Anda di halaman 1dari 18

INTEGRASI SISTEM INFORMASI PERTANAHAN DAN INFRASTRUKTUR

DATA SPASIAL DALAM RANGKA PERWUJUDAN ONE MAP POLICY


Sukmo Pinuji1

Abstract: Land information has important roles in Spatial Data Infrastructure (SDI), as it contains information of land use,
utilization, even land value. Land information also has specific characteristic: dynamics and has sensitivity related to the needs of
different parties. Moreover, the new paradigm of Land Information System (LIS) should be able to promote spatial based decision
making for sustainable development, thus demand the integration of LIS to National SDI (NSDI), to facilitate spatial data access
within stakeholders. Nonetheless, this condition has not been met. This research identified and analyzed some critical points of
the integration of LIS to NSDI, based on six elements of SDI, through the implementation of Geo-KKP, a milestone of the
implementation of SDI in the organization of Ministry of Agrarian and Land Use Planning/NLA. The results show that Geo-KKP is
developed mainly to support land registration, and has not been developed to support NSDI. Furthermore, the integration of LIS
to support NSDI can be effectively achieved through the comprehensive development of the six elements of SDI.
Key words
words: LIS, IDS, Geo-KKP

Intisari: Informasi pertanahan memiliki peran penting dalam Infrastruktur Data Spasial (IDS), karena menyediakan informasi
mengenai pemilikan, pemanfaatan sampai informasi nilai tanah. Selain itu, perkembangan paradigma baru bahwa Sistem Informasi
Pertanahan (SIP) harus berperan dalam spatial based decision making untuk terwujudnya sustainable development menjadikan
tantangan tersendiri dalam menciptakan sistem yang terintegrasi ke dalam Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN), agar informasi
spasial dapat dengan mudah diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam implementasinya, SIP belum dapat secara
optimal terintegrasi dalam IDSN. Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis berbagai titik sensitif dalam pengintegrasian
SIP ke dalam IDSN, berdasarkan enam elemen IDS, melalui implementasi Geo-KKP, yang merupakan rintisan IDS di level organisasi
Kementerian ATR/BPN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Geo-KKP masih dikembangkan secara parsial dari konsep IDSN,
sebatas untuk mendukung kegiatan pendaftaran tanah, dan belum mencakup kepentingan yang lebih luas sebagaimana yang diinginkan
oleh konsep IDS.Untuk dapat mengembangkan SIP yang dapat memenuhi tuntutan tersebut, keenam elemen IDS tersebut harus
diafiliasi secara komprehensif dan menyeluruh, dan tidak secara parsial.
Kata kunci: SIP, IDS, Geo-KKP

A. Pendahuluan belakangi perkembangan Sistem Administrasi


Sejak dunia memasuki era komputerisasi, hampir Pertanahan (SAP), yang menjadikannya menjadi
semua lini kehidupan berubah dari sistem manual suatu sistem yang dinamis dan akan selalu
ke sistem digital, termasuk pula dalam sistem berkembang mengikuti tuntutan jaman.
administrasi pertanahan. Di sisi lain, hubungan Ada tiga kunci utama dalam sebuah administrasi
manusia dengan tanah juga semakin berkembang pertanahan, yaitu pemilikan dan penguasaan tanah
menjadi suatu sistem yang kompleks, yang tidak (land tenure), penggunaan tanah (land use) dan
hanya terbatas kepada hubungan pemilikan dan informasi nilai tanah (land value) (Williamson 2001,
penguasaan semata. Hal ini yang kemudian melatar Steudler et al. 2004), yang harus mampu diwadahi
oleh SAP. SAP harus mampu mengenali, mene-
tapkan/ mengesahkan, mengumpulkan data dan
1
Pengajar Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Email:
informasi serta mendiseminasikan ketiga komponen
sukmo_pinuji@yahoo.com
Diterima: 14 Maret 2016 Direview: 24 Maret 2016 Disetujui: 20 April 2016
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 49
administrasi pertanahan tersebut dalam sebuah tersebut, lebih dari 100 negara menempatkan
sistem yang solid dan dinamis (Williamson and Ting pembangunan IDS dalam agenda nasional mereka
2001). Pada tahap awal perkembangannya, SAP (Crompvoets et al. 2008). Lebih lanjut, IDS juga
konvensional memiliki tujuan utama untuk men- merupakan integrasi dari teknologi, kebijakan,
dukung kebutuhan pasar tanah melalui tersedianya standar dan manajemen institusional atau organisasi
informasi pertanahan dan pendaftaran tanah. dengan tujuan utama untuk penyediaan data spasial
Perkembangan selanjutnya mulai berorientasi pada terpadu (Borzacchiello and Craglia 2013, Clinton
kepentingan yang lebih luas dan global, dimana 1994, Groot and McLaughlin 2000, Jacoby et al. 2002,
sistem administrasi pertanahan diarahkan agar Kok and Van Loenen 2005). Dimulai dari pemenuhan
mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, tuntutan sistem tunggal dalam pemetaan dan
manajemen sumberdaya lingkungan dan stabilitas penyediaan data spasial pada level negara, IDS
sosial, baik di negara maju maupun negara kemudian berkembang menjadi agenda interna-
berkembang, yang terangkum dalam konteks sional, yang tidak hanya mencakup level lokal dan
pembangunan berkelanjutan, atau sustainable devel- nasional saja, tetapi juga regional dan global.
opment, yang juga menjadi agenda internasional Dalam IDS, SIP memiliki peran utama. Informasi
sejak tahun 1997 (Williamson 2001, UN 1997). Konsep kadastral, baik data spasial dan data atribut yang
SAP kemudian berkembang menjadi Sistem merupakan syarat utama dalam IDS tersedia dalam
Informasi Pertanahan (SIP), dimana komponen- SIP.Tak heran, setelah munculnya konsep IDS
komponen pertanahan tersebut tidak hanya cukup sebagai sebuah infrastruktur terpadu dalam
diadministrasikan saja, tetapi juga harus mampu teknologi dan informasi spasial, SIP di berbagai
diolah menjadi suatu informasi yang bermanfaat negara mengalami revolusi menuju era digitaliasi
dalam proses decision making. yang terintegrasi. Sebuah SIP tidak hanya berdiri
Konsep sustainable development tidak akan sendiri untuk memenuhi kebutuhan di bidang
terlepas dari tersedianya data spasial yang akurat, pertanahan dan informasi kadastral, tetapi harus juga
relevan dan dapat diakses dengan mudah (Ting and mampu memberikan fungsi yang lebih luas dalam
Williamson 2000). Ketersediaan data spasial ini mendukung sustainable development melalui spa-
sangat dibutuhkan dalam proses spatial based deci- tial based decision making. Hal ini sering pula
sion making, atau pengambilan keputusan berdasar- dikaitkan dengan konsep good governance, dimana
kan analisis spasial (Nedovic-Budic et al. 2004, kualitas pelayanan publik meningkat dan berorientasi
Williamson et al. 2010, Feeney et al. 2001). Terdorong jangka panjang (Ting and Williamson 2000, Groot
oleh kebutuhan tersebutlah, maka di pertengahan and McLaughlin 2000). Terkait dengan hal tersebut,
1990, muncul konsep Infrastruktur Data Spasial pertukaran informasi spasial menjadi mutlak
(IDS), yang merupakan integrasi dari teknologi dibutuhkan. Melalui IDS, data spasial diseragamkan
informasi, kebijakan dan manajemen administrasi melalui penetapan standar dan kebijakan, serta
pertanahan, yang memiliki tujuan utama untuk teknologi dan sumberdaya yang disesuaikan untuk
mempermudah kegiatan berbagi pakai informasi memenuhi tuntutan tersebut. Di Indonesia, kebi-
spasial guna pengambilan keputusan, mengurangi jakan ini termuat dalam One Map Policy yang
duplikasi dan redundansi data serta meningkatkan ditegaskan dengan disahkannya Undang-undang
kualitas data spasial (Grus 2010, Ting and Williamson nomor 4 tahun 2011 mengenai Informasi Geospasial.
2000, Budhathoki and Nedovic-Budic 2008, Jacoby Hal ini kemudian ditegaskan oleh Peraturan
et al. 2002, Borzacchiello and Craglia 2013, Densham Presiden Nomor 27 tahun 2014 yang menggantikan
1991, Longhorn and Blakemore 2007). Pada era Peraturan Presiden Nomor 85 tahun 2007, dan
50 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

mengatur tentang Jaringan Informasi Geospasial contoh, dalam IDS, BPN/ Kementerian ATR dapat
Nasional. Dalam organisasi IDS di Indonesia, atau berperan dalam penyedia layer informasi mengenai
yang secara resmi disebut sebagai Infrastruktur status, perijinan dan pendaftaran tanah, serta
Informasi Geospasial (IIG), Kementerian Agraria dan penyedia layer informasi mengenai sengketa dan
Tata Ruang (ATR) berperan sebagai Simpul Jaringan konflik pertanahan. Hal ini sesuai dengan apa yang
dan Wali Data, yang memiliki tugas utama dalam diamanatkan oleh UU IG Pasal 43 ayat 1, bahwa setiap
pengumpulan, pemeliharaan, pemutakhiran, Informasi Geospasial Tematik yang diproduksi oleh
pertukaran dan penyebar luasan Data Geospasial Pemerintah/ dan atau Pemerintah Daerah bersifat
(DG) dan Informasi Geospasial (IG) beserta terbuka dan harus disebar luaskan.
metadatanya (BIG, 2014). Sejak awal peluncurannya, Geo-KKP telah
Pada saat yang hampir bersamaan, di tahun 2010, mengalami berbagai perkembangan, baik secara
BPN meluncurkan sebuah sistem administrasi sistem maupun manajerial. Konsep Geo-KKP
pertanahan yang dikenal dengan nama Kompu- terutama dikembangkan untuk memudahkan
terisasi Kantor Pertanahan (KKP), yang merupakan kegiatan berbagi pakai di lingkungan BPN/ Kemen-
evolusi dari sistem Land Office Computerization terian ATR, melalui standarisasi data, penggunaan
(LOC) yang diterapkan di tahun 1997. Pada per- sistem referensi tunggal dalam pemetaan dan
kembangan selanjutnya, KKP berubah nama peningkatan kualitas data spasial. Melalui Geo-KKP,
menjadi Geo-KKP, dimana sistem ini memung- semua data spasial yang diproduksi baik di level Pusat,
kinkan integrasi antara data tekstual dan spasial dan Kantor Wilayah maupun Kantor Pertanahan
mampu meminimalisir kesalahan dalam pemetaan. distandarisasi, dan dengan diterapkannya sistem
BPN juga menegaskan bahwa Geo-KKP dikem- komputerisasi data akan dapat dengan mudah
bangkan untuk dapat mengorganisir informasi diakses oleh setiap level organisasi.
pertanahan secara lebih efektif dan efisien, mengu- Meskipun begitu, penerapan Geo-KKP belum
rangi redundansi data, meningkatkan kualitas data dapat mewadahi kegiatan berbagi pakai data lintas
melalui kemampuan sistem untuk meminimalisir institusi. Berbagai kendala muncul, mulai dari isu
overlap dan penggunaan sistem referensi tunggal, teknis seperti standarisasi data, ketersediaan data,
menyediakan informasi pertanahan yang akurat dan akses data dan interoperabilitas, sampai kepada isu
up to date, dan memudahkan pertukaran data antar kebijakan dan kultur organisasi sering menjadi
instansi (Noor 2009). Secara konseptual, Geo-KKP pemicu utama, yang juga dialami oleh berbagai
merupakan langkah awal bagi Kementerian ATR negara saat mengimplementasikan IDS (Georgiadou
untuk berperan serta sebagai penyedia DG dan IG et al. 2005, Vandenbroucke et al. 2009, Bernard and
dalam IIG Indonesia. Craglia 2005, Kok and Van Loenen 2005, Nedovic-
Sebagai wali data dalam IDS, BPN/ Kementerian Budic et al. 2004, de Vries 2006, McDougall 2006,
ATR memiliki kewajiban untuk menyediakan Harvey and Tulloch 2006, Groot and McLaughlin
informasi spasial dalam bidang pertanahan. Dalam 2000). Tak terkecuali di lingkungan Kementerian
organisasi IDS, Kementerian ATR memiliki peran ATR, kondisi tersebut juga menyebabkan fungsi IDS
strategis, karena merupakan satu-satunya institusi belum dapat dilaksanakan secara optimal. Saat ini,
yang memberikan informasi spasial dalam unit Geo-KKP belum sepenuhnya terintegrasi dengan
pemetaan terbesar, yaitu bidang/ persil tanah.Geo- sistem IIG atau IDS di Indonesia, dan masih ber-
KKP yang dikembangkan oleh BPN sejak tahun 2010 orientasi pada pemenuhan kebutuhan IDS pada level
juga dapat dikatakan sebagai rintisan awal bagi organisasi secara individu. Kondisi tersebut mem-
terintegrasinya SIP ke dalam IDS Nasional. Sebagai bawa kepada satu pertanyaan, mengenai apa saja
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 51
yang menjadi kendala dalam pengintegrasian Geo- organisasi ke dalam IDS Nasional, maka peneliti
KKP ke dalam sistem IIG, terutama dalam hal berbagi menganggap bahwa perlu dilakukan analisis
pakai data, dan bagaimana lembaga harus menyi- terhadap komponen-komponen yang akan diinteg-
kapinya? rasikan, yaitu enam komponen IDS seperti yang
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis didefinisikan oleh Rajabifard dan Williamson (2001).
kendala-kendala apa saja yang ada dalam pengin- Keenam komponen tersebut adalah kebijakan, data,
tegrasian Geo-KKP ke dalam IIG, berfokus kepada akses, network, standard an SDM, dan digunakan
kegiatan berbagi pakai data lintas institusi. Untuk sebagai framework dalam melihat gap yang
dapat menjawab hal tersebut, peneliti telah menja- terbentuk dari konsep IDS Nasional dan implemen-
barkannya menjadi 3 pertanyaan penelitian, yaitu: tasinya dalam level Simpul Jaringan, yang dalam hal
1. Bagaimana implementasi IDS di Indonesia? ini diwakili oleh Kementerian ATR/BPN. Dalam
2. Bagaimana sistem pengelolaan Geo-KKP dalam konsep IDS, hubungan antara keenam komponen
konteks pengintegrasian informasi pertanahan tersebut ditunjukkan pada gambar 1.
diimplementasikan?
3. Kendala apa saja yang timbul dalam pengin-
tegrasian SIP ke dalam IIG, yang menghalangi
kegiatan berbagi pakai data lintas institusi?

B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
deskriptif, dengan metode pengumpulan data
Gambar 1 Lima komponen dalam IDS dan
berupa studi literatur. Berbagai sumber seperti hubungan antarkomponen (Rajabifard &
makalah, peraturan perundangan, pidato kene- Williamson 2001)
garaan, key note speech dalam berbagai seminar dan
Keenam komponen tersebut digunakan untuk
konferensi yang terkait dengan Geo-KKP dan
menjelaskan pertanyaan penelitian nomor 1 dan 2.
pelaksanaan IDS di Indonesia yang digunakan sebagai
Pertanyaan nomor 1 akan lebih mendalami konsep
data primer ditelaah dan dianalisis. Selain itu, peneliti
IDS dalam level Nasional, yang berfokus kepada
juga melakukan wawancara intensif dengan bebe-
manajemen Simpul Jaringan dan para Wali Data
rapa narasumber yang kompeten dalam pengem-
dalam pengelolaan data spasial. Pertanyaan nomor
bangan IDSN, baik di level nasional maupun di level
2 merupakan penjelasan atas penerapan IDS dalam
organisasi.
level organisasi tunggal yang berperan sebagai Simpul
Ada beberapa metode yang dapat digunakan
Jaringan, yang dalam hal ini diwakili oleh Kemen-
dalam melakukan evaluasi IDS. Beberapa metode
terian ATR/BPN dalam mengaplikasikan Geo-KKP.
berfokus kepada pengelolaan dan kultur organisasi
Selanjutnya, untuk menjawab pertanyaan penelitian
(Kok and Van Loenen 2005 (Thellufsen 2009, 193)),
nomor 3, hasil deskripsi dari pertanyaan nomor 1 dan
beberapa berfokus kepada dampak yang dirasakan
2 dibandingkan untuk melihat perbedaan imple-
(Grus et al. 2011), level otoritas (Steudler et al. 2004)
mentasi IDS Nasional dan Geo-KKP, baik secara
dan lain sebagainya. Metode tersebut menitik
konseptual maupun secara implementatif.
beratkan kepada salah satu komponen pengelolaan
IDS, baik di level internal organisasi maupun dalam
skala yang lebih luas. Karena tujuan utama penelitian
ini adalah untuk menganalisis pengintegrasian suatu
52 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

C. Hasil dan Pembahasan dalam memajukan IDS ini salah satunya terdorong
1. Implementasi IDS Nasional (IDSN) di oleh terjadinya bencana alam yang datang secara
Indonesia bertubi-tubi di Indonesia, dimulai dari Tsunami
Bermula dari kebutuhan berbagi pakai informasi Aceh di tahun 2004, disusul gempa bumi di
spasial, di pertengahan era 1990-an, konsep IDS mulai Yogyakarta tahun 2006, dan berbagai bencana lain
muncul dan mulai berkembang secara global. yang datang dan membutuhkan informasi spasial
Diinisiasi oleh Federal Geographic Data Committee yang cepat dan akurat untuk penanganannya. Pada
(FGDC) pada tahun 1994 yang kemudian memun- saat itulah Pemerintah kemudian menyerukan
culkan The USA Executive Order 12906 oleh Presiden kebijakan one map policy sebagai salah satu program
Amerika Bill Clinton, muncullah penyelenggaraan prioritas.
spatial data sharing initiatives, yang kemudian diikuti Melalui UU No. 4 tahun 2011, Pemerintah
oleh beberapa negara maju lain seperti Kanada, Aus- menunjuk Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai
tralia, Belanda dan New Zealand. Selanjutnya, IDS penyelenggara IDS di Indonesia. Tiga tahun
mulai marak diadaptasi oleh berbagai negara di kemudian, diterbitkan Perpres nomor 27 tahun 2014
dunia, termasuk salah satunya Indonesia (Groot and mengenai Jaringan Informasi Geospasial, yang
McLaughlin 2000). Pada saat itu, negara-negara di menggantikan Perpres nomor 85 tahun 2007, dan
dunia mulai menyadari arti pentingnya ketersediaan semakin melegitimasi implementasi IDSN, atau juga
data spasial yang akurat dan mudah diakses serta sering disebut sebagai Infratruktur Informasi
kemudahan dalam berbagi pakai data spasial antar Geograf is (IIG). Dalam Perpres ini, pemerintah
institusi, sehingga Infrastruktur Data Spasial menetapkan dibentuknya Simpul Jaringan, yang
dianggap sebagai kebutuhan mutlak dalam era glo- terdiri dari Lembaga Tinggi Negara, Instansi
bal ini. Banyak negara yang kemudian mulai berin- Pemerintah dan Pemerintah Daerah, yang bertugas
vestasi besar untuk penyediaan infrastruktur data untuk menyelenggarakan IG berdasarkan tugas,
spasial, termasuk pula Indonesia. Pada mulanya, IDS fungsi dan kewenangannya. Pemerintah juga
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan nasio- mengatur tentang peran Wali Data, baik instansi
nal, dengan adanya integrasi data pada level lokal pemerintah, swasta maupun masyarakat yang
maupun nasional. Akan tetapi, dengan semakin memproduksi data spasial dan dapat digunakan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk kepentingan bersama. Para Simpul Jaringan
serta dengan semakin tingginya tuntutan globalisasi, dan Walidata memiliki tugas untuk mengelola data
IDS mulai berevolusi tidak hanya pada skala nasional, termasuk menyediakan informasi metadata serta
tetapi juga global dan regional (Rajabifard and memberlakukan standar penyebarluasan data.
Williamson 2001). Selanjutnya, Simpul Jaringan memiliki tugas untuk
IDS di Indonesia sudah mulai dirintis sejak tahun membangun geoportal yang berfungsi sebagai alat
2000, yang dikoordinasi oleh Badan Koordinasi Sur- untuk melakukan penyebar luasan data spasial
vey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). kepada masyarakat, dengan syarat dan ketentuan
Namun baru 7 tahun kemudian, yaitu di tahun 2007, yang telah diatur sebelumnya. Saat ini, ada 14
pentingnya IDS ini baru disadari oleh Pemerintah, Kementerian/Lembaga yang bertugas sebagai
yang ditunjukkan dengan dikeluarkannya Perpres Simpul Jaringan dalam IIG. Seluruh Simpul Jaringan
nomor 85 tahun 2007 tentang Jaringan Informasi ini kemudian diintegrasikan oleh Penghubung
Geospasial Nasional. Empat tahun kemudian, Simpul Jaringan, yang dalam hal ini dilaksanakan
Pemerintah Indonesia mengeluarkan UU nomor 4 oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Selain
tahun 2011. Komitmen serius Pemerintah Indonesia Kementerian/Lembaga Pemerintah, IIG juga
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 53
memberi kesempatan kepada swasta, BUMN bahkan
masyarakat melalui participatory mapping untuk ikut
berperan dalam penyediaan data IGT, dengan tetap
dikoordinasi oleh BIG.
Dalam pengimplementasian IIG, BIG telah
menerbitkan Petunjuk Teknis Pengembangan
Simpul Jaringan dan Pedoman Penyelenggaraan
Infrastruktur Data Spasial Nasional, yang dapat
digunakan oleh para Simpul Jaringan dalam
mengembangkan IIG di organisasi mereka. Di tahun
2011, Indonesia juga sudah mulai meluncurkan
Geoportal Indonesia, yang menjadi clearinghouse
IDS Indonesia, yang dapat diakses melalui situs
www.tanahair.indonesia.go.id. Dalam website
tersebut, informasi spasial seperti Peta Rupa Bumi, Gambar 3 dan 4. Hubungan antara Simpul Jaringan,
citra satelit untuk wilayah Indonesia, serta berbagai Penghubung Simpul Jaringan dan Pengguna. Simpul
Jaringan adalah Instansi Pemerintah, baik Kementerian/
macam peta tematik dapat didownload dengan
Lembaga maupun Pemerintah Daerah yang
cuma-cuma. memproduksi dan menyebar luaskan IGT, sementara
Dalam konsep IIG, setiap Kementerian/ Lembaga Penghubung Simpul Jaringan adalah BIG. Informasi
yang memproduksi Informasi Geospasial Tematik spasial dapat diakses oleh para pengguna melalui
memiliki keharusan untuk menyebar luaskan IGT geoportal, yang merupakan penghubung antara pengguna
dengan Simpul Jaringan/ Wali Data (BIG 2014)
tersebut. Setiap Simpul Jaringan dapat membuat
geoportal yang tersambung dengan Penghubung Untuk menjamin aksesibilitas data saat digunakan
Simpul Jaringan. Mudahnya akses terhadap IGT ini lintas pengguna, Penghubung Simpul Jaringan
diharapkan dapat mendorong pengambilan (BIG) telah menetapkan teknologi dan standar yang
keputusan berbasis spasial. Gambar 2 dan 3 di bawah harus diikuti oleh Simpul Jaringan dalam
ini menunjukkan alur pengelolaan data dan memproduksi IGD maupun IT, termasuk pula
informasi dalam IIG di Indonesia, serta skema perjanjian berbagi pakai data antara pengguna dan
hubungan antara Simpul Jaringan, Penghubung Wali Data. Dalam IIG, perjanjian berbagi pakai data
Simpul Jaringan dan pengguna. diatur berdasarkan 3 jenis aktivitas data, yaitu
Perjanjian Berbagi Pakai Data (data sharing agree-
ments), Perjanjian Lisensi (licensing agreements),
dan perjanjian tataran layanan (service level agree-
ment). Dalam pengaturan tersebut, data telah
digolongkan menjadi beberapa macam, seperti akses
data dengan pembatasan dan akses data tanpa
pembatasan. Seluruh desain yang dilakukan oleh BIG
ini memerlukan pengaturan lebih lanjut di level
Simpul Jaringan, mengingat bahwa setiap data spasial
yang diproduksi oleh Lembaga/Instansi memiliki
Gambar 2. Alur Pengelolaan Data dan Informasi sifat dan level akses yang berbeda-beda, sesuai
dalam IIG (BIG 2004) dengan jenis dan pemakaian data.
54 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

2. Sistem pengelolaan Geo-KKP Terkait dengan hal tersebut, sejak tahun 1997,
Sistem Administrasi Pertanahan (SAP) bersifat Kementerian ATR)/BPN telah mengembangkan
dinamis dan akan selalu berkembang menyesuaikan sebuah Sistem Informasi Pertanahan (SIP). Proyek
kebutuhan, termasuk pula di Indonesia. Jika pada pertama komputerisasi tersebut disebut dengan Land
awalnya administrasi pertanahan tradisional Off ice Computerization (LOC), yang menjadi
dikembangkan untuk tujuan ekonomi dan perpa- tonggak pertama bagi Kementerian dalam menuju
jakan saja, maka dengan semakin berkembangnya era digitalisasi, dan merupakan kerjasama BPN
teknologi dan tuntutan globalisasi, administrasi per- dengan Pemerintah Spanyol dan World Bank.
tanahan berkembang menjadi lebih luas, mencakup Bermula dari 12 Kantor Pertanahan yang telah
aspek-aspek lain seperti manajemen sumberdaya, terkomputerisasi di awal penerapannya, di tahun
perencanaan dan pengembangan wilayah, penelitian 2010, sebanyak 430 Kantor Pertanahan di seluruh
dan pengembangan, dan tercapainya pembangunan Indonesia telah terkomputerisasi. Di tahun 2010, LOC
berkelanjutan (Williamson 2001, Thorburn 2004, berganti nama menjadi KKP atau Komputerisasi
Williamson and Ting 2001). Kantor Pertanahan, dimana terjadi perombakan atas
Sebelum maraknya konsep IDS di Indonesia, sistem, aplikasi dan basis data menggunakan sistem
dunia kadastral Indonesia pernah mengenal istilah Land Administration Domain Model (LADM, ISO-
multipurpose cadastral atau kadaster multifungsi, 19152) sebagai struktur inti basis data, penggunaan
yang kemudian dikembangkan dengan istilah e- aplikasi N-Tier, serta antarmuka pengguna berbasis
cadaster. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada web (NLA 2014, 226). Tahun 2014 dikembangkan
penggunaan data spasial yang dapat digunakan sistem baru yang terintegrasi secara online, dikenal
untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai instansi, dengan nama Geo-KKP. Geo-KKP merupakan
tidak hanya kepada pendaftaran tanah semata, tetapi pengembangan dari KKP yang memungkinkan
juga keperluan lain seperti perpajakan, pengem- integrasi antara data spasial dan data tekstual, serta
bangan fasilitas publik seperti kebutuhan listrik dan dapat meminimalisir kesalahan, menggunakan
air minum, dan lain sebagainya. Multi purpose sistem referensi tunggal dalam pengukuran dan
cadaster sudah mulai mengafiliasi kebutuhan ber- pemetaan, sehingga juga memungkinkan dalam
bagi pakai data antar institusi, tetapi belum memuat pertukaran data antar institusi untuk keperluan
konsep openness dan belum mencakup skala yang penataan ruang dan pembangunan berkelanjutan
lebih luas seperti yang dimaksud oleh IDSN. (Noor 2009).
Memasuki era digitalisasi, kadaster tradisional Pelaksanaan Geo-KKP ada di bawah kendali Pusat
yang semula paper based mulai ditinggalkan, dan Data dan Informasi (PUSDATIN). Setiap Kantor
secara perlahan namun pasti, era komputer mulai Pertanahan memiliki tanggung jawab sebagai
menggantikan sistem manual. Dengan semakin penyedia data dan informasi spasial dan tekstual,
kompleksnya hubungan manusia atas tanah, serta mengolah dan menginput data dalam sistem
semakin tingginya persaingan global yang mem- yang terhubung secara langsung ke server pusat di
butuhkan data yang cepat, akurat dan up to date, PUSDATIN, sehingga sistem basis data yang
digitalisasi sistem kadaster atau sistem pertanahan digunakan dalam Geo-KKP adalah sistem basis data
juga menuntut suatu infrastruktur data spasial yang tersentral. Informasi spasial yang dimasukkan juga
solid, terintegrasi dan terstruktur, yang tidak hanya bersifat real time, karena dikelola secara online oleh
terfokus pada data dan teknologi, tapi juga mampu Kantor Pertanahan.
mewadahi kebijakan, standard, SDM dan organisasi KKP-Web tertutama dikembangkan untuk
pengelola. keperluan pendaftaran tanah, untuk memenuhi
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 55
kebutuhan IDS pada level internal organisasi melalui 3. Kendala yang timbul dalam pengin-
kesinambungan IDS yang dibangun antardirektorat tegrasian informasi pertanahan ke
di lingkup Pusat, dan juga antara Kantor Wilayah, dalam IIG untuk kegiatan berbagi
Kantor Pertanahan dan Kantor Pusat, seperti yang pakai data lintas institusi
ditekankan oleh Kepala BPN, Joyo Winoto, saat Setelah lebih dari 10 tahun digagas, dirancang,
membuka Rapat Koordinasi Teknis Kedeputian diimplementasikan dan dievaluasi, pelaksanaan
Bidang Survey, Pengukuran dan Pemetaan, Novem- IDSN, yang juga menjadi salah satu wujud komitmen
ber 2012. Hal ini juga ditujukan untuk dapat Pemerintah dalam merealisasikan one map policy,
mempercepat proses pendaftaran tanah di Indone- masih mengalami berbagai kendala. IDS telah
sia serta mendukung implementasi tertib admi- mampu merumuskan sistem referensi tunggal untuk
nistrasi pertanahan. Keberadaan IIG melalui Geo- pengukuran dan pemetaan di Indonesia, begitu juga
KKP juga difokuskan utnuk mendukung pelaksa- menerapkan standar dalam pembuatan IGD dan IGT,
naan Praksis Reforma Agraria melalui mekanisme sehingga dapat meminimalisir kendala teknis dalam
pencegahan sengketa pertanahan, seperti yang pertukaran data yang diakibatkan oleh perbedaan
tercantum dalam Keputusan Kepala BPN nomor 77/ sistem referensi dan standar. Dengan diluncurkanya
KEP-7.1/III/2012 tentang Praksis Reforma Agraria. geoportal pada level nasional (geoportal pusat)
Dari sisi SIP, KKP merupakan langkah awal bagi maupun lokal (geoportal daerah) yang berfungsi
terwujudnya inovasi layanan pertanahan berbasis sebagai clearing house, informasi spasial dapat diakses
teknologi informasi dan kominikasi, seperti layanan dan digunakan oleh berbagai pengguna, baik
SMS Informasi Pertanahan, layanan jemput bola pemerintah, swasta maupun masyarakat umum.
LARASITA (Layanan Rakyat untuk Sertipikasi Namun, tidak dapat dipungkiri, sampai saat ini
Tanah), informasi berkas pendaftaran tanah online, Pemerintah masih mengalami kendala dalam
dan inovasi lainnya, yang juga merupakan salah satu melakukan koordinasi dengan Simpul Jaringan,
upaya Pemerintah dalam mewujudkan good gover- terkait dengan penyediaan informasi spasial yang
nance. berhubungan dengan tugas dan fungsi utama
Pada kurun perkembangan saat ini, Geo-KKP Simpul Jaringan tersebut (Kementerian/ Lembaga
masih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah dan Pemerintah Daerah). Salah satunya,
organisasi dalam mendukung percepatan pendaf- akses data, terutama IGT masih sangat terbatas, yang
taran tanah. Sampai dengan pertengahan Agustus juga dikonfirmasikan menjadi salah satu kelemahan
2013, telah tersedia database 32 juta bidang tanah utama dalam implementasi IDS di banyak
atau sekitar 71% dari total jumlah bidang tanah yang negara(Farida 2014, de Vries 2006). Hal ini juga
ada di Indonesia, meliputi data tekstual (Buku ditemui di Kementerian ATR/ BPN, yang juga
Tanah) dan data spasial (Surat Ukur dan Peta merupakan salah satu dari 14 Kementerian/ Lembaga
Pendaftaran Tanah) (BPN 2014). Sampai saat ini, yang berperan sebagai Simpul Jaringan dalam
informasi bidang tanah yang dicakup oleh Geo-KKP implementasi IDS.Ada beberapa kendala yang
adalah informasi bidang tanah yang bersangkutan ditemui dalam pengintegrasian informasi perta-
dengan pendaftaran tanah, sementara informasi nahan ke dalam IDS Nasional dalam konteks berbagi
tematik (Ligtenberg et al.) seperti peta penggunaan pakai data, yang secara spesifik berpengaruh kepada
tanah, peta sebaran konflik dan sengketa perta- akses data pertanahan secara umum melalui IDS.
nahan, peta zona nilai tanah dan lain sebagainya Sub bab ini membahas kendala-kendala yang ada
belum dapat ditampilkan dalam menu Geo-KKP, tersebut, yang akan diuraikan berdasarkan 6 kompo-
meskipun sudah ada fasilitas untuk itu. nen IDS dari Rajabifard dan Williamson (2001).
56 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

Kelembagaan fungsinya (Van der Molen 2002).


Dalam pelaksanaan IDSN, BIG berfungsi sebagai Data pertanahan merupakan data yang kompleks,
Penghubung Simpul Jaringan, yang mengkoordinir dinamis, dan memuat berbagai informasi yang
para Simpul Jaringan dalam mengimplementasikan memiliki level akses yang berbeda-beda. Untuk itu,
IDS di lingkungan mereka, serta dalam mengko- dalam kegiatan berbagi pakai data, diperlukan suatu
ordinasikannya dengan IDSN. Pada penerapannya, framework yang jelas mengenai jenis data yang dapat
pengaturan ini tidak dapat berjalan dengan efektif, diakses, sampai sejauh mana data dapat diakses dan
terkendala kesulitan koordinasi antara Simpul siapa saja yang berhak mengakses. Kementerian ATR/
Jaringan dengan Penghubung Simpul Jaringan. BPN telah mengeluarkan PP nomor 13 tahun 2010
Dalam IDSN, Pemerintah telah menetapkan standar, tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan
prosedur dan petunjuk teknis pembangunan IDS Pajak dan Peraturan Kepala Badan No. 6 tahun 2011
pada level organisasi (Kementerian/lembaga/ tentang Pelayanan Informasi Publik di lingkungan
organisasi yang bertugas sebagai Simpul Jaringan), BPN. Dalam peraturan tersebut termuat beberapa
tetapi penjabaran lebih lanjut mengenai implemen- ketentuan mengenai penyebaran informasi perta-
tasi IDS tersebut harus dilakukan oleh Simpul nahan kepada masyarakat. Dalam peraturan tersebut
Jaringan yang bersangkutan. Di dalam Kementerian dicantumkan pula jenis informasi publik yang wajib
ATR/BPN, karena IDSN bukan merupakan tugas dan disediakan dengan permintaan dan yang dikecu-
fungsi utama organisasi, hal ini belum menjadi alikan. Untuk informasi yang berhubungan dengan
agenda utama Kementerian untuk mengembang- administrasi pertanahan, disebutkan bahwa buku
kannya secara intensif dan terkoordinir dengan tugas tanah, surat ukur dan warkah adalah jenis informasi
utama. Pengembangan Geo-KKP selama paling tidak yang dikecualikan, atau tidak dapat diakses secara
5 tahun ke depan masih difokuskan kepada kegiatan bebas oleh masyarakat umum. Akan tetapi, kedua
administrasi pertanahan (pendaftaran tanah). peraturan tersebut tidak mencantumkan jenis
Komitmen lembaga Simpul Jaringan dalam informasi pertanahan yang dapat diakses oleh publik,
menjalankan tugasnya sebagai agen IDS ini yang seperti misalnya akses terhadap IGT (peta tematik),
kemudian menjadi salah satu penghambat ketentuan akses dan perjanjian pemakaian data.
berkembangnya IDS nasional. Ketiadaan payung hukum ini menjadikan masing-
masing Kantor memiliki kebijakan yang berbeda-
Kebijakan
beda tentang perjanjian berbagi pakai data.
Seiring dengan semakin berkembangnya
Selama ini, karena informasi spasial pertanahan
hubungan manusia atas tanah yang semakin
terutama IGT (Peta Tematik) belum dapat diakses
kompleks, sistem administrasi pertanahan juga
melalui sambungan internet, akses terhadap data
terus mengalami perkembangan. Tidak hanya
seringkali dilaksanakan secara manual, baik secara
pada pegadopsian teknologi yang lebih maju,
personal maupun melalui lembaga. Sebagai contoh,
beberapa komponen administrasi pertanahan lain
pada level daerah atau Kantor Pertanahan, sharing
seperti kebijakan juga harus mengalami penye-
data antara Kantor Pertanahan dengan SKPD di
suaian untuk menjamin implementasi yang
daerah sering terjadi, baik melalui institusi maupun
berkelanjutan dan komprehensif. Seringkali,
secara personal, dan biasanya sangat tergantung
adaptasi sistem baru tidak disertai dengan ke-
kepada kebijakan pimpinan (Kepala Kantor Perta-
bijakan yang komprehensif, yang akan menye-
nahan). Akan tetapi, tidak jarang pula Kantor Perta-
babkan ketimpangan dalam pelaksanaannya, dan
nahan menerapkan kebijakan tidak tertulis bahwa
mengakibatkan sistem baru tersebut tidak dapat
semua informasi pertanahan adalah rahasia dan tidak
diimplementasikan secara optimal sesuai dengan
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 57
dapat diakses oleh pihak luar. Hal ini muncul dari spasial pada level nasional, regional dan global.
paradigma tradisional bahwa semua informasi Meskipun begitu, IDS Nasional belum memiliki
pertanahan adalah rahasia, dan pimpinan Kantor peraturan baku standar terkait dengan informasi
tidak ingin mengambil resiko melakukan pelang- geograf is. Rintisan mengenai baku standar ini
garan karena menyebar luaskan informasi perta- sebenarnya telah dibahas di tahun 2003 dengan
nahan. Hal ini yang kemudian menyebabkan dibentuknya Panitia Teknis 211 yang beranggo-
terbentuknya stigmatisasi bahwa data pertanahan takan 25 orang dari perwakilan Institusi peme-
(yang juga merupakan data spasial) tidak dapat rintah, perguruan tinggi dan pihak swasta yang
diakses dengan mudah, dan menyebabkan im- berperan sebagai penyelenggara data spasial.
plementasi berbagi pakai data spasial tidak dapat Namun, hingga saat ini, baku standar nasional
berjalan dengan efektif. Kegiatan penyebar luasan tersebut belum disahkan dalam bentuk peraturan,
informasi pertanahan ini sebenarnya sudah diatur dan belum dicantumkan dalam SNI.
oleh PP No. 24 tahun 1997 dan PMNA No. 3 tahun Di dalam Kementerian ATR, baku standar yang
1997, akan tetapi kedua peraturan tersebut tidak dianut masih sebatas dalam penggunaan sistem
memberikan batasan yang jelas mengenai jenis dan referensi tunggal untuk kegiatan pengukuran dan
macam informasi pertanahan yang bersifat terbuka pemetaan kadastral. IGT yang diproduksi belum
atau rahasia, sehingga banyak pegawai BPN (Kepala merujuk kepada baku standar yang ada dan
Kantor) yang menerjemahkan bahwa seluruh berbeda-beda untuk tiap Kantor Pertanahan. Selain
informasi pertanahan adalah bersifat rahasia dan itu, Kementerian ATR juga belum menerapkan
memberikan konsekuensi hukum apabila disebar standar untuk metadata dan katalog data, yang
luaskan. sangat diperlukan dalam kegiatan berbagi pakai data,
sehingga jenis dan jumlah IGT yang telah diproduksi
Standar
oleh institusi tidak dapat terlacak, serta tidak ada
Yang dimaksud sebagai standar dalam IDS
direktori khusus yang menyimpan dan mengelola
Nasional meliputi standar akses, pengumpulan,
peta tematik tersebut. Ketiadaan sistem katalog data
klarif ikasi, deskripsi, ketelitian, format dan
ini juga menyebabkan sulitnya akses terhadap
struktur. Dalam Petunjuk Teknis Pembangunan
ketersediaan data spasial yang ada di level Simpul
Simpul Jaringan yang dikeluarkan oleh BIG, telah
Jaringan.
disebutkan beberapa standar dalam pem-
bangunan Simpul Jaringan, seperti standar Data
penyimpanan data dan metadata, standar penye- Salah satu isu penting dari sulitnya integrasi
diaan sistem akses dan standar penyebarluasan data pertanahan ke dalam IDSN adalah tentang
data. Selain itu, IDSN juga telah menetapkan kualitas data spasial pertanahan.Sebelum
standar untuk sistem referensi geograf is dalam dilaksanakannya sistem referensi tunggal untuk
pembuatan IGD (Informasi Geospasial Dasar), pemetaan dan sebelum administrasi pertanahan
yang harus diikuti oleh setiap Simpul Jaringan memasuki era digital, banyak ditemukan bidang
dalam melakukan pengukuran dan pemetaan. tanah yang dipetakan tanpa referensi baku (peta
Untuk mewujudkan one map policy, IDSN melayang atau Gambar Ukur melayang), bidang
telah menetapkan sistem referensi geografis yang tanah yang tumpang tindih, bidang tanah yang
harus diacu dalam pembuatan IGD (Informasi tidak tersambung dengan buku tanah dan surat
Geospasial Dasar). Untuk standarisasi informasi ukur, dan lain sebagainya.Kondisi ini menim-
geograf is Internasional, ISO telah menyediakan bulkan kekhawatiran terjadinya konf lik dan
ISO TC/211 yang menyediakan standarisasi data sengketa pertanahan, apabila data dengan kualitas
58 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

yang tidak memenuhi standar tersebut dipub- menyebabkan banyak SDM yang terserap untuk
likasikan. Oleh karena itu, pembakuan kualitas menyelesaikan kegiatan Administrasi Pertanahan
data pertanahan menjadi mutlak dilakukan terutama kegiatan pendaftaran tanah dan peme-
supaya dapat secara efektif terintegrasi ke dalam liharan data pertanahan, dan pengembangan
IDS Nasional, dan menjadi tantangan tersendiri untuk pengintegrasian kepada IDSN belum
bagi Kementerian ATR untuk dapat mewujud- menjadi prioritas.Demikian pula untuk kegiatan
kannya. penyebar luasan ataupun pembuatan sistem
Saat ini, sistem Geo-KKP telah mengklasifikasikan katalog untuk IGT (Peta Tematik) yang dipro-
kualitas data pertanahan menjadi 6 kelas, mulai dari duksi, belum sepenuhnya dilaksanakan secara
data kualitas I yang dicirikan dengan terhubungnya aktif oleh Kantor Pertanahan. Kegiatan berbagi
data spasial dengan surat ukur dan buku, sampai pakai data biasanya dilakukan jika terdapat
dengan kualitas VI dimana data-data tersebut tidak permintaan dari instansi lain, dan Kantor Perta-
saling terkoneksi. Saat ini, Geo-KKP hanya bisa nahan belum memiliki geoportal resmi yang
mendeteksi data yang masuk dalam berkas pen- menyediakan akses langsung terhadap IGT yang
daftaran dan permohonan saja, tetapi tidak mampu diproduksi di level daerah, provinsi maupun
melakukan pengecekan dan perbaikan pada data pusat.
yang memiliki kualitas di bawah grade I. Karena
Akses Network
sistem pendaftaran tanah di Indonesia bersifat pasif,
Idealnya, dalam arsitektur IDSN, setiap Kemen-
maka pendeteksian terhadap data-data pertanahan
terian/ Lembaga ataupun Pemerintah Daerah yang
yang saling tidak terkoneksi antara data spasial dan
berperan sebagai Simpul Jaringan memiliki sebuah
tekstual tersebut hanya bisa dilaksanakan saat
geoportal yang berfungsi sebagai clearinghouse
terdapat permohonan pendaftaran tanah pada
untuk memfasilitasi kegiatan berbagi pakai data
bidang tanah yang bersangkutan. Dengan beban
spasial secara online, sesuai dengan prinsip IDS.
kerja Kantor Pertanahan yang beragam, pemba-
Akses network ini yang kemudian menjadi jendela
haruan kualitas data pertanahan tersebut belum
bagi para Simpul Jaringan untuk memfasilitasi
dapat dilaksanakan dalam waktu dekat, dan belum
berbagi pakai data, sekaligus juga menjadi direktori
menjadi prioritas Lembaga.
rujukan dalam pencarian informasi spasial oleh para
Sumber Daya Manusia pengguna.
Kurangnya SDM, baik dari segi kuantitas Sampai saat ini, Kementerian ATR belum memiliki
maupun kualitas, merupakan faktor utama yang geoportal khusus yang ditujukan untuk kegiatan
menjadi penghalang dalam pengintegrasian SIP berbagi pakai data. Geo-KKP, yang merupakan
ke dalam IDS Nasional. Pengelolaan IDS dan tonggak pertama terintegrasinya data pertanahan
pengembangan geoportal membutuhkan SDM secara nasional, dibangun untuk dikhususkan pada
yang berkompeten dan berdedikasi dalam bidang pemenuhan kebutuhan internal organisasi, yaitu
IT dan jaringan, di samping pula pengetahuan untuk mendukung proses pendaftaran tanah. Geo-
tentang pengelolaan data spasial. Di level Kantor KKP belum didesain untuk dapat difungsikan
Pertanahan, SDM yang tersedia sebagian besar sebagai geoportal pertanahan, dan arah pengem-
bertugas dalam pengelolaan administrasi perta- bangan selanjutnya juga belum didesain untuk
nahan sebagai core business organisasi, dan tidak memenuhi tuntutan tersebut.Selain itu, Kementerian
ada pegawai khusus yang menangani pengelolaan juga perlu memikirkan desain network untuk
informasi spasial untuk kebutuhan IDS. Tingginya geoportal nasioanal yang mampu menampung IGT
beban kerja di beberapa Kantor Pertanahan juga dari level Kantor Pertanahan, Provinsi dan Nasional,
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 59
sehingga menjadi satu kesatuan IGT yang utuh BPN disajikan dalam tabel 1 berikut ini, yang
untuk seluruh Indonesia. merupakan perbandingan antara penerapan IDS
Gambaran singkat mengenai analisis identifikasi Nasional dan IDS di level kementerian (Kementerian
implementasi IDS Nasional di Kementerian ATR/ ATR/BPN).

Tabel 1. Identifikasi implementasi IDS di level Nasional dan Kementerian ATR sebagai salah satu Simpul
Jaringan. Implementasi IDS dikelompokkan berdasarkan 6 komponen IDS. Identifikasi ini digunakan
untuk memudahkan melaksanakan perbandingan pelaksanaan IDS berdasarkan komponen IDS, dan
melihat gap-gap pelaksanaannya

Aspek IDS Nasional Kementerian ATR/ BPN


Kelembagaan Pemerintah telah mewujudkan Saat ini, lembaga lebih berfokus
komitmennya untuk menciptakan one kepada pengembangan sistem yang
map policy melalui pengaturan dapat mendukung pelaksanaan
lembaga yang berfungsi sebagai percepatan pendaftaran tanah (salah
Simpul Jaringan dan Penghubung satunya melalui Geo-KKP). Lembaga
Simpul Jaringan. Pemerintah juga lebih berfokus kepada pendaftaran
telah membentuk Pusat tanah dan administrasi pertanahan,
Pengembangan Infrastruktur Data yang merupakan core business dari
Spasial (PPIDS) pada universitas di Kementerian ATR/BPN, sementara
tiap regional, yang berfungsi sebagai pengembangan geoportal yang dapat
fasilitator bagi para Simpul Jaringan memfasilitasi akses publik terhadap
terutama bagi Pemerintah Daerah informasi spasial belum menjadi
prioritas utama lembaga.

Peraturan Kebijakan Telah terdapat beberapa kebijakan/ Peraturan mengenai berbagi pakai
peraturan yang mengatur mengenai data masih minim. Kementerian
implementasi IDS di Indonesia, perlu melakukan klasifikasi jenis da n
termasuk peraturan dan kebijak an macam data yang dimiliki, serta sifat
berbagi pakai data. Di level nasional, data (dapat diakses/ diakses secara
telah pula terdapat petunjuk teknis terbatas/ diakses dengan
tentang perjanjian berbagi pakai data permintaan/ rahasia) secara lebih
antara wali data/ Simpul Jaringan detail. Ketiadaan payung hukum
dengan pihak yang akan mengakses yang jelas juga menciptakan
data, serta jenis data yang harus/ kerancuan di tingkat daerah, masing -
dapat diakses oleh publik. Agar dapat masing Kantor Pertanahan m emiliki
diimplementasikan secara efektif dan kebijakan sendiri tentang akses data
optimal, peraturan tersebut perlu pertanahan, yang biasanya
dijabarkan lagi secara lebih detail oleh tergantung kepada kebijakan
masing-masing Simpul Jaringan pimpinan dan biasanya tidak tertulis .
mengenai jenis data yang diproduksi, Peraturan yang ada saat ini (PP No.
data yang dapat diakses, ketentuan 24 tahun 1997 dan PMNA no. 3 tahun
akses data, dan lain sebagainya. IDS 1997 kurang memberikan batasan
Nasional juga belum mengidentifikasi yang jelas mengenai jenis dan data
data spasial yang tersedia di masing - yang dapat diakses atau tidak dapat
masing Simpul Jaringan, serta diakses oleh publik.
melakukan klasifikasi atas
aksesibilitas data tersebut.
60 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

Aspek IDS Nasional Kementerian ATR/ BPN


Standar Pemerintah telah menerbitkan Kementerian ATR telah menerapkan
Petunjuk Teknis Pembangunan sistem referensi tunggal sebagai
Simpul Jaringan, yang meliputi standar dalam melaksanakan
standar penyimpanan data dan pengukuran dan pemetaan, terutama
metadata, standar penyediaan sistem dalam kegiatan pendaftaran tanah.
akses dan standar penyebar luasan Akan tetapi, dalam memproduksi
data. Akan tetapi, Petunjuk Teknis IGT atau peta tematik, Kementerian
tersebut baru mengatur mengenai belum memiliki baku standar
pengembangan geoportal, dan belum mengenai teknis pelaksanaan
menyentuh pada aspek standarisasi pemetaan, penyimpanan peta
data. Selain itu, Undang-Undang No. maupun penyebar luasan peta.
4 tahun 2011 juga telah mengatur Kementerian juga belum memiliki
penggunaan JKHN (Jaring Kontrol sistem katalog dan metadata yang
Horisontal Nasional) dan JKVN terorganisir dengan baik untuk
(Jaring Kontrol Vertikal Nasional) setiap peta yang diproduksi, yang
sebagai acuan dalam kegiatan menyebabkan sulitnya akses berbagi
pengukuran dan pemetaan. Peraturan pakai data.
Pemerintah nomor 27 tahun 2014 juga
telah mengatur mengenai teknis dan
standar pelaksanaan IDS Nasional,
yang harus diterjemahkan o leh
masing-masing Simpul Jaringan.
Meskipun telah dilontarkan wacana
mengenai penerapan ISO TC/211
tentang standarisasi data spasial,
Pemerintah belum menjabarkannya
secara lebih detil dalam petunjuk
teknis ataupun PP.

Data IDS Nasional telah menetapkan Pembakuan kualitas dat a pertanahan


peraturan mengenai akses data, serta peraturan mengenai klasifikasi
termasuk jenis akses data, hak paten akses data pertanahan (rahasia/
dan perjanjian berbagi pakai data akses terbatas/ dapat diakses publik)
antara pengguna data dan Wali Data, merupakan hal utama yang harus
yang dituangkan dalam Pedoman dilaksanakan oleh Kementerian ATR
Penyelenggaraan Infrastruktur Data untuk mempercepat pelaksanaan IDS
Spasial. Akan tetapi, peraturan ini Nasional. Kedua hal ini merupakan
masih perlu dijabarkan lagi oleh salah satu faktor utama sulitnya
masing-masing Simpul Jaringan/ Wali integrasi Sistem Administrasi
Data, untuk dapat memilah jenis data Pertanahan ke dalam IDS Nasional.
yang tersedia, akses data dan
perjanjian berbagi pakai data, yang
diserahkan kepada kebijakan masing -
masing Simpul Jaringan/ Wali Data.

SDM Pengembangan IDS Nasional Keterbatasan SDM yang khusus


membutuhkan SDM yang profesional, menangani IDS dan geoportal belum
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 61

Aspek IDS Nasional Kementerian ATR/ BPN


berkualitas dan berkomitmen tinggi. ada. SDM yang tersedia biasanya
Di level organisasi, adanya SDM yang terserap untuk menangani kegiatan
khusus menangani IDS sangat rutin administrasi pertanahan
diperlukan, mulai dari penetapan (khususnya pendaftaran tanah) yang
standar, produksi data, menjadi core business organisasi.
pengembangan geoportal, pembuatan Tingginya beban kerja di level Kantor
meta data dan katalog data, sampai Pertanahan juga menjadi salah satu
kepada pemeliharaan data dan faktor penghambat dalam
kegiatan lainnya. optimalisasi pengembangan IDS di
level organisasi.

Akses Network IDS Nasional direpresentasikan Kementerian ATR memiliki Geo -


melalui geoportal, yang menjadi KKP yang merupakan embrio awal
clearinghouse untuk akses informasi diterapkannya IDS dalam lingkup
spasial bagi para pengguna. IDS SIP. Pengembangan Geo -KKP saat
Nasional telah mendesain bahwa ini lebih difokuskan untuk
setiap Simpul Jaringan, baik kepentingan pendaftaran tanah dan
Kementerian/ Lembaga maupun untuk pengembangan IDS di
Pemerintah Daerah, memiliki lingkup internal organisasi. Saat ini,
geoportal masing-masing yang akses network yang memungkinkan
terhubung ke geoportal nasional pengguna eksternal mengakses
yang dikelola oleh BIG. Pendanaan, informasi pertanahan belum
perancangan dan pengelolaan dimungkinkan dalam Geo-KKP, dan
geoportal tersebut sepenuhnya belum ada tindak lanjut dari
menjadi tanggung jawab Simpul Kementerian untuk mewujudkan
Jaringan. geoportal.

Sumber data : data primer (wawancara)


non teknis. Hal ini terutama berimplikasi kepada
lemahnya kegiatan berbagi pakai data spasial, yang
D. Kesimpulan dan Saran menjadi salah satu tujuan utama dikembangkannya
Pengembangan Infrastruktur Data Spasial IDSN. Agar pengembangan Infrastruktur Informasi
merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan, dan Pertanahan dapat berjalan optimal, maka Pemerintah
harus dengan segera direalisasikan. Saat ini, perlu melakukan beberapa tinjauan ulang dan
Infrastruktur Informasi Pertanahan sudah mulai penyesuaian melalui beberapa hal, diantaranya:
dikembangkan dan diarahkan untuk dapat meme- 1. Menyamakan persepsi dan menumbuhkan
nuhi tuntutan tersebut, dalam rangka mewujudkan komitmen bersama antara Simpul Jaringan dan
one map policy yang telah diagendakan oleh Penghubung Simpul Jaringan dalam pengem-
Pemerintah. Dalam perkembangannya, penginteg- bangan IDSN di Indonesia (dalam hal ini
rasian Sistem Informasi Pertanahan ke dalam IDSN Kementerian ATR dan BIG), bahwa IDS meru-
memiliki berbagai kendala dan keterbatasan yang pakan tujuan bersama yang harus disertakan
berkaitan dengan aspek kelembagaan, peraturan dalam agenda organisasi. Paradigma lama bahwa
kebijakan, penetapan standar, data, SDM maupun informasi pertanahan berpusat pada pendaf-
akses network, yang meliputi kendala teknis maupun taran dan legalisasi hak atas tanah harus
62 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

dikembangkan pada penyediaan informasi yang atau gambar ukur, dan lain sebagainya, harus
akurat untuk spatial based decision making menjadi salah satu agenda prioritas lembaga.
dalam rangka sustainable development, yang tidak 5. Penyediaan SDM yang memiliki latar belakang
akan terpenuhi tanpa kerjasama lintas sektoral pengolahan data spasial, pengelolaan jaringan dan
dan kemudahan penyediaan akses data spasial. informasi teknologi di level Pusat, Kantor Wilayah
Inovasi-inovasi pengembangan Sistem Admi- maupun Kantor Pertanahan, yang berkomitmen
nistrasi Pertanahan harus dapat mengakomodir kuat dan profesional dalam mengelola data
kebutuhan akses data lintas institusi tersebut, spasial.
baik dari segi kebijakan, alur birokrasi maupun 6. Pengembangan Geo-KKP selanjutnya harus
teknologi informasi. dapat mengakomodasi kebutuhan berbagi pakai
2. Diperlukan pengaturan yang jelas mengenai jenis data spasial antarinstitusi, dan kemudahan akses
dan macam data spasial, tipe akses dan persyaratan bagi para pengguna, baik lembaga pemerintah,
akses, serta kebijakan perjanjian berbagi pakai swasta maupun masyarakat dalam mengakses
data spasial dalam level organisasi/ Simpul informasi spasial yang dibutuhkan, yang juga
Jaringan. Dalam hal informasi spasial pertanahan, tetap dapat memenuhi kebutuhan akan ke-
Kementerian ATR harus menyusun suatu amanan dan kerahasiaan informasi pertanahan
peraturan tentang penggolongan data perta- tertentu. Keberadaan geoportal merupakan salah
nahan berdasarkan sifat dan akses yang di- satu cara untuk memenuhi hal tersebut, sehingga
mungkinkan. pengembangannya perlu mendapatkan prioritas
3. Diperlukan standarisasi dalam IGT maupun IGD dari Lembaga.
yang berlaku secara nasional, dan ditetapkan oleh
Badan Standarisasi Nasional untuk dianut dan
digunakan oleh para Simpul Jaringan dalam Daftar Pustaka
memproduksi informasi spasial. Standar tersebut Bernard, L & Craglia, M 2005, SDI-from spatial
dapat mengacu kepada ISO TC/211 tentang data infrastructure to service driven infra-
structure, Research Workshop on Cross-
Standarisasi Data Spasial. Selain itu, setiap Simpul
Learning Between Spatial Data Infrastruc-
Jaringan juga harus memiliki informasi metadata
tures and Information Infrastructures,
dan katalog data spasial, untuk memudahkan
Enschede, The Netherlands, Citeseer.
pencarian data spasial oleh para pengguna seka- BIG 2004, Pedoman Penyelenggaraan Infrastruk-
ligus juga dalam rangka pengoptimalan informasi tur Data Spasial Nasional (IDSN) Versi 1,
spasial. Cibinong: Badan Koordinasi Survey dan
4. Kementerian ATR/BPN perlu melakukan Pemetaan Nasional.
pembakuan kualitas data spasial yang berlaku BIG 2014, Petunjuk Teknis Pembangunan Simpul
secara nasional. Pembakuan tersebut dapat Jaringan In: GEOSPASIAL, B. I. (ed.), Indo-
berupa penetapan standar, pembaharuan dan nesia
Borzacchiello, M. T & Craglia, M 2013, Estimat-
pembenahan data spasial yang belum baku dan
ing benefits of Spatial Data Infrastructures:
belum memenuhi syarat, serta pengembangan
A case study on e-Cadastres, Computers,
sistem yang dapat meminimalisir terjadinya
Environment and Urban Systems, 41, 276-288.
kesalahan pengukuran dan pemetaan data spasial. BPN 2014, Komputerisasi Layanan Pertanahan
Pembaharuan data pertanahan yang memiliki [Online], Accessed 22-02-2016, Available:
kualitas di bawah KW I, seperti bidang-bidang http://www.bpn.go.id/Publikasi/Inovasi/
tanah yang tidak terhubung pada buku tanah Komputerisasi-Layanan-Pertanahan.
Sukmo Pinuji: Integrasi Sistem Informasi Pertanahan dan Infrastruktur ...: 48-64 63
Budhathoki, N. R & Nedovic-Budic, Z 2008, Infrastructures meet their goals, Computers,
Reconceptualizing the role of the user of Environment and Urban Systems, 35, 217-229.
spatial data infrastructure, GeoJournal, 72, Harvey, F & Tulloch, D 2006, Local government
149-160. data sharing: Evaluating the foundations of
Clinton, W 1994, Coordinating geographic data spatial data infrastructures, International
acquisition and access: the National Spatial Journal of Geographical Information Science,
Data Infrastructure, Executive Order, 12906. 20, 743-768.
Crompvoets, J, Rajabifard, A, Van Loenen, B & Jacoby, S, Smith, J, Ting, L & Williamson, I 2002,
Fernndez, T D 2008, A multi-view frame- Developing a common spatial data infra-
work to Assess SDIs, Wageningen University, structure between State and Local Govern-
RGI. mentan Australian case study, Interna-
De Vries, WT 2006, Why Local Spatial Data In- tional Journal of Geographical Information
frastructures (SDIs) are not Just Mirror Re- Science, 16, 305-322.
flections of National SDI ObjectivesCase Kok, B & Van Loenen, B 2005, How to assess the
Study of Bekasi, Indonesia, The Electronic success of National Spatial Data Infrastruc-
Journal of Information Systems in Develop- tures? Computers, Environment and Urban
ing Countries, 27. Systems, 29, 699-717.
Densham, P J 1991, Spatial decision support sys- Ligtenberg, A, Bregt, A K & Van Lammeren, R
tems, Geographical information systems: 2001, Multi-actor-based land use modelling:
Principles and applications, 1, 403-412. spatial planning using agents, Landscape and
Farida, A 2014, Evaluation of spatial data infra- urban planning, 56, 21-33.
structure readiness in local government us- Longhorn, R A & BLAKEMORE, M 2007, Geo-
ing self evaluation questionnaire and tech- graphic information: value, pricing, produc-
nology acceptance model, Master, Gadjah tion, and consumption, CRC Press.
Mada University Mcdougall, K 2006, A local-state government spa-
Feeney, M, Rajabifard, A & Williamson, IP 2001, tial data sharing partnership model to facili-
Spatial data infrastructure frameworks to tate SDI development, The University of
support decision-making for sustainable de- Melbourne.
velopment, 5th Global Spatial Data Infra- Nedovic-Budic, Z., Feeney, M.-E. F., Rajabifard,
structure Conference. A. & Williamson, I 2004, Are SDIs serving
Georgiadou, Y, Puri, SK & Sahay, S 2005, To- the needs of local planning? Case study of
wards a potential research agenda to guide Victoria, Australia and Illinois, USA, Com-
the implementation of Spatial Data Infra- puters, Environment and Urban Systems, 28,
structuresA case study from India, Inter- 329-351.
national Journal of Geographical Information Noor, R. 2009, Membangun Sistem Informasi
Science, 19, 1113-1130. Pertanahan Melalui Komputerisasi Kantor
Groot, R. & Mclaughlin, JD 2000, Geospatial data Pertanahan, Land Indonesia, BAPPENAS.
infrastructure: concepts, cases, and good Rajabifard, A & Williamson, IP 2001, Spatial data
practice, Oxford university press Oxford. infrastructures: concept, SDI hierarchy and
Grus, 2010, Assessing spatial data infrastructures, future directions.
NCG, Nederlandse Commissie voor Geo- Steudler, D, Rajabifard, A. & Williamson, IP 2004,
desie. Evaluation of land administration systems,
Grus, , Castelein, W, Crompvoets, J., Overduin, Land Use Policy, 21, 371-380.
T, Loenen, B. V., Groenestijn, A. V., Thorburn, CC 2004, The plot thickens: land ad-
Rajabifard, A. & Bregt, AK 2011, An assess- ministration and policy in post new order
ment view to evaluate whether Spatial Data Indonesia, Asia Pacif ic Viewpoint, 45, 33-49.
64 Bhumi Vol. 2 No. 1 Mei 2016

Ting, L & Williamson, I, 2000, Spatial data infra- Infrastructures: Application to the Sub na-
structures and good governance: frame- tional SDI of Flanders (Belgium), Transac-
works for land administration reform to sup- tions in GIS, 13, 105-122.
port sustainable development, 4th global Williamson, I & Ting, L 2001, Land administra-
spatial data infrastructure conference, Cape tion and cadastral trendsa framework for
Town, South Africa. re-engineering, Computers, Environment
UN 1997, Agenda for Developments United Na- and Urban Systems, 25, 339-366.
tions. Williamson, I P 2001, Land administration best
Van Der Molen, P 2002, The dynamic aspect of practice providing the infrastructure for
land administration: an often-forgotten com- land policy implementation, Land Use Policy,
ponent in system design, Computers, Envi- 18, 297-307.
ronment and Urban Systems, 26, 361-381. Williamson, IP, Enemark, S, Wallace, J &
Vandenbroucke, D, Crompvoets, J, Vancauwen- Rajabifard, A 2010, Land administration for
berghe, G, Dessers, E & Van Orshoven, J sustainable development, ESRI Press Aca-
2009, A Network Perspective on Spatial Data demic Redlands, CA.

Anda mungkin juga menyukai