalat sudah tersadar, botol biakan kemudian diubah posisinya menjadi
dalam keadaan tegak atau vertikal. Kemudian mengamati perkembangan hasil
persilangan setiap hari, apabila pupa F1 sudah muncul maka imago parental dikeluarkan
dari dalam botol biakan. Lalu jumlah keturunan F1 yang dihasilkan dihitung dan
diidentifikasi kemudian dipisahkan berdasarkan jenis mutan dan jenis kelaminnya.
Setelah dipisahkan kemudian diambil fenotip dari keturunan F1. Fenotip keturunan F1
kemudian disilangkan untuk kemudian dihitung dan diidentifikasi keturunan F2 yang
dihasilkan.

Setelah diperoleh hasil keturunan F1 dan F2 selanjutnya dilakukan uji chi square
untuk mengetahui apakah hasil persilangan yang telah dilakukan sesuai dengan Hukum
Mendel atau tidak. Rumus yang digunakan untuk uji chi square adalah:
d2
X2 = e
Dengan:
d = deviasi/penyimpangan yaitu selisih antara hasil yang diperoleh (observed) dan hasil
yang diramal (expected)
e = hasil yang diramal/diharapkan (expected)
Jadi d = o e
Dalam perhitungan, harus diperhatikan derajat kebebasan yang nilainya sama
dengan jumlah kelas fenotip dikurangi dengan satu. Setelah dihitung harga X 2, maka
selanjutnya kita menggunakan tabel X2. Dalam tabel itu, deretan angka paling atas
mendatar merupakan nilai kemungkinan. Kolom sebelah kiri tegak lurus memuat angka-
angka yang menunjukkan besarnya derajat kebebasan. Angka-angka lainnya adalah X2
(Suryo, 2008: 162-163). Berikut ini tabel distribusi X2:

Persilangan antara lalat Drosophila betina wild type dengan jantan white type
menghasilkan keturunan F1 dengan total 103 ekor dengan rincian lalat betina wild
sebanyak 79 ekor, lalat jantan wild sebanyak 31 ekor, terbang ekor 3, dan yang mati 0.
Grafik persilangan antara lalat betina wild type dengan jantan white type adalah sebagai
berikut:

P : XWXW x XwY
Wildtype White
Gamet : XW Xw
XW Y

F1

XW XW

Xw XWXw XWXw
Y XWY XWY

Rasio
XWXw : XWY
Normal : Normal
50% : 50%
Hasil praktikum F1 :
Total = 103
Normal carier = 79
Normal = 31
Terbang =3
Mati =0

Hasil uji kai kuadrat persilangan antara Parental 1 lalat Drosophila sp. Wildtype x
White adalah sebagai berikut:

X2 tabel
Fenotip Genotip O E d d2 d2/E 5%, df=
1

x 103
Normal XWXw 79 -27,50 756,25 14,68
= 51,50

x 103
Normal XWY 31 20,50 420,25 8,16
= 51,50 3,84

103
Total (terbang 103 22,84
dan mati)

Perbandingan betina normal : jantan normal = 79 : 31

Perbandingan betina normal : jantan normal = 2,25 : 1

X2 hitung X2 tabel

22,84 > 3,84


Bagan persilangan antara lalat Drosophila betina wild type dengan jantan white
menunjukkan bahwa seharusnya perbandingan fenotip yang dihasilkan adalah betina
normal : jantan normal yaitu 1 : 1. Namun berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa
perbandingan jumlah lalat betina normal dan jantan normal tidak 1 : 1, tetapi 2,25 : 1.
Hasil praktikum ini sangat menyimpang dari Hukum Mendel, hal ini dapat dibuktikan
dengan uji chi square. Dimana uji chi square pada hasil keturunan F1 dari persilangan
monohibrid antara parental lalat Drosophila betina wildtype dengan jantan white
menghasilkan nilai X2 hitung sebesar 22,84 sedangkan nilai X2 tabel sebesar 3,84. Dari
hasil tersebut diketahui bahwa nilai X2 hitung lebih besar dari X2 tabel. Angka X2 hitung
sebesar 22,84 menunjukkan bahwa kemungkinan/probabilitas hasil perhitungan sangat
kecil dan kurang dari 0,05. Karena nilai kemungkinan kurang dari 0,05 (batas signifikan)
maka hasil keturunan F1 dari persilangan monohibrid antara lalat Drosophila betina
wildtype dengan jantan white yang telah dilakukan terlalu menyimpang dan hasil
persilangan yang diuji tidak memenuhi Hukum Mendel. Hal ini sesuai dengan teori yang
diungkapkan oleh Dedi (2006), semakin kecil nilai X2 hitung menunjukkan bahwa data
yang diamati semakin tipis perbedaannya dengan yang diharapkan. Sebaliknya semakin
besar X2 hitung mnunjukkan bahwa semakin besar pula penyimpangannya.

Setelah dilakukan persilangan antar parental 1, kemudian dilakukan persilangan


antar filial 1. F1 yang disilangkan yaitu fenotip betina wildtype dengan jantan wildtype.
Total F2 yang dihasilkan dari persilangan tersebut adalah 55 ekor, dengan rincian betina
normal sebanyak 27 ekor, jantan normal sebanyak 22 ekor, dan jantan white sebanyak 1
ekor. Grafik persilangan antara lalat betina wild type dengan jantan wild type adalah
sebagai berikut:

P : XWXw x XWY

Wildtype Wildtype
Gamet : XW XW
Xw Y

F2

XW Xw
XW XWXW XWXw

Y XWY XwY

Rasio:
XWXW : XWXw : XWY : XwY
Normal : Normal : White
50% : 25% : 25%

Hasil Praktikum:
Total = 55
Normal = 27
Normal = 22
White =1
Terbang =5
Mati =0

X2 tabel
Fenotip Genotip O E d d2 d2/E 5%, df=
2

XWXW
1/3 x 55
Normal dan 27 -8,67 75,17 4,10
= 18,33
XWXw

1/3 x 55
Normal XWY 22 -3,67 13,45 0,73
= 18,33
5,99
XwY 1/3 x 55
White 1 17,33 300,33 16,38
= 18,33

55
Total (terbang 21,22
dan mati)

Perbandingan betina normal : jantan normal : jantan white = 27 : 22 : 1

Perbandingan betina normal : jantan normal : jantan white = 27: 22 : 1

X2 hitung X2 tabel
21,22 > 5,99

Bagan persilangan F1 antara lalat Drosophila betina wild type dengan jantan wild
type menunjukkan bahwa seharusnya perbandingan fenotip yang dihasilkan adalah betina
normal : jantan normal : jantan white yaitu 2 : 1 : 1. Namun berdasarkan hasil praktikum
diketahui bahwa perbandingan jumlah lalat betina normal dan jantan normal tidak 2 : 1 :
1, tetapi: 1. Hasil praktikum ini sangat menyimpang dari Hukum Mendel, hal ini dapat
dibuktikan dengan uji chi square. Dimana uji chi square pada hasil keturunan F1 dari
persilangan monohibrid F1 antara lalat Drosophila betina wildtype dengan jantan wild
type menghasilkan nilai X2 hitung sebesar 21,22 sedangkan nilai X2 tabel sebesar 5,99.
Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai X 2 hitung lebih besar dari X2 tabel. Angka X2
hitung sebesar 21,22 menunjukkan bahwa kemungkinan/probabilitas hasil perhitungan
sangat kecil dan kurang dari 0,05. Karena nilai kemungkinan kurang dari 0,05 (batas
signifikan) maka hasil keturunan F2 dari persilangan monohibrid F1 antara lalat
Drosophila betina wildtype dengan jantan wild type yang telah dilakukan terlalu
menyimpang dan hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi Hukum Mendel.

Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat di bawah kolom nilai
kemungkinan 0,05, itu berarti data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini
disebabkan karena penyimpangan sangat berarti dan ada faktor lain di luar faktor
kemungkinan berperan di situ. Faktor-faktor yang menyebabkan data hasil persilangan
monohibrid pada keturunan F1 tidak sesuai dengan yang diharapkan/datanya buruk
diantaranya adalah tidak virginnya lalat betina yang digunakan.

Individu betina virgin adalah betina yang sama sekali belum pernah dibuahi oleh
induk jantan. Individu semacam ini diperlukan untuk penyilangan antara dua strain yang
berbeda. Lalat Drosophila melanogaster betina mempunyai organ spermateka, suatu alat
yang dapat menyimpan sperma lalat jantan sebelum proses pembuahan sel telur
berlangsung. Apabila pada waktu penyilangan lalat yang digunakan bukan lalat betina
virgin, maka keturunan F1 atau F2 tidak dapat dipastikan merupakan hasil persilangan
yang diharapkan. Lalat betina dapat melakukan perkawinan delapan jam setelah keluar
dari pupa. Lalat betina dapat menyimpan dan memakai sperma suatu pembuahan dalam
jangka waktu yang panjang sehingga individu betina untuk keperluan
penyilangantersebut harus berupa betina virgin.

5. Pengamatan Siklus Hidup

Tujuan dari pengamatan siklus hidup adalah untuk mengetahui siklus hidup lalat
buah Drosophila sp. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada fase telur, larva instar 1
dan larva instar 2 tidak teramati. Hal ini dikarenakan telur lalat buah yang terlalu kecil
dan cepat menetas. Akan tetapi, menurut Hartati (2008) dalam Anfa, dkk (2016) telur
lalat buah berwarna putih susu dan berbentuk bulat panjang atau lonjong. Mahmud
(2014) menyebutkan, pada ujung anterior telur lalat buah terdapat dua tangkai kecil
seperti sendok atau menurut Anfa, dkk (2016) seperti kait yang berfungsi sebagai
pengapung untuk mencegah agar tidak tenggelam ke dalam makanan yang berbentuk
agak encer.
Kemudian, pada fase berikutnya adalah larva instar 1. Lebih lanjut dikatakan
Hartati, bahwa telur akan menetas menjadi larva membutuhkan waktu perkembangan
kurang lebih selama 24 jam. Yatim (1996) dalam Anfa, dkk (2016) juga berpendapat
sama, dan menerangkan bahwa Drosophila baru akan kawin setelah berumur 8 jam.
Dengan demikian, hewan betina sudah dapat bertelur keesokan harinya. Telah disebutkan
di atas bahwa pada fase larva instar 1 ini tidak teramati. Akan tetapi, berdasarkan
referensi yang ada, seperti yang disebutkan oleh Anfa, dkk (2016) ukuran tubuh larva
pada stadium ini masih sangat kecil, berwarna putih dan memiliki segmen. Fase instar
pertama ini merupakan tahap larva makan, Silvia (2003) menambahkan, instar pertama
adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Instar pertama ruas-
ruasnya terdiri atas 4-5 segmen. Sedangkan pada larva instar 2 yang tidak teramati juga,
Suryo (1984) menerangkan bahwa larva pada instar 2 memiliki 5-8 segmen sehingga
ukurannya lebih besar dari larva instar 1, karena pada fase larva instar 2 ini merupakan
tahap larva tumbuh. Lalat buah berada pada fase larva 2 selama 1 hari atau 24 jam.
Pada tanggal 2 Oktober 2017, terlihat di dalam botol kaca terdapat pupa yang
menempel di dinding botol kaca dan kertas saring. Pupa berwarna kecoklatan artinya di
dalam pupa tersebut masih terdapat calon lalat buah. Pada tanggal 3 Oktober 2017,
terdapat pupa dan imago. Pupa yang teramati ada yang berwarna kecoklatan dan ada yang
berwarna agak jernih. Pupa yang berwarna agak jernih berarti imago di dalam pupa
tersebut telah keluar. Hartati (2008) menjelaskan bahwa pupa ini berwarna gelap. Pupa
lalat buah berbentuk seperti silinder bulat panjang, dan strukturnya keras. Lebih lanjut
disebutkan oleh Hartati bahwa pupa ini memiliki kutikula yang sangat keras.
Setelah melewati fase-fase tersebut menunjukkan bahwa lalat buah telah
melakukan metamorfosis secara sempurna perkembangan dimulai dari fertilisasi. Lalat
buah melewati metamorfosis sempurna yaitu dari fase telur, larva (instar 1, 2,3), pupa,
dan imago. Pada hasil pengamatan, siklus hidup diselesaikan dalam 9 hari dengan suhu
ruang kurang lebih 25oC. Sesuai dengan yang disebutkan oleh Mahmud(2014), bahwa
lama pertumbuhan lalat buah bervariasi, pada suhu 25oC siklus hidup diselesaikan kira-
kira 10 hari tetapi pada suhu 20oC dapat mencapai 15 hari. Pada pemanasan terus
menerus di atas suhu 30oC dapat menyebabkan lalat steril.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pembiakkan Drosophila sp. dilakukan menggunakan media pemeliharaan berupa
campuran lumatan buah pisang, gula merah, akuades, dan agar-agar yang dimasak hingga
mendidih kemudian dilakukan dengan penambahan tegosept sebagai antifungi dan
fermipan sebagai pengawet.
2. Drosophila sp. merupakan serangga yang mudah berkembang biak. Drosophila sp. jantan
dan betina dapat dibedakan melalui ciri: ujung abdomen, ukuran tubuh, dan warna hitam
pada ujung abdomen. Drosophila sp. jantan memiliki ciri: ujung abdomen membulat dan
berwarna hitam tebal serta ukuran tubuh kecil lebih kecil daripada lalat betina. Sedangkan
Drosophila sp. betina memiliki ciri: ujung abdomen memanjang dan meruncing dan
berwarna hitam tidak tebal, serta ukuran tubuh lebih besar daripada lalat jantan.
3. Jenis mutan Drosophila spp. yang dipakai dalam praktikum yaitu ada mutan White dan
mutan Taxi. Mutan White (w) memiliki ciri yang mudah diamati yaitu warna mata putih.
Sedangkan mutan Taxi (tx) mempunyai warna mata merah, berbadan putih dan sayap
yang membentang 75o.
4. Pola pewarisan pada persilangan monohibrid pada lalat Drosophila sp. antara lalat betina
wild type dan lalat jantan white type menghasilkan keturunan dengan fenotip F1 wildtype
lalat betina 50% dan wildtype jantan 50%. Sedangkan hasil pada keturunan dengan
fenotip F2 betina wildtype 50%, jantan wildtype 25% dan jantan white type 25%. White
type memiliki pola pewarisan terpaut dengan kromosom X.
5. Drosophila sp. menurut teori memiliki siklus hidup yang pendek, yaitu sekitar 10 hari.
Namun berdasarkan pengamatan, pada fase telur, larva instar 1, 2, dan 3 tidak teramati.
Sedangkan pada masa pupa teramati pada tanggal 2 Oktober, dan pada tanggal 3 Oktober,
pupa telah menjadi imago (lalat buah dewasa).
6. Uji chi square pada hasil keturunan F1 dari persilangan monohibrid antara lalat
Drosophila betina wild type dengan jantan white type menghasilkan nilai X2 hitung > nilai
X2 tabel yaitu 22,84 > 3,84. Sementara itu, uji chi square pada hasil keturunan F2 yaitu
hasil persilangan F1 antara lalat Drosophila betina wildtype dengan jantan wildtype
menghasilkan nilai X2 hitung > nilai X2 tabel yaitu 21,22 > 5,99. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hasil persilangan (F1 dan F2) menyimpang dari Hukum Mendel.
H. JAWABAN DISKUSI.
1. Mengapa botol biakan yang telah terisi lalat ditutup dengan kain kasa atau busa plastik?
Jawab : Karena dengan ditutup busa plastik atau kain kasa, lalat buah atau Drosophila sp.
yang akan dibiakkan tidak keluar dari botol biakan. Selain itu, memungkinkan adanya
sirkulasi udara sehingga lalat bisa bernafas dan dapat bertahan hidup di dalam botol
biakan tersebut.

2. Mengapa lalat yang dipelihara pada temperatur yang lebih rendah mempunyai siklus
yang lebih panjang ?
Jawab : Karena lalat buah atau Drosophila sp. hanya dapat mengalami satu putaran siklus
secara optimal pada suhu yang ideal yaitu pada suhu 25-28oC, jadi apabila berada di suhu
yang rendah dapat menghambat siklusnya.

3. Apakah fungsi Tegosept dalam media pemeliharaan ?


Jawab : Fungsi Tegosept yaitu untuk anti jamur pada media pemeliharaan yang
dalam pengamatan kali ini adalah bubur agar dan pisang ambon, Tegosept dapat mengha
mbat pertumbuhan jamur pada media pemeliharaan sehingga siklus hidup lalat buah atau
Drosophila sp. tidak terganggu karena makanannya tersedia cukup dan tidak
ditumbuhi jamur.

4. Apakah fungsi kertas saring yang diletakkan pada media ?


Jawab : Fungsi kertas saring yaitu untuk menyerap kelebihan air pada media
pemeliharaan lalat buah atau Drosophila sp. sehingga tidak mengganggu siklus hidupnya
5. Adakah penyimpangan dari hasil pengamatan saudara? Jelaskan kemungkinan apa saja
yang menyebabkannya?
Jawab : Faktor yang menyebabkan data hasil persilangan monohibrid pada keturunan F1
tidak sesuai dengan yang diharapkan/datanya buruk diantaranya adalah tidak virginnya
lalat betina yang digunakan.
6. Mengapa imago segera harus dikeluarkan setelah terdapat banyak pupa di dalam botol?
Jawab : Induk harus segera dikeluarkan setelah terdapat banyak pupa di dalam botol
karena apabila pupa sudah menetas maka pada saat perhitungan hasil F1 dapat
dimungkinkan induk akan ikut terhitung karena morfologi induk dengan imago sulit
dibedakan (hampir sama). Selain itu, dapat mimungkinkan juga induk jantan akan
mengawini anak betinanya sendiri sehingga akan terjadi backcross dan akan
menghasilkan keturunan yang tidak dihendaki.
7. Mengapa perhitungan imago pada keturunan kedua harus dilakukan setiap ada yang
menetas?
Jawab : Perhitungan imago pada keturunan kedua harus dilakukan setiap ada yang
menetas karena lalat buah dalam waktu 8 jam sudah mampu melakukan reproduksi,
sehingga apabila perhitungan imago dilakukan tidak pada saat menetas maka
dimungkinkan keturunan yang dihasilkan bukan merupakan hasil keturunan F2 saja
melainkan adanya keturunan F3 dan seterusnya.
8. Mengapa pada persilangan ini harus menggunakan induk lalat betina yang belum
dibuahi?
Jawab : Pada persilangan ini harus menggunakan induk lalat betina yang belum dibuahi
atau virgin karena lalat betina mempunyai orga spermateka, suatu alat yang dapat
menyimpan sperma lalat jantan sebelum proses pembuahan sel telur berlangsung. Apabila
waktu penyilangan lalat yang digunakan bukan yang virgin, maka keturunan F1 atau F2
tidak dapat dipastikan merupakan hasil persilangan yang diharapkan. Lalat betina dapat
melakukan perkawinan delapan jam setelah keluar dari pupa.
9. Mutan manakah yang paling mudah dibedakan fenotipnya dengan jenis liar?
Jawab : Lalat mutan white merupakan salah satu lalat mutan yang mudah dibedakan dari
lalat liar karena memiliki warna mata dan tubuh yang putih, sedangkan lalat liar
memiliki warna mata merah.
10. Apakah pada lalat mutan tersebut, juga mudah dibedakan jenis jantan dan betinanya?
Jawab : Ya. Sama seperti jantan-betina pada lalat liar.
a. Lalat jantan : ujung abdomen membulat, jumlah segmen 5, ukuran tubuh kecil,
mempunyai sex comb, dan ada pola berwarna hitam di ujungnya.
b. Lalat betina : ujung abdomen memanjang dan meruncing, jumlah segmen 7, ukuran
tubuh lebih besar dan tidak mempunyai sex comb
11. Apakah ada bentuk-bentuk morfologis lainnya pada jenis mutan tersebut yang belum
dicantumkan pada table diatas? Sebutkan dan mengapa bisa demikian?
Jawab: Bentuk morfologis lain yang belum dicantumkan adalah : bentuk antena, bulu-
bulu pada abdomen, urat sayap, bentuk mata, dll. Hal ini sulit diamati karena
keterbatasan peralatan dan waktu praktikum.
12. Mengapa lalat-lalat mutan umumnya bersifat resesif?
Jawab : karena penyebab terjadinya mutasi spesifik sehingga memiliki peluang kejadian
yang relatif kecil
13. Selain lalat mutan yang dipakai dalam praktikum, beri contoh lalat mutan lainnya beserta
ciri-cirinya. (5 contoh)
Jawab :
a. Yellow white (yw) : Lalat tersebut memiliki warna badan secara keseluruhan
kuning dengan mata berwarna putih.
b. Eyemissing (eym): Lalat tersebut tidak dilengkapi dengan organ mata.
c. Cut wings (ct) merupakan mutan dengan sayap yang terpotong
d. Dumpy (dp) merupakan mutan dengan bentuk sayap yang terbelah sehingga
panjang sayap tampak hanya dua per tiga dari panjang sayap normal
e. Sepia (se) merupakan mutan dengan mata warna cokelat tua agak kehitaman, hal
tersebut karena mutan kelebihan pigmen sepiapterin

I. DAFTAR PUSTAKA
Anfa, AzkiAfidatiPutri, dkk. 2016. Siklus Hidup Drosophila Melanogaster. Padang:
Universitas Andalas.
Ashburner, Michael. 1989. Drosophila, ALaboratory Handbook. ColdspringHarbor
Laboratory Press. USA.
Borror.J.D,Triplehorn. 1992.Pengenalan Pengajaran Serangga. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Campbell NA, dkk. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Campbell NA, dkk. 2003. Biologi. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Clasical Genetic Simulator. 2009. Drosophila Mutant Phenotypes.
http://cgslab.com/phenotypes/. Diakses pada tanggal 13 November 2017, pukul 20.22
WIB.
Demerec dan Kaufmann. 1961. Drosophila Guide. Introduction to the Genetics and
Cytology of Drosophila melanogaster. Carnegie Institution of Washington,
Washington D.C.
Dimit, C. 2006. Drosophila melanogaster. [serial on line] http://resources.wards
ci.com/livecare/ working-with-drosophila/html.
Elseth, G. dan K. Baumgardner.1984.Genetics. Reading, Mass: Addison-Wesley.
Flagg, Raymond O. 1968. Carolina Drosophila Manual. USA: Carolina Biological
Company.
Ghostrecon, 2008. Experiments in Genetics with Drosophila. London: John Wiley and Sons,
inc.
Hartati.S.si, M.Si. 2009. PenuntunPraktikumGenetika. Makassar: JurusanBiologi
FMIPA UNM.
Herskowitz, I. H. 2007. Principles of Genetics. New York: Mac Millan Publishing Company.
Iskandar, D.T. 1987. Petunjuk Praktikum Genetika. Bandung: ITB
Jones, R.N., G.K. Rickards. 1991. Practical Genetics. Milton Keynes: Open University
Press.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta
Kartasaputra. 1987. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Jakarta: Bina Aksara.
Kimball, J.W. 2001.Biologi. Erlangga. Jakarta
Mahmud, mahdalena. 2014. Siklus Hidup Lalat Buah. Banda Aceh: FKIP Unsyiah.
Miller, C. 2000. Drosophila melanogaster. Michigan: University of Michigan.
Rivaida, I. 1996. Inventarisasi Spesies Lalat Buah Genus Drosophila di Kotamadya
Palembang.
Russell, P. J. 2004. Fundamental of Genetics. USA: Harper Collins College
Shorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn and Company Limited.
Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formal dehidaTerhadap
Perkembangan Larva Drosophila.Bandung : Jurusan Biologi Universitas Padjdjaran.
Strickberger, Monroe, W. 2001. Experiments in Genetics with Drosophila.London: John
Wiley and Sons, inc.
Suryo, H. 2010. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tim Genetika. 2012. Petunjuk Praktikum Genetika. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Warianto, Chaidar. 2011. Mutasi. http://skp.unair.ac.id/repository/Guru-
Indonesia/Mutasi_ChaidarWarianto_17.pdf. Diakses pada tanggal 13 November
2017 pukul 21.14 WIB.
Wiyono, H.T. 1986. Studi Mengenai Pentingnya Lalat Buah Drosophila melanogaster
Sebagai Bahan Praktikum Genetika di SMA. Tesis. Fakultas Pasca sarjana Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Malang.
Yatim, Wildan. 2006. Genetika. Edisi IV. Bandung: Penerbit Tarsito.
Zalkandary, Adhy. 2011. Mutasi dan Dampak Mutasi bagi Kehidupan.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/bioengineering-andbiotechnology/2009665-
mutasi-dan-dampak-mutasi-bagi/. Diakses pada tanggal 13 November 2017 pukul
21.16 WIB.