Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ketersediaan pakan yang cukup, berkualitas, dan berkesinambungan sangat
menentukan keberhasilan budi daya ternak. Biaya yang dikeluarkan untuk bahan pakan
(ransum) pada peternakan unggas adalah biaya terbesar yaitu berkisar 60 70 persen dari
seluruh biaya produksinya. Tinggi atau rendahnya harga bahan baku pakan akan sangat
menentukan tingkat keuntungan yang dapat diperoleh dari usaha tersebut. Untuk memenuhi
kebutuhan ternak akan zat gizi tertentu bahan baku pakan yang berkualitas masih didatangkan
dari luar negeri. Oleh karena itu, penggunaan bahan pakan lokal alternatif perlu diupayakan
secara optimal, dengan catatan bahan baku pakan tersebut ditingkatkan kualitasnya dan
terjamin ketersediaannya sepanjang tahun. Tepung ikan adalah bahan baku pakan yang
menyebabkan mahalnya harga ransum, karena tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam
negeri, sehingga lebih dari setengah, yaitu 200 ribu ton/tahun kebutuhan tepung ikan
Indonesia disuplai dari impor. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan peternak skala
kecil dan menengah perlu bahan pakan alternatif sebagai pengganti tepung ikan ini. Salah
satu bahan pakan alternatif adalah limbah udang (shrimp head waste).
Industri pengolahan udang beku Indonesia berkembang sangat pesat pada beberapa
tahun terakhir ini, sejalan dengan meningkatnya produksi udang. Indonesia termasuk negara
pengekspor udang terbesar di dunia. Data BPS tahun 2004 menunjukkan produksi udang
Indonesia sebesar 240.000 ton dan produksi ini meningkat sebesar 14 % per tahun. Tahun
2005 produksi udang mencapai angka 250.000 ton. Apabila udang segar ini diolah menjadi
udang beku, maka sebesar 35% 70% dari bobot utuh akan menjadi limbah udang,
kualitasnya bervariasi tergantung jenis udang dan proses pengolahannya. Oleh karena itu
dirasa perlu dilakukan pembahasan yang lebih mendalam mengenai kemungkinan
penggunaan tepung limbah udang ini untuk menggantikan tepung ikan dalam ransum broiler.
Hal inilah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini.

PEMBAHASAN
Gambaran Umum Tepung Limbah Udang

Gambar 1. Limbah Pengolahan Udang

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri

maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu

tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis sehingga perlu

mengalami proses pengolahan. Proses pengelolaan limbah merupakan seluruh rangkaian

proses yang dilakukan untuk mengkaji aspek kemanfaatan benda/barang dari sisa sampai

tidak mungkin untuk dimanfaatkan kembali. Salah satu usaha pengolahan limbah adalah

menjadikannya sebagai pakan ternak. Proses pengolahan limbah menjadi pakan ternak dapat

dilakukan secara kering (tanpa fermentasi) yaitu dengan mengeringkannya, baik

menggunakan alat pengering atau maupun dengan sinar matahari. Kemudian dicincang,

selanjutnya dijemur pada sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan cara mudah

dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas. Setelah kering limbah ditumbuk menggunakan

lesung atau alat penumbuk lainnya, kemudian dilakukan pengayakan (Anonima, 2008).

Udang sebagai salah satu komoditi ekspor terbagi atas tiga macam, yaitu (1)

produk yang terdiri dari bagian badan dan kepala secara utuh , (2) badan tanpa kepala

dan (3) dagingnya saja. Pengolahan produksi udang berdasarkan ketiga macam produk
tersebut, menyebabkan terdapat bagian-bagian udang yang terbuang seperti kepala, ekor dan
kulitnya. Bagian tersebut merupakan limbah industri pengolahan udang beku yang disebut

limbah udang (Mudjima,1986 dalam Abun 2009).

Pemanfaatan limbah udang sebagai pakan ternak berdasarkan pada dua hal, yaitu

jumlah dan mutunya. Seiring dengan maraknya ekspor udang beku kebeberapa negara,

seperti Jepang, Taiwan, Amerika Serikat maka limbah yang dihasilkan akan bertambah pula.

Limbah udang tersebut pada umumnya terdiri

dari bagian kepala, kulit ekor dan udang kecil -kecil disamping sedikit daging udang

(Parakkasi, 1983dalam Abun 2009).

Proses Pembuatan Tepung Limbah Udang


Tepung limbah udang (LU) terbuat dari limbah udang sisa hasil pengolahan udang

setelah diambil bagian dagingnya, sehingga yang tersisa adalah bagian kepala, cangkang dan

udang kecil utuh dalam jumlah sedikit. Kualitas dan kandungan nutrien LU sangat tergantung

pada proporsi bagian kepala dan cangkang udang (Djunaidi. dkk, 2009).

Menurut (Mirzah, dkk. 2007) proses pembuatan tepung udang terdiri dari beberapa

tahapan antara lain :

1. Mempersiapkan limbah udang yang dapat diperoleh dari pasar tradisional, industri

pengalengan atau pembekuan udang.

2. Sebelum diolah limbah udang ini dibersihkan dari benda-benda asing yang melekat dan

dicuci dengan air segar.

3. Perendaman dengan larutan filtrat air abu sekam (FAAS) 20 % selama 48 jam.Untuk

memperoleh larutan abu sekam padi 20 % dilakukan dengan melarutkan 200 g abu sekam
padi dalam 1 liter air bersih. Larutan ini dibiarkan selama 24 jam, lalu disaring untuk

memperoleh filtratnya dan siap digunakan.

4. Selanjutnya dipanaskan dengan autoclave selama 45 menit, dan langsung digiling menjadi

bentuk pasta.

5. Dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan EM-4 dengan dosis 20 ml/100 gram substrat
dengan lama fermentasi 11 hari.
6. Kemudian di keringkan dengan cahaya matahari lalu digiling
Penggunaan bahan kimia sebenarnya dapat dihindari dengan menggunakan larutan

filtrat air abu sekam (alkali) yang tidak bersifat polutan. Hasil penelitian Mirzah (2006),

menunjukkan bahwa perendaman limbah udang dalam larutan filtrat air abu sekam (FAAS)

10% selama 48 jam dan dikukus selama 45 menit dapat menurunkan kitin dari 15,2%

menjadi 9,87% dan meningkatkan kecernaan protein kasar dari 50% menjadi 70,50%,

sedangkan kandungan zat-zat makanan lain tidak banyak berubah, yaitu bahan keringnya

86,40%, protein kasar 38,98%, lemak 4,12%, kalsium 14,63%, fosfor 1,75%, dan asam amino

kritis seperti metionin 0,86%, lisin 1,15%, triptopan 0,35%, serta retensi nitrogen 66,13% dan

energy termetabolis 2204, 54 kkal/kg. TLU hasil olahan dengan FAAS 10% tersebut lebih

baik dibandingkan TLU tanpa diolah, yaitu dengan kandungan protein kasar 42, 6%, lemak

5,43%, kitin 15,24%, retensi nitrogen 55,23%, energi termetabolis 1984,87 kkal/kg, dan

kecernaan protein 52,00%, namun kualitas TLU olahan itu perlu dievaluasi secara biologis

melalui pemberian ransum kepada ayam broiler.

Pengolahan limbah udang digunakan filtrat air abu sekam (FAAS) 10%. Filtrat air abu

sekam sebagai larutan untuk perendam dibuat dengan cara sekam padi yang telah diabukan

secara sempurna dilarutkan dalam air bersih. Larutan abu sekam padi 10% diperoleh dengan

melarutkan 100 g abu sekam padi dalam 1 liter air bersih. Larutan ini dibiarkan selama 24

jam, lalu disaring untuk memperoleh filtratnya dan siap digunakan. Setelah direndam

selanjutnya limbah udang dikukus selama 45 menit, dan dikeringkan dengan cahaya matahari

dan akhirnya digiling. Kandungan zat-zat makanan TLU tanpa olahan dan diolah
dibandingkan dengan tepung ikan.

Untuk meningkatkan kualitas dan memaksimalkan pemanfaatan limbah udang

ini, maka sebelum diberikan pada ternak perlu dilakukan pengolahan, yaitu yang dapat

meningkatkan kecernaan dan menurunkan kandungan khitinnya. Penggunaan teknologi

pengolahan pakan yang tepat guna, untuk tujuan meningkatkan kualitas nutrisi limbah udang
sangat diperlukan agar pemanfaatan proteinnya maksimal. Berbagai perlakuan pengolahan

dapat dilakukan antara lain perlakuan fisik, kimia dan biologis serta kombinasinya.
Degradasi komplek senyawa protein-khitin-kalsium karbonat dengan sempurna baru

akan terjadi bila limbah udang diperlakukan dengan enzim yang dihasilkan oleh kapang

melalui proses fermentasi. Salah satu caranya adalah menggunakan jasa kapang dari

mikroorganisme penghasil enzim khitinase. Menurut hasil penelitian Nwanna ( 2003), untuk

pengolahan limbah udang secara fermentasi dapat menggunakan inokulumLactobacillus

sp sebagai fermentor untuk pembuatan silase limbah udang, yaitu dalam waktu 14

hari. Nilai gizinya (protein kasar) cukup tinggi, yaitu 58,96 %. Namun waktu fermentasi

cukup lama, yaitu sampai 14 hari. Waktu pengolahan yang sangat lama ini tidak efektif dan

efisien dalam penyediaan bahan baku pakan unggas. SelainLactobacillus sp, juga dapat

digunakan inokulum EM-4, yaitu bakteri fermentasi yang berisi kultur campuran dari

mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan pruduksi ternak, sebagian besar

terdiri dari genus Lactobacillus sp, bakteri fotosintetik,Actinomycetes sp, Sreptomyces

sp, jamur pengurai selulosa dan ragi yang berfungsi menguraikan selulosa atau khitin pada

limbah udang (Kyusey Nature Farming Societies, 1995; Indriani, 2003).

Pengolahan dengan menggunakan kultur campuran EM-4 dapat meningkatkan


kandungan nilai gizi dan kualitas nutrisi TLU dibandingkan TLU hasil preparasi dengan
FAAS saja. Penggunaan inokulum dengan kultur campuran (EM-4) lebih baik
dibandingkan inokulum dengan mono kultur (Lactobacillus sp). Produk TLU olahan terbaik
diperoleh pada pengolahan dengan menggunakan EM-4 dengan dosis 20 ml/100 gram
substrat dngan lama fermentasi 11 hari.

Kandungan Nutrisi Tepung Limbah Udang


Tepung limbah udang mengandung semua asam amino essensial, juga sebagai
sumber asam amino aromatik seperti fenilalanin dan tirosin yang kandungannya lebih tinggi

daripada tepung ikan, lisin cukup tinggi yaitu 4,58% serta sumber asam amino bersulfur (S)

dengan kandungan metionin sebesar 1,26 % (Purwatiningsih,1990). Perbandingan

kandungan nutrisi antara tepung limbah udang dan tepung ikan terdapat pada tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Antara TLU dan Tepung Ikan.

Nutrien TLU tanpa TLU Tepung


diolah olahan Ikan
Air (%) 8,96 14,60 8,21
Bahan kering (%) 91,04 86,40 91,79
Protein kasar (%) 39,62 39,48 49,81
Lemak (%) 5,43 4,09 4,85
Serat kasar (%) 21,29 18,71 1,78
Abu (%) 30,82 30,94 16,29
Kalsium (%) 15,88 14,63 3,17
Fosfor (%) 1,90 1,75 0,37
Khitin (%) 15,24 9,48 -
Metionina (%) 1,16 0,86 1,58
Lisin (%) 2,02 1,15 3,51
Triptopan (%) 0,53 0,35 0,59
Retensi nitrogen (%) 55,23 66,13 77,20
Energi metabolis (kkal/kg) 1984,87 2204,54 3080,00
Kecernaan protein (in 52,00 70,47 80,62
vitro)
Sumber : Mirzah, 2006.

Berdasarkan tabel 1. Terlihat bahwa kandungan nutrisi yang dimiliki oleh tepung

limbah udang cukup baik meskipun tidak sebaik yang dimiliki oleh tepung ikan. Hal ini

memperlihatkan bahwa potensi tepung limbah udang dapat di rekomendasikan kepada

peternak untuk menggantikan tepung ikan karena selain mudah untuk didapatkan, bahan ini

tentu saja lebih ekonomis dibandingkan bila menggunakan tepung ikan. Terdapat perbedaan

kandungan nutrisi antara tepung limbah udang tanpa diolah dan Tepung limbah udang yang

telah mengalami proses pengolahan.

Hasil penelitian Mirzah (2006), menunjukkan bahwa perendaman limbah udang

dalam larutan filtrat air abu sekam (FAAS) 10% selama 48 jam dan dikukus selama 45 menit

lebih baik dibandingkan TLU tanpa diolah, yaitu dengan kandungan protein kasar 39,62%,

lemak 5,43%, kitin 15,24%, retensi nitrogen 55,23%, energi termetabolis 1984,87 kkal/kg,

dan kecernaan protein 52,00%, namun kualitas TLU olahan itu perlu dievaluasi secara

biologis melalui pemberian ransum kepada ayam broiler.

Bila dihitung secara nominal berdasarkan kandungan protein kasar pada limbah
udang, maka pada tahun 2004 diperoleh limbah udang sebesar 66,3 ribu ton atau setara 88,5
ton protein kasar. Jumlah tersebut merupakan potensi bahan baku pakan sebagai sumber

protein hewani yang sangat besar, namun dibalik beberapa kelebihan yang dimiliki limbah

udang ini memiliki beberapa kekurangan seperti tingginya kandungan serat kasar dan

terdapatnya kandungan zat antinutrisi khitin yang menyebabkan kecernaan terhadap protein

menjadi rendah.

Senyawa Khitin
Tingginya kandungan serat kasar yang berasal dari khitin dan mineral terutama

kalsium, yang berikatan erat dalam bentuk ikatan khitin-protein-kalsium karbonat merupakan

kendala dalam pemanfaatan limbah udang ini. Kandungan protein yang terikat dalam khitin

tersebut bisa mencapai 50-95% dan kalsium karbonatnya sampai 15-30% (Foster dan

Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973). Adanya ikatan khitinprotein- kalsium karbonat

yang kuat akan menurunkan daya cerna protein limbah udang ini, sehingga pemanfaatannya

belum optimal dibanding dengan potensi nilai gizinya.

Khitin berasal dari bahasa Yunani yang berarti jubah atau penutup. Khitin merupakan

polisakarida yang mengandung gula-gula amino yang tersebar pada tanaman tingkat rendah

(jamur) dan invertebrata. Khitin merupakan senyawa biopolimer berantai panjang dan tidak

bercabang. Tiap rantai polimer pada umumnya terdiri dari 2000 hingga 5000 unit monomer

N-asetil-D-Glukosamin (2-acetamido-2-deoksi-D-Glukosa) yang terpaut melalui ikatan

(1,4) glukosa. Unit monomer khitin memiliki rumus molekul C8H12NO5 dengan kadar C

47%, H 6%, N 7% dan O 40% (Foster dan Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973;

Bastaman, 1989).
Khitin adalah polisakarida alamiah yang menyebabkan kerasnya

kulitcrustaceae (udang) dan molusca (kerang) serta dinding sel fungi dan alga tertentu. Pada

kulit udang khitin terdapat dalam bentuk senyawa komplek berikatan bersama protein,

garam-garam anorganik, kalsium karbonat dan lipid serta pigmen-pigmen (Austin, 1988).

Khitin merupakan suatu polisakarida struktural yang mengandung nitrogen dan


bergabung dengan protein dan kalsium sebagai bahan dasar pembentuk ker angka
luar (eksoskeleton) hewan invertebrata seperti udang (Walton dan Blackwell, 1973).
Protein yang terdapat dalam limbah udang sebagian nitrogennya adalah dari nitrogen

khitin, yaitu senyawa N-asetil-D-Glukosamin polisakarida yang berikatan erat dengan

khitin dan kalsium karbonat pada kulitnya. Eratnya ikatan tersebut menyebabkan

daya cernanya menjadi rendah (Parakkasi, 1983; Raharjo, 1985). Tetapi khitin ini

tidak bersifat toksik atau racun (Muzzarelli, 1986).

Menurut Watskin (1982), kandungan Nitrogen pada khitin adalah sebesar

6,80%, sedangkan menurut Walton dan Blackwell (1973) kandungan protein pada

ikatan khitin-protein berkisar antara 50-95% dan kandungan kalsiumnya (CaCO3)

sebanyak 75% dari kulit udang. Selanjutnya dikatakan bahwa pemurnian khitin

dengan asam encer untuk melarutkan protein. Khitin merupakan zat yang sukar larut dan

sangat stabil dalam air, larutan asam encer, basa encer dan pekat, dan alkohol, sehingga

isolasi khitin memerlukan metoda yang khusus. Khitin dapat diuraikan dengan asam

hidrokhlorik pekat, asam sulfat pekat dan asam phosfat 78-97% (Foster dan Webber, 1960).

Struktur khitin dan khitosan sama dengan selulosa, yaitu ikatan yang terjadi antara

monomernya terangkai dengan glukosida pada posisi (1,4). Perbedaannya dengan selulosa

adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon nomor dua pada khitin digantikan oleh

gugus asetamina (-NHCOCH3) sehingga khitin menjadi sebuah polimer berunit N-Asetil-D-

Glukosamin sedangkan pada khitosan digantikan oleh gugus amin (NH2). Khitin dapat

dibedakan berdasarkan susunan rantai N-Asetil- Glukosamin yaitu , , , derajat deasetilasi,

adanya ikatan silang seperti dengan protein dan glukan. Khitin dalam tubuh organisme
terdapat dalam tiga bentuk kristal dan dibedakan atas susunan rantai molekul yang

membangun kristalnya yaitu khitin (rantai antiparalel), khitin (rantai paralel) dan khitin

(rantai campuran) (Foster dan Webber, 1960; Walton dan Blackwell, 1973; Bastaman, 1989).

Khitin memiliki bentuk yang padat dan bersifat tidak larut dalam air atau pelarut

organik biasa. Namun khitin dapat dimodifikasi secara kimiawi menjadi turunan-turunannya
yang mempunyai sifat-sifat khas dan kegunaannya sendiri. Khitin dapat dihidrolisis secara

enzimatis oleh enzim khitinase, menghasilkan monomer -1,4 N-setil-D-glukosamin.


Khitinase dapat dihasilkan oleh beberapa macam bakteri, aktinomisetes, jamur dan
tumbuhan. Meskipun sumber khitin bermacam-macam, namun secara komersial khitin

dieksplorasi dari cangkang udang-udangan dan Crstacea. Sebanyak 50 60 % dari limbah

udang, dihasilkan 25 % Khitin dari 32 % berat kering limbah tersebut (Yurnaliza, 2002).

Protein atau nitrogen yang ada pada limbah udang ini berikatan erat dengan kitin dan

kalsium karbonat dalam bentuk komplek ikatan senyawa protein-kitin-kalsium karbonat,

sehingga bioavailability oleh ternak unggas sangat rendah, di samping itu, ternak unggas

tidak mempunyai enzim kitinase pada saluran pencernaannya. (Mirzah, 2007)

Kandungan khitin yang tinggi menyebabkan limbah udang mempunyai kecernaan

yang rendah yaitu kadar khitin 3 % dalam ransum ayam broiler yang akan menekan konsumsi

ransum dan pertumbuhan . Oleh sebab itu sebelum digunakan sebagai bahan pakan dalam

ransum broiler limbah udang itu harus mendapat penanganan dan pengolahan yang baik

untuk meningkatkan nilai gizinya. Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala,

dan ekornya. Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata)

yaitu sebagai pelindung Isolasi khitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu

tahap pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa (Neely dan Wiliam, 1969).

Penggunaan limbah udang sebagai bahan pakan ternak perlu sentuhan teknologi untuk

meningkatkan nilai gizinya, karena bahan ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu serat

kasar tinggi, dan memiliki kecernaan protein yang rendah karena mengandung zat anti nutrisi

khitin ( Hartadi et al., 1997). Zat ini merupakan suatu polisakarida yang bergabung dengan
protein sebagai bahan dasar pembentuk kulit luar serangga dan crustaceae yang merupakan

faktor pembatas penggunaan limbah kepala udang (Wanasuria, 1990).

Penggunaan Tepung Limbah Udang dalam Ransum Broiler


Pemanfaatan limbah udang sebagai pakan ayam merupakan hal yang mungkin dapat

dipakai, disamping menambah variasi dan persediaan bahan baku ransum yang tidak
bersaingan dengan manusia, mengurangi pencemaran lingkungan juga dapat menekan biaya
ransum, dimana 6070% dari komponen biaya produksi adalah biaya ransum. Ransum
perlakuan terdiri dari 5 macam ransum yang berbeda tingkat pengantian protein tepung ikan

dengan protein TLU olahan, yaitu R0 sebanyak 0 % TLU (ransum kontrol atau tanpa

penggantian tepung ikan ), R1 penggantian 25 % protein tepung ikan dengan protein TLU

olahan, R2 penggantian 50 % protein tepung ikan dengan protein TLU olahan, R3

penggantian 75 % protein tepung ikan dengan TLU olahan, dan R4 penggantian 100 %

protein tepung ikan dengan TLU olahan.

PENUTUP

Kesimpulan
Tepung limbah udang (tepung rese) merupakan pakan tambahan untuk ternak unggas
yang memiliki kandungan protein tinggi dan dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan.
Tepung rese dapat meningkatkan pertambahan berat badan (pbb) bila dilakukan pengolahan
secara baik yaitu dengan menggunakan fermentasi EM4.

Saran
Dalam pengolahan limbah udang (tepung rese) sebaiknya dilakukan perendaman
dan fermentasi untuk meningkatkan daya cerna serta efektivitas dan efisiensi penggunaan
pakan.
DAFTAR PUSTAKA
Abun. 2009. Pengolahan Limbah Udang Windu Secara Kimiawi Dengan NaOH dan H2SO4 Terhadap
Protein dan Mineral Terlarut. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran .Jatinangor.

Anonima. 2008. Limbah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Sumatra Utara. Medan.

Bastaman, S. 1989. Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan from Prawn shell.
The Queens University of Belfast, Belfast

Djunaidi, I. H, T. Yuwanta, Supadmo dan M. Nurcahyanto. Pengaruh Penggunaan Limbah Udang Hasil
Fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap Performan dan Bobot Organ Pencernaan
Broiler. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Foster, A.B. and J.M. Webber. 1960. Advances in Carbohydrate Chemistry. Vol. 15. Academic press.
Inc., New York, London.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Harnentis. 2004. Pengaruh Lama Fermentasi Limbah Udang dengan Effective Microorganism 4 (EM4)
terhadap Kuatitas dan Kualitas Tepung Limbah Udang. Laporan Penelitian. Fakultas
Peternakan Universitas Andalas ,Padang.

Indriani, Y.H. 2003. Membuat Kompos Secara Kilat. Cetk. I, Penebar Swadaya. Jakarta.

Mirzah, Yumaihana dan Filawati. 2006, Pemakaian Tepung Limbah Udang Hasil Olahan Sebagai
Pengganti Tepung Ikan Dalam Ransum Ayam Broiler.Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Padang. Sumatra Barat.

Mirzah. 2007. Penggunaan Tepung Limbah Udang yang Diolah dengan Filtrat Air Abu Sekam dalam
Ransum Ayam Broiler. Media Peternakan, Desember 2007, hlm. 189-197, ISSN 0126-0472,
Vol. 30 No. 3. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Andalas. Padang. Sumatra Barat.
Mahata, M.E. 2007. Perbaikan kualitas gizi limbah udang sebagai pakan unggas melalui hidrolisis
enzim kitosanase dan kitinase dari bacterium Serratia marcescens. Disertasi, Program
Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.

Nwanna, L.C., A.M. Balogun, Y.F. Ajenifuja and V.N. Enujiugha. 2003. Replacement of fish meal
with chemically preserved shrimp head meal in the diets of African catfish, Clarias
gariepinus. J. Food Agri. And Environment 2) 1.

Neely, M.C.H and William, 1969, Chitin and Its Derivates in Industrial, Gums Kelco Company
California. 193 212.

Purwatiningsih. 1990. Isolasi Khitin dan Komposisi Kimia dari Limbah Udang Windu. Tesis
Pascasarjana. ITB. Bandung.

Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Cetakan I. Kanisius, Yogjakarta. Hal : 120 212.
Razdan, A and D. Petterson. 1994. Effect of chitin and chitosan on nutrient digestibility and plasma lipid
concentration in broiler chicken. British Journal of Nutrition 72 : 277-288.

Reddy, V.R., V.R. Reddy and S. Quddratullah. 1996. Squilla: A novel animal protein, Can it be Used as
a Complete Subtitute For Fish in Poultry Ration. Feed International no. 3 vol. 17 : 18 - 20.

Yurnaliza. 2002. Senyawa Khitin dan Kajian Aktivitas Enzim Mikrobial Pendegradasinya. Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Biologi Universitas Sumatera Utara.
Medan.

Wahju, j. 1992. Ilmu nutrisi unggas, edisi ke 3. Gadjah mada university press. Yogyakarta.

Wanasuria, S. 1990 Tepung Kepala Udang dalam Pakan Broiler. Poultry Indonesia.

Winarno, F.G dan D. Fardiaz. 1980. Penangan Teknologi Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.

Diposkan 23rd March 2013 oleh Warta Kusuma