Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM

I. Masalah Utama
Gangguan proses pikir : Waham
II. Proses Terjadinya Masalah
A. Definisi
Waham adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami
sesuatu kekakcauan adalam pengoperasian dan aktivitas-aktivitas kognitif
(Townsend, 1998 dalam Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar, 2012).
Waham adalah keyakinan yang salah secara kokoh dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita
normal (Stuart dan Sudeen, 1998 dalam Damayanti, Mukhripah dan
Iskandar, 2012).
Waham adalah suatu keyakinan seseorang berdasarkan penilaian
realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya, ketidakmampuan merespon stimulus
internal dan eksternal melalui proses interaksi/informasi secara akurat
(Yosep, 2009).
B. Rentang Respon Neurobiologi
Respon Adaptif Respon Maladaptif

- Pikiran logis - Distorsi pikiran - Gangguan proses


pikir
- Persepsi akurat - Ilusi - Waham
- Emosi konsisten - Reaksi emosi berlebih - perilaku
disorganisasi
Dengan pengalaman atau kurang - Isolasi sosial
- Perilaku sesuai - Perilaku aneh atau - Sulit berespon emosi
- Berhubungan sosial tidak biasa
- Perilaku sesuai
- Menarik diri
(Stuart dan Laraia, 2005 dalam Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar, 2012)
C. Etiologi
Ada dua factor yang menyebabkan terjadinya waham (Keliat, 1998
dalam Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar, 2012) yaitu:
1. Faktor predisposisi
Meliputi perkembangan social kultural, psikologis, genetic,
biokimia. Jika tugas perkembangan terhambat dan hubungan
interpersonal terganggu maka individu mengalami stress dan kecemasan.
Berbagai factor masyarakat dapat membuat seseorang merasa
terisolasi dan kesepian yang menyebabkan kurangnya rangsangan
eksternal. Stress yang berlebihan dapat mengganggu metabolism dalam
tubuh sehingga membuat tidak mampu dalam proses stimulus internal
dan eksternal.
2. Faktor presipitasi
Rasangsangan lingkungan yang sering menjadi pencetus terjadinya
waham yaitu klien mengalami hubungan yang bermusuhan, terlalu lama
diajak bicara, objek yang ada dilingkungannya dan suasana sepi (isolasi).
Suasana ini dapat meningkatkan stress dan kecemasan.
D. Proses terjadinya waham
Keadaan yang timbul sebagai akibat dari proyeksi dimana seseorang
melemparkan kekurangan dan rasa tidak nyaman ke dunia luar. Individu itu
biasanya peka dan mudah tersinggung, sikap dingin dan cenderung menarik
diri. Keadaan ini sering disebabkan karena merasa lingkungannya tidak
nyaman, merasa benci, kaku, cinta pada diri sendiri yang berlebihan, maka
keadaan ini dapat berkembang menjadi waham. Secara perlahan-lahan
individu itu tidak dapat melepaskan diri dari khayalan dan kemudian
meninggalkan dunia realitas (Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar, 2012).
Kecintaan pada diri sendiri, angkuh, dank eras kepala, adanya rasa
tidak aman, membuat seseorang berkhayal ia sering menjadi penguasa dan
ini dapat berkembang menjadi waham besar (Damaiyanti, Mukhripah dan
Iskandar, 2012).
Selain itu, kecemasan dan kemampuan untuk memisahkan dan
mengatur persepsi mengenai perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan
perasaan sendiri menurun sehingga segala sesuatu sukar lagi dibedakan,
mana ranngsangan dari pikiran, dan mana rangsangan dari lingkungan
(Keliat, 1998 dalam Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar, 2012).
E. Fase-Fase Terjadinya Waham
Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :
1. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik
secara fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi
pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas.
Biasanya klien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan
kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi
terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan selft ideal sangat
tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang
sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn
diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat
pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi
juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang ( life span
history ).
2. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan
antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta
dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan
sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah
banyak yang kaya, menggunakan teknologi komunikasi yang canggih,
berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap
memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self
reality-nya sangat jauh. Dari aspek pendidikan klien, materi,
pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat rendah.
3. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa
yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak
sesuai dengan kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah
sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan
untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam
hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara
optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa
sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan
secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga
perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau
konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak
merugikan orang lain.
4. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap
sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena
seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol
diri dan tidak berfungsinya norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan
tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien
menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering
menyendiri dan menghindar interaksi sosial ( Isolasi sosial )
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang
muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-
kebutuhan yang tidak terpenuhi ( rantai yang hilang ). Waham bersifat
menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan
ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang
keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan
relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan dosa besar
serta ada konsekuensi sosial.
F. Tanda dan gejala
Untuk mendapatkan data waham, harus melakukan observasi terhadap
data berikut:
1. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: Saya ini
pejabat di departemen kesehatan loh.. atau saya punya tambang emas
2. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan
atau mencederai dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh : Saya tahu seluruh saudara saya ingin
menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.
3. Waham agama
Memilikikeyakinan terhadap sesuatu secara berlebihan, diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh kalau saya mau
masuk surge saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.
4. Waham somatic
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang
penyakit, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh
saya sakit kanker, namun setiap kali diperiksa hasilnya negative namun
pasien meyakini bahwa ia sakit kanker
5. Waham nihilistic
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak berada di dunia atau meninggal,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh ini alam
kubbur yah, semua yang ada disini adalah roh-roh.
G. Mekanisme Koping
Menurut Direja (2011), Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi
diri sendiri dari pengalaman berhubungan dengan respon neurobioligi :
1. Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk
menanggulangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang tertinggal
untuk aktivitas hidup sehari-hari
2. Projeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi.
3. Menarik diri

III. A. Pohon Masalah

Kerusakan Komunikasi Verbal


(efek)

Perubahan proses pikir : Waham Risiko tinggi perilaku


(Core Problem) kekerasan

Harga diri rendah Isolasi sosial


(Causa)

B. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu dikaji


1. Gangguan Proses Pikir: Waham
a. Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
b. Data objektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah
klien tegang, mudah tersinggung.
2. Harga Diri Rendah
Menurut Keliat, Budi Anna dan Akemat (2010) data yang perlu dikaji
adalah:
a. Data subyektif
1) Mengungkapkan dirinya merasa tidak berguna.
2) Mengungkapkan dirinya merasa tidak mampu
3) Mengungkapkan dirinya tidak semangat untuk beraktivitas atau
bekerja.
b. Data obyektif
1) Mengkritik diri sendiri
2) Perasaan tidak mampu
3) Pandangan hidup yang pesimistis
4) Tidak menerima pujian
5) Penurunan produktivitas
6) Penolakan terhadap kemampuan diri
7) Kurang memperhatikan perawatan diri
8) Berpakaian tidak rapi
9) Berkurang selera makan
10) Tidak berani menatap lawan bicara
11) Lebih banyak menunduk
12) Bicara lambat dengan nada suara lemah.
3. Kerusakan Komunikasi Verbal
a. Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
b. Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang
4. Isolasi Sosial
a. Data Subyektif
Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data
subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-
kata tidak , iya, tidak tahu.
Menurut Keliat, Budi Anna dan Akemat 2010, data subyektif yang
bisa didaptkan pada pasien isos melalui wawancara adalah:
1) Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain
2) Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3) Mengatakan hubungannya tidak erarti dengan orang lain
4) Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
5) Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
6) Pasien merasa tidak berguna
7) Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
b. Data Obyektif
Menurut Keliat, Budi Anna dan Akemat (2010), tanda dan gejala
isolasi social yang dapat dilihat melalui obeservasi adalah:
1) Tidak memiliki teman dekat
2) Menarik diri
3) Tidak komunikatif
4) Tindakan berulang dan tidak bermakna
5) Asyik dengan pikiran sendiri
6) Tidak ada kontak mata
7) Tampak sedih, afek tumpul.
c. Risiko Tinggi Perilaku Kekerasan
Menurut Keliat, Budi Anna & Akemat (2010), data yang perlu dikaji
dari perilaku kekerasan, antara lain:
a. Data Subyektif
1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b. Data Objektif
1) Muka merah dan tegang
2) Pandangan tajam
3) Mengatupkan rahang dengan kuat
4) Mengepalkan tangan
5) Jalan mondar-mandir
6) Bicara kasar
7) Suara tinggi, menjerit atau berteriak
8) Mengancam secara verbal ataupun fisik
9) Melempar atau memukul benda/orang lain
10) Merusak barang atau benda
11) Tidak memiliki kemampuan mencegah
12)
IV. Diagnosa Keperawatan
Perubahan proses pikir : Waham

V. Rencana Keperawatan
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham
2. Tujuan khusus :
a. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
1) Kriteria Evaluasi
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak
mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab
salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau
mengutarakan masalah yang dihadapi.
2) Intervensi
a) Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan
diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
b) Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan
perawat menerima keyakinan klien saya menerima keyakinan
anda disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.
c) Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:
katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan
klien sendirian.
d) Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan
perawatan diri.
b. TUK II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
1) Kriteria evaluasi
a) Klien dapat mempertahankan aktivitas sehari-hari
b) Klien dapat mengontrol wahamnya
2) Intervensi
a) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
b) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu
lalu dan saat ini yang realistis.
c) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan
perawatan diri).
d) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa
klien sangat penting.
c. TUK III : Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak
terpenuhi
1) Kriteria evaluasi
a) Kebutuhan klien terpenuhi
b) Klien dapat melakukan aktivitas secara terarah.
c) Klien tidak menggunakan/membicar akan wahamnya
2) Intervensi
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di
rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya
waham.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
e) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk
menggunakan wahamnya.
d. TUK IV : Klien dapat berhubungan dengan realitas
1) Kriteria evaluasi
a) Klien dapat berbicara dengan realitas.
b) Klien mengikuti Terapi Aktivitas Kelompok.
2) Intervensi
a) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,
tempat dan waktu).
b) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
c) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e. TUK V : Klien dapat dukungan dari keluarga
1) Kriteria evaluasi
a) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan
perawat.
b) Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan
untuk merawat klien dengan waham.
2) Intervensi
a) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang:
gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan
follow up obat.
b) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.
f. TUK VI : Klien dapat menggunakan obat dengan benar
1) Kriteria evaluasi
a) Klien dapat menyebutkan manfaat, efek samping dan dosis obat.
b) Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
c) Klien dapat memahami akibat berhentinya mengkonsumsi obat
tanpa konsultasi.
d) Klien dapat menyebutkan prinsip lima benar dalam penggunaan
obat.
2) Intervensi
a) Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek
dan efek samping minum obat Bantu klien menggunakan obat
dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan
waktu). Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping
obat yang dirasakan
b) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
Rencana Asuhan Keperawatan Dalam Bentuk Strategi Pelaksanaan (Damaiyanti
Mukhripah dan Iskandar, 2012)
NO Klien Keluarga
Sp1p SP1K
1 Membantu orientasi realita Mendiskusikan masalah yang dirasakan
keluarga dalam merawat pasien
Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
Mendiskusikan kebutuhan waham, jenis waham yang dialami pasien
yang tidak terpenuhi beserta proses terjadinya.
Menjelaskan cara-cara merawat pasien
Membantu pasien memenuhi
kebutuhannya
Menganjurkan pasien
memasukkan kedalam jadwal
kegiatan

SP2P SP2K
Mengevaluasi jadwal kegiatan Melatih keluarga mempraktikkan cara
harian pasien merawat pasien dengan waham
Berdiskusi tentang Melatih keluarga mempraktikkan cara
kemamouan yang dimiliki merawat langsung kepada pasien waham

Melatih kemampuan yang


dimiliki

SP3P SP3K
Mengevaluasi jadwal kegiatan Membantu keluarga membuat jadwal
pasien aktifitas dirumah termasuk minum obat
Menjelaskan follow up pasien setelah
Memberikan pedidikan pulang
kesehatan tentang penggunaan
obat secara teratur
Menganjurkan pasien
memamsukkan dalam jadwal
kegiatan harian
DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti, M. & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Keliat, Budi Anna & Akemat. 2010. Model Praktek Keperawatan Profesional
Jiwa. Jakarta: EGC
Yusuf, Fitriyasari & Nihayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.