Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BIOLOGI TANAH
ANALISIS KELIMPAHAN DAN KERAGAMAN BIOTA TANAH

Disusun Oleh : Kelompok 1

1. Katon Sasongko D (12154)


2. Muhammad Nur F (12084)
3. Nurfiana Rahmawati (11982)
4. Maratus Shalikhah (12053)
5. Faidzin Fitrah A. (12179)
6. Taufik Yoga U. (12005)

LABORATORIUM JURUSAN TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
ABSTRAKSI
Praktikum biologi tanah ini dilakukan dua tahap yaitu pengambilan sampel
tanah pada hari selasa, 18 Desember 2012 di Kebun Fakultas Peternakan, Lembah,
Timur D3 Ekonomi, Kehutanan, dan Pogung. Identifikasi biota tanah pada hari
kamis, 03 Januari 2013 di Laboratorium Entomologi Dasar, Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui jumlah dan jenis biota dalam tanah.
Alat yang diperlukan adalah kantong plastik, cangkul atau sekop, label, kain kasa,
kawat kasa, corong berlis, tabung kaca, cawan petri, pinset, kuas, dan mikroskop.
Abstraksi kurang, tolong ditambahi untuk hasil dan sedikit
pembahasannya.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fauna tanah merupakan bagian penting dalam ekosistem, termasuk
pertanian, karena fauna tanah terlibat dalam berbagai proses tanah antara lain
degradasi bahan organik, mineralisasi unsur hara, pengendalian populasi
organisme patogen, memperbaiki struktur tanah, dan mencampur bahan organik
dengan tanah.
Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba
(bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, danprotozoa) serta fauna tanah.
Masing-masing biota tanah mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Setiap fauna tanah
mempunyai fungsi ekologis yang khusus. Keanekaragaman biota dalam tanah
dapat digunakan sebagai indikator biologis untuk menentukan kualitas tanah.
Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah,
sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi kesuburan lahan dan
keberlanjutan produktivitas lahan.

B. Tujuan
Mengetahui jenis dan jumlah biota tanah pada tempat yang berbeda.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Tanah merupakan sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara,
bahan-bahan mineral dan organik, serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai
faktor lingkungan terhadap permukaan bumi dan kurun waktu membentuk berbagai hasil
perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas sehingga berperan sebagai tempat
tumbuh bermacam-macam (Hakim et.al., 1986).
Menurut (Sutanto, 2005) berdasarkan ukurannya, fauna tanah dibedakan menjadi
mikrofauna, mesofauna, dan mikrofauna. Mikrofauna merupakan fauna yang berukuran
<100 m misalnya protozoa dan nematoda. Mesofauna merupakan fauna yang
mempunyai ukuran antara 100 m 1 cm misalnya antropoda. Makrofauna merupakan
fauna yang mempunyai ukuran >1 cm misalnya cacing tanah.
Secara garis besar, organisme dibagi dua yaitu organisme yang menguntungkan
dan organisme yang merugikan. Organisme yang menguntungkan meliputi seluruh
organisme yang melakukan pelapukan bahan organik, perubahan ke anorganik, dan
penambahan nitrogen. Sedangkan kelompok organisme yang merugikan adalah
organisme yang melakukan perinangan hara dengan tanaman pokok dan/atau
menyebabkan tanama terkena hama da penyakit (Hakim et.al., 1986).
Berdasarkan keberadaannya dalam tanah, dibagi dalam dua kelompok besar yaitu
(1) mikrobia otokton (autochtonous), yakni mikrobia setempat pada tanah-tanah tertentu
dan atau bersifat endemik, contohnya bakteri Azospirillum halopraeferen yang selalu
ditemukan di tanah salin; (2) mikrobia zymogen, yaitu mikrobia yang pertumbuhannya
dipengaruhi oleh adanya perlakuan khusus seperti penambahan pupuk, bahan organik dan
pengelolaan tanah. Selain itu dikenal juga mikrobia trasien, yaitu mikrobia yang
keberadaannya di dalam tanah bersifat sebagai penetap sementara. Mikrobia trasien
umumnya merupakan mikrobia yang diintrodusir ke dalam tanah baik disengaja ataupun
tidak disengaja (Mashum, 2003).
Organisme-organisme yang berkedudukan di dalam tanah sanggup mengadakan
perubahan-perubahan besar di dalam tanah, terutama dalam lapisan atas (top soil), di
mana terdapat akar-akar tanaman dan perolehan bahan makanan yang mudah.Akar-akar
tanaman yang mati dengan cepat dapat dibusukkan oleh fungi, bakteria dan golongan-
golongan organisme lainnya (Sutedjo et. al., 1996).
III. METODOLOGI
Praktikum biologi tanah ini dilakukan secara mandiri dan dilaksanakan dengan
dua tahap yaitu tahap pengambilan sampel dan tahap identifikasi. Pengambilan sampel
dilaksanakan pada hari selasa, 18 Desember 2012 dan mengambil pada lima tempat yang
berbeda yaitu Peternakan, Kehutanan, Lembah, timur D3 Ekonomi, dan Pogung.
Identifikasi dilaksanakan pada hari Kamis, 03 Januari 2013 di Laboratorium Entomologi
Dasar, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan antara lain cangkul atau sekop,
kantong plastik, label, kain kasa, kawat kasa, corong berlis, botol kaca, cawan petri,
pinset, kuas, dan mokroskop serta alkohol.
Langkah pertama yaitu pengambilan sampel, tanah diukur 1m 1m dengan
kedalaman 30 cm. Pengambilan sampel dibagi menjadi dua yaitu seresah (bagian
permukaan) dan tanahnya. Setelah itu dilakukan dokumentasi. Sampel yang berupa
seresah dimasukkan pada sepasang corong dengan lampu yang dibawahnya sudah
terpasang botol yang berisi alkohol sebagai tempat penampung fauna tanah. Setelah
semua seresah masuk, corong di tutup rapat dan lampu dinyalakan. Kemudian didiamkan
selama 3 hari setelah itu botol kaca diambil dan selanjutnya dilakukan identifikasi
menggunakan mikroskop untuk menentukan jenis dan jumlahnya. Sedangkan sampel
yang berupa tanah langsung diamati biota tanahnya dan dimasukkan kedalam botol kaca
yang sudah diberi alkohol. Setelah itu dihitung jumlah dan keragaman jenisnya.

V. PEMBAHASAN
Cacing Tanah
Cacing adalah suatu makhluk makro yang berada dalam tanah, sebagai pengurai
jasad lain, mulai dari hewan yang mati, daun gugur, akar yang mati hingga jasad manusia
yang telah tutup usia hingga batu kapur. Cacing yang dimaksud adalah cacing tanah. Jenis
cacing ini berbeda dengan cacing yang membuat hewan atau manusia menjadi sakit.
Banyaknya cacing dalam tanah menunjukkan bahwa tanah itu sehat. Cacing tanah
memakan humus dalam tanah, dan kemudian mengubah humus itu menjadi unsur hara,
hal ini sangat baik untuk tanah. Cacing tanah secara terus-menerus akan:
1. Mengubah humus menjadi unsur hara yang dapat dimanfaatkan tanaman.
2. Menggali tanah sehingga menambah udara yang masuk ke dalam tanah.
3. Meningkatkan struktur tanah dan drainase air.
4. Membawa ke atas unsur hara dari bagian dalam tanah untuk memberikan
pasokan makanan pada perakaran tanaman.
Apa yang dibutuhkan cacing hanyalah mulsa dan kompos. Namun harus berhati-
hati karena pestisida, herbisida dan beberapa pupuk kimia akan membunuh cacing-cacing
dalam tanah. Dengan cacing membuat tanah menjadi sehat dan tanaman sehat juga yang
mampu menghasilkan buah yang bagus dan sehat pula. Cacing makhluk yang sangat unik,
yang disukai berupa bagian-bagian kotor tetapi peranan cacing sangatlah penting sekali,
jika di bumi tidak ada cacing apa jadinya bumi ini, banyak sekali kotoran dimana -mana
tidak ada yang ada mampu mengurainya.
Collembola
Collembola merupakan salah satu kelompok mikroarthropoda yang memiliki
distribusi menyebar pada berbagai jenis tanah di dunia. Collembola juga dikenal dengan
nama springtails atau ekor pegas karen adanya alat pelenting tubuh pada bagian bagian
ekor yang disebut furkula. Ukuran tubuh Collembola berkisar antara 0.25 mm sampai 8.0
mm dengan warna tubuh bervariasi dari pucat hingga mencolok, yaitu putih, abu-abu,
biru tua, hitam sampai merah merona (Coleman et al., 2004). Collembola toleran terhadap
tanah masam sehingga sering dijumpai pada tanah gambut (Suwondo, 2002). Collembola
umumnya ditemukan pada lapisan teratas serasah daun, terutama dari jenis
Entomobrydae. Sedangkan jenis lain yang berukuran lebih kecil lebih banyak ditemukan
pada bagian tanah yang lebih dalam. Jenis Collembola yang hidup pada atau dekat dengan
permukaan tanah umumnya memiliki tubuh dengan warna yang lebih mencolok, mata
yang berkembang dengan baik, antena dan fukula. Sedangkan jenis yang hidup di
kedalaman tanah memiliki karakteristik sebaliknya, yaitu warna yang pucat, indra yang
kurang berkembang dengan baik, dan tanpa fukula. Collembola dapat digolongkan
sebagai hewan saprophagus. Bahan organik yang biasa dicerna mencakup hifa dan spora
fungi, sisa-sisa tanaman dan ganggang hijau uniseluler (Wallwork, 1976). Peranan
Collembola dalam tanah yaitu menghancurkan bahan organik ke dalam ukuran yang lebih
kecil kemudian mencampurnya. Collembola juga berpengaruh pada dinamika populasi
fungi karena kebiasaannya memakan hifa dan spora fungi. (Gobat et al., 2004).
Serangga dan Tungau
Serangga dan tungau adalah jenis makhluk hidup yang terbanyak populasinya di
dunia. Jika diperhatikan, kedua jenis tersebut paling banyak berasosiasi dengan
kehidupan manusia. Berbagai usaha telah dilakukan oleh manusia untuk menunjang
kelangsungan hidupnya, terutama untuk serangga dan tungau yang bermanfaat. Hal ini
disebabkan karena adanya keragaman genetik yang dimiliki oleh serangga dan tungau,
sehingga dapat beradaptasi pada berbagai habitat alamiah maupun buatan atau
laboratorium.
Tungau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut mites atau ticks adalah salah satu
hama yang mempunyai arti ekonomi yang cukup penting, karena keberadaannya yang
sangat melimpah dan habitatnya yang sangat luas, seperti pada berbagai jenis tanaman,
bahan yang disimpan, di dalam tanah bahkan tungau dapat ditemukan di tubuh manusia
ataupun hewan peliharaan. Tungau termasuk ke dalam Filum Arthropoda. Sejak zaman
dahulu, manusia telah bersaing dengan Arthropoda dalam mendapatkan makanan.
Tungau termasuk ke dalam Sub Filum Chelicerata, Kelas Arachnida dan Ordo Acarina.
Acarina berasal dari bahasa Yunani yaitu Akari yang artinya sejenis tungau.
Acarina kebanyakan memiliki ukuran tubuh yang kecil yaitu antara 0,08 sampai
1,00 milimeter (mm), tetapi Acari terbesar bisa mencapai panjang antara 10 sampai 20
mm (beberapa kutu dan tungau beludru merah). Diperkirakan bahwa lebih dari 50.000
jenis telah dijelaskan pada tahun 1999. Pada saat ini, telah mencapai lebih dari satu juta
jenis yang telah ditemukan. Studi mengenai tungau dan kutu, disebut Acarology.
Semut
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan
semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut
terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di
kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang
terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja,
semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah
luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut
superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan.
Semut dapat membuat sarang di sekitar tempat tinggal kita misalnya di atas
gundukan tanah, sampah, pot bunga, pohon, sudut rumah dan lain-lain. Semut adalah
serangga yang dapat memakan bunga tanah atau tumbuhan yang membusuk. Semut dapat
pula memakan tamanan dan hewan di atas lahan dan menjadikan tanah tempat bersarang
dan menyimpan makanan (Borror et al., 2005). Oleh karena itu, kita dapat menemukan
kelimpahan semut di pekarangan rumah, lingkungan taman-taman yang terawat dan
tidak terawat, dan tepi jalan dengan kondisi lingkungan terkena polusi.

VI. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.A. Diha, G.B. Hong, dan H.H
Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Mashum, M., Soedarsono, J., Susilowati, L. E. 2003. Biologi Tanah. CPIU Pasca
IAEUP, Bagpro Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia, Ditjen Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Sutedjo, M. M., A. G. Kartasapoetra, dan RD. S. Sastroatmodjo. 1996. Mikrobiologi


Tanah. PT. Rineka Cipta. Jakarta.