Anda di halaman 1dari 4

Menurut Resosoedarmo (1985) suksesi merupakan suatu proses perubahan yang

bertahap secara teratur yang terjadi dalam suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu
sehingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dari komunitas semula atau dengan kata
lain suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju
ekosistem yang seimbang. Akhir proses suksesi yaitu terbentuknya komunitas klimaks.
Komunitas klimaks merupakan suatu komunitas dimana terjadi suatu keseimbangan dengan
lingkungannya atau dapat diartikan suatu komunitas yang mampu bertahan dalam kondisi
normal dari pengaruh lingkungannya. Untuk mengetahui terjadinya suksesi, praktikan
melakukan pengamatan mengenai Perkembagan Ekosistem Protozoa dalam Sistem Buatan
di Laboratorium. Dalam pengamatan ini, digunakan mikroskop karena protozoa memiliki
ukuran tubuh sangaat kecil (kurang dari 1mm) sehingga diperlukan alat bantu berupa
mikroskop untuk mengamatinya. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
potongan jerami seberat 25 gram, lumpur dari air kolam, wadah pop ice, pipet tetes,
mikroskop cahaya, gelas benda dan kaca penutup. Langkah pengamatan terdiri dari 2
kegiatan yaitu pembuatan media dan pengamatan protozoa ......................................................

Tujuan perebusan jerami padi yaitu untuk menghilangkan mikroorgsnisme atau


bakteri yang tidak diinginkan dalam pengamatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu
proses pengamatan. Selain itu, perebusan dilakukan supaya baha-bahan organik atau senyawa
kimia yang terkandung didalam jerami padi dapat larut didalam air, sehingga dapat
digunakan dengan mudah oleh protozoa. Hal ini dikarenakan protozoa merupakan organisme
satu sel (uniselluler), dimana hanya molekul-molekul berukuran kecil yang dapat dicerna oleh
protozoa tersebut. Menurut Saha (2004) kandungan jerami padi yaitu protein, selulosa,
nitrogen, lignin,pentosa, hidrogen, CO2, O2 dan pospat. Air rendaman jerami ditambahkan
lumpur dari air kolam. Hal ini dikarenakan protozoa memiliki habitat didalam lumpur.
Menurut Kastawi (2003) Protozoa hidup di daerah yang lembab atau berair, misalnya di air
tawar, air laut, air payau, tanah, bahkan hidup parasit ditubuh organime lain. Protozoa
berkembang biak dengan cara membelah diri atau secara konjugasi sehingga membuat
perkembangan protozoa menjadi semakin cepat. Adapun hasil pengamatan yang diperoleh
adalah sebagai berikut :

Pada pengamatan hari pertama dan kedua belum teramati adanya protozoa pada
keempat ulangan. Adapun kemungkinan belum ditemukannya protozoa pada pengamatan ini
yaitu protozoa masih berada dalam tahap penyesuaian terhadap lingkungan yang baru, dalam
hal ini yaitu lingkungan yang dibuat oleh praktikan menggunakan medium air rendaman
jerami dengan campuran lumpur kolam. Kemudian pada hari ketiga protozoa mulai tumbuh,
hal ini teramati pada ulangan kedua yang ditemukan protozoa berjumlah 4 dan pada ulangan
ketiga yang berjumlah 1 buah. Menurut Buckle (1985) Pertumbuhan mikroorganisme dalam
suatu ekosistem dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya tersedianya nutrisi, suhu, pH,
dan ketersediaan oksigen.

Pada hari keempat dan kelima protozoa yang teramati semakin banyak, protozoa
teramati pada keempat ulangan. Pada pengamatan hari keempat diperoleh rata-rata jumlah
protozoa sebesar 14,5 sedangkan pada pengamatan hari kelima diperoleh rata-rata jumlah
protozoa yang semakin meningkat menjadi berjumlah 19,75. Jumlah protozoa dari hari ke
hari semakin bertambah. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan protozoa pada hari keenam
yang semakin banyak dari hari sebelumnya serta jumlah protozoa mengalami peningkatan
pada hari berikutnya yang mana mencapai puncak (klimaks ) fase pertumbuhan pada hari ke
10. Adapun hasil yang diperoleh dari pengamatan protozoa dari hari keenam sampai hari ke
sepuluh berturut-turut sebesar 23, 25, 31.75, 32.5 dan 32.75. Pada hari ketiga sampai hari
kesepuluh, protozoa dapat dikatakan mengalami pertumbuhan yang semakin banyak. Hal ini
dikarenakan protozoa menggunakan medium( rendaman air jerami) sebagai sumber makanan
(nutrisi) yang dibutuhkan protozoa untuk melangsungkan hidupnya. Selain sumber nutrisi,
kelangsungan hidup protozoa ditentukan oleh faktor abiotik salah satunya yaitu pH. Pada
pengamatan dari hari pertama sampai hari kesepuluh pH yang teramati yaitu pH netral, dalam
kondisi pH netral akan mendukung protozoa dalam melakukan berbagai macam metabolisme
serta aktivitasnya.

Pada Pengamatan hari kesebelas sampai hari kelima belas, jumlah protozoa
mengalami penurunan dari hari sebelumnya. Adapun hasil yang diperoleh dari hari kesebelas
sampai hari kelima belas berturut-turut sebesar 27, 21.75, 16.75, 9.75, 6.75. Jumlah protozoa
yang semakin menurun salah satunya disebabkan oleh sumber nutrisi yang semakin
berkurang, sehingga terjadi kompetesi antara satu protozoa dengan protozoa yang lainnya.
Sehingga protozoa yang kalah bersaing akan terseleksi. pH medium juga mengalami
perubahan dari pH 7 menjadi pH 8 (bersifat basa). Medium yang semakin basa juga
mengakibatkan populasi protozoa menurun karena umumnya protozoa tidak mampu
melangsungkan hidupnya pada pH yang terlalu basa. pH medium yang berubah menjadi basa
dikarenakan protozoa yang tumbuh dalam medium menghasilkan zat-zat ekskresi hasil
metabolisme yang dapat bersifat racun bagi protozoa tersebut. Menurut Ferdiaz (1995) Proses
oksidasi bahan-bahan organik oleh mikroorganisme serta hasil metabolisme yang dilakukan
oleh bakteri dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut didalam air, yang menyebabkan
penurunan kadar oksigen terlarut. Adapun kurva pertumbuahan protozoa adalah sebagai
berikut :

Secara umum fase pertumbuhan mikroorganisme seperti protozoa, bakteri dapat


diketahui melalui suatu kurva pertumbuhan. Menurut Iqbalali (2001) kurva perumbuhan
mikroorganisme dapat dijelaskan sebagai berikut : behasil melakukan adapat

a) Fase lag : fase ini merupakan fase adaptasi, dimana mikroorganisme berada pada suatu
kondisi lingkngan yang baru, sehingga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
baru tersebut.
b) Fase eksponensial (pertumbuhan) : Mikroorganisme yang behasil melakukan adapatasi
akan tumbuh seiring dengan tersedianya nutrient dalam medium atau disekitar
lingkungannya.
c) Fase stationer : fase ini merupakan fase yang stabil , dimana jumlah mikroorganisme
yang tumbuh sama dengan jumlah mikroorganisme yang mati, sehingga tercipta kedaan
yang konstan. Akan tetapi, umumnya dalam suatu ekosistem, fase ini sulit tercapai.
d) Fase pertumbuhan yang mulai terhambat : Pada fase ini, ketersediaan nutrisi semakin
berkurang karena gigunakan oleh sejumlah mikroorganisme yang tumbuh, sehingga
terjadi kompetisi antar mikroorganisme.
e) Fase kematian (Death phase) : Pada fase ini, nutrien yang tersedia berkurang, terjadinya
penimbunan zat-zat beracun hasil metabolisme menyebabkan mikrrorganisme lama
kelamaan akan mati.

Adapun protozoa yang teramati yaitu Salpingoeca sp. dan Didinium sp. Menurut
Kastawi (2003) Didinuium sp. meruapakan salah satu anggota dari filum protozoa yang
termasuk kelas Cilliata yang memiliki ciri-ciri : bergerak dengan cillia (rambut
getar),berbentungk bulat dan ada y ang oval memanjang, hidup di air yang mengandung za-
zat organik. Sedangkan Salpingoeca sp. merupakan anggota filum protozoa dari kelas
flagellata yang memiliki ciri-ciri : bentuk tubuh menyerupai terompot, hidup di lingkungan
yang lembab, bergerak menggunakan flagel (bulu cambuk). Sebenarnya jumlah protozoa itu
sangat beranekaragam (tidak hanya salpingoeca dan didinium). Akan tetapi yang ditemukan
praktikan yaitu protozoa jenis salpingoeca dan Didinium. Salah satu faktor yang
mempengaruhi protozoa yang terambil yaitu pada proses pengadukan dan pengambilan
protozoa. Pengadukan yang dilakukan secara perlahan dan bagian yang diambil untuk diamati
yaitu pada bagian tengah medium yang tidak bercampur dengan endapan lumpur yang berada
di dasar medium.

Resosoedarmo,R.S. 1985. Pengantar Ekologi.Bandung : Remaja karya.

Fardiaz, S. 1995. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta : Kanisius.