Anda di halaman 1dari 24

SAMBUTAN

Untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (KSA) bagi aparatur maupun tenaga
industri di sub sektor pertambangan mineral dan batubara, pemerintah melaksanakan program
pendidikan dan pelatihan (diklat) untuk semua bidang pekerjaan di sub sektor pertambangan
mineral dan batubara. Pelaksanaan program diklat tersebut perlu didukung dengan ketersediaan
materi ajar yang berupa modul diklat.

Modul diklat memiliki peranan penting bagi peserta diklat dalam membantu mengetahui,
memahami, dan mengaplikasikan materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga
pengajar.Karakteristik modul diklat yang khas menjadikannya berbeda dengan buku-buku teks bagi
para mahasiswa di perguruan tinggi.Sebuah modul harus mampu berdialog dengan pembacanya,
modul diklat yang ideal juga dapat menggantikan peran fasilitator dalam menyampaikan substansi
materi diklat.

Pentingnya sebuah modul diklat sebagai salah satu alat bantu dalam proses belajar mengajar
disadari sebelumnya oleh pihak-pihak yang terkait dalam penyelenggaraan diklat ini. Oleh karena
itu modul selalu identik dengan setiap penyelenggaraan program diklat.

Penulisan modul diklat yang tidak standar serta kaidah-kaidah penulisan yang tidak baik, tidak
hanya menyulitkan peserta diklat dalam memahami dan mengaplikasikan materi yang
disampaikan, tetapi juga menyebabkan tidak tercapainya tujuan program diklat secara umum.

Bandung, Desember 2013


Kepala Badan Diklat
Energi dan Sumber Daya Mineral

M. Teguh Pamuji, S.H., M.H.

Peraturan K3 Pertambangan 1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan YME karena atas berkat dan rahmat-Nya Modul
Diklat Kepala Pengawas Operasional Pertambangan (POP) dapat terselesaikan.

Seperti kita ketahui bahwa kegiatan pertambangan merupakan suatu kegiatan yang memiliki
karakteristik khusus, dimana banyak pihak dan kepentingan yang terlibat dalam kegiatan tersebut
sehingga diperlukan pengawasan terhadap kegiatannya. Pengawas operasional memiliki tanggung
jawab terhadap keselamatan manusia, proses, peralatan dan lingkungan kerja dimana mereka
bekerja, agar dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, pengawas operasional harus
memiliki standar kompetensi. Untuk pemenuhan terhadap kompetensi tersebut maka dirasakan
perlu diberikan pelatihan dan keterampilan yang sesuai, sehingga membantu peserta dapat
memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh aparatur pemerintah tersebut
dapat dilakukan melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat). Pelaksanaan program diklat
tersebut perlu didukung dengan ketersediaan materi ajar yang berupa modul diklat. Modul diklat
memiliki peranan penting bagi peserta diklat dalam membantu mengetahui, memahami, dan
mengaplikasikan materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pengajar.

Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran kami
harapkan untuk perbaikan modul di masa yang akan datang.

Bandung, Desember 2013


Kepala Pusdiklat Mineral dan Batubara

Ir. Toto Ridwan, M.T.

Peraturan K3 Pertambangan 2
DAFTAR ISI

SAMBUTAN.............................................................................1
KATA PENGANTAR.................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................3
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL.....................................4

BAB I PENDAHULUAN...........................................................4
A. Latar Belakang.........................................................4
B. Deskripsi MaterI.......................................................5
C. Tujuan Pembelajaran...............................................5
D. Materi Pokok............................................................5

BAB II PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


SERTA KESELAMATAN OPERASI.........................................6
A. Undang-Undang mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja 6
B. Peraturan Pemerintah mengenai Keselamatan Kerja Pertambangan 8
C. Ketentuan K-3 dalam Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara 9
D. Peraturan Pemerintah terkait Pengawasan K-3.....10
E. Keputusan Menteri terkait K-3................................11

BAB III MATERI DARI PERATURAN DAN KETENTUANTERKAIT K-3 DAN KESELAMATAN
OPERASI..............................................................................21
A. Ruang Lingkup K-3 dan Keselamatan Operasi......21
B. Kepala Teknik Tambang (KTT)...............................22
C. Bentuk-Bentuk Pengawasan K-3 dan KOError! Bookmark not defined.

BAB V PENUTUP..................................................................23
DAFTAR PUSTAKA...............................................................24

Peraturan K3 Pertambangan 3
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Setiap modul berisikan beberapa pembelajaran sesuai dengan tuntutan elemen kompetensi dan
kriteria unjuk kerja. Untuk memahami modul secara utuh peserta harus mempelajari setiap
tahapan pembelajaran sampai selesai. Pada akhir setiap pembelajaran terdapat tugas-tugas dan
kunci jawaban berada pada bagian akhir modul. Agar mendapatkan hasil belajar maksimal, ikutilah
petunjuk penggunaan modul berikut ini:

1. Pahami tujuan umum yang tercantum pada setiap modul


2. Ikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan pada modul sampai akhir

Cobalah sendiri mengerjakan soal latihan yang tertera pada akhir setiap pembelajaran, kemudian
nilai sendiri dengan rumus:

Jumlah jawabanyang betul


Nilai x 100
Jumlah seluruhsoal

Untuk meningkatkan kedalaman penguasaan Anda terhadap isi modul, disarankan untuk membaca
referensi yang tertera di dalam daftar pustaka.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kegiatan pertambangan memiliki risiko bahaya yang dapat menimbulkan tindakan tidak
aman bagi manusia dan kondisi lingkungan kerja. Bila bahaya tersebut tidak dicegah dan
dikendalikan, maka bisa menimbulkan kecelakaan tambang, penyakit, dan bencana tambang yang
menimbulkan korban manusia, kerusakan peralatan, serta lingkungan.

Dengan semakin maju dan berkembangnya kegiatan pertambangan yang diiringi dengan
kemajuan teknologi serta semakin intensifnya penggunaan tenaga kerja tambang, maka semakin
besar risiko bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.

Untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mencapai sasaran produksi tambang yang efektif
dan efisien dengan aman dan selamat, maka perlu dilaksanakan pengelolaan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) sebaik-baiknya sesuai dengan prosedur dan peraturan/ketentuan yang
berlaku.

Peraturan perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pertambangan

Peraturan K3 Pertambangan 4
diwujudkan sebagai petunjuk dalam melaksanakan K3 pertambangan. Untuk mewujudkan
terlaksananya manajemen keselamtan pertambangan dengan baik, maka pedoman atau petunjuk
pelaksanaan yang secara detail ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan K3 yang
berlaku.

B. DESKRIPSI MATERI

Modul Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Mineral dan Batubara ini
berisi mengenai peraturan perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan K-3 pertambangan
dalam kaitannya terhadap tugas pengawas oprasional pertama (POP). Peraturan perundang-
undangan tersebut meliputi Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri serta
ketentuan lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas seorang .

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari modul ini peserta mampu menerapkan peraturan dan perundang-
undangan K3 dalam kegiatan pertambangan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang
berlaku, dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pengawa operasional pertama.

D. MATERI POKOK
1. Peraturan perundang-undangan keselamatan dan kesehatan kerja serta keselamatan
operasi
a. Undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan kerja;
b. Peraturan pemerintan undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
pertambangan;
c. Ketentuan K-3 dalam undang-undanga pertambangan minerba;
d. Peraturan pemerintah terkait pengawasan K-3;
e. Keputusan menteri terkait K-3

2. Materi dari peraturan dan ketentuan yang terkait K-3 dan KO


a. Ruang lingkup K-3 dan KO;
b. Kepala Teknik Tambang (KTT);
3. Pelaksanaan peraturan dan ketentuan umum yang terkait dengan K-3 dan KO di area yang
menjadi tanggung jawabnya

Peraturan K3 Pertambangan 5
BAB II
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA KESELAMATAN OPERASI

Indikator Keberhasilan:
Dapat menjelaskan undang-undang terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan
Keselamatan Operasi
Dapat menjelaskan peraturan pelaksanaan terkait Keselamtan dan Kesehatan Kerja dan dan
Keselamatan Operasi

A. Undang-Undang mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, menimbang bahwa:
1. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas nasional
2. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja terjamin pula keselamatannya
3. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien
4. Pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang yang memuat
ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan
masyarakat. Industrialisasi. teknik dan teknologi

1. Ruang Lingkup
a. Dalam pasal 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 bahwa ruang lingkup yang
diatur dalam keselamatan kerja adalah untuk segala tempat kerja, baik di darat, dalam
tanah, permukaan air, dalam air maupun di udara yang berada dalam wilayah hukum
Indonesia.
b. Ketentuan tempat kerja tersebut antara lain :
1) Dibuat, dicoba, dipakai, disimpan, mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan, yang
dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran, dan peledakan.
2) Dibuat, dipakai, diperdagangkan, diangkut, dan atau disimpan bahan atau barang
yang dapat meledak, mudah terbakar, beracun, dan bersuhu tinggi
3) Dilakukan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran
rumah, gedung atau bangunan termasuk bangunan pengairan, terowongan di bawah
tanah
4) Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengolahan kayu,
peternakan, dan perikanan
5) Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan, baik di permukaan, di dalam
bumi, dan di dasar perairan

2. Syarat-Syarat Keselamatan Kerja


Dalam pasal 3 Undang-Undang tersebut di atas ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja
untuk antara lain :

Peraturan K3 Pertambangan 6
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran
c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya
e. Memberi pertolongan pada kecelakaan
f. Memberi alat-alat perlindungan diri kepada para pekerja
g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarnya suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi suara, dan getaran
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun
psikis, peracunan, infeksi, dan penularan
i. Memperoleh penerangan yang cukup sesuai
j. Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik
k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
l. Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban
m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara, dan
memproses kerjanya
n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman, dan
barang
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan, dan
penyimpanan barang
q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya
sehingga mencegah timbulnya kecelakaan kerja

3. Pembinaan
Dalam Pasal 9 ditetapkan kewajiban-kewajiban, antara lain :

a. Pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan kepada setiap tenaga kerja baru
tentang:
1) Kondisi dan bahaya yang dapat timbul di tempat kerja
2) Semua pengamanan dan alat perlindungan yang diharuskan di tempat kerja
3) Alat pelindung diri bagi pekerja yang bersangkutan
4) Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya
b. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang telah memahami syarat-
syarat tersebut.
c. Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi tenaga kerja yang berada di
bawah pimpinannya dalam pencegahan kecelakaan dan kebakaran serta peningkatan K3

Peraturan K3 Pertambangan 7
d. Pengurus wajib memenuhi dan menaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku bagi
usaha dan tempat kerja yang dijalankannya.

4. Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja


Dalam pasal 12 diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja adalah sebagai berikut:

a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli
keselamatan kerja
b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat K3 yang diwajibkan.
d. Meminta para pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat K3 yang diwajibkan.
e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat K3 serta alat-alat
perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus
ditentukan lain oleh Pegawai Pengawas dalam batas-batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.

Sedangkan dalam pasal 13 disebutkan bahwa Barang siapa akan memasuki suatu tempat
kerja diwajibkan menaati petunjuk Keselamatan Kerja dan memakai alat pelindung diri yang
diwajibkan.

Kewajiban untuk pengurus dituangkan dalam pasal 14 yang memerintahkan:

a. Secara tertulis menempatkan di tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat


keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai undang- undang ini dan peraturan
pelaksanaannya
b. Memasang pada tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja
dan semua bahan pembinaan
c. Menyediakan secara cuma-cuma semua alat pelindung diri bagi semua tenaga kerja
dan setiap orang lain yang memasuki tempat kerja

B. Peraturan Pemerintah mengenai Keselamatan Kerja Pertambangan

Mengacu pada PP Nomor 19 tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan
Kerja di Bidang Pertambangan, menimbang bahwa:
1. Bidang pertambangan memiliki fungsi yang penting dalam pembangunan ekonomi
nasional dan pertahanan Negara, sehingga perlu diadakan pengaturan lebih lanjut tentang
pengawasan keselamatan kerja dibidang pertambangan sebagaimana disebutkan dalam
Pasal 16 Undang-undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 dan Pasal 29 Undang-undang
Nomor 11 Tahun 1967;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 mengatur keselamatan kerja secara umum
termasuk bidang pertambangan yang menjadi tugas dan tanggung-jawab Menteri Tenaga
Kerja, Transmigrasi dan Koperasi;
3. Untuk memperlancar pelaksanaan usaha-usaha pertambangan yang merupakan proses
yang terus menerus, membutuhkan peralatan yang khusus dan menghadapi kemungkinan

Peraturan K3 Pertambangan 8
bahaya yang mempunyai tingkat berulangnya kecelakaan membawa korban manusia dan
tingkat kengerian kecelakaan yang begitu besar dan khas, dianggap perlu untuk
mengadakan penyelenggaraan pengawasan keselamatan kerja yang lebih effisien dan
effektief;
4. Departemen Pertambangan telah mempunyai personil dan peralatan yang khusus untuk
menyelenggarakan pengawasan

Pasal 1 dalam PP Nomor 19 tahun 1973 disebutkan bahwa Pengaturan keselamatan kerja
pertambangan tertuang dalam UU No. 44 Prp. Tahun 1960, UU No.11 Tahun 1967 dan PP No. 32
Tahun 1969, dengan ditetapkannya UU No. 1 Tahun 1970 dilakukan oleh Menteri Pertambangan.

Dalam pasal 2 diterangkan bahwa pengawawasan atas kselamatan kerja dalam bidang
pertambangan dilakukan oleh Menteri Pertambangan dengan berpedoman kepada Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1970 serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.
Dalam pasal 3 diterangkan bahwa Menteri Pertambangan mengangkat pejabat pengawas
keselamatan kerja setelah mendengar pertimbangan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan
Koperasi;
Pelaksanaan pengawasan tersebut diatas dilaporkan secara berkala oleh Menteri Pertambangan
kepada Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi.
Peraturan pemerintah ini tidak berlaku bagi agi pengaturan dan pengawasan terhadap Ketel Uap
sebagaimana termaksud dalam Stoom Ordonnantie 1930 (Stbl. 1930 Nomor 225), peryataan ini
tertuang pada pasal 5 dalam PP No. 19 Th.1973.

C. Ketentuan K-3 dalam Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara

Pengaturan terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Keselamatan Operasi
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
tertuang dalam beberapa pasal sebagai berikut:
1. Pasal 96 menerangkah bahwa pemegang IUP dan IUPK dalam menerapkan kaidah teknik
pertambangan yang baik, wajib melaksanakan:

a. ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;


b. keselamatan operasi pertambangan.

2. Dalam pasal 139 dinyatakan bahwa menteri melakukan pembinaan terhadap pengelolaan
usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota,
pembinaan tersebut meliputi:
a. Pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan;
b. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. Pendidikan dan pelatihan; dan
d. Perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan
penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan batubara.
3. Dalam pasal 140 dinyatakan bahwa

Peraturan K3 Pertambangan 9
a. Menteri melakukan pengawasan terhadap pengelolaan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya;
b. Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pengawasan yang
dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota;
c. Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai kewenangannya melakukan pengawasan
yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, dan IUPK.
d. Dalam pasal 141 huruf (f) dan (g) dinyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan
diantaranya adalah pengawasan terhadap aspek K3 pertambangan dan keselamatan
operasi pertambangan, pengawasan terhadap kedua aspek tersebut dilaksanakan oleh
Inspektur Tambang.

D. Peraturan Pemerintah terkait Pengawasan K-3


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2010. 2010 tentang Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara,
pengawasan terhadap aspek keselamatan dan kesehatan pertambangan serta keselamatan
operasi tertuang dalam pasal 26 dan 27.

Dalam pasal 26 ayat (1), menjelaskan bahwa pengawasan terhadap K3 meliputi:

1. Keselamatan kerja;
2. Kesehatan kerja;
3. Lingkungan kerja; dan
4. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja

Dalam pasal 27 ayat (1), menjelaskan bahwa pengawasan terhadap keselamatan operasi meliputi:

1. Sistem pelaksanaann pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, instalasi, dan peralatan


pertambangan;
2. Pengamanan instalasi;
3. Kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan;
4. Kompetensi tenaga teknik; dan
5. Evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan.

Pengawasan terhadap kedua aspek tersebut dilakukan oleh Inspektur Tambang (pasal 36 huruf a),
melalui:
1. Evaluasi terhadap laporan berkala dan/atau sewaktu-waktu;
2. Pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu; dan
3. Penilaian atas keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan.
Pengawasan oleh Inspektur Tambang dilakukan melalui kegiatan inspeksi, penyelidikan, dan
pengujian.

Dalam pasal 36 ayat (3) diatur wewenang Inspektur Tambang bahwa:


A. Memasuk tempat kegiatan usaha pertambangan setiap saat;
B. Menghentikan sementara waktu sebagian atau seluruh kegiatan pertambangan mineral dan
batubara apabila kegiatan pertambangan dinilai dapat membahayakan keselamatan
pekerja/buruh tambang, keselamatan umum, atau menimbulkan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan; dan

Peraturan K3 Pertambangan 10
C. Mengusulkan penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada huruf B menjadi
penghentian secara tetap kegiatan pertambangan mineral dan batubara kepada Kepala
Inspektur Tambang.
Yang dimaksud Kepala Inspektur Tambang adalah Pejabat yang secala ex officio menduduki
jabatan:
1. Direktur yang mempunyai tugas okok dan fungsi di bidang keteknikan pertambangan mineral
dan batubara di Pemerintah;
2. Kepala dinas teknis provinsi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang pertambangan
mineral dan batubara di pemerintah provinsi;
3. Kepala dinas teknis kabupaten/kota yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang
pertambangan mineral dan batubara di pemerintah kabupaten/kota.

E. Keputusan Menteri terkait K-3


Dalam pasal 1 ayat (1) Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.
555K/26/MPE/1995, bahwa Kepala Teknik Tambang adalah seorang yang memimpin dan
bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan K3 pada
suatu kegiatan usaha pertambangan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam pasal 4 dijelaskan mengenai kewajiban pengusaha pertambangan, sebagai berikut:

1. Pengusahaan baru dapat memulai kegiatan usaha pertambangan setelah


memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
2. Pengusaha dalam waktu 2 minggu setelah salah satu dari setiap kegiatan
dibawah ini harus mengirimkan laporan tertulis kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang,
yaitu:
a. Memulai kegiatan eksplorasi, pembukaan tambang, dan terowongan
baru mendatar atau terowongan pada lapisan batubara tambang bawah tanah;
b. Memulai pembuatan sumuran baru atau jalan keluar untuk setiap
tambang bawah tanah
c. Menghentikan kegiatan atau meninggalkan setiap tambang
permukaan atau setiap terowongan mendatar atau terowongan pada lapisan, sumuran
atau jalan keluar dari tambang bawah tanah yang dihitung 12 bulan dari tanggal kegiatan
terakhir, kecuali telah ditinggalkan sebelumnya.

3. Pengusaha harus menyediakan segala peralatan, perlengkapan, alat


pelindung diri, fasilitas, dan biaya yang diperlukan untuk terlaksananya peraturan ini.
4. Pengusaha harus menyediakan secara cuma-cuma alat pelindung diri
yang diperlukan sesuai dengan jenis, sifat, dan bahaya pada pekerjaan yang dilakukannya dan
bagi setiap orang yang memasuki tempat usaha pertambangan.
5. Berdasarkan pertimbangan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang,
pengusaha harus menyediakan akomodasi yang patut pada atau dekat usaha pertambangan
untuk Pelaksana Inspeksi Tambang selama melakukan tugasnya.

Peraturan K3 Pertambangan 11
6. Pengusaha harus memberikan bantuan sepenuhnya kepada Pelaksana
Inspeksi Tambang dalam melaksanakan tugasnya.
7. Pengusaha harus menghentikan pekerjaan usaha pertambangan, apabila
Kepala Teknik Tambang atau petugas yang ditunjuk tidak berada pada pekerjaan usaha
tersebut.

Pada pasal 11 mengenai Pengawas Operasional, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. KTT dalam melakukan tugas dan fungsinya dibidang K3 pada pekerjaan di tambang,
permesinan dan perlistrikan serta peralatannya dibantu oleh petugas yang bertanggung jawab
atas unit organisasi perusahaan yang bersangkutan;
2. Dalam hal pengusaha belum mengangkat petugas-petugas sebagimana dimaksud dalam ayat
(1) KTT dapat menunjuk atau mengangkat petugas dimaksud;
3. Petugas-petugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dalam melaksanakan
tugasnya disebut sebagai pengawas operasional atau pengawas teknis dan bertanggung
jawab kepada KTT.

Untuk kewajiban Pengawas Operasional tertuang dalam pasal 12, sebagai berikut:
1. Bertanggung jawab terhadap KTT untuk keselamatan semua pekerja tambang yang menjadi
bawahannya;
2. Melaksanakan inspeksi, pemeriksaan, dan pengujian;
3. Bertanggung jawab atas keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan semua orang yang
ditugaskan kepadanya;
4. Membuat dan menandatangani laporan pemeriksaan, inspeksi, dan pengujian.

Dalam Pasal 14 diatur tentang Pemeriksaan Tambang, yaitu bahwa Kepala Teknik Tambang atau
petugas yang ditunjuk harus melakukan pemeriksaan:
a. Dalam setiap gilir kerja penggalian bahan galian, harus memeriksa sekurang-kurangnya satu
kali setiap tempat kerja dimana seseorang bekerja dan setiap jalan atau lintasan dimana
seseorang menggunakannya selama gilir kerja tersebut;
b. Dalam setiap gilir kerja, harus memeriksa setiap tempat sebelum peledakan dilakukan;
c. Setiap hari kerja, memeriksa jalan-jalan masuk atau tangga, yang dipergunakan pada hari itu;
d. Semua permukaan kerja, front kerja, tanggul, dan lereng kerja serta pelaksanaan dari
pekerjaan memperbaiki, jika diperlukan;
e. Pekerjaan persiapan pelaksanaan peledakan serta keadaan peralatan dan kendaraan yang
digunakan di tempat itu;
f. Alat pengangkut dan transport;
g. Jalan-jalan tambang;
h. Pengaman permesinan dan
i. Tempat-tempat yang dianggap berbahaya.

Pasal 25 diatur tentang Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yaitu untuk melengkapi tugas-
tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 23, dalam pelaksanaannya dapat membentuk
kelompok kerja (komite) pada setiap jenjang struktural yang mempunyai tugas:

Peraturan K3 Pertambangan 12
a. Secara teratur melakukan pemeriksaan bersama-sama mengenai setiap aspek keselamatan
dan kesehatan kerja serta masalah-masalah yang ada kaitannya yang telah ditemukan di
tambang dan mengusulkan tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah tersebut
b. Mengatur inspeksi terpadu seperlunya ke tempat-tempat kerja di tambang dalam
melaksanakan fungsinya.

Pasal 27 diatur tentang Pemeriksaan Kesehatan, yaitu:


1. Para pekerja tambang berhak untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatannya yang menjadi
kewajiban perusahaan.
2. Pekerja tambang harus diperiksa kesehatannya (pemeriksaan menyeluruh) secara berkala
oleh dokter yang berwenang.
3. Pekerja tambang bawah tanah harus diperiksa kesehatannya sekurang-kurangnya dua kali
setahun.
4. Pekerja tambang yang bekerja di tempat yang dapat membahayakan paru-paru, harus
dilakukan pemeriksaan kesehatan secara khusus.
5. Berdasarkan ketentuan yang berlaku Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang yang menangani
bahan berbahaya oleh dokter yang berwenang.

Pada pasal 28 mengenai Pendidikan dan Pelatihan, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Kepala Teknik Tambang wajib mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk pekerja baru,
pakerja tambang untuk tugas baru, pelatihan untuk menghadapi bahaya dan pelatihan
penyegaran tahunan atau pendidikan dan pelatihan lainnya yang ditetapkan oleh Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang
2. Kepala Teknik Tambang dapat menyelenggarakan sendiri atau bekerja sama dengan instansi
Pemerintah atau badan-badan resmi lainnya
3. Program pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada dalam ayat (1), harus terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 555K/26/M.PE/1995 Pasal
40,Klasifikasi Cidera Akibat Kecelakaan Tambang, adalah :

1. Cidera ringan: apabila akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak
mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 (satu) hari dan kurang dari 3 (tiga) minggu,
termasuk hari minggu dan hari libur.

2. Cidera berat :

a. Apabila akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu
melakukan tugas semula lebih dari 3 (tiga) minggu termasuk hari minggu dan libur.
b. Apabila akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap
(invalid) yang tidak mampu menjalankan tugas semula.
c. Apabila akibat kecelakaan tambang tidak tergantung dari lamanya pekerja tambang tidak
mampu melakukan tugas semula karena mengalami cidera, seperti :

Peraturan K3 Pertambangan 13
Keretakan tengkorak kepala, tulang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan atas,
paha atau kaki;
Pendarahan di dalam atau pingsan disebabkan kekurangan oksigen;
Luka berat atau luka robek/terkoyak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan
tetap;
Persendian lepas dimana sebelumnya tidak pernah terjadi.
3. Mati: apabila kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24
jam terhitung dari waktu terjadinya kecelakaan tersebut.

Pada pasal 167 ayat (8) mengenai Ketentuan Umum, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
Kepala Teknik Tambang atau orang yang ditunjuk harus mengeluarkan izin untuk pekerjaan
pengelasan atau pemotongan pada setiap tempat yang kondisinya dapat menyebabkan ledakan
atau kebakaran yang tidak diduga. Izin tersebut hanya berlaku pada hari diterbitkannya dan
kewaspadaan akan timbulnya api harus terus tetap dijaga sampai pekerjaan yang diizinkan
tersebut selesai.
Ijin-ijin lainnya antara lain:
1. Ijin bekerja di ketinggian
2. Ijin bekerja di confince space
3. Ijin bekerja di atas air
4. Ijin bekerja penggalian
Pada pasal 181 mengenai Orang yang Bertugas dan Bertanggung Jawab, dijelaskan mengenai
hal-hal sebagai berikut:
1. Semua pekerjaan listrik, harus diawasi oleh seorang ahli listrik yang namanya harus dicatat
dalam Buku Tambang
2. Pekerjaan listrik hanya boleh dilakukan oleh orang yang mempunyai pengetahuan dan
pengalaman tentang listrik.
Pada pasal 253 ayat (1, 2, dan 3) mengenai Pemeriksaan dan Perawatan, dijelaskan mengenai
hal-hal sebagai berikut:

1. Mesin dan bagian mekanis alat pemindah tanah harus diperiksa sebelum dioperasikan dan
juga dilakukan pemeriksaan secara berkala.
2. Penanggung jawab teknik menunjuk tenaga teknis dan menetapkan jadwal pemeriksaan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
3. Hasil pemeriksaan dan perawatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dicatat dalam
buku yang disediakan dan ditanda tangani oleh tenaga teknis yang ditunjuk.
Pada pasal 241 ayat (2, 3, 4, dan 5) mengenai Tinggi permuka Kerja dan Lebar Teras Kerja,
dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir,
tanah liat, kerikil, dan material lepas lainnya harus:
a. Tidak boleh lebih dari 2,5 meter apabila dilakukan secara manual;
b. Tidak boleh lebih dari 6 meter apabila dilakukan secara mekanik dan

Peraturan K3 Pertambangan 14
c. Tidak boleh lebih dari 20 meter apabila dilakukan dengan menggunakan clamshell,
dragline, bucket wheel excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang.
2. Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6
meter, apabila dilakukan secara manual.
3. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan
kabin pengaman yang kuat, maka tinggi jenjang maksimum untuk semua jenis material
kompak 15 meter, kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
4. Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila:
a. Tinggi jenjang keseluruhan pada sistem penambangan berjenjang lebih dari 15 meter dan
b. Tinggi setiap jenjang lebih dari 15 meter.

Pada pasal 121 ayat (1) mengenai Jalan Untuk Menyelamatkan Diri, dijelaskan mengenai hal-hal
sebagai berikut:
1. Semua bangunana harus dilengkapi jalan untuk menyelematkan diri yang cukup dan
terpelihara baik, mudah dilalui dan mempunyai hubungan komunikasi yang mudah dengan
ruangan-ruangan lainnya yang selalu ada orangnya, termasuk:
a. Tangga untuk penyelamat diri dengan konstruksi tahan apai yang dilengkapi dengan pintu
tahan api pada setiap tingkat termasuk ruang bawah tanah dan
b. Bangunan tangga di liar gedung dari logam atau bahan yang tidak dapat terbakar yang
dilengkapi dengan pegangan tangga dan lantai pada setiap tingkat yang langsung
berhubungan ke dalam bangunan melalui pintu dari besi atau yang tahan api.
Pada pasal 144 ayat (1) mengenai Cara Kerja Yang Aman, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai
berikut:
1. Kepala Teknik Tambang harus mengatur arus lalu-lintas di pertambangan dan memasang
tanda lalulintas yang perlu untuk memberitahukan para pengemudi tentang:
a. Arah lalu-lintas;
b. Batas kecepatan;
c. Batas tinggi kendaraan;
d. Tanjakan/turunan dan
e. Daerah parkir dan tidak boleh parkir dan hal lain yang berhubungan dengan keselamatan
sistem pengangkutan.

Pada pasal 146 ayat (1) mengenai Peraturan Anggkutan, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai
berikut:
1. Pada setiap usaha pertambangan, Kepala Teknik Tambang harus menetapkan peraturan dan
pemasangan rambu-rambu lalulintas mengenai cara kerja angkutan yang meliputi:
a. Cara menggunakan kendaraan dengan aman;
b. Arah lalu lintas, batas kecepatan, batas muatan;
c. Muatan yang berbahaya atau tidak umum;

Peraturan K3 Pertambangan 15
d. Kendaraan service dan penarik atau pendorong kendaraan;
e. Jarak antara kendaraan pada jalan angkutan;
f. Pekerjaan bongkar muat;
g. Pengaturan pejalan kaki;
h. Menangani ban;
i. Penumpang, angkutan para pekerja dan
j. Pelatihan izin mengemudi

Pada pasal 159 mengenai Instalasi Anjungan Ban Berjalan Dan Alat Penyebar Tanah Penutup
(spreader), dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Bagian dari instalasi anjungan ban berjalan, alat penyebar tanah penutup, mesin gali beserta
seluruh tangga dan lantainya harus dibersihkan sebelum dimulainya gilir kerja.
2. Instalasi anjungan ban berjalan dan alat penyebar tanah penutup harus dilengkapi dengan
instrumen pengukur, tombol pengaman, sinyal dan alat komunikasi yang selalu berfungsi
dengan baik. Sebagai tambahan rem otomatis maka rantai kelabang (under carrige) harus
dilengkapi dengan rem tangan.
3. Instalasi anjungan ban berjalan dan alat penyebar tanah penutup harus dilengkapi dengan
instrumen otomatis yang mengukur kecepatan dan arah angin secara terus menerus yang
dihubungkan dengan sistem sinyal keadaan darurat dan dengan sistem pengendali roda atau
rantai penyangga dari alat penyebar tanah penutup.
4. Jalur ban berjalan pada instalasi anjungan ban berjalan dan alat penyebar tanah penutup
harus dilengkapi dengan lantai pijakan yang mempunyai pagar pengaman di kedua sisinya.
Setiap pengimbang berat yang letaknya dekat ke jalan atau jalur lalulintas harus diberi pagar
pengaman secara efektif.
5. Apabila alat penyebar tanah penutup, baik dari jenis yang berjalan di atas tanah maupun di
atas rel sedang bergerak dilarang kendaraan pengangkut, mesin atau peralatan lainnya atau
orang melintas di kolong jembatan gantungnya.
6. Instalasi anjungan bantidak boleh dekat dengan bangunan atau alat-alat tambang atau alat
angkut dalam jarak kurang dari 1 meter atau beroperasi pada posisi di atas alat kerja tambang
dan alat angkut lainnya
7. Jarak tegak lurus antara ujung jembatan penumpah pada instalasi anjungan ban berjalan
dengan puncak dari timbunan sekurang-kurangnya 3 meter. Untuk alat penyebar tanah
penutup dari jenis yang mempunyai ban berjalan dengan jembatan gantung yang bergerak
secara berkala, jarak tersebut tidak kurang dari 1,5 meter. Apabila terdapat tanda-tanda
longsornya timbunan, jembatan gantungnya harus segera dipindahkan dari daerah bahaya
tersebut.
8. Pada saat cuaca buruk, badai, hujan lebat atau kabut, jarak pandang kurang dari 25 meter,
maka lalu lintas pekerja atau pekerjaan pada instalasi anjungan ban berjalan harus dihentikan.
Dilarang menjalankan roda atau rantai penyangga instalasi anjungan ban berjalan apabila roda
atau rantai penyangga tersebut terendam air.

Peraturan K3 Pertambangan 16
9. Pada saat melakukan perbaikan pada instalasi anjungan ban berjalan, dilarang membongkar
rem otomatis dan rem bawah tanah secara bersamaan.

Pada pasal 161 ayat 3 mengenai Tindakan Pencegahan Terhadap Kebakaran Atau Ledakan,
dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Dilarang menggunakan api di perbengkelan, kecuali pada tempat-tempat yang memerlukan api
sesuai dengan sifat pekerjaannya dan disediakan peralatan pengaman yang cukup.
2. Di dalam bengkel, kain yang berlumuran minyak atau zat cair lainnya yang mudah terbakar,
harus ditempatkan teratur pada tempat yang mungkin menimbulkan bahaya kebakaran.
3. Apabila zat cair yang mudah menyala dituangkan dari dalam sebuah wadah, maka wadah
tersebut konstruksinya harus tahan api dan kapasitasnya tidak boleh lebih dari 20 liter.
Dilarang menyimpan zat cair yang mudah menyala lebih dari sepuluh buah wadah di dalam
sebuah bengkel.
4. Apabila di dalam bengkel, ada pekerjaan yang dapat menimbulkan bahaya peledakan, maka
ruangan tersebut dan ruangan lain yang berhubungan dengannya, harus bebas dari api, atau
nyala api terbuka dan hanya boleh diterangi dengan lampu kedap-gas. Nyala api terbuka atau
lampu yang bukan kedap-gas tidak boleh digunakan sekurang-kurangnya dalam jarak 10
meter dari ruangan tersebut. Ruang tersebut harus mempunyai ventilasi yang baik dan kalau
perlu dengan cara mekanis.
5. Dilarang merokok atau membawa material yang dapat menimbulkan api di dalam bengkel
sebagaimana dimaksud ayat (4) dalam pasal ini.
6. Barang-barang dan bahan-bahan dalam bengkel, harus diatur dengan baik sehingga tidak
merintangi jalan, untuk menyelematkan diri bila terjadi kebakaran.
7. Pada setiap bengkel harus dilengkapi dengan alat pemadam api yang sesuai dan jumlah yang
cukup.

Pada pasal 228 mengenai Tata Cara Pemboran, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Kepala Teknik Tambang atau petugas yang bertanggung jawab untuk setiap pekerjaan
pemboran harus membuat tata cara kerja sesuai jenis alat bor yang dipakai.
2. Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis harus memastikan bahwa pekerjaan pemboran
dilakukan berdasarkan tata cara kerja yang ditetapkan.

Pada pasal 231 ayat 5 mengenai Pemboran Eksplorasi, dijelaskan mengenai hal-hal sebagai
berikut:
Pada pemboran harus ada buku kerja yang selalu diisi mengenai:
a. Tata cara pengeboran;
b. Keadaan lapisan batuan;
c. Formasi batuan yang telah di bor;
d. Kedalaman yang dicapai dan letak dari setiap endapan;
e. Kemajuan per hari;

Peraturan K3 Pertambangan 17
f. Ukuran lubang dan pipa bor yang digunakan;
g. Cara menyumbat aliran air dan
h. Hasil dari uji percobaan dan alat penutup lapisan air.

Pada pasal 233 ayat 1 mengenai Pengamanan Pada Instalasi Pemboran, dijelaskan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
Derek bor atau tiang bor harus diperiksa sebelum dipancangkan atau dipasang. Perkakas dan
barang kecil lainnya yang diperlukan pada waktu pemancangan harus diikat atau dijaga jangan
sampai terjatuh. Perkakas yang berat dan peralatan tidak boleh diangkat dengan tangan dan
harus tersedia alat untuk mengangkat dan menurunkan ke lantai kerja.

Tambang permukaan; dalam pasal 239 ayat 1 dan 3 cara kerja yang aman, dijelaskan sebagai
berikut:
Ayat (1): di sekitar bagian tambang baik yang masih ada kegiatan maupun yang sudah
ditinggalkan dan dapat menimbulkan bahaya, harus diberikan pagar pengaman dengan tinggi
sekurang-kurangnya 80 sentimeter atau dipasang tanda peringatan.
Ayat (3): setiap jalan masuk yang mempunyai kemiringan lebih dari 40 derajat harus dilengkapi
dengan tangga yang dipasang secara tetap atau jalan bertangga. Apabila tanggal dipasang
secara tetap atau jalan bertangga. Apabila tangga dipasang lebih curam 75 derajat harus
dilengkapi pagar sandaran punggung.

Pada pasal 244, dijelaskan bahwa perancanaan tambang hidrolis termasuk sistem sirkulasi air,
saluran air, bendungan serta kolam limbah dan sebagainya harus terinci dengan baik.

Pada pasal 246 ayat (1) dan ayat (6) mengenai Pengoperasian Monitor, dijelaskan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
Ayat (1): Monitor yang dioperasikan secara manual harus dilengkapi dengan alat pemberat
keseimbangan. Selama operasi, monitor harus secara terus menerus dikendalikan oleh
operator. Jarak monitor dari dinding teras penambangan sekurang-kurangnya sama dengan
tinggi dinding teras tersebut.
Ayat (6): Tinggi dinding teras penambangan tidak boleh lebih dari 6 meter, kecuali ditentukan
lain oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

Pada pasal 247 ayat (2) dan ayat (7) mengenai Pengoperasian Monitor, dijelaskan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
Ayat (2): Ujung pipa isap pompa tanah, harus digantung pada kaki tiga atau alat yang
mempunyai fungsi serupa dan dilengkapi dengan pangapung serta dipagar.
Ayat (7): Sekitar ujung pipa isap dari pompa semprot harus diberi pagar pengaman dan diberi
tanda peringatan bahaya.

Peraturan K3 Pertambangan 18
Pada pasal 258 ayat (1),(2),(4) dan ayat (5) mengenai Tanggung Jawab, dijelaskan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
Ayat (1): pada setiap kapal keurk harus ada seorang kepala kapal keruk yang bertugas
memimpin, mengatur, dan mengawasi pekerjaan kapal keruk termasuk pekerjaan lain yang
berkaitan dengan pengoperasian kapal keruk.
Ayat (2): Kepala Kapal Keruk bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan orang di
kapal keruk serta tempat lainnya yang berada dibawah pengawasannya.
Ayat (4): Setiap kapal keruk dilarang beroperasi tanpa kehaidaran kepala kapal keruk dan atau
kepala gilir kerjadi atas kapal keruk.
Ayat (5): Untuk diangkat menjadi kepala kapal keruk dan atau kepala gilir kerja harus
memenuhi kualifikasi yang ditetapkan kepala teknik tambang dan namanya dicatat dalam buku
tambang.

Pada pasal 260 mengenai Pekerja Tambang Pada Kapal Keruk, dijelaskan mengenai hal-hal
sebagai berikut:
1. Semua pekerja tambang yang bekerja di kapal keruk harus dapat berenang.
2. Pekerja tambang yang bekerja untuk sementara waktu atau orang yang mendapat izin dari
Kepala Teknik Tambang atau Kepala Kapal Keruk apabila tidak dapat berenang harus selalu
memakai rompi pelampung selama berada di atas kapal keruk.

Pada pasal 262 ayat (1) mengenai Pekerja Tambang Pada Kapal Keruk, dijelaskan bahwa setiap
kapal keruk harus stabil dan laik operasi.

Pada pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) mengenai Izin Operasi Kapal Keruk, dijelaskan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
1. Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang berdasarkan hasil pemeriksaan akan mengeluarkan izin
operasi kapal keruk yang berlaku 10 tahun dan dapat diperpanjang.
2. Perpanjangan izin operasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan setelah
melalui pemeriksaan oleh PelaksanaInspeksi Tambang atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh
Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

Pada pasal 276 ayat (1.a), dijelaskan bahwa pada setiap kapal keruk harus tersedia: Rompi
pelampung yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia, sekurang-kurangnya 110 persen dari
jumlah maksimum orang yang berada di atas kapal keruk. Baju pelampung tersebut harus berada
di atas kapal keruk ditempatkan pada tempat yang mudah dilihat, dicapai, dan diambil.

Pada pasal 289 ayat (2.c),dan (2.e) mengenai Tindakan Pengamanan, dijelaskan bahwa pada
setiap kapal keruk yang ditarik harus tersedia:
Air dan bahan bakar yang cukup;

Peraturan K3 Pertambangan 19
Makanan dan air minum dalam jumlah yang cukup untuk semua orang yang berada di atas
kapal keruk selama waktu penarikan ditambah 100 persen sebagai cadangan.

Kriteria kecelakaan tambang (Kepmen 555K/26/M.PE/1995, Pasal 39), dan Hubungan antara jenis-
jenis kecelakaan.

Kecelakaan dapat dikategorikan sebagai Kecelakaan Tambang apabila memenuhi 5 (lima) kriteria
damal ketentuan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/26/M.PE/1995
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum pasal 39 yaitu:

1. Kecelakaan benar-benar terjadi


2. Menimpa pekerja tambang atau orang yang diberi izin
3. Akibat kegiatan usaha pertambangan
4. Pada jam kerja korban
5. Dalam wilayah izin atau proyek
Artinya apabila 1 (satu) kriteria dai 5 (lima) tersebut tidak terpenuhi maka suatu kecelakaan
tidak masuk dalam kategori kecelakaan tambang.

Peraturan K3 Pertambangan 20
BAB III
MATERI DARI PERATURAN DAN KETENTUAN
TERKAIT K-3 DAN KESELAMATAN OPERASI

Indikator Keberhasilan:
Dapat menjelaskan ruang lingkup K-3 dan KO;
Dapat menjelaskan tugas dan tanggung jawab penyelenggaraan dan pelaksanaan K-3 dan KO;
Dapat menjelaskan kewajiban pemegang izin usaha pertambangan;
Dapat menjelaskan mengenai Kepala Teknik Tambang (KTT);
Dapat menjelaskan hak dan kewajiban pekerja tambang;
Dapat menjelaskan syarat-syarat K-3 dan KO;
Dapat menjelaskan bentuk-bentuk pengawasan K-3 dan KO.

A. Ruang Lingkup K-3 dan Keselamatan Operasi


Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, ruang
lingkup K3 pertambangan meliputi:

1. Keselamatan kerja, yang antara lain berupa:


Manajemen risiko,
Program keselamatan kerja,
Pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja,
Administrasi keselamatan kerja,
Manajemen keadaan darurat,
Inspeksi dan Audit keselamatan kerja,
Pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.

2. Kesehatan kerja, antara lain berupa:


Program kesehatan kerja
Pemeriksaan kesehatan pekerja,
Pencegahan penyakit akibat kerja,
Diagnosis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja
Hiegiene dan sanitasi,
Pengelolaan makanan, minuman dan gizi kerja,
Ergonomis.

3. Lingkungan kerja, antara lain berupa:


Pengendalian debu,
Pengendalian kebisingan,
Pengendalian getaran,
Pencahayaan,
Kualitas udara kerja (kuantitas dan kualitas)
Pengendalian radiasi

Peraturan K3 Pertambangan 21
House keeping.

4. Sistem Manajemen K3
Kebijakan
Perencanaan
Organisasi dan Personel
Implementasi
Evaluasi dan Tindak Lanjut
Dokumentasi
Tinjauan Manajemen

Sedangkan ruang lingkup pengawasan operasi sesuai dengan PP No 55 Tahun 2010 pasal 27
meliputi:
1. Sistem dan paksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, instalasi, dan
peralatan pertambangan;
2. Pengamanan instalasi;
3. Kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan;
4. Kompetensi tenaga teknik; dan
5. Evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan.

B. Kepala Teknik Tambang (KTT)


Kepala teknik tambang adalah orang yang ditunjuk perusahaan dan disahkan oleh Kepala
Inspeksi Tambang untuk bertanggung jawab atas terlaksanya serta ditaatinya peraturan
perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada suatu kegiatan usaha
pertambangan umum diwilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.555.K/26/M.PE/1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum Pasal 11, 12. 13 dan 14 dijelaskan
bahwa:
1. Kepala Teknik Tambang dalam melakukan tugas dan fungsinya dibidang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada pekerjaan ditambang, permesinan dan pelistrikan serta
peralatannya dibantu oleh petugas yang bertanggung jawab atas unit organisasi
perusahaan yang bersangkutan.
2. Apabila pengusaha belum mengangkat petugas yang bertanggung jawab atas inti
organisasi, maka Kepala Teknik Tambang dapat menunjuk atau mengangkat petugas
tersebut
3. Petugas tersebut dalam melaksanakan tugasnya disebut sebagai pengawas operasional
atau pengawas teknis dan bertanggungjawab kepada Kepala Teknik Tambang.

Peraturan K3 Pertambangan 22
BAB V
PENUTUP

Peraturan perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pertambangan


diwujudkan sebagai petunjuk dalam melaksanakan K3 pertambangan. Untuk mewujudkan
terlaksananya manajemen keselamtan pertambangan dengan baik, maka perlu adanya pedoman
atau petunjuk pelaksanaan yang secara detail ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
K3 yang berlaku. Pengawasan kegiatan pertambangan dilakukan baik secara internal maupun
eksternal, pengawasan yang dilakukan secara internal salah satunya dilaksanakan oleh Pengawas
Operasional Pertama (POP). Dalam melaksanakan pengawasan seorang Pengawas Operasional
harus mengetahui peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai payung hukum dalam
pelaksanaan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja serta keselamatan operasi dalam
pelaksanaan kegiatan pertambangan.

Peraturan K3 Pertambangan 23
DAFTAR PUSTAKA

---------,
---------, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Republik Indonesia No.
555K/26/MPE/1995, Departemen Pertambangan dan Energi Republik
Indonesia, 1995.

Peraturan K3 Pertambangan 24