Anda di halaman 1dari 40

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indicator untuk melihat
derajat kesejahteraan kesehatan perempuan. Salah satu target yang ditentukan
dalam tujuan ke 5 pembangunan mileneum yaitu meningkatkan kesehataan ibu
dimana target yang akan dicapai adalah mengurangi resiko kematian.
Penyebab kematian ibu di Indonesia meliputi penyebab obstetric langsung
yaitu pendarahan (28%), preeklamasi/eklamsi (24%), infeksi (11%), sedangkan
penyebab tidak langsung adalah trauma obstetric (5%), dan lain lain.
Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi setelah kehamilan 50% kematian masa
nifas terjadi dalam 24 jam pertama, dimana penyebab utamanya adalah
perdarahan pasca persalinan. Berdasarkan penyebab terjadi pendarahan adaah
atonia uteri (50-60%), retensio plasenta (16-17%), sisa plasenta (23-24%),
laserasi jalan lahir (4-5%), kelainan darah (0,5-0,8%). Factor predisposisi
terjadinya atonia uteri adalah uterus tidak berkontraksi, lembek, terlalu regang
dan besar, kelainan pada uterus seperti mioma uteri dan solusio plasenta.
Masa nifas (postpartum) merupakan masa pemulihan dari sembilan bulan
kehamilan dan proses kelahiran. Pengertian lainnya yaitu masa nifas yang biasa
disebut masa puerperineum ini dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali keadaan seperti hamil. Masa nifas ini
berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Pada masa ini terjadi perubahan-
perubahan fisiologis maupun psikologis seperti perubahan laktasi/ pengeluaran
air susu ibu, perubahan sistem tubuh dan perubahan psikis lainnya. Karena pada
masa ini ibu-ibu yang baru melahirkan mengalami berbagai kejadian yang sangat
kompleks baik fisiologis maupun psikologis.

1
Dalam hal ini perawat berperan penting dalam membantu ibu sebagai
orang tua baru. Perawat harus memberikan support kepada ibu serta keluarga
untuk menghadapi kehadiran buah hati yang sangat membutuhkan perhatian dan
kasih sayang sehingga dapat memulai kehidupan sebagai keluarga baru
(Maryunani, 2009).
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa
kritis baik ibu ataupun bayi. Diperkirakan bahwa 60% kematian akibat kehamilan
terjadi setelah persalinan dan 50% kematian akibat nifas terjadi dalam 24 jam
pertama. Setelah proses persalinan selesai bukan berarti tugas dan tanggung
jawab perawat dan terhenti, karena asuhan kepada ibu harus dilakukan secara
komprehensif dan terus menerus dalam arti selama masa kurun reproduksi
seorang wanita harus mendapatkan asuhan yang berkualitas dan standar
(Maryunani,2009)
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penulis tertarik membuat Asuhan
keperawatan pada klien dengan post partum spontan di ruang VK Puskesmas
Jagir Surabaya
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan: bagaimana proses asuhan
keperawatan pada klien dengan post partum spontan di ruang VK Puskesmas
Jagir Surabaya?
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Menganalisa Asuhan Keperawatan pada Ny N dengan kasus post
partum spontan di ruang VK Puskesmas Jagir Surabaya
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan konsep teori post partum
2. Mampu melakukan pengkajian yaitu mengumpulkan data subyektif dan
data obyektif pada pasien dengan Post Partum Spontan
3. Mampu menganalisa data yang diperoleh
4. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Post
Partum Spontan
5. Mampu membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan Post
Partum Spontan

2
6. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang
ditentukan.
7. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

1.4. Manfaat

1.4.1. Bagi Mahasiswa


Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk membuat
dan menerapkan asuhan keperawatan pada anak khususnya pada pasien yang
Post Partum Spontan
1.4.2 Bagi Puskesmas Jagir Surabaya
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan Puskesma Jagir Surabaya agar
lebih memperhatikan pasien dengan Post Partum Spontan

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Penyakit


2.1.1. Pengertian

Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa
nifas (puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah
masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali
ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak,2010).
Masa nifas atau masa purpenium adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir setelah kira-kira 6-8 minggu (Manjoer, A dkk, 2001). Akan tetapi
seluruh alat genetal baruh pulih kembali seperti sebelumnya ada kehamilan
dalam waktu 3 bulan (Ilmu kebidanan, 2007).
Masa nifas adalah priode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak,
ketika alat-alat reproduksi tengah kembali ke kondisi normal (Barbara F.
Weller,2005).
Jadi dapat disimpulkan bahwa masa nifas atau post partum adalah masa
setelah kelahiran bayi pervagina dan berakhir setelah alat-alat kandungan
kembali seperti semula tanpa adanya komplikasi.
2.1.2. Klasifikasi

Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :


1. Post partum dini yaitu keputihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri,
berjalan jalan. Dalam agama Isalam dianggap telah bersih dan boleh
bekerja setelah 40 hari.
2. Post partum intermedial yaitu keputihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu.

4
3. Post partum terlambat yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau
tahunan.
2.1.3. Adaptasi Fisiologis

1. Perubahan fisik
1) Involusi
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir Bayi lahir 1000 gr
Uri lahir Uri lahir 750
1 minggu 1 minggu 500
2 minggu 2 minggu 350
6 minggu 6 minggu 50
8 minggu 8 minggu 30

2. Placenta Bed
-Mengecil dan menonjol
-Kearah kavum uteri
3. Jalan lahir
-Luka sembuh dalam 6-7 hari bila tanpa infeksi
4. Abdomen
-Mulas (after pain) kontraksi selama + 2-4 post partum
5. Pengeluaran
a) L. Rubra (0-2 hari) warna merah (darah segar yang bercampur sisa
selaput ketuban, sel desidua, sisa vemuk, kaseosa, lanugo mekonium)
b) L. Sangirdenta (3-7 hari) warna merah kuning (terdiri dari darah
campur lendir)
c) L. Serosa (7-14 hari) berwarna kuning
d) L. Alba (14 hari 6 minggu) hanya berupa cairan putih
6. Servik
- Agar menganga seperti corong

5
-Merah kehitaman seperti corong
-Konsistensi lunak, kadang terdapat luka kecil
7. Ligamen
-Ligament, fasia, diafragma pelvis menciut dan pulih kembali
8. Vagina
-Laserasi, vugae baru ada setelah tiga minggu
9. Muskulus
-Tonus otot berkurang
-Diastaks rektus abdominalis
-Sesasi ekstremitas bawah berkurang
10. Perkemihan
-Diuresisi meningkat dalam 24 jam pertama
-Hematuria
11. Sisa endokirn
-Penurunan estrogen, prgesteron setelah placenta lahir
-Polaktin meningkat laktasi
-Non laktasi, prolaktin menurun estrogen meningkat, fase folikular 3 minggu
PPdan haid 12 minggu kemudian
-Laktasi, haid minggu ke-36 (anovulatory)
12. Sistem pencernaan
-Motiltias usus menurun
-Kekurangan cairan
-Tidak usaman
13. Sistem cardiovaskuler
-Bradikardi: 50-70 x.mnt
-Takikardi
-Diaporesis dan menggigil
-Pembekuan darah menigkat

2) Proses Laktasi

6
1. Perubahan pada kelenjar mamae
2. Poliferasi jaringan
3. Pengeluaran clolstrum
4. Hipervaskularisas
5. Hormon prlaktim bertambah
2.1.4. Adaptasi Psikologis
Menjadi orang tua merupakan suatu krisis tersendiri dan harus melewati
masa transisi. Masa transisi pada post partum yang harus diperhatikan perawat
adalah :
1. Honeymoon
Fase setelah anak lahir dan terjadi kontak yang lama antara ibu, ayah,
anak. Kala ini dapat dikatakan sebagai psikis honeymoon yang memerlukan
hal-hal romantis masing-masing saling memperhatikan anaknya dan
menciptakan hubungan yang baru.
2. Bonding Attachment atau ikatan kasih
Dimulai sejak dini begitu bayi dilahirkan. Bonding adalah suatu
istilah untuk menerangkan hubungan antara ibu dan anak. Sedangkan
attachment adalah suatu keterikatan antara orang tua dan anak. Peran
perawat penting sekali untuk memikirkan bagaimana hal tersebut dapat
terlaksana. Partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu
upaya untuk meningkatkan ikatan kasih tersebut.
Perubahan fisiologis pada klien post partum akan dikuti oleh perubahan
psikologis secara simultan sehingga klien harus beradaptasi secara
menyeluruh. Menurut klasifikasi Rubin terdapat tiga tingkat psikologis klien
setelah melahirkan adalah:
1) Taking In
Suatu periode dimana ibu hanya berorientasi pada kebutuhan diri
sendiri, tingkah laku klien pasif dengan berdiam diri, tergantung pada
orang lain. Ibu belum mempunyai inisiatif untuk kontak dengan bayinya.
Dia sangat membutuhkan orang lain untuk membantu, kebutuhannya
yang utama adalah istirahat dan makan. Selain itu ibu mulai menerima
pengalamannya dalam melahirkan dan menyadari bahwa hal tersebut
adalah nyata. Periode ini berlangsung 1 - 2 hari.

7
Menurut Gottible, pada fase ini ibu akan mengalami proses
mengetahui/menemukan yang terdiri dari :
a. Identifikasi
Ibu mengidentifikasi bagian-bagian dari fisik bayi, gambaran
tubuhnya untuk menyesuaikan dengan yang diharapkan atau diimpikan.
b. Relating (menghubungkan)
Ibu menggambarkan anaknya mirip dengan anggota keluarga yang lain.
c. Menginterpretasikan
Ibu mengartikan tingkah laku bayi dan kebutuhan yang dirasakan.
Pada fase ini dikenal dengan istilah fingertip touch
2) Taking Hold
Periode dimana terjadi perpindahan dari keadaan ketergantungan
ke keadaan mandiri. Perlahan-lahan tingkat energi klien meningkat merasa
lebih nyaman dan mulai berfokus pada bayi yang dilahirkan. Klien lebih
mandiri, dan pada akhirnya mempunyai inisiatif untuk merawat dirinya,
mampu untuk mengontrol fungsi tubuh, fungsi eliminasi dan
memperhatikan aktifitas yang dilakukannya setiap hari.
Jika ibu merawat bayinya, maka ia harus memperhatikan kualitas
dan kuantitas dari produksi ASI. Selain itu, ibu seharusnya tidak hanya
mengungkapkan keinginannya saja akan tetapi harus melakukan hal
tersebut, misalnya keinginan berjalan, duduk, bergerak seperti sebelum
melahirkan. Disini juga klien sangat antusias merawat bayinya. Pada fase
ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan pendidikan perawatan
diri dan bayinya.
Pada saat ini perawat mutlak memberikan semua tindakan
keperawatan seperti halnya menghadapi kesiapan ibu menerima bayi,
petunjuk-petunjuk yang harus diikuti tentang bagaimana cara
mengungkapkan dan bagaimana mengaturnya. Perawat harus berhati-hati
dalam memberikan instruksi dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.
Apabila klien merasa tidak mampu berbuat seperti yang diperbuat
oleh perawat, maka perawat harus membantu ibu dalam melaksanakan
kegiatan / tugas yang telah didemonstrasikan dan memberi pujian untuk
setiap tindakan yang tepat.

8
Bila ibu sudah merasakan lebih nyaman, maka ibu sudah masuk
dalam tahap ke- 2 maternal touch, yaitu total hand contact dan
akhirnya pada tahap ke- 3 yang disebut enfolding. Dan periode ini
berlangsung selama 10 hari.
3) Letting Go
Pada fase ini klien sudah mampu merawat dirinya sendiri dan mulai
disibukan oleh tanggung jawabnya sebagai ibu. Secara umum fase ini
terjadi ketika ibu kembali ke rumah.
4) Post Partum Blues
Pada periode ini terjadi perubahan hormone estrogen dan
progesterone yang menurun, selain itu ibu tidak siap dengan tugas-tugas
yang harus dihadapinya. Gejala: menangis, mudah tersinggung, gangguan
nafsu makan, gangguan pola tidur, cemas. Bila keadaan ini berlangsung
lebih dari 2 minggu dan ibu tidak mampu menyesuaikan diri, maka akan
menjadi serius yang dikenal sebagai POST PARTUM DEPRESI.
3. Adaptasi psikologis ayah
Respon ayah pada masa sesudah kelahiran tergantung
keterlibatannya selama proses persalinan, biasanya ayah akan merasa lelah,
ingin selalu dekat dengan isteri dan anaknya.
4. Adaptasi psikologis keluarga
Kehadiran bayi baru lahir dalam keluarga menimbulkan perubahan
peran dan hubungan dalam keluarga tersebut, misalnya anak yang lebih
besar menjadi kakak, orang tua menjadi kakek / nenek, suami dan isteri
harus saling membagi perhatian. Bila banyak anggota yang membantu
merawat bayi, maka keadaan tidaklah sesulit dengan tidak ada yang
membantu, sementara klien harus ikut aktif melibatkan diri dalam merawat
bayi dan membantu rumah tangga.
2.1.5. Etiologi
Penyebab timbulnya persalinan sampai sekarang belum diketahui secara pasti
atau jelas terdapat beberapa teori antara lain (Rustma Muchtar, 1998)
1. Penurunan kadar progesterone
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen
meninggikan ketentraman otot rahim.

9
2. Penurunan kadar progesterone
Pada akhir kehamilan kadar oxytocinbertambah, oleh karena itu timbul
kontraksi otot rahim.
3. Keregangan otot-otot
Dengan majunya kehamilan makin regang otot-otot dan otot-otot rahim
makin rentan.
4. Pengaruh janin
Hypofisis dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang
peranan oleh karena itu pada enencephalus kehamilan sering lebih lama
dan biasa.
5. Teori prostaglandin
Teori prostaglandin yang dihasilkan dan decidua, disangka menjadi salah
satu sebab permulaan persalinan.
2.1.6. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna
maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya
disebut involusi. Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting
lain yakni memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena
pengaruh lactogenik hormon dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar
mama.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh
darah yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-perubahan yang
terdapat pada serviks ialah segera post partum bentuk serviks agak menganga
seperticorong, bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri terbentuk semacam
cincin.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta
pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi
endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakai waktu 2
sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan diafragma palvis serta fasia yang

10
merenggang sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-angsur
kembali seperti sedia kala.
2.1.7. Manifestasi Klinis
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya
wanita memasuki bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala
pendahuluan (preparatory stage of labor) ini memberikan tanda-tanda sebagai
berikut :
1. Lightening atau setting atau droping yaitu kepala turun memasuki
pintu atas panggul terutama pada primigravida pada multipara tidak
begitu kentara.
2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3. Perasaan sering atau susah kencing (potakisurla) karena kandung
kemih tertekan oleh bagian terbawa janin.
4. Perasaan sakit perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi lemah dari
uterus, kadang disebut false labor pains.
5. Serviks menjadi lembek, mulai melebar dan sekresinya bertambah dan
bisa bercampur darah (bloody shoe).
2.1.8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan post partum menurut Siswosudarmo, 2008:
1) Pemerikasaan umum: tensi,nadi,keluhan dan sebagainya
2) Keadaan umum: TTV, selera makan dll
3) Payudara: air susu, putting
4) Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum
5) Sekres yang keluar atau lochea
6) Keadaan alat kandungan
2.1.9. Penatalaksanaan
1) Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
2) 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring
kanan kiri
3) Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang
benar dan perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada
masa nifas, pemberian informasi tentang senam nifas.
4) Hari ke-2 : mulai latihan duduk
5) Hari ke-3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan
2.2. Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.1. Pengkajian
a.Identitas Pasien
b.Keluhan Utama
Sakit perut, perdarahan, nyeri pada luka jahitan, takut bergerak

11
c.Riwayat Kehamilan
Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyetai
d.Riwayat Persalinan
-Tempat persalinan
-Normal atau terdapat komplikasi
-Keadaan bayi
-Keadaan ibu

e.Riwayat Nifas Yang Lalu


-Pengeluaran ASI lancar / tidak
-BB bayi
-Riwayat ber KB / tidak
f.Pemeriksaan Fisik
-Keadaan umum pasien
-Abdomen
-Saluran cerna
-Alat kemih
-Lochea
-Vagina
-Perinium dan rectum
-Ekstremitas
-Kemampuan perawatan diri
g.Pemeriksaan psikososial
-Respon dan persepsi keluarga
-Status psikologis ayah, respon keluarga terhadap bayi
2.2.2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan,kontraksi
uterus, distensi abdomen,luka episiotomi
2. Ketidakefektifan proses menyusui berhubungan dengan, belum
berpengalaman menyusui,pembengkakan payudara,lecet putting
susu,kurangnya produksi ASI.

12
3. Gangguan eliminasi BAK berhubungan dengan distensi kandung kemih,
perubahan-perubahan jumlah / frekuensi berkemih.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,
penurunan sistem kekebalan tubuh.
5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan berlebih (perdarahan)
6. Gangguan istirahat / perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan
kecemasan hospitalisasi, waktu perawatan bayi.
2.2.3. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan,kontraksi
uterus, distensi abdomen,luka episiotomy
Tujuan : Mengatasi rasa nyeri.
Kriteria Hasil :
1) Klien secara verbal menyatakan nyeri berkurang.
2) Klien mampu menerapkan secara khusus intervensi untuk mengatasi
Intervensi:
a. Kaji ulang skala nyeri
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang tepat
b. Anjurkan ibu agar menggunakan teknik relaksasi dan distraksi rasa
nyeri
Rasional : untuk mengalihkan perhatian ibu dan rasa nyeri yang
dirasakan
c. Anjurkan klien untuk berambulasi perlahan-lahan terutama saat duduk.
Rasionalisasi : Mengurangi tekanan pada perineum.
d. Berikan kompres hangat
Rasional : meningkatkan sirkulasi pada perineum
e. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : melonggarkan system saraf perifer sehingga rasa nyeri
berkurang

13
2. Ketidakefektifan proses menyusui berhubungan dengan, belum
berpengalaman menyusui,pembengkakan payudara,lecet putting
susu,kurangnya produksi ASI.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan ibu dapat
mencapai kepuasan menyusui
Kriteria Hasil:
ibu mengungkapkan proses situasi menyusui, bayi mendapat ASI yang
cukup.
Intervensi:
a. Kaji ulang tingkat pengetahuan dan pengalaman ibu tentang menyusui
sebelumnya.
Rasional: membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini agar
memberikanintervensi yang tepat.
b. Demonstransikan dan tinjau ulang teknik menyusui
Rasional: posisi yang tepat biasanya mencegah luka/pecah putting
yang dapat merusak dan mengganggu.
c. Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui
Rasional : agar kelembapan pada payudara tetap dalam batas normal.
d. Ajarkan ibu untuk melakukan perawatan payudara 1x sehari
Rasional: agar bendungan air susu tidak terjadi dan dapat
memperlancar pengeluaran asi.
e. Anjurkan ibu makan makanan yang bergizi
Rasional: makanan bergizi membantu produksi asi yang baik

3. Gangguan eliminasi BAK berhubungan dengan distensi kandung kemih,


perubahan-perubahan jumlah / frekuensi berkemih.
Tujuan:Setelah diberikan askep diharapkan ibu tidak mengalami gangguan
eliminasi (BAK)
Kriteria Hasil:

14
-ibu dapat berkemih sendiri dalam 6-8 jam post partum tidak merasa sakit
saat BAK,
-jumlah urine 1,5-2 liter/hari.
Intervensi:
a. Kaji dan catat cairan masuk dan keluar tiap 24 jam.
Rasional: mengetahui balance cairan pasien sehingga diintervensi
dengan tepat.
b. Anjurkan berkamih 6-8 jam post partum.
Rasional: melatih otot-otot perkemihan.
c. Berikan teknik merangsang berkemih seperti rendam duduk, alirkan
air keran.
Rasional: agar kencing yang tidak dapat keluar, bisa dikeluarkan
sehingga tidak ada retensi.
d. Kolaborasi pemasangan kateter.
Rasional: mengurangi distensi kandung kemih.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,


penurunan sistem kekebalan tubuh.
Tujuan: Setelah diberikan askep diharapkan infeksi pada ibu tidak terjadi
Kriteria Hasil:
-Dapat mendemonstrasikan teknik untuk menurunkan resiko infeksi
-Tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Intervensi dan Rasional:
a. Kaji lochea (warna, bau, jumlah) kontraksi uterus dan kondisi jahitan
episiotomi.
Rasional : untuk dapat mendeteksi tanda infeksi lebih dini dan
mengintervensi dengan tepat.
b. Sarankan pada ibu agar mengganti pembalut tiap 4 jam.
Rasional : pembalut yang lembab dan banyak darah merupakan media
yang menjadi tempat berkembangbiaknya kuman.

15
c. Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : peningkatan suhu > 38C menandakan infeksi.
d. Lakukan rendam bokong.
Rasional : untuk memperlancar sirkulasi ke perinium dan mengurangi
udema.
e. Sarankan ibu membersihkan perineal dari depan ke belakang.
Rasional : membantu mencegah kontaminasi rektal melalui vaginal.
5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan berlebih (perdarahan)
Tujuan: Setelah diberikan askep ibu diharapkan tidak kekurangan volume
cairan
Kriteria Hasil:
-cairan masuk dan keluar seimbang,
-Hb/Ht dalam batas normal (12,0-16,0 gr/dL)
Intervensi:
a. Ajarkan ibu agar massage sendiri fundus uteri.
Rasional: memberi rangsangan pada uterus agar berkontraksi kuat dan
mengontrol perdarahan.
b. Pertahankan cairan peroral 1,5-2 Liter/hari.
Rasional: mencegah terjadinya dehidrasi.
c. Observasi perubahan suhu, nadi, tensi.
Rasional: peningkatan suhu dapat memperhebat dehidrasi.
d. Periksa ulang kadar Hb/Ht.
Rasional: penurunan Hb tidak boleh melebihi 2 gram%/100 dL.

6. Gangguan istirahat / perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan


kecemasan hospitalisasi, waktu perawatan bayi.
Tujuan : Pola istirahat dapat kembali normal
Kriteria Hasil : Secara verbal klien mengucapkan dapat beristirahat
cukup

16
Intervensi :
a. Kaji tingkat kelemahan pasien dan kebutuhan istirahatnya.
Rasional: mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
b. Anjurkan klien untuk mengatur antara istirahat dan perawatan bayi.
Rasional: agar kebutuhan istirahat dan tidur klien terpenuhi
c. Informasikan bahwa keadaan fisik dan psikologi itu berpengaruh pada
produksi ASI.
Rasional: agar ibu memerhatikan kebutuhan istirahat dan tidur
d. Libatkan keluarga dalam perawatan anak agar ibu dapat beristirahat
dengan cukup.
Rasional: agar ibu dapat beristirahat dengan baik
e. Ciptakan suasana lingkungan yang terapeutik.
Rasional: lingkungan yang nyaman, membuat istirahat lebih baik.

17
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1. Pengkajian
Tanggal masuk : 29-11-2016 Jam masuk : 20.05 wib

Ruang/kelas : VK Kamar No :2

Pengkajian tanggal : 30-11-2016 Jam : 06.30

A. IDENTITAS
1. Nama pasien : Ny. N Nama Suami : Tn. P
2. Umur : 34 th Umur : 41 th
3. Suku/ bangsa : Jawa/Indonesia Suku/ bangsa :
Jawa/Indonesia
4. Agama : Islam Agama : Islam
5. Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan :
Wiraswasta
7. Alamat : Surabaya Alamat :
Surabaya
8. Status Pernikahan : Menikah

B. STATUS KESEHATAN SAAT INI


1. Keluhan utama saat ini :
Ibu mengatakan nyeri pada perut bagian bawah dan pada luka jahitan lahir

2. Riwayat Kondisi saat ini

18
Pada saat pengkajian tanggal 30 Nov 2016 jam 03.00 wib. Ibu mengatakan
nyeri dibagian perut bagian bawah nyeri terasa pada waktu ditekan dan pada
saat BAK, nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk , hilang timbul, disertai mual
muntah dan ASI yang masih belum keluar.

3. Diagnosa medik : P40004


C. RIWAYAT KEPERAWATAN
1. RIWAYAT OBSTETRI :
a. Riwayat menstruasi :
Menarche : umur 13 th Siklus : teratur ( ) tidak
( )
Banyaknya : 4x Lamanya: 7 hari
Keluhan : tidak ada keluhan pada saat menstruas

19
b. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas :

Anak ke Kehamilan Persalinan Komplikasi nifas Anak

Umur
No Usia Penyulit Jenis Penolong Penyulit Laserasi Infeksi Perdarahan Jenis BB pj
kehamilan

1 15 th 39 Minggu Normal Bidan Ada 2 jahitan P 29000 gr 49 cm

2 9 th 39 Minggu Normal Bidan Ada 2 jahitan P 27000 gr 48 cm

3 7 th 39 Minggu Normal Dokter - P 28000 gr 47 cm

4 0 hr 39 Minggu Normal Bidan Ada 1 jahitan 200 cc P 32000 gr 49 cm

20
c. Genogram :

21
D. RIWAYAT PERSALINAN DAN POST PARTUM SEKARANG
a. Keluhan kontraksi : Ada, ibu mengeluh kencang-kecang
b. Pengeluaran pervaginan : Lochea Rubra 200 cc
c. Kala persalinan
Kala 1 : Pasien datang pukul 20.05 wib dengan keluhan kencang-
kencang terus menerus mulai pukul 18.00 wib. Lalu
dilakukan pemeriksaan TTV, TD: 120/80 mmHg N: 84
x/menit RR: 23x/menit TFU: 31 cm DJJ: 143x/menit
Kala 2 : Bayi lahir jenis kelamin perempuan jam 00.20 wib. BB :
3200 gr PB : 49 cm, menangis kuat, kulit kemerahan.
Kala 3 : Placenta lahir dalam waktu 10 menit
Kala 4 : Kontraksi baik, lochea rubra +- 150 cc, kontraksi TFU
baik, 3 jari di bawah pusat.
DATA BAYI
Bayi lahir tanggal/ jam : 30 November 2016/ 00.20
Jenis kelamin : Perempuan
Nilai APGAR : 7-8
BB : 3200 gr
PB : 49 cm
Lingkar kepala : 33 cm
Suhu :36,5oc
Perawatan tali pusat : Ya
Perawatan mata : ya

E. RIWAYAT KELUARGA BERENCANA :


a. Melaksanakan KB : Ya
b. Bila ya jenis kontrasepsi apa yang digunakan : Suntik
c. Sejak kapan menggunakan kontrasepsi : setelah
melahirkan anak pertama
d. Masalah yang terjadi : Tidak ada
masalah
F. RIWAYAT KESEHATAN :
a. Penyakit yang pernah dialami ibu :
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit serius seperti diabetes
mellitus, HTN, tapi ibu memiliki maag saat mengandung anak terakhir

22
b. Pengobatan yang didapat :
Pasien mengatakan tidak ada menjalani pengobatan
c. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan orang tua memiliki riwayat penyakit hipertensi dan
diabetes

G. RIWAYAT LINGKUNGAN :
Dari pengamatan kebersihan lingkungan bersih, nyaman, pasien ditempatkan
ditempat yang jauh dari bahaya seperti benda- benda tajam .

H. ASPEK PSIKOSOSIAL :
Ibu mengatakan persepsi tentang persalinan saat ini lancar, tidak ada keluhan
saat persalinan. Ibu mengharapkan bayinya sehat, dapat bertumbuh kembang
sesuai usia, untuk kedepannya tidak ada keluhan sakit dari anak dan ibu.
Ibu mengatakan tinggal bersama suami, dan orang yang terpenting bagi ibu
adalah keluarga yaitu anak-anaknya, suami dan juga orangtua.Ibu mengatakan
suami yang mendukung saat hamil hingga persalinan. Pada waktu mengandung
dari kehamilan pertama hingga keempat ini ibu mengatakan sudah siap mental
untuk menjadi ibu.

I. KEBUTUHAN DASAR KHUSUS (DI RUMAH DAN DI RS) :


1. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan frekuensi makan dirumah 3x sehari, di puskesmas makan 3x
sehari, nafsu makannya menurun karna setiap kali makan ataupun minum ibu
selalu muntah. Ibu mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan dan
tidak ada makanan pantangan.

2. Pola eliminasi :
a. BAK

23
Ibu mengatakan frekwensi BAK sebelum melahirkan 4x sehari, warna
kuning jernih dan tidak ada keluhan pada waktu BAK. Dan setelah
melahirkan frekuensi 3x sehari, warna kuning jernih dan
mengeluhkan rasa nyeri saat BAK karena jahitan.

b. BAB
Ibu mengatakan frekuensi BAB sebelum melahirkan 1x hari, warna
kuning kecoklatn, bau khas, kmsistensi lunak dan tidak ada keluhan
apapun saat BAB. Dan setelah melahirkan ibu mengatakan belum
BAB.

3. Pola Personal Hygiene


Ibu mengatakan pada waktu mengandung/sebelum melahirkan mandi
2x sehari dan menggunakan sabun mandi, dan rutin gosok gigi pada pagi hari
ditambah pada malam hari sebelum tidur. Dan ibu mengatakan cuci rambut
2x dalam 1 minggu, ibu juga menggunakan shampo pada waktu cuci rambut .
Setelah melahirkan ibu mengatakan mandi tetap 2x sehari, rutin gosok
gigi di pagi hari dan malam hari. dan untuk cuci rambut selama masuk
puskesmas belum mencuci rambut
4. Pola istirahat dan tidur
Ibu mengatakan pada waktu mengandung lama tidur pada malam hari
6 jam dari jam 21.00 03.00 . Kebiasaan ibu sebelum tidur menonton tv .
Pola tidur pada saat setelah melahirkan ibu sering terbangun karena
menyusui anaknya,.
5. Pola aktifitas dan latihan
Ibu mengatakan sebagai ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang diakukan
Ny. N salah satunya jika waktu luang digunakan untuk melakukan pekerjaan
rumah. Namun ibu juga mengatakan kebanyakan waktunya untuk istirahat.
Dan aktifitas lainnya menjemput anaknya pulang sekolah.

6. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan

24
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, tidak pernah meminum minuman air
keras, dan tidak pernah ketergantungan dengan obat- obatan keras .

J. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : lemah Kesadaran :
Compos metis
b. Tekanan darah : 120/90 Nadi : 68
x/menit
c. Respirasi : 23 x/menit Suhu
:36,8C
d. Berat badan : 67,5 kg Tinggi badan :
151 cm

Kepala, mata kuping, hidung dan tenggorokan :


Kepala : Bentuk simetris, tidak ada benjolan, rambut bersih dan tidak rontok
Keluhan : tidak ada keluhan
Mata :
Kelopak mata : Normal , tidak ada oedem
Gerakan mata : Normal , dapat melihat kesegala arah .
Konjungtiva : anemis
Sklera : Putih , tidak ikhterik
Pupil : Ukuran normal , isokhor
Akomodasi : Aktif terhadap cahaya
Lainnya sebutkan : Tidak ada
Hidung :
Reaksi alergi : Tidak ada reaksi pada alergi
Sinus : Tidak ada nyeri tekan
Lainnya sebutkan : Tidak ada

Mulut dan Tenggorokan :

25
Gigi geligi : Lengkap
Kesulitan menelan : Tidak ada nyeri telan
Lainnya sebutkan : Tidak ada
Dada dan Axilla
Mammae : Membesar
Areolla mammae : Gelap
Papila mammae : Menonjol
Colostrum : Keluar

Pernafasan
Jalan nafas : Bersih tidak ada sumbatan
Suara nafas : Vasikuler , tidak ada suara tambahan ronchi
dan wheezing
Menggunakan otot-otot bantu pernafasan : tidak ada otot bantu
nafas
Lainnya sebutkan : Tidak ada

Sirkulasi jantung
Kecepatan denyut apical :
Irama : Reguler
Kelainan bunyi jantung : Tidak ada kelainan pada bunyi
jantung
Sakit dada : Tidak ada nyeri dada
Timbul : Tidak ada
Lainnya sebutkan : Tidak ada

Abdomen
Tinggi fundus uterus : 3 jari dibawah pusat Kontraksi:
ya

26
Bising usus : 12x/menit

Perineum dan Genital


Integritas Vagina :
Perineum : ada rupture grade 2 pada perineum,
jahitan 1
Tanda infeksi (REEDA)
R:Rednes : tidak
E:Edema : tidak
E: Echimosis : tidak
D: Discharge : tidak
A: Approximate : tidak
Lochea : jumlah kurang lebih 200cc , warna merah /
jenis rubra, bau anyir ( amis )
Hemorrhoid : Tidak ada keluhan hemoroid

Ekstrimitas (integumen/muskuloskeletal)
Turgor kulit : elastis
Warna kulit : sawo matang
Edema : tidak ada edema
Kontraktur pada persendian ekstrimitas : tidak ada
Tanda Homan : ( - )
Kesulitan dalam pergerakan : tidak ada
Lainnya sebutkan : tidak ada

K. KESIAPAN DALAM PERAWATAN BAYI:


1. Senam nifas
Ibu mengatakan bahwa belum pernah mengikuti senam nifas
2. Kesiapan mental ibu dan keluarga

27
Ibu mengatakan bahwa sudah siap untuk merawat bayinya dan siap menjadi
ibu karena sudah pernah melahirkan 2 anak sebelumnya
3. Pengetahuan tentang memandikan bayi, merawat tali pusat, teknik menyusui,
breast care, perawatan perineum
Ibu mengatakan bahwa sudah berpengalaman memandikan bayi, menyusui
bayi dengan teknik yang benar, merawat tali pusar, melakukan perawatan
perineum, tetapi ibu belum mengetahui tentang breast care.

L. DATA PENUNJANG
1) Laboratorium :............................................................................
.....................
2) USG
:.................................................................................................
3) Rontgen : ...........................................................................
......................
4) Terapi yang didapat:
30-11-2016
- Lidocain 1x1 Amp ( IV)
- Oxytosin 1x1 Amp (IV)
- Antasida (Oral)

M. DATA TAMBAHAN
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
........................
Surabaya, 30 November 2016

Pemeriksa

28
(..................................................)

29
3.2. Analisis Data
No Data Subyektif Etiologi Problem

1. Ds: pasien mengtakan nyeri pada bagian Post Partum Nyeri Akut
luka jahitan
P: saat BAB dan BAK
Q: seperti di tusuk-tusuk
R: di bagian bawah perut pada luka
jahitan
S: dengan skala 5 dari skala (1-10)
Do:
1. pasien sering merubah posisi tubuhnya
2. Pasien nampak meringis karena sakit
2. Ds: pasien mengatakan mual dan muntah Distensi Lambung Mual
saat selesai makan dan minum
Do:
1. Pasien terlihat mual saat makan.
2. Pasien tampak muntah
3. Pasien tidak mau makan karna takut
muntah
4. Pasien tampak pucat
5. Konjungtiva anemis
3 Ds: Asupan cairan yang Ketidakefektifan
- Ibu merasa ASI masih belum tidak adekuat Pemberian ASI

keluar
- Ibu mengatakan setiap kali
menyusui payudara ibu terasa sakit
Do:
- Bayi tampak menangis
- Puting susu menonjol
- Payudara tidak mengeluarkan
ASI

30
3.3. Intervensi Keperawatan

No DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1. Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat nyeri dan skala nyeri 1. Untuk mengetahui frekuensi
berhubungan dengan tindakan keperawatan nyeri untuk memungkinkan
luka episiotomi selama 2 kali 24 jam modifikasi rencana perawatan
2. Berikan posisi yang nyaman
diharapkan nyeri yang di perlukan meringankan
3. Ajarkan manajemen nyeri
berkurang (lakukan manajemen nyeri Non atau
Kriteria Hasil: farmakologis dengan menraik nafas
2. mengurangi nyeri sampai pada
dalam dari hidung dan
tingkat kenyamanan yang dapat
1. Kepuasan kllien mengeluarkannya dari mulut, dan
diterima oleh pasien
tentang tingkat ajarkan tehnik relaksasi dengan
persepsi positif membayang kan sesuatu yang membuat 3. memfasilitasi penggunaan obat
terhadap pasien senang) obat resep atau obat bebas
kemudahan fisik 4. Kolaborasi dengan dokter untuk secara aman dan efektif
dan psikologis pemberian analgesic
4. menggunakan agen
farmakologis untuk mengurangi

31
2. Tingkat keparahan atau menghilangkan nyeri.

3. nyeri bisa
dilaporkan

2. Mual berhubungan Setelah dilakukan 1. Observasi penyebab mual pasien 1. Untuk melaksanakan intervensi
dengan distensi tindakan keperawatan Observasi asupan dan cairan dan yang akan dilakukan
lambung selama 1x24 jam makanan pasien
diharapkan mual 2. Observasi TTV 3. Mengkaji konsumsi gizi dan
3. Tinggikan bagian kepala tempat tidur pemberian suplemen
berkurang
pasien
4. Pemberian Medikasi 4. Untuk mencegah aspirasi
Kriteria Hasil:
(motivasi kepada pasien untuk makan
5. Untuk memenuhi asupan cairan
1. Rasa mual pasien sedukit-sedikit tapi sering dan
pasien dan untuk mengurangi
berkurang melakukan teknik relaksasi selama
2. Pasien tidak mual stress dan mengalihkan
makan)
saat makan 5. Berikan terapi cairan IV, bila perhatian pasien dari mual
dianjurkan 6. Untuk mengurangi mual dan
6. Kolaborasi dengan dokter untuk
memungkinan pasien untuk
pemberian obat antimual
makan
3. Ketidakefektifan Tujuan : 1. Kaji ulang tingkat pengetahuan dan 1. Membantu dalam
proses menyusui pengalaman ibu tentang menyusui mengidentifikasi kebutuhan saat
Setelah diberikan sebelumnya. ini agar memberikan intervensi
berhubungan Asupan
asuhan keperawatan 2. Demonstransikan dan tinjau ulang yang tepat
cairan yang tidak teknik menyusui 2. Posisi yang tepat biasanya
selama 20 menit mencegah luka/pecah putting
adekuat 3. Anjurkan ibu mengeringkan puting
diharapkan ibu dapat setelah menyusui. yang dapat merusak dan

32
mencapai kepuasan 4. Ajarkan ibu untuk melakukan mengganggu.
perawatan payudara 1x sehari. 3. agar kelembapan pada payudara
menyusui
5. Anjurkan ibu makan makanan yang tetap dalam batas normal.
bergizi 4. Agar bendungan air susu tidak
Kriteria hasil :
terjadi dan dapat memperlancar
pengeluaran asi.
ibu mengungkapkan 5. Makanan bergizi membantu
proses situasi produksi asi yang baik
menyusui, bayi
mendapat ASI yang
cukup.

3.4.

33
3.5. Implementasi Keperawatan
No Tanggal Tindakan Keperawatan Paraf Tanggal Evaluasi (soap)
Dx Dan jam dan jam
1 30-11-16 S: P: pasien mengatakan neri pada
07.20 Mengkaji skala nyeri pasien
bagian bawah perut (jahitan)
P: pasien mengatakan nyeri pada bagian bawah
Q: hilang timbul
perut (jahitan)
Q: hilang timbul R: di bagian bawah perut
R: di bagian bawah perut S: dengan skala 5 dari skala (1-10)
S: dengan skala 5 dari skala (1-10) T: Pada saat perut ditekan dan saat
07.45 T: Pada saat perut ditekan dan saat BAK BAK
08.30

Memberikan posisi yang nyaman O:


Mengajarkan management nyeri relaksasi dengan - Suhu: 36,6 C.
- Ibu paham cara mnegatasi nyeri
tarik nafas panjang dari hidung dan di keluarkan
dengan management nyeri distraksi dn
melalui mulut
relaksasi
A: masalah teratasi sebagaian
P: Intervensi di Lanjutkan
2 30-11-16 S: pasien mengatakan td pagi mual dan
06.45 Menanyakan keadaan dan yang dirasakan saat ini
muntah
(Pasien merasa masih mual dan muntah)
07.00
Memberikan terapi cairan iv, (RL 16 tpm)
07.45
Memberikan posisi semi fowler O:
10.00
Memberikan obat oral antasida 1x 200mg

34
Observasi TTV - Ibu paham tentang anjuran
12.00 TD: 110/80 N:72x/mnt
makan sedikit tapi sering
RR: 22 S: 36,6oC
- Ibu makan 2-3 sendok mual
12.10 Memotivasi ibu untuk memberikan makanan
- Px tampak pucat
sedikit tapi sering - Hasil TTV
TD:110/80mmhg N:72x/mnt
RR: 22 S: 36,6oC
A: masalah belum teratasi
P: Intervensi dilaanjutkan
3 30-11-16 S:
06.45 Menanyakan apakah ASI sudah keluar (Ny. N - Px mengatakan ASI belum
mengatakan ASI masih belum keluar) keluar.
11.30
Mengajarkan pasien untuk melakukan perawatan - Ibu mengatakan dapat
11.45 payudara 1x sehari. (ibu dapat melakukan melakukan perawatan payudara
perawatan payudara) O:
Mendemonstransikan teknik menyusui
- Ketika putting dipijat ASI tidak
keluar
- Ibu tampak memperhatikan
- pasien terlihat dapat melakukan
perawatan payudara secara mandiri.
A: Masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan
Shift siang S:
15.30 Mengkaji skala nyeri dan bagaimana nyeri yang - Px mengatakan nyeri pada
dirasakan bekas jahitan saat BAK
P: pasien mengatakan nyeri pada bagian bawah - P: pasien mengatakan nyeri

35
perut (jahitan) pada bagian bawah perut (jahitan)
Q: hilang timbul - Q: hilang timbul
- R: di bagian bawah perut
R: di bagian bawah perut
- S: dengan skala 4 dari skala (1-
15.45 S: dengan skala 4 dari skala (1-10)
10)
16.00
T: Pada saat BAK - T: Pada saat BAK
Memberikan posisi yang nyaman O:
Mengajarkan management nyeri relaksasi dengan - Px tampak memegang perutnya.
- Px tampak gelisah
tarik nafas panjang dari hidung dan di keluarkan
A: Masalah teratasi sebagian
melalui mulut
P: intervensi dilanjutkan
15.30 Menanyakan keadaan dan yang dirasakan saat ini S:
- Px mengatakan sudah tidak
(Pasien merasa masih mual)
17.00
Memotivasi ibu untuk memberikan makanan muntah, tp msh merasa mual
- Px mengatakan makan hanya
17.30 sedikit tapi sering
Mengganti cairan infus RL (14tpm) sedikit
O
18.00
Observasi TTV - Px makan hanta 2-3 sendok saja
TD: 100/70 N:80x/mnt - Px tidak tampak muntah
RR: 20 S: 36oC - Px tampak pucat
A: Masalah teratasi sebagian\
P: intervensi dilanjutkan
15.30 Menanyakan apakah ASI sudah keluar (Ny. N S: ibu mengatakan ASI yang keluar
mengatakan ASI keluar hanya sedikit) sedikit
16.00
Mengajarkan pasien untuk melakukan perawatan O:
16.15
- Ibu dapat melakukan perawatan
payudara 1x sehari. (ibu dapat melakukan

36
16.30 perawatan payudara) payudara
16.30 Meninjau ulang teknik menyusui ibu - Ibu dapat melakukan teknik
Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah
menyusui dengan benar
menyusui. - Ibu memperhatikan ketika
perawat menjelaskan
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi Dilanjutkan
Shift S:
- Px Mengatakan Nyeri
malam
Mengkaji skala nyeri dan bagaimana nyeri yang
05.00 Berkurang
dirasakan - Px Mengatakan Nyeri Timbul
P: pasien mengatakan nyeri pada bagian bawah
Lagi Padasaat Bak
perut (jahitan) - P: Pasien Mengatakan Nyeri
Q: hilang timbul
Pada Bagian Bawah Perut (Jahitan)
R: di bagian bawah perut - Q: Hilang Timbul
- R: Di Bagian Bawah Perut
S: dengan skala 3 dari skala (1-10)
- S: Dengan Skala 3 Dari Skala
T: Pada saat BAK
(1-10)
- T: Pada Saat Bak
O
- Px Tmpak Gelisah
- Px Memegang Perutnya
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Intervensi di lanutkan
05.00 Menanyakan keadaan dan yang dirasakan saat ini S;
- Bu mengatakan tidak mual dan
(Pasien mengatakan sudah tidak mual)

37
05.30 Memotivasi ibu untuk memberikan makanan muntah
05.40 - Ibu mengatakan makan sedikit
sedikit tapi sering
Observasi TTV tapi sering
TD: 110/80 N:80x/mnt
O
RR: 20 S: 36oC
Aff infus - Px tidak mual dan muntah
- Porsi makan hanya sedikit
- Px tidak tampak pucat
- TD: 110/80 N:80x/mnt
- RR: 20 S: 36oC
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Intervensi di lanutkan
05.00 Menanyakan apakah ASI sudah keluar (Ny. N S: ibu mengatakan ASI yang keluar
mengatakan ASI keluar hanya sedikit) sedikit
05.45
Mengajarkan pasien untuk melakukan perawatan O:
- Ibu dapat melakukan perawatan
payudara 1x sehari. (ibu dapat melakukan
06.00 payudara
perawatan payudara)
06.00 - Ibu dapat melakukan teknik
Meninjau ulang teknik menyusui ibu
Menganjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui dengan benar
- Ibu memperhatikan ketika
menyusui.
perawat menjelaskan
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi Dilanjutkan

38
BAB 4
PENUTUP

4.1 Simpulan
Post partumadalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa
nifas (puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah
masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali
ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak,2010).Masa nifas dibagi dalam 3
periode yaitu :
1. Post partum dini yaitu keputihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri,
berjalan jalan. Dalam agama Isalam dianggap telah bersih dan boleh
bekerja setelah 40 hari.
2. Post partum intermedial yaitu keputihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu.
3. Post partum terlambat yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau
tahunan.
Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-
600 cc dalam 24jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar,
MPH, 1998).PerdarahanPost partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
1. Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
2. Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir
Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan
dengankomplikasi perdarahan post partum :
1. Menghentikan perdarahan.
2. Mencegah timbulnya syok.
3. Mengganti darah yang hilang.

39
4.2 Saran
Makalah ini kami angkat berdasarkan dari sumber penerbit dan
pengatahuan dan diskusi kelompok kami. Semoga pembaca dapat menambah
wawasan dan pengetahuan tentang makalah ini.Serta membawa manfaat bagi
lingkungan. Dengan cara berkomunikasi seperti ini.Perawat dapat lebih
merencanakan bantuan dan bimbingan bagi pasien dan juga perawat akan
mengembangkan kepercayaan pada diri sendiri.Kami menerima saran anda agar
makalah ini lebih sempurna dan lebih baik.

40