Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

MIKROMETRI MANUAL
Dosen Pengampu : Dra. Ely Rudyatmi, M.Si

Oleh:

Lili Andriyani (4411412004)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SEMARANG

2014
A. JUDUL: MIKROMETRI MANUAL
B. TUJUAN
1. Menentukan ukuran preparat mikroskopis ketebalan otot polos dengan
menggunakan mikrometri.
C. LANDASAN TEORI

Benda yang diamati dengan menggunakan mikroskop dapat diketahui


ukurannya dengan menggunakan beberapa alat bantu yang disebut dengan
mikrometer panggung/ mikrometer obyektif dan mikrometer okuler. Mikrometer
panggung/ mikrometer obyektif terbuat dari kaca benda yang didalamnya terukir skala
dengan ukuran tertentu. Biasanya terbagi menjadi 10 skala besar yang masing- masing
skala berukuran 0,1 mm, masing- masing skala besar tersebut terbagi lagi menjadi 10
skala yang lebih kecil lagi yang berukuran 0,01mm. Mikrometer okuler juga terbuat
dari kaca, tetapi berbentuk seperti filter. Diameter micrometer okuler sama dengan
diameter lensa okuler mikroskop. Didalam micrometer okuler juga terukir skala
kecil- kecil yang ukurannya belum diketahui, maka baru dapat ditentukan dengan cara
melakukan kalibrasi dengan bantuan micrometer obyektif. ( Rudyatmi, 2014)

Saat memakai mikroskop cahaya, ukuran spesimen dapat diperkirakan.


Dengan lensa objektif berkekuatan rendah, diameter bidang dinyatakan dengan
bilangan, biasanya 1.6 mm. Ini artinya diameter bidang tersebut adalah 1600 mikron.
Pada objektif berkekuatan tinggi, diameter bidang biasanya 0.4 mm, sehingga
diameter bidang tersebut 400 mikron, seperempat panjang bidang objektif lemah.
Karenanya, bila spesimen berukuran separuh diameter bidang objektif lemah, ia
pastinya dari 1600 mikron, yaitu 800 mikron. Tipe pengukuran ini hanyalah
pendekatan. Untuk pengukuran yang lebih teliti, dipakai alat bantu pengukuran yang
disebut dengan mikrometer. Mikrometer merupakan kaca berskala dimana dalam
penggunaannya ada 2 jenis mikrometer yaitu mikrometer okuler dan mikrometer
objektif. Mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler mikroskop, sedangkan
mikrometer objektif berbentuk slide yang ditempatkan pada meja preparat mikroskop.
Pada prinsipnya skala okuler adalah skala yang terdiri dari 1-100 dimana jarak antara
garis sama tetapi tidak diketahui nilainya. Sedangkan pada skala objektif adalah skala
yang terdiri dari 1-100 dimana jarak antara garis memiliki nilai 0,01 mm atau10 m.
Skala okuler tidak berubah ukurannya walaupun pembesaran diubah sedangkan skala
objektif akan berubah ukurannya apabila pembesaran diubah. Oleh karena itu,
kalibrasi dilakukan agar skala okuler memiliki nilai dari perbandingan skala objektif
dengan skala okuler di setiap pembesaran. Mikrometer okuler sekarang dikalibrasi
dengan standar dan dapat dipakai untuk mengukur secara teliti sebuah spesimen
daripada sekedar perkiraan.( Ratnawati,2010)
Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan
okuler pada perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua
mikrometer disimpulkan menjadi 1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua
jenis mikrometer tersebut bertemu/berhimpit kembali. Dari hasil tersebut dapat
diketahui satu satuan panjang pada skala mikrometer okuler itu berdasarkan beberapa
jumlah skala kecil mikrometer objektif yang berada di antara garis yang berhimpit
tadi.
D. PROSEDUR KERJA
Mikroskop binokuler disiapkan diatas meja, Menyiapkan mikrometer okuler
dan objektif kemudian mikrometer okuler dimasukkan ke dalam tabung lensa okuler
perbesaran 10x pada bagian paling atas pada posisi sampai terlihat bayangan skala
mendatar di mikroskop. Mengatur lensa objek dengan perbesaran lemah (10x) dan
mengamati bidang pandang mikroskop. Mikrometer objektif diletakkan di atas meja
preparat pada mikroskop. Menmfokuskan dan mengatur skala nol mikrometer objek
dan skala ujung kiri mikrometer okuler yang saling berhimpitan keduanya. Mencari
dan mengamati skala berikut yang bayangan kedua skalanya saling berhimpitan.
Menghitung dan menentukan besarnya ukuran satu skala mikrometer. Mikrometer
siap untuk digunakan. Melepas mikrometer objek dan mengganti dengan preparat
yang akan diamati yaitu preparat irisan melintang batang otot polos. Kemudian
mencari bayangan objek pada preparat mikroskopis yang paling jelas (menggunakan
perbesaran 100X), mengusahakan skala mikrometer objek tepat pada bayangan
preparat agar mudah dalam pengukuran. Menentukan jumlah bagian skala yang
teramati yang membatasi bagian preparat yang diukur dan menentukan ukuran objek
yang bersangkutan dengan cara mengalikan jumlah bagian skala yang teramati dengan
nilai kalibrasi. Mendokumentasikan hasil pengamatan.

E. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS


No Gambar Keterangan
1 Hasil pengukuran ketebalan
100
preparat otot polos:
100 - 25= 75
75x 10 m ( hasil kalibrasi) =
Ketebalan 750 m
otot polos

25

Gbr.1. prepara otot polos


2 d=1999,889404

Gbr.2. hasil kalibrasi ( mikrometri digital)


3 1. d= 2063,434570 m
2. d= 514,844177 m
1

Gbr.3. PL. diameter Akar Teratai


F. PEMBAHASAN
Praktikum mikrometri ini bertujuan untuk mengukur ketebalan dari preparat
otot polos . Pengukuran diameter otot polos ini menggunakan mikrometer sebagai alat
bantu pengukuran karena untuk mengukur ketebalan dari otot polos membutuhkan
alat ukur dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Satuan pengukuran yang diperoleh
yaitu dalam satuan m. Mikrometer yang dimaksud adalah mikrometer okuler yang
diletakkan pada lensa okuler mikroskop dimana sebelumnya telah dilakukan kalibrasi
dengan mikrometer objektif untuk memperoleh nilai perbandingan antara skala
objektif dengan skala okuler yang merupakan patokan bagi standar pengukuran.
Sebelum melakukan pengukuran perlu dilakukan kalibrasi yaitu dengan cara
mikrometer okuler diletakkan pada lensa okuler dengan cara membuka tabung lensa
okuler. Kemudian mencari bayangan mikrometer okuler hingga skalanya dapat
terlihat jelas. Selanjutnya mikrometer objektif diletakkan di bawah lensa objektif.
Kalibrasi dimulai dengan menyejajarkan kedua bayangan skala dan menghimpitkan
kedua angka 0 pada masing-masing skala mikrometer. Lalu mencari bayangan garis
skala kedua mikrometer yang berhimpit serta menghitung jumlah bagian skala pada
masing-masing mikrometer dari titik 0 sampai garis skala yang berhimpit. Dengan
cara ini nilai skala mikrometer okuler dapat diketahui. Setelah melakukan kalibrasi
dengan perbesaran 10 x, maka nilai skala mikrometer okuler yang diperoleh adalah :
10 skala mikrometer okuler= 16 skala mirometer 1 skala obyektif = 0,01
m
10 skala okuler= 160 m
Jadi, nilai 1 skala okuler= 16 m
Selanjutnya melakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer okuler
terhadap ketebalan preparat otot polos, bayangan skala mikrometer okuler
ditempatkan sedemikian rupa sehingga arah bayangan skala itu sesuai dengan arah
preparat otot polos yang akan diukur. Selanjutnya mengukur ketebalan otot polos
dengan cara mengalikan jumlah bagian skala dengan nilai skala okuler yang telah
diperoleh.
Ketebalan= 100-25 = 75
= 75x 10 m
= 750 m
Jadi, ketebalan preparat otot polos yang diperoleh adalah 750 m.
Untuk hasil kalibrasi menggunakan mikrometri digital didapatkan hasil yaitu
d= 1999,889404 m. Tujuan kalibrasi yaitu supaya hasil pengukuran yang diperoleh
mendapatkan hasil yang falid. Hasil pengukuran diameter Gbr.3 didapatkan diameter
akar teratai d=2063,434570 m, dan diameter rongga akar d= 514,844177 m. Hasil
kalibrasi dengan hasil pengukuran hampir mendekati sama, jadi dapat disimpulkan
bahwa hasil pengukuran dimeter akar teratai menunjukan hasil yang falid.

G. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum menggunakan alat mikrometer okuler dan mikrometer
obyektif didapatkan ketebalan preparat otot polos yang diperoleh adalah 750 m.
H. SARAN
1. Prosedur kalibrasi mikrometer okuler harus dilakukan dengan tepat agar diperoleh
skala yang tepat.
2. Pengukuran preparat harus disesuaikan degan ukuran hasil kalibrasi.
I. DAFTAR PUSTAKA
Ratnawati,dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikroteknik. Yogyakarta : FMIPA UNY.
Rudyatmi, Ely. 2014. Bahan Ajar Mikroteknik.Semarang: Jurusan Biologi FMIPA
UNNES.