Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH UTILITAS

BAHAN BAKAR PADAT

Kelas B

Dikerjakan Oleh

Kelompok 2

Hendri Yudisai 121140004

Ganang Pamungkas 121140033

Siti Nuzul Isrizkyah 121140040

UTILITAS

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIOAN VETERAN

YOGYAKARTA

2017
Bahan Bakar Padat

Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi. Biasanya
bahan bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan dimanipulasi. Kebanyakan
bahan bakar digunakan manusia melalui proses pembakaran (reaksi redoks) di mana bahan
bakar tersebut akan melepaskan panas setelah direaksikan dengan oksigen di udara. Proses
lain untuk melepaskan energi dari bahan bakar adalah melalui reaksi eksotermal dan reaksi
nuklir (seperti Fisi nuklir atau Fusi nuklir).

Berdasarkan bentuknya, bahan bakar terbagi menjadi tiga :

1. Bahan bakar cair


2. Bahan Bakar Padat
3. Bahan bakar gas.

Bahan bakar padat merupakan bahan bakar berbentuk padat, dan kebanyakan menjadi
sumber energi panas. Misalnya kayu dan batubara. Energi panas yang dihasilkan bisa
digunakan untuk memanaskan air menjadi uap untuk menggerakkan peralatan dan
menyediakan energi. Bahan balar berbentuk padat sudah digunakan sejak lama untuk
kebutuhan sehari-hari dan industri karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan
dengan bahan bakar jenis lain.

Bahan bakar padat yang digunakan umumnya batubara, meskipun ada beberapa industri
menggunakan kayu seperti genting. Industri kelapa sawit menggunakan tempurung kelapa.
Bahan bakar padat umumnya terjadi karena proses alami selama berjuta-juta tahun yang lalu
dan umumnya mengandung C, H, O, N, S, P dan yang pokok C, H, O, S.

Dibawah ini merupakan contoh dari bahan bakar padat. Diantaranya adalah :

1. Kayu dan sisa tumbuhan: kadar abu rendah, kadar air relatif tinggi (tergantung pada
spesies dan umur pohon, iklim, kondisi penyimpanan).
Kandungan air = W
Nilai kalor (rumus pendekatan):
QL = (4400 - 50W)
Termasuk sisa tanaman: batang tebu, kulit buah, sekam, jerami, dll.
2. Peat, bahan yang terbentuk dari dekomposisi dan disintegrasi tanaman graminae
(seperti tebu, bambu, alang-alang) oleh tekanan air di dalam rawa. Kandungan abunya
tergantung pada lumpur rawa. Bahan bersifat higroskopis. Kandungan airnya
tergantung pada kondisi pengeringan, transportasi dan penyimpanan. Nilai kalor
bawahnya 1700-3000 kkal/kg.
3. Batubara (= Bahan Bakar Fosil)
Berdasarkan asal dan umur geologisnya, digolongkan sebagai berikut:
- lignite,
- bituminous coal,
- anthracite.
3.1. Lignite: terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami karbonisasi atau
perkayaan akan kandungan C di bawah lapisan tanah dalam jangka waktu yang
lama.
Berdasarkan umur geologisnya digolongkan atas:
- pitch lignite: lebih muda daripada lignite,
- lignite.
Kadar N, O, VCM, S dan air tinggi. Lignite bersifat higroskopis, nilai kalor
bawah
sekitar 1500-4500 kkal/kg.
3.2. Bituminous coal: terbentuk pada periode geologi carboniferous dari tumbuh-
tumbuhan yang mengalami karbonisasi. Nilai kalor 7000-8000 kkal/kg.
Kandungan abu dan airnya rendah (5-10%). Kalau kandungan abunya tinggi,
biasanya dipakai pada steam power plant. Batubara yang berwarna hitam tidak
bersifat higroskopis.
3.3. Anthracite: batubara yang terjadi pada umur geologi yang paling tua. Struktur
kompak, berat jenis tinggi, berwarna hitam metalik, kandungan VCM rendah,
kandungan abu dan air rendah, mudah ditepung. Kalau dibakar, hampir
seluruhnya habis terbakar tanpa timbul nyala. Nilai kalor atas 8300 kkal/kg.
Semi-anthracite mempunyai sifat antara bituminous coal dan anthracite.
3.4. Shale, adalah hasil penguraian tumbuh-tumbuhan dan binatang mikroorganisme
di dasar rawa atau danau membentuk bahan seperti lumpur yang disebut
sapropel. Sapropel yang bercampur dengan sedimen mineral membentuk massa
yang kompak yang disebut combustible shale.
Tabel Klasifikasi dan kandungan dalam batu bara

4. Uranium
Uranium merupakan bahan bakar nuklir utama. Sama seperti batu bara, uranium
didapatkan melalui penambangan karena keberadaannya yang terdapat di dalam
tanah. Untuk mendapatkan energi dari uranium, tidak terlepas dari pembakaran.
Namun, harus melalui pemisahan atom. Pemisahan tersebut harus disertai dengan
energi yang tinggi berupa energi panas.
Energi panas yang dihasilkan antara lain dapat digunakan untuk memanaskan air
sehingga akan terbentuk uap. Di PLTN uap tersebut dimanfaatkan sebagai penggerak
turbin yang akan menggerakan generator listrik. Pada pemisahan atom dalam uranium
ini, neutron-neutron dilepaskan dan disertai dengan energi tinggi. Neutron ini akan
membentuk sinar radioaktif.

Kelebihan dan kekurangan dari bahan bakar pada adalah

Kelebihan :

1. Murah
2. Energi atau panas yang dihasilkan besar
3. Distribusi lebih mudah
4. Tidak menimbulkan green house effect pada uranium

Kekurangan :

1. Menimbulkan polusi lebih besar


2. Memerlukan kontrol lebih besar untuk tidak terjadi kecelakaan produksi
3. Bersifat radioaktif dan biaya pembangunan infrastruktur yang mahal pada PLTN.
Cara Produksi bahan bakar padat

1. Destilasi Kerin / Pirolisis


Distilasi kering yaitu satu metoda pembelahan beberapa zat kimia. Dalam sistem
distilasi kering, bahan padat dipanaskan hingga membuahkan beberapa produk
berbentuk cairan atau gas (yang bisa berkondensasi jadi padatan). Beberapa produk
itu disaring, dan ketika yang berbarengan mereka berkondensasi dan dihimpun.
Distilasi kering umumnya memerlukan suhu yang lebih tinggi di banding distilasi
umum. Cara ini bisa dipakai untuk peroleh bahan bakar cair dari batubara dan kayu.
2. Pembakaran langsung dengan udara
roses pembakaran batubara yang umumnya terjadi di dalam boiler pada pembangkit
listrik tenaga uap, dan merupakan reaksi kimia yang dilakukan dengan menambah
oksigen O2 dari udara pembakaran dengan reaksi kimia sebagai berikut.
Proses pembakaran batubara yang umumnya terjadi di dalam boiler pada pembangkit
listrik tenaga uap, dan merupakan reaksi kimia yang dilakukan dengan menambah
oksigen O2 dari udara pembakaran dengan reaksi kimia sebagai berikut.
C + O2 > CO2 + energi panas
Karena di dalam batubara terdapat ikatan-ikatan kimia antara karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen, dan sulfur maka pada proses pembakaran batubara juga akan
timbul reaksi kimia antara ikatan-ikatan kimia tersebut dengan oksigen yang terdapat
di udara yang ditunjukkan pada reaksi kimia beikut.
2H2 + O2 >2H2O
N2 + O2 > NOX
Kegunaan bahan bakar padat di industri

Secara umum, bahan bakar berbentuk padat digunakan untuk memanaskan air untuk
mendapatkan uap air yang kemudian akan digunakan pada proses selanjutnya. Maka, bahan
bakar padat dapat diaplikasikan pada alat boiler dan sebagai salah satu sumber pembangkit
listrik dalam suatu industri.

1. Solid Fuel Boiler

Type boiler ini menggunakan bahan bakar padat seperti kayu, batu bara, dengan
karakteristik seperti harga bahan bakar relatif lebih murah dan lebih efesiensi bila
dibandingkan dengan boiler listrik.
Prinsip Kerja: Pemanasan bersumber dari pembakaran bahan bakar padat atau bisa
juga campuran dari beberapa bahan bakar padat (batu bara dan kayu) yang dibantu
dengan oksigen.
Kelebihan: Bahan bakar mudah untuk didapatkan dan lebih murah.
Kekurangan: Sisa pembakaran sulit untuk dibersihkan,.
2. Bahan bakar pada pembangkit listrik
Untuk menghasilkan energi listrik pada PLTU Batubara, awalnya batu bara
yang ditampung dalam bak penampungan dibawa ke dalam mesin pencacah batubara
melalui conveyor belt untuk dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil/ halus, agar
batubara lebih mudah terbakar pada saat di dalam boiler. Batubara yang telah halus
tadi dibawa ke dalam boiler untuk digunakan sebagai bahan bakar pada proses
pembakaran.
Kembali lagi pada proses pembakaran, pada boiler ini terjadi proses
pemanasan air yang sebelumnya telah dimurnikan agar tidak mudah menimbulkan
korosi (untuk air laut), air tersebut melalui pipa-pipa boiler dan dipanaskan sehingga
akan berubah menjadi uap panas yang bertekanan tinggi. Tetapi karena kadar air pada
uap masih terlalu tinggi, maka kadar air harus dihilangkan terlebih dahulu melalui
superheater sehingga akan berubah menjadi uap kering. Kemudian uap kering ini
dialirkan menuju ke turbin untuk mendorong sudu-sudu turbin sehingga poros turbin
akan berputar. Poros turbin terhubung langsung dengan generator sehingga ketika
turbin berputar maka generator juga akan ikut berputar dan menghasilkan energi
listrik yang akan dikirimkan ke trafo untuk dirubah tegangannya dan kemudian
disalurkan melalui saluran transmisi PLN

Anda mungkin juga menyukai