Anda di halaman 1dari 10

TUGAS TEORI BELAJAR

DISUSUN OLEH :
Kelompok PKB 2015
1) Rusdiana Dewi (15030194073)
2) Nahdiah Indah Cahyani (15030194076)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
Jelaskan pernyataan berikut dan berikan contohnya.
1. Tuliskan definisi belajar menurut:
a. Teori pembelajaran Perilaku
Menurut teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan
bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku
dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahantingkah laku. Sebagai
contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan
gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat
mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia
belum dapat menunjukan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Menurut teori behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai
proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulasi dan
respons. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental
yang berasal dari lingkungan.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau Input yang berupa
stimulus dan keluaran atau Output yang berupa respon. Dalam contoh di atas, stimulus
adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, misalnya daftar perkalian, alat
peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang
terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak
dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan
respon. oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang dihasilkan
siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi
tidaknya perubahan tingkah laku.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor
penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon
akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement)
responpun akan tetap dikuatkan.

Contoh dari Teori Pembelajaran Perilaku


Buatlah murid membentuk asosiasi antara stimulasi dan respons. Seorang guru
kelas tiga sedang mengajarkan murid-muridnya penulisan judul laporan. Ia
meminta murid-muridnya menuliskan judul pada semua mata pelajaran-
matematika, mengarang mengeja, dan ilmu sosial. Ia ingin mereka bereka
belajar bahwa, ketika mereka mulai mengerjakan sebuah laporan (stimulasi),
mereka harus menuliskan sebuah judul (respons). Seorang guru tingkat sekolah
dasar membantu murid-mridnya mempelajari perkalian angka-angka dengan
memberikan kepada mereka soal-soal latihan pemeriksaan yang singkat setiap
hari. Tujuan guru ini adalah agar mereka mengasolasikan stimulasi 9 x 7 =
dengan respon yang tepat, 63
Asosiasikanlah aktivitas belajar dan aktivitas di kelas dengan konsekuensi yang
menyenangkan. Seorang guru kelas empat memutuskan untuk memulai mata
pelajaran memasak dikelasnya setiap hari Jumat, untuk embantu murid-
muridnya mempelajari pengukuran. Setelah murid-muridnya ini menyiapkan
berbagai bahan resep dengan ukuran-ukuran yang akurat, mereka mulai
memasak masakan mereka tersebut. Ms. Kincaid., guru seni tingkat sekolah
menengah, sedang membantu murid-muridnya mempelajari tekhnik memahat
dan tekhnik membuat kerajinan gelas. Setelah mereka menyelesaikan beberapa
proyek kecil, murid-murid ini mampu mengerjakan sebuah proyek yang lebih
besar untuk ditempatkan di rumah mereka masing-masing.
Jadikanlah partisipasi murid dalam aktivitas yang dianggap bernilai
olehnya mensyaratkan pelaksanaan aktivitas yang dianggap kurang bernilai
olehnya. Bryan, murid kelas lima, tidak suka menyelesaikan tugas
membacanya, namun ia senang menulis cerita dengan menggunakan komputer.
Mr. Willet, gurunya, mengatakan kepadanya bahwa ia boleh memiliki waktu
ekstra bekerja dengan menggunakan komputer asalkan ia menyelesaikan tugas
membacanya. Mrs, Sherrill, guru seni drama tingkat sekolah lanjutan,
mengatakan kepada murid-muridnya, bahwa untuk mendapatkan peran dalam
pertunjukkan yang diselenggarakan oleh murid-murid kelas dua belas, mereka
sedikitnya harus menghadiri 15 dari 20 sesi latihan pertunjukkan tersebut.

b. Teori pembelajaran Sosial


TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL / OBSERVATIONAL LEARNING BANDURA
a. Pengertian Teori Pembelajaran Sosial
Teori belajar sosial terkenal dengan sebutan teori observational learning,
belajar observasional / dengan pengamatan itu (Presly & McCormick 1995 cit Syah
2005) adalah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori
belajar lainnya. Tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura. Bandura memandang
tingkah laku manusia bukan semata-mata efleks otomatis dan stimulus (S-R bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan
dengan skema kognitif manusia itu sendiri.(Syah,2005).
Menurut Psikolog Albert Bandura dan rekan-rekannya, suatu bagian utama dari
pembelajaran manusia terdiri atar belajar observasional, yang mana merupakan
pembelajaran dengan cara melihat perilaku orang lain, atau model. Karena
pendasarannya pada observasi terhadap orang lain-fenomena sosial-sudut pandang
yang diambil oleh Bandura ini sering disebut dengan pendekatan kognisi sosial tentang
belajar.(Bandura, 1999,2004 cit Feldman,2012).
Santrock (2009), mengemukakan bahwa pembelajaran observasional adalah
pembelajaran yang meliputi perolehan keterampilan, strategi dan keyakinan dengan
cara mengamati orang lain. Wortman et al (2004) menyatakan bahwa melalui
pembelajaran observasional kita peroleh representasi kognitif dari pola perilaku
lainnya, yang kemudian dapat berfungsi sebagai model untuk perilaku kita sendiri.
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa banyak dari kebiasaan cara kita menanggapi
gaya kepribadian kita telah dipengaruhi oleh belajar observasional.
Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral.
Menurut Barlow (1985), sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalaui
peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini seorang
siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau
sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa juga dapat
mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh
dari orang lain. (Syah,2005)
Pembelajaran observasional memiliki relevansi kelas tertentu, karena anak-anak
tidak melakukan apa yang orang dewasa suruh untuk mereka lakukan, melainkan apa
yang mereka lihat orang dewasa lakukan. Jika asumsi Bandura benar, guru dapat
kekuatan ampuh dalam membentuk perilaku siswa mereka dengan perilaku mengajar
yang mereka demonstrasikan di kelas. Pentingnya model terlihat dalam penafsiran
Bandura tentang apa yang terjadi sebagai akibat dari mengamati orang lain:
1) Pengamat dapat memperoleh tanggapan baru
2) Pengamatan model dapat memperkuat atau memperlemah tanggapan yang ada
3) Pengamatan model dapat menyebabkan munculnya kembali respon yang
tampaknya dilupakan. (Elliot et al, 2000)
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa
ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation
(peniruan).
1) Conditioning. Menurut prinsip-prinsip kondisioning, proses belajar dalam
mengembangkan perilaku dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar
dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward dan
punishment.
2) Imitation. Prosedur lain yang juga penting dan menjadi bagian yang integral dengan
prosedur-prosedur belajar menurut teori belajar sosial ialah proses imitasi atau
peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru seyogyanya memainkan peran penting
sebagai model atau tokoh yang dijadikan contoh perilaku sosial dan moral bagi siswa.
(Syah.2005)
b. Elemen-elemen Observational Learning
Bandura (1986) mengatakan bahwa observational learning mencakup empat elemen
yaitu memperhatikan, menyimpan informasi atau kesan, menghasilkan perilaku dan
termotivasi untuk mengulangi perilaku itu.
1) Atensi. Untuk belajar melalui observasi, kita harus memperhatikan. Dalam
pengajaran, Anda harus memastikan bahwa siswa memperhatikan fitur-fitur kritis
pelajaran dengan membuat presentasi yang jelas dan menggarisbawahi poin-poin
penting.
2) Retensi. Untuk meniru perilaku seorang model. Anda harus mengingatnya. Hal ini
melibatkan representasi tindakan mdoel itu secara mental dengan cara-cara tertentu,
mungkin sebagai langkah-langkah verbal.
3) Produksi. Begitu kita tahu bagaimana perilaku seharusnya terlihat dan ingat
elemen-elemen atau langkah-langkahnya, kita mungkin tetap belum dapat
melakukannya dengan lancar.
4) Motivasi dan Reinforcement. Teori pembelajaran sosial membedakan antara
perolehan dan perbuatan. Kita mungkin memperoleh sebuah keterampilan atau perilaku
baru melalui observasi, tetapi kita mungkin tidak melakukan perbuatan itu sampai ada
motivasi atau insentif untuk melakukannya. Reinforcement dapat memainkan beberapa
peran dalam observational learning. (Woolfolk,2008)

Contoh Belajar Memurut teori pembelajaran sosial :


Seorang anak meniru watak dari tokoh dalam buku yang dibacanya.
Ketika seorang anak belajar untuk mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si
anak akan tertarik mengamati para pengendara sepeda dibanding dengan orang
yang melakukan aktifitas lain yang dia anggap kurang menarik. Oleh karena itu,
ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada
tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu
menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta ayahnya
(semisal) untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian
dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar
belajar mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil,
di sinilah tugas sang ayah untuk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas
keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi.
Seorang siswa yang ingin menjadi juara olimpiade seperti temannya. Ia akan
mengamati bagaimana cara belajar dan strategi-strategi yang dilakukan
temannya sehingga menjadi juara olimpiade. Kemudian ia mengingat dan
menyimpan dalam memorinya yang kemudian ia menerapkan cara belajar dan
strategi-strategi agar bisa menjadi juara olimpiade.
c. Teori pemrosesan informasi
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar
sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik
mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari
kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang
pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal
untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Asumsi ini didasarkan pada
suatu pemahaman yaitu cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Dengan
penjelasan saat seorang siswa dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan
siswa yang lain juga dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses
belajar yang berbeda.
Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses
yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan
menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya
lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi,
terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan
dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan
mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan
konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam
penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada
kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan
didapatkannya.
Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari
hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah
sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar. Penjelasan lebih lanjut dari Bambang Warsita, bahwa berdasarkan kondisi
internal dan eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori
pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan
diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam
memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan
dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah
kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai
hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran
merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu
hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses
mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses
yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah
yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan
sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar
yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada The Condition of Learning. Banyak
gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan
informasi, pada bukunya The Condition of Learning mengemukakan bahwa:
Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time,
and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of
intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In
term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process. An internal
process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu
tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat
distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang
terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini,
yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi
yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang
esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah
siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka
pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-
kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan
sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan
diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus
mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi
sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan
mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang
diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya
proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai
sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan
menentukan apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat
dihindari para tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan
siswa.
Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1)
hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan
disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa
memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi
dalam waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan
kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada
tahun 1960-an memori manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit
yang mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek
dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada
guru bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif,
murid hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral
dan bersifat otoriter.
C. Model Pemrosesan Informasi
Pada hakikatnya model pembelajaran dengan pemerosesan informasi didasarkan pada
teori belajar kognitif. Model pembelajaran tersebut berorientasi pada kemampuan siswa
memproses informasi dan sistem yang dapat memperbaiki kemampuan belajar siswa.
Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara-cara mengumpulkan atau menerima
stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan
konsep-konsep dan pemecahan masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan
non-verbal.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding),
diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge) dan diakhiri dengan mengungkapkan
kembali informas-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrival). Teori belajar
pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal
yang mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf
menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara
ini representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap
disimpan.
Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian
diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun
tidak semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting
dalam penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup
untuk mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrieval adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi
yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya
tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang
disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor
yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk
menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi
konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh
pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih
kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi berikut :
1. Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi
ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2. Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan
bentuk ataupun isinya
3. Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen, yaitu komponen
struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen-
komponen pemrosesan informasi dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas
bentuk informasi, serta proses terjadinya lupa. Ketiga komponen tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor adalah sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam
SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu
yang sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
b. Working Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian
individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. Karekateristik Working Memory adalah
memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan 15 detik jika tidak
diadakan pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari
stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah
informasi tidak melebihi kapasitas disamping melakukan pengulangan.
c. Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh
individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi
disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sedangkan lupa
adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang diperlukan. Tennyson
mengemukakan proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilisasikan
pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi
sebagai dadar pengetahuan.
Pada taraf aplikasi, teori sibernetik dalam pembelajaran telah banyak dikembangkan,
diantarannya adalah pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan
informasi. Berdasarkan pendekatan ini Reigeluth, Bunderson, dan Merril
mengembangkan strategi penataan isi atau materi pembelajaran berdasarkan empat hal,
yakni pemilihan, penataan urutan, rangkuman dan sintesis.
Teori pemrosesan informasi memiliki keunggulan dalam strategi pembelajaran, yaitu
sebagai berikut :
1. Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
2. Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis
3. Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
4. Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai
5. Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya
6. Kontrol belajar memungkinkan belajaar sesuai irama masing-masing individu
7. Balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk
kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.

Contoh Belajar Teori Pemrosesan informasi


Ketika siswa mendapatkan soal-soal latihan dari gurunya. Maka ia akan
mengolah atau memproses informasi yang telah ia dapat. Ia akan memilih
materi dan informasi apa yang sesuai untuk mengerjakan soal-soal tersebut dari
yang sudah dijelaskan oleh gurunya.
Ketika seseorang mendapatkan informasi baru yang berhubungan dengan
pelajaran disekolah misalnya dari internet. Maka ia akan memroses informasi
tersebut untuk memperoleh kebenaran informasi tersebut.
.2 a. Register penginderaan
b. Persepsi
c. Melengkapi atau closure