Anda di halaman 1dari 24

Laporan Ekologi Tumbuhan

ANALISIS VEGETASI HERBA, SEMAK, ANAKAN POHON DAN POHON


DIKAWASAN GUNUNG BAWAKARAENG LEMBANNA MALINO,
KABUPATEN GOWA

Oleh :
NAMA : ABDILLAH
NIM : 1514141011
KELAS : SAINS
KELOMPOK : II (DUA)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman
hayati paling tinggi di dunia. Keanekaragaman hayati merupakan banyaknya ragam
organisme yang menunjukkan keseluruhan variasi gen, jenis, dan ekosistem pada
suatu daerah.Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi
bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik
tingkatan gen, tingkatan spesies, maupun tingkatan ekosistem.Secara alamiah,
penyebaran hewan hewan dan tumbuh-tumbuhan diatur oleh jumlah dan keragaman
bahan yang dibutuhkan oleh organisme, dan faktor-faktor fisik dan batas toleransi
organisme terhadap komponen-komponen ini di lingkungan. Komponen-komponen
lingkungan tidak mempengaruhi organisme secara sama dalam keadaan tertentu.
Organisme daratan sangatlah beragam dengan tumbuh-tumbuhan hijau besar
yang membentuk penampilan komunitas yang menonjol. Umumnya, komunitas tanah
digolongkan dan dinamai lebih atas dasar vegetasi, dibandingkan atas dasar
lingkungan fisik. Tumbuh-tumbuhan hijau menyediakan makanan dan perlindungan
bagi makhluk lain dalam komunitas. Vegetasi yang merupakan kumpulan organisme
yang hidup bersama di suatu daerah atau tempat, kemudian mereka melakukan
interaksi yang berhubungan erat, baik yang sesama individu maupun bersama
organisme lainnya.
Ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu
vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan
tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring
dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus
diperhitungkan berbagai kendala yang ada. Cara mengenal dan mendeskripsi
tumbuhan dapat dilakukan dengan mudah tetapi dapat pula sangat sulit. Metode yang
digunakan dalam kegiatan praktikum ini yaitu metode dengan mengunakan plot
berukuran 10x10 m untuk analisis tanaman pohon, 5x5 m untuk analisis tanaman
semak, dan plot ukuran 2x2 m untuk analisis tumbuhan jenis herba.
Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain
karena berbeda pula faktor lingkungannya. Begitupun dengan vegetasi tumbuhan
di kawasan gunung bawakaraeng pasti berbeda dengan vegetasi tumbuhan di
daerah lain karena perbedaan faktor lingkungan yang berpengaruh. Oleh karena
itu sangat perlu melakukan kegiatan praktikum ini agar diketahui tingkat
keanekaragaman tumbuhan di daerah tersebut melalui perhitungan nilai INP.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini, yaitu untuk mengetahui tingkat
keanekaragaman spesiesmelalui perhitungan nilai INP setiap spesies.
C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari pelaksanaan praktikum ini, yaitu mahasiswa dapat
mengetahui tingkat keanekaragaman spesies melalui perhitungan nilai INP setiap
spesies.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen
utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan
merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti
hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi
pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling
berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut
sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan
dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik
(Sundarapandian , 2000).
Vegetasi merupakan salah satu komponen dari ekosistem yang dapat
menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi yang nyata dari lingkungan yang
mudah diukur dan nyata. Untuk mendeskripsikan suatu vegetasi, kita harus memulai
dari sudut pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tumbuhan
yang hidup di habitat tertentu yang dicirikan oleh spesies sebagai komponen serta
kombinasi dan struktur sifat-sifat spesies tersebut yang menggambarkan kondisi
vegetasi secara umum. Dalam mempelari suatu komunitas, kita tidak dapat
melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati oleh komunitas, terutama
pada area yang cukup luas. Oleh karena itu, kita dapat melakukan penelitian
disebagian area komunitas tersebut dengan syarat bagian tersebut dapat mewakili
sebagian komonitas yang ada. Luas area tempat tempat pengambilan contoh
komunitas tumbuhan atau vegetasi sangat bervariasi, tergantung dari bentuk/struktur
vegetasi tersebut (Resosoedarmo, 1990).
Kehadiran vegetasi pada suatu landskap akan memberikan dampak positif
bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan
vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon
dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah,
pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi
pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi
tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu.
Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi
besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi
vegetasi daerah tersebut (Arrijani, et.al., 2006).
Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies
ricaness) jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam dalam kelimpahan
relatif (relatif abdance), spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies
yang umum dan beberapa spesies yang jarang semenetara yang lainnya mengandung
jumlah spesies yang di dalam komunitas mempunyai dampak yang sangat besar pada
ciri umumnya, konsep ini memiliki suatu komunitas yang berbeda kekayaan spesies
yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara beranekaragam. Istilah keragaman
spesies seprti yang digunakan oleh para ahli ekologi. Mepertimbangkan kedua
komponen keanekaragaman yaitu kekayaan spesies dan kelimpahan relatif
(Campbell, 2004). Menurut Rososoedamo (1990), Keanekaragaman kecil terdapat pada
komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering,
tanah miskin danpegunungan tinggi. Sementara itu, keanekaragaman yang tinggi terdapat di
daerahdengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yangmempunyai
keanekaragaman yang tinggi. Sementara ahli ekologi berpendapat bahwakomunitas yang
mempunyai keanekaragaman yang tinggi, seperti dicontohkandengan hutan itu mempunyai
keanekaragaman yang tinggi itu stabil. Tetapi ada juga ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa
keanekaragaman tidak selalu berartistabilitas. Kedua pendapat ini ditopang oleh argumen-argumne
ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kelemahannya.
Hutan hujan tropic adalahekosistem yang paling kaya akan jenis
tumbuhan.Agar mengetahui penyusun vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-
petak atau plot pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Petak-petak
tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau
dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi.
pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara
subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu (Whitmore,1990).
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama
(intraspesific competition atau sering dikenal dengan istilah monospesies), dan dapat
pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition atau
heterospesies). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan
menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar
jenis yang berbeda. Persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat
memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsure hara, air, sinar, udara,
agen penyerbukan, agen dispersal, atau factor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber
daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya
(Wirakusumah 2003).
Asosiasi antara jenis-jenis penyusun vegetasi dapat dipakai sebagai dasar
dalam melakukan klasifikasi vegetasi. Terdapat dua macam asosiasi, yaitu asosiasi
positif dan asosiasi negatif. Apabila kejadian bersama antara jenis tersebut positif
berarti kejadian bersama antara jenis yang berasosiasi lebih besar dari yang
diharapkan, sebaliknya berasosiasi negatif bila kejadian bersama antara jenis yang
berassoasi lebih kecil dari yang daharapkan. Dalam suatu masyarakat tumbuhan
beberapa spesies sering menunjukkan adanya asosiasi positif dan negatif. Apabila
terjadi asosiasi positif, spesies yang berasosiasi mempunyai respon yang sama
terhadap perbedaan lingkungan dalam komunitas, dan apabila terjadi asosiasi negatif
berarti spesies yang berasosiasi mempunyai respon yang tidak sama terhadap adanya
perubahan lingkungan dalam komunitas. Faktor-faktor yang menentukan kuat
lemahnya suatu asosiasi adalah umlah jenis yang ada, keadaan tempat dimana
tumbuh-tumbuhan itu berada, dan banyaknya kejadian bersama antara jenis-jenis
yang berasosiasi, sedang ukuran yang digunakan untuk menentukan kuat lemahnya
suatu asosiasi adalah koefisien asosiasi yang mempuyai nilai antara -1 sampai +1.
Apabila nilai koefisien sama dengan +1 berarti terjadi asosiasi maksimum dan
sebaliknya apabila nilai koefisien asosiasi sama dengan -1 maka terjadi asosiasi
minimum (Martono, 2012).
Variasi struktur dan komposisi tumbuhan dalam suatu komunitas dipengaruhi
antara lain oleh fenologi, dispersal, dan natalitas. Keberhasilannya menjadi individu
baru dipengaruhi oleh vertilitas dan fekunditas yang berbeda setiap spesies sehingga
terdapat perbedaan struktur dan komposisi masing-masing spesies. Untuk suatu
kondisi padang rumput, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan
sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili
habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu
jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang
digunakan (Kimmis, 1987).
Kerapatan tanam merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
tanaman, karena penyerapan energi matahari oleh permukaan daun yang sangat
menentukan pertumbuhan tanaman juga sangat dipengaruhi oleh kerapatan tanaman.
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama
(intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda
(interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal
dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi
antar jenis yang berbeda (Syafei, 1990).
Analisis vegetasi yang merupakan cara untuk mempelajari penyusun,
komposisi dan struktur atau bentuk berasal dari komunitas tumbuh-tumbuhan.Unsur
struktur vegetasi merupakan bentuk pertumbuhan stratifikasi dan penutupan
tajuk.Untuk keperluan analisis vegetasi di perlukan data-data jenis, diameter dan
tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan.Dengan
analisis vegetasi dapat di peroleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi
suatu komunitas tumbuhan (Greig, 1983).
Vegetasi merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk semua tumbuh-
tumbuhan dari suatu daerah adalah ciri-ciri sedemikian khas hingga kita umumnya
mengklasifikasikan dan menamai komunitas-komunitas darat pada dasarnya
dibanding pada dasar lingkungan fisiknya yang sering memudahkan dalam
lingkungan perairan.Banyak sekali bentuk hidup yang ditunjukkan yang
menyesuaikan tubuh-tumbuhan darat terhadap hampir semua keadaan yang
mungkin.Vegetasi adalah ciri-ciri lingkungan darat yang demikian nyata dan
mantap.Komposisi vegetasi telah mendapatkan perhatian, prosedur-prosedur
pengkajian meliputi dua langkah pertama muncul analisis lapang yang meliputi
seleksi plot-plot atau kuadrat-kuadrat.Kerapatan, penutupan dibuatkan tabel untuk
setiap jenis.Langkah kedua meliputi sintesis data untuk menentukan derajat asosiasi
dari populasi-populasi tumbuhan (Odum, 1998).
Kumpulan vegetasi yang merupakan komunitas tumbuhan dengan
beberapa jenis yang hidup dan tumbuh bersama pada suatu tempat atau
daerah.Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang
erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan
organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh
serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi yang terdapat di alam kebanyakan komunitas hutan mempunyai
suatu pola yang jelas. Di dalam komunitas hutan, daun-daun, cabang-cabang dan
bagian lain dari bermacam- macam pohon, semak dan lain-lain tumbuhan membentuk
beberapa lapisan. Masing-masing lapisan memiliki produsen, konsumen dan makhluk
pembusuk lain yang khas. Mikroklimat tiap lapisan pun berlainan. Hal ini dapat
dipahami karena cahaya, angin, dan hujan yang diterima lapisan ini juga berbeda.
Selain dari lapisan tumbuhan, permukaan tanah hutan juga merupakan tempat hidup.
Pada permukaan tanah hutan terdapat daun-daun, ranting- ranting dan kayu yang
membusuk. Zona-zona ini memiliki organisme yang khas, demikian juga organisme
yang ditemukan diperbatasan. Jumlah dan banyaknya spesies sering kali lebih besar
dalam suatu ekoton daripada komunitas tetangganya. Disini terdapat suatu komunitas
yang terdiri dari mikroorganisme, lumut dan paku- pakuan. Juga terdapat bermacam-
macam kumbang, kutu daun, belalang dan mungkin ular (Odum,1998).
Informasi mengenai vegetasi secara obyektif dapat menggunakan metode
ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien
ketidaksamaan (Marsono, 1977). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk
mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk
model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa
mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi
yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan.
Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis
dengan perubahan faktor lingkungan.
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat
mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda
dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi
hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan
keadaan habitatnya.Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di
lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa
deretan titik-titik).Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis
lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).Titik pusat kuadran adalah titik
yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m (Greig, 1983).
Profil arsitektur ini dijadikan dasar untuk memperoleh gembara komposisi,
struktur vertical dan horizontal suatu vegetasi, sehingga memberikan informasi
mengenai dinamika pohon dan kondisi ekologinya.Dari profil asiktektur ini juga
dapat diketahui interaksi antara masing-masing individu pohon dan peranan di dalam
ekosistem sustu komunitas vegetasi.), mengolongkan pohon-pohon yang terdapat
didalam suatu komonitas hutan alam tropika berdasarkan kepada kenampakan
arsitektur, ukuran pohon dan keadaan biologi pohon, menjadi 3 golongan pohon
yaitu:
1. Pohon pada masa datang ( les arbres du future, trees of future ), yaitu pohon-
pohon yang mempunyai kemampuan untuk berkembang lebih lanjut atau pada
massa datang. Pohon tersebut pada masa ini merupakan pohon yang dominan dan
diharapkan pada masa datang kan mengantikan pohon-pohon yang pada saat ini
dominan.
2. Pohon masa kini ( les arbres du persent, trees of persent ), pohon-pohon
yang sedang berkembang penuh dan merupakan pohon yang dominan yang
paling menentukan profil arsitektur komnitas saat ini.
3. Pohon pada masa ( les arbres du past , trees of past ) yaitu pohon-pohon yans
sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan selanjutnya akan mati.
Biasanya pohon- pohon ini merupakan pohon tua yang tidak produktif.
Berdasarkan ukuran pohon maka pengolongan pohon-pohon tersebut
adalah :
1. Pohon masa mendatang : Ht Hn ; Ht lebih kecil dari tinngi pohon normal
maksimum, Ht 100 Dbh dan HI Ht.
2. Pohon pada masa kini : Ht Hn ; Ht mendekati sama dengan tinggi pohon
normal, Ht 100 Dbh dan HI ht.
3. Pohon pada masa lampau : Ht Hn ; Ht sudah tidak dapat meningkat lagi, Ht
100 Dbh dan HI Ht. Pada golongan ini pohon sudah mengalami
kerusakan, tidak produktif, dan tua.
Menurut Ondum (1998), pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu
luas tertentu dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vgetasi secara
keseluruhan yang disebut luas minimum.Dalam analisa vegetasi ini terdapat
banyak ragam metode analisa diantaranya yaitu:
1. Dengan cara petak tunggal.
2. Dengan cara petak berganda.
3. Dengan cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak.
4. Dengan cara-cara tanpa petak .
Menurut Dedy (2010), dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat
sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan
mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. keempat sifat itu adalah:
1. Ukuran petak.
2. Bentuk petak.
3. Jumlah petak.
4. Cara meletakkan petak di lapangan.
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika
digunakan untuk penelitian yaitu metode kuadrat metode garis, metode tanpa plot
dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan
pada pengguna analisis dengan metode kuadran.Metode kuadran pada umumnya
di lakukan jika vegetasi tingkat pohon saja yang jadi bahan penelitian.Metode ini
mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon
dan menaksir volumenya (Simanung, 2009).
Menurut Simanung (2009) ada dua macam metode yang umum di gunakan
menurut Simanung (2009) yaitu:
1. Point-quarter
Langkah pertama merupakan pengambilan titik terlebih dahulu di
sepanjang garis transek.Jarak satu titik dengan lainnya dapat di tentukan
secara acak atau sistematis.Masing-masing titik di anggap sebagai pusat dari
arah kompas, sehingga setiap titik dapat empat buah kuadran.Pada masing-
masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan
satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran.Selain itu di ukur pula
jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.

2. Wandering-qurter
Suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan
menetapkan titik sebagai titik awal kompas di tentukan satu kuadran sudut 90
tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar.
Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan dan jarak
satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.Penarikan contoh sampling
dengan metode-metode di atas umumnya digunakan pada penelitian-
penelitian yang bersifat kuantitatif.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk
menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu
vegetasi sesuai dengan tujuannya.Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang
dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya,
tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
a. Metode kuadrat dan metode kuarter
b. Kerapatan
c. Frekuensi
Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi
kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan
dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu:
1. kerapatan (Density)
Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan
tertentu, misalnya 100 individu/ha.Frekwensi suatu jenis tumbuhan adalah jumlah
petak contoh dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang
dibuat.Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase.Basal area
merupakan suatu luasan areal dekat permukaan tanah yang dikuasai oleh
tumbuhan.Untuk pohon, basal areal diduga dengan mengukur diameter batang
(Kusuma, 1997).Suatu daerah yang didominasi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja,
maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang
rendah.Keanekaragaman jenis terdiri dari 2 komponen; Jumlah jenis dalam komunitas
yang sering disebut kekayaan jenis dan Kesamaan jenis.Kesamaan menunjukkan
bagaimana kelimpahan species itu (yaitu jumlah individu, biomass, penutup tanah,
dan sebagainya) tersebar antara banyak species itu (Ludwiq and Reynolds, 1988).
Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan
tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif
dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan
banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang
disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas
populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha (Gopala, 2010).
2. Dominasi
Menurut Gopala (2010), dominasi merupakan penguasaan dari satu
jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga
dominasi dapat dinyatakan dalam besaran:
a) Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density)
b) persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar (LBD) Basal
area(BA)
c) Volume
d) Biomas
e) Indek nilai penting(importance value-IV)
3. Frekuensi
Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas
terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagimana pola
penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau
kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap
lingkungan.Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang
ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
D. Indek Nilai Penting(importance value Indeks)
Analisis vegetasi dapat dilanjutkan untuk menentukan indeks
keanekaragaman ,indeks kesamaan, indeks asosiasi, kesalihan, dll, yang dapat
banyak memberikan informasi dalam pengolahan suatu kawasan, penilaian suatu
kawasan. Data penunjang seperti tinggi tempat, pH tanah warna tanah, tekstur
tanah dll diperlukan untuk membantu dalam menginterpretasikan hasil analisis.
Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan
kedalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal
dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang
sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis
dalam suatu areal; dan (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan
faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).
Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi
dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu :
1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis
dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu
pengamatan berbeda.
2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.
3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan
tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).
Analisis vegetasi hutan Lindung Aek nauli dalam kegiatan P3H dilakukan
dengan metoda kombinasi antara metoda jalur dan metoda garis berpetak dengan
panjang jalur minimum adalah 12.500 m yang bisa terdiri dari beberapa jalur,
tergantung kondisi di lapangan.Di dalam metoda ini risalah pohon dilakukan dengan
metoda jalur dan permudaan dengan metoda garis berpetak (Onrizal & Kusmana,
2005).
Ukuran permudaan yang digunakan dalam kegiatan analisis vegetasi hutan
adalah sebagai berikut:
1. Semai : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan setinggi kurang
dari 1,5m.Pancang :
2. Permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10
cm.
3. Pohon :Pohon berdiameter 10 cm atau lebih.
4. Tumbuhan bawah :Tumbuhan selain permudaan pohon, misal rumput, herba
dan semak belukar.
Selanjutnya ukuran sub-petak untuk setiap tingkat permudaan adalah sebagai
berikut:
(a) Semai dan tumbuhan bawah : 2 x 2 m.
(b) Pancang : 5 x 5 m.
(c) Pohon : 10 x 10 m.
Metode Kuadrat, bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran
dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode
pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk
setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan
perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi.
Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan.Dari
spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Rahardjanto, 2001).
Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau
lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu.Luasnya bisa bervariasi sesuai
dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya.Untuk analisis yang
menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990). Kelimpahan setiap spesies individu atau
jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang
ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife.
Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam
menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
Metode garis juga merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan
berupa garis.Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada
kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis
yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang
digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang
digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih
sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990)
Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan
berbagai ukuran.Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak
sampel dapat persegi, persegi panjang atau lingkaran.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Lokasi Praktikum


Hari/Tanggal : Jumat-Minggu/28 Oktober 2017
Waktu : Pukul 09.00-15.00 WITA
Tempat :Gunung Bawakaraeng Desa Lembanna Kecamatan
........................Tinggi Moncong Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan
B. Bahan dan Alat Praktikum
1. Tali Rafia
2. Patok
3. Meteran
4. Mistar 30 cm
5. Busur Derajat
6. Parang
7. Termometer
8. Aklinometer Sederhana
9. Kamera
10. Alat tulis
11. Soiltester
12. Program Microsoft Excel
C. Metode Praktikum
1. Metode dengan Menggunakan Plot
a. Menyiapkan alat dan bahan.
b. Membuat Transek dengan panjang 100 meter.
c. Membuat Plot dengan ukuran 10x10 meter. Kemudian, di dalam plot 10x10
meter dibuat plot dengan ukuran 5x5 meter, dan membuat plot ukuran 2x2
meter di dalam plot berukuran 5x5.
d. Melakukan perhitungan spesies pohon, dan identinfikasi spesies pada
plot 10x10 meter, perhitungan spesies semak pada plot 5x5 meter, dan
perhitungan spesies tumbuhan herba pada plot berukuran 2x2 meter.
e. Mengulang langkah c dan d hingga diperoleh masing-masing 10 data plot
untuk setiap ukuran plot atau hingga ujung akhir transek.
f. Mengulang langkah b sampai e pada areal yang berbeda.
g. Melakukan analisis data dengan menggunakan program R
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
B. Pembahasan
Kegiatan praktikum ini dilakukan gunung Bawakaraeng Lembanna Malino,
Kabupaten Gowa. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode dengan menggunakan
plot. Metode dengan menggunakan plot dilakukan dengan membuat 10 plot
berukuran 10x10 meter untuk analisis vegetasi jensi pohon pada transek dengan
panjang 100 meter. Di dalam plot berukuran 10x10 meter dibuat plot dengan ukuran
5x5 meter untuk analisis vegetasi jenis semak. Kemudian, di dalam plot ukuran 5x5
dibuat plot dengan ukuran 2x2 untuk analisis vegetasi herba.
Metode point center quarter merupakan metode jarak yang banyak digunkan
untuk pohon dan semak. Parameter yang digunakan adalah frekuensi, densitas, dan
dominasi. Jumlah individu dalam suatu area dapat ditentukan dengan densitas dan
dominansi. Jumlah individu dalam suatu area dpat ditentukan dengan mengukur jarak
individu tumbuhan dengan titik sampling. Titik sampling merupakan titik dalam garis
transek, pada titik tersebut dibagi 4 kuadran yang masing-masing terdapat individu
tumbuhan jarak terdekat dengan titik sampling.
Metode kuadran atau Point-Centered Quarter Methodmerupakan salah satu
metode jarak (Distance Method). Metode ini tidak menggunakan petak contoh
(plotless) dan umunya digunakan dalam analisis vegetasi tingkat pohon atau tiang
(pole). Namun dapat pula dilengkapi dengan tingkat pancang (saling atau belta) dan
anakan pohon (seedling) jika ingin mengamati struktur
vegetasi pohon. Pohon adalah tumbuhan berdiameter 5 cm dengan tinggi >130 cm
atau setinggi dada, serta tinggi pohon < 130 cm dan diameter <5 cm adalah anakan
pohon . Syarat penerapan metode
kuadranadalah distribusi pohon atau tiang yang akan dianalisis harus acak dan tid
ak mengelompok atau seragam.
Berdasarkan data yang didapatkan spesies di transek 1 lebih beranekaragam
dibandingkan transek 2 dan 3 Keanekaragaman jenis pada transek 1 ternyata dari
hasil analisis data tingkat keanekaragaman jenis pada transek 2 lebih tinggi
dibandingkan tingkat keanekaragaman jenis pada transek 2,3, walaupun jumlah
spesies pada kedua transek sama.
Untuk tanaman jenis pohon pada transek I ditemukan 8 spesies tanaman,
transek 1 didominasi oleh spesies B dengan nilai INP = 114.61.Transek 2
ditemukan 5 jenis spesiesdan didominasi oleh spesies B = 154.75. transek 3
ditemukan 3 jenis spesies dan didominasi oleh spesies B, namun yang memiliki nilai INP
tertinggi adalah pinus dengan nilai INP = 125. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman B
memiliki peranan yang dominan di dalam vegetasi tersebut. Dari tabel pengamatan
terlihat nilai INP yang cenderung agak merata. Rentang antara nilai INP yang
tertinggi dan terendah tidak terlalu jauh. Sehingga, dapat dikatakan relung tersebar
agak merata pada areal tersebut.
INP suatu jenis merupakan nilai yang menggambarkan peranan keberadaan
suatu jenis dalam komunitas. Makin besar INP suatu jenis makin besar pula
peranan jenis tersebut dalam komunitas. INP dengan nilai yang tersebar merata
pada banyak jenis lebih baik dari pada bertumpuk atau menonjol pada sedikit jenis
karena menunjukkan terciptanya relung (niche) yang lebih banyak dan tersebar
merata, spesifik dan bervariasi. INP yang merata pada banyak jenis juga sebagai
indikator semakin tingginya keanekaragaman hayati pada suatu ekosistem dan
perkembangan ekosistem yang baik untuk mencapai kestabilan pada tahap klimaks
(Kainde, et.al., 2011).
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, di peroleh jumlah
spesies baru terbanyak ada pada plot 1 yang berjumlah spesies. spesies.. Berdasarkan
data yang diperoleh dari 3 transek berbeda, spesies yang mendominasi adalah spesies
B transek tersebut nilai persentase dominansi relatif, frekuensi relatif, dan densitas
relatif paling tinggi sehingga didapatkan INP spesies B adalah yang tertinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa tanaman B memiliki peranan yang dominan di dalam vegetasi
tersebut.
B. Saran
Sebaiknya dalam praktikum ini kedepannya diharapkan agar praktikan
dapatmenentukan lokasi pengambilan data yang representative, lebih teliti dalam
pengukuran dan dalam mengidentifikasi jenis tumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil.A, Mitchell, Ritche. 2004. Biologi Jilid 4. Erlangga. Jakarta.

Dedy. 2010 http://dydear.multiply.com/journal/item/15/Analisa_Vegetasi diakses


tanggal 9 November 2017.

Greig SmithP.1983. Quantitative Plant Ecology, Blackwell ScientificPublications.


Oxford.

Gopala, K.A.G., Raj, G., Bhatnagar, AS., Prasanth, K.P.K., dan Chandrashekar, P.
(2010). Coconut Oil: Chemistry, Production and Its ApplicationsA Review.
Indian Coconut Journal. 73(3):15-27.

Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York: Macmillan Publishing Co.

Marsono, DJ. 1977. Diskripsi Vegetasi dan Tipe-tipe Vegetasi Tropika. Yayasan
Pembina Fakultas Kahutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Michael, M. 1992.Ekologi Umum. Jakarta: Universitas Indonesia.P o l u n i n , N .


1 9 9 0 . Ilmu Lingkungan dan Ekologi. Y o g y a k a r t a : G a d j a h M a d a
U n i v e r s i t y Press.

Odum.Eugene.P.1994. Fundamental of Ecology.University of Georgia.Georgia

Onrizal & C. Kusmana. 2008. Studi Ekologi Hutan Mangrovedi Pantai Timur
Sumatera Utara. Biodiversitas 9 (1): 25-29.

Rahardjanto, Abdulkadir. 2001. Ekologi Umum. Umm Press: Malang.

Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi


Tumbuhan. JICA: Malang.

Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi.Jakarta : Remadja Karya

Simanung.2009.AnalisisVegetasi.http://bpkaeknauli.org/index.php?option=comconte
nt&task=view&id=18&Itemid=5 Diakses pada 9 November 2017
Sundarapandian, SM & P.S. Swamy. 2000. Forest Ecosystem Structure an Altitudial
Gradient in The Western Ghats South India. Journal of Tropical Forest
Science. 12 (1): 104-123.

Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung.

Weaver, J.E. dan Frederic E. Clements. 1938. Plant Ecology. Second Edition.
McGraw-Hill Book Company, Inc. New York dan London

Whitmore, T.C. 1990.An Introduction to Tropical Rain Forests.Clarendon


PressOxford.pp. 226.