Anda di halaman 1dari 2

Tafsir:

Allah SWT. Berfitman memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa apa yang


diciptakan-Nya berupa langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, planet dan
bintang-bintang yang gemerlapan, lautan, gunung-gunung, hutan-hutan, pohon-pohon dan
tetumbuhan, bermacam-macam binatang dan beraneka tambang, semua itu mengandung
tanda-tanda yang nyata bagi orang-orang yang memiliki akal yang sempurna, sehat dan
cerdas dan bukannya orang yang buta tuli pikirannya sebagaimana digambarkan oleh Allah
dalam firmannya yang artinya : dan banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah di langit
dan di bumi yng mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.

Allah menyifatkan orang-orang yang berakal dan sehat itu bahwa mereka itu selalu ingat
kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun mereka berada; selagi duduk, berdiri, dan
berbaring pun, mereka memikirkan ciptaan Tuhan berupa langit dan bumi itu, mendalami dan
merenungkan hikmah yang terkandung dalam ciptaan itu yang menandakan wujudnya Maha
Pencipta Yang Maha Agung dan Maha Kuasa. Mereka merenungkan semuanya seraya
berkata, ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini semua ini tanpa hikmah. Maha suci
engkau akan menciptakan semua sia-sia belaka. Maka jauhkanlah kami dari siksa neraka
dengan hikmah-Mu dan kuasa-Mu, mudahkan bagi kami mengerjakan amal-amal yang
Engkau ridha, amal-amal yang menunjukkan kami kesurga dan menjauhkan kami dari azab-
Mu yang pedih. (tafsir ibnu katsir)

Ayat ini merupakan awal ayat-ayat penutup surah ali imran dimana pada ayat ini Allah SWT.
Memerintahkan kita untuk melihat, merenungi, dan mengambil kesimpulan pada tanda-tanda
ke-Tuhanan. Pada ayat ini Allah SWT. Menyebutkan terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal ini salah satu fungsi akal yang diberikan kepada seluruh manusia, yaitu agar
mereka dapat menggunakan akal tersebut untuk merenung tanda-tanda yang telah diberikan
oleh Allah SWT.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: ketika ayat ini diturunkan kepada Nabi SAW, beliau
segera bangkit dan sembahyang. Dan ketika waktu shalat fardu telah tiba, bilal pun datang
untuk mengumandangkan adzan, namun sebelum ia sebelum ia sempat melantunkan, ia
mendengar Nabi SAW sedang menangis, lalu bilal menghampiri, bilal bertanya: wahai
Rasulullah mengapa engkau menangis, padahal engkau telah dijamin oleh Allah untuk
menghapuskan segala dosa-dosamu, yang telah berlalu maupun yang akan datang. Nabi
SAW menjawab: ya bilal, tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang pandai
bersyukur. (tafsir Al Qurtubi)

Asbabun nuzul surah ali imran ayat 190-191 diketahui bahwa dalam riwayat dikemukakan
bahwa orang quraisy datang kepada yahudi untuk bertanya : mujizat apa yang dibawa
Musa kepada kalian?. Mereka menjawab : tongkat dan tangannya terlihat putih bercahaya.
Kemudian mereka bertanya kepada kaum nasrani: mujizat apa yang dibawa Isa kepada
kalian? Mereka menjawab: ia dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir hingga dapa
melihat, menyembuhkan orang penyakit kusta dan menyembuhkan orang mati.. kemudian
menghadap Nabi SAW dan berkata : hai Muhammad, coba berdoalah engkau kepada
Tuhanmu agar gunung shafa ini menjadi emas. Lalu Rasulllah berdoa, maka turunlah ayat
ali imran 190. Sebagai petunjuk untuk memperhatikan apa yang telah ada yang akan lebih
besar manfaatnya bagi orang yang menggunakan akalnya. ( diriwayatkan oleh At-Thabrani
dan Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas). maksudnya secara filosofis ayat ini
memberikan pengertian agar manusia dengan akalnya dapat menggali dan memikirkan hal-
hal yang tersurat atau tersirat dalam peristiwa alam semesta. ( ulul albab dalam tafsir fi zhilali
al-quran oleh sri aliyah halaman 135)