Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penguntingan adalah penentuan beda tinggi titik yang belum diketahui dari titik tertentu
yang telah diketahui, tujuan dari penguntingan untuk mendapatkan atau menentukan titik
pedoman dari wilayah atau daerah atau lokasi yang akan dilakukan pemetaan, sehingga lokasi
yang akan dipetakan dapat diketahui ketinggiannya di atas permukaan laut. Karena
penguntingan merupakan pekerjaan awal pada waktu survey, maka peralatan yang digunakan
tidak disarankan mempergunakan alat BTM atau Theodolit, sebab alat pengunting mempunyai
ketetlitian yang lebih tinggi dari alat tersebut dan untuk menghindari kesalahan-kesalahan
yang besar adanya pengaruh factor luar seperti (bulat bumi, pembelokan sinar, undulisi,
pemanasan tidak rata), kesalahan alat (garis visir tidak sejajar garis arah, pengaturan terang
dan tajam, perbedaan titik 0, rambu tidak vertical, penurunan pesawat, penurunan rambu) dan
kesalahan pengamatan.
Profil adalah penampang vertical melalui lapangan, tujuan pembuatan profil adalah
untuk mengetahui nilai tingkat kenaikan dan penurunan suatu lapang secara lebih terperinci.
Pembuatan profil dilaksanakan untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang teliti, misalnya
pembuatan jembatan, saluran air, perencanaan teras dan pekerjaan lainnya yang
berhubungan dengan pekerjaan teknik sipil, pertanian, kehutanan dan sebagainya.
Pembuatan profil hendaknya dilakukan secara teliti terutama dalam penentuan titik kritis
lapang, karena kualitas profil yang didapatkan sangat ditentukan oleh penentuan titik kritis ini.
Alat yang digunakan disarankan mempergunakan alat pengunting, kecuali jika kondisi medan
yang tidakl memungkinkan dilaksanakan dengan alat pengunting maka dapat dipergunakan
alat BTM atau theodolit (alat dan bagian-bagiannya seperti pengunting).

1.2 Tujuan Praktikum


Praktikum pengunting bertujuan untuk mengetahui beda tinggi suatu lahan dan juga
mengetahui jarak dengan metode penguntingan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penguntigan
Alat-alat Instrument yang digunakan untuk mengukur dan menunjukkan tinggi
permukaan cairan dikenal dengan istilah Level. Pengukuran level adalah yang berkaitan
dengan keterpasangan terhadap peralatan proses yang berbentuk kolom seperti:Tangki,
Drum, Tabung Silinder. Tujuan dari pada pengukuran dan pengendalian level adalah untuk
mencegah agar peralatan Instrumentasi pada suatu lapangan tidak mengalami kelebihan/
kekurangan fluida yang akhirnya dapat merusak peralatan peralatan instrument tersebut.
Waterpass atau sipat datar atau pengunting merupakan alat pengukur beda tinggi. Sipat datar
merupakan istilah umum untuk manapun dari berbagai proses dengan mana elevasi titik atau
beda elevasi ditentukan. Sebelum dilakukan pengukuran beda elevasi menggunakan sipat
datar maka harus memenuhi syarat utama yaitu garis bidik di dalam teropong harus sejajar
dengan dengan garis arah nivo. Sementara itu pada dasarnya hanya satu syarat yang harus
diperhatikan untuk menyipat tetap, yaitu garis bidik harus horizontal (Ginting, 2008).
Penguntingan biasanya dilakukan pada ujung-ujung pengukuran di atas tanda (patok)
dengan menggunakan unting-unting atau bantul. Rumput, semak-semak penghalang dan
permukaan tanah yang tidak rata dapat menyebabkan peletakan pita yang tidak sesuai
dengan aturan pengukuran. Untuk itu pita ukur dipegang di atas tanah dalam posisi mendatar
(horizontal). Masing-masing ujung pita ditandai dengan menempatkan bandul (unting-unting)
dan ditahan dengan ibu jari. Petugas belakang masih terus memegang unting-unting dengan
ibu jari pada titik tertentu. Sedangkan petugas depan menandai pembaca jarak, bila mengukur
jarak yang lebih pendek dari panjang pita, petugas depan menggerakkan tali bandul sampai
titik tertentu pada pita ukur tepat di atas patok (Hanum, 2008).

2.2 Pengertian Profil


Profil tanah ditempatkan pada kondisi lahan yang paling dominan penyebarannya
sehingga susunan horizon yang akan ditemukan diharapkan sesuai dengan Satuan Peta
Tanahnya. Dalam pemilihan lokasi profil, dilakukan pengecekan terlebih dulu dengan
beberapa pemboran untuk mendapatkan tanah yang dikehendaki. Setelah ditemukan lokasi
yang sesuai, kemudian dilakukan penggalian profil. Profil tanah dibuat ditengah tengah
kisaran (range in characteristic) agar representatif sehingga dapat mewakili satuan analisis
dari area penelitian yang direncanakan. Profil tanah terutama pada lahan kering terdegradasi
dapat diidentifikasi dari sifat fisik dan kimia tanah pada masing masing horisonnya
(Asfan,2012).
Penentuan besarnya erosi yang terjadi dalam suatu daerah dapat diprediksi dengan
beberapa model. Model levelling merupakan salah satu persamaan yang paling dapat
digunakan untuk memprakirakan besarnya erosi. Model atau metode levelling, yaitu dengan
mengetahui berapa penurunan permukaan tanah dengan alat tongkat levelling yang sudah
diberi tanda skala dan ditancapkan ke dalam tanah, kemudian nilai ini dikonversikan ke dalam
luas lahan satuan percobaan dengan nilai tingkat erosi ton/ha (Setyawan,2010).

2.3 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melaksanaan Penguntingan


Menurut Hutagaol (2008), Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan
membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap
besaran lain yang sudah diketahui nilainya, misalnya dengan besaran standart. Pekerjaan
membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur. Sedangkan
pembandingnya yang disebut sebagai alat ukur. Pengukuran banyak sekali dilakukan dalam
bidang teknik atau industri. Sedangkan alat ukurnya sendiri banyak sekali jenisnya, tergantung
dari banyak faktor, misalnya objek yang diukur serta hasil yang di inginkan. Yang perlu
diperhatikan dalam melakukan pengukuran adalah :
1. Standart yang dipakai harus memiliki ketelitian yang sesuai dengan standart yang telah
ditentukan
2. Tata cara pengukuran dan alat yang digunakan harus memenuhi persyaratan
Geoid yang dihasilkan dari GPS dan Levelling terdapat hubungan yang erat satu sama
lainnya tinggi orthogonal yaitu tinggi yang sehari-hari kita pakai dan diukur dengan
menggunakan alat Levelling, h adalah tinggi ellipsoid yaitu tinggi yang dihasilkan dari
pengukuran tinggi menggunakan GPS dan N adalah geoid yang dihasilkan dari data gravitasi
(Ramadi, 2011).

2.4 Definisi Nivo Kotak


Nivo Kotak terdiri atas kotak dari gelas yang dimasukkan dalam montur dari logam
sedemikian, hingga bagian atas tidak tertutup. Kotak dari gelas itu diisi dengan eter atau
alcohol dan diatas di bagian dalam tutup kotak diberi bentuk bidang lengkung dari bulatan
dengan jari-jari yang besar. Bagian kecil kotak itu berisi zat cair, sehingga bagian dari atas
kelihatan gelembung .Nivo kotak berbentuk bulat,bagian dalam permukaan bola diproduksi
untuk radius tertentu. Seperti versi tabung, kecuali untuk gelembung udara, nivo bulat dipenuhi
dengan cairan. Nivo ini tepat dengan lingkaran konsentris yang memiliki jarak 2 - mm. Poros
sebenarnya pesawat bersinggungan dengan titik radius lingkaran konsentris. Ketika
gelembung tersebut berpusat di lingkaran terkecil, sumbu harus horisontal. Selain
penggunaannya untuk perataan pada tiliting level dan tingkat otomatis , nivo bulat juga
digunakan pada instrumen total station, tribrachs, jalon, rambu prisma, dan banyak instrumen
survei lainnya. Sensitivitas mereka jauh lebih rendah dibandingkan dengan nivo tabung
umumnya di kisaran dari 2 sampai 2 untuk per bagian 2 - mm (Putra, 2014).
Terdapat gelembung udara pada penyipat datar yang bernama gelembung nivo,
gelembung inilah yang menjadi indikator apakah garis bidik pesawat penyipat datar telah
horisontal atau belum. Setelah pesawat penyipat datar terpasang pada kepala statif,
perhatikan gelembung nivo, cobalah regangkan sekrup penyetel dan gerakkan pesawat
penyipat datar hingga gelembung nivo sedekat mungkin ke tengah lalu kecangkan kembali
baut pengunci (Munir, 2014).

2.5 Aplikasi Di bidang Teknik Lingkungan


Penentuan besarnya erosi yang terjadi dalam suatu daerah dapat diprediksi dengan
beberapa model. Model levelling merupakan salah satu persamaan yang paling dapat
digunakan untuk memprakirakan besarnya erosi. Model atau metode levelling, yaitu dengan
mengetahui berapa penurunan permukaan tanah dengan alat tongkat levelling yang sudah
diberi tanda skala dan ditancapkan ke dalam tanah, kemudian nilai ini dikonversikan ke dalam
luas lahan satuan percobaan dengan nilai tingkat erosi ton/ha (Setyawan,2010).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat, Bahan dan Fungsi
o Rambu : untuk pembacaan skala BA, BT dan BB
o Unting-unting : indikator tegak lurus alat
o Meteran : Untuk mengukur tinggi alat
o GPS : Untuk mencari ketinggian BM diatas permukaan laut
o Tripot : Sebagai penyangga alat dan sebagai tempat pesawat
o Sekrup ABC : untuk menegakkan nivo
o Nivo Kotak : indikator kesejajaran alat
o Lensa objektif : untuk menangkap bayangan
o Lensa Okuler : untuk meneruskan bayangan dari objek ke mata
o Pengatur kasar : untuk memperjelas dan memfokuskan bayangan/ mengatur
lensa objektif

3.2 Gambar Alat dan Bahan


3.2.1 Gambar Tangan

3.2.2 Gambar Sitasi

(Wardhana, 2015)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengunting
Pembacaan Rambu (cm) Tinggi Alat
Titik Jarak (m)
BA BT BB (m)

A1 188 186 184 1,24 4

A2 225 220 215 1,24 7

AB 253 248 243 1,24 10

B2 94 93 91 1,23 3

B3 159 157,5 156 1,24 3

BC 185 182 179 1,24 6

C3 105 103,5 102 1,24 3

C4 146 145 144 1,24 2

CD 170 167,5 165 1,24 5

D4 110 108 106 1,26 3

D5 153 151,5 150 1,26 3

4.2 Analisa Data


Pada praktikum penguntingan yang telah kita lakukan, didapatkan data jarak pesawat
ke rambu, tinggi alat, dan pembacaan rambu yang meliputi BA, BT, dan BB. Pada praktikum,
terdapat 4 titik utama, yaitu titik A, B, C dan D. Selain itu, juga terdapat 5 titik detail, yaitu titik
1, 2, 3, 4, dan 5. Pada percobaan pertama pesawat ditembak dari titik A ke titik detail 1 dan
didapatkan hasil BA = 188, BT = 186 dan BB = 184, jarak sebesar 4m dan tinggi alat sebesar
= 1,24 m. selanjutnya untuk penembakan kedua pesawat ditembak dari titik A ke titik detail 2
dan didapatkan hasil BA = 225, BT = 220 dan BB = 215, jarak sebesar 7m dan tinggi alat
sebesar = 1,24 m. dilanjutkan ke pesawat ditembak dari titik A ke titik B dan didapatkan hasil
BA = 253, BT = 248 dan BB = 243, jarak sebesar 4m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m.
diteruskan ke pesawat ditembak dari titik B ke titik detail 2 dan didapatkan hasil BA = 94, BT
= 93 dan BB = 91, jarak sebesar 10 m dan tinggi alat sebesar = 1,23 m. lalu pesawat ditembak
dari titik B ke titik detail 3 dan didapatkan hasil BA = 159, BT = 157,5 dan BB = 156, jarak
sebesar 4m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m. untuk titik selanjutnya pesawat ditembak dari
titik B ke titik C dan didapatkan hasil BA = 185, BT = 182 dan BB = 179, jarak sebesar 6m dan
tinggi alat sebesar = 1,24 m. lalu pesawat ditembak dari titik C ke titik detail 3 dan didapatkan
hasil BA = 105, BT = 103,5 dan BB = 102, jarak sebesar 3 m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m.
langkah selanjutnya yaitu pesawat ditembak dari titik C ke titik detail 4 dan didapatkan hasil
BA = 146, BT = 145 dan BB = 144, jarak sebesar 2 m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m.
penembakan dilanjutkan dengan pesawat ditembak dari titik C ke titik D dan didapatkan hasil
BA = 170, BT = 167,5 dan BB = 165, jarak sebesar 5 m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m.
penembakan setelah itu dilakukan dengan pesawat ditembak dari titik D ke titik detail 4 dan
didapatkan hasil BA = 110, BT = 108 dan BB = 106, jarak sebesar 3 m dan tinggi alat sebesar
= 1,26 m. terakhir dilakukan penembakan pesawat ditembak dari titik D ke titik detail 5 dan
didapatkan hasil BA = 153, BT = 151,5 dan BB = 150, jarak sebesar 3 m dan tinggi alat sebesar
= 1,26 m.

4.3 Faktor yang mempengaruhi Penguntingan


Menurut Hutagaol (2008), Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan
membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap
besaran lain yang sudah diketahui nilainya, misalnya dengan besaran standart. Pekerjaan
membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur. Sedangkan
pembandingnya yang disebut sebagai alat ukur. Pengukuran banyak sekali dilakukan dalam
bidang teknik atau industri. Sedangkan alat ukurnya sendiri banyak sekali jenisnya, tergantung
dari banyak faktor, misalnya objek yang diukur serta hasil yang di inginkan. Yang perlu
diperhatikan dalam melakukan pengukuran adalah :
1. Standart yang dipakai harus memiliki ketelitian yang sesuai dengan standart yang telah
ditentukan
2. Tata cara pengukuran dan alat yang digunakan harus memenuhi persyaratan
Pada praktikum penguntingan ada beberapa factor yang mempengaruhi praktikum.
Diantaranya adalah factor alam, cuaca yang tidak menentu bisa menjadi penghambat
penguntingan lahan. Karena dalam hal ini alat yang digunakan menjadi kurang presisi jika
cuaca diluar sedang tidak bagus. Selanjutnya ada factor alat, alat yang digunakan sebaiknya
di cek kelayakannya, sehingga pada saat penguntingan tidak terjadi kesalahan apapun.
Selanjutnya ada factor pemakai, yang notabenenya harus menguasai dengan betul kegunaan
alat. Jika tidak maka alat tidak akan berfungsi dengan maksimal

4.4 Data Profil dan Gambar Profil


Pembacaan Rambu Titik
Tinggi
Titik Belakan Jarak Kenaikan Tinggi
Muka Detail Visir
g (H)
A 504
A-1 1,86 4 -1,86 504 502,14
A-2 2,20 7 -2,20 504 501,80
A-B 2,48 10 -2,48 504 501,52
B 501,52
B-2 0,93 3 +0,93 502,45
B-3 1,575 3 -1,575 500,945
B-C 1,82 6 -1,82 499,70
C 499,70
1,03
C-3 3 +1,035 500,735
5
C-4 1,45 2 -1,45 498,25
C-D 1,675 5 -1,675 498,025
D 498,025
D-4 1,08 3 +1,08 499,105
D-5 1,515 3 -1,515 496,51
4.5 Analisa Data
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan diperoleh data-data sebagai berikut, yang
pertama dapat dihitung tinggi titik dan jarak pada praktikum. Tinggi titik dapat peroleh dengan
perhitungan dengan rumus H = Tinggi visir+kenaikan. Pada titik A, H=tinggi visir = 504. Pada
pengukuran A-1, H = 502,14. Pada pengukuran A-2, H=501,80. Pada pengukuran A-B, H =
501,52. Pada pengukuran B-2, H = 502,45. Pada pengukuran B-3, H=500,945. Pada
pengukuran B-C, H = 499,70. Pada pengukuran C-3, H = 500,735. Pada pengukuran C-4, H
= 498,25. Pada pengukuran C-D, H = 498,025. Pada pengukuran D-4, H = 499,105. Pada
pengukuran D-5, H = 496,51.
Kemudian, untuk memperoleh jarak pesawat dengan rambu, dapat diperoleh dengan
perhitungan dengan rumus D = (BA-BB)x100. Pada pengukuran pertama diperoleh D A 1 = =
4. Pada pengukuran kedua diperoleh D A 2 = 7. Pada pengukuran ketiga diperoleh D A B =
10. Pada pengukuran keempat diperoleh D B 2 = 3. Pada pengukuran kelima diperoleh D B 3
= 3. Pada pengukuran keenam diperoleh D B C = 6. Pada pengukuran ketujuh diperoleh D C
3 = 3. Pada pengukuran kedelapan diperoleh D C 4 = 2. Pada pengukuran kesembilan
diperoleh D C D = 5. Pada pengukuran kesepuluh diperoleh D D 4 = 3. Pada pengukuran
kesebelas diperoleh D D 5 = 3.

4.6 Analisa Grafik


Menurut praktikum yang telah kami lakukan data hasil perhitungan, dapat dibuat grafik
yang menunjukkan jarak (sumbu x) dan tinggi titik (sumbu y). Pada titik pertama, merupakan
titik A(0,504). Lalu untuk titik kedua yaitu titik A-1(4, 502,14). Titik ketiga merupakan titik A-2(6,
501,8). Titik keempat merupakan titik A-B(10, 501,52). Titik kelima merupakan titik B-3(13,
500,945). Titik keenam merupakan titik B-C(16, 499,70). Titik ketujuh merupakan titik C-4(18,
498,25). Titik kedelapan merupakan titik C-D(21, 498,025). Kemudian titik terakhir/kesembilan
merupakan tiitk D-5(24, 496,51). Berdasarkan titik-titik yang telah diketahui kemudian
digabungkan, akan terlihat profil dari suatu lahan. Berdasarkan grafik, lahan tersebut
mengalami penurunan dibandingkan dengan titik awal pengukuran. Dapat diketahui bahwa
tinggi titik (H) awal pengukuran adalah 504 mdpl, sedangkan titik tinggi (H) akhir pengukuran
adalah 496,51 mdpl.

4.7 Pembahasan
Dalam kasus penguntingan, kita dapat mencari perbedaan tinggi antara 2 titik yang
sedang kita bidik. Tidak hanya itu kita juga bisa mengetahui apakah perbedaan itu berupa
kenaikan atau penurunan. Dalam hal ini kenaikan atau penurunan titik tersebut dapat dicari
dengan menggunakan perhitungan : yang pertama kita mencari tinggi titik awal alat, kemudian
kita mencari tinggi alat dan dapat diteruskan dengan pembidika rambu guna mencari
perbedaan tinggi titik. Selanjutnya mencari H pada setiap pembidikan dengan menggunakan
tinggi visir dan tinggi awal. Dan didapat hasil sedemikian. Lanjut untuk mencari kenaikan atau
penurunan titik dilakukan dengan membandingkan titik muka, detail dan belakang dengan
tinggi alat. Jika lebih tinggi maka terjadi penurunan (-) namun jika lebih rendah maka terjadi
kenaikan (+).
Hal tersebut senada dengan pengukuran waterpas terbuka terikat titik tetap, titik awal
tidak menjadi titik akhir pengukuran dan kesalahan beda tinggi hasil pengukuran dapat
diketahui. Karena awal dan akhir pengukuran diikatkan pada titik tetap, maka ketinggian setiap
titik ukur dari permukaan. Menurut Sutardi (2007), jarak antar titik ukur dapat dicari dengan
persamaan:
j = (ba bb) x 100 bb = benang bawah,
Keterangan: 100 = kosntanta
ba = benang atas,
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Tujuan dari pada pengukuran dan pengendalian level adalah untuk mencegah agar
peralatan Instrumentasi pada suatu lapangan tidak mengalami kelebihan/ kekurangan fluida
yang akhirnya dapat merusak peralatan peralatan instrument tersebut. Waterpass atau sipat
datar atau pengunting merupakan alat pengukur beda tinggi. Sipat datar merupakan istilah
umum untuk manapun dari berbagai proses dengan mana elevasi titik atau beda elevasi
ditentukan. Sebelum dilakukan pengukuran beda elevasi menggunakan sipat datar maka
harus memenuhi syarat utama yaitu garis bidik di dalam teropong harus sejajar dengan
dengan garis arah nivo. Sementara itu pada dasarnya hanya satu syarat yang harus
diperhatikan untuk menyipat tetap, yaitu garis bidik harus horizontal. Pada praktikum
penguntingan yang telah kita lakukan, didapatkan data jarak pesawat ke rambu, tinggi alat,
dan pembacaan rambu yang meliputi BA, BT, dan BB. Pada praktikum, terdapat 4 titik utama,
yaitu titik A, B, C dan D. Selain itu, juga terdapat 5 titik detail, yaitu titik 1, 2, 3, 4, dan 5. Pada
percobaan pertama pesawat ditembak dari titik A ke titik detail 1 dan didapatkan hasil BA =
188, BT = 186 dan BB = 184, jarak sebesar 4m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m. selanjutnya
untuk penembakan kedua pesawat ditembak dari titik A ke titik detail 2 dan didapatkan hasil
BA = 225, BT = 220 dan BB = 215, jarak sebesar 7m dan tinggi alat sebesar = 1,24 m. hal
tersebut dilanjutkan hingga titik terakhir kita membidik. . Tinggi titik dapat peroleh dengan
perhitungan dengan rumus H = Tinggi visir+kenaikan. Pada titik A, H=tinggi visir = 504. Pada
pengukuran A-1, H = 502,14. Pada pengukuran A-2, H=501,80. Pada pengukuran A-B, H =
501,52. Pada pengukuran B-2, H = 502,45. Pada pengukuran B-3, H=500,945. Pada
pengukuran B-C, H = 499,70. Pada pengukuran C-3, H = 500,735. Pada pengukuran C-4, H
= 498,25. Pada pengukuran C-D, H = 498,025. Pada pengukuran D-4, H = 499,105. Pada
pengukuran D-5, H = 496,51. Kemudian Digambar dibuat grafik yang menunjukkan jarak
(sumbu x) dan tinggi titik (sumbu y).

5.2 SARAN
Praktikum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dimana cuaca masih cerah. Karena
akhir ini diatas jam 11 cuaca mulai tidak bersahabat bagi calon surveyor untuk melakukan
praktikum survey dan pemetaan. Dan juga diharapkan untuk praktikan agar memahami betul
cara menyeimbangkan nivo agar waktu praktikum tidak terbuang sia-sia.
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Hutagaol, Robin. 2008. Prinsip Kerja Thermostat Control Valve Pada Pipa Tangki Timbun
CPO. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Sutardi, Idi. 2007. Ilmu Ukur Tanah. Bandung.
DAFTAR PUSTAKA
Asfan.2012. Identifikasi Lahan Kering Alfisol Terdegradasi di Kabupaten Bangkalan.
J.rekayasa. Vol 14. No 1. Program Pascasarjana.Surabaya: Universitas Airlangga.
Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional
Hutagaol, Robin. 2008. Prinsip Kerja Thermostat Control Valve Pada Pipa Tangki Timbun
CPO. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Munir, Luthfan Ikhsan. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual pada Setting
Up Waterpass. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Putra, Chandra. 2014. Pengantar Survey dan Pemetaan 2. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada.
Ramadi, Rikaro. 2011. Pembuatan Aplikasi History Perjalanan GPS Tracker Berbasis Web
pada Handphone Menggunakan J2ME. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.
Setyawan, Soleh Ferri. 2010. Studi Tingkat Kekritisan Lahan Budidaya Salak (Salacca zalacca
Gaertn. Voss) di Desa Wonorejo, Jatiyoso, Karanganyar. Skripsi. Surakarta: Universitas
Sebelas Maret.
LAMPIRAN TAMBAHAN
LAMPIRAN