Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH DASAR TEKNOLOGI KULIT

PENYAMAKAN KULIT

Disusun Oleh :
Melvia Tamara Desy 361541333010
Siti Robiah 3615413330

PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TERNAK


POLITEKNIK NEGERI BANYUWANGI
2016

A. SENTRA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DI INDONESIA


Di Indonesia, kulit merupakan salah satu bahan mentah yang
digunakan sebagai bahan utama dalam industri perkulitan dan karya seni.
Kulit dapat diolah menjadi perkamen dan ada yang di samak sehingga
menjadi kulit jadi (leather). Industri kulit mulai berkembang di Indonesia
sejak tahun 1970-an. Pada sektor hulu, terjadi pertumbuhan dari 37 pabrik
berukuran besar dan kecil pada tahun 1975 menjadi 112 pada tahun 1995.
Pada tahun 1975-1990 bermunculan sentra-sentra industri kulit seperti di
Magetan, Garut, dan Madiun. Pada tahun yang sama terjadi peningkatan
jumlah pabrik dari sekitar 200 pabrik menjadi 500 pabrik pada rentang
masa yang sama. Utilisasi industri kerajinan kulit saat ini memerlukan
bahan baku sebanyak 31.000 ton. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan
bahan baku kulit yang dibutuhkan oleh industri kerajinan kulit kurang
mencukupi. Oleh karena itu, hampir 70 persen kebutuhan pengusaha
sepatu, tas, dan barang-barang lain berbahan baku kulit harus dipenuhi dari
kulit impor.
Selain produk yang berasal dari kulit, adalagi produk yang berasal
dari kulit imitasi. Ini dikarenakan produk kulit imitasi juga telah memiliki
pangsa pasar sendiri, yang harganya lebih murah dari kulit asli. Tantangan
selanjutnya yang dihadapi industri produk dari kulit dalam negeri adalah
persaingan dipasar luar negeri yaitu produk kulit dari china. Di pasaran
internasional, tas kulit dari china di pasarkan dengan relatif lebih murah.
Sedangkan produk tas kulit Indonesia yang beredar di pasar luar negeri
harganya lebih mahal. Hal ini disebabkan belum adanya akses langsung ke
pasar luar negeri.Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang melebihi
200 juta jiwa tentunya merupakan peluang pemasaran yang sangat
potensial. Asisten Deputi Ekspor dan Impor kementerian Menneg
Koperasi dan UKM Prijadi Atmadja menambahkan, kualitas kulit yang
dihasilkan dari pengrajin kulit di jawa tergolong terbaik di dunia, Secara
tradisional para peternak seperti sapi dan kambing di jawa mempunyai
kebiasaan memandikan ternaknya hampir setiap hari. Kebiasaan itu secara
tidak langsung membuat kualitas kulitnya menjadi unggul.
Sementara itu, Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali
dalam sambutannya yang dibacakan Guritno Kusumo mengatakan,
industri kulit dan produk kulit sebagian besar merupakan UKM. Industri
kulit UKM ini mampu menyerap 243.000 tenaga kerja atau sekitar 70%
tenaga kerja industri kulit. Industri penyamakan kulit 90% merupakan
UKM, industri kulit Indonesia terdapat di Sidoarjo, Garut, Bogor,
Bandung, Magetan, Papua, Jakarta, Makassar dan Medan.
Perkembangan industri kerajinan kulit di Kelurahan Selosari Kecamatan
Magetan Kabupaten Magetan
Usaha industri kecil dan kerajinan kulit di Magetan telah ada sejak
lama yaitu sejak berakhirnya Perang Diponegoro pada tahun 1830. Pada
saat itu sebagian pengikut Pangeran Diponegoro terletak dari Timur
sampai ke Magetan, kemudian memulai usaha penyamakan kulit dan
selanjutnya dikembangkan produk turunannya yaitu kerajinan kulit atau
produk kulit.
Setelah Indonesia merdeka, usaha kerajinan kulit di Magetan
menjadi sangat terkenal di luar daerah. Dalam perkembangan selanjutnya
usaha tersebut mengalami pasang surut. Pada periode 1950-1960
merupakan masa keemasan bagi pengusaha penyamakan maupun
kerajinan kulit namun pada masa 1960-1970 keadaan berbanding terbalik
dan usaha ini mengalami penurunan yang drastis hingga hampir mati
karena tidak mampu bersaing dengan barang dari plastik kemudian
ditambah lagi dengan bebasnya eksport kulit mentah. Tahun 1974 jumlah
penyamakan dan kerajinan barang kulit tinggal 20 unit usaha, sebelumnya
hampir setiap rumah di dalam kota Magetan mempunyai usaha kerajinan
kulit.
Pembinaan terhadap usaha perkulitan ini dilaksanakan melalui
pendidikan dan latihan dasar ketrampilan baik kerajinan barang kulit
maupun penyamakan. Dalam pelaksanaannyabekerjasama dengan Balai
Penelitian dan Pengembangan Kulit Yogyakarta serta STSRI (Sekolah
Tinggi Seni Rupa) Yogyakarta, ditambah juga dengan mengadakan studi
perbandingan daerah lain yang lebih maju seperti Bandung (Cibaduyut),
Batang (Pekalongan), Yogyakarta, Malang, Surabaya serta masih banyak
usaha lain yang dilakukan dalam rangka menunjang perkembangan
industri kecil dan kerajinan kulit di Magetan.
Untuk memudahkan pembinaan selanjutnya, maka pada tahun
1975 para pengusaha atau pengrajin diarahkan untuk membentuk
kelompok. Pada akhirnya dibentuklah suatu wadah (kelompok) yang
merupakan KUD (Koperasi Unit Desa) Perkulitan dengan anggota
sebanyak 65 orang. Pada tahun 1981 pemerintah melalui Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur berusaha membantu
pengembangan industri kerajinan kulit dengan berdirinya UPT (Unit
Pelayanan Teknis) di Magetan. Melalui proyek penyuluhan industri kecil
pemerintah, BAPIK (Badan Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil)
memberi bantuan berupa penyuluhan dan kursus kepada semua pengrajin.
Kursus dan penyuluhan ditekankan pada cara membuatdesign, cara
bekerja yang efisien dan cara memasarkan hasil produksi. UPT juga
memfasilitasi berbagai peralatan yang berguna bagi peningkatan
industrikerajinan kulit
Magetan merupakan wilayah yang terkenal dengan industri kulit
dari penyamakan sampai barang kerajinannya. Magetan memiliki sentra
penghasil kerajinan kulit diantaranya sentra satu di Kelurahan Selosari,
sentra dua di Desa Kauman dan sentra tiga di Desa Mojopurno. Dari
ketiga wilayah tersebut, sentra satu yaitu di Selosari yang paling terkenal
tepatnya di Jalan Sawo karena merupakan jalur yang dilewati kendaraan-
kendaraan wisatawan untuk menuju telaga Sarangan. Telaga Sarangan
adalah salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Magetan sehingga
letak sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo sangat strategis dan mudah
dijangkau para wisatawan. Jadi sentra satu inilah yang paling ramai
dikunjungi orang, karena setelah dari Telaga Sarangan para wisatawan
tidak segan berkunjung ke pusat kerajinan kulit untuk membeli oleh-oleh
khas Magetan.
Berdirinya sentra industri kerajinan kulit di Selosari merupakan
implementasi dari adanya penyamakan kulit. Lokasi penyamakan kulit
tersebut berada di desa Ringinagung yang letaknya tidak jauh hanya
sekitar 1,5 km/jam dari pusat kerajinan kulit di Selosari. Kegiatan
penyamakan kulit merupakan proses pembuatan bahan bahan baku yang
dibutuhkan oleh pengrajin barang dari kulit sehingga hubungan
penyamakan kulit dengan kerajinan kulit saling menguntungkan.
Penyamakan memproduksi barang mentah menjadi barang setengah jadi
sedangkan kerajinan kulit memproduksi barang setengah jadi menjadi
barang jadi.
Kerajinan kulit yang terletak di Jalan Sawo Kelurahan Selosari
mula dirintis sejak tahun 1960 namun tahun 1950 sudah ada usaha
penyamakan kulit. Pada awalnya hanya beberapa orang saja yang
menekuni bidang kerajinan kulit, tetapi akhirnya meningkat dan terbukti
mulai tahun 1985 di Kelurahan Selosari Magetan mulai berkembang
industri rumah tangga/ home industry dengan jenis produk sandal klasik.
Pada tahun 1990 industri kerajinan kulit di Selosari hanya terdiri dari 13
pengrajin saja. Usaha ini dipelopori oleh beberapa tokoh yaitu Bapak
Susanto, Bapak Supardi, Bapak Siswanto, Bapak Supriadi, Bapak
Kasiman, Bapak Suwito, dan Bapak Usup. Pada awal usaha kerajinan kulit
masih sangat sederhana artinya pengetahuan ketrampilan dalam hal
industri kerajinan kulit masih kurang. Alat-alat yang digunakan masih
sangat terbatas misalnya para pengrajin dahulu belum bisa memiliki mesin
jahit yang sekarang berguna untuk mempermudah produksi. Namun
bersama beberapa tokoh di atas, masyarakat Selosari dibimbing dan
diarahkan untuk bekerja dengan baik sehingga para pengrajin bisa
meningkatkan produktivitasnya.
Unit usaha ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Masing-masing pengusaha atau pengrajin sudah memiliki toko atau
showroomsehingga untuk proses produksi sampai pemasaran sudah
memiliki ruang sendiri. Pada tahun 1991 berdiri perkampungan kerajinan
kulit dengan anggota 9 UKM dan melibatkan 45 tenaga kerja. Tahun 1994
diadakan pelebaran jalan dan berdiri 13 toko sebagai wujud perkembangan
atau rintisan sentra kerajinan kulit. Tahun 2002 resmi berdiri sentra
industri kerajinan kulit dengan jumlah 14 UKM dan 157 tenaga kerja.
Sampai saat ini sudah terdapat 36 UKM dengan 223 tenaga kerja. Unit-
unit usaha tersebut juga sudah mendapat ijin dari pemerintah melalui
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (hasil wawancara dengan Bapak Eko
pada tanggal 15 Januari 2013).
Dalam perkembangannya, selain pengrajin yang sudah mempunyai
toko atau showroom milik pribadi, terbentuk juga suatu kelompok usaha
bersama yang disingkat KUBE. Kelompok ini dikhususkan bagi
masyarakat yang tergolong menengah ke bawahartinya dari segi
perekonomian masih kurang. Tujuannya agar warga yang dicatat sebagai
warga tidak mampu berkesempatan untuk mengembangkan usaha yang
berpotensi yaitu industri kerajinan kulit di wilayah Selosari. KUBE
terbentuk pada tahun 2011 dengan jumlah 15 kelompok, setiap kelompok
beranggota 10 orang. 15 kelompok tersebut tidak semua dalam usaha
kerajinan kulit melainkan 11 kelompok merupakan usaha dalam bidang
kerajinan kulit dan 4 kelompok lainnya dalam bidang olahan pangan.
Dalam 1 kelompok dengan jumlah anggota 10 orang dibentuk struktur
pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan selebihnya
anggota. Hal ini pengrajin bekerjasama dengan pemerintah daerah dengan
bantuan modal sehingga dapat mengatasi pengangguran di Magetan
khususnya Selosari.
Usaha industri kerajinan kulit secara bertahap mengalami
peningkatan tidak hanya di bidang produksi namun pemasarannya
mengalami peningkatan yang pesat. Untuk pasar produksi tidak hanya
sebatas pasar lokal saja namun sudah bisa mencapai pasar regional seperti
Sumatra, Jakarta, Bojonegoro,Probolinggo, Madura, Kertosono, Palu,
Samarinda, Irian, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan lain-lain. Cara lain untuk
mensosialisasikan dan memperkenalkan kepada khalayak masyarakat yaitu
dengan mengikuti pameran-pameran baik di tingkat kabupaten maupun
provinsi. Dengan upaya tersebut maka masyarakat mulai mengenal akan
keberadaan barang kerajinan kulit. Konsumen yang tertarik dengan
industri ini mulai berdatangan ke lokasi karena selain dapat membeli harga
yang lebih rendah dari harga pasar, konsumen juga dapat melihat secara
langsung proses pembuatan kerajinan dari barang kulit.
Dampak perkembangan pada masyarakat Magetan khususnya
warga Selosari menunjukkan peningkatan yang pesat dengan kedatangan
Presiden RI. Tepat pada tanggal 11 Desember 2012 Presiden Republik
Indonesia yaitu Susilo Bambang Yudhoyono beserta para menteri
berkunjung ke Magetan dalam rangka kunjungan kerja. Presiden
didampingi Ibu Ani Yudhoyono, dan puteranya Edi Baskoro Yudhoyono
melihat potensi sektor-sektor unggulan di Kabupaten Magetan, khususnya
sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Kunjungan di Magetan kali ini,
anggota Komisi I DPR RI yaitu Edi Baskoro Yudhoyono bersama
rombongan Presiden dan Ibu Negara mengunjungi sentra industri kecil
kerajinan kulit di Selosari serta meninjau pusat penggemukan sapi potong
di Desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.
Kunjungan Presiden RI memberikan dampak positif terhadap
pengrajin Magetan khususnya di lingkungan Selosari. Secara tidak
langsung hal ini memberikan motivasi kepada pengrajin agar lebih giat
dan tekun dalam mengembangkan usaha kerajinan dari kulit. Selain itu
dampak nyata bagi warga Magetan setelah adanya kunjungan Bapak
Presiden sebagai bentuk kepedulian dari pemerintah pusat dengan
keberadaan sentra kerajinan kulit di Magetan semakin terlihat. Tindak
lanjut dari kunjungan tersebut yaitu diberikan dana bantuan sebesar 3
milyar untuk pengrajin kulit. Dana tersebut dialokasikan untuk
pembangunan gedung yang digunakan sebagai pelatihan dan tempat pusat
hasil produk barang kerajinan kulit. Mengingat 100% bahan baku yang
diproduksi oleh pengrajin penyamakan kulit hanya terserap 6% oleh
pengrajin barang jadi dan sebagian besar dipasok keluar daerah. Artinya
kerajinan kulit yang ada di Magetan masih sangat kecil sehingga perlu
pemberdayaan yang lebih maksimal.
Jenis produk yang dihasilkan dari industri kerajinan kulit di
Kelurahan Selosari antara lain berupa:
1)Sepatu
2)Sandal
3)Ikat pinggang
4)Tas
5)Gelang, gantungan kunci dan accessories lainnya.
Jenis produk unggulan yang dihasilkan dari sentra kerajinan kulit
di Selosari berupa berbagai macam alas kaki seperti sepatu dan sandal.
Dalam perkembangan, usaha kerajinan kulit mengalami peningkatan.
Produk yang dihasilkan tidak hanya sepatu atau sandal melainkan barang
kerajinan dari kulit lainnya seperti ikat pinggang, tas, dan lain-lain. Dari
masing-masing produk tersebut kemudian diberi cat atau pewarna kulit
seperti warna coklat, merah, merah muda, hitam, putih, kuning, hijau.
Namun ada yang sengaja dipertahankan sesuai warna aslinya.
Industri Kulit Garut
Industri kulit yang berpusat di daerah Sukaregang, Kabupaten
Garut ini sudah terbilang sangat lama. Sejak sebelum Indonesia merdeka
dari penjajahan, para perintis sudah mulai melakukan usaha penyamakan
kulit. Para perintis memulainya dengan menyamak kulit secara tradisional
di rumah (home industri). Seiring dengan berjalannya waktu, sistem
pemerintahan yang semakin membaik setelah Indonesia lepas dari
kolonialisme, usaha kulit semakin berkembang. Dengan penawaran
kualitas kulit yang sangat baik untuk kelas nasional, permintaan kulit di
kota Garut semakin banyak dan pengusaha kulitpun semakin banyak.
Pada tahun 1970-an mulailah berdiri pabrik-pabrik penyamakan
kulit. Berbeda dengan industri rumahan atau home industry, pabrik kulit
menyamak dengan proses yang lebih modern menggunakan mesin-mesin
yang lebih dapat meningkatkan produksi. Kapasitas produksi pabrik kulit
semakin meningkat seiring dengan penggunaan teknologi. Garut-pun
semakin sohor dengan hasil kulitnya di Indonesia.
Produksi kulit Garut, mulai dari kulit sapi, kulit kerbau, kulit
kambing, hingga kulit domba mulai merambah dimana-mana. Masyarakat
sekitar Sukaregang yang melihatnya sebagai peluang usaha, mulai merintis
usaha kerajinan dari kulit. Hasil kerajinan tersebut berupa jaket kulit, tas
kulit, dompet kulit, sabuk kulit, sepatu kulit, dan masih banyak lagi produk
kulit lainnya yang dibuat. Produk-produk kulit tersebut semakin terkenal
dan digemari masyarakat, baik masyarakat Garut maupun luar kota.

Foto diambil dari detik.com


Kini ratusan toko kerajinan kulit Garut buka berjejer di kawasan
Sukaregang. Toko-toko yang menjual berbagai produk kerajinan kulit
tersebut berhasil menarik perhatian wisatawan. Omzet penjualan gabungan
seluruh toko yang menjual produk kerajinan kulit tersebut diperkirakan
dapat mencapai sekitar 1.9 Milyar rupiah per hari. Bisa dibayangkan
berapa banyak perputaran uang dari industri kulit di Sukaregang baik
UMKM maupun usaha besar jika dijumlahkan. Angka tersebut sangat
fantastis, bukan?
Perputaran uang yang sangat tinggi pada industri kulit di Kota
Garut ini tidak lepas dari semangat masyarakat yang menggeluti usaha
kulit mulai dari penyamak hingga pengrajin produk akhir atau end
product. Ribuan masyarakat bertumpu pada industri ini. Sebagian
kehidupan ekonomi masyarakat di kota Garut bergantung pada industri
kulit, baik skala kecil maupun besar. Industri kulit Garut mampu
memperluas peluang dan menciptakan lapangan kerja yang sangat
menjanjikan.
Industri Penyamakan Kulit Sukaregang
Kegiatan IPK di Sukaregang Kabupaten Garut telah berlangsung
sejak tahun1920, terdiri dari tiga unit usaha industri rumah. Industri ini
telah mencapai 290 unit, dengan tenaga kerja 1.300 orang, sehingga
disebut Sentra Industri Kecil Penyamakan Kulit Sukaregang.
Pada mulanya proses penyamakan kulit menggunakan bahan
nabati, tetapi sejaktahun 1977 diganti dengan penyamak kimia dan
peralatan dengan mesin. Prosespenyamakan kulit adalah proses mengubah
kulit mentah (hide/skine) menjadi kulit termasak (leather) dengan
menggunakan bahan kimia untuk bahan tas, sepatu, yangmemerlukan
waktu sampai 11 hari. Bahan penyamak yang digunakan adalah
bahankimia Choomosal B, sehingga waktu penyamakan menjadi lebih
singkat, tetapi limbah yang dihasilkan akan mengandung logam berat
kromium.
Proses awal penyamakan kulit adalah membersihkan kotoran;
darah dan sisa protein, agar aman dalam proses persiapan dan
penyimpanan. Dengan tingginyakandungan protein pada kulit, diperlukan
penghentian aktifitas enzym proteolitis, yaitu proses pemecahan protein
menjadi bentuk yang lebih sederhana. Hal ini dilakukan dengan
mengeringkan kulit di udara terbuka dan ditambah garam dapur.Fleshing,
yaitupembuangan daging untuk meratakan kulit dilakukan secara mekanis.
Proses pencucian dan perendaman untuk menghilangkan garam, sisa
darah, kotoran lain dan protein sertamengembalikan kadar air yang hilang
(rehidrasi) pada proses persiapan dan penyimpanan. Untuk memudahkan
penghilangan bulu dilakukan penambahan kapuryang meresap ke pori
kulit, dan penambahan natrium sulfida agar struktur serat kulit membuka.
Proses pengasaman dilakukan sebelum penyamakan krom untuk
mengakhiriaktifitas enzym, sehingga penyerapan krom sempurna. Tahapan
proses selanjutnyaadalah pewarnaan, pengawetan denganCertimolsupaya
tidak berjamur, pengeringan,pementangan, dan akhirnya penyempurnaan
dengan bahan kimia dicampur air (pigmen dan Relcosyn).
B. PERBANDINGAN KONDISI SAAT INI ANTARA INDUSTRI
PENYAMAKAN KULIT DI INDONESIA DAN LUAR NEGERI
Kondisi perekonomian suatu negara dapat dilihat dari nilai
pendapatan nasional negara tersebut yang dipengaruhi oleh sektor-sektor
usaha di dalamnya. Industri pengolahan merupakan salah satu sektor yang
memberikan kontribusi besar terhadap PDB Indonesia. Tabel 1.1
menunjukkan bahwa nilai PDB Indonesia pada tahun 2008 mencapai
2.082,3 triliun rupiah dan sektor industri pengolahan memberikan
kontribusi sebesar 557.764, miliar rupiah.

Salah satu industri pengolahan yang ikut berkontribusi dalam


pendapatan nasional adalah industri penyamakan kulit. Industri ini
mengolah kulit mentah menjadi kulit setengah jadi dan kulit jadi. Kulit
mentah merupakan salah satu bahan baku bagi industri-industri yang
memproduksi barang dari dari kulit. Kulit mentah yang digunakan berasal
dari kulit hewan, seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi, dan lain-lain.
Industri penyamakan kulit telah mengalami perkembangan yang
cukup pesat. Menurut Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI), nilai
tambah yang dihasilkan kulit cukup tinggi yang menjadikannya bahan
baku potensial untuk kepentingan industri hilir barang -barang kulit. Hal
ini dibuktikan dengan pertumbuhan nilai ekspor kulit dan barang kulit dari
Indonesia setiap tahunnya. Sebagai contoh pada tahun 1995, ekspor
mencapai 2,4 miliar Dollar Amerika dan menjadi penyumbang devisa
terbesar ketiga untuk kategori ekspor non-migas.
Negara - negara tujuan ekspor kulit dan barang kulit dari
Indonesia, antara lain Amerika Serikat, China, Hongkong, Itali, Jepang,
Malaysia, Singapura, Thailand, Republik Korea, dan India.
Negarapengimpor terbesar adalah Amerika Serikat diikuti oleh China,
Hongkong, Itali, dan Jepang. Berdasarkan Tabel 1.3, Amerika Serikat
memberikan share paling besar pada tahun 2008 yaitu sebesar 25,60
persen dan di urutan kedua adalah China yaitu sebesar 12,87 persen.
Hongkong memberikan kontribusi sebesar 11,89 persen di posisi ketiga.

Nilai ekspor kulit dan barang kulit dari Indonesia terus meningkat
dari tahun 2004 hingga tahun 2007. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel
1.4, pada periode 2004 - 2008, nilai ekspor kulit dan produk kulit
Indonesia mengalami peningkatan dengan tren sampai 12,9 persen per
tahun.Pada tahun 2008, tercatat nilai ekspor kulit sebesar 354,83 juta
dollar. Pada tahun 2008 mengalami penurunan dimana sebelumnya nilai
ekspor kulit terus meningkat.
Namun pertumbuhan industri penyamakan kulit tidak berlangsung
lama. Beberapa tahun terakhir industri penyamakan kulit mengalami
penurunan kinerja. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan nilai
produksi dan jumlah tenaga kerja yang terlibat sehingga banyak pabrik-
pabrik yang harus gulung tikar. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh
beberapa hal, seperti krisis moneter, kurangnya bahan baku, dan kebijakan
pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri.
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Industri penyamakan kulit
Indonesia kekurangan sekitar 70 persen bahan baku. Karena itu, kalangan
pengusaha penyamakan kulit meminta pemerintah untuk mem buka kran
impor serta membatasi ekspor kulit mentah ke luar negeri. Setiap tahun, 67
pabrik penyamakan kulit dan 120 industri rumah tangga penyamakan kulit
di Indonesia kekurangan pasokan bahan baku sebanyak 3 juta lembar kulit
sapi dan 15 juta lembar kulit kambing/domba.
"Agar industri ini tetap bertahan, pemerintah kami harap membuka
kran impor bahan baku kulit mentah dan pikel dari semua negara," kata
Ketua Umum Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Senjaya
Herlina, Jumat (11/2) di sela Musyawarah Nasional Asosiasi Penyamak
Kulit Indonesia ke-VII di Yogyakarta.
Menurut Senjaya, sejak tahun 1997, impor bahan baku kulit
terkendala peraturan pemerintah yang hanya mengizinkan impor dari
negara yang bebas penyakit mulut dan kuku. Sedangkan, impor ke
beberapa negara yang dinyatakan belum bebas penyakit mulut dan kuku
dihentikan, seperti Brunei Darussallam, Thailand, Vietnam, dan Amerika
Latin.
"Harga bahan baku dari negara yang tidak dilarang impor relatif
lebih mahal 30 persen dibandingkan negara-negara yang dilarang.
Ancaman penyakit itu sebenarnya tidak ada karena para pelaku industri
memiliki obat dan anti bakteri dalam pengolahan," kata Senjaya. Selain
terkendala larangan, pemerintah kini justru membuka lebar-lebar ekspor
bahan baku kulit ke luar negeri, sebanyak 2 juta lembar kulit mentah sapid
an 5 juta lembar kulit mentah kambing dan domba per tahun. Situasi inilah
yang mengakibatkan minimnya persediaan bahan baku industri kulit dalam
negeri.
Jika pasokan bahan baku industri kulit dalam negeri terpenuhi,
diperkirakan kapasitas produksi kulit sapi tersamak di Indonesia yang saat
ini mencapai 60 juta square feet per tahun meningkat menjadi 150 juta
square feet per tahun. Sedangkan, kapasitas produksi kulit tersamak
kambing dan domba yang sekarang 25 juta square feet per tahun melonjak
hingga 100 juta square feet per tahun.
10.000 tenaga kerja Di Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Sleman
dan Bantul industri berbahan baku kulit seperti pabrik alas kaki dan sarung
tangan mampu menyerap sebanyak 10.000 tenaga kerja. Jumlah ini akan
semakin bertambah seiring banyak masuknya perusahaan-perusahaan
industri kulit luar negeri.
"Industri kulit di Yogyakarta sedang meningkat, tapi ketersediaan
bahan bakunya masih minim. Perlu diketahui, produk sarung tangan dari
Yogyakarta banyak digunakan para atlit golf di Eropa, begitu juga sarung
tangan musim dingin banyak diekspor ke sana," kata Ketua APKI DIY dan
Jateng Haryono Sutanto.
Menurut Haryono, kebijakan impor bahan baku kulit terkendala
pula oleh kecurigaan dari pemerintah bahwa bahan baku tersebut akan
dimanfaatkan untuk industri makanan.Menyikapi hal ini, Dirjen Basis
Industri Manufaktur Kementrian Perindustrian Panggah Susanto
mengatakan, Kementrian Perindustrian akan menyampaikan keluhan
kalangan industri penyamakan kulit ke Kementrian Pertanian. Panggah
juga berjanji akan berkoordinasi dengan Kementrian Pertanian untuk
mengubah kebijakan ekspor impor kulit mentah.
peta industri penyamakan kulit ini di Indonesia
Produksi penyamakan kulit di dalam negeri saat ini baru mencapai
5 juta lembar per tahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 40% dengan bahan
baku kulit lokal.
Pasokan bahan baku kulit dalam dalam negeri terus menurun dari
tahun ke tahun. Pasokan baru beranjak naik saat momen Idul Adha atau
hari raya kurban. Namun, tambahan pasokan saat hari raya kurban hanya
mampu memenuhi kebutuhan bahan baku sampai tiga bulan.
Asal tahu saja, jumlah tersebut merupakan 30% kebutuhan bahan
baku kulit selama setahun didapat saat Idul Adha. Kebanyakan produsen
penyamakan kulit bergantung Idul Adha.
Pertama sekali perlu dibedakan antara barang kulit dan kulitnya
sendiri. Kalau untuk kulitnya kami merasa tidak terlalu banyak masalah,
karena kulit Indonesia cukup bagus kualitasnya dan harga relatif bersaing.
Tetapi untuk produk kulit yang berupa barang jadi itu memang suatu
ancaman nyata. Dimana lebih mudah untuk memasarkan produk jadi di
Indonesia dibanding bahan baku kulit. Namun produk kulit jadi yang
beredar di Indonesia kebanyakan berasal dari negeri pesaing, terutama dari
China. Yang terjadi, produk dari China lebih murah dari yang diproduksi
Indonesia. Kalau keadaan begini dipertahankan tentu menjadi ancaman
bagi industri kulit dalam negeri kita.
Jadi dapat disimpulkan dari penjelasan diatas industri penyamakan
kulit di Indonesia dengan industri penyamakan kulit diluar negeri masih
sangat jauh berbeda karena industri penyamakan kulit indonesia masih
mengimpor bahan baku dari luar negeri sehingga masih berkembang
industri penyamankan kulit di luar negeri karena di luar negeri lebih
banyak digunakan untuk bahan bahan kerajinan sedangkan industri
penyamakan kulit di Indonesia lebih bnyak diolah sebagai bahan makanan
oleh karena itu bahan baku untuk penyamakan kulit di Indonesia sangat
sedikit.Industri penyamakan kulit di Indonesia dengan industri
penyamakan kuli diluar negeri sangat jauh berbeda dilihat dari teknologi
dan alat yang dipakai diluar negeri sudah menggunakan teknologi yang
lebih canggih sedangkan di Indonesia masih menggunakan alat yang
terbatas sehingga kualitas yang dihasilkan juga berbeda.
C. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF LIMBAH INDUSTRI
PENYAMAKAN KULIT DI INDONESIA
Sumber dan Karakteristik Limbah cair.
Menurut David Winter 1984, penggunaan air untuk proses
penyamakan kulit dari tahun ke tahun ada kecenderungan semakin
menurun. Dijelaskan pada tahun 1962 pemakaian air 103 l/ kg tahun 1975
sebanyak 71 l/kg tahun 1977 turun menjadi 40 l/kg kulit yang diproses.
David Winter 1984 dan Clonvero 1987 cenderung memilih penggunaan air
untuk proses ini sebanyak 45 l/kg kulit yang diproses.
Di Indonesia sampai saat ini belum ada penelitian khusus tentang
penggunaan air untuk tiap 25 kg kulit namun berdasarkan pengamatan
pemakaian air berukuran antara 30-70 l/kg kulit mentah.
Tabel I
Kisaran Pemakaian Air pada Proses Penyamakan Kulit.
Macam Proses Pemakaian air l/kg kulit mentah
Kulit besar (hide) samak krom. 30- 50
Kulit besar (hide) samak nabati. 20- 40
Kulitkecil (skin) 30- 60
Kulit kecil (skin) berbulu tersamak 50- 100
Sumber data: Clanfero 1993
Dilihat dari asal bahan pencemar, maka sumber dan sifat air limbah
industri penyamakan kulit dapat dibedakan pertahapan proses sbb:
Perendaman ( Soaking).
Air limbah soaking mengandung sisa daging, darah, bulu, garam,
mineral, debu, dan kotoran lain atau bahkan bakteri antrax. Pada proses
perendaman air limbah cairnya berbau busuk, kotor, dengan kandungan
suspended solid 0,05- 0,1 %. Menurut ESCAP 1982, volume limbah
soaking berkisar antara 2,5- 4 l/kg kulit, pH 7,5- 8. Total Solid 8.000-
28.000 mg/l. Suspended Solid 2.500- 4.00 mg/l.
Selain itu UNEP 1991 menambahkan bahwa air limbah soaking juga
mengandung garam dan bahan organic lain yang akan mempengaruhi
BOD,COD,SS.
Buang bulu dan pengapuran ( Unhairing dan liming).
Air pada proses ini berwarna putih kehijauan dan kotor, berbau
menyengat, pH air limbah pada proses ini berkisar antara 9-10,
mengandung kalsium , natrium, sulfide, albunin, bulu sisa daging, dan
lemak. Suspended solid 36%. Menurut CTTE 1979, ESCAP 1982, bahwa
air limbah pada proses unhairing mengandung total solid 16.000-45.000
mg/l, suspended solid 4.500-6.500 mg/l. BOD 1.100-2.500 mg/l, pH
berkisar 10-12.5. Dampak yang ditimbulkan akibat buangan dalam proses
tersebut adalah bahwa air limbah berpengaruh tehadap air, tanah, dan
udara. Pengaruh terhadap air terutama pada BOD, COD,SS, alkalinitas,
sulphida, N-Organik, N- ammonia. Adanya gs H2S pada pencemaran ini
menyebabkan terjadinya pencemaran udara.
Air limbah buanagan kapur ( Deliming).
Air limbah pada proses deliming mempunyai beban polutan yang
lebih kecil dibanding dengan unhairing dan liming. Menurut CTTE
1979,ESCAP 1982, air limbah pada proses tersebut mempunyai pH 3-9,
total solid 1.200- 12.000 mg/l, suspended solid 200- 1.200 mg/l dan BOD
1.000- 2.000 mg/l. UNEP menambahkan bahwa air limbah tersebut akan
menyebabkan pencemaran air berupa BOD,COD, DS, dan N- ammonia.
Kemudian adanya ammonia akan menimbulkan pencemaran udara.
Air limbah pengikisan Protein (Degreasing).
Pada proses ini air limbah yang dihasilkan pencemaran air yang
ditunjukkan dengan tingginya nilai COD,BOD,DS dan lemak. (UNEP
1991).
Air limbah Pikel ( Pickling) dan Krom ( Tanning).
Air limbah dari proses ini akan mengandung bahan protein, sisa
garam, sejumlah kecil mineral dan crome velensi 3 yang apabila tercampur
dengan alkali akan terbentuk chrome hidroksida, pH berkisar antara 3,5-4,
suspendid solid 0,01-0,02 % ( Koziowroski dan Kucharski 1972).
Sedangkan CTTE 1979, ESCAP 1982, membedakan antara air limbah
partikel dengan penyamakan chorome sbb:
1). Air limbah pikel volume 2-3 l/kg kulit, pH 2,9-4, total solid 1.6000-
45.000 mg/l, suspended solid 16.000- 45.000 mg/l, dan BOD 800-
2.2000 mg/l.
2). Air lmbah samak chrome, volume 4-5 l/kg, pH 2,6-3,2, total solid
2.400- 12.000 mg/l, suspended solid 300-1.000 mg/ l dan BOD 800-
1.200 mg/l.
3). Selain yang tersebut diatas UNEP menambahkan bahwa air limbah
pikel dan krom akan menimbulkan pencemaran air berupa BOD, COD,
SS, DS,, asam garam krom, dan sisa samak nabati.
Air limbah Gabungan Termasuk Pencucian.
Pada buangan air limbah gabungan ini ESCAP menjelaskan
untuk volume air 30-35 l/kg, pH berkisar antara 7.5-10, total solid 10-
25 mg/l, suspended solid 1.250- 6.000 mg/l dan BOD 2.000- 3.000
mg/l.
Untuk lebih jelasnya beban pencemaran air limbah penyamatan
kulit dari beberapa tahapan proses dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 2
Beban Pencemaran air limbah penyamakan kulit dari
beberapa tahapan proses.
Parameter. COD BOD S CR N.NH3 Lemak TSS pH
Jenis air (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l)
Limbah
Soaking 40.576,48 17.000 991.1. 0 207.68 944 31.204 12
Pengapuran 10.964.64 3.500 448 0 16.35 632 4.154 12
Buang bulu 18.555.36 5.800 86.75 0 57.68 12.547 27.085 5
Pikel 7.454,9 2.400 147.2 6.254 217.28 10.120 17.084 4
Samak
Krom
Sunaryo,dkk 1993.
2. Sumber dan Karateristik Limbah Padat.
Di dalam proses penyamakan disamping limbah cairjuga
menghasilkan limbah padat sebagai hasil samping. Dikatakan hasil
samping karena dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,
misalnyasebagai bahan makanan,obat-obatan, kosmetik, pupuk,
kerajinan, dan bahan bangunan lainnya. Bahan padat yang dimaksud
antara lainbulu, sisa trimming,fleshing, sisa split,shaving, buffing, dan
Lumpur.
DAMPAK NEGATIF LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN
KULIT TERHADAP KESEHATAN MANUSIA DAN IKAN.
Didalam Industri Penyamakan kulit menggunakan bahan-
bahan pembantu yang tersusun dari senyawa- senyawa kimia. Ada
yang berwujud bubuk, kristal, maupun cair, semi liguid yang
berbahaya terhadap kesehatan manusia. Bahan- bahan kimia tersebut
akan kontak dengan pekerja Industri Penyamakan Kulit dengan
berbagai macam cara, yaitu melalui kontak dengan kulit atau dengan
cara penghirupan dalam bentuk gas atau uap..
Bahan bahan yang bersifat korosif dapat menyebabkan
kerusakan pada bagian tubuh yang terkena tumpahan ke kulit, mata
atau juga bisa terminum, tertelan, maupun terhirup ke paru- paru.
Dibawah ini akan dijelaskan akibat yang ditimbulkan apabila
kontak dengan bahan- bahan yang bersifat korosif/ beracun.
1. Natrium Sulfida (Na2S), berfungsi pada buangan bulu pada industri
penyamakan kulit. Berupa kristal putih atau kekuningan. Bereaksi
dengan karbon. Bersifat tidak stabil, sehingga dalam proses
penyimpanannya harus dijaga agar terhindar dari pemanasan karena
dapat meledak.
2. Asam Sulfida (H2SO4), bersifat korosif dan bersifat racun terhadap
jaringn kulit. Kontak dengan kulit menyebabkan terbakar, sehingga
merusak jaringan. Penghisapan kabut/ uap asam sulfat dapat
menyebabkan inflamasi pada tenggorokan bagian atas sehingga
menyebabkan bronkitis, dan bila kontak dengan konsentrasi tinggi
dapat menyebabkan kolaps.
3. Asam Klorida (HCL), bahan ini merupakan bahan pengoksidasi yang
sangat kuat.Berbahaya jika terkena panas. Pengaruhnya terhadap
kesehatan manusia yang akan menghasilkan methemoglobin dalam
darah serta akan merusak butir- butir darah merah pada akhirnya akan
merusak buah ginjal juga otot- otot hati.
4. Asam Format ( HCCOH), bahan mudah terbakar dapat menyebabkan
iritasi pada kulit, mata, membran mukosa.
5. Amonium Hidroksida (NH4OH), suatu bahan apbila dipanaskan akan
mengeluarkan racun yang berbahaya bagi kesehata, uapnya bersifat
racun.
6. Natrium Hidroksida (NaOH), berbentuk padat atau larutan bersifat
korosif pada kulit manusia apabila kontak terlalu lama, dapat
menyebabkan kerusakan jaringan tubuh manusia. Penghisapan pada
hidung dapat menyebabkan iritasi pada membran mukosa.
7. Senyawa Benzidin (NH2 C6 H4 NH2), apabila kontak dengan kulit
dapat menyebabkan iritasi, dapat menyebabkan kerusakan pada darah
(hemolisis), apabila terhisap menyebabkan mual, muntah-muntah dan
pada akhirnya diikuti dengan kerusakan hati.
8. Kalium Permanganat (KMNO4), sangat iritasif, debu KMNO4 sangat
beracun, dapat terhisap melalui pori-pori, dapat menyebabkan
kerusakan pada paru-paru, pernafasan pada bagian atas .
9. Formalin (HCHO)., iritasi pada kulit mata membran mukosa apabila
tertelan dapat menyebabkan muntah, diare, kolaps. Bersifat
karsinogenik terhadap paru-paru.
10. Arsen (AS), arsen bila tdapat terhisap melaluerhisap maka dapat
menimbulkan menyebabkan muntah, mual dapat terhisap melalui maka
dapat menimbulkan menyebabkan muntah, mual, diare. Kerusakan
arsen menyebabkan kelainan sistem syaraf , kerusakan hati, gangguan
sistem pembuluh darah, pigmentasi kulit serta dapat menyebabkan
kanker.
11. Naftol (C10HOH), apabila terhisap dapat menyebabkan mual, muntah,
diare, bahkan anemia. Naftol dapat diserap oleh kulit.
12. Phenol (C6H3OH), penyerapan larutan phenol pada kulit terjadi
dengan cepat. Kontak dengan larutan phenol selama 30 menit sampai
beberapa jam dapat menyebabkan kematian, untuk kontak dengan kulit
seluas 64 inchi. Gejala yang timbul apabila seseorang keracunan
phenol yaitu pusing, otot lemah, pandangan kabur, telinga berdengung,
napas terengah-engah.
13. Krom (Cr), yang bersifat asam sangat bersifat korosif pada kulit serta
membran mukasid (selaput lendir). Kontak dengan Cr secara langsung
dan terus menerus bagi kulit yang sensitif akan menyebabkan koreng
(ulcer) selebar ujung pensil di sekitar kuku maupun punggung tangan.
14. Terlihat bahwa insang tidak mengalami kondisi seperti peradangan,
perubahan warna, dan nekrosis. Hal ini menunjukkan bahwa adanya
kandungan zat anorganik berupa logam Krom pada limbah buangan
pabrik di Sungai Gajah Wong tidak mempengaruhi kondisi insang ikan
nila.
DAMPAK POSITIF LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN
KULIT.
Penambahan enzim protease pada proses penghilangan bulu
mempunyai dampak positif terhadap lingkungan. Pada kasus pengujian
dengan penggunaan enzim protease untuk penyamakan kulit sapi,
terlihat bahwa penggunaan enzim mempunyai manfaat sebagai berikut:
Menurunkan BOD dan COD, masing-masing 12,8 % dan 32,3 %
dibandingkan dengan cara penyamak konvensional,
Mengurangi bahan pencemar yang ditimbulkan dalam proses
penyamakan kulit,
Menciptakan kondisi yang lebih aman baik untuk pekerja, lingkungan
maupun masyarakat
DAFTAR PUSTAKA

Anditya, Resti. 2011. ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA


INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT INDONESIA. Skripsi.
Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia. 2007.Profil Spesifikasi Kulit Tersamak
Indonesia.http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNADQ564.pdf. [4 April
2011]
Badan Pusat Statistik. 1990-2008.Statistik Industri Besar dan Sedang 1990-
2008.Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2000.Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLU)
IndustriBesar dan Sedang. Jakarta.
Business News. 2011.Industri Penyamakan Kulit Butuh Perhatian
Pemerintah.http://www.businessnews.co.id/featured/indust-
penyamakan-kulit-butuh-perhatian-pemerintah.php/htm. [3April
2011].
Disperindag. (2005). Profil Sejarah Berdiri Lingkungan Industri Kulit
(LIK).Magetan : Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Mardianto,L. 2008. Teknik Penyamakan Kulit. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta
Pernawa, S. (1996). Desain Kerajinan Kulit. Yogyakarta: Depdiknas.
Pawiroharsono, Suyanto. 2008. Penerapan Enzim Untuk Penyamakan Kulit
Ramah Lingkungan. J. Tek. Ling. 9(1):51-58.
Sunarto. (2001). Pengetahuan Bahan Kulit Untuk Seni dan Industri.
Yogyakarta: Kanisius.
Sadana, Fernandez Ngariswara Vidsia, Yuniarti Aida, Lorensia Indah
Murwani Yulianti. 2011. DAMPAK KROM PADA LIMBAH
BUANGAN INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DI SUNGAI
GAJAH WONG TERHADAP MORTALITAS DAN
MORFOLOGI SISIK DAN INSANG IKAN NILA HITAM
(Oreochromis niloticus). Skripsi. Fakultas Teknobiologi,
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Tiyas, I.W. (2009). Analisis Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat
Pendapatan Industri Kecil Sepatu Kulit di Kabupaten Magetan.
Surabaya : Universitas Pembangunan Nasional.