Anda di halaman 1dari 20

ANGGARAN SEKTOR PUBLIK

Untuk memenuhi Tugas Kelompok Akuntansi Sektor Publik

Disusun Oleh:

Aldy Saputra 160020113011001 Ainun Nisa 160020113011002
Aldy Saputra
160020113011001
Ainun Nisa
160020113011002

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2017

BAB I PENDAHULUAN

Setiap entitas pasti memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi akan tetapi pada kenyataannya pemenuhan kebutuhan tersebut sudah terbentur pada terbatasnya sumber daya yang dimiliki oleh entitas tersebut. Dengan demikian, diperlukan suatu pengalokasian sumber daya yang baik dimana alokasi tersebut dilakukan sebelum aktivitas pemenuhan kebutuhan. Dengan kata lain, dalam pengalokasian sumber daya tersebut bersifat yang memiliki rencana sehingga dapat mengungkapkan apa yang akan dilakukan oleh suatu entitas di masa yang akan datang. Pengalokasian yang dilakukan terdiri atas perencanaan pendapatan dan belanja. Perencanaan tersebut dapat menjadi acuan bagi suatu entitas mengenai penggunaan pendapatan di masa mendatang. Bahkan, dengan adanya rencana belanja dari pendapatan sekarang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pada periode berikutnya sehingga sumber daya unrestricted yang dimiliki oleh suatu entitas menjadi lebih banyak. Peningkatan pada sumber daya unrestricted menunjukkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam penggunaannya. Jadi, proses penganggaran adalah sebuah proses penting yang sering kali dapat menjadi perhatian tersendiri bagi sebuah organisasi di sektor publik. Dalam pendekatan-pendekatan penyusunan anggaran ini juga telah berkembang sedemikian rupa mengikuti perkembangan zaman dan dinamika kebutuhan organisasi sektor publik sendiri.

BAB II PEMBAHASAN

  • 1. Proses Akuntansi Manajemen di Sektor Publik

Semua organisasi, baik komersil maupun sektor publik didirikan untuk mencapai satu atau lebih dari tujuan yang ada. Pemerintah misalnya, ada banyak fungsi dan tujuan yang

harus dicapai antara lain pelayanan kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa lainnya. Salah satu persamaan antara organisasi komersil dan organisasi sektor publik adalah sama-sama memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya. Oleh karena itu, keduanya memiliki proses manajemen keuangan dan akuntansi manajemen yang relatif sama namun berbeda secara teknis pelaksanaan. Indikator kinerja yang menjadi pertanggungjawaban manajemen di sektor komersil adalah keuntungan, sedangkan untuk organisasi sektor publik, indikator kinerja adalah tujuan dari pemberian dan penggunaan dana yang diberikan tersebut. Karena adanya keterbatasan sumber daya tersebut, maka tidak mungkin untuk menyatakan hanya tujuan akhirnya tanpa membuat rencana untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Keputusan harus dibuat terkait dengan keputusan atas perencanaan dan keputusan atas pengendalian. Agar perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan dengan baik, maka perlu ada informasi yang mendukung perencanaan dan pengendalian tersebut. Proses akuntansi manajemen bertujuan untuk mendapatkan informasi tersebut. Menurut The Chartered Institute of Management Accountant (1996) akuntansi manajemen mencakup aktivitas inti berikut ini:

a. Partisipasi dalam proses perencanaan pada tingkatan strategis dan operasional. Hal ini melibatkan pembuatan kebijakan, penentuan rencana sampai dengan penyusunan anggaran yang dinyatakan secara kuantitatif. b. Pembuatan dari panduan untuk keputusan manajemen. Hal ini mencakup pembuatan, analisis, penyajian, dan interpretasi dari informasi relevan yang memadai. c. Memberikan kontribusi kepada pengawasan dan pengendalian kinerja melalui pembuatan laporan atas kinerja organisasi (atau segmen tertentu dalam organisasi) yang mencakup perbandingan antara kinerja aktual dengan kinerja yang direncanakan/dianggarkan. Di samping itu juga mencakup analisis dan interpretasinya. Proses akuntansi manajemen merupakan integrasi yang tidak terpisahkan antara perencanaan dan pengendalian. Dalam perspektif tersebut, perlu dibedakan antara dua jenis aktivitas perencanaan, yaitu:

a. Perencanaan Strategis untuk tujuan dan sasaran yang bersifat mendasar. Jenis perencanaan ini amat penting untuk menentukan tujuan organisasi secara keseluruhan. b. Perencanaan Operasional, yaitu jenis perencanaan yang penting untuk mengimplementasikan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang bersifat fundamental tersebut. Tahap-tahap penting dari proses perencanaan dan pengendalian ada lima, yaitu:

1) Perencanaan strategis berupa penyusunan tujuan dan sasaran yang bersifat fundamental dan jangka panjang, 2) Perencanaan operasional, 3) Proses penganggaran, 4) Pengendalian dan pengukuran, 5) Pelaporan, analisis, dan umpan balik. Tahap 2 sampai 5 membentuk siklus perencanaan dan pengendalian manajemen. Sifat dari hubungan dari tahap-tahap ini dan hubungannya secara komprehensif dengan perencanaan strategis yang bersifat fundamental digambarkan dalam Figur berikut:

Perencanaan Strategis
Perencanaan
Strategis
Perencanaan Operasional T i n d a k a n Pelaporan, Proses Revisi Anggaran Analisis &
Perencanaan
Operasional
T i n d a k a n
Pelaporan,
Proses
Revisi Anggaran
Analisis & Umpan
Penganggaran
Balik
Pengendalian &
R e v is i r e n c a n a O p e ra s io n a l

Pengukuran

Gambar 1. Proses Perencanaan dan Pengendalian Manajemen

Dari gambar di atas, kita dapat memahami bahwa titik awal dari proses manajemen adalah penetapan rencana strategis yang berisi tujuan dan sasaran organisasi secara fundamental dalam perspektif jangka panjang. Proses penyusunan rencana strategis ini sangat bergantung kepada lingkungan dan karakteristik masing-masing organisasi. Jika kita membandingkan antara sektor publik dan sektor komersil, tidak ada perbedaan substansial, namun proses di sektor publik biasanya lebih rumit. Sektor komersil memiliki tujuan memaksimalkan kekayaan pemegang saham selain beberapa tujuan lain seperti pangsa pasar atau citra perusahaan. Bertolak dari tujuan dasar tersebut, perencanaan strategis ditentukan langsung oleh manajemen walaupun pengaruh dari kelompok lain mungkin cukup besar. Meskipun demikian, tanggung jawab untuk menetapkan perencanaan strategis dari organisasi sektor publik jauh lebih rumit, karena mengakomodasi banyak faktor seperti persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang, intervensi pemerintah, serta berbagai proses politik yang kental. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa walaupun manajemen suatu organisasi sektor publik mungkin dilibatkan dalam perencanaan strategis, sebenarnya proses tersebut adalah proses politik dengan tanggung jawab utama yang terletak di luar pihak manajemen. Maka pada Gambar 1, perencanaan strategis berada di luar siklus perencanaan dan pengendalian manajemen. Setelah tujuan dan sasaran yang bersifat fundamental tersebut telah diidentifikasi, proses manajemen strategis dapat digunakan kemudian untuk menentukan strategi dan tindakan yang diperlukan untuk implementasinya. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 1 sebagai tahapan perencanaan operasional. Tujuan dari rencana operasional adalah untuk menurunkan tujuan dan sasaran dasar ke dalam beberapa target untuk dicapai dan beberapa aktivitas untuk dilakukan. Perencanaan juga penting untuk memastikan bahwa semua alternatif untuk mencapai sasaran tersebut telah dipertimbangkan, bahwa prioritas dan skala waktu ditetapkan, dan bahwa persyaratan investasi modal dan biaya tahunan yang harus dikeluarkan di kemudian hari dapat diketahui lebih awal. Rencana operasional biasanya meliputi periode waktu untuk jangka pendek atau jangka menengah dan dapat dinyatakan baik secara finansial maupun non-finansial. Penggunaan indikator kinerja dan target yang bersifat non-finansial menjadi semakin penting dalam perencanaan operasional. Setelah aktivitas jangka pendek yang perlu dilakukan telah teridentifikasi, mereka lalu dinyatakan secara finansial. Tahap ini adalah tahap penganggaran. Peran penting anggaran dalam organisasi sektor publik berasal dari kegunaannya dalam menentukan estimasi pendapatan atau jumlah tagihan atas jasa yang diberikan. Namun peran

anggaran dalam siklus perencanaan dan pengendalian manajemen lebih dari sekedar dua hal tersebut, karena anggaran memiliki keterikatan antara perencanaan dan pengendalian. Peranan anggaran dalam perencanaan dicapai dengan menyatakan dalam nilai uang besarnya input yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas yang direncanakan dalam periode anggaran. Sementara peranan anggaran dalam pengendalian dapat dicapai dengan mempersiapkan anggaran dengan cara yang dapat menunjukkan input dan sumber daya yang telah dialokasikan kepada individu atau departemen sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan tugas yang dibebankan kepada mereka. Organisasi sektor publik sering berhadapan dengan kurangnya pengukuran output yang sesuai, sehingga pengukuran efektivitas didasarkan pada input yang digunakan. Padahal, pengeluaran yang dialokasikan pada anggaran tertentu amat penting, sebab tidak hanya alokasi tersebut menunjukkan berapa jumlah dana maksimum yang dapat dikeluarkan untuk kegiatan ini, melainkan juga alokasi tersebut memberikan indikasi mengenai berapa level/tingkat dari pemberian jasa. Selanjutnya, pengendalian dapat dilaksanakan dengan membandingkan antara hasil menurut anggaran dengan hasil yang sebenarnya (actual results) untuk memastikan bahwa pengeluaran tidak dilampaui dan tingkat aktivitas yang direncanakan dapat tercapai. Ini adalah tahapan pengendalian dan pengukuran. Pengukuran mencakup pencatatan biaya aktual yang telah ditimbulkan dan kalau memungkinkan, pencatatan atas output yang dicapai, dan pengendalian akan mendeteksi perbedaan dari posisi anggaran dan mengambil tindakan untuk memperbaiki penyimpangan tersebut. Hal ini berarti bahwa individu atau departemen yang bertanggung jawab atas anggaran harus mengetahui mengenai penyimpangan tersebut sesegera mungkin dan ini merupakan fungsi umpan balik dari tahapan pelaporan, analisis, dan pemberian umpan balik.

  • 2. Konsep Anggaran Sektor Publik

    • 2.1 Pengertian Anggaran Sektor Publik

Definisi anggaran berdasarkan National Committee on Governmental Accounting (NCGA) yang saat ini menjadi Governmental Accounting Standard Board (GASB) adalah

rencana operasi keuangan, yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu. Sedangkan menurut Freeman (2003), anggaran adalah sebuah proses yang dilakukan oleh organisasi sektor publik untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya pada kebutuhan-kebutuhan yang tidak terbatas (the process of allocating resources to unlimited

demands). Selain itu, anggaran juga dapat dikatakan sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja dalam ukuran finansial yang ingin dicapai selama periode waktu tertentu.

Pengertian lain dari anggaran adalah sebuah rencana finansial yang menyatakan:

Rencana-rencana organisasi untuk melayani masyarakat atau aktivitas lain yang dapat mengembangkan kapasitas organisasi dalam pelayanan. Estimasi besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam merealisasikan rencana tersebut. Perkiraan sumber-sumber yang akan menghasilkan pemasukan serta seberapa besar pemasukan tersebut. Tujuan utama dari suatu anggaran adalah untuk stabilitas fiskal makro, alokasi sumber daya sesuai prioritas, dan pemanfaatan anggaran secara efektif dan efisien.

  • 2.2 Karakteristik Anggaran Sektor Publik Anggaran sektor publik bukan hanya sebuah rencana tahunan melainkan bentuk

akuntabilitas atas pengelolaan dana publik yang dibebankan pada organisasi sektor publik tersebut. Anggaran sektor publik memiliki karakteristik sebagai berikut:

Dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan.

Umumnya mencakup jangka waktu tertentu, satu atau beberapa tahun.

Berisi komitmen atau kesanggupan manajeman untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Usulan angggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusun anggaran. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu.

  • 2.3 Fungsi Anggaran Sektor Publik

Seperti telah disebutkan sebelumnya, anggaran dalam sektor publik memiliki peran dan fungsi yang lebih dipentingkan dibandingkan di sektor komersil. Beberapa fungsi anggaran dalam sektor publik yaitu:

A. Anggaran sebagai alat perencanaan. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja sehingga organisasi sektor publik mengetahui apa yang harus dilakukan dan kebijakan apa yang akan dibuat.

  • B. Anggaran sebagai alat pengendalian. Anggaran dapat menghindari terjadinya pengeluaran yang terlalu besar (overspending) atau penggunaan dana yang tidak semestinya (misspending).

  • C. Anggaran sebagai alat kebijakan. Anggaran merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk menentukan arah suatu kebijakan tertentu, misalnya pemberlakuan kebijakan fiskal.

  • D. Anggaran sebagai alat politik. Sebagai instrumen politik, anggaran dapat menunjukkan komitmen pengelola dalam melaksanakan program-program yang telah dijanjikan.

  • E. Anggaran sebagai sebuah alat koordinasi dan komunikasi. Dengan adanya anggaran, suatu unit kerja dapat mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang dilakukan oleh unit kerja lainnya sehingga dapat terjalin komunikasi intern yang menghubungkan berbagai unit kerja dan mekanisme kerja antar atasan dan bawahan.

  • F. Anggaran sebagai alat penilaian kinerja Anggaran dapat digunakan sebagai ukuran apakah suatu unit kerja telah memenuhi target terlaksananya aktivitas dan terpenuhinya efisiensi biaya.

  • G. Anggaran sebagai alat motivasi Anggaran juga dapat digunakan sebagai alat motivasi dan persuasi tindakan efektif dan efisien dalam pencapaian visi organisasi. Namun, anggaran tersebut harus memenuhi sifat menantang tetapi masih mungkin untuk dicapai (challenging but attainable/demanding but achievable.

  • 2.4 Prinsip Anggaran Sektor Publik Anggaran sektor publik mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:

    • A. Otorisasi oleh Legislatif Sebelum anggaran dibelanjakan oleh eksekutif, anggaran sektor publik harus mendapatkan otorisasi dari legislatif.

    • B. Komprehensif Anggaran sektor publik yang komprehensif harus menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran sehingga adanya dana non budgetair menyalahi prinsip anggaran yang bersifat komprehensif.

    • C. Keutuhan anggaran Seluruh penerimaan dan belanja harus terhimpun dalam dana umum.

  • D. Nondiscretionary Appropriation Anggaran publik yang telah disetujui oleh dewan legislatif harus dimanfaatkan secara ekonomis, efisien dan efektif.

  • E. Periodik Anggaran yang disusun dapat bersifat tahunan maupun multi tahunan.

  • F. Akurat Untuk menghindari pemborosan, ketidakefisienan anggaran, underestimate pendapatan, dan overestimate pengeluaran, estimasi anggaran sebaiknya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi.

  • G. Jelas Anggaran sektor publik sebaiknya disusun secara sederhana sehingga mudah dimengerti dan tidak membingungkan masyarakat.

  • H. Diketahui publik Anggaran sektor publik harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

  • 3. Siklus Anggaran Anggaran sektor publik disusun dengan mengikuti sebuah siklus yang dimulai dengan

tahap penyusunan rencana anggaran. Kemudian dilanjutkan dengan persetujuan legislatif. Setelah itu, tahap berikutnya adalah pelaksanaan anggaran. Tahap terakhir adalah pelaporan dan audit atas pelaksanaan anggaran sektor publik tersebut. Tujuan dari proses penyusunan anggaran sektor publik adalah sebagai berikut:

Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasi antar bagian dalam lingkungan pemerintah. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui proses pemrioritasan. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR atau MPR dan masyarakat.

  • 3.1 Siklus Penyusunan Anggaran

    • A. Penyusunan Rencana Anggaran Rencana anggaran biasanya disusun oleh eksekutif dimana anggaran yang disusun ini dimaksudkan untuk dilaksanakan pada periode anggaran berikutnya sehingga diperlukan jadwal waktu yang tepat agar anggaran dapat siap dilaksanakan pada periode tersebut. Tahap penyusunan rencana anggaran dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  • 1. Langkah Awal (Preliminary Steps) Pada langkah awal, kepala pemerintahan memberikan batasan atau kebijakan umum untuk periode anggaran berikutnya. Kebijakan umum tersebut antara lain memberikan gambaran prakiraan awal anggaran yang diperkirakan akan dicapai pada periode anggaran tersebut dan memberikan informasi kepada unit organisasi mengenai prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan.

  • 2. Penyusunan Rencana Anggaran (Preparing The Budget) Penyusunan rencana anggaran ini dilakukan oleh masing-masing unit kerja dengan mengacu pada kebijakan umum yang ditetapkan pada langkah awal penyusunan rencana anggaran. Pada langkah ini, disusun estimasi pandapatan dan belanja dengan mempertimbangkan realisasi periode sebelumnya, kecenderungan yang ada, serta faktor-faktor yang mungkin berpengaruh dan tingkat pencapaian yang diharapkan pada periode mendatang.

  • B. Persetujuan Legislatif Setelah rencana anggaran disusun oleh eksekutif, rencana anggaran tersebut diajukan kepada legislatif. Sebelum legislatif memutuskan untuk menyetujui atau menolak rencana anggaran yang diajukan, legislatif akan melakukan pembahasan dan dengar pendapat (public hearing). Pada tahap ini, eksekutif dituntut untuk memiliki managerial skill, political skill, salesman ship, dan, coalition building yang memadai karena tahap ini melibatkan proses politik.

  • C. Pelaksanaan Anggaran Anggaran yang telah disetujui oleh legislatif, selanjutnya akan dilaksanakan oleh eksekutif. Dalam pelaksanaannya, setiap organisasi harus memperhatikan arus keluar dan masuknya sumber daya karena selalu ada kemungkinan arus masuk sumber daya yang telah dianggarkan tidak tercapai. Untuk mengantisipasinya dan menghindari kesulitan pemenuhan kewajiban, perlu dilakukan pengalokasian (allotments/apportionments) dalam pelaksanaan anggaran.

  • D. Pelaporan dan Audit Tahap selanjutnya setelah anggaran dilaksanakan adalah melaporkan realisasi anggaran tersebut dan membandingkannya dengan anggaran yang telah disetujui sebelumnya. Kemudian, laporan tersebut akan diaudit dan hasil auditnya akan dijadikan informasi dalam penyusunan anggaran periode berikutnya. Tahap pelaporan dan audit ini terkait dengan aspek akuntabilitas. Gambar di bawah ini menunjukkan siklus penyusunan anggaran.

Gambar 2. Siklus Penyusunan Anggaran 4. Jenis-jenis Anggaran Terdapat dua jenis anggaran sektor publik, yaitu anggaran

Gambar 2. Siklus Penyusunan Anggaran

  • 4. Jenis-jenis Anggaran

Terdapat

dua jenis

anggaran

sektor

publik,

yaitu

anggaran

operasional

dan

anggaran

modal/investasi.

 
  • A. Anggaran Operasional Anggaran operasional digunakan untuk merencanakan kebutuhan sehari-hari dalam menjalankan pemerintah. Pengeluaran pemerintah pada anggaran ini merupakan belanja rutin, yaitu pengeluaran yang manfaatnya hanya untuk satu tahun anggaran dan tidak dapat menambah aset atau kekayaan bagi pemerintah serta terjadi berulang-ulang setiap tahun. Belanja rutin tersebut, antara lain adalah belanja administrasi umum dan belanja operasi dan pemeliharaan.

  • B. Anggaran Modal/Investasi Anggaran modal/investasi digunakan untuk rencana jangka panjang dan pengeluaran untuk aktiva tetap seperti gedung, peralatan, kendaraan, dan sebagainya. Pengeluaran pada anggaran ini merupakan pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan pemerintah, serta menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan pemeliharaan. Pengeluaran pada anggaran modal/investasi dalam jumlah besar biasanya dilakukan dengan menggunakan pinjaman.

5.

Pendekatan Penyusunan Anggaran

Terdapat beberapa pendekatan yang digunakan dalam menyusun anggaran sektor publik

dimana masing-masing pendekatan tersebut memiliki tampilan dan karakteristik yang berbeda.

  • A. Pendekatan Tradisional Ada dua karakteristik utama pada pendekatan tradisional (line-item/object of expenditure budget), yaitu penyusunan anggaran dengan pendekatan ini berdasarkan pos-pos belanja dan pendekatan ini menggunakan konsep inkrementalisme (jumlah anggaran tahun tertentu dihitung berdasarkan jumlah tahun sebelumnya dengan tingkat kenaikan tertentu). Selain dua karakteristik utama tersebut, karakteristik lain dari pendekatan tradisional adalah cenderung sentralistis, bersifat spesifikasi, tahunan, dan menggunakan prinsip anggaran bruto. Tujuan pendekatan tradisional adalah mengendalikan pengeluaran kas dengan lebih baik. Penilaian kinerja atas pelaksanaan anggaran hanya dilihat dari tingkat ketaatan pelaksa dalam mematuhi batas anggaran tersebut sehingga pendekatan tradisional tidak memberikan informasi mengenai besarnya dana yang dikeluarkan dan besarnya rencana kegiatan tersebut. Hal tersebut menimbulkan distorsi yang serius dalam pemerintahan. Di samping itu, pendekatan ini tidak memperhatikan konsep value for money, ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Dalam pendekatan tradisional, juga berkembang wacana mengenai tingkat persetujuan yang diberikan pihak legislatif kepada pihak eksekutif yang dapat diberikan dalam pilihan tingkatan. Tingkat pengendalian atas anggaran akan lebih rendah apabila persetujuan atas anggaran diberikan pada level anggaran yang paling atas atau pada jenis objek pengeluaran secara global. Dengan semikian, pihak eksekutif memiliki kebebasan dalam realisasi anggaran selama jumlah dalam anggaran tidak terlampaui. Sebaliknya, tingkat pengendalian angggaran akan menjadi lebih tinggi jika persetujuan anggaran diberikan pada level anggaran yang paling bawah atau pada rincian objek pengeluaran secara detail karena pihak eksekutif semakin tidak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri alokasi anggaran tersebut. Dengan demikian terdapat beberapa kelemahan pada pendekatan tradisional yang disajikan sebagai berikut:

1.

Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang.

  • 2. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pernah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya.

  • 3. Lebih berorientasi pada input daripada output sehingga kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah dana telah habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.

  • 4. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan sulit dicapai.

  • 5. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/investasi.

  • 6. Anggaran tradisional yang bersifat tahunan sebenarnya terlalu pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut dapat mendorong praktik-praktik yang tidak diinginkan (korupsi dan kolusi).

  • 7. Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak memadai menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran.

  • 8. Persetujuan anggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan ’manipulasi anggaran.

  • 9. Aliran informasi (sistem informasi finansial) yang tidak memadai yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.

Contoh Anggaran Tradisional

ANGGARAN POLRES DAMAI

Belanja Gaji

15.000.000

Belanja Peralatan

18.500.000

Belanja Makanan

7.500.000

Belanja Perjalanan

5.600.000

Belanja Lain-lain

1.400.000

Jumlah

48.000.000

  • B. Era New Public Management (NPM) Karena pendekatan tradisional memiliki banyak kelemahan, diperlukan suatu pendekatan penyusunan anggaran yang mampu men-cover kelemahan-kelemahan tersebut. Munculnya pendekatan anggaran yang baru disebut dengan era new public management. Pendekatan baru tersebut, antara lain adalah pendekatan kinerja performance budgeting), pendekatan anggaran berbasis nol (zero based budgeting), dan PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System). Karakteristik umum dari pendekatan-pendekatan tersebut, yaitu komprehensif/komparatif, terintegrasi dan lintas departemen, proses pengambilan keputusan yang rasional, berjangka panjang, spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas, analisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost), berorientasi input, output, dan outcome (value for money), bukan sekedar input, serta adanya pengawasan kinerja.

    • 1. Pendekatan Kinerja

Berbeda halnya dengan pendekatan tradisional, penyusunan anggaran dengan pendekatan kinerja tidak hanya berorientasi pada apa yang dibelanjakan dan berapa jumlah yang harus dikeluarkan saja tetapi juga berorientasi pada rencana kegiatan, apa

yang akan dicapai, proyek apa yang akan dikerjakan, dan bagaimana pengalokasian biayanya. Pendekatan ini menggeser penekanan anggaran dari sebelumnya yang sangat menekankan pos belanja (object of expenditure).

Pendekatan ini mengelompokkan pos-pos anggaran berdasarkan kegiatan. Anggaran yang telah dikelompokkan ke dalam kegiatan-kegiatan akan memudahkan pengukuran kinerja dengan cara terlebih dahulu membuat indikator-indikator yang relevan.

Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang disebabkan oleh tidak adanya tolok ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik. Tolok ukur keberhasilan dalam pendekatan kinerja adalah hasil kerja dengan menggunakan dana secara efisien.

Dapat dilihat bahwa pendekatan kinerja lebih baik daripada pendekatan tradisional. Desain atas penganggaran memungkinkan adanya pengukuran kinerja yang lebih realistis dan proporsional namun tetap mempertahankan penggunaan kontrol yang

kuat atas kas. Namun, disadari bahwa pendekatan ini juga memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah seringnya aparat pemerintah tidak mampu merumuskan indikator kinerja yang baik, akibatnya pengukuran kinerja juga mengalami distorsi.

  • 2. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS) Pendekatan PPBS dikembangkan untuk mengatasi kelemahan pada sistem penganggaran tradisional dan juga penganggaran kinerja. Penganggaran tradisional dirasakan menitikberatkan pada kontrol belanja namun terlalu sedikit perhatian pada kinerja. Sedangkan penganggaran kinerja berhasil melakukan pengukuran kinerja yang efektif pada aspek-aspek kualitatif secara efektif, namun masih terisolir pada program atau kegiatan tahunan pemerintah yang dibuat pada saat itu. Oleh karena itu, meskipun ada perhatian pada output/hasil, anggaran kinerja dikatakan belum berhasil menghubungkan antara hasil dengan proses perencanaan (tujuan dan sasaran) yang telah dicanangkan di awal yang biasanya dibuat secara multi tahunan. Konsep PPBS merupakan konsep luas yang memandang bahwa penyusunan anggaran bukanlah proses terpisah yang berdiri sendiri melainkan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan suatu organisasi. PPBS merupakan upaya sistematis yang memperhatikan integrasi dari perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran. Pada PPBS, sasaran, manfaat, dan tujuan harus diterjemahkan secara eksplisit sehingga program strategis yang berorientasi pada hasil dapat diidentifikasi. Dari sini, akan dihasilkan informasi tentang anggaran yang membantu pengalokasian sumber daya secara efektif. Penyusunan anggaran dengan pendekatan PPBS menekankan pada penyusunan rencana dan program. Pos-pos anggaran pada pendekatan ini disusun berdasarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Di samping itu, pengambilan keputusan dalam PPBS utamanya dilakukan sebagai kombinasi antara pengambilan keputusan dari atas ke bawah (top down) dan dari bawah ke atas (bottom up). Hal tersebut berbeda dari penganggaran tradisional (line- item budget) yang pengambilan keputusan anggarannya dilakukan dari bawah ke atas (top down).

PPBS juga mempunyai perbedaan dengan penganggaran tradisional dalam hal pengukuran atau penilaian hasil alokasi sumber daya. PPBS mempunyai sudut pandang waktu yang lebih luas karena adanya kebutuhan sinkronisasi dengan dokumen perencanaan yang kerangka waktunya memang lebih dari satu tahun.

Karakteristik PPBS, antara lain:

  • a. Dimulai dengan mendefinisikan kembali rumusan perencanaan strategis yang dimiliki pemerintah (visi dan misi) untuk diderivasikan dalam program dan kegiatan yang bersifat tahunan.

  • b. Metode perumusan program dan kegiatan yang dibuat berdasarkan perencanaan strategis memungkinkan unit pemerintahan melakukan estimasi atas biaya-biaya di tahun-tahun mendatang, dikarenakan adanya kesinambungan atas program dan kegiatan tersebut. Karakteristik inilah yang kemudian melahirkan sebuah pendekatan modern yang disebut Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework MTEF)

Sebelum PPBS dapat diimplementasikan, pemahaman yang baik tentang tujuan strategis organisasi akan membantu pengembangan program dan kegiatan yang baik. Secara teknis, tahapan tersebut diawali dengan proses identifikasi kebutuhan dan evaluasi keterbatasan sumber daya. Berdasarkan pengukuran kebutuhan dan evaluasi keterbatasan sumber daya, sasaran dan tujuan ditentukan. Berikutnya, dikembangkan struktur program organisasi secara keseluruhan.

Berdasarkan program-program yang telah dibuat, disusun indikator kinerja dan alokasi sumber daya keuangan seperti halnya dalam pendekatan anggaran kinerja. Indikator dan alokasi keuangan akan memiliki keterkaitan yang erat dengan perencanaan strategis karena proses pengembangan program yang didasarkan pada rencana strategis organisasi. Di bawah ini adalah beberapa tahap dalam penyusunan anggaran dengan PPBS.

  • a. Menentukan tujuan yang ingin dicapai

  • b. Mengkaji pengalaman-pengalaman di masa lalu

  • c. Melihat prospek perkembangan yang akan datang

  • d. Menyusun rencana yang bersifat umum mengenai apa yang akan dilaksanakan

  • e. Menyusun program pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan

  • f. Menentukan berapa jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan program- program tersebut Penerapan PPBS membutuhkan kemampuan dalam menyusun rencana dan program secara terpadu. Selain itu, dibutuhkan informasi yang lengkap, baik informasi masa lalu maupun informasi masa depan yang relevan dengan kebutuhan penyusunan rencana dan program tersebut.

Tahap-Tahap Penyusunan Anggaran dengan Pendekatan PPBS

misi Menentukan
misi
Menentukan
3 Mengukur kebutuhan 6 Menganalisis program
 
3
3

Mengukur

 

kebutuhan

kebutuhan
6
6

Menganalisis

 

program

program
 
   
 
f. Menentukan berapa jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan program- program tersebut Penerapan PPBS membutuhkan kemampuan
 

2

Menerjemahkan

sasaran dan

5
5
 

Mengembangka

n struktur

program secara

7
7
 

Mengembangka

n anggaran

program dan

8
8
 

Alokasi sumber

 

daya

9
9
 

Mengimplement

asikan rencana

anggaran

1
1

Evaluasi

f. Menentukan berapa jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan program- program tersebut Penerapan PPBS membutuhkan kemampuan
1 4
1
4
f. Menentukan berapa jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan program- program tersebut Penerapan PPBS membutuhkan kemampuan
Mengidentifikasi hambatan dan sumber daya
Mengidentifikasi
hambatan dan
sumber daya
f. Menentukan berapa jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan program- program tersebut Penerapan PPBS membutuhkan kemampuan

3.

Pendekatan Anggaran Berbasis Nol (Zero Based Budgeting)

Pendekatan Anggaran Berbasis Nol (Zero Based Budgeting) merupakan suatu pendekatan penyusunan anggaran didasarkan pada perkiraan kegiatan tahun yang bersangkutan, bukan pada apa yang telah dilakukan pada masa lalu. Semua kegiatan pada pendekatan ini menggunakan basis nol sehingga tidak ada level pengeluaran minimum. Dengan kata lain, setiap aktivitas atau program yang telah diadakan di tahun-tahun sebelumnya tidak secara otomatis dapat dilanjutkan.

Di samping itu, dilakukan pula evaluasi atas semua kegiatan atau pengeluaran untuk menentukan apakah aktivitas itu akan diadakan tahun ini dengan melihat kontribusi yang diberikannya kepada tujuan organisasi.

Proses penyusunan anggaran berbasis nol (zero based budgetingZBB) adalah sebagai berikut:

  • a. Membagi tiap-tiap program dan kegiatan dalam unit-unit keputusan (decision package). Unit-unit keputusan ini adalah program, aktivitas, atau unit organisasi di tingkat yang rendah.

  • b. Dasar untuk pembagian adalah aktivitas secara spesifik, jasa spesifik yang diberikan, subunit organisasi atau aktivitas alternatif yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari program.

  • c. Memilih cara yang terbaik untuk menyediakan jasa dengan berdasarkan analisis biaya manfaat atau analisis lain (atau menggunakan pertimbangan politis).

  • d. Menentukan pilihan atas beberapa unit organisasi sehingga didapat keputusan tentang berapa banyak jasa yang akan disediakan (sama dengan tahun lalu, ditambah atau dikurangi).

BAB III KESIMPULAN

Anggaran sektor publik disusun dengan mengikuti sebuah siklus yang dimulai dengan tahap penyusunan rencana anggaran. Kemudian dilanjutkan dengan persetujuan legislatif. Setelah itu, tahap berikutnya adalah pelaksanaan anggaran. Tahap terakhir adalah pelaporan dan audit atas pelaksanaan anggaran sektor publik tersebut.

Tujuan dari proses penyusunan anggaran sektor publik adalah sebagai berikut:

Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasi antar bagian dalam lingkungan pemerintah. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui proses pemrioritasan. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR atau MPR dan masyarakat.

Daftar Pustaka

Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah. (2006). Struktur APBD dan Kode Rekening. Nordiawan, Deddi, Iswahyudi Sondi Putra, Maulidah Rahmawati. (2008). Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat.