Anda di halaman 1dari 11

BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Oleh :
Nama : Rismi Seftiani Jaitun
NIM : B1J013119
Kelompok : 13
Rombongan : IV
Asisten : Taufik Faturochman Wahid

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira - kira tahun 2700
SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat - obatan.
Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik.
Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput laut pun semakin
berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan
baku pembuatan gelas.
Rumput laut (seaweed) merupakan nama dalam dunia perdagangan
internasional untuk jenis-jenis makro alga. Secara taksonomi rumput laut (makro
alga) termasuk ke dalam divisi Thalophyta (tumbuhan berthalus). Sifat divisi ini
primitif artinya badannya sedikit atau tidak terbagi bagi dalam alat vegetatif seperti
akar yang sebenarnya.
Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan dalam program
Departemen Kelautan dan Perikanan. Kelebihan usaha budidaya rumput laut
dibandingkan dengan komoditas lainnya adalah teknologinya yang sangat sederhana,
daya serap pasarnya yang sangat tinggi serta biaya produksinya yang relatif rendah.
Rumput laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Rumput laut digunakan sebagai
sumber makanan, sejumlah besar penduduk daerah maritim secara langsung ataupun
tidak langsung mengkonsumsi atau berhubungan dengan berbagai bentuk produk
alga laut, dimana rumput laut ini berguna bagi makanan manusia ataupun untuk
hewan, juga obat-obatan, agar kultur dan sebagai bahan baku berbagai industri.

B. Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui budidaya rumput laut dengan
metode dan sistem yang berbeda di perairan laut/pantai.

C. Tinjauan Pustaka

Perairan Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis rumput laut, Ekspedisi


Sibolga pada tahun 1928 1929 melaporkan ada 555 jenis rumput laut (van Bosse,
1928). Dari jenisjenis tersebut yang mempunyai nilai ekonomis sebagai komoditi
perdagangan adalah kelompok penghasil agar-agar (Gracilaria, Gelidium,
Gelidiella dan Gelidiopsis) dan kelompok penghasil karaginan (Eucheuma dan
Hypnea). Rumput laut marga Gracilaria dan Eucheuma mempunyai potensi untuk
dibudidayakan. Percobaan-percobaan budidaya Eucheuma dan Gracilaria telah
dilakukan oleh Lembaga Oseanologi Nasional - LIPI, Balai Penelitian Perikanan
Laut Litbangkan, Dinas-dinas Perikanan dan Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi.
Perairan Indonesia yang merupakan 70% dari wilayah Nusantara dengan
13.667 pulau memiliki potensi rumput laut yang cukup besar. Penduduk daerah
pantai dan kepulauan di Indonesia sudah sejak lama memanfaatkan rumput laut
untuk kebutuhan hidup sehari-hari dalam berbagai bentuk, misalnya dimakan mentah
sebagai lalab, dibuat sayur, diacar, dibuat kue penganan dan manisan, bahkan juga
untuk obat-obatan (Zaneveld, 1955). Pemanfaatan rumput laut kemudian
berkembang kearah komersial untuk diekspor dan diperdagangkan sebagai bahan
mentah untuk pembuatan agar-agar atau karaginan (carageen).
Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-
an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumber daya
alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan
untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya,
2004).
Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif
pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1)
produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam, (2) tersedianya lahan
untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang
diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001).

II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bambu, tali rafia,
jangkar, termometer, tali ris, jaring, pisau, salinometer, keping saji, perahu, alat
timbangan, peralatan pertukangan, gunting, pelampung dan keping disc.
Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya rumput laut adalah Gracilaria
verrucosa.
B. Metode
1. Persiapan
Rakit dibuat dari bambu 2 x 1.5 m

Tali ris diambil dan diikatkan pada bambu antara sisi yang berhadapan
sehingga terbentuk seperti jaring dengan ukuran 20 x 20 cm dan tali tunggal
dengan jarak 20 cm antara tali.

Jaring yang sudah ada dibuat jaring rakit.

Bibit yang akan ditanam disiapkan dengan berat 20 50 gram.

Masing-masing bibit dengan berat tertentu diikat dengan tali raffia.

Jangkar/batu sebagai jangkar yang telah diikat tali.


2. Penanaman
Bibit yang sudah disiapkan, masing-masing bibit diikatkan pada jaring rakit
dengan jarak antara titik tanam 20 cm (dilakukan di darat).

Jaring rakit diberi pelampung.

Jaring rakit yang sudah diberi pelampung yang telah disiapkan, dibawa ke
pantai untuk ditanam di perairan pantai/laut.

Kemudian tali rafia yg sudah diikat di bagian pinggir rakit diikatkan satu sama
lain dengan rakit-rakit yang lain.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

B. Pembahasan
Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam
divisio thallophyta. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang dikenal
dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam ada yang
bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain
sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau
banyak sel (multiseluler). Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua
terus menerus), pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), pectinate
(berderet searah pada satu sisi thallus utama) dan ada juga yang sederhana tidak
bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti
gelatin (gelatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous}, lunak
bagaikan tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya
(Soegiarto et al, 1978).
Ciri-ciri khusus dari Gracilaria verrucosa adalah thalus berbentuk silindris
dan permukaannya licin. Thalus tersusun oleh jaringan yang kuat, bercabang-cabang
dengan panjang kurang lebih 250 mm, garis tengah cabang antara 0,5-2,0 mm.
Percabangan alternate yaitu posisi tegak percabangan berbeda tingginya,
bersebelahan atau pada jarak tertentu berbeda satu dengan yang lain, kadang-kadang
hampir dichotomous dengan pertulangan lateral yang memanjang menyerupai
rumput. Bentuk cabang silindris dan meruncing di ujung cabang (Soegiarto et al.,
1978).
Menurut Dawes (1981), klasifikasi dari Gracilaria verrucosa adalah sebagai
berikut :
Divisio : Rhodophyta
Classis : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Familia : Gracilariaceae
Genus : Gracilaria
Species : Gracilaria verrucosa
Menurut Aslan (1998) metode budidaya rumput laut berdasarkan posisi
tanaman terhadap dasar perairan, dibedakan menjadi tiga cara yaitu metode dasar,
metode lepas dasar dan metode apung. Kelompok kami menggunakan metode apung.
Metode budidaya dasar dan lepas dasar pada prinsipnya sama dengan metode apung,
hanya peletakkan budidayanya dipengaruhi oleh kedalaman. Cara penanamannya
perlu mengikatkan dengan tiang pancang, sehingga letaknya dapat diatur dan teteap
(Kadi & Atmadja, 1988). Soejatmiko & Angkasa (2008) menambahkan, bahwa
rumput laut akan tumbuh lebih baik pada metode apung dibandingkan dengan
metode lain. Penetrasi cahaya berpengaruh lebih efektif pada proses fotosintesis di
permukaan daripada di dasar perairan.
Teknik penanaman pada setiap metode, dapat dilakukan sacara tali tunggal
dan jaring. Pada perairan yang berombak kuat penggunaan sistem jaring lebih baik
daripada tali tunggal. Sistem jaring dapat dimodifikasi dengan beberapa cara,
diantaranya jaring rakit, jaring tabung dan jaring tabung bertingkat. Kelompok kami
menggunakan sistem jaring rakit. Ketiga sistem jaring tersebut masing-masing
mempunyai keuntungan dan kelemahan. Kelemahan sistem-sistem tersebut terletak
pada keamanan, biaya dan irradiasi cahaya yang kurang efektif apabila terletak di
bagian bawah (Widyartini, 2007).
Rumput laut yang ditanam dengan sistem jaring tabung bertingkat
memberikan pertambahan berat basah yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang
ditanam dengan jaring rakit dan jaring tubular. Teknik penanaman pada ketiga sistem
jaring memperlihatkan perbedaan kekuatan peregangan jaring. Pada sistem jaring
rakit dan sistem jaring tubular, jaring menjadi kurang fleksibel sehingga kurang
optimal bagi pertumbuhan rumput laut, karena akses yang terbatas dalam
mendapatkan unsur hara. Jaring yang lebih kuat kurang mengikuti pergerakkan air.
Konstruksi pada sistem jaring tabung bertingkat hampir sama dengan jaring tabung
tubular. Perbedaannya adalah bahwa pada sistem jaring bertingkat, satu tabung
mempunyai sekat/pemisah ruang yang bertingkat-tingkat sehingga hasil yang
diperoleh lebih banyak. Adanya perbedaan kedalaman pada jaring tabung bertingkat
kurang berpengaruh, karena pada awal pertumbuhan ruang tumbuh masih luas
(Widyartini, 2007).
Karakter yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut ini yaitu
sebagai berikut:
a. Suhu
Suhu sangat mempengaruhi tumbuhnya cabang apikal, pada jenis Gracilaria
dimana suhu 280C selama 15 hingga 21 hari akan memacu pertumbuhan cabang
apikal. Pertumbuhan spora atau benih rumput laut akan optimal dalam temperatur
air laut 220C. Tingkatan tertinggi dalam kultur laboratorium yang dipindahkan ke
air lut saat suhu 240C (Mantri et al., 2006).
b. Salinitas
Parameter kimia lain yang sangat berperan dalam budidaya rumput laut
adalah salinitas. Salinitas merupakan faktor yang penting bagi pertumbuhan
rumput laut. Mekanisme osmoregulasi pada rumput laut dapat terjadi dengan
menggunakan asam amino atau jenis-jenis karbohidrat. Kisaran salinitas yang
rendah dapat menyebabkan pertumbuhan rumput laut menjadi tidak normal.
Salinitas yang didapat berdasarkan alat salinometer pada pantai Teluk Penyu
adalah 29 permil.
Rumput laut Gracilaria verrucosa, adalah rumput laut yang bersifat
stenohaline. Ia tidak tahan terhadap fluktuasi salinitas yang tinggi. Salinitas yang
baik berkisar antara 15-30 ppt di mana kadar garam optimal adalah 20-25 ppt.
Untuk memperoleh perairan dengan kondisi salinitas tersebut harus dihindari
lokasi yang berdekatan dengan muara sungai (Ditjenkanbud, 2005).
c. Kecerahan dan Kedalaman Perairan serta pH
Tingkat pertumbuhan tertinggi bagi genus Gracilaria semuanya hampir sama,
pencahayaan optimal bagi Gracilaria ialah sekitar 100 Em-2 s-1 dan cahaya
merupakan faktor pembatas bagi laju pertumbuhan. Konsentrasi nitrogen di
jaringan sangat terpengaruh oleh intensitas cahaya (Lapointe & Duke, 1984;
Shivji, 1985 dalam Cirik et al., 2010). Penurunan intensitas cahaya
mengakibatkan nailknya endapan protein. Pertumbuhan Gracilaria yang baik
sekitar bulan Oktober-Juli saat temperatur air diantara 10 hingga 20 0C. Termasuk
pertumbuhan Gracilaria verrucosa sangat baik saat suhu dibawah 200C dan
Gracilaria verrucosa dapat mentolerir perubahan terhadap salinitas dan Ph.
Salinitas optimum ialah 42 dan pada pH 8 (DeBusk & Ryther, 1984 dalam Cirik
et al., 2010)
d. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan
organisme untuk proses respirasi. Oksigen terlarut dalam air umumnya dari difusi
oksigen, arus atau aliran air melalui air hujan dan fotosintesis. Kadar oksigen
terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan
atmosfer.

e. Arus
Arus merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan rumput laut
dimana arus mempunyai peranan dalam transportasi unsur hara sebagai sumber
makanan. Jika gerakan air yang bagus maka akan membawa nutriens yang cukup
dan dapat mencuci kotoran-kotoran halus yang menempel pada thallus.
Sebaliknya dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut perlu diperhatikan
kondisi lokasi agar terlindung dari arus yang kuat.
Menurut Ditjenkanbud (2006), rumput laut merupakan organisme yang
memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Nitrat (NO3) adalah
bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi
pertumbuhan rumput laut. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan
bersifat stabil (Effendi, 2003). Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi amonia
menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan
berlangsung dalam kondisi aerob.
f. Lokasi
Lokasi penanaman Gracilaria harus mempunyai kriteria sebagai berikut :
Dasar tambak pasir berlumpur
Tersedia sumber air tawar untuk menurunkan salinitas
Dekat dengan pantai untuk mempermudah pergantian air
Elevasi pasang surut antara 1 2 m untuk mempermudah pergantian air
Salinitas air tambak antara 20 33 ppt
Suhu air berkisar antara 20 28 oC
pH air tambak antara 6 9
Kedalaman air tambak minimal 50 cm (Febriko, 2010).
g. Kandungan hara
Jenis gracilaria sangat tergantung pada konsentrasi hara berupa nitrogen
mengakibatkan, sangat sulitnya jenis ini dalam melakukan perhitungan kasar
kebutuhan hara terutama unsur fosfor. Kandungan fosfor berkisar antara
101,663,11 ppm dan 114,035,44 ppm dan perbedaan signifikan akan mucul
terkait kebutuhan fosfor saat panen. Menurut Ilyas (1989) dalam Cirik et al
(2010) bahwa ketergantungan G.verrucosa akan fosfor berubah sekitar 138,45
ppm saat bulan Juni dan 65,66 ppm saat September (Cirik et al., 2010).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Metode budidaya rumput laut berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan,
dibedakan menjadi tiga cara yaitu metode dasar, metode lepas dasar dan metode
apung.
2. Sistem budidaya rumput laut yang digunakan pada acara praktikum ini yaitu
dengan sistem tali tunggal dan jaring. Pada sistem jaring digunakan sistem jaring
rakit, tabung tubular dan jarring tabung bertingkat.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut yaitu suhu, pH,
tingkat kecerahan, kedalaman perairan, salinitas, oksigen terlarut dan arus air
serrta kandungan hara.
B. Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik.

DAFTAR REFERENSI

Aslan, L.M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta: 76 hal.

Cirik, S., Z. Cetin, I. Ak, S. Cirik, T. Goksan. 2010. Greenhouse Cultivation of


Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfuss and Determination of Chemical
Composition. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences 10: 559-564
(2010).
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2001. Modul Sosialisasi dan Orientasi
Penataan Ruang, Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ditjen Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, Jakarta.

Ditjenkan Budidaya, 2004. Petunjuk teknis budidaya laut : rumput laut eucheuma
cottonii spp. Direrektorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan
dan Perikanan. Jakarta. 40 hal.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanisius. 258 hal.

Febriko, S.D., Agus S., Sofiati, Rahman M. A. 2010. Peningkatan Produksi Rumput
Laut Gracilaria verrucosa di Tambak dengan Penambahan Pupuk.

Indriani dan Sumiarsih. 1999. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut.
Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Kadi, A. dan Atmaja, W.S. 1988. Rumput Laut (Algae): Jenis, Reproduksi, produksi
Budidaya dan Pasca Panen. Puslitbang Oseaologi. LIPI.71p.

Mantri, V.A., M.C. Thakur, M. Kumar, C.R.K Reddy, and B. Jha. 2006. The
carpospore culture of industrially important red alga Gracilaria dura
(Gracilariales, Rhodophyta). (tidak dipublikasikan)

Romimmohtarto K dan Juwana, S. 2005. Biologi Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Soegiarto, A., Sulistijo, Atmadja, W.S., Mubarak, H. 1978. Rumput Laut (Algae)
Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayanya. LON-LIPI, Jakarta.

Soejatmiko W, Angkasa WI. 2008. Teknik Budidaya Rumput Laut dengan Metode
Tali Panjang. Direktorat Pengkajian Ilmu Kehidupan-BPPT. Jakarta.

Widyartini, D. S., dan Insan A.I. 2007. Meningkatkan Produksi Rumput Laut
Gracilaria gigas melalui Modifikasi Sistem Jaring (Studi Kasus: di Perairan
Nusa Kambangan Cilacap). Oceana, 32 (4).

Van Bosse, A.W. 1928. Rhodophyceae : Gigartinales et Rhodymeniales. Listeds


Algues du Siboga. Siboga Expeditie LIX (4) : 1141.

Zaneveld, J.S. 1955. Economic marine algae of tropical South and East Asia and
their utilization. Ind. Pac. Fish. Counc. Spec. Publ. 3 : 155.