Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bantuan hidup dasar (BHD), merupakan kegiatan pertolongan pertama yang dapat
dilakukan dalam rangka penyelamatan dan penyokongan hidup seseorang dalam keadaan
henti napas dan atau henti jantung. Keadaan henti napas dan atau henti jantung bisa
disebabkan oleh hal yang berbeda dan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Tindakan
bantuan hidup dasar merupakan hal pertama yang dapat dikerjakan di lokasi kejadian baik
oleh tenaga medis, paramedis ataupun orang yang sudah mendapatkan pelatihan bantuan
hidup dasar. Tindakan bantuan hidup dasar dapat membantu dalam penyelamatan dan
penyokongan hidup seseorang.
Kejadian henti napas dan henti jantung dapat terjadi di sekolah dikarenakan heat
stroke, kelelahan, penyakit tertentu dan kecelakaan baik lalulintas ataupun non-lalulintas.
Kecelakaan lalulintas merupakan salah satu penyebab yang paling mungkin dan sering
terjadi. Di SMAN 1 Tabanan mayoritas siswa, guru dan pegawai menggunakan kendaraan
bermotor menuju sekolah. Kecelakaan bermotor merupakan salah satu resiko yang sering
terjadi dan membutuhkan tindakan pertolongan pertama hingga bantuan hidup dasar.
Tindakan bantuan hidup dasar akan diikuti dengan pelaporan ke petugas terkait untuk
selanjutnya mendapatkan pertolongan di pelayanan kesehatan terdekat.
Melalui peningkatan pengetahuan dan pelatihan warga sekolah baik guru, siswa,
pegawai dan keamanan sekolah diharapkan mampu melakukan tindakan bantuan hidup
dasar serta dapat membagi pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya kepada teman
sebayanya ataupun keluarganya.
Berdasarkan latar belakang diatas, para Dokter Internship yang bertugas di
Puskesmas Tabanan III menyusun sebuah Mini Project dengan judul Pelatihan
Pertolongan Pertama dan Bantuan Hidup Dasar Dalam Rangka Penanganan Kecelakaan
Bermotor di SMAN 1 Tabanan.

1
BAB II
PERENCANAAN KEGIATAN

2.1 Identifikasi Masalah


Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) merupakan masalah global seiring dengan terjadinya
pergeseran pola penyakit dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Banyaknya
kendaraan yang ada di jalan raya saat ini cukup berisiko untuk terjadinya kecelakaan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada sekitar 1,24 juta jiwa meninggal dunia
dan sekitar 50 juta jiwa mengalami luka berat dan ringan setiap tahunnya akibat
kecelakaan lalu lintas. Bahkan KLL merupakan penyebab utama kematian remaja pada
rentang umur 15-29 tahun. Di kawasan Asia Tenggara, 153.000 orang meninggal akibat
kecelakaan lalu lintas pada tahun 2014. Hal ini sejalan dengan data Bank Dunia yang
menunjukkan 85% kecelakaan terjadi di negara berkembang. 50% dari angka kecelakan itu
adalah di negara-negara Asia Pasifik. Sedangkan biaya yang timbul akibat kecelakaan lalu
lintas di negara-negara kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai 15 milyar dolar
Amerika.
Indonesia sendiri merupakan negara kelima dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi.
Data WHO tahun 2013 menyebutkan dalam dua tahun terakhir kecelakaan lalu lintas di
Indonesia dinilai menjadi pembunuh ketiga setelah penyakit jantung koroner dan
tuberkulosis. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas dengan tiga
korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya. Di tahun 2013
lalu terdapat 101.037 kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa 25.157 jiwa. Tahun
2014 terdapat 95.906 kejadian kecelakaan dengan 28.297 korban jiwa, 26.840 luka berat
dan 109.741 jiwa luka ringan. Kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 254 milyar lebih.
Tahun 2010 sampai tahun 2013 mengalami peningkatan dari angka kejadian kecelakaan
tersebut.Sedangkan untuk tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami penurunan dari segi
jumlah kejadian kecelakaan namun mengalami peningkatan untuk fatalitas, yang berarti
jumlah korban meninggal dunia mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa
masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia. Menurut data dinas
lalu lintas provinsi Bali tahun 2011 angka kejadian kecelakaan di Bali mencapai 3079
kejadian dan 617 diantaranya meninggal dunia.

2
2.2 Analisis Masalah
SMAN 1 Tabanan merupakan sekolah yang melewati jalur kendaraan yang padat pada
jam tertentu. Mayoritas siswa, dan pegawai menuju sekolah menggunakan kendaraan
bermotor. Resiko kecelakaan bermotor yang dapat terjadi cukup tinggi. Jalur yang padat,
kurangnya keterampilan dalam mengendarai sepeda motor serta jalan yang licin saat huan
meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan bermotor. Kurangnya kelengkapan pengaman
saat berkendara dapat menambah resiko beratnya tingkat kesakitan yang terjadi. Pada
kejadian tertentu dapat terjadi patah tulang hingga henti napas dan atau henti jantung. Pada
saat tersebut bantuan yang salah dapat memperburuk keadaan orang yang mengalami
kecelakaan. Sebaliknya tindakan yang tepat dapat membantu kelangsungan hidup hingga
mendapat pertolongan yang memadai di pelayanan kesehatan terdekat. Pertolongan
pertama dan bantua hidup dasar hendaknya dapat dilakukan oleh petugas keamanan, siswa,
guru serta pegawai yang dapat terlibat dalam proses penyelamatan di sekolah.

2.3 Tujuan
2.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari pelatihan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar di
SMAN1 Tabanan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam
melakukan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar.

2.3.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari pelatihan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar di
SMAN1 Tabanan adalah:
1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para peserta dalam melakukan
pertolongan pertama pada kecelakaan
2. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para peserta dalam melakukan
evakuasi pada pasien tidak sadar.
3. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para peserta dalam melakukan
pertolongan pertama pada henti napas dan atau henti jantung.

3
2.4 Sasaran dan Target
2.4.1 Sasaran
Sasaran kegiatan adalah seluruh warga SMAN 1 Tabanan namun dalam hal ini agar
dapat lebih terfokus dikhususkan pada PMR dan satpam yang paling aktif terlibat apabila
terjadi kecelakaan.

2.4.2 Target
Target dari pelatihan Pelatihan Pertolongan Pertama dan Bantuan Hidup Dasar
adalah anggota PMR dan satpam SMAN 1.

2.5 Strategi
2.5.1 Tahap Persiapan Pelaksanaan
1. Para Dokter Internsip bersama pemegang program Puskesmas Tabanan III
menyusun rencana edukasi pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar di
SMAN 1 Tabanan.
2. Para Dokter Internsip bersama dengan pemegang program di Puskesmas
Tabanan III berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah SMAN1 Tabanan
dalam rangka penyelenggaraan edukasi pertolongan pertama dan bantuan hidup
dasar di SMAN 1 Tabanan.
3. Dokter Internsip mempersiapkan materi-materi penyuluhan untuk edukasi
pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar dalam bentuk slide presentasi.
4. Dokter internship mempersiapkan sarana penunjang yang berhubungan dengan
materi yang disampaikan seperti mannequin, bidai, tandu serta kassa.
5. Menentukan waktu dan tempat pelaksanaan edukasi pertolongan pertama dan
bantuan hidup dasar di SMAN 1 Tabanan.
6. Menginformasikan kepada pihak SMAN 1 Tabanan mengenai waktu dan
tempat pelaksanaan edukasipertolongan pertama dan bantuan hidup dasar di
SMAN 1 Tabanan.

4
2.5.2 Tahap Perencanaan Pelaksanaan
1. Pelatihan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar di SMAN 1
Tabananakan dilaksanakan selama 3 hari pada waktu yang telah di sepakati,
bertempat di aula SMAN 1 Tabanan.
2. Melakukan persiapan penyampaian materi melalui presentasi menggunakan
media LCD.
3. Memberikan presentasi materi yang berhubungan dengan kegiatan pelatihan
pertolongan pertama serta bantuan hidup dasar, masing-masing selama 30
menit oleh pembicara dari Dokter Internship.
4. Memberikan kesempatan seluruh peserta untuk bertanya seputar materi dalam
waktu 30 menit mengenai materi yang telah dipresentasikan oleh Dokter
Internship.
5. Melakukan persiapan pelatihan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar
6. Menyiapkan alat-alat seperti mannequin, bidai, tandu dan kassa.
7. Membagi peserta dalam beberapa kelompok untuk melakukan pelatihan yang
disampaikan dan didampingi oleh dokter internship.

2.6 Materi
Materi-materi yang dipersiapkan untuk edukasi Pertolongan pertama dan bantuan
hidup dasar di SMAN 1 Tabanan:
1. Bantuan hidup dasar
2. Evakuasi pasien dan pertolongan pertama
3. Penanganan pertama pada heat stroke, syncope dan perawatan luka sederhana.

2.7 Metode
Metode yang digunakan dalam Edukasi Pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar
di SMAN 1 Tabanan adalah presentasi materi menggunakan media laptop dan LCD dan
pelatihan menggunakan mannequin, bidai, tandu serta kasa.

2.8 Media
Media yang digunakan dalam Edukasi Pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar
di SMAN 1 Tabanan adalah :
1. Slide presentasi menggunakan laptop dan LCD
2. Mannequin

5
3. Bidai
4. Tandu
5. Kassa dan mitela

2.9 Rencana Jadwal Pelaksanaan


Rencana pelaksanaan Pelatihan Pertolongan Pertama dan bantuan hidup dasar di
SMAN 1 Tabanan akan dilakukan dalam 3 hari yang berbeda. Presentasi materi mengenai
prinsip-prinsip BHD, tatacara pertolongan pertama dan evakuasi, serta pemberian materi
mengenai kasus-kasus yang sering terjadi di kalangan siswa (heat stroke, syncope dan
penanganan luka). Jadwal pelaksanaan kegiatan dirangkum dalam Tabel 1.

Tabel 2.1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


No. Waktu dan Kegiatan Judul Pembicara Peserta
Tempat
1. September Pretest, Bantuan Hidup dr. I Made Seluruh
2017, Presentasi Dasar Cahyadi Dwi Anggota PMR
bertempat di Materi dan Putra, S. Ked dan satpam
Aula SMAN 1 simulasi dr. Putu Ayu
Tabanan Kartika Putri
Saraswati, S.
Ked
2. September Presentasi Tatacara dr. Made Gita Seluruh
2017, Materi dan Evakuasi dan Ratnasari, Anggota PMR
bertempat di simulasi Pertolongan S.Ked dan satpam
Aula SMAN 1 Pertama pada dr. Kartika
Tabanan KLL Puspasari, S
.Ked
3. September Presentasi Pertolongan dr. Vitya Seluruh
2017, materi, Pertama pada Chandika, Anggota PMR
bertempat di simulasi, Heat Stroke, S.Ked dan satpam
Aula SMAN 1 dan post- Syncope dan dr. Putu Dewi
Tabanan test Perawatan Octavia, S.
Luka Ked

6
dr. Bagus
Agung Surya
Dipta Nugraha,
S. Ked