Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada era globalisasi, manusia dituntut untuk melakukan berbagai
perubahan. Demikian juga Indonesia, pada saat ini terjadi perubahan besar-
besaran yang disebabkan oleh pengaruh dari luar maupun dalam negeri. Di
jaman yang penuh dengan persaingan ini, makna Pancasila seolah-olah
terlupakan sebagian besar masyarakat Indonesia.
Sedang dalam pengembangan ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk
mencapai kebahagiaan lahir dan batin, bukan semata-mata untuk mengejar
kemajuan material. Tetapi kenyataannya, perkembangan ilmu pengetahuan saat
ini banyak yang melenceng dari dasar-dasar dan nilai-nilai luhur Pancasila.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat ini justru menggerogoti ideologi
Pancasila. Setiap orang berlomba-lomba untuk memperoleh perubahan dan
kemajuan untuk kehidupan yang serba instan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu?
2. Mengapa pancasila diperlukan sebagai dasar nilai pengembangan ilmu?
3. Bagaimanakah sumber historis, sosiologis, politis, tentang pancasila sebagai
dasar nilai pengembangan ilmu di Indonesia?
4. Bagaimanakah dinamika dan tantangan pancasila sebagai dasar nilai
pengembangan ilmu?
5. Bagaimana esensi dan urgensi pancasila sebagai dasar nilai pengembangan
ilmu?

C. Tujuan
1. Mengetahui konsep pancasila sebagai dasarnilai pengembangan ilmu.
2. Mengetahui pancasila diperlukan sebagai dasar nilai pengembangan ilmu.
3. Mengetahui sumber historis, sosiologis, politis tentang pancasila sebagai
dasar nilai pengembangan ilmu di Indonesia.

1
4. Mengetahui dinamika dan tantangan pancasila sebagai dasar nilai
pengembangan ilmu.
5. Mengetahui esensi dan urgensi pancasila sebagai dasar nilai pengembangan
ilmu.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu


1. Konsep Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu
Dalam upaya manusia mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan
harkat dan martabatnya maka manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pengembangan iptek sebagai hasil budaya manusia harus
didasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pancasila yang sila silanya merupakan satu kesatuan yang sistematis
haruslah menjadi sistemetika dalam pengembangan iptek.

2
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu
pengetahuan, mencipta, perimbanagn antara rasional dan irasional, antara
akal , rasa dan kehendak. Sila inimenempatkan manusia di alam semesta bukan
sebagai pusatnya melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang
diolahnya (T. Jacob, 1986)
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, memberikan dasar-
dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan iptek haruslah bersifat
beradab. Iptek bukan untuk kesombongan, kecongkakan dan keserakahan
manusia namun harus diabdikan demi peningkatan harkat dan martabat
manusia.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengkomplementasikan universalia dan
internasionalisme (kemanusiaan) dalam sila-sila yang lain. Pengembangan
iptek hendaknya dapat mengembangkan rasa nasionalisme, kebesaran bangsa
serta keluhuran bangsa sebagai bagian dari umat manusia di dunia.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mendasari pengembangan iptek secara
demokratis. Dalam pengembangan iptek, setiap ilmuwan harus menghormati
dan menghargai kebebasan orang lain dan harus memiliki sikap yang terbuka
artinya terbuka untuk dikritik, dikaji ulang, maupun dibandingkan dengan
penemuan teori lainnya.
Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,
mengkomplementasikan pengembangan iptek haruslah menjaga keseimbangan
keadilan dalam kehidupan kemanusiaan yaitu keseimbangan keadilan dalam
hubungannya dengan dirinya sendiri, manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat bangsa dan negara serta
manusia dengan alam lingkungannya (T. Jacob, 1986).
Kesimpulannya bahwa pada hakikatnya sila sila pancasila harus
merupakan sumber nilai, kerangka pikir serta basis mralitas bagi
pengembangan iptek.
Pengertian pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu dapat
mengacu pada beberapa pemahaman. Pertama, bahwa setiap ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang di kembangkan di Indonesia harus
sesuai dengan nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila (tidak
bertentangan dengan nilai nilai pancasila). Kedua, bahwa setiap ilmu

3
pengetahuan yang dikembangkan di Indonesia harus didasari dengan nilai
nilai pancasila sebagai factor internal pengembangan ilmu pengetahuan itu
sendiri. Ketiga, bahwa nilai nilai Pancasila berperan sebagai rambu
normative bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, artinya dapat
mengendalikan ilmu pengetahuan agar sesuai dengan cara berfikir dan cara
bertindak bangsa Indonesia. Keempat, bahwa setiap pengembangan ilmu harus
berakar dari budaya dan ideology bangsa Indonesia sendiri.
Keempat pengertian tersebut, mengandung konsekuensi yang berbeda
beda. Pengertian pertama mengandung asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu
berkembang secara otonom, kemudian dalam perjalanannya melakukan
adaptasi dengan nilai nilai pancasila.
Pengertian kedua, mengandung asumsi bahwa sejak awal pengembangan
ilmu pengetahuan sudah harus melibatkan nilai nilai pancasila. Namun,
ilmuwan dapat mempertimbangkan keterlibatan nilai nilai pancasila sebatas
yang mereka anggap layak untuk dilibatkan.
Pengertian ketiga, mengasumsikan bahwa ada aturan main yang harus
disepakati oleh para ilmuwan sebelum ilmu itu dikembangkan. Ketika ilmu
pengetahuan terus berkembang, aturan main harus terus mengawal agar tidak
terjadi kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan aturan main.
Pengertiankeempat, mengandaikan bahwa pancasila bukan hanya sebagai
dasar nilai pengembangan ilmu, tetapi sudah menjadi paradigm ilmu yang
berkembang di Indonesia. Diperlukan penjabaran yang lebih rinci dan
pembicaraan di kalangan intelektual Indonesia, sejauh mana nilai nilai
Pancasila selalu menjadi bahan pertimbangan bagi keputusan keputusan
ilmiah yang diambil.
2. Urgensi Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu
Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi
ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan kemudahan untuk memecahkan
berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang dihadapi, tetapidi pihak lain
dapat membunuh, bahkan memusnahkan peradaban umat manusia. Contohnya
ketika bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam perang
dunia kedua. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga jepang, tetapi juga
meninggalkan traumatic yang berkepanjangan pada generasi berikutnya,
bahkan menyentuh nilai kemanusiaan secara universal. Nilai kemanusiaan

4
bukan milik individu atau sekelompok orang atau bangsa semata, tetapi milik
bersama umat manusia.
Pentingnya Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu :
a. Pluralitas nilai yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia
dewasa ini seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
menimbulkan perubahan dalam cara pandang manusia tentang kehidupan.
Butuhrenungan dan refleksi yang mendalam agar bangsa Indonesia
tidakterjerumusdalamkesalahan.
b. Dampak negative yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi terhadap lingkungan hidup berada pada titik nadir yang
membahayakan eksistensi hidup manusia di masa yang akan datang.
Diperlukan tuntunan moral bagi para ilmuwan dalam pengembangan iptek
di Indonesia.
c. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didominasi Negara
Negara barat dengan politik global ikut mengancam nilai nilai khas dalam
kehidupan bangsa Indonesia, seperti spiritualitas, gotong royong, solidaritas,
musyawarah dan cita rasa keadilan. Diperlukan orientasi yang jelas untuk
menyaring dan menangkal pengaruh nilai nilai global yang tidak sesuai
dengan nilai nilai kepribadian bangsa Indonesia.

B. Alasan Diperlukannya Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu

Akhir-akhir ini banyak disoroti segi etis dari penerapan ilmu dan
wujudnya yang paling nyata pada jaman ini adalah teknologi, maka pertanyaan
yang muncul adalah mengapa kita mau mengaitkan soal etika dengan ilmu
pengetahuan?
Tidak dipungkiri lagi bahwa tidak satu pun bangsa di dunia yang terlepas
dari pengaruh pengembangan IPTEK. Pengembangan IPTEK memiliki peran
penting dalam kemajuan serta kemunduran suatu negara. Salah satu alasan
negara tersebut dikatan sebagai negara maju, ialah seberapa canggihnya iptek
dalam suatu negara tersebut. Dan semakin terbelakangnya iptek yang terdapat
di suatu negara, maka negara tersebut dianggap pula sebagai negara
terbelakang. Berbagai fasilitas publik telah tersedia demi menunjang jalan
perekonomian bangsa. Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang ada
diharapkan kita untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa kita.

5
Kemajuan dan perkembangan IPTEK sangat diperlukan dalam upaya
mempertahankan segala kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia serta menjawab
segala tantangan zaman Namun, pengaruh pengembangan iptek juga dapat
menjadi ancaman bagi suatu bangsa itu sendiri dimana ancaman tersebut
terlepas dari nilai nilai kemanuasiaan, spiritualis, kebangsaan, musyawarah,
dan keadilan merupakan gejala yang merambah keseluruh sendi kehidupan
masyarakat indonesia.
Oleh karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus
senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Pancasila. Pancasila merupakan satu
kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka piker serta
asas moralitas bagi pembangunan iptek. Sebagai bangsa yang memiliki
pandangan hidup Pancasila, maka tidak berlebihan apabila pengembangan
iptek harus didasarkan atas paradigma Pancasila. Beberapa alasan Pancasila
sangat diperlukan dalam hal ini adalah sebgai berikut. Pertama, kerusakan
lingkungan yang ditimbulkan akibat kemajuan IPTEK yang apabila dibiarkan
berlarut-larut, maka genersai yang akan datang, menerima resiko kehidupan
yang rawan bencana, seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan oleh
limbah, dan lainnya. Kedua, penggunaan benda-benda teknologi dalam
kehidupan masyarakat indonesia kini telah menggantikan peran nilai-nilai
luhur yang diyakini dapat menciptakan keperibadian manusia Indonesia
memiliki sifat sosial, humanis, dan religius mulai tergerus dan digantikan
dengan sifat individualis, dehumanis, pragmatis, bahkan cenderung sekuler.
Dengan penjabaran sila-sila Pancasila sebgai dasar nilai pengembangan iptek
dapat menjadi sarana pengontrol dan pengendalian kemajuan iptek yang
berpengaruh pada cara berpikir dan bertindak masyarakat yang cenderung
pragmatis. Ketiga, nillai-nilai kearifan lokal yang menjadi simbol kehidupan di
berbagai daerah mulai digantikan dengan gaya hidup global. Seperti: budaya
gotong royong digantikan dengan individualis yang tidak patuh membayar
pajak dan hanya menjadi free rider di negara ini, sikap bersahaja digantikan
dengan gaya hidup bermewah-mewah, konsumerisme, solidaritas sosial
digantikan dengan semangat individualis, musyawarah utuk mufakat
digantikan dengan voting, dan seterusnya.

6
Pancasila akan mengarahkan pengembangan iptek untuk
mencapai kebahagiaan lahir batin, memenuhi kebutuhan material dan spiritual,
mengembangkan iptek dengan mempertimbangkan aspek estetik dan moral,
terikat pada nilai nilai yang belaku di masyarakat, dan mempertimbangkan akal
sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi.

C. Menggali Sumber Historis,Sosiologis, Politis tentang Pancasila sebagai


Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di Indonesia
Pancasila pada umumnya hanya dikenal dengan fungsi umum seperti
sumber dari segala sumber hukum, sebagai pedoman dalam hidup berbangsa
dan bernegara maupun Pancasila sebagai ideologi negara.Dalam kajian lebih
lanjut mengenai fungsi Pancasila, Pancasila mememiliki fungsi yang cukup
penting yakni sebagai dasar nilai pengembangan ilmu yang diharap dapat
mengikuti alur perkembangan yang bersifat universal untuk membentuk
masyarakat yang maju beradab dan berperilaku yang mencerminkan
kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai yang dicita citakan dalam
pancasila.
a. Sumber Historis Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di
Indonesia
Amanat pendiri bangsa yang tertuang dalam Pembukaan Undang
Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.
Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu belum banyak
dibicarakan pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia.Hal ini
dikarenakan para pendiri bangsa yang memiliki intelektual hanya
berfokus pada pembangunan bangsa dan Negara.Para intelektual
merangkap sebagai pejuangbangsa masih disibukkan pada upaya
pembenahan dan penataan negara yang baru saja terbebas dari
penjajahan.

Penjajahan tidak hanya menguras sumber daya alam negara


Indonesia, tetapi juga menjadikan bagian terbesar dari rakyat
Indonesia berada dalam kemiskinan dan kebodohan.Segelintir rakyat
Indonesia yang mengenyam pendidikan di masa penjajahan itulah
yang menjadi pelopor bagi kebangkitan bangsa sehingga ketika

7
negara Indonesia merdeka diproklamirkan, mereka merasa perlu
mencantumkan aspek kesejahteraan dan pendidikan ke dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi
..memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan melindungi segenap tanah tumpah darah Indonesia.
Sila-sila Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 jelas merupakan bagian dari amanat para pendiri
negara untuk mengangkat dan meningkatkan kesejahteraan dan
memajukan kesejahteraan bangsa dalam arti penguatan
perekonomian bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan yang
dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia agar setara
dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pada tahun 1980, Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu


baru mulai dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak
Salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang membicarakan hal
tersebut adalah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada 15
Oktober 1987, Universitas Gadjah Mada. menyelenggarakan seminar
dengan tema Pancasila sebagai Orientasi Pengembangan Ilmu
bekerja sama dengan Harian Kedaulatan Rakyat.
Muncul Tokoh Tokoh yang mengemukakan konsep pancasila sebagai
dasar nilai pengembangan ilmu.
Konsep Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pernah
dikemukakan oleh Prof. Notonagoro, anggota senat Universitas
Gadjah Mada sebagaimana dikutip oleh Prof. Koesnadi
Hardjasoemantri dalam sambutan seminar tersebut, yang menyatakan
bahwa Pancasila merupakan pegangan dan pedoman dalam usaha
ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sebagai asas dan pendirian
hidup, sebagai suatu pangkal sudut pandangan dari subjek ilmu
pengetahuan dan juga menjadi objek ilmu pengetahuan atau hal yang
diselidiki (Koesnadi, 1987: xii).
Daoed Joesoef dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Pancasila,
Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan menyatakan bahwa Pancasila
adalah gagasan vital yang berasal dari kebudayaan Indonesia, artinya

8
nilai-nilai yang benar-benar diramu dari sistem nilai bangsa
Indonesia sendiri. Oleh karena itu, Pancasila memiliki metode
tertentu dalam memandang, memegang kriteria tertentu dalam
menilai sehingga menuntunnya untuk membuat pertimbangan
(judgement) tertentu tentang gejala, ramalan, dan anjuran tertentu
mengenai langkah-langkah praktikal (Joesoef, 1987: 1, 15). Konsep
Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu menurut cara
pandang Daoed Joesoef adalah sebagai tuntunan dan pertimbangan
nilai dalam pengembangan iptek.
Prof. Dr. T. Jacob menegaskan bahwa Pancasila seharusnya dapat
membantu dan digunakan sebagai dasar etika ilmu pengetahuan dan
teknologi di Indonesia. Untuk itu, lima prinsip besar yang terkandung
dalam Pancasila cukup luas dan mendasar untuk mencakup segala
persoalan etik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu (1)
Monoteisme; (2) Humanisme dan solidaritas karya negara; (3).
Nasionalisme dan solidaritas warga negara; (4).Demokrasi dan
perwakilan; (5).Keadilan sosial (Jacob, 1987: 59).
b. Sumber Sosiologis Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di
Indonesia.
Sumber sosiologis Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan
iptek dapat ditemukan pada sikap masyarakat yang sangat
memperhatikan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan sehingga manakala
iptek tidak sejalan dengan nilai ketuhanan dan kemanusiaan, biasanya
terjadi penolakan.
Masyarakat sudah menyadari perannya sebagai makhluk hidup
yang dikaruniai akal dan pertimbangan moral sehingga kepekaan nurani
menjadi sarana untuk bersikap resisten terhadap kemungkinan buruk
yang terjadi di balik pengembangan iptek.Masyarakat terlebih peka
terhadap isu kemanusiaan di balik pembangunan dan pengembangan
iptek karena dampak negatif pengembangan iptek, seperti limbah industri
yang merusak lingkungan, secara langsung mengusik kenyamanan hidup
masyarakat.
c. Sumber Politis Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di
Indonesia.

9
Sumber politis Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu
di Indonesia dapat dirunut ke dalam berbagai kebijakan yang dilakukan
oleh para penyelenggara negara. Dokumen pada masa Orde Lama yang
meletakkan Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan atau orientasi
ilmu, antara lain dapat dilihat dari pidato Soekarno ketika menerima
gelar Doctor Honoris Causa di UGM pada 19 September 1951. Dalam
pidatonya beliau mengemukakan Pancasila sebagai dasar nilai
pengembangan ilmu pada zaman Orde Lama belum secara eksplisit
dikemukakan, tetapi oleh Soekarno dikaitkan langsung dengan dimensi
kemanusiaan dan hubungan antara ilmu dan amal. Selanjutnya, pidato
Soekarno pada Akademi Pembangunan Nasional di Yogyakarta, 18
Maret 1962.Dalam pidatonya kali kedua ini, Soekarno tidak mengaitkan
dengan Pancasila, tetapi lebih mengaitkan dengan karakter, yakni
kepercayaan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pada zaman Orde Baru, Presiden Soeharto menyinggung masalah
Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu ketika memberikan
sambutan pada Kongres Pengetahuan Nasional IV, 18 September 1986 di
Jakarta yang mengemukakan bahwasannya pada zaman Orde Baru,
meskipun Pancasila diterapkan sebagai satu-satunya asas organisasi
politik dan kemasyarakatan, tetapi penegasan tentang Pancasila sebagai
dasar nilai pengembangan ilmu di Indonesia belum diungkapkan secara
tegas. Penekanannya hanya pada iptek harus diabdikan kepada manusia
dan kemanusiaan sehingga dapat memberi jalan bagi peningkatan
martabat manusia dan kemanusiaan.Pada era Reformasi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga ikut menyinggung
kaitan sumber daya alam, iptek, dan budaya atau knowledge based,
Resource based and culture based development untuk mewujudkan
Negara yang maju. Hal ini disampaikan dalam sambutan pada acara
silaturrahim dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan
masyarakat ilmiah, 20 Januari 2010 di Serpong.
Habibie dalam pidato 1 Juni 2011 menegaskan bahwa penjabaran
Pancasila sebagai dasar nilai dalam berbagai kebijakan penyelenggaraan

10
negara merupakan suatu upaya untuk mengaktualisasikan Pancasila
dalam kehidupan (Habibie, 2011: 6).
Berdasarkan pemaparan isi pidato para penyelenggara negara
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sumber politis dari Pancasila
sebagai dasar nilai pengembangan iptek lebih bersifat apologis karena
hanya memberikan dorongan kepada kaum intelektual untuk
menjabarkan nilai-nilai Pancasila lebih lanjut.

D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pancasila sebagai


Ideologi Negara
a. Dinamika Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu belum dibicarakan
secara ekspilit oleh penyelenggara negara sejak Orde Lama sampai
Reformasi. Penyelenggara negara pada umumnya hanya menyinggung
masalah pentingnya keterkaitan antara pengembangan ilmu dan dimensi
kemanusiaan (humanism). Kajian tentang Pancasila sebagai dasar nilai
pengembangan ilmu baru mendapat perhatian yang lebih khusus dan
eksplisit oleh kaum intelektual di beberapa perguruan tinggi, khususnya
Universitas Gadjah Mada yang menyelenggarakan Seminar Nasional tentang
Pancasila sebagai pengembangan ilmu, 1987 dan Simposium dan Sarasehan
Nasional tentang Pancasila sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan dan
Pembangunan Nasional, 2006.
b. Tantangan pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu
Ada beberapa bentuk tantangan terhadap Pancasila sebagai dasar
pengembangan iptek di Indonesia :
Kapitalisme yang menguasai perekonomian dunia, termasuk
Indonesia mengakibatkan ruang bagi penerapan nila-nilai Pancasila
sebagai dasar ilmu menjadi terbatas.
Globalisme yang menyebabkan lemahnya daya saing bangsa
Indonesia dalam pengembangan iptek sehingga Indonesia lebih
berkedudukan sebagai konsumen daripada produsen.
Konsumerisme menyebabkan negara Indonesia menjadi pasar bagi
produk teknologi negara lain yang lebih maju ipteknya. Pancasila
sebagai pengembangan ilmu baru pada taraf wacana yang belum
berada pada tingkat aplikasi kebijakan negara.

11
Pragmatisme yang berorientasi pada tiga ciri, yaitu; workability
(keberhasilan), satisfaction (kepuasan), dan result (hasil) (Titus, dkk.,
1984) mewarnai perilaku kehidupan sebagian besar masyarakat
Indonesia.

E. Esensi dan Urgensi Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu


untuk Masa Depan
Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Pancasila sebagai Dasar Nilai
Pengembangan Ilmu untuk Masa Depan.
1. Esensi Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu
Hakikat Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan iptek dikemukakan
Prof. Wahyudi Sediawan dalam Simposium dan sarasehan Pancasila sebagai
Paradigma Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Bangsa, sebagai berikut:
Sila Pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kesadaran bahwa manusia
hidup di dunia ibarat sedang menempuh ujian dan hasil ujian akan
menentukan kehidupannya yang abadi di akhirat nanti. Salah satu
ujiannya adalah manusia diperintahkan melakukan perbuatan untuk
kebaikan, bukan untuk membuat kerusakan di bumi. Tuntunan sikap
pada kode etik ilmiah dan keinsinyuran, seperti: menjunjung tinggi
keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat; berperilaku
terhormat, bertanggung jawab, etis dan taat aturan untuk meningkatkan
kehormatan, reputasi dan kemanfaatan professional, dan lain-lain, adalah
suatu manifestasi perbuatan untuk kebaikan tersebut. Ilmuwan yang
mengamalkan kompetensi teknik yang dimiliki dengan baik sesuai
dengan tuntunan sikap tersebut berarti menyukuri anugrah Tuhan
(Wahyudi, 2006: 61--62).
Sila Kedua
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memberikan arahan, baik
bersifat universal maupun khas terhadap ilmuwan dan ahli teknik di
Indonesia. Asas kemanusiaan atau humanisme menghendaki agar
perlakuan terhadap manusia harus sesuai dengan kodratnya sebagai
manusia, yaitu memiliki keinginan, seperti kecukupan materi,
bersosialisasi, eksistensinya dihargai, mengeluarkan pendapat, berperan

12
nyata dalam lingkungannya, bekerja sesuai kemampuannya yang
tertinggi (Wahyudi, 2006: 65). Hakikat kodrat manusia yang bersifat
mono-pluralis, sebagaimana dikemukakan Notonagoro, yaitu terdiri atas
jiwa dan raga (susunan kodrat), makhluk individu dan sosial (sifat
kodrat), dan makhluk Tuhan dan otonom (kedudukan kodrat)
memerlukan keseimbangan agar dapat menyempurnakan kualitas
kemanusiaannya.

Sila Ketiga
Persatuan Indonesia memberikan landasan esensial bagi
kelangsungan Negara Kesatauan Republik Indonesia (NKRI).Untuk itu,
ilmuwan dan ahli teknik Indonesia perlu menjunjung tinggi asas
Persatuan Indonesia ini dalam tugas-tugas profesionalnya. Kerja sama
yang sinergisantarindividu dengan kelebihan dan kekurangannya masing-
masing akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi daripada
penjumlahan produktivitas individunya (Wahyudi, 2006: 66). Suatu
pekerjaan atau tugas yang dikerjakan bersama dengan semangat
nasionalisme yang tinggi dapat menghasilkan produktivitas yang lebih
optimal.
Sila Keempat
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan memberikan arahan asa kerakyatan, yang
mengandung arti bahwa pembentukan negara republik Indonesia ini
adalah oleh dan untuk semua rakyat Indonesia. Setiap warga negara
mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara. Demikian
pula halnya dengan ilmuwan dan ahli teknik wajib memberikan
kontribusi sebasar-besarnya sesuai kemampuan untuk kemajuan
negara.Sila keempat ini juga memberi arahan dalam manajemen
keputusan, baik pada tingkat nasional, regional maupun lingkup yang
lebih sempit (Wahtudi, 2006: 68). Manajemen keputusan yang dilandasi
semangat musyawarah akan mendatangkan hasil yang lebih baik karena
dapat melibatkan semua pihak dengan penuh kerelaan.
Sila Kelima
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia memberikan
arahan agar selalu diusahakan tidak terjadinya jurang (gap) kesejahteraan

13
di antara bangsa Indonesia.Ilmuwan dan ahli teknik yang mengelola
industri perlu selalu mengembangkan sistem yang memajukan
perusahaan, sekaligus menjamin kesejahteraan karyawan (Wahyudi,
2006: 69).Selama ini, pengelolaan industri lebih berorientasi pada
pertumbuhan ekonomi, dalam arti keuntungan perusahaan sehingga
cenderung mengabaikan kesejahteraan karyawan dan kelestarian
lingkungan.Situasi timpang ini disebabkan oleh pola kerja yang hanya
mementingkan kemajuan perusahaan.Pada akhirnya, pola tersebut dapat
menjadi pemicu aksi protes yang justru merugikan pihak perusahaan itu
sendiri.
2. Urgensi Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu
Pentingnya Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu, meliputi hal-
hal sebagai berikut:
a. Perkembangan ilmu dan teknologi di Indonesia dewasa ini tidak berakar
pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sendiri sehingga ilmu
pengetahuan yang dikembangkan di Indonesia sepenuhnya berorientasi
pada Barat (western oriented).
b. Perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia lebih berorientasi pada
kebutuhan pasar sehingga prodi-prodi yang laku keras di perguruan
tinggi Indonesia adalah prodi-prodi yang terserap oleh pasar (dunia
industri).
c. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia belum
melibatkan masyarakat luas sehingga hanya menyejahterakan kelompok
elite yang mengembangkan ilmu (scientist oriented).

BAB III

PENUTUP

14
A. Kesimpulan
Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu, artinya kelima sila
Pancasila merupakan pegangan dan pedoman dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Beberapa terminology yang dikemukakan para
pakar untuk menggambarkan peran Pancasila sebagai rujukan bagi
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, antara lain Pancasila sebagai
intellectual bastion (Sofian Effendi); Pancasila sebagai common denominator
values (Muladi); Pancasila sebagai paradigma ilmu.
Pentingnya Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu bagi
mahasiswa adalah untuk memperlihatkan peran Pancasila sebagai rambu-rambu
normatif bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Selain itu,
pengembangan ilmu dan teknologi di Indonesia harus berakar pada budaya
bangsa Indonesia itu sendiri dan melibatkan partisipasi masyarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA

15
Evawany, dkk. 2016. Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :
Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi
dan Pendidikan Tinggi.

http://nuricjdw.blogspot.co.id/2016/11/pancasila-sebagai-dasar-perkembangan.html

http://pls14023-sriwahyuni.blogspot.co.id/2014/12/pancasila-sebagai-dasar-dalam-
ilmu.html

Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.

Munir, dkk. 2015. Pendidikan Pancasila. Malang : Madani Media.

Ubaidillah. 2015. Pancasila Demokrasi dan Pencegahan Korupsi. Jakarta :


Prenadamedia Group.

Winarno. 2012. Paradigma Baru Pendidikan Pancasila. Jakarta : Bumi Medika.

16

Anda mungkin juga menyukai