Anda di halaman 1dari 4

Laporan Kimia Anorganik : Pembuatan Kalsium Sulfat dari Batu Gamping

ABSTRAK
Batu gamping banyak terdapaat di Indonesia, gamping mempunyai rumus kimia CaCO 3 dengan impuritis
umum berupa silika, besi dan magnesium. Batu gamping dapat terlarutkan oleh air hujan lebih mudah dibandingkan
dengan batuan yang lainnya. Dibawah tekanan yang tinggi, batu gamping termetamorfosakan menjadi batuan
metamorf marble. Pada kondisi tertentu, kalsit yang terdapat didalam batu gamping teralterasi menjadi dolomite.
Kalsium merupakan kation yang sering dihubungkan dengan kemasaman tanah, karena dapat mengurangi efek
kemasaman. Sebagai sumber utama kalsium tanah adalah kerak bumi yang didalamnya terkandung 3,6% Ca.
Mineral utama yang banyak mengandung kalsium antara lain kalsit (CaCO3) dan dolomit [CaMg(CO3)2] yang
merupakan penyusun batuan sedimen limestone dan dolomit. Salah satu penggunaan batu gamping adalah untuk
pembuatan bahan kimia, diantaranya kalsium sulfat. Kalsium sulfat umumnya berwarna putih tergantung mineral
pengotornya dengan derajat kekerasan 1,5-2 dan BJ 2,31-2,35. Kalsium sulfat termasuk garam kalsium yang mudah
mengendap.

PENDAHULUAN
Batu kapur (bahasa Inggris: limestone) (CaCO3) adalah sebuah batuan sedimen terdiri dari mineral kalsit
(kalsium karbonat). Sumber utama dari kalsit ini adalah organisme laut. Organisme ini mengeluarkan shell yang
keluar ke air dan terdeposit dilantai samudra sebagai pelagicooze (lihat lysocline untuk informasi tentang dissolusi
calcite). Kalsit sekunder juga dapat terdeposit oleh air meteorik tersupersaturasi (air tanah yang presipitasi material
di gua). Ini menciptakan speleothem seperti stalagmit dan stalaktit. Bentuk yang lebih jauh terbentuk dari Oolite
(batu kapur Oolitic) dan dapat dikenali dengan penampilannya yang granular. Batu kapur membentuk 10% dari
seluruh volume batuan sedimen. Pembentukan batu gamping terjadi secara organik, mekanik atau secara kimia.
(Achmad, 2001)
Tujuan utama pengapuran adalah menaikkan pH tanah hingga tingkat yang dikehendaki dan mengurangi atau
meniadakan keracunan Al. Disamping itu juga meniadakan keracunan Fe dan Mn serta hara Ca. Pengaruh utama
kapur terhadap tanah adalah menaikkan pH, mengurangi kandungan dan kejenuhan Al serta meningkatkan serapan
hara dan produksi tanaman pangan pada umumnya (padi, kedelai, jagung, kacangan lainnya, tomat, cabai). Pengaruh
kapur dapat dinikmati selama beberapa kali panen (4-5 kali). (Keenan, 1984)
Adanya kandungan kapur (CaCO3) bebas, di dalam tanah dapat diketahui dengan meneteskan asam Chlorida
10% (HCl 2 N). Adanya percikan menandakan adanya kapur bebas, makin banyak percikannya makin banyak
kandungan kapur dalam tanah. Reaksi yang terjadi:

CaCO3 + 2HCl = CaCl2 + H2O + CO2


Bahan kapur pertanian ada 3 macam, yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2 atau MgO dan Ca(OH)2 atau
Mg(OH)2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau [CaMg(CO3)2] yang digiling dengan kehalusan 100%
melewati saringan 20 mesh dan 50% melewati 80-100 mesh. Setelah kapur diberikan ke tanah, ia akan segera
mengubah sifat dan ciri tanah, perubahan sifat dan ciri tanah tersebut akan mempengaruhi serapan hara. Selanjutnya
mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Sifat dan ciri tanah yang dominan dipengaruhi reaksi kapur
adalah kemasaman tanahnya yang meliputi pH dan Al-dd serta kejenuhannya. (Ranawijaya, 1985)
Kapur telah lama diketahui sebagai yang efektif dalam menurunkan kemasaman tanah yaitu meningkatkan
pH tanah, menurunkan Al dapat ditukar (Al-dd) dan kejenuhan Al. Namun, pergerakan vertikal CaCO 3 yang
diaplikasi pada permukaan sangat lambat, kemungkinan karena kapur melepaskan ion OH` yang dengan cepat
dinetralisasi oleh keemasan tanah, yang meninggalkan Ca2+ tak berteman. Ion Ca2+ tersebut dapat diserap oleh tapak
pertukaran pada permukaan tanah. Dengan demikian inkorporasi permukaan CaCO 3 atau Ca(OH)2 mempunyai
pengaruh yang kecil terhadap Al subsoil dan Al atau Ca. Oleh karena itu, untuk memperbaiki subsoil masam perlu
inkorporasi kapur sampai kedalaman itu (deep liming). (Svehla, 1985)
Kalsium adalah logam yang lunak, tetapi sedikit lebih keras dari pada timah,mudah ditempa dan ditekan.
Oleh karena logam ini didapatkan dalam bentuk persenyawaan yang mengandung nitrogen, sehingga untuk
memperolehnya logamkalsium murni sangat sulit. Biasanya untuk mendapatkan logam kalsium dengan
jalanelektrolisa terhadap leburan kalsium klorida murni.Logam kalsium sangat reaktiv, bereaksi dengan halogen dan
hidrogen masingmasingmembentuk senyawa halidanya dan hidridanya
Ca + Cl2 CaCl2
Ca + H2 CaH2
Pada temperatur tinggi, kalsium mereduksi sebagian besar logam, maka kalsium banyak dipakai sebagai
reduktor dalam pembuatan logam-logam Cu, Fe, Ni dan Pb.Dan juga dipakai untuk membuat logam campuran.
Kalsium klorida banyak terdapat pada Tachydrite. Secara teknis kalisum klorida diperoleh dari hasil samping dari
pembuatan Natrium bikarbonat dengan prosessolvay. Dapat juga diperoleh dengan jalan melarutkan (Ca(OH) 2) atau
CaCO3 dalam HCl. Kalsium klorida dalam bentuk anhidrous banyak digunakan sebagai bahan pengering.Sifat
kalsium klorida adalah asam sehingga kalsium klorida juga dapat mempercepat terjadinya proses korosi pada besi.
(Svehla, 1985)

METODE PERCOBAAN

Alat dan bahan

Alat yang digunakan dalan percoaan ini diantaranya adalah Open, Hotplate, Tanur, Cruss tang, Ayakan
100 mesh, Gelas kimia 250 ml, Tabung reaksi, Rak tabung, Spatula, Batang pengaduk, Mortar alu, Satu set
penyaring vacump, Kaca arloji, Erlenmeyer 250 ml, Gelas ukur 100 ml, botol semprot.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini kebanyakan bersifat asam, seperti Asam sulfat, Asam klorida,
Asam nitrat, , Asam Oksalat. Tentunya Batu gamping, juga digunakan dalam percobaan ini karena batu gamping
merupakan bahan pokok. Bahan yang digunakan lainnya yaitu KSCN, Na 2CO3.

Metode Percobaan

Batu gamping yang sudah halus ditimbang sebanyak 2,0 gram. Kemudian dipanaskan dalam tanur pada
tamperatur 500oC selama 1 jam. Kemudian derbuk hasil pentarunan direndam dengan 50 mL aquades dan 25 mL
larutan HCl 2M selama 15 menit sambil dikocok, lalu disaring dan diambil filtratnya. Larutan dipekatkan dengan
cara penguapan larutan. Pemanasan dihentikan setelah terbentuknya endapan dan ditetesi tetes demi tetes aquades
sampai endapan larut kembali. Kmudian larutan ditambah setetes demi setetes larutan H 2SO4 2M sambil diaduk
hingga terbentuknya endapan putih dengan bantuan larutan didinginkan. Endapan disaring kemudian dikeringkan.
Endapan yang terbentuk ditimbang.
Setelah didapat hasil endapan dalam bentuk padatan, maka padatan tersebut diuji kualitatif sebanyak 2 kali.
Pertama dengan cara padatan dilarutkan dalam larutan H 2SO4 2M dan ditetesi larutan KSCN 1M. Kedua dengan
cara padatan dilarutkan dalam 10 mL HNO3 1M dan ditambahkan dengan beberapa tetes larutan Na2C2O4 atau
Na2CO3 1M.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Percobaan
Perlakuan Hasil Pengamatan
Batu gamping + 50 mL Larutan megeluarkan
aquades + 25 mL HCl 2M gelembung dan bau yang
dan aduk menyengat
Terdapat kotoran pada kertas
Larutan disaring
saring dan filtrat jernih
Volume berkurang dan
Dipanaskan mengeluarkan gelembung
dan bau.
+ tetes demi tetes H2SO4 2M
sambil diaduk kemudian Terdapat endapan putih
didinginkan
Saring endapan lalu
Massa endapan = 1,936 gram
dikeringkan dan ditimbang
Padatan hasil sintesa +
Larutan berwarna jingga dan
H2SO4 2M + tetes demi tetes
terdapat endapan putih
KSCN 1 M
Padatan hasil sintesa + 10
Larutan mengeluarkan
mL HNO3 1M + tetes demi
gelembung
tetes CuSO4

Pembahasan :

Salah satu sumber pembuatan kalsium sulfat adalah batu gamping. Sebab utama dijadikannya batu gamping untuk
pembuatan kalsium sulfat karena kandungan kalsium yang tinggi dalam batu gamping (CaCO 3). Keberadaan batu
gamping yang sangat melimpah di alam ini, termasuk di Indonesia menajdi sebab lain mengapa dipilihnya batu
gamping sebagai sumber pembutan kalsium sulfat.
Batu gamping yang ditumbuk hingga halus memiliki tujuan agar pada suhu 500 oC batu gamping dapat
diuapkan. Karena besarnya jari-jari partikel dapat mempengaruhi kecepatan penguapan. Dengan cara memperkecil
partikel batu gamping, panas yang diberikan untuk menguapkan batu gamping bisa diperkecil karena panas akan
lebih cepat sampai ke inti partikel yang kecil daripada partikel yang lebih besar. Sehingga waktu yang dibutuhkan
untuk menguapkan bantu gamping secara sempurna lebih cepat. Pemanasan yang dilakukan pada suhu 500 oC
bertujuan untuk menguapkan senyawa karbon dioksida (CO 2) dalam batu gamping, sehingga padatan yang tersisa
merupakan padatan kalsium monoksida (CaO).
CaCO3(s) = CaO(s) + CO2(g)
Penambahan aquades dan HCl pada serbuk hasil pentanuran berfungsi sebagai pembersih. Dimana sifat
pembersih ini dimiliki oleh HCl yang dapat membersihan zat-zat pengotor yang merekat kuat dengan CaO sebagai
hasil pentanuran agar saat CaO direaksikan dengan pereaksi, bisa bereaksi secara sempurna. Sedangkan penambahan
aquades dilakukan agar CaO dalam keadaan larutan sehingga saat CaO ditambah dengan HCl partikel debu CaO
tidak terbang keluar.
Kemudian penambahan H2SO4 pada larutan CaO yang telah bersih, mengakibatkan suatu produk berupa
CaSO4 dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

CaO + H2SO4 = CaSO4 + H2O


Dimana wujud dari CaSO4 adalah endapan putih dengan massa yang diperoleh seanyak 1,936 gram.
Ketika padatan CaSO4 hasil sintesa direaksikan dengan KSCN, reaksi yang berjalan adalah sebagai
berikut:

CaSO4 + 2KSCN = K2SO4 + Ca(SCN)2


Warna merah pada larutan hasil merupakan dari senyawa K2SO4, sedangkan endapan puih merupakan Ca(SCN) 2.

Kemudian, ketika padatan CaSO4 hasil sintesa direaksikan dengan HNO3 maka reaksi akan berjalan
sebagai berikut:
CaSO4 + 2HNO3 = Ca(NO3)2 + H2SO4

Kelarutan padatan CaSO4 dalam HNO3 sangatlah lambat. Hal ini karena sifat asam yang dimiliki oleh CuSO 4 dan
HNO3 membuat mereka lambat untuk bereaksi sampai setimbang. Kemudian larutan tersebut direaksikan dengan
Natrium karbonat dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

Ca(NO3)2 + Na2CO3 = CaCO3 dan 2NaNO3


Produk hasil reaksi tersebut terus menerus mengeluarkan kelembung-gelembung kecil. Gelembung-gelembung
tersebut merupakan hasil aktivitas NaNO3 yang bereaksi dengan CaCO3.

KESIMPULAN
Dari beberapa percobaan dalam praktikum ini, maka diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya :
1. CaCO3 dipanaskan dengan tamperatur tinggi menghasilkan CO2 dan CaO.
2. Massa yang terbentuk 1,936 gram.
3. Setelah melakukan uji kualitatif terbukti batu gamping direaksikan dengan asam sulfat
membentuk CaSO4 dengan ditandai dengan adanyat endapan putih.
4. Rendemen CaSO4 yang diperoleh sebanyak 96,825%.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, H. (2001). Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung: PT. Citra Aditya Bkti.
Keenan, K. (1984). Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Ranawijaya, J. (1985). ilmu kimia 2. Jakarta: depdikbud.
Senadi dan Arie. 2015. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik 1. Cimahi: Labroratorium Kimia Anorganik FMIPA-
UNJANI.
Svehla, G. vogel. (1985). Analisis Anorganik Kualtatif Makro Dan Semimikro. Jakarta: PT.Kalman Media Pustaka