Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan populasi manusia dan bertambah banyaknya kebutuhan manusia,
mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan. Sumber-sumber pencemaran
dapat berasal dari domestik, industri maupun pertanian. Alam secara alami
mampu mendaur ulang berbagai jenis limbah yang dihasilkan oleh makhluk
hidup, namun bila konsentrasi limbah yang dihasilkan sudah tidak sebanding lagi
dengan laju proses daur ulang maka akan terjadi pencemaran.
Pencemaran air pada dasarnya dapat berasal dar sumber terpusat yang
membawa bahan pencemar dari lokasi-lokasi khusus seperti pabrik-pabrik,
instalansi pengolah limbah dan tanker minyak. Pencemaran air juga disebabkan
oleh sumber tak terpusat yang ditimbulkan jika hujan mengalir melewati lahan
dan menghanyutkan pencemar-pencemar di atasnya seperti pestisi dan pupuk,
kemudian mengendapkannya di dalam danau, telaga, rawa, perairan, pantai dan
air bawah tanah (Mulyanto,2007).
Sistem pemantauan kualitas air dibutuhkan sebagai upaya untuk mencegah,
mengevaluasi dan mengestimasi tingkat dampak pencemaran yang terjadi pada
air. Pemantauan kualitas air dapat dilakukan oleh keanekaragaman yang berada
dalam air dengan sistem biomonitoring kualitas air. Menurut Matthews et al
(1982) biomonitoring kualitas air adalah upaya pemantauan kualitas air secara
biologi yang dilakukan dengan melihat respon biologi organisme bioindikator
yang hidup di dalam air untuk mengontrol dan menilai perubahan kualitas
lingkungan secara berulang.
Bioindikator adalah spesies atau organisme yang memiliki toleransi terhadap
lingkungan yang sangat terbatas, sehingga dengan kehadiran organisme indikator
ini dapat mengasumsikan keadaan suatu lingkungan serta menandakan bahwa
keperluan fisik, kimia, dan nutrisi dapat terpenuhi di lingkungan tersebut
(Rosenberg & Resh, 1993). Salah satu cara pemantauan pencemaran air adalah
dengan menggunakan fauna sebagai bioindikator yaitu makroinvertebrata, ikan,
dan plankton. Penggunaan fauna makroinvertebrata, ikan dan plankton sebagai
bioindikator kualitas air banyak digunakan di perairan Indonesia karena secara
umum fauna makroinvertebrata dapat hampir ditemukan disemua perairan, siklus
hidupnya panjang, dapat menunjukkan bukti mengenai suatu kondisi dalam
rentang waktu yang panjang (Spellman & Drinan 2001).
Berdasarkan latar belakang penjelasan di atas penulis merasa perlu untuk
melakukan studi literatur terkait fungsi spesifik kelebihan dan kelemahan
makroinvetebrata, ikan, dan plankton sebagai bioindikator. Maka dari itu, laporan
ini dibuat untuk menganalisa bioindikator dari studi kasus literatur dalam
pemantauan kualitas lingkungan agar menjadi suatu solusi dalam melaksanakan
upaya pemantauan air secara bioindikator.
BAB II
RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah pada laporan Bioindikator Kualitas Air menggunakan Ikan,


Invertebrata dan Plankton adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan bioindikator?
2. Apa syarat-syarat yang diperlukan agar suatu organisme dapat berperan
sebagai bioindikator kualitas perairan?
3. Apa saja organsbioindikator yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas
suatu perairan?
4. Apa metode yang digunakan untuk menentukan kualitas perairan dengan
menggunakan bioindikator?
5. Bagaimana kualitas perairan apabila ditinjau dari hasil analisis bioindikator
yang digunakan pada masing-masing studi kasus yang ada?
6. Apa saja kekurangan dan kelebihan tiap-tiap bioindikator dalam menentukan
kualitas perairan yang digunakan berdasarkan studi kasus yang ada?
BAB III
METODE DAN PEMBAHASAN

3.1 Invertebrata sebagai Bioindikator


3.1.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian mengenai Identifikasi Invertebrata Makro Sebagai Bioindikator
Kualitas Air Sungai Ranu Pakis dilaksanakan di sungai Ranu Pakis yang berada di
Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang dan identifikasi hewan Invertebrata
makro dilakukan di laboratorium P. Biologi FKIP Universitas Jember. Waktu
penelitian dilakukan musim kemarau pada bulan Mei 2006.

3.1.2 Alat dan Bahan


3.1.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah termometer, mikroskop
binokuler, stopwatch, bola pingpong, meteran, pH meter, keping sechi, jaring
invertebrata makro, botol invertebrata makro, kuas kecil dan besar, pinset,
nampan plastik, kuadrat 25x25 cm2 dan petridisk.
3.1.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70%. Sampel
identifikasi adalah seluruh Invertebrata makro yang ditemukan di Sungai Ranu
Pakis.

3.1.3 Batasan Masalah


Agar permasalahan tidak meluas, maka peneliti membatasi masalah sebagai
berikut :
1) Pengamatan dilakukan selama bulan Mei (musim kemarau)
2) Variabel bebas yang akan diteliti adalah hewan invertebrata makro berdasarkan
jenis dan jumlahnya.
3) Variabel terikat yang diteliti meliputi parameter fisika dan kimia. Parameter
fisika meliputi temperatur air, turbiditas, kecepatan arus, dan warna. Parameter
kimia meliputi pH.
3.1.4 Rancangan Percobaan
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif, untuk mengetahui
kualitas air dengan melihat keanekaragaman Invertebrata makro dengan
menggunakan metode: Belgian Bio-Index (BBI)
a. Koleksi Invertebrata makro yang hidup di lingkungan perairan kemudian
diidentifikasi dan dihitung jumlahnya.
b. Hasil identifikasi dicocokkan dengan tabel batasan praktis untuk menentukan
unit sistematik.
c. Total unit sistematik digunakan untuk menentukan indeks biotik dengan
menggunakan tabel standar determinasi BBI (Tabel 3.1), nama hewan yang
digunakan berpedoman pada jumlah hewan terbanyak yang di temukan
dilokasi.
d. Indeks biotik yang sudah ditentukan kemudian di interpretasikan dengan
menggunakan tabel interpretasi BBI (Tabel 3.2).

3.1.5 Sampel
Penentuan lokasi penelitian menggunakan purposive sampling atau sampel
bertujuan. Sampel dalam penelitian ini adalah invertebrata makro yang terdapat
di sungai Ranu Pakis, dengan daerah penelitian dibagi menjadi enam pos yaitu:
a. Pos I : mewakili daerah yang belum digunakan MCK (Mandi, cuci dan
kakus) dan aktivitas lainnya. Pos mulai dari muara Ranu Pakis, dengan jarak
5 m dari muara danau Ranu Pakis.
b. Pos II : mewakili daerah yang telah digunakan MCK. Pos II terletak 200 m
dari pos I.
c. Pos III : mewakili daerah yang telah digunakan MCK, membuang kotoran
sapi, dan limbah pertanian. Pos III terletak 500 m dari pos I.
d. Pos IV : daerah ini merupakan daerah bergabungnya air sungai Ranu Pakis
dan air sungai Ranu Klakah. Pos IV terletak 1 km dari pos I.
e. Pos V : daerah ini terletak di tengah persawahan, jarak dengan pos I sekitar
2,5 km.
f. Pos VI : daerah ini terletak dekat jalan dan rumah penduduk, jarak dengan
pos I sekitar 5 km.
3.1.6 Prosedur Kerja
3.1.6.1 Pengambilan Sampel Invertebrata Makro
Pengambilan invertebrata makro dilakukan dalam kuadrat 25 x 25 cm2
(Payne, 1986). Peletakan kuadrat dilakukan secara sistematis yaitu dibagian tepi
kiri, tengah dan tepi kanan sungai pada setiap pos dan dilakukan 3 kali dengan
jarak 1 m. Pengambilan invertebrata makro dengan menggunakan jaring,
kemudian diletakkan pada nampan plastik, dipisahkan dari sampah dan diawetkan
dengan cara memasukkan hewan kedalam botol kecil yang telah terisi alkohol
70%.
3.1.6.2 Identifikasi dan Pengukuran Fisiko-Kimia
a. Invertebrata makro yang diambil di tiap pos diidentifikasi dengan menggunakan
kunci identifikasi pada buku Edmundson (1959), Greenberg (Tanpa tahun),
Kastawi (1996) dan Needham and Needham (1962) serta Internet.
b. Uji Kimia: pH.
c. Uji Fisika air meliputi: suhu, kedalaman, kecepatan arus, warna dan kekeruhan.

3.1.7 Analisis Data


3.1.7.1 Analisis Data Invertebrata Makro
Analisis data invertebrata makro menggunakan metode Belgian Bio-Index
dengan melakukan determinasi Indeks Biotik dengan tabel Standar Determinasi
Belgian Bio-Index (BBI) yang di lanjutkan dengan interpretasi hasil determinasi
menggunakan tabel interpretasi BBI (Tabel 3.1 dan Tabel 3.2).
Tabel 3.1 Standar Determinasi Belgian Bio-Indeks (BBI)

Tabel 3.2 Interpretasi Belgian Bio-Indeks (BBI)


3.2 Vertebrata sebagai Bioindikator

3.2.1 Waktu dan Tempat


3.2.1.1 Waktu
Penelitian kajian ikan medaka javanicus oryzias javanicus sebagai
bioindikator pencemaran logam berat timbal (Pb) di perairandilaksanakan pada
bulan Maret Mei 2015.
3.2.1.2 Tempat
Pengambilan sampel dilakukan di muara sungai Jene berang, kota Makassar
Sulawesi Selatan. Sedangkan Pengamatan dilakukan di gedung Pusat Kegiatan
Penelitian dan analisis data dilakukan di Gedung Sains Building, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2.2 Alat dan Bahan
3.2.2.1 Alat Praktikum
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah toples kaca berukuran 10 x
10 x 10 cm, aerator, alat ukur, kamera digital, kotak sampel, cawan petri,
timbangan, sendok tanduk, gunting, instrumen X-RAY dan gill net.
3.2.2.2 Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel ikan Medaka
javanicus oryzias javanicus, larutan timbal Pb dengan konsentrasi 0,01, 0,03, dan
0,05 mg/L, lem kaca, air, pelet, boardmarker, dan tissu gulung.

3.2.3 Cara Kerja


3.2.3.1 Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel
Observasi lokasi dilakukan sebelum pengambilan sampel untuk
mendapatkan gambaran umum tentang kondisi Perairan Muara Sungai Jene
Berang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah melakukan observasi di lokasi
penelitian, maka dilakukan penentuan titik pengambilan sampel.
3.2.3.2 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan menggunakan gill net.
Sampel ikan yang berada di dalam gill net diambil dan dimasukkan kedalam
kantong sampel. Selanjutnya sampel difoto untuk didokumentasikan dan sampel
dibawa ke gedung pusat kegiatan penelitian untuk dilakukan seleksi hewan uji.
Hewaan uji yang telah diperoleh dari lokasi pengambilan sampel selanjutnya di
lakukan seleksi hewan uji berdasarkan ukuran. Hewan uji yang diambil adalah
yang berukuran 2 cm 0,1/0,2.
3.2.3.3 Aklimatisasi
Hewan uji hasil seleksi yang berjumlah 40 ekor, diadaptasikan dengan
keadaan fisik yang ada di laboratorium (lingkungan pengujian) selama 10 hari.
Aklimasi selama minimal 10 hari karena apabila dalam waktu 48 jam lebih dari
3% populasi hewan uji mati, maka populasi hewan uji dianggap tidak memenuhi
syarat untuk pengujian (Johnson, 1980). Sebelum dilakukan proses aklimatisasi
terlebih dahulu dilakukan pengujian kandungan logam berat Pb yang terdapat
pada (air PAM) yaitu air yang digunakan untuk aklimatisasi dengan menggunakan
EDXRF.
3.2.3.4 Rancangan Penelitian
Sebelum dilakukan pengujian serapan logam berat Pb terlebih dahulu
dilakukan penentuan letal dosis LD 50 hewan uji dengan pemberian logam berat
Pb dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 0.5, 0.75, 1 dan 1.25 mg/L.
Selanjutnya dilakukan pengamatan berupa persentase mortalitas pada hewan uji.
Pengujian serapan logam berat Pb dilakukan dengan menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 2 kali pengulangan
sebagai berikut:
A. Tanpa penambahan logam berat Pb 0 mg/L (kontrol).
B. Penambahan konsentrasi logam berat Pb 0,01 mg/L (dibawah ambang
batas).
C. Penambahan konsentrasi logam berat Pb 0,03 mg/L (ambang batas).
D. Penambahan konsentrasi logam berat Pb 0,05 mg/L (diatas ambang
batas).
3.2.3.5 Analisis Kadar Logam Berat Pb pada Hewan Uji
Kadar logam berat Pb pada hewan uji diukur menggunakan alat EDXRF.
Hewan uji terlebuh dahulu dipotong pada bagian pangkal sirip perut, selanjutnya
bagian perut sampai kepala digerus agar sampel menjadi homogen dan
dimasukkan kedalam wadah penyinaran untuk dianalisis dengan EDXRF.
3.2.3.6 Analisis Data Parameter Pengaruh Pb pada Ikan Medaka
Setelah ikan berada dalam aquarium selama 1-10 hari sebagai tahap
aklimatisasi, kemudian diberikan perlakuan dengan penambahan larutan logam
berat Timbal (Pb) dengan dosis 0.01 mg/L, 0.03 mg/L dan 0.05 mg/L selama 17
hari, perubahan perilaku ikan diamati. Parameternya berupa disorientasi gerak
yang ditandai dengan gerakan ikan melemah dan posisi tubuh ikan menjadi
miring, serta abnormalitas yang ditandai dengan adanya perubahan morfologi
pada ikan berupa insang ikan menjadi merah dan sisik ikan terkelupas.

3.3 Plankton sebagai Bioindikator


3.3.1 Waktu dan Tempat
3.3.1.1 Waktu
Penelitian kajian struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air
dilaksanakan pada bulan Februari Mei 2016.
3.3.1.2 Tempat
Pengambilan sampel dilakukan di Waduk Pandandure, Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan uji parameter fisika kimia di BLKM dan kegiatan pengamatan serta
identifikasi di laboratorium Biologi FMIPA UNRAM.

3.3.2 Alat dan Bahan


3.3.2.1 Alat Praktikum
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember volume 10 liter, botol
sampel, plankton net No. 2, mikroskop, kamera, cover dan object glass, buku dan
pulpen serta buku identifikasi.
3.3.2.2 Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air Waduk
Pandandure dan formalin.

3.3.3 Cara Kerja


3.3.3.1 Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel
Lokasi pengambilan sampel di Waduk Pandandure dibagi menjadi lima
stasiun.
Stasiun 1 : Daerah inlet, jauh dari keramba
Stasiun 2 : Tepi kiri, terdapat keramba
Stasiun 3 : Bagian tengah waduk, jauh dari keramba
Stasiun 4 : Tepi kanan, terdapat keramba
Stasiun 5 : Outlet, jauh dari keramba
3.3.3.2 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel diulang sebanyak 3 kali pada setiap stasiun secara
berturutan, dimana setiap stasiun dibagi menjadi tiga titik pengamatan dengan
jarak setiap titik 10 meter. Pemilihan stasiun ini dilakukan berdasarkan
pemanfaatannya, yaitu ada tidaknya keramba
3.3.3.3 Pengujian Sampel
Selain mengambil sampel air, saat di lapangan juga mengukur parameter fisik
perairan seperti pengukuran suhu air, dan parameter kimia berupa pH, untuk
parameter fisik berupa kekeruhan dan parameter kimia seperti DO, COD, BOD,
kandungan nitrat, fosfat dan amonia dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan
Masyarakat Lombok (BLKM) dengan memberikan sampel air sebanyak 1,5 liter
setiap stasiun. Kegiatan pengamatan serta identifikasi di laboratorium Biologi
FMIPA UNRAM.

3.3.3.4 Analisis Data


Komposisi jenis plankton diketahui dengan mencacah jenis plankton yang
ditemukan berdasarkan kelompok jenis.

a. Densitas
N ={(a x 20)x 1000}xc
L
Keterangan :
N = Jumlah total individu (ind/L)
a = Cacah individu plankton yang ditemukan di tiap tetes
c = Volume air yang tersaring
L = Volume air yang disaring dan ditunjukkan dalam liter

b. Dominansi
D=(ni/N)
Keterangan:
D = Indeks dominansi Simpson
ni = Jumlah individu dari masing masing spesies
N = Jumlah total individu

c. Frekuensi Kehadiran (FK)


FK = jumlah plot yang ditempati suatu jenis x 100%
jumlah total plot
Keterangan :
0-25% = kehadiran sangat jarang
25-50% = kehadiran jarang
50-75% = kehadiran sedang
75-100% = kehadiran absolut

d. Indeks Nilai Penting (INP)


INP = KR + DR + FR
Keterangan:
INP = Indeks Nilai Penting (%)
KR = Kerapatan Relatif (%)
DR = Dominansi Relatif (%)
FR = Frekuensi Relatif (%)

e. Keanekaragaman
H` = x ln
Keterangan :
H = Indeks keanekaragaman Shannon-Winner
ni = Banyak individu (spesies)
N = Jumlah total individu
Pi = Kelimpahan proporsional dari jenis ke-i sehingga
Pi = Ni/N
Menurut Shannon dan Wiener dalam Odum (1993:310), kriteria tingkat
keanekaragaman yaitu :
Tabel 3.3. Kriteria tingkat keanekaragaman
Menunjukkan keanekaragaman tinggi dan stabilitas plankton dalam
H>3
kondisi stabil.
1<H<3 Menunjukkan keanekaragaman sedang dan stabilitas plankton dalam
kondisi sedang.
Menunjukkan Keanekaragaman rendah dan stabilitas plankton tidak
H<1
stabil.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Bioindikator untuk menentukan kualitas suatu perairan


Indikator biologis merupakan penampakan utuh dari sifat makhluk hidup yang
bereaksi (respon) secara langsung dan relatif cepat terhadap adanya perubahan
kualitas, kuantitas, dan kondisi ekosistem lahan perairan. Hewan air yang dapat
digunakan sebagai indikator biologis adalah dari jenis hewan air seperti ganggang
(algae), bakteri, protozoa, makroinvertebrata, dan ikan.
4.1.1 Invertebrata Makro Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Ranu
Pakis di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang
Invertebrata makro merupakan spesies ideal yang digunakan sebagai
indikator biologi (bioindikator). Spesies ini lebih banyak digunakan dalam
pemantauan kualitas air karena sifat hidupnya yang relatif menetap untuk jangka
waktu panjang. Salah satu sungai yang ada di Kabupaten Lumajang adalah sungai
Ranu Pakis, terletak di Kecamatan Klakah yang airnya berasal dari danau Ranu
Pakis. Di sungai ini penggunaan keramba dalam aktivitas perikanan marak
dilakukan yang dilakukan oleh warga setempat, sehingga terkadang memicu
penumpukan sisa-sisa makanan dalam keramba dan kotoran ikan yang keluar
setiap hari dapat meningkatkan kadar amonia terlarut dalam air. Jika kadar amonia
berlebihan maka akan berbahaya bagi kehidupan biota air. Oleh karena itu,
penggunaan invertebrata makro mutlak dilakukan untuk mengurangi kadar
amonia di Sungai Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang.
4.1.2 Ikan Medaka Javanicus Oryzias Javanicus Sebagai Bioindikator
Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) Di Perairan.
Salah satu organisme perairan yang memenuhi persyaratan sebagai indikator
biologis adalah ikan medaka. Jenis ikan medaka yang digunakan pada penelitian
ini adalah ikan medaka javanicus Oryzias javanicus karena merupakan ikan
endemik lokal yang banyak ditemukan di Sulawesi Selatan dan ikan ini juga
mudah dibudidayakan. Ikan Medaka javanicus Oryzias Javanicus digunakan
sebagai salah satu bioindikator di muara Sungai Jene Berang, Kota Makassar,
Sulawesi Selatan karena merupakan salah satu indikator biologi yang baik untuk
diterapkan dalam penanggulangan pencemaran logam berat timbal (Pb) yang ada
di muara Sungai Jene Berang.

4.1.3 Komunitas Plankton di Waduk Pandadure, Nusa Tenggara Barat


Pengukuran kualitas perairan dapat dilakukan dengan melihat parameter
fisika, kimia dan biologi. Parameter biologi dapat dilihat dengan melihat
keberadaan kelompok organisme petunjuk (indikator) air yang keberadaannya
berhubungan dengan kondisi lingkungan dan apabila terjadi perubahan kualitas air
akan mempengaruhi keberadaan organisme ini. Bioindikator yang umum
digunakan dalam melihat kualitas perairan adalah plankton. Contohnya adalah
struktur komunitas plankton di Waduk Pandadure, Nusa Tenggara Barat yang
dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan status ekosistem dan kondisi,
kualitas fisik-kimia di Waduk Pandadure.

4.2 Kualitas Perairan Ditinjau dari Bioindikator yang Digunakan


4.2.1 Biomonitoring menggunakan invertebrate
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ditemukan tiga belas jenis
invertebrata makro yang terdapat di sungai Ranu Pakis yang merupakan anggota
filum Mollusca, Arthropoda dan Annelida. Berdasarkan interpretasi BBI diketahui
bahwa kualitas air pada pos I dalam keadaan polusi kritis. Invertebrata makro
yang ditemukan pada pos tersebut adalah anggota Trichoptera dan Mollusca.
Adapun kualitas air pada pos II dalam keadaan polusi sangat berat. Invertebrata
makro yang ditemukan pada pos ini dari anggota Diptera dan Mollusca.
Kondisi pos III adalah polusi dalam keadaan kritis. Invertebrata makro yang
ada di sini adalah anggota Mollusca dan Diptera. Pada pos ini ditemukan paling
banyak jenis invertebrata makro (8 jenis) dari pos-pos yang lain. Pada pos IV
invertebrata makro yang ditemukan terbanyak dari anggota Mollusca. Kondisi
perairan pada pos ini berdasarkan interpretasi BBI adalah polusi berat. Pos V dan
pos VI berdasarkan interpretasi BBI, kualitas airnya pada kondisi polusi berat.
Invertebrata makro yang ditemukan hanya berasal dari Mollusca.
Penyebab perbedaan kondisi antar pos yang digunakan untuk melakukan
sampling karena kondisi disekitar sungai yang berbeda-beda. Pada Pos I dan III
dengan status kondisi polusi kritis dikarenakan sepanjang sungai terdapat MCK
namun jumlahnya tidak sebanyak pada aliran dari pos II menuju ke pos III.
Sedangkan pos II, IV, V dan V memiliki status tercemar berat dikarenakan
sepanjang aliran sungai terdapat MCK dengan jumlah yang cukup banyak, selain
itu terdapat juga sawah. Adanya sawah menyebabkan sisa pestisida masuk ke
sungai. Penyebab lain adalah adanya juga mayarakat yang membuang sampah
rumah tangga ke sungai.
4.2.2 Bioindikator menggunakan Ikan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa Ikan Medaka dapat
bertahan di perairan dengan kondisi tercemar berat. Hal ini ditunjukan dari ikan
tersebut dapat bertahan pada perairan dengan kandungan Pb sebesar 0,05 m/L
(diatas ambang batas). Kandungan logam Pb pada 10 sampel ikan sebesar
95,42%. Tingginya konsentrasi logam Pb dalam jaringan hewan dipengaruhi oleh
kenaikan konsentrasi Pb dalam air dan lamanya organisme tersebut berada dalam
perairan tercemar. Hal ini dikarenakan organisme air tidak mampu meregulasi
logam berat Pb yang masuk ke dalam tubuh.
Pengaruh logam Pb pada ikan Medaka adalah terjadi disorientasi gerak
berupa erakan ikan melemah dan posisi tubuh ikan menjadi miring. Selain itu,
terjadi abnormalitas yang ditandai dengan perubahan morfologi ikan. Perubahan
tersebut berupa insang memerah dan sisiknya terkelupas. Toksisitas logam Pb
terhadap organisme air dapat menyebabkan kerusakan jaringan organisme
terutama pada organ yang peka seperti insang dan usus kemudia ke jaringan
bagian dalam seperti hati dan ginjal.
4.2.3 Bioindikator Plankton
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Waduk Pandandure memiliki 31 jenis
plankton, yang terdiri dari 14 jenis fitoplankton yang masuk dalam 5 divisi yaitu
Cyanobacteria, Dinoflagellata, Chlorophyta, Chromophyta dan Bacillariophyceae
dan 17 jenis zooplankton yang masuk dalam 4 filum yaitu Rotifera, Arthropoda,
Ciliophore, dan Protozoa. Berdasarkan perhitungan Indeks Dominansi diketahui
plankton yang mendominasi adalah jenis Cyanobakteria. Kualitas perairan Waduk
Pandandure berubah karena adanya limbah dari keramba jaring apung, seperti
kotoran ikan dan sisa pakan berupa pelet. Meningkatnya kadar nutrien dalam
perairan ditambah dengan suhu dan cahaya yang sesuai, aliran air yang sangat
lambat, dan adanya faktor pendukung lain menyebabkan terjadinya blooming
Cyanobacteria ini. Keadaan perairan waduk Pandandure yang kaya nutrisi dan
suhu perairan yang hangat menyebabkan terjadinya dominansi dari divisi
Cyanobacteria.
Perairan yang didominasi oleh anggota Cyanobacteria perlu mendapatkan
perhatian secara khusus, karena pada umumnya anggota divisi ini menghasilkan
toksin yang disebut cyanotoksin. Menurut Odum (1993:185), jenis yang dominan
mempunyai produktivitas yang besar dan keberadaan jenis Cyanobacteria pada
lokasi pengamatan menjadi suatu indikator bahwa kelompok ini berada pada
habitat yang sesuai dan mendukung pertumbuhannya. Tingginya INP dari
Cyanobacteria ini menunjukkan kondisi perairan waduk Pandandure yang kurang
baik/kondisi tercemar. Hal ini karena adanya kelompok jenis yang mendominasi.
Suatu perairan dikatakan dalam kondisi baik/tidak tercemar jika tidak memiliki
jenis yang mendominasi sehingga nilai keanekaragaman akan tinggi dan jumlah
densitas fitoplankton dan zooplankton seimbang.

4.3 Kelebihan dan Kekurangan pada Bioindikator


4.3.1 Bioindikator Invertebrata
Indikator biologis merupakan perubahan yang terlihat dari sifat mahluk hidup
yang bereaksi (respons) secara langsung dan relative cepat terhadap adanya
perubahan, kualitas, kuantitas dan kondisi ekosistem atau sistem lingkungan lahan
perairan. Kelebihan menggunakan invertebrata sebagai bioindikator adalah
Invertebrata yang cocok sebagai indikator biologis dan ekologis adalah dari grup
bentik makroinvertebrata, karena adanya faktor preferensi habitatnya dan juga
mobilitasnya yang relatif rendah menyebabkan keberadaannya sangat dipengaruhi
secara langsung oleh semua bahan yang masuk kedalam lingkungan lahan
perairan.Bentik makroinvertebrata sangat mudah untuk diidentifikasi dan diamati
secara mikroskopis, dianalisa, dan diawetkan.
Makroinvertebrata gampang untuk diamati dengan mata telanjang tanpa alat
mikroskop dan jumlahnya cukup banyak di dalam lingkungan lahan perairan
untuk dapat segera kembali diambil contohnya dan diamati serta
makroinvertebrata tidak berpindah tempat secara cepat, kecuali bila terjadi proses
drift sehingga dapat mengakumulasi semua bahan polusi dalam tubuhnya. Oleh
karena itu invertebrata merupakan bahan biologis yang sangat ideal untuk
mengevaluasi sumber polusi di suatu badan air. Makroinvertebrata merupakan
organisme yang peka. Perubahan sedikit saja dalam badan air akan mengubah
populasi makroinvertebrata dengan cepat.
Kebanyakan makroinvertebrata mempunyai siklus hidup singkat (kurang dari
setahun sampai setahun) yang menjadikan makroinvertebrata sebagai bahan studi
yang sangat cocok untuk mengevaluasi kondisi bahan air dalam jangka waktu
yang relatif singkat. Makroinvertebrata mempunyai berbagai macam toleransi
terhadap bahan polusi. Beberapa spesie seperti cacing-cacing air (worms) dan
chironomids mampu hidup hingga dalam batas toleransi yang tinggi, sehingga
dapat pula hidup dalam suatu kondisi air yang sangat beragam, baik dari badan air
yang sangat terpolusi hingga badan air yang bersih.
Kelemahan menggunakan invertebrata sebagai bioindikator adalah bila terjadi
proses drift atau proses dimana keadaan melayang pada beberapa organisme
invertebrata maka dapat mengurangi kemampuan akumulasi polutan, sehingga
pada kondisi tersebut kemungkinan kecil beberapa spesies invertebrata tidak bisa
dijadikan sebagai bioindikator. Sebaran organisme invertebrata yang
mengelompok dan dipengaruhi oleh faktor hidrologi seperti arus dan kondisi
substrat dasar. Jika terjadi perubahan arus secara mendadak maka organisme
invertebrata yang memiliki mobilitas rendah akan ikut berpindah sehingga
mempengaruhi akumulasi polutan pada invertebrata dan kurang cocok untuk
mengevaluasi kondisi air dalam jangka waktu yang relatif lama karena
kebanyakan organisme makroinvertebrata mempunyai siklus hidup kurang dari
setahun.
4.3.2 Bioindikator menggunakan Ikan
Kelebihan dari ikan madaka sebagai bioindikator pencemaran logam berat
timbal (Pb) di perairan Muara Sungai Jene Berang, Kota Makassar, Sulawesi
Selatan adalah ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air
maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi
tertentu.
Ikan dapat diamati dari biokimia, fisiologi, tingkah laku atau tingkat siklus
hidupnya dan sebagai penanda biologis yang sensitif, spesifik, early warning dan
universal yang dapat diaplikasikan di lapangan sebagai alat deteksi dini dalam
monitoring pencemaran Cd, Pb dan Hg di perairan maupun pada ikan, sehingga
dapat ditentukan langkah pengelolaan dan pencegahan pencemaran lingkungan
perairan.
Kelemahan dari ikan madaka sebagai bioindikator pencemaran logam berat
timbal (Pb) di perairan Muara Sungai Jene Berang, Kota Makassar, Sulawesi
Selatan adalah Beberapa jenis ikan merupakan spesies endemik, sehingga tidak
bisa disemua ekosistem dapat digunakanIkan memiliki siklus hidup yang panjang
dan lama.

4.3.3 Bioindikator menggunakan Plankton


Bioindikator yang umum digunakan dalam melihat kualitas perairan
adalah plankton. Kelebihan dari plankton sebagai bioindikator di Waduk
Pandandure yaitu daya adaptasi plankton tinggi sehingga dapat memberikan
respon cepat terhadap perubahan lingkungan, memiliki mobilitas rendah,
pergerakannya kurang lebih bergantung pada arah arus air. Mudah dijumpai dan
jumlahnya melimpah, plankton memilikki laju pertumbuhan yang cepat. Memiliki
daya toleransi yang tinggi.
Bioindikator yang umum digunakan dalam melihat kualitas perairan
adalah plankton. Kelemahan dari plankton sebagai bioindikator di Waduk
Pandandure yaitu plankton hidup mengapung sehingga dipengaruhi oleh arus.
Waktu hidup relatif cepat sehingga tidak dapat menentukan pencemaran dalam
waktu jangka panjang, kompleksitas komunitas fitoplankton menyebabkan
sulitnya evaluasi secara nyata.Tidak dapat menentukan dengan pasti perubahan
dalam tubuh plankton karena kontaminasi bahan asing atau perubahan alami yang
disebabkan alam.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang termuat dalam laporan yang berjudul
Bioindikator Kualitas Perairan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Bioindikator yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas suatu perairan


adalah menggunakan jenis hewan air seperti ganggang (algae), bakteri,
protozoa, makroinvertebrata, dan ikan yang pada studi kasus ini digunakan
spesies Medaka javanicus.
2. Hasil penilaian kualitas perairan berdasarkan studi kasus yang ada dengan
masing-masing bioindikator yang digunakan yaitu:
a. Sungai Ranu Pakis, Lumajang: Ditemukan 13 jenis makro invertebrata
yang terdiri dari anggota filum molusca. arthropoda dan annelida.
Organisme tersebut menggambarkan kualitas perairan di sungai Ranu
Pakis tergolong pada kondisi polusi sangat berat.
b. Muara sungai Jene Berang, Makassar: Ikan medaka yang terdapat di
muara sungai Jene dapat bertahan pada kondisi perairan tercemar berat
logam Pb sampai ambang batas 0,05 mg/l yang menunjukkan ikan tersebut
dapat dijadikan sebagai bioindikator.
c. Waduk Pandandure, NTB: Plankton yang mendominasi di perairan
tersebut adalah jenis cyanobacteria yang menandakan bahwa perairannya
memiliki kualitas yang tercemar karena hanya kelompok tersebut berada
pada kondisi yang sesuai dan mendukung pertumbuhannya serta divisi
tersebut menghasilkan toksin yang disebut cyanitoksin.
3. Kelebihan dan kekurangan tiap-tiap indikator berdasarkan studi kasus yang ada
untuk menentukan kualitas perairan adalah:
a. Kelebihan inventebrata sebagai bioindikator
1. Invertebrata yang cocok sebagai indikator biologis dan ekologis adalah
dari grup bentik makroinvertebrata, karena adanya faktor preferensi
habitatnya dan juga mobilitasnya yang relatif rendah menyebabkan
keberadaannya sangat dipengaruhi secara langsung oleh semua bahan
yang masuk ke dalam lingkungan lahan perairan
2. Bentik makroinvertebrata sangat mudah untuk diidentifikasi dan
diamati secara
mikroskopis, dianalisis, dan diawetkan.
3. Makroinvertebrata gampang untuk diamati dengan mata telanjang
tanpa alat mikroskop dan jumlahnya cukup banyak di dalam
lingkungan lahan perairan untuk dapat segera kembali diambil
contohnya dan diamati
4. Makroinvertebrata tidak berpindah tempat secara cepat, kecuali bila
terjadi proses drift sehingga dapat mengakumulasi semua bahan polusi
dalam tubuhnya.
b. Kekurangan invertebrata sebagai bioindikator
1. Bila terjadi proses drift atau proses saat keadaan melayang pada
beberapa organisme invertebrata maka dapat mengurangi kemampuan
akumulasi polutan. Sehingga pada kondisi tersebut kemungkinan kecil
beberapa spesies invertebrata tidak bisa dijadikan sebagai bioindikator
2. Sebaran organisme invertebrata yang mengelompok dan dipengaruhi
oleh faktor hidrologi seperti arus dan kondisi substrat dasar. Jika
terjadi perubahan arus secara mendadak maka organisme invertebrata
yang memiliki mobilitas rendah akan ikut berpindah sehingga
mempengaruhi akumulasi polutan pada invertebrata
3. Kurang cocok untuk mengevaluasi kondisi air dalam jangka waktu
yang relatif lama karena kebanyakan organisme makroinvertebrata
mempunyai siklus hidup kurang dari setahun.
c. Kelebihan ikan sebagai bioindikator
1. Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun
terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas
konsentrasi tertentu.
2. Ikan dapat diamati dari biokimia, fisiologi, tingkah laku atau tingkat
siklus hidupnya.
3. Sebagai penanda biologis yang sensitif, spesifik, early warning dan
universal yang dapat diaplikasikan di lapangan sebagai alat deteksi
dini dalam monitoring pencemaran Cd, Pb dan Hg di perairan
maupun pada ikan, sehingga dapat ditentukan langkah pengelolaan
dan pencegahan pencemaran lingkungan perairan.
d. Kelemahan ikan sebagai bioindikator
1. Beberapa jenis ikan merupakan spesies endemik, sehingga tidak
semua ekosistem dapat digunakan
2. Ikan memiliki siklus hidup yang panjang dan lama
e. Kelebihan plankton sebagai bioindikator
1. Daya adaptasi tinggi sehingga dapat memberikan respon cepat
terhadap perubahan lingkungan
2. Mobilitas rendah, pergerakannya kurang lebih bergantung pada arah
arus air
3. Mudah dijumpai dan jumlah melimpah
4. Pertumbuhan plankton yang cepat
5. Tidak mati pada kondisi tercemar
f. Kekurangan plankton sebagai bioindikator
1. Plankton: hidup mengapung sehingga dipengaruhi arus
2. Waktu hidup relatif cepat sehingga perubahan waktu dapat
berpengaruh pada hasil
3. Individunya kecil sehingga sulit untuk mengisolasi jumlah yang cukup
spesies yang dikehendaki
4. kompleksitas komunitas fitoplankton menyebabkan sulitnya evaluasi
secara nyata
5. Tidak dapat menentukan dengan yakin perubahan dalam tubuh
plankton (karena kontaminasi bahan asing/perubahan alami yang
disebabkan alam)

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis laporan ini adalah untuk lebih cermat
dalam memilih jurnal sebagai referensi pembuatan laporan dan menentukan
kekurangan dan kelebihan bioindikator yang digunakan untuk menilai kualitas
suatu perairan.
DAFTAR PUSTAKA

Matthews, R.A., A.L. Buikema. J. Cairns., & J.H Rodgers (1982). Biological
Monitoring Part II A. Receivingg System Functional Methods. Relationship
and Indices. Water Research, 16, 129-139.
Mulyanto, H.R. 2007. Ilmu Lingkungan. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Rosenberg, D. M., & V. H. Resh. (1993) Freshwater Biomonitoring and Benthic
Macroinvertebrates. Chapman and Hall. New York. Lomdon
Spellman, F. R., & Drinan, J. E. (2001). Stream Ecology and Self Purification.
Pennsylavannia: Technomic Publishing Company, Inc.
LAMPIRAN
Diskusi
1. Atikah Eria Putri (081511133053)
Makroinvertebrata memiliki kelebihan dan kekurangan, dengan demikian
idealkah makroinvertebrata dijadikan sebagai bioindikator?
2. Dhila Nur M. (081511133035)
- Kekurangan yang dimiliki plankton adalah plankton hidup dipengaruhi
oleh arus. Mengapa disebutkan kekurangan plankton hidup
dipengaruhi arus sedangkan studi kasusnya berada di waduk?
- Apakah di waduk terdapat arus? Jika ada, hal apa yang dapat
mempengaruhi arus di waduk tersebut?
3. Lintang Tubagus R (081511133043)
- Berdasarkan studi kasus, ikan merupakan salah satu bioindikator tetapi
tidak jelas dimana tempatnya dan apa peranan ikan tersebut?
- Ikan memiliki mobilitas yang tinggi, dengan demikian mengapa ikan
dapat dijadikan sebagai bioindikator?
4. Sinta Ayu A. (081511133054)
- Ikan memiliki masa hidup yang panjang, sedangkan bioindikator yang
baik itu memiliki masa hidup yang pendek, lalu mengapa tidak
menggunakan bioindikator lainnya?
- Berdasarkan jurnal, ikan tersebut dikatakan sebagai bioindikator
dengan mobilitas seberapa jauh?
5. Atikah Eria Putri (081511133053)
- Mengapa ikan dijadikan bioindikator sedangkan ikan memiliki
mobilitas yang tinggi dan siklus hidup yang panjang?
- Apakah syarat yang harus dipenuhi agar dapat dikategorikan sebagai
bioindikator yang baik?
6. Rachmadiva Aulia F. (081511133004)
Apakah ikan yang digunakan dapat bertahan hidup diseluruh badan air?
7. Rokhmah Aiyah Hidayat (081311133025)
Menjadi bioindikator pasti memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Apa sajakah syarat yang mutlak harus ada dan apa sajakah syarat yang
dapat ditolerir sebagai syarat bioindikator?
8. Saadah Arum (081511133005)
Dapatkah disimpulkan, dari ke tiga bioindikator yang digunakan, manakah
yang paling efektif untuk digunakan?

Simpulan
a. Untuk menentukan kelebihan dan kekurangan suatu bioindikator harus
memperhatikan dua aspek, yaitu aspek umum dan aspek khusus. Aspek
umum adalah yang dapat diterapkan pada seluruh badan air, peka terhadap
lingkungan, organisme yang digunakan persebarannya sempit dan
menetap. Aspek khusus adalah tergantung pada pencemarannya terhadap
badan air tersebut dan organisme asli yang berasal dari perairan tersebut.
b. Syarat organisme yang dapat digunakan sebagai bioindikator adalah:
1. Memiliki toleransi sempit terhadap perubahan lingkungan
2. Memiliki tingkat akumulasi polutan tanpa membunuh organisme
tersebut.
3. Diutamakan organisme yang berumur panjang
4. Organisme yang memiliki organ tubuh yang lengkap supaya dapat
diidentifikasi dengan jelas.