Anda di halaman 1dari 20

Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

BAB 4 TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN

4.1 Target Kinerja Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019


Untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja penyelenggaraan transportasi darat sebagai
salah satu persyaratan terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik, dibutuhkan pengukuran
kinerja kegiatan untuk menilai tingkat keberhasilan pencapaian sasaran Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat.
Pengukuran kinerja Direktorat Jenderal Perhubungan Darat merupakan hasil dari suatu penilaian
yang sistematis serta didasarkan pada indikator kinerja kegiatan, meliputi masukan, keluaran,
hasil, manfaat dan dampak. Tingkat keberhasilan suatu kegiatan ditandai dengan indikator kinerja
utama sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 85 Tahun 2010 tentang
Penetapan Indikator Kinerja Utama di lingkungan Kementerian Perhubungan yang telah
disempurnakan melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 68 Tahun 2012 dengan
tambahan indikator kegiatan yang bersifat strategis.
Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019 disusun
sebagai indikator outcome dan indikator output penting, yang dikelompokkan dalam 5 (lima) aspek
utama, yaitu: (1) Peningkatan aksesibilitas, kapasitas dan keterpaduan jaringan transportasi darat
(2) Peningkatan keselamatan perhubungan darat (3) Peningkatan kinerja sarana transportasi
darat sesuai standar (4) Peningkatan pemenuhan kebutuhan SDM dan aplikasi teknologi dan (5)
Peningkatan kinerja transportasi perkotaan. Tiap aspek memiliki sasaran dan kebijakan, sebagai
berikut:

4.1.1 Peningkatan Aksesibiltas Kapasitas dan Keterpaduan Jaringan Transportasi Darat

Dalam rangka mewujudkan Peningkatan Aksesibiltas Kapasitas dan Keterpaduan Jaringan


Transportasi Darat Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mempunyai sasaran, yaitu: (1)
Menguatnya konektivitas nasional melalui peningkatan aksesibilitas, kapasitas dan keterpaduan
jaringan transportasi darat.

4.1.1.1 Menguatnya Konektivitas Nasional melalui peningkatan aksesibilitas, kapasitas dan


keterpaduan jaringan transportasi darat.
Untuk mengukur capaian Konektivitas Nasional melalui peningkatan aksesibiltas, kapasitas, dan
keterpaduan jaringan transportasi darat, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan
Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-2019, yaitu:

1 Jumlah keperintisan angkutan jalan


Jumlah keperintisan angkutan jalan ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 257 trayek
dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 205 trayek;

2 Jumlah Lintas Angkutan penyeberangan Perintis


Jumlah lintas angkutan penyeberangan perintis ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 261
lintas dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 178 lintas;

3 Jumlah lintas angkutan penyeberangan komersil


Jumlah lintas angkutan penyeberangan komersil ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 50
lintas dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 48 lintas;

IV -1
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

4 Terhubung sabuk lintas penyeberangan


Jumlah sabuk lintas penyeberangan ditargetkan sampai tahun 2019 sebesar 100% dengan
Baseline tahun 2014 sebesar 85%;

5 Jumlah Pembangunan/Peningkatan Terminal Tipe A


Jumlah Pembangunan/Peningkatan Terminal Tipe A ditargetkan sampai tahun 2019
sebanyak 41 lokasi dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 17 lokasi;

6 Jumlah Pembangunan/Pengembangan Dermaga Sungai dan Danau


Jumlah Pembangunan/Pengembangan Dermaga Sungai dan Danau ditargetkan sampai
tahun 2019 sebanyak 93 dermaga dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 46 dermaga;

7 Jumlah Pembangunan/ Pengembangan Dermaga Penyeberangan untuk menghubungkan


seluruh lintas penyeberangan sabuk utara, tengah dan selatan serta poros-poros
penghubungnya
Jumlah Pembangunan/ Pengembangan Dermaga Penyeberangan untuk menghubungkan
seluruh lintas penyeberangan sabuk utara, tengah dan selatan serta poros-poros
penghubungnya ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 65 dermaga dengan Baseline
tahun 2014 sebanyak 62 dermaga;

8 Peningkatan Kapasitas Sarana


Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melaksanakan peningkatan kapasitas sarana
Transportasi Darat meliputi:
a. Jumlah BRT ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 3.170 Bus dengan Baseline tahun
2014 sebanyak 303 Bus;
b. Jumlah Kapal Penyeberangan ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 50 Kapal dengan
Baseline tahun 2014 sebanyak 41 Kapal;
c. Jumlah Bus Pemadu Moda ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 95 Bus dengan
Baseline tahun 2014 sebanyak 40 Bus;

9 Jumlah Pengembangan Bus Perintis (dengan penambahan armada)


Jumlah Pengembangan Bus Perintis ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 595 Bus
dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 255 Bus.

4.1.2 Peningkatan Keselamatan Perhubungan Darat


Dalam rangka mewujudkan keselamatan dan keamanan transportasi Darat, Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat mempunyai sasaran, yaitu: (1) Meningkatnya keselamatan sektor transportasi
darat.

4.1.2.1 Meningkatnya Keselamatan Sektor Transportasi Darat.


Untuk mengukur capaian Peningkatan keselamatan sektor transportasi darat, Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat menetapkan Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-2019, yaitu:

1 Jumlah Pedoman Standar Keselamatan Transportasi Darat:


Jumlah Pedoman Standar Keselamatan Transportasi Darat ditargetkan sampai tahun 2019
sebanyak 18 Dokumen dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 1 Dokumen;

IV -2
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

2 Jumlah sarana dan prasarana keselamatan transportasi darat:


Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melaksanakan peningkatan jumlah sarana dan
prasarana keselamatan transportasi darat meliputi:
a. Jumlah Marka Jalan ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 13.500.000 m2 dengan
Baseline tahun 2014 sebanyak 400.000 m2;
b. Jumlah Rambu lalu lintas ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 9.000 unit dengan
Baseline tahun 2014 sebanyak 800 Unit;
c. Jumlah APILL ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 1.595 unit dengan Baseline tahun
2014 sebanyak 50 Unit;
d. Jumlah Penerangan jalan umum ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 45.000 unit
dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 2.500 unit;
e. Jumlah Alat Pengawasan dan Pengamanan Jalan (Fasilitas UPPKB) ditargetkan sampai
tahun 2019 sebanyak 68 unit dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 0 unit;
f. Jumlah Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan (guard rail) ditargetkan sampai
tahun 2019 sebanyak 350.500 m2 dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 20.000m2 unit;
g. Jumlah SBNP ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 207 unit dengan Baseline tahun
2014 sebanyak 106 unit;
h. Jumlah Rambu Sungai ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 7.143 unit dengan
Baseline tahun 2014 sebanyak 1.722 unit.

4.1.3 Peningkatan kinerja sarana transportasi darat sesuai standar


Dalam rangka mewujudkan Peningkatan kinerja sarana transportasi darat yang sesuai standar
mempunyai sasaran, yaitu: (1) Meningkatnya jumlah sarana transportasi darat yang memenuhi
kriteria kinerja (SPM) yang ditetapkan.

4.1.3.1 Meningkatnya jumlah sarana transportasi darat yang memenuhi kriteria kinerja
(SPM) yang ditetapkan
Untuk mengukur capaian peningkatan jumlah sarana transportasi darat yang memenuhi kriteria
kinerja (SPM) yang ditetapkan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan Indikator
Kinerja Utama untuk tahun 2015-2019, yaitu:

1 Jumlah pedoman standar pelayanan sarana dan prasarana transportasi darat


Jumlah Pedoman Standar pelayanan sarana dan prasarana transportasi darat ditargetkan
sampai tahun 2019 sebanyak 21 Dokumen dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 3
Dokumen;

2 Penyederhanaan perijinan di lingkungan Transportasi Darat:


Penyederhanaan perijinan di lingkungan Transportasi Darat ditargetkan sampai tahun 2019
sebanyak 100% (2 Dokumen) dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 0% (0 Dokumen);

3 Jumlah frekuensi pelayanan pada lintas penyeberangan


Jumlah frekuensi pelayanan pada lintas penyeberangan ditargetkan sampai tahun 2019
sebanyak 538.000 trip dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 511.990 trip;

4 Prosentase sarana pelayanan AKAP yang memenuhi SPM

IV -3
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

Prosentase sarana pelayanan AKAP yang memenuhi SPM ditargetkan sampai tahun 2019
sebanyak 73% dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 100%;

5 Prosentase pemenuhan standar operasional pelabuhan penyeberangan lintas utama


Prosentase pemenuhan standar operasional pelabuhan penyeberangan lintas utama
ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 100% dengan Baseline tahun 2014 sebanyak
100%;

6 Prosentase kapal penyeberangan pada lintas utama yang memenuhi SPM utama
Prosentase kapal penyeberangan pada lintas utama yang memenuhi SPM ditargetkan sampai
tahun 2019 sebanyak 100% dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 100%;

4.1.4 Peningkatan pemenuhan kebutuhan SDM dan aplikasi teknologi


Dalam rangka mewujudkan Peningkatan kinerja sarana transportasi darat yang sesuai standar
mempunyai sasaran, yaitu: (1) Meningkatnya kualitas dan kinerja SDM di bidang perhubungan
darat.

4.1.4.1 Meningkatnya kualitas dan kinerja SDM di bidang perhubungan darat


Untuk mengukur capaian Peningkatan kualitas dan kinerja SDM di bidang perhubungan darat,
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-
2019, yaitu:

1 Jumlah pemberian sertifikat dan kualifikasi teknis petugas operasional


Jumlah pemberian sertifikat dan kualifikasi teknis petugas operasional ditargetkan sampai
tahun 2019 sebanyak 300 sertifikat dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 200 sertifikat;

2 Jumlah Pegawai yang sudah memiliki sertifikat


Jumlah Pegawai yang sudah memiliki sertifikat ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 700
orang dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 502 orang;

4.1.5 Peningkatan kinerja transportasi perkotaan


Dalam rangka mewujudkan peningkatan kinerja transportasi perkotaan, Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat mempunyai tiga sasaran, yaitu: (1) Peningkatan kinerja transportasi darat, (2)
Meningkatnya aplikasi skema manajemen transportasi perkotaan, (3) Meningkatnya akuntabilitas
kinerja dan pengelolaan keuangan di Lingkungan Ditjen Perhubungan Darat.

4.1.5.1 Meningkatnya peran angkutan umum perkotaan


Untuk mengukur capaian Peningkatan kualitas dan kinerja SDM di bidang perhubungan darat,
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-
2019, yaitu:
1 Jumlah kota yang meneraplan sistem angkutan massal berbasis jalan
Jumlah kota yang menerapkan sistem angkutan massal berbasis jalan ditargetkan sampai
tahun 2019 sebesar 29 kota dengan Baseline tahun 2014 sebesar 18 kota;

2 Modal share angkutan umum perkotaan di Kota Megapolitan/Metropolitan/Besar

IV -4
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

Modal share angkutan umum perkotaan di Kota Megapolitan/Metropolitan/Besar ditargetkan


sampai tahun 2019 sebesar 12% dengan Baseline tahun 2014 sebesar 2%;

4.1.5.2 Meningkatnya aplikasi skema manajemen transportasi perkotaan


Untuk mengukur capaian Peningkatan kualitas dan kinerja SDM di bidang perhubungan darat,
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-
2019, yaitu:

1 Jumlah kota yang menerapkan pengaturan persimpangan dengan menggunakan teknologi


informasi (ATCS) di seluruh Ibukota Provinsi/ Kota Besar/ Kota Metropolitan
Jumlah kota yang menerapkan pengaturan persimpangan dengan menggunakan teknologi
informasi (ATCS) di seluruh Ibukota Provinsi/ Kota Besar/ Kota Metropolita ditargetkan sampai
tahun 2019 sebesar 50 Lokasi dengan Baseline tahun 2014 sebesar 20 Lokasi;

2 Jumlah emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi darat yang dapat diturunkan
Jumlah emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi darat yang dapat diturunkan ditargetkan
sampai tahun 2019 sebesar 1,33 Juta Ton CO2e dengan Baseline tahun 2014 sebesar 0,172
Juta Ton CO2e Lokasi;

3 Jumlah prasarana yang telah menerapkan konsep ramah lingkungan


Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melaksanakan peningkatan jumlah prasarana yang
telah menerapkan konsep ramah lingkungan meliputi:
a. Penerangan Jalan Umum Listrik yang dilengkapi dengan sensor ditargetkan sampai tahun
2019 sebanyak 18.000 dengan Baseline tahun 2014 sebanyak 0 Unit;
b. Peningkatan SBNP ditargetkan sampai tahun 2019 sebanyak 207 unit dengan Baseline
tahun 2014 sebanyak 106 unit.

4.1.5.3 Meningkatnya akuntabilitas kinerja dan pengelolaan keuangan di Lingkungan Ditjen


Perhubungan Darat
Untuk mengukur capaian Peningkatan akuntabilitas kinerja dan pengelolaan keuangan di
Lingkungan Ditjen Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan
Indikator Kinerja Utama untuk tahun 2015-2019, yaitu:
1 Nilai AKIP Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
Nilai AKIP Direktorat Jenderal Perhubungan Darat ditargetkan sampai tahun 2019 sebesar 90
Nilai dengan Baseline tahun 2014 sebesar 88 Nilai;
2 Tingkat penyerapan anggaran Ditjen Perhubungan Darat
Tingkat penyerapan anggaran Ditjen Perhubungan Darat ditargetkan sampai tahun 2019
sebesar 89% dengan Baseline tahun 2014 sebesar 91%;
3 Nilai aset Ditjen Perhubungan Darat yang berhasil diinventarisasi
Nilai aset Ditjen Perhubungan Darat yang berhasil diinventarisasi ditargetkan sampai tahun
2019 sebesar Rp.19.000.000.000.000 dengan Baseline tahun 2014 sebesar
Rp.14.336.696.272.756.

IV -5
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

Tabel 4.1
Sasaran dan Indikator Kinerja Utama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
Tahun 2015-2019
TARGET CAPAIAN s.d.
SASARAN INDIKATOR KINERJA UTAMA SATUAN CAPAIAN 2014 (*)
2015- 2019 (**) 2019 (***)
1. Menguatnya 1. Jumlah trayek keperintisan angkutan Trayek 205 257 257
konektivitas nasional jalan
melalui peningkatan 2. Jumlah lintas angkutan penyeberangan Lintas 178 261 261
aksesibilitas, perintis
kapasitas dan 3. Jumlah lintas angkutan penyeberangan Lintas 48 50 50
keterpaduan jaringan komersil
transportasi darat 4. Terhubungnya sabuk lintas % 85 100 100
penyeberangan
5. Jumlah Pembangunan/Peningkatan Lokasi 17 14 41
Terminal Penumpang Tipe A
6. Jumlah Pembangunan/ Pengembangan Dermaga 46 93 139
Dermaga Sungai dan Danau
7. Jumlah Pembangunan/ Pengembangan Dermaga 62 65 127
Dermaga Penyeberangan untuk
menghubungkan seluruh lintas
penyeberangan sabuk utara, tengah dan
selatan serta poros-poros
penghubungnya
8. Peningkatan kapasitas sarana:
a. Jumlah BRT Bus 303 3.170 3.473
b. Jumlah Kapal Penyeberangan Kapal 41 50 91
c. Jumlah Bus Pemadu Moda Bus 40 95 135
9. Jumlah Pengembangan Bus Perintis Bus 255 520 775
(dengan penambahan Armada)
2. Meningkatnya 10. Jumlah Pedoman Standar Keselamatan Dokumen 1 18 19
keselamatan sektor Transportasi Darat
transportasi darat 11. Jumlah sarana dan prasarana
keselamatan transportasi darat
a. Jumlah Marka Jalan m2 400.000 13.500.000 13.900.000
b. Jumlah Rambu Lalu Lintas Unit 800 9.000 9.800
c. Jumlah APILL Unit 50 1.595 1.645

IV -6
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

TARGET CAPAIAN s.d.


SASARAN INDIKATOR KINERJA UTAMA SATUAN CAPAIAN 2014 (*)
2015- 2019 (**) 2019 (***)
d. Jumlah Penerangan Jalan Umum Unit 2.500 45.000 47.500
e. Jumlah Alat Pengawasan dan Unit 0 68 68
Pengamanan Jalan (Fasilitas
UPPKB)
f. Jumlah Alat Pengendali dan m 20.000 350.500 370.500
Pengaman Pengguna Jalan (guard
rail)
g. Jumlah SBNP Unit 106 207 313
h. Jumlah Rambu Sungai Unit 1.722 7.143 8.865
3. Meningkatnya jumlah 12. Jumlah pedoman standar pelayanan Dokumen 3 21 24
sarana transportasi sarana dan prasarana transportasi darat
darat yang memenuhi 13. Penyederhanaan perijinan di lingkungan % n/a 100 100
kriteria kinerja (SPM) Transportasi Darat
yang ditetapkan 14. Jumlah frekuensi pelayanan pada lintas Trip 511.990 2.636.000 3.147.990
penyeberangan
15. Prosentase sarana pelayanan AKAP % 73 100 100
yang memenuhi SPM
16. Prosentase pemenuhan standar % 100 100 100
operasional pelabuhan penyeberangan
lintas utama
17. Prosentase kapal penyeberangan pada % 100 100 100
lintas utama yang memenuhi SPM
4. Meningkatnya kualitas 18. Jumlah pemberian sertifikat dan Sertifikat 200 1.300 1.500
dan kinerja SDM di kualifikasi teknis petugas operasional
bidang perhubungan 19. Jumlah Pegawai yang sudah memiliki Orang 502 700 700
darat sertifikat
5. Meningkatnya peran 20. Jumlah kota yang menerapkan sistem Kota 18 29 29
angkutan umum angkutan massal berbasis jalan
perkotaan 21. Modal share angkutan umum perkotaan % 2 12 12
di Kota Megapolitan/Metropolitan/Besar
6. Meningkatnya aplikasi 22. Jumlah kota yang menerapkan Lokasi 20 50 50
skema manajemen pengaturan persimpangan dengan
transportasi perkotaan menggunakan teknologi informasi
(ATCS) di seluruh Ibukota Provinsi/ Kota
Besar/ Kota Metropolitan

IV -7
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

TARGET CAPAIAN s.d.


SASARAN INDIKATOR KINERJA UTAMA SATUAN CAPAIAN 2014 (*)
2015- 2019 (**) 2019 (***)
23. Jumlah emisi gas rumah kaca dari Juta Ton 0,172 1,33 1,33
sektor transportasi darat yang dapat CO2e
diturunkan
24. Jumlah prasarana yang telah Unit 106 13.207 13.313
menerapkan konsep ramah lingkungan
a. Penerangan Jalan Umum Listrik Unit 0 13.000 13.000
yang dilengkapi dengan sensor
b. SBNP Unit 106 207 313
7. Meningkatnya 25. Nilai AKIP Direktorat Jenderal Nilai 88 90 90
akuntabilitas kinerja Perhubungan Darat
dan pengelolaan 26. Tingkat penyerapan anggaran Ditjen % 91 89 89
keuangan di Perhubungan Darat
Lingkungan Ditjen 27. Nilai aset Ditjen Perhubungan Darat Rp. 14.336.696.272.756 19.000.000.000.000 19.000.000.000.000
Perhubungan Darat yang berhasil diinventarisasi
Keterangan:
(**) total target 2015-2019
(***)total target dari capaian 2014-2019

IV -8
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

Tabel 4.2
Rincian Indikator Kinerja Utama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Per Tahun dari
Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2019
INDIKATOR KINERJA UTAMA Satuan CAPAIAN 2014 (*) TARGET 2015 TARGET 2016 TARGET 2017 TARGET 2018 TARGET 2019
1. Jumlah trayek keperintisan Trayek 205 217 227 237 247 257
angkutan jalan
2. Jumlah lintas angkutan Lintas 178 210 225 240 250 261
penyeberangan perintis
3. Jumlah lintas angkutan Lintas 48 48 48 49 49 50
penyeberangan komersil
4. Terhubungnya sabuk lintas % 85 88 91 94 97 100
penyeberangan
5. Jumlah Lokasi 17 1 7 7 12 14
Pembangunan/Peningkatan
Terminal Penumpang Tipe A
6. Jumlah Pembangunan/ Dermaga 46 14 0 37 19 23
Pengembangan Dermaga
Sungai dan Danau
7. Jumlah Pembangunan/ Dermaga 62 13 0 26 12 14
Pengembangan Dermaga
Penyeberangan untuk
menghubungkan seluruh
lintas penyeberangan sabuk
utara, tengah dan selatan
serta poros-poros
penghubungnya
8. Peningkatan kapasitas
sarana :
a. Jumlah BRT Bus 303 1.050 530 530 530 530
b. Jumlah Kapal Kapal 41 8 0 14 14 14
Penyeberangan
c. Jumlah Bus Pemadu Bus 40 15 20 20 20 20
Moda
9. Jumlah Pengembangan Bus Bus 255 75 100 100 150 170
Perintis (dengan
penambahan Armada)

IV -9
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

INDIKATOR KINERJA UTAMA Satuan CAPAIAN 2014 (*) TARGET 2015 TARGET 2016 TARGET 2017 TARGET 2018 TARGET 2019
10. Jumlah Pedoman Standar Dokumen 1 2 4 4 4 4
Keselamatan Transportasi
Darat
11. Jumlah sarana dan
prasarana keselamatan
transportasi darat
a. Jumlah Marka Jalan m2 400.000 435.000 3.266.250 3.266.250 3.266.250 3.266.250

b. Jumlah Rambu Lalu Unit 800 900 2.025 2.025 2.025 2.025
Lintas
c. Jumlah APILL Unit 50 145 200 300 450 500
d. Jumlah Penerangan Unit 2.500 3.000 10.500 10.500 10.500 10.500
Jalan Umum
e. Jumlah Alat Unit 0 2 1 15 20 30
Pengawasan dan
Pengamanan Jalan
(Fasilitas UPPKB)
f. Jumlah Alat Pengendali m 20.000 20.500 30.000 50.000 100.000 150.000
dan Pengaman
Pengguna Jalan (guard
rail)
g. Jumlah SBNP Unit 106 25 29 39 78 36
h. Jumlah Rambu Sungai Unit 1.722 1.143 0 2.000 2.000 2.000
12. Jumlah pedoman standar Dokumen 3 5 4 4 4 4
pelayanan sarana dan
prasarana transportasi
darat
13. Penyederhanaan perijinan % n/a 50 50 0 0 0
di lingkungan Transportasi
Darat
14. Jumlah frekuensi Trip 511.990 517.000 522.000 527.000 532.000 538.000
pelayanan pada lintas
penyeberangan
15. Prosentase sarana % 73 75 80 85 90 100
pelayanan AKAP yang
memenuhi SPM
16. Prosentase pemenuhan % 100 100 100 100 100 100
IV -10
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

INDIKATOR KINERJA UTAMA Satuan CAPAIAN 2014 (*) TARGET 2015 TARGET 2016 TARGET 2017 TARGET 2018 TARGET 2019
standar operasional
pelabuhan penyeberangan
lintas utama
17. Prosentase kapal % 100 100 100 100 100 100
penyeberangan pada lintas
utama yang memenuhi
SPM
18. Jumlah pemberian sertifikat Sertifikat 200 220 240 260 280 300
dan kualifikasi teknis
petugas operasional
19. Jumlah Pegawai yang Orang 502 542 581 620 660 700
sudah memiliki sertifikat
20. Jumlah kota yang Kota 18 21 23 25 27 29
menerapkan sistem
angkutan massal berbasis
jalan
21. Modal share angkutan % 2 4 6 8 10 12
umum perkotaan di Kota
Megapolitan/Metropolitan/B
esar
22. Jumlah kota yang Lokasi 20 25 27 34 42 50
menerapkan pengaturan
persimpangan dengan
menggunakan teknologi
informasi (ATCS) di seluruh
Ibukota Provinsi/ Kota
Besar/ Kota Metropolitan
23. Jumlah emisi gas rumah Juta Ton 0,172 0,39 0,68 0,94 1,18 1,33
kaca dari sektor CO2e
transportasi darat yang
dapat diturunkan
24. Jumlah prasarana yang Unit 106 1.025 2.029 5.039 5.078 5.036
telah menerapkan konsep
ramah lingkungan
a. Penerangan Jalan Unit 0 1.000 2.000 5.000 5.000 5.000
Umum Listrik yang
dilengkapi dengan
IV -11
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

INDIKATOR KINERJA UTAMA Satuan CAPAIAN 2014 (*) TARGET 2015 TARGET 2016 TARGET 2017 TARGET 2018 TARGET 2019
sensor
b. SBNP Unit 106 25 29 39 78 36
25. Nilai AKIP Direktorat Nilai 88 88 88,5 89 89,5 90
Jenderal Perhubungan
Darat
26. Tingkat penyerapan % 91 85 86 87 88 89
anggaran Ditjen
Perhubungan Darat
27. Nilai aset Ditjen Rp. 14.336.696.272.756 15.000.000.000.000 16.000.000.000.000 17.000.000.000.000 18.000.000.000.000 19.000.000.000.000
Perhubungan Darat yang
berhasil diinventarisasi

IV -12
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

4.2 Kerangka Pendanaan

Pendanaan merupakan salah satu kunci utama dalam tercapainya pembangunan infrastruktur,
yang memerlukan dana yang besar. Pembangunan infrastruktur transportasi membutuhkan
pembiayaan yang terstruktur dalam periode yang panjang. Pemerintah dapat meningkatkan
pembelanjaan sektor publik hingga mencapai 5% bahkan hingga 7% PDB. Pemerintah
mempunyai kewajiban (Public Sector Obligation) membangun infrastruktur dasar yang layak
secara ekonomi tetapi tidak layak secara komersial.

4.2.1 Skema Pendanaan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019

Kerangka Pendanaan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat disusun berdasarkan kebutuhan


capaian kinerja yang direpresentasikan melalui Indikator Kinerja Utama, serta Kerangka Regulasi
dan Kelembagaan Tahun 2015 sejumlah Rp. 6.077,1 Miliar, sedangkan pada tahun 2019
ditargetkan mencapai Rp. 14.053,45 Miliar. Total Pendanaan Direktorat Jenderal Perhubungan
Darat yang direncanakan antara tahun 2015-2019 mencapai Rp. 57.263,6 Miliar. Rincian
pendanaan untuk tiap unit kerja Eselon II dapat dilihat pada tabel 4.3.

Pendanaan penyelenggaraan Program Pengelolaan dan Penyelenggaraan Transportasi Darat


sebesar Rp. 57.263,6 Miliar dengan rincian penggunaannya untuk pelaksanaan dan implementasi
kegiatan pengembangan dan pembinaan sistem transportasi perkotaan, manajemen dan
peningkatan keselamatan transportasi darat, pembangunan dan pengelolaan prasarana dan
fasilitas lalu lintas angkutan jalan, pembangunan sarana dan prasarana transportasi ASDP dan
pengelolaan prasarana lalu lintas SDP serta dukungan manajemen dan teknis. Pendanaan
tersebut juga digunakan salah satunya adalah untuk memenuhi target quick wins Kementerian
Perhubungan khususnya untuk pelaksanaan kegiatan pada Direktorat Jenderal Transportasi Darat
dengan beberapa sasaran, meliputi terlaksananya penataan transportasi Jabodetabek (QW),
terwujudnya konektivitas transportasi perkotaan di 28 Kota termasuk aksesibilitas, sarana, dan
prasarana (QW), terselenggaranya transportasi perkotaan di 17 kota pengembangan BRT.

Secara garis besar, penganggaran Perhubungan Darat dapat dibagi menjadi 5 (lima) kegiatan
utama, antara lain:
1 Manajemen & Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat;
2 Pembangunan & Pengelolaan Prasarana dan Fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan;
3 Pembinaan & Pengembangan Sistem Transportasi Perkotaan;
4 Pembangunan Sarana & Prasarana Transportasi SDP dan Pengelolaan Prasarana Lalu
Lintas SDP;
5 Dukungan Manajemen & Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Perhubungan Darat.

Alokasi anggaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat digunakan untuk kegiatan


pembangunan dan pengadaan infrastruktur perhubungan darat serta kegiatankegiatan
penunjang transportasi darat lainnya, antara lain:
a. Manajemen & Peningkatan Keselamatan Transportasi Darat
1) Monitoring dan Evaluasi Bidang Keselamatan;
2) Safer People (Peningkatan SDM Bidang Keselamatan dan Sosialisasi Keselamatan);
3) Safer Road and Water Ways (Penanganan LRK Di Jalan Dan Sungai Danau);
4) Safer Vehicle (Peningkatan Standar Keselamatan Pada Angkutan Transportasi Darat);

IV -13
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

5) Penyusunan Rencana Teknis Bidang Keselamatan.


b. Pembangunan & Pengelolaan Prasaranadan Fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan
1) Pengadaan dan Pemasangan Perlengkapan Jalan;
2) Pemeliharaan Perlengkapan Jalan;
3) Pengadaan Alat PKB;
4) Pembangunan Terminal Penumpang (Baru, Lanjutan, Rehabilitasi);
5) Pembangunan Jembatan Timbang/UPPKB (Baru, Lanjutan, Rehabilitasi);
6) Subsidi Operasi Bus Perintis;
7) Pengadaan Bus (Perintis, BRT, Pemadu Moda, Umum/ Sekolah/ Kampus);
8) Perencanaan/ Kebijakan Bidang LLAJ.
c. Pembinaan & Pengembangan Sistem Transportasi Perkotaan
1) Pengadaan Bus Rapid Transit (BRT);
2) Pengadaan Bus Umum/ Sekolah/ Kampus;
3) Pengadaan Bus Pemadu Moda;
4) Pengadaan dan Pemasangan ATCS;
5) Monitoring dan Evaluasi Bidang Perkotaan;
6) Perencanaan/ Kebijakan Bidang Perkotaan.
d. Pembangunan Sarana & Prasarana Transportasi SDP dan Pengelolaan Prasarana Lalu
Lintas SDP
1) Pemb. Dermaga Penyeberangan (Baru, Lanjutan, Rehabilitasi);
2) Pemb. Dermaga Sungai (Baru, Lanjutan, Rehabilitasi);
3) Pemb. Dermaga Danau (Baru, Lanjutan, Rehabilitasi);
4) Pembangunan Kapal (Baru, Lanjutan);
5) Pembangunan Bus Air;
6) Pembangunan Speed Boat;
7) Pembangunan Tug Boat;
8) Pembangunan Breakwater;
9) Pengerukan Alur Pelayaran;
10) Pengadaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran;
11) Pengadaan Rambu Sungai;
12) SubsidiPerintis;
13) Perencanaan/ Kebijakan Bidang LLASDP.
e. Dukungan Manajemen & Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Perhubungan Darat
1) Belanja Gaji Pegawai;
2) Operasional Layanan Perkantoran;
3) Pengadaan Peralatan dan Fasilitas Perkantoran;
4) Monitoring dan Evaluasi Bidang Perencanaan Transportasi Darat;
5) Pengembangan SDM Bidang Perhubungan Darat;
6) Pelaksanaan Diklat;
7) Pembinaan Organisasi dan Tata Laksana;
8) Pengembangan Sistem Informasi Ditjen Hubdat;
9) Pembinaan Administrasi Pengelolaan BMN dan Aset;
10) Penyusunan Kajian Kebijakan Transportasi Darat.

Untuk menjalankan seluruh kegiatan dalam rangka mencapai target pembangunan maupun
capaian sasaran kinerja diatas, perkiraan kebutuhan pendanaan untuk setiap bidang perhubungan

IV -14
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

darat seperti yang disampaikan pada Tabel 4.3. Total kebutuhan pembiayaan untuk Tahun 2015-
2019 sekitar Rp. 53 Trilyun dengan tingkat pertumbuhan sekitar 17,37% per tahun

4.2.2 Kegiatan Strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019

Dalam rangka mewujudkan sasaran dalam Renstra Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun
2015-2019, ditetapkan target Program Strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat meliputi:

1. Pengadaan sarana BRT sebanyak 3.170 unit di 34 kota besar antara lain : Medan,
Pekanbaru, Batam, Padang, Palembang, Bandung, Jakarta, Bogor, Semarang, Yogyakarta,
Solo, Pontianak, Samarinda, Balikpapan, Makassar, Gorontalo, dan Ambon;
2. Pengadaan sarana Bus Pemadu Moda sebanyak 95 unit di 17 Kota, antara lain Bengkulu,
Palu, Kendari, Kupang, Jember, Bau-bau, Sumbawa Besar, Banda Aceh, Nias, Pekanbaru,
Batam, Tanjung Pinang, Padang, Malang, Bandung, Palembang, Lampung;
3. Pengadaan sarana ATCS (Area Traffic Control System) sebanyak 77 unit yang tersebar di 34
Provinsi;
4. Pengadaan Bus Angkutan Umum/Pelajar/ Mahasiswa sebanyak 290 unit yang tersebar di 34
Provinsi;
5. Pengadaan fasilitas perlengkapan jalan di wilayah perkotaan yang tersebar di 34 Provinsi;
6. Pembangunan prasarana fasilitas pendukung BRT sebanyak 340 halte yang tersebar di 34
Provinsi;
7. Peningkatan Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor/ UPPKB yang tersebar di 34
Provinsi;
8. Pemeliharaan/ Rehabilitasi Fasilitas Perlengkapan Jalan LLAJ sebanyak 218 paket yang
tersebar di 34 Provinsi;
9. Pengembangan Pengujian Kendaraan Bermotor yang tersebar di 34 Provinsi;
10. Pengadaan dan Pemasangan Alat PKB yang tersebar di 34 Provinsi;
11. Pengembangan Fasilitas Perlengkapan Jalan sebanyak 1.425 paket yang tersebar di 34
Provinsi;
12. Pembangunan Terminal Tipe A (Baru) yang tersebar di 34 Provinsi pada lokasi Ponorogo
(Jawa Timur), Padang (Sumbar), Aruk (Kalbar), Entikong (Kalbar), Motoain (NTT), Motomasin
(NTT), Wini (NTT), Skouw (Papua), Badau (Kalbar), Lamongan (Jatim), Pondok Cabe
(Banten), Magelang (Jawa Tengah), Jember (Jawa Timur), Probolinggo (Jawa Timur),
Lamandau (Kalimantan Tengah), Jombor (Yogyakarta), Bobot Sari (Jawa Tengah),
Singkawang (Kalbar), Daya (Makassar, Sulsel), Kendari (Sulsel), Dumai (Riau), Entrop
(Jayapura, Papua), Asahan (Sumut), Demak (Jawa Tengah), Blitar (Jawa Timur), Kediri (Jawa
Timur), Banyuwangi (Jawa Timur), Purwokerto (Jawa Tengah), Rajabasa (Lampung), Bekasi
(Jawa Barat), Giilimanuk (Bali), Amurang (Sulut), Tanjung Selor (Kalimantan Utara),
Manokwari (Papua Barat), Brebes (Jawa Tengah), Sofifi (Maluku Utara), Polewali (Sulawesi
Barat), Batam (Kepri), Musi Banyuasin (Sumsel), Kawarang (Jawa Barat) .
13. Rehabilitasi/ Peningkatan Pembangunan Terminal tersebar di 34 Provinsi;
14. Pengadaan Bus Perintis sebanyak 595 unit yang tersebar di 34 Provinsi;
15. Subsidi Operasional Keperintisan Angkutan Jalan dan Operasional Keperintisan Angkutan
Barang sebanyak 277 trayek tersebar di 34 Provinsi.

IV -15
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

4.2.3 Kegiatan Strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019


Terkait Kawasan Rawan Bencana, Wilayah Perbatasan, Dan Terluar, Kawasan
Strategis Pariwisata Nasional, Kawasan Industri, Mitigasi Iklim, Pengarusutamaan
Gender Dan Anak Berkebutuhan Khusus Serta Perlindungan Dan Pemberdayaan
Perempuan Dan Anak Dalam Konflik Sosial (P3A-KS), Dan Juga Strategi Nasional
Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK)

4.2.3.1 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Dalam Pembangunan Kawasan


Rawan Bencana, Wilayah Perbatasan dan Terluar
Pembangunan transportasi di kawasan rawan bencana, wilayah perbatasan dan terluar adalah
untuk memperlancar distribusi barang dan jasa serta mobilitas penduduk dalam rangka
mengurangi disparitas antar kawasan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan tersebut difokuskan pada:
1 Tersedianya prasarana dan sarana transportasi dengan kapasitas dan kualitas pelayanan
memadai;
2 Terjangkaunya pelayanan transportasi ke seluruh wilayah perbatasan;
3 Terjaminnya keselamatan dan keamanan dalam pelayanan jasa transportasi;
4 Terwujudnya kerjasama luar negeri bidang perhubungan yang saling menguntungkan serta
dapat menarik investasi yang dapat memberikan nilai tambah;
5 Meningkatnya aksebilitas angkutan udara di daerah terpencil, pulau-pulau kecil dan kawasan
perbatasan Negara.

4.2.3.2 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Terhadap Pengembangan


Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)
Pembangunan sarana dan prasarana transportasi pada destinasi pariwisata diarahkan untuk
mendorong daya tarik daerah tujuan wisata sambil meningkatkan kontribusinya bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat di daerah tujuan wisata. Sejalan dengan Rencana Induk Pembangunan
Pariwisata Nasional (RIPPARNAS), pembangunan destinasi pariwisata nasional untuk 5 (lima)
tahun ke depan diprioritaskan pada pengembangan 16 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
(KSPN) maka pembangunan infrastruktur transportasi akan diarahkan untuk mewujudkan
konektivitas menuju ke kawasan tersebut.

Pengembangan 16 KSPN diharapkan dapat meningkatkan target jumlah wisatawan mancanegara


dari 9 juta orang pada tahun 2014 menjadi 20 juta orang pada tahun 2019 dan jumlah kunjungan
wisatawan nusantara sebesar 250 juta orang pada tahun 2014 menjadi sebesar 275 juta orang
pada tahun 2019. Oleh karenanya, pembangunan infastruktur perhubungan darat didorong untuk
meningkatkan aksesibilitas pada KSPN Danau Toba, KSPN Kota Tua-Sunda Kelapa-Kepulauan
Seribu, KSPN Borobudur, KSPN Bromo-Tengger-Semeru, KSPN Menjangan-Pemuteran, KSPN
Kintamani-Kuta-Sanur-Nusa Dua, KSPN Tanjung Puting, KSPN Rinjani, KSPN Komodo, KSPN
Ende-Kelimutu, KSPN Toraja, KSPN Bunaken, KSPN Wakatobi dan KSPN Raja Ampat melalui
beberapa strategi yaitu :
1 Mempercepat realisasi peningkatan infrastruktur bandar udara & pelabuhan di daerah tujuan
wisata;
2 Mendorong perusahaan penerbangan & perusahaan pelayaran nasional menyediakan
pelayanan dari dan ke destinasi pariwisata ;
3 Meningkatkan kerjasama penerbangan secara bilateral dengan negara sumber pasar
wisatawan, melalui bandara yang telah dibuka untuk ASEAN Open Sky;

IV -16
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

4 Mendorong pengembangan infrastruktur pelabuhan untuk berlabuh kapal pesiar &


menyederhanakan perijinan kunjungan kapal pesiar;
5 Meningkatkan angkutan wisata yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan.

Sedangkan program kegiatan stategis yang akan dilaksanakan Kementerian Perhubungan dalam
rangka pembangunan destinasi pariwisata antara lain :
1 Peningkatan fasilitas Dermaga Simanindo, Dermaga Ajibata, Dermaga Tiga Ras, Dermaga
Muara dan Dermaga Danau Haranggaol untuk mendukung KSPN Toba;
2 Peningkatan fasilitas Dermaga Taman Nasional Tanjung Puting untuk mendukung KSPN
Tanjung Putting;
3 Pangembangan Bandara Matahora, Pelabuhan Wanci, dermaga penyeberangan Tomia untuk
mendukung KSPN Wakatobi;
4 Pengembangan Pelabuhan Labuhan Bajo & Bandara Komodo untuk mendukung KSPN
Komodo;
5 Pengembangan Pelabuhan Maumere, pengembangan Bandara Frans Seda dan Bandara
Ende untuk mendukung KSPN Ende-Kelimutu;
6 Pengembangan fasilitas Pelabuhan di Waisai dan Misool serta pengembangan Bandara
Domine Eduard Osok & Bandara Marinda untuk mendukung KSPN Raja Ampat.

4.2.3.3 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Terhadap Pengembangan


Kawasan Industri
Dalam rangka menciptakan pertumbuhan inklusif dengan memaksimalkan potensi ekonomi untuk
dapat mendorong perbaikan pemerataan dan pengurangan kesenjangan maka pembangunan
dititikberatkan pada pembangunan sektor industri yang pada karya. Pembangunan kawasan
industri harus terintegrasi dengan sistem dan jaringan transportasi khususnya sektor perhubungan
baik transportasi perkeretaapian, darat, laut maupun udara untuk mempermudah distribusi barang
dari industri menuju ke konsumen secara lebih cepat sehingga biaya distribusi barang dapat
ditekan seminimal mungkin.

Dalam rangka mewujudkan pembangunan kawasan industri yang terintegrasi, pembangunan


infrastruktur sub sektor perhubungan darat didorong untuk mewujudkan integrasi dan konektivitas
kawasan industri, diantaranya pada :
1 Pembangunan 14 kawasan industri baru diantaranya (i) BintuniPapua Barat; (ii) Buli
Halmahera TimurMaluku Utara; (iii) BitungSulawesi Utara, (iv) PaluSulawesi Tengah; (v)
MorowaliSulawesi Tengah; (vi) KonaweSulawesi Tenggara; (vii) BantaengSulawesi
Selatan; (viii) BatulicinKalimantan Selatan; (ix) JorongKalimantan Selatan; (x) Ketapang
Kalimantan Barat; (xi) LandakKalimantan Barat, (xii) Kuala Tanjung, Sumatera Utara, (xiii)
Sei MangkeSumatera Utara; dan (xiv) Tanggamus, Lampung;
2 Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), diantaranya KEK Bitung, KEK Tanjung
Lesung, KEK Sei Mangke, KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Tanjung Api-Api, KEK Maloy-
Kalimantan Timur, KEK Morotai dsb;
3 Pembangunan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) di Sabang,
Batam, Bintan, dan Karimun.

4.2.3.4 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Terkait Mitigasi Iklim


Dalam konteks perencanaan dan pembangunan transportasi pada Rencana Stratagis
Kementerian Perhubungan tahun 2015-2019 juga sangat memperhatikan aspek lingkungan,

IV -17
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

khususnya terkait dengan aspek peningkatan emisi gas buang pada kawasan-kawasan perkotaan
dan peningkatan emisi gas rumah kaca akibat meningkatnya pertumbuhan jumlah kendaraan di
Indonesia. Aspek lingkungan pada prinsipnya menjadi bagian penting dalam perencanaan
strategis pembangunan transportasi di Indonesia yang memberikan dampak pada kesehatan,
kenyamanan, serta kualitas hidup masyarakat, sehingga didalam konteks perencanaan
pembangunan transportasi ke depan aspek Eco Building menjadi bagian penting untuk
diwujudkan melalui Rencana Strategis Kementerian Perhubungan.

Dukungan kementerian perhubungan terkait mitigasi iklim dilakukan melalui:


a. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang ramah lingkungan dan tahan
terhadap dampak perubahan iklim/cuaca ekstrim;
b. Pemanfaatan bahan bakar yang berbasis energi baru terbarukan;
c. Penerapan sistem manajemen transportasi yang efektif dan efisien;
d. Mendorong pengguna kendaraan pribadi berpindah ke transportasi umum/ massal.

4.2.3.5 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Terkait Pengarusutamaan


Gender Dan Anak Berkebutuhan Khusus, Serta Perlindungan Dan Pemberdayaan
Perempuan Dan Anak Dalam Konflik Sosial (P3A-KS)
Pengarusutamaan gender merupakan salah satu prinsip pengarusutamaan yang menjadi
landasan operasional pembangunan dengan strategi yang dilakukan secara rasional dan
sistematis untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan nasional. Sesuai
dengan Perpres Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, prinsip pengarusutamaan
gender diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang
pembangunan, di bidang politik termasuk dalam proses pengambilan keputusan di lembaga
eksekutif, legislatif dan yudikatif, dan juga untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan
pengarusutamaan gender yang meliputi penyempurnaan peraturan dan pedoman, peningkatan
kapasitas SDM, penguatan mekanisme koordinasi, penyediaan dan pemutakhiran data terpilah,
pemantauan dan evaluasi. Hal ini juga ditegaskan dalam kebijakan sebelumnya yaitu Inpres
Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang
mengamanahkan kepada seluruh Kementerian/Lembaga untuk mengintegrasikan prinsip
pengarusutamaan gender pada setiap tahapan pembangunan mulai dari perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Hal ini juga merupakan salah satu upaya
untuk mewadahi pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dan
Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan
Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (P3A-KS) yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi
Kementerian Perhubungan.

Penyelenggaraan jasa transportasi merupakan bagian integral dari sendi kehidupan masyarakat,
bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak terpisahkan dari prinsip
pembangunan nasional secara utuh. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melalui standar
pelayanan minimal angkutan secara substansi telah dan mendukung pelaksanaan pembangunan
yang responsif gender dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam.

Aspek kesetaraan gender dan difable priority menjadi bagian penting dalam pembangunan sarana
dan prasarana perhubungan, seperti pada penyediaan ruang khusus untuk wanita, anak, dan
penyandang cacat pada moda transportasi, prioritas untuk naik terlebih dahulu menggunakan

IV -18
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

moda transportasi bagi difable, wanita, dan anak-anak sebagai wujud perlindungan pada wanita,
anak-anak, dan difable. Konteks pengembangan transportasi berbasis gender dan difable priority
menjadi sangat penting, serta memberikan ruang positif terhadap upaya menghargai dan
menanamkan nilai-nilai dalam mewujudkan pembangunan transportasi yang responsif terhadap
gender dan kelompok difable.

Untuk mengakomodir beberapa hal tersebut diatas, dalam konsep pengembangan transportasi
pada Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015-2019 yang
memperhatikan terhadap tata ruang, lingkungan, gender, dan difable membutuhkan skema
koordinasi, perencanaan, sampai dengan implementasi (fisik maupun non fisik) yang saat ini juga
menjadi bagian dari target kinerja pembangunan transportasi. Konsep pengembangan tersebut
secara implisit dan eksplisit juga sudah disusun didalam kerangka pendanaan, dimana sampai
dengan tahun 2019 pembangunan transportasi juga akan memberikan prioritas-prioritas yang
mengarah pada pembangunan infrastruktur perhubungan berbasis tata ruang, lingkungan, gender,
dan kaum difable.

Berdasarkan Undang-undang nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dan
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial serta Peraturan Pemerintah Nomor 18
tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial
(P3A-KS) telah diatur tentang penanganan konflik sosial yang bertujuan antara lain menciptakan
kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, damai dan sejahtera, memelihara keberlangsungan
fungsi pemerintahan, melindungi jiwa, harta benda, sarana dan prasarana umum dan memulihkan
kondisi fisik dan mental masyarakat serta sarana dan prasarana umum, yang disesuaikan dengan
kapasitas dan tugas serta fungsi dari masing-masing Kementerian/Lembaga.

4.2.3.6 Dukungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Terkait Strategi Nasional


Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK)
Mendasari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations
Convention Againts Corruption, 2003(Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003)
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4620), pada tanggal 23 Mei tahun 2012 telah diterbitkan Peraturan
Presiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi Jangka Panjang 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014 (Stranas PPK) yang
merupakan dokumen yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, dan fokus kegiatan prioritas
pencegahan dan pemberantasan korupsi jangka panjang tahun 2012-2025 dan jangka menengah
tahun 2012-2014, serta peranti anti korupsi. K/L dan Pemda diwajibkan menyusun aksi PPK setiap
tahun sebagai penjabaran dan pelaksanaan Stranas PPK yang dituangkan ke dalam Inpres.
Terdapat 6 (enam) strategi pelaksanaan stranas PPK yaitu 1) melaksanakan upaya-upaya
pencegahan; 2) melaksanakan langkah-langkah strategis di bidang penegakan hukum; 3)
melaksanakan upaya-upaya harmonisasi penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang
pemberantasan korupsi dan sektor terkait lain; 4) melaksanakan kerja sama internasional dan
penyelamatan aset hasil tipikor; 5) meningkatkan upaya pendidikan dan budaya anti korupsi; dan
6) meningkatkan koordinasi dalam rangka mekanisme pelaporan pelaksanaan upaya
pemberantasan korupsi.

IV -19
Rencana Lima Tahunan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 2015 - 2019

Tabel 4.3
Kerangka Anggaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2015 2019

2015 2016 2017 2018 2019 TOTAL


TOTAL 6.077.110 10.620.239 13.031.644 13.481.219 14.053.450
RPJMN 5.834.863 10.352.510 12.748.852 13.180.734 13.732.233
1 Manajemen & Peningkatan Keselamatan
Dit. KTD 57.760 316.550 408.410 529.840 687.260
Transportasi Darat

2 Pembangunan & Pengelolaan Prasarana


dan Fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan Dit. LLAJ 1.057.770 2.756.230 3.971.430 3.963.240 4.011.570

3 Pembinaan & Pengembangan Sistem


Dit. BSTP 2.040.863 3.073.700 3.505.100 3.828.161 4.380.320
Transportasi Perkotaan
4 Pembangunan Sarana & Prasarana
Transportasi SDP dan Pengelolaan Dit. LLASDP 2.678.430 4.206.030 4.863.912 4.859.493 4.653.083
Prasarana Lalu Lintas SDP
5 Dukungan Manajemen & Dukungan
Setditjen 242.247 267.729 282.792 300.485 321.217
Teknis Lainnya Ditjen Perhubungan Darat
Keterangan: - Sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015 - 2019

IV -20