Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH INTERAKSI JAMU

Review Interaksi Jamu Herbal Apium graviolens L. dengan


Obat, Makanan, dan Suplemen
HALAMAN JUDUL

Oleh :
Kelompok 4

Stella Christa Santoso 172211101008


Ayunda Nur Hidayatiningsih 172211101010
Amirotu Sajidah 172211101023
Meylani Nur Riskiana 172211101026
Elsa Dwi Hidayanti 172211101043

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
BAB 3. PEMBAHASAN ...................................................................................... 5
3.1 Interaksi Seledri dengan Obat ........................................................ 5
3.1.1 Interaksi seledri dengan warfarin .............................................. 5
3.1.2 Interaksi seledri dengan anti-lipid............................................. 5
3.1.3 Interaksi seledri dengan sedatif ................................................ 5
3.1.4 Interaksi seledri dengan analgesik (parasetamol dan
aminopyrine) ............................................................................ 6
3.1.5 Interaksi seledri dengan anti-diabetes ...................................... 6
3.1.6 Interaksi seledri dengan anti-hipertensi .................................... 6
3.1.7 Interaksi seledri dengan NSAID............................................... 7
3.2 Interaksi Seledri dengan Suplemen/Makanan .............................. 7
3.2.1 Interaksi seledri dengan Psoralens ........................................... 7
3.2.2 Interaksi Seledri dengan Suplemen yang Memetabolisme
Cytochrome P450 ..................................................................... 8
3.2.3 Interaksi Seledri dengan Antioksidan....................................... 8
BAB 4. PENUTUP ................................................................................................ 9
4.1 Kesimpulan ....................................................................................... 9
4.2 Saran ................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 10

ii
iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Selama beberapa tahun terakhir, penggunaan obat-obatan herbal di
kalangan masyarakat umum telah meningkat. Banyak laporan menunjukkan
bahwa obat-obatan herbal sering dikonsumsi bersamaan dengan terapi
konvensional. Meskipun obat-obatan herbal umumnya dianggap aman bila
digunakan tunggal pada dosis dan waktu yang dianjurkan, ada peningkatan bukti
interaksi obat dengan herbal yang dapat menyebabkan efek samping yang serius
atau kegagalan terapi dengan obat-obatan konvensional (Putri dan Rusdiana,
2017). Dalam interaksi obat dengan herbal, tidak semuanya memiliki efek yang
merugikan. Beberapa herbal dilaporkan berinteraksi dengan obat dan hasilnya
menguntungkan, seperti mengurangi toksisitas atau mengurangi efek samping lain
yang mungkin dialami. Beberapa herbal juga meningkatkan atau menurunkan
metabolisme obat sehingga mempengaruhi ketersediaan obat.
Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat berubah akibat adanya obat lain,
makanan, minuman ataupun bahan lain (Gitawati, 2008). Interaksi tersebut dapat
menghasilkan efek yang memang dikehendaki (desirable drug interaction) atau
efek yang tidak diinginkan (undesirable/adverse drug interaction). Obat herbal
biasanya merupakan campuran banyak bahan aktif, yang dapat mengakibatkan
konsentrasi terapi obat rendah/tinggi dan dapat menyebabkan berkurangnya efek
maupun efek samping yang tidak diinginkan. Interaksi obat-herbal didasarkan
pada mekanisme farmakokinetik dan farmakodinamik yang sama dengan obat-
obat yang dapat mengakibatkan perubahan dalam konsentrasi plasma (Usia et al.,
2005).
Di Indonesia, tanaman seledri (Apium graveolens L.) sudah lama dikenal
sebagai bahan obat tradisional. Pada awalnya seledri dikenal sebagai bahan
pelengkap sayuran. Namun, berdasarkan hasil analisis secara farmakologis
ditemukan bahwa hampir semua bagian dari tumbuhan tersebut memiliki khasiat

1
sebagai obat. Akar seledri berkhasiat sebagai diuretik dan skomakik. Biji dan
buahnya berkhasiat sebagai antispasmodik, menurunkan kadar asam urat darah,
antirematik, karminatif, afrodisiak, dan sedatif. Seledri juga bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah (hipotensif), pembersih darah, memperbaiki fungsi
hormon yang terganggu, dan mengeluarkan asam urat yang tinggi. Setelah diteliti
lebih lanjut, seledri juga berperan sebagai antikanker (Arisandi dan Asep, 2016)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana interaksi antara tanaman herbal seledri (Apium graveolens L.)
dengan obat ?
2. Bagaimana interaksi antara tanaman herbal seledri (Apium graveolens L.)
dengan makanan/suplemen?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui interaksi antara tanaman herbal seledri (Apium graveolens L.)
dengan obat
2. Mengetahui interaksi antara tanaman herbal seledri (Apium graveolens L.)
dengan makanan/suplemen

2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi tanaman seledri adalah sebagai berikut :


Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Umbelliferales
Famili : Umbelliferae
Genus : Apium
Species : Apium graveolens L.
Seledri biasanya tumbuh dengan ketinggian 1 sampai 2 kaki. Batangnya
agak keras dan bergalur, memiliki daun majemuk (segmented) dengan tepi
bergerigi. Selama bulan Juni dan Juli, mengeluarkan bunga kecil yang berwarna
putih yang nantinya berkembang menjadi buah dengan biji yang halus. Tanah
yang basah dengan sifat asam merupakan lingkungan pertubuhan yang sesuai
untuk seledri. Biji seledri memiliki bau yang khas dengan rasa agak pahit.

Gambar 2.1 Bagian tanaman seledri

3
Daun seledri berupa daun tipis, rapuh, bentuk belah ketupat miring, panjang 2-8
cm, lebar 2-5 cm, pangkal dan ujung anak daun runcing, panjang tangkai anak
daun 1-3 cm. Herba seledri berwarna hijau tua dengan bau dan rasa yang khas
Senyawa fenol yang ada dalam seledri terdiri dari flavonoid apiin,
apigenin, dan isokuersitrin. Senyawa lain yakni tannin, selerin, bergapten,
apiumosida, apiumetin, apigravrin, ostenol, isopimpinellin, isoimperatorin,
selereosida, dan 8-hidroksi metoksipsoralen. Minyak atsiri terdiri dari limonen
(60%), beta-selinen (1015%), phthalida, apiol, sesquiterpen alkohol (1-3%)
seperti eusdemol, butilftalida dan sedanelida.
Herba seledri merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki khasiat
yang penting bagi manusia. Herba seledri secara turun-temurun telah digunakan
sebagai obat tradisional untuk memperlancar pencernaan, penyembuhan demam,
flu, penambah nafsu makan (Fazal dan Singla, 2012), dan penurun tekanan darah
tinggi (Siska et al., 2010). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kandungan
senyawa kimia dalam herba seledri memiliki aktivitas sebagai antistres (Yusni dan
Puteh, 2014), antihipertensi (Hapsari, 2006), antikanker (Arisandi dan Sukohar,
2016), antioksidan (Momin dan Nair, 2002), dan anti-inflamasi (Arzi et al., 2014).

4
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Interaksi Seledri dengan Obat


3.1.1 Interaksi seledri dengan warfarin
Penggunaan produk herbal yang mengandung seledri dapat meningkatkan
resiko pendarahan karena meningkatkan potensiasi efek terapi warfarin (Heck et
al., 2000). Seledri memiliki aktivitas sebagai antikoagulan sehingga bekerja
sinergis bersama dengan warfarin (DIH, 2009).Senyawa aktif yang memiliki
aktivitas antikoagulan dalam seledri adalah kumarin (Gloth, 2004).

3.1.2 Interaksi seledri dengan anti-lipid


Seledri dapat menghambat produksi lipid dengan menurunkan serum
trigliserida, kadar LDL-C, dan trigliserid hepatik (Rouhi-Boroujeni et al., 2015).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meminum ekstrak aqueous seledri selama 8
minggu dapat menurunkan serum kolestrol total pada tikus. Mekanisme ini
disebabkan oleh peningkatan ekskresi asam empedu (Skidmore-Roth, 2010).
Penggunaan herbal yang mengandung seledri dengan obat-obat anti-lipid
menyebabkan additive effect.

3.1.3 Interaksi seledri dengan sedatif


Kandungan pthalide dalam minyak biji seledri memiliki aktivitas
sedasi(Peter, 2012). Hasil penelitian uji efek anti-depressant dari ekstrak metanol
biji seledri dengan dosis 100 dan 200 mg/kg secara in vivo pada tikus dan mencit
menunjukkan bahwa ekstrak tersebut menghasilkan efek anti-depressant yang
signifikan pada tikus maupun mencit. Mekanisme aksinya mirip dengan obat
standar yang digunakan yaitu imipramine. Efek anti-depressant dari ekstrak
metanol biji seledri dengan dosis 200 mg/kg lebih baik dibandingkan dengan
imipramine 20 mg/kg. Senyawa 3,n-butylphthalide dan sedanenolide yang
diisolasi dari minyak seledri dan diujikan pada model tikus menunjukkan aktivitas
sedatif yang lemah, memperlama efek narkosis pentobarbital, dan menyebabkan

5
mencit segera tertidur setelah diberi perlakuan menggunakan barbiturat (Srinivasa
et al., 2012).

3.1.4 Interaksi seledri dengan analgesik (parasetamol dan aminopyrine)


Jakovljevic et al. (2002) menguji efek pemberian jus seledri pada mencit
yang diberi analgesik yaitu parasetamol dan aminopyrine. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian jus seledri pada mencit dapat meningkatkan dan
memperlama efek analgesik parasetamol dan aminopyrine.Parasetamol dan
aminopyrine merupakan obat yang dimetabolisme di sitokrom P450. Pemberian
jus seledri menyebabkan penurunan aktivitas CYP450 di hati yang signifikan
dibandingkan dengan kontrol.

3.1.5 Interaksi seledri dengan anti-diabetes


Ekstrak biji seledri mengandung senyawa apigenin dan luteolin yang
memiliki efek sebagai antioksidan, antiinflamasi dan menstimulasi regenerasi sel
(Jang et al., 2008; Lin et al., 2007). Hasil pengujian ekstrak biji seledri pada tikus
yang diinduksi streptozotocin menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji seledri
dapat menurunkan kadar glukosa dan meningkatkan kadar insulin dibandingkan
dengan kontrol negatif. Tidak terdapat perbedaan kadar glukosa yang signifikan
antara pemberian glibenklamid (1 mg/kg) dengan ekstrak biji seledri (100 dan 200
mg/kg). Kadar insulin yang meningkat menunjukkan bahwa seledri mampu
melawan stres oksidatif dan histopatological injury pada toksisitas pankreas yang
diinduksi streptozotocin melalui mekanisme antioksidan, regenerasi sel dan
antiinflamasi yang dimilikinya (Tashakori-Sabzevar et al., 2016).

3.1.6 Interaksi seledri dengan anti-hipertensi


Terjadinya penurunan SBP, DBP, MABP dan HR pada tikus yang
normotensi dan hipertensi setelah pemberian ekstrak heksan biji seledri,
menunjukkan bahwa ekstrak heksan biji seledri memiliki efek hipotensi. Efek
hipotensi mungkin disebabkan karena adanya kandungan n-butylphthalide pada
biji seledri, efek ini ditunjukkan dengan terjadinya bradikardi dan vasodilatasi

6
pada tikus. Mekanisme vasodilator yakni melalui pemblokiran kanal Ca2+ pada
jalur endotelial maupun non-endotelial. Efek vasorelaksan ekstrak heksan biji
seledri hampir sama dengan nifedipin (Tashakori-sabzevar et al., 2016). Penelitian
yang dilakukan oleh Brankovic et al. (2010) menunjukkan bahwa ekstrak etanol
dan ekstrak aqueous biji seledri (0,5-15 mg/kg) dapat menurunkan SBP, DBP,
MABP pada kelinci yang dianastesi. 15 mg/kg ekstrak aqueous biji seledri
menurunkan 14,35%, sedangkan 15 mg/kg ekstrak etanol biji seledri dapat
menurunkan sekitar 45,8% MABP.

3.1.7 Interaksi seledri dengan NSAID


Ibuprofen dan indometasin merupakan obat golongan NSAID yang dapat
menyebabkan gastritis. Penggunaan ekstrak biji seledri mungkin dapat
mengurangi gastropati akibat penggunaan NSAID (Herbs & Natural Supplement,
2015). 150 mg/kg ekstrak biji seledri dapat merunkan 70% lesi lambung yang
diakibatkan oleh penggunaan ibuprofen, selain itu tingkat keparahan lesi juga
berkurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekstrak biji seledri bersifat
gastroprotektan (Whitehouse et al., 2001). Ekstrak biji seledri dapat menghambat
eksresi asam lambung dan menghambat pembentukan ulcer. Aktivitas tersebut
disebabkan karena adanya aktivitas antioksidan yang dimiliki sehingga dapat
mereduksi peroksidasi lipid dan meningkatkan perlindungan mukosa lambung
(Al-howiriny et al., 2010).

3.2 Interaksi Seledri dengan Suplemen/Makanan


3.2.1 Interaksi seledri dengan Psoralens
Phytophotodermatitis adalah reaksi dermal toksik yang disebabkan oleh
interaksi dari radiasi UV gelombang panjang dan kandungan fotoaktif yang
berkumpul di permukaan kulit karena adanya kontak langsung dengan berbagai
jenis tanaman (Seligman et al., 1987). Seledri dapat menyebabkan photodermatitis
(Kooti et al., 2015). Konsumsi makanan yang mengandung psoralens (seperti

7
wortel, lemon, jeruk, parsley dll) dan makanan yang terpapar sinar UV dapat
menyebabkan phytophotodermatitis (Wellnes Library, 2011).

3.2.2 Interaksi Seledri dengan Suplemen yang Memetabolisme Cytochrome


P450
Berdasarkan penelitian pada tikus, ekstrak seledri dapat meningkatkan
kandungan P450 mikrosomal hati (Tsi et al., 1995). Jakovlejevic et al., (2002)
melakukan penelitian mengenai efek dari kombinasi jus seledri dan parsley pada
metabloisme Cytochrome P450. Pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa,
mencit yang menerima dosis tunggal dari jus seledri dan parsley secara signifikan
dapat menurunkan kandungan Cytochrome P450 pada hati dibandingkan dengan
kelompok kontrol.

3.2.3 Interaksi Seledri dengan Antioksidan


Kandungan fenolik yang mengandung aktivitas antioksidan yang paling
umum diketahui adalah asam fenolat dan flavonoid (Yao et al., 2010). Yao et al.,
(2010), flavonoid yang paling banyak terkandung dalam seledri adalah apigenin,
diikuti oleh luteolin. Sedangkan untuk asam fenolat yang paling banyak
terkandung dalam seledri adalah asam p-kumarik. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa seledri memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan seledri shengjie
memiliki kemampuan peredaman radikal bebas yang sangat baik.

8
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Beberapa obat yang sudah dilaporkan memiliki interseaksi dengan
herbal seledri yaitu warfarin, anti-lipid, obat sedative, analgetik
(parasetamol dan aminopyrine), anti-diabetes, anti hipertensi, dan
NSAID
2. Makanan/suplemen yang dapat berinteraksi dengan herbal seledri
adalah Psoralens, suplemen yang Memetabolisme Cytochrome P450,
dan antioksidan

4.2 Saran
1. Seiring berkembangnya penggunaan herbal yang dikombinasi dengan
obat sintetik maka perlu dilakukan penelitian berkelanjutan tentang
interaksi yang mungkin terjadi di masa depan.
2. Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan perlu memberikan
informasi mengenai interaksi antara herba seledri dengan obat,
makanan atau suplemen kepada masyarakat.

9
DAFTAR PUSTAKA

Al-howiriny, T., A. Alsheikh, S. Alqasoumi, M. Al-yahya, K. ElTahir, dan S.


Rafatullah. 2010. Gastric antiulcer, antisecretory and cytoprotective
properties of celery (Apium graveolens ) in rats. Pharmaceutical Biology.
48(2010):786793.

American Pharmacist Association. 2009. Drug Information Handbook A:


Comprehensive Resource for All Clinicians and Healthcare Proffesionals.
17th Edition. USA: Lexicomp.

Arisandi, R. dan A. Sukohar. 2016. Seledri (Apium graveolens L.) sebagai Agen
Kemopreventif bagi Kanker, 5(2): 95-100.

Arzi, A., A. A. Hemmati, N. S. Karampour, Z. Nazari, dan B. Baniahmad, B.


2014 . Anti-Inflammatory Effects of Celery Seed Hydroalcoholic Extract
on Carrageenan-Induced Paw Edema in Rats. Research Journal of
Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences, 5(6): 24-29.

Brankovic, S., M. Radenkovic, S. Veljkovic, M. Kostic, B. Miladinovic, dan D.


Pavlovic. 2010. Hypotensive and cardioinhibotory effects of the aqueous
and ethanol extracts of celery (Apium graveolens , apiaceae ). Acta Medica
Medianae. 49(1):1316.

Braun, L., dan M. Cohen. 2015. Herbs and Natural Supplements, Volume 2: An
Evidence-Based Guide. 4th Edition. Australia: Churchill Livingstone
Australia.

Fazal, S.S., R. K. Singla. 2012. Review on the Pharmacognosticaland


Pharmacological Characterization of Apium graveolens Linn. Ind. Glob
J.PharmaScie., 2(3) : 258-261.

Gitawati, R. 2008. Interaksi Obat dan Beberapa Implikasinya. Media Libang


Kesehatan, 18(4): 175-184

Gloth, F. M. 2004. Handbook of Pain Relief in Older Adults: An Evidence Based


Approach. British: Springer.

10
Hapsari, Y. D. 2006. Isolasi dan Identifikasi Apiin dari Herba Seledri (Apium
graveolens Linn). Skripsi. Depok : Program Ekstensi Departemen Farmasi
Universitas Indonesia.

Heck, A.M., Dewitt, B.A.,dan Lukes, A.L. 2000. Potential interactions between
alternative therapies and warfarin. American Journal of Health-System
Pharmacy, 57(13):1221-1227.

Jakovljevic, V., Raskovic, A., Popovic, M. dan Sabo, J. 2002. The effect of celery
and parsley juices on pharmacodynamic activity of drugs involving
cytochrome P450 in their metabolism. European journal of drug
metabolism and pharmacokinetics, 27(3):153-156.

Jang, S., K. W. Kelley, dan R. W. Johnson. 2008. Luteolin reduces il-6 production
in microglia by inhibiting jnk phosphorylation and activation of ap-1. Proc
Natl Acad Sci. 105(21):75347539.

Kooti, W., Ali-Akbari, S., Asadi-Samani, M., Ghadery, H., & Ashtary-Larky, D.
2015. A review on medicinal plant of Apium graveolens. Advanced Herbal
Medicine, 1(1), 48-59.

Lin, L.-Z., S. Lu, dan J. M. Harnly. 2007. Detection and quantification of


glycosylated flavonoid malonates in celery , chinese celery , and celery
seed by lc-dad-esi / ms. Agric. Food Chem. 55(4):13211326.

Momin, R.A. dan M. G. Nair. 2002. Antioxidant, Cyclooxygenase and


Topoisomerase Inhibitory Compounds from Apium graveolens Linn Seeds.
Phytomedicine, 9 (312).

Peter, K.V (Editor). 2012. Handbook of Herbs and Spices. 2nd Edition. UK:
Woodhead Publishing Limited.

Putri, Y. K., dan T. Rusdiana. 2010. Perbandingan Berbagai Interaksi Obat


dengan Herbal. Article Review Farmaka, 4(3): 1-12

Rouhi-Boroujeni, H., Rouhi-Boroujeni, H., Heidarian, E., Mohammadizadeh, F.


dan Rafieian-Kopaei, M. 2015. Herbs with anti-lipid effects and their

11
interactions with statins as a chemical anti-hyperlipidemia group drugs: A
systematic review. ARYA atherosclerosis, 11(4): 244-251.

Seligman, P. J., Mathias, C. T., O'Malley, M. A., Beier, R. C., Fehrs, L. J., Serrill,
W. S., & Halperin, W. E. 1987. Phytophotodermatitis from celery among
grocery store workers. Archives of dermatology, 123(11), 1478-1482.

Siska, F. K. Nursal, dan Farida. 2010. Using the Roots of Celery as


Antihypertention. Farmasains, 1(1): 1-6

Skidmore-Roth, L. 2010. Mosbys Handbook of Herbs and Natural Supplements.


4th Edition. USA: Elsevier.

Srinivasa B, Desu R dan Sivaramakrishna K. 2012. Antidepressant activity of


methanolic extract of Apium graveolens seeds. IJRPC, 2(4):1124-1127.

Tashakori-Sabzevar, F., M. Ramezani, H. Hosseinzadeh, S. M. R. Parizadeh, A.


R. Movassaghi, A. Ghorbani, dan S. A. Mohajeri. 2016. Protective and
hypoglycemic effects of celery seed on streptozotocin-induced diabetic
rats: experimental and histopathological evaluation. Acta Diabetologica.
53(4):609619.

Tashakori-sabzevar, F., B. M. Razavi, M. Imenshahidi, M. Daneshmandi, H.


Fatehi, Y. E. Sarkarizi, dan S. A. Mohajeri. 2016. Evaluation of mechanism
for antihypertensive and vasorelaxant effects of hexanic and hydroalcoholic
extracts of celery seed in normotensive and hypertensive rats. Brazilian
Journal of Pharmacognosy. 26(5):619626.

Tsi, D., Das, N. P., dan Tan, B. K. H. 1995. Effects of aqueous celery (Apium
graveolens) extract on lipid parameters of rats fed a high fat diet. Planta
medica, 61(01), 18-21.

Usia, H. I., A. Hiratsuka, T. Watabe, S. Kadota, Y. Tezuka. 2005. Potent CYP3A4


Inhibitory Constituents of Piper Cubeba. Journal of Natural products.
68 (1): 64-68.

Wellnes Library. 2011. Celery (Apium graveolens).


http://www.livingnaturally.com/ns/DisplayMonograph.asp?StoreID=3D9D

12
155236034A5897378F7C5A033221&DocID=basic-interactions-
celery#NSTop (diakses tanggal 8 November 2017)

Whitehouse, M. W., D. E. Butters, M. L. Clarke, dan K. D. Rainsford. 2001.


Nsaid gastropathy: prevention by celery seed extracts in disease-stressed
rats. Inflammopharmacology. 9(1):201209.

Yao, Y., Sang, W., Zhou, M., dan Ren, G. 2010. Phenolic composition and
antioxidant activities of 11 celery cultivars. Journal of food science, 75(1).

Yusni dan I. Puteh. 2014. Kajian Kemampuan Seledri sebagai Herbal Antistres
pada Tikus Wistar. Jurnal Kedokteran Hewan, 8(2): 105-107.

13