Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS


(AYAM BURAS)
MATA KULIAH

LINGKUNGAN TERNAK

Oleh

Diyah Umi Mahmudah


NIRM : 07.2.2.14.1798

NOVEMBER 28, 2014


KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN
DAN
PENGEMBANGAN SDM NASIONAL
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN (STPP) MALANG
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur Alhamdulilllah kami panjatkan kehadirat


Tuhan yang telah melimpahkan rahmat,taufik,serta hidayah-Nya kepada kita
semua, tak lupa salawat dan salam kita haturkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW. Alhamdulillah dengan izin dan petunjuk-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Laporan Praktikum mata kuliah Lingkungan Ternak
yang berjudul ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM
BURAS).

Dalam menyelesaikan laporan Praktik ini penulis tentunya tidak luput dari
pihak yang turut serta membimbing baik secara materi maupun teknis, oleh karena
itu kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebanyak-banyaknya
kepada :

1. ALLAH SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya yang telah diberikan,
sehingga laporan ini dapat terselesaikan,
2. Drh. Isyunani dan Drh. Isnawati selaku dosen pengajar,
3. Semua rekan yang telah memberikan dukungan sehingga kami dapat menyusun
Laporan Praktikum ini.
Dengan tersusunnya laporan ini, penulis hanya bisa berharap semoga laporan ini
dapat memberikan manfaat, terutama bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca
laporan ini. Selanjutnya, kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu, semua kritik,saran, dan masukan yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi lebih baiknya penyusunan laporan untuk
masa yang akan datang. Akhir kata, penulis mohon maaf jika ada penulisan yang
salah karena penulis adalah manusia yang masih belajar.

Malang, November 2014

penulis

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) i


DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................ -

Kata Pengantar ................................................................................................. i

Daftar Isi........................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan ........................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1


1.2 Tujuan................................................................................................... 2
Bab II Tinjauan Pustaka ................................................................................... 3
2.1 Budidaya ............................................................................................. 5
2.2 Anatomi & Fisiologi ........................................................................... 8
Bab III Materi & Metode ................................................................................. 18
1.3 Materi ................................................................................................... 18
1.4 Metode .................................................................................................. 18
Bab IV Hasil & Pembahasan............................................................................ 20
Bab V Penutup ................................................................................................. 57
Daftar Pustaka .................................................................................................. 58
Lampiran .......................................................................................................... 59

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) ii


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di Indonesia jumlah unggas pada saaat ini lebih dari ratusan ribu, termasuk
di dalamnya ayam, itik dan burung. Dimana jenis unggas yang umum dipelihara
adalah ayam, itik, puyuh, dan burung dara. Ternak unggas merupakan jenis ternak
yang paling banyak dikenal dan dipelihara masyarakat kerena menghasilkan produk
pangan bergizi sebagai sumber protein hewani yang paling disukai, murah, dan
terjangkau oleh masyarakat luas. Peternakan saat ini masih merupakan sector
pertanian yang efesien dan paling cepat dalam menyediakan zat-zat pakan yang
bergizi tinggi dari sumber hewani, baik peternakan ayam petelur maupun pedaging.
Pembangunan sector pertanian termasuk di dalamnya sub sector peternakan dengan
salah satu komoditasnya yaitu ternak unggas, masih menjadi tumpuan
pembangunan nasional, hingga saat ini subsector peternakan menunjukan
perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena
meningkatnya pendapatnya dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan
pentingnya gizi bagi kehidupan terutama protein hewani seperti daging dan telur,
realita menunjukan komponen protein hewani yang memiliki peranan sangat
penting dalam penyediaan protein hewani tersebut berasal dari unggas, termasuk di
dalamnya ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh, itik, angsa dan kalkun.
Seiring dengan berkembangnya zaman, maka perlu meningkatkan pengetahuan
tentang pengenalan jenis unggas, manajemen pemeliharaan unggas, anatomi
unggas dan identifikasi penyakit pada unggas serta pengetahuan dalam menyusun
ransum yang diberikan untuk unggas. Pemeliharaan kesehatan unggas merupakan
bagian dari usaha meningkatkan produksi ternak, produktifitas dan reprodukivitas
ternak yang hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat.
Latar belakang dilaksanakannya praktikum Lingkungan Ternak ini karena
mahasiswa selain perkuliahan juga perlu didukung dengan kegiatan aplikatif yakni
praktikum untuk memberikan pengalamanan dan menerapkan ilmu yang
didapatkan pada saat perkuliahan. Proses pembelajaran ini penting agar mahasiswa

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 1


dapat mengenal langsung apa yang dipelajari serta aplikasinya di lapangan. Tujuan
dilakukannya praktikum Lingkungan Ternak ini antara lain untuk mengetahui
fisiologis ternak unggas melalui pengamatan eksterior dan anatomi interior unggas
jantan dan betina (ayam buras) yang meliputi sistem pernapasan, pencernaan,
reproduksi, sirkulasi, urinary dan dapat mengidentifikasi apakah unggas tersebut
terserang suatu penyakit, serta cara prosesingnya. Manfaat dari praktikum
Lingkungan Ternak ini adalah mahasiswa dapat mengetahui anatomi dan fisiologi
unggas jantan maupun unggas betina, dapat menyusun ransum yang benar, serta
dapat mengidentifikasi penyakit pada unggas serta memperdalam pengetahuan
mengenai beberapa aspek pengamatan yang dikaji dan diamati dalam kegiatan
praktikum ini.

1.2 TUJUAN

a) Mahasiswa mengetahui fisiologis ternak unggas (ayam buras) berdasarkan anatomi


yang dilakukan
b) Agar mahasiswa mengetahui dan mengenali biologi unggas yang meliputi bagian
eksterior dan sistem-sistem pada tubuh ayam.
c) Mahasiswa mengethui bagaimana cara prosesingnya
d) Mahasiswa dapat mengidentifikasi apakah unggas tersebut terserang suatu penyakit
e) Agar mahasiwa mampu membedakan dan mengenali secara detail biologi unggas
yang meliputi bagian eksterior dan sistem-sistem pada unggas.
f) Mendasari mahasiwa untuk bisa menghubungkan sistem-sistem pada unggas untuk
penerapan didalam ilmu perunggasan dilapangan dengan bidang ilmu yang lain
yang berhubungan dengan perunggasan.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 2


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem Pemeliharaan

2.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas


2.1.1. Klasifikasi secara Internasional
Klasifikasi standar adalah pengelompokkan jenis-jenis ayam `berdasarkan
buku yang diterbitkan oleh perhimpunan Peternak Unggas Amerika Serikat, yaitu
The American Standard of Perfection. Berdasarkan buku tersebut, terdapat 11 kelas
ayam, namun yang dianggap penting hanya 4 kelas, yaitu kelas inggris, kelas
amerika, kelas mediterania, dan kelas asia (Suprijatna et al., 2008).

2.1.2 Unggas darat


Unggas darat adalah unggas yang hidup didarat, contoh dari ungas darat adalah
ayam ras dan ayam buras. Ayam secara umum memiliki ciri-ciri, yaitu mempunyai
ceker dengan tiga jari dan satu jalu, paruh bertipe pemakan biji-bijian, memiliki
jengger dan cuping (Susilorini et al., 2009). Ayam peliharaan yang ada dewasa ini
merupakan keturunan ayam hutan yang mengalami proses penjinakkan yang sangat
panjang. Jenis ayam itu terdiri dari ayam hutan merah (Gallus gallus), ayam hutan
Ceylon (Gallus lavayettii), ayam hutan kelabu (Gallus soneratii), dan ayam hutan
jawa atau Gallus varius (Suprijatna et al., 2008).

2.1.3. Unggas air

Itik adalah salah satu jenis unggas air (waterfowls) yang termasuk dalam
kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub famili Anatinae, Tribus
anatini dan genus Anas. Ordo Anseriformes mempunyai famili antara lain
Anatidae, subfamili Anatinae dan Anserinae. Anatinae menurunkan genus Anas
dan Cairina yang masing-masing menurunkan spesies itik yaitu Anas plathyrynchos
(Yuwanta, 2004). Beberapa jenis itik merupakan jenis itik petelur. Itik petelur
adalah itik yang memiliki karakteristik ekonomi sebagai penghasil telur yang baik.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 3


Adapaun jenis-jenis dari itik adalah Indian Runner, Khaki Campbell, Buff
Orpington, Cayuga, Cherry Valley, Anas Javanica atau yang sering disebut itik
Jawa (Suprijatna et al., 2008).

Perbedaan unggas darat dan unggas air

Walaupun sesama jenis unggas, ayam dan itik memiliki beberapa perbedaan.
Perbedaannya adalah ayam termasuk unggas darat, sedangkan itik termasuk unggas
air. Ayam memiliki paruh yang runcing dan keras untuk mematuk-matuk
makanannya yang keras, sedangkan itik memiliki paruh yang sedikit melebar
karena makanan itik lembut dan tidak keras. Ayam memiliki jengger di kepalanya,
sedangkan itik tidak memiliki. Ayam memiliki pial di bagian bawah kepalanya,
sedangkan itik tidak memiliki. Tembolok pada ayam berkembang, sedangkan
tembolok itik tidak berkembang. Kaki pada itik memiliki selaput untuk
memudahkan berenang di dalam air, sedangkan pada ayam kakinya tidak memiliki
selaput.

2.1.4. Klasifikasi berdasarkan tujuan pemeliharaan


Berdasarkan tujuan pemeliharaan atau biasa disebut tipe ayam, ayam dapat
dikelompokkan menjadi tipe petelur(layer), pedaging(broiler), dan medium atau
dwiguna (dual purpose), dan ayam hias. Ayam tipe petelur dipelihara untuk
menghasilkan telur yang banyak. Karakteristik ayam tipe petelur ini sebagai berikut
bertingkah laku lincah dan mudah terkejut, badan relatif kecil dan langsing
sehingga disebut tipe ringan, cepat dewasa kelamin sehingga cepat bertelur, jumlah
telurnya banyak, kerabangnya berwarna putih, dan jarang mengeram (Yuwanta,
2004) Ayam tipe petelur memiliki karakteristik bersifat nervous atau mudah
terkejut, bentuk tubuh ramping, cuping telinga berwarna putih, kerabang telur
berwarna putih, produksi telur tinggi (200 butir/ekor/tahun), efisien dalam
penggunaan ransum untuk membentuk telur, dan tidak memiliki sifat mengeram
(Suprijatna et al., 2008).

Karakteristik ayam tipe pedaging bersifat tenang, bentuk tubuh besar,


pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah
(Suprijatna et al., 2008). Karakteristik ayam tipe pedaging adalah bersifat tenang,

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 4


bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan
produksi telur rendah (Yuwanta, 2004).

Ayam tipe sedang ini dikembangkan untuk memproduksi telur sekaligus


daging (sesudah ayam diafkir). Dengan demikian, ayam tipe sedang harus membagi
sumber dayanya untuk memproduksi telur dan daging. Oleh karena itu, ayam tipe
medium ini disebut juga ayam tipe dwiguna (dual purpose). Ayam tipe sedang
memiliki ciri-ciri sebagai berikut ukuran badan lebih besar dan lebih kokoh dari
pada ayam tipe ringan serta berperilaku tenang, timbangan badan lebih berat
daripada tipe ringan, karena jumlah daging dan lemaknya lebih banyak, otot-otot
kaki dan dada lebih tebal, dan produksi telur cukup tinggi dengan kulit telur tebal
dan berwarna coklat (Fadilah, 2003). Ayam tipe dwiguna memiliki karakteristik
bersifat tenang, bentuk tubuh sedang, produksi telur sedang, pertumbuhan sedang,
dan kulit telur berwarna coklat (Suprijatna et al., 2008), sedangkan ayam hias atau
ayam hewan timangan (''pet'', ''klangenan''), untuk dilepas di kebun/taman atau
dipelihara dalam kurungan karena kecantikan penampilan atau suaranya (misalnya
ayam katai dan ayam pelung ayam bekisar dapat pula digolongkan ke sini meskipun
bukan ayam peliharaan sejati), dan ayam sabung, untuk dijadikan permainan
sabung ayam. Istilah ''ayam sayur'' dipakai untuk ayam kampung atau ayam aduan
yang selalu kalah, dan tidak diseleksi khusus sebagai ayam pedaging

2.2 Manajemen Pemeliharaan

2.2.1 Sistem Perkandangan

Fungsi kandang yaitu : Syarat kandang yang baik, Kepadatan kandang :


yaitu :

a. Cukup mendapat sinar


a. Untuk tempat a. Anak ayam beserta
matahari.
berteduh dari panas dan induk : 1 2 m 2
b. Cukup mendapat angin
hujan. untuk 20 25 ekor
atau udara segar.
b. Sebagai tempat anak ayam dan 1 2
c. Jauh dari kediaman
bermalam. induk.
rumah sendiri.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 5


c. Untuk memudahkan d. Bersih. b. Ayam dara 1 m 2
tata laksana. e. Sesuai kebutuhan (umur untuk 14 16 ekor.
dan keadannya). c. Ayam masa
f. Kepadatan yang sesuai. bertelur, 1 2 m 2
g. Kandang dibuat dari untuk 6 ekor dan
bahan yang murah, mudah pejantan 1 ekor.
didapat dan tahan lama.

2.2.2 Macam Kandang

Ada tiga macam kandang, yakni kandang box, kandang postal dan kandang
baterai. Kandang box sebagai tempat pemeliharaan anakan ayam kampung
unggulan atau DOC. Disebut kandang box karena bentuknya yang memang kotak.

Dalam kadang box ukuran 1 x 1 m dapat diisi sebanyak 40 -45 DOC. Lama
pemeliharaan DOC dalam kandang box +- 20 hari. Untuk menjaga kehangatan
kandang diberikan lampu pada kandang box dengan suhu 30 32 derajat celcius.

Memasuki hari ke-21 ayam kampung dipindah ke kandang pembesaran atau


kandang postal. Ukuran kandang postal menyesuaikan dengan jumlah ayam
kampung yang dipelihara. Kandang postal ukuran 5 x 20 m bisa diisi sebanyak 1200
ekor ayam kampung unggulan. Lama pemeliharan dalam kandang postal ini adalah
ketika ayam kampung unggulan berumur 21 hari sampai waktu panen.

Untuk kandang baterai diperlukan sebagai kandang untuk indukan atau


ayam kampung petelur. Lokasi kandang yang ideal adalah memiliki jarak dengan
permukiman minimal 5 m, tidak lembab, sinar matahari pagi dapat masuk dan
sirkulasi udara cukup baik. Sebaiknya memilih lokasi yang agak rindang dan
terhalangi oleh bangunan atau tembok lain agar angin tidak berhembus langsung ke

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 6


dalam kandang. Sebelum kandang diisi dengan ayam kampung, perlu dilakukan
penyucihamaan dengan disinfektan yang tidak berbahaya bagi ayam.

2.3. Pembibitan

Ciri-ciri bibit yang baik :

a. Ayam jantan b. Ayam betina (petelur) yang baik


o Badan kuat dan panjang. o Kepala halus.
o Tulang supit rapat. o Matanya terang/jernih.
o Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur o Mukanya sedang (tidak terlalu lebar).
rapih. o Paruh pendek dan kuat.
o Paruh bersih. o Jengger dan pial halus.
o Mata jernih. o Badannya cukup besar dan perutnya
o Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik luas.
teratur. o Jarak antara tulang dada dan tulang
o Terdapat taji. belakang 4 jari.
o Jarak antara tulang pubis 3 jari.

Ciri-ciri indukan yang baik :

1. Calon induk betina ayam buras: 2. Calon pejantan ayam kampung:


sehat & tidak cacat sehat & tidak cacat
lincah & gesit penampilan tegap
mata bening & bulat bulu halus & mengkilap
rongga perut elastis tidak mempunyai sifat kanibal
tidak mempunyai sifat kanibal umur 8 - 24 bulan.
bebas dari penyakit Jumlah induk & pejantan disesuaikan
umur 5 - 12 bulan. dgn kondisi & umurnya antara 8 - 10 :
1

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 7


2.4. Pemeliharaan

Ada 3 (tiga) sistem pemeliharaan :

a. Ekstensif (pemeliharaan secara tradisional = ayam dilepas dan mencari pakan


sendiri).
b. Semi intensif (ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan).
c. Intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan).

Apabila dibedakan dari umurnya, ada beberapa macam pemeliharaan, yaitu :

a. Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0 6 minggu, dimana anak ayam sepenuhnya


diserahkan kepada induk atau induk buatan.
b. Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6 20 minggu.
c. Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (. 2 tahun).

Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan 1 (satu) ekor pejantan melayani
9 (sembilan) ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur konsumsi, pejantan
tidak diperlukan.

2.5. Anatomi dan Identifikasi Fisiologi Ternak unggas

2.5.1. Sistem pencernaan

Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan dan organ asesori dimana
saluran pencernaan merupakan organ yang menghubungkan dunia luar dengan
dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses metabolik di dalam tubuh. Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, esophagus (kerongkongan), crop (tembolok),
proventriculus (perut kecil), gizzard (empedal), duodenum, usus halus, ceca,
rectum, cloaca, dan vent. Sedangkan organ asesori terdiri dari pankreas dan hati
(Suprijatna et al., 2008). Setiap bagian alat pencernaan masing-masing memiliki
fungsi yang berbeda (Fadilah, 2005).

Mulut ayam tidak memiliki lidah, pipi, dan gigi. Langit-langitnya lunak,
tetapi memiliki rahang atas dan bawah yang menulang untuk menutup mulut. Mulut

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 8


memiliki fungsi untuk minum dan memasukan makanan, menghasilkan air liur
(enzim pengurai makanan), dan mempermudah makanan masuk ke kerongkongan
(Fadilah, 2005). Kerongkongan atau esophagus berupa pipa tempat pakan melalui
saluran ini bagian belakang mulut (pharynx) ke proventriculus (Suprijatna et al.,
2008). Kerongkongan berfungsi untuk menyalurkan makanan ke tembolok.
Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian yang melebar di salah
satu sisnya menjadi kantong yang dikenal sebagai crop atau tembolok. Tembolok
memiliki fungsi sebagai penampungan sementara makanan yang dikonsumsi oleh
unggas (Fadilah, 2005).

Proventriculus merupakan pelebaran dari kerongkongan sebelum


berhubungan dengan gizzard (empedal). Pakan berlalu cepat melalui proventriculus
(Suprijatna et al., 2008). Proventriculus berfungsi sebagai penghasil pepsin yaitu
enzim pengurai protein dan penghasil asam lambung (hydrochloric acid) (Fadilah,
2005).

Gizzard atau empedal seringkali juga disebut muscular stomach (perut otot).
Lokasinya berada diantara ventriculus dan bagian usus halus (Suprijatna et al.,
2008). Gizzard memiliki otot yang kuat dan permukaan yang tebal, berfungsi
sebagai pemecah makanan menjadi bagian-bagian atau partikel yang lebih kecil
(Fadilah, 2005).

Usus halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya pencernaan dan


absorpsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang masuk ke dalam saluran
pencernaan ini berfungsi mempecepat dan mengefisiensikan pemecahan
karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah proses absorpsi (Suprijatna et
al., 2008). Pada bagian usus halus terdapat pankreas yang menghasilkan enzim
amilase, lipase, dan tripsin. Enzim tersebut dan enzim-enzim lain yang dihasilkan
dinding usus halus berfungsi untuk menguraikan protein dan gula. Hasilnya akan
diserap usus halus untulk di distribusikan ke seluruh tubuh. Usus halus ayam
dewasa memiliki panjang sekitar 1,5 meter (Fadilah, 2005).

Diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua kantong yang disebut
sebagai ceca (usus buntu). Dalam keadaan normal, panjang setiap ceca sekitar 6

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 9


inci atau 15 cm (Suprijatna et al., 2008). Fungsi ceca ini belum diketahui secara
pasti (Fadilah, 2005). Pada ceca hanya sedikit air yang diserap, sedikit karbohidrat
dan protein dicerna berkat bantuan beberapa bakteri.

Usus besar merupakan rectum. Pada ayam dewasa panjangnya sekitar 10


cm dengan diameter sekitar dua kali usus halus. Bentuknya melebar dan terdapat
pada bagian akhir usus halus ke kloaka (Suprijatna et al., 2008). Usus besar
berfungsi sebagai penambah kandungan air dalam sel tubuh dan menjaga
keseimbangan air dalam tubuh ayam (Fadilah, 2005).

Kloaka memiliki bentuk yang bulat dan berada pada akhir saluran
pencernaan. Kloaka beraarti common sewer atau saluran umum tempat saluran
pencernaan dan reproduksi bermuara (Suprijatna et al., 2008). Kloaka berfungsi
sebagai lubang pengeluaran sisa pencernaan (Fadilah, 2005).

2.5.2. Sistem respirasi unggas

Sistem respirasi pada ayam terdiri dari nasal cavities, larynx, trachea
(windpipe), syrinx (voice box), bronchi, paru-paru, kantong udara dan udara
tertentu pada tulang (Suprijatna et al., 2008). Fungsi alat pernapasan ini adalah
sebagai tempat pertukaran udara yang masuk dan keluar dari tubuh ayam. Dengan
kata lain, berfungsi sebagai tempat pertukaran antara oksigen yang masuk kedalam
tubuh dan karbondioksida yang dikeluarkan dari tubuh unggas (Fadilah, 2005).
Paru-paru pada unggas berperan sebagai tempat berlangsungnya pertukaran gas di
dalam darah. Paru-paru ayam relatuf lebih kecil secara proporsional dengan ukuran
tubuhnya, paru-paru tersebut mengembang dan berkontraksi hanya sedikit dan tidak
terdapat diafragma sejati.

Unggas memiliki sistem kantong udara yang berperan untuk menampung


udara. Sebagian besar unggas memiliki delapan antong udara, yaitu median servical
sac, median clavicular sac dan sepasang cranial thoriac, caudal thoriac, serta
abdominal sac. Pada beberapa jenis unggas, terdapat dua servical sacs sehingga
menambah jumlah air sac menjadi sembilan (Suprijatna et al., 2008). Kantong udara
maupun paru-paru berfungsi sebagai cooling mecanism (mekanisme pendingin)

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 10


bagi tubuh bila kelembapan dikeluarkan lewat pernapasan dalam bentuk uap air
atau dengan kata lain berfungsi sebagai pengatur temperatur tubuh (Fadilah, 2005).

2.5.3. Sistem reproduksi unggas


2.5.3.a. Sistem reproduksi unggas jantan.

Sistem reproduksi ayam jantan terdiri dari dua testis yang memiliki
epididimis dan vas deferens yang menuju ke alat copulatory (copulatory organ)
(Fadilah, 2005). Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang,
melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum
mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru
bagian depan dari ginjal (Yuwanta, 2004).

Testis memiliki bentuk elipsoid dan berwarna kuning terang, sering pula
berwarna kemerahan karena banyaknya cabang-cabang pembuluh darah pada
permukaan. Testis terdiri dari sejumlah besar saluran kecil yang bergulung-gulung
dan lapisan-lapisannya menghasilkan sperma (Suprijatna et al., 2008). Alat
copulatory pada ayam memiliki dua papillae dan satu alat copulatory mengecil yang
berada di daerah sekitar kloaka (vent) (Fadilah, 2005).

Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter,
kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga
diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya
kopulasi (Yuwanta, 2004). Alat kopulasi pada itik berupa penjuluran yang
berkembang dari dinding kloaka, bersifat fibrosa yang memanjang yang dibelit oleh
saluran spiral untuk mengalirkan sperma (Fadilah, 2005).

2.5.3.b. Sistem reproduksi ayam betina.

Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari satu ovarium dan satu oviduk.
Walaupun organ reproduksi merupakan tempat produksi sel-sel benih (grem cells),
organ tersebut juga merupakan kelenjar endokrin (Suprijatna et al., 2008). Pada
ayam betina terdapat sebuah ovarium yang terletak pada rongga badan sebelah kiri.
Pada saat perkembangan embrionik, terdapat dua ovari yaitu vari kanan dan ovari

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 11


kiri (Fadilah, 2005). Tetapi pada perkembangan selanjutnya mengalami regresi
sehingga pada saat menetas hanya dijumpai sebuah ovarium kiri, sedangkan yang
kanan rudimeter.

Menurut fungsinya saluran telur dibagi menjadi 5 bagian yaitu


infundibulum adalah corong pada ujung oviduct yang berfungsi menangkap sel telur
saat diovulasikan oleh ovarium, magnum yang menghasilkan albumin kental,
panjang magnum sekitar 33 cm, isthmus yang mengeluarkan selaput kerabang,
uterus atau kelenjar kerabang berfungsi untuk tempat pembentukan cangkang dan
tempat pigmentasi cangkang, dan vagina yang merupakan organ kopulasi betina
dengan panjang 15 cm dan kloaka (Fadilah, 2005).

2.5.4. Sistem urinari

Organ-organ urinasi unggas yaitu ginjal, ureter dan kloaka. Sistem ekskresi
pada unggas terdiri dari dua buah ginjal yang bentuknya relatif besar memanjang
yang berlokasi di belakang paru-paru dan menempel pada tulang punggung dimana
masing-masing ginjal terdiri dari tiga lobus yang tampak dengan jelas (Suprijatna
et al., 2008). Ginjal adalah organ yang menyaring plasma dari unsur-unsur plasma
darah, dan kemudian secara selektif menyerap kembali air dan unsur-unsur berguna
yang kembali dari filtrat yang akhirnya mengeluarkan kelebihan dari produk
buangan plasma. Ureter adalah saluran muscular yang mengalirkan urine dari
dinding ginjal menuju ke blader (kantong kemih). Blader merupakan organ
muscular yang berongga yang ukuran dan posisinya bervariasi tergantung jumlah
urine di dalamnya. Pelvis, ureter, blader dan uretra pada bagian dalamnya diseliputi
oleh epitel transisional (organ yang mengalami distensi, lumen menjai besar,
dinding menipis, dan terjadi suatu transisi ke stratifikasi yang lebih sedikit)
(Fadilah, 2005).

2.6. Identifikasi penyakit ternak unggas

Berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat dibedakan menjadi indirect


factor atau predisposing dan direct factors. Predisposing penyebab penyakit
biasanya berkaitan dengan stress (cekaman) (Fadilah, 2005). Penyebabnya antara

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 12


lain kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi tinggi (overcrowding), tidak cukup
tempat pakan dan minum, serta overmedikasi (pengobatan yang berlebihan).
Demikian pula penyakit yang satu menjadi predisposisi penyakit lainnya. Misalnya,
infectious bronchitis dapat menjadi predisposisi penyakit air sac (kantong udara)
(Suprijatna et al., 2008).

Penyebab langsung penyakit bersifat infeksius dan noinfeksius. Penyakit


infeksius ada yang kontagius maupun nonkontagius. Penyakit kontagius adalah
penyakit yang langsung di transmisi dari individu atau flock kepada individu atau
flock lainnya (Fadilah, 2005). Penyakit infeksius adalah penyakit yang disebabkan
oleh organisme hidup. Sebagian besar penyakit infeksi pada unggs adalah
kontagius, seperti penyakit karena virus, bakteri, riketsia, dan fungi. Sementara
beberapa penyakit infeksi tidak kontagius seperti aspergilosis. Penyakit yang sering
menyerang ternak ayam secara umum berdasarkan penyebabnya dapat
dikelompokkan menjadi cekman (stress), defisiensi zat makanan, parasit, penyakit
karena protozoa, penyakit karena bakteri, penyakit karena virus, dan penyakit
karena cendawan (Suprijatna et al., 2008).

2.7. Formulasi ransum ternak unggas


2.7.1. Pengertian ransum

Ransum adalah bahan-bahan makanan ternak terpilih yang telah disusun dengana
metode tertentu agar kebutuhan nutrisi ternak tersebut terpenuhi dengan sejumlah
kandungan nutrisi baha-bahan yang digunakan itu (Rasyaf, 2011). Ransum bisa
juga disebut sebagai bahan pakan. Penyusunan pakan merupakan kegiatan
pencampuran berbagai bahan pakan yang ada dengan perbandingan yang telah
ditentukan untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan oleh ayam
untuk pertumbuhan dan produksi (Suprijatna et al., 2008).

2.7.2. Kebutuhan nutrisi ternak unggas

Penyusunan ransum perlu memperhatikan keseimbangan antara energi dan


protein (Rasyaf, 2011). Protein diambil sebagai patokan, karena kualitas suatu
bahan dan harga pakan ditentukan oleh kadar protein tersebut. Anak ayam umur 0-

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 13


8 minggu membutuhkan protein antara 14-16% dan energi antara 2.600-2900
Kkal/kg atau rasio protein dan energi 1:183. Ayam berumur lebih dari 20 minggu
membutuhkan protein 17% dan energi 2.650 Kkal/kgatau rasio perbandingan
protein dan energi 1:165 (Rukmana, 2003).

Ransum sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Dalam


menyusun ransum tiap jenis bahan makanan hendaknya ada bahan sejenis sebagai
pendamping (Rukmana, 2003). Kebutuhan protein untuk pemeliharaan relatif
rendah karena kebutuhannya tergantung pada jumlah yang diperlukan untuk tujuan-
tujuan produksi. Karena protein merupakan bagian ransum termahal maka tidak
ekonomis memberikan terlalu banyak protein pada hewan (Rasyaf, 2011).

Dua asam amino yang sangat penting adalah lisin dan metionin yang
merupakan bagian terbesar dari protein hewani, oleh sebab itu pembuatan ransum
ayam perlu menggunakan protein hewani, ketidakseimbangan atau kekurangan
asam amino essensial akan engakibatkan terganggunya pertumbuhan (Rukmana,
2003).

Energi yang dibutuhkan ayam untuk pertumbuhan ayam untuk pertumbuhan


jaringan tubuh, produksi telur, melakukan aktivitas dan mempertahankan suhu
tubuh normal berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein dalam ransum (Rasyaf,
2011). Apabila jumlah energi yang dimakan lebih besar daripada yang diperlukan
oleh tubuh ayam kelebihannya akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam
tubuh (Rukmana, 2003).

Unggas peka tehadap defefisiensi vitamin karena unggas tidak memperoleh


keuntungan dari hasil sintesis vitamin oleh jasad renik dalam alat pencernaan
sedangkan unggas mempunyai kebutuhan tinggi terhadap vitamin untuk
kelangsungan hidupnya (Rasyaf, 2011). Vitamin yang paling penting adalah
vitamin A, D, E, K dan kelompok vitamin B, karena tingginya kebutuhan vitamin
dalam pakan sering ditambahan bitamin buatan (Rukmana, 2003).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 14


2.7.3. Jenis-jenis bahan pakan

Unggas dapat berproduksi dengan baik apabila segala yang dibutuhkan oleh
unggas tersebut terpenuhi, kelebihan dari yang dibutuhkan barulah digunakan untuk
produksi (Rasyaf, 2011). Bahan-bahan pakan yang biasa digunakan dalam ransum
unggas adalah jagung kuning, dedak halus, tepung ikan, bahan-bahan pakan berupa
butiran atau kacang-kacangan dan hasil ikutan pabrik pertanian lainnya (Rukmana,
2003).

2.7.3.1. Jagung giling. Jagung kuning digunakan sebagai sumber energi ransum
dan penggunaanya berkisar 15-70% dari total ransum (Suprijatna et al., 2008).
Selain itu jagung merupakan sumber pigmen xanthofil yang menimbulkan warna
kuning pada kaki dan kulit ayam serta kuning telur. Jagung kuning lebih baik dari
pada jagung putih karena jangung kuning mengandung pro-vitamin A. Jagung
giling memiliki kandungan energi metabolis (EM) 3370 kkal/kg dan protein kasar
sebesar 8,6% (Rasyaf, 2011).

2.7.3.2. Bekatul. Bekatul didapat dari hasil penggilingan kembali beras yang sudah
putih. Bekatul merupakan salah satu sumber energi hal ini dikarenakan bekatul
mengandung sumber karbohidrat tinggi (Suprijatna et al., 2008). Kandungan energi
metabolis (EM) bekatul lebih dari 2860 kkal/kg dan kandungan protein kasarnya
12% (Rasyaf, 2011).

2.7.3.3. Bungkil Kedelai. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber protein
nabati terbaik dibandingkan sumber lain. Bungkil kedelai memiliki kandungan
protein sebesar 41-50% (Suprijatna et al., 2008).

2.7.3.4. Tepung ikan. Tepung ikan terbuat dari ikan dan sisa-sisa ikan, setelah
dikeringkan dan digiling halus. Kandungan protein ikan sangat beragam, tergantung
jenis ikan dan cara pengolahannya (Suprijatna et al., 2008). Tepung ikan memiliki
kandungan energi metabolis (EM) sebesar 2830 kkal/kg dan protein kasar sebesar
63,6% (Rasyaf, 2011).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 15


2.7.3.5. Premix. Premix merupakan feed suplement atau bahan pakan tambahan
yang digunakan untuk pemenuhi atau menyediakan sumber vitamin, mineral dan
atau juga antibiotik (Rasyaf, 2011). Premix memiliki campuran bahan pakan yang
telah diencerkan yang dalam pemakaiannya harus dicampurkan kedalam pakan.
Premix juga merupakan kombinasi beberapa mikro-ingridient dengan bahan
penyerta sehigga merupakan kombinasi yang siap dicampurkan dalam pakan ternak
(Rukmana, 2003).

2.7.4. Metode penyusunan ransum

Metode penyusunan ransum diantaranya yaitu metode segi empat, metode


coba-coba, metode persamaan simulat, metode matriks, dan metode tujuan
berganda. Metode coba-coba yaitu dengan cara megambil suatu bahan ditentukan
sekian persentasenya, dan disesuaikan dengan kebutuhan ternak, bila hasilnya
belsum sesuai dengan kebutuhan ternak dicoba lagi hingga sesuai kebutuhan ternak,
metode ini mudah dan sederhana karena hanya dengan dasar menyamakan
kandungan protein kasar dan energi metabolismenya saja (Rasyaf, 2011). Harga
dan tersedianya bahan makanan akan mempunyai pengaruh menyolok terhadap
pemilihan bahan makanan. Bahan makanan karbohirdat terdapat dalam jumlah
bayak dan harganya relatif murah, bahan makanan protein asal hewan harganya
mahal. Cara paling ekonomis adalah menggunakan bahan makanan protein berasal
dari tumbuhan dan sedikit bahan makanan protein asal hewan tanpa mengurangi
nilai gizi ransum (Rukmana, 2003)

2.8. Pengolahan pasca panen

Telur : merupakan hasil utama dari produksi ayam, utamanya ayam layer.
Terdapat banyak macam olahan yang berbahankan telur, seperti roti, lauk,
asinan, dan lain-lain. Disisi kadar proteinnya yang tinggi telur banyak
diminati oleh masyarakat karena harganya yang terjangkau dan mudah
didapat.
Daging : Daging utamanya diproduksi oleh ayam broiler karena selain
jangka pemeliharaannya yang singkat (40 hari) adalah tingkat produktivitas
dagingnya yang tinggi dalam waktu 40 hari tersebut sehingga efektivitas

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 16


pemeliharaan dapat dicapai. Selain itu daging ayam juga merupakan salah
satu sumber protein yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau dan
dapat diolah menjadi berbagai macam olahan.
Bulu : Selain dapat dijadikan berbagai macan kerajinan, bulu juga dapat
dijadikan sebagai tepung bulu yang merupakan salah satu hasil dari
teknologi pengolahan hasil panen (limbah).
Darah : Darah dapat dijadikan sebagai tepung darah yang bernilai gizi
tinggi yang merupakan salah satu bagian dari hasil teknologi pengolahan
hasil panen.

2.9. Identifikasi penyakit ternak unggas

Berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat dibedakan menjadi indirect


factor atau predisposing dan direct factors. Predisposing penyebab penyakit
biasanya berkaitan dengan stress (cekaman) (Fadilah, 2005). Penyebabnya antara
lain kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi tinggi (overcrowding), tidak cukup
tempat pakan dan minum, serta overmedikasi (pengobatan yang berlebihan).
Demikian pula penyakit yang satu menjadi predisposisi penyakit lainnya. Misalnya,
infectious bronchitis dapat menjadi predisposisi penyakit air sac (kantong udara)
(Suprijatna et al., 2008).

Penyebab langsung penyakit bersifat infeksius dan noinfeksius. Penyakit


infeksius ada yang kontagius maupun nonkontagius. Penyakit kontagius adalah
penyakit yang langsung di transmisi dari individu atau flock kepada individu atau
flock lainnya (Fadilah, 2005). Penyakit infeksius adalah penyakit yang disebabkan
oleh organisme hidup. Sebagian besar penyakit infeksi pada unggas adalah
kontagius, seperti penyakit karena virus, bakteri, riketsia, dan fungi. Sementara
beberapa penyakit infeksi tidak kontagius seperti aspergilosis. Penyakit yang sering
menyerang ternak ayam secara umum berdasarkan penyebabnya dapat
dikelompokkan menjadi cekman (stress), defisiensi zat makanan, parasit, penyakit
karena protozoa, penyakit karena bakteri, penyakit karena virus, dan penyakit
karena cendawan (Suprijatna et al., 2008).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 17


BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Lingkungan Ternak dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 28 November


2014 pada pukul 08.00 11.30 WIB di Laboratorium Reproduksi dan Kesehatan
Hewan Ternak di Instalasi Ternak Ruminansia Besar, Sekolah Tinggi Penyuluhan
Pertanian (STPP) Malang.

3.1. Materi

3.1.1. Anatomi dan identifikasi ternak unggas

Alat yang dibutuhkan pada praktikum anatomi dan identifikasi ternak


unggas adalah alat seksio (pisau besar dan kecil, gunting, scalpel, dan pinset) yang
digunakan dalam proses pembedahan, nampan sebagai tempat meletakkan organ
organ unggas yang telah dipisahkan dari tubuh. Pita ukur (meteran) untuk
mengukur berapa panjang dan lebar ternak unggas, alat tulis digunakan untuk
mencatat hasil pengamatan, mikroskop untuk melihat secara lebih detail apabila
ditemukan cacing yang berasal dari unggas. Bahan yang dibutuhkan adalah ayam
dewasa jantan dan betina.

3.2. Metode

3.2.1. Pengenalan jenis, klasifikasi ternak unggas, sistem organ dan langkah
kerja otopsi/nekropsi unggas

Metode pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas adalah


memperhatikan materi yang diberikan oleh asisten dosen melalui media white
board dan gambar penjelas. Kemudian melakukan pengamatan terhadap
karakteristik eksterior masing masing unggas yang dijadikan obyek selanjutnya
melakukan penyembelihan yang dilanjutkan dengan pencucian bangkai dan
melakukan pembedahan dengan prosedur yang telah ditentukan, lalu mencatat dan
mendiskripsikan mendeskripsikan data data yang disajikan. Adapun rincian
dalam langkah metode :

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 18


1. Memeriksa bagian luar tubuh ayam meliputi mata, bulu, paruh,
kloaka, jengger, pial dan kulit,
2. Memotong unggas dengan cara Dekapitasi (memotong 3 saluran:
vena jugularis, trachea dan esophagus),
3. Membasuh bulu ayam untuk memudahkan dalam proses otopsi,
4. Meletakkan ayam dengan posisi rebah Dorsal (terlentang),
5. Fiksasi ayam dengan cara memotong paha ayam hingga terputus
persendian (Coxofemoralis),
6. Membuat sayatan melintang pada abdomen,
7. Membuka rongga perut dengan cara memotong tulang rusuk kearah
Cranial/hingga Sternum,
8. Membuka rongga dada dengan melepaskan tulang dada/Sternum dan
Clavicula,
9. Mengamati letak organ pada rongga perut dan dada,
10. Melepaskan organ dalam dari rongganya,
11. Mengidentifikasi organ system.

3.2.2. Anatomi dan identifikasi ternak unggas

Metode anatomi dan identifikasi ternak unggas adalah melakukan penyembelihan


sesuai prosedur baru kemudian dilakukan seksio. Membuat sayatan horizontal otot
perut di dekat tulang rusuk hingga pertautan antara tulang dada dan sayap.
Memotong bagian dada dari persendian scapula sehingga bagian tersebut terbuka.
Mengeluarkan dan memisahkan organ organ seperti organ pencernaan, organ
pernapasan, organ reproduksi dan organ urinari. Mengamati organ organ tersebut
apabila terdapat abnormalitas kondisi eksterior maupun interior. Kemudian
mencatat hasil pengamatan pada buku praktikum.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 19


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Anatomi fisiologi eksterior unggas (ayam buras)

A. Tata nama organ eksterior

Bagian organ ayam yang tampak dari luar terdiri dari bagian kepala, leher,
tubuh bagian depan, dan tubuh bagian belakang. Di bagian kepala, terdapat paruh,
jengger, cuping dan pial. Sementara tubuh bagian depan terdapat dada dan sayap
serta di bagian belakang terletak punggung, perut, ekor, paha, betis, dan cakar.

B. Organ pelindung tubuh (Integument)

Kulit dan bulu unggas secara bersamaan membentuk organ pelindung tubuh
yang berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh luar yang buruk. Fungsi kedua
organ tersebut adalah sebagai berikut.

1. Melindungi tubuh dari luka.


2. Memelihara temperatur tubuh supaya tetap konstan.
3. Sebagai sarana untuk terbang.
4. Sebagai reseptor bagi rangsangan dari lingkungan luar.
Kulit
Kulit pada unggas merupakan organ pelindung tubuh yang memberikan
perlindungan fisik terhadap organ-organ yang ada di bagian yang lebih dalam.
Fungsi kulit antara lain sebagai berikut.
a. Melindungi tubuh dari pengaruh temperatur lingkungan, yaitu panas dan
dingin.
b. Sebagai perlindungan terhadap masuknya mikroorganisme secara langsung
ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan di bawah kulit terdapat lapisan lemak
yang mampu mencegah masuknya mikroorganisme.
c. Sebagai reseptor untuk menerima pengaruh rangsangan dari luar. Hal ini
dikarenakan terdapat ujung-ujung syaraf pada kulit.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 20


Kulit pada unggas relatif tipis dibandingkan dengan kulit pada mamalia.
Karakteristik kulit pada unggas ditandai dengan tidak adanya kelenjar keringat
(glandula sebacea), kecuali pada bagian atas ekor, terdapat kelenjar minyak yang
disebut pygostyle atau preen gland (glandula uropygial). Kelenjar tersebut
terdiri dari sepasang kelenjar (bi-lobed), berbentuk alveolar bercabang, tipe
holocrin. Kelenjar tersebut pada ayam berukuran sebesar kacang kapri
sedangkan pada unggas air tumbuh lebih besar. Sekret di kelenjar minyak ini
mengandung safioniviable lipz nonsaponifiable lipid, dan alkohol, tetapi tanpa
kolestrol Pada sel sekretarinya kaya akan nonspecific esterase asam fosfatase.
Minyak yang dihasilkan oleh kelenjar disebarkan ke seluruh tubuh. Caranya,
kelenjar tersebut dipatuk dengan paruh atau disebut preening (menyisir bulu guna
meminyaki bulu supaya tidak basah terkena air. Minyak ini terutama penting bagi
unggas air. Namun, bagi unggas yang lebih banyak hidup di darat hal tersebut
tidak begi penting peranannya. Pada itik, minyak yang dihasilkan memiliki bau dan
rasa yang sangat spesifik dan mengakibatkan cita rasa karkas (daging) kurang
disukai. Oleh karena itu pada saat prosesing unggas air, biasanya kelenjar ini
dibuang untuk menghasilkan karkas yang baik.

a. Struktur kulit

Secara histologic, kulit ayam terdiri dari dua lapis jaringan, yaitu
epidermis dan dermis.

1. Epidermis (outerlayer) adalah lapisan luar, berupa epitel dari kulit yang secara
embrional berasal dari lapisan ektodermal. Epidermis ini terdiri dari epitel pipih
berlapis dan ketebalannya tergantung pada letaknya pada tubuh bulu, paruh, kuku,
dan sisik merupakan perkembangan lapisan epidermis.
2. Dermis (innerlayer) merupakan bagian utama yang terdiri atas jaringan ikat
dan banyak mengandung serabut kolagen. Secara embriologis, dermis ini berasal
messodermal. Perkembangan dermis ini membentuk jengger, cuping, dan pial.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 21


b. Jengger, cuping, dan pial
Pada beberapa bagian tubuh terdapat bagian kulit ya tanpa bulu, antara lain
jengger, pial, cuping, paruh, kuku, dan taji. Jengger dan pial bersifat sensitif
terhadap hormon sex sehingga dapat dijadikan indikator karakteristik secundary
sex, sebagai accesory sexual epidermal. Organ ini merupakan kulit yang menjulur
ke bagian luar. Pada ayam, umumnya epidermis kaya akan pembuluh darah
sehingga organ ini berwarna merah. Hormon sex jantan mengakibatkan jengger dan
pial yang membesar dan tebal serta berwarna merah. Jengger terdapat pada
bagian atas kepala. Jengger ayam jantan lebih besar daripada ayam betina.
Beberapa bentuk jengger yaitu single comb, rose comb, pea comb, cushion,
buttercup comb, strawberry comb, dan V-shaped comb. Selain jengger, juga
terdapat sepasang pial pada bagian kedua sisi rahang bawah di bagian basal
paruh. Cuping telinga bersifat berdaging tebal yang terletak di bagian bawah
telinga. Warnanya bervariasi sesuai dengan masing-masing bangsa ayam.

Ukuran serta tekstur jengger dan pial dalam beberapa memiliki peranan
dalam seleksi bibit untuk menentukan produktivitas seekor ayam betina. Hal
tersebut dikarenakan kondisi organ ini dapat dijadikan indikasi produktif atau tidak
seekor ayam betina. Ayam betina yang sedang serta menunjukkan jengger yang
merah dan menebal serta lunak dan hangat, sedangkan ayam betina yang
produksi menunjukkan jengger yang tipis, kering, dan Jengger yang tumbuh dan
berkembang dengan menunjukkan kinerja produksi dan reproduksi yang baik
dibandingkan ayam yang memiliki jengger kecil.

c. Paruh, kuku, paha, dan cakar

Paruh, jari, dan taji bersifat menulang, tersusun keratin. Pada unggas air,
seperti itik, mentok, dan umumnya memiliki paruh lebih lunak dan kenyal
dibandingkan ayam, yang disebut ceroma.

Pada bangsa ayam, kaki bagian bawah (shank) atau umumnya tertutup oleh
sisik, tetapi pada bangsa mentok terutama yang berbulu total (seluruh tubuh),
bagian tertutup oleh bulu. Sisik pada kaki merupakan penj dari corium yang
padat dan terbungkus oleh epidermis sangat tebal.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 22


Kuku pada ayam sangat keras, bagian yang paling terdapat pada bagian dorsal.
Kuku yang keras ini diselubungi oleh keratin yang banyak mengandung kalsium (c
keratine).

d. Warna kulit

Warna pada kulit terbentuk karena adanya Kombinasi pigmen-pigmen yang


terdapat pada lapisan dan bawah kulit (epidermis dan dermis) akan menghasilkan
warna tertentu. Warna kuning pada cakar (shank) dikarenakan adanya penimbunan
lemak atau krom pada dermis dan tidak adanya pigmen melanin pada dermis atau
epidermis. Oleh karena itu, dalam praktiknya dermis kuning tersebut dapat
dibentuk melalui pemberian pigmen karotenoid dalam pakan. Pada ssat ayam
betina sedang produksi (telur), pigmen kuning ini digunakan untuk pembentukan
warna kuning telur. Apabila pigmen ini tidak terdapat atau kurang dalam ransum
maka pigmen dari cakar ini akan dimobilisasi sehingga terjadi pemucatan.
Oleh karena itu, warna cakar pada bangsa ayam yang memiliki cakar kuning
dapat digunakan sebagai seleksi untuk memilih ayam yang produktif (kondisi
produksi) atau tidak. Variasi warna cakar dan kulit kaitannya dengan pigmen
secara ringkas disajikan pada Tabel 2.1.

TABEL 2.1. Kaitan antara pigmen dengan variasi warna kulit dan cakar (shank)

Pigmen D e r m i s Epidermis Warna Kulit/Cakar


1. Melanin - - Kuning

1. Melanin V v Hitam
2. Lipokrom - v
1.
2. Melanin
Lipokrom V
V v- Biru

1. Melanin V - Hijau
2. Lipokrom - -

2. Lipokrom - V
SurnberWinter dan Funk (1956)

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 23


3. Bulu

Gambar 1. Bagian-bagian dari bulu plumae (Radiopoetra, 1991)

Rd : radioli US : umbilicus superior

Br : barbae UI : umbilicus inferio

R : rachi A : barbulae distal

V : vexillum B : barbulae proxima

C : calamus C : Barbulae basal (tanpa radioli)

Tubuh ayam hampir seluruhnya tertutup oleh bulu. Hal ini menjadikannya
berbeda dengan jenis ternak vertebrate lainnya. Bulu tersusun dari protein yang
disebut keratin. Pada ayam dewasa, bulu mengalami pertumbuhan dan
rontok secara alami. Kemudian, bulu baru tumbuh kembali dalam suatu pola secara
periodik sekitar setahun sekali dibawah pengaruh hormonal. Proses rontok bulu
disebut meluruh atau molting. Selama ayam betina mengalami rontok bulu,
produksi telur berhenti. Bulu merupakan pertumbuhan ke arah luar dari dermis yang
membentuk bulu penutup tubuh (plumae). Ketika baru menetas, tubuh anak ayam

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 24


tertutup bulu kapas atau feather. Selanjutnya, bulu segera berganti dengan bulu
lebih keras, disebut bulu dewasa.

Fungsi bulu bagi ternak unggas sebagai berikut :

1. Sebagai isolator, menjaga panas tubuh.


2. Melindungi tubuh dari luka dan infeksi karena gangguan langsung dengan
benda keras atau tajam.
3. Sebagai sarana untuk terbang.
4. Bertindak sebagai reseptor terhadap rangsangan dari lingkungan
5. Sebagai perhiasan untuk memikat lawan j enis (secundary sex feather).
6. Pada pemanfaatan praktis dapat digunakan untuk deteksi kondisi kesehatan
dan menduga kemungkinan bertelur.

Bobot bulu mencapai 4,9% dari total bobot tubu gantung umur, spesies, dan jenis
kelamin ternak. Pada kebanyakan spesies unggas, bulu tidak menutupi semua
permukaan kulit. Bulu tumbuh secara tera daerah tertsentu yang disebut feather
tract atau pteryla dapat juga disebut pterylae, yaitu kepala, sayap, leher, perut,
paha, dada, kaki, punggung, dan ekor.

a. Bagian-bagian bulu

Bulu tersusun dari suatu akar yang disebut calam tangkai panjang, quill
atau shaft. Pada tangkai, to rachis untuk menjadikan bulu tegak dan keras.
merupakan lanjutan dari quill, selanjutnya merupakan lanjutan dari
barbs. Sementara barbicel merupakan lanjutan dari barbulae. Seluruh bagian
tersebut, kecuali quill, cenderung menghubungkan bagian bersama yang datar.
Hubungan tersebut tidak nyata pads dasar bulu. Konstruksinya yang tidak jelas
menjadikannya bentuk halus dan wring mengakibatkan perbedaan warna
dibandingkan jaringan utama.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 25


b. Pertumbuhan bulu

Saat telur menetas, anak ayam hampir tidak memiliki bulu, kecuali di
ekor dan sayap. Seluruh tubuhnya hanya tertutup oleh bulu halus yang disebut bulu
kapas atau down feather. Kemudian, bulu halus tumbuh memanjang clan sebagian
partikelnya membentuk shaft. Beberapa hari kemudian, shaft muncul dan
terbentuk bulu. Sampai anak ayam berumur 4-5 minggu, seluruh tubuh telah
penuh tertutup bulu. Bulu pertama akan rontok dan terjadi pe rtumbuhan
bulu dewasa sampai umur 8 minggu. Pertumbuhan bulu ketiga ini akan lengkap
sampai ayam menjelang dewasa kelamin. Bulu yang tumbuh ini merupakan
plumae dewasa. Bulu merupakan 4-8% bobot hidup, variasinya berhubungan
dengan umur dan jenis kelamin. Ayam tua dan jantan memiliki persentase yang
rendah.

c. Bentuk bulu

Bentuk bulu dewasa dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu plumae, plumulae,
dan filoplumae.

1. Plumae (countour feathers) adalah bulu penutup tubuh paling luar. Terdiri dari
empat bagian yang membedakannya dengan jelas, yaitu a) quill, b) rachis atau
shaft, c) fluff, dan d) web.
2. Plumulae adalah bulu yang terletak di bagian bawah bulu penutup tubuh,
berbentuk halus dan memiliki rachis yang lebih pendek.
3. Filoplumae adalah bulu halus yang terletak di seluruh permukaan tubuh.

Bulu tidak hanya bervariasi dalam ukuran, tetapi jugs bentuknya dan berhubungan
dengan jenis kelamin. Gonadal hormone memainkan peranan penting dalam variasi
jenis kelamin tersebut. Pada ayam jantan, terdapat bulu yang khas berbentuk
memanjang dengan lebar bulu yang menyempit sebagai secundary sex feather,
yaitu bulu leher (hackle feather), bulu pinggul (sidle fec), ekor (sickle feather). bulu
pinggul (sadle feather), dan bulu sabit pada ekor (sickle feather).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 26


d. Warna bulu

Ada beberapa warna bulu dan beberapa pola warna pads bulu setiap ekor
ayam. Pads beberapa hal, ada perbedaan pads warna tergantung pads lokasi bulu
di tubuh. Warna bulu dan pola bulu adalah karakteristik genetis. Sifat yang me-
nurun ini telah dimanfaatkan oleh ilmuwan untuk membentuk ayam yang warna
bulunya disesuaikan dengan preferensi konsumen.

Kaitan Bulu dengan Lingkungan


1. Abiotik : Pada saat ternak kepanasan maka bulu akan berdiri, sedangkan pada
saat ternak kedinginan ia akan menggigil umtuk meningkatkan panas hingga 3-
4 kali lipat.

3. Kepala

Kepala ayam terdiri dari bagian jengger, mata, kelopak mata, bola mata,
bulu mata, telinga, dawn telinga, pial, dan paruh. Ada beberapa tipe jengger, yaitu
tunggal, rose, pea, cushion, strawberry, walnut, dan v butter cup. Dari beberapa tipe
jengger tersebut, yang paling umum yaitu tunggal, rose, dan pea. Tipe jengger
sebagai akibat interaksi gena, tetapi besar jengger berhubungan dengan
perkembangan gonadal dan intensitas cahaya, yaitu natural atau artifisial. Intensitas
cahaya yang rendah mengakibatkan jengger besar.

4. Kaki dan cakar

Cakar dan sebagian besar kaki tertutup sisik dengan berbagai warna. Warna
kuning disebabkan oleh pigmen karotenoid dari pakan pads epidermis bila pigmen
melanin tidak ada. Variasi warna hitam sebagai akibat pigmen melanin pads
dermis dan epidermis. Apabila terdapat warna hitam pads dermis dan kuning pads
epidermis, cakar tampak berwarna kehijauan. Dalam keadaan sepenuhnya tidak ter-
dapat kedua pigmen tersebut, cakar berwarna putih. Bagian cakar dan kaki adalah
hock, shank atau tulang kering atau cakar, dan toes atau jari-jari kaki. Kebanyakan
ayam memiliki 4 jari kaki di setiap kakinya, tetapi beberapa bangsa ayam
yang memiliki 5 jari kaki.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 27


4.2. Anatomi fisiologi interior unggas (ayam buras)

4.2.1 Sistem rangka

Karakteristik Tulang Ayam

Kerangka ayam berfungsi membentuk kekuatan kerja untuk menyokong


tubuh, tempat pertautan otot, melindungi organ-organ vital, tempat diproduksi sel
darah merah dan sel darah putih pada sumsum, membantu pernapasan dan
meringankan tubuh saat terbang (North, 1978). Secara garis besar susunan tulang
ayam terlihat pada gambar 2a.

Gambar 2a. Sistem tulang pada unggas (Nesheim et al., 1979)

Kerangka dari unggas kompak, ringan beratnya dan sangat kuat. Susunan
pada tulang memiliki partikel yang padat dengan bobot yang ringan dan
kuat. Sehingga beberapa unggas mampu untuk terbang atau berenang seperti pada
unggas air (Akoso, 1993). Tulang punggung pada leher dan ekor dapat digerakkan
dan pada bagian badan memanjang dan hanya satu ruas yang dapat digerakkan.
Tulang punggung tersebut bersatu membentuk suatu susunan struktur yang kaku
yang dapat memberikan kekuatan pada susunan tubuh untuk menopang kekuatan
gerakan dan aktivitas sayap (Nesheim et al., 1972).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 28


Fungsi kerangka tangan dan lengan pada manusia digantikan sayap pada
unggas, begitu pula kaki pada manusia menyerupai pada kaki unggas. Tulang
metatarsus merupakan pengganti jari pada kaki unggas yang berbentuk panjang dan
menyatu pada bagian shank (North, 1978).

Macam Tulang Pada Unggas

Ayam mempunyai banyak macam tulang yang berongga (tulang pneumatik)


yang berhubungan dengan fungsi dari sistem pernapasan. Beberapa tulang tersebut
adalah tulang tengkorak (skull), tulang lengan (humerus), tulang selangka
(clavicle), tulang pinggang (lumbal) dan tulang kemudi atau sacral vetebrae
(Nesheim et al., 1972).

Beberapa tulang pada unggas termasuk suatu tipe yang unik yang di dalam
rongga dalamnya terdapat sumsum tulang. Tulang sumsum merupakan suatu
tulang sekunder baru. Pada ayam petelur tulang sumsum terdiri atas kalsium tulang
yang di dalamnya terdapat ruang sumsum dengan anyaman tulang yang lembut dan
porous yang berfungsi sebagai sumber kalsium untuk membentuk kulit telur bila
kalsium pada pakan rendah. Tulang sumsum terdapat pada tulang kering (tibia),
tulang paha (femur), tulang pinggul (pubic), tulang dada (sternum), tulang iga
(ribs), tulang hasta (ulna), tulang belikat (scapula) dan tulang kuku atau toes
(Nesheim et al., 1978).

Sekitar 12 % dari jumlah keseluruhan tulang pada ayam betina dewasa tersusun atas
tulang sumsum. Ayam dara menjelang produksi telur pertama, 10 hari sebelumnya
mulai membentuk tulang sumsum. Ayam liar tulang sumsumnya menghasilan
cukup kalsium untuk membentuk kerabang, meskipun pada kondisi kalsium pada
pakan rendah pada saat masa bertelur (Nesheim et al., 1978). Penimbunan kalsium
pada tulang ayam betina yang dipelihara hanya dapat mencukupi kebutuhan
pembentukan beberapa kerabang telur. Apabila kandungan kalsium pada pakan
rendah, maka ayam setelah bertelur sekitar 6 butir akan kehilangan sekitar 40% dari
total kalsium tulang (Akoso, 1993).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 29


4.2.2. Sistem otot

Tipe Otot Ayam

Jaringan otot merupakan bagian yang penting yang menyusun bererapa organ
pada tubuh unggas. Secara garis besar ada tiga tipe otot, yaitu: otot polos, otot
jantung dan otot skeletal (Nesheim et al., 1979). Tipe-tipe otot polos tersebut dapat
dilihat pada gambar 2b.

Keterangan: A. Otot skeletal potongan membujur, B. Otot skeletal potongan


melintang, C. Otot polos potongan membujur, D. Otot polos potongan melintang,
E. Otot jantung

Gambar 2b. Beberapa tipe otot pada tubuh (Radiopoetra, 1991)

Secara umum ketiga tipe otot tersebut dapat dijelaskan pada alinea berikut ini:

Otot polos, Otot polos merupakan otot yang menyusun pada saluran
pembuluh darah, saluran pencernaan dan beberapa organ yang dikontrol dibawah
sadar (Nesheim et al., 1979). Otot polos tersusun dari sel-sel yang berbentuk
kumparan halus dengan masing-masing satu nukleus yang terletak ditengah,
berbentuk oval dan mempunyai fibril-fibril yang homogen. Sel-sel tersebut tersusun
dalam lapisan-lapisan yang diikat dengan jaringan pengikat fibrosa (Radiopoetra,
1991).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 30


Otot jantung, Otot jantung merupakan otot penyusun pada organ jantung
(Nesheim et al., 1979). Otot jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot
skeletal, hanya serabut-serabutnya bercabang dan saling beranyaman atau dengan
kata lain otot jantung adalah otot skeletal yang bekerja tanpa sadar atau involunter
(Radiopoetra, 1991).

Otot skeletal, Otot skeletal bekerja dengan sadar dan menyusun sebagian
besar pada karkas ayam. Otot dada (breast), otot gending (thigh), dan otot paha
(leg) merupakan otot skeletal yang penting yang menyusun tubuh ayam. Otot dada
merupakan bagian yang paling besar menyusun pada karkas ayam (Nesheim et al.,
1979). Otot skeletal juga disebut otot lurik atau otot serat lintang. Fibril-fibrilnya
tampak mempunyai jalur-jalur melintang gelap dan terang yang berselang-seling,
karena fisiknya berbeda. Sel-selnya berbentuk silindris dengan diameter sekitar 50
U dan panjang sekitar 2,5 cm atau lebih. Sel-sel otot lurik biasanya mempunyai
banyak nukleus. Otot lurik pada ayam biasanya berkelompok dan diikat dengan
jaringan pengikat, membentuk bundel otot atau muskulus yang mempunyai
bermacam-macam bentuk. Selubung tersebut terikat pada periosteum tulang atau
saling bergabung membentuk tendo yang mengikat bundel otot tersebut pada
skeleton. Sel otot tersebut berkonstraksi bersama-sama sehingga otot tampak
menggembung dan memendek. Otot skeletal biasanya berkonstraksi cepat dan
mempunyai periode istirahat berkali-kali (Radiopoetra, 1991). Secara garis besar
bagian-bagian dari otot pada tubuh unggas dapat dilihat pada gambar 2a dan 2b.

Keterangan: Sartorius (S), gracilis (G), Vastus,


lateralis (VL), Rectus femoris (RF), Vastus
intermedius (VI), Vastus medialis (VM), pectinus
(P), Biceps femoris (BF), Semitendinosus (ST),
Se mimembranosus (SM), adductor (A)

Gambar 2c. Bagian-bagian otot pada paha ayam


(Soeparno, 1992)

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 31


Gambar 2d. Bagian-bagian otot tubuh ayam (Soeparno, 1992)

Macam Otot Ayam

Ayam mempunyai dua jenis/macam otot, yaitu otot merah (red muscle) dan
otot putih (white muscle). Otot merah mengandung mioglobin yang berfungsi
sebagai pengikat besi dan pembawa komponen oksigen, tetapi otot putih tidak.
Mioglobin sama seperti hemoglobin pada manusia, sebagai pigmen warna merah
pembawa oksigen pada darah (Nesheim et al., 1979).

Pada otot merah kandungan lemak lebih banyak dan protein lebih sedikit
dibanding otot putih (Nuhriawangsa, 1994). Begitu juga mioglobin lebih banyak
dibanding otot putih. Aktivitas dari otot juga mempengaruhi warna dari otot, pada
otot paha mempunyai warna lebih gelap dibanding otot dada, karena pada paha
lebih banyak mempunyai cekaman untuk berdiri dan menyangga tubuh dibanding
pada dada. Selain itu bangsa ayam juga mempengaruhi struktur otot, pada ayam
pedaging otot lebih terang warnanya dan lebih besar diameternya dibanding ayam
petelur (North, 1978).

Sesaat setelah penyembelihan otot akan berubah menjadi daging dan mengalami
proses patologis yang dinamakan rigor mortis atau kaku bangkai. Otot berubah
menjadi kaku karena kenaikkan tegangan otot sehingga kehilangan elastisitas. Kaku

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 32


bangkai dimulai dari tubuh bagian depan melanjut ke belakang dan biasanya hilang
dengan urutan yang sama (Akoso, 1993).

4.2.3. Sistem syaraf

Sistem syaraf pada unggas merupakan satu kesatuan yang dapat mengontrol
semua fungsi pada tubuh. Rangsangan syaraf akan disampaikan melalui sistem
syaraf yang terdiri dari sel-sel syaraf ke beberapa pusat syaraf, yang terdapat pada
otak, sumsum tulang dan ganglia (terdapat pada tubuh). Sistem syaraf dibagi
menjadi dua bagian, yaitu sistem syaraf otak atau somatik yang bertanggung jawab
terhadap gerakan tubuh pada kondisi sadar dan sistem syaraf otonom yang
bertanggung jawab dalam koordinasi gerak dibawah sadar seperti pada gerakan alat
pencernaan, pembuluh darah dan kelenjar hormon (Nesheim et al., 1979).

Ayam mempunyai korteks serebral atau neokorteks kecil (pada hewan yang
berintelegensia tinggi berkembang baik). Hipothalamus berfungsi mengatur
kebutuhan pakan dan air, sekresi pituatari anterior, agresivitas dan tingkah laku
sosial (Akoso, 1993).

Sistem saraf berfungsi mengatur semua organ tubuh. Otak merupakan tempat
konsentrasi terbesar sel-sel saraf dan berfungsi sebagai pusat pengatur semua saraf.
Sistem saraf yang berfungsi baik pada ayam yaitu penglihatan, pendengaran, dan
saraf perasa. Sementara itu, sistem saraf penciuman kurang berfungsi. Secara
anatomi, sistem saraf dibagi menjadi dua sistem berikut ini.

Sistem saraf somatis (somatic nerveus system) adalah sistem saraf dalam tubuh
ayam yang dapat menerima rangsangan dari lingkungan luar. Contohnya ketika
ayam dipegang.
Sistem saraf otomatis (automatic nervous system) terdiri dari sistem parasimpatis
(symphathetic autonomic nerveus system) dan sistem saraf arasimpatis
(parasympathetic automatic nerveus sistem). Sistem ini secara umum bergabung
dengan kebiasaan yang sering dilakukan ayam misalnya ketika berkelahi dan
terbang.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 33


4.2.4. Sistem reproduksi

Sistem reproduksi

Organ reproduksi pada unggas adalah ovarium dan oviduct untuk unggas
betina dan testis untuk unggas jantan. Pada unggas betina organ reproduksi bagian
kiri yang berkembang normal dan berfungsi dengan baik (Nesheim et al., 1972),
tetapi untuk bagian kanan mengalami rudimeter (Sarwono, 1988). Untuk kali ini
kita akan membahas lebih detail mengenai organ reproduksi unggas jantan karena
berdasarkan praktikum menggunakan bahan ayam buras pejantan.

Ayam Jantan

Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis (T), epididimis (Ep),
duktus deferens (D.d.) dan organ kopulasi pada kloaka (Cl), secara lengkap
ditunjukkan oleh Nesheim et al. (1972) pada gambar berikut:

Gambar 3. Organ reproduksi dan urinari pada ayam jantan (Nesheim et al., 1979)

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 34


Testis

Testis berjumlah sepasang terletak pada bagian atas di abdominal kearah


punggung pada bagian anterior akhir dari ginjal dan berwarna kuning terang. Pada
unggas testis tidak seperti hewan lainnya yang terletak di dalam skrotum (Nesheim
et al., 1979). Fungsi testis menghasilkan hormon kelamin jantan disebut androgen
dan sel gamet jantan disebut sperma (Nalbandov, 1990).

Epididimis

Epididimis berjumlah sepasang dan terletak pada bagian sebelah dorsal testis.
Berfungsi sebagai jalannya cairan sperma ke arah kaudal menuju ductus deferens.

Duktus deferens

Jumlahnya sepasang, pada ayam jantan muda kelihatan lurus dan pada ayam
jantan tua tampak berkelok-kelok. Letak ke arah kaudal, menyilang ureter dan
bermuara pada kloaka sebelah lateral urodeum.

Organ kopulasi

Pada unggas duktus deferens berakhir pada suatu lubang papila kecil yang
terletak pada dinding dorsal kloaka. Papila kecil ini merupakan rudimeter dari organ
kopulasi (Nesheim et al., 1972).

Kaitan dengan Lingkungan :


1. Abiotik : Pada iklim Tropis ketika cuaca panas hal ini dapat
mengakibatkan stres terhadap reproduksi, seperti menurunnya kualitas dan
kuantitas sel-sel sperma, menurunnya intensitas estrus sehingga sub estrus
(birahi) pendek, menurunnya fertilitas dan ovum yang dihasilkan,
menurunkan kualitas anak yang dilahirkan, menghambat pertumbuhan
fetus, bahkan menyebabkan kematian embrio dini.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 35


4.2.5. Sistem sirkulasi/peredaran darah

Sistem peredaran darah

Sistem peredaran darah pada ayam didukung oleh kerja jantung beserta
dengan salurannya baik pembuluh darah vena (Gambar 4a) dan pembuluh darah
arteri (Gambar 4b), pembuluh darah kapiler dan pembuluh darah nadi (Akoso,
1993).

Gambar 4a. Skema peredaran darah vena pada unggas (Radiopoetro, 1991)

Gambar 4b. Skema peredaran darah arteri pada unggas (Radiopoetro, 1991)

Jantung

Ayam mempunyai jantung yang berbeda dengan lainnya, yaitu mempunyai


empat ruang pada jantung, dua ventrikel dan dua atrium. Pembagian ruang tersebut
untuk mengefektifitaskan kerja jantung sehingga akan terjadi sirkulasi O2 dan

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 36


CO2 dari kantung udara dengan tingkat metabolisme yang tinggi (Nesheim et al.,
1979).

Untuk ayam tipe ringan dewasa, misal ayam petelur White Leghorn mempunyai
denyut jantung 350 kali per menit, ayam breed besar seperti Rhode Island Red
mempunyai denyut jantung 250 kali per menit (Akoso, 1993) dan DOC mempunyai
kisaran 300 sampai 560 kali per menit (Nesheim et al., 1979). Ayam mempunyai
tekanan darah sistol 75 sampai 175 mm Hg dan diastol 140 sampai 160 mm Hg.

Darah

Fungsi darah unggas untuk mengedarkan O2 dan mengeluarkan CO2 dari sel
tubuh, absorbsi nutrisi dari saluran pencernaan dan mengedarkan ke seluruh tubuh,
mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, mengedarkan hormon, mangatur cairan
tubuh dan melawan bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Nesheim et al.,
1979).

Darah ayam berisi sekitar 2,5 sampai 3,5 juta sel darah merah per milimeter kubik
dan tergantung pada umur dan jenis kelamin. Darah ayam jantan dewasa memiliki
500.000 sel darah merah lebih banyak dibanding betina (Akoso, 1993). Ayam
mempunyai kisaran jumlah sel darah putih 15 sampai 35 ribu per milimeter kubik.
Sel darah merah ayam mengandung nukleus dan hemoglobin. Hemoglobin ini
berfungsi untuk membawa oksigen pada darah. Hemoglobin terdapat sekitar 30%
dari total darah pada ayam muda dan ayam petelur dan pada jantan sekitar 40%
(Nesheim et al., 1979).

Limpa

Limpa merupakan organ yang penting pada sistem sirkulasi darah. Organ
ini terletak pada rongga perut berdekatan dengan empedal. Di dalam limpa sel darah
merah dan sel darah putih dibentuk dan limpa bertindak sebagai penyimpan sel
darah merah (Nesheim et al., 1979). Limpa berbentuk lonjong, berwarna merah
coklat dan kenyal. Organ ini penting bagi tubuh karena peranannya dalam

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 37


membentuk sel yang bertanggung jawab terhadap produksi antibodi atau terhadap
reaksi immunoglobi yang lain (Akoso, 1993).

4.2.6. Sistem pencernaan

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan


dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-
jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan khemis
dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Sistem digesti adalah suatu lintasan organ yang menghubungkan antara


lingkungan dengan proses metabolisme alamiah pada hewan (Nesheim et al., 1979).
Pencernaan diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak masuk dalam mulut sehingga
diabsorbsi. Secara garis besar fungsi saluran pencernaan adalah sebagai tempat
pakan ditampung, tempat pakan dicerna, tempat pakan diabsorbsi dan tempat pakan
sisa yang dikeluarkan. (Kamal, 1994). Sistem pencernaan meliputi saluran
pencernaan (paruh, mulut, tenggorok, lambung kelenjar, empedal, usus halus, usus
buntu, usus besar, kloaka, anus) dan alat tambahan (hati, pankreas, lien).

Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan.


Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur
dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal.
Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama
alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan.

Dari empedal makanan yang bergerak melalui lekukan usus yang disebut
duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut
mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti hanya pada spesies-
spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak
yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim
tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati
yang mengandung amilase, memasuki pula duodenum.
Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya
mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 38


enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan
menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida
ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi
tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.
Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir
kedalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat
dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine
mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada
unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).
Unggas mengalami proses pencernaan yang berbeda dengan hewan lain, meskipun
mempunyai kesamaan pada prosesnya. Sebagaimana hewan lain proses pada
saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip:
a. Secara mekanik (fisik). Pencernaan secara mekanik pada unggas berlangsung
pada empedal (gizzard). Pakan di dalam empedal diubah menjadi pasta dengan
adanya kontraksi otot polos empedal dengan bantuan grit. Pencernaan ini
banyak terjadi pada ayam yang dipelihara secara umbaran sehingga
mendapatkan grit lebih banyak daripada ayam yang dipelihara secara
terkurung.
b. Secara khemis/enzimatis. Pencernaan secara enzimatis terutama dibantu
dengan adanya senyawa kimia dan kerja dari enzim yang dihasilkan oleh alat-
alat pencernaan :
a. kelenjar saliva di mulut
b. enzim yang dihasilkan oleh proventrikulus
c. enzim dari pancreas
d. enzim empedu dari hati
e. enzim dari usus halus. Peranan enzim-enzim tersebut sebagai pemecah
ikatan protein, lemak, dan karbohidrat.
c. Secara mikrobiologik. Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya sedikit
sekali) terjadi dengan adanya mikrobia yang ikut berperan dalam proses
pencernaan. Pada ayam pencernaan secara mikrobiologik tidak berperan besar
seperti pada ternak yang lain, hanya sedikit ditemukan mikrobia pada tembolok
dan usus besarnya. Pada tembolok ditemukan beberapa bakteri aktif yang

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 39


menghasilkan asam organik seperti asam asetat dan asam laktat dan juga pada
ceca terjadi sedikit pencernaan hemiselulosa oleh bakteri (Kamal, 1994). Hal
ini utamanya terjadi di sekum dan kolon. Secara umum pencernaan pada
unggas meliputi aspek:
a. digesti yang terjadi pada paruh, tembolok, proventrikulus, ventrikulus
(empedal/gizzard), usus halus, usus besar, dan ceca;
b. absorpsi yang terjadi pada usus halus (small intestinum) melalui vili-vili
(jonjot usus);
c. metabolisme yang terjadi pada sel tubuh yang kemudian disintesis
menjadi protein, glukosa, dan hasil lain untuk pertumbuhan badan,
produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan lemak, dan
menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya.
Saluran Pencernaan :

Saluran pencernaan dapat dipandang sebagai tabung memanjang yang dimulai


dari mulut sampai anus dan pada bagian dalam dilapisi oleh mukosa. Organ
pencernaan atau digesti secara garis besar digambarkan seperti gambar di bawah
ini:

Gambar 5. Sistem digesti dari ayam (Nesheim et al., 1979)

Organ pencernaan pada ayam relatif pendek dibanding dengan mamalia, pada ayam
jantan umur 10 minggu mempunyai panjang 245 cm, dengan rincian seperti pada
tabel 1.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 40


Tabel 1. Panjang saluran pencernaan ayam jantan umur 10 minggu (Jull, 1971)

Organ Panjang (cm)


Mulut + tenggorok 5
Esopagus 31
Proventrikulus 6
Usus kecil 188
Usus besar + lubang pelepasan 15

Mouth (Mulut)

Ayam tidak mempunyai bibir, lidah, pipi dan gigi sejati, bagian mulut atas
dan bawah tersusun atas lapisan tanduk, bagian atas dan bawah mulut dihubungkan
ke tengkorak dan berfungsi seperti engsel (North, 1978).

Lidah unggas keras dan runcing seperti mata anak panah dengan arah ke depan.
Bentuk seperti kail pada belakang lidah berfungsi untuk mendorong makanan ke
oeshopagus sewaktu lidah digerakkan dari depan ke belakang (Akoso, 1993). Lidah
berfungsi untuk membantu menelan makanan. Kelenjar saliva mengeluarkan
sejenis mukosa yang berfungsi sebagai pelumas makanan untuk mempermudah
masuk ke oesophagus (Nesheim et al., 1979).

Di dalam mulut tidak diproduksi amilase (Nesheim et al., 1972). Air diambil
dengan cara menyendok saat minum dengan menggunakan paruh (beak), dan
masuk ke dalam kerongkongan setelah kepala menengadah dengan memanfaatkan
gaya gravitasi (North, 1978).

Oeshophagus (Tenggorok)

Oesophagus merupakan saluran memanjang berbentuk seperti tabung yang


merupakan jalan makanan dari mulut sampai permulaan tembolok dan perbatasan
pharynx pada bagian atas dan proventriculus bagian bawah (North, 1978).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 41


Dinding dilapisi selaput lendir yang membantu melicinkan makanan untuk masuk
ke tembolok. Setiap kali ayam menelan secara otomatis oesophagus menutup
dengan adanya otot. Fungsi oesophagus adalah menyalurkan makanan ke tembolok
(Sarwono, 1988).

Crop (Tembolok)

Crop mempunyai bentuk seperti kantong atau pundi-pundi yang merupakan


perbesaran dari oesophagus. Pada bagian dindingnya terdapat banyak kelenjar
mukosa yang menghasilkan getah yang berfungsi untuk melembekkan makanan.
Crop berfungsi menyimpan dan menerima makanan untuk sementara sebelum
masuk ke proventriculus (Nesheim et al., 1979).

Terjadi sedikit atau sama sekali tidak terjadi pencernaan di dalamnya kecuali jika
ada sekresi kelenjar saliva dalam mulut (North, 1978). Pakan unggas yang berupa
serat kasar dan bijian tinggal di dalam tembolok selama beberapa jam untuk proses
pelunakan dan pengasaman (Akoso, 1993). Hal ini disebabkan pada tembolok
terdapat kelenjar yang mengeluarkan getah yang berfungsi untuk melunakkan
makanan (Sudaryati, 1994).

Proventriculus (Lambung Kelenjar)

Proventriculus merupakan perbesaran terakhir dari oesophagus dan juga


merupakan perut sejati dari ayam. Juga merupakan kelenjar, tempat terjadinya
pencernaan secara enzimatis, karena dindingnya disekresikan asam klorida, pepsin
dan getah lambung yang berguna mencerna protein (Nesheim et al., 1979). Sel
kelenjar secara otomatis akan mengeluarkan cairan kelenjar perut begitu makanan
melewatinya dengan cara berkerut secara mekanis (Akoso, 1993). Karena makanan
berjalan cepat dalam jangka waktu yang pendek di dalam proventriculus, maka
pencernaan pada material makanan secara enzimatis sedikit terjadi (North, 1978).

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 42


Gizzard (Empedal/Rempela)

Gizzard berbentuk oval dengan dua lubang masuk dan keluar pada bagian atas
dan bawah. Bagian atas lubang pemasukkan berasal dari proventriculus dan bagian
bawah lubang pengeluaran menuju ke duodenum (Nesheim et al., 1979). Besar
kecilnya empedal dipengaruhi oleh aktivitasnya, apabila ayam dibiasakan diberi
pakan yang sudah digiling maka empedal akan lisut (Akoso, 1993).

Gizzard disebut pula otot perut yang terletak diantara proventriculus dan batas atas
dari intestine. Gizzard mempunyai otot-otot yang kuat sehingga dapat
menghasilkan tenaga yang besar dan mempunyai mucosa yang tebal (North, 1978).
Perototan empedal dapat melakukan gerakan meremas kurang lebih empat kali
dalam satu menit (Akoso, 1993).

Fungsi gizzard adalah untuk mencerna makanan secara mekanik dengan bantuan
grit dan batu-batu kecil yang berada dalam gizzard yang ditelan oleh ayam
(Nesheim et al., 1979). Partikel batuan ini berfungsi untuk memperkecil partikel
makanan dengan adanya kontraksi otot dalam gizzard sehingga dapat masuk ke
saluran intestine (North, 1978).

Small Intestine (Usus Kecil)

Small intestine memanjang dari ventriculus sampai large intestinum dan


terbagi atas tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Duodenum berbentuk
huruf V dengan bagian pars descendens sebagai bagian yang turun dan bagian pars
ascendens sebagai bagian yang naik. Menurut Akoso (1993) selaput mukosa pada
dinding usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari yang
berfungsi sebagai penggerak aliran pakan dan memperluas permukaan penyerapan
nutrien.

Pada bagian duodenum disekresikan enzim pankreatik yang berupa enzim amilase,
lipase dan tripsin. Ada beberapa enzim yang dihasilkan oleh dinding sel dari small
intestine yang dapat mencerna protein dan karbohidrat (North, 1978). Pencernaan
pakan ayam di dalam usus kecil secara enzimatik dengan berfungsinya enzim-

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 43


enzim terhadap protein lemak dan karbohidrat. Protein oleh pepsin dan
khemotripsin akan diubah menjadi asam amino. Lemak oleh lipase akan diubah
menjadi asam lemak dan gliserol. Karbohidrat oleh amilase akan diubah menjadi
disakarida dan kemudian menjadi monosakarida.

Ceca (Usus Buntu)

Ceca terletak diantara small intestine (usus kecil) dan large intestine (usus
besar) dan pada kedua ujungnya buntu, maka disebut juga usus buntu. Usus buntu
mempunyai panjang sekitar 10 sampai 15 cm dan berisi calon tinja (Akoso, 1993).

Fungsi utama ceca secara jelas belum diketahui tetapi di dalamnya terdapat sedikit
pencernaan karbohidrat dan protein dan absorbsi air (North, 1978). Di dalamnya
juga terjadi digesti serat oleh aktivitas mikroorganisma (Nesheim et al., 1979).

Large Intestine (Usus Besar)

Large intestine berupa saluran yang mempunyai diameter dua kali dari
diameter small intentine dan berakhir pada kloaka (North, 1978). Usus besar paling
belakang terdiri dari rektum yang pendek dan bersambungan dengan kloaka
(Akoso, 1993). Pada large intestine terjadi reabsorbsi air untuk meningkatkan
kandungan air pada sel tubuh dan mengatur keseimbangan air pada unggas (North,
1978).

Cloaca

Kloaka merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan. Kloaka merupakan


lubang pelepasan sisa-sisa digesti, urin dan merupakan muara saluran reproduksi
(North, 1978). Air kencing yang sebagian berupa endapan asam urat dikeluarkan
melalui kloaka bersama tinja dengan bentuk seperti pasta putih (Akoso, 1993). Pada
kloaka terdapat tiga muara saluran pelepasan yaitu urodeum sebagai muara saluran
kencing dan kelamin, coprodeum sebagai muara saluran makanan dan proctodeum
sebagai lubang keluar dan bagian luar yang berhubungan dengan udara luar disebut
vent (Nesheim et al., 1979). Kloaka juga bertaut dengan bursa fabricius pada sisi

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 44


atas berdekatan pada sisi luarnya (Akoso, 1993). Kloaka pada bagian terluar
mempunyai lubang pelepasan yang disebut vent, yang pada betina lebih lebar
dibanding jantan, karena merupakan tempat keluarnya telur (North, 1978).

Organ Tambahan

Organ tambahan mempunyai hubungan dengan saluran pencernaan dengan


adanya suatu duktus yang berfungsi sebagai saluran untuk mengekskresikan
material dari organ tambahan ke saluran pencernaan yang berguna untuk kelancaran
proses pencernaan pakan. Ada tiga organ pencernaan tambahan yaitu hati, pankreas
dan limpa (North, 1978).

Hati

Hati terletak diantara gizzard dan empedu, berwarna kemerahan dan terdiri
dari dua lobus, yaitu lobus dexter dan sinister. Hati mengeluarkan cairan
berwarna hijau kekuningan yang berperan dalam mengemulsikan lemak (North,
1978). Cairan tersebut tersimpan di dalam sebuah kantung yang disebut kantung
empedu yang terletak di lobus sebelah kanan. Makanan yang berada pada
duodenum akan merangsang kantung empedu untuk mengkerut dan menumpahkan
cairan empedu (Akoso, 1993). Hati juga menyimpan energi siap pakai (glikogen)
dan menguraikan hasil sisa protein menjadi asam urat yang dikeluarkan melalui
ginjal (Lehninger, 1994).

Pankreas

Pankreas terletak pada lipatan duodenum. Pankreas mensekresikan cairan


pankreas ke duodenum melalui ductus pancreaticus dan menghasilkan enzim yang
mendigesti karbohidrat, lemak dan protein (North, 1978).

Limpa

Limpa berbentuk agak bundar, berwarna kecoklatan dan terletak pada titik
antara proventriculus, gizzard dan hati (Jull, 1971). Fungsi dari limpa sampai

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 45


sekarang belum diketahui, hanya diduga sebagai tempat untuk memecah sel darah
merah dan untuk menyimpan Fe dalam darah.

Kaitan dengan Lingkungan


1. Abiotik : Saat cuaca panas ternak cenderung kurang dalam mengonsumsi
pakan padat baik itu konsentrat maupun HMT, akan tetapi lebih dominan
dalam mengonsumsi air sehingga persyaratan air akan adlibitun benar-benar
harus dilaksanakan utamanya saat cuaca panas, sebaliknya ketika cuaca
dingin ternak lebih suka mengonsumsi pakan daripada minum. Apabila hal
ini terjadi terus menerus maka ternak dapat mengalami stress sehingga
kesehatan dapat terganggu.
2. Biotik : Pada pemberian HMT biasanya peternak menyesuaikan dengan
karakteristik ternak, misalnya untuk kambing peternak biasanya memberi
pakan dalam bentuk rambanan dan digantung, hal ini berdasarkan selain
dari sifat kambing yang suka memanjatkan kaki depannya untuk merambat
pada pohon rambanan kambing juga tidak akan mau apabila pakan dan
minumnya tercampur dengan kotorannya, selain itu bentuk dan ukuran juga
akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan (palatabilitas), semakin kecil
bentuk pakan yang diberikan maka tingkat konsumsinya akan semakin tinggi
(banyak).

4.2.7. Sistem pernapasan

Sistem pernapasan

Organ Pernapasan

Ayam bernapas dengan menggunakan paru-paru dan kantong udara (air


sacs). Secara umum sistem pernapasan dari unggas didukung oleh beberapa organ,
yaitu lubang hidung, larinx, trakhea, srinx, bronkhi, paru-paru, kantung udara dan
rongga tulang (North, 1978) dan tampak pada gambar 7. Secara umum diuraikan
sebagai berikut:

Lubang hidung (nares anteriores), Lubang hidung (nares anteriores).


Berjumlah sepasang, terdapat pada pangkal rostrum bagian dorsal dan merupakan

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 46


lubang masuk pertama yang berhubungan dengan luar. Nares posteriores (lubang
hidung dalam), terletak pada palatum dan hanya satu buah di tengah (Radiopoetrao,
1991).

Larink (larynx), Larink disokong oleh cartilago cricoidea dan cartilago


arytenoidea yang berjumlah sepasang (Radiopoetra, 1991).

Trachea (trakhea), Trakhea merupakan lanjutan dari larink kearah kaudal.


Berupa suatu pita yang mempunyai cincin-cincin tulang yang disebut annulus
trachealis (Radiopoetra, 1991).

Srink/pita suara (srynx), Srink terdapat pada bagian bifurcatio tracheae,


tersusun dari beberapa annulus trachealis pada bagian kaudal dan annulus
bronchialis pada daerah kranial. Alat ini membatasi bagian yang melebar yang
disebut tympanum (Radiopoetro, 1991). Pita suara atau bagian jakun bawah pada
batang tenggorok (percabangan bronki menjadi dua) ini menghasilakan suara pada
unggas. Pita suara merupakan satu-satunya bagian alat pernapasan yang mampu
menghasilkan suara, sedangkan jakun merupakan bagian pembentuk suara
(Nesheim et al., 1979; Akoso, 1993).

Keterangan: 1. Nares, 2. Glottis, 3. Larynx, 4. Trachea, 5. Syrinx, 6. Bronchi


dan 7. Pulmo

Gambar 6a. Bagian-bagian dari organ pernapasan ayam

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 47


Bronchi (bronkhi), Bronkhi merupakan percabangan dari trakhea
kearah kanan dan kiri (bronchus dexter dan broncus sinister), dengan tempat
percabangan yang disebut bifurcatio trachea. Batang tenggorok ini masih terbagi
lagi menjadi bronchi lateralis yang masing-masing terbagi lagi menjadi
parabronchi (Radiopoetro, 1991).

Paru-paru (lung/pulmo), Paru-paru terdapat pada bagian


ujung-ujung bronkhi berjumlah sepasang dan melekat pada bagian dorsal thorax.
Paru-paru terbungkus oleh selaput yang disebut pleura (Radiopoetro, 1991). Paru
merupakan organ yang sangat penting peranannya dalam pernapasan. Fungsi
utamanya untuk mencukupi oksigen yang diperlukan oleh tubuh untuk pembakaran
dan untuk pembentukan tenaga. Juga berfungsi untuk mengeluarkan sisa
pembakaran yang berupa karbon dioksida dan uap air. Struktur paru-paru ayam
sangat kaku dan selama bernapas hanya terjadi sedikit gerakan mengembang dan
mengempis (Akoso, 1993).

Kantung udara (air sacs), Kantung udara (saccus pneumaticus) terdiri


dari air sac/saccus: abdominalis (aa/terdapat diantara lipatan intestinum),
thoracalis anterior (ata/terletak pada dinding sisi tubuh pada rongga dada sebelah
muka), thoracalis posterior (atp/terletak dibelakang thoracalis anterior),
interclavicularis (ai/terletak di median, hanya satu buah dan berhubungan dengan
kedua paru-paru) dan cervicalis (ac/terletak pada leher dan berjumlah dua pasang).
Semua bagian air sacs tersebut berhubungan dengan cavum pnumaticus
(Radiopoetro, 1991). Kantung udara merupakan suatu rongga dengan dinding
jaringan tipis dan halus sehingga sulit dikenali pada posisi mengempis. Ayam yang
sudah mati sukar diketahui kantung udaranya, karena posisi mengempis, sehingga
perlu pengamatan secara cermat sewaktu bedah bangkai (Akoso, 1993). Kantung
udara selain membantu dalam proses pernapasan pada waktu terbang juga
berfungsi:

a. Membantu mempertahankan suhu luar oleh pengaruh keadaan luar.


b. Membantu memperkeras suara.
c. Meringankan tubuh.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 48


d. Mengapungkan tubuh diudara.
e. Membantu difusi dari darah untuk diekskresikan lewat paru-paru sebagai
uap air.

Gambar 6b. Bagian-bagian dari kantung udara

Mekanisme Pernapasan

Paru-paru letaknya menempel pada tulang rusuk bagian atas pada rongga
dada. Udara yang dihirup karena ada tekanan akan masuk kedalam kantung udara
dan didistribusikan kembali masuk atau keluar dari paru-paru. Distribusi udara
karena aktivitas kontraksi otot pendukung pernapasan pada unggas ada dua cara,
secara inspirasi dan ekspirasi (Neheim et al., 1979).

Berbeda dengan mamalia, unggas mempunyai paru-paru lebih kecil sehingga


memerlukan pendukung yang berupa kantung udara dan rongga tulang (North,
1978). Mekanisme kerja pernapasan pada ayam dengan bantuan kantung udara
dengan dua cara, yaitu pada waktu istirahat dan pada waktu terbang:

Istirahat, Pada waktu istirahat saat inspirasi, costae bergerak ke arah


cranioventral, sehingga cavum thornealis membesar, paru-paru mengembang dan
udara masuk ke dalam paru-paru. Pada saat ekspirasi, costae kembali pada
kedudukan semula, cavum thornealis mengecil, paru-paru mengempis dan udara
keluar. Beberapa otot yang berfungsi pada ekspirasi adalah musculus intercostalis
internus, musculus rectus abdominis, musculus obliquus abdominis externus dan
musculus transversus abdominis.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 49


Terbang, Pada waktu terbang yang berfungsi adalah saccus interclavicularis
dan saccus axilaris. Apabila sayap diturunkan saccus axilaris terjepit, sehingga
saccus interclavicularis menjadi longgar, begitu pula sebaliknya apabila sayap
diangkat saccus axilaris membesar dan saccus interclavicularis mengecil. Pada
peristiwa ini akan mengakibatkan terjadinya pergantian udara pada paru-paru
(Radiopoetra, 1991).

Pernapasan dan Pengaturan Temperatur Ayam

Unggas mempunyai suatu mekanisme yang kompleks untuk mempertahankan


suhu tubuhnya dengan cara melepas dan memproduksi panas. Pengeluaran panas
tubuh pada unggas amat penting karena unggas tidak mempunyai kelenjar
keringat, sehingga kerja dari paru-paru dan air sac amat penting untuk menurunkan
suhu pada tubuhnya. Pengaturan keseimbangan kadar air dan pelepasan panas
banyak dipengaruhi oleh proses inspirasi melaui hidung, saluran pernapasan, paru-
paru dan kantung udara (Nesheim et al., 1979).

Untuk mempertahankan suhu tubuhnya unggas menggunakan mekanisme yang


kompleks dengan cara pengaturan produksi dan pelepasan panas:

Suhu di bawah 80oF. Pada kondisi suhu lingkungan di bawah 80oF unggas
melakukan mekanisme pertahanan suhu tubuh melalui radiasi, konveksi dan
konduksi. Pembuangan panas tubuh melalui seluruh permukaan tubuh, terutama
yang tidak ditumbuhi bulu dan sekitar 40% melalui bagian kepala (mulut, hidung,
comb, pial dan kulit).

Suhu di atas 80oF. Pada kondisi suhu lingkungan di atas 80oF pelepasan
panas melalui mekanisme evaporasi dengan cara pembuangan uap air melalui
saluran pernapasan (panting). Panting merupakan mekanisme yang penting sebab
unggas akan berusaha menjaga temperatur tubuh konstan (dibawah suhu
lingkungan) pada kondisi suhu lingkungan yang tinggi (Nesheim et al., 1979). Pada
kondisi panting ayam mengalami cekaman panas (stress panas) sehingga tampak
megap-megap, tubuh posisi menyentuh tanah dan bulu-bulu ditegakkan dan

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 50


kadang-kadang ayam selalu minum untuk menjaga keseimbangan kadar air dan
pelepasan panas tubuh.

Kitan dengan Lingkungan


1. Biotik : Pada saat kepanasan ternak yang tidak memiliki kelenjar keringat
akan melakukan panting (terengah-engah), hypersalivasi, meningkatkan
konsumsi air dan menurunkan konsumsi makanan padat, meningkatkan
aktivitas pernapasan, dan pada saat cuaca dingin aktivitas pernapasan akan
menurun meski tekanan udara menurun, hanya saja ternak sedikit sesak
bernapas karena tekanan udara tersebut.

4.2.6. Sistem perkemihan

Sistem saluran urine pada ayam terdiri dari dua ginjal (kidneys) dan saluran kemih.
Ginjal berukuran besar dan memanjang yang terletak dekat paru-paru. Saluran
kemih (ureter) menghubungkan ginjal dengan kloaka. Fungsi utama ginjal ada dua,
yaitu sebagai filter untuk menyerap dan mengeluarkan air, elektrolit, dan produk
buangan lainnya dari darah, serta tempat penyerapan kembali gizi (nutrients). Air
kemih ayam berupa asam urat yang merupakan hasil akhir dari metabolisme protein
yang berwarna keputih-putihan.

Kaitan dengan Lingkungan


1. Abiotik : Pada saat cuaca dingin aktivitas kerja ginjal akan lebih aktif
daripada saat cuaca panas, sehingga produksi urine lebih banyak daripada saat
panas.

4.2.7. Sistem panca indera

Sistem indera

a. Penglihatan

Syaraf penglihatan pada otak berkembang baik (lobus opticus), sehingga


mempunyai ketajaman penglihatan (Akoso, 1993). Penglihatan menggunakan
mata, yang menempati sebagian besar pada bagian kepalanya, porsi ini lebih besar
dibanding mamalia. Penglihatan hanya dapat merasakan bentuk permukaan dan

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 51


ukuran, juga tidak dapat membedakan warna dengan baik.
Penglihatan hanya berdasarkan pengenalan bentuk pada ukuran bentuk besar dan
bukan pengenalan luas secara keseluruhan (Nesheim et al., 1979).

b. Pendengaran
Menurut Nesheim et al. (1979) alat pendengaran pada unggas telah
berkembang dengan baik. Hubungan komunikasi yang digunakan dalam
pembicaraan diantara ayam betina dengan anaknya ada beberapa bentuk
komunikasi dengan menggunakan signyal-signyal suara, seperti cara memanggil
anak ayam untuk menarik induknya. Menurut Akoso (1993) telinga ayam secara
anatomi lebih menyerupai telinga hewan jenis reptil, tetapi berkembang baik
walaupun tidak sebaik mamalia.

c. Penciuman

Indera penciuman unggas tidak berkembang baik. Unggas mempunyai


susunan anatomi syarat yang berhubungan dengan penciuman, tetapi tanggap
terhadap bau sulit untuk diketahui secara jelas. Rasa dan aroma merupakan faktor
penting bagi ayam dalam mengenal macam pakan, walaupun demikian ayam
mampu untuk membedakannya (Akoso, 1993).

4.3 Identifikasi Penyakit Ternak Unggas

Ayam kampung atau kita kenal dengan nama ayam buras (bukanras)
merupakan salah satu potensi unggas lokal, yang mempunyai prospek
dikembangkan terutama masyarakat di perdesaan. Ayam buras, selain memiliki
daya adaptasi yang baik dengan lingkungan barunya, juga preferensi konsumen
terhadap ayam tersebut cukup tinggi, hal ini terbukti dengan permintaan konsumen
akan produk unggas ini (daging dan telur) setiap tahunnya mengalami peningkatan.
Di sisi lain, bahwa ayam buras lebih rentan terhadap serangan penyakit
dibandingkan dengan jenis unggas lainnya, seperti itik, entok, angsa dan lainnya.
Kepekaan terhadap penyakit ini, membawa konsekuensi terhadap lambatnya
peningkatan populasi ayam buras tersebut. Beberapa jenis penyakit yang umum

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 52


menyerang pada ayam buras, baik yang bersifat menular (Infeksius) dan non
infeksius (tidak menular) diantaranya :

INFEKSI BAKTERI

a. Pilek-Snot/Coryza
b. Berak Kapur (Pullorum)
c. Berak Hijau
d. Kolera
e. Ngorok-Chronic Respiratory Disease (CRD)/Air Sac/Sinusitis
f. Colibacillosis
g. Penyakit Mata (Oxypilurasis)

INFEKSI VIRAL

a. Tetelo-Newcastle Disease (ND)/Sampar Ayam/Pes Cekak


b. Gumboro-Infectious Bursal Disease
c. Bronchitis-Infectious Bronchitis
d. Avian Pox
e. Marek (Visceral Leukosis)

INFEKSI PROTOZOA

a. Berak Darah/ Koksidiosis (Coccsidiosis)

INFEKSI PARASIT

a. Cacingan (Worm Disease)

Penyakit Bengkak Persendian Tulang Kaki

Faktor Lain

Faktor utama penyebab ayam sakit adalah karena kecerobohan dalam mengelola
peternakan yang diakibatkan oleh faktor-faktor :

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 53


1. Sanitasi yang tidak benar, dengan ciri peternakan menjadi kotor, bau dan
terkesan jorok
2. Tidak melakukan pembersihan rutin dan pemberian obat dan vitamin
kepada unggas yang ada.
3. Dan tidak dilakukannya vaksinasi pada unggas dengan cara yang benar
dengan waktu yang teratur.

Namun, berdasarkan hasil praktikum identifikassi penyakit pada unggas,


diketahui bahwa unggas yang digunakan saat praktikum berada dalam kondisi sehat
karena tidak menunjukan gejala-gejala berada pada kondisi sakit atau berada pada
kondisi stres atau dalam kondisi cekaman karena penyebab-penyeba stres ini sangat
minim. Hal ini sependapat dengan pernyataan Fadilah (2005) yang menyatakan
bahwa berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat dibedakan menjadi indirect factor
atau predisposing dan direct factors. Predisposing penyebab penyakit biasanya
berkaitan dengan stress (cekaman). Juga diperkuat oleh pernyataan Suprijatna et al.
(2008) yang menyatakan bahwa penyebab stres diantara lain adalah kedinginan,
ventilasi yang buruk, populasi tinggi (overcrowding), tidak cukup tempat pakan dan
minum, serta overmedikasi (pengobatan yang berlebihan). Hal-hal ini tidak terjadi
karena sebelum dipakai untuk kebutuhan praktikum, ternak diberi perlakuan yang
baik sehingga penyebab stres lingkungan tidak begitu berpengaruh terhadap
keadaan ternak.

4.4 Formulasi ransum unggas (ayam buras)

Pakan pada ayam kampung memegang peranan yang cukup penting dalam
menentukan pertumbuhan ayam kampung. Meski demikian sebenarnya pakan
untuk ayam kampung tidaklah serumit pakan untuk ayam lain seperti broiler, ayam
petelur dan lain-lain. Bahan pakan yang bisa diberikan antara lain : konsentrat,
dedak, jagung. Selain makanan pabrikan tersebut bisa juga diberikan pakan
alternatif seperti sisa dapur/warung, roti BS, mie instant remuk, bihun BS, dan lain
sebagainya. Pakan alternatif tersebut cukup bisa menghemat biaaya produksi
sehingga keuntungan usaha ayam kampung bisa meningkat. Yang terpenting dalam
menyusun ransum untuk ayam kampung harus memperhatikan kebutuhan nutrisi

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 54


ayam kampung yaitu protein kasar (PK) sebesar 12% dan energi metabolis (EM)
sebesar 2500 Kkal/kg. Untuk Jumlah pakan yang diberikan untuk ayam kampung
disesuaikan dengan usia ayam kampung itu sendiri, seperti berikut:

7 gram/per hari sampai umur 1 minggu


19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
34 gram/per hari sampai umur 3 minggu
47 gram/per hari sampai umur 4 minggu
58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
74 gram/per hari sampai umur 8 minggu

Selain makanan, ayam kampung memerlukan minuman. Minuman diberikan secara


tidak terbatas, disediakan wadah untuk minuman, jika habis ditambahkan lagi
(adlibitum). Dan untuk mendukung keberhasilan budidaya ayam kampung,
diperlukan pula beberapa jenis vitamin yang dapat meningkatkan produktivitas
ayam, baik dari segi kuwalitas, kuwantitas dan evektifitas. Maka perlu ditambahkan
suplemen khusus ternak dengan kandungan :

1. Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan


dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
2. Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine,
Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai
penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh.
3. Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk
kesehatan dan ketahanan tubuh.

Pemberian vitamin yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan


ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak
nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ternak ayam kampung, mengurangi
kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal,
selain diberikan suplemen perlu pula diberikan Hormonik. Hormonik berperan
sebagai zat pengatur tumbuh, di mana keberadaannya akan sangat penting dalam

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 55


membantu meningkatkan pertumbuhan ternak babi. Sehingga budidaya
ternak ayam kampung bisa dilakukan dalam waktu lebih singkat tetapi tetap
mendapatkan hasil yang optimal. Pemberian suplemen, vitamin, dan hormonik
dapat dilakukan dengan mencampur pada air minum yang diberikan sepanjang hari
bisa pula dicampurkan sebagai pembasah pada pakan konsentrat.

4.5 Sistem perkandangan

Perkandangan untuk pemeliharaan ayam kampung sangat tergantung dari


cara pemeliharaan itu sendiri. Pemeliharaan ayam secara ekstensif atau dilepas
hanya memerlukan jenis perkandangan yang seadanya. Kandang hanya berfungsi
untuk tidur pada malam hari. Jenis kandang atau pemeliharaan ternak ayam buras/
ternak ayam kampung secara semi intensif dibuat lebih baik dari kandang untuk
pemeliharaan secara akstensif karena selain untuk tidur pada malam hari, kandang
juga digunakan untuk melakukan aktifitas. Sementara kandang untuk pemeliharaan
ayam kampung secara intensif perlu mendapatkan perhatian khusus. Kandang dapat
dibuat seperti pada kandang ayam ras karena pada pemeliharaan ternak ayam buras/
ternak ayam kampung secara intensif, ayam kampung akan dipelihara secara terus
menerus didalam sehingga kandang berfungsi sebagai tempat tinggal, aktifitas
makan, minum, istirahat, dan berproduksi. Sistem kandang yang digunakan bisa
sama dengan sistem-sistem kandang ayam ras petelur, yaitu sistem liter dan sistem
sangkar. Kepadatan kandang juga perlu diperhatikan. Penggunaan wadah pakan dan
minum juga sama dengan ayam petelur. Penempatan wadah dan pakan minuman
juga sama yaitu ditempatkan secara berdekatan. Pemeliharaan ayam kampung juga
bisa dilakukan secara ekstensif dan intemsif. Pemeliharaan secara ekstensif adalah
pemeliharaan dengan cara dilepas dan ayam dibiarkan berkeliaran mencari pakan
sendiri. Pemeliharaan ini menghasilkan produksi yang rendah. Sementara
pemeliharaan secara intensif yaitu dengan cara mengandangkan ayam. Kebutuhan
ayam seperti meningkatkan produksi. Pada pemeliharaan secara tradisional,
produksi telur rata-rata 30-40 butir per tahun. sementara dengan pemeliharaan
intensif dapat meningkat menjadi 163 butir per 200 hari.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 56


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

Anatomi fisiologi ayam buras dibagi menjadi 2, yaitu anatomi fisiologi


eksterior (kulit, bulu, kepala, kaki dan ceker) dan anatomi fisiologi interior
(system rangka, system otot, system syaraf, system reproduksi, system
sirkulasi darah, system pencernakan, system pernapasan, sistem
perkemihan, dan system panca indera).
Beberapa jenis penyakit yang menginfeksi unggas antara lain disebabkan
karena infeksi bakteri, virus, parasite,protozoa, dan bengkak pada
persendian.
Pemberian ransum pakan harus memperhatikan kebutuhan nutrisi ternak
yang meliputi protein kasar (PK) dan energy metabolis (EM) yang sesuai
dengan usia ternak

1.2 Kritik & Saran

Dalam pelaksanaan praktikum Anatomi Unggas ini terdapat kesalahan-kesalahan,


maka dari itu penulis memberikan saran:

Untuk praktikan harus lebih memperhatikan saat co ass dosen sedang


menerangkan.
Ketika pelaksanaan praktikum sebaiknya praktikan memeriksa kelengkapan
alat-alat yang akan digunakan
Kepada Praktikan harus lebih menguasai cara pembedahan ayam serta
pengambilan dan pemisahan organ agar tidak merusak organ-organ yang
akan di amati, dan memanfaatkan waktu praktikum seefisien mungkin,
sehingga praktikum berjalan dengan baik dan pengolahan data yang
dilakukan pun menjadi maksimal.

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 57


DAFTAR PUSTAKA

http://khepshux.blogspot.com/2012/11/praktikum-produksi-ternak-
unggas_3195.html

http://wisnupratista.blogspot.com/2012/12/sistem-respirasi-pada-unggas.html

http://saehos.blogspot.com/2013/04/ternak-unggas.html

http://www.produknaturalnusantara.com/panduan-teknis-budidaya-
peternakan/panduan-cara-budidaya-ayam-kampung

http://lalat-langau.blogspot.com/2012/05/anatomi-dan-fisiologi.html

http://ternak-ayambroiler.blogspot.com/2011/11/anatomi-ayam.html

http://epetani.deptan.go.id/budidaya/petunjuk-praktis-beternak-ayam-buras-2880

http://www.budidarma.com/2011/06/ternak-ayam-buras.html

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 58


Lampiran

(Alat) (Pencucian) (pencucian)

(Nekropsi/pembedahan) (Pemisahan organ) (rangka ayam tanpa organ)

(Proses pengukuran organ) (Pemisahan organ) (Sistem digesti)

(Sistem peredaran darah)(Pengukuran sistem organ) (Sistem respirasi)

ANATOMI FISIOLOGI TERNAK UNGGAS (AYAM BURAS) 59