Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN HASIL

PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

PENGUJIAN LOGAM BERAT PADA SAYURAN


DENGAN METODE AAS
PADA LAB. UJI RESIDU PESTISIDA
UPT. BALAI PERLINDUNGAN TANAM PANGAN
DAN HOLTIKULTURA

OLEH :
1. HIMAYARI NUFUS MARYANA (1508105002)
2. NI WAYAN SUKARYATI PERTAMI DEWI (1508105012)
3. NI MADE AYU TIRTHA KUSUMA W. (1508105028)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN PROGRAM STUDI

PENGUJIAN LOGAM BERAT PADA SAYURAN


DENGAN METODE AAS
PADA LAB. UJI RESIDU PESTISIDA
UPT. BALAI PERLINDUNGAN TANAM PANGAN
DAN HOLTIKULTURA

OLEH;
1. HIMAYARI NUFUS MARYANA (1508105002)
2. NI WAYAN SUKARYATI PERTAMI DEWI (1508105012)
3. NI MADE AYU TIRTHA KUSUMA W. (1508105028)

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

( ) ( )
NIP. NIP.

Mengesahkan
Ketua Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Udayana

(Dr, I Nengah Wirajana, S.Si., M.Si)


NIP. 197102191997021001
LEMBAR PENGESAHAN TEMPAT PKL

PENGUJIAN LOGAM BERAT PADA SAYURAN


DENGAN METODE AAS
PADA LAB. UJI RESIDU PESTISIDA
UPT. BALAI PERLINDUNGAN TANAM PANGAN
DAN HOLTIKULTURA
OLEH :
1. HIMAYARI NUFUS MARYANA (1508105002)
2. NI WAYAN SUKARYATI PERTAMI DEWI (1508105012)
3. NI MADE AYU TIRTHA KUSUMA W. (1508105028)

Mengesahkan,
Pimpinan/Direktur Penyetujui,
INSTANSI/PERUSAHAAN Pembimbing Lapngan

( ) ( )

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya yang telah memberikan bayak kesempatan, sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan PKL dengan baik.

Laporan ini disusun guna melengkapi salah satu persyarat dalam menyelesaikan
PKL (Praktek Kerja Lapangan) bagi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Program Studi Kimia,

Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa selesainya


laporan PKL ini tidak terlepas dari dukungan, semangat, serta bimbingan dari
berbagai pihak, baik bersifat moril maupun materil, oleh karena-Nya, kami ingin
menyampaikan ucapan terima kasih antara lain kepada :

1. .
2. Semua pihak yang tidak tersebutkan nama-Nya satu persatu.
Penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini disusun dengan sebaik-
baiknya, namun masih terdapat kekurangan didalam penyusunan laporan PKL ini,
oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak
sangat diharapkan, tidak lupa harapan kami semoa laporan Praktek Kerja
Lapangan ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta dapat menambah ilmu
pengetahuan bagi kami.

Bukit Jimbaran,

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Cover ...........................................................................................................
Lembar Pengesahan ....................................................................................
Kata Pengantar ............................................................................................
Daftar isi ......................................................................................................
Daftar Tabel .................................................................................................
Daftar Gambar .............................................................................................
Ringkasan ....................................................................................................
Bab I. Pendahuluan .....................................................................................
1.1 Sejarah .......................................................................................
1.2 Singkat Instansi .........................................................................
1.3 Lokasi Instansi ..........................................................................
1.4 Manajemen Instansi ..................................................................
1.5 Tujuan PKL ...............................................................................
1.6 Metode PKL ..............................................................................
Bab II. Tinjauan Pustaka .............................................................................
Bab III. Metodologi Penelitian ....................................................................
Bab IV. Simpulan dan Saran .......................................................................
Daftar Pustaka

DAFTAR TABLE
DAFTAR GAMBAR
RINGKASAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN


Tahun 1985 terjadi musibah/eksplosi nasional serangan wereng
coklat sehingga mengganggu swasembada beras, Presiden mengeluarkan
Inpres No 3 Tahun 1986 tentang peningkatan pengendalian hama wereng
coklat akibat kurangnya tenaga pengamatan di lapangan , kurang
bijaksananya penggunaan pestisida dan peralatan/fasilitas yang kurang
memadai Tahun 1986 dikenal dengan nama Balai Proteksi Tanaman
Pangan Wilayah VII yang mewilayahi Bali, NTB, NTT dan Timtim dari 10
Wilayah di Indonesia . Tahun 1987 selesai bantuan bangunan hibah
Jepang (JICA) berupa Gedung BPTP VII dengan 2 LPHP dan 3 Satgas di
NTT, NTB dan Timtim beserta perlengkapannya yang modern. Tahun
2000 Otonomi Daerah Penyerahan aset ke Provinsi Perda No 4 Tahun
2002, UPTD BPTPH yang dikepalai oleh seorang kepala Balai Eselon IIIA
dengan struktur organisasi .
1 Kasubag TU
1 Kasi Yantek (Pelayanan Teknis)
1 Kelompok Jabatan Fungsional
Susunan Organasi UPTD. BPTPH Terdiri dari:
a. Kepala UPT
b. Kepala Sub Bagian Tata Usaha
c. Kepala Seksi Pengamatan dan Peramalan OPT
d. Kepala Seksi Pengendalian OPT
e. Kelompok Jabatan Fungsional

1.2 LOKASI PERUSAHAAN


Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Laboratorium Uji
Pestisida , UPTD. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura
(BPTPH) Provinsi Bali yang berlokasi pada Jalan. Raya Celuk Sukawati-
Gianyar Bali.
1.3 MANAJEMEN PERUSAHAAN
Peran UPT. BPTPH adalah :
1. Melaksanakan pengembangan metode pengamatan, peramalan,
pemetaan analisa dampak kerugian akibat organisme pengganggu
tumbuhan (OPT), dampak perubahan iklim (DPI) serta
pengembangan teknologi pengendalian.
2. Melaksanakan koordinasi dengan Kabupaten/Kota se Bali terkait
penanggulangan/penanganan OPT dan DPI (banjir dan kekeringan)
serta penerapan pengendalian hama terpadu (PPHT).
3. Mengembangkan dan memasyarakatkan teknologi pengendalian
OPT ramah lingkungan (agens hayati dan pestisida nabati) dan
penguatan agroekosistem.
4. Melaksanakan pengawasan mutu, penggunaan dan dampak
pestisida.
5. Melaksanakan operasional teknis Brigade Proteksi Tanaman (BPT)
6. Melaksanakan identifikasi OPT, Surveillance, Uji biotipe, Taksasi
dan Kajian OPT
7. Semua ini tidak bisa dilakukan bila tidak ada perangkat UPTD
BPTPH
Adapun dasar pembentukan dari UPT. BPTPH yaitu :
1. Amanah Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman pasal 20, Perlindungan tanaman dilaksanakan
secara PHT, dan larangan penggunaan bahan berbahaya untuk
pengendalian OPT (manusia dan ekosistem)
2. PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan tanaman, bahwa PHT
adalah upaya pencegahan, pengendalian dan eradikasi dengan
mengedepankan, pemantauan, pendekatan ekologis, penggunaan
musuh alami dan kultur teknis.
3. Untuk implementasi peraturan tersebut dibentuklah UPTD.
BPTPH
4. Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura kedepan , dimana
konsumen mempersyaratkan sangat ketat tentang keamanan produk
dan kelestarian alam
5. Untuk memperoleh produksi tanaman pangan dan hortikultura
yang aman di konsumsi dan tidak membahayakan lingkungan yang
ada.
Tujuan dibentuknya UPTD Balai Perlindungan Tanaman pangan
dan Hortikultura (UPTD BPTPH) adalah untuk melaksanakan kegiatan
teknis Dinas Tanaman Pngan , Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali
meliputi :
1. Untuk melaksanakan perlindungan tanaman pangan dan hortikultura
mulai dari pengamatan, peramalan, pemetaan, analisa dampak
kerugian akibat OPT dan dampak perubahan iklim (DPI).
2. Untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit atau OPT agar
tidak merusak tanaman melebihi dari ambang ekonomis sehingga
produksi dapat ditingkatkan.
3. Untuk melaksanakan pemantauan dan monitoring peredaran pestisida
yang disalurkan oleh kios penyalur pestisida guna mengetahui jenis
dan mutu pestisida, sehingga petani mendapatkan pestisida yang layak
dan sesuai peruntukannya.
4. Untuk pembinaan dan sosialisasi terhadap para petani mengenai
pengendalian hama terpadu (PHT) dan penggunaan agens hayati dan
pestisida nabati.

1. 3. 1 Laboratorium Uji Pestisida


Lab. Uji Residu Pestisida dibangun dengan tujuan untuk mengetahui
residu pestisida pada produk pertanian yang mempunyai peranan penting
dalam pengawalan keamanan pangan. Data hasil pengujian digunakan
sebagai dasar bagi lembaga yang berwenang untuk memberikan
sertifikasi dan jaminan mutu produk yang aman dikonsumsi. Lab. Uji
Residu Pestisida merupakan institusi penting yang memberikan jasa
pelayanan, satu-satunya yang ada di Provinsi Bali yang menjangkau
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Beberapa hal penting untuk meningkatkan mutu dan kompetensi Lab.
Uji Residu Pestisida ini adalah :
- Kedepan Laboratorium ini akan mampu menghasilkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) melalui Peraturan Gubernur/Peraturan daerah
dengan mengimplementasikan secara konsisten ISO/IEC 17025 :
2008.
- Laboratorium Uji Residu Pestisida juga di disain khusus dengan
pengelolaan limbah zat kimia, karena dalam laboratorium ini sangat
banyak menggunakan Zat kimia yang apabila tidak dikelola dengan
baik akan sangat berbahaya bagi lingkungan.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Bali Nomor ;
484/03-K/HK/2010 tanggal 5 April 2012 tentang Otoritas
Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Provinsi Bali
dimana Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali di tunjuk
sebagai Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Produk Pertanian di
Provinsi Bali. Keberadaan Laboratorium Uji Residu Pestisida
mendukung tugas dan Fungsi OKKPD.
Gambar 1.1. Organisasi Lab. Uji Pestisida

1.3.2.1 Visi Lab. Uji Pestisida


Menjadi laboratorium pengujian yang mampu memberikan
pelayanan terbaik kepada pelanggan dalam pengujian mutu
pestisida dan residu produk tanaman untuk mendukung
peningkatan produksi dan keamanan pangan serta terjaganya
kelestarian lingkungan.
1.3.2.2 Misi Lab. Uji Pestisida
1. Mewujudkan kesadaran petani untuk memberikan jaminan
mutu produk tanaman yang aman dikonsumsi
2. Mewujudkan pemantauan mutu pestisida dan residu produk
tanaman yang efektif sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3. Meningkatkan kemampuan laboratorium pengujian
pestisida sebagai fasilitator dalam meningkatkan mutu
pestisida dan residu produk tanaman melalui pengembangan
kemampuan sdm yang profesional dan teknologi pengujian
laboratorium
4. Mendorong terciptanya iklim mutu yang kondusif melalui
sistem pemantauan, pembinaan, monitoring dan
pengendalian mutu pestisida dan residu produk tanaman.

1.4 TUJUAN PKL


1. Memperkenalkan mahasiswa pada dunia kerja karena diharapkan
lulusan S1 Kimia dapat menjadi tenaga ahli dan terampil.
2. Merealisasikan kurikulum program studi Kimia
3. Mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapatkan pada
perkuliahan dan mampu menggali ilmu (teori dan praktik) yang
belum didapatkan pada perkuliahan.
1.5 METODE PKL
Metode yang digunakan dalam pengujian logam berat pada sayuran adalah
dengan metode AAS ( Atomic Absorption Spectrophotometry)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cabai dan Tomat


Cabai adalah tanaman yang tumbuh banyak di nusantara.Tanaman cabai
banyak dibudidayakan di Indonesia karena Indonesia mempunyai iklim
tropis.Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah sehingga
cabai di Indonesia sangat berlimpah.Cabai adalah rempah-rempah bernilai tinggi
sejak masa silam hingga sekarang. Cabai mempunyai banyak jenisnya, hanya
saja di Indonesia jenis cabai yang digunakan hanya jenis-jenis tertentu saja
seperti cabai besar yaitu, cabai merah, cabai hijau, cabai merah keriting dan
paprika serta jenis cabai kecil yaitu, cabai rawit. Cabai juga dipercaya mampu
mengurangi rasa pegal, sesak nafas dan rematik, meredakan rasa nyeri,
membantu menjaga kesehatan kulit, membakar kalori, dapat meningkatkan
pertumbuhan rambut sampai mencegah penyakit yang sangat berbahaya.Salah
satunya adalah penyakit kanker.
Tomat merupakan komoditas sayuran yang terus mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun.Peluang bisnis buah tomat masih terbuka lebar karena
pasokan kebutuhan belum mencukupi dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi
konsumen domestik maupun manca negara. Salah satu cara dilakukan adalah
intensifikasi pertanian melalui usaha peningkatan potensi tanaman agar mampu
berproduksi tinggi atau lebih dari potensi hasil tanaman.
Menurut badan data statistika pertanian hortikultura, 2011, selama tahun
2007-2009 produksi sayuran nasional meningkat dari 9,45juta ton menjadi 10,63
juta ton dengan laju kenaikan sebesar 6,02 persen pertahun. Sayuran yang
memberikan sumbangan produksi terbesar terhadap total produksi sayuran di
Indonesia sebanyak 5 (lima) jenis tanaman sayuran yaitu kubis (12,78%),
kentang (11,07%), bawang merah (9,08%), tomat (8,03%) dan cabe besar
(7,41%). Tanaman tomat memberikan kontribusi produksi sebesar 853.061 ton
atau sekitar 8,03 persen terhadap produksi sayuran nasional, sentra produksi
tomat terbesar di indonesia adalah pulau jawa dengan total produksi 432.787 ton
atau sekitar 50,73 persen dari total produksi tanaman tomat nasional (Suswono,
2013).

2.2 Logam Berat


Logam berat merupakan salah satu komponen pencemar lingkungan, baik
di darat, perairan maupun udara. Logam berat yang sering mencemari
lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium (Cd), arsenik
(Ar), chromium (Cr), nikel (Ni) dan besi (Fe) (Palar, 2004).Logam berat dapat
meracuni tubuh makhluk hidup apabila terakumulasi di dalam tubuh dalam
waktu yang lama dan di atas ambang batas toleran. Sebaliknya beberapa jenis
logam biasanya digunakan untuk pertumbuhan kehidupan biologis, misalnya
pada pertumbuhan alga atau tanaman air lain. Logam berat mudah terserap ke
dalam jaringan tanaman melalui akar dan stomata daun, selanjutnya akan masuk
ke dalam siklus rantai makanan (Alloway, 1990). Logam berat yang terakumulasi
pada jaringan tubuh apabila melebihi batas toleransi, dapat menimbulkan
keracunan bagi tumbuhan, hewan maupun manusia (Widowati, 2011).
Salah satu metode untuk mengatasi pencemaran logam berat dengan cara
pemanfaatan tanaman air untuk menyerap logam berat. Menurut Suriawiria
(2003) banyak jenis tumbuhan khususnya yang hidup di dalam habitat air dapat
dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah. Tindakan pemulihan (remediasi)
limbah dan pencemaran lingkungan dengan menggunakan tumbuhan air dikenal
sebagai teknologi fitoremediasi, yaitu suatu konsep yang didefinisikan sebagai
penggunaan tumbuhan untuk memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan
bahan pencemar baik senyawa organik maupun anorganik (Syafrani, 2007).
Tanaman yang dapat digunakan untuk mengurangi pencemaran yaitu
kangkung air. Tanaman kangkung air yang mempunyai nama ilmiah Ipomoea
aquatica Forssk. merupakan tanaman sayuran yang banyak digemari oleh
masyarakat Indonesia (Azizah, 2012). Disisi lain, tanaman I. aquatica Forssk.
mampu menyerap logam berat yang terdapat di perairan, sehingga dapat
digunakan sebagai tanaman indikator bahwa perairan tersebut tercemar logam
berat. Contoh tanaman ini dapat mengakumulasi logam Cd sebesar 0,00928 mg/L
dan logam Pb sebesar 0,00553 mg/L yang dominan pada bagian akar dan sedikit
ditemukan pada daun maupun batang (Widowati, 2011, 2012).
Hasil penelitian Rahman et al. (2007) dalam penelitiannya menggunakan
I. aquatica Forssk. menyimpulkan bahwa tanaman ini mampu menyerap 219,18
ppm Pb sehingga tanaman ini memungkinkan untuk digunakan sebagai tanaman
hiperakumulator Pb. Cai et al. (2007) menyimpulkan bahwa I. aquatica Forssk.
sangat potensial untuk digunakan sebagai tanaman fitoremediasi bagi tanah yang
terkontaminasi dengan di-n-butil ftalat (Ar(COO)2(C4H9)2). Tommy (2009)
menyatakan tanaman I. aquatica Forssk.Adanya perbedaan akumulasi logam
tersebut pada tumbuhan disebabkan karena adanya batas kadar logam yang
terdapat di dalam biomassa dan hiperakumulator berbeda-beda bergantung pada
jenis logamnya maupun jenis tanaman.
2.3 Logam Pb, Cd dan Fe
Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga
disebut dengan istilah timah hitam.Timbal memiliki titik lebur yang rendah,
mudah dibentuk, memiliki sifat kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk
melapisi logam agar tidak timbul perkaratan.Timbal adalah logam yang lunak
berwarna abu-abu kebiruan mengkilatdan memiliki bilangan oksidasi
+2(Sunarya, 2007).Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat
berbahaya bagi makhluk hidup karena bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan
mutasi, terurai dalam jangka waktu lama dan toksisistasnya tidak berubah (Brass
& Strauss, 1981).Pb dapat mencemari udara, air, tanah, tumbuhan, hewan,
bahkan manusia.Masuknya Pb ke tubuh manusia dapat melalui makanan dari
tumbuhan yang biasa dikonsumsi manusia seperti padi, teh dan sayur-
sayuran.Logam Pb terdapat diperairan baik secara alamiah maupun sebagai
dampak dari aktivitas manusia.Logam ini masuk ke perairan melalui
pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. Selain itu, proses korofikasi
dari batuan mineral juga merupakan salah satu jalur masuknya sumber Pb ke
perairan (Palar,1994).
Kadmium (Cd) merupakan logam berat yang banyak ditemukan di
lingkungan, khususnya lingkungan perairan, dan memiliki toksisitas yang tinggi
pada konsentrasi yang rendah (Vogiatzis and Loumbourdis, 1999; Almeide et al.,
2009).Kadmium merupakan salah satu polutan yang dihasilkan industri.Logam
ini dapat menyebabkan gangguan pada organ dan jaringan hewan seperti insang,
ginjal, testis, jantung, hati, tulang, dan sistem darah (Sunarto, 2011).Kadmium
sebagai salah satu logam berat non-esensial dapat terakumulasi dalam tubuh
organisme dan diketahui memiliki waktu paruh yang lama (Pagoray, 2001;
Patrick, 2003; Cicik and Engin, 2005).Kadmium secara alami ditemukan di alam
dalam bentuk mineral greennockite (CdS). Logam ini, merupakan hasil
sampingan proses peleburan bijih seng (Zn), timbal (Pb), dan tembaga (Cu)
(Palar, 2008). Peningkatan pencemaran logam berat Cd disebabkan karena
aktivitas antropogenik melalui pemanfaatan Cd dalam berbagai industri, seperti
tekstil, baterai, plastik, dan elektroplating (Fitriawan et al., 2011; Xuan et al.,
2011; Pytharopoulou et al., 2013). Pengolahan limbah Cd yang tidak efektif akan
berdampak terhadap lingkungan.
Logam besi atau Ferrum (Fe) merupakan salah satu jenis logam yang
paling banyak dipergunakan untuk kehidupan manusia, mulai dari keperluan
rumah, pertanian, permesinan, hingga alat transportasi. Besi adalah salah satu
unsur logam pembentuk kerak bumi yaitu sekitar 4,7% - 5%. Besi adalah logam
yang dihasilkan dari batuan besi, kebanyakan besi terdapat dalam bentuk batuan,
pasir dan tanah yang beroksidasi.Kadang besi terdapat sebagai kandungan tanah
(residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.Endapan besi
yang ekonomis umumnya berupa magnetite, hematite, limotite dan siderite (M.
L. Jensen & Bafeman, 1981).Selain itu, mineral-mineral magnetik seperti
magnetite, hematite dan maghemite yang terdapat pada bijih besi memiliki
potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai bahan industri seiring
dengan kemajuan teknologi.Saat ini, magnetite digunakan sebagai bahan dasar
untuk tinta kering/ toner pada mesin photo-copy dan printer laser, maghemite
adalah bahan utama untuk pita kaset.Ketiga mineral tersebut juga digunakan
sebagai bahan dasar untuk industri magnet permanen (Yulianto, 2002).
2.4 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Spektrometri Serapan Atom (SSA), merupakan metode analisis unsur
secara kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas. Metode
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) pertama kali dikembangkan oleh Walsh
Alkamede, dan Metals (1995).SSA ditujukan untuk mengetahui unsur logam
renik di dalam sampel yang dianalisis.Spektrofotometri Serapan Atom
didasarkan pada penyerapan energi sinar oleh atom-atom netral dalam keadaan
gas, untuk itu diperlukan kalor / panas. Alat ini umumnya digunakan untuk
analisis logam sedangkan untuk non logam jarang sekali, mengingat unsure non
logam dapat terionisasi dengan adanya kalor, sehingga setelah dipanaskan akan
sukar didapat unsure yang terionisasi. Pada metode ini larutan sampel diubah
menjadi bentuk aerosol didalam bagian pengkabutan (nebulizer) pada alat AAS
selanjutnya diubah ke dalam bentuk atom-atomnya berupa garis didalam nyala.
Hukum Lambert : Bila suatu sumber sinar monokromatik melewati
medium transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan
bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorpsi.Hukum ini menyatakan
bahwa bila cahaya monokromatik melewati medium tembus cahaya, laju
berkurangnya intensitas oleh bertambahnya ketebalan,berbanding lurus dengan
intensitas cahaya.Ini setara dengan menyatakan bahwa intensitas cahaya yang
dipancarkan berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya ketebalan
medium yang menyerap. Atau dengan menyatakan bahwa lapisan manapun dari
medium itu yang tebalnya sama akan menyerap cahaya masuk kepadanya dengan
fraksi yang sama. Hubungan antara penyerapan cahaya dengan konsentrasi
dinyatakan oleh hukum Lambert-Beer, dimana absorbansi berbanding lurus
dengan konsentrasi dan tebal larutan yaitu:
A= a.b.c
Dimana, A : Absorbansi
a : absorptivitas
b : panjang burner
c : konsentrasi
Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis
kuantitafif dari unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagaibidang
karena prosedurnya selektif, spesifik, biaya analisisnya relatif murah,
sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan mudah membuat matriks yang
sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah dilakukan. AAS
pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer absorpsi atom
juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya Spektrofotometer
UV-VIS. Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya dapat menganalisis
unsur yang dapat memancarkan sinar terutama unsur golongan IA dan
IIA.Umumnya lampu yang digunakan adalah lampu katoda cekung yang mana
penggunaanya hanya untuk analisis satu unsur saja.Metode AAS berprinsip pada
absorbsi cahaya oleh atom.Atom menyerap cahaya tersebut pada panjang
gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya.
Sumber cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang
berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api
yang berisi sampel yang telah teratomisasi, kemudia radiasi tersebut diteruskan
ke detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan
radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi yang berasal dari nyala api.
Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala dan hanya
mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel.
Terdapat beberapa teknik analisis dalam AAS yaitu Metode Standar
Tunggal merupakan Metode yang sangat praktis karena hanya menggunakan satu
larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd).Selanjutnya absorbsi
larutan standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel (Asmp) diukur dengan
spektrometri.Metode Kurva Kalibrasi dalam metoda kurva kalibrasi ini, dibuat
seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan
tersebut di ukur dengan masih SSA. Selanjutnya membuat grafik antara
konsentrasi (C) dengan absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus
melewati titik nol dengan slope= . B atau slope =a.b, konsentrasi larutan sampel
diukur dan di intropolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukan ke dalam
persamaan regresi linear pada kurva kalibrasi. Metode Adisi Standar Metode ini
dipakai secara luas karena mampu meminimalkan kesalahan yang disebabkan
oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks) sampel dan standar.Dalam metode
ini dua atau lebih sejumlah volume tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam
labu takar. Satu larutan diencerkan sampai volume tertentu kemudiaan larutan
yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih dahulu dengan
sejumlah larutan standar tertentu dan diencerkan seperti pada larutan yang
pertama.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 agustus 31 Agustus 2017 di
Laboratorium Uji Pestisida, UPT. Balai Perlindungan Tanam Pangan dan
Holtikultura, Gianyar- Bali.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan adalah Neraca analitik, Microwave, Blender,
Mortar dan Alu, Batang Pengaduk, Corong, Plastik sampel, Pipet
Mikro, Labu Ukur 20 ml, Labu Ukur 25 ml dan Atomic Absoption
Spectrofotometer (AAS).
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah Sample tomat dari pasar Sukawati,
Sample Cabai, Asam Nitrat pekat, Aquades, Kertas saring
3.3 Metode
3.3.1 Preparasi Sample
Untuk mengetahui kadar logam berat pada sayuran, sampel pertama-
tama dicuci terlebih dahulu. Kemudian sampel ditumbuk
menggunakan mortar hingga halus. Apabila sampel belum halus,
sample dimasukkan kedalam blender. Setalah sampel halus, sampel
dimasukkan ke dalam vessel dan ditambahkan asam nitrat pekat.
Sample yang telah dimasukkan ke dalam vessel dan ditambahkan
asam nitrat ditutup dan dimasukkan ke dalam microwave. Tunggu
hingga 1 jam. Setelah itu biarkan dingin terlebih dahulu. Sampel yang
telah dingin disaring menggunakan kertas saring dan diencerkan
hingga tanda batas.
3.3.2 Pembuatan Spike
Untuk pembuatan spike, sampel pertama-tama dicuci terlebih dahulu.
Kemudian sampel ditumbuk menggunakan mortar hingga halus.
Apabila sampel belum halus, sample dimasukkan kedalam blender.
Setalah sampel halus, sampel dimasukkan ke dalam vessel dan
ditambahkan asam nitrat pekat dan ditambahkan larutan baku logam
yang akan diuji. Sample yang telah dimasukkan ke dalam vessel dan
ditambahkan asam nitrat ditutup dan dimasukkan ke dalam
microwave. Tunggu hingga 1 jam. Setelah itu biarkan dingin terlebih
dahulu. Sampel yang telah dingin disaring menggunakan kertas saring
dan diencerkan hingga tanda batas.

3.3.3 Pembuatan Larutan Baku


Untuk pembuatan larutan baku, sejumlah tertentu baku dipipet dengan
pipet mikro kedalam labu ukur kemudian diencerkan dengan aquades
sampai tanda batas.
3.3.4 Pembuatan Larutan Standar
Dipipet larutan berurutan-turut dari larutan baku antara ke dalam labu
ukur kemudian seluruh larutan diencerkan dengan aquades sampai
tanda batas.
3.3.5 Uji Logam Berat dengan AAS
Diukur serapan larutan standar, blanko, sampel dan spike
menggunakan AAS sehingga mendapatkan kurva standard an nilai
absorbansi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penetapan kadar Cd, Fe dan Pb dalam Sampel Cabai
a. Hasil Pengujian
Kadar Cd
kadar kadar
Kons X rata-rata Cd rata-rata
Kadar Sampel Abs (y)
terbaca pada alat pada Cd pada
alat (X) cabai cabai
1. cabai 1 0.0016 0.0252 0.2507
0.0355 0.228
2. cabai 2 -0.0010 0.0206 0.2061
3. cabai spike 0.0826 0.1672 0.1672 1.6716 1.672
Kadar Fe

Kons X rata-rata kadar kadar rata-


Kadar Sampel Abs (y) terbaca alat Cd pada rata Fe pada
pada alat
(X) cabai cabai
1. cabai 1 0.0016 0.0293 0.2915
0.0346 0.199
2. cabai 2 -0.0010 0.0107 0.1067
3. cabai spike 0.0826 0.6087 0.6087 6.0866 6.087

Kadar Pb

Kons X rata-rata kadar kadar rata-


Kadar Sampel Abs (y) terbaca alat Cd pada rata Pb
pada alat
(X) cabai pada cabai
1. cabai 1 0.0003 -0.0034 -0.0341
-0.0384 -0.367
2. cabai 2 -0.0015 -0.0700 -0.7001
3. cabai spike 0.0013 0.0336 0.0336 0.3357 0.336

b. Pembahasan
Dilakukan penentuan kadar cadmium, besi dan timbal pada sampel
cabai dengan menggunakan metode spektrometer serapan atom. Sampel
yang dianalisa diperoleh dari pedagang di Pasar Sukawati, Gianyar. Tujuan
dari pengujian ini adalah untuk mengetahui kadar logam berat berbahaya
yang terkandung dalam cabai yang dijual di pasar. Untuk dapat dianalisa
dengan instrumen AAS, sampel dipreparasi terlebih dahulu. Tahap ini
dilakukan agar memenuhi Hukum Lambert-Beer. Dalam tahap preparasi
dilakukan penambahan HNO3 pekat dan pemanasan. Penggunaan
HNO3 pekat ini bertujuan untuk mempermudah proses destruksi agar
logam berat dalam keadaan bebas, karena dalam sampel, logam dalam
keadaan kompleks; dalam sampel tidak hanya terdapat logam Pb, Cu dan
Fe saja tetapi terdapat pula logam-logam yang lain; dan agar garam-garam
yang mungkin terbentuk dapat larut, sehingga tidak terbentuk endapan dan
larutannya pun menjadi jernih. Dan fungsi pemanasan yaitu untuk
mempercepat dan mengefektifkan proses pemutusan ikatan atau destruksi
berlangsung. Setelah sampel dilakukan penambahan HNO3 pekat dan
pemanasan, larutan sampel disaring dengan kertas saring, agar didapat
larutan yang homogen.
Larutan blanko yang digunakan merupakan larutan HNO3, karena
larutan HNO3 sebagai pelarut dalam larutan sampel dan larutan standar,
dengan demikian keberadaan HNO3 tidak mempengaruhi data absorbansi
yang diperoleh dari proses pengukuran larutan standar dan larutan sampel.
Dalam pengukuran sampel ini, digunakan metode adisi standar. Karena
diduga adanya kadar logam dalam larutan sampel sedikit. Sehingga jika
larutan diukur dikhawatirkan bahwa absorbansinya tidak terbaca.
Pada pembuatan larutan kerja , dibuat dengan berbagai konsentrasi
yaitu 0.02 ppm, 0.04 ppm, 0.06 ppm, 0.08 ppm, 0.2 ppm, 0.4 ppm 0.6 dan
0.8 ppm. Maka analisis kuantitatif dilakukan dengan cara kurva kalibrasi
antara absorbansi (sumbu y) dengan konsentrasi (sumbu x).
Kemudian dilakukan pengukuran konsentrasi sampel dan pembuatan
kurva kalibrasi. Dari data pengamatan nilai absorbansi yang didapat,
semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka semakin besar pula nilai
absorbansi atau penyerapan cahaya oleh atom.
Dari hasil olah data, diperoleh kadar Cd, Pb, dan Fe dalam sampel
secara berturut-turut sebesar 0.228 mg/L, 0.199 mg/L dan -0.367 mg/L.

4.2 Penetapan kadar Cd, Fe dan Pb dalam Sampel Tomat


a. Hasil Pengujian
Kadar Cd

Kons X rata-rata kadar kadar rata-


Kadar Sampel Abs (y) terbaca alat Cd pada rata Cd
pada alat
(X) cabai pada tomat
1. tomat 1 -0.0011 0.0233 0.2318
0.0349 0.232
2. cabai 2 -0.0011 0.0233 0.2328
3. cabai spike 0.00747 0.0382 0.0382 0.3823 0.382

Kadar Fe

Kons X rata-rata kadar kadar rata-


Kadar Sampel Abs (y) terbaca alat Cd pada rata Fe pada
pada alat
(X) cabai tomat
1. cabai 1 0.0868 0.7278 3.6388
1.0531 3.446
2. cabai 2 0.0771 0.6506 3.2528
3. cabai spike 0.0722 0.6116 0.6116 3.0579 3.058

Kadar Pb

Kons X rata-rata kadar Cd kadar rata-


Kadar Sampel Abs (y) terbaca alat pada rata Cd pada
pada alat
(X) cabai tomat
1. cabai 1 -0.0014 -0.0142 -0.0712
-0.0038 0.017
2. cabai 2 -0.0005 0.0208 0.1042
3. cabai spike -0.0007 0.0131 0.0131 0.0653 0.065

a. Pembahasan
Dilakukan penentuan kadar cadmium, besi dan timbal pada sampel
tomat dengan menggunakan metode spektrometer serapan atom. Sampel
yang dianalisa diperoleh dari pedagang di Pasar Sukawati, Gianyar. Tujuan
dari pengujian ini adalah untuk mengetahui kadar logam berat berbahaya
yang terkandung dalam cabai yang dijual di pasar. Untuk dapat dianalisa
dengan instrumen AAS, sampel dipreparasi terlebih dahulu. Tahap ini
dilakukan agar memenuhi Hukum Lambert-Beer. Dalam tahap preparasi
dilakukan penambahan HNO3 pekat dan pemanasan. Penggunaan
HNO3 pekat ini bertujuan untuk mempermudah proses destruksi agar
logam berat dalam keadaan bebas, karena dalam sampel, logam dalam
keadaan kompleks; dalam sampel tidak hanya terdapat logam Pb, Cu dan
Fe saja tetapi terdapat pula logam-logam yang lain; dan agar garam-garam
yang mungkin terbentuk dapat larut, sehingga tidak terbentuk endapan dan
larutannya pun menjadi jernih. Dan fungsi pemanasan yaitu untuk
mempercepat dan mengefektifkan proses pemutusan ikatan atau destruksi
berlangsung. Setelah sampel dilakukan penambahan HNO3 pekat dan
pemanasan, larutan sampel disaring dengan kertas saring, agar didapat
larutan yang homogen.
Larutan blanko yang digunakan merupakan larutan HNO3, karena
larutan HNO3 sebagai pelarut dalam larutan sampel dan larutan standar,
dengan demikian keberadaan HNO3 tidak mempengaruhi data absorbansi
yang diperoleh dari proses pengukuran larutan standar dan larutan sampel.
Dalam pengukuran sampel ini, digunakan metode adisi standar. Karena
diduga adanya kadar logam dalam larutan sampel sedikit. Sehingga jika
larutan diukur dikhawatirkan bahwa absorbansinya tidak terbaca.
Pada pembuatan larutan kerja , dibuat dengan berbagai konsentrasi
yaitu 0.02 ppm, 0.04 ppm, 0.06 ppm, 0.08 ppm, 0.2 ppm, 0.4 ppm 0.6 dan
0.8 ppm. Maka analisis kuantitatif dilakukan dengan cara kurva kalibrasi
antara absorbansi (sumbu y) dengan konsentrasi (sumbu x).
Kemudian dilakukan pengukuran konsentrasi sampel dan pembuatan
kurva kalibrasi. Dari data pengamatan nilai absorbansi yang didapat,
semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka semakin besar pula nilai
absorbansi atau penyerapan cahaya oleh atom.
Dari hasil olah data, diperoleh kadar Cd, Pb, dan Fe dalam sampel
secara berturut-turut sebesar 0.232 mg/L, 3.446 mg/L dan 0.017 mg/L.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan kurva kalibrasi diperoleh konsentrasi Pb, Cd, Fe pada
sampel tomat dan cabai adalah minus, yaitu tidak terdeteksi adanya
logam.

5.2. SARAN
Sebaiknya dilakukan analisis untukl ogam lain agar dapat mengetahui
kandungan logam apa saja yang terdapat dalam sampel.
DAFTAR PUSTAKA