Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bronkitis merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang
menyerang bronkus. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak yang
lingkungannya banyak polutan, misalnya orang tua yang merokok dirumah, asap
kendaraan bermotor, asap hasil pembakaran pada saat masak yang menggunakan
bahan bakar kayu. Di Indonesia masih banyak keluarga yang setiap hari
menghirup polutan ini, kondisi ini menyebabkan angka kejadian penyakit
bronkhitis sangat tinggi . (Marni, 2014).
Pada tahun 2007 di Negara berkembang seperti Indonesia infeksi saluran
pernafasan bawah masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting. Resiko penularan setiap tahun di Indonesia di anggap cukup tinggi. Di
Indonesia yang terinfeksi bronkhitis sekitar 1.6 juta orang. Bronkhitis adalah
suatu peradangan pada bronkus, bronkhiali, dan trakhea (saluran udara ke
paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan
sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun
(misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan usia lanjut,
bronkhitis bisa menjadi masalah serius (Arif, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka sebagai calon perawat harus mengetahui
dan menjelaskan mengenai masalah penyakit bronkitis pada anak guna untuk
memperdalam ilmu pengetahuan mengenai penyakit bronkitis agar dapat menjadi
acuan dan konsep dasar untuk melakukan asuhan keperawatan anak dengan
bronkitis.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk memberi tahu kepada
pembaca khususnya bagi kalangan perawat tentang apa itu bronkitis dan apa
saja asuhan keperawatan anak dengan bronkitis.

1
2. Tujuan khusus
Secara khusus dalam menyusun makalah ini adalah penulis bertujuan untuk
memenuhi tugas dalam mata kuliah Asuhan Keperawatan Anak yang telah
diberikan oleh dosen pembimbing serta mahasiswa dapat mampu :
a. Mengetahui definisi bronkitis
b. Mengetahui etiologi bronkitis
c. Mengetahui manifestasi klinis bronkitis
d. Mengetahui patofisiologi bronkitis
e. Mengetahui pathway bronkitis
f. Mengetahui pemeriksaan penunjang bronkitis
g. Mengetahui penatalaksanaan bronkitis
h. Mengetahui komplikasi bronkitis
i. Mengetahui pengkajian bronkitis
j. Mengetahui diagnosa keperawatan bronkitis
k. Mengetahui intervensi keperawatan bronkitis

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 KONSEP MEDIS
2.1.1 Defenisi
Bronkitis merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang
menyerang bronkus. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak yang
lingkungannya banyak polutan, misalnya orang tua yang merokok dirumah,
asap kendaraan bermotor, asap hasil pembakaran pada saat masak yang
menggunakan bahan bakar kayu. Di Indonesia masih banyak keluarga yang
setiap hari menghirup polutan ini, kondisi ini menyebabkan angka kejadian
penyakit bronkhitis sangat tinggi. (Marni, 2014).
Bronkitis adalah suatu infeksi pernapasan yang menyebabkan inflamasi
yang mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi
sebagai batuk, dan biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu.
(Rahajoe, 2012)
Menurut Sherwood (2014), Bronkitis adalah suatu penyakit peradangan
saluran napas bawah jangka panjang, umumnya dipicu oleh pajanan
berulang ke asap rokok, polutan udara, atau alergen.
Menurut Widagdo (2012), bronkitis ialah inflamasi non spesifik pada
bronkus umumnya (90%) disebabkan oleh virus (adenovirus, influenza,
parainfluenza, RSV, rhinovirus, dan harpes simplex virus) dan 10% oleh
bakteri, dengan batuk sebagai gejala yang paling menonjol.
2.1.2 Klasifikasi
a. Bronkitis akut
Bronkitis akut merupakan infeksi saluran pernapasan akut bawah
ditandai dengan awitan gejala yang mendadak dan berlangsung lebih
singkat. Pada bronkitis jenis ini, inflamasi/peradangan bronkus biasanya
disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dan kondisinya diperparah
oleh pemaparan terhdapa iritan, seperti asap rokok, udara kotot, debu,
asap kimiawi, dll

3
b. Bronkitis kronik
Bronkitis kronik ditandai dengan gejala yang berlangsung lama (3
bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut). Pada bronkitis
kronik peradangan bronkus tetap berlanjut selama beberapa waktu terjadi
obstruksi/hambatan pada aliran udara yang normal di dalam bronkus.
Bronkitis kronis terbagi menjadi 3 jenis, yakni :
1. Bronkitis kronis ringan (simple chronic bronchitis), ditandai
dengan batuk berdahak dan keluhan lain yang ringan
2. Bronkitis kronis mukopurulen (chronic mucupurulent bronchitis),
ditandai dengan batuk berdahak kental, purulen (berwarna
kekuningan)
3. Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas (chronic
bronchitis with obstruction), ditandai dengan batuk berdahak yang
disertai dengan sesak napas berat dan suara mengi.
(Amin, 2015)
2.1.3 Etiologi
Pada anak-anak bronkitis paling sering terjadi karena infeksi virus,
terutama virus penyebab flu dan batuk. Kuman tersebut masuk ke dalam
bronkus kemudian berkembang biak, menyebabkan bronkus mengalami
peradangan, membengkak, dan berlendir. Selain penyebab virus, bronkitis
pada anak juga bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu infeksi bakteri,
alergi, iritasi oleh karena asap rokok, asap kendaraan,dan debu. (Mediskus,
2017)
2.1.4 Manifestasi Klinik
Secara umum bronkitis akut pada anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Batuk-batuk yang dapat berlangsung hingga lima hari atau lebih, hal
ini merupakan sebuah reflek dimana tubuh berusaha mengeluarkan
lendir yang ada dalam bronkus akibat proses peradangan
b. Mengeluarkan dahak yang bening atau bewarna, kuning/hijau
c. Mengalami nyeri dada terutama pada saat batuk

4
d. Dapat disertai demam yang sifatnya ringan, menunjukkan adanya
proses perlawanan daya tahan tubuh terhadap bakteri atau virus
penyebab.
Selain akut, bronkitis pada anak juga dapat bersifat kronis. Berikut ciri-
ciri bronkitis kronis pada anak :
a. Batuk yang disertai keluarnya dahak yang bening atau berwarna
kuning/hijau yang paling sedikit terjadi selama tiga bulan dalam
setahun atau lebih dari dua tahun berturut-turut
b. Mengalami sesak dan kesulitan bernapas akibat penyempitan bronkus
c. Kadang-kadang mengeluarkan suara mengi saat bernafas.
d. Merasa sangat kelelahan
(Mediskus, 2017)
2.1.5 Patofisisologi
Bronchitis terjadi karena Respiratory Syncytial Virus (RSV), virus
Influenza, virus Para Influenza, asap rokok, polusi udara yang terhirup
selama masa inkubasi virus kurang lebih 5 sampai 8 hari. Unsur-unsur iritan
ini menimbulkan inflamasipada precabangan trakeobronkial, yang
menyebabkan peningkatan produksi sekret dan penyempitan atau
penyumbatan jalan napas. Seiring berlanjutnya proses inflamasi perubahan
pada sel-sel yang membentuk dinding traktus respiratorius akan
mengakibatkan resistensi jalan napas yang kecil dan ketidak seimbangan
ventilasi-perfusi yang berat sehingga menimbulkan penurunan oksigenasi
daerah arteri.
Efek tambahan lainnya meliputi inflamasi yang menyebar luas,
penyempitan jalan napas dan penumpukan mucus di dalam jalan
napas.Dinding bronkus mengalami inflamasi dan penebalan akibat
edema serta penumpukan sel-sel inflamasi. Selanjutnya efek
bronkospasme otot polos akan mempersempit lumen bronkus. Pada
awalnya hanya bronkus besar yang terlibat inflamasi ini, tetapi
kemudian semua saluran napas turut terkena. Jalan napas menjadi tersumbat
dan terjadi penutupan, khususnya pada saat ekspirasi. Dengan demikian,

5
udara napas akan terperangkap di bagian distal paru. Pada keadaan ini
akan terjadi hipoventilasi yang menyebabkan ketidakcocokan dan akibatnya
timpul hipoksemia.
Hipoksemia dan hiperkapnia terjadi sekunder karena hipoventilasi.
Resistensi vaskuler paru meningkat ketika vasokonstriksi yang terjadi
karena inflamasi dan konpensasi pada daerah-daerah yang mengalami
hipoventilasi membuat arteri pulmonalis menyempit. Inflamasi alveolus
menyebabkan sesak napas. (Kowalak, 2011)

6
2.1.6 Pathway

Virus influenza, asap rokok, asap kendraan, debu

Terhirup dalam waktu yang lama

Inflamasi tracheobronkial

BRONKITIS

Inflamasi meluas Hipertrofi Kontriksi Ketidakseim Distress Kurangnya


kelenjar mukus berlebihan bangan pernapasan pengetahuan
ventilasi- keluarga
Akumulasi perfusi mengenai
monosit Peningkatan Hiperventila Ketidakma proses
makrofag, sel T jumlas sel goblet si paru mpuan penyakit
Helper, dan Suplai O2 makan dan anaknya
fibrobas minum
Peningkatan Ateletaksis
produksi mukus Metabolisme
anaerob Penyakit
Pelepasan Asupan makin parah
Hipoksemia nutrisi tidak
pirogen eksogen
Dx. Asidosis adekuat
Ketidakefektifa metabolik Dx. Defisiensi
n bersihan jalan Kompensasi
Merangsang sel-sel pengetahuan
napas frekuensi BB
endotel hipotalamus napas Penumpukan
mengeluarkan asam asam laktat
arakhidonat Dx.
Dx. Ketidakseim
Ketidakefektifa Keletihan bangan
Merangsang n pola napas otot nutrisi
pengeluaran kurang dari
prostaglandin kebutuhan
Dx.
Intoleransi tubuh
Merangsang
Mempengaruhi hipofisis aktivitas
kerja termostat meningkatkan
hipotalamus produksi panas
tubuh

Peningkatan Dx. Hipertermi


suhu tubuh

7
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Analisa Gas Darah menunjukkan adanya hipoksia dan hiperkapnia
b. Foto thorax tampak adanya konsolidasi di bidang paru menunjukkan
terjadinya penurunan kapasitas paru
c. Laboratorium Hematrokrit dan Hb meningkat
d. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
1. Tes fungsi paru-paru
2. Gas darah arteri
3. Rontgen dada
4. Pemeriksaan sputum (menunjukkan adanya mikroorganisme
patogen seperti spesies Streptococcus)
(Amin, 2015)
2.1.8 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
1. Antibiotik : Obat ini diperlukan terutama bila bronkitis disebabkan
oleh bakteri. Pemakaian obat antibiotik harus selalu dengan
petunjuk dokter, dan harus diminum sampai habis.
2. Obat batuk : Batuk sebenarnya membantu mengeluarkan penyebab
iritasi dari paru-paru dan saluran udara. Pemberian obat batuk pada
anak sebaiknya hanya untuk membantu meredakannya apabila anak
tidak dapat tidur karena batuk.
3. Obat-obat lain: Pada anak yang menderita alergi, asma, pemakaian
inhaler dan obat lainnya untuk meredakan peradangan dan
penyempitan di saluran udara mungkin diperlukan.
b. Penatalaksanaan Nonmedis
1. Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan
mengeluarakan lender/secret
2. Sering mengubah posisi
3. Banyak minum
4. Inhalasi, nebulizer

8
5. Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan
tenang perlu diberikan minum susu atau makanan lain.Pasien
dengan bronchitis tidak dirawat di Rumahsakit kecuali ada
komplikasi yang menurut dokter perlu perawatan di Rumahsakit,
oleh karenanya perawatan lebih ditujukan sebagai petunjuk kepada
orang tua. Masalah yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk
yang lama dan resiko terjadi komplikasi
6. Diusahakan agar batuk tidak bertambah banyak dengan
memberikan obat secara benar dan membatasi aktivitas anak untuk
mencegah keluar banyak keringat, karena jika baju basah akan
menyebabkan batuk-batuk (karena dingin).
7. Untuk mengurangi batuk pada malam hari berikan obat batuk yang
terakhir sebelum tidur. Anak yang batuk apalagi bronchitis lebih
baik tidak tidur di kamar yang ber AC atau memakai kipas angin.
Jika suhu udara dingin pakaikan baju yang hangat, bila ada yang
tertutup leherya. Obat gosok membuat anak merasa hangat dan
dapat tidur tenang.Bila batuk tidak segera berhenti berikan minum
hangat tidak manis.
8. Pada anak yang sudah agak besar jika ada dahak di dalam
tenggorokannya beritahu supaya dibuang karena adanya dahak
tersebut juga merangsang batuk.
9. Usahakan mengurangi batuk dengan menghindari makanan yang
merangsang seperti gorng-gorengan,permen,atau minum es.Jangan
memandikan anak terlalu pagi atau sore,dan memandikan dengan
air hangat.
10. Untuk menghindarkan terjadinya komplikasi pasien bronchitis
harus mendapatkan pengobatan dan perawatan yang benar sehingga
lender tidak selalu tertinggal dalam paru. Berikan banyak minum
untuk membantu mengencerkan lendir; berikan buah dan makanan
bergizi untuk mempertinggi daya tahan tubuh.

9
11. Pada anak yang sudah mengerti beritahukan bagaimana sikapnya
jika ia sedang batuk dan apa yang perlu dilakukan. Pada bayi
batuk-batuk yang keras sering diakhiri dengan muntah; biasanya
bercampur lendir. Setelah muntah bayi menjadi agak tenang. Tetapi
bila muntah berkelanjutan, maka dengan keluarnya makanan dapat
menyebabkan bayi menjadi kurus serta menurunkan daya tahan
tubuh. Untuk mengurangi kemungkinan tersebut setelah bayi
muntah dan tenang perlu diberikan minum susu atau makanan
lain. (Mediskus, 2017)
2.1.9 Komplikasi
Menurut Marni (2014) komplikasi bronchitis dengan kondisi kesehatan
yang jelek, antara lain :
a. Siniusitis
b. Otitis media
c. Bronkhietasis
d. PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik)
e. Gagal napas

2.2 KONSEP DASAR KEPERAWATAN


2.2.1 Pengkajian
a. Identitas Anak : Nama, umur, alamat, pendidikan, agama, no.
register, diagnose medis
b. Riwayat kesehatan :Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan
genetic, riwayat tentang disfungsi pernapasan sebelumnya, bukti
terbaru penularan terhadap infeksi, allergen, atau iritan lain, trauma.
c. Pemeriksaan Fisik :
1. B1 (Breathing) : adanya retraksi dan pernapasan cuping hidung,
warna kulit dan membrane mukosa pucat dan cyanosis, adanya
suara serak, stridor dan batuk. Pada anak yang menderita
bronchitis biasanya disertai dengan demam ringan, secara
bertahap mengalami peningkatan distress pernapasan, dispnea,

10
batuk non produktif paroksimal, takipnea dengan pernapasan
cuping hidung dan retraksi, emfisema.
Gejala
a) Takipnea (barat saat aktivitas)
b) Batuk menetap dengan sputum terutama pagi hari
c) Warna sputum dapat hijau, putih, atau kuning dan dapat
banyak sekali
d) Riwayat infeksi saluran nafas berulang
e) Riwayat terpajan polusi(rokok dll)
Tanda
1) Lebih memilih posisi fowler/semi fowler untuk bernafas
2) Penggunaan otot bantu nafas
3) Cuping hidung
4) Bunyi nafas krekel(kasar)
5) Perkusi redup(pekak)
6) Kesulitan bicara kalimat(umumnya hanya kata-kata yang
terputus-putus)
7) Warna kulit pucat,normal atau sianosis
8) Clubing finger(jari tabuh)
2. B2 (Blood)
Tanda : Peningkatan TD, Takikardi, Distensi vena jugularis,
Bunyi jantung redup (karena cairan di paru-paru), warna kulit
normal atau sianosis
3. B3 (Brain)
Anak tampak gelisah, peka terhadap rangsang, ketakutan
4. B4 (Bladder)
Tidak ditemukan masalah, tidak ditemukan adanya kelainan.
5. B5 (Bowel)
Gejala :
a) Mual/muntah
b) Nafsu makan menurun

11
c) Ketidakmampuan makan karena distres pernafasan
d) Penurunan berat badan
e) Nyeri abdomen
Tanda :
a) Turgor kulit buruk
b) Edema
c) Berkeringat
d) Palpitasi abdomial dapat menunjukkan hepatomegali
6. B6 (Bone)
Gejala :
a) Keletihan,kelelahan
b) Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas karena sulit
bernafas
c) Ketidakmampuan untuk tidur, perlu dalam posisi duduk tinggi
d) Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau
latihan
Tanda
a) Keletihan
b) Gelisah
c) Insomnia
d. Pemeriksaaan diagnostik
1. Rongent : peningkatan tanda bronkovaskuler
2. Tes fungsi paru : memperkirakan derajad disfungsi paru
3. Volume residu : meningkat
4. GDA : memperkirakan progresi penyakit(Pa02 menurun dan
PaCO2 meningkat atau normal)
5. Bronkogram : pembesaran duktus mukosa
6. Sputum : kultur untuk menentukan adanya infeksi,identifikasi
pathogen
7. EKG : disritmia arterial

12
8. EKG latihan : membantu dalam mengkaji derajad disfungsi paru
untuk program latihan
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
NO. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
Kode diagnosa : 00031
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 2: Cedera fisik
2. Ketidakefektifan pola napas
Kode diagnosa : 00032
Domain4 : Aktivitas/istrahat
Kelas 4 : Respon kardiovaskuler/pulmonal
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Kode diagnosa : 00002
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 1 : Makan
4. Hipertermi
Kode diagnosa : 00007
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 6 : Termoregulasi
5. Intoleransi aktivitas
Kode diagnosa : 00092
Domain 4 : Aktivitas/istrahat
Kelas 4 : Respon kardiovaskular/pulmonal
6. Defisiensi pengetahuan
Kode diagnosa : 00126
Domain 5 : Persepsi/kognisi
Kelas 4 : Kognisi

13
2.2.3 Intervensi Keperawatan

RENCANA KEPERAWATAN
DX. KEPERAWATAN
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1.Penurunan curah jantung NOC NIC perawatan jantung : akut
(00029) 1. Efektivitas pompa jantung perawatan jantung : akut Observasi
Domain IV : 2. Perfusi jaringan : jantung Observasi 1. agar perkembangan irama
aktivitas/istirahat 3. Perfusi jaringan : 1. Memonitor irama jantung dan jantung dan kecepatan
Kelas 4 : respon serebral kecepatan denyut jantung denyut jantung terkontrol
kardiovaskuler /pulmonal 4. Perfusi jaringan : perifer 2. Memonitor penentu 2. agar pengantaran oksigen
5. Perfusi jaringan : pengantaran oksigen ( PaO2, pada jantung terkontrol
Definisi : pulmonal kadar Hb dan curah jantung) 3. Agar dapat diketahui
Ketidakadekuatan darah yang 6. Status tanda vital 3. mengauskultasi denyut jantung apabila terjadi masalah
dipompa oleh jantung untuk 4. memiilih lead EKG yang pada jantung
memenuhi kebutuhan Setelah dilakukan tindakan terbaik dalam rangka untuk 4. Agar mendapatkan hasil
metabolik tubuh. keperawatan dalam waktu memonitor secara terus yang terbaik
...x24 jam diharapkan menerus. 5. Agar dapat mengetahui
Batasan Karakteristik ketidakefektifan bersihan 5. Memonitor keefektifan keefektifan obat pada
1. Perubahan frekuensi/irama jalan napas dapat teratasi pengobatan pasien
jantung dengan kriteria hasil : Tindakan Mandiri Tindakan Mandiri
Bradikardi 1. Tingkat tekanan darah 6. menyediakan makan yang 6. Agar pola makan pasien
Palpitasi jantung sistol pasien normal sedikit- sedikit tapi sering teratur
Perubahan 2. Tingkat tekanan darah 7. merekam EKG 12 lead, 7. Agar kondisi denyut
elektrokardiogram ( diastol passion normal 8. melakukan terapi relaksasi jantung terkontrol
EKG) (mis., aritmia, 3. Denyut jantung apikal dengan tepat 8. Agar pasien merasakan
abnormalitas konduksi, pasien normal 9. mepertahankan lingkungan rileks

14
iskemia) 4. Indeks jantung pasien yang kondusif untuk istirahat 9. Agar pasien merasakan
Takikardia normal dan penyembuhan nyaman
2. Perubahan preload 5. Denyut jantung perifer 10. menghindari pasien terlalu 10. Agar pasien merasakan
Distensi vena jugular pasien normal kepanasan atau kedinginan nyaman
Edema 6. Ukuran jantung pasien HE
Keletihan normal HE 11. Agar ketika terjadi sesuatu
Murmur jantung 7. Distritmia pasien sudah 11. menginstruksikan pasien akan pada pasien bisa diketahui
Peningkatan berat badan teratasi pentingnya melaporkan segera oleh perawat
Peningkatan CVP 8. Suara jantung pasien jika merasakan 12. Agar pasien dan keluarga
Peningkatan PAWP sudah normal ketidaknyamanan dibagian dada bisa melaukan tindakan
Penurunan pulmonary 9. Pasien sudah tidak 12. menginstruksikan pasien dan mandiri dalam mengetahui
artery wedge pressure merasakan kelelahan keluarga tentang tujuan perkembangan perawatan
(PAWP) 10. Pasien sudah tidak perawatan dan bagaimana 13. Agar tidak terjadi
Penurunan tekanan vena mengalami sianosis perkembangan yang bisa diukur komplikasi
sentral (central venous 11. Wajah pasien sudah 13. menginstruksikan pasien untuk Kolaborasi
pressure, CVP) tidak kemerahan menghindari aktivitas yang 14. Agar penyakit yang di
3. Perubahan afterload 12. Denyut nadi radial menyebabkan valsava monuler ( derita dapat di ketahui
Dispnea pasien normal misalnya, mengejan saat buang secara pasti
Kulit lembap 13. Nilai rata rata tekanan air besar) 15. Agar penyakit diderita
Oliguria darah pasien normal cepat teratasi
Pengisian kapiler 14. Hasil angiogram Kolaborasi 16. Agar tidak terjadi
memanjang koroner pasien sudah 14. mendapatkan photo thorax, kesalahan dalam
Peningkatan PVR diteramati 15. menyediakan diet jantung yang memberikan obat
Peningkatan SVR 15. Sudah tidak terjadi tepat ( batasi masukan kafein, 17. Agar dapat diketahui
Penurunan nadi perifer lagi takikardi natrium, kolestrol dan makanan dengan jelas ada atau
Penurunan resistensi 16. Sudah tidak terjadi berlemak tidaknya perubahan pada
vaskular paru (pulmonary lagi bradikardi 16. mengelola obat-obatan untuk segmen ST
vascular resistance,PVR) 17. Pasien sudah tidak membebaskan atau mencegah 18. Agar pasien mendapatkan

15
Penurunan resistensi merasakan sakit kepala nyeri dan iskemia, obat yang terbaik
vaskular sistemik 18. Pasien sudah tidak 17. Memonitor EKG sebagaimana
(systemic vascular mengalami penurunan mestinya , apakah terdapat Perawatan sirkulasi : insufisiensi
resistance,SVR) tingkat kesadaran perubahan segmen ST arteri
Perubahan tekanan darah 19. Sudah tidak 18. mengelola obat yang mencegah Observasi
Perubahan warna kulit terganggu reflex saraf episode valsava monuler ( 19. Agar jumlah cairan
(mis., pucat, abu-abu, pasien laksatif, anti mual ) ditubuh pasien terkontrol
sianosis) 20. Pengisian jari kapiler 20. Agar tingkat kenyamanan
4. Perubahan kontraktilitas pasien normal Perawatan sirkulasi : insufisiensi pasien terkontrol
Batuk 21. Pengisian jari kapiler arteri Tindakan mandiri
Bunyi napas tambahan kaki pasien normal\ Observasi 21. Agar ada pergerakan dari
Bunyi S3 22. Wajah Pasien sudah 19. memonitor jumlah cairan pasien
Bunyi S4 tidak pucat lagi yang masuk dan keluar 22. Agar pasien merasa
Dispnea paroksismal 23. Pasien sudah tidak 20. Memonitor tingkat nyaman
nokturnal mengalami kelelahan pada ketidaknyamanan atau nyeri 23. Agar kekentalan darah
Ortopnea otot saat melakukan olahraga di pasien teratasi
Penurunan fraksi ejeksi 24. Pasien sudah tidak malam hari atau saat 24. Agar pasien tidak
Penurunan indeks jantung merasakan kram otot beristirahat mengalami dekubitus
Penurunan left 25. Pasien sudah tidak Tindakan mandiri 25. Agar system
ventricular stroke work mengalami mati rasa 21 mendukung pasien untuk kardiovaskular pasien
index ( LVSWI ) 26. Pasien sudah tidak melakukan kegiatan terkontrol
Penurunan stroke volume merasakan adanya olahraga walaupun( pasien) HE
indeks ( SVI ) tekanan parsial oksigen tidak suka 26. Agar pasien mengetahui
5. Perilaku/emosi dalam darah arteri 22 memberikan kehangatan ( apa saja faktor faktor yang
Ansietas 27. Pasien sudah tidak misalnya, tambahan pakaian mengganggu sirkulasi
Gelisah merasakan nyeri pada tidur, meningkatkan suhu darah
Faktor yang berhubungan: dada kamar) denagan tepat Kolaborasi
Perubahan afterload 28. Suara napas pada 23 memelihara hidrasi yang 27. Agar agregasi platelet

16
Perubahan frekuensi pleura normal memadai untuk menurunkan pasien teratasi
jantung 29. Pasien sudah tidak kekentaalan darah Perawatan sirkulasi: insufisiensi
Perubahan irama jantung mengalami sesak napas 24 mengubah posisi pasien vena
Perubahan kontraktilitas setiap 2 jam Observasi
Perubahan preload 25 melakukan pemeriksaan 28. Agar ketidaknyamanan
Perubahan volume fisik system kardiovascular dan rasa nyeri pasien
sekuncup atau menilai yang teratasi
kompeherensif pada Tindakan mandiri
sirkulasi perifer ( 29. Agar pasien tidak akan
misalnya,memeriksa denyut merasakan hidrasi dan
nadi perifer, edema, waktu viskositas darah teratasi
pengisian kapiler, warna dan 30. Agar udem dan nadi
suhu) perifer ternilai
HE HE
26. meginstruksikan pasien 31. Agar pasien mengerti
mengenai faktor faktor yang mengenai terapi
mengganggu sirkulasi darah kompresi/penenkanan
( misalnya, merokok, Kolaborasi
pakaian ketat, terlalu lama 32. Agar pasien mendapatkan
didalam suhu dingin, dan obat yang dapat cepat
menyilangkan kaki) reaksinya
Kolaborasi Manajemen syok : jantung
27 memberikan obat Observasi
antiplatelet ( penurun 33. Agar tanda dan gejala
agregasi platelet ) atau penurunan curah jantung
antikoagulan ( pasien terkontrol
pengencer 34. Agar ketidakadekuatan
darah),dengan tepat perfusi arteri koroner

17
Perawatan sirkulasi : insufisiensi (perubahan ST dalam EKG
vena , peningkatan enzim
Observasi jantung, angina) terkontrol
28 memonitor level
ketidaknyamanan atau 35. Agar pemeriksaan fungsi
nyeri pembekuan , termasuk
prothombin time ( PT),
Tindakan mandiri partial thromboplastin time
29 mempertahankan hidrasi (PTT), Fibrinogen,
yang cukup untuk degradasi fibrin/produk
menurunkan viskositas pemecahan, dan nilai
darah platelet terkontrol
30 menilai udem dan nadi 36. Agar indicator hipoksia
perifer jaringan( saturasi darah
HE campuran vena, saturasi
31 menginstruksikan pasien oksigen vena sentral, nilai
mengenai terapi serum laktat, kapnometri
kompresi/penenkanan sublingual) pasien
kolaborasi terkontrol
32 memberikan obat Tindakan mandiri
antiplatelet atau 37. agar tanda dan gejala
antikoagulan dengan penurunan curah jantung
cara yang tepat terkontrol
38. agar preload optimal
dengan pemberian cairan
IV stsu diureticdapat di
pertahankan
39. agar revaskulerisasi

18
Manajemen syok : jantung jantung ( percuneous
Observasi coronary intervention (
33. Memonitor tanda dan PCI) atau coronary artery
gejala penurunan curah bypass graft (CABG)
jantung pasien teratasi
34. Memonitor adanya 40. agar suara napas terhadap
ketidakadekuatan bunyi crakles atau suara
perfusi arteri koroner tambahan lainnya
(perubahan ST dalam terdengar jelas
EKG , peningkatan kolaborasi
enzim jantung, 41. agar oksigen yang
angina),sesuai diberikan sesuai kebutuhan
kebutuhan pasien
35. Memonitor pemeriksaan 42. agar ino tropic
fungsi pembekuan , positif/medikasi untuk
termasuk prothombin kontaktilitas , sesuai
time ( PT), partial dengan kebutuhan pasien
thromboplastin time 43. agar perfusi jaringan yang
(PTT), Fibrinogen, adekuat ( dengan resusitasi
degradasi fibrin/produk cairan dan atau vasopresor
pemecahan, dan nilai untuk mempertahankan
platelet sesuai tekanan rata rata arteri
kebutuhan (MAP) 60 mmHg
36. Memonitor dan Manajemen syok : volume
mengevaluasi indicator Observasi
hipoksia jaringan(
saturasi darah campuran 44. agar tidak ada hilangnya
vena, saturasi oksigen darah secara tiba tiba ,

19
vena sentral, nilai serum dehidrasi berat atau
laktat, kapnometri pendarahan yang terus
sublingual) menerus pada pasien
Tindakan mandiri 45. agar darah pasien normal
37. Mencatat tanda dan 46. agar tingkat sublingual
gejala penurunan curah karbondioksida pasien
jantung terkontrol
38. mempertahankan 47. agar tanda /gejala syok
preload optimal dengan hipovalemi ( misalnya
pemberian cairan IV ,peningkatan haus,
stsu diuretic peningkatan denyut nadi,
39. mempersiapkan pasien peningkatan SVR,
untuk revaskulerisasi penurunan urin output ,
jantung ( percuneous penurunan bising usus,
coronary intervention ( penurunan perfusi perifer,
PCI) atau coronary gangguan status mental,
artery bypass graft atau gangguan respirasi)
(CABG) terkontrol
40. mengauskultasi suara 48. agar nilai
napas terhadap bunyi hemoglobin/hematokrit
crakles atau suara pasien terkontrol
tambahan lainnya Tindakan mandiri
Kolaborasi 49. agar semua sekresi yang
41. memberikan oksigen terdapat pada darah nyata
,sesuai kebutuhan atau bekuan darah teratasi
42. memberikan ino tropic 50. agar hilangnya volume
positif/medikasi untuk darah ( misalnya , berikan
kontaktilitas , sesuai tekanan pada tempat

20
kebutuhan pendarahan) pada pasien
43. meningkatkan perfusi teratasi
jaringan yang adekuat ( 51. agar posisi pasien untuk
dengan resusitasi cairan mendapatkan perfusi
dan atau vasopresor optimal
untuk mempertahankan 52. agar mendapatkan insersi
tekanan rata rata arteri dan pertahanan akses IV
(MAP) 60 mmHg. yang benar
53. agar proses pengambilan
Manajemen syok : volume gas darah arteri dan
Observasi oksigenasi jaringan
44. Memonitor hilangnya terkontrol
darah secara tiba tiba , Kolaborasi
dehidrasi berat atau 54. agar data lab ( misalnya,
pendarahan yang terus serum laktat
menerus ,keseimbangan asam basa,
45. Memonitor turunya profil metabolic,dan
darah sistolik kurang elektrolit) pasien terkontrol
dari 90 mmHg ataau 55. agar pemberian cairan IV
turun 30 mmHg pada seperti kristalod isotonic
pasien hipertensi atau koloid pada pasien
46. Memonitor tingkat terkontrol
sublingual 56. agar pemberian cairan IV
karbondioksida yang dihangatkan dan
47. Memonitor tanda /gejala produk produk darah yang
syok hipovalemi ( dihangatkan ,sesuai
misalnya ,peningkatan indikasi
haus, peningkatan 57. agar pemberian oksigen

21
denyut nadi, dan/atau ventilasi mekanik
peningkatan SVR, terkontrol
penurunan urin output , 58. agar data lab koagulasi,
penurunan bising usus, meliputi prothombin time (
penurunan perfusi PT), partial thromboplastin
perifer, gangguan status time (PTT), Fibrinogen ,
mental, atau gangguan fibrin,degradation/split
respirasi) products, and
48. Memonitor nilai penghitungan platelet
hemoglobin/hematokrit terkontrol
Tindakan mandiri
49. Mencek semua sekresi
yang terdapat darah Monitor tanda tanda vital
nyata atau bekuan darah Observasi
50. Mencegah hilangnya 59. agar tekanan darah, nadi,
volume darah ( suhu,dan status pernapasan
misalnya , berikan pasien terkontrol
tekanan pada tempat 60. agar tekanan darah saat
pendarahan) pasien berbaring duduk
51. Memposisikan pasien dan berdiri sebelum dan
untuk mendapatkan perubahan posisi pasien
perfusi optimal terkontrol
52. Menginsersikan dan 61. agar tekanan darah setelah
mempertahan akses IV setelah pasien minum obat
yang benar normal
53. Mengambil gas darah 62. agar irama dan tekanan
arteri dan memonitor jantung normal
oksigenasi jaringan 63. agar tanda dan gejala

22
Kolaborasi hipotarmia dan hipertermia
54. Memonitor data lab ( pasien terkontrol
misalnya, serum laktat 64. agar kuku tidak mengalami
,keseimbangan asam kelainan
basa, profil Tindakan mandiri
metabolic,dan 65. Agar gaya dan fluktuasi
elektrolit). yang luas pada tekanan
55. Memberikan cairan IV darah pasien terkontrol
seperti kristalod isotonic 66. agar tekanan darah di
atau koloid kedua lengan terdengar
56. Memberikan cairan IV jelas
yang dihangatkan dan 67. agar penyebab perubahan
produk produk darah tanda tanda vital pasien
yang dihangatkan teridektifikasi
,sesuai indikasi 68. agar proses pemeriksaan
57. Memberikan oksigen secara berkala keakuratan
dan/atau ventilasi instrument yang digunakan
mekanik, untuk perolehan data
58. Memonitor data lab pasien terkontrol
koagulasi, meliputi
prothombin time ( PT),
partial thromboplastin
time (PTT), Fibrinogen ,
fibrin,degradation/split
products, and hitung
platelet

23
Monitor tanda tanda vital
Observasi
59. Memonitor tekanan
darah, nadi, suhu,dan
status pernapasan
dengan tepat
60. Memonitor tekanan
darah saat pasien
berbaring duduk dan
berdiri sebelum dan
setelah perubahan posisi
61. Memonitor tekanan
darah setelah setelah
pasien minum obat
62. Memonitor irama dan
tekanan jantung
63. Memonitor dan
melaporkan tanda dan
gejala hipotarmia dan
hipertermia
64. Memonitor akan adanya
kuku ( dengan bentuk)
clubbing
Tindakan mandiri
65. mencatat gaya dan
fluktuasi yang luas pada
tekanan darah
66. mengauskultasi tekanan

24
darah di kedua lengan
dan bandingkan
67. mengidentifikasi
penyebab perubahan
tanda tanda vital
68. memeriksa secara
berkala keakuratan
instrument yang
digunakan untuk
perolehan data pasien

2.Ketidakfektifan pola NOC NIC


napas (00032) 1. Respiratory status : Observasi
Domain 4 : aktivitas/istrahat ventilation 1. Monitor tanda-tanda vital anak 1. Untuk mengetahui perubahan
Kelas 4 : respon 2. Respiratory status : (TD, nadi, suhu,, dan RR) tanda-tanda vital anak
kardiovaskular/pulmonal airway patency 2. Monitor kecepatan, irama, 2. Untuk mengetahui gangguan
3. Vital sign status kedalaman, dan kesulitan tingkat kecepatan, irama,
Defenisi : bernapas ataupun kedalaman dari
Inspirasi dan/atau ekspirasi Setelah dilakukan tindakan kesulitan bernapas anak
yang tidak memberi ventilasi keperawatan dalam waktu Mandiri
yang adekuat. ...x24 jam diharapkan anak 3. Ajarkan pernapasan 3. Teknik pernapasan ini
mampu menunjukkan pola diafragmatik dan pernapasan membantu anak
Batasan karakteristik : napas yang efektif dengan bibir memperpanjang waktu
1. Dispnea kriteria hasil : ekspirasi dan anak akan
2. Penurunan kapasitas vital 1. Tidak ada penggunaan bernapas lebih efisien dan

25
3. Penurunan ventilasi otot bantu pernapasan efektif
4. Pola napas abnormal (mis., 2. Ekspansi dada maksimal 4. Atur posisi anak(fowler/semi 4. Posisi kepala lebih tinggi dari
irama, frekuensi, 3. Bunyi napas tambahan fowler) untuk mengoptimalkan badan dapat membantu dalam
kedalaman) tidak ada pernafasan mengefektifkan pola napasnya
4. Napas pendek tidak ada 5. Anjurkan pada keluarga untuk 5. Memungkinkan dilakukan
Faktor yang berhubungan : memberitahukan perawat saat tindakan lebih awal saat terjadi
Penyempitan bronkus terjadi ketidakefektifan pola ketidakefektifan pola napas
nafas 6. Pemberian nebulizer untuk
6. Berikan humidifikasi tambahan menormalkan kembali saluran
misalnya nebulizer pernapasan yang terganggu
HE
7. Informasikan kepada anak dan 7. Memudahkan dalam ekspansi
keluarga tentang teknik paru
relaksasi untuk meningkatkan
pola pernapasan
Kolaborasi
8. Kolaborasikan dalam pemberian 8. Terpenuhinya kebutuhan O2
terapi O2 pada jaringan
3.Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari 1. Nutritional status : Observasi
kebutuhan tubuh (00002) nutrient intake 1. Kaji kemampuan anak sehingga 1. Mengkaji penyebab gangguan
Domain 2 : Nutrisi 2. Weight control tidak makan makan
Kelas 1 : Makan 2. Observasi tanda-tanda 2. Untuk mengkaji zat gizi yang
Setelah dilakukan tindakan kekurangan nutrisi dikonsumsi dan suplemen
Definisi : keperawatan dalam waktu yang diperlukan
Asupan nutrisi tidak cukup ...x24 jam diharapkan Tindakan Mandiri
untuk memenuhi kebutuhan ketidakseimbangan nutrisi 3. Berikan makanan sesuai 3. Untuk meningkatkan nafsu
metabolik. anak dapat teratasi dengan kesukaan anak, jika tidak ada makan anak

26
kriteria hasil : kontraindikasi 4. Pola makan tinggi kalori dan
Batasan Karakteristik 1. Nutrisi anak terpenuhi 4. Berikan makan dengan pola tinggi protein diperlukan oleh
1. Berat badan 20% atau 2. Berat badan anak stabil makan tinggi kalori, tinggi anak untuk memenuhi
lebih di bawah rentang dan tidak ada penurunan protein, selagi hangat peningkatan kebutuhan
berat nadan ideal 3. Membran mukosa lembap metabolik anak
2. Kurang minat pada 4. Lingkar lengan normal 5. Berikan makanan dengan porsi 5. Makanan dalam jumlah
makanan sesuai usia perkembangan kecil tetapi sering sedikit namun sering akan
3. Membran mukosa pucat memerlukan pengeluaran
energi dan penggunaan
Faktor yang berhubungan: pernapsan yang sedikit. Anak
Asupan makanan yang tidak akan menghabiskan makanan
adekuat akibat mual muntah dalam jumlah banyak setiap
kali makan

6. Berikan susu dan sari buah 6. Makanan tersebut mencegah


untuk memenuhi kebutuhan kerusakan protein tubuh dan
nutrisi dan cairan memberikan kalori energi
7. Berikan makanan dengan 7. Agar anak tidak bosan
variasi bentuk, rasa, dan jenis dengan makanan dan untuk
makanan menambah nafsu makan anak
8. Berikan suplemen makanan 8. Membantu untuk memenuhi
untuk meningkatkan nafsu kebutuhan nutrisi
makan
9. Timbang berat badan setiap 2 9. Tindakan ini memberikan
hari tanda akurat dan memberikan
pengendalian pada anak
tentang makanan yang
dimakan dan status nutrisinya

27
serta sebagai keadekuatan
nutrisi
10. Jaga kebersihan mulut anak 10. Agar menambah nafsu makan
dan mencegah kolonisasi
bakteri dan menurunkan
risiko infeksi yang
diturunkan. Penyakit
malnutrisi dapat menurunkan
kelembapan mukosa mulut
dan bibir
HE
11. Jelaskan pada anak serta 11. Untuk mendorong kepatuhan
keluarga tentang pentingnya terhadap program terapeutik,
makanan dan kebersihan bagi khususnya jika sudah berada
kesehatan dan proses di rumah
penyembuhan
Kolaborasi
12. Kolaborasi dengan dokteruntuk 12. Untuk memenuhi kebutuhan
memberikan nutrisi parenteral nutrisi pada anak
jika kebutuhan gizi belum
tercukupi
4.Hipertermia (00007) NOC NIC
Domain 11 : 1. Thermoregulation Observasi
Keamanan/Perlindungan 1. Kaji ketidaknyamanan anak 1. Untuk mendeteksi tanda awal
Kelas 6 : Termoregulasi Setelah dilakukan tindakan bahaya pada anak
keperawatan dalam waktu 2. Observasi suhu tubuh dan nadi 2. Peningkatan denyut nadi dan
Definisi : ...x24 jam diharapkan kulit yang dingin
Suhu inti tubuh di atas hipertermia dapat teratasi mengindikasikan hipovolemia,

28
kisaran yang normal diurnal dengan kriteria hasil : yang mengarah pada
karena kegagalan regulasi. 1. Suhu tubuh pasien normal penurunan perfusi jaringan
(360C-370C) Tindakan Mandiri
Batasan Karakteristik : 2. Anak merasa nyaman 3. Berikan minum yang banyak 3. Untuk mencegah tanda-tanda
1. gelisah 3. Tidak ada keluhan sehingga dapat ditoleransi anak dehidrasi
2. Kulit terasa hangat kegerahan 4. Kenakan pakaian yang longgar, 4. Tindakan tersebut
tipis, dan menyerap keringat meningkatkan kenyamanan dan
Faktor yang berhubungan: menurunkan suhu tubuh
Reaksi virus yang masuk ke 5. Atur suhu ruangan jangan 5. Memberikan rasa nyaman pada
dalam tubuh terlalu panas atau dingin anak
6. Kompres anak dengan air 6. Kompres air hangat akan
hangat pada lipatan-lipatan mengurangi demam dengan
tubuhnya seperti paha dan menormalkan suhu permukaan
ketiak tubuh dengan cara konduksi
7. Libatkan keluarga dalam 7. Orang tua merupakakn sumber
perawatan utama sosialisasi untuk anak
yang diisolasi
HE
8. Jelaskan pendidikan kesehatan 8. Menambah pengetahuan
tentang manfaat cairan bagi tentang kebutuhan cairan untuk
tubuh mengurangi demam dan
mencegah kekurangan cairan
dengan meminum air putih, jus
buah-buahan, serta jus sayuran
9. Ajarkan keluarga tentang cara 9. Memberi pengetahuan kepada
menurunkan suhu tubuh dan orang tua untuk mengantisipasi
cara mengevaluasi perubahan anak yang sedang demam saat
suhu di rumah maupun di rumah

29
sakit
Kolaborasi
10. Kolaborasikan dengan dokter 10. Pemberian obat antipiretik
tentang pemberian antibiotik mengurangi demam secara
dan anti piretik efektif
5.Intoleransi aktivitas NOC NIC
(00092) 1. Energy conservation Observasi
Domain 4 : aktivitas/istrahat 2. Activity tolerance 1. Monitor respon fisik, emosi, 1. Mengetahui perubahan pola
Kelas 4 : respon 3. Self care : ADLs sosial, dan spritual aktivitas anak
kardiovaskular/pulmonal Mandiri
Setelah dilakukan tindakan 2. Hindari pemberian intervensi 2. Menghindari gangguan pada
Defenisi : keperawatan dalam waktu pada saat istrahat istrahat tidur anak sehingga
Ketidakcukupan energi ...x24 jam diharapkan kebutuhan energi dapat dibatasi
psikologis tau fisiologis untuk menunjukkan keseimbangan untuk aktivitas lain yang lebih
mempertahankan atau energi yang adekuat dengan penting
menyelesaikan aktivitas kriteria hasil : 3. Bantu anak memilih kegiatan 3. Menghindarkan anak dari
kehidupan sehari-hari yang 1. Mampu melakukan yang tidak melelahkan kegiatan yang melelahkan dan
harus atau yang ingin aktivitas fisik tanpa meningkatkan beban kerja
dilakukan. disertai peningkatan jantung
tekanan darah, nadi, dan 4. Hindari perubahan suhu 4. Perubahan suhu lingkungan
Batasan karakteristik : RR lingkungan yang mendadak yang mendadak merangsang
1. Dispnea setelah 2. Anak dapat tidur nyenyak kebutuhan akan oksigen yang
beraktivitas dan segar ketika terbangun meningkat
2. Keletihan 3. Mampu melakukan 5. Bantu anak untuk mendapatkan 5. Membantu anak dalam
3. Ketidaknyamanan setelah aktivitas sehari-hari alat bantu mobilitas fisik beraktivitas
bertavitas (ADLs) secara mandiri HE
4. Perubahan 6. Jelaskan pada anak dan keluarga 6. Stres dan kecemasan
elektrokardigram (mis., untuk tidak cemas akan keadaan berpengaruh terhadap

30
aritmia, abnormalitas anak kebutuhan 02 pada jaringan
konduksi, iskemia) Kolaborasi
5. Respons frekuensi jantung 7. Kolaborasikan dengan tenaga 7. Melatih anak dalam
abnormalitas terhadap rehabilitasi medik dalam menjalankan aktivitas secara
aktivitas merencanakan program terapi adekuat
6. Respons tekanan darah aktivitas yang tepat
abnormal terhadap
aktivitas

Faktor yang berhubungan :


Insufisiensi oksigenasi dan
ventilasi

6.Defisiensi Pengetahuan NOC NIC


(00126) 1. Pengetahuan : Proses Pengajaran : Proses Penyakit
Domain 5 : Persepsi/Kognisi Penyakit 1. Kaji tingkat pengetahuan orang 1. Untuk mengetahui sejauh
Kelas 4 : Kognisi 2. Perilaku Patuh tua anak terkait dengan proses mana orang tua anak tahu
penyakit tentang proses penyakit yang
Definisi : Tujuan : dialami anak. Pada beberapa
Ketiadaan atau difisiensi Setelah dilakukan tindakan kasus orang tua anak merasa
informasi kongnitif yang keperawatan ...x24 jam, kebingungan tentang apa yang
berkaitan dengan topic masalah defisiensi terjadi pada anaknya, hal itu
tertentu pengetahuan dapat teratasi dikarenakan orang tua tidak
mengetahui tentang proses
Batasan Karakteristik : Kriteria Hasil penyakit yang dialami,
1. Ketidakakuratan mengikuti 1. Keluarga atau orang tua sehingga perawat berperan
perintah anak menyatakan untuk menyampaikan

31
2. Ketidakakuratanmelakukan pemahaman tentang bagaimana proses penyakit
tes penyakit, kondisi, yang dialami oleh pasien
3. Kurang pengetahuan prognosis, dan program 2. Jelaskan patofisiologi penyakit 2. Menambah informasi orang tua
pengobatan dan bagaimana hubungannya anak mengenai proses
Faktor yang berhubungan : 2. Keluarga atau orang tua dengan anatomi dan fisiologi perjalanan penyakit dan
1. Kurang informasi anak mampu hubungan dengan anatomi dan
2. Kurang sumber melaksanakan prosedur fisiologi tubuh anak
pengetahuan yang dijelaskan secara 3. Berikan informasi pada anak 3. Memberitahukan kondisi anak
benar dan orang tua anak mengenai sebenar-benarnya agar
3. Keluarga atau orang tua kondisi anak terhindar dari kecemasan akan
anak mampu menjelaskan pikiran-pikiran yang tidak baik
kembali apa yang mengenai kondisi anak
dijelaskan perawat/tim 4. Edukasi anak serta orang tua 4. Agar orang tua anak dapat
kesehatan lainnya anak mengenai tindakan untuk meminimalkan ataupun
mengontrol/ meminimalkan menangani secara dini apabila
gejala gejala penyakit timbul
5. Edukasi anak dan orang tua 5. Agar anak dan orang tua
anak mengenai tanda dan gejala mampu utnuk mengetahui dan
yang harus dilaporkan kepada mampu untuk melaporkan
petugas kesehatan pada perawat mengenai tanda
dan gejala yang dirasakan agar
dapat ditangani secara dini
Pendidikan Kesehatan oleh petugas kesehatan
6. Identifkasi faktor internal atau 6. Banyak factor yang bisa
eksternal yang dapat memepengaruhi perilaku hidup
meningkatkan atau mengurangi sehat seseorang, sehingga
motivasi untuk berperilaku perawat harus mengetahui apa
sehat yang akan meningkatkan dan

32
mengurangi perilaku hidup
sehat tersebut, sehingga
perawat mampu memberikan
motivasi bagaimana perilaku
hidup sehat yang baik pada
pasien
7. Berikan penilaian tentang 7. Perawat harus tau
tingkat pengetahuan pasien kemungkinan-kemungkinan
tentang proses penyakit yang yang akan terjadi sehingga
spesifik apabila terjadi komplikasi
pasien dapat langsung
mengatakan kepada perawat
jika sudah mulai merasakan
adanya komplikasi
8. Diskusi perubahan gaya hidup 8. Perawat /tenaga kesehatan
yang mungkin diperlukan untuk harus mampu untuk
mencegah komplikasi di masa meyakinkan bagaimana efek
yang akan datang dan atau yang baik jika hidup sehat dan
proses pengontrolan penyakit. nilai-nilai kesehatan

33
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bronkitis merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang
menyerang bronkus. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak yang
lingkungannya banyak polutan, misalnya orang tua yang merokok dirumah, asap
kendaraan bermotor, asap hasil pembakaran pada saat masak yang menggunakan
bahan bakar kayu. Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan diantaranya :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
2. Ketidakefektifan pola napas
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4. Intoleransi aktivitas
5. Defisiensi pengetahuan
3.2 Saran
Semoga penyusunan Laporan Asuhan Keperawatan Anak mengenai
bronkitisini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pendidikan
dan praktik keperawatan serta dapat menjadi acuan dalam melakukan tindakan
asuhan keperawatan, khususnya pada anak yang mengalami bronkitis.

34
DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda Nurarif, H. K. 2015. Aplikasi & NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid
1. Jogjakarta: Medi Action.
Arif, M. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Penerbitan
Media Aesculapius FKUI.
Heather Herdman, S. K. 2015.Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi
2015-2017. Jakarta: ECG.
Juditch M. Wilkinson, N. R. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta:
ECG Medical Publisher.
Kowalak, Jenifer. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Marni. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit. Yogyakarta: Goysen
Publishing.
Mediskus. 2017. Penyakit Bronkitis pada Anak. (online). Tersedia di
http://mediskus.com/penyakit/bronkitis-pada-anak-ciri-ciri-penyebab-dan-
obatnya diakses pada tanggal 29 April 2017

35

Anda mungkin juga menyukai