Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman yang semakin modern ini pembangunan pesat terjadi pada berbagai
bidang yang memberikan kemajuan pada sektor ekonomi, kesehatan, teknologi
maupun berbagai bidang lainnya. Peningkatan kualitas hidup yang terjadi tidak
diimbangi dengan peningkatan kualitas lingkungan. Berbagai masalah lingkungan
terjadi akibat pesatnya pembangunan. Masalah lingkungan yang terjadi diantaranya
adalah pencemaran udara, tanah, dan air. Pencemaran udara terjadi akibat peningkatan
jumlah industri dan transportasi. Hal tersebut akibat dari tingginya konsumsi
penggunaan bahan bakar yang berasal dari minyak fosil , maka semakin tinggi pula
potensi pencemaran udara yang dihasilkan dari gas buangan hasil pembakaran (Dewi,
2004).
Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama
pencemaran udara di daerah perkotaan. Menurut Soedomo,dkk, 1990, transportasi
darat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari total emisi SPM10
daerah perkotaan, dengan konsentrasi utama terdapat di daerah lalu lintas yang padat,
dimana tingkat pencemaran udara sudah dan/atau hampir melampaui standar kualitas
udara ambien.
Pencemaran udara yang tinggi mengakibatkan banyak kerugian terhadap
lingkungan maupun kesehatan manusia, seperti tejadinya kerusakan pada logam dan
tumbuhan yang terhambat pertumbuhannya, serta terjadinya gangguan kesehatan
terutama pada gangguan pernapasan, sebab NO2 dapat menyebabkan sembab paru dan
fibrosis, dan O3 dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri dada dan pernapasan yang
pendek, sedangkan SO2 dapat menyebabkan batuk kronis dan iritasi kulit, begitu halnya
dengan kerusakan lingkungan sesuai dengan Kristanto (2013) bahwa pencemaran
udara dapat menggangu lingkungan yaitu korosi pada logam dan menurunnya pH air
(Mukono, 2008). Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu adanya suatu
pemetaan wilayah yang dinilai mengalami penurunan kualitas udara ambien
menggunakan sistem informasi geografis agar lebih mudah dalam hal pengontrolan
kualitas udara dan tingkat pencemaran udara di wilayah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Di mana titik lokasi yang mengalami penurunan kualitas udara ambien oleh aktivitas
kendaraan bermotor khususnya akibat gas SO2 dan CO yang melebihi baku mutu di
Surabaya berdasarkan sistem informasi geografis?
2. Bagaimana perbandingan kualitas udara ambien di Surabaya pada tahun 2016
dengan tahun-tahun sebelumnya berdasarkan sistem informasi geografis?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan bagi manusia dan lingkungan jika kualitas
udara ambien di Surabaya mengalami penurunan akibat aktivitas kendaraan
bermotor khususnya oleh gas SO2 dan CO?
1.3 Tujuan
Pemetaan penurunan kualitas udara ambien akibat dari aktivitas kendaraan
bermotor yang menghasilkan SO2 dan CO berbasis sistem informasi geografi bertujuan
untuk:
1. Mengetahui titik lokasi yang mengalami penurunan kualitas udara ambien oleh
aktivitas kendaraan bermotor khususnya akibat gas SO2 dan CO yang melebihi baku
mutu di Surabaya berdasarkan sistem informasi geografis.
2. Mengetahui perbandingan kualitas udara ambien di Surabaya pada tahun 2016
dengan tahun-tahun sebelumnya berdasarkan sistem informasi geografis?
3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan bagi manusia dan lingkungan jika kualitas
udara ambien di Surabaya mengalami penurunan akibat aktivitas kendaraan
bermotor khususnya oleh gas SO2 dan CO?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Udara ambien


Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 Tentang Pengendalian
Pencemaran Udara, udara ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan
troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan
dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahkluk hidup dan unsur lingkungan hidup
lainnya.
2.2 Baku mutu udara ambien
Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau yang seharusnya ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien. Baku mutu
udara ambien di Indonesia ada dalam lampiran PP No.41 tahun 1999 sebagai berikut:
Tabel 2.2.1 Baku Mutu Udara Ambien Nasional
No Parameter Waktu pengukuran Baku mutu

1 1 Jam 900 ug/Nm3


SO2 24 Jam 365 ug/Nm3
(Sulfur Dioksida) 1 Thn 60 ug/Nm3
2 CO 1 Jam 30.000 ug/Nm3
(Karbon 24 Jam 10.000 ug/Nm3
Monoksida) 1 Thn -
3 1 Jam 400 ug/Nm3
NO2 24 Jam 150 ug/Nm3
(Nitrogen Dioksida) 1 Thn 100 ug/Nm3
4 O3 1 Jam 235 ug/Nm3
(Oksidan) 1 Thn 50 ug/Nm3
5 HC
(Hidro Karbon) 3 Jam 160 ug/Nm3
6 PM10
(Partikel < 10 um ) 24 Jam 150 ug/Nm3
PM2,5 (*) 24 Jam 65 ug/Nm3
(Partikel < 2,5 um ) 1 Thn 15 ug/Nm3
TSP 24 Jam 230 ug/Nm3
7 (Debu) 1 Thn 90 ug/Nm3
8 Pb 24 Jam 2 ug/Nm3
(Timah Hitam) 1 Thn 1 ug/Nm3
9 Dustfall 30 hari 10 Ton/km2/Bulan
(Debu Jatuh ) (Pemukiman)
20 Ton/km2/Bulan
(Industri)
10 Total Fluorides 24 Jam 3 ug/Nm3
(asF) 90 hari 0,5 ug/Nm3
40 u g/100
cm2 dari kertas
Fluor Indeks 30 hari limed filter
11 Khlorine &
Khlorine Dioksida 24 Jam 150 ug/Nm3
12 Sulphat Indeks 30 hari 1 mg SO3/100 cm3

2.3 Pencemaran udara


Berdasarakan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999, Pencemaran udara
adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi dari komponen lain ke dalam udara
ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. Peraturan
pemerintah ini menggolongkan sumber pencemaran udara atas lima, yakni :
1) Sumber bergerak : sumber emisi yang bergerak atau tetap pada suatu tempat yang
berasal dari kendaraan bermotor
2) Sumber bergerak spesifik : serupa dengan sumber bergerak namun berasal dari
kereta api, pesawat terbang, kapal, laut dan kendaraan berat lainnya.
3) Sumber tidak bergerak : sumber emisi yang tetap pada suatu tempat.
4) Sumber tidak bergerak spesifik : serupa dengan sumber tidak bergerak namun
berasal dari kebakaran hutan dan pembakaran sampah.
5) Sumber gangguan : sumber pencemar yang menggunakan media udara atau padat
untuk penyebarannya, sumber ini berupa dari kebisingan, getaran, kebauan dan
gangguan lain.
Udara di daerah perkotaan yang mempunyai banyak kegiatan industri dan
teknologi serta lalu lintas yang padat, udaranya relatif sudah tidak bersih lagi. Udara di
daerah industri kotor terkena bermacam-macam pencemar. Komponen pencemar udara
yang paling banyak berpengaruh dalam pencemaran udara adalah komponen-
komponen berikut ini :
1. Karbon monoksida (CO)
2. Nitrogen oksida (NOx)
3. Belerang oksida (SOx)
4. Partikulat
2.3.1 Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau
dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawa -129C. Gas
CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas
buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO
sehingga kadar CO dalam udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO
juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan
gunung berapi, proses biologi dan lain-lain. Secara umum terbentuk gas CO adalah
melalui proses berikut ini :
1. Pembakaran bahan bakar fosil.
2. Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) denagn karbon C yang
menghasilkan gas CO.
3. Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen. Penyebaran
gas CO diudara tergantung pada keadaan lingkungan. Untuk daerah perkotaan yang
banyak kegiatan industrinya dan lalu lintasnya padat, udaranya sudah banyak tercemar
oleh gas CO. Sedangkan daerah pimggiran kota atau desa, cemaran CO diuadra relatif
sedikit. Ternyata tanah yang masih terbuka dimana belum ada bangunan diatasnya,
dapat membantu penyerapan gas CO. Hal ini disebabkan mikroorganisme yang ada
didalam tanah mampu menyerap gas CO yang terdapat diudara. Angin dapat
mengurangi konsentrasi gas CO pada suatu tempat karena perpindahan ke tempat lain.
2.3.2 Belerang Oksida (SOx)
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas SO2 dan gas
SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah
terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan
uap air yang ada diudara untuk membentuk asam sulfat atau H2SO4. Asam sulfat ini
sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan
kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya. Konsentrasi
gas SO2 diudara akan mulai terdeteksi oleh indera manusia (tercium baunya) manakala
kensentrasinya berkisar antara 0,3 1 ppm gas dari pada gas SO3. Jadi dalam hal ini
yang dominan adalah gas SO2. Namun demikian, gas tersebut akan bertemu dengan
oksigen yang ada diudara dan kemudian membentuk gas SO3 melalui reaksi berikut :
2SO2 + O2 (udara) 2SO3
Pencemaran SOx diudara terutama berasal dari pemakaian baru bara yang
digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Pemakaian batu
bara sebagai bahan bakar pada beberapa kegiatan industri seperti yang terjadi di negara
Eropa Barat dan Amerika, menyebabkan kadar gas SOx diudara meningkat. Reaksi
antara gas Sox dengan uap air yang terdapat diudara akan membentuk asam sulfat
maupun asam sulfit. Apabila asam sulfat dan asam sulfit turun ke bumi bersama-sama
dengan jatuhnya hujan, terjadilah apa yang dikenal denagn Acid Rain atau hujan asam
. Hujan asam inilah yang menyebabkan kerusakan hutan di Eropa (terutama di Jerman)
karena banyak industri peleburan besi dan baja yang melibatkan pemakaian batu bara
maupun minyak bumi di negeri itu. Penyebaran gas Sox ke lingkungan juga tergantung
drai keadaan meteorologi dan geografi setempat. Kelembaban udara juga
mempengaruhi kecepatan perubahan SOx menjadi asam sulfat maupun asam sulfit
yang akan berkumpul bersama awan yang akhirnya akan jatuh sebagai hujan asam.
2.4 Gas buang kendaraan bermotor
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang perubahan
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pajak Kendaraan Bermotor, kendaraan
bermotor adalah semua kendaraan beroda berserta gandengannya yang digunakan di
semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau
peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu
menjadi tenaga bergerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat berat
dan alat besar yang dalam operasinya mengunakan roda dan motor yang tidak melekat
secara permanen serta kendaran bermotor yang dioperasikan di air.
Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama
pencemaran udara di daerah perkotaan. Menurut Soedomo, dkk, 1990, transportasi
darat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari total emisi SPM
10, untuk sebagian besar timbal, CO, HC, dan NOx di daerah perkotaan, dengan
konsentrasi utama terdapat di daerah lalu lintas yang padat, dimana tingkat pencemaran
udara sudah dan/atau hampir melampaui standar kualitas udara ambien
(Kusminingrum, dkk, 2008).
Emisi gas buang berupa asap knalpot adalah akibat terjadinya proses
pembakaran yang tidak sempurna, dan mengandung timbal/timah hitam (Pb),
suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SO2),
hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox) (BPLH DKI
Jakarta, 2013). Selanjutnya, emisi gas buang yang paling signifikan dari kendaraan
bermotor ke atmosfer berdasarkan massa, adalah gas karbondioksida (CO2), dan uap
air (H2O) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang berlangsung sempurna
yang dapat dicapai dengan tersedianya suplai udara yang berlebih. Namun demikian,
kondisi pembakaran yang sempurna dalam mesin kendaraan, jarang sekali terjadi.
2.5 Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) mulai dikenal pada awal 1980-an. Sejalan
dengan berkembangnya perangkat computer, baik perangkat lunak maupun perangkat
keras, SIG berkembang sangat pesat pada era 1990-an. Secara harafiah Sig dapat
diartikan sebagai: suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak,
data geografis dan sumber daya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi,
mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis
geografis (Puntodewo, dkk, 2003).
Informasi spasial memakai lokasi , dalam suatu sistem koordinat tertentu,
sebagai dasar referensinya. Karenanya SIG mempunyai kemampuan untuk
menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya,
menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Aplikasi SIG menjawab beberapa
pertanyaan seperti: lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah
yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya (Puntodewo, dkk, 2003).
Dilihat dari definisinya, SIG adalah suatu system yang terdiri dari berbagai
komponen yang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Memiliki perangkat keras komputer
beserta dengan perangkat lunaknya belum berarti bahwa kita sudah memiliki SIG
apabila data geografis dan sumber daya manusia yang mengoperasikannya belum ada.
Sebagaimana sistem computer pada umumnya, SIG hanyalah sebuah alat yang
mempunyai kemampuan khusus. Kemampuan sumber daya manusia untuk
memformulasikan persoalan dan menganalisa hasil akhir sangat berperan dalam
keberhasilan system SIG (Puntodewo, dkk, 2003).
SIG membutuhkan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif.
Beberapa sumber data tersebut berdasarkan tulisan Puntodewo, dkk (2003) antara lain
adalah:
1. Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah, dsb)
Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog
dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial
seperti koordinat, skala, arah mata angin dsb. Peta analog dikonversi menjadi peta
digital dengan berbagai cara yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Referensi
spasial dari peta analog memberikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi
pada peta digital yang dihasilkan. Biasanya peta analog direpresentasikan dalam
format vektor.
2. Data dari sistem Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto-udara, dsb.)
Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang
terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala. Dengan adanya
bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing,
kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian.
Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.
3. Data hasil pengukuran lapangan.
Contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas
kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang
dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini
merupakan sumber data atribut.
4. Data GPS
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data
bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya
teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta, 2013. Zat zat Pencemar
Udara.

Dewi. 2004. Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh untuk Estimasi Potensi Pencemaran
Udara di Kawasan Malioboro. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
http://eprints.ums.ac.id/46094/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/11965/15.%20TUGAS%20
AKHIR%20ok.pdf?sequence=1

Kristanto, P. 2013. Ekologi Industri. Yogyakarta: ANDI.


Kusminingrum Nany & Gunawan G. (2010). Polusi Udara Akibat Kendaraan Aktivitas
Kendaraan di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan Bali. Pusat Litbang Jalan dan
Jembatan: Bandung.

Mukono, H.J. 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan


Saluran Pernapasan. Surabaya: Universitas Airlangga.

Puntodewo, A., Dewi, S., Tarigan, J. 2003. Sistem Informasi Geografis Untuk
Pengelolaan Sumber Daya Alam. Jakarta: Center for International Forestry Research.
http://dpp.jakarta.go.id/pajak-kendaraan-bermotor/ diakses pada 10 Nopember 2016
pukul 09.05
late.com/english/asap-buangan-kendaraan-bermotor-mengandung-zat-berbahaya-
antara-lain-loga-timbel-pb-dan-gas-karbo/3827014 diakses pada 10 Nopember 2016
pukul 09.25

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.41 tahun 1999 tentang Pengendalian


Pencemaran Udara,

Soedomo, Moestikahadi (2001). Pencemaran Udara. Bandung. Penerbit ITB.


Soedomo M., Usman K, Djajadiningrat S T., Darwin, 1990, Model Pendekatan dalam
Analisis Kebijakan Pengendalian Pencemaran Udara, Studi Kasus di Jakarta,
Bandung dan Surabaya, Penelitian KLH Jurusan Teknik Lingkungan ITB, Bandung.