Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH LINTAS MINAT MANAJEMEN DATA EPIDEMIOLOGI PROJECT 1

KULIAH LINTAS MINAT MANAJEMEN DATA EPIDEMIOLOGI PROJECT 1 Oleh : Kelompok 1 1. Lu’lu’ Qurrota A’yun

Oleh :

Kelompok 1

1. Lu’lu’ Qurrota A’yun

101411131008

2. Yasinia Rahmanda

101411131026

3. Dwi Elsa Mardiana

101411131100

4. Rizqiyah Fitri N

101411131144

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2017

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Judul :

Analisis Faktor Risiko Kejadiaan DBD di Kota/Kabupaten Jawa Timur.

1.2 Tujuan Penelitian

1.2.1 Tujuan Umum Menganalisis faktor perilaku seseorang yan mengalami penyakit DBD di kota/kabupaten Jawa Timur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi karakteristik responden

b. Mengetahui distribusi penggunaan repellent berdasarkan kejadian demam berdarah

c. Mengetahui distribusi letak tps berdasarkan kejadian demam berdarah

d. Mengetahui distribusi pencahayaan bak mandi berdasarkan kejadian demam berdarah

e. Mengetahui distribusi perilaku menguras bak mandi berdasarkan kejadian demam berdarah

f. Mengetahui hubungan penggunaan repellent dengan kejadian demam berdarah

g. Mengetahui hubungan letak tps dengan kejadian demam berdarah

h. Mengetahui hubungan pencahayaan bak mandi dengan kejadian demam berdarah

i. Mengetahui hubungan perilaku menguras bak mandi dengan kejadian demam berdarah

BAB 2

METODE PENELITIAN

2.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah crosssectional, karena peneliti

hanya mengobservasi fenomena pada satu titik waktu tertentu. Desain

penelitian ini banyak digunakan karena lebih sederhana dan lebih murah

dibanding dengan studi longitudinal. Berikut adalah rancangan penelitian

crossectional.

Kejadian DBD

Kelompok

Terpapar

(+) (+)
(+)
(+)
(+) (+)
(+)
(+)

Kelompok Tidak Terpapar

Sampel

Penelitian

Gambar Rancangan Penelitian Crossectional

Penelitian ini dimulai dengan menganalisis hubungan antara variabel

dependent dengan variabel independent pada saat yang sama dan dilakukan

penilaian hanya satu kali (Bungin, 2011). Kemudian membandingkan kedua

kelompok (kelompom terpapar dan kelompok tidak terpapar).

2.2 Populasi Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang

bertempat tinggal di Provinsi Jawa Timur.

2.3 Sampel Penelitian

Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat

yang bertempat tinggal di provinsi Jawa Timur, yaitu 100 responden.

2.4 Variabel dan Definisi Operasional

       

Skala

No

Variabel

Definisi Operasional

 

Kategori

Data

     

1.

Anak-anak

 

(<11 th)

Satuan waktu yang mengukur waktu

2.

Remaja (12-

25

th)

1

Usia

keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun meninggal.

3.

Dewasa (26-

Ordinal

45

th)

4.

Lansia (46-

 

65

th)

5.

Manula (>65

th)

 

Jenis

Perbedaan bentuk, sifat dan fungsi biologi laki-laki dan perempuan yang

1.

Laki-laki

 

2

Kelamin

menentukan perbedaan peran mereka dalam menyelenggarakan upaya meneruskan garis keturunan

2.

Perempuan

Nominal

 

Kejadian

Jumlah kasus demam berdarah dengue diseluruh kota/kabupaten di Jawa Timur

6.

Tidak Pernah

 

3

Demam

 

Nominal

7.

Pernah

Berdarah

 

4

Penggunaan

Kegiatan yang dilakukan untuk mencegah kejadian

1.

Tidak Pernah

Nominal

Repellent

penyakit demam berdarah dengan cara menggunakan reppelent (losion, semprot)

2.

Pernah

   

Tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan

1. Dalam

 

5

Letak TPS

Rumah

Nominal

2. Luar Rumah

   

Pencahayaan alamiah atau intensifikasi cahaya sinar

1. Tidak

 

6

Pencahayaan

Bak Mandi

matahari yang dapat menerangi seluruh bagian kamar mandi

Langsung

Nominal

2. Langsung

 

Perilaku

Kegiatan yang dilakukan untuk mencegah kejadian

1. Tidak

 

7.

Menutup Bak

penyakit demam berdarah dengan cara menutup bak mandi.

2. Ya

Nominal

Mandi

2.5 Pengumpulan dan Analisis Data

2.5.1 Teknik Pengumpulan Data

a. Data Primer Data yang diperoleh dari survey kejadian demam berdarah di seluruh kota / kabupaten di Jawa Timur.

b. Data Sekunder Data yang diperoleh dari instansi terkait diantaranya data dari Dinas Kesehatan Provinsi JawaTimur dan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota di seluruh Jawa Timur.

2.5.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner surveilans DBD untuk seluruh kota / kabupaten di JawaTimur.

2.5.3 Analisis Data Analisis data yang digunakan yaitu dengan bantuan program Epi-Info. Analisis penelitian ini menggunakan uji statistik Frequensi dan uji chi- square dengan menggunakan tabel 2x2. Analisis ini digunakan untuk mengetahui distribusi kejadian penyakit dan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat secara satu persatu dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat signifikansi (α) = 0,05. Analisis keeratan hubungan antara dua variabel ini dengan melihat nilai Odd Ratio (OR) nya.

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik responden surveilans DBD ini dapat digambarkan berdasarkan usia, jenis kelamin dan asal wilayah. Usia responden surveilans DBd dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu anak-anak, remaja, dewasa, lansia, dan manula. Pengkategorian umur tersebut berdasarkan Departemen Kesehatan RI tahun 2009 yaitu anak-anak yang berusia <11 tahun, remaja yang berusia 12-25 tahun, dewasa yang berusia 26- 45 tahun, lansia yang berusia 46 sampai 65 tahun, dan manula yang berusia >65 tahun. Berikut karakterisrik responden surveilans DBD berdasarkan kategori usia.

responden surveilans DBD berdasarkan kategori usia. Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa distribusi

Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa distribusi responden surveilans DBD berdasarkan usia paling banyak adalah golongan remaja. Sedangkan kejadian DBD tidak ditemukan pada golongan usia dewasa. Usia remaja banyak ditemukan dalam penjaringan DBD ketika masa pencatatan surveilans. Sehingga dapat dikatakan bahwa remaja dapat beresiko mengalami Demam Berdarah.

Sedangkan jenis kelamin responden surveilans DBD dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu laki-laki dan perempuan. Berikut adalah karakteristik responden surveilans DBD berdasarkan jenis kelamin.

responden surveilans DBD berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa distribusi

Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa distribusi responden surveilans DBD berdasarkan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan. Perempuan banyak ditemukan dalam penjaringan DBD ketika masa pencatatan surveilans. Sehingga dapat dikatakan bahwa perempuan dapat beresiko mengalami Demam Berdarah.

Sasaran dari surveilans DBD ini adalah seluruh warga di provinsi Jawa Timur yang terdiri dari 30 kabupaten/Kota. Namun, penelitian ini hanya mengambil 20 kota/kabupaten untuk diamati persebaran kejadian DBD di tiap- tiap wilayah. Berikut adalah persebaran kejadian DBD berdasarkan wilayah.

Berikut adalah persebaran kejadian DBD berdasarkan wilayah. Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa persebaran

Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa persebaran kejadian DBD paling banyak terjadi di wilayah Tuban dengan persentase sebesar 11,7%. Sedangkan kejadian DBD tidak ditemukan di wilayah Lumajang pada saat pencatatan surveilans DBD. Wilayah Lumajang banyak ditemukan dalam penjaringan DBD ketika masa pencatatan surveilans. Sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat di wilayah Lumajang dapat beresiko mengalami Demam Berdarah.

3.2 Distribusi

Penggunaan

Repellent

Berdasarkan

Kejadian

Demam

Berdarah Tabel 3.2 Distribusi Penggunaan Repellent Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah

Menggunakan

Kejadian DBD

Total

Repellent

Ya

Tidak

Tidak

35

16

51

Ya

25

24

49

Total

60

40

100

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kejadian DBD lebih banyak terjadi pada orang yang tidak menggunakan repellent. Sebanyak 35 orang yang tidak menggunakan repellent telah ditemukan pernah terjangkit DBD. Penggunaan repellent dapat secara tidak langsung mengurangi risiko kejadian DBD pada seseorang.

3.3 Distribusi Letak TPS Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah Tabel 3.3 Distribusi Letak TPS Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah

Letak TPS

Kejadian DBD

Total

Ya

Tidak

Dalam Rumah

34

20

54

Luar Rumah

26

20

54

Total

60

40

100

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kejadian DBD lebih banyak terjadi ketika tempat pembuangan sampah (TPS) berada di dalam rumah. Sebanyak 34 orang yang meletakkan TPS didalam rumah telah ditemukan pernah terjangkit DBD. Peletakan TPS didalam rumah dapat secara tidak langsung meningkatkan risiko terjadinya DBD karena hal ini dapat memicu vektor untuk bertempat tinggal didalam TPS tersebut.

3.4 Distribusi

Pencahayaan

Bak

Mandi

Berdasarkan

Kejadian

Demam

Berdarah Tabel 3.4 Distribusi Pencahayaan Bak Mandi Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah

Pencahayaan

Kejadian DBD

Total

Bak Mandi

Ya

Tidak

Tidak Langsung

40

30

70

Langsung

20

10

30

Total

60

40

100

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kejadian DBD lebih banyak terjadi ketika pencahayaan bak mandi secara tidak langsung. Sebanyak 40 orang yang memiliki bak mandi dengan pencahayaan yang tidak langsung telah ditemukan pernah terjangkit DBD. Pencahayaan diperlukan dalam meminimalisir kejadian vektor DBD. Oleh karena itu, bak mandi yang tidak mendapatkan pencahayaan secara langsung dapat memicu tingginya angka kejadian DBD di Provinsi Jawa Timur.

3.5 Distribusi Perilaku Menguras Bak Mandi Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah Tabel 3.5 Distribusi Perilaku Menguras Bak Mandi Berdasarkan Kejadian Demam Berdarah

Perilaku

Kejadian DBD

 

Menguras Bak

   

Total

Mandi

Ya

Tidak

Tidak

41

13

54

Ya

19

27

46

Total

60

40

100

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kejadian DBD lebih banyak terjadi ketika bak mandi tidak pernah dikuras. Sebanyak 41 orang yang memiliki perilaku tidak pernah menguras bak mandi telah ditemukan pernah terjangkit DBD. Perilaku menguras bak mandi sangat diperlukan dalam memberantas vektor DBD, karena berkaitan dengan personal higiene.

TABEL ANALITIK ANTARA PAPARAN DAN OUTCOME

Kejadian DBD Paparan
Kejadian DBD
Paparan

Penggunaan repellent

OR

CI

Signifikansi

1,3451

0,96 1,8732

OR tidak signifikan

Letak TPS

OR

CI

Signifikansi

1,1140

0,8045 1,5429

OR tidak signifikan

Pencahayaan Bak Mandi

 

OR

CI

Signifikansi

1,1667

0,8435 - 1,6136

OR tidak signifikan

Perilaku Menguras Bak Mandi

 

OR

CI

Signifikansi

1,8382

1,2624 - 2,6767

OR signifikan

3.6 Hubungan Penggunaan Repellent dengan Kejadian Demam Berdarah Besar risiko yang digunakan dalam penelitian crossectional adalah PR. Namun dalam aplikasi epi info, nilai PR didapatkan dari nilai Risk Ratio (RR). Hubungan penggunaan repellent dengan kejadian DBD memiliki nilai RR sebesar 1,3451 dengan CI (0,9659-1,8732). Nilai CI tersebut melewati angka 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai RR tersebut tidak signifikan.

3.7 Hubungan Letak TPS dengan Kejadian Demam Berdarah Hubungan letak TPS dengan kejadian DBD memiliki nilai RR sebesar 1,1140 dengan CI (0,8043-1,5429). Nilai CI tersebut melewati angka 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai RR tersebut tidak signifikan.

3.8 Hubungan Pencahayaan Bak Mandi dengan Kejadian Demam Berdarah Hubungan pencahayaan bak mandi dengan kejadian DBD memiliki nilai RR sebesar 1,1667 dengan CI (0,8435-1,6136). Nilai CI tersebut melewati angka 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai RR tersebut tidak signifikan.

3.9 Hubungan Perilaku Menguras Bak Mandi dengan Kejadian Demam Berdarah Hubungan penggunaan repellent dengan kejadian DBD memiliki nilai RR sebesar 1,8382 dengan CI (1,2624-2,6767). Nilai CI tersebut tidak melewati angka 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai RR tersebut signifikan. Artinya, Perilaku seseorang yang tidak menutup bak mandi beresiko untuk terkena penyakit DBD 1,8382 kali lebih besar dibandingkan dengan perilaku seseorang yang menutup bak mandi.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan Kejadian Demam Berdarah (DBD) disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penggunaan repellent, letak tempat pembuangan sampah (TPS), pencahayaan bak mandi dan perilaku menguras bak mandi. Dari 4 variabel independen yang diteliti terdapat 1 variabel yang berhubungan secara signifikan dengan adanya kejadian DBD yaitu perilaku menutup bak mandi. Perilaku seseorang yang tidak menutup bak mandi beresiko terkena penyakit DBD 1,8382 kali lebih besar dibandingkan dengan perilaku seseorang yang menutup bak mandi.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Gambar 1. Identitas Pasien (Responden) Gambar 2. Kuesioner Perilaku Penderita

Gambar 1. Identitas Pasien (Responden)

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Gambar 1. Identitas Pasien (Responden) Gambar 2. Kuesioner Perilaku Penderita (Responden)

Gambar 2. Kuesioner Perilaku Penderita (Responden)

Gambar 3. Kuesioner Survei Vektor DBD Lampiran 2. Output Hasil Penelitian Gambar 4. Hubungan Penggunaan

Gambar 3. Kuesioner Survei Vektor DBD

Lampiran 2. Output Hasil Penelitian

Survei Vektor DBD Lampiran 2. Output Hasil Penelitian Gambar 4. Hubungan Penggunaan Repellent dengan Kejadian DBD

Gambar 4. Hubungan Penggunaan Repellent dengan Kejadian DBD

Gambar 5. Hubungan Letak TPS dengan Kejadian DBD Gambar 6. Hubungan Pencahayaan Bak Mandi dengan

Gambar 5. Hubungan Letak TPS dengan Kejadian DBD

Gambar 5. Hubungan Letak TPS dengan Kejadian DBD Gambar 6. Hubungan Pencahayaan Bak Mandi dengan Kejadian

Gambar 6. Hubungan Pencahayaan Bak Mandi dengan Kejadian DBD

Gambar 7. Hubungan Perilaku Menguras Bak Mandi dengan Kejadian DBD

Gambar 7. Hubungan Perilaku Menguras Bak Mandi dengan Kejadian DBD