Anda di halaman 1dari 28

REFERAT URETRITIS GONORE

Pembimbing :

dr. Antoni Miftah, Sp.KK

Disusun oleh :

Yahya Iryianto Butarbutar 11 2015 154

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT KELAMIN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA LAMPUNG

PERIODE 30 OKTOBER 2017 02 DESEMBER 2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Uretritis gonore merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman neisseria
gonorrhoeae dimana manusia merupakan satu-satunya penjamu ( host ) dengan manifestasi
berupa peradangan pada saluran kencing bagian depan ( uretra ). Gejala klinis pada laki-laki
diawali dengan gejala ringan yang bila tidak diobati akan menimbulkan komplikasi seperti
epididymitis, seminal vaskulitis dan prostatitis, sedangkan pada wanita gejala lebih ringan
atau kadang tanpa gejala sehingga wanita sering menjadi carrier atau sumber penularan yang
tersembunyi.1

Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insiden yang tinggi di antara I.M.S,
pada pengobatannya terjadi pula perubahan karena sebagian disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae yang telah resisten terhadap penisilin dan disebut Penicilinase Producing
Neisseria Gonorhoeae (P.P.N.G). Kuman ini meningkat dibanyak negeri termasuk Indonesia.
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital, oro-
genital, dan ano-genital. Tetapi disamping itu dapat juga terjadi secara manual melalui alat-
alat, pakaian, handuk, termometer, dan sebagainya.2

Untuk dapat menular harus terjadi kontak langsung mukosa ke mukosa. Tidak semua
orang yang terpajan gonore akan terjangkit penyakit, dan risiko penularan dari laki-laki
kepada perempuan lebih tinggi daripada penularan perempuan kepada laki-laki terutama
karena lebih luasnya selaput lendir yang terpajan dan eksudat yang berdiam lama di vagina.
Setelah terinokulasi, infeksi dapat menyebar ke prostat, vas deferens, vesikula seminalis,
epididimis, dan testis pada laki-laki dan ke uretra, kelenjar skene, kelenjar bartholin,
endometrium, tuba falopii, dan rongga peritoneum, menyebabkan PID pada perempuan.3

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Alat Kelamin

Sebelum membicarakan penyakit akibat hubungan seksual, kiranya perlu terlebih


dahulu kita mengenal anatomi alat kelamin, karena gejala beberapa penyakit akibat hubungan
seksual tersebut erat sekali hubungannya dengan susunan anatomi alat kelamin.2

2.1.1 Alat Kelamin Laki-Laki

Gambar 1. Anatomi Kelamin Laki-Laki

3
Uretra

Uretra adalah organ berbentuk pipa, yang terdapat antara ostium uretra internum dan
ostium uretra eksternum. Panjangnya 20 cm dan menyerupai huruf S terbalik dalam
kedudukan horizontal, dari kandung kencing ke simfisis pubis melengkung dengan cekungan
ke depan atas, sedangkan bagian selanjutnya melengkung dengan cekungan menghadap ke
bawah belakang. Pada uretra dapat dibedakan:2

- Pars prostatika (Uretra posterior)


- Pars membranasea (Uretra posterior)
- Pars spongiosa (Uretra anterior)

Uretra pars prostatika

Bagian ini terletak dalam glandula prostata, antara ostium uretra internum dan fasia
diafragma urogenitale superior, panjangnya 3 cm dan merupakan bagian uretra terlebar
dengan daya dilatasi terbesar.2

Uretra pars membranasea

Merupakan bagian uretra terpendek 1,2 cm, mulai dari ujung prostat sampai umbi
zakar dan juga dilapisi epitel transisional. Kecuali di ostium uretra eksternum, bagian ini
merupakan bagian uretra tersempit.2

Uretra pars spongiosa

Merupakan bagian uretra terpanjang 15 cm dari fasia diafragma urogenitale inferior


sampai ostium uretre eksternum. Dilapisi epitel torak, kecuali 12 mm terakhir (fosa
navikularis) yang dilapisi epitel gepeng berlapis. Potongan melintangnya 0,5 cm melebar di
fosa navikularis, kemudian menyempit kembali di orifisium uretra eksternum.2

Penis

Di dalam zakar (penis) terdapat badan pengembung (erektil) :

1. Korpus spongiosum penis yang meliputi uretra


Badan pengembung ini melebar di kedua ujungnya dengan membentuk umbi
zakar (bulbus penis) di akar penis dan diujung bebasnya, yakni kepala zakar (glans

4
penis). Glans penis diliputi oleh kulup (preputium) yang disebelah ventral
berhubungan dengan glans melalui frenulum preputii.2
2. Korpus kavernosum penis
Kedua korpus kavernosum penis di akar penis berpencar masing-masing
membentuk krus penis yang memperoleh fiksasi pada ramus inferior osis pubis dan
ramus superior osis iskii.2

Prostat

Berukuran 4x4 cm, terletak dibawah kandung kencing, di atas diafragma urogenitale
dan meliputi bagian pertama uretra. Terdiri atas 2 lobus lateral dan 1 lobus medial,
salurannya dilapisi oleh epitel torak dan bermuara pada uretra pars prostatika.2

Vesikula seminalis

Kedua vesikula seminallis merupakan alat yang gepeng, lonjung dan panjang 5 cm.
Struktur dalamnya berupa tabung yang berkelok-kelok. Saluran kedua vesikula seminalis
masing-masing bersatu dengan bagian terakhir duktus deferens yang homolateral untuk
membentuk duktus ejakulatorius.2

Duktus deferens

Merupakan pipa penghubung yang terentang antara kutub bawah epididimis dan atas
prostata dikedua sisi tubuh. Bagian pertama berjalan naik di belakang epididimis lalu ikut
membentuk funikulus spermatikus. Bagian terakhirnya melebar menjadi ampula duktus
deferentis, kemudian menyempit dan bersatu dengan saluran vesikula seminalis menjadi
duktus ejakulatorius.2

Testis dan epididimitis

Kedua alat terbungkus dalam kantung buah zakar (skrotum). Anak buah zakar
dilepaskan 20 pipa, yaitu duktus eferentis yang membentuk kutup atas epididimis, lalu
bersatu menjadi satu saluran yang berliku-liku dan membentuk kaput dan kauda epididimis.2

5
2.1.2 Alat Kelamin Perempuan

Alat kelamin perempuan dan laki-laki mempunyai asal yang sama, namun pada
perkembangannya kemudian terjadi beberapa perbedaan.2

Gambar 2 dan 3. Anatomi Kelamin Perempuan

Mons veneris dan kedua labium pudendi

Kedua bibir kemaluan besar (labium mayus pudendi) masing-masing berasal dari
benjolan genital kanan dan kiri yang pada laki-laki menghasilkan kantung buah zakar.
Persatuan kedua benjolan genital disebelah ventrokranial kemudian diubah menjadi bukit
kemaluan (mons pubis atau mons veneris). Kedua bibir kemaluan kecil (labium manus

6
pudendi) berasal dari lipat-lipat urogenital kanan dan kiri yang pada perempuan tidak bersatu
di garis tengah.2

Klitoris (Kelentit)

Merupakan homolog bagian dorsal penis dan berasal dari tuberkulum genitale yang
tidak berkembang seperti halnya pada laki-laki. Alat ini berisi 2 badan pengembung yang
bersatu pada glans klitorides.2

Himen (Selaput dara)

Merupakan lipatan mukosa yang membatasi ostium vagine pada gadis.2

Uretra

Panjang uretra wanita hanya 3 cm. Epitelnya ialah epitel transisional dibagian proksial
dan epitel berlapis di bagian distal. 2

Vagina

Vagina adalah saluran penghubung antara vestibulum pudendi dan serviks uteri.
Panjang dinding depannya 9 cm dan dinding belakang 14 cm.2

Uterus (Rahim)

Terdiri atas leher (serviks) dan badan (korpus) uteri. Korpus uteri terdiri atas 3 lapisan:

- Endometrium
- Miometrium
- Perimetrium

Di dalamnya terdapat sebuah rongga berukuran 5 x 8 cm disebut rongga rahim (kavum


uteri). Bagian atas korpus uteri disebut fundus uteri dan di sudut lateral fundus uteri bermuara
saluran telur (tuba uterina) kedalam kavum uteri.2

Tuba uterina dan ovarium

Tuba uterina terletak melintang di sisi kanan dan kiri rahim masing-masing
panjangnya 12 cm, terdiri atas pars uteri, ismus, ampula, dan fimbriae. Ovarium berbentuk
oval dan melekat pada permukaan belakang ligamentum latum uteri. 2

7
2.2 Defenisi Uretritis Gonore

Uretritis gonore adalah suatu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh kuman
neisseria gonorrhoeae.1 Yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akuta dan dapat
menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asendens, dan
diseminata. Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas di bagian distal uretra di sekitar
orificium uretra eksternum, kemudian disusul disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari
ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu
ereksi. 2

Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum erimatosa, edematosa, dan


ektropion. Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen, dan pada beberapa kasus dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.2

Gamabr 4. Uretritis Gonore pada Laki-Laki dan Perempuan

8
2.3 Etiologi

Penyebab gonore adalah gonokok


yang ditemukan oleh Neisser pada tahun
1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882.
Kuman tersebut termasuk dalam grup
Neisseria dan dikenal ada 4 spesies, yaitu
N.gonorrhoeae dan N.meningitidis yang
bersifat patogen. Serta N.catarhalis dan
N.pharyngis ini sukar dibedakan kecuali
dengan tes fermentasi.2

Gonokok termasuk dalam golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8
u dan panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram
bersifat gram negatif terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas,
cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39C dan tidak tahan cat
desinfektan.2

Secara morfologik, gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai
pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat
nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.2

Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau
lapis gepeng yang belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.2

2.5 Epidemiologi

Gonore terdapat dimana-mana di seluruh dunia dan merupakan penyakit kelamin yang
terbanyak dewasa ini. Tidak ada imunitas bawaan maupun setelah menderita penyakit. Juga
tidak ada perbedaan mengenai kekebalan antara berbagai suku bangsa atau jenis kelamin atau
umur.1

Diperkirakan setiap tahun tidak kurang dari 25 juta kasus baru ditemukan di dunia.
Beberapa strain kuman gonokok yang resisten terhadap penisilin, quinolone dan antibiotik
lainnya telah ditemukan beberapa tahun yang lalu dan membawa persoalan dalam
pengobatan, telah tersebar di beberapa negara.1

9
2.6 Patofisiologi

Gonococci menampakkan beberapa


tipe morfologi dari koloninya, tetapi hanya
bakteri berpili yang tampak virulen.
Gonococci yang berbentuk koloni yang pekat
( opaque ) saja yang diisolasi dari manusia dengan gejala uretritis dan dari kultur uterine
cervical pada siklus pertengahan. Gonococci yang koloninya berbentuk transparan diisolasi
dari manusia dari infeksi uretral yang tidak bergejala, dari menstruasi dan dari bentuk invasif
dari gonorrhea, termasuk salpingitis dan infeksi diseminasi.1

Pada wanita, tipe koloni terbentuk dari sebuah strain gonococcus yang berubah
selama siklus menstruasi. Gonococci yang diisolasi dari pasien membentuk koloni-koloni
yang pekat atau transparan. Pili merupakan bagian dinding sel gonokokus yang menyerupai
rambut, berbentuk batang dan terdiri dari subunit protein sekitar 1.800 dalton. Pili ini
dihubungkan dengan patogenisitas kuman yang sangat berperan dalam perlekatan ( adhesi )
pada sel mukosa dan penyebaran kuman dalam inang. Pili ini akan melekat pada mukosa
epitel dan menimbulkan reaksi radang. Gonococci menyerang membran selaput lendir dari
saluran genitourinaria, mata, rectum dan tenggorokan respon, peradangan yang cepat disertai
desruksi sel, hal yang diikuti dengan inflamasi kronis dan fibrosis, menghasilkan nanah yang
akut yang mengarah ke invaginasi jaringan,. Pada pria, biasanya terjadi peradangan uretra (
uretritis ), nanah berwarna kuning dan kental, disertai rasa sakit ketika kencing dan dari
ostium serviks pada wanita.1,2,3

2.7 Gambaran Klinis

Gambaran klinik dan perjalanan penyakit pada perempuan berbeda dari pria. Hal ini
disebabkan perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan perempuan. Gonore pada
perempuan kebanyakkan asimptomatik sehingga sulit untuk menentukan masa inkubasinya.
Keluhan traktus genitourinarius bawah yang paling sering adalah bertambahnya duh tubuh
genital, disuria yang kadang-kadang disertai poluria.4

Gejala dan tanda pada laki-laki dapat muncul sedini 2 hari setelah pajanan dan mulai
dengan uretritis, diikuti oleh sekret purulen, disuria, dan sering berkemih serta malese.
Sebagian besar laki-laki akan memperlihatkan gejala dalam 2 minggu setelah inokulasi oleh
organisme ini. Walaupun sebagian besar laki-laki memperlihatkan gejala, namun sampai 10%

10
tidak, tetapi mereka tetap mampu menularkan penyakitnya. Pada sebagian besar kasus, laki-
laki akan segera berobat karena gejala yang mengganggu. Karena infeksinya cepat diketahui
dan di terapi, maka jarang ada laki-laki yang mengalami prostatitits, epididimitis, atau
bakteremia.3

Pada perempuan, gejala dan tanda timbul dalam 7 sampai 21 hari, dimulai dengan
sekret vagina. Pada pemeriksaan, serviks yang terinfeksi tampak edematosa dan rapuh
dengan drainase mukopurulen dari ostium. Infeksi N.gonorrhoea tidak atau sedikit
menimbulkan gejala pada 25% sampai 50% perempuan. Perempuan yang sedikit atau tidak
memperlihatkan gejala menjadi sumber utama penyebaran infeksi. Apabila tidak diobati,
maka tanda-tanda infeksi meluas biasanya mulai timbul dalam 10 sampai 14 hari. Tempat
penyebaran tersering pada perempuan adalah ke uretra, dengan gejala retritis, disuria, dan
sering berkemih serta ke kelenjar Bartholin dan Skene yang menyebabkan pembengkakan
dan nyeri. Infeksi yang menyebar ke endometrium dan tuba falopii menyebabkan perdarahan
abnormal vagina, nyeri panggul dan abdomen.3

Gambar 7. Uretritis Gonore pada Laki-laki dan Perempuan

Pada bayi ophtalmia neonatorum yang disebabkan oleh gonococci, yaitu suatu infeksi
mata pada bayi yang baru lahir yang didapat selama bayi berada dalam saluran lahir yang
terinfeksi. Conjungtivitis inisial dengan cepat dapat terjadi dan bila tidak diobati dapat
menimbulkan kebutaan. Untuk mencegah ophtalmia neonatorum ini, pemberian tetracycline
atau erythromycin ke dalam kantung conjungtiva dari bayi yang baru lahir banyak
dilakukan.1

11
Gambar 8. Ophtalmia Neonatorum

Infeksi ekstragenital yang bersifat primer atau sekunder lebih sering dijumpai karena
berubahnya praktik-praktik seks. Infeksi gonokokus di faring sering asimptomatik tetapi
dapat juga menyebakan faringitis dengan eksudat mukopurulen, demam, dan limfadenopati
leher. Infeksi gonokokus di perianus dan rektum mungkin asimptomatik, menimbulkan rasa
tidak nyaman dan gatal ringan, atau menimbulkan eksoriasi dan nyeri perianus, serta sekret
mukopurulen yang melapisi tinja dan dinding rektum.3

2.8 Kriteria Diagnostik Klinis

Anamnesis

Anamnesis Gonore pada pria:5

1. Gatal pada ujung kemaluan


2. Nyeri saat kencing
3. Keluar duh tubuh purulen dari uretra

Anamnesis Gonore pada wanita:5

1. Keputihan
2. Kadang asimptomatik

12
Pada keduanya didapatkan adanya riwayat kontak seksual sebelumnya dan atau gejala
komplikasi lainnya.5

Pemeriksaan Klinis

Gonore pada pria:5

1. Edema dan eritematus pada orificium uretra disertai disuria


2. Duh tubuh uretra mukopurulen
3. Infeksi rektum pada pria homoseksual dapat menimbulkan duh tubuh anal atau nyeri
atau rasa tidak enak di anus atau perianal
4. Infeksi pada farings biasanya asimptomatik

Gonore pada wanita:5

1. Seringkali asimtomatik
2. Cerviks eritem, edem, kadang ektropion
3. Duh tubuh endoserviks mukopurulen
4. Kadang dijumpai swab bleeding
5. Dapat disertai nyeri pelvis atau perut bagian bawah
6. Infeksi pada uretra dapat menyebabkan disuria

Pemeriksaan Penunjang

Dokter diharapkan dapat memilih dan mengambil jaringan yang tepat (representative)
guna pemeriksaan laboratorium, bila tersedia dan memungkinkan melakukan pemeriksaan
laboratorium sederhana dan membaca serta menginterpretasikan hasilnya.6

1. Pengambilan Duh Tubuh


Cara pengambilan duh tubuh pada perempuan yang menikah atau sudah
menikah dilakukan di ruang pemeriksaan tertutup, pemeriksa didampingi perawat.
Pasien dipersilahkan membuka pakaian dalam (celana dalam) dan berbaring dalam
posisi litotomi pada kursi ginekologi. Pemeriksa memakai sarung tangan. Daerah
vulva dibersihkan dengan kapas yang sudah basah dengan larutan KmnO4. Spekulum
atau cocor bebek steril dipilih ukuran yang sesuai dengan pasien. Spekulum dalam
keadaan tertutup dimasukkan kedalam vagina dengan posisi tegak lurus, kemudian
diputar 90. Buka spekulum dan posisikan agar serviks uteri terlihat kemudian
spekulum di kunci. Pakailah sengkelit yang steril, sudah dibakar membara dan sudah

13
dingin, ambil duh tubuh dari serviks, forniks posterior dan dinding vagina. Kunci
spekulum dibuka, tutup spekulum putar kembali dengan arah tegak lurus, keluarkan
perlahan-lahan. Sekret uretra dapat diambil dengan sengkelit. Pewarnaan cairan duh
tubuh dengan pulasan KOH, Gram, atau ditetesi NaCl 0,9% sesuai indikasi.6

2. Pengambilan Pus
Infeksi bakteri di kulit ditandai pustul atau kumpulan nanah. Pus dapat diambil
langsung, diusap dengan kapas lidi atau diaspirasi , dengan jarum suntik atau dengan
sengkelit: pus pada impetigo vesikobulosa diambil dari kulit. Pada infeksi menular
seksual (IMS) pus pada perempuan dapat diambil dari endoserviks, forniks posterior
dan uretra; pada uretra laki-laki sengkelit dimasukan 1-2 cm agar mencapai fosa
navikularis. Pada pemeriksaan langsung pus dioleskan tipis di kaca objek kemudian
dipulas dengan pewarnaan Giemsa atau gram atau lainnya bergantung pada diagnosis
dugaan. Bila diperlukan sebagian bahan disiapkan untuk kultur dan resistensi, bahan
dimasukkan ke media transport.6

Gambar 9 dan 10. Pengambilan Duh Tubuh

Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan


pembantu yang terdiri atas.2

1. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan gonokok
gram negatif, intraseluler dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari
daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar
bartholin, serviks, dan rektum.2

14
2. Kultur
Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam media yang dapat
digunakan:
a. Media transpor
- Media Stuart
Hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media
pertumbuhan.2
- Media Transgrow
Media ini selektif dan nutritif untuk N.gonorrhoeae dan
N.meningitidis; dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan
merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan,
sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan.2
b. Media pertumbuhan
- Mc Leods chocolate agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman
gonokok, kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh.2
- Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman gram positif.
Kolostrimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri gram negatif, dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.2
- Modified Thayer Martin agar
Isinya ditambah dengan trimetroprim untuk mencegah pertumbuhan
kuman Proteus spp.2
3. Tes Thomson
Tes thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah
berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan waktu itu
ialah pengobatan setempat.2
Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
- Urin dibagi dalam dua gelas
- Tidak boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2

15
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit
80-100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas 2 sukar dinilai karena baru
menguras uretra anterior.2

Hasil pembacaan:

Gelas 1 Gelas 2 Arti

Jernih Jernih Tidak ada infeksi

Keruh Jernih Infeksi uretritis anterior

Keruh Keruh Panuretritis

Jernih Keruh Tidak mungkin

Untuk kecurigaan infeksi pada faring dan anal dapat dilakukan pemeriksaan dari
bahan duh tubuh dengan kultur Thayer Martin atau PCR terhadap N.gonorrhoeae dan
C.Trachomatis.5

2.9 Diagnosis Banding

Infeksi Genital Nonspesifik (I.G.N.S)

Adalah infeksi menular seksual berupa peradangan di uretra, rektum, atau serviks
yang disebabkan oleh kuman nonspesifik. Uretritis nonspesik (U.N.S) pengertiannya lebih
sempit dari I.G.N.S karena peradangan hanya pada uretra yang disebabkan oleh kuman
nonspesifik.2

Yang dimaksud dengan kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas
laboratorium biasa atau sederhana dapat ditemukan seketika, misalnya gonokok, candida
albicans, trichomonas vaginalis dan gardnerella vaginalis.2

Kurang lebih 75% telah diselidiki penyebab I.G.N.S dan diduga penyebabnya adalah
chlamydia trachomatis, ureaplasma urealyticum dan mycoplasma hominis, gardnerella
vaginalis, alergi, bakteri.2

Chlamydia trachomatis penyebab U.N.S merupakan parasit intraobligat, menyerupai


bakteri negatif gram. Ureaplasma urealyticum merupakan 25% sebagai penyebab U.N.S dan
sering bersamaan dengan chlamydia trachomatis. Mycoplasma hominis sebagai penyebab

16
U.N.S masih diragukan, karena kuman ini bersifat komensal yang dapat menjadi patogen
dalam kondisi-kondisi tertentu. Ureaplasma urealyticum merupakan mikroorganisme paling
kecil gram negatif, dan sangat pleomorfik karena tidak mempunyai dinding sel yang kaku.2

Ada dugaan bahwa U.N.S disebabkan oleh reaksi alergi terhadap komponen sekret
alat urogenital pasangan seksualnya. Alasan ini dikemukakan karena pada pemeriksaan sekret
U.N.S tersebut ternyata steril dan pemberian obat antihistamin dan kortikosteroid mengurangi
gejala penyakit.2

Pada bakteri, mikroorganisme penyebab U.N.S ini adalah staphylococcus dan


difteroid. Sesungguhnya bakteri ini dapat tumbuh komensal dan menyebabkan uretritis hanya
pada beberapa kasus.2

Gejala klinis pada pria baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan
umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di
uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore
perjalanan penyakit lebih lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan
kambuh kembali. Pada beberapa keadaan tidak terlihat keluarnya duh tubuh, sehingga
menyulitkan diagnosis. Dalam keadaan demikian sangat diperlukan pemeriksaan
laboratorium.2

Pada wanita infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan vagina,
kelenjar bartholin atau uretra sendiri. Sama seperti pada gonore, umumnya wanita tidak
menunjukkan gejala, sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria
ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis, dan disparenia. Pada pemeriksaan seviks dapat
dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel-folikel kecil yang mudah berdarah.2

Hingga saat ini pemeriksaan biakan masih dianggap sebagai baku emas pemeriksaan
klamidia. Spesifitasnya mencapai 100%, tetapi sensitivitasnya bervariasi bergantung pada
laboratorium yang digunakan. Prosedur, teknik, dan biaya pemeriksaan biakan ini tinggi serta
perlu waktu 3-7 hari.2

Obat yang paling efektif adalah golongan makrolide. Pilihan utama:

- Doksisiklin : 2 x 100 mg sehari selama 7 hari


- Azitromisin : 1 gram dosis tunggal, atau

17
- Eritromisin : untuk penderita yang tidak tahan tetrasiklin, ibu hamil, atau
berusia kurang dari 12 tahun, 4 x 500 mg sehari selama 1 minggu atau 4 x 250
mg sehari selama 2 minggu.6

Kadang kadang tanpa pengobatan, penyakit lambat laun berkurang dan akhirnya
sembuh sendiri (50-70% dalam waktu kurang lebih 3 bulan). Setelah pengobatan 10%
penderita akan mengalami eksaserbasi atau rekurens.6

Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada perempuan


maupun laki-laki, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh trichomoniasis vaginalis
dan penularannya melalui kontak seksual. Merupakan protozoa berbentuk filiformis/ovoid,
berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagel, dan bergerak seperti gelombang.6

Parasit ini berkembang biak secara celah pasang memanjang dan dapat hidup dalam
suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit., tetapi pada suhu 0C
dapat bertahan sampai 5 hari.6

Penularan umumnya melalui kontak seksual, tetapi dapat juga melalui pakaian, dan
handuk basah, atau karena berenang. Trikomoniasis terutama ditemukan pada orang dengan
aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan perempuan pasca
menopause. Penderita perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki.6

T.vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan


cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub-epitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai
3 minggu. Pada perempuan parasit ini menimbulkan radang yang berat pada epitel skuamos
vagina dan ektoserviks, sehingga menimbulkan sekresi yang banyak dan mukopurulen. Pada
kasus lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat
ditemukan dilapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel.6

Lima puluh persen perempuan, asimptomatik, yang diserang terutama dinding vagina,
dapat bersifat akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen sampai
mukopurulen berwarna kekuningan, sampai kuning-kehijauan, berbau tidak enak (malodor),
dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang terbentuk
abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai granulasi berwarna merah
dan dikenal sebagai strawberry appearence, disertai gejala dispareuria, perdarahan

18
pascacoitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul
iritasi pada lipat paha atau disekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi
uretritis, bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus
yang kronik gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.6

Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang


preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan
dibandingkan perempuan. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis non-gonore, misalnya disuria,
poliuria, disertai sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-
kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas: gatal pada uretra,
disuria dan urin keruh pada pagi hari: karena gejalanya yang asimtomatik, perlu dipikirkan
T.vaginalis sebagai salah satu penyebab uretritis non spesifik.6

Medika mentosa, secara sistemik (oral). Obat yang sering digunakan tergolong derivat
nitromidazol seperti:

- Metronidazol : 2 x 500 mg per hari selama 7 hari, atau dosis tunggal 2 gram
atau
- Nimorazol : dosis tunggal 2 gram
- Tinidazol : dosis tunggal 2 gram
- Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram

Gambar 11. T.vaginalis pada Perempuan Gambar 12. Strawberry Appearence

19
Vaginosis Bakterial

Vaginosis bakterial (VB) merupakan sindrom klinis, yang disebabkan oleh bertambah
banyaknya organisme komensal dalam vagina (yaitu Gardnerella vaginalis, Prevotella,
Mobiluncus spp. ) serta berkurangnya organisme laktobasilus terutama lactobacillus yang
menghasilkan hidrogen peroksida. Pada vagina yang sehat, laktobasilus ini mempertahankan
suasana asam dan aeorob. Penyebab spesifik vaginosis bakterial ini masih belum diketahui
pasti.6

Kejadian vaginosis bakterial dihubungkan dengan pasangan seksual multipel,


pasangan seksual baru, dan riwayat IMS sebelumnya, namun apakah vaginosis bakterial
dianggap sebagai salah satu IMS masih diperdebatkan. Pernah dilaporkan bahwa vaginosis
bakterial dapat terjadi pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual
genito-genital. Meskipun demikian, perempuan yang terkena vaginosis bakterial ini lebih
berisiko terkena IMS lainnya, termasuk infeksi HIV.6

Begitu banyak terminologi yang dipakai untuk vaginitis yang disebabkan oleh
Gardnerella vaginalis, misalnya Haemophilus vaginal vaginitis, Corynebacterium vaginale
vaginitis, Gardnerella vaginalis vaginitis, Gardnerella vaginalis associated vaginalis
syndrome, Gardnerella dukes diseases, anaerob vaginosis, dan nonspecific vaginosis.6

Vaginosis bakterial paling sering ditemukan pada perempuan usia reproduktif, aktif
seksual, termasuk lesbian, dan banyak ditemukan pada perempuan yang memeriksakan diri
untuk layanan ginekologik. Prevalensi meningkat pada perempuan yang datang ke klinik
IMS. Keadaan ini juga dapat ditemukan pada ibu hamil. Perempuan yang memakai alat
kontrasepsi dalam rahim dan melakukan bilas vagina lebih banyak ditemukan menderita
vaginosis bakterial.6

Vaginosis bakterial timbul akibat perubahan ekosistem mikrobiologis vagina,


sehingga bakteri normal dalam vagina (Lactobasillus spp) sangat berkurang. Secara in vitro,
lactobacillus vagina akan menghambat G.vaginalis, Mobiluncus dan batang anaerob gram-
negatif. Beberapa galur lactobacillus dapat menghasilkan hidrogen peroksidase yang banyak
dijumpai dalam vagina normal dibandingkan dengan vagina pasien vaginosis bakterial.6

20
Sebanyak 50% perempuan yang menderita vaginosis bakterial tidak menunjukkan
keluhan atau gejala (asimtomatik). Bila ada keluhan, umumnya berupa duh tubuh vagina
abnormal yang berbau amis, yang seringkali terjadi setelah hubungan seksual tanpa kondom.
Jarang terjadi keluhan gatal, disuria atau dispareunia. Umumnya pasangan seksual atau suami
pasien yang mengeluhkan mengenai duh vagina berbau tersebut.6

Pada pemeriksaan klinis menunjukkan duh tubuh vagina berwarna abu-abu homogen ,
viskositas rendah atau normal, berbau amis, melekat di dinding vagina, seringkali terlihat di
labia dan fourchette, pH sekret vagina berkisar antara 4,5-5,5. Tidak ditemukan tanda
peradangan. Gambaran serviks normal.6

Terdapat berbagai kriteria dalam menegakkan diagnosis vaginosis bakterial.


Umumnya digunakan kriteria Amsel, berdasarkan 3 dari 4 temuan berikut:

1. Duh tubuh vagina berwarna putih keabu-abuan, homogen, melekat di vulva dan
vagina.
2. Terdapat clue-cells pada duh vagina ( >20% total epitel vagina yang tampak pada
pemeriksaan sediaan basah dengan NaCl fisiologis dan pembesaran 100 kali)
3. Timbul bau amis pada duh vagina yang ditetesi dengan larutan KOH 10% (tes amin
positif)
4. pH duh vagina lebih dari 4,5.6
Antimikroba berspektrum luas terhadap sebagian besar bakteri anaerob, biasanya
efektif untuk mengatasi vaginosis bakterial. Metronidazol dan klindamisin merupakan obat
utama, serta aman diberikan kepada perempuan hamil. Tinidazol, merupakan derivat
nitroimidazol, dengan aktivitas antibakteri dan antiprotozoa telah disetujui sebagai obat untuk
vaginosis bakterial.6
Obat yang diberikan secara intravagina menunjukkan efikasi yang sama dengan
metronidazol oral, namun efek samping lebih sedikit. Pilihan rejimen pengobatan:
1. Metronidazol dengan dosis 2 x 500 mg setiap hari selama 7 hari.
2. Metronidazol 2 gram dosis tunggal
3. Klindamisin 2 x 300 mg per oral sehari selama 7 hari
4. Tinidazol 2 x 500 mg setiap hari selama 5 hari
5. Ampisilin atau amoksisilin dengan dosis 4 x 500 mg per oral selama 5 hari.6

21
Gambar 13. Duh Tubuh Vaginosis Bakterial

2.10 Penatalaksanaan

A. Medika mentosa
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitasnya, harga dan
sesedikit mungkin efek toksiknya. Dahulu pilihan utama ialah penisilin dan
probenesid, kecuali di daerah yang tinggi insidens Neisseria gonorhoeae penghasil
penisilin (N.G.P.P). Saat ini secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah
obat dengan dosis tunggal.6 Obat pilihan utama adalah sefiksim dosis tunggal, per
oral. Macam-macam obat yang dipilih antara lain:
- Sefiksim
Merupakan sefalosporin generasi ke-3 dipakai sebagai dosis tunggal
400 mg. Efektifitas dan sensitifitasnya sampai saat ini paling baik, yaitu
sebesar 95 %.6
- Levofloksasin
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah
levofloksasin 500 mg, dosis tunggal. Sedangkan ciprofolsasin 500 mg, dan
oflosaksin 400 mg, peroral dosis tunggal, dilaporkan sudah resisten pada
beberapa daerah tertentu, di Indonesia.6

22
- Tiamfenikol
Dosisnya 3,5 gram, dosis tunggal secara oral. Tidak dianjurkan
pemakaian pada kehamilan.6
- Azithromisin
Dosisnya 1 gram, dosis tunggal secara oral.7
- Doksisiklin
Dosisnya 2 x 100 miligram, dosis tunggal secara oral. Tidak dianjurkan
pemakaian pada kehamilan, menyusui dan anak dibawah 12 tahun.7

B. Non medika mentosa


- Bila memungkinkan periksa dan lakukan pengobatan pada pasangan tetapnya
(notifikasi pasangan)
- Anjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh secara laboratoris,
bila tidak memungkinkan anjurkan penggunaan kondom.
- Kunjungan ulang untuk tindak lanjut di hari ke-3 dan hari ke-7.
- Lakukan konseling mengenai infeksi, komplikasi yang dapat terjadi,
pentingnya keteraturan berobat.
- Lakukan Provider Initiated Testing dan Counseling (PITC) terhadap infeksi
HIV dan kemungkinan mendapatkan infeksi menular seksual lain.
- Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan penapisan untuk IMS lainnya.6

2.11 Komplikasi

Pada Laki-Laki

Lokal

- Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya
terjadi pada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihan yang
kurang baik. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau
pembengkakan pada daerah frenulum disertai nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan
timbul abses dan merupakan sumber infeksi laten.2
- Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia.
Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.2
23
Asendens

- Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai hematuri, spasme otot uretra
sehingga terjadi retensi urin, sulit buang air besar dan obstipasi.2
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri
tekan, dan didapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati, abses akan
pecah, masuk ke uretra posterior atau ke arah rektum mengakibatkan prokitis.2
- Vesikulitis
Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus
ejakulatorius, dapat timbul menyerta prostatitis akut atau epididimitis akut. Gejala
subyektif menyerupai gejala prostatitis akut, berupa demam, polakisuria, hematuria
terminal, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi, dan spasme mengandung darah.2
Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula seminalis yang
membengkak dan keras seperti sosis, memanjang di atas prostat.2
- Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral, keadaan yang mempermudah timbulnya
epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan oleh salah
penanganan atau kelalaian dari penderita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan
ini antara lain irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas, atau
terlalu pekat. Instrumentasi yang kasar, aktivitas seksual dan jasmani yang berlebih.
Epididimitis dan tali spermatika membengkak dan teraba panas, juga testis, sehingga
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai
kedua epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.2

Pada Perempuan

Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita,
baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala suyektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang kalu sudah ada komplikasi.
Sebagian besar penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan
keluarga berencana. Pada mulanya hanya serviks uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang

24
mukopurulen dan mengandung banyak gonokok mengalir dan meyerang uretra, duktus
parauretra, kelenjar bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah
kandung telur.2

Lokal

- Bartholinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan.
Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan
penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat
pecah melalui mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau
menjadi kista.2
- Proktitis
Proktitis pada pria dan wanita pada umumnya asimptomatik. Pada wanita
dapat terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang-kadang karena hubungan
genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan daripada pria,
terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukosa
eritematosa, edematosa, dan tertutup pus mukopurulen.2

Ascendens

- Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut atau kronis. Ada beberapa faktor
predisposisi, yaitu:
Masa puerperium (nifas)
Dilatasi setelah kuretase
Pemakaian IUD, tindakan AKDR (Alat kontrasepsi dalam rahim)

Cara infeksi langsung dari seviks melalui tuba fallopii sampai pada daerah
salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang panggul (PRP).
Infeksi PRP ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik. Kira-kira 10% wanita dengan
gonore akan berakhir dengan PRP. Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen
bawah, duh tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.2

25
Gonore yang disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae Penghasil Penisilinase (N.G.P.P)

Pada permulaan tahun 1976 N.G.P.P ditemukan pertama kali di Timur Jauh, dan
segera setelah itu atau hampir bersamaan waktunya ditemukan di Amerika Serikat satu galaur
Neissheria Gonorrhoeae yang mampu membuat enzim penisilinase atau beta-laktamase yang
dapat merusak penisilin menjadi senyawa inaktif. Galur demikian dikenal sebagai Neisseria
Gonorrhoeae Penghasil Penisilinase (N.G.P.P).2

N.G.P.P ini sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan
peninggian dosis. Disamping itu harus dibedakan dengan gonokok yang resisten ringan.
Resistensi ringan ini masih dapat diobati dengan penisilin dengan cara peninggian dosis
penisilin dan disebut resistensi relatif.2

Gejala klinis dan komplikasi gonore dengan galur N.G.P.P ini tidak berbeda dengan
gonore biasa. Obat-obat yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore akibat galur N.G.P.P
ialah kuinolon, spektinomisin, kanamisin, sefalosporin, dan tiamfenikol. Mengingat begitu
cepatnya peningkatan frekuensi jalur N.G.P.P, kita harus waspada bahwa dalam jangka waktu
yang singkat akan ditemukan frekuensi galur N.G.P.P yang lebih tinggi. Karena itu
pengobatan gonore dengan penisilin dan derivatnya perlu ditinjau lagi efektivitasnya.2

2.12 Prognosis

Prognosis umumnya baik. Penjelasan pada pasien dengan baik dan benar sangat
berpengaruh pada keberhasilan pengobatan dan pencegahan karena gonore dapat menular
kembali dan dapat terjadi komplikasi apabila tidak diobati secara tuntas. Tidak ada cara
pencegahan terbaik kecuali menghindari kontak seksual dengan pasangan yang beresiko.
Penggunaan kondom masih dianggap yang terbaik. Pendidikan moral, agama dan seks perlu
diperhatikan1

2.13 Kesimpulan

Uretritis gonore adalah penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara
infeksi menular seksual lainnya yang ditandai dengan adanya kondisi inflamasi yang terjadi
pada uretra dengan manifestasi keluarnya duh tubuh melalui kelamin pasien, disertai disuria,
atau gatal dan panas pada ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah.

26
Untuk dapat mendiagnosis uretritis tersebut diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan laboratorium yang tepat agar terapi yang diberikan dapat efektif serta mencegah
kekambuhan dan resitensi antibiotik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi angka morbiditas
dan mortalitas yang mungkin dapat terjadi karena komplikasi yang dapat timbul bila penyakit
ini tidak ditatalaksana dengan baik.

27
Daftar Pustaka

1. Ernawati. Gonorrhoea Urethritis Journal. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2010


2. Djuanda A. Hamzah M. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi keenam. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI; 2010. Hal 366-75.
3. Price A. Wilson L. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi keenam.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2014. Hal 1336-7.
4. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010. Hal 924.
5. Suriadiredja A. Toruan T. Panduan layanan klinis dokter spesialis dermatologi dan
venereologi. Jakarta; 2014. Hal 278-9.
6. Djuanda A. Hamzah M. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI; 2015. Hal 61, 442-54.
7. Pedoman Nasional Penangan Infeksi Menular Seksual. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia; 2015.

28